Posted by: rusliharahap | March 3, 2015

PARKIR BERTINGKAT

Pendahuluan
Dengan seluruh permukaan jalan-raya berbagai kota besar dunia luasnya rata-rata masih satu angka (digit) persen luas kota, serbuan kendaraan bermotor roda: dua, tiga, empat, dan seterus-nya menuju kota-kota besar di seantero planet, tidak diragukan lagi akan melahirkan “kemace-tan” lalulintas dan permasalahan “parkir”. Kebanyakan Negara dunia yang masih mengizinkan pemilik kendaraan pribadi dan umum memparkir kendaraan bermotor dimana saja pengemudi suka dan sembarangan, memaksa kendaraan roda: dua, tiga, empat, dan lain yang tengah melaju menggerakkan kendaraan dibawah kecepatan lalulintas ditetapkan, menyebabkan pemakaian ba-han-bakar: bensin, solar, dan gas, menjadi boros, udara disekitar jalan-raya semakin tercemar, dan warga-kota besar pun menderita gangguan pernafasan.

“Parkir bertingkat” memperbesar daya tampung kendaraan “parkir permukaan” di beragam kota besar mulai nusantara hingga dunia. “Parkir bertingkat” menggunakan lahan sedikit di permu-kaan, tetapi memanfaatkan ruang diatasnya yang lebih besar. Dengan melakukan “parkir permu-kaan” dan “parkir bertingkat” kendaraan roda: dua, tiga, empat, dan lain yang sedang melaju di jalan-raya dapat bergerak dengan kecepatan lalulintas yang telah ditentukan di kota-kota besar Tanah-Air dan Mancanegara, sehingga pemakaian bahan-bakar menjadi lebih hemat, pencema-ran udara menjadi berkurang, dan waktu tempuh perjalanan lebih singkat, dan warga kota-kota besar pun akan lebih sehat.

Adapun sejumlah kota besar di Tanah-Air yang membutuhkan sarana parkir bertingkat pada saat ini dapat dikemukakan: Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, dan lainnya; juga tidak terkecuali berbagai kota di Mancanegara.

Parkir-bertingkat
Kini tiba saatnya untuk memperkenalkan sebuah pilihan parkir-bertingkat (multistory-carpark) untuk kendaraan bermotor yang sedang tidak digunakan di kota-kota besar dunia. Parkir berting-kat menyita lahan di permukaan bumi sedikit, tetapi memanfaatkan ruang diatasnya yang lebih besar. Dengan memanfaatkan parkir bertingkat untuk kendaraan roda empat di berbagai kota besar Tanah-Air dan Mancanegara, banyak lahan di permukaan bumi dapat dialihkan menjadi hijauan tanaman yang dibutuhkan untuk menangani pemanasan-global (global warming) yang telah menimbulkan perubahan iklim di permukaan bumi, melahirkan amukan badai dan angin kencang yang setara pesawatterbang tinggal landas, dan meratakan kota Tacloban di Filipina beberapa waktu yang silam.

Parkir-bertingkat awalnya berupa bangunan atau gedung yang dibuat khusus untuk tempat memparkir kendaraan bermotor roda empat yang tidak sedang digunakan kawasan: perkantoran, perdagangan, tempat hiburan, petokoan, dan lain sebagainya; akan tetapi gagasan ini ingin mem-perkenalkan “parkir bertingkat” konstruksi baja untuk kendaraan bermotor roda empat yang sedang tidak digunakan, dan dapat didirikan dimana saja orang suka guna melancarkan lalulintas kota besar yang padat penduduknya.

Dengan menerapkan parkir-bertingkat di pusat-pusat: perkantoran, perdagangan, perbelanjaan, taman hiburan, rekreasi, dan lain sebagainya, banyak lahan ditempati “parkir permukaan” dalam beragam kota besar dapat dibebaskan, tidak terkecuali pinggiran kota dan wilayah satelit, untuk dikembalikan menjadi kawasan hutan penyangga kota, guna menyejukkan udara tempat warga kota berdiam. Adapun kelebihan parkir bertingkat pilihan ini dibandingkan parkir-permukaan, ialah sedikit lahan muka bumi yang diperlukan untuk fondasi, dan membebaskan bagian lainnya yang lebih besar, untuk dijadikan beragam hijauan penyegar kehidupan.

Sebuah bangunan atau gedung tinggi untuk tempat memparkir kendaraan bertingkat mahal har-ganya, juga tidak dapat didirikan pada sebarang tempat, mahal juga biaya operasi dan pemeliha-raannya. Sebaliknya parkir bertingkat dibangun dari konstruksi baja murah harganya, juga mu-dah didirikan atau dirakit dimana orang suka, murah pula biaya operasi dan pemeliharaannya, tidak terkecuali merelokasi bilamana diperlukan.

Sebuah parkir bertingkat konstruksi baja akan menggunakan baja: kanal-c, atau kanal-h, pipa, plat, dan lainnya; dilengkapi pula sistim mekanik, sistim listrik, juga sistim kendali elektronik termasuk pantau, sehingga setiap orang dapat dengan mudah memparkir sejumlah kendaraan ke-luarga cara bertingkat yang menghemat lahan di muka bumi.

Dalam pelaksanaan, dibedakan dua macam parkir-bertingkat (multistory carpark), masing-masing: parkir-bertingkat disingkat: Parting dan batere parkir bertingkat, disingkat: Baparting.

Parting
Sebuah “Parting” dimasukkan kedalam sebuah garasi, atau diletakkan di samping rumah, akan memuat: dua, tiga, atau empat, kendaraan roda empat keluarga tersusun bertingkat sebagaimana yang diperlihatkan oleh Gambar-I, dengan: “tampak masuk/keluar” dan “tampak samping”.

Parting

Gambar-I

Parting menolong pemilik kendaraan roda empat, agar tidak lagi memparkir kendaraan roda empat masing-masing sepanjang pinggir jalan-raya sembarangan saat tidak digunakan, terutama di kawasan padat kendaraan berlalulalang guna melancarkan lalulintas. Dengan menghadirkan parkir bertingkat konstruksi baja di berbagai kota padat penduduk, berarti warga kota ikut aktif meningkatkan kecepatan rata-rata lalulintas mendekati kecepatan ekonomis kendaraan bermotor, menyebabkan pencemaran atmosfer di sekitar tempat berdiam dapat diturnkan.

Empat kolom baja kanal-C atau kanal-H, didirikan guna menyangga parting diatas pondasi. Sejumlah pelataran, dinamakan: P-1, P-2, P-3, P-4, tergantung bilangan kendaraan yang hendak diparkir bertingkat, ditempatkan diantara keempat kolom baja dan dilengkapi: sistim mekanik, sistim listrik, dan sistim kendali serta monitor yang diperlukan tiap pelataran, untuk menaikkan atau menurunkan pelataran cara bergiliran ke masing-masing tinggi parkir sasaran, atau seba-liknya meninggalkan tinggi parkir masing-masing.

Untuk menaikkan pelataran menuju ketinggian parkir, atau menurunkan pelataran kembali ke muka bumi dalam arah yang sebaliknya, digunakan empat Alat Angkat (AA) atau Lifting Device (LD) terpasang pada setiap pelataran berteknologi sederhana, yakni: 1. Bolt-Nuts dengan Bevel Gears, atau 2. Rack-Pinions dengan Bevel Gears dan Worm Gears, digerakkan motor induksi rem (brake induction motor).

Keempat AA akan bersama-sama menaikkan pelataran keatas serentak, atau bersama-sama pula serentak menurunkan pelataran kebawah dalam arah yang sebaliknya, dilakukan sistim mekanik yang terdapat di dalam ruang atau kompartemen penggerak. Dengan bantuan sistim mekanik, siapapun dapat memparkir kendaraan keluarga dengan mudah menuju tinggi parkir, saat memparkir; atau dalam arah sebaliknya menurunkan atau men-deparkir kendaraan keluarga dari tinggi parkir manapun kembali menuju ke muka bumi.
Sebuah pelataran parting tidak dapat turun dengan sedirinya atau merosot oleh berat sendiri berikut kendaraan yang berada diatasnya, kecuali bila digerakkan motor induksi rem. Dengan perkataan lain, setiap pelataran yang terdapat pada parting tidak dapat naik keatas, atau turun kebawah dalam arah sebaliknya, manakala tidak diperintahkan oleh si pemilik atau si pengguna.

Tenaga listrik didatangkan dari PLN disalurkan kabel-daya menuju panel parting, dari sini lalu dibagikan saluran daya lemas lewat gelondong menuju motor induksi rem yang ada dalam ruang-penggerak masing-masing pelataran. Tenaga listrik batere kendaraan yang sedang parkir diatas pelataran juga dapat digunakan yang dibantu inverter, untuk menaikkan atau menurunkan pelataran, yang bertindak sebagai sumber tenaga listrik cadangan (emergency power).
Dengan peladangan panel surya yang memanen tenaga cahaya matahari diubah menjadi listrik, begitu pula perkebunan tenaga angin yang menghasilkan listrik, kedua sumber listrik dapat juga dimanfaatkan oleh wilayah yang belum terjangkau listrik PLN. Tenaga listrik dibutuhkan untuk menggerakkan motor induksi rem terdapat dalam ruang-penggerak setiap pelataran; juga sistim listrik, sistim kendali dan monitor, serta penerangan malam hari.

Untuk memerintahkan parting menaikkan atau menurunkan sebuah pelataran, perangkat Penga-tur Logika Terprogram (PLT) atau Programmable Logic Controller (PLC) ditempatkan sebagai antarmuka (interface) antara pemilik atau pengguna dengan sistim elektromekanik (electro-mechanical system) yang bertugas menaikkan atau menurunkan setiap pelataran cara bergantian, tidak terkecuali sebilangan pemutus batas (limit switches), beragam saluran kendali (control wirings), dan beberapa tombol (push buttons) yang diperlukan.

Untuk “mem-parkir” bertingkat sejumlah kendaraan keatas parting dirancang untuk tiga kendaraan keluarga, diawali dengan menurunkan seluruh pelataran: P-1, P-2, dan P-3, hingga mobil pertama dapat dikemudikan keatas P-1. Yang akhir ini lalu dinaikkan ke ketinggian tiga, sekitar ±. 4 m diatas permukaan bumi. Pada saat yang bersamaan, P-2 muncul ke permukaan dari tempat penyimpanannya dibawah. Dengan demikian mobil kedua dapat pula dikemudikan keatasnya, dan yang akhir ini lalu dinaikkan ke ketinggian dua, sekitar ±.2 m diatas permukaan bumi. Pada saat yang sama P-3 muncul pula ke permukaan dari tempat penyimpanannya dibawah. Dengan demikian mobil ketiga dikemudikan pula keatasnya, dan pelataran akhir ini tetap berada pada tempatnya. Selesai.

Untuk “men-deparkir” atau menurunkan kendaraan keluarga dari parting dirancang untuk tiga mobil keluarga, dimulai dengan mengeluarkan mobil ketiga. Pelataran P-2 lalu diturunkan me-nuju permukaan bumi dari ketinggian dua yang diikuti P-3 turun ke tempat penyimpanannya. Setibanya di muka bumi, mobil kedua dikeluarkan dari P-2. Akhirnya, P-1 diturunkan dari ketinggian tiga ke permukaan bumi, disertai P-2 turun menuju tempat penyimpanannya. Mobil pertama lalu dikeluarkan, dan pelataran akhir ini tetap berada pada tempatnya. Selesai.

Parting dapat dipasarkan sebagai: “Car Park Kit” (terurai kedalam sejumlah bagian) yang mudah dipindahkan sehingga boleh dirakit dimana saja orang suka meletakkannya. Dengan demikian parting menjadi tempat memparkir kendaraan keluarga bertingkat yang dapat didirikan pemilik kendaraan dimana ia suka.
Terdapat dua alunan nada yang menyertai setiap pelataran saat bekerja, sehingga orang-orang yang berada disekitar akan sadar akan kegiatan yang berlangsung, yakni: menaikkan kendaraan ke tinggi parkir, atau sebaliknya menurunkan kendaraan dari tinggi parkir kembali ke permukaan bumi.

Baparting
Sebagaimana halnya dengan parting, baparting juga bangunan konstruksi baja dari: kanal-C, atau kanal-H, pipa, plat, dan lain sebagainya. Sama dengan parting, baparting juga dilengkapi: sistim mekanik (mechanical-system), sistim listrik (electrical-system), sistim-elektronik (electronic-sys-tem), sistim-kendali (control-system) dan sistim-pantau (monitoring-system) untuk setiap pela-taran yang bertugas menaikkan pelataran dengan kendaraan diatasnya menuju ketingian parkir diinginkan, atau sebaliknya menurunkan kendaraan dari ketinggian parkir kendaraan kembali ke permukaan bumi.

Sebuah baparting) adalah kumpulan lapisan batere tempat memparkir kendaraan bermotor roda-empat yang dibangun diatas “pondasi bersama”. Itulah sebabnya setiap lapisan batere yang terga-bung dalam baparting terdiri dari: Kolom Elevator Batere (KEB) terdapat ditengah didampingi dua Kolom Parkir Batere (KPB) menempel dari kedua sisinya, sebagaiman yang terlihat dari “tampak samping” dan “tampak depan atau masuk/keluar” dari Gambar-II, dibawah ini.

Baparting

Gambar-II

Jumlah KPB yang mendampingi KEB harus merupakan bilangan genap, agar tempat memparkir kendaraan yang berada pada kedua sisin baparting sama banyak, sehingga tampak simetris. Adapun yang dimaksud dengan bilangan genap disini, ialah angka: 2, 4, 6, dan seterusnya. Sedangkan banyaknya “lapisan batere” yang tergabung kedalam baparting tergantung dari perkiraan jumlah kendaraan sebuah wilayah pemukiman warga suatu kota besar padat penduduk atau metropolis yang berminat memparkir bertingkat kendaraan kedalam baparting.
Berlainan dari parting menggunakan pelataran untuk tempat memparkir kendaraan, sehingga jumlah pelataran sama dengan banyaknya kendaraan roda empat yang diparkir, sebuah bapar-ting memanfaatkan pelataran hanya untuk setiap “lapisan batere”, sehingga jumlah pelataran di-gunakan sama dengan banyaknya “lapisan batere” yang tergabung kedalam baparting, seba-gainana yang terlihat pada “tampak samping” Gambar-II; diperlihatkan empat lapisan batere dengan nomor: 1, 2, 3, 4.

Sebagaimana juga parting, setiap pelataran baparting dilengkapi juga dengan empat Alat Angkat (AA) atau Lifting Device (LD) berteknologi sederhana, yakni: 1. Bolt-Nuts dengan Bevel Gears, atau 2. Rack-Pinions dengan Bevel Gears dan Worm Gears, yang digerakkan motor induksi rem (brake induction motor).

Keempat AA akan bersama-sama menaikkan pelataran serentak keatas, atau dalam arah yang sebaliknya bersama-sama menurunkan pelataran serentak kebawah, dilaksanakan oleh sistim mekanik yang terdapat dalam “ruang atau kompartemen penggerak”. Dengan bantuan sistim mekanik, seorang operator baparting akan dengan mudah menaikkan pelataran dengan kenda-raan yang berada diatasnya dari permukaan bumi hingga ketinggian parker dituju, saat “mem-parkir”; atau dalam arah sebaliknya.”men-deparkir” atau menurunkan pelataran berikut sebuah kendaraan diatasnya dari setiap ketinggian parkir kembali ke permukaan bumi.

Setiap pelataran batere tidak dapat turun dengan sendirinya atau merosot oleh berat sendiri dan kendaraan yang berada diatasnya, kecuali bila digerakkan motor induksi rem yang terdapat didalam ruang penggerak. Dengan perkataan lain, setiap pelataran baparting hanya dapat berge-rak naik atau turun, manakala mendapat yang datang dari operator.

Tenaga listrik datang dari PLN disalurkan kabel-daya menuju panel baparting, dan dari yang akhir ini dibagikan saluran lemas (flexible) menuju KEB dari setiap lapisan batere yang mem-bentuk baparting. Dari panel akhir ini, tenaga listrik selanjutnya disalurkan lewat pengantar tembaga tersekat tiga phasa vertical yang dipungut tiga sikat arang, dan disalurkan ke motor induksi rem yang berada dalam ruang atau kompartemen penggerak. Sebagaimana halnya parting, tenaga listrik batere kendaraan yang sedang dinaikkan atau diturunkan pelataran, dapat dimanfaatkan dalam keadaan darurat dengan pertolongan inverter, sebagai sumber tenaga listrik cadangan (emergency power supply).

Dengan peladangan cahaya matahari diubah menjadi listrik makin meluas dilakukan orang di muka bumi, begitu pula peladangan tenaga angin diubah menjadi listrik dimanamana, keduanya dapat digunakan oleh baparting, terutama untuk pemukiman yang belum mendapat layanan PLN. Tenaga listrik digunakan baparting untuk menggerakkan motor induksi rem yang terdapat dalam ruang atau kompartemen penggerak, menjalankan sistim listrik, sistim kendali termasuk monitor, pengolah data (data processing), dan penerangan dimalam hari.
Sebagaimana halnya parting, baparting juga memerlukan juga Pengatur Logika Terprogram (PLT) atau Programmable Logic Controller (PLC), bertugas sebagai antarmuka (interface) antara operator dengan sistim elektro-mekanik (electro-mechanical system) baparting, sehingga yang akhir ini dapat memahami perintah yang diberikan operator. Selain dari itu, masih ada pula sebilangan pemutus batas (limit switches), sejumlah saluran kendali (control wirings), dan tom-bol-tombol (push buttons) yang diperlukan perlu terdapat dalam KEB.

“Mem-parkir” kendaraan kedalam baparting, berarti memasukannya kedalam KPB yang terdapat pada salah satu sisi KEB sebuah ketinggian parkir. Untuk mem-parkir sebuah kendaran kedalam baparting diawali dengan mengemudikan kendaraan kedalam KEB, lalu menaikkannya keatas pelataran yang sudah menunggu. Pelataran dengan kendaraan diatasnya lalu dinaikkan ke ting-gian parkir tujuan, dan mobil didorong masuk ke salah satu KPB yang menempel pada KEB. Selesai.

“Men-deparkir” atau menurunkan sebuah kendaraan dari baparting, berarti mengosongkannya dari dalam salah satu KPB yang menempel pada salah satu sisi KEB. Untuk men-deparkir se-buah mobil dari baparting diawali dengan mendorong sebuah kendaraan dari KPB yang berada di salah satu sisi KEB sebuah ketinggian parkir keatas pelataran yang sudah menunggu. Pelata-ran berikut kendaraan lalu diturunkan ke permukaan bumi, dan dijemput si pemilik. Selesai.

Sebagaimana halnya parting, baparting juga menyiapkan dua alunan nada pada setiap pelataran yang sedang bekerja, sehingga orang yang berada disekitar akan sadar akan kegiatan yang sedang berlangsung, yakni: menaikkan kendaraan menuju suatu ketinggian parkir, atau sebaliknya menurunkan kendaraan dari suatu ketinggian parkir kembali ke permukaan bumi.

Baparting dirancang untuk tempat memparkir bertingkat kendaraan rooda empat waktu yang lama, mulai hitungan: jam, hari, minggu, bulan, pada berbagai tempat, seperti: stasion kereta, tempat perdagangan, pusat perkantoran, daerah pemukiman, dan lain sebagainya.

Kantor Pengelola
Pada puncak baparting tersedia ruangan untuk pengelola atau managemen baparting, terjabar ke-dalam: kantor, ruang istirahat, kamar makan, hiburan, dan lainnya, disiapkan untuk para petugas. Dengan demikian baparting dapat pelayanan parkir selama 24 jam setiap hari. Segala kebutuhan para petugas baparting, tidak terkecuali personalianya akan dinaikkan atau diturunkan oleh pelataran baparting.

SNI
Untuk menghadirkan parting dan baparting diperlukan keterlibatan Standard Nasional Indonesia (SNI). Dalam SNI terdapat sejumlah keterkaitan berbagai kepentingan, seperti: keamanan, kese-lamatan pengguna, keandalan alat, ekonomi, efisiensi, asuransi, dan sumber tenaga (energy) yang berurusan dengan keperluan masyarakat pemakai atau pengguna. Masih banyak aspek lain yang juga harus diperhatikan, antara lain: peraturan pemerintah, berbagai disiplin ilmu penetahuan dan teknologi yang digunakan untuk membuat berbagai bagian. Parting dan baparting dapat selu-ruhnya diproduksi dalam negeri dengan membutuhkan sedikit komponen import. Waktu pem-buatan sarana parker bertingkat: parting dan baparting untuk melayani kebutuhan masyarakat, ditaksir sekitar 6 sampai 12 bulan.

Catatan:
Parting dan baparting telah dipatenkan penulis di Kantor Paten Republik Indonesia Jakarta, dengan judul: ”Struktur Parkir Mobil Susun Bertingkat, tanggal 21 Nopember 2002.

——–selesai——–

Penulis:
H.M.Rusli Harahap
Pamulang Residence G1
Jalan Pamulang-2, Pondok Benda.
Kode Pos: 15416. Tangerang Selatan.
Tel. 021-74631125.

Posted by: rusliharahap | March 3, 2015

Elevator Rumah

Pendahuluan
Harga tanah di berbagai kota besar Tanah-Air dan Mancanegara yang terus membubung mene-lusuri waktu, tidak terkecuali daerah penyangganya, memaksa para pendatang yang menjadi ba-ru menjadi warga memilih mendiami rumah atau bangunan lantai banyak oleh kecilnya lahan yang berhasil dibeli. Banyak dari mereka yang telah membeli sebidang tanah di luar kota besar telah mendirikan bangunan modern (town house) lantai: dua, tiga, dan lainnya, guna mengatasi lahan yang terbatas.
Pada Gambar-I diperlihatkan sejumlah bangunan lantai banyak yang telah didirikan warga di berbagai pinggiran kota-kota besar sejauh ini. Pada bagian atas, diperlihatkan tampak samping rumah atau bangunan berlantai banyak yang telah dibangun, dimana terlihat jelas berapa jumlah lantainya. Kemudian di bawahnya, disajikan pula tampak atas rumah atau bangunan yang sama, sekaligus memperlihatkan denah rumah atau bangunan lantai banyak yang sudah berdiri.

ElevatorRumah.
Gambar-I

Yang menjadi masalah pokok berdiam dalam rumah atau bangunan berlantai banyak, ialah ketika bepergian dari lantai rendah menuju ke lantai lebih tinggi, demikian juga sebaliknya, orang harus menaiki atau menuruni tangga dengan sebilangan anak yang dapat menguras tidak sedikit tenaga (energy). Selama ini, tangga merupakan satu-satunya sarana untuk bepindah antar lantai dalam rumah atau bangunan tinggi yang berlantai banyak diketahui orang. Tulisan ini bermaksud memperkenalkan sarana lain, yang tidak lagi perlu menguras tenaga para penghuni rumah, mulai: anak-anak, kaum perempuan, orang dewasa, sampai orang tua, tidak terkecuali juga kaum kera-bat yang cacat, dengan apa yang kemudian dikenal dengan nama dalam bahasa Indonesia: “bilik-naik-turun”, disingkat: “binatu” dijalankan mesin tenaga listrik.

Binatu yang berkerja sebagai sebuah “bilik” atau “ruang angkut” akan memindahkan para penghuni rumah atau bangunan tinggi yang lantai banyak, dari lantai dasar sampai beberapa lantai lebih tinggi diatasnya, atau sebaliknya menurunkan mereka dari berbagai lantai lebih tinggi kembali ke lantai dasar dengan cepat. Binatu memang dibuat khusus untuk para penghuni rumah atau bangunan tinggi lantai tidak terlalu banyak jumlahnya, berteknologi sederhana: 1. Bolt-Nuts dengan Bevel Gears, atau 2. Rack-Pinions dengan Bevel Gears dan Worm Gears, digerakkan motor induksi rem (brake induction motor).
Dalam bahasa Inggris dikenal orang luas istilah:“cabin elevator”, yakni sarana bepergian antar lantai dalam rumah atau bangunan menjulang yang berlantai sangat banyak, akan tetapi “binatu” diwujudkan sebagai sarana bepergian antar lantai rumah atau bangunan yang tidak terlalu tinggi seperti: dua, tiga, dan sedikit lainnya, sehingga untuk memperkenalkan istilah binatu kedepan, perlu terlebih dahulu dimulai dengan memperkenalkan iatilah: Elevator Rumah, disingkat: ER.

Ketika menaiki anak-tangga dari rendah hingga yang lebih tinggi, orang harus mengerahkan te-naga otot kaki untuk mendaki, namun saat menuruni anak-tangga tenaga otot kaki yang dikerah-kan berkurang karena menurun, sehingga tidak sampai melelahkan. Karena ER menggunakan tenaga listrik yang diperoleh dari PLN atau sumber tenaga listrik lain, para penghuni rumah atau bangunan bertingkat yang mempunyai ER tidak lagi perlu mengerahkan tenaga otot kaki masing-masing karena telah diambil alih tenaga listrik. Itulah sebabnya mengapa ER sangat membantu: orang-orang tua, kaum wanita, dan anak-anak, termasuk kerabat penyandang cacat jasmani yang sedang bepergian antar lantai dalam rumah atau bangunan bertingkat.
Selain dari itu, perlu diketahui juga, tangga bersama anak-anaknya menempati ruang yang lebih besar dalam sebuah rumah atau bangunan bertingkat, karena perlu diletakkan terbaring dengan sudut kemiringan tertentu, supaya orang dapat bergerak naik ke lantai yang lebih tinggi, atau sebaliknya bergerak turun ke lantai yang lebih rendah. Akan tetapi ER harus diletakkan benar-benar berdiri tegak dalam sebuah rumah atau bangunan bertingkat agar bekerja baik, dan karena itulah ER menempati ruang lebih kecil dalam rumah atau bangunan bertingkat.

Elevator Rumah
Gambar-II memperlihatkan ER yang dibuat dari konstruksi baja melibatkan: kanal-C, atau kanal-H, pipa, plat, dan lain sebaginya, dilengkapi: sistim mekanik, sistim listrik, kendali sistim elek-tronik hingga pantau, sehingga para penghuni rumah atau bangunan bertingkat dapat memerin-tahkannya naik dari lantai dasar menuju lantai lebih tinggi dikehendaki, atau sebaliknya turun dari sejumlah lantai lebih tinggi ke lantai dasar, dengan hanya menekan Tombol Naik (TN) atau Tombol Turun (TT) ditempatkan dekat pintu ER. Gambar-IIa memperlihatkan pintu ER terlihat dari dalam rumah atau bangunan bertingkat dua lantai.
Dalam pembuatan, dibedakan dua macam ER, masing-masing: ER Topang Keliling, dising-kat ERTK (Peripherally Braced Home Elevator, PBHE) sebagaimana yang terlihat pada Gambar-IIa, dan ER Topang Tengah, disingkat ERTT (Centrally Braced Home Elevator, CBHE).

ERTK adalah konstruksi baja berupa sangkar bentuk persegi atau bundar, didalam mana sebuah bilik atau kabin dapat bergerak naik atau turun menolong penghuni rumah atau ba-ngunan bertingkat bepindah dari lantai yang satu menuju lainnya digerakkan tenaga listrik, sebagaimana terlihat pada Gambar-IIb. Adapun ERTT adalah sebuah tiang penyangga tengah terbuat dari dari beton bertulang atau baja, di luar mana sebuah bilik atau kabin terbuat dari konstruksi baja wujud sangkar bangun persegi atau bundar dapat bergerak naik atau turun me-nolong penghuni rumah atau bangunan bertingkat berpindah antar lantai yang dijalankan tenaga listrik sebagaimana terlihat pada Gambar-IIc.

Berlainan dari lift dalam gedung atau bangunan tinggi, ERTK dan ERTT tidak memerlukan samasekali kabel baja penggantung bilik bersama perlengkapannya, akan tetapi memerlukan pelataran atau platform untuk lantai dengan empat Alat Angkat (AA) atau Lifting Device (LD) berteknologi sederhana: 1. Bolt-Nuts dengan Bevel Gears, atau 2. Rack-Pinions dengan Bevel Gears dan Worm Gears; digerakkan motor induksi rem, sebagaimana yang terlihat pada Gambar-IIb.

Keempat AA (LD) yang ada pada pelataran akan bersama-sama menaikkan bikik atau kabin ERTK atau ERTT serentak bersama penghuni rumah atau bangunan bertingkat didalamnya kea-tas, atau sebaliknya bersama-sama menurunkan semuanya kebawah serentak, dilakukan sistim mekanik yang terdapat dalam ruang atau kompartmen penggerrak berada dibawah lantai bilik atau kabin. Dan bilik atau kabin ERTK atau ERTT tidak dapat turun sendiri atau merosot oleh berat sendiri berikut penghuni rumah atau bangunan bertingkat dalamnya, kecuali dijalankan motor induksi rem. Dengan perkataan lain, bilik atau kabin ERTK atau ERTT berikut penumpang didalamnya tidak dapat bergerak naik atau turun, manakala tidak menerima perintah untuk melakukannya.
Tenaga listrik didatangkan dari PLN atau sumber tenaga listrik lain lewat kabel daya menuju panel ER, dan pengantar lemas (flexsible wire) menuju bilik ER. Pilihan lain, ialah menggunakan tiga rel tembaga tersekat yang dipungut tiga sikat karbon. Manakala PLN gagal menyalurkan tenaga listrik, sebuah sumber tenaga listrik darurat (emergency power supply) perlu disediakan di dalam bilik ER.
Tenaga listrik diperlukan untuk menggerakkan motor induksi rem yang terdapat dalam ruang atau kompartemen penggerak di bawah lantai bilik atau kabin, sistim kendali elektronik, dan penerangan diperlukan.
Dengan peladangan cahaya matahari yang kian banyak dikembangkan orang kedepan, begitu juga peladangan tenaga angin, kedua sumber tenaga listrik akhir ini dapat digunakan pada sejumlah daerah terpencil yang belum lagi terjangkau PLN.
Sebuah Pengatur Logika Terprogram (PLT) atau Programmable Logic Controller (PLC) diper-lukan dalam ER sebagai antarmuka (interface) antara para penghuni rumah atau bangunan ber-tingkat dengan sistim elektromekanik (electromechanical system) yang menjalankan ER sehing-ga yang akhir ini mengerti perintah yang diberikan, tidak terkecuali sejumlah pemutus batas (li-mit switches), saluran kendali (control wirings), dan berbagai tombol (push buttons) yang diper-lukan.
Selain dari itu perlu ditentukan pula standardisasi panjang poros (shaft length) ERTK dan ERTT dalam bangunan tinggi, seperti: satu tingkat, dua tingkat, dan lainnya yang digunakan dalam rumah atau bangunan bertingkat, termasuk Daya Angkut Penumpang (DAP), atau Passenger Carrying Capacity (PCC), dari bilik atau kabin ER, misalnya: 2, 4, 6, 8 orang, dan lainnya.

Antuk menaikkan seorang penghuni rumah atau bangunan bertingkat, dimulai dengan menurunkan ER (ketika sedang berada diatas) sedemikian rupa sehingga lantainya rata dengan lantai dasar. Dengan menekan Tombol Buka (TB) dari luar, pintu ER akan terbuka dan penghuni dapat masuk. Lalu Tombol Tutup (TT) ditekan dari dalam ER, menyebabkannya bergerak naik. ER akan berhenti setelah menyentuh tombol batas atas. OB kemudian ditekan dari dalam, dan peng-huni rumah atau bangunan bertingkat keluar ke lantai tujuan. Selesai.

Untuk menurunkan penghuni rumah atau bangunan bertingkat, dimulai dengan menaikkan ER ( ketika sedang berada dibawah) sedemikian rupaa sehingga lantainya rata dengan lantai dimana penghuni berada. Dengan menekan TB dari luar, pintu ER akan terbuka dan penghuni dapat masuk. Kemudian TT ditekan dari dalam ER, menyebabkannya bergerak turun. ER akan ber-henti setelah menyentuh tombol batas bawah. OB kemudian ditekan dari dalam, dan penghuni la-lu keluar ke lantai dasar. Selesai.

Perlu dicatat, ER dirancang untuk rumah atau bangunan satu tingkat atau berlantai dua “berporos tunggal” (singgle shaft), yang dinamakan dengan ER-1. ER juga dapat dirancang berporos tunggal untuk rumah atau bangunan dua tingkat atau berlantai tiga, yang dinamakan ER-2. ER juga dapat dirancang untuk rumah atau bangunan tiga tingkat atau berlantai empat, yang dinamakan ER-3. Dan begitu juga selanjutnya. Bagi warga yang mendiami rumah atau bangunan berlantai tiga, dapat memilik memilih membeli tiga buah ER-1 dan diletakkan pada sejumlah tempat berlainan, selain membeli sebuah ER-2 terpsasang di satu tempat.

Gambar-II memperlihatkan Elevator Satu Tingkat (EST), atau Single Story Elevator (SSE), yang dinamakan ER-1, dan dbutuhkan oleh rumah atau bangunan satu tingkat atau dua lantai. Gam-bar-IIa memperlihatkan tampak depan ER-1, dimana garis putus-putus memperlihatkan ruang yang ditempatinya, yang dapat dinamakan: “Kubikel EST”, atau “SSE Cubicle”.

Gambar-IIb memperlihatkan tampak depan ERTK dan Gambar-IIc menunjukkan tampak depan ERTT, keduanya dirancang untuk dipakai dalam rumah atau bangunan satu tingkat. Pada bagian atas setiap gambar, diperlihatkan tampak atas masing-masing darinya. Mewujudkan ERTK dan ERTT sebagai “Kubikel ESL” (SSE cubicle) bertujuan memudahkan: pembuatan, pengujiannya (testing), pengiriman (transportation), pemasangan (installation) di tempat, dan pemakaian awal (commissioning) ER dalam rumah atau bangunan bertingkat disaksikan pembuatnya.

ER-I

Gambar-II

Untuk rumah atau bangunan satu tingkat, atau dua lantai, dapat dibeli sebuah Kubikel EST “langsung pakai” (ready for use) yang terlihat pada Gambar-IIb, atau Kubikel EST Gambar-IIc. Kubikel EST dimasukkan kedalam rumah atau bangunan bertingkat pada lantai dasar, baik yang disorong dari luar maupun dalam rumah atau bangunan bertingkat, tergantung keadaan, kemu-dian dibautkan ke pondasi yang telah disiapkan. Setelah sambungan listrik dipasan, dan arus listrik PLN dialirkan, Kubikel EST lalu melayani penghuni rumah atau bangunan bertingkat, menaikkan psrs penghuni dari lantai dasar ke lantai tujuan, begitu juga sebaliknya. Dengan demi-kian Kubikel EST diserahkan pabrik pembuatnya dalam keadaan “siap pakai”, artinya langsung dapat digunakan para penghuni rumah atau bangunan bertingkat pemesan dengan “jaminan pur-na jual” (warranty period) selama satu tahun.
Dengan menggunakan ER, para penghuni rumah atau bangunan bertingkat tidak perlu lagi me-ngerahkan kekuatan otot kaki masing-masing bepergian antar lantai dalam banguan moderen (to-wn house) yang mereka didirikan, mulai dari pusat kota hingga daerah pinggirannya. ER juga memudahkan orang-orang tua, kaum wanita, dan anak-anak, tidak terkecuali kerabat penyandang cacat jasmani, karena berkeliaran antar lantai bebas kendala.

SNI
Untuk membuat ERTK dan ERTT dalam rumah atau bangunan berlantai banyak tidak diragukan lagi perlunya keterlibatan Standard Nasional Indonesi (SNI). Dalam SNI tercantum keterkaitan beragam kepentingan, antara lain: keamanan, keselamatan, keandalan, ekonomi, efisiensi, sum-ber tenaga (energy), ketertiban; dan tidak terkecuali peraturan keselamatan, peraturan pemerin-tah, asuransi, dan sejumlah hal lainnya; juga berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan bagi pembuatannya. Elevator rumah atau binatu semuanya dapat dibuat didalam negeri mendatangkan hanya sedikit komponen import. Waktu menghadirkan sebuah Kubus EST (SSE Cubicle): ER-1, ER-2, ER-3 dan lainnya, untuk para penghuni rumah atau bangunan lantai tidak terlalu banyak diperkirakan berada sekitar 6 sampai 12 bulan.

Elevator Dalam Kendaraan
a. Kapal Laut
Elevator sejenis ER yang dibutuhkan kapal laut, disebut: Elevator Kapal (EK), atau Ship Eleva-tor (SE), dapat dibuat dengan teknologi yang sama. EK tidak hanya diperlukan dalam kapal laut sehingga para penumpang dapat mudah bepergian antar lantai, tetapi juga untuk memuat pe-numpang kedalam kapal laut dari dermaga yang terdapat di darat. Tangga yang digunakan selama ini benar-benar menyalahi: “hak asasi manusia” di laut. Sejauh ini belum lagi terdapat jaminan terhadap: “keamanan, kenyamanan, dan keselamatan” insan bepergian dengan kapal la-ut, tidak terkecuali ketika naik ke atas kapal maupun meninggalkannya dari dermaga di darat.

b. Pesawatterbang
Elevator sejenis ER untuk pesawatterbang juga dapat dikerjakan, dinamakan Elevator Pesawat (EP) atau Aircraft Elevator (AE). Dengan semakin besarnya ukuran pesawatterbang melayani penerbangan antar benua lagi lagi bertingkat kedepan, para penumpang memerlukan sarana be-pergian antar lantai, yang juga tidak lagi menyalahi hak asasi manusia di udara.

Catatan
Elevator rumah telah dipatenkan di Kantor Paten Republik Indonesia Jakarta, tanggal 14 April 2004, dibawah judul “Penyeberangan Jalan-Raya”.

———–selesai———–

Penulis:
H.M.Rusli Harahap
Pamulang Residence G1
Jalan Pamulang-2, Pondok Benda.
Kode Pos: 15416. Tangerang Selatan.
Tel. 021-74631125.

Posted by: rusliharahap | March 3, 2015

Sarana Penyeberang Jalan-raya

Pendahuluan
Dengan kendaraan bermotor roda: dua, tiga, empat, dan seterusnya meningkat terus menyerbu kota-kota besar dunia dalam perjalanan waktu kedepan, para pejalan-kaki (pedestrian) lalu menemukan sedikit “peluang” untuk menyeberang jalan-raya di lampu-lampu merah bertanda zebra di berbagai kota besar yang padat penduduknya kedepan; dan menjadi persoalan yang semakin sulit dipecahkan oleh para walikota. Adapun yang dikeluhkan para pejalan-kaki ialah: waktu menunggu untuk memperoleh peluang menyeberang yang semakin lama, dan menye-berang jalan-raya yang aman selamat sampai di seberang, kian menghabiskan banyak waktu. Para pejalan-kaki mendapat peluang waktu yang makin pendek di lampu-lampu merah bertanda zebra, terutama pada jam-jam sibuk di hari kerja. Difihak yang sebaliknya, memberi kesempatan kepada para pejalan-kaki menyeberang jalan-raya di lampu-lampu merah bertanda zebra di kota-kota besar yang padat penduduknya menyebabkan antrian panjang kendaraan bermotor pada jam-jam sibuk hari kerja, menimbulkan pencemaran udara yang mengancam kesehatan warga kota.

Untuk mengatasi persoalan diatas, terutama menghindarkan kecelakaan lalulintas di jalan-raya berbagai kota besar yang padat penduduknya di Tanah-Air dan Mancanegara, sudah tiba waktung para pejalan-kaki (pedestrian) hijrah dari: menyeberang jalan-raya “satu bidang” ke menyeberang jalan-raya “dua bidang”, dengan memperkenalkan: Penyeberang Pejalan-kaki Atas (PPA) atau Overhead Pedestrian Crossing (OPC) dan Penyeberang Pejalan-kaki Bawah (PPB) atau Underpass Pedestrian Crossing (UPC), di berbagai kota besar yang padat berpenduduknya di Tanah-Air dan Mancanegara.
PPA adalah satu atau lebih “jembatan penyeberangan” yang menghubungkan dua sisi jalan-raya yang diseberangi para pejalan-kaki ketinggian ± 5 meter diatas permukaan jalan-raya, sehingga beragam kendaraan bebas bergerak terpisah dibawahnya. Sedangkan PPB ialah sebuah pelintasan atau lorong ± 2.5 meter dibawah permukaan jalan-raya untuk para pejalan-kaki, sehingga beragam kendaraan bebas bergerak terpisah diatasnya. Bagi para pejalan-kaki PPB lebih disenangi, karena “menuruni” tangga sedalam ± 2.5 meter dibawah permukaan jalan-raya menguras sedikit tenaga (energy) ketimbang “menaiki” anak-anak tangga tinggi ± 5 meter diatas permukaan jalan-raya.

Penyeberang Pejalan-kaki
PPA dapat dibangun di berbagai kota besar yang padat penduduknya untuk melancarkan lalulintas sekaligus menghindarkan kecelakaan lalulintas di permukaan jalan-jalan raya, sedang-kan PPB hanya dapat dibangun pada sejumlah tempat yang dikenal aman untuk menghindarkan kejahatan. Dalam pelaksanaannya, dibedakan dua golongan PPA yang mendapat sambutan baik warga berbagai kota besar yang berpenduduk padat, yakni: Penyeberang Pejalan-kaki Lurus (PPL) atau Straight Pedestrian Crossing (SPC) sebagaimana yang diperlihatkan Gambar Ia, dan Penyeberangan Pejalan-kaki Terpadu (PPT) atau Integrated Pedestrian Crossing (IPC) sebagaimana tampak pada Gambar Ib.

SaranaMenyeberang Jalan-raya
Gambar-I

Sarana PPL dan PPT
Sebuah PPL dapat terdiri dari satu atau lebih jembatan penyeberangan yang menghubungkan kedua sisi jalan-raya yang diseberangi oleh para pejalan-kaki. Sedangkan PPT terdiri dari seke-lompok jembatan penyeberangan mengitari pertemuan jalan-jalan raya (roundabout). Yang disebut akhir ini tidak perlu merupakan sebuah lingkaran sempurna sebagaimana yang diperlihatkan oleh Gambar-Ia, tetapi dapat juga sebuah bangun tertutup (loop) sebarang bentuk menurut keadaan lingkungan alam yang terdapat di persimpangan jalan-jalan raya (motorway interchange) kota besar berpenduduk padat Tanah-Air atau Mancanegara yang dibicarakan.
Dengan PPL dan PPT sebagai “sarana baru” untuk menyeberang jalan-raya di berbagai kota besar yang padat penduduknya di nusantara dan mancanegara, menyeberang jalan-raya “budaya baru” yang dibantu “sarana naik” dan “sarana turun” dirancang khusus untuk para pejalan-kaki yang melintas di teriknya siang hari, atau dinginnya tengah malam, akan menggantikan “budaya lama” menyeberang jalan-raya “menaiki” dan “menuruni” anak-anak tangga yang menguras banyak “tenaga” (energy). Budaya lama selain sudah ketinggalan zaman, juga tidak lagi layak digunakan ditinjau dari ukuran (standard): keamanan, kenyamanan, perlindungan, dan kese-lamatan jiwa manusia, perlu segera diakhiri di Tanah-Air dan Mancanegara di berbagai kota besar yang padat penduduknya, oleh alasan sederhana: menyalahi “hak azasi manusia” untuk menyeberang jalan-raya: aman, nyaman, dan selamat sampai ke seberang; dewasa ini semakin dikuasai atau didominasi mesin bikinan manusia dimana-mana di hampir seluruh penjuru dunia.

Elevator Pejalan-kaki
Yang dinamakan “sarana naik” tidak lain dari sebuah “bilik-angkut” dinamakan juga “ruang-angkut” atau lebih popular dengan istilah: “kabin elevator” yang bergerak keatas, sedangkan “sarana turun” ialah bilik angkut yang sama tetapi sedang bergerak kebawah; keduanya tidak lain dari sebuah “kabin elevator” yang dirancang khusus untuk menaikkan atau menurunkan para pejalan-kaki menyeberang jalan-raya sebagaimana yang terlihat pada Gambar-II, berteknologi sederhana: 1. Bolt-Nut dengan Bevel Gear, atau 2. Rack-Pinion dengan Bevel Gear dan Worm Gear, dijalankan motor induksi rem (brake induction motor).
“Ruang angkut” akan menaikkan para pejalan-kaki dari permukaan jalan-raya menuju PPL atau bagian PPT di suatu ketinggian, atau sebaliknya menurunkan para pejalan-kaki dari sisi lain PPL atau bagian PPT suatu ketinggian kembali ke permukaan jalan-raya di seberang; dan “ruang angkut” inilah yang kemudian dinamakanaa; Elevator Pejalan-kaki (EP) atau Pedestrian Elevator (PE). Dengan meninggalkan “budaya lama” dan hijrah ke “budaya baru”, para pejalan-kaki dari semua generasi mulai yang normal hingga kaum disable, dimanapun di muka bumi ini, akan menyeberang jalan-raya berbagai kota yang padat penduduknya dengan: aman, nyaman, dan sselamat terbaik di dunia.

Dengan hijrah ke budaya baru, para pejalan-kaki warga kota besar yang padat penduduk yang menyeberang jalan-raya, akan pertama kali dinaikkan EP ke PPL atau bagian PPT ketinggian ± 5 m diatas jalan-raya. Lalu membiarkan mereka berjalan kaki diatas permukaan datar (hori-zontal) sepanjang PPL atau bagian PPT; kemudian dari sisi lain PPL atau bagian PPT, para pejalan-kaki akan diturunkan EP lain kembali ke permukaan jalan-raya seberang.

Tenaga listrik yang diperlukan untuk menaikkan atau menurunkan EP, menggerakkan sistim listrik, elektronik dan lainnya, tidak terkecuali menyalakan penerangan, diperoleh dari PLN. Sumber tenaga listrik lain yang juga dapat digunakan ialah peladangan sinar matahari dikendalikan sistim elektronik. Begitu juga tenaga listrik diperoleh dari peladangan tenaga angin.

Daya angkut atau kapasitas EP digunakan tergantung dari rancangan ukuran dan luas lantainya. Semakin luas lantainya, semakin besar daya angkut pejalan-kaki sebuah bilik atau kabin elevator. Dalam merancang EP perlu ditentukan standard daya angkut pejalan-kaki sebuah EP, seperti: 10 orang, 20 orang, 30 orang, dan lainnya.
PPL dan PPT dapat dibangun dari beton bertulang seperti tempat berjalan kaki setinggi ± 5 meter diatas jalan-raya yang dilalui para pejalan-kaki, juga konstruksi baja seperti EP lengkap dengan ruang-angkutnya. Sebagai bagian dari konstruksi beton, beton pratekan (reinforced concrete) dapat dimanfaatkan, seperti: jembatan lurus, jembatan terpadu, dan bermacam tiang penyangga yang dibutuhkan. Dalam pembuatan EP, diperlukan juga baja kanal-C atau baja kanal-H, pipa baja, plat baja, dan lain sebagainya, tidak terkecuali untuk pagar pembatas dan pengaman, agar lebih ekonomis.

Terdapat dua macam EP yang dapat dibuat, masing-masing: Elevator Topang Keliling (ETK) atau Peripherally Braced Elevator (PBE) sebagaimana tampak pada Gambar-IIa, dan Elevator Topang Tengah (ETT) atau Centrally Braced Elevator (CBE), yang diperlihatkan pada Gambar-IIb.

EP-I
Gambar-II

ETK adalah sebuah konstruksi baja bangun persegi atau bulat yang menyerupai sangkar, di dalam mana sebuah bilik atau kabin untuk para pejalan-kaki dapat bergerak naik atau turun. Sedangkan ETT, adalah tiang tengah terbuat dari beton atau baja, disekeliling mana bilik atau kabin untuk para pejalan-kaki bentuk persegi atau bulat dapat bergerak naik atau turun. Berbeda dengan lift bangunan tinggi, ETK dan ETT tidak memerlukan kabel baja untuk menggantung bilik atau kabin para pejalan-kaki berikut perlengkapannya, akan tetapi membutuhkan pelataran atau platform untuk lantai termasuk empat Alat Angkat (AA) atau Lifting Device (LD) bertek-nologi sederhana, yakni: 1. Bolt-Nut dengan Bevel Gear, atau 2. Rack-Pinion dengan Bevel Gear dan Worm Gear, yang digerakkan motor induksi rem.

Keempat AA (LD) akan bersama-sama menaikkan pelataran bersama bilik atau kabin serentak menaikkan para pejalan-kaki didalamnya keatas, sebaliknya bersama-sama menurunkan bilik atau kabin berikut para pejalan-kaki kebawah, dilakukan sebentuk sistim mekanik yang terdapat dalam kompartemen penggerrak dibawah lantai kabin. Elevator berikut bilik atau kabin yang ada diatasnya tidak dapat turun dengan sendirinya atau merosot oleh berat sendiri berikut para pejalan-kaki didalamnya, kecuali digerakkan oleh motor induksi rem. Dengan perkataan lain, elevator berikut para pejalan-kaki didalamnya tidak akan dapat bergerak naik atau turun, ma-nakala tidak mendapat perintah untuk melakukannya.

Tenaga listrik mengalir dari jala-jala PLN atau sumber listrik lain melalui kabel daya menuju panel ETK atau panel ETT, dan lewat pengantar daya lemas (flexsible) masuk kedalam bilik atau kabin. Pilihan lain menggunakan tiga rel tembaga tersekat dan dipungut tiga sikat karbon. Manakala jaringan PLN gagal menyediakan daya listrik, sebuah sumber tenaga listrik darurat (emergency power supply) perlu ditempatkan di dalam bilik atau kabin EP.
Dengan peladangan cahaya matahari semakin banyak dimanfaatkan orang kedepan, begitu juga peladangan tenaga angin, budaya baru menyeberang jalan-raya tidak saja terdapat di kota-kota besar yang padat penduduknya, tetapi juga di beragam tempat lain jauh di luar kota besar, dimana “hak manusia” untuk menyeberang jalan-raya dengan: aman, nyaman, dan selamat, harus dilaksanakan.
Sebuah Pengendali Logika Terprogram (PLT) atau Programmable Logic Controller (PLC) perlu terdapat dalam EP, yang bertindak sebagai antarmuka (interface) antara para pejalan-kaki dengan sistim elektro-mekanik (electro-mechanical system) yang menaikkan dan menurunkan bilik atau kabin EP, agar yang akhir ini dapat memahami perintah para pejalan-kaki, begitu juga sejumlah pemutus batas (limit switches), berbagai saluran kendali (control wirings), termasuk sejumlah tombol (push buttons) yang diperlukan.
Sarana Peneyeberang Jalan-Raya Mandiri
Gambar-III memperlihatkan sarana penyeberang jalan-raya berdiri sendiri atau mandiri untuk para pejalan-kaki, sebagaimana tampak atas yang terlihat pada Gambar-IIIa dibawah ini:

busway-01a
Gambar-IIIa

Adapun keterangan dari PPL mandiri yang terlihat dari atas, dari kiri ke kanan, adalah sebagaimana yang dikemukakan dibawah ini:
a. Lajur Angkutan Umum Hilir.
b. Lajur Angkutan Busway Hilir.
c. Lajur Angkutan Busway Mudik.
d. Lajur Angkutan Umum Mudik.
e. Tapak tempat para Penyeberang Jalan Raya Berkumpul atau Bubar:
x – jarak tapak dari Penyeberang Pejalan-kaki Lurus (PPL)
y – jarak tapak dari sumbu jalan-raya yang diseberangi pejalan-kaki.
Kedua besaran ini tidak perlu harus sama di kedua sisi jalan-raya, begitu juga luasnya. Hal ini banyak tergantung dari keberhasilan pemerintah kota membebaskan lahan keperluan para warga menyeberang jalan-raya, men- jadikannya tempat pemberhentian (halte) bus atau busway, menyimak keten- tuan SNI yang berhubungan dengan masalah ini.
f. PPL.
g. EP (Elevator Pejalan-kaki).
h. Tinggi PPL diatas jalan-raya.

busway-01b
Gambar-IIIb

Adapun sejumlah bagian PPL yang tampak dari depan, ialah sebagai berikut:
f. PPL yang menghubungkan kedua sisi jalan-raya diseberangi.
i. Tiang penyangga terdapat ditengah jalan-raya.
g. EP yang terdapat di kedua ujung PPL, diatas tapak kanan dan tapak kiri.
h = ± 5 m ketinggian PPL diatas jalan-raya diseberangi.

busway-01c
Gambar-IIIc

Gambar-IIIc memperlihatkan PPL mandiri terlihat dari samping.
f. PPL pada tinggi penyeberangan jalan-raya.
g. EP terdapat di salah satu tapak.
Saat akan menyeberang jalan-raya, para pejalan-kaki perlu menurunkan terlebih dahulu EP (bilamana elevator sedang berada diatas) sedemikian rupa, hingga lantai bilik atau kabin rata dengan permukaan jalan-raya. Dengan menekan Tombol Buka (TB) dari luar, pintu bilik atau kabin segera membuka, dan para pejalan-kaki dapat masuk. Dengan menekan Tombol Tutup (TT) dari dalam bilik atau kabin, EP akan bergerak keatas dan baru berhenti setelah menyentuh pemutus batas (limit switch) atas. Selanjutnya TB ditekan dari dalam, pintu bilik akan terbuka dan para pejalan-kaki dapat keluar menuju PPL atau bagian PPT. Selesai.
Menurunkan para pejalan-kaki dari tinggi PPL atau bagian PPT, dimulai dengan menaikkan EP (apabila elevator sedang berada dibawah) sedemikian rupa hingga lantai bilik rata lantai PPL atau bagian PPT. Dengan menekan TB dari luar, pintu bilik akan membuka dan para pejalan-kaki dapat masuk. TT kemudian ditekan dari dalam menyebabkan bilik atau kabin bergerak turun, baru akan berhenti setelah menyentuh pemutus batas bawah. Selanjutnya TB ditekan dari dalam membuat pintu bilik atau kabin terbuka, dan para pejalan-kaki keluar menuju jalan-raya sebe-rang. Selesai.
Terdapat nada berbeda yang akan menyertai EP saat bergerak naik maupun turun. Tujuannya untuk memberitahu orang-orang yang berada disekitar bahwa EP sedang bekerja memberi pelayanan kepada para pejalan-kaki yang menyeberang jala-raya.
PPL ditempatkan di berbagai tempat strategis kota besar yang berpenduduk padat dengan kendaraan sangat sibuk melaju pesat, sedangkan PPT ditempatkan mengelilingi sebuah per-simpangan jalan-jalan raya dengan kendaraan sibuk juga melaju pesat. Dengan pemisahan sempurna para pejalan-kaki dari bermacam kendraan berlalulalang, kecepatan rata-rata lalulintas dapat ditingkatkan menuju ke kecepatan ekonomis kendaraan dirancang, demi menghemat pemakaian bahan-bakar, mengurangi pencemaran udara, menyingkat waktu tempuh, dan mematuhi tertib lalulintas. Dan yang disebut belakangan, tidak dapat diperoleh hanya dengan manipulasi aturan lalu-lintas saja (soft-ware atau perangkat-lunak), tetapi harus dengan menghadirkan sarana (hardware atau perangkat-keras) berupa: PPL dengan EP, atau PPT de-ngan EP. Inilah yang dinamakan: Software+Hardware Solution , disingkst SHS, atau Pe-mecahan Perangkat-lunak+Perangkat-keras, disingkat PPP atau 3P, terhadap masalah lalu-lintas di kota-kota besar yang padat penduduknya di Tanah-Air maupun Mancanegara, dimanapun berada di muka bumi.

Penyeberangan Jalan-raya Berbayar
Dengan adanya PPL, PPT, dan EP di berbagai kota besar berpenduduk padat yang siap melayani, setiap orang yang dengan sengaja menyeberang jalan-raya di tempat yang terlarang harus dihukum. Dasar hukum yang mendasarinya jelas, para penye-berang liar akan membuat para pengemudi terkejut dan menurunkan laju kendaraan dibawah kecepatan lalulintas rata-rata yang diperintahkan, menyebabkan pemakaian bahan-bakar boros, pencemaran udara meningkat, peraturan dilanggar, dan lenyapnya waktu yang berharga.
Dengan keberadaan PPL, PPT, dengan EP di berbagai kota besar yang padat berpenduduknya di Tanah-Air maupun Mancanegara, dapat diperkenalkan “menyeberang membayar”, atau “pay crossing” kepada masyarakat. Tujuanny menghimpun dana untuk mengoperasikan dan merawat sarana menyeberang jalan-raya budaya-baru, manakala walikota menolak menggunakan dana pajak masyarakat. Dengan selogan: “Setiap orang dapat bayar menyeberang“, atau “Everyone can pay across”, siapa saja yang benar-benar tidak mempunyai uang, akan langsung diberi uang oleh yang melola untuk menyeberang, atau oleh siapa saja yang berniat membantu membayar atau bersedekah menyeberangkan orang.
Sarana kota budaya-baru ini tidak hanya mendapat pemasukan uang dari para pejalan-kaki yang akan menyeberang jalan-raya. Masih banyak sumber penghasilan lain yang dapat digali yang melola tergantung dari kreatifitas orang yang diberi kepercayaan. Dengan adanya PPL, PPT, dibantu EP di berbagai kota besar yang padat penduduknya di nusantara dan dunia, orang-orang tua demikian juga mereka yang cacat jasmani akan menyeberang jalan-raya dengan mudah, dan sudah tentu orang-orang perempuan dan anak-anak.

Penyeberang Jalan-Raya Tergabung Busway.
Prasarana budaya-baru menyeberang jalan-raya: PPL, PPT, berikut EP dapat dengan mudah bekerjasama dengan layanan angkutan umum, seperti: angkot, metromini, bus, tidak terkecuali busway di berbagai kota besar yang padat penduduknya, antara lain: Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar dan lainnya.
Pada gambar-IV disajikan Penyeberangan Pejalan-kaki Lurus Tergabung Busway atau Terpadu Busway, disingkat: PPLTB. Dengan kehadiran PPLTB para pejalan-kaki akan mudah disebe-rangkan, dan para penumpang busway: anak-anak, kaun permpuan, para disable, hingga orang tua, akan mudah “naik” atau “turun” dari buaway, sebagaimana tampak pada Gambar-IVa bawah ini.

busway-02a

Gambar-IVa

Adapun berbagai bagian dari PPLTB yang terlihat dari atas, ialah sebagaimana dibawah ini:
1. Lajur Angkutan Umum Hilir
2. Lajur Angkutan Busway Hilir
3. Lajur Angkutan Busway Mudik
4. Lajur Angkutan Umum Mudik
5. Tapak di sisi kiri dan sisi kanan jalan-raya, sekaligus Halte Busway
6. Ruang Naik Turun (RNT) penumpang Busway ditengah jalan-raya.
7. EP terdapat dalam RNT ditengah jalan-raya.
8. EP diatas tapak kanan dan tapak kiri kedua sisi jalan-raya.
9. PPLTB yang menghubungkan kedua sisi jalan-raya.

Dengan membangun PPLTB di seluruh Pemberhentian atau Halte Busway, maka semua tangga tempat berjalan kaki naik atau tempat berjalan kaki turun, dan berkelok-kelok mengitari setiap Halte Busway yang ada kini dapat dihilangkan, sehingga pemandangan garis-langit (skyline) Ibukota Jakarta, terlihat semakin indah dan menawan.

busway-02b

Gambar-IVb

Adapun bagian-bagian PPLTB yang terlihat dari muka, ialah:
9. PPLTB yang menghubungkan kedua sisi jalan-raya diseberangi
6. RNT ditengah jalan-raya dengan dua EP berada didalamnya
8. EP yang terdapat di kedua ujung PPLTB, diatas tapak kanan dan di tapak kiri.
h = tinggi PPLTB diatas jalan-raya.

busway-02c

Gambar-IVc
Adapun Gambar-IVc memperlihatkan sebuah PPLTB tampak samping.
9. PPLTB tinggi penyeberangan.
8. EP berdiri di salah satu tapak.
6. RNT ditengah jalan-raya dengan dua EP ada didalamnya.

Mempromosikan Sarana Menyeberang Jalan-Raya Budaya-Baru
Untuk memperkenalkan sarana menyeberang jalan-raya “budaya-baru” kepada para pejalan-kaki (pedestrian) di Tanah-Air dan Mancanegara, dimulai dari pengunjung kawasan Silang Monas Ibukota Jakarta yang tidak menggunakan kendaraan bermotor. Dengan menempatkan PPL atau PPT beserts EP di sejumlah tempat strategis, diantaranya di: jalan Merdeka Utara, jalan Merdeka Timur, jalan Merdeka Selatan, dan jalan Merdeka Barat, warga kota, wisatawan para pejalan-kaki domestik sampai mancanegara akan dengan sukacita masuk dengan “budaya baru”, ke kawasan Silang Monas di kota Jakarta karena itulah pilihan yang terbaik, karena: aman, nyaman, dan terhindar dari kecelakaan tidak diinginkan. Dengan hadirnya PPL, PPT, berikut EP, tak seorang pun yang berfikiran sehat atas kemauan sendiri bersedia meninggalkan “budaya baru”, saat meninggalkan kawasan Silang Monas, karena selain aman, nyaman, dan selamat juga sangat menghemat tenaga.

SNI.
Dalam menghadirkan: PPL, PPT berikut EP tidak diragukan lagi perlunya keterlibatan Standard Nasional Indonesi (SNI). SNI akan melibatkan banyak fihak yang berurusan dengan kepentingan warga kota, antara lain: keamanan, kenyamanan, keselamatan, keandalan, ekonomi, efisiensi, sumber tenaga (energy), peraturan perundang-undangan, peraturan pemerintah, asuransi, dan masih banyak lagi aspek lainnya; juga keterlibatan disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan untuk menghadirkannya. Sarana penyeberang jalan-raya budaya-baru ini dapat dibuat di dalam negeri dan hanya membutuhkan sedikit komponen import. Waktu pembuatan PPL, PPT berikut EP untuk para pejalan-kaki yang akan berkunjung ke Silang Monas di Jakarta diperkirakan sekitar 6 sampai 12 bulan.

Penyeberang Untuk Kendaraan Bermotor
Sarana jalan-raya PPL, PPT, berikut EP mudah dikembangkan juga untuk menyeberangkan kendaraan roda: dua, tiga, dan empat, guna mengalihkan sebagian lalulintas menuju ke jalan samping, jalan seberang, atau jalan bersilang, sehingga kepadatan kendaraan di jalan bebas hambatan, seperti: jalan tol dan jalan lainnya dapat diturunkan kepadatannya dengan segera.
Dengan demiksarana, kendaraan mogok, atau rusak, atau lainnya yang tidak lagi dapat bergerak dapat langsung dikeluarkan dari jalur jalan bebas hambatan.

Catatan:
Gagasan penyeberang jalan-raya ini telah dipatenkan penulis di Kantor Paten Republik Indo-nesia, Jakarta, dengan judul “Penyeberangan Jalan-Raya”, pada tanggal 14 April 2004.

——–selesai——–

Penulis:
H.M.Rusli Harahap
Pamulang Residence G1
Jalan Pamulang-2, Pondok Benda.
Kode Pos: 15416. Tangerang Selatan.
Tel. 021-74631125.

Posted by: rusliharahap | October 26, 2014

Mari Cepat Selamatkan Kedua Ibu!

Mari Cepat Selamatkan Kadua Ibu

Banyak yang telah mendengar keluhan dua Ibu kesakitan
Tetapi, tidak ada yang tahu darimana suara keluhan datang
Keluhan semakin keras bersama waktu, bertukarnya zaman
Mari cepat, selamatkan kedua Ibu kesakitan yang malang!

Pendahuluan
Agama telah mengajarkan bahwa, manusia tidak terkecuali berbagai makhluk lain, datang ke alam fana di muka bumi ditakdirkan oleh Allah Subhanahu Wataala, awalnya (pertama) sebagai ruh (bukan-benda) dalam perjalanan yang panjang. Setibanya di muka bumi, manusia begitu juga makhluk lain melangsungkan lagi perjalanan yang lain (kedua): diawali hadir dalam kandungan, lalu lahir ke dunia sebagai bayi, menjadi balita, anak, remaja, dewasa, orang-tua, kakek/nenek, menjalani usia senja, dan akhirrnya tiba di batas usia. Untuk menunjukkan keberadaan manusia, begitu juga makhluk lain di permukaan planit biru agar tampak, dapat bertegur sapa, berkomu-nikasi, melakukan hal lain, manusia demikian pula makhluk lain mendapat pinjaman benda (ma-teri) dari permukaan bumi untuk tubuh, juga dinamakan orang badan atau jasmani.

Adapun yang disebut belakangan, awalnya diberikan kedua orangtua pada manusia atau makhluk lain ketika sanggama, lalu setelah berhenti menyusu kepada ibu melahirkan, dipinjamkan langsung dari bumi melalui kegiatan: minum, makan, bernafas, berkegiatan, dan diolah Teknologi Makhluk Hidup (TMH) berlangsung dalam tubuh manusia atau makhluk lain melalui reaksi “kimia organik dingin” (cold organic chemistry), memanfaatkan beragam unsur kimia tertera dalam tabel Mendeleyev, seperti: hidrogen, aksigen, karbon, dan lainnya, dimana dua unsur yang disebutkan terdahulu merupakan terbanyak. Setelah menjalani kehidupan alam fana di permukaan bumi serentang hayat membuat “persiapan”, manusia demikian juga berbagai makhluk lain, lalu meneruskan perjalanan awal kembali sebagai ruh, setelah mengembalikan terlebih dahulu badan atau jasmani (materi) dipinjam dari permukaan bumi, guna memenuhi panggilan Allah Subhanahu Wataala.

Dari dua perjalanan yang dikemukakan, yang paling banyak mendatangkan persoalan kepada manusia, adalah yang disebut paling akhir sebagai benda (materi), yakni perjalanan alam fana di permukaan bumi. Tidak dapat disangkal, bahwa dalam perjalanan disebut belakangan, terdapat kewajiban dan tanggungjawab yang harus diemban yang terjabar kedalam 3 (tiga) golongan agar tertib hidup dengan segala yang ada boleh tercipta. Pertama: hubungan dengan Sang Maha Pen-cipta, juga dikenal dengan: “hablumminAllah” yang mendatangkan manusia dengan beragam makhluk lainnya ke Alam Semesta, wabilkhusus bumi sebagai tempat berdiam dan diselimuti atmosfer yang berisi udara; begitu pula air yang memenuhi segala cekungan yang ada pada per-mukaannya, mulai: parit, kolam, sungai, danau, laut sampai dengan samudra; dan daratan seba-gai tempat tinggal dan berusaha. Yang disebut belakangan ini tidak lain dari lahan untuk ber-tanan menumbuhkan bermacam tanaman: pangan, obat, sandang, papan, dan lainnya, dengan cahaya dan panas dipancarkan langsung dari matahari. Kedua: hubungan manusia antar sesam-anya apapun suku dan kepercayaannya, juga dinamakan: “hablumminannas”, tidak terkecuali terhadap aneka makhluk lain yang juga berdiam di permukaan planit biru. Ketiga: hubungan manusia bersama makhluk lain dengan Alam Semesta, dikenal dengan: “hablumminalkaun”, wabilkhusus dengan bumi juga dikenal “planit biru”, oleh keistimewaan yang dimiliki belum semuanya terungkap sampai kini, dan belum lagi ditemukan orang bandingannya dengan planit manapun terdapat di Alam Semesta. Terhadap yang akhir ini sebuah “aturan berprilaku” (code of conduct) diawali “sopan santun” hingga “etika” dan “hukum” perlu disusun segera untuk “ditegakkan” dan “dipantau” pelaksanaannya dengan hukuman yang dikenakan terhadap para pelanggarnya, sehingga kedepan Alam Semesta, wabilkhusus bumi, tempat berbagai makhluk bernyawa berdiam, dapat terjaga kelestariannya dari kerusakan yang ditimbulkan perbuatan ta-ngan manusia tidak bertanggungjawab menelusuri perjalanan waktu menempuh zaman.

Revolusi Industri
Surat Al-Baqarah (Sapi Betina), Ayat 11, telah menyampaikan:

 

2_11
Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi24, mereka menjawab: ”Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”.
24Kerusakan yang mereka perbuat di bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.

Selanjutnya, surat Ali-Imran Ayat 112 mengemukakan pula:

3_112
Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia218), dan mereka kembali mendapat kemur-kaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu219) karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu220) disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.

[Sumber: Al-Quran dan Terjemahannya, hadiah “Kerajaan Saudi Arabia”, berlangsung pada mu-sim haji tahun 1983.]

Masih terdapat berbagai surat lain menyusul kemudian, yang juga mengingatkan manusia agar “tidak membuat kerusakan di permukaan bumi”. Akan tetapi dengan timbulnya revolusi industri di Eropa: gelombang pertama diawali tahun 1760 sampai 1820 dan 1840 (penghujung abad ke-18 dan awal abad ke-19), dilanjutkan gelombang kedua dari 1840 hingga 1870, lalu mengawali kemajuan perekonomian di daratan Eropa silam; menemukan momentum dengan tersebarnya jaringan jalan kereta-api yang dihela lokomotiv uap di berbagai negara benua itu; lahirnya bermacam kapal: mulai sungai, laut, sampai samudra yang dijalankan mesin-uap di Amerika Serikat tahun 1850 menggantikan kapal-layar dihembus angin. Penemuan pesawat-terbang oleh Wright Bersaudara dari Amerika Serikat memasuki abad ke 20, juga menjadi bagian dari semua yang telah menyebabkan perubahan besar di permukaan bumi dalam berbagai bidang kehidupan manusia, seperti: angkutan darat awalnya serba berjalan kaki dimana-mana di seluruh dunia dan gerobak (wagon) hela ternak piaraan seperti: lembu, kerbau, kuda, dan lainnya, menjadi yang dijalankan mesin; juga lahir angkutan laut dijalankan mesin menggan-tikan layar; muncul pula angkutan udara dan antariksa meramaikan langit seputar bumi yang belum terba-yangkan umat sebelumnya akan dapat disaksikan sepanjang hayat di muka bumi.

Pertanian, industri, tambang, dan lain sebagainya kemudian beralih dari serba dikerjakan tenaga manusia dibantu hewan, menjadi yang samasekali dijalankan mesin. Muncul pula beragam ma-cam mesin perang, sebagaimana yang telah disaksikan orang dalam Perang Dunia ke-I dan ke-II silam, dan sejumlah perang menyusul kemudian, antara lain: perang Korea dan perang Viet-nam, dan lainnya.

Semuanya telah mengubah lingkungan hidup manusia di muka bumi termasuk makhluk lain di dari berbagai zaman yang telah mendahului. Revolusi industri juga telah mengubah hidup komunitas manusia di muka bumi, mulai: masyarakat/sosial, tata-nilai, ekonomi, seni dan buda-ya, kepercayaan, agama, dan masih banyak lainnya di seantero planit, diawali dari negara maju hingga dengan negara yang tengah berkembang. Revolusi industri diawali dari Inggris, meluas ke seluruh Eropa, lalu menyebar ke Amerika Utara, kemudian Jepang, akhirnya melanda dunia, dan tidak terkecuali Indonesia. Revolusi yang awalnya dianggap sebagai “berkah” kepada umat yang hidup di muka bumi dengan kehadiran beragam sarana angkutan dijalankan mesin yang memudahkan orang bepergian kemana-mana, tidak terkecuali menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci di Mekah dan Madinah, Saudi Arabia, naik pesawatterbang.

Akan tetapi, setelah lebih dari dua setengah abad waktu berlalu, umat manusia kemudian sadar, bahwa revolusi industri diawali darii Eropa silam, ternyata menjadi “pembawa bencana” kepada umat dan makhluk lain di permukaan bumi, dengan semakin seringnya muncul badai berembus dengan “kecepatan pesawatterbang tinggal landas”, dan salah satu darinya, ialah yang telah “meratakan kota Tacloban” yang berada di Filipina belum lama berselang.

Surat Ar-Rum, ayat 41, tercantum dalam Al-Quran, telah memperingatkan kepada umat:

30_41
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, su-paya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Tampaknya peringatan surat Ar-Rum, ayat 41, sekarang sedang berbuat merasakan kepada umat di muka bumi “sebahagian dari akibat dari perbuatan tangan mereka, agar kembali ke jalan yang benar”.

Sudah sejak ratusan ribu tahun berlalu, terjabar kedalam berbilang zaman silam, Allah Subha-nahu Wataala mengutus para Nabi datang ke dunia untuk mengajarkan kepada umat bagaimana cara menjalani kehidupan alam fana di permukaan bumi, mulai kewajiban dan tanggung jawab yang harus diemban, agar manusia begitu juga makhluk lain sebagai bagian dari Alam Semesta, wabilkhusus bumi, dapat berlangsung dengan tertib dan aman. Tiga orang Rasul yang tampil belakangan menemui umat, sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran, ialah: Nabi Musa AS yang membawa Kitab Taurat kepada umat Yahudi, kemudian disusul Nabi Isa Al-Masih AS yang membawa Kitab Injil untuk kaum Nasrani, dan terakhir Nabi Muhammad SAW yang membawa Kitab Al-Quran untuk umat Muslim. Selain menyempaikan berbagai Kitab Suci yang memuat beragam surat memuat bermacam ayat, ada juga cara hidup yang diteladankan para Ra-sul diriwayatkan para penulis hadis yang telah luas disebarkan.

Sebagai benda (materi) ciptaan Ilahi terbuat dari bahan asal dari permukaan bumi lewat TMH, manusia begitu juga makhluk lain akan menghadapi banyak persoalan dan masalah dengan keragaman masing-masing menempuh hidup alam fana di muka bumi mulai dari kandungan, lahir sebagai bayi, menjadi balita, anak, remaja, dewasa, orang tua, kakek/nenek, menjalani usia senja, dan tiba di akhir hayat. Setelah sekitar dua tahun menyusu kepada “ibu melahirkan” (birthmother), tanggungjawab mengurus manusia diserahkan kepada “ibu asuh” (caremother). Adapun yang dimaksud dengan “ibu asuh” pada manusia, begitu pula makhluk lain, ialah “bumi” atau “planit biru”, karena yang disebut akhir ini selain menjadi tempat berdiam bagi insan dan makhluk lain, juga lingkungan hidup menyediakan berbagai kebutuhan hidup alam fana di muka bumi, seperti: udara, air, pangan, obat-obatan, sandang, papan, dan lain sebagainya hingga cahaya dan panas matahari, sebelum akhirnya kembali menghadap Sang Khalik. Itulah sebabnya, mengapa setiap makhluk yang ditakdirkan berdiam di muka sebuah planit dimanapun di Alam Semesta (Al-Kaun) yang sangat luas, akan memperoleh dua ibu, masing-masing: ibu melahirkan dikenal dengan: “Ibu Kandung” (Birthmother), disingkat IK, dan lainnya ibu pengasuh dikenal dengan: “Ibu Asuh” (Mothercare), yang tidak lain dan tidak bukanadaalah planit tempat berdiam di Alam Semesta, dikenal dengan: Ibu Planit, disingkat IP. Tiap negera yang ada di muka bumi mengenal apa yang dinamakan: “ibu-pertiwi”, yakni bagian dari muka bumi yang didiami oleh warga bangsanya. Dengan demikian Ibu Planit, merupahan gabungan dari segala ibu-pertiwi semua bangsa yang berdiam di muka bumi atau planit biru. Itulah sebabnya mengapa planit, dimana manusia dan beragam makhluk lain yang ada di Alam Semesta dinamakan: Ibu Bumi, disingkat IB. Dengan demikian setiap mahluk yang berada di Alam Semesta, di planet manapun ditakdirkan Allah Subhanahu Wataala berdiam, akan dilahirkan IK masing-masing lalu diasuh IP bersama.

 

Earth_Eastern_Hemisphere

Ibu Bumi
Sumber: Google

Kehidupan Alam Fana
Tidak terhitung macam persoalan berikut ragamnya yang dihadapi manusia dalam menjalani hidup alam fana di muka bumi, terjabar kedalam: perorangan, keluarga, kelompok, suku, daerah, nasional, dan internasional. Ada persoalan anak yang baru masuk puber dengan kenakalannya yang membutuhkan perhatian. Ada pula persoalan kemiskinan umat yang diam di permumukaan bumi yang memerlukan pemecahan. Ada lagi persoalan buta huruf yang menghlangi kaum muda mendapat pendidikan diinginkan. Ada persoalan kakek/nenek lemah fisik lagi pikun yang jum-lahnya semakin banyak di negeri ekonomi maju. Ada masalah keyakinan, agama, intelektual, dan banyak lainnya memerlukan perhatian masyarakat dan pemerintah. Ada masalah pembabatan hutan liar di muka bumi yang belum dapat dikendalikan yang berwenang. Ada masalah yang tergolong: kriminal, narkoba, pembajakan, pelanggaran disiplin, keteladanan moral; kejahatan dunia maya, penyadapan informasi, dan masih banyak lagi lainnya. Yang tidak kalah mengkha-watirkan umat yang hidup di muka bumi pencemaran lingkungan, mulai: darat, air (parit, kolam, kanal, sungai, laut, hingga samudra), atmosphere, juga angkasa seputar bola bumi, sejak dimu-lainya “revolusi industri” lebih dari dua abad di daratan Eropa silam. Perlu dicatat, setiap persoalan yang dikemukakan menunjukkan dinamikanya masing-masing, artinya: ada persoalan yang baru muncul, ada lagi yang terus bertahan, ada pula yang hilang untuk sementara lalu muncul tiba-tiba secara tidak terduga. Itulah sebabnya mengapa persoalan yang dihadapi manusia dalam alam fana di muka bumi tidak dapat dingkapkan semuanya, apalagi untuk diperinci satu per satu. Selain dari itu, bermacam persoalan ini tampil berkejaran masing-masing menuntut penyelesaian, karena apabila terlambat, mungkin dapat menimbulkan bencana atau marabahaya kepada manusia, atau makhluk lain yang hidup di bumi.

Rumah Ilahi
Selama Nabi Muhammad SAW hidup di muka bumi silam, beliau telah menganjurkan umat mendirikan mesjid. Mesjid adalah “baitullah” yakni “rumah Ilahi”, karena tempat berdirinya ditemukan oleh mereka yang telah memperoleh petunjukNya, sedangkan dana pembangunannya didapat dari mereka yang telah rela berbagi rezeki, karena hati merepa pun telah digerakkanNya. Tidak kurang dari 1.000.000 Mesjid yang telah berdiri di Nusantara, besar dan kecil, tersebar dari desa hingga ke kota, kecil sampai besar, tidak terkecuali Ibukota negeri. Lebih banyak lagi mesjid telah dibangun di bagian dunia lain diluar Tanah-Air. Seluruh rumah Ilahi menjadi tempat untuk beribadah kepada Yang Maha Esa (Hablumminallah) sebagaimana yang diungkapkan dalam Surat Ali-Imran, Ayat 112; juga tempat untuk bersilaturrakhmi antara semua umat (Hablumminannas), guna menyebarluaskan dan memperdalam keimanan beragama juga menim-ba beragam ilmu pengetahuan yang disemaikan Allah Subhanahu Wataala ke Alam Semesta, diawali dari langit hingga kedalaman perut bumi. Dengan telah timbulnya “revolusi industri” di muka bumi, kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia dan tidak terkecuali Tanah-Air, serta menimbulkan berbagai macam pencemaran terhadap lingkungan hidup makhluk mulai: darat, laut, udara, hingga ke antariksa, dan berlangsung lebih dari dua abad lamanya, maka tidak ada pilihan lain khususnya bagi umat beragama, dan umumnya bagi umat manusia, mengambil langkah nyata menghilangkan “penyebab” pencemaran lingkungan hidup sejak dari awal revo-lusi industri hingga dengan saat ini, dari permukaan bumi.

Dalam menanggulangi pencemaran lingkungan hidup yang ditimbulkan “revolusi industri” diawali dari Eropa silam, yang kini kian meresahkan IB (Ibu Bumi) yang bertugas mengasuh bermacam makhluk yang hidup di muka bumi, Surat Ali-Imran, Ayat 112, perlu dilengkapi dengan Surat Ar-Rum, Ayat 41, mengatakan: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut dise-babkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Dengan Surat Ali-Imran, Ayat 112, “revolusi industri” belum memasuki kehidupan umat di muka bumi dan manusia masih berpandangan “duologi”, yakni: HablumminAllah dan Hablum-minannas semata. Akan tetapi dengan telah berlang-sungnya “revolusi industri”, diawali dari Eropa lebih dari dua abad silam, dan telah dengan jelas memperlihatkan tanda-tanda perubahan iklim nyata di muka bumi; peringatan Surat Ar-Rum, Ayat 41, perlu segera dilibatkan untuk menyelamatkan: IB (Ibu Bumi) dan IK (Ibu Kandung). Gabungan dari peringatan Surat “Ali-Imran, Ayat 112” dengan Surat “Ar-Rum, Ayat 41”, melahirkan pandangan: “trilogi”, yakni: HablumminAllah, Hablumminannas, dan Hablumminalkaun, kini diperlukan untuk periode kehi-dupan umat sesudah “revolusi industri” berlangsung di muka bumi. Pergantian “pandangan hi-dup” ini harus disampaikan dan dikomunikasikan segera kepada setiap orang yang hidup di mu-ka bumi oleh para ahli dakwah, baik yang bertugas dalam berbagai Mesjid maupun Rumah-rumah Suci bermacam kepercayaan lain yang tersebar di muka bumi, dilakukan para rohaniawan, mulai Imam beserta jajarannya di beragam mesjid begitu juga Rumah-rumah suci lain dengan bersungguh-sungguh agar sampai kepada setiap warga bumi dimanapun berdiam. Kesadaran akan perlunya menanggulangi kerusakan yang telah ditimbulkan perbuatan tangan manusia di muka bumi, dan menimbulkan perubahan iklim nyata berakibat malapetaka yang ditimbulkan, menjadi “tugas suci” setiap anak Adam yang hidup di muka bumi apapun keyakinan yang dimi-likinya.

Kedatangan Makhluk
Setelah bumi mendingin dari pijaran bola api yang sangat panas, tumbuh-tumbuhan diperkirakan datang ke bumi pada sekitar 430 juta tahun silam. Dengan hadirnya bermacam tanaman yang dapat menyediakan bermacam pangan, binatang lalu menyusul datang ke muka bumi ditaksir sejak dari 75 juta tahun terakhir, disusul kera menyerupai orang pada sekitar 10 juta tahun silam, dan yang paling belakangan dari semuanya tiba di muka bumi ialah manusia pada sekitar 300.000 tahun yang lalu. Demikianlah hasil penelitian para ilmuwan yang mengkaji kedatangan bermacam macam makhluk ke permukaan bumi dari sudut pandang evolusi yang telah ber-kembang selama ini.

Tidak dapat disangkal lagi, Allah Subhanahu Wataala telah menjadikan TMH kimia organik suhu tubuh (rendah) dalam menghadirkan beragam makhluk yang hidup di muka bumi, seperti: tanaman, hewan, dan manusia memanfaatkan beragam unsur kimia tertera dalam tabel Men-deleyev dengan air sebagai bagian yang terbanyak, sekitar 70% dari berat tubuh. Dengan TMH, setiap makhluk terlahir di muka bumi akan mendapat pangan dibutuhkan, begitu juga beragam kebutuhan hidup lainnya melalui “perjalanan kedua”, yakni kehidupan alam fana di muka bumi, mulai lahir dari kandungan hingga dengan akhir hayat, dibantu panas dan cahaya yang di-datangkan dari matahari. Selain dari itu, TMH juga telah menyiapkan serangkaian teknologi daur ulang yang diperlukan untuk menanggulangi pencemaran lingkungan hidup, ketika beragam makhluk yang sudah menyelesaikan perjalanan hidup alam fana mengembalikan benda (materi) pinjaman dari muka bumi setelah menyelesaikan kehidupan alam fana selama hayat.

Perlu diketahui, TMH ciptaan Ilahi juga memperkenalkan peredaran unsur kimia yang beraneka ragam di bumi menjadikan tubuh atau jasmani beragam makhluk menempuh “perjalanan kedua”. Pertama, bumi meminjamkan beragam unsur kimia yang diperlukan tubuh atau jasmani beragam makhluk, seperti: tanaman, hewan, dan manusia, diperoleh dari kerak bumi kedalaman dangkal, sekitar puluhan meter. Kedua, tubuh atau jasmani yang telah ditinggalkan ruh makhluk yang telah melalui “perjalanan kedua”, dikembalikan lagi ke muka bumi lewat: pemakaman, peneng-gelaman, pembiaran yang akan didaur ulang oleh bermiliard bakteri bertindak sebagai pemangsa (predator), menyebakan jasad tubuh yang dikembalikan terurai kembali menjadi bermacam unsur kimia asal, agar selanjutnya dapat dipinjamkan kembali kepada beragam makhluk yang akan menjalani kehidupan alam fana di muka bumi, yakni: tanaman, hewan, dan manusia baru yang akan lahir. Terhadap yang dikremasi, predator digunakan ialah nyala api yang membakar. Ketiga, TMH menggunakan reaksi kimia organik, lawan dari reaksi kimia an-organik, yakni “cara dingin” untuk menghadirkan beragam makhluk alam fana di muka bumi, dimulai dari dalam kandungan, lahir sebagai bayi, balita, anak, remaja, dewasa, orang tua, kakek/nenek, menjalani usia senja, dan sampai ke akhir hayat, tidak terkecuali kemandirian dimiliki setiap makhluk, seperti: kepribadian, kecerdasan, dan lain sebagainya kini masih belum banyak yang terungkap kepada manusia hingga saat ini.

Penduduk Bumi
Sampai saat ini jumlah penduduk bumi masih terus bertambah menelusuri perjalanan waktu. Pada ketika Nabi Muhammad SAW menerima Surat Al-Alaq, diantarkan Malaikat Jibril pada tanggal: 6 Agustus Tahun 610 M (Masehi) di Gua Hira silam, jumlah manusia yang berdiam di muka bumi ditaksir semuanya 200.000.000 orang. Setelah 1150 tahun waktu berlalu, lebih dari satu Milenium menjelang diawalinya “revolusi industri” di Eropa silam, warga bumi semuanya telah meningkat menjadi 720.000.000 orang, dengan pertumbuhan rata-rata penduduk: 452.000 orang setiap tahun. Lalu pada tahun 1850 M, manusia yang berdiam di permukaan bumi telah mencapai 1.200.000.000 (satu Miliar dua ratus juta) orang. Kemudian pada tahun 1950 M, seratus tahun kemudian, umat yang berdiam di muka planit biru telah mencapai 2.500.000.000 orang, dengan pertumbuhan rata-rata penduduk: 13.000.000 orang per tahun. Dari apa yang telah dikemukakan diatas, tampak jelas adanya “perubahan” kenaikan rata-rata penduduk bumi dalam rentang waktu satu milenium, dari: 0,452 juta orang per tahun, menjadi: 13 juta orang per tahun dalam periode waktu seratus tahun kemudian. Perubahan kenaikan rata-rata penduduk mencolok, dari “hamper landai” menjadi “hampir tegak”, tidak diragukan lagi akibat telah timbulnya “revolusi industri” yang sudah melanda dunia, karena telah terdapat begitu banyak kemudahan hidup yang diperoleh manusia melalui “perjalanan kedua”, yakni kehidupan alam fana di muka bumi dibandingkan dengan berbagai zaman sebelumnya. Pada tahun 2000 M silam warga bumi telah melampaui 6 Miliar orang, lalu pada tahun 2011 M mencapai 7 Miliar orang. Ramalan kedepan menunjukkan pada tahun 2025 M warga bumi akan berjumlah 8 Miliar orang, dan tahun 2043 M mencapai 9 Miliar orang, kemudian memasuki abad pertama Milenium ketiga akan melampaui 10 Milyar orang. Grafik dibawah ini memperlihatkan perjalanan penduduk bumi lewat sebuah kurva yang dibuat oleh Google.

 

 penduduk

Sumber: Google

Sekilas Sejarah Filsafat
1. Filsafat Islam di Timur Tengah.
Agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW mengantarkan umat Muslim membangun kekhali-fahan Islam di jazirah Arab pada abad ke-7 Masehi, dan meluaskan pengaruh ke sejumlah wilayah sekitarnya. Sebagai akibatnya pertemuan dengan beragam budaya yang telah lebih dahulu ada sebelumnya tidak terhindarkan. Lahirlah “ilmu kalam” yang bermaksud menyam-paikan secara praktis ajaran agama baru kepada umat Muslim, dan melahirkan theologi Islam. Menyusul tampil ilmu Fiqih, Ilmu Tasauf, Filsafat Islam, dan yang akhir ini mengajarkan: perdebatan, dialektika, dan argumentasi, termasuk juga lainnya. Filsafat Islam yang beruru-san dengan masalah yang berkaitan dengan kehidupan, sepert: alam fana, Alam Semesta, nilai, etika, masyarakat, dan lain sebagainya, dihimpun secara beraturan untuk kaum Muslim. Orang-orang Islam lalu tertarik dengan filsafat Yunani, setidaknya pada masa awal abad hijrah, karena dalam keyakinan orang-orang Muslim saat itu, Allah ialah Pencipta dari segalanya, dan ilmu pengetahuan diturunkan dan disebarkan ke Alam Semesta bertujuan tidak lain mengantarkan umat ke pemahaman lebih dalam tentang Dia, dan segala apa yang sudah diciptakanNya.

Tidak lama sesudah kekhalifahan Islam melebarkan sayap yang pertama, Bani Abbasyiah me-merintahkan rakyat menghimpun semua manuskrip Yunani yang beredar untuk menaikkan citra. Sebilangan filosof Muslim kemudian menjadi terkemuka Timur Tengah sejak dari saat berse-jarah itu, antara lain: Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al Gazali, Ibnu Bajah, Ibnu Thufail, dan Ibnu Rusyd. Mulai dari abad ke-9 Masehi, kekhalifahan Al-Makmun besama penerusnya, menjadi giat memperkenalkan filsafat Yunani kepada masyarakat muslim di bumi bangsa Arab.
Setelah kekhalifahan Bani Abbasyiah turun dari singgasana pada tahun 750 dari Damaskus, di Kordoba tampil Bani Umayyah yang membangun kekhalifahan di semenanjng Iberia, kala itu lebih dikenal dengan nama Andalusia dari tahun 929 hingga 1031 Masehi, tidak terkecuali ujung Utara benua Afrika pada saat itu. Masa kekhalifahan dengan ibukota Kordoba ini, ditandai oleh kemajuan perdagangan dan budaya dari kedua tepian Laut Tengah, masing-masing bagian Timur diseputar: Yunani, Turki, Jazirah Arab, dan lainnya, dengan semenanjung Iberia, yang kini lebih dikenal dengan Eropa Barat: Portugal, Spanyol, Perancis, dan lainnya. Sejumlah bangunan ternama lagi megah didirikan oleh kekhalifahan Islam silam, dan masih dapat disaksikan di Spanyol kini, antara lain: Mesjid Agung Kordoba dan istana kekhalifahan, yang didirikan masih pada zaman keemasan Bani Abbasyiah itu.

Dalam zaman kekhalifahan Bani Umayyah, Laut Tengah merupakan jalan-air sekaligus urat nadi perdagangan dan pengantar budaya dari kedua tepian Laut Tengah, karena jalan darat di pesisir Utara maupun Selatan Laut Tengah masih terbatas kepada kafilah berjalan kaki dan kereta hela kuda atau ternak peliharaan lain yang amat terbatas jangkauannya. Demikian juga hubungan perdagangan dan budaya antara semenanjung Iberia dengan negara-negara yang terdapat di daratan Eropa Barat, seperti: Perancis, Inggris, Belanda, Jerman, dan lainnya. Jalan-air samudra Atlantik dapat terhindar dari kebekuan musim dingin, tidak lain berkat aliran arus bawah laut teluk Meksiko panas mengalir hingga jauh ke Utara yang amat terkenal itu. Jalan-air samudra Atlantik ini telah berjasa besar mengembangkan perdgangan dan hubungan budaya antara semenanjung Iberia dengan Eropa Barat, sedangkan jalan air Laut Tengah berjasa mengembang-kan tidak saja perdagangan, tetapi juga memindahkan beragam pengetahuan dan budaya dari seputar: Yunani, Turki, Jazirah Arab, bahkan dari Persia dan India, serta lainnya ke Eropa Barat yang berhasi dihimpun dan diolah para pemikir Arab menjelang berseminya zaman renaissance (pencerahan) di daratan Eropa Barat silam.

Perhatian umat Islam kepada filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang dibawah kepe-mimpinan Bani Umayyah ke-5 dikenal bernama: Muhammad ibn Abdurrahman (832-886 M). Pada ketika itu para pemikir dan ilmuwan dari dunia Islam bukan lagi mereka yang tergolong kedalam Muslim orthodox. Mereka bersama kaum bukan-Muslim lainnya ambil bagian dalam menyebarluaskan hasil pemikiran: Yunani, Hindu, dan masa praIslam lain, lewat jalur kekerabatan dan persahabatan bersama kaum Khristiani yang berdiam di Eropa. Mereka bersama-sama menjadikan hasil pemikiran Aristoteles kembali dikenal luas oleh masyarakat Khristiani di Eropa, setelah lama lenyap dari perbendaharaan ingatan mereka. Adapun para pemikir Islam yang amat tersohor ketika itu dapat diketengahkan, antara lain: Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Kindi. Ketiga filosof yang disebutkan akhir ini telah lama memperkenalkan pemikiran: Aristoteles, Neoplatonis, dan lainya kedalam masyarakat Islam di Timur Tengah. Banyak kalangan ketika itu yang menganggap mereka bukan lagi termasuk golongan orang Islam orthodox, bahkan ada yang menganggap mereka bukan lagi filosof Islam menyimak tulisan yang mereka kerjakan. Dibawah ini disampaikan sekelumit tentang para filosof Islam terkemuka pada zamannya.

Al-Kindi (801-873) seorang bangsa Arab keturunan suku Kinda, filosof peletak dasar filsafat Islam, lahir di Basra, Irak. Setelah menammatkan sekolah dasar di kota kelahirannya, kemudian meneruskan pendidikan ke Bagdad, dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, seperti: mathematika, fisika, mistik, dan seni; tidak terkecuali juga yang lain. Ia berjasa memperkenalkan pengetahuan filsafat kedalam dunia Islam di Timur Tengah. Al-Kindi lalu cepat menjadi terkenal di lingkungan “Rumah Kebijakan”, demikian pula dalam kalangan kekhalifahan Abbassyiah, sehingga yang akhir ini menugaskannya menjadi pengawas penterjemahan berbagai macam naskah ilmu pengetahuan dan filsafat dari bahasa Yunani kedalam bahasa Arab. Ia tergolong ilmuwan yang banyak meninggalkan hasil karya tulis yang meliputi: metafisika, etika, logika, psikhologi, pengobatan, pharmakologi, mathematik, astronomi, astrologi, optik. Al-Kindi juga orang yang menyukai persoalan: meteorologi, gempa bumi, dan banyak lainnya yang membumi pada masanya.

Al-Ash’arī (874–936) ialah seorang ilmuwan dan juga theolog Islam dari Timur Tengah ber- nama Al-Ash’arī. Ia lahir di Basra, dan keturunan dari salah seorang sahabat dekat nabi Muham-mad SAW silam. Sebagai seorang muda, ia awalnya berguru kepada Al-Jubba’i, sebuah perguruan theologi Islam dan filsafat Mu’tazilah terkemuka ketika itu. Dan perguruan ini tidak lain dari sebuah “sekolah theologi” yang berlandasan (reasning), yakni hasil pemikiran manusia yang bersifat logis (rational) dan sangat terkenal pada masa itu. Ia mengamalkan ajaran Mu’tazilah dengan penuh kesetiaan sampai dengan usia empat puluh tahun. Kemudian, pada suatu saat di bulan Ramadan, ia bermimpi bertemu dengan nabi Muhammad SAW. Mimpi yang sama ternyata berlanjut hingga tiga malam berturut-turut, memintanya untuk kembali kepadanya, yaitu mengikui tradisi hadis. Mulai dari saat bersejarah itu, Al-Ash’arī lalu meninggalkan ajaran Mu’tazilah, berganti menjadi penentang utama ajaran yang semula dianutnya itu. Segala pengetahuan filsafat yang dikuasainya lalu dikerahkan untuk melawan ajaran, yang sebelumnya dengan setia diikutinya. Karena pengaruhnya yang sangat besar di Timur Tengah ketika itu, umat Islam menjadikan Al-Ash’ari menjadi peletak dasar akidah sunni Ash’ari yang sangat berpe-ngaruh luas, bahkan Imam Al-Ghazali yang tersohor dengan empat kitab “Ihya Ulumiddin” (Menghidupkan lagi ilmu-ilmu agama) yang ditulisnya, juga menjadi pengikut setianya.

Ibnu Sina (980-1037) adalah seorang ilmuwan bangsa Arab lain yang menguasai bermacam bidang ilmu pengetahuan, antara lain: filsafat, astronomi, kimia, geologi, psikhologi, theologi Islam, logika, mathematika, fisika, tidak terkecuali menulis sajak, sebagaimana yang kebanyakan dilakukan ilmuan Arab di Timur Tengah pada ketika itu. Akan tetapi hasil karya yang melam-bungkan namanya di dunia, ialah yang menyangkut penyembuhan penyakit. Buku induk pe-nyembuhan yang dibuatnya tentang pengobatan bermacam penyakit, menjadi buku induk dua universitas ternama di Eropa kala itu, yakni Montpellier dan Leuvant dari Perancis sampai tahun 1650 M.

Al-Ghazali (1058–1111) adalah theolog Islam asal Persia, penggemar hukum Islam, juga fil-safat, tidak terkecuali mistik. Ia menjadi seorang Muslim yang sangat berpengaruh di dunia Islam setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Dalam dunia Islam, ia tergolong seorang pembaharu (mujaddid) keimanan Islam, dan menurut tradisi keagamaan yang dipercaya masyarakat di Timur Tengah, orang seperti dia akan tampil ke dunia sekali dalam seratus tahun. Hasil karya Al-Ghazali mendapat penghargaan yang sangat tinggi dari kalangan Islam yang sezaman, menye-babkannya mendapat gelar sebagai: “bukti Islam”. Yang lain menuduhnya sebagai lawan dari aliran Islam berpandangan Neoplatonis yang pengikutnya juga banyak sekali, juga mereka yang berpandangan helenistik. Al-Ghazali juga berhasil mengembalikan pengaruh kaum Islam ortho-dox yang masih terus mengamalkan ajaran Sufi yang mereka jalankan sebelumnya.

Al-Farabi (1165-1240) seorang sufi bangsa Arab asal Andalusia, juga seorang sufi mistik, dan seorang filosof. Ia menguasai banyak bidang ilmu pengetahuan, seperti: logika, penyembuhan, sosiologi, termasuk analisa posteriori dari Aristoteles. Lewat beragam naskah tulisan dan ko-mentar yang disampaikan, Al-Farabi lalu menjadi tersohor dikalangan umat Muslim di Timur Tengah. Masyarakat intelektual abad pertengahan ketika itu menganugerahkannya gelar: “Guru Kedua”, sebagai seorang penerus ajaran Aristoteles yang setia dari Yunani, dimana yang disebut akhir ini “Guru Pertama”. Al-Farabi menghabiskan sebagian besar masa hidupnya berdiam dan bekerja di kota Bagdad.

Ibnu Rushd (1126-1198) seorang kelahiran Kordoba Spanyol yang wafat di Marrakesh Maroko. Ia seorang yang berasal dari bumi Andalusia, seorang Muslim berpengetahuan yang amat luas meliputi: filsafat Aristoteles, filsafat Islam, theologi Islam, hukum Maliki beserta yurispruden-sinya, logika, psikhologi, politik dan theori klasik seni musik Andalusia, pengobatan, astronomi, geografi, mathematik, tidak terkecuali mekanika gerakan benda langit dari angkasa luar. Ibnu Rushd juga dikenal sebagai peletak dasar “filsafat sekular” yang kini diterima orang secara luas di benua Eropa dan bagian dunia lain. Ia menjadi seorang yang setia membela filsafat Aristoteles, meski berseberangan dengan theologi yang dikembangkan Ash’ari setelah bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW yang juga didukung oleh Imam Al-Ghazali.

Dari bumi Andalusia (Spanyol), karya filsafat yang telah dikembangkan bangsa Arab lalu di-terjemahkan kedalam bahasa Yahudi dan bahasa Latin, untuk dibawa ke Eropa guna mengem-bangkan filsafat modern di bagian dunia itu. Dikalangan para filosof Arab pada masa itu, ada Maimodes seorang Yahudi yang hidup dan bekerja di lingkungan Muslim Spanyol, ambil bagian menterjemahkan karya filsafat Islam dari bahasa Arab ke sejumlah bahasa lain. Terdapat juga seorang kelahiran Tunisia asal Andalusia bernama Ibnu Khaldun dari kalangan ilmuwan Muslim ketika itu, yang kemudian menjadi peletak dasar ilmu kemasyarakatan kini dikenal dengan istilah sosiologi dan histografi, adalah ilmuwan Arab penting lain terkemuka pada ketika itu, meski ia tidak menyebut diri sebagai seorang filosof, tetapi hanya seorang penulis kalam.

Dalam abad pertengahan silam, runtuhnya kekaisaran Romawi di Eropa, demikian juga berpisah-nya Katholik Ortodox dari Eropa Timur dengan Katholik Romawi dari Eropa Barat, telah lama lenyap dari ingatan orang banyak, tidak terkecuali kepandaian membaca dan menulis dengan abjad Yunani. Akan tetapi, dengan filsafat Yunani yang diperkenalkan kembali ke daratan Eropa, hasil terjemahan dari bahasa Arab ke bahasa Latin dan bahasa Yahudi beserta sejumlah catatan dan keterangan dikerjakan para pemikir Arab, menimbulkan pengaruh besar kepada filsafat yang kembali timbul dan berkembang di daratan Eropa ketika itu, dan dampaknya berpengaruh jauh hingga memasuki zaman renaissance (kembali ke zaman Yunani kuno) di bagian dunia itu dalam abad pertengahan lampau.

2. Filsafat Islam di Asia Tenggara.
Setelah muncul di jazirah Arab dan berkembang di kawasan Timur Tengah dan lainnya, agama Islam lalu meluas ke kawasan Asia, tidak terkecuali Asia Tenggara, disebarkan kaum mubaligh dan para pedagang. Ada mereka yang berangkat dari Mekah, lalu ada pula yang dating dari Gujarat (India), ada lagi yang berangkat dari Persia, dan berbagai tempat lainnya. Lalu muncul kerajaan Islam di wilayah Asia Tenggara, berikut perlembagaan Islam, antara lain: pemerintahan, pendidikan, kehidupan, kesusastraan, kesenian, dan tidak terkecuali perekonomian corak Islam. Pada waktu Ibnu Batutah, pengelana asal Maroko singgah di sebuah negeri yang bernama: Samudra Pasai pada tahun 1345 silam, ia bertemu dengan seorang Muslim saleh mazhab Al-Shafi’i menjadi Raja di Samudra Pasai. Tampak jelas dengan demikian ajaran imam Ash’ari yang didukung imam Al-Ghazali telah menebar mazhab sunni Ash’ari di Asia Tenggara.

Kesejahteraan Umat
a. Sistim Ekonomi Bebas, atau Liberal
Dalam zaman merkantilis di Inggris silam, setiap orang boleh mejalankan bermacam usaha (business) untuk mencari nafkah, mulai memproduksi beragam barang (produk), hingga dengan menyediakan layanan bermacam jasa (service), atau keduanya, dalam memenuhi permintaan segala lapisan masyarakat. Semuanya diperdagangkan orang di beragam pasar yang terdapat di-mana-mana. Lalu timbul persaingan diantara para penyedia barang atau jasa atau keduanya oleh tangan-tangan tersembunyi (invisible hands), dengan harga dan mutu (kualitas) barang atau jasa dihasilkan untuk jumlah (kuantitas) dan mutu (kualitas) barang atau jasa terikat dalam suatu kesepakatan dagang. Pendapatan kaum pengusaha ditentukan oleh banyaknya barang atau jasa yang berhasil dijual dalam setahun. Pemerintah bertugas hanya sebagai pengawas dan tatausaha (administrator) yang melancarkan kegiatan dagang, dan samasekali tidak mencampuri urusan para pengusaha menghasilkan barang atau jasa, akan tetapi menyediakan tempat berusaha dengan perangkat aturan dan lingkungan: ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang setara untuk semua, terhadap pungutan (pajak) dikenakan.

Memasuki abad pencerahan, dibekali filsafat dan bermacam ilmu pengetahuan yang diolah dan diantarkan bangsa Arab dari Timur Tengah, landasan berfikir kaum intelektual orang-orang Eropa berkembang sedemikian jauh, yang memungkinkan mereka mengembangkan bermacam pengetahuan tepat guna di sejumlah bagian dunia itu. Ini tampak jelas dengan digunakannya “analisa ilmu”(scientific analysis) untuk mengembangkan mesin-uap, awalnya dipicu pompa air vakum udara yang diperkenalkan Thomas Savery (1650-1715) dari Inggris, dengan menyiram air kedalam bejana berisi uap-bertekanan, lalu diperbaiki Thomas Newcomen (1664-1729) rekan sene-garanya menggantikan bejana dengan silinder berpengisap, membuat James Watt (1736-1819) rekan senegara lainnya selanjutnyaa menciptakan “sumber tenaga gerak” (source of me-chanical energy) pertama di dunia dengan uap-bertekanan yang dibutuhkan banyak orang untuk menggerakkan beragam industri ketika itu. Ketiga orang Inggris ini telah merobohkan kartu: “domino teknologi” pertama di muka bumi, memperkenalkan sumber tenaga alam hasil rekayasa akal-budi manusia, sekaligus membidani diawalinya “revolusi industri” berlangsung di muka bumi dimulai dari Eropa, lebih dari dua abad silam.

Analisa ilmu yang dikuasai segelintir bangsa dari Eropa ketika itu, kemudian diperluas ruang lingkup bahasannya, tidak hanya kepada sumber tenaga gerak dan berbagai industri yang telah dilahirkannya, tetapi juga ke berbagai bidang kegiatan lain, antara lain: politik, sosial, dan lainnya, serta berpuncak kepada kajian “Kesejahteraan Hidup Berbagai Bangsa” di muka bumi sebagaimana yang dikemukakan oleh Adam Smith dari Inggris. Akan tetapi yang jelas, pe-ngaruhnya telah mempengaruhi “sistim ekonomi merkantilis”, yang beralih menjadi “sistim ekonomi kapitalis” di Inggris, dan sejumlah negara Eropa lainnya ketika itu, yang kemudian dikenal dengan “kapitalisme”, karena mendapat amunisi dari perkembangan revolusi industri melaju pesat. Adam Smith kemudian melanjutkan kajiannya tentang: “Memperbaiki Keadaan Dunia”, yang menimbulkan pertanyaan: apakah industrialisasi akan menyejahterakan kehidupan umat di bumi, ditinjau dari angka harapan hidup manusia, jam kerja singkat, dan dibebaskannya anak-anak dan orang-orang tua dari kewajiban bekerja dalam mencari nafkah?
Sejak awal revolusi industri, kapitalisme berkembang sangat pesat di Eropa didukung kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terhimpun dan berkembang pesat di bagian dunia itu. Mobil dengan cepat menggantikan kereta dihela ternak di jalan-jalan raya beragam negara, dia-wali Eropa, kemudian menyebar ke Amerika Utara, lalu Jepang, dan bagian dunia lainnya. Angkutan jalan-baja dihela lokomotif-uap yang membakar batubara melahirkan kereta-api, lalu menebar jaringan ke berbagai negara di benua Eropa melayani angkutan penumpang dan barang, kemudian diexport ke berbagai negara di bagian dunia lain, tidak terkecuali Asia, oleh “ongkos angkut” muatan: penumpang dan barang yang sangat murah. Transportasi air juga ikut ber-kembang, mulai dari: kanal, sungai, danau, laut, hingga samudra yang selama ini dikuasai kapal layar, lalu digantikan mesin-uap karena lebih dapat diandalkan ketimbang hembusan angin; kini telah pula diambil alih mesin diesel. Keberhasilan Wright bersaudara dari Amerika Serikat menciptakan “kapal terbang”, sekarang dinamakan pesawatterbang, memungkinkan dikemkem-bangkannya angkutan udara untuk memindahkan penumpang dan barang menerobos atmosfer bumi melintasi benua. Selain berbagai industri dan sarana angkutan yang telah disebutkan sebelumnya, sumber tenaga gerak hasil akal-budi manusia ini telah pula melahirkan tak terbilang banyak pabrik dan industri berikut keragamannya bermunculan di muka bumi, antara lain: pabrik semen, industri baja, pabrik pengolahan logam, tambang batubara, tambang berbagai mineral, pengeboran minyak berikut kilangnya mulai daratan hingga lepas pantai, industri: plastik, bahan bangunan, kimia, pharmasi, kertas, makanan dalam kemasan; dan masih banyak lagi lainnya.

Dalam perjalanan waktu, kapitalisme lalu berkembang menjadi imperialisme, karena menguasai lahan yang semakin luas di muka bumi, yang akhirnya beralih menjadi tanah jajahan, atau koloni. Kolonialisme selanjutnya melanda dunia, dan menguasai banyak tanah subur yang dija-dikan perkebunan beragam tanaman ekonomi, antara lain: karet untuk ban, kelapa sawit untuk minyak goreng dan lainnya, tembakau untuk rokok, tebu untuk gula, dan lain sebagainya. Peng-galian tambang batubara, minyak bumi dan lainnya, di tanah jajahan diperlukan untuk memasok kebutuhan industri yang terus berkembang di Eropa, Amerika Utara, Jepang yang lapar bahan-baku, dahaga bahan-bakar dan minyak lumas, berlangsung terus jauh menerobos masuk kedalam abad ke-20 silam. Sejak awal dari revolusi industri, kapitalisme telah berhasil mendirikan berbagai industri: mulai ringan hingga berat dan sangat berat di sejumlah negara berbagai bagian bumi. Sebagai akibatnya, tidak dapat dihindarkan timbulnya aliran bahan atau benda (materi) dari dalam perut bumi menuju ke permukaan, berupa: bahan-bakar (batu-bara, minyak bumi, dan gas), beragam mineral berguna (biji besi untuk membuat besi dan baja, tembaga, aluminium, logam mulia, dan lainnya); dan masih banyak lagi lainnya. Bahan-bahan ini dibutuhkan negara-negara yang memproduksi berjenis barang, seperti: sarana dan prasarana angkutan: darat, laut, udara, antariksa; menyediakan perlengkapan dan peralatan militer termasuk berjenis peralatan tempur dan mesin perang, dan masih banyak lagi kebutuhan negara dan masyarakat mulai lokal hingga dengan global. Juga industri penyedia minuman dan makanan dikemas, industri texstil, industri pertanian, industri peternakan dan perikanan, dan banyak lainnya. Aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan ini berlangsung sudah sejak dari dimulainya revolusi industri di muka bumi lebih dari dua abad yang silam, dan masih terus berlangsung sampai dengan hari ini, dan masa akan datang; kini dikenal dengan nama: “aliran benda” (materi)”.

Selain kepiawaian memproduksi beragam barang atau jasa sesuai: harga, mutu, dan jumlah yang disepakati dalam sebuah perjanjian; masalah yang ditimbulkan kapitalisme dewasa ini di muka bumi: pertama limbah-gas hasil pembakaran bahan-bakar (padat, cair, dan gas) terus menerus di-hamburkan ke atmosfer planet biru oleh bermacam sarana angkutan: darat, laut, dan udara, yang mengganggu pernafasan; kedua limbah-cair yang dibuang ke lingkungan mulai dari beragam industri, kegiatan ekonomi masyarakat lainnya, tidak terkecuali asal rumah-tangga dari kota kecil besar hingga besar yang ada di muka di bumi yang dibuang begiu saja ke badan-air (parit, kolam, kanal, sungai, danau, laut, hingga samudra), mencemari minunan dan makanan umat, tidak terkecuali makhluk lain yang menyebabkan gangguan kesehatan, mulai lahir (fisik) hingga bathin (mental); ketiga: limbah-padat rongsokan bermacam sarana angkutan (darat, laut, udara, dan lainnya) hasil beragam industri yang sudah habis masa pakai ekonominya. Juga sarana dan prasarana bermacam industri, hingga tambang, instalasi pengeboran minyak mulai darat hingga lepas pantai; bangkai beragam peralatan elektronik dan teknik digital termasuk gadget dan lain sebagainya. Juga tidak terkecuali pula beragam perabotan dan perlengkapan rumah tangga hasil industri yang tidak lagi digunakan, dan diterlantarkan begitu saja dimana-mna di muka bumi menyita lahan. Sejak dari awal revolusi industri di Eropa silam, ketiga macam limbah ini awalnya dating dari “aliran benda (materi)” yang meninggalkan perut bumi menuju permukaan yang tidak pernah berhenti, dan terus mengalir sampai dengan hari ini.

Tidak dapat disangkal lagi, kini “aliran benda (materi)” yang meninggalkan perut bumi menuju permukaan kian besar jumlahnya dalam satuan “juta metric ton”, sejalan dengan penduduk bumi yang terus meningkat begitu juga aktivitas dan kreativitas mereka selama hayat, bagai bola salju yang tengah menggelinding di lereng gunung Alpen dari Eropa pada musim dingin. Selain dari itu, kapitalisme juga semakin mengendalikan dan menguasai perekonomian dunia. Kaum kapita-lis juga semakian bersaing mendapat bermacam benda (materi) berharga yang mereka perlukan dari dalam perut bumi, baik yang ada di negerinyai demikian juga yang didatangkan dari diluar Tanah-Airnya, membuat ekosistim di muka bumi semkian tidak mudah dijaga kelestariannya. Selain dari itu kapitalisme banyak berpengalaman dibidang menghasilkan barang industri atau komoditi didukung SDM bermutu dan sumber dana global, menyebabkan lingkungan hidup di muka bumi, terutama di dunia ketiga kurang pengetahuan dan lemah pengawasan, tidak dapat terhindar dari exploitasi SDA berlebihan dalam memenuhi permintaan pasar global.

Kini kapitalisme harus mencari jalan, agar “aliran benda (materi)” dari dalam perut bumi menu-ju permukaan tidak lagi berakhir menjadi: 1. “limbah-gas” yang mencemari udara dalam atmosfer yang menyelimuti bumi, 2. limbah-cair dari pemanfaatan air-bersih dalam segala bidang tidak lagi mencemari badan-air di muka bumi, dan 3. limbah-padat rongsokan beragam produk industri ciptaan manusia tidak lagi diterlantarkan orang dimanamana di daratan menyita lahan di muka bumi. Harus dicarikan jalan keluar, agar aliran bahan dari dalam perut bumi menuju permukaan tidak manjadi pencemar: mulai pencemar biasa, pencemar berbahaya, sampai dengan pencemar yang sangat berbahaya bagi makhluk hidup, untuk menghindarkan-nya masuk kedalam tubuh manusia atau makhluk lainnya melaluui: minum, makan, bernafas, dan bekegiatan seharihari, sehingga gangguan lahir (fisik), antara lain: tidak normal bekerja atau berfungsi beragam organ tubuh, tidak terkecuali dampaknya terhadap bathin (mental), antara lain: keanehan berprilaku kegiatan seharihari, kelemahan dalam berfikir, hingga dengan kehilangan ingatan dini, dan lain sebagainya.

Salah satu gagasan yang patut mendapat acungan jempol untuk butir pertama, ialah apa yang kini tengah diujicoba demgan penuh kesungguhan memanfaatkan Bahan-Bakar Hidrogen (BBH). Apa yang sedang dilakukan di muka bumi, upaya hijrah dari “ekonomi bahan-bakar fossil” (fossil-fuel economy) menuju “ekonomi bahan-bakar hidrogen” (hydrogen-fuel economy) untuk sarana angkutan darat, sehingga gas hasil pembakaran yang timbul dalam mesin, dalam hal ini sel bahan-bakar (fuel cell) yang menjalankan mesin listrik hanyalah air. Gagasan ini awalnya diperkenalkan oleh John Bockris dari Pusat Teknik General Motor, Amerika Serikat, pada suatu pembicaraan tahun 1970 silam. Kemudian pada tang-gal 10 October 1997, Richard Daley, walikota Chicago dengan rekannya bepergian dalam kota mengendarai bis dengan bahan-bakar hidrogen, unsur kimia tercantum dalam tabel Mendeleyev dan terbanyak yang ada di muka bumi, dipisahkan dari gas alam lewat proses kimia. Sebuah Sel Bahan-Bakar (SBB) dapat mengubah hidrogen yang dialirkan kedalam SBB menjadi “tenaga lisrik” dan “air”, tanpa melakukan pembakaran, diperkenalkan oleh Ballard Power Systems (BPS) dari Vancover. SBB ternyata “tiga kali” lebih hemat (efisien) dari pengubah “panas” mnjadi “gerak” dengan pembakaran yang digunakan orang kini, seperti: MPL dan MPD.
Bagaimana efisiensi pasangan SBB dengan mesin listrik dapat menjadi “tiga kali” lebih hemat dari MPD yang juga membakar BBH? Bayangkan pada MPD, setelah pemantikan dilakukan, muncul seketika gas (uap) bertekanan dan suhu amat tinggi muncul diatas pengisap (piston), dan panas dipancarkan ke segala penjuru. Hanya kejurusan bawah bersama pengisap yang diubah menjadi gerak (mekanik). Itulah sebabnya mengapa sekitar 25 % panas yang berhasil diubah menjadi gerak, sedangkan 75% lainnya terbuang percuma memanasi mesin, terbuang bersama air pendingin, dan terbawa keluar oleh gas buang. Akan tetapi bagi pasangan SBB dengan mesin listrik, tidak ada pembakaran samasekali. Karena itu 100% “panas” langsung diubah menjadi tenaga listrik lewat reaksi kimia. Ketika tenaga listrik digunakan dalam mesin listrik, timbul panas yang disebabkan pengantar dialiri arus sekitar 25 %. Lainnya masih dalam bentuk listrik, itulah sebabnya mengapa pasangan SBB dengan mesin listrik tiga kali lebih hemat (efisien) dari MPD.
Tenaga listrik dihasilkan dalam SBB disalurkan kedalam mesin listrik yang mengubahnya menjadi gerak untuk menjalankan bis BPS. Gas buang yang dikeluarkan bis, dalam hal ini SBB, hanyalah uap-air yang samasekali tidak tercemar. Sang walikota meminum segelas air yang langsung diambil dari knalpot bis danl berucap “tidak jelek”. Bis dijalankan sel bahan-bakar melaju dengan kecpatan 80 km/jam, menempuh jarak 400 km atau sehari penuh perjalanan bis untuk sekali pengisian BBH.

Untuk butir kedua, guna menghindarkan air-kotor mencemari badan-air yang ada di muka bumi, air-kotor yang mengandung beragam pencemar harus dialirkan kedalam Instalasi Penjernihan Air (IPA) untuk mendapatkan kembali air-bersih. Perlu dikembangkan bermacam IPA, mulai kebu-tuhan rumah tangga ukuran mini untuk desa, kota kecil, hingga kota besar dan kawasan industri yang berukuran raksasa. Dengan demikian, hanya air bersih yang boleh dibuang kedalam badan-air yang terdapat di muka bumi, seperti selokan, kolam, kanal, danau, sungai, laut, hingga dengan samudra. Perlu diketahui, lebih dari 70% berat tubuh manusia, tidak terkecuali bermacam makhluk lain, ialah air. Itulah sebabnya mengapa manusia, demikian juga makhluk lainnya sangat peka terhadap air tercemar; karena manakala yang akhir ini masuk kedalam tubuh lewat aktivitas: minum, makan, dan berkegiatan, akan dapat menyebabkan timbulnya gangguan lahir (fisik), tidak terkecali munculnya ggangguan bathin (mental) tidak diinginkan.

Sedangkan untuk butir ketiga, limbah-padat: rongsokan beragam sarana angkutan (mobil, kapal, pesawatterbang, beragam mesin perang, dan lain sebagainya); begitu juga rongsokan konstruksi baja dan lain sejensnya, tidak terkecuali instalasi tambang mulai daratan hingga lepas pantai, dan masih banyak lagi yang lain. Memasuki milenium ketiga, tampil pula onggokan benda-benda sampah teknologi informasi dan telekomunikasi (komputer, telepon pintar, tablet, dan lain seba-gainya) beralih menjadi limbah. Untuk menghindarkan munculnya tumpukan limbah teknologi elektronik-digital (digital-electronic) diterlantarkan orang berserakan di dimanamana menyita lahan di muka bumi, perlu diciptakan “cadangan berputar” (spinning reseve) berbagai sumber “bahan baku” kebutuhan industri yang menghasilkani bermacam barang (produk) mulai ukuran sangat kecil hingga raksasa. Adapun yang dinamakan cadangan berputar itu tidak lain dari “Bank Bahan Baku”, disingkat BBB (Bank of Raw Materials, disingkat BRM). Sebagaimana yang telah diteladankan TMH (Teknologi Mahluk Hidup) yang menyediakan “pemangsa” (predator) untuk setiap makhluk hidup di muka bumi, sebagai bagian dari rantai makanan yang bertugas “mendaur ulang” beragam jasad yang ditinggalkan ruh, agar tidak mecemari permukaan bumi. Maka sejalan dengan apa yang telah dilakukan TMH diatas, maka terhadap beragam barang hasil industri buatan manusia apapun ragamnya, juga perlu dilakukan cara yang sama yakni menciptakan “mesin pemangsa”, yang bekerja menghancurkan beragam rongsokan barang (produk) hasil industri yang sudah habis masa pakai ekonominya, kembali menjadi bahan baku untuk disimpan kedalam cadangan berputar atau BBB. Dengan cara daur ulang yang demikian rongsokan barang hasil industry bikinan manusi tidak lagi akan menjadi sampah berserakan yang mencemari lahan di muka bumi.

Dengan demikian perlu dihadirkan bermacam Industri Pemangsa (IP), atau Predator Industry (PI), di muka bumi dengan tugas mendaur ulang bermacam barang (produk) hasil industri yang telah habis masa pakai ekonominya. Seluruh IP akan bekerja menjadi pemasok bahan-baku ke BBB, digali dari tambang perkoaan (urban mining) dimanapun di muka bumi, antara lain: baja, tembaga, aluminium, dan lain sebagainya, untuk kembali disimpan dalam cadangan berputar. Masing-masing IP akan menghasilkan lagi berjenis bahan-baku yang diperlukan oleh beragam industri yang menghasilkan beragam barang (produk) yang dibutuhkan pasar, dihasilkan aneka ragam industry manufaktur sampai dengan beragam kerajinan rumah tangga mulai dari kota hingga ke desa. Dengan demikian mereka yang memerlukan bermacam bahan-baku langsung dapat membeli ke BBB, sehingga kedepan penggalian langsung bahan tambang dari dalam perut bumi untuk berjenis mineral asal alam dapat dibatasi untuk hanya kekurangan stok dalam BBB dengan pengawasan ketat. Dengan menyiapkan cadangan berputar di muka bumi, maka ekosis-tim yang telah terjaga baik tidak akan lagi dapat dirusak dengan semena-mena oleh orang-orang yang tidak bertanggung-jawab seba-gaimana yang kini terjadi guna melindungi planit biru, satu-satunya benda langit yang istimewa ada di Alam Semesta, kini diketahui orang telah memasuki usia 4,6 Miliard tahun.

b. Sistim Ekonomi Terpimpin, atau Diktator
Sosialisme tampil sebagai kritik terhadap kapitalisme. Ajaran Marxis lahir dari penolakan terhadap lahirnya “revolusi industry” di Eropa silam. Menurut Karl Marx (1818-1883), industrialisasi akan mengelompokkan komunitas manusia kedalam kaum borjuis (bourgeoisie), yakni kelompok orang yang sedikit bilangannya tetapi memiliki bermacam alat produksi mulai tanah sampai bermacam pabrik hingga industry yang banyak jumlahnya, dan kaum proletar (proletariat), ialah orang-orang yang tidak memiliki apa-apa selain dirinya yang besar jumlahnya melakukan pekerjaan menghasilkan sesuatu dari bermacam alat produksi yang dimiliki kaum borjuis. Marx memandang industrialisasi sebagai dialektika logis pelaku ekonomi kaum feodal menuju kapitalisme yang sempurna, dan yang akhir ini merupakan pendahuluan dari tercapainya komunisme. Dalam sistim sosialis segala macam alat produksi bermacam usaha (business) adalah miliki Negara, dan dikelola pemerintah komunis dengan deologi Marksisme Leninisme. Seluruh warga negara bekerja kepada negara: “memberikan kepada negara sesuai kemampuan, dan memperoleh dari negara menurut kebutuhan. Akan menyalahi moral sosialisme, manakala ada anak bangsa yang menjalankan usaha (business) pribadi menghasilkan barang atau jasa de-ngan mempekerjakan (mengeksploitasi) rekan sebangsanya sendiri, membayar upah (uang) kepa-danya pengganti jasa sebagai imbalan.
Sepeninggal Marx, para pengikutnrya terbelah. Sekelompok yang berkembang di Jerman lalu meninggalkan ajaran revolusi Perancis (1789-1799) yang menewaskan Raja Louis XVI tengah bertahta di negeri itu, lalu menimbulkan bermacam terror dimana-mana di seluruh negeri yang menyengsarakan kehidupan bangsa, dan mencari jalan damai guna memperbaiki nasib kaum buruh di daratan Eropa lewat reformasi. Kelompok lain pengikut kaum Marxist Ortodox K. Ka-utsky, yang dipimpin W.I.Lenin, mengulangi kembali ajaran revolusi Perancis 128 tahun yang silam, akan tetapi kini menggulingkan Tsar Nikolas II dari singgasana di ibukota Rusia Petro-grad, dilangsungkan pada tanggal 7 Nopember 1917, dengan menggerakkan kaum buruh negeri Beruang Merah itu. Revolusi berdarah kaum Bolshevik pimpinan W.I. Lenin berhasil menying-kirkan sang Raja bersama keluarganya ke Ekaterinburg di pedalaman Siberia. Lenin berhasil menyusun pemerintahan diktator proletariat di Rusia didukung kaum Bolshevik dipimpin Partai Komunis tunggal yang menguasai negara tanpa diperbolehkan adanya kaum oposisi dan kritik terhadap pemerintah yang berkuasa.

Pada saat itu, kekaisaran Rusia tengah giat mengembangkan sistim ekonomi kapitalis yang akan bertanggungjawab terhadap kesejahteraan rakyat, sebagaimana yang dilakukan banyak negeri di daratan Eropa pada ketika itu, akan tetapi dengan keberhasilan kaum Bolshevik menggulingkan Sang Tsar dari singgasananya, “sistim ekonomi kapitalis” yang tengah berkembang di Rusia, terpaksa digantikan “sistim ekonomi sosialis” pertama di dunia sesuai ajaran Marx, dan nama Negara pun diganti menjadi: Uni-Sovyet. Dengan demikiann sistim ekonomi kapitalis yang telah dimulai Tsar Nikolas II untuk bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat, langsung bertukar menjadi sistim ekonomi sosialis pertama di muka bumi. Sistim ekonomi akhir ini lalu disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia; pasca perang dunia ke-II menjadi wajib diterima oleh Negara-negara yang kemudian menjadi “satelit Uni-Sovyet”, tidak terkecuali sejumlah negara dunia ke-III dan para anggota negara Non-blok yang berminat mencicipi sistim ekonomi sosialis yang menjanjikan kesejahteraan hidup bangsa.

Ketika negara Beruang Merah itu dilanda kekalutan politik berat, Michail Gorbachov selaku presiden Uni Sovyet memperkenankan dilangsungkannya pemilu, satu-satunya yang pernah terjadi sejak berdirinya negeri Beruang Merah dengan sistim ekonomi sosialis yang dipimpin Partai Komunis. Kemudian keluar sebagai pemenang pemilu RFSR (Republik Federasi Sosialis Rusia) yang berlangsung secara demokratis tanggal 26 Maret 1989, ialah B. N. Boris Yeltsin; padahal yang akhir ini telah menyatakan diri keluar dari Partai Komunis yang masih berkuasa di buni Beruang Merah itu. Rakyat di RFSR, salah satu negara bagian Uni-Sovyet berbentuk federal itu telah memperlhatkan apa yang diinginkannya.

Setelah lebih dari tujuh dekade mengendalikan kekuasaan di Kremlin, kantor pemerintah Uni-Sovyet di Moskow, sosialisme atau sistim ekonomi sosialis ternyata gagal memenuhi janjinya bertanggungjawab mensejahterakan kehidupan rakyat di seantero negeri, oleh ideologi yang telah usang, ternyata hanya membodohi anak bangsa dengan bermaca indoktrinasi orthodox ketimbang mencerdaskan mereka, membelenggu kebebasan individu menyatakan pendapat, dan melanggar hak azasi manusia. Uni-Sovyet pada ketika itu, masih merupakan sebuah negara adidaya dunia, pemimpin Negara Sosialis dari Blok Timur, hilang begitu saja ditelan sejarah dari permukaan bumi. Sebagai gantinya, lahir sejumlah Negara baru, salah satu darinya ialah Federasi Rusia (Russian Federation) yang dipimpin oleh B. N. Boris Yeltsin, kembali beralih menjadi ne-gara demokratis. Yang akhir ini menyambut kembali “sistim ekonomi kapitalis” yang ber-tanggung jawab kepada kesejahteraan rakyat, sebagaimana yang dirintis oleh kekaisaran Rusia silam, untuk memulihkan lagi perekonomian negeri yang sudah porak poranda.

Uni-Sovyet yang berjaya selama lebih dari 72 tahun (1917-1989), berusaha keras membuktikan sosialisme menuju komunisme, sebagaimana yang telah diajarkan ideologi Komunis, akan tetapi dalam perjalanannya ternyata gagal. Sosialisme juga tidak memperlihatkan keunggulan dalam banyak bidang, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi berikut penerapan keduanya dalam meningkatkan kesejahteraan hidup warga bangsa. Apabila dibandingkan dengan Jerman dan Jepang, yang sedemikian hancur di bom sekutu dalam Perang Dunia ke-II silam, hanya dalam perjalanan waktu hanya sedikit lebih dari setengah abad, masing-masing berhasil tampil sebagai raksasa-raksasa ekonomi ke-2 dan ke-3 dunia setelah Amerika Serikat, namun dalam periode waktu tidak banyak berbeda Uni-Sovyet justru lenyap dari muka bumi. Negara adidaya dunia saingan Amerika Serikat itu, juga tampak kelabakan saat menghadapi bencana Chernobyl terjadi pada tanggal 26 April 1986 lalu. Pertolongan datang menghadapi bencana nuklir di Ukraina, sebuah negara bagian negeri itu, kebanyakan datang dari negara-negara kapitalis ketimbang negara-negara sosialis yang sealiran ideologi menghadapi serangan sinar radio-aktif. Perlu diketahui, pada ketika itu “perang dingin” antara Blok Barat dan Blok Timur masih belum lagi berakhir.

Sosialisme juga tidak memperlihatkan pemecahan terhadap persoalan limbah, seperti yang tengah dihadapi negara-negara kapitalis, mulai dari rumah-tangga hingga dengan buangan beragam industri dari ringan hingga berat yang telah melanda berbagai negara kapitalis di dunia ketika itu. Pasca runtuhnya Uni-Sovyet, barulah media berani mengabarkan kerusakan ling-kungan yang telah terjadi di negara bersistem ekonomi sosialis yang berlambang tirai besi. Kerusakan lingkungan juga kemudian terkuak ke media di sejumlah negara satelit Beruang Merah itu, karena lamanya terisolasi dari masyarakat dunia disebabkan perbedaan ideologi, juga ketidak berdayaan sistim ekonomi sosialis mengembangkan beragam prakarsa yang berkaitan dengan menjaga kelestarian ekosistim di muka bumi. Tidak dapat disangkal terseretnya negara-negara anggota non-blok yang menerapkan sistim ekonomi sosialis model Uni-Sovyet untuk mensejahterakan kehidupan bangsa, lalu terjerumus kedalam penanganan lingkungan hidup birokratis yang merugikan ekosistim bumi dari negara bersangkutan.

c. Sistim Ekonomi Romantis
Revolusi industri berkembang di Eropa lalu meluas ke Amerika Utara, kemudian Jepang dan sejumlah bagian dunia lain, tidak disangkal lagi mendapat perlawanan dari kaum penentang lain, antara lain: penulis, kaum intelektual, para penggiat beragam seni, dan lain sebagainya. Kelompok masyarakat di daratan Eropa yang kala itu menolah hadirnya revolusi industri yang digerakkan kalangan pengusaha mendapat julukan: kaum romantis. Kedalam golongan ini termasuk para penyair yang rajin menyuarakan buah fikiran dan suara hati mereka lewat tulisan, seperti: makalah, pembacaan puisi, menuli sajak, dan lain sebagainya. Mereka juga memperton-tonkan karikatur, melakukan pementasan panggung hingga theater, dan masih banyak lagi kegiatan lain yang mereka buat. Kaum romantis berusaha menjaga hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungan hidupnya di muka bumi, bersenjatakan kepiawaian bermacam seni dan kekayaan warisan budaya lewat media bahasa. Apa yang mereka perbuat bertolak belakang samasekali dengan bermacam mesin ukuran gergasi dan bangunan raksasa yang semakin bermunculan di lingkungan hidup mereka pada saat itu. “Dark Satanic Mills” karya William Blake, novel “Frankenstein” tulisan Marry Shelley, dan masih banyak lainnya ingin mengadukan kepada dunia akan ketidak senangan mereka pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di daratan Eropa berwajah ganda. Pernyataan dilontarkan dan prilaku diperagakan semuanya menunjukkan sikap yang tidak senang. Akan tetapi kaum romantis tidak pernah mem-perjuangkan berdirinya sebuah negara yang beranggungjawab kepada kesejahteraan rakyat suatu bangsa, dan itulah sebabnya mengapa tidak ada tulisan diketahui yang dibuat orang tentang kelebihan atau kekurangan: “sistim ekonomi romantis” yang bertanggungjawab terhadap kese-jahteraan sebuah bangsa di muka bumi, terkecuali keinginan besar untuk menjaga kelestarian ekosistim di bumi yang telah terbentang di hadapan mereka di muka planit ini. ****

Kesejahteraan Umat
a. Sistim Ekonomi Bebas, atau Liberal
Dalam zaman merkantilis di Inggris silam, setiap orang boleh mejalankan bermacam usaha (business) untuk mencari nafkah, mulai memproduksi beragam barang (produk), hingga dengan menyediakan layanan bermacam jasa (service), atau keduanya, dalam memenuhi permintaan segala lapisan masyarakat. Semuanya diperdagangkan orang di beragam pasar yang terdapat di-mana-mana. Lalu timbul persaingan diantara para penyedia barang atau jasa atau keduanya oleh tangan-tangan tersembunyi (invisible hands), dengan harga dan mutu (kualitas) barang atau jasa dihasilkan untuk jumlah (kuantitas) dan mutu (kualitas) barang atau jasa terikat dalam suatu kesepakatan dagang. Pendapatan kaum pengusaha ditentukan oleh banyaknya barang atau jasa yang berhasil dijual dalam setahun. Pemerintah bertugas hanya sebagai pengawas dan tatausaha (administrator) yang melancarkan kegiatan dagang, dan samasekali tidak mencampuri urusan para pengusaha menghasilkan barang atau jasa, akan tetapi menyediakan tempat berusaha dengan perangkat aturan dan lingkungan: ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang setara untuk semua, terhadap pungutan (pajak) dikenakan.
Memasuki abad pencerahan, dibekali filsafat dan bermacam ilmu pengetahuan yang diolah dan diantarkan bangsa Arab dari Timur Tengah, landasan berfikir kaum intelektual orang-orang Eropa berkembang sedemikian jauh, yang memungkinkan mereka mengembangkan bermacam pengetahuan tepat guna di sejumlah bagian dunia itu. Ini tampak jelas dengan digunakannya “analisa ilmu”(scientific analysis) untuk mengembangkan mesin-uap, awalnya dipicu pompa air vakum udara yang diperkenalkan Thomas Savery (1650-1715) dari Inggris, dengan menyiram air kedalam bejana berisi uap-bertekanan, lalu diperbaiki Thomas Newcomen (1664-1729) rekan sene-garanya menggantikan bejana dengan silinder berpengisap, membuat James Watt (1736-1819) rekan senegara lainnya selanjutnyaa menciptakan “sumber tenaga gerak” (source of me-chanical energy) pertama di dunia dengan uap-bertekanan yang dibutuhkan banyak orang untuk menggerakkan beragam industri ketika itu. Ketiga orang Inggris ini telah merobohkan kartu: “domino teknologi” pertama di muka bumi, memperkenalkan sumber tenaga alam hasil rekayasa akal-budi manusia, sekaligus membidani diawalinya “revolusi industri” berlangsung di muka bumi dimulai dari Eropa, lebih dari dua abad silam.
Analisa ilmu yang dikuasai segelintir bangsa dari Eropa ketika itu, kemudian diperluas ruang lingkup bahasannya, tidak hanya kepada sumber tenaga gerak dan berbagai industri yang telah dilahirkannya, tetapi juga ke berbagai bidang kegiatan lain, antara lain: politik, sosial, dan lainnya, serta berpuncak kepada kajian “Kesejahteraan Hidup Berbagai Bangsa” di muka bumi sebagaimana yang dikemukakan oleh Adam Smith dari Inggris. Akan tetapi yang jelas, pe-ngaruhnya telah mempengaruhi “sistim ekonomi merkantilis”, yang beralih menjadi “sistim ekonomi kapitalis” di Inggris, dan sejumlah negara Eropa lainnya ketika itu, yang kemudian dikenal dengan “kapitalisme”, karena mendapat amunisi dari perkembangan revolusi industri melaju pesat. Adam Smith kemudian melanjutkan kajiannya tentang: “Memperbaiki Keadaan Dunia”, yang menimbulkan pertanyaan: apakah industrialisasi akan menyejahterakan kehidupan umat di bumi, ditinjau dari angka harapan hidup manusia, jam kerja singkat, dan dibebaskannya anak-anak dan orang-orang tua dari kewajiban bekerja dalam mencari nafkah?
Sejak awal revolusi industri, kapitalisme berkembang sangat pesat di Eropa didukung kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terhimpun dan berkembang pesat di bagian dunia itu. Mobil dengan cepat menggantikan kereta dihela ternak di jalan-jalan raya beragam negara, dia-wali Eropa, kemudian menyebar ke Amerika Utara, lalu Jepang, dan bagian dunia lainnya. Angkutan jalan-baja dihela lokomotif-uap yang membakar batubara melahirkan kereta-api, lalu menebar jaringan ke berbagai negara di benua Eropa melayani angkutan penumpang dan barang, kemudian diexport ke berbagai negara di bagian dunia lain, tidak terkecuali Asia, oleh “ongkos angkut” muatan: penumpang dan barang yang sangat murah. Transportasi air juga ikut ber-kembang, mulai dari: kanal, sungai, danau, laut, hingga samudra yang selama ini dikuasai kapal layar, lalu digantikan mesin-uap karena lebih dapat diandalkan ketimbang hembusan angin; kini telah pula diambil alih mesin diesel. Keberhasilan Wright bersaudara dari Amerika Serikat menciptakan “kapal terbang”, sekarang dinamakan pesawatterbang, memungkinkan dikemkem-bangkannya angkutan udara untuk memindahkan penumpang dan barang menerobos atmosfer bumi melintasi benua. Selain berbagai industri dan sarana angkutan yang telah disebutkan sebelumnya, sumber tenaga gerak hasil akal-budi manusia ini telah pula melahirkan tak terbilang banyak pabrik dan industri berikut keragamannya bermunculan di muka bumi, antara lain: pabrik semen, industri baja, pabrik pengolahan logam, tambang batubara, tambang berbagai mineral, pengeboran minyak berikut kilangnya mulai daratan hingga lepas pantai, industri: plastik, bahan bangunan, kimia, pharmasi, kertas, makanan dalam kemasan; dan masih banyak lagi lainnya.
Dalam perjalanan waktu, kapitalisme lalu berkembang menjadi imperialisme, karena menguasai lahan yang semakin luas di muka bumi, yang akhirnya beralih menjadi tanah jajahan, atau koloni. Kolonialisme selanjutnya melanda dunia, dan menguasai banyak tanah subur yang dija-dikan perkebunan beragam tanaman ekonomi, antara lain: karet untuk ban, kelapa sawit untuk minyak goreng dan lainnya, tembakau untuk rokok, tebu untuk gula, dan lain sebagainya. Peng-galian tambang batubara, minyak bumi dan lainnya, di tanah jajahan diperlukan untuk memasok kebutuhan industri yang terus berkembang di Eropa, Amerika Utara, Jepang yang lapar bahan-baku, dahaga bahan-bakar dan minyak lumas, berlangsung terus jauh menerobos masuk kedalam abad ke-20 silam. Sejak awal dari revolusi industri, kapitalisme telah berhasil mendirikan berbagai industri: mulai ringan hingga berat dan sangat berat di sejumlah negara berbagai bagian bumi. Sebagai akibatnya, tidak dapat dihindarkan timbulnya aliran bahan atau benda (materi) dari dalam perut bumi menuju ke permukaan, berupa: bahan-bakar (batu-bara, minyak bumi, dan gas), beragam mineral berguna (biji besi untuk membuat besi dan baja, tembaga, aluminium, logam mulia, dan lainnya); dan masih banyak lagi lainnya. Bahan-bahan ini dibutuhkan negara-negara yang memproduksi berjenis barang, seperti: sarana dan prasarana angkutan: darat, laut, udara, antariksa; menyediakan perlengkapan dan peralatan militer termasuk berjenis peralatan tempur dan mesin perang, dan masih banyak lagi kebutuhan negara dan masyarakat mulai lokal hingga dengan global. Juga industri penyedia minuman dan makanan dikemas, industri texstil, industri pertanian, industri peternakan dan perikanan, dan banyak lainnya. Aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan ini berlangsung sudah sejak dari dimulainya revolusi industri di muka bumi lebih dari dua abad yang silam, dan masih terus berlangsung sampai dengan hari ini, dan masa akan datang; kini dikenal dengan nama: “aliran benda” (materi)”.
Selain kepiawaian memproduksi beragam barang atau jasa sesuai: harga, mutu, dan jumlah yang disepakati dalam sebuah perjanjian; masalah yang ditimbulkan kapitalisme dewasa ini di muka bumi: pertama limbah-gas hasil pembakaran bahan-bakar (padat, cair, dan gas) terus menerus di-hamburkan ke atmosfer planet biru oleh bermacam sarana angkutan: darat, laut, dan udara, yang mengganggu pernafasan; kedua limbah-cair yang dibuang ke lingkungan mulai dari beragam industri, kegiatan ekonomi masyarakat lainnya, tidak terkecuali asal rumah-tangga dari kota kecil besar hingga besar yang ada di muka di bumi yang dibuang begiu saja ke badan-air (parit, kolam, kanal, sungai, danau, laut, hingga samudra), mencemari minunan dan makanan umat, tidak terkecuali makhluk lain yang menyebabkan gangguan kesehatan, mulai lahir (fisik) hingga bathin (mental); ketiga: limbah-padat rongsokan bermacam sarana angkutan (darat, laut, udara, dan lainnya) hasil beragam industri yang sudah habis masa pakai ekonominya. Juga sarana dan prasarana bermacam industri, hingga tambang, instalasi pengeboran minyak mulai darat hingga lepas pantai; bangkai beragam peralatan elektronik dan teknik digital termasuk gadget dan lain sebagainya. Juga tidak terkecuali pula beragam perabotan dan perlengkapan rumah tangga hasil industri yang tidak lagi digunakan, dan diterlantarkan begitu saja dimana-mna di muka bumi menyita lahan. Sejak dari awal revolusi industri di Eropa silam, ketiga macam limbah ini awalnya dating dari “aliran benda (materi)” yang meninggalkan perut bumi menuju permukaan yang tidak pernah berhenti, dan terus mengalir sampai dengan hari ini.
Tidak dapat disangkal lagi, kini “aliran benda (materi)” yang meninggalkan perut bumi menuju permukaan kian besar jumlahnya dalam satuan “juta metric ton”, sejalan dengan penduduk bumi yang terus meningkat begitu juga aktivitas dan kreativitas mereka selama hayat, bagai bola salju yang tengah menggelinding di lereng gunung Alpen dari Eropa pada musim dingin. Selain dari itu, kapitalisme juga semakin mengendalikan dan menguasai perekonomian dunia. Kaum kapita-lis juga semakian bersaing mendapat bermacam benda (materi) berharga yang mereka perlukan dari dalam perut bumi, baik yang ada di negerinyai demikian juga yang didatangkan dari diluar Tanah-Airnya, membuat ekosistim di muka bumi semkian tidak mudah dijaga kelestariannya. Selain dari itu kapitalisme banyak berpengalaman dibidang menghasilkan barang industri atau komoditi didukung SDM bermutu dan sumber dana global, menyebabkan lingkungan hidup di muka bumi, terutama di dunia ketiga kurang pengetahuan dan lemah pengawasan, tidak dapat terhindar dari exploitasi SDA berlebihan dalam memenuhi permintaan pasar global.
Kini kapitalisme harus mencari jalan, agar “aliran benda (materi)” dari dalam perut bumi menu-ju permukaan tidak lagi berakhir menjadi: 1. “limbah-gas” yang mencemari udara dalam atmosfer yang menyelimuti bumi, 2. limbah-cair dari pemanfaatan air-bersih dalam segala bidang tidak lagi mencemari badan-air di muka bumi, dan 3. limbah-padat rongsokan beragam produk industri ciptaan manusia tidak lagi diterlantarkan orang dimanamana di daratan menyita lahan di muka bumi. Harus dicarikan jalan keluar, agar aliran bahan dari dalam perut bumi menuju permukaan tidak manjadi pencemar: mulai pencemar biasa, pencemar berbahaya, sampai dengan pencemar yang sangat berbahaya bagi makhluk hidup, untuk menghindarkan-nya masuk kedalam tubuh manusia atau makhluk lainnya melaluui: minum, makan, bernafas, dan bekegiatan seharihari, sehingga gangguan lahir (fisik), antara lain: tidak normal bekerja atau berfungsi beragam organ tubuh, tidak terkecuali dampaknya terhadap bathin (mental), antara lain: keanehan berprilaku kegiatan seharihari, kelemahan dalam berfikir, hingga dengan kehilangan ingatan dini, dan lain sebagainya.
Salah satu gagasan yang patut mendapat acungan jempol untuk butir pertama, ialah apa yang kini sedang diujicoba dengan pehuh kesungguhan. Apa yang sebenarnya sedang dikerjakan di muka bumi, hijrah dari “ekonomi bahan-bakar fossil” (fossil-fuel economy) ke “ekonomi bahan-bakar hidrogen” (hydrogen-fuel economy) untuk sarana angkutan darat, sehingga gas hasil pembakaran yang dihasilkan pembakaran dalam mesin, dalam hal ini sel bahan-bakar (fuel cell) yang menjalankan mesin listrik, ialah air. Gagasan ini awalnya diperkenalkan oleh John Bockris dari Pusat Teknik General Motor, Amerika Serikat, dalam sebuah pembicaraan tahun 1970 silam. Ke-mudian pada tanggal 10 October 1997, Richard Daley, walikota Chicago bersama rekannya berpergian dalam kota mengendarai bis yang berbahan-bakar hidrogen, unsur kimia tercantum dalam tabel Mendeleyev yang terbanyak ada di bumi, dipisahkan dari gas alam lewat proses kimia. Sebuah Sel Bahan-Bakar (SBB) dapat mengubah hidrogen yang dialirkan kedalam SBB menjadi “tenaga lisrik” dan “air”, tanpa perlu melaksanakan pembakaran, diperkenalkan oleh Ballard Power Systems (BPS) dari Vancover. SBB terbukti “tiga kali” lebih hemat (efisien) mengubah “panas” hasil pembakaran yang telah digunakan orang sebelumnya, seperti: MPL dan MPD. Tenaga listrik yang dihasilkan SBB disalurkan kedalam mesin listrik yang mengubahnya menjadi gerak yang menjalankan bis BPS. Gas buang yang dikeluarkan bis hanyalah uap-air yang samasekali tidak tercemar. Sang walikota meminum segelas air yang diambil dari knalpot bis sambil berucap “tidak jelek”. Bis dijalankan sel bahan-bakar melaju dengan kecepatan hingga 80 km/jam, meraih jarak tempuh 400 km atau sehari penuh perjalanan bis untuk sekali pengisian BBH (Bahan Bakar Hidrogen).
Untuk butir kedua, guna menghindarkan air-kotor mencemari badan-air yang ada di muka bumi, air-kotor yang mengandung beragam pencemar harus dialirkan kedalam Instalasi Penjernihan Air (IPA) untuk mendapatkan kembali air-bersih. Perlu dikembangkan bermacam IPA, mulai kebu-tuhan rumah tangga ukuran mini untuk desa, kota kecil, hingga kota besar dan kawasan industri yang berukuran raksasa. Dengan demikian, hanya air bersih yang boleh dibuang kedalam badan-air yang terdapat di muka bumi, seperti selokan, kolam, kanal, danau, sungai, laut, hingga dengan samudra. Perlu diketahui, lebih dari 70% berat tubuh manusia, tidak terkecuali bermacam makhluk lain, ialah air. Itulah sebabnya mengapa manusia, demikian juga makhluk lainnya sangat peka terhadap air tercemar; karena manakala yang akhir ini masuk kedalam tubuh lewat aktivitas: minum, makan, dan berkegiatan, akan dapat menyebabkan timbulnya gangguan lahir (fisik), tidak terkecali munculnya ggangguan bathin (mental) tidak diinginkan.
Sedangkan untuk butir ketiga, limbah-padat: rongsokan beragam sarana angkutan (mobil, kapal, pesawatterbang, beragam mesin perang, dan lain sebagainya); begitu juga rongsokan konstruksi baja dan lain sejensnya, tidak terkecuali instalasi tambang mulai daratan hingga lepas pantai, dan masih banyak lagi yang lain. Memasuki milenium ketiga, tampil pula onggokan benda-benda sampah teknologi informasi dan telekomunikasi (komputer, telepon pintar, tablet, dan lain seba-gainya) beralih menjadi limbah. Untuk menghindarkan munculnya tumpukan limbah teknologi elektronik-digital (digital-electronic) diterlantarkan orang berserakan di dimanamana menyita lahan di muka bumi, perlu diciptakan “cadangan berputar” (spinning reseve) berbagai sumber “bahan baku” kebutuhan industri yang menghasilkani bermacam barang (produk) mulai ukuran sangat kecil hingga raksasa. Adapun yang dinamakan cadangan berputar itu tidak lain dari “Bank Bahan Baku”, disingkat BBB (Bank of Raw Materials, disingkat BRM). Sebagaimana yang telah diteladankan TMH (Teknologi Mahluk Hidup) yang menyediakan “pemangsa” (predator) untuk setiap makhluk hidup di muka bumi, sebagai bagian dari rantai makanan yang bertugas “mendaur ulang” beragam jasad yang ditinggalkan ruh, agar tidak mecemari permukaan bumi. Maka sejalan dengan apa yang telah dilakukan TMH diatas, maka terhadap beragam barang hasil industri buatan manusia apapun ragamnya, juga perlu dilakukan cara yang sama yakni menciptakan “mesin pemangsa”, yang bekerja menghancurkan beragam rongsokan barang (produk) hasil industri yang sudah habis masa pakai ekonominya, kembali menjadi bahan baku untuk disimpan kedalam cadangan berputar atau BBB. Dengan cara daur ulang yang demikian rongsokan barang hasil industry bikinan manusi tidak lagi akan menjadi sampah berserakan yang mencemari lahan di muka bumi.
Dengan demikian perlu dihadirkan bermacam Industri Pemangsa (IP), atau Predator Industry (PI), di muka bumi dengan tugas mendaur ulang bermacam barang (produk) hasil industri yang telah habis masa pakai ekonominya. Seluruh IP akan bekerja menjadi pemasok bahan-baku ke BBB, digali dari tambang perkoaan (urban mining) dimanapun di muka bumi, antara lain: baja, tembaga, aluminium, dan lain sebagainya, untuk kembali disimpan dalam cadangan berputar. Masing-masing IP akan menghasilkan lagi berjenis bahan-baku yang diperlukan oleh beragam industri yang menghasilkan beragam barang (produk) yang dibutuhkan pasar, dihasilkan aneka ragam industry manufaktur sampai dengan beragam kerajinan rumah tangga mulai dari kota hingga ke desa. Dengan demikian mereka yang memerlukan bermacam bahan-baku langsung dapat membeli ke BBB, sehingga kedepan penggalian langsung bahan tambang dari dalam perut bumi untuk berjenis mineral asal alam dapat dibatasi untuk hanya kekurangan stok dalam BBB dengan pengawasan ketat. Dengan menyiapkan cadangan berputar di muka bumi, maka ekosis-tim yang telah terjaga baik tidak akan lagi dapat dirusak dengan semena-mena oleh orang-orang yang tidak bertanggung-jawab seba-gaimana yang kini terjadi guna melindungi planit biru, satu-satunya benda langit yang istimewa ada di Alam Semesta, kini diketahui orang telah memasuki usia 4,6 Miliard tahun.
b. Sistim Ekonomi Terpimpin, atau Diktator
Sosialisme tampil sebagai kritik terhadap kapitalisme. Ajaran Marxis lahir dari penolakan terhadap lahirnya “revolusi industry” di Eropa silam. Menurut Karl Marx (1818-1883), industrialisasi akan mengelompokkan komunitas manusia kedalam kaum borjuis (bourgeoisie), yakni kelompok orang yang sedikit bilangannya tetapi memiliki bermacam alat produksi mulai tanah sampai bermacam pabrik hingga industry yang banyak jumlahnya, dan kaum proletar (proletariat), ialah orang-orang yang tidak memiliki apa-apa selain dirinya yang besar jumlahnya melakukan pekerjaan menghasilkan sesuatu dari bermacam alat produksi yang dimiliki kaum borjuis. Marx memandang industrialisasi sebagai dialektika logis pelaku ekonomi kaum feodal menuju kapitalisme yang sempurna, dan yang akhir ini merupakan pendahuluan dari tercapainya komunisme. Dalam sistim sosialis segala macam alat produksi bermacam usaha (business) adalah miliki Negara, dan dikelola pemerintah komunis dengan deologi Marksisme Leninisme. Seluruh warga negara bekerja kepada negara: “memberikan kepada negara sesuai kemampuan, dan memperoleh dari negara menurut kebutuhan. Akan menyalahi moral sosialisme, manakala ada anak bangsa yang menjalankan usaha (business) pribadi menghasilkan barang atau jasa de-ngan mempekerjakan (mengeksploitasi) rekan sebangsanya sendiri, membayar upah (uang) kepa-danya pengganti jasa sebagai imbalan.
Sepeninggal Marx, para pengikutnrya terbelah. Sekelompok yang berkembang di Jerman lalu meninggalkan ajaran revolusi Perancis (1789-1799) yang menewaskan Raja Louis XVI tengah bertahta di negeri itu, lalu menimbulkan bermacam terror dimana-mana di seluruh negeri yang menyengsarakan kehidupan bangsa, dan mencari jalan damai guna memperbaiki nasib kaum buruh di daratan Eropa lewat reformasi. Kelompok lain pengikut kaum Marxist Ortodox K. Ka-utsky, yang dipimpin W.I.Lenin, mengulangi kembali ajaran revolusi Perancis 128 tahun yang silam, akan tetapi kini menggulingkan Tsar Nikolas II dari singgasana di ibukota Rusia Petro-grad, dilangsungkan pada tanggal 7 Nopember 1917, dengan menggerakkan kaum buruh negeri Beruang Merah itu. Revolusi berdarah kaum Bolshevik pimpinan W.I. Lenin berhasil menying-kirkan sang Raja bersama keluarganya ke Ekaterinburg di pedalaman Siberia. Lenin berhasil menyusun pemerintahan diktator proletariat di Rusia didukung kaum Bolshevik dipimpin Partai Komunis tunggal yang menguasai negara tanpa diperbolehkan adanya kaum oposisi dan kritik terhadap pemerintah yang berkuasa.
Pada saat itu, kekaisaran Rusia tengah giat mengembangkan sistim ekonomi kapitalis yang akan bertanggungjawab terhadap kesejahteraan rakyat, sebagaimana yang dilakukan banyak negeri di daratan Eropa pada ketika itu, akan tetapi dengan keberhasilan kaum Bolshevik menggulingkan Sang Tsar dari singgasananya, “sistim ekonomi kapitalis” yang tengah berkembang di Rusia, terpaksa digantikan “sistim ekonomi sosialis” pertama di dunia sesuai ajaran Marx, dan nama Negara pun diganti menjadi: Uni-Sovyet. Dengan demikiann sistim ekonomi kapitalis yang telah dimulai Tsar Nikolas II untuk bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat, langsung bertukar menjadi sistim ekonomi sosialis pertama di muka bumi. Sistim ekonomi akhir ini lalu disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia; pasca perang dunia ke-II menjadi wajib diterima oleh Negara-negara yang kemudian menjadi “satelit Uni-Sovyet”, tidak terkecuali sejumlah negara dunia ke-III dan para anggota negara Non-blok yang berminat mencicipi sistim ekonomi sosialis yang menjanjikan kesejahteraan hidup bangsa.
Ketika negara Beruang Merah itu dilanda kekalutan politik berat, Michail Gorbachov selaku presiden Uni Sovyet memperkenankan dilangsungkannya pemilu, satu-satunya yang pernah terjadi sejak berdirinya negeri Beruang Merah dengan sistim ekonomi sosialis yang dipimpin Partai Komunis. Kemudian keluar sebagai pemenang pemilu RFSR (Republik Federasi Sosialis Rusia) yang berlangsung secara demokratis tanggal 26 Maret 1989, ialah B. N. Boris Yeltsin; padahal yang akhir ini telah menyatakan diri keluar dari Partai Komunis yang masih berkuasa di buni Beruang Merah itu. Rakyat di RFSR, salah satu negara bagian Uni-Sovyet berbentuk federal itu telah memperlhatkan apa yang diinginkannya.
Setelah lebih dari tujuh dekade mengendalikan kekuasaan di Kremlin, kantor pemerintah Uni-Sovyet di Moskow, sosialisme atau sistim ekonomi sosialis ternyata gagal memenuhi janjinya bertanggungjawab mensejahterakan kehidupan rakyat di seantero negeri, oleh ideologi yang telah usang, ternyata hanya membodohi anak bangsa dengan bermaca indoktrinasi orthodox ketimbang mencerdaskan mereka, membelenggu kebebasan individu menyatakan pendapat, dan melanggar hak azasi manusia. Uni-Sovyet pada ketika itu, masih merupakan sebuah negara adidaya dunia, pemimpin Negara Sosialis dari Blok Timur, hilang begitu saja ditelan sejarah dari permukaan bumi. Sebagai gantinya, lahir sejumlah Negara baru, salah satu darinya ialah Federasi Rusia (Russian Federation) yang dipimpin oleh B. N. Boris Yeltsin, kembali beralih menjadi ne-gara demokratis. Yang akhir ini menyambut kembali “sistim ekonomi kapitalis” yang ber-tanggung jawab kepada kesejahteraan rakyat, sebagaimana yang dirintis oleh kekaisaran Rusia silam, untuk memulihkan lagi perekonomian negeri yang sudah porak poranda.
Uni-Sovyet yang berjaya selama lebih dari 72 tahun (1917-1989), berusaha keras membuktikan sosialisme menuju komunisme, sebagaimana yang telah diajarkan ideologi Komunis, akan tetapi dalam perjalanannya ternyata gagal. Sosialisme juga tidak memperlihatkan keunggulan dalam banyak bidang, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi berikut penerapan keduanya dalam meningkatkan kesejahteraan hidup warga bangsa. Apabila dibandingkan dengan Jerman dan Jepang, yang sedemikian hancur di bom sekutu dalam Perang Dunia ke-II silam, hanya dalam perjalanan waktu hanya sedikit lebih dari setengah abad, masing-masing berhasil tampil sebagai raksasa-raksasa ekonomi ke-2 dan ke-3 dunia setelah Amerika Serikat, namun dalam periode waktu tidak banyak berbeda Uni-Sovyet justru lenyap dari muka bumi. Negara adidaya dunia saingan Amerika Serikat itu, juga tampak kelabakan saat menghadapi bencana Chernobyl terjadi pada tanggal 26 April 1986 lalu. Pertolongan datang menghadapi bencana nuklir di Ukraina, sebuah negara bagian negeri itu, kebanyakan datang dari negara-negara kapitalis ketimbang negara-negara sosialis yang sealiran ideologi menghadapi serangan sinar radio-aktif. Perlu diketahui, pada ketika itu “perang dingin” antara Blok Barat dan Blok Timur masih belum lagi berakhir.
Sosialisme juga tidak memperlihatkan pemecahan terhadap persoalan limbah, seperti yang tengah dihadapi negara-negara kapitalis, mulai dari rumah-tangga hingga dengan buangan beragam industri dari ringan hingga berat yang telah melanda berbagai negara kapitalis di dunia ketika itu. Pasca runtuhnya Uni-Sovyet, barulah media berani mengabarkan kerusakan ling-kungan yang telah terjadi di negara bersistem ekonomi sosialis yang berlambang tirai besi. Kerusakan lingkungan juga kemudian terkuak ke media di sejumlah negara satelit Beruang Merah itu, karena lamanya terisolasi dari masyarakat dunia disebabkan perbedaan ideologi, juga ketidak berdayaan sistim ekonomi sosialis mengembangkan beragam prakarsa yang berkaitan dengan menjaga kelestarian ekosistim di muka bumi. Tidak dapat disangkal terseretnya negara-negara anggota non-blok yang menerapkan sistim ekonomi sosialis model Uni-Sovyet untuk mensejahterakan kehidupan bangsa, lalu terjerumus kedalam penanganan lingkungan hidup birokratis yang merugikan ekosistim bumi dari negara bersangkutan.
c. Sistim Ekonomi Romantis
Revolusi industri berkembang di Eropa lalu meluas ke Amerika Utara, kemudian Jepang dan sejumlah bagian dunia lain, tidak disangkal lagi mendapat perlawanan dari kaum penentang lain, antara lain: penulis, kaum intelektual, para penggiat beragam seni, dan lain sebagainya. Kelompok masyarakat di daratan Eropa yang kala itu menolah hadirnya revolusi industri yang digerakkan kalangan pengusaha mendapat julukan: kaum romantis. Kedalam golongan ini termasuk para penyair yang rajin menyuarakan buah fikiran dan suara hati mereka lewat tulisan, seperti: makalah, pembacaan puisi, menuli sajak, dan lain sebagainya. Mereka juga memperton-tonkan karikatur, melakukan pementasan panggung hingga theater, dan masih banyak lagi kegiatan lain yang mereka buat. Kaum romantis berusaha menjaga hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungan hidupnya di muka bumi, bersenjatakan kepiawaian bermacam seni dan kekayaan warisan budaya lewat media bahasa. Apa yang mereka perbuat bertolak belakang samasekali dengan bermacam mesin ukuran gergasi dan bangunan raksasa yang semakin bermunculan di lingkungan hidup mereka pada saat itu. “Dark Satanic Mills” karya William Blake, novel “Frankenstein” tulisan Marry Shelley, dan masih banyak lainnya ingin mengadukan kepada dunia akan ketidak senangan mereka pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di daratan Eropa berwajah ganda. Pernyataan dilontarkan dan prilaku diperagakan semuanya menunjukkan sikap yang tidak senang. Akan tetapi kaum romantis tidak pernah mem-perjuangkan berdirinya sebuah negara yang beranggungjawab kepada kesejahteraan rakyat suatu bangsa, dan itulah sebabnya mengapa tidak ada tulisan diketahui yang dibuat orang tentang kelebihan atau kekurangan: “sistim ekonomi romantis” yang bertanggungjawab terhadap kese-jahteraan sebuah bangsa di muka bumi, terkecuali keinginan besar untuk menjaga kelestarian ekosistim di bumi yang telah terbentang di hadapan mereka di muka planit ini.

Pencemaran Muka Bumi
Pencemaran di muka bumi memang bukan masalah baru, karena telah ada sejak ribuan tahun si-lam ditimbulkan bermacam bencana, antara lain: meletusnya gunung-api yang menghamburkan asap ke udara, mengalirkan lahar panas beserta batuan, muncul lahar dingin yang menerobos pemukiman warga setelah turunnya hujan, dan lain sebagainya. Ada lagi yang ditimbulkan per-geseran landas kontinen dan menyebabkan munculnya tsunami. Demikian juga banjir bandang yang ditimbulkan tingginya curah hujan sesuatu tempat di muka bumi oleh perubahan iklim ditimbulkan pemanasan global. Selain dari itu, ada pula rob yang disebabkan matahari dan bulan berada dalam segaris. Bencana alam memang dapat memporakporandakan lingkungan hidup tempat umat berdiam di muka bumi, mulai dari kerusakan lahir, tersebarnya beragam bahan kimia, dari yang biasa, berbahaya, hingga dengan sangat berbahaya terhadap makhluk; tidak ter-kecuali yang mengandung bahan radioaktif. Kerugian yang ditimbulkan mulai dari kehilangan jiwa, kehilangan harta-benda, sawah, ladang, dan lingkungan sekitar yang tidak lagi dapat digu-nakan untuk jangka waktu yang panjang.

Pasca Perang Dunia ke-II, warga Jerman dan Jepang mendapat kerusakan lingkungan hidup yang ditimbulkan begitu banyak bom yang dijatuhkan sekutu di kedua negeri. Selain dari itu, di negeri yang terakhir, ada lagi dua “bom atom” yang dijatuhkan di kota-kota Hiroshima dan Nagasaki merenggut tidak sedikit korban jiwa. Kedua bom atom yang dijatuhkan di Jepang tidak semata menimbulkan kerusakan lahir, tetapi juga radiasi bahan radioaktif yang tidak terlihat mata ber-kepanjangan yang membahayakan jiwa makhluk. Belakangan banyak dibicarakan media massa tentang pencemaran radioaktif ditimbulkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushi-ma Daiichi, diakibatkan kegagalan mengatasi kebocoran air pendingin reaktor yang terbuang ke laut Jepang.
Adapun pencemaran atmosfer yang menimbulkan bahaya maut tidak terduga terhadap warga yang hidup di muka bumi, ialah malapetaka Bhopal timbul di negara bagian Madhya Pradesh, India. Pada malam yang naas tanggal 2-3 Desember 1984, terjadi kebocoran bahan methyl iso-cyanate dari sebuah pabrik kimia, yang tidak berjauhan dari sebuah pemukiman kumuh. Ke-esokan harinya, dikhabarkan ribuan orang yang bediam di pemukiman tersebut tidak lagi terjaga dari tidur mereka, karena sudah berpulang ke rakhmatullah.

Sepanjang tahun 2008 silam diberitakan, telah dihamburkan menuju atmosfer bumi yang menye-limuti planit biru gas karbon dioxida (CO2) berjumlah 29 Triliun metic-ton. Gas berbahaya ini bersumber dari beragam industri yang menghasilkan beragam barang kebutuhan umat di bumi, tidak terkecuali aneka ragam sarana angkutan melayani umat bepergian dimana-mana di muka pada tahun disebutkan.
Di daratan Eropa timbul hujan-asam (acid rain) dari asap yang meninggalkan PLTU yang masih membakar bermacam Bahan Bakar Padat (BBP), kebanyakan batubara. Sebagai akibatnya, daun-daun pohon dari hutan yang tidak jauh letaknya dari pusat-pusat pembangkit tenaga listrik di-sebutkan lalu mengering.
Sepanjang Perang Vietnam silam, negeri itu pernah dilanda hujan-kuning (yellow-rain) di bagian utara negeri. Negara Paman Sam ketika itu membuat kebijakan menyebarkan bahan-kimia dari udara yang menyebabkan turunnya hujan-kuning turun di musim hujan. Adapun maksud penye-baran bahan-kimia ialah untuk menghambat gerakan pasukan-pasukan Vietcong yang tengah bergerak ke Selatan, namun akibat yang tidak diinginkan menyebabkan bayi-bayi manusia yang lahir di wilayah terkena hujan kuning menjadi cacat ketika lahir, tidak terkecuali gangguan kesehatan lain.

Di negeri Sakura pernah berjangkit penyakit-Minamata (Minimata-disease). Penyakit ini dikha-barkan disebabkan tercemarnya air laut oleh airraksa (merkuri), cairan logam berat yang dibawa aliran sungai-sungai di Jepang yang menuju ke laut. Sebagai akibatnya banyak ikan-ikan yang hidup dan mencari makan di laut tercemar, lalu mengandung logam airraksa berbahaya dalam tubuh mereka. Kaum ibu Jepang yang menyantap ikan-ikan yang ditangkap dari perairan yang tercemar lalu melahirkan bayi-bayi cacat, tidak terkecuali gangguan kesehatan lain. Limbah air-raksa juga mencemari sungai-sungai di Tanah-Air, di hulu mana terdapat para pendulang emas yang menggunakan airraksa untuk memurnikan emas perolehan mereka, lalu membuang limbah dihasilkan begitu saja ke sungai yang mencemari air sungai.

Salah sebuah contoh bahaya “sinar radioaktif”, ialah terbunuhnya Alexander Livinenko dari Ru-sia diberitakan belum lama berselang. Ia dikhabarkan mendapat radiasi logam Plutonium 210 (Po-210) radioaktif memancarkan sinar alpha berkepanjangan, yang disembunyikan oleh orang yang tidak bertanggungjawab.
Sebuah penelitian dari Universitas Chicago, Amerika Serikat, menunjukkan adanya hubungan atau korelasi, antara tingkat pencemaran pestisida suatu lingkungan hidup dengan timbulnya gejala autisme, begitu juga kekurangcerdasan (Intellectual Disability, ID) anak yang baru di-lahirkan dari lingkungan tersebut. Tampaknya, pencemaran lingkungan hidup pada tingkat ter-tentu, akan berdampak pada kegiatan TMH (Teknologi Makhluk Hidup) didalam kandungan, membuat bermacam program kimia organik dingin yang sedan berlangsung dalam tubuh bayi terusik olehnya.

Masih terdapat banyak macam pencemaran lingkungan hidup yang muncul di muka bumi oleh perbuatan manusia, seperti yang ditimbulkan karamnya tanker Exxon Valdez di Prince William Sound, Alaska, tanggal 24 Maret 1989 silam. Kapal minyak tujuan Long Beach, California, A-merika Serikat, itu tiba-tiba membentur karang Bligh dalam perjalanannya, dan menumpahkan minyak-mentah mulai dari 260,000 hingga 750,000 barrels (41,000 hingga 119,000 m3), merupa-kan salah sebuah bencana lingkungan hidup yang terparah pernah diketahui orang selama ini.
Bermacam pencemar yang terdapat dalam lingkungan umat dapat masuk kedalam tubuh ma-nusia, pertama: ketika orang sedang bernafas lewat paru-paru menghirup limbah-gas dan buti-ran-butiran benda renik; kedua: melalui mulut ketika orang sedang: minum dan menyantap makanan mengandung limbah-cair berbahaya atau sangat berbahaya, dan ketiga: melalui sentu-han langsung dengan benda-padat berbahaya atau sangat berbahaya ketika sedang berkegiatan.

Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, revolusi industri yang tampil di Eropa silam, awalnya dianggap berkah kepada umat. Akan tetapi dengan timbulnya perubahan iklim nyata disertai angin kencang dan iringan ombak besar yang mendatangkan banyak bencana di muka bumi, umat Islam lalu menjadi sadar akan peringatan Tuhan dalam surat Ar-Rum, Ayat 41, terdapat dalam Al-Quran, akan “arti” sebenarnya rangkaian kata: “merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) dari perbuatan” manusia: “agar kembali ke jalan yang benar”.
Revolusi industri timbul di Eropa silam, awalnya dipicu temuan Thomas Savery (1650-1715) dari Inggris, yang kebetulan tertantang untuk membuat pompa-air bertenaga atmosfer keperluan tambang, dan mempatenkannya. Thomas Newcomen (1664-1729), rekan senegaranya menemu-kan kekurangan pompa rekannya, lalu memperkenalkan pompa-air berpengisap dibantu uap untuk tujuan yang sama. Pompa akhir ini lalu menggoda James Watt (1736-1819) rekan senegara lainnya, membuat mesin-uap berputar yang digrerakkan uap-bertekanan untuk keperluan beragam industri yang dibutuhkan orang ketika itu, tidak terkecuali memperkenalkan kereta-api pertama di dunia oleh George Stephenson (1781-1848) yang menghubungkan Sockton dengan Darlington di Inggris menggunakan Bahan Bakar Padat (BBP) jenis batubara. Mesin-uap berna-ma ilmiah Mesin Pembakaran Luar (MPL), dengan kemasan ganda (double package): sebuah digunakan untuk “periuk” tempat bertanak air penghasil uap bertekanan (tenaga potensial) de-ngan pembakaran di luar silinder, lainnya terdiri dari: “silinder dengan pengisap”, digunakan untuk mengubah tenaga potensial uap yang terdapat dalam kemasan pertama, menjadi tenaga-gerak yang dibutuhkan beragam industri, antara lain: angkutan, dan lainnya. Batubara kemudian ditambang orang dimana-mana di muka bumi kedalaman puluhan hingga ratusan meter, sedang-kan air didatangkan dari sungai terdekat.

Dari Belgia, negara Eropa lain, tahun 1860 Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) memper-kenalkan pula Mesin Pembakaran Dalam (MPD) pemantik sumbu, yang dikenal dengan istilah “motor bakar. Bahan-bakar digunakan bukan batubara, tetapi Bahan Bakar Cair (BBC) yang dinamakan bensin gampang menguap. Karena gas bertekanan yang mendorong pengisap keba-wah dapat dihasilkan langsung di dalam silinder sekejap lewat pemantikan, maka MPD tidak memerlukan samasekali periuk tempat bertanak air, sehingga kemasan yang dibutuhkan tinggal sebuah atau tunggal. Sebagai akibatnya MPD memerlukan tempat lebih kecil pada daya dihasil-kan yang sama, menyita ruang atau volume lebih sedikit dalam kendaraan, lebih ringan, lebih murah pula harganya. Akan tetapi MPD memerlukan BBC mudah menguap, dengan minyak mentah asalnya harus didatangkan dari dalam perut bumi ribuan meter dalamnya, kemudian perlu diolah dalam kilang menjadi bensin.

Dua tahun kemudian dari Jerman, negara Eropa yang lainnya, Nikolaus Otto memperkenalkan MPD dilengkapi pengabut (carburettor) dan pemantik listrik (electric ignition), yang kemudian dikenal orang: mesin bensin. Menyusul pula pada tahun 1900, Rudolf Diesel rekan sebangsanya, memperkenalkan MPD dipantik kempa (compression ignition), yang dinamakan orang: mesin diesel. Berlainan dengan TMH (Teknologi Makhluk Hidup) “pengubah panas” kimia organik “suhu tubuh” atau suhu rendah diperkenalkan Ilahi di muka bumi, akan tetapi teknologi yang di-kembangkan manusia sejak awal revolusi industri di Eropa silam, lalu menyebar ke seluruh penjuru dunia, menperkenalkan “pengubah panas” kimia anorganik exothermis suhu sangat ting-gi bertemperatur ribuan derajat Celsius. Revolusi industri diawali dari Eropa silam dengan demi-kian telah melahirkan: serangkaian “Sumber Tenaga Gerak”, disingkat STG, atau Mechanical Energy Source (MES), untuk mengubah “panas” hasil pembakaran bahan-bakar bersuhu amat tinggi, berupa: sebuah MPL dikenal dengan nama “mesin-uap”, dan dua buah MPD masing-ma-sing dinamakan “mesin-bensin” dan “mesin-diesel”.

Ketiga macam pengubah “panas” menjadi “gerak”, disingkat: Pengubah Panas Gerak (PPG), a-tau Thermo Mechanic Convertor (TMC), dikenal dengan: “mesin pembakaran”, terdiri: MPL yang harus bertanak air dalam periuk (ketel) untuk memperoleh uap bertekanan yang diperlukan mesin, berlangsung diluar silinder-silinder mesin memanfaatkan BBP, dan MPD yang melak-sa-nakan pembakaran langsung di dalam silinder-silinder mesin, sehingga tidak memerlukan lagi periuk tempat bertanak air, akan tetapi memanfaatkan BBC atau BBG. Dengan demikian STG- PPG, atau MES-TMC, yang telah diperkenalkan revolusi industri kepada dunia yang pertama ka-li benar-benar barang baru, diawali dari Inggris, dilanjutkan Belgia, lalu disempurnakan Jerman, memperkenalkan kepada umat apa yang kemudian dinamakan dengan istilah: “mesin” (Indone-sia), “engine” (Inggris), dan “maschine” (Jerman), lalu menyebar ke segala penjuru dunia.

Mesin yang pengubah “panas” menjadi ‘gerak” dinamakan “Pengubah Panas Mekanik”, dising-kat PPM, atau “Thermo Mechanical Convertor”, disingkat TMC. Mesin demikian membakar berjenis bahan-bakar melalui reaksi kimia anorganik yang membebaskan panas (kalor) yang me-nimbulkan suhu amat tinggi guna membangun uap atau gas bertekanan. Mesin-mesin yang diperkenalkan revolusi industry di Eropa, ialah: MPL (ECE) yang merebus air dalam periuk (boiler) diluar silinder mesin dengan membakar bahan-bakar padat( bstu-bara) untuk mengha-silkan uap bertekanan, sedangkan MPD (ICE) membakar bahan-bakar cair atau gas langsung dalam silinder mesin yang menghasilkan gas bertekanan, tanpa memerlukankan periuk (boiler). “Uap bertekanan” atau “gas bertekanan” merupakan “kunci pertama”, sedangkan “silinder beri-kut pengisap dan lengan serta poros engkol” merupakan kunci kedua, dari pene-muan mesin o-leh revolusi industry yang diawali dari Eropa silam, dan mengubah drastis peradaban umat manusia di muka bumi sampai hari ini.

Kedua kunci penemuan disebutkan diatas sebetulnya dapat ditemuka komunitas manusia mana saja di muka bumi, sejauh mereka yakin bahwa Allah, yang Maha Pengasih yang Maha Penyayang, telah menebar ke Alam Semesta beragam pengetahuan termasuk ilmu alam (fisika) yang begitu sederhana. Banyak komunitas manusia di muka bumi yang telah mengetahui air direbus dalam benjana menghasilkan uap bertekanan, demikian juga gas mudah menyala akan menimbulkan ledakan, akan tetapi apabila umat tidak menaruh perhatian terhadap apa yang telah disemaikan Ilahi di Alam Semesta, wbilkhusus di muka bumi, maka kesempatan akan diambil oleh komunitas lain seperti yang telah dilakukan oleh mereka dari Eropa silam.

Meski MPL dan MPD sangat besar manfaatnya kepada umat sejak dari awal revolusi industri silam, tetapi kebanyakan (mayoritas) “panas” yang dibebaskan proses pembakaran bahan-bakar ditakar dalam “kalori” terbuang percuma. Hanya sebagian kecil (minoritas) “panas” hasil pemba-karan bahan-bakar yang berhasil diubah menjadi “gerak” (mekanik) untuk menjalankan beragam industri, atau sarana angkutan: darat, air, dan udara, serta lainnya. Itulah sebabnya mengapa ketiga PPG temuan revolusi industry ini tergolong “boros” atau “tidak-efisien” menggunakan bahan-bakar, karena lebih banyak “panas” hasil pembekaran yang terbuang percuma ketimbang dimanfaatkan. Diterjemahkan kedalam pemakaina bahan-bakar, lebih banyak bahan-bakar diangkut kendaraan dihamburkan begitu saja sepanjang jalan dilewati yang mencemari lingku-ngan hidup di muka bumi daripada yang dimanfaatkan.

Sebuah lokomotiv-uap dijalankan MPL menarik rangkaian kereta-api dari Jakarta ke Surabaya sebetulnya memerlukan 10% “panas” hasil pembakaran semua batubara yang dibawa untuk mengantarkan kereta-api berikut penumpang sampai ke tujuan; sedangkan 90% “panas” lainnya, dihamburkan begitu saja sepanjang jalan dilalui memanasi udara sekitar. Diterjemahkan kedalam penggunaan BBP, hanya 10% berat batubara yang dibawa bermanfaat mengantarakan rangkaian kereta-api bersama penumpang sampai ke tujuan, sedangkan 90% berat batubara lainnya diham-burkan saja sepanjang jalan dilalui yang mengotori lingkungan. Sebuah sepeda motor atau mobil dijalankan MPD, akan menghamburkan 75% “panas” hasil pembakaran bensin memanasi udara sekitar, dan hanya 25% “panas” hasil pembakaran bensin yang berguna mengantarkan penge-mudi berikut kendaraan sampai ke tujuan. Diterjematukhkan kedalam pemakaian BBC, 75% be-rat bensin yang terdapat dalam tanki motor atau mobil ditumpahkan saja sepanjang jalan dilalui, dan hanya 25% berat bensin dalam tanki yang benar-benar mengantarkan pengemudi beserta kendaraan sampai ke tujuan.

Itulah pula alasannya mengapa: sepeda motor, angkot, mobil, bis, kapal laut, pesawatterbang dan lainnya yang menggunakan MPD, begitu juga yang menjalankan beragam pabrik hingga industri, sangat boros mengkonsumsi BBM. Ini disebabkan kenyataan, bahwa kurang dari 25% “panas” hasil pembakaran: bensin, solar, atau lainnya muncul dalam sekejap dalam silinder-silinder mesin bermanfaat mengantarkan kendaraan berikut penumpang, barang, atau keduanya sampai ke tujuan, sedangkan 75% lainnya hanya terbuang percuma saja sepanjang jalan dilalui memanasi lingkungan sekitar. Lalu keduanya, baik yang berguna maupun yang terbuang per-cuma, menimbulkan apa yang kemudian dikenal dengan nama: “jejak karbon” (carbon footprint). Pencemaran yang ditimbulkan sarana angkutan darat yang membakar bahan-bakar kemudian di-nyatakan dengan “berat carbon dalam gram” yang dihamburkan ke lingkungan sekitar terhadap untuk setiap km jarak ditempuh. Dengan demikian, sebuah kendaraan pribadi roda empat merek tertentu dijalankan MPD akan menghamburkan ke udara “jejak karbon” sejumlah: x gr/km, seba-gai contoh 135 gr/km.

Adapun gas hasil pembakaran yang dihamburkan bermacam kendaraan melalui knalpot masing-masing, ialah: nitrogen (N2), uap air (H2O), karbon dioksida (CO2); meski ketiganya tidak tergolong bebahaya, namun yang paling akhir ini termasuk gas penyumbang pemanasan global. Diantara sejumlah gas yang tidak dikehendaki keberadaannya dalam atmosphere bumi ialah: karbon mono-oksida (CO), hidrokarbon (CxHy), dan oksida nitrogen (NOx). Kini setelah lebih dari dua abad revolusi industri berlangsung, ketiga jenis mesin yang diperkenalkan revolusi in-dustri dari Eropa silam, masih belum banyak beranjak dari keborosan penggunaan BBC. Ini dise-babkan “Bidang Teknik Mesin” dari berbagai Perguruan Tinggi Teknologi di muka bumi masih belum berhasil memecahkan permasalahan dihadapi secara ekonomis. Jejak karbon inilah yang belakangan ini disaksikan warga China mengambang di udara sejumlah kota besar di negeri Tirai Bambu itu, seperti: Beijing, Shanghai, dan lainnya yang menganggu pernafasan warga negara-nya. Ancaman semacam juga akan menghampiri Tanah-Air, manakala anak negeri tidak berhasil mengambil langkah nyata dalam perencanaan untuk menghindarkannya.

Gunung-Api Buatan Manusia
Hingga kini, sudah dikenal tiga golongan limbah yang mencemari lingkungan hidup makhluk di muka bumi ditimbulkan “aliran benda (materi)” yang hijrah dari dalam perut bumi menuju per-mukaan buatan manusia, pertama: gas dan benda renik (small particles) hasil pembakaran bera-gam bahan-bakar asal bermacam industri penghasil barang (produk) dan jasa (service), seperti: industri dan pabrik, sarana angkutan, tambang, kilang mulai kecil hingga besar, beragam kegiatan ekonomi masyarakat dari kecil hingga menengah, dan lainnya yang ada di muka bumi yang dihamburkan begitu saja ke atmosfer diseputar bumi lalu mencemari udara; kedua: air-kotor dihasilkan bermacam industri penghasil barang (produk), jasa (jasa), seperti: industri dan pabrik, angkutan, tambang, kilang, kota dari kecil hingga besar, dan lainnya, dan dibuang begitu saja kedalam badan-air: parit, kolam, kanal, danau, sungai, dan berakhir di laut hingga samudra; ketiga: berjenis barang hasil industri yang sudah habis masa pakai ekonominya dan berubah menjadi rongsokan, seperti: mobil, kereta-api, kapal sungai hingga samudra, pesawatterbang, bermacam perlengkapan dan peralatan perang, komputer, laptop, telepon pintar, sampah rumah tangga mulai kota kecil hingga besar, dan lainnya, diterlantarkan begitu saja di dimana-mana di darat menyita lahan tidak sedikit. Dengan penduduk bumi yang terus meningkat jumlahnya, ketiga kelompok limbah disebutkan, juga akan bertambah jumlahnya di muka bumi menelusuri perjalanan waktu kedepan.

a. Pencemaran Atmosfer
Pengendara sepeda motor menyimak pengukur bensin, lalu mampir ke tempat pengisian BBM. Dari dalam tanki, lewat teknologi mutakhir bensin kemudian disuntikkan kedalam silinder, dan setelah bercampur udara lalu dipantik. Timbul letusan, “panas” dibebaskan, dan gas bertekanan ttimbul sekejap didalam silinder mendorong “pengisap” kebawah. Dengan pertolongan poros-engkol, gerakan lurus pengisap diubah menjadi putar. Selanjutnya dengan rantai, gerakan putar poros dihubungkan dengan roda belakang yang membuat sepeda motor bergerak. Diperlukan banyak sekali letusan dalam silinder mengantarkan pengendara sepeda motor berikut pengendara sampai ke tujuan. Dengan mengatur isi (volume) silinder, mulai ukuran hingga dengan jumlah-nya, demikian juga ragam BBM digunakan, daya (power) yang dihasilkan mesin dapat diatur.
Demikianlah awalnya, bagaimana revolusi industri di Eropa silam memperkenalkan STG buatan manusia, hanya menerapkan “ilmu alam” (fisika) yang sederhana, lalu mengubah “peradaban u-mat” di muka bumi, lebih dari dua abad lamanya hingga hari ini, hanya dipicu pompa temuan Thomas Savery, yang kemudian diperbaiki Thomas Newcomen, lalu oleh James Watt diubah menjadi “sumber tenaga gerak” mesin pembakaran luar, disingkat MPL, ketiganya dari Inggris; dilanjutkan J.E.Lenoir dari Belgia memperkenalkan “sumber tenaga gerak” mesin pembakaran dalam, disingkat MPD. Yang disebut belakangan, boleh dinyatakan sebagai: untaian letusan hasil pembakaran BBM terkendali kemasan tunggal (single package) yang menghasilkan tenaga gerak keperluan beragam industri, wabilkhusus: sarana angkutan, tidak terkecuali beragam industri la-innya. Apabila tidak terkemas baik, dan tidak pula terkendali, akan menimbulkan letusan bom seketika yang dapat menghancurkan apabila bahan-bakar yang telah bercampur udara dipantik. Sejak dari saat bersejarah itu, berbagai industri lalu bermunculan dimana-mana di muka bumi i-barat jamur di musim hujan yang membuka lapangan kerja untuk umat, tidak terkecuali memper-kenalkan beragam sarana angkutan: darat, air, udara, kebutuhan: sipil, militer, dan lainnya. Buda-ya bepergian berjalan-kaki dan naik-kuda, tidak terkecuali kereta dihela kuda atau ternak lain yang selama ini dimanfaatka orang dimana-mana di muka bumi, lenyap dan digantikan kenda-raan di-jalankan mesin pembakaran yang belum dikenal orang dari zaman sebelumnya. Berbagai lingkungan budaya dan adat istiadat yang tadinya tertutup karena terisolasi oleh jarak tempuh yang jauh, kemudian segera terbuka mengakibatkan timbulnya berbagai persoalan sosial, ekono-mi, politik, keamanan, dan lainnya yang sangat rumit.

Usai letusan pertama, silinder mesin lalu dibilas menjelang penyuntikan bensin baru untuk di-campur dengan udara baru sebelum pemantikan berikutnya; demikian seterusnya dengan letusan-letusan yang menyusul kemudian. Pembilasan silinder menimbulkan “gas buang” yang dikelu-arkan dari knalpot, melahirkan “limbah gas” yang diperkenalkan revolusi industri. Limbah-gas dihasilkan oleh dari ribuan, jutaan, miliard, triliun, bahkan lebih letusan, yang dihamburkan begitu saja ke atmosfer bumi yang mengotori udara, karena tidak dapat lagi dikembalikan keda-lam perut bumi darimana asalnya, setelah “panas” berhasil pembakaran bensin diubah menjadi “gerak” yang diperlukan pengendara sepeda motor.

Limbah gas tidak hanya dihamburkan angkutan: darat, laut, dan udara, tetapi juga oleh tak terhi-tung jumlah pabrik dan industri yang ada di muka bumi sampai kini yang menggunakan: mesin-uap, mesin-bensin, dan mesin-diesel guna memproduksi: beragam barang (produk), layanan jasa; (service) yang bilanagn dan ragamnya terus meningkat di bumi dalam perjalanan waktu, tersebar kedalam beragam negara. Selain pencemaran atmosfer diperoleh dari pembakaran: BBP, BBC, dan BBG berlangsung dalam silinder-silinder beragam kendaraan, masih ada lagi sumber pence-maran dari bahan “additive” yang sengaja ditambahkan orang, seperti: logam timbel kedalam ba-han-bakar, dan lainnya kedalam minyak lumas. Adapun tujuan penambahan bahan-bahan ini guna meningkatkan kinerja: mesin-uap, mesin-bensin, dan mesin-diesel. Kegunaan pemakaian bahan additive terhadap mesin kendaaraan diterangkan dengan baik oleh pabrik pembuatnya, a-kan tetapi dampak “sampah-gas” yang mengandung bahan additive manakala terhirup kedalam pernafasan manusia hampir samasekali tidak diterangkan.

Seperti yang telah berulang kali diterangkan, “limbah gas” yang dihamburkan ke atmosfer bumi yang mengelilingi planit biru, datang dari beragam industri, seperti: beragam sarana tansportasi dan berjenis industri yang terdapat di bumi. Banyaknya limbah-gas dihamburkan dalam Triliun metric-ton amat tergantung dari: isi (volume) silinder, bilangan silinder, putaran poros per menit, daya dihasilkan, dan banyaknya: mesin-uap, mesin-bensin, dan mesin-diesel dimanfaatkan umat setiap hari di seluruh penjuru dunia dalam setahun memproduksi beragam barang (produk) dan aneka jasa (service). Perlu dicatat luas muka bumi, terdiri dari daratan dan permukaan air, semuanya: 510 juta km2. Tiga perempat berat (massa) udara yang menyelimuti bola bumi berada hingga ketinggian 11.000 meter (11 km) diatas permukaan laut. Puncak Everest, tempat tertinggi yang ada di muka bumi berada pada ketinggian 8.848 m diatas permukaan laut, sementara tempat tertinggi yang dapat dihuni manusia ialah: 5.500 m diatas permukaan laut, karena pada keting-gian ini kemampuan paru-paru memperoleh oksigen untuk bernafas telah berkurang menjadi hanya 50%. Adapun sebagian besar Volume Udara (VU) yang terdapat dalam atmosfer bumi yang mengitari planet biru, keberadaannya dipercayakan kepada gaya-tarik (gravitasi) bumi, ber-jumlah: 5,41 Miliard km3. Dengan garis-tengah bumi: 12.740 km, Volume Bumi (VB) ini besarnya: 1.081 Miliard km3. Dengan demikian perbandingan volume udara terhadap volume bu-mi memberikan angka:

VU/VB = 0,5%

Dari perbandingan diatas tampak jelas, bahwa lapisan udara yang menyelimuti bola bumi atau planit biru, hanyalah sebuah lapisan tipis, yang boleh juga disebut “selaput udara”. Karena begitu tipisnya lapisan udara ini, maka tidak dapat diragukan lagi amat rawan terhadap pencemaran yang ditimbulkan aliran benda (materi) mengalir dari dalam perut bumi menuju permukaan yang ditimbulkan revolusi industri.

Guna memberi gambaran yang lebih jelas tentang “arti” perbandingan yang disebutkan diatas, bayangkan sebuah bola dengan garis tengah 100 m diletakkan ditengah sebuah stadion sepak-bola, untuk mewakili bola bumi dengan ukuran yang diperkecil. Lalu sentuhkan sebuah mistar panjang 10 cm tegak lurus terhadap bidang yang menyentuh bola. Dengan demikian, tiga pe-rempat berat udara yang menyelimuti bola bumi yang diperkecil akan terdapat pada angka 8,64 cm. Memandang bola bumi diperkecil dari salah satu kursi didalam stadion, orang akan men-dapat kesan betapa kecilnya lapisan atmosfer bumi berukuran selaput ini, benar-benar tampak rawan terhadap pencemaran yang ditimbulkan aliran bahan (materi) yang meninggalkan perut bumi (diperkecil) menuju permukaan berlangsung tanpa henti, yang terus meningkat jumlahnya menelusuri perjalanan waktu. Akan tetapi bagi orang yang memandang ke angkasa dari tempat duduk yang sama dalam stadion, tidak akan mudah percaya bahwa ruang atmosfer seputar bola bumi (sebenarnya) yang terluhat begitu luas, akan mudah tercemar oleh aliran bahan (materi) yang meninggalkan perut bumi menuju permukaan berlangsung tanpa henti, meski jumlahnya terus meningkat menelusuri waktu. Apa yang akan mengadili sudut pandang bertolak belakang dari dua pengamat yang duduk di kursi stadion yang sama, terpulang kepada “penguasaan ilmu pengetahuan” dan “akal sehat” yang mereka miliki semata.

Selain dari itu, apabila lapisan udara atmosfer bumi diibaratkan garasi mobil tertutup rapat yang memuat mobil dengan mesin dihidupkan. Secara perlahan tapi pasti, udara yang berada dalam garasi akan tercemar limbah-gas buang yang menyebabkan orang-orang berada dalam mobil dengan kaca terbuka menderita sesak nafas. Bagi mereka yang duduk di dalam mobil masih ada jalan keluar untuk mendapat pertolongan, yakni manakala ada orang di luar garasi yang cepat mengetahui keadaan, lalu dengan cepat mendobrak pintu garasi untuk membuka paksa secepat-nya. Akan tetapi bagi umat yang berdiam di muka bumi dengan atmosfer tercemar pertolongan demikian samasekali sudah tidak lagi mungkin dilakukan.

b. Pencemaran Badan Air
Beragam industri yang menghasilkan aneka ragam barang (produk) dan jasa (service), tidak terkecuali bermacam sarana angkutan, kilang, dan lainnya, tidak terkecuali rumah tangga kota-kota kecil hingga besar, dan masih banyak lagi lainnya yang ada di muka bumi memerlukan air bersih dalam kegiatan sehari-hari. Air bersih yang melalui proses: campur, endap, saring, bilas, cuici, radiasi, dan lainnya, kemudian berubah menjadi air-tercemar atau air-kotor, karena tidak dapat digunakan lagi. Air bersih juga mengalami berbagai proses dalam tambang: batubara, mi-nyak bumi, biji mineral, dan lainnya, mulai dari kegiatan: penggalian, pengeboran, transportasi, pengolahan dalam kilang atau pabrik; baik yang sudah berjalan maupun yang akan menusul ke-mudian; semuanya memerlukan air-bersih yang kian besar jumlahnya. Air bersih yang menjala-ni satu atau lebih proses akan menjadi air kotor yang kemudian dibuang. Dengan penduduk bumi yang terus bertambah jumlahnya, begittu pula kegiatan ekonomi kian berkembang, jumlah air-kotor yang dihasilkan kegiatan hidup dan ekonomi akan semakin banyak dalam perjalanan wak-tu. Karena belum terdapat Instalasi Penjernihan Air (IPA) yang dapat menangani air-kotor terhadap jumlah dihasilkan di berbagai tempat di muka bumi yang memerlukan, maka air-kotor dihasilkan beragam proses yang berhubungan dengan kegiatan hidup dan ekonomi umat di muka bumi, dibuang begitu saja kedalam badan air: parit, kanal, sungai, danau, laut, hingga samudra dimana-mana di seantero dunia.

c. Pencemaran Darat
Beragam barang hasil industri yang telah habis masa pakai ekonominya beralih menjadi barang rongsokan, seperti: mobil, kereta-api, kapal sungai hingga samudra, pesawatterbang, beragam mesin perang, komputer, laptop, telepon pintar, sampah kota dari kecil sampai besar, dan lain sebagainya, diterlantarkan saja dimana-mana menyita lahan di muka bumi. Dalam hal ini tidak terkecuali bangunan dan instalasi bermacam tambang, bor bumi, sarana angkutan yang telah ha-bis masa pakai ekonominya; seluruhnya diterlantarkan saja menyita lahan di muka bumi dari da-ratan hingga lepas pantai dimana-mana.

Gunung-Api Buatan Manusia
Dari apa yang telah disampaikan, bensin sebelum tiba di pompa BBM, awalnya “minyak men-tah” yang dalam kilang diolah menjadi bensin. Dan “minyak mentah” itu sendiri sebelum sampai ke kilang, berada ribuan meter dalam perut bumi. Bensin yang berahir menjadi: limbah-gas lalu dihamburkan ke atmosfer seputar bola bumi yang mencemari udara. Begitu pula keadaannya de-ngan air-bersih yang telah tercemar, lalu menjadi air-kotor. Yang akhir ini datang dari berbagai proses pembuatan barang (produk) dan jasa (service) dalam berjenis pabrik, industri, kilang, tam-bang penggalian: batubara, minyak bumi, gas, mineral dan lainnya. Ada pula air kotor datang dari kegiatan mencuci atau pembilasan: motor, mobil, kereta-api, pesawatterbang, kapal sungai hingga samudra, dan masih banyak lainnya. Dan tidak dapat dihindarkan adanya air-kotor yang datang dari beragam rumah tangga yang terdapat di muka bumi, mulai kota-kota kecil hingga besar. Semuanya menghasilkan: limbah-cair yang terhimpun di muka bumi. Akhirnya rongsokan segala macam barang bekas mulai: motor, mobil, kereta-api, pesawatterbang, kapal sungai hing-ga samudra, dan lain sebagainya. Begitu pula rongsokan tambang: batubara, minyak bumi, biji aneka mineral, tidak terkecuali instalasi penggalian, pengeboran, alat-alat berat dan transportasi, beragam instalasi pengolahan, dan lain sebagainya yang sudah habis masa pakai ekonomisnya. Selain dari itu tidak boleh dilupakan sampah perkotaan yang menggunung tampil dimana-mana di muka bumi yang menimbulkan: limbah-padat.

Dari apa yang telah dikemukakan diatas terlihat jelas, bagaimana aliran benda (materi) dari da-lam perut bumi menuju permukaan “buatan manusia” yang berakhir menjadi: “limbah-gas”, “limbah-cair”, dan “limbah-padat”. Karena limbah-gas tidak dapat lagi dikembalikan kedalam perut bumi setelah “panas” hasil pembakaran bahan-bakar diambil untuk menggerakkan kenda-raann, industri dan lainnya; begitu juga pencemar air-bersih tidak lagi dapat dipisahkan dari air kotor untuk dipulangkan kedalam perut bumi; selanjutnya rongsokan barang-barang hasil pro-duksi beragam industri tidak terkecuali sampah perkotaan tidak mungkin lagi dipulangkan keda-lam perut bumi, semuanya lalu mencemari: atmosphere, badan air, dan lahan di muka bumi. Manakala dibandingkan dengan gunung-api yang sedang meletus, “limbah gas” bikinan manusia boleh disetarakan dengan asap gunung api yang disemburkan ke udara; “limbah cair” bikinan manusia boleh disetarakan dengan lahar dingin, atau aliran lumpur gunung-api, atau aliran lum-pur Lapindo; dan “limbah padat” bikinan manusia boleh disetarakan dengan lahar panas gunung-api yang telah menjadi: abu, pasir, dan bongkahan bebatuan. Dengan munculnya “revolusi in-dustri” di bumi, diawali dari Eropa lebih dari dua abad silam, ketiga jenis limbah yang telah dibi-daninya ini, dapat dinamakan dengan: “Letusan Gunung-api Buatan Manusia”, disingkat LGBM, atau The Man Made Volcano, disingkat TM2V.

Perlu dicatat, gunung-api yang banyak jumlahnya di bumi, apabila meletus akan berhenti setelah beberapa lama berlangsung, dan baru akan meletus kembali bertahun atau puluh tahun kemudian. Akan tetapi, berlawanan dengan gunung-api bumi, LGBM meletus setiap hari sepanjang tahun, dan setiap tahun sepanjang abad, terus-menerus meletus, karena tidak mengenal istilah berhenti walau untuk sejenak.

Sebuah Pengandaian
Mengingat filsafat dan ilmu pengetahuan telah lama berkembang di kawasan Timur Tengah, didukung luasnya perdagangan dan kontak budaya antara berbagai bangsa yang berdiam disana dalam perjalanan waktu yang begitu panjang ketimbang bagian dunia lain, lalu menimbulkan pertanyaan: mengapa “revolusi industri” tidak bermula justru dari bagian dunia itu? Agaknya, Timur Tengah ketika itu terlalu penuh hirukpikuk percaturan pengaruh dan kekuasaan berkepan-jangan sehingga menyebabkannya bukan lahan baik untuk melahirkan penemuan sederhana yang mengubah peradaaban dunia. Di fihak yang sebaliknya, Eropa utamanya Inggris kala itu, meski masih tergolong “kampung”, jauh dari kegaduhan model Timur Tengah, didukung kaum intelek-tual berpengetahuan tepat guna yang tengah bersemi, membuat Eropa ketika itu ladang subur tempat munculnya gagasan baru, sebagaimana yang dipelopori Thomas Savery (1650-1715), saat memperoleh tantangan membuat pompa-air keperluan tambang memanfaatkan vakum yang di-timbulkan uap bertekanan dalam bejana yang disiram air dingin, lalu mempatenkannya. Thomas Newcomen (1664-1729) rekan sebangsanya, memperkenalkan pula gagasan lain untuk tujuan yang sama. Dari hasil karya kedua rekan sebangsanya, James Watt (1736-1819) lalu memper-kenalkan “sumber tenaga gerak” pertama buatan manusia kepada dunia berwujud sebuah mesin-uap berputar. Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) dari Belgia, memperkenalkan pula “mesin pembakaran” berbahan-bakar bensin pemantik sumbu sebagai “sumber tenaga gerak” ringan per-tama di dunia. Nikolaus Otto dari Jerman memperkenalkan mesin pembakaran berpengabut dan berpemantik listrik dinamakan: mesin bensin, untuk yang mudah digunakan pertama di dunia. Pada tahun 1900, Rudolf Diesel, rekan sebangsanya dari Jerman turut pula memperkenal-kan mesin pembakaran berpemantik kempa yang bernama: mesin diesel pertama di dunia. De-ngan demikian, deretan kartu domino teknologi STG pengubah PPG (TMC) diperkenalkan revo-lusi industri kepada dunia di Eropa lebih dari dua abad silam. Sejak dari saat bersejarah itu umat berkenalan dengan STG-PPG(MES-TMC) yang baru samasekali, diawali dari Inggris, dilanjut-kan Belgia, kemudian disempurnakan Jerman; semuanya memperkenalkan kepada dunia apa yang lalu dikenal orang dengan: “engine” (Inggris), “maschine” (Jerman), dan “mesin” (Indone-sia), yang kemudian menyebar ke Amerika Utara, lalun Jepang, dan akhirnya seluruh penjuru du-nia, tidak terkecuali Tanah-Air.

Setelah lebih dari dua abad berlangsung, manusia kemudian sadar, bahwa PPG (TMC) yang di-perkenalkan revolusi industri diawali dari Eropa silam, menjadi “penyebab” utama pencemaran lingkungan hidup umat di bumi, mulai: atmosfer, badan-air, hingga daratan. Para ahli ilmu pe-ngetahuan dari berbagai penjuru dunia mulai Barat hingga dengan Timur, kini mengevaluasi kea-daan, dan berusaha dengan sungguh mencari jalan keluar untuk mengatasi dampak negatif yang ditimbulkan pencemaran, sebagaimana diperingatkan oleh “Surat Ar-Rum, ayat 41”.

Menanggulangi Pencemaran Atmosfer
Untuk menghindarkan udara yang memenuhi atmosfer bumi tercemar dari limbah-gas yang di-hamburkan bermacam kendaraan, beragam industri, dan lain sebagainya yang membakar bahan-bakar fossil, seperti: BBP, BBC, dan BBG yang meresahkan umat berdiam di perkotaan, bahkan sudah dikeluhkan orang sejak awal revolusi industri lebih dari dua abad silam, John Bockris dari Pusat Teknik General Motor, Amerika Serikat, memperkenalkan pemakaian Bahan Bakar Hidrogen (BBH) tahun 1970, unsur kimia paling banyak ditemui di muka bumi, untuk bahan-bakar angkutan umum, sehingga gas buang dikeluarkan dan dihamburkan ke atmosfer bumi ha-nya uap-air. Dengan demikian pencemaran atmosfer yang diakibatkan aliran benda (materi) yang meninggalkan perut bumi menuju permukaan, diperkenalkan sejak awal revolusi industri di Eropa silam, akan hilang dengan sendirinya. Sebagai pelopor anti pencemaran atmosfer bumi menggunakan BBH, tampil sejumlah negara Nordik, juga berasal dari luar kawasan Timur Tengah. Pemimpin Islandia terinspirasi oleh gagasan John Bockris dari Amerika Serikat, dan menjadikan bangsanya pertama di muka bumi yang memproklamirkan “hydrogen-powered eco-nomy” (ekonomi berdaya-hidrogen). Untuk menghasilkan (BBH) yang diperlukan bangsanya; tetangga Kutub Utara itu mengandalkan listrik yang dihasilkan Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) yang banyak terdapat dinegeri itu, guna mengurai “air” menjadi: hidrogen dan oksigen. Bis angkutan umum bertenaga hidrogen lalu diujicoba di jalan-raya ibukota Reykjavik, dan disusul mobil listrik bersumber tenaga listrik sel bahan-bakar.

Negara luar kawasan Timur Tengah lain, yang sedang berkemas menyambut “hydrogen-powered economy”, ialah Swedia. Berbeda dengan Islandia mengandalkan tenaga panas bumi, Swedia menggunakan tenaga listrik diperoleh dari peladangan panelsurya. Bagian Barat negeri telah dijadikan tempat mengembangkan kawasan ramah-lingkungan, terutama pelabuhan dan tempat industri kendaraan bermotor SAAB yang akan memanfaatkan BBH sebagai bahan-bakar.

Negara Nordik lainnya yang tidak mau ketinggalan, ialah Denmark. Walikota Nakskov dari pu-lau Lolland telah melakukan kerjasama dengan pengembang sel bahan-bakar negeri bernama IRD, lalu mengembangkan pula proyek dan organisasi: “Baltic Sea Solution”. Yang disebut a-khir ini tidak lain dari masyarakat Denmark itu sendiri yang akan membentuk kelompok warga yang menjadi komunitas tempat pengujian kelajakan penggunaan teknologi sel bahan-bakar yang tengah dikembangkan termasuk menyediakan bermacam fasilitas diperlukan.

Bagaimana dengan Indonesia, sebuah negara Asia Tenggara yang terletak di luar kawasan Timur Tengah. Di negeri dengan Sumber Daya Alam (SDA) panas bumi yang melimpah, bahkan lang-sung dari gunung-api masih aktif banyak bilangannya, begitu juga lahan peladangan panelsurya luas terdapat di khatulistiwa, dengan sendirinya tidak boleh ketinggalan dari segelintir negeri Nordik diatas. Walau tidak akan lagi menjadi pelopor, namun Indonesia dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang besar lagi berpendidikan, kesempatan menjadi “motor” hydrogen-powered ekonomi Asia Tenggara berdampak global besar, tetapi negara besar ini mengambil langkah lain. Meski sejak 30 Desember 1949 Indonesia telah merupakan negara merdeka yang diakui dunia (PBB) bernama: Republik Indonesia Serikat (RIS), sejak semula pimpinan negara memilih berpetualang dengan “Demokrasi Terpimpin”, mengindoktrinasi rakyat dengan TUBAPI, meng-gunting dan mendevaluasi Rupiah dua kali yang meluluhlantakkan perkonomian; kemudian disusul dengan “Demokrasi Pancasila”, mengindoktrinasi rakyat dengan BP7, terjangkit krismon dari Thailand mengakibatkan Rupiah terpelanting pada tahun 1997 yang mengacaukan perekono-mian bangsa berkepanjangan; sebelum reformasi tahun 1998 tampil menyelamatkan. Sebagai akibat kedua petualangan menghabiskan waktu lebih dari setengah abad, Indonesia tampil ter-tinggal dari Korea Selatan yang hancur dalam perang semenanjung di negeri itu, baru damai tanggal 27 July 1953; juga sejumlah negara tetangga, seperti: Malaysia merdeka 1957, Singapura merdeka 1965, Brunai merdeka 1984, dalam berbagai bidang kehidupan, kesejahteraan rakyat, tidak terkecuali hak azasi manusia.

Sejarah Pendidikan
Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya, agama Islam datang ke Nusantara dibawa muba-ligh dan para pedagang. Mereka kemudian mendirikan mesjid dan surau untuk tempat beribadah sekaligus pusat pengajaran kepercayaan baru. Kemudian tampil madrasah, yang kini dinamakan: Pondok Pesantren, disingkat Ponpes. Adapun matapelajaran yang diberikan di madrasah-ma-drasah Asia Tenggara dan Tanah-Air, ialah pelajaran agama Islam, bermuatan: keimanan, hu-kum, nilai, dan lainnya sebagainya sebagaimana yang tercantum dalam Al-Quran dan Hadis me-manfaatkan bahasa daerah dan “aksara Arab”. Lahirlah bahasa daerah yang menggunakan aksa-ra Arab.
Memasuki abad ke-20, kaum kolonial dari: Inggris, Perancis, dan Belanda yang memiliki tanah jajahan di Asia Tenggara, memperkenalkan program baru dalam koloni mereka. Itulah sebabnya mengapa negara-negara kolonial itu lalu memperkenalkan pendidikan Barat guna mendukung program yang telah dipersiapkan. Di Nusantara, Belanda memperkenalkan “sekolah gouverne-ment” yang lalu berganti menjadi “sekolah melayu”. Sekolah akhir ini dirancang untuk mencetak SDM anak-anak negeri yang akan dijadikan: pamong, guru, kerani (pegawai administrasi), dan lain sebagainya. Adapun matapelajaran yang diberikan di sekolak-sekolah melayu, ialah: me-nulis, membaca, berhitung, tidak terkecuali pengetahuan umum. Bahasa pengantar digunakan: ialah “bahasa melayu” dan bahasa daerah, akan tetapi aksara digunakan “tulisan Latin” pilihan Belanda. Lahir dengan demikian bahasa melayu beraksara Latin, dan bahasa daerah tulisan yang sama.

Belanda mengembangkan lebih lanjut pendidikan Barat yang telah diperkenalkannya sampai ke jenjang Perguruan Tinggi dan Universitas sebagaimana telah berkembang di daratan Eropa, seba-liknya pendidikan madrasah berjalan sebagaimana yang berlangsung di Timur Tengah. Meski-pun pendidikan Barat yang dikembangkan Belanda silam di Tanah-Air telah berubah menjadi: Sekolah Rakyat (SR), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Universitas memasuki alam kemerdekaan, dalam mengembangkan pendidikan di Tanah-Air ber-sifat nasional, demikian pula pedidikan Ponpes asal madrasah dengan memasukkan matapela-jaran ideologi negara, managemen, keterampilan teknologi, dan lain sebagainya kedalam kuriku-lum; namun kedua sistim pendidikan muncul dari perjalanan sejarah yang berlainan itu masih memperlihatkan padangan hidup kaum wisudawan yang tidak seiring. Dualisme masih tampak jelas dalam pemahaman masyarakat, dengan menyeruaknya dalam kehidupan umat pengertian “ahli zikir” dan “kaum intelektual” yang belum lagi sejalan.

Dinamika Sumber Tenaga Gerak
Alam semesta merupakan sebuah sistim mekanik yang amat besar. Itulah sebabnya mengapa makhluk yang hidup di permukaan benda langit, tidak terkecuali bumi, menjadi bagian dari si-stim mekanik benda langit tersebut. Setiap benda, baik yang hidup maupun yang mati, memer-lukan tenaga untuk dapat bergerak. Manusia, hewan, dan tumbuhan memanfaatkan juga “panas” hasil pembakaran “karbohidrat” yang dihasilkan di dalam tubuh dengan “oksigen” didatangkan dari atmosfer, dilakukan serangkaian otot untuk dapat begerak. Terdapat berbagai STG (SoME) yang berhasil dikembangkan umat manusia yang hidup di muka bumi, masing-masing:

A. Panas Reaksi Kimia
Apa yang telah diperkenalkan revolusi industri di Eropa silam, ialah STG (SoME) yang me-ngubah “panas” (heat) hasil pembakaran bahan-bakar fossil menjadi “gerak”, yang dikenal de-ngan singkatan: PPG (TMC), pertama kali diperkenalkan di muka bumi kepada umat manusia oleh James Watt (1736-1819) dari Inggris, memanfaatkan “kemasan x-y”, diman: x = periuk/bejana tempat menanak air untuk memperoleh uap-bertekanan atau uap yang memiliki tenaga potensial, menggunakan panas hasil pembakaran: bahan-bakar padat, dan y = pasangan silinder-pengisap dan lengan serta poros-engkol yang mengubah tenaga potensial uap menjadi gerak berputar. Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) dari Belgia, kemudian memperkenal-kan STG “kemasan y” “pemantik sumbu”. Mengapa kemasan y dapat bekerja, karena gas berte-kanan yang mendorong pengisap kebawah, dapat diperoleh dalam sekejap dengan “memantik” campuran uap-bensin udara yang terdapat dalam silinder mesin. Pemantik sumbu selanjutnya disempurnakan Otto memperkenalkan STG “pemantik listrik”, melahirkan kemasan y dengan pemantik listrik (electric ignition). Rudolf Diesel juga dari Jerman selanjutnya memperkenalkan STG kemasan y dengan “pemantik kempa” (compression ignition) memanfaatkan bahan-bakar cair yang kemudian dikenal dengan nama solar (diesel fuel).

B. STG Hasil Reaksi Kimia
Kemasan x-y yang diperkenalkan James Watt (1736-1819), lalu berkembang, dengan mengganti pasangan silinder pengisap dan lengan serta poros engkol, dengan sebuah turbin-uap yang me-mutar generator. Lahir dengan demikian Pusat listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan bahan-bakar fossil (BBP, BBC, BBG). PLTU ini banyak digunakan orang untuk menghasilkan tenaga listrik yang diperlukan berbagai negara, mulai dari negara maju hingga dengan yang masih berkem-bang di muka bumi menggerakkan perekonomian beragam bangsa.

Kemasan y yang diperkenalkan Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900), juga ikut berkembang, dengan mengganti pasangan silinder pengisap dan lengan serta poros-engkol dengan sebuah turbin-gas juga untuk memutar generator. Lahir Pusat listrik Tenaga Gas (PLTG) dan dilanjutkan Pusat Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) yang memperbesar daya-guna. Keduanya membakar bahan-bakar gas alam (natural gas) untuk menyediakan tenaga listrik yang diperlukan perekonomian berbagai bangsa. PLTG dan PLTGU dapat menyediakan tenaga listrik lebih cepat ketimbang PLTU untuk menambah produksi tenaga listrik sebuah negara. Kemasan y dengan turbin-gas, juga berhasil mengembangkan mesin pesawat-terbang yang kemudian dikenal dengan nama: turbo-prop, torbo-jet, dan turbo-fan, yang menghasilkan “gaya tarik”, “gaya dorong”, atau keduanya sangat besar dalam metric-ton, yang dibutuhkan angkutan penumpang dan barang an-tar benua. Mesin-mesin: turbo-prop, torbo-jet, dan turbo-fan dalam waktu singkat lalu menjadi tulang punggung transportasi udara dalam negeri dan internasional bermacam Negara di muka bumi.

C. STG Elemen Kimia
Selain “panas” yang dapat diubah menjadi gerak, dilaksanakan Pengubah Panas Gerak (PPG) atau Thermo Mechanic Conversion (TMC), yang telah diperkenalkan revolusi industri be-rangkat dari ilmu alam (fisika), “listrik” juga dapat diubah menjadi gerak berangkat dari ilmu yang sama, dikenal dengan Pengubah Listrik Gerak (PLG) atau Electro Mechanical Conversion (EMC). Dengan demikian untuk sebuah elemen kimia juga dapat dikembangkan kemasan x-y PLG (EMC), dimana: x = elemen kimia yang membangkitkan tenaga listrik, dan y = mesin listrik yang mengubah tenaga listrik menjadi tenaga gerak berputar.

D. STG Sel Bahan-Bakar
STG elemen kimia yang kini mengemuka, ialah gagasan John Bockris muncul di Pusat Teknik General Motor Amerika Serikat tahun 1970 silam. Dari kemasan x-y PLG (EMC), disini: x = Sel Bahan-Bakar (SBB) yang membangkitkan tenaga listrik dengan mengalirkan BBH kedalamnya tanpa melaksanakan pembakaran samasekali, dan y = mesin listrik yang mengubah tenaga listrik menjadi tenaga gerak berputar.

E. Panas Reaksi Nuklir
Albert Einstein dari Amerika Serikat, tanggal 26 September 1905, mengumumkan kepada dunia apa yang dinamakan “theori relativitas” dengan formula: E = mc² yang tersohor. Apa sesungguh-nya yang ingin ia sampaikan kepada semua orang di muka bumi ketika itu, ialah: “benda” (materi) dan “tenaga” (energy) boleh dipertukarkan, sehingga “tenaga” dapat dihasilkan dengan menghilangkan benda dari Alam Semesta, dan begitu pula sebaliknya. Dengan theori relativitas-nya, Einstein juga ingin menyampaikan kepada dunia, bahwa terdapat tenaga (energy) yang melimpah i Alam Semesta, termasuk di permukaan bumi sehingga orang tidak akan kekurangan. Yang menjadi persoalan saat itu bagaimana mengetahuinya? Untuk yang akhir ini perlu dila-kukan percobaan. Maka pada tanggal 16 Agustus 1945, sebuah “bom-atom” pertama dicoba Proyek Manhattan bekerjasama dengan Angkatan Darat Amerika Serikat, di White Sands Pro-ving Ground, Jonada del Muerto, 56 km tenggara Socorro, Padang Pasir New Mexico; dan berhasil. Lalu tahun 1952 sebuah “bom-hidrogen” pertama juga dicoba di kawasan Pacifik; juga berhasil. Kedua bom ini mengeluarkan “panas” bukan dari “reaksi kimia” (chemical reaction) hasil pembakaran bahan-bakar fossil sebagaimana yang telah dikenal orang sejak awal revolusi industri di Eropa silam, akan tetapi dari apa yang kemudian dikenal dengan: “reaksi nuklir” (nuclear reaction), juga dinamakan “reaksi inti”. Kini orang mengenal dua macam sumber panas (heat), dari reaksi inti, masing-masing: “reaksi belah inti” (nuclear fission reaction) juga dikenal “reaksi nuklir fisi”, karena “inti atom berat” seperti uranium memang terbelah oleh neutron menjadi “atom-atom ringan” yang menyebabkan “bom-atom” meletus; dan “reaksi gabung inti” (nuclear fusion reaction) juga dikenal dengan “reaksi nuklir fusi”, karena inti-inti isotop hidrogen ringan menjadi tergabung oleh suhu reaksi yang sangat tinggi, mendekati suhu di pusat matahari menyebabkan “bom-hidrogen” meletus. Perlu dicatat, bahwa pada reaksi belah inti akan muncul sinar-sinar radioaktif berbahaya: alpha, beta, dan gamma berkepanjangan; sedangkan pada “reaksi gabung inti” tidak timbul sinar-sinar radioaktif samasekali. Sebagai akibat dari terbelah-nya inti atom berat, begitu pula tergabungannya isotope inti-inti atom ringan, sebagian “massa” atom-atom terlibat lalu lenyap atau hilang dari Alam Semesta, dan berubah menjadi “panas” (ka-lor) sebagaimana yang diterangkan dalam persamaan Einstein.

Sebagai akibat theori relativitas Albert Einstein, kini orang mengenal di muka bumi dua macam sumber “panas” (heat): pertama “panas” asal pembakaran atau reaksi kimia, seperti pembakaran: kertas, kayu, bahan-bakar fossil, sampah, dan lain sebagainya, kedua “panas” dari pembelahan inti atom berat, dinamaka reaksi fisi; atau penggabungan inti-inti isotop atom ringan, dinamakan reaksi fusi; keduanya dinamakan dengan reaksi nuklir, atau reaksi inti. Kedua reaksi ini membuat sebagian massa atom yang terlibat tiba-tiba menjadi lenyap atau hilang dan digantikan panas sesuai dengan rumus Eistein.

Panas yang dihasilkan reaksi nuklir belah atau fisi, pasca Perang Dunia Ke-II, melahirkan Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fisi (PLTNFi). Dari kemasan x-y, panas belah nuklir-gerak (thermo nu-clear fission-mekanik), disini: x = Reaktor Air Tekanan (RAT) atau Pressure Water Reactor (PWR), bertugas sebagai periuk tempat menanak air yang menghasilkan uap-bertekanan asal re-aksi fisi, dan y = pasangan turbin generator yang membangkitkan tenaga listrik; disusul Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fusi (PLTN-Fu) kemasan x-y panas gabung nuklir-gerak (thermo nuclear fusion-mekanik), disini: x = sebuah bejana yang dinamakan TOKAMAK bertugas sebagai periuk tempat bertanak air untuk menghasilkan uap-bertekanan dari reaksi fusi, dan y = pasangan turbin generator yang membangkitkan tenaga listrik, kini sedang dikerjakan sejumlah negara maju di Cadarache, Perancis Selatan.

Sebuah reaksi nuklir belah (fusion reaction) membebaskan tenaga panas (heat energy) setara 200.000.000 electron Volt (eV), disingkat 200 MeV, per satuan massa untuk tiap kejadian. Sebaliknya, pembakaran bahan-bakar fossil (BBP, BBC, BBG) atau reaksi kimia, membebaskan panas hanya beberapa eV per satuan massa untuk tiap kejadian. Itulah sebabnya mengapa reaksi nuklir, baik reaksi fisi maupun reaksi fusi, jauh lebih perkasa perkasa dibandingkan reaksi kimia yang telah dikenal umat hingga kini, sebagaimana yang telah ditunjukka oleh letusan “bom atom” dan letusan “bom hidrogen” yang sangat menakutkan umat di muka bumi sampai kini.

F. Reaksi Nuklir Gabung Dingin
Manakala hidrogen besentuhan dengan logam, antara lain: nikel, palladium, dan lainnya akan terjadi apa yang kemudian dikenal orang dengan istilah reaksi gabung dingin (cold fusion reaction). Manakala hidrogen, unsur kimia pembentuk air bersentuhan dengan logam yang telah disebutkan, akan timbul reaksi nuklir yang membebaskan “panas” bersama produk transmuta-sinya. Reaksi gabung dingin juga dinamakan Reaksi Nuklir Tenaga-Rendah (RNTR), atau Low-Energy Nuclear Reaction (LENR), dan yang akhir ini dapat menjadi penyedia “air-panas” bersih dan menghasilkan uap-bertekanan dalam bejana yang dapat digunakan memutar turbin untuk membangkitkan tenaga listrik. Dari kemasan x-y, disini: x = RNTR yang membangkitkan uap-bertekanan, dan y = turbin uap yang memutar generator pembangkit tenaga listrik layaknya sebuah PLTU. Umat lalu bermimpi menantikan ditemukannya Elemen Reaksi Gabung Dingin (ERGD) atau Cold Fusion Reaction Element (CFRE), sebagai Batere Umur Panjang (BUP), sehingga suatu ketika nanti orang akan membeli: sepeda motor, mobil, dan lain sejenisnya, lengkap dengan BUP yang muatan listriknya akan habis bersamaan dengan masa pakai ekonomis ken-daraan (vehicle’s economic service life), misalnya: 5 atau 10 tahun, lalu ERGD berikut kenda-raan di daur ulang kembali.

G. Tanaga Terbarukan
a. Peladangan Cahaya Matahari
Kemasan x-y lain, kini sedang berkembang pesat di berbagai negara untuk menurunkan pencemaran atmosfer bumi yang sudah timbul, diperkenalkan orang pula apa yang kemudian dikenal dengan nama “tenaga terbarukan” (renewable energy). Adapun contoh tenaga yang kian digandrungi umat dari berbagai belahan bumi ini, ialah memanen cahaya matahari yang lang-sung diubah menjadi listrik memanfaatkan pengubah fotovoltaik (photovoltaic converter). Dari kemasan x-y, disini: x = cahaya matahari, dan y = pengubah fotovoltaik. Lahir dengan demikian “peladangan cahaya matahari” untuk mengubah “cahaya matahari” menjadi “tenaga listrik” yang dimulai dari Eropa, lalu menyebar ke Amerika, dan Asia; mulai daratan hingga lepas pantai, untuk kawasan dimana dijumpai banyak hari matahari bersinar terang sepanjang tahun. Sebuah peladangan cahaya matahari dapat terdiri dari beberapa buah papan (panel) hingga dengan ribuan bahkan lebih lagi papan, menjadikan apa yang kemudian dikenal dengan: Pusat Listrik Tenaga Cahaya Matahari (PLTCM).

Suatu keluarga yang melakukan peladangan cahaya matahari di seputar kediaman, mulai atap hingga dengan halaman rumah, kini dapat memenuhi kebutuhan tenaga listrik sendiri. Tampak-nya keluarga ini membutuhkan sambungan listrik PLN hanya pada malam hari karena matahari telah tebenam, apabila keluarga tadi belum mempunyai instalasi batere untuk menyimpan tenaga listrik. Manakala keluarga ini telah menghasilkan tenaga listrik lebih dari keperluan, kelebihan-nya dapat dijual lang-sung ke PLN, sehingga rekening listrik bulanan keluarga untuk pemakaian malam hari menjadi lebih murah.

b. Peladangan Tenaga Angin
Tenaga terbarukan lain yang mudah diketahui kehadirannya ialah angin. Dari kemasan x-y, disi-ni: x = aliran udara, timbul karena permukaan bumi mendapat pemanasan matahari, dan y = baling-baling udara yang mengubah gerakan molekul udara (tenaga kinetik) menjadi gerakan putar baling-baling udara yang memutar generator listrik. Aliran udara yang berubah menjadi poros berputar berangkat dari hukum aerodinamika yang telah dikenal luas. Muncul dengan demikian peladangan “tenaga angin” yang diawali dari Eropa, lalu menyebar ke Amerika, dan Asia, mulai dari daratan hingga lepas pantai, dimana terdapat banyak jumlah hari angin berhembus sepanjang tahun. Peladangan angin dilaksanakan dengan menara tinggi, di puncak mana terdapat baling-baling udara daun: dua, tiga, dan lainnya, yang bebas berputar untuk menjalankan generator listrik. Sebuah perkebunan tenaga angin dapat memiliki puluhan, ratusan, bahkan ribuan menara tinggi dengan baling-baling udara diuncaknya memutar generator listrik, tergabung dalam kerja paralel, dan dinamakan orang: Pusat Listrik Tenaga Angin (PLTAn).

c. Peladangan Panas Matahari
Tenaga terbarukan lain telah lama digunakan di Spanyo ialah panas mataharil. Tenaga terba-rukan sama tengah dikembangkan lagi di gurun Sahara, Afrika Utara, dengan tenaga listrik di-hasilkan untuk diexport ke negara-negara Uni Eropa lewat SUTET. Apa yang dikerjakan orang disini tidak lain dari mewujudkan sebuah PLTU, hanya “panas” datang dari matahari tiba di muka bumi dalam waktu delapan menit. Dari kemasan x-y, disini: x = ialah periuk (boiler) tempat bertanak air yang menghasilkan uap-bertekanan terletak di tengah PLTU dikelilingi ribu-an cermin, dan y = turbin uap bekerja mengubah tenaga potensial uap menjadi gerakan putar turbin-uap yang menjalankan generator listrik. Setiap saat, sejak matahari terbit di ufuk Timur hingga tenggelam di Barat, cermin-cermin terpasang harus mengatur kedudukan masing-masing sedemikian rupa, sehingga cahaya dan panas matahari yang mereka pantulkan selalu menuju ke periuk (boiler). Sebagai akibatnya, suhu periuk (boiler) menjadi sangat tinggi, membuat air yang terdapat didalamnya mendidih menghasilkan uap-bertekanan yang diperlukan turbin-uap. Yang disebut akhir ini digunakan memutar turbin-uap yang menjalankan generator listrik. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Panas Matahari (PLTPM).

d. Perkebunan Panas Bumi
Panas bumi timbul dekat ke permukaan, sebagaimana yang ditemukan di wilayah pegunungan dan seputar gunung berapi yang masih aktif atau lainnya, juga termasuk tenaga terbarukan. Apa yang dilakukan orang disini juga mewujudkan sebuah PLTU, hanya “panas” digunakan dipero-leh langsung atau tak-langsung dari dalam perut bumi. Dari kemasan x-y, disini: x = periuk (boiler) tempat bertanak air yang menghasilkan uap-bertekanan, dalam hal ini “panas” diperoleh dari dalam perut bumi dengan mengebor sampai ke sumber panas. Ada kalanya uap-bertekanan tidak keluar dari dalam perut bumi setelah dibor hingga ke sumber panas, maka dalam keadaan demikian air-bersih perlu disuntikkan ke sumber panas agar uap-bertekanan dapat dihasilkan, dan y = turbin uap yang mengubah tenaga potensial uap menjadi gerakan putar turbin-uap untuk memutar generator listrik. Lahir Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB).

e. Tenaga Air
Tenaga terbarukan yang juga banyak digunakan orang di berbagai negara ialah tenaga air. Tenaga air sesungguhnya bersumber dari matahari yang memanasi permukaan bumi, membuat air yang adat dipermukaannya menguap menjadi awan. Yang akhir ini dibawa angin ke berbagai penjuru, dan setelah mendingin kembali menjadi air yang jatuh kembali ke bumi sebagai hujan. Terdapat dua macam tenaga air diperoleh dari hujan, masing-masing: “tenaga potensial” karena air terhimpun di dalam: kolam, waduk, danau, waduk, sungai, dan lainnya berada pada suatu ke-tinggian diatas permukaan laut, dan aliran air deras dari bermacam sungai curam yang memiliki “tenaga kinetik. Tenaga air golongan pertama tergantung dari perolehan hasil kali: Q.l, dimana: Q menyatakan aliran (debit) air dalam m3/det, sedangkan l (m) merupakan tinggi jatuh air; sedangkan untuk yang kedua, yakni aliran air deras tergantung juga dari debit Q (m3/det), dan kecepatan air mengalir dalam v (m/det). Untuk golongan pertama, kemasan x-y, disini: x = aliran air (Q) dan tinggi jatuh l (m), sedangkan y = baling-baling atau turbin air digunakan untuk mengubah tenaga potensial air menjadi gerakan poros turbin-air yang memutar generator listrik memanfaatkan hidrodinamika. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA).

Tergantung dari hasil kali Ql didapat, dibedakan orang: PLTA daya amat besar, PLTA daya besar, PLTA daya menengah, PLTA daya sedang, PLTA daya kecil, dan PLTA daya sangat kecil. Dan yang akhir ini juga dikenal dengan PLTA-mikro, dan di Tanah-air dinamakan orang “mikro-hidro”. Terhadap yanggolongan kedua, kemasan x-y, disini: x = aliran air (Q) dan kecepatan aliran air v (m/det), dan y = baling-baling digunakan untuk mengubah tenaga kinetik air, menjadi gerakan turbin-air untuk memutar generator listrik memanfaatkan hidrodinamika, dan dinamakan PLTAir Deras, di-singkat (PLTAD).

f. Tenaga Gelombang
Angin berhembus kencang di permukaan laut atau samudra akan menimbulkan gelombang air yang akhirnya menghempas di pantai. Gulungan gelombang air laut bergerak menuju pantai ini tergolong kedalam tenaga air terbarukan. Banyak negara khususnya yang sudah maju meman-faatkan gelombang air laut untuk menghasilkan listrik yang dibutuhkan mercu suar, juga kelompok masyarakat terpencil berdiam di tepi pantai, dan lainnya. Dari kemasan xy, disini: x = gelombang air laut, dan y = pengubah tenaga gelombang air menjadi gerak memanfaatkan aero-dinamik, atau hidrodinamika, atau gabungan dari keduanya. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Gelombang Air Laut (PLTGAL).

g. Tenaga Arus Bawah Laut
Arus-arus air laut dalam hingga samudra juga tergolong tenaga terbarukan yang terdapat di dasar laut hingg samudra. Sekarang sumber tenaga terbarukan ini telah dilirik sejumlah negara maju untuk diubah menjadi tenaga listrik guna mengurangi pencemaran atmosfer bumi. Dari kemasan x-y, disini: x = arus bawah laut hingga samudra timbul karena perbedaan suhu air di permukaan laut dengan suhu air laut kedalaman tertentu, dan y = baling-baling air untuk mengubah gerakan molekul air (tenaga kinetik) menjadi gerakan putar baling-baling air yang menjalankan generator listrik memanfaatkan hidrodinamika. Dengan demikian, peladangan tenaga arus air-laut dalam berkembang, dan menyebar ke berbagai penjuru dunia dimana tersedia sumber-sumber arus bawah laut hingga samudra yang dapat digunakan. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Arus Bawah Laut Dalam (PLTABLD).

h. Tenaga Suhu Air Laut
Perbedaan suhu air laut hingga samudra yang ada di permukaan dengan suhu air laut hingga samudra yang terdapat di suatu kedalaman, kini dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan tenaga listrik. Cara pengubahan tenaga diterapkan adalah juga sebagaimana PLTU, karena perbedaan suhu air laut berbeda yang samasekali tidak membutuhkan pemakaian bahan-bakar, sehingga tergolong juga kepada tenaga yang terbarukan. Dari kemasan x-y, disini: x = perbedaan suhu air laut, dan y = turbin-uap yang digunakan untuk mengubah uap-bertekanan menjadi gerakan putar turbin yang menjalankan generator listrik. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Suhu Air Laut (PLTSAL).

i. Tenaga Kilat
Kilat sambar-menyambar di angkasa, tidak diragukan lagi listrik bertenaga besar oleh tegangan yang amat tinggi: “jutaan volt” dan arus mengalir yang besar: “ribuan Ampere”, karena yang akhir ini dapat menghanguskan pohon kayu. Perlu diketahui “kilat” adalah juga “petir”, hanya perbedaannya: yang pertama ialah apa yang disaksikan dengan mata, sedangkan yang kedua yang dapat diketahui lewat telinga. Dengan tegangan yang begitu tinggi, kilat mudah menyambar kemana-mana di angkasa, baik diantara awan dengan awan saat muatan listrik keduanya berla-wanana, demikian pula antara awan dengan bumi ketika muatan listrik keduanya berlainan. Kilat sambar-menyambar antara awan dengan awan berlainan muatan di angkasa tidak dapat ditang-kap untuk dimanfaatkan, akan tetapi kilat dari awan menyambar bumi dapat dimanfaatkan bila dapatl ditangkap untuk dipanen tenaga listriknya. Berbagai macam percobaan telah dilakukan di sejumlah negara maju, tidak terkecuali ndonesia, memancing kilat dengan meluncurkan roket berekor logam menuju awan yang tengah bermuatan untuk mengambil listriknya. Penelitian dan pengujian masih terus berlangsung dimana-mana di muka bumi, akan tetapi belum lagi dapat diramalkan bila sebuah Pusat Listrik Tenaga Kilat (PLTK) dapat diwujudkan.

Kesimpulan
Dari semua yang telah diterangkan diatas tampak jelas, bahwa: “panas” yang diperoleh dari re-aksi kimia, demikian juga pengembangannya sejak awal revolusi industri lebih dari dua abad silam, telah menjadi penyebab utama pencemaran atmosfer yang menyelimuti planit biru tempat umat manusia berdiam, disebabkan pembakaran bahan-bakar fossil: BBP, BBM, dan BBG digali dari dalam perut bumi. Pencemaran atmosfer selanjutnya diperparah lagi oleh “daya-guna” (efisiensi) PPG (TMC) rendah, untuk MPD sekitar 25% menyebabkan sebagian besar (75%) panas hasil pembakaran bahan-bakar terbuang percuma hanya memanasi udara sekitar. Apabila digunakan bahan-bakar nabati (biofuel) atau biomasa (biomass), pencemaran dari unsur belerang atau sejenisnya menjadi berkurang, akan tetapi efisiensi yang diraih tetap tidak membaik. Tampaknya, STG memanfaatkan panas hasil reaksi kimia atau pembakaran bahan-bakar fossil perlu dilenyapkan dari muka bumi kedepan, untuk menghindarkan pencemaran atmosfer yang tidak lagi diinginkan terjadi di muka bumi.

Difihak lain, tenaga listrik berasal dari elemen kimia perlu mendapat perhatian kedepan. Pengu-bah Listrik Gerak (PLG) atau Electro Mechanic Conversion (EMC) menyediakan banyak pilihan lagi beragam, dan tidak menghasilkan bahan pencemar yang mengotori atmosfer bumi samasekali. Demikian pula tenaga listrik dihasilkan sel bahan-bakar menggunakan bahan-bakar hidrogen. Untuk mendapatkan tenaga gerak, mesin listrik diperlukan bekerjasama dengan elemen kimia agar diperoleh gerakan putar. Perlu dicatat, mesin listrik memiliki efisiensi yang tinggi dalam mengubah tenaga listrik menjadi tenaga gerak, sekitra 85%, lebih dari “tiga kali” daya guna MPD. Dengan demikian tidak perlu lagi menggali bahan-bakar fossil kedalam perut bumi ribuan meter dalamnya, sebaliknya elektrolit dapat diperoleh dari kedalaman di permukaan bumi kurang dari 100 m.

Guna menuntun umat manusia hijrah dari STG memanfaatkan bahan-bakar fossil ke STG listrik dengan elemen kimia di Asia Tenggara dan bagian dunia lain, dapat dimulai dari desa dengan penyuluhan. Kaum remaja mesjid dan lainnya diberi bimbingan oleh sekelompok penyuluh dari mesjid dan lainnya, menemukan cairan elektrolit dibutuhkan bersama elektroda yang diperlukan. Sebagai elektrolit dapat digunakan cairan bermacam tanaman yang tumbuh di seputar kampung yang diperas dari bermacam: buah, daun, dan batang tanaman; demikian juga berjenis cairan diperoleh dari hewan dan manusia. Penyuluh menjelaskan kepada para remaja tegangan listrik (V) dihasilkan oleh dua logam berbeda yang dicelupkan kedalam cairan elektrolit, juga menjelaskan arus listrik (A) mengalir melalui bola lampu yang menyala. Tegangan dan arus ini adalah dua besaran listrik yang menentukan besarnya daya listrik (W) dihasilkan sebuah elemen kimia.

Apa yang perlu dikerjakan kaum remaja masjid dan lainnya ini ialah usaha awal untuk mencari elektrolit berikut pasangan logam yang menghasilkan tegangan listrik yang tinggi. Yang akhir ini menjadi kunci daya dihasilkan besar, tidak terkecuali pula arus yang mengalir. Para remaja juga perlu menggabungkan elemen-elemen kimia kedalam hubungan seri, agar lampu menyala lebih terang. Dengan modal elektrolit asal kampung sendiri, dan pasangan logam dan bola lampu listrik diperoleh dari kota, anak-anak desa dapat mengganti lampu minyak-tanah juga lampu minyak-kelapa yang menghitamkan hidung dengan lampu listrik elemen kimia bersih. Kelak, kaum remaja yang telah terbangun rasa ingin tahu mereka, dengan tujuan untuk mengurangi pencemaran atmosfer bumi, akan menjadi pengembang elemen-elemen kimia maju berdaya besar ramah lingkungan yang akan menyelamatkan atmosfer bumi dari berbagai pencemaran.

Panas hasil reaksi nuklir diubah menjadi tenaga listrik semakin luas digunakan perekonomian berbagai negara maju dalam memenuhi kebutuhan: industri, transportasi, pemukiman, dan banyak lainnya, kendati masih dibayangi ketakutan bahan radioaktif berbahaya yang bocor dari Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fisi (PLTNFi) menuju lingkungan. Sebaliknya Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fusi (PLTNFu) tidak menimbulkan bahan radioaktif, kini tengah dikerjakan di Perancis. Masih banyak penelitian yang perlu dilakukan untuk mengelakkan dampak negatif yang ditim-bulkan PLTNFi di muka bumi kedepan.

Tenaga listrik dibangkitkan reaksi gabung dingin (cold fusion reaction) menjadi harapan untuk menghasilkan STG keperluan beragam kendaraan bermotor yang tidak lagi mencemari atmosfer. Belum dapat diketahui berapa banyak penelitian, pengujian, dan evaluasi hasil yang perlu dilakukan untuk mendapat sebuah pilihan yang dapat menurunkan pencemaran lingkungan hidup yang telah timbul di muka bumi sejak revolusi industri silam, tidak terkecuali menghilangkan dampak yang telah terjadi di muka bumi. Kini terbentang dihadapan generasi muda warga Asia Tenggara, begitu juga bagian dunia lain yang semakin bertambah jumlahnya, tantangan menjadi khalifah di muka bumi membentengi planit ini dari limbah gunung-api bikinan manusia. Harus ditemukan dari SDA bumi termasuk keanekaragaman bahan, mulai: mineral, logam, dan lain sebagainya hingga dengan elektrolit terbaik yang dibutuhkan untuk menghasilkan elemen kimia yang dapat membangkitkan tenaga listrik untuk diubah menjadi gerak oleh mesin listrik, keperluan berbagai industri dan lainnya, tidak terkecuali menggerakkan sarana angkutan, mulai: darat, laut, hingga dengan udara.

Terhadap sumber tenaga terbarukan, dapat dikembangkan dimana saja di muka bumi dengan bebas selama potensi yang ada dapat dikembangkan secara ekonomis, karena samasekali tidak memerlukan bahan-bakar apapun ragamnya, dan tidak mencemari lingkungan hidup di muka bumi apapun bentuknya, tidak terkecuali atmosfer yang mengitari planit biru ini.

Kembali Ke Rumah Ilahi
Setelah lebih dari dua abad berlangsung, revolusi industri telah membuat timbulnya perubahan iklim nyata di bumi, oleh aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan berja-lan tanpa henti menelusuri perjalanan waktu sampai hari ini, dengan jumlah yang semakin me-ningkat dan ragam terus berubah. Umat manusia lalu menjadi sadar, bahwa aliran benda (mate-ri) ini tidak saja menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan hidup yang kian parah, tetapi juga membawa dampak buruk kepada ekosistem di muka bumi, dan kini telah mengganggu kesehatan umat di beragam kawasan planit ini. Itulah sebabnya, mengapa “langkah nyata” harus diambil untuk mengatasinya, bahkan menghilangkan pengaruhnya samasekali. Lingkungan hidup di muka bumi yang ingin dicapai, ialah keadaan sebelum revolusi industri di Eropa silam dimulai, bahkan keadaan yang lebih baik dari itu.

Rumah Ilahi adalah tempat di muka bumi yang telah dipilihNya, dipimpin yang telah mendapat petunjukNya, sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya. Rumah Ilahi adalah garis de-pan, tempat-tempat dimana umat berhubungan dengan para wakilNya di muka bumi: dimana Imam (Pengurus) Mesjid berikut jajarannya bagi mereka beragama Islam, demikian juga para Pengasuh Rumah-rumah Suci berikut jajaran mereka untuk agama dan kepercayaan lain. Demi-kian awalnya gagasan berdirinya mesjid untuk umat Islam diperkenalkan Nabi Muhamad SAW silam, juga dikehendakinya berlangsung hingga akhir zaman. Kini timbul pertanyaan, bagaimana “langkah nyata” harus dilakukan?.
Dalam Surat ke-13 Ar-Rad (Guruh), Ayat 11, telah dikatakan:

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dimuka dan dibela-kangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah767. Sesungguhnya Allah tidak mengubah kea-daan suatu kaum, sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.768 Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat meno-laknya; dan sekalikali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
767 Selain yang menjaga, ada juga malaikat yang mencatat, dan namanya Hafazhah
768 Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab ke-
munduran mereka.

Sebuah Intermeso
Pada suatu hari, televisi Al-Jazeera dari Qatar menyiarkan laporan tentang operasi jantung yang berlangsung di sebuah Rumah Sakit India. Negara yang sebahagian besar warganya beragama Hindu berusia lebih dari dua ribu tahun, melahirkan budaya dan adat-istiadat unik lagi amat menarik di muka bumi. Itulah sebabnya mengapa banyak turis dari berbagai negara datang berkunjung ke India; tidak terkecuali para turis berobat (medical tourism), tidak terkecuali mereka yang akan menjalani operasi jantung dari bermacam bangsa. Menjelang operasi berlang-sung, pasien dan keluarga pertama disambut acara keagamaan yang dipimpin seorang pendeta Hindu termasuk para dokter yang melakukan operasi jantung berikut para stafnya dan satuan perawat yang akan terlibat. Operasi jantung serius lalu diselenggarakan dengan memperagakan semua kecanggihan ilmu kedokteran mutakhir yang terlihat sederhana. Setelah beberapa lama operasi jantungbselesai, pasien siuman. Ketika pertanyaan diajukan, bagaimana rumah sakit ne-geri Mahatma Gandi itu dapat terkenal di muka bumi dengan prestasi lebih dari 5000 operasi jantung per tahun, Dr Devi Shetti pemimpin rumah sakit jantung tersohor itu mengatakan, bahwa ia terinspirasi kata-kata Ibu Theresa, biarawati Katholik asal Hongaria yang telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya menolong orang-orang tidak mampu di India. Biarawati itu pernah berkata kepadanya pada suatu ketika, bahwa:”dibalik bibir-bibir yang fasih membacakan doa, harus ada tangan-tangan terampil dengan jemari yang cekatan melakukan”.

Apa Yang Harus Dilakukan?
Revolusi industri di Eropa lebih dari dua abad silam, tidak diragukan lagi bermaksud mengganti sistim kemasyarakatan lama yang tidak sesuai dengan keadaan ketika itu, dengan yang baru dan lebih baik. Sebuah revolusi apapun ragamnya tunduk kepada aturan umum yang mengaturnya, yakni: revoltare dan revolvere. Revoltare ialah bagian revolusi bertugas menumbangkan sistim kemasyarakatan lama yang tidak sesuai lagi dengan keadaan, sedangkan revolvere ialah sistim kemasyarakatan baru lebih baik dari sebelumnya menggantikan. Keberhasilan sebuah revolusi dalam perjalanan waktu ditentukan revolvere berhasil memperbaiki keadaan sebelum revoltare dimulai, karena apabila tidak kekacauan (khaos) akan timbul, dan akan mengorbankan mereka yang telah menggerakkannya.

Setelah revolusi industri berlangsung lebih dari dua abad di muka bumi, keadaan lingkungan hi-dup di planet ini masih dalam kawasan revotare. Ini dapat diketahui dari pencemaran di muka bumi yang kian memburuk menelusuri perjalanan waktu, meski telah tampak kesadaran umat akan akibat dari pencemaran yang telah ditimbulkan oleh revolusi industri bikinan manusia dan usaha manusia untuk mengatasinya. Beragam usaha telah diambil untuk mengatasinya, meski belum memadai mengingat revolusi industri telah berjalan dalam bilangan abad. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, keadaan yang hendak dicapai ialah sebelum revolusi industri dimulai silam, bahkan yang lebih baik dari itu, sebagaimana yang dituntut oleh revolvere yang tidak lagi boleh ditawar.

Guna memulihkan “kehidupan kaum”, sebagaimana yang disampaiakn Surat: Ar-Rad (Guruh), Ayat 11, umat manusia perlu menyimak kembali perjalanan filsafat Islam yang berkembang dari Irak sampai Andalusia, dilanjutkan Eropa, yang menyebabkan di bagian dunia akhir ini bersemi pengetahuan tepat guna yang mengantarkan umat meraih peradaban saat ini. Pengetahuan tepat guna berikut analisa ilmu dikembangkan, telah mengantarkan umat mewujudkan STG (MES) de-ngan “bahan-bakar fossil” kebutuhan beragam industri termasuk transportasi yang melahirkan aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan yang mencemari lingkungan hidup umat manusia berabad lamanya sampai hari ini; maka dengan filsafat Islam yang sama namun sudut pandang sebaliknya, memanfaatkan STG (MES) listrik dengan bermacam “elemen kimia” berikut pengembangannya, harus dapat menghentikan aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan yang telah mencemari lingkungan hidup, juga sekaligus meyiapkan Cadangan Berputar, yang dinamakan Bank Bahan Baku (BBB) .

Apa yang hendak diraih dari filsafat Islam sudut pandang yang baru ialah, agar setiap anak Adam yang hidup di muka bumi ini sadar dan menerima akal sehat terkandung di dalamnya, karena itulah sebenarnya yang terkandung di dalam Surat Ar-Rad, Ayat 11; karena Allah juga tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri, mengerjakan semua usaha untuk mengatasi pencemaran lingkungan hidup yang telah dilakukan revolusi industri, memanfaatkan bermacam disiplin ilmu, melaksanakan peneli-tian, menevaluasi hasil temuan, menarik kesimpulan, menurunkan kaidah moral sampai hukum termasuk sangsi agar tidak terulang lagi, barulah Allah Subhanahu Wataala kemudian akan mengabulkan.

Laboratorium Bumi
Unruk dapat menyediakan lingkungan hidup yang diperlukan berbagai makhluk yang hidup di muka bumi menelusuri perjalanan waktu, perlu terdapat laboratorium yang bertugas memantau setiap saat keadaan lingkungan hidup makhluk, seoerti: udara, air, dan darat, yang hasilnya disampaikan setiap saat secara berkala agar cepat diketahui masyarakat dunia. Dengan sendirinya perlu lebih dahulu diterangkan apa yang dimaksud: “Standard Lingkungan Hidup” (SLH) yang perlu hadir di muka bumi yang jadi hak makhluk, dan dilindungi oleh undang-undang terjabar kedalam pelaksanaan hukum menempuh perjalanan kedua atau hidup alam fana di muka bumi, sebagaimana sebelum revolusi industri diawali di Eropa silam, sehingga makhluk apapun yang hidup di muka bumi dapat menjalani hidup normal sebagai-mana yang telah ditakdirkan Allah Subhanahu Wataala kepada mereka, tidak terkecuali manusia.

Laboratorium demikian jelas tidak akan segera terbentuk, apalagi harus mencakup seluruh permukaan bumi, karena akan terdiri dari banyak laboratorium penelitian lingkungan hidup yang kini telah ada di bumi, tersebar kedalam berbagai negara, dilola bangsa-bangsa yang sudah sadar akan akibat pencemaran yang ditimbulkan revolusi industri dimulai dari Eropa silam, dan me-nimbulkan beragam penyakit, antara lain: kanker, anak yang lahir cacat, munculnya gangguan hingga cacat mental, dan banyak lainnya; bahkan ditemukan juga anak yang sudah pikun pada usia balita oleh keluarga tinggal tidak jauh dari industri pengolahan mineral (smelter) digali dari dalam perut bumi di bekas Negara Komunis silam.

Tidak dapat disangkal lagi, IB (Ibu Bumi) amt memerluka kepedulian umat yang diasuhnya sejak lahir ke dunia sampai ke akhir hayat. Karena hanya dengan kepedulian umat manusialah, IB dapat mengemban tugas mulianya mengasuh makhluk apapun ragamnya ditakdirkan Allah Subhanahu Wataala lahir ke alam fana di muka bumi, dan menyediakan: tempat tinggal, san-dang, pangan, dan lain sebagainya; setelah IK (Ibu Kandung) berhenti menyusui bayi sekitar dua tahun lamanya. Laboratorium bumi dengan demikian menjadi jembatan atau antarmuka antara makhluk dengan IB, sehingga umat dapat memantau kesehatan yang disebut terakhir dalam melakukan tugasnya. Itulah sebabnya mengapa laboratorium bumi perlu memantau lingkungan hidup mulai dari: kampung (desa), kecamatan, kabupaten, propinsi, negara, hingga dunia; semuanya menjadi bagian dari Informasi Lingkungan Hidup (ILH) yang dengan cara teratur harus dipantau laboratorium bumi, dan dikhabarkan ke seluruh dunia. Pada tingkat desa atau kampung Rumah-rumah Ilahi, tidak terkecuali Rumah-rumah Suci agama dan kepercayaan lainnya, semuanya bahu membahu memberi penyuluhan kepada masyarakat yang hidup dari lingkungan masing-masing; atau penerima laporan dari masyarakat yang hidup dalam lingku-ngan masing-masing, sehingga petugas berwenang dapat melakukan pemutahiran informasi ter-hadap ILH yang sudah dilaporkan.

Dengan hadirnya jaringan ILH, keadaan/kesehatan IB dapat diketahui orang dimana-mana, mudah dilola (dimanage), dilaksanakan, dan disimpan. Dengan demikian keadaan IB, dan kese-hatannya selalu sesuai dengan laporan ILH, mudah dipantau dalam perjalanan waktu, juga dikhabarkan lewat media kemana-mana sebagaimana berita cuaca. Sehubungan dengan yang disebut akhir ini, tidak dapat disangkal lagi perlu diwujudkan kerjasama Antarbangsa (Interna-sional) yang diikuti semua negara yang ada di bumi ini, karena planit ini hanya ada sebuah. Setiap kerusakan di muka bumi ditimbulkan perbuatan tangan manusia harus dihentikan dan segera diperbaiki, karena tidak terdapt kemungkinan bagi manusia dan makhluk lain hijrah ke planit lain. Kini hanya ada satu pilihan bagi manusia hidup di muka bumi, dan yang akhir ini perlu dibersihkan dari segala macam pencemaran yang telah dibuat oleh para penghuninya sejak awal revolusi industri di Eropa, lebih dari dua abad yang silam.

Departemen Limbah
Untuk menyediakan ILH yang berkesinambungan, perlu didirikan Departemen Limbah (Department of Waste) dalam setiap negara di muka bumi ini. Departemen ini terdapat di “bagian hulu” usaha manusia untuk menghindarkan pencemaran lingkungan hidup di muka bumi ini, sementara Departemen Lingkungan Hidup (Department of Invironment) terletak di bagian hilirnya. Dengan penduduk bumi yang terus meningkat jumlahnya kedepan, permasalahan yang dihadapi umat manusia kedepan, ialah: sumber tenaga, pangan, sandang, dan papan, dan lainnya yang semakin besar dalam jumlah demikian pula mutu (kualitas). Seperti yang telah diterangkan sebelumnya pemenuhan kebutuhan ini, akan mengundang jumlah aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan yang menghasilkan limbah tidak diinginkan.

Departemen limbah yang dibentuk di berbagai negara, pertama akan menangani limbah aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan timbul sejak awal revolusi industri lebih dari dua abad silam, yang telah mencemari bumi sampai kini yang belum juga terurai. Perlu dikembangkan “Rekayasa Limbah Mundur” (RLM), atau Waste Reverse Engineering (WRE), guna mengurai habis ikatan kimia yang telah berlangsung lama sehingga tidak mencemari ling-kungan hidup lagi. Departeman Limbah juga harus menangani limbah yang timbul dari bermacam usaha hingga bisnis dilakukan penduduk bumi apapun ragamnya.
Kini terdapat apa yang dinamakan ilmu rekayasa bahan (materials science and engineering), yang melahirkan beragam bahan yang samasekali baru digunakan bermacam industri, yang masih belum diketahui dampak negative yang akan ditimbulkannya kelak, manakala nanti beru-bah menjadi sampah. Departemen limbah juga harus mewaspadai teknologi yang dikembangkan umat manusia di muka bumi yang berjalan seiring TMH (Teknologi Mahluk Hidup) ciptaan Ilahi agar, keduanya tidak saling mengganggu berdampak tidak dikehendaki, karena sama-sama memanfaatkan beragam unsur kimia terdapat dalam tabel Mendeleyev.
Departeman Limbah juga harus mampu meramalkan beragam limbah yang akan muncul kelak, menyimak kecenderungan masyarakat membangun usaha dan koperasi, sekaligus menyiapkan RLM dibutuhkan untuk menghilangkan limbah yang ditimbulkan.
Masih banyak tugas yang perlu diemban departemen limbah mengawal kehidupan umat manusia di muka bumi, agar tidak ada lagi bahan kimia berbahaya tersebar atau berkeliaran karena belum atau tidak diketahui tentang sifat bersahabat atau tidak bersahabatnya terhadap TMH karunia Ilahi yang telah lebih dahulu hadir.

Departemen limbah yang dibentuk di berbagai negara, pertama akan menangani limbah aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan timbul sejak awal revolusi industri lebih dari dua abad silam, yang telah mencemari bumi sampai kini yang belum juga terurai. Perlu dikembangkan “Teknologi Limbah Jalan-mundur” (TLJm), atau Waste Reverse Engineering (WRE), untuk mengurai habis ikatan kimia yang telah berjalan begitu lama hingga tidak mence-mari lingkungan lagi. Departeman Limbah harus menangani limbah yang muncul dari beragam usaha hingga bisnis yang dilakukan penduduk bumi apapun ragamnya.

Kini terdapat yang dinamakan ilmu rekayasa bahan (materials science and engineering), yang akan menciptakan bermacam bahan yang samasekali baru diperlukan berjenis industri, yang masih belum lagi diketahui dampak yang ditimbulkannya kelak, manakala nanti beralih menjadi sampah. Departemen limbah juga harus mewaspadai teknologi yang dikembangkan umat manusia di muka bumi berjalan seiring TMH (Teknologi Mahluk Hidup) ciptaan Ilahi agar tidak saling mengganggu berdampak tidak dikehendaki, karena sama-sama memanfaatkan bermacam unsur kimia tercantum dalam tabel Mendeleyev yang sama.

Departeman Limbah juga harus dapat meramalkan berjenis limbah yang akan muncul kedepan, menyimak kecenderungan masyarakak berusaha dan berkoperasi, sekaligus menyediakan TLJm dierlukan untuk mele-nyapkan limbah.

Masih banyak lagi tugas yang harus diemban departemen limbah mengawal kehidupan umat manusia di muka bumi, agar tidak ada lagi hal-hal yang berurusan dengan unsur-unsur dan bahan kimia tersebar dan berkeliaran yang tidak bersahabat dengan TMH karunia Ilahi.

 

——— sekian ———

Penulis:
H.M.Rusli Harahap
Pamulang Residence G1
Jalan Pamulang 2, Pondok Benda.
Kode Pos: 15416. Tangerang Selatan.
Tel. 021-74631125.

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.