Posted by: rusliharahap | March 3, 2015

Sarana Penyeberang Jalan-raya

Pendahuluan
Dengan kendaraan bermotor roda: dua, tiga, empat, dan seterusnya meningkat terus menyerbu kota-kota besar dunia dalam perjalanan waktu kedepan, para pejalan-kaki (pedestrian) lalu menemukan sedikit “peluang” untuk menyeberang jalan-raya di lampu-lampu merah bertanda zebra di berbagai kota besar yang padat penduduknya kedepan; dan menjadi persoalan yang semakin sulit dipecahkan oleh para walikota. Adapun yang dikeluhkan para pejalan-kaki ialah: waktu menunggu untuk memperoleh peluang menyeberang yang semakin lama, dan menye-berang jalan-raya yang aman selamat sampai di seberang, kian menghabiskan banyak waktu. Para pejalan-kaki mendapat peluang waktu yang makin pendek di lampu-lampu merah bertanda zebra, terutama pada jam-jam sibuk di hari kerja. Difihak yang sebaliknya, memberi kesempatan kepada para pejalan-kaki menyeberang jalan-raya di lampu-lampu merah bertanda zebra di kota-kota besar yang padat penduduknya menyebabkan antrian panjang kendaraan bermotor pada jam-jam sibuk hari kerja, menimbulkan pencemaran udara yang mengancam kesehatan warga kota.

Untuk mengatasi persoalan diatas, terutama menghindarkan kecelakaan lalulintas di jalan-raya berbagai kota besar yang padat penduduknya di Tanah-Air dan Mancanegara, sudah tiba waktung para pejalan-kaki (pedestrian) hijrah dari: menyeberang jalan-raya “satu bidang” ke menyeberang jalan-raya “dua bidang”, dengan memperkenalkan: Penyeberang Pejalan-kaki Atas (PPA) atau Overhead Pedestrian Crossing (OPC) dan Penyeberang Pejalan-kaki Bawah (PPB) atau Underpass Pedestrian Crossing (UPC), di berbagai kota besar yang padat berpenduduknya di Tanah-Air dan Mancanegara.
PPA adalah satu atau lebih “jembatan penyeberangan” yang menghubungkan dua sisi jalan-raya yang diseberangi para pejalan-kaki ketinggian ± 5 meter diatas permukaan jalan-raya, sehingga beragam kendaraan bebas bergerak terpisah dibawahnya. Sedangkan PPB ialah sebuah pelintasan atau lorong ± 2.5 meter dibawah permukaan jalan-raya untuk para pejalan-kaki, sehingga beragam kendaraan bebas bergerak terpisah diatasnya. Bagi para pejalan-kaki PPB lebih disenangi, karena “menuruni” tangga sedalam ± 2.5 meter dibawah permukaan jalan-raya menguras sedikit tenaga (energy) ketimbang “menaiki” anak-anak tangga tinggi ± 5 meter diatas permukaan jalan-raya.

Penyeberang Pejalan-kaki
PPA dapat dibangun di berbagai kota besar yang padat penduduknya untuk melancarkan lalulintas sekaligus menghindarkan kecelakaan lalulintas di permukaan jalan-jalan raya, sedang-kan PPB hanya dapat dibangun pada sejumlah tempat yang dikenal aman untuk menghindarkan kejahatan. Dalam pelaksanaannya, dibedakan dua golongan PPA yang mendapat sambutan baik warga berbagai kota besar yang berpenduduk padat, yakni: Penyeberang Pejalan-kaki Lurus (PPL) atau Straight Pedestrian Crossing (SPC) sebagaimana yang diperlihatkan Gambar Ia, dan Penyeberangan Pejalan-kaki Terpadu (PPT) atau Integrated Pedestrian Crossing (IPC) sebagaimana tampak pada Gambar Ib.

SaranaMenyeberang Jalan-raya
Gambar-I

Sarana PPL dan PPT
Sebuah PPL dapat terdiri dari satu atau lebih jembatan penyeberangan yang menghubungkan kedua sisi jalan-raya yang diseberangi oleh para pejalan-kaki. Sedangkan PPT terdiri dari seke-lompok jembatan penyeberangan mengitari pertemuan jalan-jalan raya (roundabout). Yang disebut akhir ini tidak perlu merupakan sebuah lingkaran sempurna sebagaimana yang diperlihatkan oleh Gambar-Ia, tetapi dapat juga sebuah bangun tertutup (loop) sebarang bentuk menurut keadaan lingkungan alam yang terdapat di persimpangan jalan-jalan raya (motorway interchange) kota besar berpenduduk padat Tanah-Air atau Mancanegara yang dibicarakan.
Dengan PPL dan PPT sebagai “sarana baru” untuk menyeberang jalan-raya di berbagai kota besar yang padat penduduknya di nusantara dan mancanegara, menyeberang jalan-raya “budaya baru” yang dibantu “sarana naik” dan “sarana turun” dirancang khusus untuk para pejalan-kaki yang melintas di teriknya siang hari, atau dinginnya tengah malam, akan menggantikan “budaya lama” menyeberang jalan-raya “menaiki” dan “menuruni” anak-anak tangga yang menguras banyak “tenaga” (energy). Budaya lama selain sudah ketinggalan zaman, juga tidak lagi layak digunakan ditinjau dari ukuran (standard): keamanan, kenyamanan, perlindungan, dan kese-lamatan jiwa manusia, perlu segera diakhiri di Tanah-Air dan Mancanegara di berbagai kota besar yang padat penduduknya, oleh alasan sederhana: menyalahi “hak azasi manusia” untuk menyeberang jalan-raya: aman, nyaman, dan selamat sampai ke seberang; dewasa ini semakin dikuasai atau didominasi mesin bikinan manusia dimana-mana di hampir seluruh penjuru dunia.

Elevator Pejalan-kaki
Yang dinamakan “sarana naik” tidak lain dari sebuah “bilik-angkut” dinamakan juga “ruang-angkut” atau lebih popular dengan istilah: “kabin elevator” yang bergerak keatas, sedangkan “sarana turun” ialah bilik angkut yang sama tetapi sedang bergerak kebawah; keduanya tidak lain dari sebuah “kabin elevator” yang dirancang khusus untuk menaikkan atau menurunkan para pejalan-kaki menyeberang jalan-raya sebagaimana yang terlihat pada Gambar-II, berteknologi sederhana: 1. Bolt-Nut dengan Bevel Gear, atau 2. Rack-Pinion dengan Bevel Gear dan Worm Gear, dijalankan motor induksi rem (brake induction motor).
“Ruang angkut” akan menaikkan para pejalan-kaki dari permukaan jalan-raya menuju PPL atau bagian PPT di suatu ketinggian, atau sebaliknya menurunkan para pejalan-kaki dari sisi lain PPL atau bagian PPT suatu ketinggian kembali ke permukaan jalan-raya di seberang; dan “ruang angkut” inilah yang kemudian dinamakanaa; Elevator Pejalan-kaki (EP) atau Pedestrian Elevator (PE). Dengan meninggalkan “budaya lama” dan hijrah ke “budaya baru”, para pejalan-kaki dari semua generasi mulai yang normal hingga kaum disable, dimanapun di muka bumi ini, akan menyeberang jalan-raya berbagai kota yang padat penduduknya dengan: aman, nyaman, dan sselamat terbaik di dunia.

Dengan hijrah ke budaya baru, para pejalan-kaki warga kota besar yang padat penduduk yang menyeberang jalan-raya, akan pertama kali dinaikkan EP ke PPL atau bagian PPT ketinggian ± 5 m diatas jalan-raya. Lalu membiarkan mereka berjalan kaki diatas permukaan datar (hori-zontal) sepanjang PPL atau bagian PPT; kemudian dari sisi lain PPL atau bagian PPT, para pejalan-kaki akan diturunkan EP lain kembali ke permukaan jalan-raya seberang.

Tenaga listrik yang diperlukan untuk menaikkan atau menurunkan EP, menggerakkan sistim listrik, elektronik dan lainnya, tidak terkecuali menyalakan penerangan, diperoleh dari PLN. Sumber tenaga listrik lain yang juga dapat digunakan ialah peladangan sinar matahari dikendalikan sistim elektronik. Begitu juga tenaga listrik diperoleh dari peladangan tenaga angin.

Daya angkut atau kapasitas EP digunakan tergantung dari rancangan ukuran dan luas lantainya. Semakin luas lantainya, semakin besar daya angkut pejalan-kaki sebuah bilik atau kabin elevator. Dalam merancang EP perlu ditentukan standard daya angkut pejalan-kaki sebuah EP, seperti: 10 orang, 20 orang, 30 orang, dan lainnya.
PPL dan PPT dapat dibangun dari beton bertulang seperti tempat berjalan kaki setinggi ± 5 meter diatas jalan-raya yang dilalui para pejalan-kaki, juga konstruksi baja seperti EP lengkap dengan ruang-angkutnya. Sebagai bagian dari konstruksi beton, beton pratekan (reinforced concrete) dapat dimanfaatkan, seperti: jembatan lurus, jembatan terpadu, dan bermacam tiang penyangga yang dibutuhkan. Dalam pembuatan EP, diperlukan juga baja kanal-C atau baja kanal-H, pipa baja, plat baja, dan lain sebagainya, tidak terkecuali untuk pagar pembatas dan pengaman, agar lebih ekonomis.

Terdapat dua macam EP yang dapat dibuat, masing-masing: Elevator Topang Keliling (ETK) atau Peripherally Braced Elevator (PBE) sebagaimana tampak pada Gambar-IIa, dan Elevator Topang Tengah (ETT) atau Centrally Braced Elevator (CBE), yang diperlihatkan pada Gambar-IIb.

EP-I
Gambar-II

ETK adalah sebuah konstruksi baja bangun persegi atau bulat yang menyerupai sangkar, di dalam mana sebuah bilik atau kabin untuk para pejalan-kaki dapat bergerak naik atau turun. Sedangkan ETT, adalah tiang tengah terbuat dari beton atau baja, disekeliling mana bilik atau kabin untuk para pejalan-kaki bentuk persegi atau bulat dapat bergerak naik atau turun. Berbeda dengan lift bangunan tinggi, ETK dan ETT tidak memerlukan kabel baja untuk menggantung bilik atau kabin para pejalan-kaki berikut perlengkapannya, akan tetapi membutuhkan pelataran atau platform untuk lantai termasuk empat Alat Angkat (AA) atau Lifting Device (LD) bertek-nologi sederhana, yakni: 1. Bolt-Nut dengan Bevel Gear, atau 2. Rack-Pinion dengan Bevel Gear dan Worm Gear, yang digerakkan motor induksi rem.

Keempat AA (LD) akan bersama-sama menaikkan pelataran bersama bilik atau kabin serentak menaikkan para pejalan-kaki didalamnya keatas, sebaliknya bersama-sama menurunkan bilik atau kabin berikut para pejalan-kaki kebawah, dilakukan sebentuk sistim mekanik yang terdapat dalam kompartemen penggerrak dibawah lantai kabin. Elevator berikut bilik atau kabin yang ada diatasnya tidak dapat turun dengan sendirinya atau merosot oleh berat sendiri berikut para pejalan-kaki didalamnya, kecuali digerakkan oleh motor induksi rem. Dengan perkataan lain, elevator berikut para pejalan-kaki didalamnya tidak akan dapat bergerak naik atau turun, ma-nakala tidak mendapat perintah untuk melakukannya.

Tenaga listrik mengalir dari jala-jala PLN atau sumber listrik lain melalui kabel daya menuju panel ETK atau panel ETT, dan lewat pengantar daya lemas (flexsible) masuk kedalam bilik atau kabin. Pilihan lain menggunakan tiga rel tembaga tersekat dan dipungut tiga sikat karbon. Manakala jaringan PLN gagal menyediakan daya listrik, sebuah sumber tenaga listrik darurat (emergency power supply) perlu ditempatkan di dalam bilik atau kabin EP.
Dengan peladangan cahaya matahari semakin banyak dimanfaatkan orang kedepan, begitu juga peladangan tenaga angin, budaya baru menyeberang jalan-raya tidak saja terdapat di kota-kota besar yang padat penduduknya, tetapi juga di beragam tempat lain jauh di luar kota besar, dimana “hak manusia” untuk menyeberang jalan-raya dengan: aman, nyaman, dan selamat, harus dilaksanakan.
Sebuah Pengendali Logika Terprogram (PLT) atau Programmable Logic Controller (PLC) perlu terdapat dalam EP, yang bertindak sebagai antarmuka (interface) antara para pejalan-kaki dengan sistim elektro-mekanik (electro-mechanical system) yang menaikkan dan menurunkan bilik atau kabin EP, agar yang akhir ini dapat memahami perintah para pejalan-kaki, begitu juga sejumlah pemutus batas (limit switches), berbagai saluran kendali (control wirings), termasuk sejumlah tombol (push buttons) yang diperlukan.
Sarana Peneyeberang Jalan-Raya Mandiri
Gambar-III memperlihatkan sarana penyeberang jalan-raya berdiri sendiri atau mandiri untuk para pejalan-kaki, sebagaimana tampak atas yang terlihat pada Gambar-IIIa dibawah ini:

busway-01a
Gambar-IIIa

Adapun keterangan dari PPL mandiri yang terlihat dari atas, dari kiri ke kanan, adalah sebagaimana yang dikemukakan dibawah ini:
a. Lajur Angkutan Umum Hilir.
b. Lajur Angkutan Busway Hilir.
c. Lajur Angkutan Busway Mudik.
d. Lajur Angkutan Umum Mudik.
e. Tapak tempat para Penyeberang Jalan Raya Berkumpul atau Bubar:
x – jarak tapak dari Penyeberang Pejalan-kaki Lurus (PPL)
y – jarak tapak dari sumbu jalan-raya yang diseberangi pejalan-kaki.
Kedua besaran ini tidak perlu harus sama di kedua sisi jalan-raya, begitu juga luasnya. Hal ini banyak tergantung dari keberhasilan pemerintah kota membebaskan lahan keperluan para warga menyeberang jalan-raya, men- jadikannya tempat pemberhentian (halte) bus atau busway, menyimak keten- tuan SNI yang berhubungan dengan masalah ini.
f. PPL.
g. EP (Elevator Pejalan-kaki).
h. Tinggi PPL diatas jalan-raya.

busway-01b
Gambar-IIIb

Adapun sejumlah bagian PPL yang tampak dari depan, ialah sebagai berikut:
f. PPL yang menghubungkan kedua sisi jalan-raya diseberangi.
i. Tiang penyangga terdapat ditengah jalan-raya.
g. EP yang terdapat di kedua ujung PPL, diatas tapak kanan dan tapak kiri.
h = ± 5 m ketinggian PPL diatas jalan-raya diseberangi.

busway-01c
Gambar-IIIc

Gambar-IIIc memperlihatkan PPL mandiri terlihat dari samping.
f. PPL pada tinggi penyeberangan jalan-raya.
g. EP terdapat di salah satu tapak.
Saat akan menyeberang jalan-raya, para pejalan-kaki perlu menurunkan terlebih dahulu EP (bilamana elevator sedang berada diatas) sedemikian rupa, hingga lantai bilik atau kabin rata dengan permukaan jalan-raya. Dengan menekan Tombol Buka (TB) dari luar, pintu bilik atau kabin segera membuka, dan para pejalan-kaki dapat masuk. Dengan menekan Tombol Tutup (TT) dari dalam bilik atau kabin, EP akan bergerak keatas dan baru berhenti setelah menyentuh pemutus batas (limit switch) atas. Selanjutnya TB ditekan dari dalam, pintu bilik akan terbuka dan para pejalan-kaki dapat keluar menuju PPL atau bagian PPT. Selesai.
Menurunkan para pejalan-kaki dari tinggi PPL atau bagian PPT, dimulai dengan menaikkan EP (apabila elevator sedang berada dibawah) sedemikian rupa hingga lantai bilik rata lantai PPL atau bagian PPT. Dengan menekan TB dari luar, pintu bilik akan membuka dan para pejalan-kaki dapat masuk. TT kemudian ditekan dari dalam menyebabkan bilik atau kabin bergerak turun, baru akan berhenti setelah menyentuh pemutus batas bawah. Selanjutnya TB ditekan dari dalam membuat pintu bilik atau kabin terbuka, dan para pejalan-kaki keluar menuju jalan-raya sebe-rang. Selesai.
Terdapat nada berbeda yang akan menyertai EP saat bergerak naik maupun turun. Tujuannya untuk memberitahu orang-orang yang berada disekitar bahwa EP sedang bekerja memberi pelayanan kepada para pejalan-kaki yang menyeberang jala-raya.
PPL ditempatkan di berbagai tempat strategis kota besar yang berpenduduk padat dengan kendaraan sangat sibuk melaju pesat, sedangkan PPT ditempatkan mengelilingi sebuah per-simpangan jalan-jalan raya dengan kendaraan sibuk juga melaju pesat. Dengan pemisahan sempurna para pejalan-kaki dari bermacam kendraan berlalulalang, kecepatan rata-rata lalulintas dapat ditingkatkan menuju ke kecepatan ekonomis kendaraan dirancang, demi menghemat pemakaian bahan-bakar, mengurangi pencemaran udara, menyingkat waktu tempuh, dan mematuhi tertib lalulintas. Dan yang disebut belakangan, tidak dapat diperoleh hanya dengan manipulasi aturan lalu-lintas saja (soft-ware atau perangkat-lunak), tetapi harus dengan menghadirkan sarana (hardware atau perangkat-keras) berupa: PPL dengan EP, atau PPT de-ngan EP. Inilah yang dinamakan: Software+Hardware Solution , disingkst SHS, atau Pe-mecahan Perangkat-lunak+Perangkat-keras, disingkat PPP atau 3P, terhadap masalah lalu-lintas di kota-kota besar yang padat penduduknya di Tanah-Air maupun Mancanegara, dimanapun berada di muka bumi.

Penyeberangan Jalan-raya Berbayar
Dengan adanya PPL, PPT, dan EP di berbagai kota besar berpenduduk padat yang siap melayani, setiap orang yang dengan sengaja menyeberang jalan-raya di tempat yang terlarang harus dihukum. Dasar hukum yang mendasarinya jelas, para penye-berang liar akan membuat para pengemudi terkejut dan menurunkan laju kendaraan dibawah kecepatan lalulintas rata-rata yang diperintahkan, menyebabkan pemakaian bahan-bakar boros, pencemaran udara meningkat, peraturan dilanggar, dan lenyapnya waktu yang berharga.
Dengan keberadaan PPL, PPT, dengan EP di berbagai kota besar yang padat berpenduduknya di Tanah-Air maupun Mancanegara, dapat diperkenalkan “menyeberang membayar”, atau “pay crossing” kepada masyarakat. Tujuanny menghimpun dana untuk mengoperasikan dan merawat sarana menyeberang jalan-raya budaya-baru, manakala walikota menolak menggunakan dana pajak masyarakat. Dengan selogan: “Setiap orang dapat bayar menyeberang“, atau “Everyone can pay across”, siapa saja yang benar-benar tidak mempunyai uang, akan langsung diberi uang oleh yang melola untuk menyeberang, atau oleh siapa saja yang berniat membantu membayar atau bersedekah menyeberangkan orang.
Sarana kota budaya-baru ini tidak hanya mendapat pemasukan uang dari para pejalan-kaki yang akan menyeberang jalan-raya. Masih banyak sumber penghasilan lain yang dapat digali yang melola tergantung dari kreatifitas orang yang diberi kepercayaan. Dengan adanya PPL, PPT, dibantu EP di berbagai kota besar yang padat penduduknya di nusantara dan dunia, orang-orang tua demikian juga mereka yang cacat jasmani akan menyeberang jalan-raya dengan mudah, dan sudah tentu orang-orang perempuan dan anak-anak.

Penyeberang Jalan-Raya Tergabung Busway.
Prasarana budaya-baru menyeberang jalan-raya: PPL, PPT, berikut EP dapat dengan mudah bekerjasama dengan layanan angkutan umum, seperti: angkot, metromini, bus, tidak terkecuali busway di berbagai kota besar yang padat penduduknya, antara lain: Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar dan lainnya.
Pada gambar-IV disajikan Penyeberangan Pejalan-kaki Lurus Tergabung Busway atau Terpadu Busway, disingkat: PPLTB. Dengan kehadiran PPLTB para pejalan-kaki akan mudah disebe-rangkan, dan para penumpang busway: anak-anak, kaun permpuan, para disable, hingga orang tua, akan mudah “naik” atau “turun” dari buaway, sebagaimana tampak pada Gambar-IVa bawah ini.

busway-02a

Gambar-IVa

Adapun berbagai bagian dari PPLTB yang terlihat dari atas, ialah sebagaimana dibawah ini:
1. Lajur Angkutan Umum Hilir
2. Lajur Angkutan Busway Hilir
3. Lajur Angkutan Busway Mudik
4. Lajur Angkutan Umum Mudik
5. Tapak di sisi kiri dan sisi kanan jalan-raya, sekaligus Halte Busway
6. Ruang Naik Turun (RNT) penumpang Busway ditengah jalan-raya.
7. EP terdapat dalam RNT ditengah jalan-raya.
8. EP diatas tapak kanan dan tapak kiri kedua sisi jalan-raya.
9. PPLTB yang menghubungkan kedua sisi jalan-raya.

Dengan membangun PPLTB di seluruh Pemberhentian atau Halte Busway, maka semua tangga tempat berjalan kaki naik atau tempat berjalan kaki turun, dan berkelok-kelok mengitari setiap Halte Busway yang ada kini dapat dihilangkan, sehingga pemandangan garis-langit (skyline) Ibukota Jakarta, terlihat semakin indah dan menawan.

busway-02b

Gambar-IVb

Adapun bagian-bagian PPLTB yang terlihat dari muka, ialah:
9. PPLTB yang menghubungkan kedua sisi jalan-raya diseberangi
6. RNT ditengah jalan-raya dengan dua EP berada didalamnya
8. EP yang terdapat di kedua ujung PPLTB, diatas tapak kanan dan di tapak kiri.
h = tinggi PPLTB diatas jalan-raya.

busway-02c

Gambar-IVc
Adapun Gambar-IVc memperlihatkan sebuah PPLTB tampak samping.
9. PPLTB tinggi penyeberangan.
8. EP berdiri di salah satu tapak.
6. RNT ditengah jalan-raya dengan dua EP ada didalamnya.

Mempromosikan Sarana Menyeberang Jalan-Raya Budaya-Baru
Untuk memperkenalkan sarana menyeberang jalan-raya “budaya-baru” kepada para pejalan-kaki (pedestrian) di Tanah-Air dan Mancanegara, dimulai dari pengunjung kawasan Silang Monas Ibukota Jakarta yang tidak menggunakan kendaraan bermotor. Dengan menempatkan PPL atau PPT beserts EP di sejumlah tempat strategis, diantaranya di: jalan Merdeka Utara, jalan Merdeka Timur, jalan Merdeka Selatan, dan jalan Merdeka Barat, warga kota, wisatawan para pejalan-kaki domestik sampai mancanegara akan dengan sukacita masuk dengan “budaya baru”, ke kawasan Silang Monas di kota Jakarta karena itulah pilihan yang terbaik, karena: aman, nyaman, dan terhindar dari kecelakaan tidak diinginkan. Dengan hadirnya PPL, PPT, berikut EP, tak seorang pun yang berfikiran sehat atas kemauan sendiri bersedia meninggalkan “budaya baru”, saat meninggalkan kawasan Silang Monas, karena selain aman, nyaman, dan selamat juga sangat menghemat tenaga.

SNI.
Dalam menghadirkan: PPL, PPT berikut EP tidak diragukan lagi perlunya keterlibatan Standard Nasional Indonesi (SNI). SNI akan melibatkan banyak fihak yang berurusan dengan kepentingan warga kota, antara lain: keamanan, kenyamanan, keselamatan, keandalan, ekonomi, efisiensi, sumber tenaga (energy), peraturan perundang-undangan, peraturan pemerintah, asuransi, dan masih banyak lagi aspek lainnya; juga keterlibatan disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan untuk menghadirkannya. Sarana penyeberang jalan-raya budaya-baru ini dapat dibuat di dalam negeri dan hanya membutuhkan sedikit komponen import. Waktu pembuatan PPL, PPT berikut EP untuk para pejalan-kaki yang akan berkunjung ke Silang Monas di Jakarta diperkirakan sekitar 6 sampai 12 bulan.

Penyeberang Untuk Kendaraan Bermotor
Sarana jalan-raya PPL, PPT, berikut EP mudah dikembangkan juga untuk menyeberangkan kendaraan roda: dua, tiga, dan empat, guna mengalihkan sebagian lalulintas menuju ke jalan samping, jalan seberang, atau jalan bersilang, sehingga kepadatan kendaraan di jalan bebas hambatan, seperti: jalan tol dan jalan lainnya dapat diturunkan kepadatannya dengan segera.
Dengan demiksarana, kendaraan mogok, atau rusak, atau lainnya yang tidak lagi dapat bergerak dapat langsung dikeluarkan dari jalur jalan bebas hambatan.

Catatan:
Gagasan penyeberang jalan-raya ini telah dipatenkan penulis di Kantor Paten Republik Indo-nesia, Jakarta, dengan judul “Penyeberangan Jalan-Raya”, pada tanggal 14 April 2004.

——–selesai——–

Penulis:
H.M.Rusli Harahap
Pamulang Residence G1
Jalan Pamulang-2, Pondok Benda.
Kode Pos: 15416. Tangerang Selatan.
Tel. 021-74631125.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: