Posted by: rusliharahap | July 3, 2015

Cepat Selamatkan Kedua Ibu!

Cepat Selamatkan Kedua Ibu!

Banyak yang telah mendengar keluhan dua Ibu kesakitan
Tetapi, tidak ada yang tahu darimana suara derita datang
Keluhan semakin keras bersama waktu, bertukar zaman
Mari, selamatkan kedua Ibu kesakitan malang sekarang!

Pendahuluan
Agama telah menyampaikan bahwa, manusia tidak terkecuali beragam makhluk lain, datang ke alam fana di muka bumi ditakdirkan Allah Subhanahu Wataala, awalnya (pertama) sebagai ruh (bukan-benda) dalam perjalanan panjang. Setibanya di muka bumi, manusia begitu pula makhluk lain melangsungkan pula perjalanan berikutnya (kedua): diawali hadir dalam kandungan, lalu lahir ke dunia sebagai bayi, menjadi balita, anak, remaja, dewasa, orang-tua, kakek/nenek, men-jalani usia senja, dan akhirrnya tiba ke batas usia. Untuk memperlihatkan keberadaan manusia, begitu juga makhluk lain di permukaan planit biru agar terlihat, dapat bertegur sapa, berkomu-nikasi, dan melakukan hal lain; manusia demikian juga makhluk lain mendapat pinjaman benda (materi) dari muka bumi untuk “tubuh”, juga dinamakan orang “badan” atau “jasmani”.

Adapun yang dinamakan belakangan, awalnya diberikan kedua orangtua pada manusia atau makhluk lain saat bersanggama, lalu usai menyusu kepada ibu yang melahirkan, dipinjamkan langsung oleh bumi lewat kegiatan: minum, makan, bernafas, bergerak, diolah Teknologi Makh-luk Hidup (TMH) yang berlangsung dalam tubuh manusia atau makhluk lain dengan reaksi “kimia organik dingin” (cold organic chemistry), memanfaatkan berbagai macam unsur kimia tercantum dalam tabel Mendeleyev, kini lebih dikenal dengan table periodic, seperti: hidrogen, aksigen, karbon, dan lainnya; dimana dua unsur kimia dituliskan terdahulu merupakan yang terbanyak. Setelah menempuh kehidupan alam fana di muka bumi serentang hayat melakukan “persiapan”, manusia demikian pula berbagai makhluk lain, meneruskan perjalanan awal kem-bali sebagai ruh, setelah terlebih dahulu mengembalikan badan atau jasmani (materi) yang dipin-jam dari muka bumi memenuhi panggilan Allah Subhanahu Wataala.

Dari dua perjalanan dikemukakan, yang banyak mendatangkan persoalan kepada manusia, ialah yang disebut terakhir sebagai benda (materi), yakni perjalanan alam fana di permukaan bumi. Tidak dapat disangkal, bahwa dalam perjalanan belakangan ini, terdapat “kewajiban” dan “tang-gungjawab” yang harus diemban terjabar kedalam: 3 (tiga) golongan agar tertib hidup dengan segala yang ada dapat tercipta. Pertama: hubungan dengan Sang Maha Pencipta, juga dikenal dengan ungkapan: “hablumminAllah” karena telah mendatangkan manusia dengan beragam makhluk lainnya ke Alam Semesta, wabilkhusus permukaan bumi sebagai tempat berdiam, yang diselimuti atmosfer berisi udara; begitu juga air yang memenuhi segala cekungan yang ada di permukaannya, mulai: parit, kolam, sungai, danau, laut, hingga samudra; daratan sebagai tempat berdiam dan berusaha. Yang disebut belakangan, tidak lain dari lahan untuk bertanan menum-buhkan beragam tanaman: pangan, obat, sandang, papan, dan lainnya, dengan cahaya dan panas didatangkan langsung dari matahari. Kedua: hubungan manusia antara sesam-anya apapun suku asal dan kepercayaannya, juga dikenal dengan ungkapan: “hablumminannas”, tidak terkecuali dengan aneka ragam makhluk lain yang juga terdapat di muka planit biru. Ketiga: hubungan manusia berikut makhluk lainnya dengan Alam Semesta, dikenal dengan ungkapan: “hablum-minalkaun”, wabilkhusus bumi juga dinamakan “planit biru”, oleh keistimewaan dimiliki yang belum semuanya terungkap kepada insan sampai kini, dan belum dapat ditemukan bandingannya dengan planit manapun yang ada di Alam Semesta. Dan terhadap yang akhir, sebuah “aturan ber-prilaku” (code of conduct) dimulai dari “sopan santun” hingga “etika” dan “hukum” harus disu-sun segera guna “ditegakkan” dan “dipantau” pelaksanaannya dengan pengadilan dikenakan kepada para pelanggarnya, sehingga kedepan Alam Semesta, wabilkhusus bumi tempat berbagai makhluk bernyawa berdiam akan dapat terpelihara kelestariannya dari kerusakan yang dise-babkan perbuatan tangan manusia, baik oleh ketidak tahuan melahirkan kebodohan, juga yang tidak bertanggungjawab, menelusuri waktu dan menempuh zaman.

Revolusi Industri
Surat Al-Baqarah (Sapi Betina), Ayat 11, telah menyampaikan:

2_11
Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi24, mereka menjawab: ”Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”.
24Kerusakan yang mereka perbuat di bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.

Selanjutnya, surat Ali-Imran Ayat 112 mengemukakan pula:

3_112
Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia218), dan mereka kembali mendapat kemur-ka-an dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu219) karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu220) disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.
[Sumber: Al-Quran dan Terjemahannya, hadiah “Kerajaan Saudi Arabia”, berlangsung pada mu-sim haji tahun 1983.]

Masih banyak lagi surat lain menyusul kemudian, juga mengingatkan manusia agar “tidak membuat kerusakan di muka bumi”. Akan tetapi dengan telah munculnya revolusi industri di Eropa: gelombang pertama diawali tahun 1760 sampai 1820 dan 1840 (penghujung abad ke-18 dan awal abad ke-19), diteruskan gelombang kedua dari 1840 hingga 1870; mengawali kemajuan perekonomian di daratan Eropa silam, menemukan momentum dengan jaringan jalan kereta-api yang dihela lokomotiv-uap tersebar di berbagai negara di bagian dunia itu; juga lahirnya ber-agam kapal: mulai sungai, laut, hingga samudra yang dijalankan mesin-uap diawali di Amerika Serikat tahun 1850, untuk menggantikan layar yang dihembus angin. Penemuan pesawat-terbang oleh Wright Bersaudara di Amerika Serikat memasuki abad ke 20, juga menjadi bagian dari semua yang menyebabkan perubahan besar di muka bumi dalam berbagai bidang kehidupan manusia, antara lain: perjalanan darat awalnya serba berjalan kaki dimana-mana di seluruh dunia, dan gerobak (wagon) dihela ternak piaraan: lembu, kerbau, kuda, dan lainnya, lalu digantikan mesin-uap lalu mesin-diesel; juga angkutan laut yang digerakkan layar menjadi dijalankan mesin-diesel; muncul lagi angkutan udara dijalankan mesin dan antariksa didorong roket meramaikan langit di seputar bola bumi yang tidak terba-yangkan umat sebelumnya dapat disaksikan orang di muka bumi.

Pertanian, industri, tambang, dan lain sebagainya lalu beralih dari serba dikerjakan tenaga manusia dibantu hewan, menjadi samasekali dijalankan mesin. Muncul pula beragam mesin perang, sebagaimana yang telah disaksikan banyak orang dalam Perang Dunia ke-I dan Perang Dunia ke-II silam, dan sejumlah perang kemudian menyusul, antara lain: perang Korea dan perang Vietnam, dan lainnya.

Revolusi industry telah mengubah lingkungan hidup umat di muka bumi, tidak terkecuali makh-luk lain dibandingkan dengan berbagai macam zaman yang telah mendahului. Revolusi industri juga telah mengubah hidup masyarakat manusia di muka bumi, mulai: adat-istiadat, komunitas, tata-nilai, ekonomi, seni dan budaya, kepercayaan, agama, dan masih banyak lagi lainnya di seantero planit biru, dimulai dari negara maju hingga dengan negara yang masih berkembang. Revolusi industri yang dimulai dari Inggris, lalu meluas ke seluruh Eropa, kemudian menyebar ke Amerika Utara, dan Jepang, akhirnya melanda dunia, tidak terkecuali Indonesia. Revolusi yang semula dianggap “berkah” untuk umat yang hidup di permukaan bumi dengan hadirnya beragam sarana angkutan digerakkan mesin memudahkan orang bepergian kemana saja, tidak terkecuali menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci di Mekah dan Madinah, Saudi Arabia me-ngendarai pesawatterbang.

Akan tetapi, setelah lebih dari dua setengah abad berlangsung, umat manusia lalu menyadari, bahwa revolusi industri diawali dari Eropa silam terbukti menjadi “pembawa bencana” kepada umat dan makhluk lain yang hidup di permukaan bumi, dengan semakin seringnya timbul badai bertiup dengan “kecepatan pesawatterbang tinggal landas”; salah satu daripadanya, ialah yang telah “meratakan kota Tacloban” yang terdapat di Filipina belum lama berselang.

13_13

Surat Ar-Rum, ayat 41, dalam Al-Quran, telah memperingatkan umat dengan ungkapan:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, su-paya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Tampaknya peringatan surat Ar-Rum, ayat 41, sekarang sedang berbuat merasakan kepada umat di muka bumi “sebahagian dari akibat dari perbuatan tangan mereka, agar kembali ke jalan yang benar”.
Sudah sejak ratusan ribu tahun berlalu, terjabar kedalam berbilang zaman silam, Allah Subha-nahu Wataala mengutus para Nabi datang ke bumi mengajarkan umat bagaimana cara menjalani kehidupan alam fana di muka bumi, mulai dari menjalankan kewajiban hingga dengan memikul tanggung jawab yang harus diemban, agar manusia begitu juga makhluk lain sebagai bagian dari Alam Semesta, wabilkhusus bumi, dapat berjalan dengan tertib dan aman. Tiga orang Rasul terkenal tampil belakangan menemui umat di muka bumi, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Quran, ialah: Nabi Musa AS membawa Kitab Taurat untuk umat Yahudi, kemudian Nabi Isa Al-Masih AS yang membawa Kitab Injil untuk umat Nasrani, dan terakhir Nabi Muhammad SAW yang membawa Kitab Al-Quran untuk umat Muslim. Selain menyampaikan bermacam Kitab Suci memuat beragam surat berisikan ayat-ayat yang menjabarkan, masih ada lagi cara hidup diteladankan para Rasul yang diriwayatkan para penulis hadis tersebar luas yang diting-galkan.

Sebagai benda (materi) ciptaan Ilahi terbentuk dari bahan asal permukaan bumi lewat TMH, manusia begitu juga makhluk lain akan berhadapan dengan beragam persoalan dan masalah berikut keragaman masing-masing menjalani kehidupan alam fana di muka bumi sejak dari kan-dungan, lahir sebagai bayi, menjadi balita, anak, remaja, dewasa, orang tua, kakek/nenek, men-jalani usia senja, hingga tiba di akhir hayat. Setelah sekitar dua tahun menyusu pada “ibu yang melahirkan”, tanggungjawab mengurus insan lalu diserahkan pada “ibu asuh”. Adapun yang men-jadi “ibu asuh” manusia, begitu juga makhluk lain, ialah “bumi” atau “planit biru”, karena yang akhir ini selain menjadi tempat berdiam bagi insan dan makhluk lainnya, juga lingkungan hidup menyediakan beragam keperluan hidup alam fana di muka bumi, seperti: udara, air, pa-ngan, obat-obatan, sandang, papan, dan lain sebagainya, hingga dengan cahaya dan panas matahari, sebelum akhirnya kembali menghadap pada Sang Khalik. Itulah sebabnya, mengapa setiap makhluk ditakdirkan berdiam di permukaan sebuah planit dimanapun di Alam Semesta (Al-Kaun) yang sangat luas ini, akan memperoleh dua ibu, masing-masing: ibu yang melahirkan dinamakan: “Ibu Kandung”, disingkat IK, lainnya ibu yang mengasuh dinamakan: “Ibu Asuh”, yang tidak lain dan tidak bukan ialah planit tempat berdiam di Alam Semesta, dinamakan juga: Ibu Planit, disingkat IP. Setiap bangsa yang ada di muka bumi ini mengenal apa yang dinamakan: “ibu-pertiwi”, yakni bagian dari muka bumi yang dihuni oleh warga bangsanya. Dengan demikian Ibu Planit, merupahan gabungan dari semua ibu-pertiwi yang dihuni segala bangsa yang ada di muka bumi atau planit biru ini. Itulah sebabnya mengapa planit, dimana manusia dan berbagai makhluk lain yang ada di Alam Semesta bernama: Ibu Bumi, disingkat IB. Dengan demikian setiap mahluk yang berada di Alam Semesta, di planet manapun mahluk tadi ditakdirkan Allah Subhanahu Wataala berdiam, akan dilahirkan IK masing-masing dan diasuh IP bersama.

Earth_Eastern_Hemisphere

Ibu Bumi
Sumber: Google

Kehidupan Alam Fana
Tidak terhitung banyak persoalan berikut ragamnya dihadapi manusia dalam menjalani hidup alam fana di permukaan bumi, terjabar kedalam: perorangan, keluarga, kelompok, suku, daerah, nasional, dan internasional. Ada persoalan anak baru menginjak puber berikut kenakalannya yang memerlukan perhatian. Ada lagi persoalan kemiskinan umat yang berdiam di muka bumi yang membutuhkan pemecahan. Ada pula persoalan buta huruf menghlangi kaum muda memperoleh pendidikan diperlukan. Ada persoalan kakek/nenek lemah fisik sudah pikun yang jumlahnya makin bertambah di negara ekonomi maju. Ada masalah keyakinan, agama, inte-lektual, dan banyak lagi lainnya memerlukan perhatian masyarakat dan pemerintah. Ada masalah pengrusakan hutan di muka bumi yang belum dapat dikendalikan oleh yang berwenang. Ada masalah yang termasuk: kriminal, narkoba, pembajakan, pelanggaran disiplin, keteladanan moral. Ada lagi kejahatan dunia maya, penyadapan informasi, dan masih banyak lainnya. Yang tidak kalah mengkhawatirkan umat yang hidup di muka bumi ialah pencemaran lingkungan hidup mulai: darat, air (parit, kolam, kanal, sungai, laut, hingga samudra), atmosphere, juga angkasa sekeliling bola bumi, sejak “revolusi industri” dilakukan orang lebih dari dua abad di daratan Eropa silam. Perlu juga diketahui, setiap persoalan yang dikemukakan diatas mem-perlihatkan dinamika masing-masing, artinya: ada persoalan yang baru timbul, ada lagi per-masalahan yang terus bertahan, ada pula yang hilang sementara lalu tiba-tiba timbul lagi secara tidak terduga. Itulah sebabnya mengapa persoalan yang dihadapi insan dalam alam fana di permukaan bumi tidak dapat dingkapkan semuanya, apalagi untuk diperinci satu per satu. Selain dari itu, beragam persoalan ini muncul saling berkejaran dan masing-masing menuntut peme-cahan, karena manakala terlambat, dapat menimbulkan malapetaka atau marabahaya kepada umat, atau makhluk lain yang sedang menjalani hidup alam fana di permukaan bumi.

Rumah Ilahi
Selama Nabi Muhammad SAW berada di muka bumi silam, beliau menganjurkan umat untuk mendirikan mesjid. Mesjid adalah “bait ul-Alah” artinya “rumah Ilahi”, karena tempat berdirinya ditemukan oleh mereka yang sudah memperoleh petunjukNya, sedangkan dana pembangunannya datang dari mereka yang rela berbagi rezeki, karena hati mereka pun telah digerakkanNya. Tidak kurang dari 1.000.000 Mesjid yang berdiri di Nusantara, besar dan kecil, tersebar dari desa sampai ke kota, kecil hingga besar, tidak terkecuali di Ibukota negeri. Lebih banyak lagi mesjid yang telah didirikan orang di bagian dunia lain diluar Tanah-Air. Semua rumah Ilahi menjadi “tempat beribadah” kepada Yang Maha Esa (HablumminAllah) sebagaimana yang dikemukakan dalam Surat Ali-Imran, Ayat 112; juga “tempat bersilaturrakhmi” antara seluruh umat (Hablum-minannas), dalam menyebarluaskan dan memperdalam keimanan beragama termasuk menimba bermacam ilmu pengetahuan yang telah disemaikan Allah Subhanahu Wataala ke Alam Semesta, dimulaii dari langit sampai dengan kedalaman perut setiap benda langit.

Dengan timbulnya “revolusi industri” di muka bumi, lalu menyebar ke segala penjuru dunia, ti-dak terkecuali Tanah-Air, dan telah menimbulkan berbagai pencemaran terhadap lingkungan hidup umat mulai: darat, laut, udara, sampai antariksa; berlangsung lebih dari dua abad lamanya, maka tidak ada pilihan lain kepada semua umat beragama, juga seluruh manusia, mengambil langkah nyata untuk menghilangkan segala “penyebab” timbulnya pencemaran lingkungan hidup di: darat, laut, udara, antariksa sejak dari awal revolusi industri sampai dengan saat ini, dari permukaan bumi.
Dalam menanggulangi pencemaran lingkungan hidup yang diakibatkan “revolusi industri” dia-wali dari Eropa silam, dan kini sangat meresahkan IB yang bertugas mengasuh beragam makhluk yang berdiam di muka bumi, Surat Ali-Imran, Ayat 112, perlu didukung oleh Surat Ar-Rum, Ayat 41, yang mengatakan: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
Dengan Surat Ali-Imran, Ayat 112, umat di muka bumi masih berada di zaman Nabi Muhammad SAW, dan umat masih belum memasuki era “revolusi industri”, karena masih berpandangan hidup “duologi”, artinya: HablumminAllah dan Hablumminannas saja. Akan tetapi kini, dengan telah berlangsungnya “revolusi industri” yang diawali dari Eropa lebih dari dua abad silam, dan telah dengan jelas memperlihatkan tanda-tanda “perubahan iklim” yang nyata di muka bumi; teguran atau peringatan Surat Ar-Rum, Ayat 41, harus segera dilibatkan guna menyelamatkan: IB (Ibu Bumi) dan IK (Ibu Kandung). Gabungan dari peringatan Surat “Ali-Imran, Ayat 112” dengan Surat “Ar-Rum, Ayat 41”, melahirkan pandangan hidup: “trilogi”, yakni: Hablummin-Allah, Hablumminannas, dan Hablumminalkaun, kini sangat dibutuhkan untuk periode kehi-dupan umat setelah “revolusi industri” muncul di permukaan bumi.

Pertukaran “pandangan hidup” ini harus segera disampaikan dan dikomunikasikan kepada setiap orang yang hidup di muka bumi oleh para ahli dakwah, baik mereka yang bertugas di berbagai Mesjid maupun Rumah-rumah Suci beragam kepercayaan lain yang tersebar di muka bumi, dilaksanakan kaum rohaniawan, mulai Imam berikut jajarannya di berbagai masjid, begitu juga di Rumah-rumah suci lain dengan bersungguh-sungguh agar sampai kepada setiap warga bumi dimanapun berada. Kesadaran perlunya menanggulangi kerusakan yang ditimbulkan perbuatan tangan manusia di muka bumi, yang telah menimbulkan pencemaran lingkungan hidup dan perubahan iklim berakibat malapetaka, menjadi “tugas suci” setiap anak Adam yang ditakdirkan hidup di permukaan bumi apapun keyakinan yang dimiliki olehnya.

Kedatangan Makhluk
Setelah permukaan bumi mendingin dari pijaran bola api yang amat panas, tumbuh-tumbuhan diperkirakan tiba di bumi pada sekitar 430 juta tahun silam. Dengan telah hadirnya beragam tumbuhan yang menyediakan bermacam pangan, binatang kemudian datang menyusul ke muka bumi ditaksir mulai dari 75 juta tahun terakhir, disusul kera yang menyerupai orang sekitar 10 juta tahun silam, dan makhluk paling belakangan dari semuanya tiba di permukaan bumi ialah manusia ditaksir sekitar 300.000 tahun terakhir. Demikianlah hasil temuan para ilmuwan yang mengkaji kedatangan beragam makhluk ke permukaan bumi dari sudut pandang evolusi yang sudah berkembang sejauh ini.

Tidak dapat disangkal, Allah Subhanahu Wataala telah menjadikan TMH kimia organik suhu tubuh (rendah) digunakan untuk menghadirkan beragam makhluk hidup di permukaan bumi, seperti: tanaman, hewan, dan manusia memanfaatkan bermacam unsur kimia tercantum dalam tabel Mendeleyev, dengan air menjadi unsur kimia yang terbanyak, sekitar 70% berat tubuh insan. Dengan TMH, makhluk apapun yang terlahir di muka bumi akan memperoleh pangan diperluka, tidak terkecuali bermacam kebutuhan hidup lainnya menempuh “perjalanan kedua”, yakni kehidupan alam fana di muka bumi, sejak lahir dari kandungan hingga akhir hayat, dibantu panas dan cahaya yang dating langsung dari matahari. Selain dari itu, TMH juga menyiapkan serangkaian teknologi daur ulang yang dibutuhkan untuk menanggulangi pencemaran ling-kungan hidup yang timbul, ketika beragam makhluk yang telah menyelesaikan perjalanan hidup alam fana di permukaan bumi mengembalikan benda (materi) pinjaman di penghujung hayat.

Perlu difahami, TMH ciptaan Ilahi juga memperkenalkan peredaran unsur kimia yang menjadi-kan tubuh atau jasmani bermacam makhluk yang menempuh “perjalanan kedua”. Pertama, bumi meminjamkan bermacam unsur kimia yang dibutuhkan tubuh atau jasmani beragam makhluk, seperti: tanaman, hewan, dan manusia, yang diperoleh dari kerak bumi galian dangkal, sekitar puluhan meter. Kedua, tubuh atau jasmani yang sudah ditinggalkan ruh makhluk yang telah menempuh “perjalanan kedua”, dikembalikan ke bumi lewat: pemakaman, penenggelaman, pembiaran yang segera didaur ulang oleh bermiliard bakteri sebagai pemangsa (predator), me-nyebakan jasad yang dikembalikan cepat terurai menjadi berbagai unsur kimia asal sebagaimana yang tertera dalam table periodik, agar kemudian dapat dipinjamkan kembali kepa-da bermacam makhluk yang akan menjalani hidup alam fana di permukaan bumi, seperti: tumbuhan, hewan, dan manusia baru yang akan lahir. Terhadap yang dikremasi, predator digunakan ialah nyala api yang membakar. Ketiga, TMH menggunakan reaksi kimia organik, lawan dari reaksi kimia an-organik, yaitu “cara dingin” menghadirkan beragam makhluk untuk hidup di alam fana di permu-kaan bumi, mulai dari kandungan, bayi, balita, anak, remaja, dewasa, orang tua, kakek/nenek, menjalani usia senja, dan tiba di akhir hayat; tidak terkecuali kemandirian dimiliki tiap makhluk, antara lain: kepribadian, kecerdasan, watak, dan lain sebagainya yang kini masih belum banyak terungkap kepada insan gemar berfikir hingga saat ini.

Penduduk Bumi
Hingga saat ini penduduk bumi terus bertambah jumlahnya menelusuri perjalanan waktu. Pada saat Nabi Muhammad SAW menerima Surat Al-Alaq, diantar Malaikat Jibril tanggal: 6 Agustus Tahun 610 M (Masehi) di Gua Hira silam, jumlah insan berdiam di muka bumi ditaksir berjumlah 200.000.000 orang. Setelah 1150 tahun waktu berlalu, lebih dari satu Milenium menjelang dimulainya “revolusi industri” di Eropa silam, warga bumi telah meningkat menjadi 720.000.000 orang, dengan pertumbuhan rata-rata penduduk: 452.000 orang setiap tahun. Lalu pada tahun 1850 M, banyaknya manusia yang berdiam di muka bumi telah meningkat menjadi 1.200.000.000 (satu Miliar dua ratus juta) orang. Lalu pada tahun 1950 M, seratus tahun kemu-dian, manusia yang mendiami planit biru telah mencapai 2.500.000.000 orang, dengan partum-buhan rata-rata penduduk: 13.000.000 orang per tahun. Dari apa yang telah diuraikan diatas, tampak jelas adanya “perubahan” kenaikan rata-rata penduduk dalam rentang waktu satu milenium, dari: 0,452 juta orang per tahun, menjadi: 13 juta orang per tahun pada rentang waktu seratus tahun kemudian. Peningkatan pertumbuhan rata-rata penduduk mencolok, dari “hampir landai” menjadi “hampir tegak”, tidak diragukan lagi disebabkan oleh timbulnya “revolusi indus-tri” melanda dunia berlangsung lebih dari dua setengah abad, dan memberi begitu banyak kemudahan hidup yang didapat manusia menempuh “perjalanan kedua”, yaitu kehidupan alam fana di permukaan bumi dibandingkan dengan berbagai zaman yang telah mendahului. Pada tahun 2000 M silam warga bumi telah melebihi 6 Miliar orang, lalu pada tahun 2011 M men-capai 7 Miliar orang. Ramalan kedepan memperlihatkan pada tahun 2025 M warga bumi akan ber-jumlah 8 Miliar orang, dan pada tahun 2043 M mencapai 9 Miliar orang, kemudian mema-suki abad pertama Milenium ketiga akan melebihi 10 Milyar orang. Grafik dibawah ini memper-lihatkan perjalanan penduduk bumi melalui kurva yang dikerjakan oleh Google.

penduduk

Sumber: Google

Sekilas Sejarah Filsafat
1. Filsafat Islam di Timur Tengah.
Agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW mengantarkan umat Muslim mendirikan kekhali-fahan Islam di jazirah Arab dalam abad ke-7 Masehi, dan meluaskan pengaruhnya ke sejumlah kawasan sekitar. Sebagai akibatnya, pertemuan dengan berbagai budaya yang telah lebih dahulu ada di wilayah itu tidak dapat dihindarkan. Lahir “ilmu kalam” yang bertujuan menyampaikan ajaran agama baru lebih praktis kepada umat Muslim, melahirkan apa yang kemudian dikenal dengan: theologi Islam. Menyusul muncul ilmu Fiqih, Ilmu Tasauf, Filsafat Islam, dan yang akhir ini mengajarkan: perdebatan, dialektika, dan argumentasi, bersama lainnya untuk mengolah akal. Filsafat Islam lalu berurusan dengan beragam hal berkaitan dengan kehidupan, sepert: alam fana, Alam Semesta, nilai, etika, masyarakat, dan lain sebagainya, lalu dihimpun secara beratu-ran untuk umat Muslim. Orang-orang Islam lalu tertarik kepada filsafat Yunani, setidaknya pada masa awal abad hijrah, karena dalam keyakinan orang-orang Muslim ketika itu, Allah ialah Pen-cipta dari segalanya, dan ilmu pengetahuan diturunkan lalu disebarkan ke Alam Semesta bertu-juan tidak lain untuk mengantarkan umat ke pemahaman yang lebih dalam tentang Dia, dan segala apa yang diciptakanNya.

Tidak lama sesudah kekhalifahan Islam melebarkan sayapnya yang pertama, Bani Abbasyiah memerintahkan rakyatnya menghimpun seluruh manuskrip Yunani yang beredar untuk mening-katkan citra. Sebilangan filosof Muslim kemudian menjadi terkemuka Timur Tengah sejak dari saat bersejarah itu, antara lain: Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Gazali, Ibnu Bajah, Ibnu Thufail, dan Ibnu Rusyd. Sejak dari abad ke-9 Masehi, kekhalifahan Al-Makmun berikut penerusnya, menjadi giat memperkenalkan filsafat Yunani kedalam masyarakat muslim di bumi bangsa Arab.

Setelah kekhalifahan Bani Abbasyiah turun dari singgasana tahun 750 dari Damaskus, di Kor-doba muncul Bani Umayyah membangun kekhalifahan di semenanjng Iberia, dan kala itu lebih dikenal dengan nama Andalusia dari tahun 929 hingga 1031 Masehi, tidak terkecuali ujung Utara benua Afrika waktu itu. Masa kekhalifahan dengan ibukota Kordoba itu, ditandai oleh kemajuan perdagangan dan budaya dari kedua tepi Laut Tengah, masing-masing bagian Timur di seputar: Yunani, Turki, Jazirah Arab, dan lainnya, dengan semenanjung Iberia, yang kini lebih dikenal dengan Eropa Barat: Portugal, Spanyol, Perancis, dan lainnya. Sejumlah bangunan ternama lagi megah yang didirikan oleh kekhalifahan Umayyah silam, masih dapat disaksikan di Spanyol saat ini, antara lain: Mesjid Agung Kordoba dan istana, dan didirikan masih pada zaman keemasan Bani Umayyah tersebut.

Dalam zaman kekhalifahan Bani Umayyah, Laut Tengah juga bernama Laut Mediterrania merupakan jalan-air sekaligus urat nadi perdagangan dan pengantar budaya dari kedua sisi Laut Tengah, karena jalan darat di pesisir Utara maupun Selatan Laut Tengah masih terbatas pada kafilah yang berjalan kaki dan kereta hela kuda atau ternak peliharaan lain yang sangat terbatas jangkauannya. Demikian juga hubungan perdagangan dan budaya antara semenanjung Iberia dengan negara-negara yang berada di daratan Eropa Barat, seperti: Perancis, Inggris, Belanda, Jerman, dan lainnya. Jalan-air samudra Atlantik terhindar dari kebekuan oleh lapisan es di mu-sim dingin, tidak lain berkat arus bawah laut teluk Meksiko yang hangat mengalir sampai jauh ke Utara yang sangat terkenal itu. Jalan-air samudra Atlantik telah berjasa besar mengembangkan perdgangan dan hubungan budaya antara semenanjung Iberia dengan kawasan Eropa Barat, sedangkan jalan-air Laut Tengah atau Laut Mediterrania berjasa mengembangkan tidak saja per-dagangan, tetapi pula mengantarkan beragam pengetahuan dan budaya dari seputar: Yunani, Turki, Jazirah Arab, bahkan dari Persia dan India, serta lainnya ke Eropa Barat yang berhasil dihimpun dan diolah para pemikir Arab menjelang renaissance (pencerahan) bersemi di daratan Eropa Barat silam.

Perhatian umat Islam kepada filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang dibawah kepe-mimpinan Bani Umayyah ke-5, yang dikenal bernama: Muhammad ibn Abdurrahman (832-886 M). Pada ketika itu para pemikir dan ilmuwan dari dunia Islam bukan lagi mereka yang tergolong kedalam kelompok Muslim orthodox. Mereka bersama kaum bukan-Muslim lain ambil bagian dalam menyebarluaskan hasil pemikiran: Yunani, Hindu, dan masa praIslam lainnya, lewat jalur kekerabatan dan persahabatan dengan umat Khristiani yang bermukim di Eropa. Mereka bersamasama menjadikan hasil pemikiran Aristoteles kembali dikenal oleh masyarakat Khristiani di Eropa, setelah lama hilang dari perbendaharaan ingatan mereka. Adapun para pemikir Islam yang amat tersohor pada ketika itu yang dapat diketengahkan, antara lain: Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Kindi. Ketiga filosof yang disebutkan akhir ini telah lama memper-kenalkan pemikiran: Aristoteles, Neoplatonis, dan lainya kedalam masyarakat Islam di Timur Tengah. Banyak kalangan saat itu yang menganggap mereka bukan lagi tergolong kedalam orang Islam orthodox, bahkan ada pula yang menyangka mereka bukan filosof Islam menyimak tulisan yang mereka kerjakan. Dibawah disampaikan sekelumit tentang para filosof Islam yang terkemuka pada zamannya.

Al-Kindi (801-873) seorang bangsa Arab keturunan suku Kinda, filosof peletak dasar filsafat Islam, lahir di Basra, Irak. Setelah menammatkan sekolah dasar di tempat kelahirannya, lalu meneruskan pendidikan ke Bagdad, mempelajari berbagai macam pengetahuan, seperti: mathe-matika, fisika, mistik, dan seni; tidak terkecuali juga lainnya. Ia berjasa memperkenalkan pengetahuan filsafat ke dunia Islam di Timur Tengah. Al-Kindi kemudian menjadi cepat terkenal di lingkungan “Rumah Kebijakan”, demikian juga kalangan kekhalifahan Abbassyiah, sehingga yang akhir ini menugaskannya menjadi pengawas penterjemahan bermacam naskah ilmu pengetahuan dan filsafat dari bahasa Yunani kedalam bahasa Arab. Ia tergolong ilmuwan Arab yang banyak meninggalkan karya tulis meliputi: metafisika, etika, logika, psikhologi, pengo-batan, pharmakologi, mathematik, astronomi, astrologi, optik. Al-Kindi juga orang yang menggemari permasalahan: meteorologi, gempa bumi, dan banyak lagi lainnya yang membumi pada masanya.

Al-Ash’arī (874–936) ialah seorang ilmuwan dan juga theolog Islam dari Timur Tengah ber- nama Al-Ash’arī. Ia lahir di Basra, dan masih keturunan dari salah seorang sahabat dekat nabi Muhammad SAW silam. Sebagai seorang muda, ia awalnya berguru kepada Al-Jubba’i, sebuah perguruan theologi Islam dan filsafat Mu’tazilah terkemuka pada ketika itu. Dan perguruan ini tidak lain dari sebuah “sekolah theologi” yang berlandaskan akal (reasning), yakni hasil pemikiran manusia bersifat logis (rational) dan sangat terkenal pada masa itu. Ia mengamalkan ajaran Mu’tazilah dengan penuh kesetiaan sampai usianya empat puluh tahun. Kemudian, pada suatu saat dalam bulan Ramadan, ia bermimpi bertemu dengan nabi Muhammad SAW. Mimpi yang sama ternyata berlanjut hingga tiga malam berturut-turut, dan memintanya untuk kembali padanya, yakni mengikui tradisi hadis. Sejak dari saat bersejarah itu, Al-Ash’arī lalu mening-galkan ajaran Mu’tazilah, dan berganti menjadi penentang utama ajaran yang semula di-anutnya dengan setia itu. Segala pengetahuan filsafat yang dikuasainya lalu dikerahkan untuk melawan ajaran, yang sebelumnya dengan setia dibelanya. Karena pengaruhnya yang sangat besar di Timur Tengah pada ketika itu, umat Islam menjadikan Al-Ash’ari seorang peletak dasar akidah sunni Ash’ari yang amat berpengaruh luas, bahkan Imam Al-Ghazali yang amat tersohor dengan empat kitab “Ihya Ulum ul-Addin” (Menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama) yang ditulisnya, juga menjadi pengikut setia darinya.

Ibnu Sina (980-1037) adalah seorang ilmuwan bangsa Arab lain yang menguasai beragam bidang ilmu pengetahuan, antara lain: filsafat, astronomi, kimia, geologi, psikhologi, theologi Islam, logika, mathematika, fisika, tidak terkecuali menulis sajak, sebagaimana yang kebanyakan dilakukan para ilmuan Arab di Timur Tengah ketika itu. Akan tetapi hasil karya yang melam-bungkan namanya di dunia, ialah yang menyangkut penyembuhan penyakit. Buku induk pe-nyembuhan yang dibuatnya tentang pengobatan beragam penyakit, menjadi kitab induk dua universitas ternama di Eropa ketika itu, yakni Montpellier dan Leuvant dari Perancis hingga tahun 1650 M.

Al-Ghazali (1058–1111) adalah theolog Islam dari Persia, penggemar hukum Islam, juga fil-safat, tidak terkecuali mistik. Ia menjadi seorang Muslim yang sangat berpengaruh di dunia Islam setelah wafarnya Nabi Muhammad SAW. Dalam dunia Islam, ia tergolong seorang pembaharu (mujaddid) keimanan Islam dari masanya, dan menurut tradisi keagamaan yang dipercaya masyarakat di Timur Tengah, orang seperti dia akan datang ke dunia sekali dalam seratus tahun. Hasil karya Al-Ghazali mendapat penghargaan yang sangat tinggi dari kalangan umat Islam yang sezaman, menyebabkannya mendapat gelar kehormatan: “bukti Islam”. Yang lain menuduhnya lawan dari aliran Islam berpandangan Neoplatonis yang pengikutnya juga juga banyak ketika itu, juga mereka yang berpandangan helenistik. Al-Ghazali juga berhasil mengem-balikan pengaruh kaum Islam orthodox yang masih terus mengamalkan ajaran Sufi yang mereka jalankan sebelumnya.

Al-Farabi (1165-1240) seorang sufi bangsa Arab dari Andalusia, juga seorang sufi mistik, dan seorang filosof. Ia menguasai banyak bidang ilmu pengetahuan, seperti: logika, penyembuhan, sosiologi, termasuk analisa posteriori dari Aristoteles. Lewat beragam naskah tulisan dan ko-mentar yang disampaikan, Al-Farabi kemudian menjadi tersohor dikalangan umat Muslim di Timur Tengah. Masyarakat intelektual abad pertengahan ketika itu menganugerahkannya gelar: “Guru Kedua”, sebagai penerus setia ajaran Aristoteles dari Yunani, dimana yang disebut akhir ini ialah: “Guru Pertama”nya. Al-Farabi menghabiskan sebagian besar masa hidupnya bermukim dan bekerja di kota Bagdad.

Ibnu Rushd (1126-1198) seorang kelahiran Kordoba Spanyol dan wafat di Marrakesh Maroko. Ia seorang berasal dari bumi Andalusia, seorang Muslim yang berpengetahuan amat luas meli-puti: filsafat Aristoteles, filsafat Islam, theologi Islam, hukum Maliki berikut yurisprudensinya, logika, psikhologi, politik dan theori klasik seni musik Andalusia, pengobatan, astronomi, geo-grafi, mathematik, tidak terkecuali mekanika gerakan benda langit di angkasa luar. Ibnu Rushd juga dikenal sebagai peletak dasar “filsafat sekular” yang kini dianut orang secara luas di benua Eropa dan berbagai bagian dunia lain. Ia menjadi seorang setia membela filsafat Aristoteles, meski berseberangan dengan theologi yang dikembangkan Ash’ari sesudah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW yang didukung oleh Imam Al-Ghazali.

Dari bumi Andalusia (Spanyol), karya filsafat yang dikembangkan cendekiawan bangsa Arab lalu diterjemahkan orang kedalam bahasa Yahudi dan bahasa Latin, dan dibawa ke Eropa untuk mengembangkan filsafat modern di bagian dunia itu. Dikalangan para filosof Arab pada masa itu, terdapat Maimodes seorang Yahudi yang hidup dan bekerja di kalangan Muslim Spanyol, juga ambil bagian dalam menterjemahkan karya filsafat Islam dari bahasa Arab ke berbagai bahasa lainnya. Terdapat juga seorang kelahiran Tunisia asal Andalusia bernama Ibnu Khaldun dari kalangan ilmuwan Muslim ketika itu, yang kemudian menjadi peletak dasar ilmu kema-syarakatan kini dikenal dengan istilah sosiologi dan histerografi (hysterography), ialah ilmuwan Arab penting lain terkemuka ketika itu, meski ia tidak menyebut diri sebagai seorang filosof, tetapi seorang penulis kalam saja.

Dalam abad pertengahan dari abad ke-5 hingga abad ke-15, runtuhnya kekaisaran Romawi, dan berpisahnya Gereja Latin Barat dipimpin Bishop dari Roma dengan Gereja Orthodox Timur pimpinan Patriarch dari Konstantinopel pada tahun 451, telah lama hilang dari ingatan orang banyak, tidak terkecuali kecakapan membaca dan menulis dengan abjad Yunani. Akan tetapi, kedatangan filsafat Yunani yang diperkenalkan kembali ke Eropa, hasil terjemahan dari bahasa Arab ke bahasa Latin dan bahasa Yahudi berikut sejumlah catatan dan keterangan yang dikerjakan para pemikir Arab, membawa pengaruh besar kepada filsafat yang kembali muncul dan berkembang di Eropa daratan ketika itu, dan dampaknya jauh hingga memasuki zaman renaissance (kembali ke zaman Yunani kuno) di bagian dunia itu dalam abad pertengahan lalu.

2. Filsafat Islam di Asia Tenggara
Setelah muncul di jazirah Arab dan berkembang di Timur Tengah dan sekitarnya, agama Islam kemudian melebarkan sayap ke Asia, tidak terkecuali Asia Tenggara, diantarkan para mubaligh dan kaum pedagang. Ada mereka yang datang dari Mekah, ada pula yang datang dari Gujarat (India), lainnya berangkat dari Persia, dan berbagai tempat lain. Lalu muncul Kesultanan Islam di kawasan Asia Tenggara, berikut perlembagaan Islam, antara lain: pemerintahan, pendidikan, kehidupan, kesusastraan, kesenian; tidak terkecuali perekonomian rcorak Islam.

At time when Ibn Battuta a Maroccon traveler paid visit to a country named: Samudera Pasai Sultanate in the South East Asian region in 1345, he met a solemn King from the Al-Shafi’i mazhab (Islamic law dotrine) was ruling the country.

The Sultanate established by located on the north Perlak, now area of (east cost of Aceh), adjacent directly to the strait Malacca; governed the country until 1297. The King later converted to Islam called in Arabic as. It was then clear, that the school of thought of Imam Al-Shafi’i supported by Imam Al-Ghazali already been spread over South East Asian region on entering the 13 th century.

Pada waktu Ibnu Batutah (1304–1368), pengelana asal Maroko singgah di suatu negeri yang bernama: Kesultanan Samudra Pasai di Asia Tenggara tahun 1345 silam, ia berjumpa dengan se-orang Muslim saleh mazhab Al-Shafi’i yang menjadi Sultan di Samudra Pasai. Kesultanan itu didirikan oleh Meurah Silu tahun 1267, memerintah sampai tahun 1297, terletak di Utara Perlak kini termasuk wilayah Lhok Seumawe, Aceh Timur, terdapat langsung ditepi Selat Malaka. Sultan lalu masuk Islam dan memperoleh nama Arab: Malik ul-Saleh, atau Sultan as-Saleh. Dengan demikian tampak jelas ajaran Imam Ash’ari yang didukung Imam Al-Ghazali telah menyebarkan mazhab sunni Ash’ari ke kawasan Asia Tenggara memasuki abad ke-13 Masehi.

Kesejahteraan Umat
a. Sistim Ekonomi Bebas, atau Liberal
Dalam zaman merkantilis di Inggris silam, setiap orang boleh mejalankan beragam usaha (business) untuk mencari nafkah, mulai menghasilkan beragam barang (produk), hingga menye-diakan layanan bermacam jasa (service), atau keduanya, dalam memenuhi permintaan segala macam lapisan masyarakat. Semuanya diperdagangkan orang di pasar-pasar yang terdapat di-mana-mana. Lalu muncul persaingan diantara para penyedia barang atau jasa, atau keduanya oleh “tangan-tangan tersembunyi” (invisible hands), dengan harga (price) dan mutu (kualitas) barang atau jasa dihasilkan dalam jumlah (kuantity) dan penyerahan (delivery) barang atau jasa terikat dalam kesepakatan dagang (contract). Pendapatan kaum pengusaha ditentukan oleh banyak barang dan jasa yang terjual dalam setahun. Pemerintah hanya bertugas sebagai pengawas dan pengatur tatausaha (administrator) yang melancarkan kegiatan dagang, dan samasekali tidak mencampuri urusan para pengusaha menghasilkan barang atau jasa, akan tetapi menyediakan tempat berusaha dengan perangkat aturan dan lingkungan: ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang sama untuk semua, terhadap pungutan (pajak) dikenakan.

Memasuki abad pencerahan, dibekali filsafat dan beragam ilmu pengetahuan yang diolah dan diantarkan bangsa Arab dari Timur Tengah, landasan berfikir kaum intelektual orang-orang Eropa lalu berkembang sedemikian jauh, yang memungkinkan mereka mengembangkan berma-cam pengetahuan “tepat guna” di berbagai bagian dunia itu. Ini tampak jelas dengan diguna-kannya “analisa ilmu” scientific analysis) untuk mengembangkan mesin-uap, awalnya dipicu pompa air vakum udara yang diperkenalkan Thomas Savery (1650-1715) dari Inggris, dengan menyiram air dingin kedalam bejana berisi uap bertekanan, lalu diperbaiki Thomas Newcomen (1664-1729) rekan senegaranya mengganti bejana dengan silinder berpengisap, untuk tujuan yang sama. James Watt (1736-1819) rekan senegara lain memanfaatkan kedua temuan rekannya menciptakan “sumber tenaga gerak” (source of mechanical energy) pertama di dunia memanfaatkan tekanan uap yang banyak diperlukan orang untuk menggerakkan beragam industri saat itu. Ketiga orang Inggris ini berhasil merobohkan kartu: “domino teknologi” pertama di muka bumi, memperkenalkan sumber tenaga alam hasil rekayasa akal-budi manusia, sekaligus membidani “revolusi industri” di muka bumi yang dimulai dari Eropa, lebih dari dua abad silam.

“Analisa ilmu” yang dikuasai segelintir bangsa di Eropa ketika itu, kemudian diperluas ruang lingkup kajiannya, tidak terbatas pada sumber tenaga gerak dan industri yang telah dilahirkan-nya, tetapi juga ke bidang-bidang kegiatan lain, antara lain: politik, sosial, ekonomi, dan lain, berpuncak pada kajian “Kesejahteraan Hidup Beragam Bangsa” di muka bumi sebagaimana yang disampaikan Adam Smith dari Inggris. Akan tetapi yang jelas, pengaruhnya telah membuat “sistim ekonomi merkantilis”, beralih menjadi “sistim ekonomi kapitalis” di Inggris, dan sejumlah negara Eropa lainnya saat itu, yang lalu dikenal dengan “kapitalisme”, karena memperoleh amunisi dari perkembangan revolusi industri yang melaju pesat. Adam Smith kemudian melanjutkan kajiannya dengan: “Memperbaiki Keadaan Dunia”, yang lalu menimbul-kan pertanyaan: apakah industrialisasi akan menyejahterakan kehidupan umat di bumi, ditilik dari angka harapan hidup manusia, jam kerja singkat, dan pertanyaan apakah anak-anak dan orang-orang tua dapat dibebaskan dari kewajiban bekerja mencari nafkah?

Sejak awal revolusi industri, kapitalisme berkembang pesat di Eropa didukung kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah terhimpun dan berkembang pesat di bagian dunia itu. Mobil dengan cepat menggantikan kereta hela ternak di jalan-jalan raya berbagai negara, diawali dari Eropa, kemudian menyebar ke Amerika Utara, lalu Jepang, dan bagian dunia lainnya. Angkutan jalan-baja dihela lokomotif-uap membakar batubara melahirkan kereta-api, lalu menebar jaringan ke berbagai negara di Eropa melayani angkutan penumpang dan barang, lalu diexport ke berbagai negara seberang lautan, tidak terkecuali Asia, oleh “ongkos angkut” muatan: penumpang dan barang yang murah. Transportasi air juga ikut berkembang, mulai dari: kanal, sungai, danau, laut, hingga samudra yang selama ini dikuasai kapal layar, digantikan mesin-uap karena dapat diandalkan ketimbang hembusan angin; kini telah pula diambil alih mesin diesel. Keberhasilan Wright bersaudara dari Amerika Serikat menciptakan “kapal terbang”, sekarang disebut pesawatterbang, memungkinkan dikemkembangkannya angkutan udara menerobos atmosfer bumi untuk memindahkan penumpang dan barang lebih cepat melintasi pulau, benua, dan keduanya. Selain berbagai industri dan sarana angkutan yang telah dikemukakan sebelumnya, sumber tenaga gerak hasil rekayasa akal-budi manusia ini telah pula melahirkan tak terbilang banyak pabrik dan industri berikut keragamannya bermunculan di muka bumi, antara lain: pabrik semen, industri baja, pabrik pengolahan logam, tambang batubara, tambang berbagai macam mineral, pengeboran minyak termasuk kilang pengolahan minyak mulai daratan hingga lepas pantai, industri: plastik, bahan bangunan, kimia, pharmasi, kertas, makanan dalam kema-san; dan masih banyak lagi lainnya.

Dalam perjalanan waktu, kapitalisme berkembang pula menjadi imperialisme, karena menguasai lahan yang semakin luas di muka bumi, yang berubah menjadi tanah jajahan atau koloni. Kolonialisme lalu melanda dunia, dan menguasai tanah subur yang diubah menjadi perkebunan tanaman ekonom yang beraneka ragam, antara lain: karet, kelapa sawit, tembakau, gula, dan lain sebagainya; untuk menghasilkan ban kendaraan bermotor, minyak goreng dan lainnya, rokok, gula tebu, dan lain sebagainya yang diperlukan pasar dunia. Penggalian tambang seperti: batubara, minyak bumi, gas dan lainnya di tanah jajahan diperlukan untuk memasok keperluan industri yang cepat berkembang di: Eropa, Amerika Utara, Jepang, yang lapar bahan-baku, da-haga bahan-bakar dan minyak lumas, berlanjut jauh menerobos masuk kedalam abad ke-20 silam.

Sejak awal dari revolusi industri, kapitalisme telah berhasil mendirikan beragam industri: mulai ringan hingga berat dan sangat berat di berbagai negara beragam belahan bumi. Sebagai akibatnya, tidak dapat dihindarkan munculnya aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan, berupa: bahan-bakar (batu-bara, minyak bumi, dan gas), berjenis mineral berguna (biji besi untuk membuat besi dan baja, tembaga, aluminium, logam mulia, dan lainnya); dan masih banyak lagi yang lain. Bahan-bahan ini dibutuhkan negara-negara yang memproduksi beragam barang, seperti: sarana dan prasarana angkutan: darat, laut, udara, antariksa; menyedia-kan perlengkapan perang dan peralatan militer termasuk mesin dan peralatan tempur serta ar- mada kapal perang laut, dan skwadron pesawat tempur, serta masih banyak lagi kebutuhan negara dan masyarakat mulai dari lokal hingga dengan global. Juga industri penyedia minuman dan makanan kemasan, industri texstil, industri pertanian, industri peternakan dan perikanan, dan banyak lainnya. Aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan ini sudah mulai sejak awal dimulainya revolusi industri di muka bumi lebih dari dua abad yang silam, dan masih berlangsung sampai dengan hari ini, dan berlanjut terus ke masa akan datang; kini dikenal dengan nama: “aliran benda” (materi)”.

Selain kepiawaian menghasilkan beragam barang atau jasa menurut: harga, mutu, jumlah, dan waktu penyerahan yang disepakati dalam perjanjian (kontrak); masalah yang timbul dari kehadiran kapitalisme saati ini di muka bumi: pertama limbah-gas hasil pembakaran bahan-bakar (padat, cair, dan gas) terus menerus dihamburkan menuju ke atmosfer planet biru oleh beragam sarana angkutan: darat, laut, dan udara, mengganggu pernafasan; kedua limbah-cair beragam rumah tangga dari tidak terkecuali asal rumah-tangga dari kota kecil besar hingga besar yang ada di muka di bumi mulai desa, kota kecil hingga kota besar dibuang menuju ke badan-air d muka bumi. Begitu juga cairan buangan beragam industri, tambang, kilang, kegiatan koperasi ekonomi masyarakat, dan lainnya., dibuang begiu saja menuju badan-air (parit, kolam, kanal, sungai, danau, laut, hingga samudra), mencemari minunan dan makanan umat, tidak terkecuali makhluk lain yang menimbulkan gangguan kesehatan, mulai lahir (fisik) hingga bathin (mental); ketiga: limbah-padat rongsokan beragam sarana angkutan (darat, laut, udara, dan lainnya) hasil buatan bermacam industri yang telah habis masa pakai ekonominya. Juga sarana dan prasarana beragam industri, aneka ragam tambang, instalasi pengeboran minyak dari darat hingga lepas pantai; bangkai bermacam peralatan elektronik dan teknik digital termasuk jutaan gadget dan lain sebagainya yang telah ketinggalan zaman dan kalah mutakhir tidak lagi digunakan. Juga tidak terkecuali pula bermacam perabotan dan perlengkapan rumah tangga bikinan industri yang tidak lagi diinginkan, diterlantarkan begitu saja dimana-mna di muka bumi menyita lahan dimana-mana. Sejak dari awal revolusi industri di Eropa silam, ketiga golongan limbah ini semuanya berasal dari “aliran benda (materi)” meninggalkan perut bumi menuju permukaan planit biru yang tidak pernah berhenti barang sedetik, dan terus mengalir hingga dengan hari ini.

Tidak dapat disangkal lagi, kini “aliran benda (materi)” yang meninggalkan perut bumi menuju permukaan semakin besar jumlahnya dalam “juta metric-ton”, mengikuti pertumbuhan penduduk bumi yang terus meningkat, termasuk aktivitas dan kreativitas yang mereka lakukan selama hayat di muka bumi, bagai bola salju yang sedang menggelinding di lereng gunung Alpen di Eropa selama musim dingin. Selain dari itu, kapitalisme juga semakin mengendalikan dan menguasai perekonomian manusia dunia. Kaum kapitalis juga semakian bersaing dalam mendapatkan bermacam benda (materi) berharga yang mereka butuhkan dari dalam perut bumi, baik yang ada di negerinya sendiri demikian juga yang diperoleh dari diluar Tanah-Airnya, menyebabkan ekosistim di muka bumi semkian tidak mudah dipelihara kelestariannya. Selain dari itu kapitalisme banyak berpengalaman dalam bidang menghasilkan barang industri atau komoditi didukung SDM bermutu dan sumber dana alam global, menyebabkan lingkungan hidup di muka bumi, terutama di dunia ketiga yang kurang pengetahuan dan lemah pengawasan, tidak dapat terhindar dari exploitasi SDA berlebihan dalam memenuhi permintaan pasar global.

Kini kapitalisme harus mencari jalan, agar “aliran benda (materi)” dari dalam perut bumi menu-ju permukaan tidak lagi berakhir menjadi: 1. “limbah-gas” yang mencemari udara atmosfer menyelimuti bumi yang mengganggu pernafasan, 2. limbah-cair dari pemanfaatan air-bersih dalam segala bidang kehidupan, usaha, dan industri tidak lagi mencemari badan-air di muka bumi, dan 3. limbah-padat rongsokan bermacam produk industri hasil ciptaan dan kreasi manusia tidak lagi diterlantarkan orang dimanamana menyita lahan di muka bumi. Harus dicarikan jalan keluar, agar aliran bahan dari dalam perut bumi menuju permukaan tidak melahirkan pencemaran: mulai yang biasa, yang berbahaya, apalagi pencemar yang sangat berbahaya terhadap makhluk hidup; menghindarkannya memasuki tubuh manusia atau makhluk lainnya melalui: minum, makan, bernafas, dan kegiatan sehari-hari, sehingga gang-guan lahir (fisik), antara lain: tidak normal bekerja atau berfungsinya berbagai organ tubuh, tidak terkecuali dampak bathin (mental), seperti: keanehan berprilaku dalam kegiatan sehari-hari, kelemahan berfikir, hingga dengan kehilangan ingatan dini, dan lainnya.

Salah satu gagasan yang pantas mendapat acungan jempol untuk butir pertama, ialah apa yang kini tengah diujicoba dengan penuh kesungguhan menggunakan Bahan-Bakar Hidrogen (BBH). Apa yang sedang diusahakan orang di muka bumi, ialah hijrah dari “ekonomi bahan-bakar fossil” (fossil-fuel economy) menuju “ekonomi bahan-bakar hidrogen” (hydrogen-fuel economy) untuk angkutan darat, sehingga gas hasil pembakaran yang muncul dalam mesin, dalam hal ini sel bahan-bakar (fuel cell) yang menggerakkan mesin listrik hanyalah air. Gagasan ini awalnya diperkenalkan oleh John Bockris dari Pusat Teknik General Motor, Amerika Serikat, pada suatu pembahasan di tahun 1970 silam. Kemudian pada tanggal 10 October 1997, Richard Daley, walikota Chicago dengan rekannya bepergian dalam kota mengendarai bis yang berbahan-bakar hidrogen, unsur kimia terdapat dalam tabel Mendeleyev terbanyak adanya di muka bumi, dipisahkan dari gas alam dengan proses kimia. Sebuah Sel Bahan-Bakar (SBB) dapat mengubah hidrogen yang dialirkan kedalam SBB menjadi “tenaga lisrik” dan “air”, tanpa pembakaran samasekali, diperkenalkan oleh Ballard Power Systems (BPS) dari Vancover. SBB ternyata “tiga kali” lebih hemat (efisien) dari pengubah “panas” menjadi “gerak” lewat pembakaran yang digunakan orang sampai hari ini yang dikenal dengan: MPL dan MPD.

Bagaimana efisiensi pasangan SBB dengan mesin listrik dapat mencapai “tiga kali” lebih hemat dari MPD yang membakar BBH? Bayangkan sebuah MPD, setelah pemantikan berlangsung, muncul gas (uap) bertekanan dan suhu amat tinggi muncul seketika diatas pengisap (piston), dan panas dipancarkan ke segala arah. Hanya panas kejurusan bawah bersama pengisap yang langsung diubah menjadi gerak (mekanik). Itulah sebabnya mengapa hanya sekitar 25 % panas yang dapat diubah menjadi gerak, sedangkan 75% lainnya terbuang percuma memanasi mesin, terbuang bersama air pendingin, dan terbuang keluar bersama gas buang. Akan tetapi untuk pasangan SBB dengan mesin listrik, tidak terdapat pembakaran samasekali, sehingga 100% “panas” langsung diubah menjadi tenaga listrik melalui reaksi kimia. Ketika tenaga listrik digunakan dalam mesin listrik, muncul panas yang diakibatkan pengantar dialiri arus sejumlah 25 %. Lainnya masih dalam bentuk listrik, dan itulah sebabnya mengapa pasangan SBB dengan mesin listrik menjadi tiga kali lebih hemat (efisien) dari sebuah MPD.

Tenaga listrik dibangkitkan dalam SBB lalu disalurkan kedalam mesin listrik yang mengubahnya menjadi gerak untuk menjalankan bis BPS. Gas buang yang dikeluarkan bis, dalam hal ini SBB, hanyalah uap-air yang samasekali tidak tercemar. Sang walikota meminum segelas air yang langsung diambil dari knalpot bis sambil berkata: “tidak jelek”. Bis dijalankan sel bahan-bakar dapat melaju sampai kecpatan 80 km/jam, menempuh jarak 400 km atau sehari penuh perjalanan bis untuk sekali pengisian BBH.

Untuk butir kedua, guna menghindarkan air-kotor mengotori badan-air yang ada di muka bumi, air-kotor yang memuat beragam pencemar perlu terlebih dahulu dialirkan kedalam Instalasi Penjernihan Air (IPA) guna memperoleh kembali air-bersih. Hanya air-bersih yang boleh dibuang kedalam badan-air apapun bentuknya yang ada di muka bumi. Alam pun telah jutaan tahun memberi contoh menurunkan hujan hanya dari air-bersih menyebabkan embun di pagi hari menyegarkan bila disentuh. Alam juga telah jutaan tahun memperlihatkan memisahkan beragam bahan pencemar dari air-kotor lewat “penguapan” menggunakan panas matahari, lalu mengum-pulkannya semuanya kedalam awan, dan setelah angin menyebarkannya kemana-mana, akhirnya setelah mendingin dijatuhkan kembali sebagai hujan.

Perlu dikembangkan bermacam IPA, mulai kebu-tuhan rumah tangga ukuran mini untuk desa, kota kecil, hingga kota besar dan kawasan industri yang berukuran raksasa. Dengan demikian, hanya air bersih yang boleh dibuang kedalam badan-air yang terdapat di muka bumi, seperti selokan, kolam, kanal, danau, sungai, laut, hingga dengan samudra. Perlu diketahui, lebih dari 70% berat tubuh manusia, tidak terkecuali bermacam makhluk lain, ialah air. Itulah sebabnya mengapa manusia, demikian juga makhluk lainnya sangat peka terhadap air tercemar; karena manakala yang akhir ini masuk kedalam tubuh lewat aktivitas: minum, makan, dan berkegiatan, akan dapat menyebabkan timbulnya gangguan lahir (fisik), tidak terkecali munculnya ggangguan bathin (mental) tidak diinginkan.

Sedangkan untuk butir ketiga, limbah-padat: rongsokan bermacam sarana angkutan (mobil, kapal, pesawatterbang, aneka ragam mesin perang, dan lain sebagainya); begitu juga rongsokan konstruksi baja dan lain sejensnya, tidak terkecuali instalasi tambang dari daratan hingga lepas pantai, dan masih banyak lagi yang lain. Memasuki milenium ketiga, muncul pula onggokan beragam benda sampah teknologi informasi dan telekomunikasi (komputer, telepon pintar, tablet, dan lain sebagainya) berubah menjadi limbah. Untuk menghindarkan munculnya tumpukan lim-bah teknologi elektronik-digital (digital-electronic) diterlantarkan orang berserakan di dimana-mana menyita lahan di muka bumi, perlu dibangun “cadangan berputar” (spinning reseve) yang menjadi sumber “bahan baku” kebutuhan industri untuk membuat beragam barang baru mulai yang berukuran kecil hingga dengan raksasa. Adapun yang dimaksud dengan cadangan berputar itu tidak lain dari “Bank Bahan Baku”, disingkat BBB (Bank of Raw Materials, disingkat BRM). Sebagaimana yang telah diteladankan TMH (Teknologi Mahluk Hidup) menyediakan “pe-mangsa” (predator) untuk menghilangkan makhluk yang tidak lagi bernyawa dari permukaan bumi, sebagai bagian dari rantai makanan bertugas “mendaur ulang” beragam jasad yang telah ditinggalkan ruh agar tidak menjadi pencema di muka bumi. Maka sejalan dengan apa yang telah dilakukan TMH diatas, maka terhadap berbagai macam barang hasil industri bikinan manusia apapun ragamnya, juga perlu diperlakukan dengan cara yang sama, yakni menghadirkan “mesin pemangsa” bekerja menghancurkan berbagai rongsokan barang (produk) hasil industri yang telah habis masa pakai ekonominya, kembali menjadi bahan baku guna disimpan kedalam cadangan berputar atau BBB. Dengan cara daur ulang demikian rongsokan barang hasil industry bikinan manusia tidak lagi menjadi sampah yang berserakan mencemari lahan di muka bumi.

Dengan demikian kini perlu dihadirkan Industri Pemangsa, disingkat IP (Predator industry, disingkat PI) dengan bermacam Mesin Pengurai, disingkat MP (Reduction Machine, disingkat RM) di muka bumi yang bekerja mendaur ulang beragam barang (produk) hasil industri yang telah habis masa pakai ekonominya. IP bersama beragam MP akan menjadi pemasok bahan-baku untuk BBB digali dari tambang perkoaan (urban mining) dimanapun adanya di muka bumi, antara lain: baja, tembaga, aluminium, dan lain sebagainya, untuk disimpan kembali kedalam cadangan berputar. IP akan mendatangkan lagi berjenis bahan-baku yang dibutuhkan oleh beragam industri yang menghasilkan berjenis barang (produk) yang dibutuhkan pasar, dihasilkan aneka ragam industry manufaktur hingga dengan beragam kerajinan rumah tangga mulai dari kota hingga ke desa. Dengan demikian mereka yang membutuhkan bermacam bahan-baku langsung dapat memperoleh dari BBB, sehingga kedepan penggalian tambang langsung dari dalam perut bumi terhadap beragam mineral asal alam perlu dibatasi untuk hanya kekurangan stok dalam BBB dengan pengawasan ketat. Melalui penyediaan cadangan berputar dari IP di mu-ka bumi, maka ekosistim yang telah terpelihara baik tidak lagi akan dapat dirusak dengan semena-mena oleh orang-orang yang tidak bertanggung-jawab sebagaimana yang banyak terjadi dewasa ini guna melindungi planit biru, satu-satunya benda langit istimewa yang ada di Alam Semesta, kini diketahui telah memasuki berusia 4,6 Miliard tahun.

b. Sistim Ekonomi Terpimpin, atau Diktator
Sosialisme muncul sebagai kritik terhadap kapitalisme. Ajaran Marxis lahir dari penolakan terha-dap lahirnya “revolusi industry” di Eropa silam. Menurut Karl Marx (1818-1883), industrialisasi akan mengelompokkan komunitas manusia kedalam kaum borjuis (bourgeoisie), yakni kelompok orang yang sedikit jumlahnya tetapi menguasai bermacam alat produksi mulai tanah sampai ber-macam pabrik hingga industry yang besar jumlahnya, dan kaum proletar (proletariat), ialah orang-orang yang tidak memiliki apapun selain dirinya yang banyak jumlahnya melakukan pekerjaan menghasilkan sesuatu dari setiap alat produksi yang dimiliki kaum borjuis. Marx menganggap industrialisasi sebagai dialektika logis pelaku ekonomi kaum feodal menuju kapita-lisme sempurna, dan yang akhir ini merupakan pendahuluan tercapainya komunisme. Dalam sistim sosialis segala alat produksi berikut keragamannya, juga bermacam usaha (business) adalah miliki dan dikelola Negara, dalam hal ini dikelola pemerintah komunis dengan deologi Marksisme Leninisme. Semua warga negara bekerja kepada negara: “memberikan kepada negara sesuai kemampuan, dan mendapat dari negara menurut keperluan. Akan menyalahi moral sosia-lisme, manakala ada anak bangsa menjalankan usaha (business) pribadi menghasilkan barang atau jasa atau keduanya mempekerjakan (mengeksploitasi) rekan sebangsanya, dengan memba-yar upah (uang) kepadanya sebagai imbalan jasa.

Sepeninggal Marx, para pengikutnrya terbelah. Sekelompok yang berkembang di Jerman lalu meninggalkan ajaran revolusi Perancis (1789-1799) yang menewaskan Raja Louis XVI yang tengah bertahta di negeri itu, menimbulkan beragam terror dimana-mana di seluruh negeri yang menyengsarakan kehidupan bangsa, mencari jalan damai untuk memperbaiki nasib kaum buruh di daratan Eropa jalan reformasi. Kelompok lain pengikut kaum Marxist Ortodox K. Kautsky, dipimpin W.I.Lenin, ingin mengulangi lagi ajaran revolusi Perancis 128 tahun silam, akan tetapi kini untuk menggulingkan Tsar Nikolas II dari singgasana di ibukota Rusia Petrograd, berlangsung tanggal 7 Nopember 1917, dengan menggerakkan kaum buruh negeri Beruang Merah itu. Revolusi berdarah kaum Bolshevik pimpinan W.I. Lenin berhasil menggulingkan dan menyingkirkan Raja bersama keluarganya ke Ekaterinburg di pedalaman Siberia. Lenin kemudian menyusun pemerintahan diktator proletariat di Rusia didukung kaum Bolshevik yang dipimpin Partai Komunis tunggal menguasai negara tanpa dibolehkan adanya kaum oposisi dan kritik terhadap pemerintah yang sedang berkuasa.

Pada ketika itu, kekaisaran Rusia sedang bergiat mengembangkan sistim ekonomi kapitalis yang bertanggungjawab terhadap kesejahteraan rakyatnya, sebagaimana yang dilakukan banyak negeri di daratan Eropa pada saat itu, akan tetapi dengan keberhasilan kaum Bolshevik menggulingkan Sang Tsar dari singgasananya, “sistim ekonomi kapitalis” yang tengah berkembang pesat di Rusia, terpaksa diganti dengan “sistim ekonomi sosialis” pertama di muka bumi sesuai ajaran Marx, dan nama Negara pun ditukar menjadi: Uni-Sovyet. Dengan demikiann sistim ekonomi kapitalis yang sudah dimulai Tsar Nikolas II untuk bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat Rusia, langsung ditukar menjadi sistim ekonomi sosialis pertama di dunia. Sistim ekonomi akhir ini kemudian disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia; dan pasca perang dunia ke-II menjadi wajib diterima oleh Negara-negara yang kemudian menjadi “satelit Uni-Sovyet”, tidak terkecuali beberapa negara dari dunia ke-III dan anggota negara-negara Non-blok yang menaruh minat mencicipi sistim ekonomi sosialis yang menjanjikan kesejahteraan bangsa.

Ketika negara Beruang Merah itu dilanda kekalutan politik berat, Michail Gorbachov selaku presiden Uni Sovyet lalu memperkenankan diselenggarakannya pemilu diseantero negeri, satu-satunya pemilu yang pernah ada sejak berdirinya negeri Beruang Merah dengan sistim ekonomi sosialis yang dipimpin Partai Komunis. Kemudian keluar sebagai pemenang pemilu di RFSR (Republik Federasi Sosialis Rusia) berlangsung secara demokratis pada tanggal 26 Maret 1989, B. N. Boris Yeltsin; padahal yang akhir ini telah menyatakan diri keluar dari Partai Komunis yang masih berkuasa di bumi Beruang Merah itu. Rakyat di RFSR, salah satu negara bagian Uni-Sovyet yang berbentuk federasi itu memperlhatkan jelas apa yang diinginkannya.

Setelah lebih dari tujuh dekade mengendalikan pemerintahan di Kremlin, kantor pemerintah Uni-Sovyet di Moskow, sosialisme atau sistim ekonomi sosialis terbukti gagal memenuhi janjinya untuk bertanggungjawab mensejahterakan kehidupan rakyat di seantero negeri, oleh ideologi yang sudah usang, terus saja membodohi anak bangsa dengan bermacam indoktrinasi orthodox ketimbang mencerdaskan mereka, membelenggu kebebasan individu dan menyatakan pendapat, serta melanggar hak azasi manusia. Uni-Sovyet pada ketika itu, masih merupakan satu negara adidaya dunia, pemimpin Negara Sosialis dari Blok Timur, hilang begitu saja ditelan sejarah dari permukaan bumi. Sebagai gantinya, lahir sejumlah negara baru, salah satu darinya ialah Federasi Rusia (Russian Federation) yang dipimpin oleh B. N. Boris Yeltsin; kembali menjadi negara demokratis. Yang akhir ini menyambut kembali “sistim ekonomi kapitalis” yang bertanggung jawab kepada kesejahteraan rakyat, sebagaimana yang dirintis oleh kekaisaran Rusia silam, dan memulihkan lagi perekonomian negeri yang telah porak poranda.

Uni-Sovyet berjaya selama lebih dari 72 tahun (1917-1989), memang berusaha keras untuk membuktikan sosialisme yang menuju komunisme, sebagaimana yang diajarkan oleh ideologi Komunis, akan tetapi dalam perjalanan waktu ternyata gagal. Sosialisme juga tidak memperli-hatkan keunggulan dalam berbagai bidang, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi berikut penerapan keduanya dalam memperbaiki kesejahteraan hidup anak-anak bangsa. Manakala dibandingkan dengan Jerman dan Jepang, sedemikian hancur di bom oleh sekutu dalam Perang Dunia ke-II silam, dalam perjalanan waktu hanya sedikit lebih dari setengah abad, masing-masing berhasil tampil menjadi raksasa-raksasa ekonomi ke-2 dan ke-3 dunia sesudah Amerika Serikat, akan tetapi dalam waktu tidak jauh berbeda Uni-Sovyet justru lenyap dari muka bumi. Negara adidaya dunia saingan Amerika Serikat itu, juga kelihatan kelabakan saat berhadapan dengan bencana Chernobyl pada tanggal 26 April 1986 lalu. Pertolongan datang menghadapi bencana nuklir mengerikan di Ukraina, sebuah negara bagian negeri itu, kebanyakan datang dari negara-negara kapitalis ketimbang negara-negara sosialis yang sealiran ideologi menghadang serbuan sinar radio-aktif. Perlu dicatat, pada ketika itu “perang dingin” antara Blok Barat dan Blok Timur masih belum lagi berakhir.

Sosialisme juga tidak memperlihatkan penyelesaian terhadap masalah limbah, sebagaimana yang dihadapi negara-negara kapitalis, mulai rumah-tangga hingga dengan buangan beragam industri dari ringan hingga berat yang melanda berbagai negara kapitalis di dunia ketika itu. Pasca runtuhnya Uni-Sovyet, barulah media berani mengabarkan kerusakan lingkungan yang telah terjadi di negara bersistem ekonomi sosialis yang bernama tirai besi. Kerusakan lingkungan juga kemudian terkuak ke media di berbagai negara satelit Beruang Merah itu, oleh lamanya terisolasi dari masyarakat dunia karena perbedaan ideologi, juga ketidak berdayaan sistim ekonomi sosialis mengembangkan beragam prakarsa berkaitan dengan menjaga kelestarian ekosistim di muka bumi. Tidak dapat disangkal terseretnya negara-negara anggota non-blok yang menerapkan sistim ekonomi sosialis model Uni-Sovyet untuk mensejahterakan kehidupan bangsa, kemudian terjerumus kedalam penanganan lingkungan hidup birokratis yang merugikan ekosistim bumi dari negara bersangkutan.

c. Sistim Ekonomi Romantis
Revolusi industri berkembang di Eropa lalu meluas ke Amerika Utara, kemudian Jepang dan sejumlah bagian dunia lain, tidak disangkal lagi mendapat perlawanan dari para penentangnya, antara lain: penulis, kaum intelektual, para penggiat budaya beragam seni, dan lain sebagainya. Kelompok masyarakat di daratan Eropa yang kala itu menolah kehadiran revolusi industri digerakkan kaum pengusaha diberi julukan: kaum romantis. Kedalam golongan ini termasuk juga para penyair yang rajin menyuarakan buah fikiran dan suara hati lewat tulisan, seperti: makalah, pembacaan puisi, menulis sajak, dan lain sebagainya. Mereka juga mempertontonkan karikatur, melakukan pementasan panggung hingga theater, dan masih banyak lagi kegiatan lain yang mereka kerjakan. Kaum romantis ingin menjaga hubungan yang harmonis antara manusia de-ngan lingkungan hidup alamnya di muka bumi, bersenjatakan kepiawaian beragam seni dan kekayaan warisan budaya lewat media bahasa. Apa yang mereka perbuat bertolak belakang samasekali dengan beragam mesin ukuran gergasi dan bangunan raksasa yang semakin bermun-culan dalam lingkungan hidup manusia pada saat itu. “Dark Satanic Mills” karya William Blake, novel “Frankenstein” tulisan Marry Shelley, dan masih banyak lagi lainnya, ingin mengadu ke-pada dunia terhadap ketidak senangan mereka pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di daratan Eropa yang berwajah ganda. Pernyataan dilontarkan dan prilaku dipera-gakan semuanya menampakkan sikap tidak senang. Akan tetapi kaum romantis tidak pernah memperjuangkan berdirinya sebuah negara dengan pemerintahan yang beranggungjawab kepada kesejahteraan rakyat suatu bangsa, dan itulah sebabnya mengapa tidak ada tulisan diketahui yang dikerjakan tentang kelebihan atau kekurangan: “sistim ekonomi romantis” yang bertanggung-jawab terhadap kesejahteraan sebuah bangsa di muka bumi, terkecuali keinginan besar untuk menjaga dan memelihara kelestarian ekosistim di bumi yang terbentang di hadapan mereka di permukaan planit ini.

Pencemaran Muka Bumi
Pencemaran di muka bumi memang bukan persoalan baru, karena telah timbul sejak ribuan tahun silam disebabkan beragam bencana, antara lain: meletusnya gunung-api yang menghamburkan asap ke udara, mengalirkan lahar panas berikut batuan, melahirkan lahar dingin yang menerobos pemukiman setelah hujan turun hujan, dan lain sebagainya. Ada juga yang ditimbulkan per-geseran landas kontinen dan menyebabkan timbulnya tsunami. Demikian juga banjir bandang yang disebabkan tingginya curah hujan sesuatu tempat di muka bumi karena perubahan iklim oleh pemanasan global. Selain dari itu, ada lagi rob disebabkan matahari dan bulan berada dalam segaris. Bencana alam memang dapat memporakporandakan lingkungan hidup tempat umat bermukim di muka bumi, mulai kerusakan lahir, tersebarnya bermacam bahan kimia, dari yang biasa, berbahaya, hingga dengan sangat berbahaya terhadap makhluk; tidak terkecuali yang dapat mengandung bahan radioaktif. Kerugian yang ditimbulkan mulai dari kehilangan nyawa, dan harta-benda; tidak terkecuali: sawah, ladang, dan lingkungan sekitar yang tidak lagi dapat dimanfaatkan dalam waktu yang panjang.

Pasca Perang Dunia ke-II, warga Jerman dan Jepang menderita kerusakan lingkungan hidup ditimbulkan begitu banyak bom yang dijatuhkan sekutu di kedua negeri itu. Selain dari itu, di negeri terakhir, ada lagi dua “bom atom” dijatuhkan di kota-kota Hiroshima dan Nagasaki me-renggut tidak sedikit korban jiwa. Kedua bom atom dijatuhkan di Jepang tidak semata menye-babkan kerusakan lahir, tetapi ada lagi radiasi bahan radioaktif yang tidak tampak oleh mata ber-kepanjangan yang juga membahayakan jiwa manusia. Belakangan banyak dibicarakan media massa tentang pencemaran radioaktif yang ditimbulkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi, oleh kegagalan mengatasi kebocoran air pendingin reaktor yang terbuang ke laut Jepang.
Adapun contoh pencemaran atmosfer menimbulkan bahaya maut yang tidak terduga terhadap warga yang hidup di muka bumi, ialah malapetaka Bhopal muncul di negara bagian Madhya Pradesh, India. Pada malam yang naas tanggal 2-3 Desember 1984, timbul kebocoran bahan methyl iso-cyanate dari sebuah pabrik kimia, yang letaknya tidak berjauhan dari suatu pemuki-man kumuh. Keesokan harinya dikhabarkan ribuan orang yang bediam di pemukiman tersebut tidak lagi terjaga dari tidur mereka, karena telah berpulang ke rakhmatullah.

Sepanjang tahun 2008 silam dichabarkan melalui media, sebanyak 29 Triliun metic-ton gas karbon dioxida (CO2) telah dibuang menuju ke atmosfer bumi yang menyelimuti planit biru ini. Gas berbahaya ini berasal dari bermacam industri yang menghasilkan bermacam barang kebutuhan umat yang hidup di bumi, tidak terkecuali aneka ragam sarana angkutan yang melayani umat bepergian pada tahun yang disebutkan.
Di daratan Eropa muncul hujan-asam (acid rain) berasal dari asap yang meninggalkan PLTU yang membakar beragam Bahan Bakar Padat (BBP), kebanyakan batubara. Sebagai akibatnya, daun-daun pohon dari hutan yang tidak berjauhan letaknya dari pusat pembangkit tenaga listrik disebutkan menjadi mengering.

Selama Perang Vietnam berlangsung, negeri itu dilanda hujan-kuning (yellow-rain) di bagian utara negeri. Negara Paman Sam saat itu mengambil kebijakan menyebarkan bahan-kimia dari udara yang menyebabkan hujan yang turun berwarna kuning di musim hujan. Adapun tujuan penyebaran bahan-kimia untuk menghambat laju gerakan pasukan-pasukan Vietcong yang sedang menerobos ke Selatan, namun dampak yang tidak diinginkan menimbulkan bayi-bayi manusia yang lahir di wilayah terkena hujan kuning menjadi cacat saat lahir, tidak terkecuali gangguan kesehatan lainnya.

Di negeri Sakura berjangkit apa yang dinamakan orang penyakit-Minamata (Minimata-disease). Penyakit ini dikhabarkan timbul karena tercemarnya air laut oleh airraksa (merkuri), cairan logam berat yang dibawa aliran di sejumlah sungai di Jepang menuju ke laut. Sebagai akibatnya banyak ikan-ikan yang hidup dan mencari makan di laut yang tercemar, lalu mengandung logam airraksa berbahaya dalam tubuh mereka. Kaum ibu Jepang yang menyantap ikan-ikan yang ditangkap dari perairan yang tercemar kemudian melahirkan bayi-bayi cacat, tidak terkecuali gangguan kesehatan lain. Limbah air-raksa juga mencemari berbagai sungai di Tanah-Air, di bagian hulu mana terdapat para pendulang emas yang memanfaatkan airraksa untuk memisahkan emas diperoleh, lalu membuang limbah dihasilkan begitu saja ke sungai dan langsung men-cemari air sungai.
Salah sebuah akibat bahaya “sinar radioaktif”, ialah terbunuhnya Alexander Livinenko dari Ru-sia sebagaimana yang diberitakan belum lama berselang. Ia dikhabarkan menerima radiasi Plu-tonium 210 (Po-210) yang radioaktif memancarkan sinar alpha berkepanjangan, disembunyikan orang yang tidak bertanggungjawab dalam jarak yang tidak jauh.

Sebuah hasil penelitian Universitas Chicago, Amerika Serikat, menunjukkan adanya hubungan atau korelasi, antara tingkat pencemaran pestisida sebuah lingkungan hidup dengan munculnya gejala autisme, demikian juga kekurangcerdasan (Intellectual Disability, ID) anak baru dilahir-kan di lingkungan tersebut. Tampaknya, pencemaran suatu lingkungan hidup pada tingkat ter-tentu, berdampak pada program kegiatan TMH didalam kandungan para ibu, menyebabkan bermacam program kimia organik dingin yang tengah berlangsung didalam tubuh bayi terusik karenanya.

Masih terdapat banyak ragam pencemaran lingkungan hidup yang timbul di muka bumi oleh kegiatan manusia dalam hidup ini, seperti yang diakibatkan karamnya tanker Exxon Valdez di Prince William Sound, Alaska, tanggal 24 Maret 1989 silam. Kapal pengangkut minyak mentah tujuan Long Beach, California, Amerika Serikat, itu tiba-tiba membentur karang Bligh dalam perjalanannya, lalu menumpahkan minyak-mentah dari sekitar 260,000 hingga 750,000 barrels (41,000 hingga 119,000 m3), menjadikan salah sebuah bencana lingkungan hidup terparah yang pernah diketahui orang di dunia selama ini.

Beragam bahan pencemar yang ada dalam lingkungan umat dapat masuk kedalam tubuh ma-nusia, pertama: ketika orang sedang bernafas lewat paru-paru dan menghirup limbah-gas dan butiran-butiran benda renik; kedua: melalui mulut saat orang sedang: minum dan menyantap makanan yang mengandung limbah-cair berbahaya atau sangat berbahaya; dan ketiga: melalui sentuhan langsung dengan beragam benda-padat berbahaya atau sangat berbahaya saat sedang berkegiatan, seperti: bekerja, berolah raga, dan lainnya.

Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, revolusi industri tampil di Eropa dengan beragam mesin yang memudahkan kehidupan umat silam, semula dikira orang sebagai berkah kepada umat. Akan tetapi dengan terjadinya perubahan iklim nyata disertai angin kencang dan iringan ombak besar yang mendatangkan beragam bencana di muka bumi, umat Islam lalu sadar akan peringatan Tuhan dalam surat Ar-Rum, Ayat 41, tercantum dalam Al-Quran, akan “arti” sesungguhnya rangkaian kata: “merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) dari perbuatan” manusia: “agar kembali ke jalan yang benar”.

Revolusi industri tampil di Eropa silam berawal dari temuan Thomas Savery (1650-1715) dari Inggris, yang sedang tertantang mewujudkan pompa-air tenaga atmosfer kebutuhan tambang, lalu mempatenkannya. Thomas Newcomen (1664-1729), rekan senegaranya melihat kekurangan pompa rekannya, dan memperkenalkan pompa-air berpengisap dibantu uap untuk maksud yang sama. Kedua pompa ini lalu menggoda James Watt (1736-1819) rekan senegara yang lain, mem-buat mesin-uap berputar dijalankan uap bertekanan untuk kebutuhan beragam industri yang diu-sahakan orang ketika itu, tidak terkecuali yang memperkenalkan kereta-api pertama di dunia oleh George Stephenson (1781-1848) menghubungkan Sockton dengan Darlington di Inggris membakar Bahan Bakar Padat (BBP) ragam batubara. Mesin-uap yang bernama ilmiah Mesin Pembakaran Luar (MPL), memiliki “kemasan ganda” (double package): sebuah digunakan un-tuk “periuk” tempat menanak air yang menghasilkan uap bertekanan (tenaga potensial) lewat pembakaran di luar silinder, lainnya berupa sebuah: “silinder dengan pengisap”, digunakan untuk mengubah tenaga potensial uap yang ada dalam kemasan pertama menjadi tenaga-gerak putar di-perlukan beragam industri, seperti: angkutan, dan lainnya. Batubara lalu ditambang orang dima-na-mana di muka bumi kedalaman puluhan hingga ratusan meter, sedangkan air diperoleh dari sungai terdekat.

Dari Belgia, negara Eropa lain, tahun 1860 Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) memper-kenalkan bernama ilmiah Mesin Pembakaran Dalam (MPD) berpemantik, yang dikenal dengan istilah “motor bakar”. Bahan-bakar digunakan bukan batubara, tetapi Bahan Bakar Cair (BBC) bernama bensin yang gampang menguap. Karena gas bertekanan untuk mendorong pengisap kebawah dapat dihasilkan langsung didalam silinder dalam sekejap dengan pemantikan, maka MPD tidak membutuhkan periuk tempat bertanak air, sehingga “kemasan ganda” James Watt oleh Etienne Lenoir disusutkan menjadi sebuah “kemasan tunggal” (single package). Dengan demikian MPD memerlukan tempat yang lebih kecil untuk daya dihasil-kan yang sama, menyita ruang atau volume lebih sedikit dalam kendaraan, lebih ringan, lebih murah pula harganya. Akan tetapi MPD membutuhkan BBC yang mudah menguap, dengan minyak mentah asalnya perlu didatangkan dari dalam perut bumi ribuan meter dalamnya, selanjutnya harus diolah dalam kilang agar menjadi bensin.

Dua tahun kemudian dari Jerman, negara Eropa yang lainnya, Nikolaus Otto memperkenalkan MPD dengan pengabut (carburettor) dan pemantik listrik (electric ignition), yang lalu dikenal luas dengan nama: mesin bensin. Pada tahun 1900 menyusul pula Rudolf Diesel, rekan sebang-sanya, memperkenalkan MPD dipantik kempa (compression ignition) dan dinamakan: mesin diesel. Berbeda dengan TMH (Teknologi Makhluk Hidup) “pengubah panas” kimia organik “suhu tubuh” atau suhu rendah diperkenalkan Ilahi di muka bumi, akan tetapi teknologi yang dikembangkan umat sejak awal revolusi industri di Eropa silam, kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia, menperkenalkan “pengubah panas” kimia anorganik “suhu amat tinggi” dengan temperatur ribuan derajat Celsius. Revolusi industri yang diawali dari Eropa silam dengan demi-kian telah melahirkan: serangkaian “Sumber Tenaga Gerak”, disingkat STG (Mechanical Energy Source, disingkat MES), yang mengubah “panas” hasil pembakaran bahan-bakar bersuhu amat tinggi menjadi “tenaga gerak” (mechanical energy), berupa: sebuah MPL dikenal dengan istilah “mesin-uap”, dan dua buah MPD masing-masing dinamakan “mesin-bensin” dan “mesin-diesel”.

Ketiga macam pengubah “panas” menjadi “gerak”, disingkat: Pengubah Panas Gerak (PPG), a-tau Thermo Mechanic Convertor (TMC), dinamakan: “mesin pembakaran”, terdiri dari: MPL yang bertanak air dalam periuk (ketel) untuk menghasilkan uap bertekanan yang dibutuhkan mesin, berlangsung diluar silinder-silinder mesin menggunakan BBP, dan MPD yang melakukan pembakaran langsung dalam silinder-silinder mesin, karena tidak memerlukan periuk tempat bertanak air, akan tetapi membakar BBC mudah menguap atau BBG. Dengan demikian STG- PPG (MES-TMC) yang diperkenalkan revolusi industri kepada umat di dunia pertama kali benar-benar barang yang baru samasekali, dimulai dari Inggris, dilanjutkan oleh Belgia, kemudian disempurnakan oleh Jerman; memperkenalkan kepada manusia apa yang kemudian dinamakan dengan: “mesin” (Indonesia), “engine” (Inggris), dan “maschine” (Jerman), dan me-nyebar ke segala penjuru dunia.

Mesin yang bekerja mengubah “panas” menjadi “gerak” dinamakan orang: “Pengubah Panas Mekanik”, disingkat PPM (Thermo Mechanical Convertor, disingkat TMC). Mesin demikian membakar beragam bahan-bakar lewat reaksi kimia anorganik guna membebaskan panas (kalor) menimbulkan suhu sangat tinggi guna membangun uap atau gas bertekanan. Adapun dua kelompok mesin yang diperkenalkan revolusi industry di Eropa silam, ialah: MPL (ECE) yang merebus air dalam periuk (boiler) diluar silinder mesin dengan membakar bahan-bakar padat( batubara) untuk mendapatkan uap bertekanan, dan MPD (ICE) yang membakar bahan-bakar cair atau gas langsung dalam silinder mesin untuk menghasilkan gas bertekanan, tanpa membutuhkan periuk (boiler) samasekali. “Uap bertekanan” atau “gas bertekanan” merupakan “kunci pertama”, temuan bangsa Eropa ini, sedangkan “silinder berikut pengisap, lengan dan poros engkol” meru-pakan kunci kedua temuan tadi, dari apa yang telah dilakukan revolusi industry diawali dari Eropa silam, dan mengubah drastis peradaban umat di muka bumi sampai hari ini.

Kedua kunci penemuan disebutkan sebetulnya dapat ditemukan juga komunitas umat mana saja di bumi, sejauh mereka yakin bahwa Allah, yang Maha Pengasih yang Maha Penyayang, telah menebarkan ke Alam Semesta bermacam pengetahuan termasuk ilmu-alam (fisika) yang begitu sederhana kedua kunci. Banyak komunitas umat di muka bumi yang telah lama thau air direbus dalam benjana menghasilkan uap bertekanan, demikian juga gas mudah menyala akan menye-babkan letusan, akan tetapi apabila umat tidak menaruh perhatian kepada apa yang telah disemaikan Ilahi di Alam Semesta, wbilkhusus di muka bumi tempat insan berdiam, maka kesempatan emas akan diambil komunitas lain yang lebih tekun mencari dan menemukan, sebagaimana yang telah dikerjakan oleh komunitas Eropa silam.

Meski MPL dan MPD begitu besar manfaatnya kepada manusia sejak awal dari revolusi industri silam, tetapi kebanyakan (mayoritas) “panas” yang dibebaskan reaksi kimia pembakaran bahan-bakar dinyatakan dalam “kalori” cuma terbuang percuma. Hanya sebagian kecil (minoritas) “panas” hasil pembakaran bahan-bakar yang dapat diubah menjadi “gerak” (mekanik) untuk menggerakkan bermacam industri, atau sarana angkutan: darat, air, dan udara, serta lainnya. Itulah sebabnya mengapa ketiga PPG temuan revolusi industry ini tergolong “boros” atau “tidak-efisien” memanfaatkan bahan-bakar, karena lebih banyak “panas” hasil pembekaran yang terbu-ang percuma ketimbang dimanfaatkan. Diterjemahkan kedalam pemakaian bahan-bakar, lebih banyak bahan-bakar yang dibawa kendaraan hanya dihamburkan begitu saja sepanjang jalan dilalui untuk mencemari lingkungan hidup manusia di muka bumi daripada dimanfaatkan.

Sebuah lokomotiv-uap digerakkan MPL menarik rangkaian kereta-api dari Jakarta ke Surabaya sebetulnya memerlukan 10% “panas” hasil pembakaran seluruh batubara yang dibawa dan dibakar untuk mengantarkan kereta-api bersama penumpang sampai ke tujuan; adapun 90% “panas” yang lain, hanya dihamburkan begitu saja sepanjang jalan dilewati memanasi udara sekitar. Diterjemahkan kedalam pemakaian BBP, hanya 10% berat batubara yang dibawa dan dibakar yang bermanfaat mengantarakan rangkaian kereta-api bersama penumpang sampai ke tujuan, sementara 90% berat batubara lainnya dihamburkan begitu saja sepanjang jalan dilalui mengotori lingkungan. Sebuah sepeda motor atau mobil dijalankan MPD, akan menghamburkan 75% “panas” hasil pembakaran bensin memanasi udara sekitar, hanya 25% “panas” hasil pembakaran bensin yang bermanfaat mengantarkan pengemudi bersama kendaraan sampai ke tujuan. Diterjematukhkan kedalam pemakaian BBC, 75% berat bensin yang berada dalam tanki motor atau mobil ditumpahkan begitu saja sepanjang jalan dilalui, hanya 25% berat bensin dalam tanki yang dibawa dan dibakar yang benar-benar mengantarkan pengemudi berikut kendaraan sampai ke tujuan.

Itulah pula sebabnya mengapa: sepeda motor, angkot, mobil, bis, kapal laut, pesawatterbang dan lainnya menggunakan MPD, begitu juga yang menggerakkan beragam pabrik samapai industri, sangat boros mengkonsumsi BBM. Ini disebabkan oleh kenyataan, kurang dari 25% “panas” hasil pembakaran: bensin, solar, atau lainnya muncul dalam sekejap dalam silinder-silinder mesin berguna mengantarkan kendaraan bersama penumpang, barang, atau keduanya, sampai ke tujuan, sementara 75% lainnya hanya terbuang percuma saja sepanjang jalan dilalui memanasi udara lingkungan sekitar. Lalu keduanya, baik yang berguna maupun yang terbuang percuma, menimbulkan apa yang dinamakan dengan istilah: “jejak karbon” (carbon footprint). Pencemaran yang ditimbulkan sarana angkutan darat yang membakar bahan-bakar selanjutnya dinyatakan lewat “berat carbon dalam gram” dihamburkan menuju lingkungan sekitar terhadap untuk setiap km jarak yang ditempuh. Dengan demikian, sebuah kendaraan pribadi roda empat merek tertentu dijalankan MPD akan meninggalkan “jejak karbon” di muka bumi sejumlah: x gr/km, sebagai contoh 135 gr/km.

Adapun gas hasil pembakaran bahan bakar dihamburkan beragam kendaraan melalui knalpot masing-masing, ialah: nitrogen (N2), uap air (H2O), karbon dioksida (CO2); meski ketiganya tidak tergolong bebahaya, namun yang disebut akhir ini tergolong gas penyumbang pemanasan global. Diantara berbagai gas yang tidak dikehendaki keberadaannya dalam atmosphere bumi ialah: karbon mono-oksida (CO), hidrokarbon (CxHy), dan oksida nitrogen (NOx). Kini setelah lebih dari dua abad revolusi industri berlangsung, ketiga macam mesin yang diperkenalkannya diawali dari Eropa silam, masih belum banyak beranjak dari keborosan pemakaian BBC. Ini disebabkan oleh “Bidang Teknik Mesin” dari beragam Perguruan Tinggi Teknologi di muka bumi ini masih belum menemukan pemecahan masalah yang dihadapi secara ekonomis. Jejak karbon inilah yang kini disaksikan warga China mengambang di udara berbagai kota besar di negeri Tirai Bambu itu, seperti: Beijing, Shanghai, dan lainnya dan telah menganggu pernafasan warga bangsanya. Ancaman semacam itu juga akan menghampiri Tanah-Air, manakala anak bangsa ini tidak berhasil menyiapkan langkah nyata dalam perencanaan untuk menghindar-kannya muncul di langit nusantara.

Gunung-Api Buatan Manusia
Hingga kini, sudah dikenal tiga golongan limbah yang mencemari lingkungan hidup makhluk di muka bumi ditimbulkan “aliran benda (materi)” yang hijrah dari dalam perut bumi menuju per-mukaan buatan manusia, pertama: gas dan benda renik (small particles) hasil pembakaran bera-gam bahan-bakar asal bermacam industri penghasil barang (produk) dan jasa (service), mulai dari: industri dan pabrik, sarana angkutan, tambang, kilang mulai kecil hingga besar, bermacam kegiatan ekonomi masyarakat dari kecil sampai menengah, dan lainnya yang ada di muka bumi dan dihamburkan begitu saja menuju atmosfer diseputar bumi dan mencemari udara; kedua: air-kotor dihasilkan beragam industri penghasil barang (produk), jasa (jasa), mulai: pabrik, industri, angkutan, tambang, kilang, mulai kota kecil sampai besar, dan lainnya; lalu dibuang begitu saja kedalam badan-air: parit, kolam, kanal, danau, sungai, laut, berakhir di samudra; ketiga: berjenis barang hasil pabrik hingga industri yang telah habis masa pakai ekonominya lalu beralih menjadi barang rongsokan, seperti: mobil, kereta-api, kapal mulai sungai hingga samudra, pesawat-terbang, beragam perlengkapan dan peralatan perang, komputer, laptop, telepon pintar, limbah rumah tangga mulai: desa, kota kecil sampai besar, dan lainnya; diterlantarkan begitu saja di dimana-mana di daratan menyita lahan semakin luas. Dengan penduduk yang berdiam di muka bumi yang terus bertambah, ketiga kelompok limbah disebutkan juga akan meningkat jumlahnya di muka bumi dalam perjalanan waktu kedepan.

a. Pencemaran Atmosfer
Seorang pengemudi sepeda motor menyimak penunjuk bensin, dan mampir ke tempat pengisian BBM. Dari tanki, dengan teknologi mutakhir bensin disuntikkan kedalam silinder, dan setelah bercampur udara dipantik. Timbul letusan, “panas” dibebaskan, gas bertekanan timbul sekejap dalam silinder mendorong “pengisap” kebawah. Dengan bantuan lengan dan poros-engkol, gerakan lurus pengisap diubah menjadi putar. Kemudian dengan rantai, gerakan putar poros dihubungkan ke roda belakang yang membuat sepeda motor bergerak. Diperlukan banyak sekali letusan dalam silinder untuk mengantarkan pengendara sepeda motor bersama pengendara sampai ke tujuan. Dengan mengatur isi (volume) silinder, mulai ukuran hingga dengan banyaknya, begitu juga ragam BBM dimanfaatkan, daya (power) dihasilkan mesin dapat diatur.

Demikian awalnya, bagaimana revolusi industri di Eropa silam memperkenalkan STG bikinan manusia hasil akal budinya, hanya memanfaatkan “ilmu alam” (fisika) yang begitu sederhana, lalu mengubah “peradaban manusia” di muka bumi, lebih dari dua abad lamanya sampai hari ini, hanya dipicu pompa buatan Thomas Savery, yang lalu diperbaiki Thomas Newcomen, kemudian oleh James Watt diubah menjadi “sumber tenaga gerak” mesin pembakaran luar, disingkat MPL, ketiganya dari Inggris; dilanjutkan J.E.Lenoir dari Belgia memperkenalkan “sumber tenaga gerak” pembakaran dalam, disingkat MPD. Dan yang disebut belakangan, dapat dikatakan sebagai: rangkaian letusan hasil pembakaran BBM terkendali kemasan tunggal (single package) yang menghasilkan “tenaga gerak” kebutuhan beragam industri, wabilkhusus: sarana angkutan, tidak terkecuali beragam industri lainnya. Manakala tidak dikemas baik, dan tidak juga terkendali, akan menimbulkan letusan bom menghancurkan seketika manakala bahan-bakar yang telah bercampur udara dipantik. Sejak dari saat bersejarah itu, berbagai industri lalu bermunculan dimana-mana di muka bumi ibarat jamur di musim hujan yang menyediakan lapangan kerja kepada umat, tidak terkecuali memperkenalkan bermacam sarana angkutan: darat, air, udara, keperluan: sipil, militer, dan lainnya. Budaya bepergian berjalan-kaki dan naik-kuda, tidak terkecuali kereta dihela kuda atau ternak peliharaan lain selama ini dimanfaatkan orang dimana-mana di muka bumi, lalu lenyap dan digantikan kendaraan yang dijalankan mesin pembakaran yang belum diketahui orang dari zaman sebelumnya. Bermacam lingkungan budaya dan adat istiadat yang semula tertutup terisolasi oleh jarak perjalanan yang jauh, kemudian seketika terbuka menyebabkan timbulnya beragam permasalahan: sosial, ekonomi, politik, keamanan, dan lainnya yang rumit sekali.

Usai letusan pertama, silinder mesin lalu dikuras menjelang penyuntikan bensin baru untuk kembali dicampur udara baru menjelang pemantikan selanjutnya; demikian seterusnya dengan letusan-letusan yang kemudian menyusul. Pembilasan silinder melahirkan “gas buang” yang dikeluarkan lewat knalpot, melahirkan “limbah gas” yang diperkenalkan revolusi industri. Lim-bahgas yang dikeluarkan ribuan, jutaan, miliard, triliun, bahkan lebih banyak lagi letusan, yang dihamburkan saja menuju atmosfer bumi akan mengotori atau mencemari udara, karena tidak lagi dapat dikembalikan kedalam perut bumi darimana berasal, setelah “panas” berhasil pemba-karan bensin diubah menjadi “gerakan” yang diperlukan si pengendara sepeda motor.

Limbah gas tidak semata dihamburkan sarana angkutan: darat, laut, dan udara, tetapi juga oleh tak terhitung banyaknya pabrik dan industri yang telah ada di muka bumi hingga kini yang memanfaatkan: mesin-uap, mesin-bensin, dan mesin-diesel untuk memproduksi: beragam barang (produk), layanan jasa; (service) yang bilanagn dan ragamnya terus bertambah di bumi dalam perjalanan waktu, tersebar kedalam berbagai negara. Selain pencemaran atmosfer diperoleh dari pembakaran: BBP, BBC, dan BBG berlangsung didalam silinder-silinder beragam kendaraan, masih ada sumber pencemaran dari bahan “additive” yang ditambahkan orang dengan sengaja, seperti: logam timbel kedalam bahan-bakar, dan lainnya kedalam minyak lumas. Adapun mak-sud penambahan bahan-bahan ini demi meningkatkan kinerja: mesin-uap, mesin-bensin, dan me-sin-diesel. Manfaat pemakaian bahan additive terhadap mesin diterangkan sangat baik oleh pabrik pembuatnya, namun dampak “sampah-gas” mengandung bahan additive apabila terhirup kedalam pernafasan manusia samasekali tidak diterangkan oleh pembuatnya.

Seperti yang telah berulang kali disampaiakan, “limbah gas” yang dihamburkan kedalam atmosfer bumi mengitari planit biru ini, datang dari beragam industri, seperti: bermacam sarana tansportasi dan berjenis industri yang ada di muka bumi. Adapun jumlah limbah-gas yang dihamburkan dalam Triliun metric-ton tergantung dari: isi (volume) silinder, bilangan silinder, putaran poros per menit, daya dihasilkan, dan jumlah: mesin-uap, mesin-bensin, dan mesin-diesel yang dimanfaatkan orang setiap saat di seluruh penjuru dunia dalam setahun menghasilkan bermacam barang (produk) dan aneka jasa (service). Perlu dicatat luas permukaan bumi, terdiri dari daratan dan muka air, seluruhnya: 510 juta km2. Tiga perempat berat (massa) udara yang menyelimuti bola bumi terletak hingga ketinggian 11.000 meter (11 km) diatas permukaan laut. Puncak Everest, tempat tertinggi yang terdapat di muka bumi terletak pada ketinggian 8.848 m diatas permukaan laut, sementara tempat tertinggi yang dapat didiami manusia ialah: 5.500 m diatas permukaan laut, karena pada ketinggian tersebut kemampuan paru-paru manusia meraih oksigen untuk bernafas telah merosot menjadi: 50%. Dengan demikian Volume Udara (VU) sebagian besar atmosfer bumi mengitari planet biru, keberadaannya dipercayakan kepada gaya-tarik (gravitasi) bumi, jumlah seluruhnya: 5,41 Miliard km3. Dengan garis-tengah bumi: 12.740 km, Volume Bumi (VB) besarnya: 1.081 Miliard km3. Dengan demikian perbandingan antara sebagian besar udara yang mengitari planit biru terhadap volume bumi, memberikan angka:

VU/VB = 0,5%

Dari perbandingan diatas jelas tampak, bahwa lapisan udara yang menyelimuti bola bumi atau planit biru, hanyalah sebuah lapisan tipis yang boleh juga dinamakan “selaput udara”. Karena begitu tipisnya lapisan udara ini, maka tidak dapat diragukan amat rawan terhadap pencemaran yang ditimbulkan aliran benda (materi) mengalir dari dalam perut bumi menuju permukaan yang semula diawali oleh revolusi industri.

Untuk memberikan gambaran yang lebih terang lagi “arti” perbandingan yang dikemukakan diatas, bayangkan sebuah bola bergaris tengah 100 m diletakkan di tengah sebuah stadion sepak-bola untuk mewakili bola bumi dengan ukuran yang diperkecil. Lalu sentuhkan sebuah mistar pendek 10 cm tegak lurus kepada bidang yang menyentuh bola. Dengan demikian, tiga pe-rempat berat udara yang menyelimuti bola bumi diperkecil akan terdapat pada angka 8,64 cm. Memandang bola bumi diperkecil dari salah satu kursi di dalam stadion, orang akan mendapat kesan betapa tipisnya lapisan atmosfer bumi berdimensi selaput ini, benar-benar sangat rawan terhadap pencemaran yang ditimbulkan aliran bahan (materi) yang meninggalkan perut bumi (diperkecil) menuju permukaannya berlangsung tanpa henti; yang terus meningkat jumlahnya menelusuri perjalanan waktu. Akan tetapi bagi orang yang memandang ke angkasa dari tempat duduk yang sama di dalam stadion, tidak akan mudah percaya bahwa ruang atmosfer di seputar bola bumi (sebenarnya) yang tampak demikian luas akan dapat tercemar oleh aliran bahan (materi) yang meninggalkan perut bumi menuju permukaan berlangsung tanpa henti, meski jumlahnya terus bertambah menelusuri perjalanan waktu. Lalu apa yang akan mengadili kedua sudut pandang yang bertolak belakang dari dua orang pengamat yang duduk di kursi stadion yang sama? Hal ini terpulang kepada “penguasaan ilmu pengetahuan” dan penalaran “akal sehat” yang dimiliki masing-masing semata.

Selain dari itu, manakala lapisan udara atmosfer bumi diibaratkan sebuah garasi mobil tertutup rapat yang berisi mobil dengan mesin dihidupkan. Secara perlahan tapi pasti, udara yang terdapat dalam garasi akan tercemar limbah-gas buang hasil pembakaran bahan-bakar yang akan menyebabkan orang-orang duduk di dalam mobil dengan kaca terbuka merasakan sesak nafas. Terhadap mereka yang duduk di dalam mobil masih ada jalan keluar untuk mendapat perto-longan, yakni apabila ada orang di luar garasi yang cepat mengetahui keadaan, dan mendobrak pintu garasi untuk membukanya denan paksa. Akan tetapi bagi umat yang berdiam di permukaan bumi dengan udara dalam atmosfer bumi yang tercemar, pertolongan demikian samasekali tidak lagi mungkin dilakukan.

b. Pencemaran Badan Air
Beragam industri yang menghasilkan bermacam barang (produk) dan jasa (service), tidak terke-cuali aneka ragam sarana angkutan, kilang, dan lain sebagainya; juga tidak terkecuali rumah tangga dari desa, kota kecil hingga besar, dan banyak lagi lainnya terdapat di muka bumi memer-lukan air bersih dalam kegiatan sehari-hari. Air bersih yang telah menjalani proses: campur, endap, saring, bilas, cuici, radiasi, dan lain sebagainya, lalu berubah menjadi air-tercemar atau air-kotor, karena tidak lagi dapat digunakan. Air bersih juga menjalani bermacam proses dalam tambang: batubara, minyak bumi, biji mineral, dan lainnya; mulai dari aktivitas: penggalian, pengeboran, pengangkutan, pengolahan dalam pabrik dan kilang; baik yang tengah berjalan maupun yang akan muncul kemudian, semuanya memerlukan air-bersih yang kian besar jum-lahnya. Air bersih yang menjalani satu atau lebih proses lalu menjadi air kotor yang dibuang saja. Dengan penduduk bumi yang semakin besar jumlahnya, begittu pula kegiatan ekonomi yang terus berkembang, jumlah air-kotor dihasilkan kegiatan hidup dan ekonomi akan semakin bertambah dalam perjalanan waktu. Karena belum terdapat Instalasi Penjernihan Air (IPA) yang dapat menangani air-kotor terhadap jumlah dihasilkan pada banyak tempat di muka bumi yang membutuhkan, maka air-kotor dihasilkan bermacam proses yang berhubungan dengan kegiatan hidup dan ekonomi manusia di muka bumi lalu dibuang begitu saja dalam badan air: parit, kanal, sungai, danau, laut, hingga dengan samudra dimana-mana di seluruh dunia.

c. Pencemaran Daratan
Bermacam barang hasil industri yang sudah habis masa pakai ekonominya beralih menjadi ba-rang rongsokan, antara lain: mobil, kereta-api, kapal sungai hingga samudra, pesawatterbang, berjenis mesin perang, komputer, laptop, telepon pintar, sampah mulai desa, kota kecil hingga besar, dan tempat lainnya, diterlantarkan begitu saja dimana-mana menyita lahan di muka bumi; disini tidak terkecuali bangun-bangunan dan instalasi beragam tambang, bor bumi, sarana angkutan yang sudah habis masa pakai ekonominya; semuanya diterlantarkan orang saja menyita lahan di muka bumi mulai dari daratan hingga lepas pantai.

Gunung-Api Buatan Manusia
Dari apa yang telah dikemukakan, bensin sebelum tiba di pompa BBM, semula “minyak men-tah” dalam kilang yang diolah menjadi bensin. Dan “minyak mentah” itu sendiri sebelum tiba di kilang, berada ribuan meter di dalam perut bumi. Bensin yang akhirnya berahir menjadi: limbah-gas lalu dihamburkan ke atmosfer seputar bola bumi yang mencemari udara. Begitu pula keadaannya dengan air-bersih yang sudah tercemar dan menjadi air-kotor. Yang akhir ini datang dari beragam proses pembuatan barang (produk) dan jasa (service) dalam bermacam pabrik, industri, kilang, tambang penggalian: batubara, minyak bumi, gas, mineral dan lainnya. Ada pula air kotor datang dari aktivitas membersihkan atau pembilasan: motor, mobil, kereta-api, pesawat-terbang, kapal sungai hingga samudra, dan banyak lainnya. Dan tidak dapat dihindarkan adanya air-kotor datang dari bermacam rumah tangga yang ada di muka bumi, mulai desa, kota kecil hingga besar; semuanya mengeluarkan: limbah-cair yang terkumpul di muka bumi. Akhirnya rongsokan bermacam barang bekas mulai: motor, mobil, kereta-api, pesawatterbang, kapal su-ngai hingga samudra, dan lain sebagainya. Begitu pula rongsokan tambang, mulai: batubara, mi-nyak bumi, biji aneka mineral, tidak terkecuali instalasi penggalian, pengeboran, alat-alat berat dan transportasi, bermacam instalasi pengolahan, dan lain sebagainya yang sudah habis masa pakai ekonominya. Selain dari itu tidak boleh dilupakan juga sampah perkotaan yang menggu-nung muncul dimana-mana di muka bumi yang menimbulkan: limbah-padat.

Dari apa yang telah disampaikan terlihat jelas, bagaimana aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan “bikinan manusia” yang berakhir menjadi: “limbah-gas”, “limbah-cair”, dan “limbah-padat”. Karena limbah-gas tidak lagi dapat dikembalikan kedalam perut bumi setelah “panas” hasil pembakaran bahan-bakar diambil untuk menggerakkan kendaraann, indus-tri dan lain sebagainya; begitu juga pencemar air-bersih tidak lagi dapat dipisahkan dari air kotor untuk dikembalikan ke asalnya dalam perut bumi; selanjutnya rongsokan barang-barang hasil produksi bermacam industri tidak terkecuali sampah perkotaan tidak lagi dapat dipulangkan ke-dalam perut bumi darimana datangny; semuanya mencemari: atmosphere, badan air, dan lahan di permukaan bumi. Manakala dibandingkan dengan gunung-api yang sedang meletus, “limbah gas” bikinan manusia dapat disetarakan dengan asap gunung api yang dihamburkan ke udara; “limbah cair” bikinan manusia dapat disetarakan dengan lahar dingin, atau aliran lumpur gunung-api, atau aliran lumpur Lapindo di Sidoarjo; dan “limbah padat” bikinan manusia dapat disetarakan dengan lahar panas gunung-api yang sudah menjadi: abu, pasir, dan bongkahan batuan. Dengan timbulnya “revolusi industri” di muka bumi, diawali dari Eropa lebih dari dua abad silam, ketiga macam limbah yang sudah dibidaninya ini, dapat dinamakan dengan: “Letusan Gunung-api Buatan Manusia”, disingkat: LGBM, atau The Man Made Volcano, disingkat: TMMV.

Perlu dicatat, gunung-api yang jumlahnya banyak di bumi, apabila meletus akan berhenti setelah berlangsung beberapa lama, dan baru akan meletus lagi bertahun atau puluh tahun kemudian. Akan tetapi, bertolak belakang dengan gunung-api bumi, LGBM meletus setiap hari sepanjang tahun, dan setiap tahun sepanjang abad, terus-menerus meletus, karena tidak mengenal istilah berhenti walaupun untuk sejenak.

Sebuah Pengandaian
Mengingat filsafat dan ilmu pengetahuan telah begitu lama berkembang di kawasan Timur Tengah, disokong luasnya perdagangan begitu pula kontak budaya antara bangsa beragam budaya berdiam disana dalam perjalanan waktu yang sangat panjang ketimbang bagian dunia lain, lalu muncul pertanyaan: mengapa “revolusi industri” tidak diawali justru dari bagian dunia itu? Tampaknya, Timur Tengah sepanjang waktu terlalu penuh dengan hirukpikuk percaturan pengaruh dan kekuasaan yang berkepanjangan, sehingga tidak tersedia ruang waktu untuk mela-hirkan suatu penemuan sederhana yang dapat mengubah peradaban dunia. Di fihak yang lain, Eropa utamanya Inggris ketika itu, masih tergolong “kampung” dan jauh dari kegaduhan model Timur Tengah, dibantu kaum intelektual berpengetahuan tepat guna yang sedang bersemi, menjadikan Eropa saat itu ladang subur untuk tampilnya gagasan baru, sebagaimana yang telah diperlihatkan Thomas Savery (1650-1715), ketika menerima tantangan membuat pompa-air keperluan tambang memanfaatkan vakum ditimbulkan uap bertekanan dalam bejana disiram air dingin, kemudian mempatenkannya. Thomas Newcomen (1664-1729) rekan senegaranya, mem-perkenalkan pula gagasan lain untuk maksud yang sama. Dari karya kedua rekan sebangsanya, James Watt (1736-1819) lalu memperkenalkan “sumber tenaga gerak” pertama di dunia buatan manusia berupa mesin-uap berputar. Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) dari Belgia, memperkenalkan “mesin pembakaran” pertama di dunia bahan-bakar bensin pemantik sumbu sebagai “sumber tenaga gerak” ringan. Nikolaus Otto dari Jerman memperkenalkan mesin pembakaran berpengabut yang berpemantik listrik pertama di dunia bernama: mesin bensin, yang mudah digunakan orang. Pada tahun 1900, Rudolf Diesel, rekan senegaranya dari Jerman memperkenalkan mesin pembakaran berpemantik kempa pertama di dunia bernama: mesin diesel. Dengan demikian, sederetan kartu domino teknologi STG pengubah PPG (TMC) telah diperkenalkan revolusi industri kepada dunia di Eropa lebih dari dua abad silam. Sejak dari saat bersejarah itu manusia berkenalan dengan STG-PPG (MES-TMC) yang samasekali baru, diawali Inggris, dilanjutkan Belgia, lalu disempurnakan Jerman; semuanya memperkenalkan kepada dunia apa yang kemudian dikenal dengan: “engine” (Inggris), “maschine” (Jerman), dan “mesin” (Indone-sia), yang kemudian menyebar ke Amerika Utara, lalun Jepang, akhirnya menyebar ke seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali Tanah-Air.

Setelah lebih dari dua abad berlangsung, umat kemudian sadar, bahwa PPG (TMC) yang di-perkenalkan revolusi industri diawali dari Eropa silam, menjadi “penyebab utama” timbulnya pencemaran lingkungan hidup umat di muka bumi, mulai: atmosfer, badan-air, hingga daratan. Para ahli ilmu pengetahuan dari berbagai penjuru dunia dari Barat hingga dengan Timur, kini mengevaluasi keadaan, dan berusaha dengan bersungguh-sungguh mencari jalan keluar untuk mengatasi dampak negatif yang telah ditimbulkan pencemaran, sebagaimana yang telah diperi-ngatkan “Surat Ar-Rum, ayat 41”.

Menanggulangi Pencemaran Atmosfer
Untuk menghindarkan udara yang mengisi atmosfer bumi tercemar dari limbah-gas dihambur-kan beragam kendaraan dijalankan mesin, bermacam industri digerakkan mesin, dan lain seba-gainya yang membakar bahan-bakar fossil, yakni: BBP, BBC, dan BBG yang meresahkan umat bermukim di perkotaan, bahkan telah dikeluhkan orang sejak dari awal revolusi industri lebih dua abad silam, John Bockris dari Pusat Teknik General Motor, Amerika Serikat, memperke-nalkan penggunaan Bahan Bakar Hidrogen (BBH) tahun 1970, unsur kimia paling banyak terdapat di muka bumi, sebagai bahan-bakar angkutan umum, sehingga gas buang dikeluarkan dihamburkan ke atmosfer bumi hanyalah uap-air. Dengan demikian pencemaran atmosfer yang disebabkan sebagian aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan, yang telah diperkenalkan sejak awal revolusi industri di Eropa silam, akan dengan sendirinya hilang. Sebagai pelopor anti pencemaran atmosfer bumi memanfaatkan BBH, muncul sejumlah negara Nordik, juga berasal dari luar kawasan Timur Tengah. Pemimpin negara Islandia terinspirasi oleh gagasan John Bockris dari Amerika Serikat, dan menjadikan bangsanya yang pertama di muka bumi memproklamirkan “hydrogen-powered economy” (ekonomi berdaya-hidrogen). Untuk memproduksi (BBH) yang diperlukan bangsanya, tetangga Kutub Utara itu mengandalkan listrik yang dihasilkan Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) banyak terdapat dinegeri itu, untuk mengurai “air” menjadi: hidrogen dan oksigen. Bis angkutan umum bertenaga hidrogen pun segera diujicoba di jalan-raya ibukota Reykjavik, disusul mobil listrik bersumber tenaga listrik sel bahan-bakar.

Negara luar kawasan Timur Tengah lain, yang juga sedang berkemas menyambut “hydrogen-powered economy”, ialah Swedia. Berlainan dengan Islandia yang mengandalkan tenaga panas bumi, Swedia memanfaatkan tenaga listrik diperoduksi peladangan panel surya. Bagian Barat negeri telah pula dijadikan tempat mengembangkan wilayah ramah-lingkungan, terutama daerah pelabuhan dan tempat industri kendaraan bermotor SAAB yang akan memanfaatkan BBH untuk bahan-bakar.

Negara Nordik lain yang tidak ingin ketinggalan, ialah Denmark. Walikota Nakskov dari pulau Lolland telah membuat kerjasama dengan pengembang sel bahan-bakar negeri bernama IRD, dan mengembangkan pula proyek dan organisasi: “Baltic Sea Solution”. Yang disebut akhir ini tidak lain masyarakat Denmark sendiri yang akan melahirkan kelompok warga yang akan menjadi komunitas penguji kelajakan penggunaan teknologi sel bahan-bakar yang sedang dikembangkan termasuk menyediakan beragam fasilitas pendukung diperlukan.
Bagaimana dengan Indonesia, sebuah negara Asia Tenggara yang juga terletak di luar kawasan Timur Tengah. Di negeri dengan Sumber Daya Alam (SDA) panas bumi yang melimpah, bahkan yang langsung dari gunung-api masih aktif banyak jumlahnya, begitu pula peladangan panel surya dengan lahan luas yang ada di khatulistiwa, dengan sendirinya tidak boleh ketinggalan dari segelintir negeri Nordik disebutkan. Walau tidak lagi akan menjadi pelopor, namun Indonesia dengan Sumber Daya Manusia (SDM) jumlah besar lagi berpendidikan, kesempatan menjadi “motor” hydrogen-powered ekonomi kawasan Asia Tenggara berdampak global sangat besar, akan tetapi negara besar berlahan luas ini memilih langkah lain. Meski sejak 30 Desember 1949 Indonesia telah menjadi negara merdeka yang diakui dunia (PBB) bernama: Republik Indonesia Serikat (RIS), sejak awal pimpinan negara ini memilih berpetualang dengan “Demokrasi Terpim-pin”, mengindoktrinasi rakyat dengan TUBAPI, menggunting dan mendevaluasi ganda Rupiah yang meluluhlantakkan perkonomian bangsa; kemudian disusul lagi dengan “Demokrasi Panca-sila”, mengindoktrinasi rakyat dengan BP7, dan terjangkit krismon Thailand yang berakibat Rupiah terpelanting tahun 1997 dan mengacaukan perekonomian bangsa berkepanjangan; sebe-lum reformasi tahun 1998 muncul menyelamatkan. Sebagai akibat dari kedua petualangan yang menghabiskan waktu lebih setengah abad, Indonesia tampil tertinggal dari Korea Selatan yang hancur dalam perang semenanjung negeri itu, baru damai pada tanggal 27 July 1953; juga sejumlah negara tetangga, seperti: Malaysia merdeka 1957, Singapura merdeka 1965, Brunai Da-russalam merdeka 1984, dalam beragam bidang kehidupan, kesejahteraan rakyat, tidak terkecuali hak azasi manusia.

Sejarah Pendidikan
Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya, agama Islam masuk ke Nusantara dibawa para mubaligh dan kaum pedagang. Mereka kemudian mendirikan mesjid dan surau untuk tem-pat beribadah sekaligus pusat pengajaran kepercayaan yang baru. Kemudian muncul madrasah, yang kini bernama: Pondok Pesantren, disingkat Ponpes. Adapun matapelajaran diberikan dalam madrasah-madrasah di Asia Tenggara dan Tanah-Air, ialah tentang agama Islam, bermuatan: keimanan, hukum, nilai, dan lainnya sebagainya sebagaimana tercantum dalam kitab suci Al-Quran dan Hadis menggunakan bahasa daerah dengan “aksara Arab”. Lahir kemudian bahasa daerah menggunakan aksara Arab di Asia Tenggara.

Memasuki abad ke-20, kaum kolonialis: Inggris, Perancis, dan Belanda yang mempunyai tanah jajahan di Asia Tenggara, memperkenalkan pula program baru dalam koloni masing-masing. Itulah sebabnya mengapa negara-negara ini lalu memperkenalkan pendidikan Barat untuk men-dukung program yang mereka persiapkan. Di Nusantara, Belanda mendirikan “sekolah gouver-nement” yang berubah menjadi “sekolah melayu”. Sekolah ini dirancang untuk mencetak SDM asal anak negeri yang akan dijadikan: pamong, guru, kerani (pegawai administrasi), dan lain sebagainya. Adapun matapelajaran diberikan di sekolak-sekolah melayu ketika itu, ialah: me-nulis, membaca, berhitung, tidak terkecuali pengetahuan umum. Bahasa pengantar digunakan ialah: “bahasa melayu” dan bahasa daerah, namun aksara yang digunakan “tulisan Latin” pilihan Belanda. Lahir dengan demikian bahasa melayu aksara Latin, dan bahasa daerah dengan tulisan yang sama.

Kemudian Belanda mengembangkan lebih jauh pendidikan Barat yang diperkenalkannya sampai jenjang pendidikan tinggi dan Universitas sebagaimana berkembang di benua Eropa, sebaliknya pendidikan madrasah berlangsung sebagaimana yang berjalan di Timur Tengah. Meski pendidi-kan Barat yang diperkenalkan Belanda di Tanah-Air silam telah menjadi: Sekolah Rakyat (SR), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Universitas memasuki alam kemerdekaan, dalam mengembangkan pendidikan nasional di Tanah-Air; demikian juga pedidikan Ponpes madrasah dengan menambahkan matapelajaran tentang: ideologi negara, ma-nagemen, keterampilan, teknologi, dan lainnya kedalam kurikulum; akan tetapi kedua sistim pendidikan lahir dari perjalanan sejarah yang berbeda itu masih memperlihatkan padangan hidup para wisudawan yang belum seiring. Dualisme masih tampak dan terasa dalam pemahaman ma-syarakat, dengan menyeruaknya dalam kehidupan umat pemahaman “ahli zikir” dengan “kaum intelektual” yang tetap berseberangan.

Dinamika Sumber Tenaga Gerak
Alam semesta adalah sebuah sistim mekanik yang terbesar. Itulah sebabnya mengapa makhluk yang berdiam di permukaan benda langit, tidak terkecuali bumi, menjadi bagian dari sistim mekanik benda langit itu. Setiap benda, baik yang hidup maupun mati, memerlukan tenaga untuk bergerak. Manusia, hewan, dan tumbuhan juga memanfaatkan “panas” hasil pembakaran “karbo-hidrat” dihasilkan dalam tubuh dengan “oksigen” didatangkan dari atmosfer, dikerjakan serang-kaian otot untuk begerak. Terdapat beragam STG (SoME) yang telah berhasil dikembangkan manusia berdiam di muka bumi, masing-masing:
A. Panas Reaksi Kimia
Apa yang diperkenalkan revolusi industri di Eropa silam, ialah STG (SoME) mengubah “panas” (heat) hasil pembakaran bahan-bakar fossil menjadi “gerak”, dikenal dengan singkatan: PPG (TMC), pertama kali digunakan manusia di muka bumi diperkenalkan oleh James Watt (1736-1819) dari Inggris, berwujud “kemasan xy”, diman: x = periuk/bejana tempat bertanak air untuk menghasilkan uap-bertekanan atau uap yang mempunyai “tenaga potensial”, memanfaatkan panas hasil pembakaran bahan-bakar padat, dan y = pasangan silinder-pengisap berikut lengan dan poros-engkol untuk mengubah tenaga potensial uap menjadi gerakan putar. Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) dari Belgia, selanjutnya memperkenalkan STG “kemasan y” dengan pemantik. Mengapa kemasan y dapat bekerja, karena gas bertekanan yang mendorong pengisap kebawah, dapat dihasilkan dalam sekejap dengan “pemantik” yang membuat campuran uap-bensin dengan udara berada dalam silinder mesin meletus dan membebaskan “panas”. Peman-tikan kemudian disempurnakan oleh Otto mem-perkenalkan “listrik”, melahirkan kemasan y ber- pemantik listrik (electric ignition). Rudolf Diesel juga dari Jerman kemudian memperkenalkan pula STG kemasan y “berpemantik kempa” (compression ignition) memanfaatkan bahan-bakar cair yang di Indonesia dinamakan orang solar (diesel fuel).

B. STG Hasil Reaksi Kimia
Kemasan xy yang diperkenalkan James Watt (1736-1819), lalu berkembang, dengan menukar pasangan silinder pengisap berikut lengan dan poros engkol, dengan sebuah turbin-uap memutar generator. Lahir dengan demikian Pusat listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan-bakar fossil (BBP, BBC, BBG). PLTU kini banyak dimanfaatkan untuk membangkitkan tenaga listrik yang dibutuhkan banyak negara, mulai yang maju hingga dengan yang masih berkembang di muka bumi ini untuk menggairahkan perekonomian beragam bangsa.
Kemasan y diperkenalkan oleh Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) juga ikut berkembang, dengan menukar pasangan silinder pengisap berikut lengan dan poros-engkol dengan sebuah turbin-gas yang juga memutar generator. Lahir Pusat listrik Tenaga Gas (PLTG) dilanjutkan Pusat Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) demi meningkatkan daya-guna. Keduanya membakar bahan-bakar asal gas alam (natural gas) menyediakan tenaga listrik yang diperlukan perekono-mian beragam bangsa di bumi. PLTG dan PLTGU dapat memasok tenaga listrik jauh lebih cepat ketimbang PLTU dalam meningkatkan produksi tenaga listrik suatu negara. Kemasan y dengan turbin-gas, juga ternyata dapat mengembangkan mesin pesawat-terbang yang dikenal dengan istilah: turbo-prop, torbo-jet, dan turbo-fan, penghasil “gaya tarik”, “gaya dorong”, atau keduanya besar dalam satuan metric-ton, yang diperlukan angkutan udara untuk penumpang dan barang lintas benua. Mesin-mesin: turbo-prop, torbo-jet, dan turbo-fan dalam waktu singkat lalu menjelma menjadi tulang punggung transportasi udara dalam negeri dan internasional beragam Negara di muka bumi.

C. STG Elemen Kimia
Selain “panas” yang diubah menjadi gerak, dilakukan Pengubah Panas Gerak (PPG) atau Thermo Mechanic Conversion (TMC), yang diperkenalkan revolusi industri berangkat dari ilmu alam (fisika), “listrik” juga dapat diubah menjadi gerak berangkat dari disiplin ilmu yang sama, dikenal dengan Pengubah Listrik Gerak (PLG) atau Electro Mechanical Conversion (EMC). Dengan demikian dengan sebuah elemen kimia juga boleh dikembangkan kemasan xy PLG (EMC), dimana: x = elemen kimia yang menghasilkan tenaga listrik, dan y = mesin listrik yang mengubah listrik menjadi gerakan putar.

D. STG Sel Bahan-Bakar
STG elemen kimia yang sedang mengemuka, ialah gagasan John Bockris muncul di Pusat Teknik General Motor Amerika Serikat pada tahun 1970 silam. Dari kemasan xy PLG (EMC), disini: x = Sel Bahan-Bakar (SBB) yang menghasilkan tenaga listrik mengalirkan BBH kedalamnya dan tidak melaksanakan pembakaran samasekali, dan y = mesin listrik yang mengubah listrik menjadi tenaga gerakan putar.

E. Panas Reaksi Nuklir
Albert Einstein dari Amerika Serikat, pada tanggal 26 September 1905, mengumumkan kepada dunia apa yang disebut dengan “theori relativitas” bersama formula: E = mc² yang amat tersohor. Apa sesungguhnya yang ia ingin sampaikan kepada semua orang di muka bumi ketika itu, ialah: “benda” (materi) dan “tenaga” (energy) dapat dipertukarkan, sehingga “tenaga” dapat dihasilkan dengan menghilangkan benda dari Alam Semesta, dan begitu pula sebaliknya. Dengan theori relativitasnya, Einstein juga ingin menyampaikan kepada umat di dunia, bahwa terdapat tenaga (energy) yang begitu melimpah di Alam Semesta, wabilkhusus di muka bumi, sehingga orang tidak perlu cemas kekurangan. Yang menjadi persoalan pada ketika itu ialah bagaimana menge-tahuinya? Dan untuk yang akhir ini, harus dibuktikan dengan percobaan. Maka pada tanggal 16 Agustus 1945, sebuah “bom-atom” pertama dicoba “Proyek Manhattan” bekerjasama dengan Angkatan Darat Amerika Serikat di White Sands Pro-ving Ground, Jonada del Muerto, 56 km Tenggara Socorro, Padang Pasir New Mexico, dan berhasil.
Lalu pada tahun 1952, sebuah “bom-hidrogen” pertama juga dicoba di Bikini Atoll dalam gugusan Kepulauan Marshall yang terdiri dari 23 pulau kawasan Pacifik; juga berhasil. Kedua bom ini menghasilkan “panas” bukan dari “reaksi kimia” (chemical reaction) hasil pembakaran bahan-bakar fossil sebagaimana yang sudah dikenal orang sejak awal revolusi industri di Eropa silam, akan tetapi dari apa yang kemudian dinamakan: “reaksi nuklir” (nuclear reaction), juga disebut: “reaksi inti”.

Kini orang sudah mengetahui dua sumber panas (heat), dari reaksi inti, masing-masing: “reaksi belah inti” (nuclear fission reaction) juga dinamakan “reaksi nuklir fisi”, karena “inti atom berat” seperti uranium memang dibelah oleh benturan neutron menjadi “atom-atom ringan” menye-babkan “bom-atom” meletus; dan “reaksi gabung inti” (nuclear fusion reaction) juga dinamakan “reaksi nuklir fusi”, karena inti-inti isotop hidrogen ringan memang digabung oleh temperatur re-aksi yang sangat tinggi, mendekati suhu di pusat matahari, menyebabkan “bom-hidrogen” me-letus. Perlu diketahui, bahwa pada reaksi belah inti akan timbul sinar-sinar radioaktif berbahaya: alpha, beta, dan gamma berkepanjangan; sedangkan pada “reaksi gabung inti” tidak timbul sinar-sinar radioaktif samasekali. Sebagai akibat dari terbelah-nya inti atom berat, begitu juga terga-bungannya isotope inti-inti atom ringan; sebagian “massa” atom-atom yang terlibat akan lenyap atau hilang dari Alam Semesta, lalu berubah menjadi “panas” (kalor) sebagaimana yang disam-paikan dalam persamaan Einstein.

Theori relativitas Albert Einstein, membuat semua orang di muka bumi kini mengenal dua macam sumber “panas” (heat), masing-masing: “panas” dari hasil pembakaran atau reaksi kimia, seperti: membakar kertas, kayu, bahan-bakar fossil, sampah, dan lain sebagainya, dan “panas” hasil reaksi nuklir. Adapun yang dimaksud dengan reaksi nuklir, seperti: pembelahan inti atom berat, seperti uranium yang ditembaki neutron dinamakan juga reaksi fisi; atau penggabungan inti-inti isotop atom ringan, seperti: isotop hidrogen dinamakan reaksi fusi. Kedua reaksi nuklir ini menyebabkan sebagian “massa atom” terlibat dalam sekejap lenyap atau hilang dari Alam Semesta, lalu tiba-tiba digantikan “panas” menurut persamaan Einstein.

Panas yang dibebaskan reaksi nuklir belah atau fisi, pasca Perang Dunia Ke-II, menimbulkan Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fisi (PLTN-Fi). Dari kemasan xy, panas belah nuklir-gerak (thermo nuclear fission-mekanik), disini: x = Reaktor Air Tekan (RAT) atau Pressure Water Reactor (PWR), bertindak sebagai periuk untuk menanak air yang menghasilkan uap-bertekanan asal re-aksi fisi, dan y = pasangan turbin generator yang menghasilkan tenaga listrik; disusul Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fusi (PLTN-Fu) kemasan xy panas gabung nuklir-gerak (thermo nuclear fusion-mekanik), disini: x = sebuah bejana yang dinamakan TOKAMAK bertindak sebagai periuk tempat bertanak air yang menghasilkan uap-bertekanan dari reaksi fusi, dan y = pasangan turbin generator yang menghasilkan tenaga listrik, kini sedang dikerjakan sejumlah negara maju di Cadarache, Perancis Selatan.

Kepadatan tenaga panas yang dibebaskan sebuah “reaksi nuklir” jauh lebih besar dari kepadatan tenaga panas sebuah “reaksi kimia”. Kepadatan tenaga sesuatu ragam bahan bakar per satuan massa dinamakan “tenaga jenis” bahan bakar yang dibicarakan. Sebagai contoh: uranium (pem-biak) memiliki tenaga jenis setara 1,539,842,000 MJ/L, akan tetapi bensin (gasoline) hanya me-nyimpan tenaga jenis hanya 32.4 MJ/L. Itulah pula alasannya mengapa reaksi nuklir, baik peme-cahan maupun penggabungan, jauh sangat perkasa ketimbang reaksi kimia yang telah dikenal selama ini, dan hal ini pun sudah ditunjukkan oleh bom atom dan bom hidrogen yang amat menakutkan umat darii seluruh dunia.

F. Reaksi Nuklir Gabung Dingin
Dari sejumlah percobaan yang dilangsungkan Stanley Pons dan Martin Fleischmann pada tahun 1989, sekelompok komnitas kecil peneliti mendalami lebih jauh apa yang dinamakan: reaksi gabung dingin (cold fusion reaction), dan kini lebih menyukai menggunakan istilah: Reaksi- reaksi Nuklir Tenaga-Rendah, disingkat RNTR. ( Low-Energy Nuclear Rreactions, disingkat LE-NR) yang dapat menyediakan air panas, bahkan uap bertekanan dalam bejana dapat digunakan menggerakkan turbin untuk memutar generator listrik. Dari kemasan xy, dalam hal ini: x = RNTR yang menghasilkan uap bertekanan, dan y = turbin uap yang menggerakkan generator pembangkit tenaga listrik, layaknya sebuah PLTU.

Umat di muka bumi lalu bermimpi menantikan ditemukan Elemen Reaksi Gabung Dingin disingkat ERGD (Cold Fusion Reaction Element, disingkat CFRE), sebentuk Batere Umur Pan-jang (BUP), yang dapat dibeli orang suatu ketika bersama: sepeda motor, mobil, dan lain seje-nisnya, termasuk BUP yang listriknya akan habis bersamaan dengan lama pakai ekonomis ken-daraan, misalnya: 5 atau 10 tahun, lalu ERGD bersama kendaraan di daur ulang lagi.

G. Tanaga Terbarukan
a. Peladangan Sinar Matahari
Kemasan xy lain, yang berkembang pesat di berbagai negara guna meringankan pencemaran atmosfer bumi yang telah timbul, orang memperkenalkan apa yang kemudian dinamakan dengan istilah “tenaga terbarukan” (renewable energy). Adapun contoh tenaga yang kian digandrungi umat dari beragam belahan bumi, ialah memanen sinar matahari langsung yang diubah menjadi listrik menggunakan pengubah fotovoltaik (photovoltaic converter). Dari kemasan xy, disini: x = sinar matahari, dan y = pengubah fotovoltaik. Lahirlah “peladangan sinar matahari” yang mengu-bah “cahaya matahari” langsung menjadi “listrik” diawali dari Eropa, lalu menyebar ke Amerika Utara, dan Asia; diawali dari daratan hingga lepas pantai, pada kawasan muka bumi dimana terdapat banyak hari dengan matahari yang bersinar terang sepanjang tahun. Sebuah peladangan sinar matahari dapat dimulai dari sejumlah papan (panel) surya hingga ribuan bahkan lebih banyak lagi papan, melahirkan apa yang kemudian dinamakan: Pusat Listrik Tenaga Sinar Matahari (PLTSM).

Suatu keluarga yang melakukan peladangan sinar matahari seputar kediaman, mulai atap sampai halaman rumah, dapat memenuhi kebutuhan listrik sendiri. Tampaknya keluarga demikian masih memerlukan sambungan listrik PLN kebutuhan malam hari apabila matahari terbenam, manakala keluarga tadi belum memiliki instalasi batere yang menyimpan tenaga listrik. Apabila keluarga dibicarakan menghasilkan listrik lebih dari keperluan, sisanya dapat dijual langsung ke PLN, sehingga rekening listrik keluarga untuk pemakaian malam hari dapat menja-di jauh lebih murah.

b. Peladangan Angin
Tenaga terbarukan lain mudah diketahui keberadaannya ialah angin. Dari kemasan xy, disini: x = aliran molekul udara, karena permukaan bumi mendapat pemanasan matahari, dan y = baling-baling udara mengubah gerakan molekul udara (tenaga kinetik) menjadi gerakan putar baling-baling udara yang menggerakkan generator listrik. Aliran udara yang berubah menjadi poros berputar memanfaatkan hukum aerodinamika yang dikenal luas. Dengan demikian muncul pula peladangan “tenaga angin” diawali dari Eropa, lalu menyebar ke Amerika Utara, dan Asia, mulai daratan hingga dengan lepas pantai, dimana terdapat banyak hari angin berhembus sepanjang tahun. Peladangan angin dilakukan dengan membangun menara tinggi, di puncak mana baling-baling udara ber daun: dua, tiga, dan seterusnya diletakkan, dan dapat berputar untuk meng-gerakkan sebuah generator listrik. Suatu perkebunan tenaga angin dapat memuat puluhan, ratusan, bahkan ribuan menara tinggi dengan baling-baling udara diuncaknya menggerakkan generator listrik yang terhimpun dalam kerja paralel; dinamakan: Pusat Listrik Tenaga Angin (PLTAn).

c. Peladangan Panas Matahari
Tenaga terbarukan lain yang juga telah digunakan di Spanyol bernama: Solaben 200 MW, tidak lain dari panas matahari yang tiba di muka bumi. Kini sebuah proyek Desertec tengah digagas membangkitkan daya: 100.000 MW tengah dirancang di: Moroko, Yordania, Tunisia, Mesir, dan Aljazair untuk dikirim ke Eropa yang lapar daya lewat tegangan tinggi juga memanfaatkan panas matahari panas matahari tiba di muka bumi. Apa yang sesungguhnya dikerjakan orang disini tidak lain mewujudkan sebuah PLTU, hanya “panas” yang dimanfaatkan langsung datang dari matahari tiba di muka bumi dalam delapan menit. Dari kemasan xy, disini: x = ialah periuk (boiler) tempat bertanak air menghasilkan uap bertekanan terdapat di tengah-tengah PLTU dan dikelilingi ribuan cermin, dan y = turbin uap bekerja mengubah tenaga potensial uap menjadi gerakan putar turbin-uap yang memutar generator listrik. Setiap saat, sejak matahari terbit di ufuk Timur hingga tenggelam di bagian Barat, ribuan cermin terpasang harus diatur kedudukan-nya satu persatu sebegitu rupa, sehingga panas matahari dipantulkannya selalu tetuju ke periuk (boiler) berada di suatu ketinggian. Sebagai akibatnya, suhu periuk (boiler) menjadi sangat panas menyebabkan air didalamnya langsung mendidih menghasilkan uap bertekanan yang dibutuhkan menggerakkan turbin-uap. Yang akhir ini lalu menjalankan generator listrik. Lahir dengan demi-kian Pusat Listrik Tenaga Panas Matahari (PLTPM).

d. Peladangan Panas Bumi
Panas bumi dekat dari permukaan, sebagaimana yang dijumpai di daerah pegunungan juga seputar gunung berapi masih aktif atau lainnya, juga tergolong tenaga yang terbarukan. Apa yang dilakukan orang disini juga membuat sebuah PLTU, hanya saja “panas” digunakan datang dari dalam perut bumi peroleh langsung atau tidak-langsung. Dari kemasan x-y, disini: x = periuk (boiler) tempat bertanak air menghasilkan uap-bertekanan, dalam hal ini “panas” didatangkan dari dalam perut bumi dengan cara mengebor sampai ke sumber panas. Ada kalanya uap-berteka-nan tidak segera keluar dari dalam perut bumi setelah pengeboran sampai ke sumber panas, maka dalam keadaan demikian air-bersih harus disuntikkan ke sumber panas untuk memperoleh uap bertekanan, dan y = turbin uap untuk mengubah tenaga potensial uap menjadi gerakan putar turbin-uap yang memutar generator listrik. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB).

e. Tenaga Air
Tenaga terbarukan yang telah banyak digunakan orang di beragam belahan bumi sejak dari dahulu kala ialah tenaga air. Tenaga air bersumber dari matahari memanasi permukaan bumi, menyebabkan air yang ada dipermukaan menguap lalu naik ke awan. Yang akhir ini lalu dibawa angin ke segala penjuru, dan setelah dingin kembali menjadi air yang jatuh kembali ke bumi sebagai hujan. Terdapat dua golongan tenaga air yang diperoleh dari hujan, masing-masing: “tenaga potensial” karena air terhimpun ke dalam: kolam, waduk, danau, waduk, sungai, dan lainnya terletak pada suatu ketinggian diatas permukaan laut, dan aliran air deras dari beragam jeram sungai yang menyimpan “tenaga kinetik. Tenaga air golongan pertama tergantung dari hasilkali: Q.l, dimana: Q menyatakan aliran (debit) air dalam m3/det, sedangkan l (m) adalah ketinggian jatuh air; sementara untuk yang kedua, yakni air deras juga tergantung juga dari Q (m3/det), dan kecepatan air mengalir dalam v (m/det). Terhadap golongan pertama, untuk kema-san xy, disini: x = aliran air (Q) dengan tinggi jatuh l (m), sedangkan y = baling-baling atau tur-bin air digunakan mengubah tenaga potensial air menjadi putaran poros turbin-air yang menggerakkan generator listrik menerapkan hidrodinamika. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA).

Tergantung hasil kali Ql diperoleh, PLTA dibedakan kedalam: daya amat besar, daya besar, daya menengah, daya sedang, daya kecil, dan daya sangat kecil. Dan yang akhir ini dikenal de-ngan istilah PLTA-mikro, dan dikenal di Tanah-air dengan istilah: “mikro-hidro”. Untuk golo-ngan kedua, terhadap kemasan xy, disini: x = aliran air (Q) dengan kecepatan aliran air v (m/det), dan y = baling-baling yang digunakan mengubah tenaga kinetik air menjadi putaran turbin-air yang menggerakkan generator listrik memanfaatkan hidrodinamika, dinamakan PLTAir Deras, disingkat (PLTAD).

f. Tenaga Gelombang
Angin yang berhembus berkesinambungan di muka laut atau samudra akan melahirkan gelom-bang air berjalan yang akhirnya menghempas di pantai. Gulungan gelombang air laut bergerak menuju pantai ini tergolong kedalam tenaga terbarukan. Banyak negara khususnya yang sudah maju telah memanfaatkan gelombang air laut guna menghasilkan listrik yang diperlukan mercu suar, juga kelompok masyarakat terpencil berdiam di tepi pantai, dan lainnya. Dari kemasan xy, disini: x = gelombang air laut bergerak, dan y = pengubah tenaga gelombang air menjadi gerak menerapkan aerodinamik, atau hidrodinamika, atau gabungan keduanya. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Gelombang Air Laut (PLTGAL).

g. Tenaga Arus Bawah Laut
Arus-arus air laut hingga samudra terdapat di dasar laut sampai samudra juga termasuk tenaga terbarukan yang dapat diubah menjadi listrik. Sumber tenaga terbarukan ini telah pula dilirik berbagai negara maju guna diubah menjadi listrik demi menurunkan pencemaran atmosfer bumi. Dari kemasan xy, disini: x = arus bawah laut hingga samudra muncul oleeh perbedaan suhu air di permukaan laut dengan suhu air laut pada kedalaman tertentu, dan y = baling-baling air untuk mengubah gerakan molekul air (tenaga kinetik) menjadi gerakan putar baling-baling air yang memutar generator listrik menerapkan hidrodinamika. Dengan demikian, penambangan tenaga arus air-laut dalam berkembang, lalu menyebar ke segala penjuru dunia dimana terdapat sumber-sumber arus bawah laut hingga samudra yang dapat ditambang. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Arus Bawah Laut Dalam (PLTABLD).

h. Tenaga Suhu Air Laut
Perbedaan suhu air laut dan samudra di permukaan dengan suhu air laut hingga samudra yang ada di suatu kedalaman, kini telah dimanfaatkan untuk membangkitkan tenaga listrik. Cara pe-ngubahan diterapkan sebagaimana juga di PLTU, karena perbedaan suhu air laut samasekali ti-dak memerlukan penggunaan bahan-bakar, sehingga juga digolongkan pada tenaga yang terbaru-kan. Dari kemasan xy, disini: x = perbedaan suhu air laut, dan y = turbin-uap yang digunakan mengubah uap bertekanan menjadi gerakan putar turbin menjalankan generator listrik. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Suhu Air Laut (PLTSAL).

i. Tenaga Kilat
Kilat yang sambar-menyambar di angkasa, tidak diragukan lagi listrik bertenaga besar karena tegangannya amat tinggi: “jutaan volt” dan arus mengalir yang juga besar: “ribuan Ampere”, karena yang akhir ini dapat menghanguskan pohon kayu besar jadi arang. Perlu diketahui “kilat” ialah juga “petir”, hanya saja bedanya: yang pertama apa yang dilihat oleh mata, sedangkan yang kedua yang didengar oleh telinga. Dengan tegangan yang demikian tinggi, kilat dapat menyambar kemana-mana di angkasa, baik antara awan dengan awan saat muatan listrik keduanya berlawanana, maupun antara awan dengan bumi ketika muatan listrik keduanya berlawanan. Kilat yang sambar-menyambar antara awan dengan awan berbeda muatan di ang-kasa tidak dapat ditangkap, akan tetapi kilat dari awan yang menyambar bumi dapat ditangkap untuk dimanfaatkan untuk dipanen listriknya. Bermaca percobaan telah dilakukan di sejumlah negara maju, tidak terkecuali Indonesia, memancing kilat meluncurkan roket berekor logam menuju awan yang bermuatan untuk memperoleh listriknya. Listrik kilat dapat digunakan untuk mengurai air menjadi Hidrogen dan oksigen, juga untuk menyediakan air panas, da lain sebagainya. Penelitian dan pengujian terus berlangsung dimana-mana di muka bumi, akan tetapi belum lagi dapat diktahui bila sebuah Pusat Listrik Tenaga Kilat (PLTK) akan diwujudkan.

Kesimpulan
Dari apa yang telah dikemukakan diatas tampak jelas, bahwa: “panas” diperoleh dari reaksi kimia, termasuk juga pengembangan sejak awal revolusi industri lebih dari dua abad silam, telah menjadi penyebab utama pencemaran atmosfer menyelimuti planit biru tempat manusia berdiam, ditimbulkan pembakaran bahan-bakar fossil: BBP, BBM, dan BBG digali dari dalam perut bumi. Pencemaran atmosfer diperparah pula oleh “daya-guna” (efisiensi) PPG (TMC) yang rendah, untuk MPD sekitar 25% sehingga sebagian besar (75%) panas hasil pembakaran bahan-bakar hanya terbuang percuma untuk memanasi udara sekitar. Manakala digunakan bahan-bakar nabati (biofuel) atau biomasa (biomass), pencemaran unsur belerang atau sejenisnya memang akan hilang, akan tetapi efisiensi yang diraih tetap sama saja. Tampaknya, STG menggunakan panas hasil reaksi kimia atau pembakaran bahan-bakar fossil perlu dihilangkan dari muka bumi kedepan, guuna menghindarkan pencemaran atmosfer yang tidak lagi diinginkan timbul di muka bumi.

Dilain fihak, listrik diperoleh dari elemen kimia perlu mendapat perhatian. Pengubah Listrik Gerak (PLG) atau Electro Mechanic Conversion (EMC), mmberi banyak pilihan lagi beragam, dan tidak menimbulkan pencemar yang mengotori atmosfer bumi samasekali. Demikian pula tenaga listrik diperoleh dari sel bahan-bakar memanfaatkan bahan-bakar hidrogen. Untuk mem-peroleh tenaga gerak, sebuah mesin listrik perlu bekerjasama dengan elemen kimia agar gerakan putar diperoleh. Perlu dicatat, mesin listrik mempunyai efisiensi tinggi dalam mengubah listrik menjadi tenaga gerak, sekitar 85%, lebih dari “tiga kali” efisiensi MPD. Dengan demikian tidak diperlukan lagi menggali bahan-bakar fossil menuju perut bumi ribuan meter dalamnya, karena elektrolit mudah didapat dari di permukaan bumi kedalaman kurang dari 100 m.

Dalam menuntun umat hijrah dari STG memanfaatkan bahan-bakar fossil ke STG listrik menggunakan elemen kimia di Asia Tenggara dan bagian dunia lain, dapat diaali dari desa lewat penyuluhan. Kaum remaja mulai dari mesjid hingga dengan kepercayaan lain di bimbingan para penyuluh dari mesjid dan kepercayaan lainnya, menemukan cairan elektrolit dibutuhkan berikut pasangan elektroda yang dibutuhkan. Untuk elektrolit dapat digunakan cairan beragam tanaman yang tumbuh di seputar kampung diperas dari aneka ragam: buah, daun, dan batang; demikian juga yang didapat dari berjenis hewan dan manusia. Para penyuluh menjelaskan kepada para remaja apa yang dimaksud: tegangan listrik dalam volt (V) yang dibangkitkan dua logam berlainan jenis yang dicelupkan kedalam cairan elektrolit, juga menerangkan: arus listrik dalam ampere (A) mengalir melalui bola lampu yang sedang menyala. Tegangan dan arus ini merupa-kan dua besaran listrik yang menentukan daya listrik dalam watt(W) yang dihasilkan oleh se-buah elemen kimia.

Apa yang perlu dikerjakan kaum remaja masjid dan kepercayaan lainnya ini ialah usaha awal untuk mencari cairan elektrolit beserta pasangan logam yang membangkitkan tegangan listrik paling besar. Yang akhir ini menjadi kunci daya dihasilkan yang lebih besar, sedangkan arus mengalir tergantung dari daya lampu diunakan. Untuk yang pertama kaum remaja dapat meng-gabungkan sejumlah elemen kimia kedalam hubungan seri, agar lampu yang terpasang menyala lebih terang. Dengan modal elektrolit dari kampung sendiri, pasangan logam dan bola lampu listrik didapat dari kota, para remaja desa dapat mengganti lampu minyak-tanah, begitu juga lampu minyak-kelapa menghitamkan hidung di pagi hari, dengan lampu listrik elemen kimia yang bersih. Kelak, kaum remaja yang telah terbentuk rasa ingin tahu mereka, dengan tujuan mengurangi pencemaran atmosfer bumi, akan berkembang menjadi para pengembang elemen-elemen kimia maju berdaya besar yang ramah lingkungan untuk menyelamatkan atmosfer bumi dari pencemaran pembakaran bahan bakar fossil.

Panas hasil reaksi nuklir yang diubah menjadi listrik semakin banyak digunakan perekonomian berbagai negara maju guna memenuhi keperluan:: industri, transportasi, pemukiman, dan banyak lagi lainnya, kendati masih dibayangi bahan radioaktif berbahaya yang bocor dari Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fisi (PLTNFi) menuju lingkungan hidup. Di fihak lain usaha mengembangkan Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fusi (PLTNFu) yang tidak menimbulkan bahan radioaktif berbahaya, dibangun bersama oleh sejumlah negara. Banyak penelitian yang perlu dilakukan untuk menghindarkan dampak negatif yang timbul dari PLTNFi di muka bumi kedepan.

Tenaga listrik dibangkitkan “reaksi gabung dingin” (cold fusion reaction) merupakan harapan umat untuk membuat STG keperluan beragam kendaraan bermotor yang tidak mencemari atmos-fer bumi. Belum dapat diketahui berapa banyak penelitian, pengujian, dan evaluasi hasil yang harus dilakukan untuk menemukan pilihan yang dapat menurunkan tingkat pencemaran lingku-ngan hidup yang sudah timbul di muka bumi sejak awal revolusi industri silam, tidak terkecuali menghilangkan akibat buruk yang sudah ada. Kini terbentang dihadapan generasi muda umat A-sia Tenggara, demikian pula bagian dunia lain yang kian besar jumlahnya, tantangan menjadi “khalifah” sebenarnya di muka bumi untuk membentengi planit dari limbah gunung-api buatan manusia yang tidak mengenal berhenti meletus. Harus ditemukan dari SDA muka bumi, berikut keanekaragamannya, mulai: mineral, logam, dan lain sebagainya hingga elektrolit terbaik yang dibutuhkan untuk membuat elemen kimia membangkitkan tenaga listrik diubah menjadi gerak oleh mesin listrik, keperluan aneka ragam industri dan lainnya, tidak terkecuali menggerakkan sarana angkutan: darat, laut, udara, hingga dengan angkasa.

Terhadap tenaga terbarukan, dengan sendirinya dapat dipanen dimana saja di muka bumi dengan bebas, sejauh potensi yang ada dapat diusahakan secara ekonomis, karena sumber tenaga terba-rukan tidak membakar bahan-bakar apapun jenisnya, dan tidak pula mencemari lingkungan hidup di muka bumi bentuk apapun terhadap atmosfer yang mengitari planit biru ini.

Kembali Ke Rumah Ilahi
Setelah lebih dari dua abad berlangsung, revolusi industri lalu menimbulkan perubahan iklim nyata di permukaan bumi, oleh aliran benda (materi) dari dalam perut bumi yang menuju ke permukaan berlangsung tanpa henti menelusuri waktu sampai dengan hari ini; jumlahnya meningkat terus dan ragamnya bertambah. Umat manusia menjadi sadar, bahwa aliran benda (materi) ini tidak hanya membuat pencemaran terhadap lingkungan hidup yang makin parah, juga memberi dampak buruk terhadap ekosistem permukaan bumi, kini juga mengganggu kesehatan umat di berbagai kawasan di permukaan planit ini. Itulah sebabnya, mengapa “langkah nyata” harus diambil untuk mengatasinya dengan menghilangkan pengaruh pencemaran sama-sekali. Keadaan lingkungan hidup yang ingin diraih di muka bumi, ialah sebelum revolusi industri dimulai di Eropa silam, bahkan keadaan yang lebih baik dari itu.

Rumah Ilahi bagi umat Islam, begitu juga dari kepercayaan lain yang ada di muka bumi yang telah dipilihNya, diasuh para rohaniawan dan rohaniawati yang telah mendapat petunjukNya, sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, merupakan garis depan, dimana umat berhu-bungan langsung dengan para wakilNya di muka bumi. Untuk mereka yang beragama Islam, ialah para Imam (Pengurus) Mesjid berikut jajarannya, sedangkan untuk kepercayaan lain para rohaniawan dan rohaniawati kepercayaan bersangkutan. Demikian awalnya gagasan berdirinya mesjid bagi umat Islam diperkenalkan oleh Nabi Muhamad SAW silam, juga dikehendakinya berlangsung sampai akhir zaman. Kini timbul pertanyaan, bagaimana “langkah nyata” itu harus dilakukan?

Dalam Surat ke-13 Ar-Rad (Guruh), Ayat 11, telah disampaikan:

13_11

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dimuka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah767. Sesungguhnya Allah tidak mengubah kea-daan suatu kaum, sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.768 Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekalikali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
767 Selain yang menjaga, ada juga malaikat yang mencatat, dan namanya Hafazhah
768 Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.

Sebuah Intermeso
Suatu malam di Jakarta, televisi Al-Jazeera dari Qatar menyiarkan laporan tentang operasi jan-tung berlangsung di sebuah Rumah Sakit India. Negara yang sebahagian besar warganya bera-gama Hindu lebih dari dua ribu tahun usianya, menimbulkan budaya dan adat-istiadat unik dan sangat menarik di bumi. Itulah sebabnya mengapa banyak wisatawan dari beragam negara berkunjung ke India untuk mengetahui dan menikmatinya; tidak terkecuali para “turis berobat” (medical tourism), untuk menjalani operasi jantung dari beragam bangsa. Menjelang operasi di-langsungkan, pasien dan keluarga disambut dahulu dengan acara keagamaan dipimpin seorang pendeta Hindu berikut para dokter yang melakukan operasi jantung termasuk para stafnya dan satuan perawat akan terlibat. Operasi jantung serius kemudian dilangsungkan memperagakan semua kecanggihan ilmu dan teknik kedokteran mutakhir tampak sederhana. Setelah beberapa lama operasi jantung selesai, pasien pun siuman. Ketika pertanyaan diajukan, bagaimana rumah sakit negeri Mahatma Gandi itu bisa terkenal di muka bumi dengan prestasi lebih dari 5000 operasi jantung per tahun, Dr Devi Shetti pemimpin rumah sakit jantung tersohor itu mengata-kan bahwa, ia terinspirasi oleh kata-kata Ibu Theresa, biarawati Katholik asal Hongaria yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya menolong orang-orang yang tidak mampu di India. Biarawati itu pernah berkata padanya pada suatu ketika, bahwa:”dibalik bibir-bibir yang fasih memanjatkan doa, harus terdapat tangan-tangan cekatan dengan jemari terampil yang menger-jakan”.

Apa Yang Harus Dilakukan?
Revolusi industri di Eropa lebih dari dua abad silam, tidak diragukan lagi bertujuan untuk mengganti sistim kemasyarakatan lama yang tidak lagi sesuai dengan keadaan ketika itu, dengan yang baru dan lebih baik. Sebuah revolusi apapun ragamnya akan tunduk kepada aturan umum yang mengatur, yakni: revoltare dan revolvere. Revoltare ialah bagian dari sebuah revolusi bertugas menumbangkan sistim kemasyarakatan lama yang tidak lagi sesuai dengan keadaan, sementara revolvere ialah sistim kemasyarakatan baru lebih baik dari sebelumnya untuk meng-gantikan. Keberhasilan suatu revolusi dalam perjalanan waktu ditentukan revolvere yang berhasil mengubah keadaan sebelum revoltare dimulai, karena manakala tidak kekacauan (khaos) akan timbul, dan mengorbankan mereka yang terlibat menggerakkannya.

Setelah revolusi industri berlangsung lebih dari dua abad di bumi, lingkungan hidup di planet ini masih dalam keadaan revotare. Ini dapat disaksikan dari pencemaran di muka bumi yang sema-kin memburuk menelusuri waktu, meski telah tampil kesadaran umat akibat dari pencemaran yang ditimbulkan oleh revolusi industri buatan manusia dan upaya manusia untuk memperbai-kinya. Bermacam usaha telah dibuat untuk mengatasinya, meski belum mencukupi mengingat revolusi industri telah berlangsung dalam hitungan abad. Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, yang hendak dicapai ialah keadaan sebelum revolusi industri dimulai silam, bahkan yang lebih baik dari itu, sebagaimana yang dimaksud revolvere yang tidak dapat ditawar.

Untuk memulihkan “kehidupan kaum”, sebagaimana disampaiakn Surat: Ar-Rad (Guruh), Ayat 11, umat perlu menyimak pada perjalanan filsafat Islam yang telah berkembang dari Irak hingga Andalusia, dilanjutkan ke Eropa, yang menyebabkan di bagian dunia ini bersemi pengetahuan tepat guna yang mengantarkan umat mencapai peradaban saat ini. Pengetahuan “tepat guna” bersama “analisa ilmu” dikembangkan, mengantarkan umat membuat STG (MES) menggunakan “bahan-bakar fossil” keperluan bermacam industri termasuk transportasi yang menimbulkan ali-ran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan bumi mencemari lingkungan hidup manusia berabad lamanya hingga hari ini; maka dengan filsafat Islam yang sama namun dari sudut pandang berlawanan, memanfaatkan STG (MES) listrik beragam “elemen kimia” bersama pengembangannya, harus menghentikan aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan yang mencemari lingkungan hidup umat, sekaligus meyiapkan Cadangan Berputar, dinamakan Bank Bahan Baku (BBB).

Apa yang ingin dicapai filsafat Islam sudut pandang baru ialah, agar setiap anak Adam yang hidup di muka bumi sadar dan menerima akal sehat yang terdapat di dalamnya, karena itulah yang sesungguhnya yang termuat dalam Surat Ar-Rad, Ayat 11; karena Allah juga tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri, melakukan segala usaha logis mengatasi pencemaran lingkungan hidup yang telah timbul disebabkan revolusi industri, memanfaatkan beragam disiplin ilmu, melakukan semua peneli-tian, menevaluasi temuan, menarik kesimpulan, menurunkan kaidah moral sampai hukum beri-kut sangsi yang berat, agar tidak terulang lagi, barulah Allah Subhanahu Wataala akan menga-bulkan doa yang dipanjatkan.

Laboratorium Bumi
Unruk menghadirkan lingkungan hidup yang dibutuhkan beragam makhluk yang hidup di muka bumi menelusuri perjalanan waktu, perlu dibangun sebuah laboratorium yang bertugas meman-tau keadaan lingkungan hidup makhluk setiap saat, seoerti: udara, air, darat, dan angkasa yang hasilnya setiap saat diberitakan cara berkala untuk diketahui masyarakat dunia. Dengan sendiri-nya perlu terlebih dahulu diterangkan apa yang dinamakan: “Standard Lingkungan Hidup” (SLH) yang perlu hadir di muka bumi yang menjadi hak manusia berikut makhluk lainnya, yang dilindungi undang-undang terjabar kedalam pelaksanaan hukum menempuh perjalanan kedua, atau kehidupan alam fana di muka bumi, sebagaimana sebelum revolusi industri dimulai di Eropa silam, sehingga setiap makhluk yang hidup di muka bumi ini dapat hidup normal sebagai-mana yang ditakdirkan Allah Subhanahu Wataala menerapkan TMH.

Laboratorium demikian tidak akan segera terbentuk, apalagi harus mencakup seluruh per-mukaan bumi, karena akan tersusun dari serangkaian laboratorium penelitian lingkungan hidup yang kini telah terdapat di bumi, tersebar kedalam banyak negara, dilola bangsa-bangsa yang telah sadar akan dampak pencemaran yang ditimbulkan revolusi industri diawali dari Eropa silam, dan menyebabkan beragam penyakit, antara lain: kanker, anak lahir cacat, timbulnya gangguan gangguan hingga cacat mental, dan masih banyak lainnya; bahkan telah ditemukan anak pikun masih pada usia balita dalam keluarga berdiam di kawasan industri pengolahan mineral (smelter) ditambang dari dalam perut bumi di bekas Negara Komunis silam.

Tidak dapat disangkal, IB sangat membutuhka kepedulian yang manusia diasuhnya mulai lahir ke alam fana di muka bumi sampai ke akhir hayat. Karena hanya dengan kepedulian insan sebagai “balas budi”, IB mampu mengemban tugas mulia yang ditakdirkan baginya mengasuh apapun apapun ragamnya diberikan Allah Subhanahu Wataala hadirr ke alam fana di muka bumi, mulai: tumbuhan, hewan, hingga manusia; menyediakan tempat berdiam dan menyediakan: udara, air, pangan, papan, dan lainnya, yang bebas dari segala macam bahan pencemar apapun ragamnya, setelah IK berhenti menyusukan bayi hampir dua tahun lamanya. Laboratorium bumi dengan demikian bertindak sebagai “jembatan” atau antarmuka antara makhluk dengan IB, sehingga manusia dapat mengetahui kesehatan yang disebut akhir saat mengemban tugas. Itulah sebabnya mengapa laboratorium bumi haris memantau lingkungan hidup manusia dari: kam-pung (desa), kecamatan, kabupaten, propinsi, negara, dunia, hingga dengan angkasa; seluruhnya menjadi bagian dari Informasi Lingkungan Hidup (ILH) yang dengan cara teratur dan cerdas harus dipantau oleh laboratorium bumi, lalu diberitakan ke segala penjuru dunia. Pada tingkat desa atau kampung, Mesjid-mesjid bagi umat Islam, juga Rumah-rumah Suci kepercayaan lain, bersama-sama bahu membahu memberi penyuluhan kepada masyarakat yang hidup di muka bumi untuk lingkungan masing-masing, atau menerima laporan dari masyarakat yang hidup di dari lingkungan masing-masing, sehingga petugas berwenang yang bertugas melakukan pemuta-hiran ILH selalu menerima informasi terakhir.

Dengan tersedianya jaringan ILH, keadaan/kesehatan IB dapat diketahui semua orang dimana-mana, mudah diolah, dimanfaatkan, dan disimpan. Dengan demikian keadaan IB, demikian kesehatannya senantiasa tersedia dalam laporan ILH, mudah dipantau dalam perjalanan waktu, demikian pula dikhabarkan oleh media kemana-mana tidak ubahnya cuaca. Sehubungan dengan yang akhir ini, tidak dapat disangkal lagi perlu dilakukan kerjasama Antarbangsa (Interna-sional) yang diikuti segala bangsa yang ada di muka bumi, karena planit biru ini hanya sebuah. Setiap kerusakan timbul di muka bumi disebabkan perbuatan tangan manusia yang melawan hukum perlu dihentikan, segera diperbaiki dan dipulihkan, karena tidak ada peluang bagi manusia dan makhluk lain pindah ke planit lain, manakala persiapan belum dilakukan. Kini hanya ada satu pilihan bagi manusia yang hidup di muka bumi, yakni membersihkan yang akhir ini dari segala bahan pencemar yang dibuat oleh penghuninya sendiri dengan revolusi industri diawali dari Eropa, lebih dari dua abad silam.

Departemen Limbah
Untuk menyajikan ILH berkesinambungan, perlu didirikan sebuah Departemen Limbah (Depart-ment of Waste) bagi tiap negara di muka bumi ini. Departemen ini terletak di “hulu” upaya menghindarkan pencemaran lingkungan hidup timbul di muka bumi, karena Departemen Lingkungan Hidup (Department of Invironment) yang telah dikembangkan selama ini berada di hilir. Dengan penduduk bumi yang terus meningkat jumlahnya, permasalahan yang dihadapi umat kedepan, adalah: sumber tenaga, pangan, sandang, papan, dan lainnya yang kian besar jumlahnya begitu pula mutunya. Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya pemenuhan kebutuhan, akan mengundang lebih banyak aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan yang akan menimbulkan limbah tidak diinginkan.

Departemen limbah yang dibentuk di setiap negara, pertama akan menangani limbah ditimbulkan aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan timbul sejak awal revolusi industri lebih dari dua abad silam, kini mencemari muka bumi yang belum juga terurai. Perlu dibangun Laboratorium Penelitian “Rekayasa Mundur Limbah”, disingkat RML (Waste Reverse Engineering, disingkat WRE), untuk mengurai habis ikatan kimia yang berlangsung lama hingga tidak lagi mencemari lingkungan hidup. Departeman Limbah juga harus pula merekayasa lim-bah yang mungkin timbul dari beragam usaha atau bisnis dilakukan penduduk bumi yang dapat diurai lagi tanpa menimbulkan limbah. Dengan demikian sebuah “kamus besar” reaksi kimia yang dapat diurai kembali tanpa limbah, dapat membantu para pengusaha menghaslkan barang dan jasa yang tidak lagi meninggalkan limbah dibuang menuju lingkungan.

Kini terdapat yang dinamakan: Pengetahuan Bahan dan Rekayasa bahan (Materials Science and Engineering) yang dapat melahirkan beragam bahan yang baru samasekali dimanfaatkan bermacam industri, dan masih belum lagi diketahui dampak negative yang ditimbulkannya kelak, manakala beralih menjadi limbah. Departemen limbah juga harus mewaspadai teknologi dikem-bangkan oleh umat manusia di muka bumi berjalan seiring TMH (Teknologi Mahluk Hidup) ciptaan Ilahi, agar keduanya tidak akan saling mempengaruhi berdampak tidak diinginkan, karena sama-sama menggunakan unsur kimia yang terdapat dalam tabel Mendeleyev.
Departeman Limbah juga harus dapat meramalkan bermacam limbah yang dapat muncul kelak, menyimak kecenderungan masyarakat mendirikan usaha, koperasi, dan lainnya; sekaligus me-nyiapkan RML diperlukan untuk melenyapkan limbah yang dihasilkan.

Masih banyak tugas yang harus diemban departemen limbah mengawal kehidupan umat di muka bumi, agar tidak terdapat lagi bahan kimia pencemar: biasa, berbahaya, dan sangat berbahaya yang tersebar, atau berkeliaran oleh belum atau tidak diketahuinya tentang sifat bersahabat atau tidak bersahabatnya terhadap TMH karunia Ilahi yang telah ditakdirkan hadir di muka bumi.

——— sekian ———

Penulis:
H.M.Rusli Harahap
Pamulang Residence G1
Jalan Pamulang 2, Pondok Benda.
Kode Pos: 15416. Tangerang Selatan.
Tel. 021-74631125.

 


Responses

  1. minta emailnya oppung …


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: