Posted by: rusliharahap | August 17, 2010

Tutur atau Tegursapa

Tegursapa Dalam Masyarakat Batak di Angkola dan Mandailing

A. Pendahuluan

 

Bagi masyarakat Batak, baik yang berdiam di Bona Bulu (Kampung Halaman) maupun yang telah berada di perantauan, generasi seseorang mendapat perhatian istimewa dalam kehidupan sehari-hari. Orang-orang Batak memperhatikan dengan baik siapa yang segenerasi dengan diriya dalam lingkungan kahanggi (keluarga semarga) maupun dalam kekerabatan Dalihan Na Tolu (keluarga besar); begitu pula dengan orang tuanya, dengan kakeknya (ompungnya), dan seterusnya keatas.

Demikian juga yang sebaliknya,  siapa yang lebih rendah generasi dari dirinya; begitu juga dengan anaknya, dan dengan cucunya, dalam kerabat semarga maupun Dalihan Na Tolu (Tungku Yang Tiga). Dan untuk yang satu ini, “generasi”,  dalam masyarakat Batak mendapat perhatian istimewa, karena inilah jalan bagi mereka untuk bersopansantun  yang satu dengan lainnya, amat tinggi nilainya dalam Adat Batak, berguna untuk merekatkan  kekerabatan dalam kehidupan masyarakat di Bona Bulu.

Adapun alat yang dimanfaatkan suku-bangsa Batak bernavigasi dalam lautan kekerabatan keluarga besar sampai ke tingkat Ompu Parsadaan (Leluhur Pemersatu) yang pernah berdiam di Bona Bulu silam, adalah tarombo (Batak),  silsilah keluarga (Indonesia), stamboom (Belanda), family tree (Inggris), baik lisan maupun tulis milik sesuatu marga (kahanggi), maupun kelompok marga (Dalihan na Tolu), yang telah melalui sejarah panjang dan  tetap dipelihara baik.

Tarombo, baik lisan maupun tulis dikatakan terpelihara baik, apabila selalu  disempurnakan oleh kelompok pemilik marga (Kahanggi) dan kelompok keluarga besar (Dalihan na Tolu) dalam perjalanan waktu, lewat pemberdayaan Sumber Daya Manusia kelompok,  atau SDM Kahanggi dan SDM Dalihan na Tolu.

Tegursapa, atau partuturon dalam bahasa Batak, dengan demikian lahir sebagai cara generasi penerus menghargai para pendahulu, begitu juga peran dimainkan yang akhir ini, dan telah menjadi jalan generasi penerus yang datang ke dunia di alam f ana, sehingga sapaan kepada yang “na parjolo adong” (yang lebih dahulu ada)” oleh yang “parpudi ro” (yang datang belakangan) perlu diatur dalam adat Batak.

Selain untuk menghargai jerih payah yang diupayakan generasi pendahulu, tegur sapa juga bermakna mengucapkan terimakasih atas jasa menyiapkan: tondi (jiwa/semangat/kharisma), roha (akal/budi), hingga pamatang (jasmani) generasi penerus, sehingga generasi akhir ini mampu meneruskan kehidupan marga sebagai bagian persaudaraan Kahanggi dan Dalihan Na Tolu kedepan, agar persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat selalu terpelihara.

A. Bagan Tutur atau Tegursapa.


B. Keterangan Pertuturan

Lambang Tutur:

  1. Laki-laki       : bujursangkar
  2. Perempuan : lingkaran
  3. Perkawinan : “
  4. Keturunan   : “
  5. Arah tegur-sapa, atau arah sapaan : ← →

C. Aturan Bertegursapa

1.  Sapaan mereka yang segenerasi di generasi pertama.

A ← B Angkang (A>B);  A → B Anggi (A>B)

A, B ← C   Iboto, atau Ito                    A, B → C    Iboto,  atau Ito

2. Sapaan generasi pertama kepada generasi kedua, dan sebaliknya.

G ← A, B, C  Amang                               G → A, B Amang;  G → C  Inang

I ← A, B, C  Inang                                   I → A, B Amang;  I → C  Inang

F > G ← A, B, C  Amang Tua,  istrinya Inang Tua;  F dan istrinya  → A, B, C sebagaimana G dan I.

F < G ← A,B,C  Amang Uda, atau Uda; istrinya Inang Uda, atau Nanguda.

A, B ← E Amang Naposo ;  C ← E  Parumaen;  A, B, C → E  Namboru

A, B ← D  Tulang Naposo;  C ← D Parumaen;  A, B, C → D  Amang Boru

A, B, C ← J, H  Babere, atau Bere;  A, B,  C → J, H  Tulang

A, B, C ← K  Babere, atau Bere;  A, B, C → K  Nantulang.

3. Sapaan generasi pertama kepada generasi ketiga, dan sebaliknya.

A, B, C ← L, N  Ompung, atau Anggi;  A, B, C → L, N  Ompung.

A, B, C ← M, O Ompung, atau Anggi;  A, B, C → M, O Ompung.

4. Sapaan generasi pertama kepada generasi keempat, dan sebaliknya

Laki-laki ← A, B, C  Amang Tobang                 Laki-laki →  A, B, C, F, G  Amang

Perempuan ← A, B, C  Inang Tobang              Perempuan → A, B, C  Inang.

5. Sapaan mereka yang segenerasi  di generasi kedua.

D ← F, G  Ipar                                                D → F, G   Tunggane, atau Lae

H, J ← F, G  Tunggane, atau Lae             H, J → F, G Ipar

I ← F  Anggi (F > G)                                     I →  F  Angkang (F > G)

I ← F  Angkang (G < F)                               I → F   Anggi (G < F)

E ← F, G   Iboto, atau  Ito                          E → F, G   Iboto, atau  Ito

H, J ← I    Iboto, atau Ito                          H, J → I    Iboto, atau Ito

E ← I  Eda                                                        E → I  Eda

I ← K  Eda                                                        I →  K  Eda

G ← K  Ompung Bayo                                  G → K  Ompung Dongan

D ←  I  Ompung Bayo                                  D → I   Ompung Dongan

6. Sapaan generasi kedua kepada generasi ketiga, dan sebaliknya

E, F, G →  L dan M sebagaimana A, B, C → G dan I, menyapa Amang dan Inang.

H, I, J → N dan O sebagaimana A, B, C → G dan I, menyapa Amang dan Inang.

N  → G   Babere, atau Bere                         N ← G   Tulang

O  → G  Babere, atau Bere                          O ← G   Nantulang.

L  →  D   Babere, atau Bere                         L ← D   Tulang

M  → D  Babere, atau Bere                         M ← D  Nantulang.

Catatan:1.

Adapun landasan bertegursapa dalam Adat Batak sederhana sekali, yakni:

Au (Saya) – Amang (Ayah) – Ompung (Kakek) = Au (Saya).  Artinya:  Saya – Ayah – Kakek, dan kembali lagi Saya.

Karena saya adalah juga kakek, dan ia lebih tua dari saya, maka saya menyapanya (memanggilnya) Angkang (Abang). Sebaliknya ia menyapa saya Anggi (Adik).

Mulai dari Ompung keatas berlaku ulangan kata Amang dan Ompung. Contoh: Amang Tobang, Ompung Tobang, Amang Ompung Tobang, Ompung-ompung Tobang dan seterusnya.

2.  D menyapa tulang kepada L dan nantulang kepada M, karena ia menikah dengan putri mereka sebagaimana yang diatur Adat Batak. Akan tetapi A, B, C menyapa tulang kepada J dan nantulang kepada K, karena J adalah saudara kandung ibu mereka. Dengan perkataan lain, seorang laki-laki suku bangsa Batak yang menikah dengan putri sesuatu keluarga Batak, sesuai Adat Batak, akan menjadikan ayah sang putri saudara kandung ibunya. Hal yang sama berlaku pula untuk seorang laki-laki bukan suku bangsa Batak yang menikah dengan perempuan suku bangsa Batak.

3.  K menyapa amangboru kepada N dan namboru kapada O, karena ia menikah dengan putra mereka sebagaimana yang diatur Adat Batak. Akan tetapi A, B, C menyapa amangboru kepada D dan namboru kepada E, karena E adalah saudara kandung ayah mereka. Dengan perkataan lain, seorang perempuan suku bangsa Batak yang menikah dengan putra sesuatu keluarga suku bangsa Batak akan menjadikan ibunda suaminya (ibu mertuaya) menjadi saudara kandung ayahnya. Hal yang sama berlaku pula untuk seorang perempuan yang bukan suku bangsa Batak yang dinikahi oleh laki-laki suku bangsa Batak.

4. Keluarga Besar Dalihan Na Tolu (Tungku Yang Tiga).

a. Kelompok I adalah kahanggi : L, M, F, G, I, A, B, C.

b. Kelompok II disebut anak boru : D, E.

c. Kelompok III dinamakan mora : N, O, H, J, K.

d. Sejumlah nama Batak dan berbagai gelar digunakan :

A. Batara Harahap (anak).

B. Binanga Harahap (anak).

C. Tiurma Harahap (boru).

D. Pardomuan Pulungan.

E. Ninggor Harahap, gelar Namora Bulan.

F. Gindo Harahap, gelar Baginda Parbatasan.

G. Oloan Harahap, gelar Baginda Pardamean.

H. Sati Nasution, gelar Sutan Parlaungan.

I. Taing Nasution, gelar Namora Oloan.

J.  Borotan Nasution, gelar Baginda Hasudungan.

K. Tidour Lubis, gelar Namora Parlagutan.

L. Gunung Harahap, gelar Mangaraja Guna, Ompu ni Barita.

M. Limbayung Siregar, gelar Namora Soritaon, Ompu ni Barita.

N. Todung Nasution, gelar Baginda Namora, Ompu ni Masnida.

O. Gondoiman Ritonga, gelar Naduma Oloan, Ompu ni Masnida.

5.  Berbagai istilah tutur dalam Adat Batak.

Rajananmi atau Janami, ialah sebutan anakboru kepada moranya.

Na mora na toras, ialah kahanggi dari Raja pendiri huta/kampung.

Kahanggi hombar suhut, ialah mereka yang tulang mereka berpareban

Tulang, ialah saudara laki-laki ibu

Nantulang, ialah istri tulang.

Namboru, ialah saudara perempuan ayah.

Amangboru, ialah suami namboru.

Ipar, ialah sapaan seorang laki-laki kepada suami saudara perempuannya, atau ibotonya.

Tunggane/Lae, ialah sapaan seorang laki-laki kepada saudara laki-laki istrinya, atau ibotonya

Pareban, ialah sapaan seorang laki-laki kepada laki-laki lain yang istri mereka bersaudara atau seayah/seibu.

Ompung Bayo, ialah istri tunggane, atau lae.

Bayo, ialah istri dari adik kandung sendiri.

Babere, ialah anak laki-laki dari saudara perempuan, atau iboto.

Parumaen atau maen, ialah anak perempuan tunggane, atau lae.

Tulang na Poso, ialah anak laki-laki tunggane.

Pisang Raut, ialah boru dari saudara perempuan, atau iboto.

Rompak tutur, ialah anak laki-laki yang menikah dengan anak gadis dari anakborunya.

Babere Pisang Raut, ialah anak laki-laki dari anakborunya.

Pareban Pamore, ialah anak laki-laki dari kahanggi sepengambilan, atau hombar suhut.

–  selesai  –

Jakarta, 22 Nopember 2003

H.M.Rusli Harahap

Jalan Batu Pancawarna I/2A

Pulomas, Jakarta 13210


Responses

  1. Blog yang edukatif – terima kasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: