Posted by: rusliharahap | October 26, 2014

Mari Segera Kita Selamatkan Kedua Ibu!

Pendahuluan
Agama telah menerangkan bahwa, manusia tidak terkecuali berbagai makhluk lainnya, datang ke alam fana di muka bumi ditakdirkan Allah Subhanahu Wataala, awalnya (pertama) sebagai ruh (bukan-benda) dalam suatu perjalanan panjang. Setibanya di bumi, manusia begitu pula makhluk lainnya melangsungkan lagi perjalanan lain (kedua): dimulai hadir dalam kandungan, kemudian lahir ke dunia sebagai bayi, menjadi balita, anak, remaja, dewasa, orang-tua, kakek/nenek, menjalani usia senja, dan akhirnya sampai ke batas usia. Untuk memperlihatkan keberadaan manusia, demikian juga makhluk lainnya di permukaan planit biru agar terlihat, dapat bertegur sapa, berkomunikasi, melakukan lainnya, manusia demikian juga makhluk lain mendapat pinja-man benda (materi) dari bumi untuk tubuh, yang juga dikenal dengan badan atau jasmani.
Adapun yang disebut belakangan ini, awalnya diberi oleh kedua orang-tua manusia atau makhluk lainnya, kemudian setelah berhenti menyusu kepada ibu yang melahirkan, dipinjamkan langsung oleh bumi melalui kegiatan: minum, makan, bernafas, bergerak, diolah Teknologi Makhluk Hidup (TMH) berlangsung dalam tubuh manusia atau makhluk lain dengan reaksi kimia organik dingin, menggunakan bermacam unsur kimia, mulai: hidrogen, aksigen, karbon, dan lain seba-gainya yang tercantum dalam tabel Mendeleyev, dimana dua unsur kimia disebutkan terdahulu merupakan yang terbanyak. Setelah menempuh kehidupan alam fana di muka bumi serentang hayat melakukan “persiapan”, manusia demikian juga beragam makhluk lainnya, meneruskan perjalanan awal kembali sebagai ruh, setelah terlebih dahulu mengembalikan badan atau jasmani (materi) yang dipinjam dari bumi, untuk memenuhi panggilan Allah Subhanahu Wataala.
Dari dua perjalanan makhluk dikemukakan, yang banyak mendatangkan masalah kepada manu-sia, ialah perjalanan kedua sebagai benda (materi) yaitu perjalanan alam fana di muka bumi. Tidak dapat disangkal, bahwa pada perjalanan disebut terakhir terdapat kewajiban dan tang-gungjawab yang harus diemban terjabar kedalam 3 (tiga) golongan agar tertib hidup dengan segala yang ada dapat tercipta. Pertama: hubungan umat dengan Sang Maha Pencipta yang mendaangkan manusia dengan berbagai mahluk lain ke Alam Semesta, wabilkhusus bumi sebagai tempat berdiam lengkap dengan atmosfer bermuatan udara yang menyelimuti, demikian juga air yang mengisi cekungan-cekungannya, seperti: kolam, sungai, danau, laut hingga dengan sa-mudra, dan daratan sebagai tempat tinggal dan berusaha. Yang disebut akhir ini tidak lain lahan tempat manusia bertanan dan menumbuhkan tanaman: pangan, obat, sandang, papan, dan lain-nya, dengan cahaya dan panas yang didatangkan dari matahari. Kedua: hubungan manusia dengan sesama insan, tidak terkecuali dengan berbagai makhluk lain yang juga ada di muka planit ini. Ketiga: hubungan manusia berikut makhluk lain yang ada di muka bumi dengan bumi itu sendiri sebagai planet tempat berdiam, dinamakan juga: “planit biru”, oleh keistimewaan dimi-liki, belum lagi diketahui orang ada bandingnya di tempat lain di Alam Semesta. Terhadap yang disebut akhir ini sebuah “aturan berprilaku” (code of conduct) memuat “sopan santun” hingga etika, perlu “dibuat” untuk “ditegakkan” dan “dipantau” pelaksanaannya dengan “hukuman” be-rat terhadap pelanggarnya, sehingga kedepan Alam Semesta, wabilkhusus bumi tempat berdiam ini, dapat terjaga dan terpelihara kelestariannya dari kerusakan perbuatan tangan manusia mene-lusuri perjalanan waktu.

Revolusi Industri
Surat Al-Baqarah (Sapi Betina), Ayat 11, mengatakan:

2_11

Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi24, mereka menjawab: ”Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”.
24Kerusakan yang mereka perbuat di bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.
Selanjutnya, surat Ali-Imran Ayat 112 menyampaikan pula:

3_112

Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia218), dan mereka kembali mendapat kemur-kaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu219) karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu220) disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.
[Sumber: Al-Quran dan Terjemahannya, hadiah dari Kerajaan Saudi Arabia, dalam musim haji tahun 1983.]

Masih banyak surat yang menyusul kemudian, juga mengingatkan manusia agar “tidak membuat kerusakan di muka bumi”. Akan tetapi dengan telah timbulnya revolusi industri di bumi: gelom-bang pertama dimulai tahun 1760 sampai 1820 dan 1840 (penghujung abad ke-18 dan awal abad ke-19), disusul gelombang kedua dari 1840 hingga 1870, dan mengawali kemajuan perekono-mian di Eropa silam; dan menemukan momentum dengan tersebarnya jaringan jalan kereta-api dihela lokomotiv uap di sejumlah negara benua itu; ditambah dengan lahirnya kapal-kapal: sungai, laut, hingga samudra dijalankan mesin-uap di Amerika Serikat pada tahun 1850 untuk menggantikan kapal-layar. Tidak dapat disangkal lagi penemuan pesawatterbang oleh Wright Bersaudara dari Amerika Serikat menjelang abad ke 20 telah menjadi bagian dari seluruh yang telah menimbulkan perubahan besar di muka bumi dalam berbagai hal, seperti: angkutan darat awalnya serba dihela ternak (kuda) dimana-mana di muka bumi, menjadi dijalankan mesin, lahir pula angkutan laut yang dijalankan mesin, disusul angkutan udara dan antariksa yang meramai-kan langit belum pernah terbayangkan oleh umat sebelumnya akan ada di muka bumi ini.

Pertanian, industri, tambang, dan lain sebagainya lalu beralih dari yang serba dikerjakan tenaga manusia dibantu hewan, menjadi samasekali dijalankan mesin. Timbul lagi berbagai macam mesin perang, sebagaimana yang telah diperagakan dalam Perang Dunia ke-I dan ke-II silam, dan berbagai perang yang menyusul kemudian, antara lain: perang Korea dan perang Vietnam.
Kesemuanya telah mengubah lingkungan hidup manusia dan makhluk lainnya di muka bumi dari sejumlah zaman yang mendahului. Revolusi industri juga telah mengubah kehidupan komunitas manusia di muka bumi, mulai: masyarakat/sosial, tata-nilai, ekonomi, seni dan budaya, keperca-yaan, agama, dan masih banyak lagi lainnya di seantero planit, mulai negara maju hingga de-ngan yang masih berkembang. Revolusi industri yang diawali dari Inggris lalu meluas ke seluruh Eropa, lalu menyebar ke Amerika Utara, kemudian Jepang, akhirnya melanda seluruh dunia, dan tidak terkecuali Indonesia. Revolusi yang semula dianggap “berkah” kepada umat yang hidup di bumi dengan kehadiran bermacam sarana angkutan dijalankan mesin yang memudahkan orang bepergian kemana saja, tidak terkecuali menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci di Mekah dan Madinah, Saudi Arabia, dengan naik pesawatterbang.
Setelah lebih dari dua setengah abad waktu berlalu, manusia kemudian mulai sadar bahwa revolusi industri yang diawali di Eropa silam, terbukti telah menjadi “pembawa bencana” kepada umat dan makhluk lainnya di muka bumi, dengan kian seringnya timbul badai “berkecepatan pesawatterbang tinggallandas”, dan salah satu dari padanya, ialah yang telah “meratakan kota Tacloban” yang terdapat di Filipina belum lama berselang.

Peringatan dari surat Ar-Rum, ayat 41, tercantum dalam Al-Quran mengatakan:

30_41

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, su-paya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Tampaknya peringatan surat Ar-Rum, ayat 41, sekarang sedang berbuat merasakan kepada umat di muka bumi “sebahagian dari akibat dari perbuatan tangan mereka, agar kembali ke jalan yang benar”.
Sudah sejak ratusan ribu tahun lampau terjabar kedalam sebilangan zaman silam, Allah Subha-nahu Wataala mengutus para Nabi datang ke muka bumi untuk mengajarkan kepada umat bagaimana menjalani hidup alam fana di muka bumi, beserta kewajiban dan tanggung jawab yang harus diemban, agar manusia demikian juga makhluk lainnya sebagai bagian dari Alam Semesta, dapat berlangsung dengan tertib dan aman. Tiga orang Rasul tampil belakangan datang mengunjungi umat, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Quran, ialah: Nabi Musa AS yang menyampaikan Kitab Taurat kepada umat Yahudi, disusul Nabi Isa Al-Masih AS mengantarkan Kitab Injil kepada kaum Nasrani, dan terakhir Nabi Muhammad SAW membawa Kitab Al-Quran untuk umat Muslim. Selain menyempaikan berbagai Kitab Suci memuat bemacam surat beragam ayat, ada lagi cara hidup yang diteladankan para Rasul diriwayatkan para penulis hadis yang mereka tinggalkan.

Sebagai benda (materi) ciptaan Ilahi lewat TMH asal bumi, manusia begitu juga makhluk lain akan berhadapan dengan banyak persoalan dan masalah berikut keragaman masing-masing men-jalani hidup alam fana di muka bumi ini mulai dari: kandungan, lahir sebagai bayi, menjadi balita, anak, remaja, dewasa, orang tua, kakek/nenek, melalui usia senja, hingga ke akhir hayat. Setelah dua tahun menyusu pada “ibu melahirkan”, tanggungjawab mengurus manusia lalu dise-rahkan kepada “ibu asuh”. Adapun yang dimaksud dengan “ibu asuh” pada manusia, demikian juga makhluk lainnya, ialah “bumi” atau “planit biru”, karena yang akhir ini selain sebagai tem-pat berdiam bagi insan dan makhluk lainnya di Alam Semesta, juga lingkungan hidup yang menyediakan kebutuhkan kehidupan alam fana di muka bumi, seperti: udara, air, pangan, obat-obatan, sandang, papan, cahaya dan panas matahari, sebelum kembali menghadap kepada Sang Khalik. Itulah sebabnya, mengapa setiap makhluk yang ditakdirkan berdiam di muka sebuah planit di Alam Semesta (Al-Kaun) yang demikian luas, akan memperoleh dua ibu, masing-masing: ibu yang melahirkan dinamakan: “Ibu Kandung” (Biological Mother), disingkat IK, dan lainnya ibu yang mengasuh dinamakan: “Ibu Asuh” (Mother Care), yang tidak lain dan tidak bukan ialah planit tempat berdiam di Alam Semesta, disebut juga: Ibu Planit, disingkat IP. Khu-sus untuk bumi atau planit biru, dimana manusia dan bermacam makhluk lain bertempat tinggal, disebut: Ibu Bumi, disingkat IB. Dengan demikian setiap mahluk yang berada di Alam Semesta, di planet manapun ia ditakdirkan Allah Subhanahu Wataala bertempat tinggal, akan dilahirkan IK masing-masing dan diasuh IP bersama.

Earth_Eastern_Hemisphere

Ibu Bumi
Sumber: Google

Kehidupan Alam Fana
Tidak terhitung macam persoslsn berikut ragamnya dihadapi manusia hidup menjalani alam fana di muka bumi, terjabar dalam: perseorangan, keluarga, kelompok, suku, daerah, nasional, dan internasional. Ada persoalan anak masuk usia puber berikut kenakalannya yang memerlukan perhatian. Ada persoalan kemiskinan umat berdiam di bumi yang perlu dipecahkan. Ada lagi persoalan buta huruf yang menghambat umat mendapat pendidikan diperlukan. Ada persoalan kakek/nenek lemah fisik lagi pikun yang kian besar jumlahnya di muka bumi. Ada persoalan: keyakinan, agama, intelektual, dan lain sebagainya yang membutuhkan perhatian masyarakat dan pemerintah. Ada persoalan pembabatan hutan liar kian merajalela di bumi yang tidak mudah dikendalikan pemerintah. Ada pula masalah: kriminal, narkoba, pembajakan, pelanggaran disi-plin, moral; ada lagi kejahatan dunia maya, penyadapan, dan banyak lagi yang lainnya. Yang tidak kalah mengkhawatirkan umat kini pencemaran lingkungan hidup di muka bumi, dari: darat, air (parit, kolam, kanal, sungai, laut, hingga samudra), atmosphere, tidak terkecuali angkasa diseputar bola bumi, sejak “revolusi industri” bergulir di Eropa lebih dari dua abad silam. Perlu dicatat, bahwa setiap persoalan memperlihatkan dinamika masing-masing, artinya: ada yang baru muncul, ada pula yang terus bertahan, ada lagi yang lenyap untuk sementara lalu tiba-tiba muncul dengan tak-terduga. Itulah sebabnya mengapa persoalan yang dihadapi manusia di muka bumi tidak mungkin dingkapkan seluruhnya, apalagi untuk dirinci satu demi satu. Selain dari itu, berbagai persoalan yang tampil saling berkejaran menuntut penyelesaian, karena bila tidak atau terlambat, akan dapat menimbulkan bencana atau malapetaka kepada manusia atau makhluk lain.
Rumah Ilahi
Selama kehadirannya silam, Nabi Muhammad SAW menganjurkan umat mendirikan mesjid. Mesjid adalah “baitullah” atau “rumah Ilahi”, karena tempat didirikannya telah ditentukan oleh mereka yang mendapat petunjukNya, sementara anggaran pembangunannya diperoleh dari umat yang rela berbagi rezeki, karena hati mereka telah digerakkanNya. Kini terdapat tidak kurang dari 1.000.000 Mesjid di Nusantara, besar dan kecil, tersebar dari kota besar hingga kecil dan desa. Lebih banyak lagi mesjid berdiri di bagian dunia lain diluar Tanah-Air. Semua Rumah Ilahi, adalah tempat beribadah kepada Yang Maha Esa (Hablumminallah) sebagaimana yang di-sampaikan surat Ali-Imran, ayat 112; demikian juga tempat bersilaturrakhmi antara sesama umat (Hablumminannas), untuk menyebarluaskan dan mendalami keimanan Islam serta menimba bermacam pengetahuan yang telah disemaikan dari langit sampai ke bumi. Dengan telah berlangsunya “revolusi industri” di muka bumi, dan menyebar ke seluruh penjuru dunia tidak terkecuali Tanah-Air, serta menimbulkan beragam pencemaran terhadap lingkungan hidup umat mulai: darat, laut, udara, hingga antariksa, berlangsung lebih dua abad lamanya, maka tidak ada pilihan bagi umat Islam, kecuali mengambil langkah nyata untuk meghilangkan dampaknya dari permukaan bumi.
Untuk menanggulangi dampak pencemaran yang ditimbulkan “revolusi industri” berawal dari Eropa silam, kini semakin meresahkan IB (Ibu Bumi) yang mengasuh umat di muka bumi, surat Ali-Imran, ayat 112, perlu diperkuat dengan peringatan Ilahi tertera dalam surat Ar-Rum (Bangsa Rumawi), Ayat 41, yang mengatakan: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) dari perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Surat Ali-Imran, ayat 112, sepertinya mewakili periode kehidupan umat sebelum “revolusi industri” di Eropa di-mulai silam, ketika umat masih menganut sudut pandang: “duologi”, yakni: HablumminAllah dan Hablumminannas semata. Akan tetapi kini, dengan telah berlangsungnya “revolusi industri” lebih dari dua abad lamanya, dan dengan jelas telah menampakkan tanda-tanda perubahan iklim yang nyata di muka bumi; peringatan surat Ar-Rum, Ayat 41, perlu segera dilibatkan untuk menyelamatkan: IB (Ibu Bumi) dan IK (Ibu Kandung). Kerjasama Surat “Ali-Imran, Ayat 112” dengan Surat “Ar-Rum, Ayat 41”, melahirkan sudut pandang baru: “trilogi”, yakni: Hablum-minAllah, Hablumminannas, dan Hablumminalkaun, kini dibutuhkan oleh periode kehidupan umat setelah “revolusi industri” berlangsung di muka bumi. Pergantian “pandangan hidup” umat akhir ini harus segera disampaikan atau dikomunikasikan kepada semua orang yang ada di muka bumi oleh para ahli dakwah, baik yang bertugas di seluruh Mesjid maupun semua Rumah Suci beragam kepercayaan yang ada di muka bumi, dilaksanakan para rohaniawan, mulai Imam berikut jajarannya di mesjid-mesjid demikian pula rumah-rumah suci lainnya bersungguh-sungguh agar benar-benar sampai kepada setiap warga bumi dimanapun berada, guna menang-gulangi semua kerusakan yang telah timbul di bumi, terutama perubahan iklim nyata dengan akibat yang telah ditimbulkannya, agar tidak ada seorang anak Adam pun di muka bumi ini yang tidak mengetahui.
Kedatangan Makhluk
Setelah bumi berobah menjadi dingin dari pijaran bola api yang sangat panas, tumbuh-tumbuhan diperkirakan datang ke bumi sekitar 430 juta tahun silam. Dengan telah hadirnya bermacam tanaman yang mampu menyediakan beragam pangan, binatang kemudian menyusul datang ke bumi ditaksir mulai dari 75 juta tahun terakhir, disusul kera menyerupai orang sekitar 10 juta ta-hun yang silam, dan yang paling belakangan sampai di bumi manusia sekitar 300.000 tahun yang lampau. Demikianlah hasil penelitian para ilmuwan yang mengkaji kedatangan berbagai macam makhluk ke muka bumi dari sudut pandang evolusi yang sudah berkembang sejauh ini.
Tidak dapat disangkal, Allah Subhanahu Wataala telah menjadikan TMH kimia organik suhu tubuh (rendah) untuk menghadirkan bermacam makhluk hidup di muka bumi, seperti: tanaman, hewan, dan manusia memanfaatkan bermacam unsur kimia tercantum dalam tabel Mendeleyev dengan air sebagai bagian yang terbanyak, yakni sekitar 70% dari berat tubuh. Dengan TMH, setiap makhluk yang terlahir di muka bumi akan memperoleh pangan diperlukan, begitu pula beragam keperluan hidup lainnya menempuh “perjalanan kedua”, yakni kehidupan alam fana di muka bumi, mulai lahir dari kandungan hingga akhir hayat, didukung panas dan cahaya yang didatangkan dari matahari. Selain dari itu, TMH juga menyiapkan serangkaian teknologi daur ulang yang dibutuhkan menangani pencemaran lingkungan hidup, ketika berbagai makhluk yang telah menyelesaikan kehidupan alam fana mengembalikan benda (materi) yang dipinjam dari muka bumi usai menempuh kehidupan alam fana serentang hayat.
Perlu difahami, TMH ciptaan Ilahi juga memperkenalkan peredaran beragam unsur kimia di bumi yang menjadikan tubuh atau jasmani aneka ragam makhluk dalam menempuh “perjalanan kedua. Pertama, bumi meminjamkan bermacam unsur kimia yang dibutuhkan tubuh atau jasma-ni berjenis makhluk, seperti: tanaman, hewan, dan manusia, didatangkan dari kerak bumi keda-laman dangkal, hanya puluhan meter. Kedua, tubuh atau jasmani yang telah ditinggalkan ruh makhluk yang telah menempuh “perjalanan kedua”, lalu dikembalikan ke bumi lewat: pemaka-man, penenggelaman, atau pembiaran, akan didaur ulang dengan segera oleh bermiliard bakteri yang bertindak sebagai pemangsa (predator), menyebakan jasad-jasad tubuh yang dikembalikan akan terurai kembali menjadi bermacam unsur kimia asal, agar nantinya dapat dipinjamkan kembali kepada bermacam makhluk yang akan menjalani kehidupan alam fana di muka bumi, antara lain: tanaman, hewan, dan manusia yang baru lahir. Bagi yang dikremasi, predator diguna-kan adslah nyala api. Ketiga, TMH memanfaatkan reaksi kimia organik, yaitu “cara dingin” menghadirkan beragam makhluk alam fana di muka bumi, diawali dari dalam kandungan, lahir sebagai bayi, balita, anak, remaja, dewasa, orang tua, kakek/nenek, menjalani usia senja, hingga ke akhir hayat, tidak terkecuali kemandirian yang dimiliki setiap makhluk, mulai: kepribadian, kecerdasan, dan lain sebagainya yang kini masih belum banyak terungkap kepada umat sampai dengan saat ini.

Penduduk Bumi
Sampai hari ini manusia yang berdiam di muka bumi terus bertambah jumlahnya menelusuri perjalanan waktu. Pada saat Nabi Muhammad SAW menerima surat Al-Alaq diantarkan Malai-kat Jibril pada tanggal: 6 Agustus Tahun 610 M (Masehi) di Gua Hira silam, jumlah manusia yang mendiami bumi ditaksir seluruhnya 200.000.000 orang. Setelah 1150 tahun waktu berlalu, lebih dari satu Milenium menjelang diawalinya “revolusi industri” di Eropa silam, warga bumi selu-ruhnya telah meningkat menjadi 720.000.000 orang, dengan pertumbuhan rata-rata pendu-duk: 452.000 orang setiap tahun. Lalu pada tahun 1850 M, manusia yang menghuni permukaan bumi sudah mencapai 1.200.000.000 (satu Miliar dua ratus juta) orang. Lalu pada tahun 1950 M, seratus tahun kemudian, umat yang berdiam di muka bumi telah mencapai 2.500.000.000 orang, dengan pertumbuhan rata-rata penduduk: 13.000.000 orang per tahun. Dari apa yang telah diuta-rakan diatas, terlihat jelas adanya “perubahan” peningkatan rata-rata penduduk bumi dalam satu milenium, dari: 0,452 juta orang per tahun, menjadi: 13 juta orang per tahun periode seratus tahun kemudian. Perubahan peningkatan rata-rata penduduk mencolok, dari “landai” menjadi “hampir tegak”, tidak diragukan lagi merupakan sumbangan nyata dari “revolusi industri” yang telah berlangsung dan melanda dunia, karena telah tampak begitu banyak kemudahan hidup yang didapat umat menempuh “perjalanan kedua”, yaitu kehidupan alam fana di muka bumi. Pada tahun 2000 M silam warga bumi telah melampaui 6 Miliar orang, dan pada tahun 2011 M mencapai 7 Miliar orang. Ramalan kedepan memperlihatkan pada tahun 2025 M warga bumi akan berjumlah 8 Miliar orang, dan tahun 2043 M mencapai 9 Miliar orang, lalu memasuki abad pertama Milenium ketiga akan melebihi 10 Milyar orang. Grafik dibawah ini memperlihatkan perjalanan penduduk bumi lewat sebuah kurva yang dihasilkan Google.

 penduduk

Sumber: Google

Kilas Sejarah Filsafat
1. Filsafat Islam Di Timur Tengah.
Agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW mengantarkan umat Muslim mendirikan kekhali-fahan Islam di jazirah Arab abad ke-7 Masehi, lalu meluaskan pengaruh ke daerah sekitarnya. Sebagai akibatnya, pertemuan dengan berbagai budaya yang telah ada sebelumnya tidak dapat dihindarkan. Lahir “ilmu kalam” bertujuan menyampaikan cara praktis ajaran agama yang baru kepada umat Muslim, yang melahirkan theologi Islam. Menyusul kemudian ilmu Fiqih, Ilmu Tasauf, dan Filsafat Islam, dan yang akhir ini memperkenalkan: perdebatan, dialektika, dan argumentasi, begitu juga lainnya. Filsafat Islam berurusan dengan berbagai masalah berkaitan dengan kehidupan, antara lain: alam fana, alam raya, nilai, etika, masyarakat, dan lain sebagai-nya, lalu dihimpun secara beraturan kebutuhan kaum Muslim. Orang-orang Islam lalu tertarik dengan filsafat Yunani, setidaknya pada bagian awal abad hijrah, karena dalam keyakinan orang-orang Muslim ketika itu, Allah ialah Pencipta dari segalanya, dan ilmu pengetahuan diturunkan dan disebarkan ke Alam Semesta bermaksud tidak lain mengantarkan umat ke pemahaman yang lebih dalam tentang Dia, dan segala apa yang telah diciptakanNya.

Tidak lama setelah kekhalifahan Islam melebarkan sayap yang pertama, Bani Abbasyiah me-merintahkan rakyat mengumpulkan semua manuskrip Yunani yang beredar guna meningkatkan citra. Sebilangan filosof Muslim lalu menjadi terkemuka Timur Tengah sejak dari saat berse-jarah itu, dan mereka antara lain: Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al Gazali, Ibnu Bajah, Ibnu Thufail, dan Ibnu Rusyd. Sejak abad ke-9 Masehi, kekhalifahan Al-Makmun beserta penerusnya, giat memperkenalkan filsafat Yunani kepada masyarakat muslim di bumi Arab.
Setelah kekhalifahan Bani Abbasyiah turun dari singgasana tahun 750 di Damaskus, di Kordoba muncul Bani Umayyah yang mendirikan kekhalifahan di semenanjng Iberia, atau lebih dikenal dengan Andalusia dari tahun 929 hingga 1031 Masehi, tidak terkecuali ujung Utara benua Afri-ka ketika itu. Masa kekhalifahan yang beribukota Kordoba ini, ditandai oleh kemajuan per-dagangan dan budaya antara kedua tepian Laut Tengah, yakni sisi Timur sekitar: Yunani, Turki, Jazirah Arab, dan lainnya, dengan semenanjung Iberia, yang kini lebih dikenal dengan negara-negara: Portugal, Spanyol, Perancis, dan lainnya. Berbagai bangunan megah yang didirikan oleh kekhalifahan Islam silam, yang masih dapat disaksikan di Spanyol saat ini, antara lain: Mesjid Agung Kordoba dan istana lainnya, yang didirikan masih pada zaman keemasan itu.

Dalam zaman kekhalifahan Bani Umayyah, Laut Tengah menjadi jalan-air sekaligus urat nadi perdagangan dan pengantar budaya antara kedua sisi-sisinya, karena jalan darat di pesisir Utara dan Selatan Laut Tengah masih terbatas pada kafilsh berjalan kaki atau kereta kuda atau ternak lain yang sangat terbatas jangkauannya. Demikian juga hubungan perdagangan dan budaya antara semenanjung Iberia dengan negara-negara yang berada di Barat Laut Eropa, seperti: Pe-rancis, Inggris, Belanda, Jerman, dan lainnya. Jalan-air samudra Atlantik dapat terhindar dari ke-bekuan di musim dingin, tidak lain berkat aliran arus bawah laut teluk Meksiko yang panas mengalir hingga jauh ke Utara yang tersohor itu. Kedua jalan-air ini telah banyak berjasa me-ngembangkan perdgangan dan hubungan budaya antara semenanjung Iberia dengan Eropa Barat, tetapi juga memindahkan bermacam pengetahuan dan budaya dari sekitar: Yunani, Turki, Jazirah Arab, bahkan dari Persia dan India, serta lainnya menuju Eropa yang telah berhasi dihimpun dan diolah pemikir-pemikir Arab menjelang zaman renaissance (pencerahan) bersemi di Eropa Barat silam.
Perhatian umat Islam kepada filsafat dan ilmu pengetahuan berlanjut dibawah kepemimpinan Bani Umayyah ke-5 dikenal dengan: Muhammad ibn Abdurrahman (832-886 M). Pada ketika itu para pemikir dan ilmuwan dari dunia Islam buksn lagi tergolong kaum Muslim orthodox. Mereka bersama kaum bukan-Muslim lain ambil bagian dalam menyebarluaskan pemikiran: Yunani, Hindu, dan masa praIslam lainnya, lewat kekerabatan dan persahabatan dengan kaum Khristiani yang bermukim di Eropa. Mereka bersama-sama menjadikan hasil pemikiran Aristoteles kembali dikenal oleh masyarakat Khristiani Eropa, setelah lama lenyap dari perbendaharaan ingatan masyarakat. Adapun pemikir Islam yang tersohor ketika itu dapat dikemukakan, ialah: Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Kindi. Ketiga filosof disebutkan akhir ini telah lama memperkenalkan hasil pemikiran: Aristoteles, Neoplatonis, dan lainya kedalam masyarakat Islam di Timur Tengah. Banyak kalangan ketika itu yang telah menganggap mereka bukan lagi termasuk orang-orang Islam orthodox, bahkan ada yang mengatakan mereka bukan lagi filosof Islam melihat tulis yang mereka kerjakan. Dibawah ini disampaikan sekelumit tentang para filosof Islam yang terkemuka pada zamannya.
Al-Kindi (801-873) ialah seorang Arab keturunan suku Kinda, seorang filosof peletak dasar filsafat Islam, lahir di Basra, Irak. Setelah selesai menammatkan sekolah dasar di kota kelahi-rannya, lalu melanjutkan pendidikan ke Bagdad, dan mempelajari beragam ilmu, seperti: mathematika, fisika, mistik, dan seni; tidak terkecuali juga lainnya. Ia berjasa memperkenalkan pengetahuan filsafat ke dunia Islam di Timur Tengah. Al-Kindi cepat dikenal dalam lingkungan “Rumah Kebijakan”, begitu pula kalangan kekhalifahan Abbassyiah, sehingga yang akhir ini segera menugaskannya menjadi pengawas penterjemahan bermacam naskah ilmu pengetahuan dan filsafat dari bahasa Yunani kedalam bahasa Arab. Ia tergolong seorang ilmuwan yang banyak meninggalkan tulisan meliputi: metafisika, etika, logika, psikhologi, pengobatan, phar-makologi, mathematik, astronomi, astrologi, optik. Al-Kindi termasuk orang yang menyukai permasalahan: meteorologi, gempa bumi, dan lainnya yang tergolong membumi.
Al-Ash’arī (874–936) ialah seorang ilmuwan dan theolog Islam dari Timur Tengah yang ber- nama Al-Ash’arī. Ia lahir di Basra, dan keturunan dari salah seorang sahabat dekat nabi Muham-mad SAW silam. Sebagai seorang muda, ia mulai berguru kepada Al-Jubba’i, sebuah perguruan theologi dan filsafat Mu’tazilah terkemuka kala itu. Dan perguruan ini tidak lain dari “sekolah theologi” berdasar alasan (reasning) hasil pemikiran manusia bersifat logis (rational) yang amat terkenal pada masa itu. Ia mengamalkan ajaran Mu’tazilah dengan penuh kesetiaan hingga usia empat puluh tahun. Kemudian suatu ketika di bulan Ramadan, ia mimpi bertemu dengan nabi Muhammad SAW. Mimpi yang sama berlangsung tiga malam berturut-turut, yang memintanya agar kembali kepadanya, yaitu mengikui tradisi hadis. Lalu dari saat itu, Al-Ash’arī meninggal-kan ajaran Mu’tazilah, dan berganti menjadi penentang utama ajaran tersebut. Segala pengeta-huan filsafat yang dimiliki lalu dikerahkan untuk menentang ajaran, yang sebelumnya dengan amat setia diikutinya. Karena pengaruhnya yang amat besar di Timur Tengah waktu itu, umat Islam lalu menjadikan Al-Ash’ari sebagai peletak dasar akidah sunni Ash’ari yang berpengaruh luas, bahkan Imam Al-Ghazali yang tersohor dengan keempat kitab “Ihya Ulumiddin” (Menghi-dupkan lagi ilmu-ilmu agama), karya tulisnya.
Ibnu Sina (980-1037) seorang ilmuwan Arab lain menguasai beragam bidang pengetahuan, antara lain: filsafat, astronomi, kimia, geologi, psikhologi, theologi Islam, logika, mathematika, fisika, tidak terkecuali membuat sajak, sebagaimana kebanyakan ilmuan Arab Timur Tengah pa-da saat itu. Akan tetapi hasil karya yang melambungkan namanya di dunia ialah bidang penyem-buhan penyakit. Buku induk penyembuhan yang ditulisnya tentang pengobatan beragam penyakit menjadi buku induk dua universitas ternama di benua Eropa ketika itu, masing-masing Montpellier dan Leuvant dari Perancis sampai tahun 1650 M.
Al-Ghazali (1058–1111) seorang theolog Islam asal Persia dan penggemar hukum Islam, filsafat, dan tidak terkecuali mistik. Ia menjadi seorang Muslim yang amat berpengaruh di dunia Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Dalam dunia Islam, ia termasuk seorang pembaharu (mujaddid) keimanan Islam, dan menurut tradisi keagamaan yang dipercaya umat di Timur Tengah, akan datang ke dunia sekali dalam seratus tahun. Hasil karya Al-Ghazali men-dapat penghargaan tinggi di kalangan umat Islam yang sezaman, menyebabkannya memperoleh gelar sebagai: “bukti Islam”. Yang lain menuduhnya lawan dari ajaran Islam berpandangan Neo-platonis yang juga banyak pengikutnya, juga yang berpandangan helenistik. Al-Ghazali juga berhasil mengembalikan pengaruh kaum Islam orthodox yang sebelumnya terus mengamalkan ajaran Sufi yang telah mereka anut sebelumnya.
Al-Farabi (1165-1240) seorang sufi Arab dari Andalusia, adalah juga seorang sufi mistik, dan seorang filosof. Ia menguasai berbagai bidang pengetahuan, seperti: logika, penyembuhan, sosio-logi, dan analisa posteriori dari Aristoteles. Lewat bermacam naskah tulisan dan komentar yang disampaikannya, Al-Farabi menjadi tersohor dikalangan umat Muslimin di Timur Tengah. Ma-syarakat intelektual abad pertengahan menganugerahkannya gelar: “Guru Kedua”, yakni penerus setia ajaran Aristoteles dari Yunani yang menjadi “Guru Pertama”. Al-Farabi menghabiskan se-bagian besar masa hidupnya berdiam dan bekerja di Bagdad.
Ibnu Rushd (1126-1198) lahir di Kordoba Spanyol dan wafat di Marrakesh Maroko. Ia merupakan seorang asli bumi Andalusia, seorang Muslim berpengetahuan yang sangat luas meli-puti: filsafat Aristoteles, filsafat Islam, theologi Islam, hukum Maliki berikut yurisprudensinya, logika, psikhologi, politik dan theori klasik seni musik Andalusia, pengobatan, astronomi, geo-graphi, mathematik, tidak terkecuali mekanika gerakan benda langit. Ibnu Rushd juga dikenal se-bagai peletak dasar “filsafat sekular” yang sekarang diterima orang secara luas di benua Eropa. Ia menjadi seorang pembela setia filsafat Aristoteles, meski berseberangan dengan theologi yang diajarkan Ash’ari dan didukung oleh Imam Al-Ghazali.
Dari bumi Andalusia (Spanyol), karya filsafat yang berhasil dikembangkan bangsa Arab kemu-dian diterjemahkan kedalam bahasa Yahudi dan Latin, lalu dibawa ke Eropa untuk mengem-bangkan filsafat modern di bemua itu. Diantara para filosof Arab masa itu, terdapat Maimodes seorang Yahudi yang hidup dan berkarya dalam lingkungan Muslim Spanyol, juga ambil bagian menterjemahkan karya filsafat Islam dari bahasa Arab ke berbagai bahasa lain. Dari kalangan ilmuwan Muslim ketika itu, terdapat juga Ibnu Khaldun seorang kelahiran Tunisia asal Anda-lusia, yang meletakkan dasar ilmu kemasyarakatan kini dikenal dengan nama sosiologi dan histo-grafi, menjadi ilmuwan Arab penting lain terkemuka ketika itu, meski ia tidak menyebut dirinya sebagai seorang filosof, tetapi seorang penulis kalam saja.
Pada abad pertengahan, sejarah runtuhnya kekaisaran Romawi di Eropa silam demikian pula perpisahan Katholik Ortodox dari Timur dengan Katholik Romawi di Barat, telah lama hilang dari ingatan masyarakat banyak, tidak terkecuali kecakapan baca dan tulis abjad Yunani. Akan tetapi, dengan kembali diperkenalkannya filsafat Yunani terjemahan dari bahasa Arab ke bahasa Latin dan Yahudi yang masuk ke Eropa Barat lengkap dengan berbagai catatan dan keterangan yang dikerjakan para pemikir Arab, lalu membawa pengaruh besar kepada filsafat yang kembali lahir dan berkembang di daratan Eropa ketika itu, yang berpengaruh jauh hingga memasuki za-man renaissance (kembali ke zaman Yunani kuno) pada abad ke-15 di benua Eropa silam.

2. Filsafat Islam Di Asia Tenggara.
Setelah tampil di jazirah Arab lalu berkembang di kawasan Timur Tengah dan lain, Agama Islam selanjutnya meluas ke Asia, tidak terkecuali Asia Tenggara disebarkan kaum mubaligh dan para pedagang. Mereka ada yang berangkat dari Mekah, ada pula yang dari Gujarat (India), ada lagi dari Persia, dan sejumlah tempat lain. Lalu tampil kerajaan Islam di kawasan Asia Tenggara, beserta perlembagaan Islam, seperti: pemerintahan, pendidikan, kehidupan, kesusastraan, kese-nian, tidak terkecuali perekonomian bercorak Islam. Pada waktu Ibnu Batutah, pengelana dari Maroko singgah di sebuah negeri bernama: Samudra Pasai tahun 1345 silam, dan ia berjumpa dengan seorang Muslim saleh mazhab Al-Shafi’i yang menjadi Raja. Tampak dengan demikian ajaran imam Ash’ari yang didukung imam Al-Ghazali telah menyebar di Asia Tenggara.

Kesejahteraan Umat
a. Sistim Ekonomi Bebas, atau Liberal
Dalam zaman merkantilis di Inggris silan, siapa saja dapat mejalankan beragam usaha (business) untuk mencari nafkah, mulai menghasilkan bermacam barang (produk), hingga dengan menye-diakan layanan jasa (service), atau keduanya, untuk memenuhi keperluan masyarakat. Semuanya diperdagangkan orang di beragam pasar yang ada dimana-mana. Lalu timbul persaingan diantara para penyedia barang atau jasa atau keduanya oleh tangan-tangan tersembunyi (invisible hands), untuk harga dan mutu barang atau jasa dihasilkan dalam jumlah (kuantitas) dan mutu (kualitas) barang atau jasa yang terikat kedalam suatu kesepakatan dagang. Pendapatan para pengusaha di-tentukan oleh jumlah barang atau jasa yang terjual dalam setahun. Pemerintah hanya berperan sebagai pengawas dan administrator, dan dan samasekali tidak mencampuri urusan pengusaha dalam menghasilkan barang atau jasa, akan tetapi menyediakan tempat usaha dengan perangkat aturan dan lingkungan: ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang setara bagi semua, terhadap pungutan (pajak) dikenakan.
Memasuki abad pencerahan di Eropa, dibekali filsafat dan berbagai pengetahuan yang diolah dan diantarkan bangsa Arab dari Timur Tengah, landasan berfikir kaum intelektual orang-orang Eropa telah berkembang sedemikian jauh, memungkinkan mereka mengembangkan bermacam pengetahuan tepat guna di bagian dunia itu. Ini terlihat jelas dengan diterapkannya “analisa ilmu” dalam mengembangkan mesin-uap, yang awalnya dipicu pompa air dibantu uap-bertekanan yang diperkenalkan Thomas Savery (1650-1715) dari Inggris, kemudian diperbaiki Thomas Newco-men (1664-1729) rekan senegaranya, membuat James Watt (1736-1819) rekan senegara lainnya berhasil menciptakan “sumber tenaga gerak” (mechanical energy source) pertama di dunia me-manfaatkan uap-bertekanan yang amat diperlukan banyak orang untuk menggerakkan beragam industri ketika itu. Ketiga orang Inggris ini telah merobohkan kartu: “domino teknologi” pertama di bumi, memperkenalkan tenaga alam hasil rekayasa akal-budi manusia, sekaligus membidani dimulainya “revolusi industri” berlangsung di muka bumi diawali dari Eropa, lebih dari dua abad silam.
Analisa ilmu yang telah dikuasai segelintir bangsa Eropa saat itu, kemudian diperlebar ruang lingkupnya bahasannya, tidak terbatas hanya kepada sumber tenaga gerak dan beragam industri yang telah dilahirkannya, tetapi juga berbagai bidang lain, seperti: politik, sosial, dan lainnya, dan berpuncak pada kajian “Kesejahteraan Hidup Berbagai Bangsa” di muka bumi sebagaimana disampaikan Adam Smith dari Inggris. Akan tetapi yang jelas, pengaruhnya telah menyebabkan “sistim ekonomi merkantilis”, berubah menjadi “sistim ekonomi kapitalis” di Inggris, dan sejum-lah negara Eropa lain saat itu, yang lalu dikenal dengan “kapitalisme”, karena memperoleh amu-nisi dari perkembangan revolusi industri melaju pesat. Adam Smith melanjut kajiannya tentang: “Memperbaiki Keadaan Dunia”, yang menimbulkan pertanyaan: apakah industrialisasi akan menyejahterakan kehidupan umat di bumi ditilik dari angka harapan hidup manusia, jam kerja yang singkat, dan dibebaskannya anak-anak dan orang-orang tua dari kewajiban bekerja untuk mencari nafkah?
Sejak awal revolusi industri, kapitalisme berkembang pesat di Eropa didukung kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat dan terhimpun di benua itu. Mobil lalu dengan cepat menggantikan kereta yang dihela ternak di jalan-jalan raya berbagai negara, dimu-lai dari Eropa, lalu menyebar ke Amerika Utara, kemudian Jepang, dan bagian dunia lainnya. Angkutan jalan-baja yang dihela lokomotif-uap dan membakar batubara melahirkan angkutan kereta-api, dan menebar jaringan ke berbagai negara di benua Eropa melayani angkutan penumpang dan barang, lalu diexport ke berbagai negara di bagian dunia lainnya, tidak terke-cuali Asia, oleh “ongkos angkut” muatan: penumpang dan barang yang sangat murah. Transpor-tasi air juga ikut berkembang, mulai: kanal, sungai, danau, laut, hingga samudra yang selama ini dikuasai oleh kapal layar, lalu digantikan mesin-uap karena dapat lebih diandalkan ketimbang hembusan angin; kini telah pula diambil alih oleh mesin diesel. Keberhasilan Wright bersaudara dari Amerika Serikat membuat “kapal terbang”, kini dikenal dengan pesawatterbang, memung-kinkan dikemkembangkannya angkutan udara yang memindahkan penumpang dan barang melin-tasi benua melalui atmosfer bumi. Selain berbagai industri dan sarana angkutan yang telah disebutkan, sumber tenaga hasil akal-budi manusia ini telah pula melahirkan tak-terhitung banyak pabrik dan industri berikut keragamannya menyusul pula bermunculan di muka bumi, antara lain: pabrik semen, industri baja, pabrik pengolahan logam, tambang batubara, tambang beragam mineral, pengeboran minyak dan kilang pengolahannya mulai daratan hingga lepas pantai, in-dustri: plastik, bahan bangunan, kimia, pharmasi, kertas, makanan dalam kemasan; dan masih banyak lagi lainnya.
Dalam perjalanan waktu, kapitalisme di bumi berkembang menjadi imperialisme, karena mengu-asai lahan yang semakin luas di bumi, yang selanjutnya beralih jadi tanah jajahan, atau koloni. Kolonialisme akhirnya melanda dunia, dan menguasai tanah-tanah subur yang luas untuk dija-dikan perkebunan bermacam tanaman ekonomi, seperti: karet untuk ban, kelapa sawit untuk minyak goreng dan lainnya, tembakau untuk rokok, tebu untuk gula, dan lain sebagainya. Peng-galian tambang batubara, minyak bumi dan lainnya, di tanah jajahan dilakukan untuk memasok keperluan industri yang telah berkembang di Eropa, Amerika Utara, Jepang yang kelaparan ba-han-baku, dan dahaga bahan-bakar serta minyak lumas, terus berlangsung jauh menerobos masuk kedalam abad ke-20 silam. Sejak dari awal revolusi industri, kapitalisme telah berhasil mendirikan beragam industri: mulai ringan sampai berat dan sangat berat di sejumlah negara beragam bagian bumi ini. Sebagai akibatnya, tidak dapat dihindarkan munculnya aliran bahan atau benda (materi) dari dalam perut bumi menuju ke permukaan, antara lain: bahan-bakar (batu-bara, minyak bumi, dan gas), bermacam mineral berguna (biji besi untuk membuat besi dan baja, tembaga, aluminium, logam mulia, dan lainnya); dan masih banyak lagi lainnya. Bahan-bahan ini diperlukan oleh negara-negara yang memproduksi berjenis barang, seperti: prasarana dan sarana angkutan: darat, laut, udara, antariksa; menyediakan perlengkapan dan peralatan militer termasuk berjenis mesin perang, dan masih banyak lagi yang dibutuhkan oleh negara dan masyarakat mulai lokal hingga dengan global. Juga industri penyedia minuman dan makanan yang dikemas, industri texstil, industri pertanian, industri peternakan dan perikanan, dan banyak lagi lainnya. Aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan ini sudah berlangsung sejak dari dimulainya revolusi industri di muka bumi lebih dari dua abad yang lalu dan masih terus ber-langsung sampai dengan hari ini, selanjutnya dikenal dengan nama: “aliran benda” (materi)”.
Selain kepiawaian menghasilkan beragam produk atau jasa sesuai harga, mutu, dan jumlah yang disepakati dalam suatu perjanjian; masalah yang dihadapi kapitalisme di muka bumi dewasa ini: pertama limbah-gas hasil pembakaran bahan-bakar (padat, cair, dan gas) yang terus menerus di-hamburkan menuju atmosfer planet biru oleh beragam sarana angkutan: darat, laut, dan udara, mengganggu pernafasan; kedua limbah-cair yang dibuang menuju lingkungan oleh bermacam in-dustri, dan kegiatan perekonomian lainnya, tidak terkecuali berasal dari rumah-tangga kota-kota besar hingga kecil yang ada di muka di bumi dibuang begiu saja kedalam badan-air (parit, kolam, kana, sungai, danau, laut, hingga samudra), lalu mencemari minunan dan makanan umat, tidak terkecuali makhluk lain yang menimbulkan gangguan kesehatan mulai lahir (fisik) hingga bathin (mental); ketiga: limbah-padat rongsokan beragam sarana angkutan (darat, laut, udara, dan lainnya) produk bermacam industri yang telah habis masa pakai ekonominya, mulai: sarana transportasi hingga berbagai industri, bermacam tambang, instalasi pengeboran minyak dari darat hingga lepas pantai; bangkai bermacam peralatan elektronik dan teknik digital begitu juga gadget dan lain sebagainya. Dalam hal ini tidak terkecuali pula bermacam perabotan dan perlengkapan rumah tangga produk industri yang tidak lagi diperlukan, lalu diterlantarkan begitu saja di muka bumi menyita banyak lahan. Sejak dari awal revolusi industri di Eropa lalu, ketiga kelompok limbah awalnya berasal dari “aliran benda (materi)” yang meninggalkan perut bumi menuju permukaan yang tidak pernah berhenti dan mengalir terus menerus sampai dengan hari ini.
Kini tidak dapat dirsangkal, “aliran benda (materi)” meninggalkan perut bumi menuju permuka-an semakin besar jumlahnya dalam “juta metric ton”, sejalan dengan meningkatnya penduduk bumi dan aktivitas serta kreativitas mereka, bagai bola salju yang sedang menggelinding dari lereng gunung Alpen dari Eropa di musim dingin. Selain dari itu, kapitalisme juga semakin me-nguasai dan mengendalikan perekonomian dunia. Kaum kapitalis juga kian bersaing mendapat-kan bermacam benda (materi) berharga yang diperlukan dari dalam perut bumi, baik yang ter-dapat di negerinyai maupun yang didatangkan dari diluar Tanah-Airnya, menyebabkan ekosistim di muka bumi kian tidak dapat dipelihara kelestariannya. Selain dari itu kapitalisme telah banyak berpengalaman dalam bidang menghasilkan produk industri atau komoditi didukung SDM bermutu dan sumber dana global, membuat lingkungan hidup di muka bumi, terutama di dunia ketiga yang kurang pengetahuan dan lemah pengawasan, tidak terhindar dari exploitasi SDA berlebihan memenuhi permintaan pasar global akan barang dan jasa.
Kini kapitalisme harus mencari jalan keluar, agar “aliran benda (materi)” dari dalam perut bumi menuju permukaan tidak lagi berakhir menjadi: 1. “limbah-gas” mencemari udara yang terdapat dalam atmosfer bumi, 2. limbah-cair dari penggunaan air-bersih tidak lagi mengotori badan-air, dan 3. limbah-padat rongsokan bermacam produk industri tidak diterlantarkan lagi dimanamana di muka bumi. Harus ditemukan jalan keluar, agar aliran bahan dari dalam perut bumi menuju permukaan tidak lagi manjadi pencemar: mulai pencemar biasa, berbahaya, hingga dengan yang sangat berbahaya bagi makhluk, dengan menghindarkannya dapat masuk kedalam tubuh manu-sia atau bermacam makhluk lain pada kegiatan hidup sehari-hari, mulai: minum, makan, bernafas, hingga bekegiatan, sehingga gangguan lahir (fisik), an-tara lain: tidak normal bekerja atau berfungsi bermacam organ tubuh, tidak terkecuali penga-ruhnya terhadap bathin (mental), seperti: keanehan berprilaku seharihari, kelemahan berfikir sampai dengan kehilangan ingatan dini, dan lain sebagainya.
Salah satu gagasan yang layak mendapat acungan jempol untuk butir pertama, ialah apa yang kini tengah menjalani ujicoba bersungguh-sungguh. Apa yang sebenarnya sedang diusahakan, ialah hijrah dari “ekonomi bahan-bakar fossil” menuju “ekonomi bahan-bakar hidrogen” terhadap sarana angkutan darat, sehingga gas hasil pembakaran yang ditimbulkan mesin, dalam hal ini sel bahan-bakar (fuel cell) yang menggerakkan mesin listrik, hanyalah air. Gagasan ini semula diperkenalkan John Bockris dari Pusat Teknik General Motor, Amerika Serikat, pada sebuah pembicaraan tahun 1970 silam. Kemudian pada tanggal 10 October 1997, Richard Daley, wali-kota Chicago, bersama rekannya berpesiar dalam kota mengendarai bis berbahan-bakar hidrogen, unsur kimia dalam tabel Mendeleyev terbanyak yang ada di bumi, dipisahkan dari gas alam melalui proses kimia. Sebuah Sel Bahan-Bakar (SBB) mengubah hidrogen yang disalurkan keda-lam SBB menjadi “tenaga lisrik” dan “air”, tanpa harus melakukan pembakaran, diperkenalkan oleh Ballard Power Systems (BPS) dari Vancover. SBB ternyata “tiga kali” lebih hemat (efisien) dari mesin pembakaran yang telah diciptakan orang sebelumnya: MPL dan MPD. Tenaga listrik yang didapat dari SBB lalu disalurkan kedalam mesin listrik yang menyebabkan bis BPS ber-gerak. Gas buang yang dihasilkan bis ialah uap-air dan samasekali tidak tercemar. Sang walikota meminum segelas air diambil dari knalpot bis sambil berkata “tidak jelek”. Bis dijalankan sel bahan-bakar melaju dengan kecepatan hingga 80 km/jam, dan mencapai jarak tempuh 400 km, atau sehari penuh perjalanan bis, terhadap sekali pengisian BBH (Bahan Bakar Hidrogen).
Terhadap butir kedua, untuk menghindarkan air-kotor mencemari badan-air yang ada di muka bumi, beragam pencemar yang larut kedalam air-kotor oleh Instalasi Penjernihan Air (IPA) ha-rus dipisahkan untuk memperoleh kembali air-bersih. Perlu dikembangkan beragam IPA, mulai keperluan rumah tangga ukuran mini sampai desa, kota, tidak terkecuali kawasan industri beru-kuran raksasa. Dengan demikian, hanya air bersih yang akan dibuang kedalam badan-air yang ada di muka bumi ini apapun ragamnya. Perlu dicatat, lebih dari 70% berat tubuh manusia, tidak terkecuali beragam makhluk lain, adalah air. Itulah sebabnya mengapa manusia, demikian juga makhluk lainnya sangat peka terhadap air yang tercemar; karena manakala yang disebut akhir ini masuk kedalam tubuh lewat aktivitas: minum, makan, dan berkegiatan, akan menimbulkan gangguan lahir (fisik), tidak terkec-ali munculnya pengaruh bathin (mental) yang tidak diinginkan.
Untuk butir ketiga, limbah-padat: rongsokan beragam angkutan (mobil, kapal, pesawatterbang, bermacam mesin perang, dan lain sebagainya), begitu pula reruntuhan konstruksi baja dan lain- ya, tidak terkecuali instalasi tambang dari darat hingga lepas pantai, dan masih banyak lagi lainnya. Memasuki milenium ketiga, tampil lagi onggokan benda-benda elektronik bekas (kom-puter, telepon pintar, tablet, dan lain sebagainya) yang beralih menjadi limbah. Untuk menghin-darkan kehadiran tumpukan limbah teknologi elektronik-digital (digital-electronic) yang diterlan-tarkan orang berserakan di dimana-mana menyita lahan, perlu diciptakan “cadangan berputar” (spinning reseve) beragam “bahan baku” kebutuhan industri yang memproduksi bermacam barang (produk) mulai ukuran kecil hingga dengan raksasa. Adapun yang dimaksud dengan cadangan berputar tidak lain dari “Bank Bahan Baku”, disingkat BBB (Bank of Raw Materials, disingkat BRM). Sebagaimana yang diteladankan TMH (Teknologi Mahluk Hidup) yang telah menyediakan “pemangsa” (predator) sebagai bagian rantai makanan yang bertugas “mendaur ulang” bermacam jasad yang telah ditinggalkan ruh, agar pencemaran di muka bumi dapat dihindarkan Sejalan dengan apa yang telah dicontohkan TMH diatas, maka terhadap beragam barang (produk) hasil industri ciptaan manusia apapun jenisnya, dapat juga dilakukan cara yang sama, sehingga rongsokan beragam barang (produk) hasil industri yang telah habis masa pakai ekonominya dapat kembali didaur ulang untuk memperoleh lagi bahan-baku asalnya.
Dengan demikian perlu dihadirkan beragam Industri Pemangsa (IP), atau Predator Industry (PI), di muka bumi bertugas mendaur ulang beragam barang (produk) hasil industri yang sudah habis masa pakai ekonominya. Semua IP akan bertugan menjadi pemasok bahan-baku ke BBB, digali dari tambang perkoaan (urban mining) dimanapun berada di muka bumi, seperti: baja, tembaga, aluminium, dan lainnya, agar kembali disimpan dalam cadangan berputar. Masing-masing IP akan menghasilkan kembali bermacam bahan-baku yang diperlukan oleh beragam industri yang membuat bermacam barang (produk) yang dibutuhkan pasar, mulai aneka ragam industri hingga dengan berjenis kerajinan rumah tangga dari kota sampai ke desa. Dengan demikian mereka yang membutuhkan beragam bahan-baku dapat membeli langsung ke BBB, sehingga kedepan, penggalian bahan tambang dari dalam perut bumi langsung untuk beragam mineral asal alam harus dibatasi untuk hanya keperluan kekurangan stok BBB dengan pengawasan ketat. Dengan menyediakan cadangan berputar di muka bumi, maka ekosistim yang telah terpelihara baik tidak lagi dapat dirusak dengan semena-mena oleh orang-orang yang tidak bertanggung-jawab seba-gaimana yang telah terjadi selama ini guna melindungi planit biru, satu-satunya benda langit isti-mewa terdapat di Alam Semesta, kini diketahui orang telah berumur 4,6 Miliard tahun.
b. Sistim Ekonomi Terpimpin, atau Diktator
Sosialisme tampil sebagai kritik terhadap kapitalisme. Ajaran Marxis berawal dari penolakan terhadap timbulnya revolusi industri di Eropa. Menurut Karl Marx (1818-1883), industrialisasi akan mengelompokkan masyarakat kedalam kaum borjuis (bourgeoisie), yaitu kelompok orang yang kecil jumlahnya yang memiliki bermacam alat produksi dari tanah hingga pabrik yang tidak banyak jumlahnya, dan kaum proletar (proletariat), yaitu orang-orang yang besar jumlahnya melakukkan pekerjaan membuat sesuatu dari bermacam alat produksi yang dimiliki kaum bor-juis. Marx memandang industrialisasi sebagai dialektika logis pelaku ekonomi kaum feodal me-nuju kapitalisme sempurna, dan yang akhir ini adalah pendahuluan menuju komunisme. Dalam sistim sosialis segala alat produksi beragam usaha (business) adalah miliki negara yang dikelola pemerintah komunis dengani deologi Marksiasme Leninisme. Seluruh warga bangsa bekerja ke-pada negara: “memberikan kepadanya sesuai kemampuan, dan mendapat darinya menurut kebu-tuhan. Akan sangat menyalahi moral sosialisme, manakala ada anak bangsa yang menjalankan usaha (business) pribadi menghasilkan barang atau jasa dengan mengeksploitasi rekan sebang-sanya sendiri, dan membayar upah (uang) kepadanya sebagai imbalan.
Sepeninggal Marx, para pengikutnrya lalu terbelah. Sebuah kelompok yang berkembang di Jer-man meninggalkan cara revolusi Perancis (1789-1799) yang telah menewaskan Raja Louis XVI yang tengah bertahta di negeri itu, menyebabkan munculnya bermacam terror dimana-mana yang menyengsarakan kehidupan warga bangsa, dan mencari jalan damai untuk memperbaiki nasib kaum buruh di Eropa dengan reformasi. Kelompok lain kaum Marxist Ortodox pengikut K. Ka-utsky, pimpinan W. I. Lenin, mengulangi lagi cara revolusi Perancis 128 tahun silam, tetapi kini menggulingkan Tsar Nikolas II dari singgasana di ibukota Rusia Petrograd, pada tanggal 7 Nopember 1917, dengan menggerakkan kaum buruh negeri Beruang Merah. Revolusi berdarah kaum Bolshevik dipimpin W.I. Lenin berhasil menyingkirkan sang Raja beserta keluarganya ke Ekaterinburg di Siberia. Lenin berhasil menyusun pemerintahan diktator proletariat di Rusia bersama kaum Bolshevik dikendalikan Partai Komunis tunggal dan menguasai negara tanpa diperkenankan adanya kaum oposisi terhadap pemerintah yang berkuasa.
Pada ketika itu, kekaisaran Rusia sedang giat mengembangkan sistim ekonomi kapitalis yang akan bertanggungjawab kepada kesejahteraan rakyat negeri, sebagaimana yang kabanyakan dila-kukan banyak negeri di Eropa saat itu, akan tetapi dengan keberhasilan kaum Bolshevik meng-gulingkan Tsar dari singgasananya, “sistim ekonomi kapitalis” yang tengah berkembang di Ru-sia, terpaksa digantikan “sistim ekonomi sosialis” pertama di dunia menurut ajaran Marx. Negara yang baru berdiri lalu dinamakan: Uni-Sovyet. Dengan demikiann sistim ekonomi kapitalis yang telah dibangun Tsar Nikolas II untuk bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat, langsung digantikan sistim ekonomi sosialis pertama di planit biru. Sistim ekonomi akhir ini kemudian disebarluaskan ke segala penjuru dunia, dan pasca perang dunia ke-II wajib diterima oleh semua negara yang kemudian menjadi “satelit Uni-Sovyet”, tidak terkecuali berbagai negara dunia ke-III dan anggota negara-negara Non-blok yang berminat mencicip sistim ekonomi sosialis untuk mesejahteraan kehidupan bangsa masing-masing.
Saat negara Beruang Merah ditimpa kegaduhan politik yang berat, Michail Gorbachov selaku presiden Uni Sovyet memberi izin dilangsungkannya pemilu, satu-satunya yang pernah dilaksa-nakan di negeri Beruang Merah dengan sistim ekonomi sosialis dikelola Partai Komunis. Keluar sebagai pemenang pemilu pertama di RFSR (Republik Federasi Sosialis Rusia) yang dilaksana-kan cara demokratis tanggal 26 Maret 1989, ialah B. N. Boris Yeltsin, yang kemudian menjadi Presiden pertama RFSR, meski ia telah lebih dahulu menyatakan diri keluar dari keanggotaan Partai Komunis yang berkuasa di negeri Beruang Merah itu.
Setelah lebih tujuh dekade mengendalikan kekuasaan tertinggi di Uni-Sovyet, sosialisme atau sistim ekonomi sosialis ternyata gagal memenuhi janji bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat di seantero negeri, oleh ideologi yang telah usang, terutama membodohi anak bangsa de-ngan bermacam indoktrinasi klassik daripada mencerdaskan, membelenggu kemerdekaan indivi-du, sekaligus melanggar hak azasi manusia. Uni-Sovyet saat itu, masih salah satu negara adidaya dunia, pemimpin Negara Sosialis dari Blok Timur, kemudian hilang begitu saja ditelan sejarah dari permukaan bumi. Sebagai gantinya, tampil sejumlah negara, salah satu darinya ialah: Fede-rasi Rusia (Russian Federation) yang dipimpin B. N. Boris Yeltsin, kembali menjadi negara demokratis. Yang akhir ini lalu menyambut lagi “sistim ekonomi kapitalis” yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat, sebagaimana yang sudah dirintis kekaisaran Rusia silam, dalam memulihkan perekonomian negeri yang telah porak poranda.
Uni-Sovyet yang telah berjaya selama lebih dari 72 tahun (1917-1989), berupaya keras mem-buktikan sosialisme yang menuju komunisme, menjadi kenyataan sebagaimana yang diajarkan oleh ideologi Komunis, akan tetapi terbukti gagal. Sosialisme juga tidak menunjukkan keung-gulan dalam berbagai bidang, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi, dan penerapan kedu-anya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Manakala dibandingkan dengan Jerman dan Jepang, yang begitu hancur di bom sekutu dalam Perang Dunia ke-II silam, hanya dalam waktu sedikit lebih dari setengah abad, keduanya berhasil tampil menjadi raksasa-raksasa ekonomi ke-2 dan ke-3 dunia sesudah Amerika Serikat, namun dalam periode waktu tidak jauh berbeda Uni-Sovyet justru hilang ditelan sejarah. Negara adidaya dunia saingan Amerika Serikat itu, juga terlihat kelabakan berhadapan dengan bencana Chernobyl timbul tanggal 26 April 1986 silam. Bantuan datang dalam menghadapi malapetak nuklir dinegeri itu, justru datang dari negara-ne-gara kapitalis ketimbang negara-negara sosialis sealiran ideologi menghadapi serangan radiasi radio-aktif. Perlu dicatat, ketika itu “perang dingin” antara Blok Barat dan Blok Timur masih be-lum berakhir.
Sosialisme juga tidak memiliki penyelesaian terhadap masalah limbah, seperti yang dihadapi negara-negara kapitalis asal dari rumah-tangga maupun buangan bermacam industri yang me-landa negara-negara kapitalis di dunia ketika itu. Pasca keruntuhan Uni-Sovyet, barulah media berpeluang mengabarkan kerusakan lingkungan yang terjadi di negara bersistem ekonomi sosia-lis dikenal dengan tirai besi. Pencemaran dan kerusakan lingkungan juga terkuak ke media di berbagai negara satelit Beruang Merah, oleh lamanya terisolasi dari masyarakat dunia karena perbedaan ideologi, juga ketidak mampuan sistim ekonomi sosialis mengembangkan prakarsa berkaitan dengan memelihara kelestarian ekosistim di muka bumi. Tidak dapat dihindarkan, ter-seretnya negara-negara anggota non-blok yang telah menerapkan sistim ekonomi sosialis model Uni-Sovyet guna mensejahterakan kehidupan bangsa, lalu terjerumus kedalam penanganan ling-kungan hidup birokratis yang merugikan ekosistim bumi negara bersangkutan.
c. Sistim Ekonomi Romantis
Revolusi industri berkembang di Eropa lalu meluas ke Amerika, kemudian Jepang dan berbagai bagian dunia lain, tidak dapat disangkal mendapat perlawanan juga dari kaum penentang lain, seperti: penulis, masyarakat intelektual, para penggelut seni, dan lainnya. Kelompok masyarakat yang menolah kehadiran revolusi industri digerakkan kaum pengusaha di Eropa ketika itu mendapat nama julukan: kaum romantis. Kedalam kelompok ini termasuk juga para penyair yang rajin menyuarakan buah fikiran dan suara hati melalui tulisan, antara lain: makalah, puisi, mengarang sajak, dan lain sebagainya. Mereka juga mempertontonkan karikatur, melaksanakan pentasan panggung atau theater, dan masih banyak lagi yang lain. Kaum romantis ingin memeli-hara hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungannya di muka bumi, bersenjata-kan kepiawaian seni dan kekayaan warisan budaya lewat bahasa. Apa yang mereka perbuat bertolak belakang dengan beragam mesin ukuran gergasi dan bangunan ukuran raksasa yang se-gera bermunculan di sekitar mereka ketika itu. “Dark Satanic Mills” karya William Blake, novel “Frankenstein” tulisan Marry Shelley, dan masih banyak lainnya ingin memperlihatkan kepada dunia ketidak senangan mereka akan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Eropa berwajah ganda. Pernyataan dilontarkan dan prilaku dipertontonkan, semuanya memperlihatkan sikap tidak senang. Akan tetapi kaum romantis tidak pernah memperjuangkan berdirinya negara yang beranggungjawab terhadap kesejahteraan rakyat suatu bangsa, dan itulah sebabnya mengapa tidak ada uraian diketahui orang tentang kelebihan atau kekurangan: “sistim ekonomi romantis” yang bertanggungjawab terhadap kesejahteraan sesuatu bangsa di muka bumi, terke-cuali keinginan besar menjaga kelestarian ekosistim di bumi yang sudah berkembang di muka planit biru ini.
Pencemaran Muka Bumi
Pencemaran di muka bumi memang bukan masalah baru, karena telah ada sejak ribuan tahun si-lam disebabkan beragam bencana, antara lain: meletusnya gunung-api yang menghamburkan asap ke udara, mengalirkan lahar panas beserta batuan, muncul lahar dingin yang menerobos pemukiman warga setelah turunnya hujan, dan lain sebagainya. Ada lagi yang ditimbulkan per-geseran landas kontinen dan menyebabkan munculnya tsunami. Demikian juga banjir bandang yang ditimbulkan tingginya curah hujan sesuatu tempat di muka bumi oleh perubahan iklim ditimbulkan pemanasan global. Selain dari itu, ada pula rob yang disebabkan matahari dan bulan berada dalam segaris. Bencana alam memang dapat memporakporandakan lingkungan hidup tempat umat berdiam di muka bumi, mulai dari kerusakan lahir, tersebarnya beragam bahan kimia, dari yang biasa, berbahaya, hingga dengan sangat berbahaya terhadap makhluk; tidak ter-kecuali yang mengandung bahan radioaktif. Kerugian yang ditimbulkan mulai dari kehilangan jiwa, kehilangan harta-benda, sawah, ladang, dan lingkungan sekitar yang tidak lagi dapat digu-nakan untuk jangka waktu yang panjang.
Pasca Perang Dunia ke-II, warga Jerman dan Jepang mendapat kerusakan lingkungan hidup yang ditimbulkan begitu banyak bom yang dijatuhkan sekutu di kedua negeri. Selain dari itu, di negeri yang terakhir, ada lagi dua “bom atom” yang dijatuhkan di kota-kota Hiroshima dan Nagasaki merenggut tidak sedikit korban jiwa. Kedua bom atom yang dijatuhkan di Jepang tidak semata menimbulkan kerusakan lahir, tetapi juga radiasi bahan radioaktif yang tidak terlihat mata ber-kepanjangan yang membahayakan jiwa makhluk. Belakangan banyak dibicarakan media massa tentang pencemaran radioaktif ditimbulkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushi-ma Daiichi, diakibatkan kegagalan mengatasi kebocoran air pendingin reaktor yang terbuang ke laut Jepang.
Adapun pencemaran atmosfer yang menimbulkan bahaya maut tidak terduga terhadap warga yang hidup di muka bumi, ialah malapetaka Bhopal timbul di negara bagian Madhya Pradesh, India. Pada malam yang naas tanggal 2-3 Desember 1984, terjadi kebocoran bahan methyl iso-cyanate dari sebuah pabrik kimia, yang tidak berjauhan dari sebuah pemukiman kumuh. Ke-esokan harinya, dikhabarkan ribuan orang yang bediam di pemukiman tersebut tidak lagi terjaga dari tidur mereka, karena sudah berpulang ke rakhmatullah.
Sepanjang tahun 2008 silam diberitakan, telah dihamburkan menuju atmosfer bumi yang menye-limuti planit biru gas karbon dioxida (CO2) berjumlah 29 Triliun metic-ton. Gas berbahaya ini bersumber dari beragam industri yang menghasilkan beragam barang kebutuhan umat di bumi, tidak terkecuali aneka ragam sarana angkutan melayani umat bepergian dimana-mana di muka pada tahun disebutkan.
Di daratan Eropa timbul hujan-asam (acid rain) dari asap yang meninggalkan PLTU yang masih membakar bermacam Bahan Bakar Padat (BBP), kebanyakan batubara. Sebagai akibatnya, daun-daun pohon dari hutan yang tidak jauh letaknya dari pusat-pusat pembangkit tenaga listrik di-sebutkan lalu mengering.
Sepanjang Perang Vietnam silam, negeri itu pernah dilanda hujan-kuning (yellow-rain) di bagian utara negeri. Negara Paman Sam ketika itu membuat kebijakan menyebarkan bahan-kimia dari udara yang menyebabkan turunnya hujan-kuning turun di musim hujan. Adapun maksud penye-baran bahan-kimia ialah untuk menghambat gerakan pasukan-pasukan Vietcong yang tengah bergerak ke Selatan, namun akibat yang tidak diinginkan menyebabkan bayi-bayi manusia yang lahir di wilayah terkena hujan kuning menjadi cacat ketika lahir, tidak terkecuali gangguan kesehatan lain.
Di negeri Sakura pernah berjangkit penyakit-Minamata (Minimata-disease). Penyakit ini dikha-barkan disebabkan tercemarnya air laut oleh airraksa (merkuri), cairan logam berat yang dibawa aliran sungai-sungai di Jepang yang menuju ke laut. Sebagai akibatnya banyak ikan-ikan yang hidup dan mencari makan di laut tercemar, lalu mengandung logam airraksa berbahaya dalam tubuh mereka. Kaum ibu Jepang yang menyantap ikan-ikan yang ditangkap dari perairan yang tercemar lalu melahirkan bayi-bayi cacat, tidak terkecuali gangguan kesehatan lain. Limbah air-raksa juga mencemari sungai-sungai di Tanah-Air, di hulu mana terdapat para pendulang emas yang menggunakan airraksa untuk memurnikan emas perolehan mereka, lalu membuang limbah dihasilkan begitu saja ke sungai yang mencemari air sungai.
Salah sebuah contoh bahaya “sinar radioaktif”, ialah terbunuhnya Alexander Livinenko dari Ru-sia diberitakan belum lama berselang. Ia dikhabarkan mendapat radiasi logam Plutonium 210 (Po-210) radioaktif memancarkan sinar alpha berkepanjangan, yang disembunyikan oleh orang yang tidak bertanggungjawab.
Sebuah penelitian dari Universitas Chicago, Amerika Serikat, memperlihatkan adanya hubungan atau korelasi, antara tingkat pencemaran pestisida sebuah lingkungan hidup dengan timbulnya gejala autisme, demikian pula kekurang-cerdasan (Intellectual Disability, ID) anak yang baru dilahirkan di lingkungan tersebut. Tampaknya, pencemaran lingkungan hidup tingkat tertentu, akan mengganggu kegiatan TMH (Teknologi Makhluk Hidup) dalam kandungan, menyebabkan berbagai program kimia organik dingin yang tengah berlangsung dalam tubuh bayi terusik karenanya.
Masih terdapat banyak macam pencemaran lingkungan hidup yang muncul di muka bumi oleh perbuatan manusia, seperti yang ditimbulkan karamnya tanker Exxon Valdez di Prince William Sound, Alaska, tanggal 24 Maret 1989 silam. Kapal minyak tujuan Long Beach, California, A-merika Serikat, itu tiba-tiba membentur karang Bligh dalam perjalanannya, dan menumpahkan minyak-mentah mulai dari 260,000 hingga 750,000 barrels (41,000 hingga 119,000 m3), merupa-kan salah sebuah bencana lingkungan hidup yang terparah pernah diketahui orang selama ini.
Bermacam pencemar yang terdapat dalam lingkungan umat dapat masuk kedalam tubuh manusia, pertama: ketika orang sedang bernafas lewat paru-paru menghirup limbah-gas dan buti-ran-butiran benda renik; kedua: melalui mulut ketika orang sedang: minum dan menyantap makanan mengandung limbah-cair berbahaya atau sangat berbahaya, dan ketiga: melalui sentu-han langsung dengan benda-padat berbahaya atau sangat berbahaya ketika sedang berkegiatan.
Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, revolusi industri yang tampil di Eropa silam, awalnya dianggap berkah kepada umat. Akan tetapi dengan timbulnya perubahan iklim nyata disertai angin kencang dan iringan ombak besar yang mendatangkan banyak bencana di muka bumi, umat Islam lalu menjadi sadar akan peringatan Tuhan dalam surat Ar-Rum, Ayat 41, terdapat dalam Al-Quran, akan “arti” sebenarnya rangkaian kata: “merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) dari perbuatan” manusia: “agar kembali ke jalan yang benar”.
Revolusi industri timbul di Eropa silam, awalnya dipicu temuan Thomas Savery (1650-1715) dari Inggris, yang kebetulan tertantang untuk membuat pompa-air bertenaga atmosfer keperluan tambang, dan mempatenkannya. Thomas Newcomen (1664-1729), rekan senegaranya menemu-kan kekurangan pompa rekannya, lalu memperkenalkan pompa-air berpengisap dibantu uap untuk tujuan yang sama. Pompa akhir ini lalu menggoda James Watt (1736-1819) rekan senegara lainnya, membuat mesin-uap berputar yang digrerakkan uap-bertekanan untuk keperluan beragam industri yang dibutuhkan orang ketika itu, tidak terkecuali memperkenalkan kereta-api pertama di dunia oleh George Stephenson (1781-1848) yang menghubungkan Sockton dengan Darlington di Inggris menggunakan Bahan Bakar Padat (BBP) jenis batubara. Mesin-uap berna-ma ilmiah Mesin Pembakaran Luar (MPL), dengan kemasan ganda (double package): sebuah digunakan untuk “periuk” tempat bertanak air penghasil uap bertekanan (tenaga potensial) de-ngan pembakaran di luar silinder, lainnya terdiri dari: “silinder dengan pengisap”, digunakan untuk mengubah tenaga potensial uap yang terdapat dalam kemasan pertama, menjadi tenaga-gerak yang dibutuhkan beragam industri, antara lain: angkutan, dan lainnya. Batubara kemudian ditambang orang dimana-mana di muka bumi kedalaman puluhan hingga ratusan meter, sedang-kan air didatangkan dari sungai terdekat.
Dari Belgia, negara Eropa lain, tahun 1860 Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) memper-kenalkan pula Mesin Pembakaran Dalam (MPD) pemantik sumbu, yang dikenal dengan istilah “motor bakar. Bahan-bakar digunakan bukan batubara, tetapi Bahan Bakar Cair (BBC) yang dinamakan bensin gampang menguap. Karena gas bertekanan yang mendorong pengisap kebawah dapat dihasilkan langsung di dalam silinder sekejap lewat pemantikan, maka MPD tidak memerlukan samasekali periuk tempat bertanak air, sehingga kemasan yang dibutuhkan tinggal sebuah atau tunggal. Sebagai akibatnya MPD memerlukan tempat lebih kecil pada daya dihasil-kan yang sama, menyita ruang atau volume lebih sedikit dalam kendaraan, lebih ringan, lebih murah pula harganya. Akan tetapi MPD memerlukan BBC mudah menguap, dengan minyak mentah asalnya harus didatangkan dari dalam perut bumi ribuan meter dalamnya, kemudian perlu diolah dalam kilang menjadi bensin.
Dua tahun kemudian dari Jerman, negara Eropa yang lainnya, Nikolaus Otto memperkenalkan MPD dilengkapi pengabut (carburettor) dan pemantik listrik (electric ignition), yang kemudian dikenal orang: mesin bensin. Menyusul pula pada tahun 1900, Rudolf Diesel rekan sebangsanya, memperkenalkan MPD dipantik kempa (compression ignition), yang dinamakan orang: mesin diesel. Berlainan dengan TMH (Teknologi Makhluk Hidup) “pengubah panas” kimia organik “suhu tubuh” atau suhu rendah diperkenalkan Ilahi di muka bumi, akan tetapi teknologi yang di-kembangkan manusia sejak awal revolusi industri di Eropa silam, lalu menyebar ke seluruh penjuru dunia, menperkenalkan “pengubah panas” kimia anorganik exothermis suhu sangat ting-gi bertemperatur ribuan derajat Celsius. Revolusi industri diawali dari Eropa silam dengan demi-kian telah melahirkan: serangkaian “Sumber Tenaga Gerak”, disingkat STG, atau Mechanical Energy Source (MES), untuk mengubah “panas” hasil pembakaran bahan-bakar bersuhu amat tinggi, berupa: sebuah MPL dikenal dengan nama “mesin-uap”, dan dua buah MPD masing-masing dinamakan “mesin-bensin” dan “mesin-diesel”.
Ketiga macam pengubah “panas” menjadi “gerak”, disingkat: Pengubah Panas Gerak (PPG), a-tau Thermo Mechanic Convertor (TMC), dikenal dengan: “mesin pembakaran”, terdiri: MPL yang harus bertanak air dalam periuk (ketel) untuk memperoleh uap bertekanan yang diperlukan mesin, berlangsung diluar silinder-silinder mesin memanfaatkan BBP, dan MPD yang melak-sa-nakan pembakaran langsung di dalam silinder-silinder mesin, sehingga tidak memerlukan lagi periuk tempat bertanak air, akan tetapi memanfaatkan BBC atau BBG. Dengan demikian STG- PPG, atau MES-TMC, yang telah diperkenalkan revolusi industri kepada dunia yang pertama ka-li benar-benar barang baru, diawali dari Inggris, dilanjutkan Belgia, lalu disempurnakan Jerman, memperkenalkan kepada umat apa yang kemudian dinamakan dengan istilah: “mesin” (Indone-sia), “engine” (Inggris), dan “maschine” (Jerman), lalu menyebar ke segala penjuru dunia.

Meski MPL dan MPD begitu besar kegunaannya pada umat sejak awal revolusi industri, akan tetapi sebagian besar (mayoritas) “panas” dihasilkan dari proses pembakaran bahan-bakar dinya-takan dalam “kalori” terbuang percuma. Hanya sebagian kecil (minoritas) “panas” hasil pemba-karan bahan-bakar yang dapat diubah menjadi “gerak” (mekanik) menjalankan beragam industri, atau sarana angkutan: darat, air, dan udara, serta lainnya. Itulah juga sebabnya mengapa ketiga macam PPG ini termasuk “boros” atau “tidak-efisien” dalam pemakaian bahan-bakar, karena lebih banyak “panas” hasil pembekaran yang dibuang percuma ketimbang dimanfaatkan. Diter-jemahkan kedalam penggunaan bahan-bakar, lebih banyak bahan-bakar diangkut kendaraan di-hamburkan begitu saja sepanjang jalan dilalui untuk mencemari lingkungan di permukaan bumi daripada yang digunakan.
Sebuah lokomotiv-uap dijalankan MPL menarik rangkaian kereta-api dari Jakarta ke Surabaya sebetulnya memerlukan 10% “panas” hasil pembakaran semua batubara yang dibawa untuk mengantarkan kereta-api berikut penumpang sampai ke tujuan; sedangkan 90% “panas” lainnya, dihamburkan begitu saja sepanjang jalan dilalui memanasi udara sekitar. Diterjemahkan kedalam penggunaan BBP, hanya 10% berat batubara yang dibawa bermanfaat mengantarakan rangkaian kereta-api bersama penumpang sampai ke tujuan, sedangkan 90% berat batubara lainnya diham-burkan saja sepanjang jalan dilalui yang mengotori lingkungan. Sebuah sepeda motor atau mobil dijalankan MPD, akan menghamburkan 75% “panas” hasil pembakaran bensin memanasi udara sekitar, dan hanya 25% “panas” hasil pembakaran bensin yang berguna mengantarkan penge-mudi berikut kendaraan sampai ke tujuan. Diterjematukhkan kedalam pemakaian BBC, 75% be-rat bensin yang terdapat dalam tanki motor atau mobil ditumpahkan saja sepanjang jalan dilalui, dan hanya 25% berat bensin dalam tanki yang benar-benar mengantarkan pengemudi beserta kendaraan sampai ke tujuan.

Itulah pula alasannya mengapa: sepeda motor, angkot, mobil, bis, kapal laut, pesawatterbang dan lainnya yang menggunakan MPD, begitu juga yang menjalankan beragam pabrik hingga industri, sangat boros mengkonsumsi BBM. Ini disebabkan kenyataan, bahwa kurang dari 25% “panas” hasil pembakaran: bensin, solar, atau lainnya muncul dalam sekejap dalam silinder-silinder mesin bermanfaat mengantarkan kendaraan berikut penumpang, barang, atau keduanya sampai ke tujuan, sedangkan 75% lainnya hanya terbuang percuma saja sepanjang jalan dilalui memanasi lingkungan sekitar. Lalu keduanya, baik yang berguna maupun yang terbuang per-cuma, menimbulkan apa yang kemudian dikenal dengan nama: “jejak karbon” (carbon footprint). Pencemaran yang ditimbulkan sarana angkutan darat yang membakar bahan-bakar kemudian di-nyatakan dengan “berat carbon dalam gram” yang dihamburkan ke lingkungan sekitar terhadap untuk setiap km jarak ditempuh. Dengan demikian, sebuah kendaraan pribadi roda empat merek tertentu dijalankan MPD akan menghamburkan ke udara “jejak karbon” sejumlah: x gr/km, seba-gai contoh 135 gr/km.
Adapun gas hasil pembakaran yang dihamburkan bermacam kendaraan melalui knalpot masing-masing, ialah: nitrogen (N2), uap air (H2O), karbon dioksida (CO2); meski ketiganya tidak tergolong bebahaya, namun yang paling akhir ini termasuk gas penyumbang pemanasan global. Diantara sejumlah gas yang tidak dikehendaki keberadaannya dalam atmosphere bumi ialah: karbon mono-oksida (CO), hidrokarbon (CxHy), dan oksida nitrogen (NOx). Kini setelah lebih dari dua abad revolusi industri berlangsung, ketiga jenis mesin yang diperkenalkan revolusi in-dustri dari Eropa silam, masih belum banyak beranjak dari keborosan penggunaan BBC. Ini dise-babkan “Bidang Teknik Mesin” dari berbagai Perguruan Tinggi Teknologi di muka bumi masih belum berhasil memecahkan permasalahan dihadapi secara ekonomis. Jejak karbon inilah yang belakangan ini disaksikan warga China mengambang di udara sejumlah kota besar di negeri Tirai Bambu itu, seperti: Beijing, Shanghai, dan lainnya yang menganggu pernafasan warga negara-nya. Ancaman semacam juga akan menghampiri Tanah-Air, manakala anak negeri tidak berhasil mengambil langkah nyata dalam perencanaan untuk menghindarkannya.

Gunung-Api Buatan Manusia
Hingga kini, sudah dikenal tiga golongan limbah yang mencemari lingkungan hidup makhluk di muka bumi ditimbulkan “aliran benda (materi)” yang hijrah dari dalam perut bumi menuju per-mukaan buatan manusia, pertama: gas dan benda renik (small particles) hasil pembakaran bera-gam bahan-bakar asal bermacam industri penghasil barang (produk) dan jasa (service), seperti: industri dan pabrik, sarana angkutan, tambang, kilang mulai kecil hingga besar, beragam kegiatan ekonomi masyarakat dari kecil hingga menengah, dan lainnya yang ada di muka bumi yang dihamburkan begitu saja ke atmosfer diseputar bumi lalu mencemari udara; kedua: air-kotor dihasilkan bermacam industri penghasil barang (produk), jasa (jasa), seperti: industri dan pabrik, angkutan, tambang, kilang, kota dari kecil hingga besar, dan lainnya, dan dibuang begitu saja kedalam badan-air: parit, kolam, kanal, danau, sungai, dan berakhir di laut hingga samudra; ketiga: berjenis barang hasil industri yang sudah habis masa pakai ekonominya dan berubah menjadi rongsokan, seperti: mobil, kereta-api, kapal sungai hingga samudra, pesawatterbang, bermacam perlengkapan dan peralatan perang, komputer, laptop, telepon pintar, sampah rumah tangga mulai kota kecil hingga besar, dan lainnya, diterlantarkan begitu saja di dimana-mana di darat menyita lahan tidak sedikit. Dengan penduduk bumi yang terus meningkat jumlahnya, ketiga kelompok limbah disebutkan, juga akan bertambah jumlahnya di muka bumi menelusuri perjalanan waktu kedepan.

a. Pencemaran Atmosfer
Pengendara sepeda motor menyimak pengukur bensin, lalu mampir ke tempat pengisian BBM. Dari dalam tanki, lewat teknologi mutakhir bensin kemudian disuntikkan kedalam silinder, dan setelah bercampur udara lalu dipantik. Timbul letusan, “panas” dibebaskan, dan gas bertekanan ttimbul sekejap didalam silinder mendorong “pengisap” kebawah. Dengan pertolongan poros-engkol, gerakan lurus pengisap diubah menjadi putar. Selanjutnya dengan rantai, gerakan putar poros dihubungkan dengan roda belakang yang membuat sepeda motor bergerak. Diperlukan banyak sekali letusan dalam silinder mengantarkan pengendara sepeda motor berikut pengendara sampai ke tujuan. Dengan mengatur isi (volume) silinder, mulai ukuran hingga dengan jumlah-nya, demikian juga ragam BBM digunakan, daya (power) yang dihasilkan mesin dapat diatur.
Demikianlah awalnya, bagaimana revolusi industri di Eropa silam memperkenalkan STG buatan manusia, hanya menerapkan “ilmu alam” (fisika) yang sederhana, lalu mengubah “peradaban u-mat” di muka bumi, lebih dari dua abad lamanya hingga hari ini, hanya dipicu pompa temuan Thomas Savery, yang kemudian diperbaiki Thomas Newcomen, lalu oleh James Watt diubah menjadi “sumber tenaga gerak” mesin pembakaran luar, disingkat MPL, ketiganya dari Inggris; dilanjutkan J.E.Lenoir dari Belgia memperkenalkan “sumber tenaga gerak” mesin pembakaran dalam, disingkat MPD. Yang disebut belakangan, boleh dinyatakan sebagai: untaian letusan hasil pembakaran BBM terkendali kemasan tunggal (single package) yang menghasilkan tenaga gerak keperluan beragam industri, wabilkhusus: sarana angkutan, tidak terkecuali beragam industri la-innya. Apabila tidak terkemas baik, dan tidak pula terkendali, akan menimbulkan letusan bom seketika yang dapat menghancurkan apabila bahan-bakar yang telah bercampur udara dipantik. Sejak dari saat bersejarah itu, berbagai industri lalu bermunculan dimana-mana di muka bumi i-barat jamur di musim hujan yang membuka lapangan kerja untuk umat, tidak terkecuali memper-kenalkan beragam sarana angkutan: darat, air, udara, kebutuhan: sipil, militer, dan lainnya. Buda-ya bepergian berjalan-kaki dan naik-kuda, tidak terkecuali kereta dihela kuda atau ternak lain yang selama ini dimanfaatka orang dimana-mana di muka bumi, lenyap dan digantikan kenda-raan di-jalankan mesin pembakaran yang belum dikenal orang dari zaman sebelumnya. Berbagai lingkungan budaya dan adat istiadat yang tadinya tertutup karena terisolasi oleh jarak tempuh yang jauh, kemudian segera terbuka mengakibatkan timbulnya berbagai persoalan sosial, ekono-mi, politik, keamanan, dan lainnya yang sangat rumit.
Usai letusan pertama, silinder mesin lalu dibilas menjelang penyuntikan bensin baru untuk dicampur dengan udara baru sebelum pemantikan berikutnya; demikian seterusnya dengan letusan-letusan yang menyusul kemudian. Pembilasan silinder menimbulkan “gas buang” yang dikelu-arkan dari knalpot, melahirkan “limbah gas” yang diperkenalkan revolusi industri. Limbah-gas dihasilkan oleh dari ribuan, jutaan, miliard, triliun, bahkan lebih letusan, yang dihamburkan begitu saja ke atmosfer bumi yang mengotori udara, karena tidak dapat lagi dikembalikan keda-lam perut bumi darimana asalnya, setelah “panas” berhasil pembakaran bensin diubah menjadi “gerak” yang diperlukan pengendara sepeda motor.
Limbah gas tidak hanya dihamburkan angkutan: darat, laut, dan udara, tetapi juga oleh tak terhi-tung jumlah pabrik dan industri yang ada di muka bumi sampai kini yang menggunakan: mesin-uap, mesin-bensin, dan mesin-diesel guna memproduksi: beragam barang (produk), layanan jasa; (service) yang bilanagn dan ragamnya terus meningkat di bumi dalam perjalanan waktu, tersebar kedalam beragam negara. Selain pencemaran atmosfer diperoleh dari pembakaran: BBP, BBC, dan BBG berlangsung dalam silinder-silinder beragam kendaraan, masih ada lagi sumber pence-maran dari bahan “additive” yang sengaja ditambahkan orang, seperti: logam timbel kedalam bahan-bakar, dan lainnya kedalam minyak lumas. Adapun tujuan penambahan bahan-bahan ini guna meningkatkan kinerja: mesin-uap, mesin-bensin, dan mesin-diesel. Kegunaan pemakaian bahan additive terhadap mesin kendaaraan diterangkan dengan baik oleh pabrik pembuatnya, a-kan tetapi dampak “sampah-gas” yang mengandung bahan additive manakala terhirup kedalam pernafasan manusia hampir samasekali tidak diterangkan.
Seperti yang telah berulang kali diterangkan, “limbah gas” yang dihamburkan ke atmosfer bumi yang mengelilingi planit biru, datang dari beragam industri, seperti: beragam sarana tansportasi dan berjenis industri yang terdapat di bumi. Banyaknya limbah-gas dihamburkan dalam Triliun metric-ton amat tergantung dari: isi (volume) silinder, bilangan silinder, putaran poros per menit, daya dihasilkan, dan banyaknya: mesin-uap, mesin-bensin, dan mesin-diesel dimanfaatkan umat setiap hari di seluruh penjuru dunia dalam setahun memproduksi beragam barang (produk) dan aneka jasa (service). Perlu dicatat luas muka bumi, terdiri dari daratan dan permukaan air, semuanya: 510 juta km2. Tiga perempat berat (massa) udara yang menyelimuti bola bumi berada hingga ketinggian 11.000 meter (11 km) diatas permukaan laut. Puncak Everest, tempat tertinggi yang ada di muka bumi berada pada ketinggian 8.848 m diatas permukaan laut, sementara tempat tertinggi yang dapat dihuni manusia ialah: 5.500 m diatas permukaan laut, karena pada keting-gian ini kemampuan paru-paru memperoleh oksigen untuk bernafas telah berkurang menjadi hanya 50%. Adapun sebagian besar Volume Udara (VU) yang terdapat dalam atmosfer bumi yang mengitari planet biru, keberadaannya dipercayakan kepada gaya-tarik (gravitasi) bumi, ber-jumlah: 5,41 Miliard km3. Dengan garis-tengah bumi: 12.740 km, Volume Bumi (VB) ini besarnya: 1.081 Miliard km3. Dengan demikian perbandingan volume udara terhadap volume bu-mi memberikan angka:

VU/VB = 0,5%

Dari perbandingan diatas jelas tampak, bahwa lapisan udara yang menyelimuti bola bumi atau planit biru, hanyalah sebuah lapisan tipis, yang boleh juga disebut “selaput udara”. Karena begitu tipisnya lapisan udara ini, maka tidak dapat diragukan lagi amat rawan terhadap pencemaran yang ditimbulkan aliran benda (materi) mengalir dari dalam perut bumi menuju permukaan yang ditimbulkan revolusi industri.
Guna memberi gambaran yang lebih jelas tentang “arti” perbandingan yang disebutkan diatas, bayangkan sebuah bola dengan garis tengah 100 m diletakkan ditengah sebuah stadion sepak-bola, untuk mewakili bola bumi dengan ukuran yang diperkecil. Lalu sentuhkan sebuah mistar panjang 10 cm tegak lurus terhadap bidang yang menyentuh bola. Dengan demikian, tiga pe-rempat berat udara yang menyelimuti bola bumi yang diperkecil akan terdapat pada angka 8,64 cm. Memandang bola bumi diperkecil dari salah satu kursi didalam stadion, orang akan men-dapat kesan betapa kecilnya lapisan atmosfer bumi berukuran selaput ini, benar-benar tampak rawan terhadap pencemaran yang ditimbulkan aliran bahan (materi) yang meninggalkan perut bumi (diperkecil) menuju permukaan berlangsung tanpa henti, yang terus meningkat jumlahnya menelusuri perjalanan waktu. Akan tetapi bagi orang yang memandang ke angkasa dari tempat duduk yang sama dalam stadion, tidak akan mudah percaya bahwa ruang atmosfer seputar bola bumi (sebenarnya) yang terluhat begitu luas, akan mudah tercemar oleh aliran bahan (materi) yang meninggalkan perut bumi menuju permukaan berlangsung tanpa henti, meski jumlahnya terus meningkat menelusuri waktu. Apa yang akan mengadili sudut pandang bertolak belakang dari dua pengamat yang duduk di kursi stadion yang sama, terpulang kepada “penguasaan ilmu pengetahuan” dan “akal sehat” yang mereka miliki semata.
Selain dari itu, apabila lapisan udara atmosfer bumi diibaratkan garasi mobil tertutup rapat yang memuat mobil dengan mesin dihidupkan. Secara perlahan tapi pasti, udara yang berada dalam garasi akan tercemar limbah-gas buang yang menyebabkan orang-orang berada dalam mobil dengan kaca terbuka menderita sesak nafas. Bagi mereka yang duduk di dalam mobil masih ada jalan keluar untuk mendapat pertolongan, yakni manakala ada orang di luar garasi yang cepat mengetahui keadaan, lalu dengan cepat mendobrak pintu garasi untuk membuka paksa secepat-nya. Akan tetapi bagi umat yang berdiam di muka bumi dengan atmosfer tercemar pertolongan demikian samasekali sudah tidak lagi mungkin dilakukan.

b. Pencemaran Badan Air
Beragam industri yang menghasilkan aneka ragam barang (produk) dan jasa (service), tidak terkecuali bermacam sarana angkutan, kilang, dan lainnya, tidak terkecuali rumah tangga kota-kota kecil hingga besar, dan masih banyak lagi lainnya yang ada di muka bumi memerlukan air bersih dalam kegiatan sehari-hari. Air bersih yang melalui proses: campur, endap, saring, bilas, cuici, radiasi, dan lainnya, kemudian berubah menjadi air-tercemar atau air-kotor, karena tidak dapat digunakan lagi. Air bersih juga mengalami berbagai proses dalam tambang: batubara, mi-nyak bumi, biji mineral, dan lainnya, mulai dari kegiatan: penggalian, pengeboran, transportasi, pengolahan dalam kilang atau pabrik; baik yang sudah berjalan maupun yang akan menusul ke-mudian; semuanya memerlukan air-bersih yang kian besar jumlahnya. Air bersih yang menjala-ni satu atau lebih proses akan menjadi air kotor yang kemudian dibuang. Dengan penduduk bumi yang terus bertambah jumlahnya, begittu pula kegiatan ekonomi kian berkembang, jumlah air-kotor yang dihasilkan kegiatan hidup dan ekonomi akan semakin banyak dalam perjalanan wak-tu. Karena belum terdapat Instalasi Penjernihan Air (IPA) yang dapat menangani air-kotor terhadap jumlah dihasilkan di berbagai tempat di muka bumi yang memerlukan, maka air-kotor dihasilkan beragam proses yang berhubungan dengan kegiatan hidup dan ekonomi umat di muka bumi, dibuang begitu saja kedalam badan air: parit, kanal, sungai, danau, laut, hingga samudra dimana-mana di seantero dunia.

c. Pencemaran Darat
Beragam barang hasil industri yang telah habis masa pakai ekonominya beralih menjadi barang rongsokan, seperti: mobil, kereta-api, kapal sungai hingga samudra, pesawatterbang, beragam mesin perang, komputer, laptop, telepon pintar, sampah kota dari kecil sampai besar, dan lain sebagainya, diterlantarkan saja dimana-mana menyita lahan di muka bumi. Dalam hal ini tidak terkecuali bangunan dan instalasi bermacam tambang, bor bumi, sarana angkutan yang telah habis masa pakai ekonomisnya; seluruhnya diterlantarkan saja menyita lahan di muka bumi dari da-ratan hingga lepas pantai dimana-mana.
Gunung-Api Buatan Manusia
Dari apa yang telah disampaikan, bensin sebelum tiba di pompa BBM, awalnya “minyak mentah” yang dalam kilang diolah menjadi bensin. Dan “minyak mentah” itu sendiri sebelum sampai ke kilang, berada ribuan meter dalam perut bumi. Bensin yang berahir menjadi: limbah-gas lalu dihamburkan ke atmosfer seputar bola bumi yang mencemari udara. Begitu pula keadaannya de-ngan air-bersih yang telah tercemar, lalu menjadi air-kotor. Yang akhir ini datang dari berbagai proses pembuatan barang (produk) dan jasa (service) dalam berjenis pabrik, industri, kilang, tam-bang penggalian: batubara, minyak bumi, gas, mineral dan lainnya. Ada pula air kotor datang dari kegiatan mencuci atau pembilasan: motor, mobil, kereta-api, pesawatterbang, kapal sungai hingga samudra, dan masih banyak lainnya. Dan tidak dapat dihindarkan adanya air-kotor yang datang dari beragam rumah tangga yang terdapat di muka bumi, mulai kota-kota kecil hingga besar. Semuanya menghasilkan: limbah-cair yang terhimpun di muka bumi. Akhirnya rongsokan segala macam barang bekas mulai: motor, mobil, kereta-api, pesawatterbang, kapal sungai hing-ga samudra, dan lain sebagainya. Begitu pula rongsokan tambang: batubara, minyak bumi, biji aneka mineral, tidak terkecuali instalasi penggalian, pengeboran, alat-alat berat dan transportasi, beragam instalasi pengolahan, dan lain sebagainya yang sudah habis masa pakai ekonomisnya. Selain dari itu tidak boleh dilupakan sampah perkotaan yang menggunung tampil dimana-mana di muka bumi yang menimbulkan: limbah-padat.
Dari apa yang telah dikemukakan diatas terlihat jelas, bagaimana aliran benda (materi) dari da-lam perut bumi menuju permukaan “buatan manusia” yang berakhir menjadi: “limbah-gas”, “limbah-cair”, dan “limbah-padat”. Karena limbah-gas tidak dapat lagi dikembalikan kedalam perut bumi setelah “panas” hasil pembakaran bahan-bakar diambil untuk menggerakkan kenda-raann, industri dan lainnya; begitu juga pencemar air-bersih tidak lagi dapat dipisahkan dari air kotor untuk dipulangkan kedalam perut bumi; selanjutnya rongsokan barang-barang hasil pro-duksi beragam industri tidak terkecuali sampah perkotaan tidak mungkin lagi dipulangkan keda-lam perut bumi, semuanya lalu mencemari: atmosphere, badan air, dan lahan di muka bumi. Manakala dibandingkan dengan gunung-api yang sedang meletus, “limbah gas” bikinan manusia boleh disetarakan dengan asap gunung api yang disemburkan ke udara; “limbah cair” bikinan manusia boleh disetarakan dengan lahar dingin, atau aliran lumpur gunung-api, atau aliran lum-pur Lapindo; dan “limbah padat” bikinan manusia boleh disetarakan dengan lahar panas gunung-api yang telah menjadi: abu, pasir, dan bongkahan bebatuan. Dengan munculnya “revolusi in-dustri” di bumi, diawali dari Eropa lebih dari dua abad silam, ketiga jenis limbah yang telah dibi-daninya ini, dapat dinamakan dengan: “Letusan Gunung-api Buatan Manusia”, disingkat LGBM, atau The Man Made Volcano, disingkat TM2V.
Perlu dicatat, gunung-api yang banyak jumlahnya di bumi, apabila meletus akan berhenti setelah beberapa lama berlangsung, dan baru akan meletus kembali bertahun atau puluh tahun kemudian. Akan tetapi, berlawanan dengan gunung-api bumi, LGBM meletus setiap hari sepanjang tahun, dan setiap tahun sepanjang abad, terus-menerus meletus, karena tidak mengenal istilah berhenti walau untuk sejenak.

Sebuah Pengandaian
Mengingat filsafat dan ilmu pengetahuan telah lama berkembang di kawasan Timur Tengah, didukung luasnya perdagangan dan kontak budaya antara berbagai bangsa yang berdiam disana dalam perjalanan waktu yang begitu panjang ketimbang bagian dunia lain, lalu menimbulkan pertanyaan: mengapa “revolusi industri” tidak bermula justru dari bagian dunia itu? Agaknya, Timur Tengah ketika itu terlalu penuh hirukpikuk percaturan pengaruh dan kekuasaan berkepan-jangan sehingga menyebabkannya bukan lahan baik untuk melahirkan penemuan sederhana yang mengubah peradaaban dunia. Di fihak yang sebaliknya, Eropa utamanya Inggris kala itu, meski masih tergolong “kampung”, jauh dari kegaduhan model Timur Tengah, didukung kaum intelek-tual berpengetahuan tepat guna yang tengah bersemi, membuat Eropa ketika itu ladang subur tempat munculnya gagasan baru, sebagaimana yang dipelopori Thomas Savery (1650-1715), saat memperoleh tantangan membuat pompa-air keperluan tambang memanfaatkan vakum yang di-timbulkan uap bertekanan dalam bejana yang disiram air dingin, lalu mempatenkannya. Thomas Newcomen (1664-1729) rekan sebangsanya, memperkenalkan pula gagasan lain untuk tujuan yang sama. Dari hasil karya kedua rekan sebangsanya, James Watt (1736-1819) lalu memper-kenalkan “sumber tenaga gerak” pertama buatan manusia kepada dunia berwujud sebuah mesin-uap berputar. Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) dari Belgia, memperkenalkan pula “mesin pembakaran” berbahan-bakar bensin pemantik sumbu sebagai “sumber tenaga gerak” ringan pertama di dunia. Nikolaus Otto dari Jerman memperkenalkan mesin pembakaran berpengabut dan berpemantik listrik dinamakan: mesin bensin, untuk yang mudah digunakan pertama di dunia. Pada tahun 1900, Rudolf Diesel, rekan sebangsanya dari Jerman turut pula memperkenal-kan mesin pembakaran berpemantik kempa yang bernama: mesin diesel pertama di dunia. De-ngan demikian, deretan kartu domino teknologi STG pengubah PPG (TMC) diperkenalkan revo-lusi industri kepada dunia di Eropa lebih dari dua abad silam. Sejak dari saat bersejarah itu umat berkenalan dengan STG-PPG(MES-TMC) yang baru samasekali, diawali dari Inggris, dilanjut-kan Belgia, kemudian disempurnakan Jerman; semuanya memperkenalkan kepada dunia apa yang lalu dikenal orang dengan: “engine” (Inggris), “maschine” (Jerman), dan “mesin” (Indone-sia), yang kemudian menyebar ke Amerika Utara, lalun Jepang, dan akhirnya seluruh penjuru du-nia, tidak terkecuali Tanah-Air.
Setelah lebih dari dua abad berlangsung, manusia kemudian sadar, bahwa PPG (TMC) yang di-perkenalkan revolusi industri diawali dari Eropa silam, menjadi “penyebab” utama pencemaran lingkungan hidup umat di bumi, mulai: atmosfer, badan-air, hingga daratan. Para ahli ilmu pe-ngetahuan dari berbagai penjuru dunia mulai Barat hingga dengan Timur, kini mengevaluasi kea-daan, dan berusaha dengan sungguh mencari jalan keluar untuk mengatasi dampak negatif yang ditimbulkan pencemaran, sebagaimana diperingatkan oleh “Surat Ar-Rum, ayat 41”.

Menanggulangi Pencemaran Atmosfer
Untuk menghindarkan udara yang mengisi atmosfer bumi ini tercemar dari limbah-gas yang di-hamburkan beragam kendaraan, bermacam industri, dan lainnya yang membakar bahan-bakar fossil, seperti: BBP, BBC, dan BBG yang telah meresahkan umat kini bermukim di perkotaan, bahkan telah dikeluhkan awal revolusi industri lebih dari dua abad silam, John Bockris dari Pusat Teknik General Motor, Amerika Serikat, memperkenalkan gagasan Bahan Bakar Hidrogen (B-BH) tahun 1970, unsur kimia paling banyak terdapat di bumi, digunakan untuk kendaraan umum, sehingga gas buang yang dikeluarkan dan dihamburkan ke atmosfer bumi hanyalah uap-air. Dengan demikian pencemaran atmosfer yang ditimbulkan aliran benda (materi) yang me-ninggalkan perut bumi menuju permukaan yang diperkenalkan revolusi industri di Eropa silam, akan hilang dengan sendirinya. Sebagai pelopor menghindarkan pencemaran atmosfer bumi menggunakan BBH tampil sejumlah negara Nordik, juga dari luar kawasan Timur Tengah. Pe-mimpin Islandia terinspirasi oleh ide John Bockris dari Amerika Serikat, menjadikan bangsanya pertama muka bumi memproklamirkan “hydrogen-powered economy” (ekonomi berdaya-hidro-gen). Untuk mendapatkan (BBH) yang dibutuhkan bangsanya; tetangga Kutub Utara itu meng-gunakan tenaga listrik yang dihasilkan Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) banyak terdapat dinegeri itu, untuk mengurai “air” menjadi: hidrogen dan oksigen. Bis angkutan umum bertenaga hidrogen lalu diujicoba di jalan-raya ibukota Reykjavik, disusul mobil listrik bersumber tenaga listrik sel bahan-bakar.
Negara luar kawasan Timur Tengah lain, yang juga berkemas menyambut “hydrogen-powered economy”, ialah Swedia. Berlainan dengan Islandia yang mengandalkan tenaga panas bumi, Swedia memanfaatkan tenaga listrik yang diperoleh dari peladangan panel-surya. Bagian Barat negeri telah disiapkan untuk tempat mengembangkan wilayah ramah-lingkungan, terutama pela-buhan dan lokasi industri kendaraan bermotor SAAB yang akan menggunakan BBH sebagai bahan-bakar.
Negara Nordik yang juga tidak mau ketinggalan, ialah Denmark. Walikota Nakskov dari pulau Lolland telah membuat kerjasama dengan pengembang sel bahan-bakar negeri bernama IRD, dan mengembangkan pula proyek dan organisasi bernama: “Baltic Sea Solution”. Yang disebut akhir ini tidak lain dari masyarakat Denmark sendiri yang akan membentuk kelompok warga yang akan menjadi komunitas tempat pengujian kelaikan penggunaan teknologi sel bahan-bakar yang sedang dikembangkan termasuk menyediakan beragam fasilitas yang diperlukan.
Bagaimana dengan Indonesia, sebuah negara Asia Tenggara yang terletak di luar kawasan Timur Tengah. Di negeri dengan Sumber Daya Alam (SDA) panas bumi melimpah, bahkan langsung dari gunung-api masih aktif banyak jumlahnya, begitu pula lahan peladangan panel-surya luas di khatulistiwa, dengan sendirinya tidak boleh ketinggalan dari segelintir negeri Nordik disebut-kan. Walau tidak lagi menjadi pelopor, namun Indonesia dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang besar lagi berpendidikan, kesempatan menjadi “motor” hydrogen-powered ekonomi kawa-san Asia Tenggara berdampak global besar, akan tetapi negara ini memilih lain. Meski sejak tanggal 30 Desember 1949 Indonesia telah menjadi negara merdeka yang diakui dunia (PBB) de-ngan nama Republik Indonesia Serikat (RIS), sejak semula pemimpin negeri memilih berpetualang dengan “Demokrasi Terpimpin”, mengindoktrinasi rakyat dengan TUBAPI, menggunting dan mendevaluasi ganda Rupiah yang meluluhlantakkan perkonomian; lalu disusul “Demokrasi Pancasila”, mengindoktrinasi rakyat dengan BP7, terjangkit krismon asal Thailand yang menga-kibatkan Rupiah terpelanting tahun 1997 lalu mengacaukan perekonomian bangsa berkepanja-ngan; sebelum reformasi muncul menyelamatkan. Sebagai akibat kedua petualangan menghabis-kan waktu lebih setengah abad, Indonesia tampil tertinggal dari Korea Selatan yang hancur da-lam perang semenanjung negeri itu, baru damai tanggal 27 July 1953; juga negara-negara tetang-ga, seperti: Malaysia merdeka 1957, Singapura merdeka 1965, Brunai merdeka 1984, dalam ber-bagai bidang kehidupan, kesejahteraan rakyat, begitu juga hak azasi manusia.

Kesalahan Jalan Sejarah
Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya, agama Islam datang ke Nusantara dibawa muba-ligh dan para pedagang. Mereka kemudian mendirikan mesjid dan surau untuk tempat beribadah sekaligus pusat pengajaran kepercayaan baru. Kemudian tampil madrasah, yang kini dinamakan: Pondok Pesantren, disingkat Ponpes. Adapun matapelajaran yang diberikan di madrasah-madrasah Asia Tenggara dan Tanah-Air, ialah pelajaran agama Islam, bermuatan: keimanan, hu-kum, nilai, dan lainnya sebagainya sebagaimana yang tercantum dalam Al-Quran dan Hadis memanfaatkan bahasa daerah dan “aksara Arab”. Lahirlah bahasa daerah yang menggunakan aksa-ra Arab.
Memasuki abad ke-20, kaum kolonial dari: Inggris, Perancis, dan Belanda yang memiliki tanah jajahan di Asia Tenggara, memperkenalkan program baru dalam koloni mereka. Itulah sebabnya mengapa negara-negara kolonial itu lalu memperkenalkan pendidikan Barat guna mendukung program yang telah dipersiapkan. Di Nusantara, Belanda memperkenalkan “sekolah gouverne-ment” yang lalu berganti menjadi “sekolah melayu”. Sekolah akhir ini dirancang untuk mencetak SDM anak-anak negeri yang akan dijadikan: pamong, guru, kerani (pegawai administrasi), dan lain sebagainya. Adapun matapelajaran yang diberikan di sekolak-sekolah melayu, ialah: me-nulis, membaca, berhitung, tidak terkecuali pengetahuan umum. Bahasa pengantar digunakan: ialah “bahasa melayu” dan bahasa daerah, akan tetapi aksara digunakan “tulisan Latin” pilihan Belanda. Lahir dengan demikian bahasa melayu beraksara Latin, dan bahasa daerah tulisan yang sama.
Belanda mengembangkan lebih lanjut pendidikan Barat yang telah diperkenalkannya sampai ke jenjang Perguruan Tinggi dan Universitas sebagaimana telah berkembang di daratan Eropa, seba-liknya pendidikan madrasah berjalan sebagaimana yang berlangsung di Timur Tengah. Meski-pun pendidikan Barat yang dikembangkan Belanda silam di Tanah-Air telah berubah menjadi: Sekolah Rakyat (SR), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Universitas memasuki alam kemerdekaan, dalam mengembangkan pendidikan di Tanah-Air ber-sifat nasional, demikian pula pedidikan Ponpes asal madrasah dengan memasukkan matapela-jaran ideologi negara, managemen, keterampilan teknologi, dan lain sebagainya kedalam kuriku-lum; namun kedua sistim pendidikan muncul dari perjalanan sejarah yang berlainan itu masih memperlihatkan padangan hidup kaum wisudawan yang tidak seiring. Dualisme masih tampak jelas dalam pemahaman masyarakat, dengan menyeruaknya dalam kehidupan umat pengertian “ahli zikir” dan “kaum intelektual” yang masih belum sejalan.
Dinamika Sumber Tenaga Gerak
Alam semesta merupakan sistim mekanik terbesar. Itulah sebabnya mengapa makhluk yang hi-dup di muka benda langit, tidak terkecuali bumi, menjadi bagian dari sistim mekanik benda langit tersebut. Setiap benda, baik yang hidup tidak terekecuali mati, membutuhkan tenaga gerak. Manusia, hewan, dan tumbuhan juga menggunakan “panas” hasil pembakaran “karbohidrat” yang dihasilkan dalam tubuh makhluk dengan “oksigen” diperoleh dari atmosfer bumi, lalu diolah serangkaian otot menjadi gerak. Terdapat beragam kemasan STG (MES) yang telah di-kembangkan umat yang hidup di muka bumi, yakni:

A. Panas Reaksi Kimia
Apa yang telah diperkenalkan revolusi industri di Eropa silam, ialah STG yang mengubah “panas” (heat) hasil pembakaran bahan-bakar fossil menjadi gerak, dikenal dengan singkatan: PPG (TMC), yang pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh James Watt (1736-1819) dari Inggris, kemasan x-y PPG (TMC), diman: x = periuk/bejana tempat bertanak air untuk mengha-silkan uap-bertekanan, atau uap yang memiliki tenaga potensial, diperoleh dari bertanak air de-ngan panas yang didapat dari pembakaran bahan-bakar (beragam hidrokarbon atau bahan-bakar fossil), dan y = pasangan silinder-pengisap berikut poros-engkol yang mengubah tenaga potensial uap menjadi tenaga gerakan putar. Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) dari Belgia, kemudian memperkenalkan lagi STG kemasan y pemantik sumbu. Mengapa kemasan y dapat be-kerja, karena gas bertekanan yang mendorong pengisap kebawah, dapat diperoleh sekejap de-ngan “memantik sumbu” campuran uap-bensin dengan udara didalam silinder. Pemantik akhir ini kemudian diperbaiki Otto dengan memperkenalkan STG pemantik listrik melahirkan ke-masan y pemantik listrik (electric ignition). Rudolf Diesel selanjutnya memperkenalkan pula S-TG kemasan y pemantik kempa (compression ignition) dengan bahan-bakar yang dikenal de-ngan nama solar (diesel fuel).

B. STG Reaksi Kimia
Kemasan x-y yang telah diperkenalkan James Watt (1736-1819), kemudian berkembang, lalu mengganti pasangan silinder pengisap berikut poros engkol dengan turbin-uap yang memutar ge-nerator. Lahir dengan demikian Pusat listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan bahan-bakar fossil (B-BP, BBC, BBG), kini digunakan berbagai negara di muka bumi, mulai dari negara maju hingga dengan berkembang yang menghasilkan tenaga listrik yang diperlukan perekonomian berbagai negara.
Kemasan y yang diperkenalkan Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900), juga turut berkembang dengan mengganti pasangan silinder pengisap berikut poros-engkol dengan turbin-gas yang juga memutar generator. Lahir pula Pusat listrik Tenaga Gas (PLTG), dilanjutkan PLTGU yang me-ningkatkan daya-guna, membakar bahan-bakar gas alam (natural gas) untuk menunjang pereko-nomian agar maju lebih pesat. Ini disebabkan oleh PLTG dan PLTGU dapat dibangun dalam waktu singkat untuk meningkatkan produksi tenaga listrik. Kemasan y dengan turbin-gas, juga dapat mengembangkan mesin pesawatterbang yang dikenal dengan: turbo-prop, torbo-jet, dan turbo-fan, yang menghasilkan gaya tarik/dorong besar dinyatakan dalam metric-ton yang sangat dibutuhkan angkutan udara dunia, sehingga dalam waktu singkat menjadi tulang punggung trans-portasi udara internasional di muka bumi.

C. STG Elemen Kimia
Selain sebagian “panas” yang dapat diubah menjadi gerak, dinamakan Pengubah Panas Gerak (PPG) atau Thermo Mechanic Conversion (TMC) yang telah diperkenalkan revolusi industri be-rangkat dari disiplin ilmu alam (fisika) lampau, “listrik” juga dapat diubah menjadi gerak berangkat dari disiplin ilmu yang sama, dikenal dengan Pengubah Listrik Gerak (PLG) atau Electro Mechanical Conversion (EMC). Dengan demikian berlaku juga kemasan x-y PLG (EMC), dimana: x = elemen kimia yang membangkitkan tenaga listrik, dan y = mesin listrik yang mengubah tenaga listrik menjadi tenaga gerakan putar.

D. STG Sel Bahan-Bakar
STG elemen kimia lainnya mengemuka dari gagasan John Bockris yang timbul di Pusat Teknik General Motor Amerika Serikat tahun 1970 lalu. Dari kemasan x-y, disini: x = sel bahan-bakar yang membangkitkan tenaga listrik dengan pemasukan BBH tanpa melakukan pembakaran samasekali apapun ragamnya, dan y = mesin listrik yang mengubah tenaga listrik menjadi tenaga gerakan putar.

E. Panas Reaksi Nuklir
Albert Einstein dari Amerika Serikat, pada tanggal 26 September 1905 mengununkan kepada dunia “theori relativitas”dengan persamaan: E = mc² yang amat terkenal. Apa yang sebenarnya ingin disampaikan Einstein kepada seluruh umat di muka bumi ketika itu, bahwa “benda” (ma-teri) dan “tenaga” (energy) dapat dipertukarkan, sehingga tenaga dapat diperoleh dengan mele-nyapkan benda, begitu pula sebaliknya. Lewat theori relativitasnya, Einstein juga ingin menyam-paikan kepada dunia, bahwa terdapat tenaga (energy) yang melimpah ruah, sehingga manusia di muka bumi tidak akan kekurangan. Yang menjadi persoalan ketikaitu bagaimana mengeta-huinya? Untuk yang akhir ini harus dilakukan percobaan. Maka pada tanggal 16 Agustus 1945, sebuah “bom-atom” pertama dicoba Proyek Manhattan bekerjasama dengan Angkatan Darat A-merika Serikat, di White Sands Proving Ground, Jonada del Muerto, 56 km tenggara Socorro, Padang Pasir New Mexico, dan berhasil. Lalu pada tahun 1952 sebuah “bom-hidrogen” pertama dicoba pula di kawasan Pacifik, juga berhasil. Kedua bom ini memperoleh “panas” bukan dari “reaksi kimia” (chemical reaction) hasil pembakaran bahan-bakar fossil sebagaimana yang telah dikenal sejak awal revolusi industri di Eropa silam, akan tetapi dari apa yang kemudian dinama-kan: “nuclear reaction” (reaksi nuklir, atau reaksi inti). Kini dikenal orang dua macam reaksi nuklir, masing-masing: “reaksi belah inti” (nuclear fission reaction) juga dikenal dengan reaksi nuklir fisi, karena inti uranium terbelah oleh benturan neutron yang menyebabkan “bom-atom” meletus; dan “reaksi gabung inti” (nuclear fusion reaction) juga dikenal dengan reaksi nuklir fusi, karena inti-inti isotop hidrogen ringan bergabung oleh temperatur reaksi yang sangat tinggi mendekati inti matahari menyebabkan “bom-hidrogen” meletus. Perlu dicatat, reaksi belah inti memancarkan sinar-sinar radioaktif berbahaya berkepanjangan; sebaliknya reaksi gabung inti ti-dak memancarkan sinar-sinar radioaktif. Sebagai dampak dari terbelahnya inti atom berat, atau tergabungannya inti-inti atom ringan, sebahagian “massa” atom-atom yang terlibat akan lenyap atau hilang dari Alam Semesta, lalu berganti menjadi “panas” (kalor) sebagaimana yang dikemu-kakan persamaan Einstein.
Berangkat dari theori relativitas Einstein, umat lalu mengetahui dua macam sumber “panas” (heat) di muka bumi: pertama “panas” asal pembakaran atau reaksi kimia, seperti pembakaran: kertas, kayu, bahan-bakar fossil, sampah, dan lain sejenisnya, kedua “panas” asal pembelahan i-nti atom berat, dikenal dengan reaksi fisi, atau penggabungan inti-inti atom ringan, dikenal dengan reaksi fusi; keduanya dinamakan reaksi nuklir, atau reaksi inti. Kedua reaksi mengaki-batkan sebagian massa atom yang terlibat sekonyon-konyong lenyap atau hilang lalu digantikan panas sesuai rumus Eistein.
Panas yang ditimbulkan reaksi nuklir belah atau fisi melahirkan Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fisi (PLTNFi) pasca Perang Dunia Ke-II. Dari kemasan x-y, panas belah nuklir-gerak (thermo nu-clear fission-mekanik), disini: x = Reaktor Air Tekanan (RAT) atau Pressure Water Reactor (P-WR), bertindak sebagai periuk tempat bertanak air yang menghasilkan uap-bertekanan asal re-aksi fisi, dan y = pasangan turbin generator yang membangkitkan tenaga listrik; disusul Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fusi (PLTN-Fu) kemasan x-y panas gabung nuklir-gerak (thermo nuclear fusion-mekanik), disini: x = sebentuk bejana dinamakan TOKAMAK bertindak sebagai periuk tempat bertanak air yang menghasilkan uap-bertekanan dari reaksi fusi, dan y = pasangan turbin generator yang membangkitkan tenaga listrik, kini tengah dikerjakan sejumlah negara maju di Cadarache, Perancis Selatan.
Sebuah reaksi nuklir belah (fusion reaction) membebaskan tenaga panas (heat energy) setara 200.000.000 electron Volt (eV), disingkat 200 MeV, per satuan massa untuk tiap kejadian. Sebaliknya, pembakaran bahan-bakar fossil (BBP, BBC, BBG) atau reaksi kimia, membebaskan tenaga panas hanya beberapa eV per satuan massa untuk tiap kejadian. Itulah sebabnya mengapa reaksi nuklir, baik reaksi fisi maupun reaksi fusi, jauh lebih perkasa perkasa dibandingkan reaksi kimia yang sudah dikenal umat sampai kini, sebagaimana yang telah diperlihatkan letusan “bom atom” dan letusan “bom hidrogen” yang amat menakutkan umat di muka bumi ini.

F. Reaksi Nuklir Gabung Dingin
Apabila hidrogen besentuhan dengan beragam logam, antara lain: nikel, palladium, dan lainnya akan terjadi apa yang kemudian dinamakan orang dengan istilah reaksi gabung dingin (cold fu-sion reaction). Manakala hidrogen, unsur kimia pembentuk air ini bertemu dengan logam yang telah disebutkan, akan timbul reaksi nuklir yang juga membebaskan “panas” berikut produk transmutasinya. Reaksi gabung dingin juga dikenal dengan Reaksi Nuklir Tenaga-Rendah (RNT-R), atau Low-Energy Nuclear Reaction (LENR), dan yang akhir ini dapat menjadi menjadi penyedia “air-panas” bersih dan membangun uap-bertekanan dalam bejana yang boleh diguna-kan memutar turbin untuk membangkitkan tenaga listrik. Dari kemasan x-y, disini: x = RNTR yang memproduksi uap-bertekanan, dan y = turbin uap yang memutar generator pembangkit te-naga listrik layaknya sebuah PLTU. Umat bermimpi menantikan datangnya Elemen Reaksi Gabung Dingin (ERGD) atau Cold Fusion Reaction Element (CFRE), yakni sebuah batere umur panjang, sehingga suatu ketika orang dapat membeli: sepeda motor, mobil, dan lain sejenisnya, lengkap dengan STG listrik yang akan habis muatannya bersamaan masa pakai ekonomis ken-daraan (vehicle’s economic service life), misalnya: 5 atau 10 tahun, lalu ERGD dan kendaraan di daur ulang kembali.

G. Tanaga Terbarukan
a. Peladangan Cahaya Matahari
Kemasan x-y lain yang kini berkembang di sejumlah negara untuk menurunkan pencemaran atmosfer yang telah timbul, dimanfaatkannya apa yang dinamakan orang tenaga terbarukan (re-newable energy). Adapun contoh jenis tenaga yang kian digandrungi umat di berbagai belahan bumi saat ini, ialah panen cahaya matahari diubah langsung menjadi listrik menggunakan pengu-bah fotovoltaik (photovoltaic converter). Dari kemasan x-y, disini: x = cahaya matahari, dan y = alat pengubah fotovoltaik. Lahir dengan demikian peladangan cahaya matahari yang memanen “cahaya matahari” mulai dari Eropa, lalu menyebar ke Amerika, dan Asia, mulai daratan hingga lepas pantai, untuk kawasan dimana matahari bersinar terang ditemukan sepanjang tahun. Sebu-ah peladangan cahaya matahari dapat terdiri: mulai beberapa sampai ribu bahkan lebih bilangan papan, dan membentuk apa yang kemudian dikenal dengan: Pusat Listrik Tenaga Cahaya Mata-hari (PLTCM).
Sebuah keluarga yang melakukan peladangan cahaya matahari sekitar rumah mulai atap rumah sampai halaman, kini telah dapat memenuhi tenaga listrik keperluan sendiri. Tampaknya kelu-arga demikian membutuhkan listrik PLN hanya malam hari karena matahari telah tenggelam, manakala keluarga itu belum memiliki instalasi batere tempat menyimpan tenaga listrik. Apabila keluarga ini menghasilkan tenaga listrik lebih dari yang dikonsumsi, kelebihannya dapat lang-sung dijual ke PLN, sehingga rekening listrik keluarga untuk pemakaian malam hari dapat diturunkan.

b. Peladangan Tenaga Angin
Adapun tenaga terbarukan lain yang mudah diketahui ialah angin. Dari kemasan x-y, disini: x = aliran udara, muncul karena permukaan bumi mendapat pemanasan matahari, dan y = baling-baling udara yang mengubah gerakan molekul-molekul udara (tenaga kinetik) menjadi gerakan putar baling-baling udara yang memutar generator listrik menggunakan hukum aerodinamika. Timbul peladangan “tenaga angin” diawali dari Eropa, lalu menyebar ke Amerika, dan Asia, dari daratan hingga lepas pantai, dimana angin terdapat berhembus sepanjang tahun. Sebuah peladangan angin dapat memuat sebuah menara tinggi, di puncak mana terdapat baling-baling udara berdaun tiga memutar generator listrik. Sebuah perkebunan angin dapat memiliki puluhan, ratusan, bahkan ribuan menara tinggi dengan sebuah baling-baling udara diuncaknya memutar generator-generator listrik yang bekerja paralel, dikenal dengan: Pusat Listrik Tenaga Angin (PLTAn).

c. Peladangan Panas Matahari
Tenaga terbarukan lain ialah panas matahari yang kini telah cukup lama digunakan di Spanyol. Tenaga terbarukan sama kini tengah dikembangkan di gurun Afrika Utara, dan tenaga listrik di-hasilkan sesuai rencana akan dikirim lewat SUTET ke negara-negara Uni Eropa. Apa yang diker-jakan disini ttidak lain sebuah PLTU, hanya “panas” dibutuhkan datang dari matahari yang sam-pai di muka bumi. Dari kemasan x-y, disini: x = ialah periuk tempat bertanak air yang meng-hasilkan uap-bertekanan terdapat di tengah PLTU dikelilingi ribuan cermin, dan y = turbin uap yang bekerja mengubah tenaga potensial uap menjadi gerakan putar turbin yang menggerakkan generator listrik. Setiap hari, mulai matahari terbit di ufuk Timur sampai tenggelam di Barat, setiap cermin ini akan mengatur posisi masing-masing sedemikian rupa, sehingga cahaya dan pa-nas matahari yang dipantulkannya akan senantiasa tertuju ke periuk. Sebagai akibatnya, suhu periuk menjadi amat tinggi, sehingga air didalamnya cepat mendidih dan menghasilkan uap- bertekanan. Yang disebut akhir ini lalu digunakan untuk menggerakkan turbin-uap yang memu-tar generator listrik. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Panas Matahari (PLTPM).

d. Perkebunan Panas Bumi
Panas bumi muncul dekat permukaan, antara lain ditemukan di daerah pegunungan dan sekitar gunung berapi aktif atau lainnya, juga tergolong tenaga terbarukan. Apa yang dilakukan disini juga mewujudkan sebuah PLTU, hanya “panas” digunakan diperoleh langsung atau tak-langsung dari dalam perut bumi. Dari kemasan x-y, disini: x = periuk tempat bertanak air menghasilkan uap-bertekanan, dalam hal ini didapat dari dalam perut bumi dengan cara mengebor hingga ke sumber panas. Ada kalanya uap-bertekanan tidak langsung keluar dari dalam perut bumi setelah dibor sampai ke sumber panas, dalam keadaan demikian air bersih perlu disuntikkan kedalam sumur bor agar uap-bertekanan mengalir keluar, dan y = turbin uap untuk mengubah tenaga po-tensial uap menjadi gerakan putar turbin-uap yang memutar generator listrik. Lahir Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB).

e. Tenaga Air
Tenaga terbarukan lain yang banyak dimanfaatkan di berbagai negara ialah tenaga air. Tenaga air datang dari matahari yang memanasi permukaan bumi, sehingga air yang adat dipermukaannya lalu menguap menjadi awan. Yang akhir ini lalu dibawa angin ke berbagai jurusan, dan setelah mendingin kembali menjadi air yang kembali jatuh ke bumi sebagai hujan. Terdapat dua macam tenaga air yang diperoleh dari hujan, masing-masing: “tenaga potensial” karena air terhimpun di dalam: kolam, waduk, danau, waduk, sungai, dan lainnya terletak pada suatu ketinggian diatas permukaan laut, dan aliran air deras dari bermacam sungai curam yang mempunyai “tenaga ki-netik. Tenaga air golongan pertama amat tergantung dari hasil kali: Q.l, dimana: Q menyatakan aliran (debit) air dalam m3/det, sedangkan tinggi jatuh air l (m); sedangkan yang kedua juga tergantung debit Q (m3/det), lainnya kecepatan air mengalir dalam v (m/det). Terhadap golongan pertama, kemasan x-y, disini: x = aliran air (Q) dan tinggi jatuh l (m), dan y = baling-baling atau turbin air yang diterapkan mengubah tenaga potensial air, menjadi gerakan turbin-air yang me-mutar generator listrik memanfaatkan kaidah hidrodinamika. Lahir dengan demikian Pusat Lis-trik Tenaga Air (PLTA). Tergantung hasil kali Ql didapat, PLTA dibedakan kedalam daya: amat besar, daya besar, daya menengah, daya sedang, daya kecil, dan daya sangat kecil. Dan yang a-khir ini dinamakan PLTA-mikro, dan di Tanah-air umumnya disebut mikro-hidro. Terhadap golongan kedua, kemasan x-y, disini: x = aliran air (Q) dan kecepatan air v (m/det), dan y = ba-ling-baling digunakan untuk mengubah tenaga kinetik air, menjadi gerakan turbin-air yang me-mutar generator listrik menerapkan kaidah hidrodinamika, dan dinamakan PLTAir Deras, di-singkat (PLTAD).

f. Tenaga Gelombang
Angin berhembus kencang di permukaan laut atau samudra akan menyebabkan timbulnya gelombang air yang menghempas di pantai. Gulungan gelombang air laut bergerak menuju pan-tai termasuk kedalam golongan tenaga air terbarukan. Banyak negara khususnya yang telah maju berhasil memanfaatkan gelombang air untuk memperoleh listrik yang dibutuhkan mercu suar, juga sekelompok masyarakat terpencil yang berdiam di tepi pantai, dan lainnya. Dari kemasan xy, disini: x = gelombang air laut, dan y = pengubah tenaga gelombang air menjadi gerak me-manfaatkan kaidah aerodinamik, atau hidrodinamika, atau gabungan dari keduanya. Lahir de-ngan demikian Pusat Listrik Tenaga Gelombang Air Laut (PLTGAL).

g. Tenaga Arus Bawah Laut
Arus-arus air dasar laut hingga samudra juga termasuk tenaga terbarukan bersumber dari dalam laut. Sekarang sumber tenaga terbarukan ini mulai dilirik bergabai negara maju untuk diubah menjadi tenaga listrik yang dapat mengurangi pencemaran atmosfer bumi. Dari kemasan x-y, disini: x = arus bawah laut yang timbul karena perbedaan suhu air di permukaan dengan suhu air pada kedalaman laut tertentu, dan y = baling-baling air yang mengubah gerakan molekul-mole-kul air (tenaga kinetik) menjadi gerakan putar baling-baling air yang menggerakkan generator listrik menerapkan hidrodinamika. Dengan demikian, peladangan tenaga aliran air-laut dalam berkembang, lalu menyebar ke segala penjuru dunia dimana terdapat sumber-sumber arus bawah laut dalam yang dapat dimanfaatkan. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Arus Bawah Laut Dalam (PLTABLD).

h. Tenaga Suhu Air Laut
Perbedaan suhu air laut yang terdapat di permukaan dengan suhu air laut yang berada pada suatu kedalaman, kini telah dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan tenaga listrik. Cara pengubahan diterapkan adalah juga sebagaimana PLTU, oleh perbedaan suhu air laut yang berbeda yang samasekali tidak memerlukan bahan-bakar, karena termasuk kelompok tenaga terbarukan. Dari kemasan x-y, disini: x = perbedaan suhu air laut, dan y = turbin-uap yang digunakan untuk mengubah uap-bertekanan menjadi gerakan putar turbin yang memutar generator listrik.

i. Tenaga Kilat
Kilat yang sambar-menyambar di angkasa, tidak diragukan lagi adalah listrik yang bertenaga besar oleh tegangan yang sangat tinggi: “jutaan volt” dan arus mengalir yang juga besar: “ribuan Ampere”, mampu menghanguskan pohon kayu besar. Perlu dicatat “kilat” adalah juga “petir”, hanya saja perbedaannya: yang pertama apa yang disaksikan dengan mata, sedangkan yang ke-dua ialah yang dapat didengar oleh telinga. Dengan tegangan yang sedemikian tinggi, kilat dengan mudah dapat menyambar kemana-mana di angkasa, baik antara awan dengan awan keti-ka muatan listrik keduanya berlawanana, demikian pula antara awan dengan, ketika muatan lis-trik keduanya sedang berlawanan. Kilat sambar-menyambar di angkasa antara awan dengan awan berlainan muatan tidak dapat ditangkap, akan tetapi kilat dari awan yang menyambar bumi dapat ditangkap guna diperas tenaga listriknya. Beragam percobaan telah dilakukan di sejumlah negara maju, tidak terkecuali di Indonesia, memancing kilat dengan meluncurkan roket berekor logam menuju awan yang sedang bermuatan untuk mendapatkan tenaga listriknya. Penelitian dan pengujian terus berlangsung dimana-mana di muka, akan tetapi belum lagi dapat diketahui bila sebuah Pusat Listrik Tenaga Kilat (PLTK) dapat diwujudkan.

Kesimpulan
Dari apa yang sudah dikemukakan diatas, tampak jelas, bahwa: “panas” yang diperoleh dari hasil reaksi kimia, demikian juga pengembangannya sejak awal revolusi industri lebih dari dua abad silam, telah menjadi penyebab utama pencemaran atmosfer yang mengitari planit biru tempat u-mat berdiam, oleh hasil pembakaran bahan-bakar fossil: BBP, BBM, dan BBG yang digali dari dalam perut bumi. Pencemaran atmosfer diperparah oleh “daya-guna” atau efisiensi yang diperoleh rendah, untuk sebuah MPD sekitar 25%, sehingga sebagian besar (75%) panas hasil pembakaran bahan-bakar dihasilkan pembakaran hanya terbuang percuma memanasi udara se-kitar. Manakala bahan-bakar nabati (biofuel) atau biomasa (biomass) yang digunakan, pencemaran atmosfer dari unsur belerang atau sejenis memang berkurang, akan tetapi efisiensi MPD digunakan tetap tidak membaik. Tampaknya kedepan, STG memanfaatkan panas hasil reaksi ki-mia atau pembakaran bahan-bakar fossil harus dilenyapkan dari muka bumi, untuk menghilangkan pencemaran atmosfer bumi yang tidak lagi kehendaki umat di bumi.
Dilai fihak, tenaga listrik yang berasal dari elemen kimia kedepan perlu mendapat perhatian. Pengubah Listrik Gerak (PLG) atau Electro Mechanic Conversion (EMC) mempunyai banyak pilihan dan beragam pula, dan samasekali tidak menghasilkan bahan pencemar yang dapat me-ngotori atmosfer bumi. Demikian juga tenaga listrik yang diperoleh dari sel bahan-bakar yang menggunakan bahan-bakar hidrogen. Untuk memperoleh tenaga gerak, diperlukan mesin listrik yang bekerjasama dengan elemen kimia untuk menghasilkan gerakan putar. Perlu dicatat, mesin listrik memiliki efisiensi tinggi mengubah tenaga listrik menjadi tenaga gerak, yakni 85%, lebih . dari “tiga kali” MPD Dengan demikian umat tidak perlu lagi menggali kedalam perut bumi ribuan meter dalamnya sekadar untuk memperoleh bahan-bakar fossil, sebaliknya elektrolit dapat dihasilkan dari kedalaman perut bumi kurang dari 100 m.
Dalam menuntun umat hijrah dari STG menggunakan bahan-bakar fossil ke STG listrik meman-faatkan elemen kimia di Asia Tenggara dan bagian dunia lain, dimulai dari desa lewat penyulu-han. Kaum remaja mesjid dan lainnya mendapat bimbingan dari seorang penyuluh dari mesjid dan lainnya, mencari cairan elektrolit diperlukan beserta elektroda diperlukan. Untuk elektrolit dapat digunakan cairan bermacam tanaman tumbuh di seputar kampung diperas dari beragam buah, daun, atau batang; demikian juga bermacam cairan dihasilkan hewan dan manusia. Penyuluh menerangkan kepada para remaja tegangan listrik (Volt) dihasilkan dua logam berbeda yang dicelupkan kedalam elektrolit, juga menerangkan arus listrik (Ampere) yang mengalir melalui bola lampu tengah menyala. Tegangan dan arus merupakan dua besaran listrik yang menentukan daya listrik (Watt) yang dihasilkan sebuah elemen kimia.
Apa yang harus dikerjakan kaum remaja pada usaha awal ini, menemukan elektrolit beserta pa-sangan logam yang memperlihatkan tegangan yang tinggi. Yang akhir ini akan menjadi kunci daya dihasilkan besar, demikian pula arus mengalir. Para remaja juga perlu menghubungkan ele-men-elemen kimia kedalam hubungan seri, agar lampu dapat menyala lebih terang. Demikian juga hubungan paralel yang dibutuhkan. Dengan modal elektrolit dari kampung sendiri, dan pa-sangan logam berikut bola lampu didatangkan dari kota, anak-anak desa dapat mengganti lampu minyak-tanah juga lampu minyak-kelapa yang menghitamkan hidung dengan lampu listrik ele-men kimia yang bersih. Kelak, kaum remaja yang telah dibangunkan rasa ingin tahu mereka, akan menjadi pengembang elemen-elemen kimia maju daya besar dan ramah lingkungan yang akan menghindarkan bumi dari beragam pencemaran.
Panas hasil reaksi nuklir yang diubah menjadi listrik kian banyak digunakan perekonomian ber-bagai negara maju guna memenuhi kebutuhan: industri, transportasi, pemukiman, dan banyak lagi lainnya, kendati dibayangi ketakutan akan penyebaran bahan radioaktif berbahaya dari Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fisi (PLTNFi) yang bocor menuju lingkungan. Sebaliknya Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fusi (PLTNFu) yang tidak menghasilkan bahan radioaktif, kini sedang dikerja-kan di Perancis. Masih banyak penelitian yang harus dilakukan untuk menghindarkan dampak negatif yang ditimbulkan PLTNFi di muka bumi kedepan.
Tenaga dibangkitkan reaksi gabung dingin (cold fusion reaction) menjadi harapan untuk mewujudkan STG keperluan kendaraan bermotor yang tidak lagi mencemari atmosfer. Tidak ter-hitung banyak penelitian, pengujian, dan evaluasi hasil yang perlu dikerjakan untuk menemukan pilihan terbaik yang dapat menurunkan pencemaran lingkungan hidup yang telah timbul di bumi sejak revolusi industri silam, bahkan menghilangkannya samasekali. Kini terbentang dihadapan generasi muda Asia Tenggara, demikian juga bagian dunia lain yang kian besar jumlahnya, tan-tangan menjadi khalifah di muka bumi membentengi planit biru dari limbah gunung-api bikinan manusia sendiri. Harus ditemukan dari harta karun SDA bumi yang keanekaragaman bahan, mulai: mineral, logam, dan lainnya sampai elektrolit terbaik digunakan untuk membuat elemen kimia yang membangkitkan tenaga listrik guna diubah menjadi gerak oleh mesin listrik, menyediakan keperluan beragam industri dan lainnya, tidak terkecuali angkutan, mulai: darat, laut, hingga udara.
Khusus terhadap sumber tenaga terbarukan, dapat dikembangkan dimana saja dengan bebas di muka bumi sejauh potensi yang ada dapat dikembangkan dengan ekonomis, karena samasekali tidak membutuhkan bahan-bakar apapun ragamnya, dan tidak juga mencemari lingkungan hidup di bumi apapun bentuknya, tidak terkecuali atmosfer yang mengitari bola bumi ini.

Kembali Ke Rumah Ilahi
Setelah lebih dua abad lamanya berlangsung, revolusi industri telah menimbulkan perubahan ik-lim nyata di bumi, akibat aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan yang berjalan tanpa henti menelusuri perjalanan waktu hingga kini, dengan jumlah yang semakin me-ningkat dan ragam semakin berubah. Umat kemudian semakin sadar, bahwa aliran benda (mate-ri) ini tidak saja menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan hidup umat yang semakin pa-rah, tetapi juga menimbulkan dampak buruk terhadap ekosistem bumi, dan kini telah menggang-gu kesehatan umat di berbagai kawasan planit ini. Itulah sebabnya, mengapa langkah nyata harus dibuat untuk mengatasinya, bahkan menghilangkan pengaruhnya samasekali. Adapun keadaan lingkungan hidup muka bumi yang ingin dicapai, ialah keadaan sebelum revolusi industri di Eropa silam dimulai, bahkan keadaan yang lebih baik dari itu.
Rumah Ilahi, ialah tempat di muka bumi yang sudah ditentukanNya, dipimpin mereka yang telah memperoleh petunjukNya, sebagaimana yang telah diutarakan sebelumnya. Rumah Ilahi menjadi garis depan, tempat-tempat dimana umat berhubungan langsung dengan para wakilNya di muka bumi: dimana Imam (Pengurus) Mesjid beserta jajaran mereka umat Islam, demikian juga para Pengasuh Rumah-rumah Suci agama dan kepercayaan lain beserta jajaran mereka untuk umat agama dan kepercayaan lain. Demikian awalnya gagasan berdirinya mesjid untuk umat Islam yang diperkenalkan Nabi Muhamad SAW silam, juga dikehendakinya berjalan hingga akhir zaman. Lalu timbul pertanyaan, bagaimana hal ini dilakukan.
Dalam surat ke-13 Ar-Rad (Guruh), Ayat 11, telah dikatakan dalam Al-Quran:

13_13

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dimuka dan dibela-kangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah767. Sesungguhnya Allah tidak mengubah kea-daan suatu kaum, sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.768 Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekalikali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
767 Selain yang menjaga, ada juga malaikat yang mencatat, dan namanya Hafazhah
768 Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.

Sebuah Intermeso
Pada suatu ketika, televisi Al-Jazeera dari Qatar menyiarkan laporan operasi jantung berlangsung di sebuah Rumah Sakit India. Negara yang sebahagian besar warganya beragama Hindu yang berusia lebih dari dua ribu tahun, melahirkan budaya dan adat-istiadat unik dan sangat menarik di muka bumi. Itulah sebabnya mengapa banyak sekali turis dari mancanegara yang datang berkunjung ke India, tidak terkecuali para turis menjalani pengobatan (medical tourism), terma-suk mereka yang menjalani operasi jantung dari beragam bangsa. Menjelang operasi dilang-sungkan, pasien dan keluarga pertama disambut acara keagamaan dipimpin seorang pendeta Hindu tidak terkecuali dokter-dokter jantung dengan para stafnya dan kelompok perawat yang dilibatkan. Operasi jantung yang serius dilangsungkan termasuk memperagakan keahlian ilmu kedokteran mutakhir yang terlihatt sederhana. Setelah beberapa lama operasi berlangsung, pasien lalu siuman. Ketika ditanyakan, bagaimana rumah sakit negeri Mahatma Gandi itu bisa terkenal di dunia dengan lebih dari 5000 operasi jantung per tahun, Dr Devi Shetti pemimpin rumah sakit jantung tersohor itu menjawab, bahwa ia terinspirasi oleh kata-kata Ibu Theresa, biarawati Ka-tholik asal Hongaria yang telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya di India menolong orang-orang tidak mampu. Biarawati terkenal itu pernah berkata kepadanya suatu ketika, bahwa dibalik bibir-bibir yang fasih membacakan doa, harus juga ada tangan-tangan terampil dengan jemari yang cekatan mengerjakan.

Apa Yang Harus Dilakukan?
Revolusi industri diawali dari Eropa lebih dari dua abad silam, tidak diragukan lagi bermaksud mengganti sistim kemasyarakatan lama yang tidak lagi sesuai dengan keadaan ketika itu, dengan yang baru lebih cocok dengan zaman menggantikan. Sebuah revolusi apapun bentuknya tunduk kepada aturan umum yang mengaturnya, yakni: revoltare dan revolvere. Revoltare ialah bagian revolusi bertugan menumbangkan sistim kemasyarakatan lama yang tidak lagi cocok dengan keadaan tengah berlangsung, sedangkan yang kedua bagian yang menciptakan sistim kemasya-rakatan baru lebih baik dari ebelumnya. Keberhasilan sebuah revolusi menelusuri perjalanan waktu ditentukan keberhasilan revolvere memperbaiki keadaan sebelum revoltare digulirkan, karena manakala tidak kekacauan (khaos) akan timbul, dan akan mengorbankan mereka yang telah menggerakannya.
Setelah revolusi industri berlangsung di muka bumi lebih dari dua abad, keadaan lingkungan hidup di planet ini masih dalam wilayah revotare. Ini dapat dikenali dari pencemaran di muka bumi yang semakin buruk menelusuri waktu, meski telah tampak kesadaran umat akibat pencemaran yang ditimbulkan revolusi industri bikinan manusia termasuk upaya manusia untuk meng-atasinya. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengatasinya, meski belum lagi memadai me-ngingat revolusi industri telah berjalan dalam hitungan abad. Sebagaimana yang telah dikemuka-kan sebelumnya, keadaan yang ingin diraih, ialah sebelum dimulainya revolusi industri silam, bahkan yang lebih baik dari itu, sebagaimana yang dituntut revolvere dan tidak dapat ditawar.
“Untuk mengubah keadaan kaum”, sebagaimana yang disampaikan dalam surat: Ar-Rad (Gu-ruh), Ayat 11, manusia perlu menyimak kembali filsafat Islam yang telah berkembang dari Irak hingga Andalusia kemudian Eropa, menyebabkan di bagian benua itu bersemi pengetahuan tepat guna yang mengantarkan umat meraih peradaban kini berlangsung. Pengetahuan tepat guna beserta analisa ilmu yang dikembangkan, telah mengantarkan umat membuat STG (MES) de-ngan “bahan-bakar fossil” keperluan beragam industri termasuk transportasi yang menimbulkan aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan yang mencemari lingkungan hidup umat berabad lamanya hingga hari ini; maka dengan filsafat Islam yang sama tetapi sudut pandang sebaliknya, memanfaatkan STG (MES) listrik menggunakan bermacam “elemen kimia” termasuk pengembangannya, menghentikan aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan yang sudah mencemari lingkungan hidup umat, juga meyiapkan Cadangan Berputar, dikenal dengan Bank Bahan Baku (BBB) .
Apa yang ingin dicapai filsafat Islam sudut pandang yang berlawanan ialah, agar setiap anak manusia yang hidup di muka bumi menerima dan memanfaatkan akal sehat yang terkandung di dalamnya, karena memang itulah yang sebenarnya maksud dari surat Ar-Rad, Ayat 11, karena demikian pula prasyarat yang diminta Allah kepada umat untuk mengabulkan perbaikan keadaan suatu kaum di muka bumi, yakni dengan menghilangkan segala pencemaran lingkungan hidup di muka bumi.

Laboratorium Bumi
Untuk menghadirkan lingkungan hidup yang dibutuhkan beragam makhluk yang ada di muka bumi menelusuri waktu, diperlukan laboratorium yang bertugas memantau keadaan lingkungan, rupa: udara, air, dan darat, dan akan disampaikan berkala untuk diketahui masyarakat di dunia. Dengan sendirinya harus terlebih dahulu ditetapkan apa yang dinamakan: “Standard Lingkungan Hidup” (SLH) muka bumi yang menjadi hak setiap makhluk yang dilindungi hukum menelusuri perjalanan kedua alam fana di muka bumi, menjelang revolusi industri dimulai dari Eropa silam, sehingga semua makhluk yang hidup di muka bumi dapat menjalani kehidupan normal sebagai-mana dikodratkan Ilahi kepada mereka, tidak terkecuali manusia.
Laboratorium demikian tidak akan segera terbentuk, apalagi bila harus mencakup seluruh per-mukaan bumi, karena akan terdiri dari sejumlah laboratorium penelitian yang kini telah terdapat di bumi, tersebar kedalam beragam negara, dan dilola sejumlah bangsa yang telah sadar akan dampak pencemaran yang telah ditimbulkan revolusi industri diawali dari Eropa silam, dan me-nyebabkan munculnya berbagai penyakit, antara lain: kanker, kelahiran anak-anak cacat, mun-culnya kecacatan mental, dan masih banyak lainnya; bahkan belakangan ini anak-anak yang su-dah pikun di usia balita karena keluarga bermukim tidak jauh dari industri pengolahan mineral (smelter) digali dari perut bumi di bekas Negara Komunis.
Tidak dapat disangkal, IB (Ibu Bumi) sangat memerlukan kepedulian umat yang diasuh mulai la-hir ke dunia sampai akhir hayat. Karena hanya dengan kepedulian umat, IB akan dapat me-ngemban tugas mengasuh setiap makhluk yang ada di muka bumi menyediakan: tempat tinggal, sandang, pangan, dan lain sebagainya, setelah berhenti menyusu pada IK (Ibu Kandung) sekitar dua tahun lamanya. Laboratorium bumi dengan demikian merupakan jembatan atau antarmuka yang menghubungkan makhluk dengan IB, sehingga umat dapat mengetahui keadaan kesehatan yang disebut terakhir dalam mengemban tugasnya. Itulah alasannya mengapa laboratorium bumi harus memantau lingkungan hidup dari: kampung (desa), kecamatan, kabupaten, propinsi, ne-gara, sampai dunia; kesemuanya menjadi bagian dari Informasi Lingkungan Hidup (ILH) yang secara teratur harus dipantau oleh laboratorium bumi. Pada tingkat desa atau kampung berperan Rumah-rumah Ilahi, tidak terkecuali Rumah-rumah Suci agama dan kepercayaan lain, semuanya bahu membahu melakukan penyuluhan SLH kepada masyarakat yang hidup di muka bumi, atau penerima laporan yang menyimpang dari SLH, sehingga petugas berwenang dapat berbuat untuk memperbaiki keadaan sesuai SLH yang sudah diberlakukan.

Dengan terbentuknya jaringan ILH, keadaan/kesehatan IB mudah diketahui, dikelola (dimanage), dilaksanakan, dan disimpan, sehingga keadaannya atau kesehatannya dimana-mana sesuai SLH, dapat dipantau dalam perjalanan waktu, dikhabarkan sebagaimana berita cuaca. Sehubungan dengan yang disebut akhir ini, tidak dapat disangkal harus dibangun kerjasama Antarbangsa (Internasional) diikuti semua negara yang ada di planit ini, karena planit biru ini hanya ada sebuah. Setiap kerusakan di muka bumi oleh perbuatan tangan manusia harus segera dihentikan, karena tidak terdapat kemungkinan bagi umat hijrah ke planit lain. Kini terdapat hanya satu pili-han pada umat di bumi, dan yang disebut terakhir ini dibersihkan dari beragam pencemaran yang telah dibuatt para penghuninya sejak dari awal revolusi industri di Eropa silam, lebih dari dua abad yang lalu.

Departemen Limbah
Untuk mewujudkan SLH ysng sinambung di muka bumi, perlu dibentuk Departemen Limbah di setiap negara di muka bumi. “Departemen Limbah” bertindak sebagai bagian hulu dari upaya umat menghindarkan pencemaran di muka planit biru, sedangkan “Departemen Lingkungan Hidup” berperan untuk bagian hilirnya. Dengan penduduk bumi yang meningkat terus kedepan, perso-alan yang akan dihadapi kedepan, ialah penyediaan: sumber tenaga, pangan, sandang, dan papan, serta lain yang jumlah (kuantitas) kian bertambah dan mutu (kualitas) yang juga membaik. Se-perti yang telah dikemukakan sebelumnya pemenuhan keperluan umat ini, akan meningkatkan jumlah aliran bahan (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan disusul meningkatnya limbah yang kian beragam.
Departemen limbah yang dibentuk di beragam negara, perlu lebih dahulu menangani limbah dari aliran bahan (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan, muncul sejak awal revolusi industri lebih dari dua abad silam, yang telah mencemari bumi hingga hari ini. Perlu juga dikem-bangkan sebentuk teknologi limbah berjalan mundur (waste reverse engineering) guna menge-tahui bagaimana limbah yang telah mencemari muka bumi, mulai: daratan, badan air, udara, hingga angkasa timbul, sehingga cara untuk melenyapkannya dapat ditemukan.
Kini dikenal orang pula ilmu rekayasa bahan (materials science and engineering), yang dapat menciptakan beragam bahan yang samasekali baru diperlukan bermacam industri, yang belum lagi diketahui dampak yang akan ditimbulkannya kelak, apabila kemudian beralih menjadi sampah. Departemen limbah juga perlu mewaspadai teknologi yang dikembangkan umat di mu-ka bumi berjalan berdampingan dengan TMH (Teknologi Mahluk Hidup) ciptaan Ilahi agar tidak saling mengganggu yang tidak diinginkan, karena sama-sama menggunakan beragam unsur kimia yang tercantum dalam tabel Mendeleyev yang sama.
Masih terdapat banyak hal yang menjadi tugas departemen limbah guna mengawal kehidupan umat di muka bumi, agar kedepan umat tidak lagi berurusan dengan unsur-unsur dan bahan ki-mia yang samasekali tidak bersahabat dengan TMH karunia Ilahi.

——— sekian ———

Penulis:
H.M.Rusli Harahap
Pamulang Residence G1
Jalan Pamulang 2, Pondok Benda.
Kode Pos: 15416. Tangerang Selatan.
Tel. 021-74631125.

Posted by: rusliharahap | December 11, 2013

Marga Siregar Dari Bunga Bondar Lanjutan

 

Lanjutan Generasi IX Tarombo Marga Siregar dari Bunga Bondar

keturunan

Lubuk Siregar,  gelar Ompu Raja Lintong Soruon

————————————————————————–

Generasi Kesepuluh

Dari generasi kesepuluh, penulisan Tarombo akan dimulai dari nama-nama ompu Generasi Ketujuh mencantumkan alphabet dan nomor urut bertulisan tebal dengan bintang (*)  dibe-lakangnya. Ada 45 orang parompuan keturunan si Lubuk Siregar, gelar Ompu Raja Lintong So-ruon,  dari Bunga Bondar yang akan dijadikan awal penulisan tarombo.

A. Pomparan Sutan Ulubalang

     1*. Keturunan Namora Padang.

            Anak-anak para cicit  Namora Padang (Ja Soaloön).

                1. Cicit-cicit Ja Tanduk.        

                                  1.Cucu-cucu Ja Manduhir                                                                          

                                 1. Syekh Ismail (Ja Nagari) dengan istri …boru Harahap dari Panyanggar, keturunannya:

                                              1. Mocca (pr)

                                              2. Nur Siti (pr)

                                              3. Siti Ogur (pr)

                                              4. Siti Aminah (pr)

                                              5. Humala

                                              6. Anggara

                                              7. Pangaloan

                                              8. Bajou Haria (pr)

                                              9. Hasan

                                             2. Sutan Sokondar dengan istri-istrinya:

                                                 Ina-1 boru Harahap dari Bunga Bondar.

                                                          1. Daur (pr)

                                                          2. Mulia

                                                          3. Kaspari

                                                          4. Siti Sera (pr)

                                                          5. Sorimuda

                                                          6. Mayur (istri uda Bidin Harahap dari Bunga Bondar).

                                                 Ina-2 boru Pohan dari Sipirok.

                                                          7. Soripada

                                                          8. Kamaruddin

                                                          9. Kamaluddin

                                             3. Si Pangulu (Haji Japar) dengan istri…boru Lubis dari Pakantan, keturunannya.

                                                          1. Pandapotan

                                                          2. Mija (pr)

                                                          3. Masniari (pr)

                                                          4. Bunbunan

                                                          5. Majid

                                                          6. Baginda

                                                          7. Sutan

                2. Cicit-cicit Sutan Bungabondar.                                                                 

                                  1. Cucu-cucu Ja Mulia (Tongku Raja Mulia)

                                             1. Siti Baria menikah dengan Mangaraja Huta Gogar

                                             2. Derum menikah ke Tanah Karo dari Bukit Maria.

                                             3. ……menikah dengan .., marga Lubis dari Pakantan.

                                  2. Cucu-cucu Ja Inda Mora

                                             1. Si Enda dengan istri…boru Ritonga dari Arse Jae Dolok, keturunannya:

                                                         1. Burhan (Mangaraja Namora).

                                            2. Si Atas, gelar Sutan Mangarahon, dengan istri boru Nasution dari Padang-padang, keturunannya:

                                                         1. Agen (Ermina)

                                                         2. Madduhir (Tongku Raja Mulia)

                                                         3. Nonggar (pr), lahir di Bunga Bondar 25 Desember 1928 dan wafat di Jakarta 23 Desember 2006. (Kakak ini mem-beri banyak sumbangan fikiran pada pengayaan isi tarom-bo karena beliau dibesarkan di Bunga Bondar).

                                                         4. Sarimah (pr)

                                  3. Cucu-cucu Si Lokot (Sahang), pindah ke Pangkal Dolok.

                               1. ….. dengan istri…., boru Majamaja, keturunannya:                                                           

                                  4. Cucu-cucu Ja Sangap, Baginda Soritua                                       

                                             1. Si Gindo dengan istri….boru Marpaung dari Sigelgel, keturunannya:

                                                         1. Dahlan

                                                         2. Bonari

                                                         3. Marjuki

                                             2. Anak-anak Si Mara Hadin dengan istr….. boru Babiat dari Tanjung, keturunannya:

                                                         1. Mara Aman

                                                         2. Mara Mora

                                                         3. Mara Tuani

                                                         4. Abdul Masi

                                                         5. Mara Sobar Halomoan

                                                         6. Mohammad Yusuf.

                                             3. Djonain (Ja Mandersa) dengan istri…..boru Babiat dari Tanjung, keturunannya:

                                                         1. Albert

                                                         2. Doli

                                                         3. Djomin (pr)

                                                         4. Kalimuda

                                                         5. Giring (pr)

                                                         6. Siddik

                                                         7. Bain

                                             4. Jonias (Harun) dengan istri…..boru Simatupang dari Arse, keturunannya:

                                                         1. Nirwana (pr)

                                                         2. Sahri Jani

                                                         3. Nur Hajati (pr)

                                                         4. Hotnida Sri Djunifen (pr)

                                                         5. Sori Mulia.

                                                         6. Rosniati (pr)

                                             5. Siti Era menikah dengan…..marga Harahap Parmeroan Sidong-dong.

                                             6. Amiran dengan istri…..boru Nasution dari….., pekerjaannya Polisi,.keturunannya:

                                                         1. Kumuro Wiloyo

                                                         2. Sori Hamonangan

                                                         3. Idima Susanto

                                                         4. Naduma Sumarni (pr)

                                                         5. Marga Suwito

                                                         6. Safrida (pr)

                                                         7. Mulia Rejeki

                                             7. Tiro menikah dengan…….dari Jawa.

                                             8. Reni menikah dengan…. marga Pulungan dari Silaia, lalu dengan…. marga Lubis dari…….

                                             9. Rohani menikah dengan…….dari Jawa.

                                           10. Masmin dengan istri….boru Daulae dari Sunggam, ketu-runannya:

                                                         1. Sofian Edi Rusdi

                                                         2. Napa Gading

                                                         3. Siti Asma Ria (pr)

                                                         4. Roshaima (pr)

                                                         5. Yanti Kalari (pr)

                                           11. Nurhaima menikah dengan Maskut, marga Pulungan dari Silaia  tinggal di Bunga Bondar.

                                  5. Cucu-cucu  Dorima (Ompu ni Amir).

                                      Lihat tarombo marga Harahap dari Hanopan.                                                                                                                                

                                  6  Cucu-cucu Siti Aminah (Ompu ni ….).

                                      Lihat tarombo marga Rambe dari Batu Horpak. 

                                  7. Cucu-cucu Mangkuto, Ja Aminudin, gelar Baginda Namora,                    

                                      menteri garam di zaman Belanda tinggal di Padang Sidempuan.

                                            1. Mara Domsah Siregar dengan istri-istrinya:

                                                Ina-1 boru Harahap dari Siharangkarang.

                                                          1. Rosmanidar (pr)

                                                          2. Yus (pr)

                                                 Ina-2 boru Pulungan dari Sumuran.

                                                          3. Rudi

                                                          4. Latif

                                                          5. Asnil

                                                          6. Dewi (pr)

                                                          7. Emir

                                                          8. Sri Murniati (pr)

                                                          9. Agus

                                                        10. Effendi

                                            2. Siti Amina menikah dengan…. marga…….

                                            3. Siti Asma menikah dengan….. marga……..

                                            4. Nurhani menikah dengan…… marga……..

     2 *. Keturunan Ja Tulis

         Anak-anak para cicit Ja Tulis (Ja Sangap).                                           

                1. Cicit-cicit Ja Limbe (Ja Nagari)

                2. Cicit-cicit Andreas (Galia)

                                  1. Cucu-cucu Baginda Soagahon

                                                1. Lenggana menikah dengan…marga Rambe dari Batu Horpak.

                                                2. Muara dengan istri….. boru …dari …, keturunannya:

                                                3. Umar, gelar Sutan Mula Sontang, dengan istri-istrinya:

                                                     Ina-1 boru Dalimunthe dari Sigelgel.

                                                     Ina-2 boru Pulungan dari Silaia

                                                             1. Jemjem (pr)

                                                             2. Hasimpulan (Mangaraja Enda Bongsu)

                                                     Ina-3 boru Harahap dari Partihaman

                                                             3. Nur Haida (pr)

                                                             4. Duni (pr)

                                                             5. Junus (Baginda Soagahon)

                                                             6. Lolotan (Mangaraja Naleleng)

                                                4. Batau menikah dengan …marga Hasibuan dari  Lenggahara.

    3 *. Keturunan Ja Pangajian.

        Anak-anak para cicit Ja Pangajian (Ja Humala)                               

                1. Cicit-cicit Ja Diatas (Ja Pontas).

                                 1. Cucu-cucu Baginda Humala

                                              1. Gorgor menikah dengan….marga Harahap dari Tinjamun.

                                              2. Parlindugan, gelar Sutan Mangatas, dengan istri …boru Harahap dari Huta Imbaru, keturunannya:

                                                           1. Jenni (pr)

                                                           2. Moget

                                                           3. Anwar (tinggal di Brunai lalu pindah ke Singapura).

                                                           4. Giring (pr)

                                                           5. Edmir.

                                              3. Dogor menikah dengan… marga Harahap dari Hasang.

                                              4. Mampe, gelar Sutan Pinayungan, dengan istri… boru Ritonga dari Simangambat, keturunannya:

                                                           1. Samuel

                                                           2. Basaria (Hana, pr)

                                                           3. Adrian (Edi)

                                                           4. Halomoan (Lomo)

                                                           5. Rosti (Ros, pr)

                                              3. Sunge Somarsik dengan istri…. boru Simatupang dari ……,keturunannya:

                                                           1. Renta (pr)

                                                           2. Humala Hasian

                                                           3. Batara Soaloön

                                                           4. Helen (pr)

                                                           5. Moget Alanbertal

                                                           6. Eugene

                                                           7. Gamal Abdul Nasser

                                                           8. Goyur (pr)

                                                           9. Pandapotan

                                                         10. Harun Habonaran

                                                         11  Rafiah (pr).

                                 2. Cucu-cucu Mangaraja Soaloön.

                                              1. Aaron Diatas Siregar, dengan istri… boru…..Asisten Demang di Sorulangun Jambi di zaman Belanda, keturunannya:

                                                           1.Amir Husin

                                                           2 Siti Rafiah (Terapia, pr)          

                                              2. Samsera Siregar menikah dengan Ja Barumun, marga Pulungan dari Bunga Bondar, menggantikan namborunya, keturunannya:

                                                           1. Siti Khairani (pr).

                                                           2. Bahmarim

                                                           3. Bataris

                                                           4. Maruddin

                                                           5. Suasa (pr)

                                                           6. Siddik

                                                           7. Halim

                                                           8. Maskut.

                                              3. Molun Siregar (1900-1965), menikah dengan Sutor, gelar Ba- ginda Pandapotan dari Hanopan. Guru Godang (Kepala) di Lu-buk Linggau, keturunannya:

                                                           1. Amir Hamzah (1913-1915)

                                                           2. Sangkot Sjarif Ali Tua (1923-2005)

                                                           3. Marasuddin (1925-1927)

                                                           4. Sangkot Hamid (1927-1986)

                                                           5. Sangkot Anwar (1930-1991)

                                                           6. Mohammad Arifin (1933-20..)

                                                           7. Mohammad Rusli (1936-20… (Yang mengubah tarombo marga Siregar dari Bunga Bondar  karya Ompung Ja Humala ini menjadi Perjalalan Generasi).

                                                             8. Siti Fatimah (pr) (1938-20..).

                                              4. Tapi Gondoiman Siregar dengan suami …, marga Pohan dari Sibolga, keturunannya:

                                                           1. Enni (pr)

                                                           2. Mian (pr)

                                                           3. Sorta (pr)

                                                           4. Jojor

                                                           5. ELT Hasahatan.

                                  3. Cucu-cucu Ja Humala (1876-1918), Guru Godang/Bolon di  Bangun

                                      Purba pada zaman Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda dahulu.

                                              1. Anna Meta Khristina.

                                              2. Calvijn Dja Somarsik dengan istri… boru Nasution Padang Matinggi, keturunannya:

                                                           1. S.O. Frida (pr), lahir 15 Juli 1932 di Bandung.

                                                           2. Frans Karel, lahir 30 Agustus 1934 di Bandung.

                                                           3. Gerard Apuldo Siregar (Baginda Dongoran), lahir 21 Februari 1936 di Bandung (Yang menyimpan  tarombo marga Siregar dari Bunga Bondar peninggalan Ompung Ja Humala yang berdiam di Bunga Bondar).

                                                           4. David (Baginda Humala), lahir….1942 di Bandung.

                                                           5. Khristina (pr), lahir….1948 di Bandung.

                                              3. Buyung ( si Yan)

                                              4. Longga Mariani menikah dengan …marga Pane dari Arse Julu.

                                              5. Siti Onggar menikah dengan ….marga Batu Bara dari Bunga Bondar, kemydian dengan marga Hasibuan dari Simanosor.

                                              6. Siti Nursiah menikah dengan…marga Pane dari Sibadoar.

                                              7. Asali Pontas Raja dengan istri…. boru Pasundan dari Bogor, bermukim di Bogor, keturunannya:

                                                           1. Hasian (Mangaraja Hasayangan)

                                                           2.

                                                           3. Hakim

                                                           4. Wenni (pr)

                                              8. Siti Nursani menikah dengan….marga Pakpahan dari Marancar.

                                              9. Siti Samina menikah dengan…. Pakpahan dari Marancar.

                                            10. Saribun dengan istri….. boru …..dari……

    4 *. Keturunan Ja Pinang Tua (Matheus)

        Anak-anak para cicit Ja Pinang (Matheus).                                                    

                1. Cicit-cicit Mangaraja Bungabondar (Tuan Syekh Kadir).

                                 1. Cucu-cucu Maliaki (Mara Ondak), Haji Rachmat.

                                              1. Sari Gunung menikah dengan …., marga Hasibuan dari Aek Bayur.

                                              2. Mara Himpun (Sutan Bunga Bondar) dengan istri boru Dau-                                                                                                      lae dari Situngkus, keturunannya:

                                                           1. Lufti Noor

                                                           2. Hamdan Israel

                                                           3. Eti (pr)

                                                           4. Diapari Doli

                                                           5. Lince (pr)

                                              3. Siti Daum menikah dengan …., marga Ritonga dari Sigana.

                                              4. Nunggar menikah dengan …., marga Harahap dari Parumpuk Julu.

                                              5. Pariaman, gelar Sutan keadilan, dengan istri….boru Harahap dari                                                                                                    Simataniari, keturunannya:

                                                           1. Irsan

                                                           2. Sawaim

                                                           3. ……

                                                           4. Tati (pr).

                                 2. Cucu-cucu Sarip (Ja Sorail)                                 

                                              1. Parlindungan (St.Dolok) dengan istri ..boru Daulae dari                                                                                                           Sunggam, keturunannya:

                                                           1. Imram Rosyidi.

                                              2. Parluhutan (Mgr.Ulubalang) dengan istri boru Daulae                                                                                                          

                                                  dari Suggam, keturunannya:

                                                           1. Erni (pr)

           2. Robinson                                                                                                                     3. Nur Hamia menikah dengan… marga Harahap dari Sigama-

                                                    dalan.      .

                                                4. Abdul Kadir (Mgr.Nauli) dengan istri boru Daulae dari Si-

                                                    ambeng, keturunannya:

                                                           1. Lis (pr).

                                                           2. Kusnadi

                                                           3. Imbang Doli

                                                           4. Palti

                                                           5. Sende Tua

                                                           6. …….(pr)

                                                5. Mara Hamsa (Mgr. Baringin) dengan istri boru Pohan dari Sibatang Hayu, keturunannya:

                                                           1. Ilham Suala

                                                           2. ……..(pr)

                                                           3. Ropil

                                                           4. Ottom.                

                                 3. Cucu-cucu Ja Gondom:

                                                1. Ali Abin dengan istri….. boru Daulae dari Batu Sunggam, keturunannya

                                                           1. Asradi Ahmad

                                                           2. Risdong Rapiadi

                                                           3. Rusdi Raja Gading Sopian

                                                           4. Epi (pr)         

                                                           5. Risma Susilo (pr)

                                                           6. Sesi Nurayani (pr)

                                                           7. Tuti (pr)                                                                                                                  2. Siti Raja menikah dengan…. marga Harahap dari Lantosan  

                                                    Julu.

                                                3. Nur Sani menikah dengan….marga Harahap dari Aek Suhut.

                2. Cicit-cicit Kuderun.

                                 1. Cucu-cucu Barunggam.                                                                     

                                 2. Cucu-cucu Solok.                                                                                                                          3. Cucu-cucu H.A.Mutalib.                                                                                            

                3. Cicit-cicit Sutan Borayun.

                                 1. Cucu-cucu Pinang, Ja Manyembar, Mgr. Bondar Sampulu (Bondar X)

                                                1. Lenggang menikah dengan…marga……, dari  Karo.

                                                2. Monggun menikah dengan….marga Harahap, dari…..

                                                3. Soleman dengan istri….boru Harahap dari Panyanggar, keturunannya:

                                                4. Jani menikah dengan marga Pane, dari Lancat.                    

                                                5. Amir Hasan dengan istri….boru Regar dari Padang Bujur, keturunannya:

                                                            1. Jusuf

                                                            2. Hanafi

                                                            3. Agus Salim

                                                            4. Darwis

                                                            5. Lenggang

                                                            6. Rosmala (pr)

                                                            7. Salma (pr).

                                 2. Cucu-cucu Humala.

                                                1. Diapari dengan istri-istrinya:

                                                    Ina-1 boru Karo

                                                    Ina-2 boru Jawa

                                                2. Muliana menikah dengan…., marga….

                                                3. Gabe menikah dengan…., marga….

                                                4. Mara Naek dengan istri…….boru Harahap dari Sipirok, keturunannya:

                                                5. Mara Tua dengan istri….boru Ritonga dari Simangambat, keturunannya:

                                                6. Mustapa dengan istri….. boru …dari Karo, keturunan nya:

                                                7. Rusli dengan istri…..boru Harahap dari Sipirok, keturunannya:

                                 3. Cucu-cucu Sati:

                                                1. Burhanuddin dengan istri boru Harahap dari Batang Baruhar,                                                                                            keturunannya:

                                                             1. Edi.

                                                             2. Bulan (pr)

                                                2. Hasan dengan istri……boru Hasibuan dari Gunung Tua, ketu-runannya:                                                                                                                                                        

                                                             1. Hengki.

                                  4. Cucu-cucu Soaloön:

                                               1. Burhan dengan istri….boru ….dari…., keturunannya                                      

                                               2. Ambaton dengan istri… boru Jawa dari …., keturunannya:                                        

                                  5. Cucu-cucu Pontas Samri.

                                               1. Berlian menikah dengan …..marga…….            .

                                  7. Cucu-cucu Samsuddin:

                                               1. Hoirul dengan istri …boru Harahap dari….., keturunannya                                                                                                                                                                                  

                                               2. Bandol dengan istri….boru ….dari ….., keturunannya:

                                  8. Cucu-cucu Baharuddin:

                                               1. Ismail dengan istri …boru Jawa dari….., keturunannya:

                                               2. Jaman dengan istri… boru…. dari …., keturunannya

                                               3. Jafar dengan istri…boru Daulae dari …., keturunannya:

                                               4. Usman dengan istri.. boru Daulae dari…., keturunannya:

                                               5. Mina menikah dengan… marga Siregar dari Bt.Baruhar.

                                               6. Syawal dengan istri.. boru Daulae dari …., keturunannya

                                               7. Siti Hawa menikah dengan….. marga….dari……

                                               8. Zulkifli dengan istri… boru …..dari …., keturunannya:

                                               9. Siti Mariam menikah dengan….. marga….dari……

                                             10. Siti Hajar menikah dengan….. marga….dari……

                                             11. Yusuf dengan istri …..boru….dari …., keturunannya:

                                  9. Cucu-cucu Anwar Rahman:  

                                               1. Utama dengan istri… boru…..dari…., keturunannya

                                               2. Nuzu dengan istri…. boru….dari…., keturunannya

                                               3. …….. menikah dengan….. marga….dari……           

                                               4. Padang dengan istri… boru …..dari……., keturunannya

                                               5. Ahmad dengan istri…. boru…..dari……., keturunannya

                                               7. Rohaya menikah dengan….. marga….dari……

                                               8. ……… menikah dengan….. marga….dari……

                                               9. Atun menikah dengan….. marga….dari……

                4. Cicit-cicit Ja Batangari (Haji Ahmad).

                                  1. Cucu-cucu Hasim

                                  2. Cucu-cucu Buyung

                                  3. Cucu-cucu Haidir

                                  4. Cucu-cucu Kadir.

     5 *. Keturunan Ja Gondom (Raja ni Bonjol)

        Anak-anak para cicit Ja Gondom (Raja ni Bonjol).       

                1. Cicit-cicit Hirnyam, Sutan Baringin.

                                 1. Cucu-cucu Sutan Gunung Tua (Ja Bila)

                                               1. Amir dengan istri…. boru….dari.. , keturunannya:

                                               2. Usman dengan istri…. boru …dari.… keturunannya:

                                               3. Surto menikah dengan…. marga…. dari…….

                                               4. Samina menikah dengan… marga… dari…….

                                               5. Binu dengan istri…. boru…dari…., keturunannya:

                                2. Cucu-cucu Saharim.

                2. Cicit-cicit Sutan Tua.

                                1. Cucu-cucu Mandongar (Mangaraja Gunung Tua):

                                               1. Serean menikah dengan….marga Pulungan dari Sumuran.

                                               2. Pariaman dengan istri…..boru Hutasuhut, lalu digantikan boru Harahap dari……, keturunannya:

                                                             1. Dermawati (pr)

                                                             2. Ros (pr)

                                                             3. Halimah (pr)

                                                             4. Rotua

                                                             5. Pendi

                                                             6. Tamrin

                                                             7. Darwis

                                                             8. Yusuf

                                                             9. Fatimah (pr)

                                                           10. Enni (pr)

                                                           11. Samsul

                                                           12. Martin.

                                               3. Himpun dengan istri …boru Rambe dari.., keturunannya

                                               4. Hasim dengan istri… boru Rambe dari…, keturunannya

                                               5. Sereni menikah dengan… ,marga… dari…….

                                               6. Surtani menikah dengan… ,marga… dari…….

                                               7. Solenggaon dengan istri..boru Rambe dari.., keturunannya:

                3. Cicit-cicit Ja Pariaman.

                               1. Cucu-cucu Ace, Mangaraja Ginagan

                                               1. Mula dengan istri ..boru Minang dari…., keturunannya:

                                                             1. Rina (pr).

                                                             2. Ruliansyah

                                                             3. Darma

                                               2. Masroni menikah dengan…Sanusi maga Batubara dari

                                                   Bunga Bondar.

                                               3. Samadun dengan istri….boru Regar dari Roncitan, ketu-runannya:

                                                             1. Ali

                                                             2. Bangun

                                                             3. Rakhmad

                                                             4. Rahmi (pr)

                                               4. Musria menikah dengan Ja Palembang.

                                2. Cucu-cucu Pardamean:

                                               1. Ani menikah dengan Aceh.

                                               2. Arifin dengan istri …boru dari Aceh, keturunannya:

                                                             1. Irwansyah.

                                               3. Pariaman dengan istri….boru Sitompul dari Padang Bujur, keturunannya:

                                               4. ….

                4. Cicit-cicit Payung Barani.

                               1. Cucu-cucu Bonjol.

                                               1. Apul dengan istri boru Batu Bara dari Huta Tonga, keturunannya:

                                                             1. Henri

                                                             2. Diana (pr)

                                               2. Doli dengan istri..boru boru Sydney dari Australia, keturunannya:

                                               3. Hadarian dengan istri…boru Harahap dari Huta Imbaru, keturu-nannya:

                                                              1. Uncok

                                               4. Richard dengan istri…boru Mataram dari Nusa Tenggara Timur, keturunannya:

                                               5. Amrin dengan istri…boru Banjar dari Jawa Tengah, keturunan-

                                                   nya:

                                               6. Erwin dengan istri… boru …dari…, keturunannya:

                                               7. Indra dengan istri …boru Banjar dari Jawa Tengah,  ke-

                                                   turunannya:

                                                              1. Soni

                                               8. Minar menikah dengan …,marga Siahaan dari…..

                               2. Cucu-cucu Sukur (Mangaraja.Gondom Muda)

                                               1. Masnida menikah dengan Riduan, marga Pakpahan dari Tano Tambangan.

                                               2. Nurhayati menikah dengan Temu dari Jawa.

                                               3. Intan menikah dengan Lagut, marga Harahap Tapus Pangururan

                                               4. Tinour menikah dengan Barita, marga Hasibuan dari Simanosor.

                                               5. Yahya dengan istri…boru Pane dari Pangurabaan, keturunan-nya:

                                                              1. Rahmat.

                                                              2. Lidiya Lovita Lembayung (pr)

                                                              3. Dewi (pr)

                                               6. Himpun Doli dengan istri …boru Pardede dari…., keturunan-nya:

                               3. Cucu-cucu Jonab (Mara Bono)

                                               1. Mawan menikah dengan….marga…….

                                               2. Gemar dengan istri..boru Tambunan dari Sibadoar, ketu-runannya:

                                                              1. Mawarni (pr).

                                                              2. Tina (pr).

                                                              3. Anda.

                                                              4. Ranto.

                                               3. Henri dengan istri …boru Pasaribu dari Haunatas, keturunan-nya:

                                                              1. Mailan (pr).

                               4. Cucu-cucu Pamili Sontang:

                                               1. Desi Siowan menikah dengan….marga…….

                                               2. Ephrahim Pangaribuan istri ….boru….dari…, keturunannya.

                                               3. Saulina menikah dengan….marga…….

                                               4. Yahya Diapari dengan istri ….boru….dari…, keturunannya.

                                               5. Himpun Doli dengan istri …boru…..dari…, keturunannya

                               5. Cucu-cucu Sahala (Baginda Mampe Tua)

                                               1. Patima menikah dengan Aminuddin marga Pane dari Jonggol Jae.

                                               2. Diapari dengan istri….boru Pakpahan dari Tano Tambangan, keturunannya:

                                                             1. Nindi (pr)

                                                             2. Riska (pr)

                                                             3. Riski

                                                             4. Jeffri

                                               3. Suarni menikah dengan St.Habonaran marga Simatupang dari Tapus Simanosor.

                                               4. Harris dengan istri….. boru dari Kalimantan Tengah, keturunan-

                                                   nya:

                                                              1. Halomoan

                                                              2. Rico Advertus

                                               5. Jetty menikah dengan….marga Huta Barat dari Rampa Taru-tung.

                                               6. Maswani menikah dengan Hengki marga Sihombing dari Janji

                                                   Angkola.

                                               7. Tince menikah dengan….marga Tampubolon dari Siborongbo-rong.

                                               8. Lenny menikah dengan….marga…….

                                               9. Yuniaty menikah dengan….marga……..

                5. Cicit-cicit Karimun (Mangaraja Himpun Doli)                                             

                               2. Cucu-cucu Pandapotan

                               3. Cucu-cucu Hamonangan.                        

                6. Cicit-cicit Adil (Ja Garoga).

                               1. Cucu-cucu Si Pangeran. (T. Mampe Tua)     

                                               1. Doli dengan istri…boru Periangan, keturunannya:

                                                              1. Yuniar Enai Sari (pr)

                                                              2. Rotua Hamonangan

                                                              3. Selvi (pr)

                                               2. Hanny menikah dengan….marga….

                                               3. Selvia menikah dengan….marga……

                                               4. Syah Johan dengan istri… boru Jawa, keturunannya:

                                                              1. Diana (pr)

                                                              2. Ulan (pr)

                                               5. Erwin dengan istri….. boru Ritonga dari…, keturunannya:

                                                              1. Eprida Wati (pr)

                                                              2. Rimma Sari (pr)

                                                              3. Juliani (pr)

                                                              4. Himpun Doli

                                                              5. Mukhlis

                                                              6. Nurjannah (pr).

                                                              7. Rudi

                                               6. Rosana menikah dengan Antony marga Hasibuan dari Simanosor.                                        

     6 *. Keturunan Ja Bila.

B.  Pomparan Sutan Doli.

    7 *. Keturunan Ja Habiaran.

        Anak-anak para cicit Ja Habiaran (Ompu ni Goyur).

                 1. Cicit-cicit Tongku Sutan Diapari.

                                         1. 1. Cucu-cucu Adenan, Ja Pandapotan

                                                    1. Si Borayun dengan istri… boru…dari…, keturunannya:

                                                   2. Cucu-cucu Kalipah Saleh

                                               1. Dr. Djapar, gelar Tongku Sutan Diapari, dengan istri Johana Rin-tjap boru dari Menado, keturunannya:

                                                                                1. Djon Martua.

                                                            2. Nuli Salih                  

                                                            3. Usman Pinayungan

                                                            4. Evita Nurhayati (pr)

                                                            5. M Noer

                                                            6. Evi Farida (pr).

                                                            7. Mariana (pr)

                                                            8. Meliana (pr).

                                                            9. Fatma (pr).

                                                          10. Nurila (pr)

                                                          11. Narama.

                                               2. Borayun dengan istri… boru…dari…., keturunannya:

                                                            1. Regen.

                                               3. Nurgani menikah dengan…. marga Rambe dari Batu Horpak, keturunannya:

                                                            1. Ir. Hasyim (pegawai PLN Jakarta)

                                                            2.               (kantor Bea Cukai Jakarta)

                                                            3. Dr.Amir.

                                     3. Cucu-cucu Baginda Raja Martua (Demang Aman) di Natal.

                                               1. L.S Diapari, gelar Patuan Naga Humala Parlindungan, dengan is-tri …., boru…., berdiam di jalan Ciniru VII/17 Kebayoran Baru. Tel.739-4574. Keturunannya:

                                                            1. Coki

                                               2. Panusunan dengan istri… ,boru….dari…, keturunannya:

                                               3. Lela menikah dengan….., marga Pane dari Lancat.

                                               4. Tapi menikah dengan….., marga……

                                               5. Masniari menikah dengan Padang Bolak, marga Harahap…

                                                   dari……..

                                               6. Limbayung menikah dengan….., marga…….

                                               7. Bulan menikah dengan Soum, marga Hutasuhut dari Sipirok.

                                               8. Mini menikah dengan….., marga……

                                    4. Cucu-cucu M. Sri Inda Mulia, Guru Maraidun

                                               1. Pontas dengan istri…. boru…., keturunannya:

                                               2. Lela menikah dengan….., marga…….

                                               3. ……..

                                               4. Ir. Armen dengan istri Duma, boru Nasution dari Panyabungan, keturunannya:

                                               5. Darwis dengan istri… , boru….dari…., keturunannya:

                                               6. Anni menikah dengan ….., marga…..

                                    5. Cucu-cucu Abdul Haris                                                                         

                                    6. Cucu-cucu si Sarip, Baginda Mangaradja Muda (B.M. Muda),  Guru  

                                         Sarifuddin.                       

                                               1. Sarlene menikah dengan ….., marga…..

                                               2. Teti menikah dengan ….., marga…..   

.                                              3. Dr.Tagor dengan istri Mumba, boru Harahap (boru GubSU               

                                                   Abdoel Hakim), keturunannya:

                                                              1. Yanti (pr).

                                                              2.           (pr).

                                               4. Dr. Badjora dengan istri…., boru Harahap dari Goenoeng Toea, keturunannya:

                                               5. Doli dengan istri…. boru…dari…., keturunannya:

                                               6. Sutan dengan istri…. boru…dari…., keturunannya:

                  2. Cicit-cicit Patuan Dolok (Mangaraja Israël)

                                    1. Cucu-cucu Musa Siregar, gelar Baginda Parlindungan.

                                               1. Si Muda dengan istri….. boru…. dari…, keturunannya:

                                               2. Si Daulat Raja dengan istri…boru…dari.., keturunannya:

                                               3. Israël dengan istri .. boru…dari…., keturunannya:

                                   2. Cucu-cucu Sutan Josia.

                                               1. Yustin dengan istri… boru…dari…., keturunannya:.

                                               2. Hamonangan dengan istri .. boru…dari…., keturunannya:.

                                               3. Philipus dengan istri .. boru…dari…., keturunannya:

                                   3. Cucu-cucu Baginda Namora.

                                               1. Selepus/Basatua dengan istri … boru Matondang dari Sima- ngambat (Sipirok). Pekerjaan: Kantor Jawatan Kehutanan. Keturunannya:

                                                             1. Robert

                                                             2. Adelina (pr)

                                                             3. Wita (pr)

                                                             4. Rolan

                                                             5.

                                                             6. Dr. Donald.

                                               2. Posma Siregar, gelar Patuan Gunung Mulia, dengan istri …… .boru ……dari……, keturunannya:.

                                               3. Aleks dengan istri….boru…dari…., keturunannya:

                                               4. Maria menikah dengan ….., marga…..

                                               5. J.U.Siregar

                                               6. Matoga Siregar.

                                               7. H.E.E. Siregar.

                                   4. Cucu-cucu Baginda Solenggangon.

                                   5. Cucu-cucu Merari.

                                               1. Tinus dengan istri…. boru…dari…., keturunannya:

                  3. Cicit-cicit Sutan Gunung Doli.

                                               1. Sutan Parlindungan dengan istri…. boru….dari….., keturunannya:

                 4. Cicit-cicit Sutan Doli.

                                               1. Dr. Marataon dengan istri….boru…dari…., keturunannya:

                                               2. Guru Padang Bolak dengan istri….., boru Harahap dari Gunung Tua, keturunannya:.

                                               3. Dr Parimpunan dengan istri , boru Sagala dari Sampean, ketu-runannya:

                                               4. Parluhutan (Guru Sende Tua) dengan istri… boru… dari…..,  keturunannya:.

                                               5. Ir. Natal dengan istri… boru….dari…, keturunannya:

                                               6. Soritua dengan istri…. boru….dari…., keturunannya:

    8 *. Keturunan Ja Ondak.

    9 *. Keturunan Ja Bugis.

    10 *. Keturunan Ja Mangguyang (Patuan Bahap).

        Anak-anak para cicit Patuan Bahap (Ja Mangguyang)

                1. Cicit-cicit Sutan Doli.

                                              1. Cucu-cucu Baginda Mangguyang.

                                                          1.

                                                          2. Naga Doli dengan istri….. boru…dari…, keturunannya:

                                                                      1.

                                                                      2. Anna (pr)

                                                                      3. Rudi

                                                                      4. Onni (pr).

                                                                      5.

                                                                      6.

                                                         3. Emma menikah dengan …, marga…..

                                                         4. Partomuan dengan istri….boru….dari….

                                                         5.

                                                         6. Maria menikah dengan …., marga…….

                                                         7. Dermawan menikah dengan ….., marga…

                                                         8. Ibrahim dengan istri….boru….dari…..

                                              2. Cucu-cucu Si Peter

                                              3. Cucu-cucu Mampe

                                              4. Cucu-cucu  Oloan.

                                              5. Cucu-cucu Bua

                                              6. Cucu-cucu Holna

                2. Cicit-cicit Sutan Paruhum.

                                             1. Cucu-cucu Johar

                                             2. Cucu-cucu Rembang

                                             3. Cucu-cucu Firma

                                             4. Cucu-cucu Tarip

                3. Cicit-cicit Sutan Parlagutan/Sutan Parlindungan

                                            1. Cucu-cucu Lintong

                                                          1. Parlindungan dengan istri.. boru…dari….,

                                                              keturunannya:

                                            2. Cucu-cucu Simon

                                                          1. Dumoli dengan istri… boru…..dari……

                                                              (berdiam di Duren Sawit, Tel.864-3826),

                                                              keturunannya:

                                           3. Cucu-cucu Abinadal

                4. Cicit-cicit Ja Malayu.

                                           1. Cucu-cucu Joab

                                           2. Cucu-cucu Aminudin

                5. Cicit-cicit Guru Sobar.

                                          1. Cucu-cucu Firman

                                          2. Cucu-cucu Darianas

                                          3. Cucu-cucu Johanes

                                          4. Cucu-cucu Mesak.

    11 *. Keturunan Ja Muaro

        Anak-anak para cicit Ja Muaro.

                1. Cicit-cicit Obaja.

                                  1. Cucu-cucu Si Muaro

                                  2. Cucu-cucu Herman

                                  3. Cucu-cucu Marasi

                                  4. Cucu-cucu Pamili

                2. Cicit-cicit Mangaraja Lelo.

                                  1. Cucu-cucu Binanga…

                                               1. Palti Raja dengan istri…boru T.D. Pardede dari Medan,

                                                   keturunannya:

                                               2. Mangasahon dengan istri… boru….dari…..

                                               3. Si Binanga dengan istri……boru….dari…..

                                  2. Cucu-cucu Martuani

                                  3. Cucu-cucu Naek

               3. Cicit-cicit Ja Kompong

                                  1. Cucu-cucu Panusunan

                                  2. Cucu-cucu Nurmala

                                                   1. Ir. Hasrul Harahap (mantan Menhut R.I) dengan istri Aida, 

                                                       boru Nasution dari Pidoli, keturunannya:

                                                                 1.      (pr).

                                   3. Cucu-cucu Si Mawan

                                   4. Cucu-cucu….

               4. Cicit-cicit Ja Sali.

                               1. Cucu-cucu Dumbas …

                                               1. Soleh dengan istri…. boru…dari…, keturunannya:

                                               2. Derhana menikah dengan….., marga…..dari…..

                                               3. Linda menikah dengan…. ,marga….dari……

                                               4. Diana menikah dengan….., marga….dari…..

                              2. Cucu-cucu Khaidar

                              3. Cucu-cucu Dorintan (Perkebunan Taba Pingin, Lubuklinggau 1948).

                                                  1. Samsi menikah dengan Mahmud marga Pane dari…..

                             4. Cucu-cucu Montor, atau Mutia (istri pertama Bagon Harahap,  gelar Baginda Hanopan). Lihat tarombo marga Harahap dari Hanopan

.                                            1. Sjahrin SH dengan istri….boru….dari……..

                                                 (Lihat tarombo marga Harahap dari Hanopan)

               5. Cicit-cicit Hobol Na Walu.

               6. Cicit-cicit …..

                                1. Cucu-cucu Parningotan (Baginda Hasudungan).

                                              1.

      12 *. Keturunan Guru Simon.

     13 *. Keturunan Baginda Maliaki

        Anak-anak para cicit Ja Maliaki, Ompun Tembal (Baginda Maliaki), gelar Ompu Raja Oloan.

                 1. Cicit-cicit Sutan Janioli (Demang di Pulau Nias)

                                   1. Cucu-cucu Surtani

                                   2. Cucu-cucu Tembal .

                                   3. Cucu-cucu Pangaloan

                                   4. Cucu-cucu Tagor

                                   5. Cucu-cucu Mauten

                                   6. Cucu-cucu Lompo

                                   7. Cucu-cucu Tating

                                   8. Cucu-cucu Kania

                 2. Cicit-cicit Ja Martunas, gelar Mangaraja Soripada.

                                   1. Cucu-cucu Gindo

                                                           1. Kombang dengan istri…boru…dari…, keturunannya:

                                                           2. Karli dengan istri….boru…dari…, keturunannya:

                                                           3. Maruli dengan istri…boru..dari…, keturunannya:

                                   2. Cucu-cucu Buliga

                                                           1. Togi dengan istri…..boru…dari…, keturunannya:

                                   3. Cucu-cucu Walter

                                   4. Cucu-cucu Tembang, gelar Sutan Habiaran.

                                   5. Cucu-cucu Tumpal

                 3. Cicit-cicit Nistorius

                                   1. Cucu-cucu Agus

                 4. Cicit-cicit Petronella (Ompu ni Paulina).

                     Lihat tarombo marga Harahap dari Hanopan.

                 5. Cicit-cicit Kasander.

                                   1. Cucu-cucu Dangas

                                   2. Cucu-cucu Nyanga

                                   3. Cucu-cucu Gustaf

                 6. Cicit-cicit Batar

                                   1. Cucu-cucu Lolot

                                   2. Cucu-cucu Moget

                 7. Cicit-cicit Saidi (si Jan)

                                   1. Cucu-cucu Lungun

                 8. Cicict-cicit si Nahor

                                   1. Cucu-cucu Hampu

                                   2. Cucu-cucu Yansen

                                   3. Cucu-cucu Johan

                                   4. Cucu-cucu Kartini (istri kedua Bagon Harahap, gelar Baginda Hanopan). Lihat tarombo marga Harahap dari Hanopan.                                               

                 9. Cicit-cicit  …..(Ompu ni Masnida).

                     Lihat tarombo marga Harahap dari Hanopan.

      14 *. Keturunan Ja Lintong.

C. Pomparan Ja Hirnyam.

     15 *. Keturunan Ja Lalu.

     16 *. Keturunan Ja Nomor.

     17 *. Keturunan Lobe Karim.

D. Pomparan Ja Gading.

     18 *. Keturunan Ja Balemun.

    19 *. Keturunan Ja Potir.

         Anak-anak para cicit Ja Potir.

                 1. Cicit-cicit Ja Gading

                              1. Cucu-cucu Ja Taromar

                              2. Cucu-cucu Ja Naguru

                              3. Cucu-cucu Ja Ulubalang

                              4. Cucu-cucu Sutan Saidi

                                                1. Asan, gelar Batara Guru dengan istri…, boru…dari…, keturunannya.

                                                                 1. Mara Hudin. (Borunya: Nursyamsiah, istri anggi

                                                                     Hasbullah Harahap dari Panggulangan).                                                                                                                                                                          

                                                                 2. Bahrumsyah (Kep.Bengkel DKA Manggarai)

                                                                 3. Arifin (Arifin Siregar Pejabat Dep. Keuangan RI)

                                                                 4. Gading

                                                                 5. Abdul Rajab

                                                                 6. Alfasah

                                                                 7. Maruya

                                                                 8. Nira (pr)

                                                                 9. Darul Arif

                                                               10. Rohani (pr)

                                                               11. Wal Kamar

                                                2. Amir,  gelar Ali Amat dengan istri…, boru…dari…, keturunan- nya.

     20 *. Keturunan Ja Pandoroman

         Anak-anak para cicit Ja Pandoroman.

                 1. Cicit-cicit Ja Linggoman (Baginda Hasian)

                              1. Cucu-cucu Ja Sokondar.

                                                1.……. dengan istri…, boru…dari…, keturunannya:

                              2. Cucu-cucu Ja Pandoroman                                                                                      3. Cucu-cucu Sutan Maliun

                              4. Si Gading

                              5. Ja Godang

                              6. Daralin.

     21 *. Keturunan Ja Pande.

                1. Cicit-cicit Mangaraja Lampas

                              1. Cucu-cucu Ja Hatimbulan.

                                                 1.……. dengan istri…, boru…dari…, keturunannya:

                              2. Cucu-cucu Sutan Mandongar.

                              3. Cucu-cucu Oloan.

                 2. Cicit-cicit Paruhum.

                              1. Cucu-cucu Maniangi, gelar Malim Marasyad.

                                              1. Kalirajo dengan  istri….boru…. dari…, keturunannya:

                                                                1.

                                              2. Sarbaini

                                              3. Bakhtiar

                               2. Cucu-cucu Tua, gelar Ja Siregar.

                                             1…. dengan  istri….boru…. dari…, keturunannya:

E. Pomparan Kali Alam.

     22 *. Keturunan Manyembar, Mangaraja Bondar Sampulu.

        Anak-anak para cicit Ja Manyembar, Mangaradja Bondar Sampulu.

                 1. Cicit-cicit Sutan Kalisati

                             1. Cucu-cucu Mangaraja Tagor

                                               1. Sayur dengan istri ….boru…dari..…, keturunnya

                                                                  1……dengan istri ….boru…dari..…, keturunnya:

                                               2. Somat dengan istri ….boru…dari..…, keturunnya:

                                               3. Nangor dengan istri ….boru…dari..…, keturunnya:

                             2. Cucu-cucu Ja Langgean.

                             3. Cucu-cucu Gorga Siregar, gelar Ompu ni Mina.

                                 (Lihat tarombo marga Harahap dari Hanopan).

F. Pomparan Ja Langgean.

      23 *. Keturunan Ja Parenta (Paretta).

G. Pomparan Ja Intak.

     24 *. Keturunan Si Peter.

H. Pomparan Ja Pintor.

      25 *. Keturunan Ja Holak.

        Anak-anak para cicit Ja Holak.

                 1. Cicit-cicit Mangaraja Gato

                              1. Cucu-cucu Sutan Gunung Tua.

                                               1. Si Darajat dengan istri… boru…dari.., keturunannya: 

                                                                 1.

                                               2. Si Taib dengan istri… boru…dari..   , keturunannya: 

                                               3. Si Sarip dengan istri…. boru…dari…, keturunannya:  

                              2. Cucu-cucu Hinalongan, gelar Baginda  Manompas.

                                               1. Si Tigor, gelar Sutan Kalirajo, dengan istri Dagar boru Harahap dari Hanopan, Kerani Satu Perkebunan Kelapa Sawit Tabapingin di zaman Belanda, keturunannya:

                                                                1. Hira (pr)

                                                                2. Si Alben (istrinya Rona, iboto uda Muslim, boru Hara-hap dari Bunga Bondar; anak-anaknya: 1,2,3, 4, 5 Ir. Asro Effendi, 6 dr.Darwis, 7 drs Armansyah, 8 drs Arifin, 9 Ir.Riki.

                                                                3. Olles (pr)

                                                                4. Gaja (Samsir, istrinya Grace boru uda Dimpu)

                                                                 5. Icin (Bustaman)

                                                                 6. Hanum(pr).

                                               2. Anak-anak Si Taromar dengan istri boru Tambunan dari Bunga Bondar

                                                                 1. Marianna (pr)

                                                                 2. Rasad

                                                                 3. Haris

                                                                 4.       (pr)

                                               3. Anak-anak Si Ogeni dengan istri boru Harahap dari Panyanggar.

                                               4. Anak-anak Si Habincaran dengan istri Kasirah boru Jawa dari Tabapingin, Lubuk Linggau, keturunannya:

                                                                 1. Jusuf

         2. Husin

                                                                 3..Ros

                                                                 4. Usman

                                                                 5. Barhen

                                                                 6. Bahtar

                                                                 7. Maria

                                                                 8. Uncok.

     26 *. Keturunan Ja Bagandjang.

I. Pomparan Ja Ungada.

     27 *. Keturunan Mandayung.

     28 *. Keturunan Ja Potir.

J. Pomparan Si Timo.

      29 *. Keturunan Marthin.

      30 *. Keturunan Kobet.

      31 *. Keturunan Nabat.                                                   

K. Pomparan Ja Riaman.

     32 *. Keturunan Soripada (Lintong).

         Anak-anak para cicit Soripada (Lintong)      

                1. Cicit-cicit Ja Inal.

          1. Cucu-cucu Mara Uhum.

                         1.  ……dengan istri…..boru…dari…, keturunannya:             

          2. Cucu-cucu Kario

                         1. Dr. Mangara dengan istri…boru….dari…, keturunannya:

                         2. Raja Inal, Gubernur Sumut, dengan istri… boru….dari

                             keturunannya:

                                              1.

                           3. Amrin dengan istri…boru….dari…..

                           4. Guntur dengan istri….boru….dari…

     33 *. Keturunan Kobas.

         Anak-anak para cicit Ja Kobas

1. Cicit-cicit Haji Sjekh Abdul Hamid                                                  

          1. Cucu-cucu Hasan

2. Cicit-cicit Ja Tumalun.

                              1. Cucu-cucu .

     34 *. Keturunan Moses

         Anak-anak para cicit Si Moses

                  1. Cicit-cicit Guru Panguhuan

                  2. Cicit-cicit  Si Suman

1. Cucu-cucu Soripada.

L. Pomparan Ja Mohop.

     35 *. Keturunan Ja Gobob.

M. Pomparan Ja Sidalian.

     36 *. Keturunan Ja Ihot.

     37 *. Keturunan Ja Natar.

     38 *. Keturunan Tingkopan.

N. Pomparan Ja Horbo.

     39 *. Keturunan Ja Buku.

     40 *. Keturunan Ja Tarumun.

O. Pomparan Ja Salim.

      41 *. Mangayun.

      42 *. Keturunan Ja Taradin.

      43 *. Keturunan Ja Mandapun.

      44 *. Keturunan Ja Maliki.

      45 *. Keturunan Ja Nasi.

 

Generasi Kesebelas

A-1 *. Keturunan Namora Padang.

        Cucu-cucu para cicit Namora Padang (Ja Soaloön).

                1. Anak-anak para cicit Ja Tanduk.

                                  1.Cicit-cicit Ja Manduhir                                                                          

                                 1. Cucu-cucu Syekh Ismail.(Ja Nagari).                                

                                              1. Humala dengan istri…boru…dari…., keturu-

                                                  nannya:

                                                           1.

                                              2. Anggara dengan istri…..

                                              3. Pangaloan dengan istri…..

                                              4. Hasan dengan istri…..

                                             2. Cucu-cucu Sutan Sokondar.                                                 

                                              1. Mulia dengan istri…. boru…dari…., keturu-

                                                  nannya:

                                                           1.

                                                          2. Kaspari dengan istri…..                                                

                                                          3. Sorimuda dengan istri…..

                                                          4. Soripada dengan istri…..

                                                          5. Kamaruddin dengan istri…..

                                                          6. Kamaluddin dengan istri…..

                                   3. Cucu-cucu Si Pangulu (Haji Japar).                                                                1. Pandapotan dengan istri… boru…dari…., keturu-

                                                  nannya:

..                                                                      1.                                

                                                          2. Bunbunan dengan istri…..

                                                          3. Majid dengan istri…..

                                                          4. Baginda dengan istri…..

                                                          5. Sutan dengan istri…..

                2. Anak-anak para cicit Sutan Bungabondar.                                                                 

                                   1. Cicit-cicit Ja Mulia (Tongku Raja Mulia)

                                   2. Cicit-cicit Ja Inda Mora

                                              1. Cucu-cucu Si Enda

                                                         1. Burhan (Mangaraja Namora) dengan istri…..bo-

                                                             ru….dari….., keturunannya:

                                                                        1.

                                              2. Cucu-cucu Si Atas, gelar Sutan Mangarahon.                                                        

                                                         1. Madduhir (Tongku Raja Mulia) dengan istri boru Rang-

                                                             kuti dari Maga, lalu boru Daulae dari Simasom, keturu-

                                                             nannya:

1. Masaudin

                                                                        2. Martuani

                                                                        3. Bertuah

                                                                        4. Syahroni (pr)

                                                                        5. Tapi (pr)

                                                                        6. Amru

                                                                        7. Nurbaiti (pr)

                                                                        8. Haris

                                                                        9. Fuddin

                                                                      10. Syaiful

                                                                      11. Irsan

                                   3. Cicit-cicit Si Lokot (Sahang).                                             

                                   4. Cicit-cicit Ja Sangap, Baginda Soritua.

                                               1. Cucu-cucu Si Gindo.                                      

                                                         1. Dahlan dengan istri…..

                                                         2. Bonari dengan istri…..

                                                         3. Marzuki dengan istri…..

          2. Cucu-cucu Si Mara Hadin.

                                                         1. Mara Aman dengan istri…..

                                                               2. Mara Mora dengan istri…..

                                                         3. Mara Tuani dengan istri…..

                                                         4. Abdul Masi dengan istri…..

                                                         5. Mara Sobar Halomoan dengan istri…..

                                                         6. Mohammad Yusuf dengan istri……

                                             3. Cucu-cucu Jonain (Ja Mandersa).                                                          1. Albert dengan istri…..

1.   Doli dengan istri…..

2.   Jomin menikah dengan…….

                                                         4. Kalimuda dengan istri…..

                                                         5. Giring menikah dengan…..

                                                         6. Siddik dengan istri…..

                                                         7. Bain dengan istri…..

                                             4. Cucu-cucu Jonias (Harun).                                                        

                                                         1. Sahri Jani dengan istri…..                                                                            

                                                         2. Sori Mulia dengan istri…..

                                             5. Cucu-cucu Amiran.

                                                         1. Kumuro Wiloyo dengan istri…..

                                                         2. Sori Hamonangan dengan istri…..

                                                         3. Idima Susanto dengan istri…..

                                                         4. Marga Suwito dengan istri…..

                                                         5. Safrida menikah dengan……

                                                         6. Mulia Rejeki dengan istri…..

                                            6. Cucu-cucu Masmin.

                                                         1. Sofian Edi Rusdi dengan istri…..

                                                         2. Napa Gading dengan istri…..

                                  7. Cicit-cicit Mangkuto, Ja Aminudin, gelar Baginda Namora.                     

                                           1. Cucu-cucu Mara Domsah.

                                                        1. Rudi dengan istri…..

                                                        2. Latif dengan istri…..

                                                        3. Asnil dengan istri…..                             

                                                        4. Emir dengan istri…..                                          

                                                        5. Agus dengan istri…..

                                                        6. Effendi dengan istri…..

 

A-3. Keturunan Ja Pangajian.

        Cucu-cucu para cicit Ja Pangajian (Ja Humala)                               

                1. Anak-anak para cicit Ja Diatas (Ja Pontas).

                                 1. Cicit-cicit Baginda Humala

                                              1. Cucu Gorgor.

                                              2. Cucu Parlindungan, gelar Sutan Mangatas.

                                                           1. Jenni Siregar menikah dengan Sutan Pane dari Lancat

                                                               Jae.

                                                           2. Moget Sregar.

                                                           3. Anwar Siregar dengan istri….

                                                           4. Giring (pr) menikah dengan….

                                                           5. Edmir Siregar dengan istri….

                                              3. Cucu Dogor

                                              4. Cucu Pendeta Mampe, gelar Sutan Pinayungan.

                                                           1. Samuel

                                                           2. Basaria Siregar menikah dengan Mulia, marga Sibuea dari…….Alamat: Universitas Advent Indonesia, Prom-pong, Bandung. Tel: 270-0174. Keturunannya:

                                                                          1. Roliana (pr)

                                                                          2. Rendi

                                                                          3. Roflin (Dr.)

                                                                          4. Rimelda

                                                           3. Adrian (Edi) Siregar, dengan istri……..boru …. dari keturunannya:                                                            

                                                                          1. Englin Rosana (pr).

                                                                          2. Rebeka (pr)

                                                                          3. Ralph

                                                           4. Pendeta David Halomoan Siregar, dengan istri Erna Alice Mocodompis. Alamat: jalan Permai 10 No.11, Kompleks Margahayu Permai, Bandung, keturunannya:

                                                                          1. Clifford Boyke Hamonangan.

                                                                          2. Nila (pr)

                                                                          3. Cliff

                                                                          4. Brenda (pr)

                                                           5. Rosti Siregar menikah dengan U.D.Pandiangan. Alamat: Gang Dahlia IX, no 71, Cakung Timur. 13390. Tel: 461-9759. Gereja Advent Kramat Pulo 7-15 Tel: 315-5371. Keturunannya:

                                                                          1. Meffi

                                                                          2. Melfin

                                                                          3. Rosaria (pr)

                                              3. Cucu Sunge Somarsik.

                                                           1. Renta (pr)

                                                           2. Humala Hasian

                                                           3. Batara Soaloön

                                                           4. Helen (pr)

                                                           5. Moget Alanbertal

                                                           6. Eugene

                                                           7. Gamal Abdul Nasser

                                                           8. Goyur (pr)

                                                           9. Pandapotan

                                                         10. Harun Habonaran

                                                         11  Rafiah (pr).

                                 2. Cicit-cicit Mangaraja Soaloön.

                                              1. Cucu Aaron Diatas

                                                           1. Amir Husin dengan istri Hj. Alimah boru Pane dari….., keturunannya:

                                                                          1. Ruskin

                                                                          2. Adeng (Nur Asni, pr)

                                                                          3. Rohaya (pr)

                                                                          4. Safarina

                                                           2. Siti Rafiah menikah dengan Durain, gelar Sutan Sari Alam, marga Pulungan dari Bunga Bondar, keturunan-nya:    

                                                                          1. Mirzagban (Ming)

                                                                          2. Listy Rosmiwati (Lis, pr)

                                                                          3. Alafain Mahakam (Pain)

                                                                          4. Doras

                                                                          5. Ichwan Hajoran

                                                                          6. Alam Parsioan (Sio)

                                                                          7. Bernauli

                                                                          8. Erinna Ritasari (pr)

                                                                          9. Melvin.

                                              2. Cucu Samsera Siregar.

.                                                          1. Siti Khairani Pulungan .

                                                           2. Bahmarim Pulungan

                                                           3. Bataris Pulungan

                                                           4. Maruddin Pulungan

                                                           5. Suasa Pulungan

                                                           6. Siddik Pulungan

                                                           7. Halim Pulungan

                                                           8. Maskut Pulungan.

                                              3. Cucu Molun Siregar (Lihat tarombo marga Harahap

                                                   keturunan Tongku Mangaradja Hanopan).

                                                           1. Amir Hamzah Harahap

                                                           2. Sangkot Syarif Ali Tua Harahap

                                                           3. Marasuddin Harahap

                                                           4. Sangkot Hamid Harahap

                                                           5. Sangkot Anwar Bey Efendi Harahap

                                                           6. Mohamad Arifin Harahap

                                                           7. Mohamad Rusli Harahap (Yang mengubah tarombo  

                                                                marga Siregar ini menjadi Perjalanan generasi).

                                                           8. Siti Fatimah Harahap

                                              4. Cucu Tapi Gondoiman Siregar.

                                                           1. Enni Pohan

                                                           2. Mian Pohan

                                                           3. Sorta Pohan

                                                           4. Jojor Pohan

                                                           5. ELT Hasahatan Pohan.

                                  3. Cicit-cicit Ja Humala (1876-1918), Guru Godang/Bolon di Bangun Pur-ba di zaman Belanda.(Sang penyusun tarombo marga Siregar dari Bunga Bondar).

                                              1. Cucu Anna Meta Khristina.

                                              2. Cucu Calvijn Ja Somarsik.

                                                           1. S.O.Frida Siregar dengan istri……

                                                           2. Frans Karel Siregar dengan istri…….

                                                           3. Gerard Apuldo Siregar, gelar Baginda Dongoran dengan istri…. boru…..dari……(Yang menyimpan  tarombo Marga Siregar peninggalan Ja Humala dari Bunga Bon-dar). Keturunannya:

                                                                           1.

                                                           4. David Siregar dengan istri…..

                                                           5. Khristina Siregar menikah dengan ……

                                              3. Cucu Buyung (Yan)

                                              4. Cucu Longga Mariani Siregar.

                                              5. Cucu Siti Onggar Siregar.

                                              6. Cucu Siti Nursiah Siregar.

                                              7. Cucu Siti Nursani Siregar.

                                              8. Cucu Asali Pontas Raja Siregar

                                                           1. Hasian, gelar Mangaraja Hasayangan dengan

                                                               istri…boru…..dari….., keturunannya:

                                                                             1.

                                                           2.

                                                           3. Hakim

                                                           4. Wenni (pr)

                                              8. Cucu Siti Nursani Siregar.

                                              9. Cucu Siti Samina Siregar.

                                            10. Cucu Saribun Siregar.

 

Generasi Keduabelas

(Akan dilanjutkan generasi penerus Lubuk Siregar, gelar Ompu Raja Lintong Soruon).

Catatan:

     Tarombo marga Siregar keturunan Lubuk Siregar, gelar Ompu Raja Lintong Soruon, dari Bu-nga Bondar ini adalah kelanjutan penuturan yang biasa dilakukan orang-orang tua dahulu kepada putra dan putri mereka yang beranjak dewasa, atau saat akan merantau bersekolah dan mencari nafkah, atau ketika akan berumah tangga. Tujuannya agar mereka mengetahui peran dan kedudukan masing-masing dalam perhelatan Adat Batak di Tapanuli Selatan dan perantauan.

     Menurut Adat Batak, sebagaimana tercantum dalam surat Tumbaga Holing, kekerabatan da-lam masyarakat di Tapanuli Selatan terdiri dari tiga jenjang, masing-masing: Kahanggi, Anak Boru dan Mora yang membentuk Dalihan Na Tolu (Tungku Yang Tiga). Dan yang disebut ter-akhir adalah apa yang dinamakan keluarga besar dan memiliki pengertian dibawah ini: 

Kahanggi, ialah himpunan dari mereka yang semarga, dalam hal ini marga Siregar, keturunan si Lubuk Siregar, gelar Ompu Raja Lintong Soruon, yang berasal dari Bunga Bondar dimanapun kini berada.

Anakboru, adalah berbagai marga yang mempersunting anak-anak gadis keturunan si Lubuk Siregar, gelar Ompu Raja Lintong Soruon, untuk dibawa ke berbagai huta/luat, baik di Tapanuli Selatan maupun perantauan, untuk menjadi ibu dari anak-anak mereka disana.

Mora, ialah berbagai marga yang mendatangkan ibu kepada anak-anak marga Siregar, keturunan  si Lubuk Siregar, gelar Ompu Raja Lintong Soruon, dari manapum berdatangan, baik yang berasal dari Bona Bulu maupun perantauan, guna melanjutkan generasi.

     Dengan Dalihan Na Tolu, masyarakat Batak dipelihara kehidupannya dahulu, kini, dan di ma-sa akan datang, guna mendatangkan bahagia kepada semua. Dalam tarombo juga terbaca peran dan kewajiban para anggotanya.

     Adalah tugas lembaga Hatobangon marga Siregar keturunan si Lubuk Siregar, gelar Ompu Raja Lintong Soruon, untuk menyediakan dana dan Sumber Daya Manusia untuk menyem-purnakan tarombo marga Siregar dari Bunga Bondar ini, agar dapat sampai pada generasi pene-rus, kapan dan dimanapun berada, dengan pedoman:

                                                       Paukpauk Hudali Pagopago Tarugi,

                                                       Na Tading Taulahi, Na Sega Tapauli.

                                                       (Dikutip dari tarombo yang dibuat:

                                                                          Tulang Sutan Habiaran dari Bunga Bondar

                                                                          dan bermukim di Medan.)

 

 

Catatan Peristiwa di Bunga Bondar

               1. Sebelum Belanda datang ke Tanah Batak, Sutan Ulubalang telah menjadi Raja di Bunga Bondar. Setelah wafat, beliau digantikan adiknya Sutan Doli. Yang akhir ini meneruskan perlawanan abangnya mempertahankan kampung itu dari serangan ser-dadu-serdadu pemerintah Hindia Belanda, setelah Sipirok berhasil didudukinya ta-hun 1847. Baru pada tahun 1851, Belanda mampu mematahkan perlawanan Sutan Doli setelah 4 tahun berperang. Belanda lalu membuang para penentangnya di kampung marga Siregar itu ke pengasingan ke Jawa. Pada tahun 1949, lebih seabad ke-mudian dalam Agresi Militer (Politionele Actie) ke-2, serdadu-serdadu Belanda  da-tang kembali ke Bunga Bondar untuk menaklukkan desa itu untuk kedua kalinya.

               2. Pada tahun 1878 Huta Bondar Sampulu dan Huta Bondar Salapan dipungka (didi-rikan). Mengapa dinamakan Bondar Sampulu (Bondar X), karena Mangaraja Pa-ngajian ketika itu hanya mengizinkan 10 ripe (keluarga) yang diperkenankan ma-mungka kampung baru ketika itu. Adapun kesepuluh orang tadi, ialah: Ja Mangalopi, Ja Godang, Kali Alam, Ja Langgean, Ja Balemun, Ja Potir, Ja Pandoroman, Ja Pande, Mangaraja Bondar Sampulu, dan Ja Parenta.

               3. Pada hari Selasa, tanggal 17 Agustus 1886, jam 08.30, Ja Diatas (Ja Pontas) wafat. Dialah ayahanda ompung (kakek) yang tiga orang di Bunga Bondar ketika itu, masing-masing: Baginda Humala, Mangaraja Soaloön, dan Ja Humala, pesiunan Gu-ru Godang (Kepala Sekolah) di Bangun Purba silam.

               4. Pada hari Selasa, tanggal 3 Maret 1887, pukul 01.00 wafat istri Ja Pangajian.

               5. Pada tanggal 17 Mei 1892, muncul gempa dahsyat dan merobohkan rumah-rumah di kampung Bunga Bondar.

               6. Pada hari Jumat, tanggal 27 Maret 1896, jam 07.42 Ompu ni Aaron, ibunda ompung (kakek) yang tiga: Baginda Humala, Mangaraja Soaloön, dan Ja Humala wafat di Bunga Bondar.         

               7. Pada tanggal 16 April 1904 Sutan Bungabondar wafat di rumahnya.

               8. Pada tanggal 21 April 1906 berlangsung pemilihan Kepala Kuria di Baringin.

               9. Pada tanggal 12 Juli 1907, istri Ompung Mangaraja Soaloön meninggal dunia. Ia

                   adalah ibunda: Aaron (Asisten Demang di Sarulangun Jambi silam), Samsera

                   Tirawan, Molun, dan Gondoiman.

             10. Sutan Janioli diangkat manjadi Demang (Demang Na Tobang) di Pulau Nias pada tahun……..

             11. Baginda Raja Martua (Demang Aman) diangkat menjadi Demang (Demang Na Po-so) di Natal pada tahun………….

             12. Aaron Diatas diangkat menjadi Asisten Demang di Sarulangun Jambi tahun ………

             13. Bonjol Siregar menammatkan MLS Bogor tahun 1937. Ia bekerja menjadi pegawai Jawatan Kehutanan NRI. Pada tahun 1954 menjadi mahasiswa Akademi Kehutanan di Bogor yang pertama.

            14. Binanga Siregar, gelar Sutan Mangaraja Muda, diangkat menjadi Residen NRI di Tapanuli berkedudukan di Sibolga, menggantikan Dr. Ferdinand Lumban Tobing se-telah kemerdekaan.  

Sumber Tarombo

———————–

              1. Catatan peninggalan ayahanda Sutor Harahap, gelar Baginda Pandapotan, Guru Go-dang/Guru Kepala Sekolah Rakyat No.1 Lubuk Linggau, di Sumatera Selatan. Be-liau berdiam di jalan Permiri no. 500 Lubuk Linggau dari tahun 1946 hingga 1969.

              2. Pertemuan dengan tulang Sunge Siregar, gelar Mangaraja Somarsik, di rumahnya di jalan Pahlawan, Gang Batu Putih no.3, Medan, pada tanggal 8 Juli 1990.

              3. Pertemuan dengan tulang Harun (Jonias) Siregar di rumahnya di Simpang Sei Sema- yang km 13,2 no.23, di jalan Raya Medan-Binjei, pada tanggal 15 September 1990.

              4. Pertemuan dengan tulang Tambang Siregar, gelar Sutan Habiaran, di rumahnya di ja-lan Sei Bingei no.19 Medan, pada tanggal 17 Januari 1992.

              5. Tarombo marga Siregar dari Bunga Bondar yang dibuat oleh Ja Humala (1876-1918),

                  Guru Godang/Kepala Sekolah di Bangun Purba, yang dipinjam dari Iparhanda Gerard

                  Apuldo Siregar yang menyimpannya di Bunga Bondar tahun 2001. Aslinya kemudian

                  dikembalikan kepada G.A. Siregar berikut satu berkas “computer print out” untuk  ja-

                  di miliknya.

              6. Bahan tarombo tulis tangan yang dikerjakan Ipar Gerard Apuldo Siregar di Bunga Bondar yang dikirim lewat pos tahun 2003. Bahan tadi lalu dikembalikan beserta satu berkas computer set print out untuk miliknya.

             7. Kenangan kakak Nonggar Siregar, istri abang H. M. Syarif Harahap, gelar Mangaraja Hanopan, yang lahir dan dibesarkan di Bunga Bondar sebelum berumah tangga dan  merantau ke Sumatera Selatan, yang disampaikannya dalam banyak kesempatan.

             8. Serangkaian catatan peninggalan Ompung Abdul Hamid Harahap, Tuan Datu Singar, gelar Sutan Hanopan tentang Bunga Bondar yang diwariskan kepada ayahanda Sutor Harahap, gelar Baginda Pandapotan. Bagas Godang Hanopan telah mendatangkan ibu lima generasi dari Marga Siregar Bunga Bondar, dari kelompok Sutan Ulubalang.

             9. Perolehan tanya jawab lisan dan tertulis pada berbagai keluarga marga Siregar dari Bunga Bondar hingga perantauan yang pernah dilakukan penyusun.

            10. Aturan penulisan ejaan ‘lama – baru’ digunakan: oe = u, dj = j, j = y, nj = ny, tj = c.     

                            

Susunan Tarombo

————————-

 

Tarombo peninggalan Ompung Ja Humala (1876-1918) dari Bunga Bondar, pensiunan Guru Godang di Bangun Purba silam, lalu diubah  dari “Pohon Keluarga” menjadi “Perjalanan Generasi”, serta dilanjutkan hingga ke Generasi Kesebelas (tidak semuanya hanya pilihan), oleh:

 

H M Rusli Harahap,

gelar Sutan Hamonangan dari Hanopan

jalan Batu Pancawarna I/2A, Pulo Mas

Kelurahan Kayu Putih, Jakarta. 13210

Tel: (021)- 472-2243.

                                                      

 

——— Selesai ———-

 

 

 

 

 

 

Posted by: rusliharahap | November 17, 2013

MENGENANG AMANG TOBANG BAGINDA PARBALOHAN

Sekapur Sirih

Dengan terlebih dahulu mengucapkan Syukur Alhamdulillah kepada Allah Subhanahu Wataala, dan bersyukur padaNya, menyampaikan salam dan selawat kepada junjungan Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, pembuatan blog Amang Tobang Baginda Parbalohan ini bertujuan mengenang kembali hijrah yang  dilakukan marga Harahap asal Hanopan (Sidangkal) dari Bunga Bondar ke Hanopan (Sipirok)  yang beliau lakukan bersama adik-adik, kerabat, dan lainnya diwaktu yang silam. Marga Harahap dari Hanopan (Sidangkal) sebelumnya terpaksa meninggalkan kampung halaman di Angkola karena munculnya Perang Paderi (1825-1838) yang menyerang dari Sumatera Barat.lalu merambah ke Angkola. Meski telah masuk ke zaman Hindia Belanda, setelah zaman kerajaan-kerajaan Batak yang merdeka berlalu, namun Amang Tobang banyak menerima warisan pengetahuan dan pengalaman orang tua dan kakek yang mengungsi dari Angkola ke Lobu Sinapang di Padang Bolak, dan orang tua yang kemudian pindah ke Bunga Bondar, dimana beliau lahir dan dibesarkan. Amang Tobang sempat mendapat pendidikan Barat mengkuti sekolah Gouvernement di Sipirok, lalu menjadi Raja Pamusuk pertama di Hanopan, karena berhasil mamungka kampung marga Harahap yang baru.

Banyak didikan disampaikan  Amang Tobang kepada ketiga putranya, terlebih beliau seorang Raja Pamusuk di kampung marga Harahap yang baru itu. Sejak masih tinggal di kampung moranya, Amang Tobang telah menjadi seorang penggemar berat Adat Angkola. Amang Tobang mengajarkan: ”Tua ni na mangholongi, ni haholongi”. Amang Tobang juga memperlihatkan apa yang dinamakan: “hormat mar mora”, terhadap marga Siregar dari Bunga Bondar yang menda-tangkan ina (ibu) kepada marga Harahap di Hanopan; ”manat mar kahanggi” mulai: Bunga Bondar, Hanopan, hingga Panggulangan; untuk memelihara persaudaraan Dalihan Na Tolu (Tungku Yang Tiga), dengan: “elek mar anak boru” ke Simarpinggan dan lainnya. Adapun kakek Amang Tobang ialah: Demar Harahap, gelar Ja Manogihon, ketika itu dikhabarkan berdiam di Hanopan Sidangkal (kini masuk kecamatan Padang Sidempuan Barat) tidak jauh dari Padang Sidempuan, sedangkan ayahnya Ja Alaan, gelar Tongku Mangaraja Hanopan. Mereka terpaksa mengungsi meninggalkan Angkola ketika Perang Paderi merambah daerah itu.

Meski pemerintah Hindia Belanda, tampaknya tidak mencampuri urusan pemerintahan kam-pung yang semuanya masih berjalan menurut Adat Batak demi kesejahteraan dan kerukunan hi-dup warga masyarakat, terkecuali keharusan membayar belasting (pajak) dan bekerja rodi, akan tetapi Belanda suka juga mencampuri urusan yang berhubungan dengan siapa yang sebaiknya menjadi Kampong Hoofd agar hubungan dengan hakuriaan bentukan Belanda dengan kampung-kampung dapat berjalan lebih harmonis. Selama menjadi Raja Pamusuk, Amang Tobang berkantor di rumahnya, Bagas Godang Hanopan, meskipun demikian beliau tidak sempat meninggalkan foto kenangan tentang dirinya dengan Inang Tobang untuk disampaikan kepada generasi  penerus yang ingin mengetahui keduanya.

Pada bulan Desember tahun 1927, Amang Tobang Baginda Parbalohan menyiapkan rombongan yang akan berangkat ke Tanah Suci terdiri dari: beliau, istrinya, adiknya, anaknya, dan cucunya. Mereka ingin melaksanakan rukun Islam ke-5 dengan menunaikan ibadah Haji di Mekah dan Madinah, Saudi Arabi, dengan naik kapal laut dari Medan. Akan tetapi dalam perjalanan pulang ke Tanah-Air, beliau berpulang ke Rachmatullh di Jeddah lalu dimakramkan di kota pelabuhan itu. Amang Tobang telah berhasil membesarkan dan membimbing 3 (tiga) orang anak menjadi manusia dewasa, berpendidikan Sekolah Melayu, dan berkeluarga, dan menyaksikan kehadiran  para cucu yang tumbuh dan berkembang.

Akhirulkalam, tak ada gading yang tidak retak, maka apabila dalam perjalanan hidup Amang Tobang Baginda Parbalohan dan Inang Tobang silam ada prilaku, perbuatan, dan hal-hal lain yang kurang berkenan di hati para kahanggi, anakboru, dan mora, begitu pula lainnya, sudilah kiranya semuanya memaafkan kekurangan mereka. Dalam lubuk hati kami pomparan (keturu-nan) yang paling dalam bersemayam rasa syukur dan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Allah Subhanahu Wataala yang telah menganuge-rahkan Amang Tobang Baginda Parbalohan dan Inang Tobang sebagaimana apa adanya.

Zaman Hindia Belanda

Pendahuluan

Belanda masuk ke Tanah Batak dari Sumatera Barat tahun 1833 masih dalam suasana Perang Paderi (1825-1838) yang berkecamuk. Karena itu dapat dimengerti serdadu-serdadu Belanda  men-dapat sedikit perlawanan dari Raja-raja setempat saat masuk dari Sumatera Barat ke Tapanuli lewat Rao di Mandailing. Belanda kemudian membangun benteng Fort Elout di Panyabungan, untuk menyatakan keberadaannya di Tanah Batak. Setahun kemudian Belanda membentuk pe-merintahan sipil di Tanah Batak yang dipimpin seorang Asisten Residen berkedudukan di Natal.

Dengan demikian penjajahan Belanda atas Tanah Batak telah dimulai, dan zaman pemerintahan Hindia Belanda hadir di Tanah Batak. Memasuki zaman Hindia Belanda, Padang Sidempuan menjadi kota besar di Angkola, menjadi pusat pemerintah Hindia Belanda mengatur Afdeeling Tapanuli Selatan, sekaligus menjadi ibukota afdeeling itu.

Pemerintah Hindia Belanda berakhir dengan kedatangan serdadu-serdadu Fascist Jepang yang menrobos masuk ke nusantara di awal Perang Dunia ke-II, lalu menghalau pemerintah Hindia Belanda yang berkedudukan di Sibolga keluar meninggalkan Tanah Batak, dan memaksa Ge-neraal-Majoor Overtrakker berkedudukan di Sumatera menyerah tidak bersyarat tanggal 28 Maret 1942 kepada Jepang tidak jauh dari Kotacane, menyebabkan penjajahan Belanda atas Tanah Batak berjalan 109 tahun lamanya.

Desa Asal

Bunga Bondar adalah sebuah desa yang berada di jalan-raya yang menghubungkan Sipirok di Kabupaten Tapanuli Selatan dengan Soborongborong di Kabupaten Tapanuli Utara, lewat Sipa-gimbar, Pangaribuan, dan Sipahutar. Jalan ini awalnya adalah sebuah lintasan rimba yang dilalui warga yang bepergian antar kampung, lalu oleh pemerintah Hindia Belanda diubah menjadi ja-lan-raya yang menghubungkan Onderafdeeling (sub-bagian) Tapanuli Selatan dengan Onder-afdeeling Tapanuli Utara, dikenal dengan nama: “jalan pahulu”. Adapun jalan lain, yang juga menghubungkan kedua Onderafdeeling, ialah yang menghubungkan  Sipirok dengan Tarutung lewat Sarulla dan Onan Hasang dikenal dengan: “jalan pahae”. Kedua jalan ini lalu berubah menjadi jalan-raya sekaligus uratnadi ekonomi kedua onderafdeeling dikemukakan, yakni daerah Angkola yang berada di Kabupaten Tapanuli Selatan dan daerah Toba yang terdapat di Kabu-paten Tapanuli Utara.

g3-peta-tapanuli

Kabupaten Tapanuli Selatan

Baginda Parbalohan 

Dewasa ini Bunga Bondar, darimana Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan berasal terletak di Kecamatan Arse, Kabupaten Sipirok. Amang Tobang adalah anak kedua dari enambelas orang bersaudara datang dari dua orang ibu, tetapi putra sulung, bernama kecil Sengel Harahap lahir di Bunga Bondar tanggal… bulan… tahun 1846. Ayahnya: Alaan Harahap, gelar Tongku Mangaraja Hanopan dan ibunya Bolat Siregar, gelar Naduma Parlindungan, putri Ja Mampe, cucu Sutan Diapari dari Bunga Bondar. Amang Tobang kemudian membawa hijrah ke-dua orang tuanya pindah ke Hanopan dari Bunga Bondar, dan tinggal bersamanya di Hanopan  sampai akhir hayat mereka. Amang Tobang Sengel Harahap (1846-1928), gelar Baginda Parba-lohan adalah seorang marga Harahap awalnya tinggal di Bunga Bondar, lalu setelah memperoleh kesempatan mamungka (mendirikan) kampung yang baru di luhat Sipirok dari Raja Pamusuk yang memerintah di Bunga Bondar, berhasil mamungka kampung marga Harahap yang baru di Luhat Sipirok yang dinamakan Hanopan, dan menjadi Raja Pamusuk pertama di kampung itu. Nama Hanopan diambil dari kampung bernama sama dekat Sidangkal di jalan-raya menuju ke Simarpinggan dari Padang Sidempuan, darimana Demar Harahap, gelar Ja Manogihon, kakek A-mang Tobang Baginda Parbalohan, berasal sebelum Perang Padri berkecamuk masuk ke Angkola.

amang-tobang

Ini adalah foto keponakan Baginda Parbalohan

yang mirip dengan beliau.

Amang Tobang Baginda Parrbalohan dibesarkan dalam lingkungan keluarga berpengaruh di Bunga Bondar dimana beliau lahir dan dibesarkan. Ia tumbuh dan berkembang dalam lingkungan Adat Angkola yang masih kental dan menjadikannya seorang penggemar Adat Batak tempatnya berdiam. Akumulasi pengetahuan Adat Batak Angkola didapat dari menghadiri beragam per-helatan di Bunga Bondar dan kampung lain berdekatan, menyadarkan dirinya akan perlu adanya sebuah kampung marga Harahap yang baru. Selain dari itu ia juga menyadari bahwa Bunga Bondar pun telah padat pula penduduknya. Maka ketika Raja Pamusuk dari Bunga Bondar penguasa Luhat Sipirok memberi kesempatan kepada warganya untuk mamungka kampung yang baru, anakboru marga Siregar di kampung itu juga diberi kesempatan yang sama. Itulah sebabnya mengapa Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan, anak sulung Alaan Harahap bersama adik-adik dan kerabat lainnya lalu meninggalkan Bunga Bondar dalam satu rombongan masuk kedalam rimba membawa perbekalan untuk mendirikan kampung yang baru. Dengan demikian akan terbuka tempat kediaman yang baru dengan lahan tempat nencari nafkah yang dapat diwa-riskan kepada anak cucu yang datang kemudian.  

Pada pagi hari mereka telah meninggalkan Bunga Bondar menelusuri jalan rimba yang biasa dilalui penduduk bepergian antar kampung di Luhat Sipirok. Mereka menerobos hutan lebat untuk tiba di kaki Dolok Nanggarjati, dimana kampung yang akan dipungka diperkirakan berada, tidak jauh dari Huta Padang yang beru ada. Di Bunga Bondar Sutan Ulubalang masih Raja Pamusuk yang memerintah, setelah wafat lalu digantikan adik kandungnya Sutan Doli. Raja Pamusuk Bunga Bondar saat itu tengah menghadapi serbuan serdadu-serdadu Belanda yang datang dari Sipirok, setelah berhasil masuk ke Tanah Batak dari Sumatera Barat lewat Man-dailing dalam Perang Paderi tanpa mendapat perlawanan berarti.

Belanda perlu menaklukkan kerajaan Bunga Bondar ketika itu, oleh letaknya yang strategis di jalan-raya yang menghubungkan Angkola di Tengah dengan Toba di Utara. Setelah berperang 4 tahun lamanya, maka pada tahun 1851 Belanda berhasil mematahkan perlawanan Sutan Doli yang bertakhta, lalu menyingkirkan para penantangnya di kampung marga Siregar itu ke pem-buangan di Jawa. Lebih dari satu abad kemudian, dalam agresi militer Belanda ke-II tahun 1945 serdadu-serdadu Belanda datang lagi ke Bunga Bondar untuk menduduki kampung marga Siregar itu untuk kedua kalinya, akan tetapi kampung itu telah ditinggalkan warganya untuk mela-kukan perang gerilya. 

Setelah berhari berjalan kaki, sampailah rombongan ke sebuah tempat yang bernama: “Hayuara Bodil”, tidak jauh dari Arse Jae yang sekarang. Mereka mencoba menanam benih yang dibawa: padi, jagung, dan lainnya, dan ingin mengetahui apakah tempat ditemukan baik untuk tempat mendirikan kampung untuk bermukim. Kawasan yang mereka jelajahi saat itu tergolong rimba yang dikatakan orang berhantu, juga tempat harimau Sumatera mencari mangsa. Akan tetapi kali ini usaha mereka gagal. Rombongan lalu pindah mencari tempat yang lain, dan setelah berjalan ke Selatan tibalah mereka di suatu tempat yang bernama: Padang Suluk, tidak jauh dari Huta Padang. Di tempat akhir ini upaya mereka menanam benih dibawa juga tidak berhasil. Kemudian rombongan berpindah lagi, kini agak ketengah untuk menemukan lokasi berikutnya, dan ternyata di tempat ketiga benih-benih ditanam ternyata tumbuh subur.

Rombongan lalu memutuskan mendirikan kampung di tempat akhir ini, dan menamakannya: “Hanopan” di Luhat Sipirok, untuk mengenang Hanopan dekat Sidangkal yang ditinggalkan kakek dan ayah Amang Tobang Baginda Parbalohan silam, ketika Perang Paderi berkecamuk dan merambah ke Angkola. Lebih dari dua tahun lamanya rombongan mengembara meninggalkan Bunga Bondar sebelum kembali untuk mengabarkan keberhasilan. Bagi pomparan Tongku Mangaraja Hanopan yang datang kemudian, Hanopan dekat Sidangkal adalah “kampung asal” marga Harahap yang dapat dinamakan: “Hanopan-1”, sedangkan Hanopan di luhat Sipirok ialah kampung yang dipungka marga Harahap asal dari Hanopan-1 yang dinamakan: “Hanopan-2”.

Kedua Hanopan telah menjadi tempat yang berharga bagi mereka. Adapun jalan rimba yang dilalui rombongan silam, telah diubah pemerintah Hindia Belanda menjadi bagian dari jalan-raya yang menghubungkan Sipirok di Kabupaten Tapanuli Selatan, dengan Siborongborong di Kabupaten Tapanuli Utara, lewat: Bunga Bondar, Hanopan-2, Simangambat, Sipagimbar, Pangaribuan, dan Sipahutar. Pemerintah Hindia Belanda telah mengerahkan penduduk bekerja rodi (kerja paksa) mengubah jalan rimba yang dilalui penduduk menjadi jalan-raya yang dilewati kendaraan bermotor. Setelah berbagai persyaratan Adat Batak Angkola dipenuhi, maka pada tanggal 23 Desember 1885, Hanopan-2 yang dipungka marga Harahap dari Bunga Bondar di Luhat Sipirok  diresmikan jadi “Huta”, sekaligus Bona Bulu marga Harahap pendirinya. Pada peresmian Hanopan-2, Amang Tobang Baginda Parbalohan diangkat menjadi Raja Pamusuk pertama di kampung marga Harahap dalam usia 39 tahun. Amang Tobang berpendidikan: Sekolah Gouvernement di Sipirok silam, menjadi Raja Pamusuk Hanopan sesuai Adat Batak yang berlaku di Angkola sejak tahun 1885, dan memimpin kampung selama 43 tahun (1885-1928).

Memasuki zaman kemerdekaan, pemerintah NRI Keresidenan Tapanuli yang beribukota Tarutung ketika itu mengeluarkan ketetapan Residen Tapanuli ber-No.: 274 tertanggal 14 Maret 1946, dan No: 1/D.P.T. tertanggal 11 Januari 1947 ditandatangani Dr. Ferdinand Lumban Tobing. Adapun isi keputusan Residen Tapanuli saat itu ialah: Para Raja yang menjabat di pemerintahan, maupun mereka yang berhubungan dengan kegiatan publik di seluruh Tanah Batak, a-papun jabatan diemban, diberhentikan dengan hormat dengan ucapan terimakasih. Para penye-lenggara pemerintah yang kemudian menggantikan akan dipilih secara demokratis. Dengan demikian istilah Kampong Hoofd (Kepala Kampung) warisan Hindia Belanda sebelum Perang Dunia ke-II silam diambil alih pemerintah NRI di Tanah Batak, dan digunakan memasuki zaman kemerdekaan hingga saat ini. Catatan tanggal peresmian Hanopan menjadi “Huta” masih dapat diemukan pada tiang penyangga Sopo Godang Hanopan.

Image0021

Keterangan Kampong Hoofd

Setelah Arse, Huta Padang, dan Hanopa dipungka, bermunculan kampung-kampung lain dalam DAS (Daerah Aliran Sungai) Aek-Silo, seperti: Napompar, Roncitan, Huta Tonga, Simatorkis, Bahap, Purba Tua (Pagaran Tulason), Muara Tolang dan Tapus. Hanopan dibawah kepimpinan Baginda Parbalohan tidak hanya terkenal dalam DAS Aeksilo, tetapi juga hingga keluar luhat Sipirok hingga ke Mandailing. Baginda Parbalohan mendapat karunia tiga orang anak, semua-nya laki-laki, yakni: Abdoel Hamid Harahap, gelar Soetan Hanopan, juga bernama: Tuan Datu Singar; Kasim Harahap, gelar Mangaraja Elias Hamonangan; dan Rakhmat Harahap, gelar Sutan Nabonggal. Dengan berpulangnya Inang Tobang Giring Siregar, gelar Ompu ni Sutor asal Bunga Bondar, ia lalu digantikan Inang Tobang Ompu ni Kasibun. 

Marga Harahap

Keluarga-keluarga yang bermarga Harahap dimanapun berada, baik Tapanuli maupun tanah perantauan sesungguhnya seasal, artinya mereka datang dari nenek moyang pemersatu yang sama oleh kesamaan  marga. Akan tetapi karena berbilang abad waktu telah berlalu, sang pe-mersatu yang menjadi asal marga begitu juga keterangan yang ditinggalkannya tidak dapat dite-mukan lagi, maka tinggal nama marga semata. Lalu tampil marga-marga Harahap berasal dari berbagai Huta (Kampung) dan Luhat (Daerah), dan tempat lainnya. Sementara itu ada keluarga-keluarga marga Harahap menyatakan diri sebagai Sipungka Huta dan tempat-tempat mereka ber-diam  di Tanah Batak, kemudian terdapa juga keluarga-keluarga marga Harahap yang tidak me-nyatakan diri mereka sebagai pendiri kampung, namun memiliki hubungan kekerabatan dengan marga Harahap tertentu yang terdapat di Bona Bulu.

Kini masih banyak dijumpai keluarga-keluarga marga Harahap yang tahu benar kampung-ka-mpung yang dipungka leluhur di Tapanuli silam dari peninggalan diwarikan, antara lain: Bagas Godang (Rumah Adat), sawah, ladang, kahanggi, catatan keluarga, serta para saksi. Di lain fihak terdapat juga keluarga-keluarga marga Harahap yang tidak lagi mengetahui kampung asal di Tanah Batak silam, lalu berusaha menemukan asal-usul mereka lewat hubungan kekerabatan dengan keluarga-keluarga bermarga Harahap Sipungka Huta sejauh yang dapat ditelusuri lewat hubungan kekerabatan yang masih diketahui tersimpan dalam ingatan dan tarombo. Begitu juga  marga-marga Harahap yang telah berdam bergenerasi di tanah perantauan; mereka juga berusaha menemukan asal usul di Bona Bulu silam lewat hubungan kekerabatan dengan para sipungka hu-ta menurut garis laki-laki atau patrilenial, seperti: ayah, kakek, Amang Tobang, dan seterusnya keatas.

Dalam komunitas Batak dikenal “suhut” untuk menyatakan keluarga kecil yang ada dalam ma-syarakat terdiri dari: ayah, ibu, dan satu atau lebih anak. Selain dari itu ada pula “kahanggi”  untuk menyatakan kumpulan keluarga yang bermarga sama, datang dari ayah, kakek, Amang Tobang, dan lainnya keatas yang masih bersaudara. Agar hubungan kekerabatan tidak hilang ditelan waktu, menempuh generasi, menelusuri zaman oleh suku-bangsa Batak dibuatlah taro-mbo. Adapun yang disebut akhir ini tidak lain dari daftar nama orang-orag yang bermarga sama, awalnya disuratkan pada kulit kayu, bilah bambu, atau lainnya, dalam aksara Batak, melahirkan bangun piramida. Dalam bahasa Indonesia tarombo disebut “pohon keluarga”, terjemahan dari bahasa Belanda: “stamboom”, atau bahasa Inggris: “family tree”. Tarombo dalam masyarakat Batak adalah kumpulan nama-nama kahanggi yang mempunyai hubungan kekerabatan datang suatu marga, dalam hal ini marga Harahap dari Hanopan menurut garis kebapaan, atau patri-lenial.

Dengan kedatangan agama Islam yang masuk ke Nusantara sekitar abad ke-13 Masehi, dan ma-suk ke Tanah Batak dalam Perang Paderi yang memperkenalkan aksara Arab, tarombo lalu be-ralih disuratkan dalam aksara Arab. Dan dengan diperkenalkannya huruf Latin oleh pemerintah Hindia Belanda lewat pendidikan Barat menjelang abad ke-20, tarombo yang disimpan dan dipelihara marga-marga Harahap dari berbagai Huta dan Luhat di Tapanuli Selatan lalu dialihkan penyuratannya ke aksara Latin. Dari tarombo demikian dapat diketahui hubungan kekerabatan keluarga-keluarga yang bermarga Harahap datang dari beragam kampung di Bona Bulu sampai dengan mereka yang telah bermukim di tanah perantauan. Lewat tarombo demikian dapat juga diketahui pertalian darah antara berbagai marga di Tanah Batak yang menjadikan keluarga besar bernama: “Dalihan Na Tolu (Tungku Yang Tiga)”, dalam ko-munitas Batak di Tapanuli, maupun yang telah lahir dan besar di  tanah perantauan: Nusantara dan Mancanegara.

Hingga saat ini tarombo masih dipelihara dan dikembangkan oleh berbagai marga dalam ko-munitas  Batak mulai dari Bona Bulu sampai ke tanah perantauan oleh para Sipungka Huta, baik diperoleh dari peninggalan generasi pendahulu, maupun yang kemudian dikembangkan lewat penelusuran ulang, untuk disampaikan kepada generasi penerus di kampung halaman maupun tanah perantauan. Kota Padang Sidempuan dengan wilayah sekitarnya menjadi asal marga Harahap di Bona Bulu yang terletak di Kabupaten Tapanuli Selatan. Di Utara terdapat kampung-kampung asal marga Harahap, seperti: Losung Batu, Hutaimbaru dan Siharangkarang. Di tengah kota ada pula Batuna Dua yang menjadi kampung asal marga Harahap. Di Timur kota, kini termasuk kecamatan Padang Sidempuan Timur, ada pula kampung marga Harahap yang berasal dari Pargarutan. Di Selatan kota terdapat juga kampung marga Harahap yang berasal dari Pijor Koling. Di sebelah Barat kota, kini termasuk kecamatan Padang Sidempuan Barat, terdapat kampung marga Harahap yang berasal dari Hanopan dan Sidangkal.

Sipirok

Sejak pemerintah Hindia Belanda memperkenalkan pendidikan di Tanah-air tahun 1880, dalam rentang waktu sekitar satu abad, tidak sedikit putera dan puteri dari beragam Luhat dan Huta di Tanah Batak mengenyam pendidikan Barat, mulai rendah di daerahnya, menjadi: murid Sekolah Gouvernement (Sekolah Pemerintah) yang dinamakan: Volks School (Sekolah Rakyat) 3 tahun: terdiri dari kelas I, II, dan III, berbahasa Batak dan Melajoe, tulis Latin; begitu juga  kelanjutannya saat itu: Vervolg School (Sekolah Sambungan) 2 tahun, terdiri dari: kelas IV dan V. Untuk meneruskan pelajaran ke Vervolg School, murid-murid perlu diseleksi terlebih dahulu  melaui ujian saringan. Kemudian  kedua jenjang pendidikan digabung yang kemudian dikenal dengan nama: Sekolah Melajoe.

Setelah memasuki usia sekolah Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan kemudian dikirim orang tuanya Sipirok untuk mengikuti Sekolah Melajoe di kota itu. Dan se-telah menerima tanda: “Tammat Belajar” dari perguruan, beliau lalu kembali ke kampung asal-nya di Bunga Bondar.

Kilas Sejarah

Sebelum orang Belanda masuk ke Tanah Batak tahun 1833, wilayah itu sebetulnya telah terbagi kedalam berbagai Luhat, dan setiap daripadanya mempunyai pemerintah sendiri yang bersifat otonom; mereka belum mengenal adanya pemerintah pusat yang mengatur kehidupan mereka dan rakyatnya dari luar. Diantara berbagai Luhat yang ada di Tapanuli Selatan dapat disebutkan: Luhat Sipirok, Luhat Angkola, Luhat Marancar, Luhat Padang Bolak, Luhat Baru-mun, Luhat Mandailing, Luhat Batang Natal, Luhat Natal, Luhat Sipiongot dan Luhat Pakantan. Seluruh Luhat yang ada di Tapanuli menempati kawasan sebelah Utara pulau Sumatera: di Utara berbatasan dengan Aceh, di Timur berbatasan dengan Tanah Melayu, di Selatan berbatasan de-ngan  Minangkabau, dan di Barat berbatasan Samudera Hindia.

Luhat, disebut juga Banua, saat itu masih merupakan satu kesatuan genealogi wilayah, atau terri-torial, berada dibawah pemerintahan yang dilakukan menurut Adat Batak berlandaskan ke-kerabatan Dalihan Na Tolu (Tungku Yang Tiga) sebagaimana tercantum dalam surat Tumbaga Holing yang diajarkan leluhu. Setiap Luhat atau Banua, selain berdiri sendiri juga sederajat satu sama lain. Pucuk pimpinan Luhat ialah Raja Panusunan Bulung (RPB), awalnya datang dari  keluarga-keluarga Sisuan Haruaya (penanam pohon Beringin atau mereka yang mendirikan Luhat) di kawasan itu. Dalam kebanyakan Luhat bernaung seumlah Huta atau Kampung, yang juga dikenal dengan Bona Bulu (Pohon Bambu), karena pada zaan dahulu Huta memang diberi berpagar rumpun bambu untuk melindungi Kampung dari musuh yang menyerang. Ada pula  Bona Bulu yang membawahi sejumlah Kampung yang dinamakan Pagaran (Anak Kampung).

Huta selain tempat berdiam juga lahan tempat mencari nafkah oleh adanya: sawah, ladang; perairan (sungai, danau, laut), padang, semak/belukar, hutan, lembah, dan pegunungan mengita-ri, darimana sejumlah kebutuhan hidup diperoleh. Pucuk pimpinan Huta ialah Raja Pamusuk, awalnya datang dari keluarga-keluarga Sisuan Bulu (penanam Bambu atau yang mendirikan  Kampung) di tempat pemukiman. Huta yang banyak penghuninya oleh kesuburan tanahnya, ka-ya lingkungan alamnya, juga dipimpin Raja Pamusuk, meski dibantu oleh Kepala Ripe (Kepala Keluarga).

Raja dalam pengertian masyarakat Batak bukanlah seorang penguasa sebagaimana yang dia-jarkan dalam buku sejarah Eropa di zaman feodal yang diajarkan di sekolah-sekolah menengah, akan tetapi adalah seorang yang dihormati di kalangan yang dikenal dengan: Hatobangon ni Luhat atau Huta (Tetua Luhat atau Huta), karena selain pandai juga memilikii banyak pengeta-huan dan pengalaman hidup; tepatnya seorang bijak dari kalangan mereka (Primus Interpares) datang dari keluarga para pendiri Luhat dan Huta. Ia juga  disebut dalam Adat Batak: Haruaya Parsilaungan (Beringin Tempat Bernaung), di Angkola dan Sipirok dikenal dengan: Banir Parkolipkolipan, dan di Mandailing disebut Banir Parondingondingan.

Adapun sistim pemerintahan sentralistik pertama kali diperkenalkan di oleh pemerintah Hindia Belanda di Tanah Batak dengan menempatkan Asistent Resident Nederlads Indie (Asisten Residen Hindia Belanda) di Natal, dilanjutkan seorang Resident Nederlands Indie (Residen Hindia Belanda) di Sibolga. Pemerintah Belanda di Tanah Batak ketika itu adalah bagian dari pe-merintah Hindia Belanda yang menguasai nusantara berkedudukan di Batavia, pulau Jawa,  yang dipimpin seorang Gouverneur-Generaal Nederlads Indie (Gubernur-Jenderal Hindia Belanda). Gubernur-Jenderal Belanda di Batavia saat itu ialah wakil Raja Belanda yang berkedudukan di Den Haag, Eropa, untuk mengurus tanah jajahan Belanda seberang lautan bernama Oost Nederlands Indie (ONI) atau Hindia Belanda Timur (HBT). Raja Belanda masih mempunyai  tanah jajahan seberang lautan lain ketika itu bernama West Nederlands Indie (WNI) atau Hindia Belanda Barat (HBB), dan yang terakhir dikenal dengan Suriname terdapat di Amerika Selatan.

Awalnya, pemerintah Hindia Belanda menamakan Afdeeling Batak Landen (subbagian Tanah Batak) untuk kawasan yang ada disekitar danau Toba dengan ibukota Tarutung. Subbagian Tanah Batak yang lain dinamakan Afdeeling Padang Sidempuan untuk Tapanuli Selatan, dan Afdeeling Sibolga untuk Tapanuli Tengah. Penggabungan ketiga Afdeeling menjadi keresidenan Tapanuli dalam lingkungan pemerintahan Hindia Belanda muncul dari hasil penelitian Etnoloog (Belanda) atau Etnologist (Inggris), yakni ahli bangsa berikut suku-sukunya asal Belanda yang menemukan kesatuan logat (bahasa) dan adat-istiadat yang tampak jelas dalam masyarakat dalam ketiga afdeeling, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun upacara adat. Lingkungan alam yang memudahkan perhubungan, kekerabatan, perkawinan, dan agama, juga turut berperan terhadap hasil penelitian ketika itu. Pemerintahan Hindia Belanda lalu mengelompokkan suku-suku bangsa Batak yang mendiami daratan pulau Sumatera menurut logat dan adatnya kedalam sejumah puak, yakni: Karo, Simalungun, Pakpak dan Dairi, Toba, Angkola, dan Mandailing, yang dikenal luas sampai kini.

Pada tahun 1867 Tanah Batak masih menjadi bagian dari Gouvernement van West Kust (Guber-nemen Sumatera Barat) yang berkedudukan di Padang, Sumatera Barat, dengan ibukotanya Pa-dang Sidempuan. Lalu pada tahun 1906, Tanah Batak memisahkan diri dan membentuk keresi-denan Tapanuli dengan ibukotanya Sibolga. Keresidenan Tapanuli kemudian dibagi kedalam dua Afdeeling oleh pemerintah Hindia Belanda, masing-masing: Afdeeling Tapanuli Utara dibawah  Asisten Residen berkedudukan di Tarutung, dan Afdeeling Tapanuli Selatan dibawah Asisten Residen berkedudukan di Padang Sidempuan. Afdeeling akhir ini oleh pemerintah Hindia Belanda dipecah menjadi 8 (delapan) Onderafdeeling, yang setiap darinya dipimpin seorang Controleur berkedudukan di: Batang Toru, Angkola, Sipirok, Padang Bolak, Barumun, Manda-iling, Ulu dan Pakantan, dan Natal.

Dibawah Onderafdeeling pemerintah Hindia Belanda memperkenalkan Distrik yang dipimpin oleh seorang Demang. Dibawa Distrik diperkenalkannya Onderdistrik dipimpin Asisten De-mang. Dibawah asisten Demang pemerintah Hindia Belanda memperkenalkan Kuria yang me-mimpin Hakuriaan (Kekuriaan) untuk membawahi Huta berikut sawah ladang dan lingkungan la-innya. Kata Kuria berasal dari Curia, istilah pemerintahan yang terdapat dalam Gereja Katholik di Vatikan, Roma, Italia; lalu oleh pemerintah Hindia Belanda diperkenalkan di Tanah Batak. Dari Curia lalu ditulis Kuria, melahirkan istilah Hakuriaan dalam bahasa Batak. Dengan Haku-riaan pemerintah Hindia Belanda berusaha menghilangkan kata Luhat atau Banua dipimpin Raja Panusunan Bulung (RPB) dari peredaran, yang ketika itu tengah bersemayam dalam fikiran o-rang-orang Batak yang menjadi kebanggaan daerah. Meski pemerintah Hindia Belanda tampak-nya tidak berminat mencampuri urusan pemerintahan Huta yang dijalankan sesuai Adat Batak setempat, akan tetapi dalam pelaksanaannya Belanda banyak mempengaruhi siapa yang sela-yaknya dijadikan Raja Pamusuk untuk memimpin sebuah Huta.

Dengan semakin merosotnya anggaran pendapatan pemerintah Hindia Belanda di Tapanuli Se-latan, onderafdeeling yang delapan bilangannya ketika itu, lalu disusutkan menjadi 4 (empat), masing-masing: Angkola dan Sipirok, Mandailing Besar dan Kecil Ulu serta Pakantan, Natal dan Batang Natal, dan Padang Lawas. Dan menjelang bertekuk lutut kepada Jepang, pemerintah  Hindia Belanda lalu menyusutkan lagi keempat Onderafdeeling menjadi 3 (tiga), masing-masing: Angkola dan Sipirok, Padang Lawas, Mandailing dan Natal.

Amang Tobang Sengel Harahap (1846-1928), gelar Baginda Parbalohan dengan istrinya Giring Siregar, gelar Ompu ni Sutor, boru Regar dari Bunga Bondar, putri Ja Diatas Siregar, mendapat karunia tiga orang anak, semuanya laki-laki, masing-masing:.

                1. Abdul Hamid Harahap, lahir di Bunga Bondar….tahun 1876.

                2. Kasim Harahap, lahir di Bunga Bondar ….tahun 1881.

                3. Rakhmat Harahap, lahir di Bunga Bondar ….ahun 1883.

Setelah Inang Tobang Giring Siregar, gelar Ompu ni Sutor berpulang ke Rakhmatullah, beliau  digantikan ….…., gelar Ompu ni Kasibun.

Menunaikan Ibadah Haji ke Mekah di Madinah

Pada bulanana Desember 1927 Amang Tobang Baginda Parbalohan melakukan peralanan untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci di Mekah dan Madinah, Saudi Arabia. Adapun rombo-ngan yang berangkat dari Tanah-air terdiri dari  (lima) orang: Amang Tobang Baginda Parba-lohan, Inang Tobang Ompu ni Kasibun, Amang Tobang Kampung Harahap dari Bunga Bondar, Ompung Rachmat Harahap dari Hanopan, dan Uda Nurdin Harahap dari Hanopan yang akan belajar agama di Tanah Suci. Mereka berangkat dari Belawan naik kapal laut menuju Jeddah di Saudi Arabia. Rombongan berhasil menunaikan ibadah haji selama di Tanah Suci, lalu setelah melakukan tawaf wada bersiap kembali ke Tanah-air. Setelah menyelesaikan ibadah haji Amang Tobang Sengel Harahap (1846-1928), gelar Baginda Parbalohan, memperoleh nama baru, masing-masing: Haji Tuan Syekh Muhammad Yunus; Amang Tobang Kampung Harahap mendapat nama Haji Tuan Syekh Muhammad Jalil; Ompung Rachmat Harahap mendapat na-ma Haji Sutan Nabonggal; Uda Nurdin Harahap mendapat nama: Haji Nurdin. Yang disebut akhir ini harus tinggal di Mekah untuk belajar agama, sehingga rombongan yang kembali ke Ta-nah-air tinggal 4 (empat) orang, yakni: Amang Tobang, Inang Tobang, Amang Tobang Kam-pung Harahap, Ompung Rachmat Harahap.

Amang Tobang Berpulang ke Rahmatullah

Selama di Mekah di akhir perjalanan menunaikan ibadah haji, Amang Tobang masih menunjuk-kan keadaan badan sehat dan melakukan tawaf wada mengitari mengitari Ka’bah. Rombongan lalu naik kendaraan yang akan mengantarkan mereka menuju Jeddah, dimana kapal yang akan membawa kembali ke Tanah-air berlabuh. Rombongan yang awalnya terdiri dari 5 (lima) orang lalu kembali ke tanah-air 4 (empat) orang. Dalam perjalanan kembali menuju Jeddah naik bus, dengan tidak memperlihatkan gangguan kesehatan kecuali usia yang telah lanjut, Amang Tobang tiba-tiba merasa tidak enak badan lalu lemah. Ia kemudian dipeluk oleh adiknya Amang Tobang Tuan Syekh Muhammad Jalil dan anaknya Opung Haji Abdullah Umar. Dikabarkan beliau ber-pulang ke Rachmatullah dalam peralanan menuju ke Jeddah, kemudian dimakamkan di kota pelabuhan Saudi Arabia itu tahun 1928.

Wafatnya Amang Tobang Baginda Parbalohan di Tanah Suci, menyebabkan rombongan yang terdiri dari 4 (empat) orang kembali ke Tanah-air tinggal 3 (tiga) orang, yakni: Inang Tobang Ompu ni Kasibun, Amangtobang Syeh Muhammad Jalil, dan Opung Sutan Nabonggal. Setiba  rombongan di Bona Bulu mereka disambut dengan isak tangis duka kehilangan yang dalam.  Setibanya di Bunga Bondar, di simpang empat Bunga Bondar, di rumah tempat kelahiran Amang Tobang Baginda Parbalohan rombongan disambut deraian air mata ketika mengetahui pimpinan rombongan tidak turut kembali karena telah berpulang ke Rachmatullah di Jeddah. Kahanggi yang berdiam di rumah itu, kaum kerabat, kenalan, dan handai tolan datang meramaikan suasana untuk menyampaiken rasa duka atas kehilangan orang yang sangat mereka dicintai.

Mereka datang melayat bergantian untuk menyampaikan rasa duka yang dalam kepada rom-bongan dan sanak keluarga terdekat yang ditinggalkan. Maklum ketika itu belum ada sarana komunikasi yang dapat mengirim khabar duka dengan cepat ke Hanopan dan Bunga Bondar; dan satusatunya jalan berita sampai di kampung halaman ialah yang disampaikan rombongan haji yang kembali dari Tanah Suci setelah menunaikan rukun Islam kelima. Para pelayat mengharap ketabahan dan kesabaran rombongan dan sanak keluarga dekat yang terdapat di Bunga Bundar, serta bertawakkal kepada Allah Suhanahu Wataala atas musibah yang terjadi. Pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran ul Karim lalu dikumandangkan di rumah duka di Bunga Bondar.

Dari Bunga Bondar rombongan melanjutkan perjalanan ke Hanopan. Dari 3 (tiga) orang anggota keluarga yang pulang dari Tanah Suci kini tinggal 2 (dua) orang, masing-masing: Inang Tobang Ompu ni Kasibun dan Opung Sutan Nabonggal, karena Amang Tobang Tuan Syeh Muhammad Jalil berasal dari Bunga Bondar. Namun Amang Tobang ini ikut juga ke Hanopan untuk berkumpul di Bagas Godang Hanopan menyampikan khabar duka kepada keluarga dan sanak saudara. Di Hanopan rombongan kembali disambut dengan deraian air mata saat mengetahui bahwa Amang-tobang Baginda Parbalohan, Raja Pamusuk di kampung itu, telah berpulang ke Rakh-matullah dalam perjalanan pulang dari menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Acara menurut Adat Batak lalu diselenggarakan sehubungan dengan berpulangnya Raja Pamu-suk pertama di kampung Hanopan. Pembacaan ayat-ayat suci dari Al-Quran pun dilangsungkan dengan tahlilan guna memanjatkan doa untuk almarhum Amang Tobang Baginda Parbalohan dan kedua orang tuanya yang telah berpulang ke Rakhmatullah di waktu silam, agar kepada semua yang ditinggalkan diturunkan-Nya kesabaran dan ketabahan menghadapi kedukaan yang sedang melanda ditinggal Amang Tobang Baginda Parbalohann karena beliau telah dipanggil  Sang Khalik untuk menghadapNya. Amin.

Surat Wasiat

SURAT PARTINGGAL

HAJI SENGEL HARAHAP

(1846-1928)

GELAR

BAGINDA PARBALOHAN

OMPU NI SUTOR

TUAN SYEKH MUHAMMAD YUNUS

(Ditulis tanggal 3 Desember 1927 dalam aksara Batak, di Hanopan)

On ma suratku partinggal di hamu amang. Ulang hamu marbadai anso manjadi pancarian mu-nu. Taringot tu saba julu madung ta bagi do i. Olat ni bondar tu balok ni si Gardok dohot panjaean ni si Badul, i ma di si Kasim. Saba na hu baen i, muda mate au, tinggal di si Rachmat tamba ni saba na dibaennia. Bagian ni si Badul ima saba tonga sian julu Ja Saidi, sian jae si Kariaman dohot si Mamin. Nadung tahinta do i najolo.

Taringot tu bagas dohot parbagasan ulang hamu amang marsietongan. Na di pakarangan ni si Kasim tinggal disia harambir dua batang, pining, bulu, parira, bakore. Di si Rachmat harambir na di kobun ni Baginda Pangibulan, i ma sada na dilambung sopo ni si Gardok.

Taringot tu bagas godang on amang madung huisinkon di si Badul, umbahat do poko nia tusi. Nada tola dohononmunu partopan bagas i. Harambir dua batang, unte sabatang, jambu sabatang, lancat sabatang, mangga dua batang. Harambir na di sopo Nagodang i si Badul do nampuna i dohot kuéni i.

Amang jagit hamu ma sipaingotkon:

                                             Indalu batiti, indalu batonang,

                                             indalu pasitik manuk butongan.

Amang, anggo saba jae nada bagian munu be i, panjaean ni pahompu siangkaan, dohot bagian ni boru pahompu dohot ibotongku; bagianna songon on:

                 Saba i lima ruang.

                 ——————————————————————————————–

                 Dua roeang sian joeloe on i ma bagian ni si Sutor dohot  tobat dohot sopo na lopus

                 tu Baginda Pangibulan.

                 ——————————————————————————————–

                 Ruang patoluhon i ma bagian ni si Bahat lopus tu bondar ni Ja Tahanan.

                 ——————————————————————————————–

                 Ruang paopatkon dibagi dua: Satonga di si Sento dohot si Sanne, na satonga

                 nari di pahompu dadaboru sudena. Onom tangga di iboto hasurungan rimba-

                 onna.

                 ——————————————————————————————–

                 Ruang parjae i ma bagian ni si Dimpu lopus tu bondar ni Ja Tahanan.

                 ——————————————————————————————–

                 Amang, bagian ni boru on nada tola gadison ni halahi. Muda mate boru nada adong

                 panyundutna nada taruli bagian be. Anso tongtong adong bagian ni boru mamanjang,

                 manjujung hamu.

                 ——————————————————————————————–

Amang natolu sinmanjujung:

                                           Ulang hamu mangalaosi patik nanibaen 

                                           ni amamu, gusar Tuhan di hamu.

Taringot tu hapea i. Hapea na tobang on ma di si Sutor lalu tu aek i. Hapea naposo on dibagi dua: satonga sian jae di si Bahat, sian julu di si Dimpu.

Amang, tai anggo laing mangolu dope inangmu, nada tola buatonmunu saba jae sudena dohot hapea, anggo diboto ia aturan maranak di hamu.

Antong horasma di anak, horas di parumaen, horas di pahompu, sude dadaboru dohot halak-lahi. Botima.

Amang, taringot tu pahompu halaklahi i sudena ima lombu na di Padang Bolak na salapan bolas i. Ima bagi hamu di halahi, dosdos bagi hamu. Bulu soma parjulu di si Bahat. Bulu surat di si Dimpu. Bulu poring, bulu soma na di kobun i di si Sutor.

Tobat na di julu ni hapea natobang i dohot pakaranganna madung hu lehen di si Peli sudena.

Madabu sada, madabu dua, ilu sipareon ni amamu.

Botima,

Horas ma di pomparanku sudena!

BAGINDA PARBALOHAN

 3-12-‘27

Penjelasan:

1. Surat Partinggal Amang Tobang ini ditulis dalam Aksara Batak di Hanopan dan ditemukan dalam

    arsip surat-surat Sutor Harahap, gelar Baginda Pandapotan, cucu tertua, ialah anak sulung dari

    Sutan Hanopan.

2. Alih aksara dari Batak ke Latin masih dalam Bahasa Batak, dikerjakan oleh cucu Baginda  Parbalo-

    han: H.M.Diri Harahap S.H., anak ke-8 Sutan Hanopan tanggal 26 Oktober 1974 di rumah kedia-

    mannya jalan Hang Tuah VIII/8, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

3. Sento Harahap adalah adik perempuan Baginda Parbalohan yang menikah dengan Ja Kola dari

    Batu Horpak.

4. Sanne Harahap ialah adik perempuan Baginda Parbalohan yang menikah dengan Baginda Hinalo-

    longan dari Bunga Bondar.

5. Kenis Harahap, gelar Baginda Pangibulan, Ompu ni Kaja, ialah adik kandung Baginda Parbalohan

    ke-14 yang berdiam di Hanopan.

6. Gardok Harahap, gelar Baginda Malim Muhammad Rahim, Ompu ni Marasali ialah adik kandung

    Baginda Parbalohan ke-15 juga berdiam di Hanopan.

7. Badul ialah nama kecil Abdul Hamid Harahap, Ompu ni Amir halak lahi, Tuan Datu Singar, gelar

    Sutan Hanopan, anak tertua, ialah putera sulung Baginda Parbalohan yang berdiam di Hanopan.

8. Kasim ialah nama kecil Mangaraja Elias Hamonangan, Ompu ni Paulina halak lahi, gelar Tong-

     ku Mangaraja Elias Hamonangan, ialah anak kedua Baginda Parbalohan yang juga berdiam di

    Hanopan.

9. Rachmat ialah nama kecil Haji Abdullah Umar, Ompu ni Mina halak lahi, gelar Sutan Nabonggal,

    ialah anak ketiga, anak bungsu Baginda Parbalohan yang menenemaninya menunaikan Ibadah

    Haji ke Tanah Suci di Mekah dan Madinah tanggal 3 Desember 1927 juga berdiam di Hanopan.

10. Sutor Harahap, gelar Baginda Pandapotan ialah anak sulung Sutan Hanopan, cucu sulung Baginda

      Parbalohan dari puteranya yang sulung.

11. Dimpu Harahap, gelar Baginda Parbalohan (Naposo) ialah anak laki-laki sulung Mangaraja Elias

      Hamonangan, cucu sulung Baginda Parbalohan dari puteranya yang kedua.

12. Bahat Harahap, ialah putera sulung Sutan Nabonggal, cucu sulung Baginda Parbalohan dari putera-

      nya yang ketiga.

13. Pelinuruddin Harahap, Haji Muhammad Nurdin, putera kelima Sutan Hanopan, cucu Baginda Par-

      balohan yang menemani menunaikan Ibadah Hadji ke Tanah Suci, lalu tinggal disana untuk belajar

      agama Islam.

14. Mamin, warga kampung Hanopan.

15. Ja Saidi, warga kampung Hanopan.

16. Kariaman, warga kampung Hanopan.

17. Ja Tahanan, warga kampung Hanopan.

                                                                               Alih bahasa dari Batak ke Latin dilakukan cucu

                                                                               Baginda Parbalohan: H. M. Diri Harahap S.H., gelar

                                                                               Baginda Raja Mulia Pinayungan.

                                                                               Lalu, tanggal 19 Mei 2009 diberi penjelasan oleh cicit

                                                                               Baginda Parbalohan: H.M.Rusli Harahap, gelar

                                                                               Sutan Hamonangan.

.

Pasidung Ari Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan

Karena Amang Tobang Baginda Parbalohan bepulang ke Rakmatullah dalam perjalanan kembali dari Mekah menuju  Jeddah, maka beliau dimakamkan di kota akhir ini. Meskipun demikian di dalam Bale Julu di Hanopan, dibuatkan juga makamnya untuk mengenang orang yang telah berjasa mendirikan kampung Marga Harahap di Luhat Sipirok, dengan menuliskan keterangan bahwa beliau di makamkan di Jeddah pada tahun 1928. Terniat dalam hati untuk membawa pu-lang “Saring-saringan” beliau yang begitu dicintai, akan tetapi karena tidak lagi dapat dilakukan maka dilakukanlah sebagaimana apa yang terlihat di Bale Jae ini. Amang Tobang Baginda Par-balohan pernah “berwasiat” kepada pomparannya agar membawa pulang ke Hanopan saring-saringan kaum kerabat yang berulang ke Rachmatulh dari perantauan dimanapun berada.

Melaksanakan Pasidung Ari Amang Tobang  

1. Menyampaikan undangan Pasidung Ari almarhum Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan   kepada: Dalihan na Tolu, Hatobangon, dan Harajaon, mulai dari Hanopan, Bunga Bondar, Parau Sorat, hingga Panggulangan.

2. Para penyelenggara Acara Pasidung Ari.

           a. Raja Panusunan Bulung

           b. Paralok-alok na Pande

           c. Suhut Sihabolonan

           d. Kahanggi

           e. Hombar Suhut/Pareban

           f. Anak Boru

           g. Pisang Raut/Sibuat Bere

           h. Mora

           i. Hatobangon ni Huta Hanopan (Namora Natoras):

           j. Raja ni Huta Hanopan

           k. Raja-raja ni Huta Torbing Balok

           l. Raja-raja Luat ni Desa na Walu.

3. Pemasangan bendera-bendera adat di depan rumah duka di Bagas Godang Hanopan.

4. Mengeluakan Perbendaharaan Adat:

       a. Bulang

       b. Koper berisi pakaian peninggalan almarhum.

       c. Abit Godang (Abit Batak, atau Ulos)

       d. Tikar Lapis (3, 5, atau 7 lapis)

       e. Burangir Nahombang dan Burangir Panyurduan.

       f. Payung Rarangan

       g. Bendera

       h. Tombak, Podang

       i. Tawak-tawak

       j. Tanduk Kerbau

5. Acara Adat Pasidung Ari

     I.  Pemakaman Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalihan, telah berlangsung di

          Jeddah Saudi Arabia tahun  1928.

   II. Upacara Adat Pasidung Ari.

         a. Menyembelih hewan Nabontar (Kerbau) di halaman Bagas Godang Hanopan.

         b. Menyiapkan ruangan.

         c. Dalihan Na Tolu, Hatobangon, Harajaon, dan masyarakat mengambil tempat dalam ru-

             ang tengah Bagas Godang Hanopan.

Bagian Pertama

(Sidang para Raja tanpa kaum ibu)

        d. Sidang Adat Haruaya Mardomu Bulung dipimpin Raja Panusunan Bulung (RPB).

        e. Orang Kaya pembawa acara minta anakboru manyurduhon burangir (panyurduan dan

            nahombang) lalu meletakkan keduanya dihadapan Raja Panusunan Bulung.

        f. Orang Kaya minta kepada Suhut Sihabolonan menyampaikan isi hatinya. Adapun pokok

            pembicaraan saat itu ialah:

               – melaporkan kepada Raja Panusunan Bulung bahwa: Sengel Harahap, gelar Baginda

                 Parbalohan Raja Pamusuk di Hanopan, telah berpulang ke Rachmatullah di Jeddah.

               – memohon kepada para Raja untuk menyampaikan khabar duka pada khalayak ramai.

               – bahwa keluarga almarhum telah menyelesaikan semua hutang adat (mandali), dan

                 diperkenankan menyelenggarakan horja siriaon.

               – memohon kepada para Raja untuk menyaksikan Suhut Sihabolonan menghadap

                 Moranya agar secara resmi menyampaikan berita duka ini.

       g. Setelah Suhut Sihabolonan berbicara, kemudia disusul Pareban, Anakbpru, Pisang, Raut,

           Mora, Hatobangon, Harajaon, sampai dengan Raja-raja torbing balok.

       h. Setelah seluruhnya berbicara, Raja Panusunan Bulung memutuskan untuk mengabulkan

           seluruh permohonan Suhut Sihabolonan.

          Pembacaan doa, lalu sidang Adat Batak bagian pertama selesai.

      i. Pembagian daging Nabontar terjinjing baiyon loging dibagikan kepada seluruh yang hadir da-

lam sidang pasidung ari.

         Inilah cara Adat Batak untuk menyebarluaskan khabar duka di Bona Bulu kepada masyarakat,

         bahwa:

Amang Tobang: Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan,

                              telah berpulang ke Rachmaullah dari tengah hadirin semua.

         Adapun cara pembagian nabontar yang berlaku di Bona Bulu ketika itu ialah

         sebagai berikut:

                                  1. Suhut dan Kahanggi : ate-ate dan pusu-pusu.

                                      (maksudnya agar sapangkilalaan, artinya sependeritaan)

                                  2. Anakboru : juhut jantung, udut rungkung

                                      (artinya: yang mempunyai kekuatan untuk manjuljulkon)

                                  3. Pisang Raut : juhut holi-holi dan kaki depan.

                                      (maknanya: agar cekatan dan rajin bekerja)

                                  4. Raja-raja dan Hatobangon : juhut na marbobak, sude gorar-goraran.

                                      (maknanya: agar menjadi pangidoan na bisuk dohot uhum)

                                  5. Raja Panusunan Bulung : lancinok sude gorar-goraran

                                      (maknanya: tempat memperoleh parsilaungan, paronding-ondingan)

                                  6. Mora tulan rincan, gorar-goraran

                                      (maknanya: tempat memomohon sahala dohot bisuk).

                                  Ketika menyerahkan bagian Mora, daging diletakkan diatas anduri ber-

                                  alaskan daun pisang, lalu ditutup daun yang sama dari atas kemudian

                                  diatas semuanya ditempatkan abit Batak.

Bagian Kedua

(Sidang Adat Dalihan Natolu yang dihadiri kaum ibu)

Raja Panusunan Bulung, Raja Pamusuk, Harajaon Torbing Balok, dan Hatobangon bertindak sebagai saksi terhadap jalannya persidangan.

   a. Menyerahkan Hasaya ni Karejo dilakukan oleh Suhut Sihabolonan:

       1. Kepada Mora: tulan rincan, ate-ate, mata, dan pinggol diletakkan diatas anduri beralaskan

           daun pisang.

           Mora menebus dengan kembalian diatas Pinggan Raja (porselen) bertabur beras.

       2. Kepada Anakboru: udut rungkung, juhut jantung diletakkan diatas anduri beralaskan daun

           pisang.

           Anakboru menebus dengan kembalian diatas Pinggan Raja (porselen) bertabur beras.

       3. Suhut Sihabolonan dan kahanggi menyerahkan pemberian mereka kepada Mora.

   b. Menyiapkan ruangan.

           Mora duduk di juluan berseberangan dengan Suhut, Kahanggi, Anakboru, Pisang Raut,

           mengambil tempat duduk saling berhadapan. Hatobangon dan para Raja duduk disebe-

           lah kanan dan kiri Mora untuk menyaksikan.

    c. Anakboru manyurduhon Burangir.

    d. Suhutsihabolonan mengutarakan isi hatinya kepada Mora, perihal:

                     – bahwa Raja Pamusuk dari Bagas Godang Hanopan telah berpulang ke Rakhma-

                       matullah

                     – agar mora tidak lagi mengharapkan kedatangannya di masa depan memperlihatkan

                       hormat kepada mora sebagaimana yang ditunjukkannya selama ini.

    e. Setelah Suhutsihabolonan marlidung, kemudian disusul Pareban, Anakboru, Pisang Raut.

    f. Pakaian peninggalan Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan dalam peti

        diperlihatkan kepada mora sebagai “pangitean ni namangolu”, dengan harapan agar mora

        tidak lagi menantikan kedatangan anakborunya sebagaimana yang dilakukannya selama ini.

   g. Mora kemudian menjawab Suhut Sihabolonan dan menerima resmi peti pakaian peninggalan

       almarhum Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan beserta isinya.

       Mora meminta agar isi kopor peninggalan almarhum dibagikan kepada  semua kahanggi.

       Acara Adat Pasidung Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan selesai.

Pendidikan dan Pekerjaan Ketiga Putera Baginda Parbalohan

                1. Abdul Hamid Harahap (1876-1939), gelar Sutan Hanopan, juga bernama Tuan Datu

                    Singar. lahir di Bunga Bondar, menempuh pendidikan Sekolah Gouvernement di

                    Sipirok. Pekerjaannya menjadi Raja Pamusuk di Hanopan setelah ayahnya Baginda

                    Parbalohan berpulang ke Rakhmatullah di Jeddah pada tahun 1928.

                2. Kasim Harahap (1881-1944), Tongku Mangaraja Elias Hamonangan lahir di Bunga

                    Bondar. menempuh pendidikan Sekolah Gouvenement di Sipirok. Pekerjaan menjadi

                    Raja Pamusuk di Hanopan setelah Sutan Hanopan wafat tahun 1939.

                3. Rakhmat Harahap (1883-1962), gelar Sutan Nabonggal lahir di Bunga Bondar.

                    Ompung Sutan Nabonggal menyertai ayahnya menunaikan ibadah haji ke Mekah

                    dan madinah tahun 1927 memperoleh gelar Haji Abdullah Umar.

Amang Tobang Menikahkan Ketiga Putera bersama para cucu:

                1. Ompung Sutan Hanopan menikah dengan Dorima Siregar, gelar Ompu ni Amir

                    Boru Regar dari Bunga Bondar, putri Sutan Bungabondar. Adapun keturunannya:

                                               1. Sutor, lahir 15 Juni 1896 di Bunga Bondar.

                                               2. Maujalo, lahir 10 September 1901 di Bunga Bondar.

                                               3. Siti Angur (pr), lahir ….  1905 di Hanopan.

                                               4. Dumasari (pr), lahir …. 1908 di Hanopan.

                                               5. Pelinuruddin, lahir …..1911 di Hanopan.

                                               6. Aminah (pr), lahir …..1912 di Hanopan.

                                               7. Sorimuda (Hisar), lahir ….. 1913 di Hanopan.

                                               8. Diri (Din), lahir ….. 1915 di Hanopan.

                                               9. Muhammad, lahir …..1917 di Hanopan.

                                             10. Khairani (Erjep, pr), lahir ……1920, di Hanopan.

                                             11. Marajali, lahir……1922 di Hanopan.

                                             12. Pamusuk, lahir …..1925 di Hanopan.

                2. Ompung Tongku Mangaraja Elias Hamonangan menikah dengan Petronella Siregar,

                    gelar Ompu ni Paulina, juga Naduma Bulung Pangondian, boru Regar, putri ke-4

                    Ompu Raja Oloan Siregar dari Bunga Bondar, Adapun keturunannya:

                                               1. Surto Meta Khristina (Tabiran, pr), lahir…. di Hanopan.

                                               2. Dagar Na Lan (Dagar, pr), lahir…..di Hanopan.

                                               3. Dimpu, lahir….. di Hanopan.

                                               4. Menmen (pr), lahir di Hanopan.

                                               5. Siti Dinar (Dinar, pr), lahir di Hanopan.

                                               6. Partaonan (Parta), lahir di Hanopan.

                                               7. Hakim, lahir di Hanopan.

                                               8. Poma, lahir di Hanopan.

                                               9. Krisna Murti (Murti, pr), lahir di Hanopan.

                                             10. Bagon, lahir…..1922 di Hanopan.

                                             11. Bakhtiar (Samsu), lahir 23 Agustus 1924 di Hanopan.

                                             12. Toga Mulia (Toga), lahir 30 Juli 1928 di Hanopan.

                                             13. Sitiurma (Tiurma, pr), lahir 31 Agustus 1936 di Hanopan.

                3. Ompung Rakhmat Harahap, gelar Sutan Nabonggal, juga Haji Abdullah Umar, de-

                    ngan istri Gorga Siregar, gelar Ompu ni Mina, boru Regar dari Bondar Sampulu, i-

                    boto Sutan Kalisati Siregar. Adapun keturunannya:

                                              1. Bahat, lahir…….di Hanopan.

                                              2. Utir (pr), lahir di Hanopan.

                                              3. Marip, lahir 11 April 1927 di Hanopan.

                                              4. Sahada (pr), lahir di Hanopan.

                                              5. Malige (Lige, pr), lahir di Hanopan.

                                              6. Zainuddin (Sai), lahir di Hanopan.

                                              7. Siti Aisyah (Cia, pr), lahir di Hanopan.

               Seluruh cucu Amang Tobang Baginda Parbalohan berjumlah 32 orang.

——–selesai——-

          Disusun oleh:

          H.M.Rusli Harahap,

          gelar Sutan Hamonangan

          Jalan Batu Pancawarna I/2A, Pulomas

          Jakarta 13210. Tel: 472-2243.

Posted by: rusliharahap | November 14, 2013

Belajar Menulis Artikel Di Internet

Mithologi Batak

Sebelum kedatangan agama Islam ke Nusantara sekitar abad ke-13 silam, dan masuk ke Tanah Batak dalam Perang Paderi (1825-1838), disusul agama Nasrani bersama pemerintah Hindia Belanda; masyarakat di Tanah Batak sesungguhnya telah memiliki kepercayaan kepada Yang Maha Esa, yang menjadikan segala yang ada di Alam Raya dan mengaturnya sekali, baik yang terdapat di Alam-Pamatang atau Alam-Benda bersifat kebendaan atau materi dimana beragam kehidupan menempati ruang hadir secara lahiriah, maupun di Alam-Tondi atau Alam-Ruh, dimana berbagai kehidupan bukan-Benda atau Immaterial bersemayam, sebagaimana yang diajarkan Ompu Simulajadi (Nenek Moyang suku-bangsa Batak  yang pernah ada) silam. 

Hal ini diketahui dari berbaga kisah purba dan legenda Batak disampaikan secara turun-temurun dalam perjalanan waktu panjang menelusuri generasi dan berkesinambungan menempuh zaman di berbagai kesempatan termasuk saat perhelatan Adat Batak corak siriaon (kebahagiaan) maupun siluluton (kedukaan), turian, seni budaya, kerajinan, arsitektur bangunan yang sudah menjadi perbendaharaan suku-bangsa Batak. Begitu juga Adat Batak yang telah berkembang berabad lamanya mengendalikan beragam kerajaan Batak yang berusaha untuk mensejahterakan kehidupan suku-bangsa, mulai: pemerintahan, penegakan hukum, keadilan, hubungan kekerabatan, nilai, keamanan, dan masih banyak lagi sampai saat ini. Juga kehadiran Debata yang bersemayam di Banua Ginjang dikatakan mempunyai kesaktian yang mendatangkan kesejahteraan hdup kepada yang percaya.

Tidak disangsikan lagi cara berfikir suku-bangsa Batak yang dikembangkan lewat penalaran dialektika logis memanfaatkan berbagai ungkapan bahasa, pernyataan, dan lain termasuk kekayaan metaphor, baik disampaikan cara lisan maupun tulis. Khazanah yang diawali aksara Batak kemudian Latin, masih banyak berperan dan berpengaruh dalam masyarakat Batak sampai saat ini, baik ragam budaya, dengan bahasa, aksara, hikayat, pantun, sajak, ungkapan, perumpamaan hingga nada; demikian juga sejumlah peninggalan arkeologi, bangunan, dan lain sebagainya, melahirkan apa yang dikenal dengan sistim kepercayaan dan budaya corak suku-bangsa Batak yang bermukim di Bona Bulu (Kampung Halaman) silam.

Alam Raya

Menurut pandangan Ompu Simulajadi pertama ada silam, Alam Raya terkembang mengelilingin kehidupan mahluk: tumbuhan, hewan, dan manusia, terdiri dari 3 (tiga) Banua, atau Alam, masing-masing daripadanya dinamakan: Banua-Ginjang (Alam Atas), Banua-Tonga (Alam Tengah), dan Banua-Toru (Alam Bawah), dan tidak lain dari Sekawan Tiga Alam, disingkat STA. Semua kehidupan yang terdapat di Banua-Tonga, awalnya bersemayam di Banua-Ginjang mengambil wujud Tondi (Jiwa), lalu oleh sebuah ketentuan harus pindah ke Banua-Toru.

Dalam perjalanan atau migrasi ke Banua-Toru, berbagai mahluk disebutkan perlu terlebih dahulu mampir di Banua-Tonga guna membuat persiapan. Untuk menyatakan kehadiran setiap di tempat akhir ini, masing-masing perlu menjemput benda atau materi guna menyatakan keberadaannya di tempat baru, yakni Alam Benda atau Alam Materi, dan tidak lain adalah bumi. Lalu setelah melakukan persiapan menjalanikehidupan di Banua-Tonga, masing-masing mahluk secara sendiri atau berkelompok, kemudianmelajutkan perjalanan menuju Banua-Toru. Dalam melanjutkan perjalanan ke Banua-Toru setiap mahluk perlu terlebih dahulu mengembalikan setiap benda atau materi yang dipinjam dari Banua-Tonga. Dengan demikian lahir sebentuk kepercayaan dalam suku-bangsa Batak terkemas dalam wujud kisah purba lalu berkembang menjadi mitos (myth). Dan yang akhir ini kemudian dikenal dengan   sebuah: “cara pandang suku-bangsa Batak” yang selanjutnya dinamakan: “Mithology Batak”, atau “Batakologi”.

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.