Posted by: rusliharahap | May 24, 2016

ELEVATOR JALAN-RAYA UNTUK PARA PENYEBERANG

Pendahuluan

Dengan kendaraan bermotor bermacam jumlah roda terus menyerbu perkotaan Nusantara dan Mancanegara, mulai kecil apalagi yang besar menelusuri perjalanan waktu, para pejalan-kaki (pedestrian) yang menyeberang jalan-raya di kota-kota yang padat penduduknya mendapat semakin sedikit waktu menyeberang pada lampu merah berlambang zebra yang disediakan. Para penyeberang jalan-raya mengeluh oleh waktu tersedia yang semakin pendek, demikian pula keselamatan jiwa manusia untuk sampai diseberang yang tidak terjamin. Para pejalan-kaki merasa sangat dirugikan oleh banyaknya waktu berharga yang terbuang percuma menunggu peluang me-nyeberang jalan yang kian langka. Menyeberang jalan kini menjadi permasalahan pelik yang tidak mudah dipecahkan oleh para walikota menelusuri waktu terlebih pada jam sibuk hari-hari kerja dewasa ini. Selain itu masalah lain ditemui, memberi peluang kepada para pejalan-kaki menyeberang jalan-raya di zebra-cross menimbulkan antrian panjang kendaraan bermotor yang menghamburkan gas buang hasil pembakaran BBM yang mencemari udara kota sekitar. Dan yang akhir ini jelas mengganngu kesehatan warga kota yang sedang berlalu lalang disekitar.

Untuk mengatasi persoalan diatas, terlebih lagi timbulnya kecelakaan lalulintas di permukaan ja-lan-raya berbagai kota besar yang padat penduduknya Tanah-air maupun Mancanegara, sudah tiba waktunya para pejalan-kaki “hijrah” dari menyeberang jalan-raya “satu bidang” menuju menyeberang jalan-raya “dua bidang”, dengan memperkenalkan prasarana atau infrastruktur penyeberang jalan-raya diperlukan. Adapun prasarana dimaksud, ialah apa yang dinamakan: Penyeberang Pejalan-kaki Atas (PPA) atau Overhead Pedestrian Crossing (OPC), dan Penyeberang Pejalan-kaki Bawah (PPB) atau Underpass Pedestrian Crossing (UPC), dibangun pada berbagai lokasi strategis di kota-kota besar yang padat penduduknya Tanah-Air maupun Mancanegara.

PPA dapat berupa satu atau lebih “jembatan penyeberangan” menghubungkan dua sisi jalan-raya yang diseberangi para pejalan-kaki ketinggian ± 5 meter diatas muka jalan-raya, sehingga beragam kendaraan bermotor bergerak terpisah dibawahnya. Sedangkan PPB tidak lain dari satu atau lebih perlintasan atau lorong ± 2.5 meter dibawah muka jalan-raya yang dilewati para pejalan-kaki, sehingga bermacam kendaraan dapat bergerak terpisah diatasnya. Bagi para pejalan-kaki PPB lebih diminati, karena “menuruni” tangga sedalam ± 2.5 meter dibawah permukaan jalan menguras sedikit tenaga (energy) ketimbang naik tangga menuju PPA tinggi  ± 5 meter diatas permukaan jalan-raya.

Prasarana Menyeberang Jalan-raya

PPA dapat didirikan dalam kota yang padat penduduknya untuk melancarkan lalulintas kendaraan bermotor roda dua, tiga, empat, dan lainnya, juga memudahkan warga kota menyeberang jalan-raya tanpa menyebabkan timbulnya kecelakaan lalu-lintas. Akan tetapi PPB hanya dapat dibangun di tempat-tempat yang dikenal aman dalam kota untuk menghindarkan timbulnya keja-hatan. Dalam pelaksanaannya, dibedakan dua macam (kategori) PPA yang mendapat sambutan baik warga kota kecil maupun besar padat penduduknya, masing-masing: Penyeberang Pejalan-kaki Lurus (PPL) atau Straight Pedestrian Crossing (SPC) sebagaimana tampak pada Gambar Ia, dan Penyeberangan Pejalankaki Terpadu (PPT) atau Integrated Pedestrian Crossing (IPC) seba-gaimana tampak pada Gambar Ib.

SaranaMenyeberang Jalan-raya

Gambar-I

PPL dan PPT

Sebuah PPL dapat terdiri dari satu atau lebih jembatan penyeberangan menghubungkan dua sisi jalan-raya yang diseberangi para pejalan-kaki (pedestrian), sedangkan PPT adalah sejumlah jem-batan penyeberangan mengitari pertemuan sejumlah jalan-raya (roundabout). Yang disebut akhir ini tidak perlu bulat bagai lingkaran seperti yang diperlihatkan Gambar-Ib, tetapi boleh bentuk tertutup sebarang (loop) menurut keadaan lingkungan pertemuan jalan-jalan raya (motorway interchange) dikelilingi kota besar yang padat penduduknya Tanah-Air atau Mancanegara dibica-rakan.

Dengan telah adanya PPL (SPC) dan PPT (IPC) di kota-kota besar yang padat penduduknya, baik Nusantara maupun Mancanegara, menyeberang jalan-raya di berbagai kota besar yang padat penduduknya, menyebarang jalan-raya “budaya lama” dibantu tangga perlu ditinggalkan untuk hijrah ke “budaya baru” dibantu sarana naik turun, disingkat “sanatu”, atau “elevator jalan-raya”. Sanatu atau elevator jalan-raya dirancang khususn untuk para pejalan-kaki (pedestrian) yang menyeberang jalan-raya. Dengan demikian, menyeberang jalan-raya di tengah terik matahari atau dinginnya tengah malam tidak perlu lagi menguras tenaga (energy) tubuh manusia, atau para pejalan-kaki. Budaya lama selain telah ketinggalan zaman, juga tidak layak lagi digunakan me-ngingat keamanan dan kenyamanan para pejalan-kaki yang tidak terjamin, sebagaimana yang telah diatur dalam “Standardisasi Nasional Menyeberang Jalan Indonesia” (SNMJI). Menyeberang jalan-raya budaya lama dengan tangga perlu diakhiri di kota-kota yang padat penduduknya baik, Nusantara maupun Mancanegara oleh alasan sederhana, yakni: menyalahi “hak azasi  ma-nusia” karena menyalahi ketentuan SNMJI. Perlu dicatat jalan-raya sudah semakin dikuasai sa-rana angkutan bermotor bikinan manusia, sehingga untuk keselamatan jiwa para pejalan-kaki (pedestrian) harus mendapat perlindungan undang-undang yang telah diatur dalam SNMJI agar selamat sampai ke tujuan diseberang jalan-raya.

Sanatu atau Elevator

Yang disebut dengan “sanatu” tidak lain dari “bilik-angkut” orang, atau ruang-angkut orang, dan lebih populer dengan sebutan “elevator”. Dengan elevator para pejalan-kaki (pedestrian) dinaikkan dari muka jalan-raya ke satu sisi PPL (SPC) ketinggian sekitar ± 5 meter, kemudian menurunkan para pejalan-kaki (pedestrian) dari sisi lain PPL (SPC) kembali ke muka jalan-raya diseberangi. Sanatu atau elevator juga menaikkan para pejalan-kaki (pedestrian) dari muka jalan-raya ke satu sisi PPT (IPC), sebaliknya menurunkan para pejalan-kaki (pedestrian) dari sisi lain PPT (IPC) kembali ke muka jalan-raya. Gambar-II memperlihatkan sebuah sanatu terdiri dari satu kabin yang bergerak naik atau turun dan penyangga yang dibutuhkan. Gambar IIa memperlihatkan “topang luar” (external support) berupa sangkar, sementara Gambar IIb memperlihatkan “topang tengah” (central support) berupa tonggak. Adapun teknologi digunakan untuk menaikkan atau menurunkan bilik (kabin) elevator sangat sederhana, yaitu: 1. Bolt-Nut dengan Bevel Gear, atau 2. Rack-Pinion dengan Bevel Gear dan Worm Gear, dijalankan motor induksi rem (brake induc-tion motor).

“Ruang angkut” sanatu bekerja menganta para pejalan-kaki (pedestrian) dari permukaan jalan-raya menuju ketinggian PPL (SPC) atau bagian PPT (IPC), sebaliknya menurunkan para pejalan-kaki (pedestrian) dari sisi lain PPL (SPC) atau bagian PPT (IPC) kembali ke permukaan jalan-raya seberang. Ruang angkut ini selanjutnya diberi nama: Elevator Pejalan-kaki, disingkat EP, atau Pedestrian Elevator, disingkat PE. Dengan meninggalkan “budaya lama” dan berhijrah ke “budaya baru”, para pejalan-kaki (pedestrian) dari segala generasi mulai normal hingga para di-sabel (disable) dimanapun akan dapat menyeberang jalan-raya kota-kota yang padat penduduk-nya dengan mudan dan selamat sampai diseberang sesuai SNI yang berlaku.

Dengan hijrah ke budaya baru, para pejalan-kaki (pedestrian) kota-kota besar yang padat penduduknya ketika menyeberang jalan-raya: pertama akan dinaikkan EP ke PPL atau bagian PPT tinggi sekitar ± 5 m diatas jalan-raya. Lalu membiarkan mereka berjalan-kaki sepanjang PPL atau bagian PPT yang horizontal atau datar, lalu dari sisi lain PPL atau bagian PPT, pejalan-kaki (pedestrian) akan diturunkan EP kembali ke muka jalan-raya seberang.

Daya angkut EP (PE) tergantung luas lantai bilik atau elevator. Semakin luas lantai ini, semakin baanyak orang yang dapat diangkut bilik atau kabin elevator. Dalam merancang EP perlu di-tetapkan “standard daya angkut” bilik atau kabin EP (PE), seperti: 5 orang, 10 orang, 15 orang, 20 orang, 25 orang, 30 orang, dan lainnya.

PPL dan PPT dapat dibuat dari konstruksi beton bertulang, seperti tempat berjalan kaki (pe-destrian crossing) setinggi ± 5 meter diatas muka jalan-raya untuk para pejalan-kaki (pedestrian), demikian juga konstruksi baja untuk EP (PE) termasuk bilik atau kabin. Sebagai bagian dari kon-struksi beton, beton pratekan (reinforced concrete dapat dimanfaatkan), seperti untuk: pembuatan badan jembatan, dan beragam tiang penyangga yang digunakan. Dalam pembuatan EP (PE), tidak diragukan lagi diperlukan juga baja kanal-C atau baja kanal-H, pipa baja, plat baja, dan la-innya, tidak terkecuali pembuatan pagar pembatas dan pengaman, supaya  lebih ekonomis secara keseluruhan.

Terdapat dua macam EP (PE) dalam pelaksanaannya, masing-masing: Elevator Topang Keliling (ETK) atau Peripherally Braced Elevator (PBE) sebagaimana tampak pada Gambar-IIa, dan Ele- vator Topang Tengah (ETT) atau Centrally Braced Elevator (CBE), sebagaimana yang tampak pada Gambar-IIb.

EP-I
Gambar-II

ETK adalah konstruksi baja yang mempunyai penampang persegi atau bulat seperti sangkar, di dalam mana bilik atau kabin para pejalan-kaki (pedestrian) dapat bergerak naik atau turun. Ada-pun ETT, adalah tiang tengah terbuat dari baja atau beton, di sekeliling mana bilik atau kabin untuk pejalan-kaki (pedestrian) berbentuk sangkar dengan penampang persegi atau bulat yang  dapat bergerak naik atau turun. Berbeda dengan lift bangunan tinggi, ETK dan ETT tidak mem-butuhkan kabel baja untuk menggantung bilik atau kabin berikut dan perlengkapannya, tetapi memerlukan pelataran atau platform untuk lantai dengan empat Alat Angkat (AA) atau Lifting Device (LD) teknologi sederhana, yaitu: 1. Bolt-Nut dengan Bevel Gear, atau 2. Rack-Pinion de-ngan Bevel Gear dan Worm Gear, digerakkan motor induksi-rem.

Empat AA (LD) akan menaikkan pelataran bilik atau kabin berikut para pejalan-kaki (pedestrian) serentak kesuatu ketinggian, atau sebaliknya menurunkan bilik atau kabin berikut para pejalan-kaki kebawah dari suatu ketinggian serentak, dilaksanakan sistim mekanik yang terdapat dalam kompartemen dibawah lantai bilik atau kabin. Bilik atau kabin yang terdapat dalam ETK atau ETT tidak dapat merosot atau turun dengan sendirinya oleh berat bilik atau kabin termasuk para pejalan-kaki (pedestrian) di dalamnya, kecuali digerakkan motor induksi-rem. Dengan perkataan lain, ETK and ETT dengan bilik atau kabin bersama para pejalan-kaki (pedestrian) dalamnya tidak dapat bergerak turun atau naik, kecuali mendapat perintah untuk melakukannya.

Tenaga listrik diperlukan menggerakkan ETK dan ETT diperoleh dari jala-jala PLN, atau sumber listrik lain, melalui kabel daya menuju panel ETK dan ETT, dan dari yang akhir ini dengan kabel tembaga lemas (flexsible wire) menuju bilik atau kabin. Pilihan lain, memanfaatkan tiga rel tem-baga terisolasi yang dipungut tiga sikat karbon. Apabila jaringan PLN gagal menyediakan daya listrik, sebuah sumber tenaga listrik darurat (emergency power supply) dapat ditempatkan keda-lam bilik atau kabin.

Sumber listrik lain yang juga dapat digunakan ialah tenaga surya (sun energy) memanfaatkan pa-nel surya, dan peladangan angin (wind farm). Tenaga listrik dibutuhkan selain untuk menaikkan atau menurunkan bilik atau kabin beserta para pejalan-kaki didalamnya, juga menjalankan sistim listrik, sistim elektronik, sistim kendali; juga penerangan jalan-raya.

Terdapat Pengendali Logika Terprogram (PLT) atau Programmable Logic Controller (PLC)  da-lam kompartemen guna antarmuka (interface), supaya para pejalan-kaki (pedestrian) dapat me-merintahkan sistim elektro-mekanik (electro-mechanical system) ETK dan ETT bekerja me-naikkan atau menurunkan bilik atau kabin. Juga terdapat saluran kendali (control wirings), be-serta tombol-tombol (push buttons) termasuk pemutus-pemutus batas (limit switches), sehingga ETK dan ETT dapat mengerti perintah para pejalan-kaki (pedestrian) dengan baik.

Peneyeberangan Jalan-raya Mandiri

Gambar-III memperlihatkan penyeberangan jalan-raya mandiri, karena hanya bertugas  menye-berangkan para pejalan-kaki saja. Penyeberangan Jalan-raya Mandiri (PJM) untuk para pejalan-kaki (pedestrian) yang disederhanakan, terlihat pada Gambar-IIIa dibawah ini:

busway-01a

Gambar-IIIa

Adapun keterangan dari pandangan atas PPL bekerja sebagai PJM adalah, dari kiri ke kanan, adalah sebagaimana yang dikemukakan dibawah ini:

  1. Lajur Angkutan Umum Hilir.
  2. Lajur Angkutan Busway Hilir.
  3. Lajur Angkutan Busway Mudik.
  4. Lajur Angkutan Umum Mudik.
  5. Tapak tempat para penyeberang jalan-raya (pedestrian) berhimpun atau bubar:

x – jarak tapak dari PJM.

y – jarak tapak dari sumbu jalan-raya diseberangi.

Kedua besaran ini tidak perlu sama luas maupun bentuknya di tepi jalan-raya diseberangi. Dan ini banyak tergantung dari keberhasilan pemerintah kota membebaskan lahan kebutuhan para menyeberang jalan-raya (pedestrian), untuk menjadikannya perhentian (halte) bus, menyimak ketentuan SNI yang berhubungan dengan masalah ini.

  1. EP (PE) Sanatu atau Elevator.

busway-01b

Gambar-IIIb

Adapun berbagai bagian PPL tampak dari depan ialah sebagai berikut:

  1. PPL menghubungkan kedua sisi jalan-raya diseberangi.
  2. Tiang penyangga yang ada ditengah.
  3. EP (PE) berada di kedua ujung PPL, masing-masing terdapat diatas tapak kanan

dan tapak kiri.

h =  tinggi PPL ± 5 m diatas jalan-raya yang diseberangi.

busway-01c

Gambar-IIIc

Gambar-IIIc memperlihatkan PPL mandiri tampak dari samping.

  1. PPL tinggi ± 5 meter diatas jalan-raya.
  2. EP (PE) tampak dari samping diatas sebuah tapak.

Ketika akan menyeberang jalan-raya, pejalan-kaki (pedestrian) perlu terlebih dahulu menurunkan  EP (PE) apabila sedang berada diatas sedemikian rupa, sehingga lantai bilik atau kabin rata de-ngan permukaan tapak. Dengan menekan Tombol Buka (TB) dari luar, pintu bilik atau kabin akan terbuka, dan para pejalan-kaki dapat masuk. Dengan menekan Tombol Tutup (TT) dari da-lam bilik atau kabin, EP akan bergerak naik dan baru berhenti setelah menyentuh pemutus batas (limit switch) bagian atas. Selanjutnya TB ditekan, dan pintu bilik atau kabin akan terbuka dan para pejalan-kaki (pedestrian) lalu keluar menuju PPL, atau bagian PPT. Selesai.

Menurunkan para pejalan-kaki (pedestrian) dari ketinggian PPL (SPC) atau bagian PPT (IPC), diawali menaikkan EP (PE) manakala sedang ada dibawah sedemikian rupa, sehingga lantai bilik rata dengan lantai PPL (SPC) atau bagian PPT (IPC). Dengan menekan TB dari luar, pintu bilik atau kabin membuka dan para pejalan-kaki (pedestrian) dapat masuk. TT lalu ditekan dari dalam membuat bilik atau kabin bergerak turun, baru berhenti setelah menyentuh pemutus batas (limit switch) bagian bawah. Selanjutnya TB ditekan dari dalam membuat pintu bilik atau kabin mem-buka, dan para pejalan-kaki (pedestrian) keluar ke permukaan tapak-seberang. Selesai.

Terdapat irama nada berbeda menyertai saat EP (PE) bergerak naik, atau turun. Maksudnya  memberitahukan orang yang ada disekitar bahwa EP (PE) sedang melayani para pejalan-kaki (pedestrian) menyeberang jalan-raya.

PPL (SPC) dibangun untuk menyeberang jalan-raya pada berbagai tempat strategis dalam kota-kota besar yang padat penduduknya dimana banyak kendaraan melaju pesat, sedangkan PPT (IPC) dibangun mengitari persimpangan banyak jalan-raya dimana banyak kendaraan juga me-laju pesat. Dengan pemisahan sempurna pejalan-kaki (pedestrian) dari kendraan, kecepatan rata-rata lalulintas diting-katkan menuju kecepatan ekonomis kendaraan untuk menghemat pema-kaian bahan-bakar, menurunkan pencemaran udara, menyingkat waktu tempuh, dan memelihara tertib lalulintas. Dan yang disebut belakangan, tidak mungkin diperoleh dengan manipulasi atu-ran lalu-lintas (software atau perangkat-lunak) semata, tetapi harus juga menghadirkan sarana (hardware atau perangkat-keras) diperlukan: PPL (SPC) berikut EP (PE), juga PPT (IPC) berikut EP (PE). Inilah yang dinamakan: Software+Hardware Solution, disingkst SHS, atau Peme-cahan Perangkat-lunak+Perangkat-keras, disingkat PPP atau 3P, terhadap persoalan lalu-lintas jalan-raya kota besar yang padat penduduknya di Tanah-Air dan Mancanegara manapun muka bumi ini.

Menyeberang Membayar

Dengan kehadiran: PPL (SPC), PPT (IPC), dibantu EP (PE) pada kota-kota besar yang padat penduduknya, maka orang yang sengaja menyeberang jalan-raya pada tempat “terlarang” perlu dihukum. Dasar “melanggar hukum” mendasari jelas: 1. Penyeberang sembarangan atau penyeberang liar menyebabkan pengemudi terkejut, 2. Ia menurunkan kecepatan kendaraan dengan tiba-tiba dibawah besaran diperkenankan, 3. Pemakaian bahan-bakar menjadi boros, 4. Pencemaran udara meningkat, 5. Tertib lalu-lintas terganggu, dan 6. waktu yang berharga lang-sung terbuang.

Dengan telah terdapat PPL (SPC), PPT (IPC), dengan EP (PE) di berbagai kota besar padat pen-duduknya Tanah-Air dan Mancanegara, gagasan “Menyeberang Membayar” (MM), atau “Pay Crossing” (PC) dapat diperkenalkan pada masyarakat berdiam di perkotaan. Tujuannya menghimpun dana yang diperlukan untuk: 1. Menjalankan (mengoperasikan), 2. Merawat, dan 3. Melunasi cicilan bank untuk pembuatan PPL (SPC), PPT (IPC), berikut dengan EP (PE) diatas jalan-raya kota-kota besar padat penduduknya; manakala walikota tidak mengeluarkan uang yang berasal dari pajak. Dengan selogan: “Setiap orang dapat membayar menyeberang“, atau “Everyone can pay across”, manakala ditemukan seseorang yang benar-benar tidak memiliki uang samasekali lalu ingin menyeberang agar sampai ke tujuan, ia akan mendapat uang yang di-perlukan langsung dari si pelola sarana. Terbuka juga peluang kepada siapa saja yang berniat “sedekah” mendapat pahala memembayar orang yang tidak punya uang menyeberang agar sam-pai ke tujuan.

Prasarana menyeberang budaya-baru ini mendapat uang masuk tidak semata dari para pejalan-kaki yang menyeberang jalan-raya. Masih banyak sumber pemasukan uang lain yang dapat digali dan ini tergantung dari kreatifitas yang mendapat mandat untuk melola. Dengan kehadiran PPL (SPC), PPT (IPC), dengan EP (PE) di kota-kota besar yang padat penduduknya di Nusantara dan Mancanegara, orang-orang tua demikian pula mereka yang cacat jasmani atau disabel akan mudah menyeberang jalan-raya, dan tidak terkecuali kaum perempuan dan anak-anak.

Sistim Mekanik Sanatu

Untuk menaikkan, atau sebaliknya menurunkan bilik atau kabin ETK (PBE) dan ETT (CBE) ke suatu ketinggian tinggi  ± 5 meter diatas muka jalan-raya, sebuah Sistim Mekanik Sanatu (SMS)  dipersiapkan sebagaimana tampak pada Gambar IV. SMS terdapat dalam “Kompartmen” berada dibawah lantai bilik atau kabin yang hendak dinaikkan atau diturunkan. Yang akkhir ini menjadi bagian integral atau tidak terpisahkan dari bilik atau kabin sanatu.

jalan raya

Gambar IVa

Pada Gambar IVa diperlihatkan SMS bertugas menaikkan atau menurunkan bilik atau kabin ETK (PBE) bangun sangkar persegi atau sangkar silinder. Pada Gambar IVb diperlihatkan SMS menaikkan atau menurunkan bilik atau kabin ETT (CBE) bangun sangkar silinder atau sangkar persegi. SMS sanatu pilihan ini juga menempati ruang bawah lantai bilik atau kabin yang tidak menyita ruang amat besar, juga menjadi bagian integral dari bilik atau kabin. Sebuah bilik atau kabin sanatu jalan-raya rata-rata ditaksir akan bermuatan 10 hingga 20 para pejalan-kaki (pe-destrian) dewasa untuk sekali naik atau sekali turun tinggi ± 5 m diatas muka jalan-raya. Bilik atau kabin sanatu semuanya dibuat dari bahan tembus pandang tidak terkecuali atap, sehingga para pejalan-kaki (pedestrian) yang berada didalamnya dapat jelas terlihat dari luar.

jalan raya 2

jalan raya 3

Gambar IVb

Tenaga listrik tiga phasa diperoleh dari PLN melalui kabel lemas (flexible cable) menuju panel dari panel Sanatu atau Elevator untuk menjalankan mesin listrik. Pilihan lain lewat tiga rel tembaga tersekat yang dipungut tiga sikat arang (carbon brushes). Sistim listrik akan menya-lurkan tenaga listrik kedalam motor induksi-rem lewat “tombol” ditempatkan didalam bilik atau kabin. Dengan menekan tombol, pejalan-kaki (pedestrian) akan memerintahkan bilik atau kabin sanatu untuk bergerak naik atau turun, tergantung dari dimana sanatu sedang berada: diatas atau dibawah. Sistim listrik menyediakan juga tombol untuk membuka atau menutup pintu bilik atau kabin, dan bilik atau kabin tidak akan dapat bergerak manakala pintunya tidak tertutup. Selain dari itu lagi sistim: pantauan, pelapor, pengawas, dan lampu penerangan. Tenaga listrik cadangan  tersedia dalam Komparteman, sehingga bilik atau kabin sanatu harus selalu dapat kembali ke permukaan tapak (devault position), manakala listrik PLN sedang padam.

Alat Angkat

Adapun “cara” digunakan untuk hijrah dari menyeberang jalan-rayabudaya lama” menuju me-nyeberang jalan-rayabudaya baru”, ialah yang dinamakan: “Alat Angkat” (Lifting Device) de-ngan teknologi: 1. Bolt-Nut dengan Bevel Gear, atau 2. Rack-Pinion dengan Bevel Gear dan Worm Gear dijalankan motor induksi rem (brake induction motor). Dengan teknologi ini, maka  layanan lift bangunan tinggi dapat dipindahkan ke jalan-raya.

Gambar Va memperlihatkan teknologi Alat Angkat, disingkat AA, atau Lifting Device, disingkat LD, dinyatakan sebagai AA(LD) berteknologi Bolt-Nut dengan Bevel Gear.

jalan raya 4

Gambar Va

Seperti tampak pada Gambar Va, KSUD (Kolom Silinder Ulir Dalam) digunakan berpasangan dengan SPUL (Silinder Panjat Ulir Luar) bekerja sebagai AA(LD) guna menaikkan atau menu-runkan bilik atau kabin elevator. Daya mekanik diperlukan diperoleh dari PDM (Poros Daya Mekanik) terlihat jelas pada Gambar IVad dan Gambar IVbc. Sudut kemiringan ulir AA(LD) digunakan menahan agar bilik atau kabin tidak mungkin dapat turun dengan sendirinya oleh berat bilik atau kabin dimiliki beserta para pejalan-kaki (pedestrian) yang ada didalamnya, kecuali digerakkan mesin listrik-rem.

Pilihan lain ialah sebagaimana yang disajikan dalam Gambar Vb, menampilkan Rack-Pinion dengan Bevel Gear dan Worm Gear.

Gambar Vb

Seperti yang terlihat pada Gambar Vb, BGDS (Batang Gigi Dua Sisi) diwujudkan berpasangan dengan PRGP (Pasangan Roda Gigi Panjat) bertugas sebagai AA(LD) guna menaikkan atau menurunkan bilik atau kabin elevator. Daya mekanik diperlukan juga diperoleh dari PDM (Poros Daya Mekanik) terlihat pada Gambar IVae dan Gambar IVbd. Worm Gear dimanfaatkan untuk menjaga agar keempat AA(LD) tidak  turun dengan sendirinya oleh berat bilik atau kabin beserta  para pejalan-kaki (pedestrian) ada didalamnya, kecuali digerakkan mesin listrik-rem.

——————-selesai——————

Penulis:

H.M.Rusli Harahap

Pamulang Residence, G1

Jalan Pamulang 2, Pondok Benda. Kode Pos: 1541

Tangerang Selatan, Banten. 11 Desember 2015

Tel. 021-74631125.

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: