Posted by: rusliharahap | July 17, 2010

Mithologi Batak

Sebelum kedatangan agama Islam ke Nusantara sekitar abad ke-13 silam, dan masuk ke Tanah Batak dalam Perang Paderi (1825-1838), disusul agama Nasrani bersama pemerintah Hindia Belanda; masyarakat di Tanah Batak sesungguhnya telah memiliki kepercayaan kepada Yang Maha Esa, yang menjadikan segala yang ada di Alam Raya dan mengaturnya sekali, baik yang terdapat di Alam-Pamatang atau Alam-Benda bersifat kebendaan atau materi dimana beragam kehidupan menempati ruang hadir secara lahiriah, maupun di Alam-Tondi atau Alam-Ruh, dimana berbagai kehidupan bukan-Benda atau Immaterial bersemayam, sebagaimana yang diajarkan Ompu Simulajadi (Nenek Moyang suku-bangsa Batak  yang pernah ada) silam. 

Hal ini diketahui dari berbaga kisah purba dan legenda Batak disampaikan secara turun-temurun dalam perjalanan waktu panjang menelusuri generasi dan berkesinambungan menempuh zaman di berbagai kesempatan termasuk saat perhelatan Adat Batak corak siriaon (kebahagiaan) maupun siluluton (kedukaan), turian, seni budaya, kerajinan, arsitektur bangunan yang sudah menjadi perbendaharaan suku-bangsa Batak. Begitu juga Adat Batak yang telah berkembang berabad lamanya mengendalikan beragam kerajaan Batak yang berusaha untuk mensejahterakan kehidupan suku-bangsa, mulai: pemerintahan, penegakan hukum, keadilan, hubungan kekerabatan, nilai, keamanan, dan masih banyak lagi sampai saat ini. Juga kehadiran Debata yang bersemayam di Banua Ginjang dikatakan mempunyai kesaktian yang mendatangkan kesejahteraan hdup kepada yang percaya.

Tidak disangsikan lagi cara berfikir suku-bangsa Batak yang dikembangkan lewat penalaran dialektika logis memanfaatkan berbagai ungkapan bahasa, pernyataan, dan lain termasuk kekayaan metaphor, baik disampaikan cara lisan maupun tulis. Khazanah yang diawali aksara Batak kemudian Latin, masih banyak berperan dan berpengaruh dalam masyarakat Batak sampai saat ini, baik ragam budaya, dengan bahasa, aksara, hikayat, pantun, sajak, ungkapan, perumpamaan hingga nada; demikian juga sejumlah peninggalan arkeologi, bangunan, dan lain sebagainya, melahirkan apa yang dikenal dengan sistim kepercayaan dan budaya corak suku-bangsa Batak yang bermukim di Bona Bulu (Kampung Halaman) silam.

Alam Raya

Menurut pandangan Ompu Simulajadi pertama ada silam, Alam Raya terkembang mengelilingin kehidupan mahluk: tumbuhan, hewan, dan manusia, terdiri dari 3 (tiga) Banua, atau Alam, masing-masing daripadanya dinamakan: Banua-Ginjang (Alam Atas), Banua-Tonga (Alam Tengah), dan Banua-Toru (Alam Bawah), dan tidak lain dari Sekawan Tiga Alam, disingkat STA. Semua kehidupan yang terdapat di Banua-Tonga, awalnya bersemayam di Banua-Ginjang mengambil wujud Tondi (Jiwa), lalu oleh sebuah ketentuan harus pindah ke Banua-Toru.

Dalam perjalanan atau migrasi menuju Banua-Toru, beragam mahluk disebutkan diatas akan terlebih dahulu singgah di Banua-Tonga melakukan persiapan, baik yang untuk ditinggalkan, maupun yang akan dibawa ke Banua-Toru. Kemudian untuk menyatakan keberadaan masing-masing di Banua-Tnga, setiap mahluk perlu menjemput benda atau materi untuk menyatakan kehadirannya di tempat yang baru, yakni Alam Benda atau Alam Materi, yang tidak lain tidak bukan ialah bumi ini. Lalu setelah membuat persiapan dengan menjalani kehidupan di Banua-Tonga, setiap mahluk baik secara sendiri atau dalam kelompok, lalu melajutkan perjalanan ke Banua-Toru. Dalam meneruskan per-jalanan migrasi ke Banua-Toru setiap mahluk harus mengembalikan benda atau materi yang dipinjam ke tempat asalnya di Banua-Tonga. Dengan demikian lahir sebuah kepercayaan dalam masyarakat suku-bangsa Batak terkemas dalam bentuk kisah purba yang berkembang menjadi sebuah mitos (myth). Dan yang akhir ini lalu menjadi  sebuah pandangan hidup suku-bangsa Batak” yang boleh dinamakan: “Mithology Batak”, atau “Batakologi”.

Dalam pandangan Ompu Simulajadi di atas, Banua Ginjang merupakan sebuah tempat indah bagai Surga nan menawan terang benderang jauh di ketinggian angkasa, selepas arakan awan putih merona jauh diatas disana, berlatar belakang hamparan langit biru. Adapun Banua-Tonga ialah hamparan permukaan bumi bergunung lembah serta datar dimana: manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan menyebar dalam kehadiran serentang hayat yang bersifat sementara. Sedangkan Banua-Toru ialah kedalaman bumi kelam legam di bawah, kemana seluruh yang bernyawa mengembalikan raga masing-masing, setelah menjalani kehidupan hayati melakukan persiapan selama bermukim di Banua-Tonga atau bumi ini.

Pada saat itu suku-bangsa Batak masih menyangka bumi ini adalah sebuah hamparan lahan luas lagi datar, maka dalam pemikiran mereka ketiga Banua yang diutarakan Ompu Simulajadi seyogianyalah tersusun beraturan dari atas ke bawah bagai kue talam raksasa lapis tiga yang terbaring di atas talam yang sangat luas. Begitulah awalnya penerimaan suku-bangsa Batak atas Alam Raya ini tergores dalam fikiran dan ingatan mereka di Bona Bulu silam, dan pemahaman ini pun telah menjadi kepercayaan dalam masyarakat, karena mereka yakin di Banua Ginjang bersemayam Debata yang mengatur dan mengawasi segala yang ada dalam setiap Alam, termasuk muka bumi tempat dimana mereka berdiam.

Orang-orang Batak dituntut menjalani kehidupan dunia sebagaimana yang diajarkan Ompu Simulajadi, dan dalam perkembangannya menjadikan apa yang kemudian dikenal dengan Adat Batak. Adat Batak adalah himpunan dari kebijakan untuk hidup bersama dalam masyarakat, yang memelihara kerukuan, dan meangani perbedaan, guna kesejah-teraan bersma. Maksudnya untuk membuat setiap warga horas (selamat) tondi dan badan, melakukan persiapan selama berdiam di Banua Tonga yang sementara; juga agar sinta-sinta (seluruh keinginan) selama hidup: hamoraon (keteladanan), hagabeon (anak dan ke-kayaan), dan hasangapon (martabat), dapat dikabulkan oleh Debata kepada setiap hambanya yang setia mengamalkan Adat Batak sepanjang hidup di banua Tonga sebagai persiapan  meneruskan perjalanan ke Banua-Toru selanjutnaya.

Dari STA, lahir falsafah hidup (ideology atau weltanschauung) suku-bangsa Batak tentang pandangan “serba tiga” untuk apa saja yang ditemukan dalam hidup ini. Sudut pandang keserbatigaan ini melahirkan “trilogi ” Batak, yang lalu dijabarkan secara konsisten ke berbagai sektor kehidupan masyarakat kepada manusia Batak itu sendiri. Penjabaran berlanjut hingga menciptakan “paket lengkap sistim kemasyarakatan (complete packet of social system)”, yang dibutuhkan untuk menangani beragam persoalan hidup yang timbul dalam komunitas suku-bangsa Batak di Bona Bulu saat itu; lalu mengabadikannya men-jadi tiga warna sekwan, masing-masing: putih untuk yang serba terang benderang di Banua Ginjang dimana Debata bersemayam; merah untuk darah mahluk yang hidup se-mentara di Banua Tonga; dan hitam untuk kelam legam di Banua Toru yang gelap gulita karena tidak menerima cahaya samasekali.

Ketiga ragam warna: putih, merah, dan hitam, lalu membentuk Sekawan Warna Batak, disingkat SWB, yang dapat ditemukan pada beragam hasil kerajian tangan suku-bangsa Batak, seperti: abit Batak (kain Batak), benda-benda budaya Batak: hiasan, umbul-umbul, dan lainnya. Kawanan warna Batak ini dapat juga ditemukan dalam berbagai bangunan dan rumah adat Batak, antara lain: Bagas Godang (Rumah Adat), Sopo Godang (Balai Pertemuan), Bale (Makam), dan lainnya, bentuk: ukiran batu, kayu, dan aneka ragam hiasan pada horja (perhelatan). Bendera, atau lambang, suku-bangsa Batak juga SWB, yaitu tiga warna sekawan (triple-colour) berturut-turut dari atas ke bawah: putih, merah, dan hitam.

Bedera Batak

Tanah Batak

SWB kemudian menjadi warna penghias atau ornamen hasil kerajinan suku-bangsa Ba-tak, seperti: ulos (kain Batak), banguan-bangunan hasil kerajinan suku-bangsa Batak, dan lain sebagainya. Tujuannya tidak lain untuk selalu mengingatkan orang-orang Batak akan hadienya tiga banua di Alam Raya ini, dan hidup di Banua Tonga yang dijalani: manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan sesungguhnya adalah “perjalanan agung” mahluk dari Banua Ginjang menuju Banua-Toru dengan terlebih dahulu singgah di Banua-Tonga untuk membuat persiapan sebelum melanjutkan perjalanan ke Banua-Toru. Berbagai penerapan trilogi Batak dapat diketengahkan sebagaimana yang dikengahkan oleh penjelasan dibawah ini:

Tungku

Dari SWB, Trilogi Batak lalu berpindah ke tataring (tempat bertanak) yang menjadi pusat kehidupan manusia setelah mengenal api. Makanan adalah hangoluan (kehidupan) kata mereka, dan untuk menyangga periuk tanah (tempat hangoluan berada) di atas bara api yang yang menyala, diperlukan tiga dalihan (tungku). Dua dalihan tidak cukup, karena periuk diletakkan akan terjungkal, sedangkan empat dalihan terlalu banyak bilangannya; hanya tiga buah yang tepat. Inilah yang kemudian dinamakan: Trilogi Tataring Batak, disingkat TTB.

Masyarakat

Dari TTB, Trilogi Batak merambah kedalam hidup bermasyarakat untuk bersosialisasi dalam komunitas di Bona Bulu. Sebagaimana dengan tataring yang memerlukan tiga dali-han untuk menyangga periuk, orang-orang Batak yang hidup dalam sebuah komunitas menurut Ompu Simulajadi, juga memerlukan tiga dalihan untuk menopang kebersamaan hidup dalam masyarakat. Perlu terdapat lebih dahulu: kahanggi di tengah, yakni kelom-pok persaudaraan yang bermarga sama datang dari seorang Ompu parsadaan (leluhur pemersatu) yang bertindak sebagai dalihan pertama. Agar dalam perjalanan waktu ka-hanggi dapat bertambah bilangannya, perlu ada kelompok persaudaraan marga-marga lain yang mendatangkan ina (ibu) kepada kahanggi untuk melanjutkan generasi. Kelom-pok persaudaraan marga-marga akhir ini kemudian menjadi dalihan kedua, yang dalam masyarakat Batak disebut: Mora, atau Hula-hula. Selanjutnya masih ada kelompok per-saudaraan lain, juga datang dari berbagai marga, kemana kahanggi mengutus anak-anak gadis mereka untuk menjadi ina disana, yang melahirkan dalihan ketiga, dan dalam ma-syarakat Batak dinamakan: Anakboru.

Dengan demikian muncul dalam masyarakat Batak tiga dalihan (tungku) untuk menyang-ga hidup berkelompok, yakni: Kahangi, Mora, dan Anakboru menjadikan: Sekawan Ma-syarakat Batak, disingkat SMB, yang menjadikan lingkungan hidup sehari-hari untuk orang Batak di Bona Bulu, selama berada di Banua-Tonga menjalankan ajaran Ompu Simulajadi. Istilah lain yang juga dapat digunakan: Trilogi Masyarakat Batak, disingkat TMB, atau Trilogi Sosial Batak, disingkat TSB. Dikalangan masyarakat Batak di Bona Bulu dan perantauan SMB, atau TMB, atau TSB, lebih dikenal dengan nama: Dalihan Na Tolu, disingkat DNT, atau Tungku Yang Tiga, disingkat TYT, yang dalam bahasa Indo-nesia artinya: keluarga besar (big family). Selain dari itu DNT menjadi unsur pengikat hidup berkelompok dalam masyarakat, dan menyediakan pemecahan berbagai persoalan  secara kekeluargaan yang demokratis.

Masyarakat Batak mengembangkan sistem kekerabatan patrilenial (garis bapak) dalam marga, sebaliknya masyarakat Minang menerapkan sistim kekerabatan metrilenial (gais ibu) dalam marga. Dalam sistim patrilenial ayah dinamakan suhutsihabolonan (kepala keluarga) sekaligus pemimpin suhut (keluarga batih), dan mewariskan “nama marga” pada turunannya (anak-anaknya). Kahanggi adalah kumpulan suhut yang bermarga sama datang dari Ompu Parsadaan (Kakek Pemersatu) yang mendiami sebuah kampung atau luhat. Karena bermarga sama, maka komunitas kahanggi dinamakan juga kumpulan do-ngan sabutuha (teman sekandung), meski datang dari para ibu beragam marga. Yang menjadi ukuran persaudaraan dalam kahanggi, atau kumpulan suhut, ialah persaudaraan keluarga batih bermarga sama tidak perlu lahir dari ibu yang sama atau ibu yang semarga, namun datang dari ayah yang bermarga sama. Bukankah para orang tua mereka silam, pada tingkat Kakek Pemersatu yang masih dikenali, bermarga sama.

Meski di Bona Bulu atau kampung halaman masyarakat Batak menerapkan sistim patri-lenial dalam kehidupan semarga atau kahanggi, akan tetapi sistim kekerabatan matrile-nial juga digunakan khususnya terhadap kelompok-kelompok masyarakat bermarga lain dalam komunitas tempat bermukim selama berada di Banua-Tonga. Kepada marga-marga yang mendatangkan ibu kepada kahanggi, orang Batak menamakan mereka: mora, karena marga akhir ini mendatangkan keturunan yang memperbanyak bilangan kahanggi. Mora adalah mata-air kehidupan bagi kahanggi, itulah pula sebabnya mengapa mora yang telah mendatangkan ibu bergenerasi pada kahanggi dinamakan “matahari naso gakgahon” (matahri yang tidak tertatap) karena akan sangat menyilaukan mata yang menatapnya. Mora juga yang mendatangkan habisukan (kecerdikan) kepada kahanggi, karena itu mora pantas disabut dengan sikap hormat dinamakan: “hormat mar mora” (hormat terhadap mora). Sebaliknya mora mempunyai kewajiban membimbing kahanggi yang menjadi anakborunya dengan apa yang dinamakan: “elek ber anakboru” (pandai mengambil hati) selama berada di Banua-Tonga guna persiapan meneruskan perjalanan ke Banua-Toru nantinya.

Kepada marga-marga yang mendapat ibu dari kahanggi dinamakan: anakboru, karena marga-marga ini manjadi penolong setia kepada kahanggi. Anakboru dikatakan juga: “na gogo manjujung” (yang kuat menjujung), “sitamba na hurang si horus na lobi” (si pe-nambah yang kurang dan si pengerus yang lebih) dalam lingkungan kahanggi yang men-jadi mora mereka. Dengan memanfaatkan kombinasi sistim patrilenial dalam marga de-ngan sistim materilenial antar beragam marga, komunitas suku-bangsa Batak di Bona Bulu mengembangkan jaringan kekerabatan keluarga besar terdiri dari: kahanggi (kelom-pok persaudaraan semarga), mora (kelompok persaudaraan berbagai marga pemberi ibu), dan anakboru (kelompok persaudaraan penerima ibu) yang meluas dari kampung hala-man di Tapanuli hingga perantauan. Kumpulan tiga marga suku-bangsa Batak ini lalu menjadikan: “Dalihan Na Tolu”, atau “Tungku Yang Tiga”, dan dalam bahasa Idonesia dikenal dengan keluarga besar. 

Dengan adanya SMB, kerjasama kemasyarakatan mampu memelihara kerukunan hidup beragam marga dalam komunias Batak dapat berjalan dengan baik. Dalam kerjasama ke-masyarakatan demikian mora mendatangkan ibu kepada kahanggi sehingga bilangan a-khir ini bertambah jumlahnya, begitu pula kahanggi berbuat yang sama kepada anakboru mereka. Difihak sebaliknya anakboru menjadi penolong setia kepada mora dan mela-kukan berbagai pekerjaan moranya, baik dalam siriaon (kebahagiaan) maupun siluluton (kedukaan). Mora juga setiap saat siap untuk memberi bimbingan dan kebijakan pada anakborunya dalam kehidupan. Dengan demikian SMB menjadikan kehidupan komunitas suku-bangsa Batak di Banua Tonga penuh dengan keakraban dan kerukunan jauh dari segala macam keterasingan.

Perkawinan

Dalam lingkungan SMB Adat Batak telah mengatur perkawinan keluar marga, atau ekso-gami. Nauli bujing (anak gadis) mora hanya dapat dipaebat (dinikahkan) dengan naposo bulung (anak laki-laki) kahanggi, demikia pula nauli bujing kahanggi hanya boleh dipa-ebat dengan naposo bulung anakboru; akan tetapi tidak untuk sebaliknya. Inilah yang di-namakan adat perkawinan tidak-simetris (asimetris). Ini dilakukan untuk menghindarkan nauli bujing anakboru dipaebat dengan naposo bulung kahanggi, begitu juga nauli bujing kahanggi dipaebat dengan naposo bulung mora, karena akan menimbulkan rompak tutur (rusaknya pertuturan), karena akan menyalahi adat hormat kepada mora dan elek ber- anakboru yang sudah ditetapkan dalam bertutur.

Tutur adalah kaidah bertegursapa yang telah digariskan dalam Adat Batak dalam DNT, yakni kaidah bertegursapa antara mereka yang berbeda generasi; yakni oleh mereka yang lebih muda kepada yang lebih tua atau sebaliknya bersifat vertikal, maupun kaidah yang sama diantara mereka segenerasi tetapi berbeda kedudukan dalam Adat Batak, seperti: kahanggi, anakboru, mora yang horizontal; begitu juga arah tegursapa. Tutur telah men-jadi alat hapantunan (kesopanan) dalam pergaulan hidup dalam masyarakat Batak terlebih dalam pergaulan sehari-hari di lingkungan DNT yang sangat dihormati, dan amat diper-hatikan pelaksanaannya dalam hidup bermasyarakat. Kesalahan mengucapkankan tutur sapa kepada seseorang di masyarakat Adat Batak yang masih kuat, akan berakibat men-dapat koreksi langsung di tempat, lengkap dengan penjelasan yang menerangkan menga-pa harus demikian.

Selain oleh alasan rusaknya tutur disebutkan di atas, adat perkawinan tidak simetris juga dipengaruhi peran yang dimainkan unsur-unsur Dalihan Na Tolu, yakni: kahanggi, mora, dan anakboru dalam pelaksanaan sebuah perhelatan adat. Dalam sebuah perhelata adat yang dilakukan kahanggi, baik siriaon maupun siluluton, kahanggi mendapat bantuan tenaga dari anakborunya, sedangkan mora menyumbangkan buah fikiran yang diperlu-kan agar acara berjalan sebagaimana seharusnya.

Naposo bulung suatu marga juga dinamakan Sisuan Bulu (Sipenanam Bambu), adalah pemuda pembela kampung halaman yang menjadi andalan kahanggi di Bona Bulu dan anggota keluarga lainnya. Karena itu ia perlu didampingi nauli bujing yang menjadi rong-kap ni tondi (pasangan hidup) baginya dan bertindak sebagai Sisuan Pandan (Sipenanam Pandan) di kampung kebanggaan itu. Perlu diketahui, Adat Batak melarang naposo bulung menikah dengan nauli bujing dari marga yang sama, atau dinamakan perkawinan semarga (endogami). Ini disebabkan orang-orang yang sermarga masih bersaudara dan  tergolong seayah dan seibu, dan akan menjadi incest yang terlarang dalam Adat Batak.

Diumpamakan tataring, perkawinan sejoli ini, adalah ibarat tungku dua dalihan, periuk yang diletakkan diatasnya akan terjungkal. Dalam keidupan bermasyarakat, pasangan ini tidak memiliki mora, karena itu tidak mudah bergabung dalam kekerabatan DNT meng-hadapi perhelatan siriaon dan siluluton. Dalam lingkungan keluarga besar, sejoli demi-kian tidak mendapat habisuhon na sian mora (tuntunan dari moranya), dan tidak juga dapat melakukan somba (hormat) kepada mora. Karena melaksanakan perkawinan se-marga yang menyalahi Adat Batak, salah seorang dari mereka harus mengganti marga- nya lewat sebuah horja (acara adat), agar nama keduanya kembali dapat disuratkan keda-lam tarombo (silsilah keluarga).

Nilai

Dari SMB, Trilogi Batak merambah pula ke ranah nilai (value) dalam kehidupan kelu-arga besar. Mora dikatakan na mangalehen hangoluan (yang pemberi kehidupan) pada kahanggi. Mora soksok dikatakan kepada marga yang pertama kali mendatangkan ina (ibu) kepada kahanggi. Keluarga-keluarga yang telah mendatangkan ina lebih dari tiga generasi kepada kahanggi dinamakan Mataniari naso gakgahon (Matahari yang tidak tertatap). Mora i ma mual ni hangoluan (Mora ialah mata air kehidupan); Mora i ma na mangalehen habisuhon (Mora ialah yang pemberi kecerdikan). Itulah sebabnya mengapa turun perintah Adat Batak pada kahanggi yang mengatakan agar: “somba mar Mora” (hormat kepada Mora).

Kahanggi dinamakan dongan sabutuha (teman sekandung), adalah lingkungan hidup se-marga. Orang-orang yang bersaudara mempunyai hak dan kewajiban yang sama, dan tak seorangpun boleh lebih atau kurang dari yang lain. Kahanggi ialah lingkungan hidup di Bona Bulu, tempat mereka yang hidup senasib dan sepenanggungan mempertahankan marga dan kampung halaman dari musuh yang meyerang. Karena itulah turun perintah Adat Batak yang mengatakan agar: ”manat-manat markahamaranggi” (pandai-pandailah hidup bersaudara).

Anakboru dikatakan: nagogo manjujung, na ringgas mangurupi Morana (yang kuat menjujung di kepala dan rajin menolong moranya). Anakboru dikatakan juga: sitamba na hurang, sihorus na lobi (si penambah yang kurang dan si penguras yang lebih) dalam per-helatan Adat Batak, baik siriaon maupun siluluton di lingkungan kahanggi. Itulah pula sebabya mengapa turun perintah Adat Batak yang mengatakan agar: “elek mar anakboru” (pandailah mengambil hati anakboru) agar tenaga mereka selalu dapat dimanfaatkan. Dengan demikian: Somba mar Mora, Manat mar Kahanggi, dan Elek mar Anakboru menjadi Trilogi Nilai Batak, disingkat TNB yang amat berguna untuk memelihara  hubu-ngan kekerabatan dalam lingkungan DNT (TYT) suku-bangsa Batak, agar kebersamaan yang harmonis senantiasa terjaga dari Bona Bulu sampai dengan perantauan, selama ber-diam di Banua-Tonga.

Karena hidup di Banua-Tonga atau Alam Kedua hanya sementara, yakni serentang hayat, maka untuk memelhara kerukunan hidup komunitas suku-bangsa Batak di Bona Bulu, Adat Batak menurunkan perintah agar: “inte disiriaon, tangi disiluluton“ (menanti khabar bahagia, menyimak berita duka). Selain dari pesan untuk masyarakat DNT dikemukakan diatas, ada lagi perintah Adat Batak bagi perorangan (individu) yang memerlukan perha-tian masyarakat Bona Bulu ketika itu, tua maupun muda, ialah apa yang dikenal dengan: hamoraon, hagabeon dan hasangapon.

Mora maknanya teladan, sehingga hamoraon berarti keteladanan yang mencakup: ke-akraban, taat hukum, berpandangan maju, penuntut ilmu dan pengetahuan, penyayang sekaligus pelindung, pandai menengahi perbedaan guna kerukunan, beriman, dan lain sebagainya; bersarang dalam Tondi (jiwa/semangat/kharisma)  yang menggerakkan Roha (akal/fikiran/budi) seorang insan. Inilah yang dinamakan: harta batin (wealth of the soul) dimilik seseorang bergelar: halak namora (manusia teladan). Gabe artinya kaya, sehingga hagabeon bermakna kekayaan yang dimiliki orang yang meliputi: keturunan, rumah, har-ta benda, sawah ladang, tabungan bank dan lain sejenisnya terdapat di dunia yang diku-asai seseorang. Inilah yang disebut harta lahir (the material wealth) yang dimiliki orang  bergelar: halak nagabe (orang kaya). Adapun hasangapon berasal dari sangap yang artinya martabat (dignity), berhasil dicapai seorang menjalani hidup di Banua-Tonga dari keturunan dengan gelar bangsawan atau lainnya. Martabat dapat dicapai dengan harta batin, maupun harta lahir, dan keturunan (Raja, Presiden, bangsawan, atau lain sejenisnya).

Tujuan Hidup

Hamoraon, hagabeon, dan hasangapon merupakan jalan bagi manusia untuk mendapatkan martabat hidup berdiam di Banua-Tonga. Dengan hamoraon orang meraih martabat dengan harta batin yang dikuasainya. Dengan hagabeon orang juga dapat meraih marta-bat dengan harta lahir yang dimilikinya. Akan tetapi dengan hasangapon diperoleh lewat keturunan, seperti: putra atau putri Raja, kaum bangsawan, atau orang tersohor  lainnya, maka yang bersangkutan perlu membuktikannya, karena bila tidak kehormatan disandang akan tergerus dengan sendirinya menelusuri perjalanan waktu. Ini disebabkan, karena sesuatu yang bersifat martabat tidak mungkin diraih tanpa perjuangan. Martabat (dignity) jenis ini ibarat kredit (utang) yang perlu dilunasi untuk memperoleh pengakuan.

Manakala dengan harta batin orang dapat membina kehidupan harmonis yang menda-tangkan damai dan sejahtera kepada sebuah komunitas kehidupan, maka orang itu akan meraih martabat di Banua-Tonga. Demikian juga manakala dengan harta lahir orang mu-dah berbagi dengan sesama untuk mengatasi penderitaan pasca sebuah bencana alam misalnya, orang itu juga akan meraih martabat. Akan tetapi untuk kaum bangsawan atau setaranya, mendapat martabat lewat keturunan perlu membuktikannya agar dapat diterima masyarakat. Itulah sebabnya mengapa seorang pangeran, atau putri kerajaan, perlu memperlhatkan kecakapan menegakkan keadilan dalam masyarakat untuk mem-pertahankan kelayakan martabat yang disandang. Selain martabat bersifat positif dikemukakan diatas, terdapat juga di dunia ini martabat negatif yang menjerumuskan seseorang ke lembah hina dina yang menyengsarakan kehidupannya di Banua Tonga, manakala hamoraon dikuasai, hagabeon dimiliki, dan hasangapon disandang tidak dipersembahkan untuk kemaslahatan orang banyak.  

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, badan bernama pamatang ini hanya sebuah pinjaman dari Banua-Tonga, demikian juga: hamoraon, hagabeon, dan hasangapon yang  kemudian menyusul. Ketika tondi melanjutkan perjalanan menuju Banua-Toru, setelah mahluk mengembalikan badan (materi), semua yang didapat dari Banua-Tonga: hamoraon, hagabeon, dan hasangapon, maka yang tinggal hanya hasangapon saja. Hanya hasangapon yang menemani seseorang (tondi) meneruskan perjalanan menuju Banua-Toru, dan hasangapon pula yang akan ditinggalkan orang di Banua-Tonga, atau alam fana, atau dunia ini.

Dengan demikian hamoraon, hagabeon dan hasangaon menjadi Trilogi Tujuan Hidup,  disingkat TTH, yang diajarkan Ompu Simulajadi di Bona Bulu silam perlu mendapat per- hatian. TTH bermaksud menerangi hati perorangan (individu) suku-bangsa Batak yang  bergiat menemukan celah dalam belantara kehidupan Banua-Tonga, dalam menyongsong kedatangan terang sinar matahari menerobos hati nurani, dalam menemukan pilihan yang sesuai untuk diri selama berada di Banua-Tonga.

Silsilah

Dari TTH, Trilogi Batak lalu merambah ranah pembuatan catatan (dokumen) dengan me-ngelompokkan suku-suku bangsa Batak kedalam berbagai marga dalam mewujudkan ja-ringan kekerabatan Dalihan Na Tolu, dan menghimpun semuanya kedalam tarombo (sil-silah) suku-bangsa Batak. Tarombo berawal dari sebuah ingatan kekerabatan dalam kenangan suku-bangsa Batak yang kemudian beralih menjadi tulisan, bagaimanapun cara penyusunannya, akan segera menunjukkan marga kahanggi menyusunnya. Lalu akan tampak nama-nama marga kemana anak-anak gadis kahanggi pergi menikah untuk men-jadi ina (ibu) di berbagai kampung di Bona-Bulu, yang menjadi anakboru dari kahanggi.   Kemudian akan tampak pula sejumlah marga lain yang mendatangkan anak-anak gadis kepada kahanggi untuk menjadi ina (ibu) anak-anak kahanggi di kampung, dan yang disebut akhir ini dalam Adat Batak dinamakan mora.

Dengan demikian, sebuah tarombo atau silsilah keluarga suku-bangsa Batak akan mem-perlihatkan tiga kelompok keluarga yang menjadikan “keluarga besar”, masing-masing: kahanggi, anakboru, dan mora. Ketiga himpunan keluarga ini juga bernama Dalihan Na Tolu (DNT), atau Tungku Yang Tiga (TYT). Ketiganya akan memainkan peran penting dalam setiap perhelatan Adat Batak corak siriaon dan siluluton mulai dar Bona Bulu hingga perantauan. Dalam tarombo akan segera terlihat mereka yang segenerasi, lalu mereka yang berlainan generasi tingkat orang tua, kakek, dan lainnya. Lalu tegur sapa (tutur) apa yang perlu digunakan untuk menyapa yang segenerasi dan yang berbeda gene-rasi, dan bagaimana menghindarkan rompak tutur, dan lain sebagainya.

Mudah difahami, dalam masyarakat Batak yang masih sederhana silam, teknologi masih dalam zaman batu, belum ada peluang ketika itu untuk memeriksa kebenaran pandangan Ompu Simulajadi yang bersemayam dalam fikiran orang-orang Batak di Bona Bulu, terhadap Alam Raya yang sebenarnya yang ada di luar sana. Sebelum masuknya abad pertengahan di Eropa, orang-orang diseantero jagad masih menganut pandangan Ptolo-maëus yang mengatakan bahwa bumi ini adalah pusat dari segala peredaran benda langit di alam Raya termasuk juga matahari. Cara pandang Alam Raya demikian dinamakan: ajaran geosentris. Sri Paus, pemegang Tahta Suci di Vatican, Roma, Italia, kala itu, juga menganut ajaran geosentris karena tidak menyalahi Kitab Suci, lalu menjadikannya pe-gangan hidup umat Katholik di seluruh dunia.

Akan tetapi dengan datangnya abad pertengahan, Koppernigt (Copernicus 1473-1543) seorang ilmuwan dan astronom kebangsaan Polandia membantahnya, dan mengatakan bahwa mataharilah yang menjadi pusat peredaran segala benda-benda langit. Bantahan ini melahirkan cara pandang Alam Raya yang baru dikenal dengan: ajaran heliosentris. Galileo Galilei (1564-1642), seorang cendekiawan dan astronom Italia ketika itu mem-buktikan kebenaran Koppernigt dengan teleskop bikinannya. Namun malang, Galileo dinyatakan bersalah oleh kelancangan membenarkan ajaran heliosentris, sehingga harus menjalani tahanan rumah sampai dengan akhir hayatnya. Baru pada bulan Mei tahun 1994, 600 tahun kemudian, hukuman itu dicabut oleh Paus Yohannes Paulus II, setelah ia terlebih dahulu meminta maaf atas kekeliruan rekan pendahulunya, yang ketika itu men-duduki Tahta Suci di Vatican.

Memasuki penggal kedua abad ke-20. ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat kemajuannya membuat Niels Armstrong, warga negara Amerika Serikat menjadi manusia pertama yang berhasi menginjakkan kaki di permukaan bulan. Berbagai satelit cerdas pun melanglang buana menjelajah angkasa hingga melampaui batas tatasurya; dan orang-orang Batak pun mulai menyadari, bahwa ajaran Ompu Simulajadi tentang Alam Raya terbukti tidak sesuai dengan kenyataan. Banua-Ginjang bernama Surga ternyata tidak terdapat di atas sana. Banua-Tonga dimana manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan berada hanyalah muka bumi yang bulat bagai bola. Adapun yang dinamakan Banua-Toru tidak lain dari bumi yang bundar berikut isinya.

Lalu muncul dualisme pandangan terhadap Alam Raya dalam masyarakat Batak: sebuah berasal dari ajaran Ompu Simulajadi yang telah berseayam dalam fikiran kebanyakan orang-orang Batak yang percaya, dan lainnya kebenaran Alam Raya yang sebenarnya terdapat diluar sana. Usai penggal kedua abad ke-20, dunia pun memasuki milenium ke-tiga, dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan cepat mengalihkan perhatian umat dari muka bumi menuju angkasa. Dalam ruang antar planit yang hampa, gaya tarik bumi tidak lagi berperan, mana yang dinamakan atas atau bawah bukan lagi persoalan, ternyata Trilogi Batak ajaran Ompu Simulajadi silam menunjukkan “pemahaman  baru”.

 Dengan menempatkan Alam Benda, dimana: manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan lainnya di tengah sebagai Alam Kedua, menurut pemahaman yang baru, maka harus terdapat Alam Pertama dari mana semuanya berasal. Lalu, usai menjalani kehidupan  Alam Kedua, perlu adanya Alam Ketiga kemana semuanya akhirnya menuju. Adapun  ajaran Alam Raya yang mengatakan adanya Banua-Ginjang (di Atas), Banua-Tonga (di Tengah), dan Banua-Toru (di Bawah), muncul dari pemikiran suku-bangsa Batak saat itu ialah oleh adanya “medan gravitasi” yang ada di permukaan bumi dan menguasai sega-lanya. Dengan kehadiran medan gravitasi bumi orang lalu mengetahui arah yang disebut: atas dan bawah. Dan dari yang akhir ini lalu muncul beragam arah lainnya.

Lahir dengan demikian Trilogi Batak pemahaman baru, masih tetap STA, namun  beru-bah menjadi: Alam pertama, Alam Kedua, dan Alam Ketiga. Artinya, masih tetap kue ta-lam lapis tiga warna: putih, merah, hitam lebar, meski tidak lagi perlu tergolek di atas ta-lam yang luas, cukup mengambang di angkasa yang bebas dari medan gravitasi bumi. A-dapun “pemahaman lama” ialah yang dikemukakan Ompu Simulajadi, yakni: Banua- Ginjang, Banua-Tonga, dan Banua-Toru berada dibawah pengarh medan gravitasi bumi.

Manakala Alam Kedua dinyatakan sebagai Banua Na Marpamatang (Alam Yang Ber-badan) bersifat kebendaan (material), maka Alam Pertama dan Alam Ketiga seyogya-nyalah berwujud Banua Naso Marpamatang (Alam Yang Tak-Berbadan), atau Alam Transenden (Transcendant), karena samasekali bukan bersifat kebendaan (immaterial). Lantas bagaimanakah wujudnya? Belum dapat diketahui sampai saat ini! Lalu mungkin-kah Alam Pertama dan Alam Ketiga sama? Tentu saja mungkin, akan tetapi dapat juga tidak sama. Dua alam dapat dikatakan sama, apabila dapat dibuktikan keduanya benar-benar sama; dan dikatakan bebeda, manalala keduanya memang benar-benar tidak sama. Peluang Alam Pertama dan Alam Ketiga sama, atau berbeda, sama besar, karena itu tidak satupun yang dapat mengalahkan yang lain.

Apabila Alam Pertama dan Alam Ketiga sama dan transenden, tondi dalam perjalanannya akan bergerak melingkar. Perjalanan demikian ibarat tondi yang baru saja meninggalkan Alam Kedua, lalu kembali lagi ke alam yang sama. Hal ini mengingatkan sebuah perjala-nan reinkarnasi dalam kehidupan dunia. Apabila kedua alam transenden ini berlainan, maka tondi akan bergerak dalam garis lurus. Perjalanan tondi demikian mengukuhkan kembali Trilogi Batak, dan melahirkan pemahaman baru ajaran Ompu Simulajadi yang  mengajarkan adanya tiga Banua di Alam Raya yang mengitari kehidupan ini.

Mungkin saja Ompu Simulajadi suku-bangsa Batak pertama ada silam, telah sejak semula memiliki pandangan kedua, dimana kue talam besar berlapis tiga warna: putih, merah, hitam, mengambang di angkasa; bukan pandangan pertama dimana kue talam besar lapis tiga yang berwarna tergolek di atas talam amat luas, karena memang dari sejak dahulu, suku-bangsa Batak telah mengetahui adanya berjenis alam termasuk yang transenden terdapat di luar alam kebendaan yang material. Akan tetapi, karena kebanyakan warga masyarakat Batak ketika itu belum dapat mencernanya, maka disampaikanlah gagasan kue talam besar lapis tiga berwarna yang tergolek di atas talam amat luas. Benarkah de-mikian, wallahualam bissawab, tak seorang pun yang mengetahui! 

Keluarga

Suku-bangsa Batak menyebut masyarakat terkecil berdiam di Banua-Tonga dengan se-butan: suhut. Suhut adalah keluarga batih atau nuclear family terdiri dari unsur-unsur: A-ma (Ayah), Ina (ibu), dan Anak (laki-laki atau perempuan). Ama, Ina dan Anak men-jadikan Trilogi Keluarga Batak, disingkat TKB, yang menjadikan sebuah komunitas dalam masyarakat. Tanpa ketiga unsur dikemukakan diatas masyarakat terkecil dinama-kan suhut tidak akan terbentuk. Ama yang mengepalai suhut memperoleh gelar: Suhut-sihabolonan.

Manusia

Suku-bangsa Batak memandang manusia sebagai individu juga sekaligus sebuah trilogi Batak yang dinamakan: Trilogi Jolma Portibi, disingkat TJP, artinya Trilogi Manusia Bumi, disingkat TMB. Dalam pandangan Ompu Simulajadi, manusia tidak lain dari: “Tolu Na Marsada” atau Tiga Yang Menyatu, artinya adanya tiga unsur yang menyatu  menjadikan manusia, masing-masing: Tondi, Roha, dan Pamatang. Tanpa tondi, orang menjadi hilang kemanusiaannya: motivasi, kemauan, semangat, kharisma, dalam kehidu-pan di Banua-Tonga; tanpa roha orang akan kehilangan ingatan (memory) alias pikun; dan tanpa badan (pamatang) manusia hilang keberadaannya di Banua-Tonga atau bumi ini alias meninggal dunia. Dengan demikian pamatang atau badan adalah tandatangan manusia diatas kertas kehidupan di muka bumi ini.  

Jiwa

Tondi (ruh/jiwa/khariama) yang mendiami alam bukan-benda (Banua Naso-Marpama-tang), menurut kepercayaan suku-bangsa Batak dapat bepergian meninggalkan pamatang (jasmani) ketika orang sedang tidur, atau ketika sedang sakit, atau keadaan tidak normal lainnya. Tondi merupakan sebuah badan halus (superbeing) yang harus ada dalam setiap kehidupan, apapun ragamnya. Seorang insan dalam Adat Batak adalah seumpama: “pira manuk na nihobolan” (telur ayam yang dikebalkan), diwujudkan dengan sebutir telur ayam rebus. Yang kuning berada ditengah melambangkan tondi (badan halus) manusia, dan yang putih mengitari memperlihatkan badan kasarnya, lalu yang terselip diantaranya  ialah apa yang dinamakan roha dan menjembatani kedua yang disebut sebelumnya.

Tondi yang membedakan seorang insan dari lainnya, dan diperlihatkan oleh semangat, emosi, kharisma, dan bahasa badan (body language) yang ditampilkan keluar. Diibarat-kan sebuah mobil melaju di jalan raya, apabila dikemudikan orang yang berlainan, a-kan memperlihatkan tingkah laku gerakan kendaraan yang berbeda. Dengan analogi yang sama, manakala jasmani seseorang ditempati tondi yang bukan miliknya sejak lahir kare-na sakit misalnya, akan memperlihatkan kelakuan atau sifat yang bukan aslinya. Walau berbagai pengetahuan tentang tondi telah terkuak kepada manusia dari pengalaman dan pergaulan hidup sehari-hari di Banua-Tonga, namun inilah alam bukan-benda pertama yang ada dalam diri manusia yang terus menyimpan teka-teki yang masih sedikit sekali terungkap sampai kini.

Akal

Roha (akal/budi/fikiran) juga berada dialam bukan-benda. Inilah yang disebut kecerdasan sebenarnya (the true intelligence), lawan dari kecerdasan buatan (the artificial intelli-gence) yang berhasil dikembangkan manusia, kini mengendaliakn berbagai peralatan canggih bikinan manusia, antara lain: teknology bedah tubuh jarak jauh, aneka ragam robot, peluru kendali, berjenis roket, sampai dengan satelit. Ini pula yang diungkapkan Sokrates (470-399 SM), pemikir Yunani dari Athena di zaman praklassik silam, yang hasil pemikirannya tentang hal ini diungkapkan filosof Jerman Windelband (1848 -1915), penganut aliran idealisme subjektif, dengan rangkaian kata: “Die immateriele Welt ist endeckt, und das Auge des Geistes hat sich nach innen aufgeschlagen”, atau dalam bahasa Batak: “Banua naso marpamatang tarungkap madung, mata ni roha manaili tu ba-gasan”; lalu oleh Dr. Mohammad Hatta diindonesiakan menjadi: “Alam tidak bertubuh diketahuilah sudah, dan mata fikiran pun memandanglah kedalam”.

Sebagaimana komputer, telepon genggam (feature phone), telepon cerdas (smart phone), tablet (electronic reader), dan perangkat pintar (gadget) lainnya, adalah perpaduan perangkat-keras (hardware) dengan perangkat-lunak (software) yang dapat melakukan beragam pekerjaan, maka Roha pada mnusia boleh juga dinamakan perangkat lunak insani (human software), disingkat peran-insani (human-ware), yang dibutuhkan untuk menjembatani Tondi dengan Badan, sehingga pamatang (jasmani) dapat melaksanakan berbagai pekerjaan sebagaimana yang dikehandaki Tondi, berangkat dari kemampuan, keterampilan, bidang profesi yang digeluti seseorang. Pemrograman Roha itu sendiri te-lah dimulai sebelum manusia lahir ke dunia, dilanjutkan setelah lahir lewat: pendidikan, pelatihan, jabatan, pengalaman hidup, dan lainnya; berlangsung tidak pernah berhenti selama hayat dikandung badan, berangkat dari pandangan hidup yang dimiliki manusia  bersangkutan.

Roha (Alam Kedua bukan-benda) yang terdapat dalam diri manusia inilah yang oleh segelintir negara: Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur; itu pun digeluti oleh jumlah ke-cil warganya (sumber daya manusia) lewat kegiatan akademik berjenjang dari rendah hingga tinggi, menjadikan negara-negara tersebut dengan cepat terkemuka di muka bumi, setelah menerima buah fikiran Yunani yang diantarkan bangsa Arab pada Abad Perte-ngahan ke bagian dunia itu.

Diawali penghujung abad ke-19 silam, lalu sepanjang abad ke-20, dilanjutkan abad ke-21 kini, berbagai negara Eropa: Inggris, Perancis, Jerman dan lain sekitarnya; kemudian Amerika Utara: Amerika Serikat; lalu Asia Timur: Jepang; menjadi sadar akan apa yang  diutarakan Sokrates tentang keperkasaan “Banua Naso Marpamatang terdapat dalam diri Sumber Daya Manusia” bernama Roha bangsa masing-masing, dengan cepat mengem-bangkan: pendidikan, industri, laboratorium, penelitian, sumber daya alam, dan lainnya dalam ajaran ekonomi Laissezfaire (perdagangan bebas), dalam rentang waktu kurang dari 150 tahun, berhasil mengubah peradaban manusia: dari serba berjalan kaki dan menunggang ternak (kuda, lembu, dan lainnya) dimana-mana di seantero muka bumi ini, menjadi peradaban kendaraan bermotor: mobil, kereta api, kapal laut, pesawatterbang, dan penjelajahan antariksa.

Penyampaian berita pun diawali cara fisik dari mulut ke mulut, beragam tetabuhan, sam-pai surat; lalu diubah menjadi elektronik: radio, telepon, televisi, ponsel, internet. Bekerja di kantor, pabrik, lapangan, dan lainnya, dengan Information Communication and Tech-nology (ICT), atau Teknologi Komunikasi dan Informatika (TKI), diubah menjadi beker-ja dari mana saja orang suka melakukannya di bumi ini. Masih banyak lagi kemajuan lain yang tidak mungkin diutarakan satu persatu, yang akan terus berkembang menuju ke arah yang semakin memudahkan hidup manusia di Banua-Tonga, atau bumi.

Segelintir negara disebutkan lalu menjadi teladan umat manusia, menyebabkan lainnya: dari Utara ke Selatan, dan dari Barat ke Timur, termasuk Timur Tengah, Asia Tenggara, dan belahan bumi lain yang tertinggal, lalu berlomba-lomba mengembangkan “Roha”  warga negara masing-masing dengan menyimak apa yang telah dikatakan Sokrates. Me-reka melaksanakan pemberantasan buta huruf, segera mengembangan pendidikan berjen-jang berbagai ilmu dan keterampilan guna mengejar ketertinggalan masing-masing dari segelintir negara terkemuka yang telah disebutkan.

Kendati roha telah banyak diungkapkan para ahli berbagai negara maju lewat penyeli-dikan ilmu pengetahuan dan teknologi, laboratoriun, industri, tambang, archeologi, pene-litian antariksa, dan lain sebagainya, terekam dalam tidak terbilang jumlah buku, jurnal, dan lainnya, baik tradisional, elektronik, dan digital, namun alam bukan-benda kedua terdapat dalam diri manusia bernama “Roha” ini masih saja menyimpan banyak rahasia  atau misteri yang belum diketahui hingga saat ini.

Jasmani

Pamatang (tubuh, badan, jasmani), ialah bukti keberadaan manusia di Banua-Tonga atau Alam Kedua di bumi atau alam fana ini. Jasmani juga dapat dikatakan cap jempol seseorang di atas lembar kertas kehidupan di muka bumi. Dengan badan, si A, si B, si C dan seterusnya dapat dikenali dan dibedakan satu dari lainnya; mereka pun dapat saling berkenalan, bergaul dan berbincang guna bertukar fikiran.

Temuan dari Human Genome Project, atau Proyek Gen Manusia, yang dipimpin Craig Venter dari Amerika Serikat, salah satu dari segelintir negara terkemuka dunia, pada tanggal 11 Febrruari 2001 ilmuwannya berhasil mengungkapkan, bahwa terdapat 30.000 gen dalam tiap tubuh manusia yang bertanggungjawab terhadap kehidupan insan, dan senantiasa membuka dan menutup dalam melakukan tugasnya dalam perjalanan waktu. Dan hanya gen-gen yang membuka saja yang mengendalikan semua sel yang terdapat  dalam tubuh manusia yang bilangannya diperkirakan berjumlah 3.000.000.000. sel.

Tubuh manusia yang berada di Alam Kedua (Alam Benda), begitu juga hewan dan tumbuhan, terbentuk dari berbagai sistim kehidupan yang rumit (biologi), antara lain: pe-redaran darah, pencernaan, pernafasan, pengindraan, syaraf, dan lain sebagainya. Selain dari itu, kesemua sistim yang dikendalikan puluhan ribu gen terbuka pada manusia, harus pula bekerjasama dalam sebuah orkestra harmonis guna menjadikan tubuh tetap sehat  tempat  tondi dan roha bersemayam. Kegagalan badan atau jasmani menjadi sehat oleh berbagai alasan, antara lain: penyakit, kecelakaan, sampai dengan uzur, akan membuat tondi dalam perjalanan waktu meninggalkan badan di Alam Kedua (Alam Benda) dan melanjutkan perjalanan ke Alam Ketiga.

Meski jasmani telah banyak dipelajari oleh para ahli khususnya bidang ilmu kedoktern di berbagai negara maju, ialah bagian Trilogi Manusia Bumi yang paling banyak dan  sering dikaji di muka bumi saat ini, namun bukti keberadaan manusia di Alam Kedua ini  masih menyimpan banyak rahasia yang belum dapat diungkapkan semuanya, apakah tubuh ma-nusia itu sesungguhnya?

Kedatanga di Bumi

Ketika tondi sampai di perbatasan Alam Pertama (bukan-benda) dengan Alam Kedua (benda), dalam perjalanan Tondi menurut “pemahaman baru”, atau setelah di turun dari Banua-Ginjang menghampiri BanuaTonga dalam “pemahaman lama”, ia terlebih dahulu perlu menjemput benda (materi) guna menyatakan keberadaannya di Alam Kadua atau Banua-Tonga. Materi adalah sesuatu yang terdapat di Alam Kedua dan  tunduk pada hukum alam atau fisika, karena memiliki berat (massa) dan mengambil ruang.

Segala sesuatu yang ada, tetapi tidak mempunyai massa dan tidak menempati ruang, pasti bukan-benda (immaterial) dan akan terdapat di Alam Pertama, dan/atau Alam Ketiga. Perpaduan Tondi, Roha, dan Pamatang dalam Adat Batak diperlihatkan dengan “pira manuk nanihobolan”. Tondi: ialah kuning telur  ada di tengah, Pamatang dengan putih telur yang mengitari. Sedangkan Roha ialah selaput terselip yang memisahkan kuning  dari putih telur.

Pertemuan “Tondi” dengan “Pamatang”, setelah yang disebut pertama turun dari Banua Ginjang sampai di perbatasan Banua Tonga, atau turun dari “Alam Pertama” dan sampai diperbatasan “Alam Kedua”, pada manusia bermula dari konsepsi (conception) setelah sepasang insan, yakni: laki-laki dan perempuan berhubungan. Konsepsi adalah juga Tondi yang turun dari Banua Ginjang, atau Alam Pertama, dan berhasil mendapat pinja-man badan (materi) dari Banua-Tonga, atau Alam Kedua, lalu berubah jadi benih yang dapat melakukan pembelahan sel menjadi janin. Dan yang akhir ini selnjutnya tumbuh dan berkembang karena memperoleh pemasukan bahan (materi) dari Banua-Tonga atau Alam Kedua, kini dari ibu yang mengandung sapai lahir ke dunia sebagai bayi.

Setelah lahir, bayi melanjutkan kegiatan mengumpulkan bahan (materi), kini diluar kan-dungan dengan menyusu kepada ibu, juga mendapat makanan dan minuman yang dibe-rikan langsung oleh orang tua, baik yang untuk menambah berat badan maupun guna me-numbuhkan tinggi badan, demikian yang memelihara kesehatan selama pertumbuhan  menjadi: anak, akil balig, remaja, hingga memasuki usia dewasa.

Sesudah dewasa, kegiatan menghimpun bahan (materi) terus berlanjut, tetapi kini bukan lagi dari pemberian orang tua, melainkan usaha mencari nafkah sendiri. Pada usia dewasa materi yang dihimpun lewat kegiatan makan, minum, dan bernafas sebahagian besar digunakan untuk metabolisme (pertukaran zat) dalam tubuh berlangsung cara kimia, se-perti untuk kebutuhan: perbaikan jaringan tubuh, menyediakan tenaga (energi), pertu-karan zat, dan lainnya, guna menjaga tubuh agar sehat selalu sampai ke batas usia.

Sementara hewan juga ada yang mengikuti cara manusia, tetapi tidak sedikit yang mem-buat pinjaman materi untuk generasi penerus dengan bertelur, dan kehidupan dipicu suhu panas pengeraman. Pada tanaman telur diganti dengan benih (bibit) dan kehidupan dipicu lembab (air) bersuhu lingkungan.

Menurut ahli kesehatan, pertukaan zat berjalan tidak berkeputusan dalam tubuh manusia sepanjang hayat membuat yang disebut terakhir, atau bukti keberadaannya di dunia, berganti semuanya, mulai kulit yang terluar di permukaan sampai bagian tubuh terdalam  sekitar tujuh tahun sekali. Itulah sebabnya mengapa bayi lahir ke dunia lalu menjadi besar dengan: makan, minum, bernafas, dan bergerak; lalu bertambah beratnya, bertukar wa-jahnya, berubah bentuknya, bertambah pengetahunnya, dan lain sebagainya hingga de-wasa. Seorang anak usia diatas 7 tahun dengan demikian tidak lagi menyimpan benda (materi) yang didapat dari kedua orang tua saat konsepsi berlangsung. Kini seluruh benda (materi) yang terdapat dalam tubuh anak semata perolehan kegiatan makan dan minum pemberian orang tua saja. Kedua orang tua anak ini, menurut ahli kesehatan tadi, juga telah berganti dari sepasang manusia yang pernah meminjamkan materi kepada anak, menjadi pewaris dari pasangan orang tua yang pernah meminjamkan benda (materi) kepada anak silam. Hubungan pasangan orang tua dengan anak yang masih tersisa kini hanya tinggal sejarah.

Metabolisme dalam tubuh didukung kegiatan: makan, minum, bernafas, dan bergerak menyebabkan setiap manusia menukar tubuh (jasmani) secara berkala, membuat orang-orang yang ada dimana saja di muka bumi ini sama adanya, kecuali yang diatur gen seba-gainana hasil penelitian Proyek Gen Manusia, antara lain: bangun tubuh, warna kulit, dan sejumlah hal khusus lainnya, meski hal-hal yang dikemukakan akhir ini tidak tidak ber- pengaruh banyak dalam hidup sehari-hari selain pengenal diri atau identitas. Karena itu benarlah apa yang dikatakan orang-orang tua di Bona Bulu dahulu, agar anak-anak yang telah dewasa sebaiknya diperlakukan sebagai dongan (sahabat), dan tidak lagi sebagai  anak. Ini disebabkan anak yang sudah dewasa telah sempurna metamorphosa tubuhnya menjadi orang lain lewat pergantian jasmani yang berlangsung berulangkali sebagaimana yang dikatakan ahli kesehatan disebutkan diatas.

Orang yang mencapai usia 63 tahun setidaknya telah mengganti tubuhnya 9 kali lewat pertukaran zat yang berlangsung 7 tahun sekali. Pelaku kejahatan yang menjalani hu-kuman penjara lebih dari 7 tahun dengan demikian telah digantikan oleh pewaris yang bukan lagi pelaku kejahatan, karena tubuh yang ada padanya sekarang tidak pernah ter-libat dalam kejahatan yang dituduhkan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Pelaku kejahatan tercantum dalam BAP sebetulnya telah lama meninggalkan penjara lewat meta-bolisme tubuh yang tidak diketahui sipir penjara yang bertugas mengawasinya.

Tampak disini hukum alam yang bermain di dunia renik (alam atom dan molekul) tidak harus harus sejalan dengan keputusan orang berkuasa (penegak hukum). Sebaliknya kehidupan insan di dunia sangat tergantung kepada hukum biologi memanfaatkan berjenis molekul yang membentuk sel-sel tubuh makhluk. Berbagai molekul ini masih ter-gantung pula kepada beragam atom yang menyusunnya. Selain dari itu, tidak dapat pula dipungkiri peran gravitasi dalam dunia renik (gaya tarik-mearik antar atom dan gaya yang sama antar molekul) yang menjadikan benda, termasuk yang menjadikan tubuh mahluk hidup. Tanpa kepatuhan dan kesetiaan medan gravitasi dunia renik menunaikan tugas diemban, maka insan bernama manusia terdiri dari kebanyakan air dan sedikit tanah ini, tidak lebih onggokan atom tak-bernyawa yang tidak berguna. 

Akhirnya, masih ada lagi medan gravitasi bumi yang menyebabkan manusia dapat men-jejakkan kaki di permukaan bumi dan berbagai macam benda lain berada pada tempatya. Kegagalan medan gravitasi akhir ini melakukan tugasnya, berakibat semua benda yang ada di permukaan bumi akan melayang berserakan di angkasa, tidak trekecuali mahluk  yang berdiam di muka bumi.

Orang-orang yang meninggalkan Banua-Tonga atau Alam Kedua, sebenarnya telah berulangkali mengembalikan tubuh mereka sedikit demi sedikit ke Banua-Tonga atau Alam Kedua, lewat pertukaran zat atau metabolisme, akan tetapi yang dikembalikan  belakangan ialah yang dimiliki 7 tahun terakhir. Tubuh manusia terbentuk dari daging dan tulang kata orang kebanyakan, akan tetapi ilmu pengetahuan telah membuktikan tidak lain dari sebuah tempayan atau kendi yang dipenuhi air. Hal ini disebabkan lebih dari 70% berat tubuh manusia adalah air, dan kurang dari 30% terdiri dari berbagai unsur kimia, seperti: karbon (C), kalsium (Ca), kalium (K), besi (Fe), fosfor (P) dan lainnya tidak terkecuali unsue-unsur langka bumi (rare earth), sebagaimana terdapa dalam tabel unsur-unsur kimia yang pertama kali diungkapkan Dmitri Ivanovich Mendeleev (1834-1907). Kembali tampak disini, dari apa yang membentuk tubuh manusia itu, ternyata sama saja dimana-mana di muka bumi ini adalah benda (materi) pinjaman dari Banua-Tonga atau Alam Kedua. Perbedaan dari orang gemuk dari dari orang kurus lebih banyak ditentukan perbedaan kandungan air ketimbang unsur kimia lainnya.

Orang yang meninggalkan alam fana sesungguhnya sudah sampai di perbatasan Banua- Tonga dengan Banua-Toru, atau Alam Kedua dengan Alam Ketiga, dalam perjalanan hidupnya. Pada saat itu, tondi mengembalikan pamatang atau jasmani kembali ke asalnya, yakni Banua-Tonga, atau Alam Kedua, karena tubuh manusia ialah semata ba-rang pinjaman. Ini berarti mahluk hidup: manusia, hewan, dan tanaman, mengembalikan tubuh mereka (materi) lewat dua tahap, masing-masing: tahap partial atau sedikit demi sedikit dan tahap menyeluruh atau pengembalian belakangan. Banua-Tonga atau Alam Kedua telah menetapkan bahwa setiap jasmani (materi) yang dikembalikan harus di daur ulang untuk menghindarkan sampah biologi mencemari lingkungan. Daur ulang dilaku-kan bermilliar bakteri yang mendiami tubuh mahluk yang sehari-harinya bekerja mengu-kir tubuh agar tampak bersih, lalu kini melepaskan gas menyengat indra penciuman ter-sebar ke udara. Maksudnya untuk mengundang pendaur ulang lain datang untuk segera  menyelesaikan pekerjaan.

Adat dan agama umat manusia mengajarkan, tubuh dikembalikan belakangan di perbata-san Alam Kedua dengan Alam Ketiga, didaur ulang lewat: pemakaman, pembakaran (kremasi), penenggelaman, dan pembiaran. Pada pemakaman, air dikembalikan diserap tanaman, lalu menguap ke udara menjadi awan, akhirnya menjadi hujan kembali ke laut. Beragam unsur kimia dikembalikan dimanfaatkan tanaman, lalu dimakan binatang dan manusia. Pada pembakaran, air menjadi uap, lalu naik ke udara menjadi awan, akhirnya kembali ke laut. Berbagai unsur kimia dipulangkan selain ikut terbakar, ada juga yang menjadi abu yang  disimpan keluarga di rumah atau tempat perabuan. Pada penenggela-man, air kembali bergabung denganrekan lainnya. Berbagai unsur kimia dikembalikan  mengendap didasar badan air: kolam, sungai, danau, laut, dan samudra, menjadi makanan tanaman dan binatang air. Pada pembiaran, pengeringan menyebabkan air meguap menjadi awan, akhirnya kembali ke laut. Disini terdapat peran burung bila ditempatkan pada suatu ketinggian, atau binatang lain manakala diterlantarkan di hutan, atau tersim-pan dalam gua guna mendaur ulang  jasmani yang dikembalikan terakhir.

Banua-Tonga atau Alam Kedua telah menentukan sampah biologi dikembalikan partial dan belakangan masuk kedalam “rantai makanan” (food chain). Rantai makanan pertama  yang membebaskan tenaga sangat diperlukan berbagai hewan termasuk manusia guna kelangsungan hidup. Rantai makanan jenis ini bekerja membebaskan tenaga (energy) matahari tersimpan dalam jasad dikembalikan lewat penguraian (decompose) kedalam berjenis unsur-unsur kimia yang tertera dalam tabel Mendeleev.

Adapun rantai makanan kedua ialah yang merakit ulang (recompose) berbagai unsur kimia yang sudah terurai, kembali jadi: butiran, bijian, buah, dan lain sebagainya dilaku-kan tanaman dibantu proses photosynthesis datang dari sinar matahari untuk menyimpan tenaga (energy); juga oleh berbagai hewan yang menghasilkan: susu, daging, madu, dan lainnya. Itulah sebabnya mengapa tanaman sangat memerlukan zat makanan yang me-ngandung unsur-unsur kimia perolehan daur ulang dikembalikan partial dan belakangan guna kelangsungan hidupnya. Melalui daur ulang dan kesegeraannya, pencemaran Ba-nua- Tonga atau Alam Kedua oleh sampah biologi dapat dihindarkan

Pada orang sehat, Tondi dan Roha selalu menyertai Badan berada di Banua Tonga atau Alam Kedua. Tidak ada orang yang dapat memperkirkan berapa lama Tondi dan Roha akan menyerai jasmani pada mahluk hidup, sampai datangnya batas waktu yang telah ditetapkan. Ketika waku tersebut tiba, tondi akan mengembalikan badan di perbatasan Alam Kedua dan Alam Ketiga. Dan setelah berpisah dari badan, tidak ada lagi yang dapat diketahui orang tentang perjalanan tondi selanjutnya menuju ke Alam Ketiga.

Semula kehidupan komunitas Batak di Bona Bulu berjalan perlahan atau alami dikenal dengan evolusioner di beragami tempat mereka bermukim. Gelombang petama datangnya agama Islam ke Nusantara belum menimbulkan perubahan berarti dalam kehidupaan ma-syarakat di Tanah Batak. Akan tetapi dengan munculnya gelombang kedua yang datang dari Sumatera Barat di selatan Tanah Batak, benar-benar menyebabkan perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, atau berjalan revolusioner.

Pemerintah Hindia Belanda yang kemudian menggantikan kaum Paderi, juga membawa  perubahan cepat atau revolusioner di Tanah Batak dengan memperkenalkan kerja rodi atau kerja paksa untuk pembuatan jalan dan jembatan. Pemerintah Hindia Belanda yang kolonial, juga mengharuskan para Raja dan rakyat mereka di Tanah Batak membayar belasting (pajak). Dengan sistim pemerintahan terpusat (sentralistis) yang diperkenal-kannya para Raja dan rakyat mereka juga dijadikan bagian dari pemerintahan Hindia Belanda seberang lautan. Para Raja di Tanah Batak diharuskan memungut belasting  ber-sasaran (bertarget) pendapatan ditentukan. Imbalan yang diberikan kepada masyarakat pada ketika itu: pemerintahan, layanan masyarakat, jalan raya, jembatan, dan pendidikan bagi anak-anak pribumi.

Pemerintahan Fascist Jepang yang menggantikan pemerintahan Hindia Belanda di Tanah Batak tahun 1942, tidak pula kalah kolonial, juga memberlakukan perubahan cepat di Ta-nah Batak, bahkan dengan perilaku kasar dan kekejaman senjata. Jepang mengharuskan dibentuk barisan-barisan Zikedan dan Bogodan di setiap kampung Tanah Batak untuk menghimpun pemuda untuk dijadikan heiho (pembantu prajurit Jepang) dan romusha (pekerja rodi Jepang). Mereka juga memaksa rakyat menyerahkan hasil bumi, baik yang dibayar dengan uang Jepang maupun yang tidak mendapat bayaran samasekali. Setelah Jepang bertekuk lutut kepada Sekutu pimpinan Amerika Serikat di peghujung Perang Dunia Ke-II silam, pemimpin pergerakan NRI (Negara Republik Indonesia) di Tanah Batak lalu mengambil alih pemerintahan. Kaum pergerakan anak-anak bangsa ini juga tidak luput membuat perubahan cepat di Tanah Batak menggerakkan rakyat melakukan revolusi, guna menentang Belanda kembali datang menjajah di tanah-air dan menjanjikan hidup bebas dari kemiskinan setelah memasuki alam kemerdekaan.

Memasuki alam kemerdekaan, pemerintah NRI keresidenan Tapanuli dengan ibukotanya Tarutung mengeluarkan pula ketetapan Residen Tapanuli No.: 274 tertanggal 14 Maret 1946, dan No: 1/D.P.T. tertanggal 11 Januari 1947 yang ditandatangani Dr. F.L. Tobing. Adapun isi ketetapan Residen Tapanuli tadi ialah: Para Raja yang masih menjabat di pemerintahan, maupun mereka yang masih berhubungan dengan kegiatan wilayah publik di seluruh Tanah Batak, apapun jabatannya, diberhentikan dengan hormat. Para pejabat pemerintah yang diangkat untuk menyelenggarakan pemerintahan di Tanah Batak akan dipilih secara demokratis oleh Pemerintahan Republik Indonesia. Dengan demikian seluruh pemerintahan yang semula dijalankan menurut adat Batak sempat, yang masih diperkenankan dalam zaman pemerintahan Hindia Belanda di tingkat Bona Bulu/Huta, sejak saat bersejarah itu terpaksa harus tersingkir dari wilayah publik, dan beralih ke ranah seremonial perhelatan Adat Batak semata.

Gelombang perubahan cepat melanda Tanah Batak, sejak PerangPaderi, penjajahan  Hindia Belanda, penjajahan Fascist Jepang, revolusi dan perang kemerdekaan, hingga memasuki zaman kemerdekaan; telah menyebabkan masyarakat di Tanah Batak dari Bona Bulu sampai tanah perantauan menjadi terbuka dan menerima kenyataan. Kini memasuki abad ke-21, mereka telah pula menerima berbagai pengaruh lain, termasuk dampak globalisasi dunia (Internasionalisasi) dengan munculnya: pandangan  hidup dengan kerohanian beragam, akibat serbuan budaya dari beragam bangsa, musik pop, ilmu pengetahuan dan teknologi aneka ragam disiplin, yang mengantarkan umat manusia memasuki peradaban millenium ketiga.

Apapun pengaruh yang telah mendera masyarakat di Tanah Batak, apapun ragam maupun bentuknya, mulai dari waktu silam hingga sekarang, baik terhadap masyarakat yang ber-diam di Bona Bulu maupun yang telah berada di perantauan, kenyataan masih memper-lihatkan sebagaimana yang diajarkan Ompu Simulajadi tentang segala yang ada, dan te-tap saja serba-tiga keadaannya, yakni:

Pertama. Dengan timbulnya keberagaman pandangan agama, masyarakat Batak di Bona Bulu demikian juga mereka yang berada perantauan lalu menganut monotheisme, yakni beriman kepada Tuhan Yang Esa, karena  banyak persamaannya dengan ajaran Ompu Simulajadi. Kepada mereka yang beragama Islam, ini berarti mengakui kehadiran Tuhan  Yang Maha Esa, artinya tiada Tuhan selain Allah. Dan ini menunjukkan Semangat Ketuhanan; yang dalam bahasa Arab diungkapkan rangkaian kata: Hablumminallah.

Kedua. Dengan munculnya berbagai pengaruh budaya dan ilmu pengeauan dari segala penjuru dunia dalam kehidupan masyarakat Batak dari Bona Bulu sampai perantauan, menebabkan adat-istiadat warisan leluhur silam diperkaya, dan pengayaan datang dari lingkungan-lingkungan Nasional dan Internasional. Berbagai pengaruh tadi menyebabkan suku-bangsa Batak melebarkan pandangan hidupnya: dimulai kesukuan yang sempit asal Bona Bulu silam, menjadi Nasional yang lebih luas, lalu Internasional yang gelobal; sekaligus menjadikan mereka semuanya bagian dari masyarakat dunia. Kepada mereka yang beragama Islam ini menunjukkan Semangat Kemanusiaan; yang dalam bahasa Arab diungkapkan dengan rangkaian kata: Hablumminannas.

Ketiga. Perkebangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengantarkan kemajuan sosial, ekonomi, dan budaya dalam masyarakat Batak mulai dari tingkat Bona Bulu silam, lalu Nasional, dan Internasional, menyebabkan suku-bangsa Batak dari Bona Bulu hingga perantauan turut menikmatinya. Karena itu ikut bertanggungjawab terhadap ling-kungan hidup, tidak semata Bona Bulu, tetapi juga Nasional dan Dunia hingga tepian Alam Raya. Bukankah dalam Al-Quran ‘ul Karim tercantum surat 2:11, yang menyeru-kan “….jangan kamu membuat kerusakan di muka bumi….”, lalu diulang dalam berbagai surat-surat yang kemudian menyusul. Kepada mereka yang beragama Islam ini memperlihatkan Semangat Memelihara Lingkungan Hidup; yang bila diutarakan dalam bahasa Arab akan melahirkan untaian kata: Hablumminalkaun.

Dengan demikian Hablumminallah, Hablumminannas, dan Hablumminalkaun, menjadi Sekawan Pernyataan Insan (SPI), yang tidak asing di telinga suku-bangsa Batak yang beragama Islam, karena sejalan dengan pandangan Ompu Simulajadi tentang Alam Raya di Tanah Batak silam, tentang adanya: Banua-Ginjang, Banua-Tonga, dan Banua- Toru yang mengitari kehidupan mahluk di bumi. Hablumminallah merupakan penyera-han diri insan kepada Khalik Sang Pencipta arah vertical; lalu Hablum minannas ialah persaudaraan sesama insan yang horzontal di muka bumi, sedangkan Hablumminal-kaun menjadi tanggungjawab manusia terhadap lingkungan hidup tempat keberadaannya yang menampung semuanya dari dimana kaki berpijak sampai ke tepian Alam Raya.

Apapun ajaran agama yang dianut suku-bangsa Batak mengatur hubungan insan dengan Sang Khalik yang vertikal tidak diragukan lagi berawal dari pandangan Ompu Simulajai silam, sedangkan hubungan sesama umat manusia yang horizontal berawal dari Adat Batak di Bona Bulu silam, lalu meluas jadi nasional dalam negara, kemudian menjadi  antarbangsa di dunia Internasional; melahirkan adat-istiadat kehidupan manusia. Adapun hubungan manusia dengan lingkungan tempat keberadaannya di muka bumi diawali peradaban zaman batu silam, lalu beralih menjadi peradaban zaman logam, kemudian berkembang menjadi peradaban ilmu pengetahuan dan teknologi, disingkat Iptek.

Dengan demikian Agama, Adat-istiadat, dan Iptek yang telah diraih manusia telah meru-pakan Sekawan Perangkat Insan (SPI) untuk meraih: kemajuan, perdamaian, dan kesejah-teraan manusia di bumi kedepan menelusuri abad ke-21. Khusus untuk suku-bangsa Batak SPI merupakan lanjutan dari trilogi ajaran Ompu Simulajadi memasuki millenium ketiga.

Catatan Penulis:

Paukpauk Hudali, Pagopago Tarugi; Na Tading Taulahi, Na Sego Tapauli.

(Dikutip dari tarombo yang dikerjakan Tulang Sutan Habiaran berdiam di Medan)

 

Penyusun: H.M.Rusli Harahap

                    Jalan Batu Pancawarna I/2A, Pulomas

                    Jakarta.13210. Indonesia.

About these ads

Responses

  1. saya pangeran hutagalung sebagai orang tapanuli sepakat dengan hal di atas, terimakasih atas tulisan bapak

  2. Horas Amang,

    Mangido ijin share di group.batak FB ahu. Mauliate.

    • Baen tanggapan munu taringot tu blog on pabotohon blog hamu sumber, share hamu. Horas.

  3. Terimakasih. Abang setuju dengan usul anggi wirsma, tetapi abang masih belum mempunyai ide bagaimana melaksanakanya semetara abang kira desain situsnya masih belum sebaik diinginkan. Abang masih belum menguasai webdesign diperlukan, sementara masih mengharapkan masukan-masukan yang perlu untuk menyempurnakan termasuk penambahan gambar-gambar yang wirsma usulkan berikut pengadaan gambar-gambarnya sekali. Kirim salam abang sekeluarga pada nanguda dan kalian semuanya. Horas.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: