Posted by: rusliharahap | March 3, 2015

PARKIR BERTINGKAT

Pendahuluan
Dengan seluruh permukaan jalan-raya berbagai kota besar dunia luasnya rata-rata masih satu angka (digit) persen luas kota, serbuan kendaraan bermotor roda: dua, tiga, empat, dan seterus-nya menuju kota-kota besar di seantero planet, tidak diragukan lagi akan melahirkan “kemace-tan” lalulintas dan permasalahan “parkir”. Kebanyakan Negara dunia yang masih mengizinkan pemilik kendaraan pribadi dan umum memparkir kendaraan bermotor dimana saja pengemudi suka dan sembarangan, memaksa kendaraan roda: dua, tiga, empat, dan lain yang tengah melaju menggerakkan kendaraan dibawah kecepatan lalulintas ditetapkan, menyebabkan pemakaian ba-han-bakar: bensin, solar, dan gas, menjadi boros, udara disekitar jalan-raya semakin tercemar, dan warga-kota besar pun menderita gangguan pernafasan.

“Parkir bertingkat” memperbesar daya tampung kendaraan “parkir permukaan” di beragam kota besar mulai nusantara hingga dunia. “Parkir bertingkat” menggunakan lahan sedikit di permu-kaan, tetapi memanfaatkan ruang diatasnya yang lebih besar. Dengan melakukan “parkir permu-kaan” dan “parkir bertingkat” kendaraan roda: dua, tiga, empat, dan lain yang sedang melaju di jalan-raya dapat bergerak dengan kecepatan lalulintas yang telah ditentukan di kota-kota besar Tanah-Air dan Mancanegara, sehingga pemakaian bahan-bakar menjadi lebih hemat, pencema-ran udara menjadi berkurang, dan waktu tempuh perjalanan lebih singkat, dan warga kota-kota besar pun akan lebih sehat.

Adapun sejumlah kota besar di Tanah-Air yang membutuhkan sarana parkir bertingkat pada saat ini dapat dikemukakan: Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, dan lainnya; juga tidak terkecuali berbagai kota di Mancanegara.

Parkir-bertingkat
Kini tiba saatnya untuk memperkenalkan sebuah pilihan parkir-bertingkat (multistory-carpark) untuk kendaraan bermotor yang sedang tidak digunakan di kota-kota besar dunia. Parkir berting-kat menyita lahan di permukaan bumi sedikit, tetapi memanfaatkan ruang diatasnya yang lebih besar. Dengan memanfaatkan parkir bertingkat untuk kendaraan roda empat di berbagai kota besar Tanah-Air dan Mancanegara, banyak lahan di permukaan bumi dapat dialihkan menjadi hijauan tanaman yang dibutuhkan untuk menangani pemanasan-global (global warming) yang telah menimbulkan perubahan iklim di permukaan bumi, melahirkan amukan badai dan angin kencang yang setara pesawatterbang tinggal landas, dan meratakan kota Tacloban di Filipina beberapa waktu yang silam.

Parkir-bertingkat awalnya berupa bangunan atau gedung yang dibuat khusus untuk tempat memparkir kendaraan bermotor roda empat yang tidak sedang digunakan kawasan: perkantoran, perdagangan, tempat hiburan, petokoan, dan lain sebagainya; akan tetapi gagasan ini ingin mem-perkenalkan “parkir bertingkat” konstruksi baja untuk kendaraan bermotor roda empat yang sedang tidak digunakan, dan dapat didirikan dimana saja orang suka guna melancarkan lalulintas kota besar yang padat penduduknya.

Dengan menerapkan parkir-bertingkat di pusat-pusat: perkantoran, perdagangan, perbelanjaan, taman hiburan, rekreasi, dan lain sebagainya, banyak lahan ditempati “parkir permukaan” dalam beragam kota besar dapat dibebaskan, tidak terkecuali pinggiran kota dan wilayah satelit, untuk dikembalikan menjadi kawasan hutan penyangga kota, guna menyejukkan udara tempat warga kota berdiam. Adapun kelebihan parkir bertingkat pilihan ini dibandingkan parkir-permukaan, ialah sedikit lahan muka bumi yang diperlukan untuk fondasi, dan membebaskan bagian lainnya yang lebih besar, untuk dijadikan beragam hijauan penyegar kehidupan.

Sebuah bangunan atau gedung tinggi untuk tempat memparkir kendaraan bertingkat mahal har-ganya, juga tidak dapat didirikan pada sebarang tempat, mahal juga biaya operasi dan pemeliha-raannya. Sebaliknya parkir bertingkat dibangun dari konstruksi baja murah harganya, juga mu-dah didirikan atau dirakit dimana orang suka, murah pula biaya operasi dan pemeliharaannya, tidak terkecuali merelokasi bilamana diperlukan.

Sebuah parkir bertingkat konstruksi baja akan menggunakan baja: kanal-c, atau kanal-h, pipa, plat, dan lainnya; dilengkapi pula sistim mekanik, sistim listrik, juga sistim kendali elektronik termasuk pantau, sehingga setiap orang dapat dengan mudah memparkir sejumlah kendaraan ke-luarga cara bertingkat yang menghemat lahan di muka bumi.

Dalam pelaksanaan, dibedakan dua macam parkir-bertingkat (multistory carpark), masing-masing: parkir-bertingkat disingkat: Parting dan batere parkir bertingkat, disingkat: Baparting.

Parting
Sebuah “Parting” dimasukkan kedalam sebuah garasi, atau diletakkan di samping rumah, akan memuat: dua, tiga, atau empat, kendaraan roda empat keluarga tersusun bertingkat sebagaimana yang diperlihatkan oleh Gambar-I, dengan: “tampak masuk/keluar” dan “tampak samping”.

Parting

Gambar-I

Parting menolong pemilik kendaraan roda empat, agar tidak lagi memparkir kendaraan roda empat masing-masing sepanjang pinggir jalan-raya sembarangan saat tidak digunakan, terutama di kawasan padat kendaraan berlalulalang guna melancarkan lalulintas. Dengan menghadirkan parkir bertingkat konstruksi baja di berbagai kota padat penduduk, berarti warga kota ikut aktif meningkatkan kecepatan rata-rata lalulintas mendekati kecepatan ekonomis kendaraan bermotor, menyebabkan pencemaran atmosfer di sekitar tempat berdiam dapat diturnkan.

Empat kolom baja kanal-C atau kanal-H, didirikan guna menyangga parting diatas pondasi. Sejumlah pelataran, dinamakan: P-1, P-2, P-3, P-4, tergantung bilangan kendaraan yang hendak diparkir bertingkat, ditempatkan diantara keempat kolom baja dan dilengkapi: sistim mekanik, sistim listrik, dan sistim kendali serta monitor yang diperlukan tiap pelataran, untuk menaikkan atau menurunkan pelataran cara bergiliran ke masing-masing tinggi parkir sasaran, atau seba-liknya meninggalkan tinggi parkir masing-masing.

Untuk menaikkan pelataran menuju ketinggian parkir, atau menurunkan pelataran kembali ke muka bumi dalam arah yang sebaliknya, digunakan empat Alat Angkat (AA) atau Lifting Device (LD) terpasang pada setiap pelataran berteknologi sederhana, yakni: 1. Bolt-Nuts dengan Bevel Gears, atau 2. Rack-Pinions dengan Bevel Gears dan Worm Gears, digerakkan motor induksi rem (brake induction motor).

Keempat AA akan bersama-sama menaikkan pelataran keatas serentak, atau bersama-sama pula serentak menurunkan pelataran kebawah dalam arah yang sebaliknya, dilakukan sistim mekanik yang terdapat di dalam ruang atau kompartemen penggerak. Dengan bantuan sistim mekanik, siapapun dapat memparkir kendaraan keluarga dengan mudah menuju tinggi parkir, saat memparkir; atau dalam arah sebaliknya menurunkan atau men-deparkir kendaraan keluarga dari tinggi parkir manapun kembali menuju ke muka bumi.
Sebuah pelataran parting tidak dapat turun dengan sedirinya atau merosot oleh berat sendiri berikut kendaraan yang berada diatasnya, kecuali bila digerakkan motor induksi rem. Dengan perkataan lain, setiap pelataran yang terdapat pada parting tidak dapat naik keatas, atau turun kebawah dalam arah sebaliknya, manakala tidak diperintahkan oleh si pemilik atau si pengguna.

Tenaga listrik didatangkan dari PLN disalurkan kabel-daya menuju panel parting, dari sini lalu dibagikan saluran daya lemas lewat gelondong menuju motor induksi rem yang ada dalam ruang-penggerak masing-masing pelataran. Tenaga listrik batere kendaraan yang sedang parkir diatas pelataran juga dapat digunakan yang dibantu inverter, untuk menaikkan atau menurunkan pelataran, yang bertindak sebagai sumber tenaga listrik cadangan (emergency power).
Dengan peladangan panel surya yang memanen tenaga cahaya matahari diubah menjadi listrik, begitu pula perkebunan tenaga angin yang menghasilkan listrik, kedua sumber listrik dapat juga dimanfaatkan oleh wilayah yang belum terjangkau listrik PLN. Tenaga listrik dibutuhkan untuk menggerakkan motor induksi rem terdapat dalam ruang-penggerak setiap pelataran; juga sistim listrik, sistim kendali dan monitor, serta penerangan malam hari.

Untuk memerintahkan parting menaikkan atau menurunkan sebuah pelataran, perangkat Penga-tur Logika Terprogram (PLT) atau Programmable Logic Controller (PLC) ditempatkan sebagai antarmuka (interface) antara pemilik atau pengguna dengan sistim elektromekanik (electro-mechanical system) yang bertugas menaikkan atau menurunkan setiap pelataran cara bergantian, tidak terkecuali sebilangan pemutus batas (limit switches), beragam saluran kendali (control wirings), dan beberapa tombol (push buttons) yang diperlukan.

Untuk “mem-parkir” bertingkat sejumlah kendaraan keatas parting dirancang untuk tiga kendaraan keluarga, diawali dengan menurunkan seluruh pelataran: P-1, P-2, dan P-3, hingga mobil pertama dapat dikemudikan keatas P-1. Yang akhir ini lalu dinaikkan ke ketinggian tiga, sekitar ±. 4 m diatas permukaan bumi. Pada saat yang bersamaan, P-2 muncul ke permukaan dari tempat penyimpanannya dibawah. Dengan demikian mobil kedua dapat pula dikemudikan keatasnya, dan yang akhir ini lalu dinaikkan ke ketinggian dua, sekitar ±.2 m diatas permukaan bumi. Pada saat yang sama P-3 muncul pula ke permukaan dari tempat penyimpanannya dibawah. Dengan demikian mobil ketiga dikemudikan pula keatasnya, dan pelataran akhir ini tetap berada pada tempatnya. Selesai.

Untuk “men-deparkir” atau menurunkan kendaraan keluarga dari parting dirancang untuk tiga mobil keluarga, dimulai dengan mengeluarkan mobil ketiga. Pelataran P-2 lalu diturunkan me-nuju permukaan bumi dari ketinggian dua yang diikuti P-3 turun ke tempat penyimpanannya. Setibanya di muka bumi, mobil kedua dikeluarkan dari P-2. Akhirnya, P-1 diturunkan dari ketinggian tiga ke permukaan bumi, disertai P-2 turun menuju tempat penyimpanannya. Mobil pertama lalu dikeluarkan, dan pelataran akhir ini tetap berada pada tempatnya. Selesai.

Parting dapat dipasarkan sebagai: “Car Park Kit” (terurai kedalam sejumlah bagian) yang mudah dipindahkan sehingga boleh dirakit dimana saja orang suka meletakkannya. Dengan demikian parting menjadi tempat memparkir kendaraan keluarga bertingkat yang dapat didirikan pemilik kendaraan dimana ia suka.
Terdapat dua alunan nada yang menyertai setiap pelataran saat bekerja, sehingga orang-orang yang berada disekitar akan sadar akan kegiatan yang berlangsung, yakni: menaikkan kendaraan ke tinggi parkir, atau sebaliknya menurunkan kendaraan dari tinggi parkir kembali ke permukaan bumi.

Baparting
Sebagaimana halnya dengan parting, baparting juga bangunan konstruksi baja dari: kanal-C, atau kanal-H, pipa, plat, dan lain sebagainya. Sama dengan parting, baparting juga dilengkapi: sistim mekanik (mechanical-system), sistim listrik (electrical-system), sistim-elektronik (electronic-sys-tem), sistim-kendali (control-system) dan sistim-pantau (monitoring-system) untuk setiap pela-taran yang bertugas menaikkan pelataran dengan kendaraan diatasnya menuju ketingian parkir diinginkan, atau sebaliknya menurunkan kendaraan dari ketinggian parkir kendaraan kembali ke permukaan bumi.

Sebuah baparting) adalah kumpulan lapisan batere tempat memparkir kendaraan bermotor roda-empat yang dibangun diatas “pondasi bersama”. Itulah sebabnya setiap lapisan batere yang terga-bung dalam baparting terdiri dari: Kolom Elevator Batere (KEB) terdapat ditengah didampingi dua Kolom Parkir Batere (KPB) menempel dari kedua sisinya, sebagaiman yang terlihat dari “tampak samping” dan “tampak depan atau masuk/keluar” dari Gambar-II, dibawah ini.

Baparting

Gambar-II

Jumlah KPB yang mendampingi KEB harus merupakan bilangan genap, agar tempat memparkir kendaraan yang berada pada kedua sisin baparting sama banyak, sehingga tampak simetris. Adapun yang dimaksud dengan bilangan genap disini, ialah angka: 2, 4, 6, dan seterusnya. Sedangkan banyaknya “lapisan batere” yang tergabung kedalam baparting tergantung dari perkiraan jumlah kendaraan sebuah wilayah pemukiman warga suatu kota besar padat penduduk atau metropolis yang berminat memparkir bertingkat kendaraan kedalam baparting.
Berlainan dari parting menggunakan pelataran untuk tempat memparkir kendaraan, sehingga jumlah pelataran sama dengan banyaknya kendaraan roda empat yang diparkir, sebuah bapar-ting memanfaatkan pelataran hanya untuk setiap “lapisan batere”, sehingga jumlah pelataran di-gunakan sama dengan banyaknya “lapisan batere” yang tergabung kedalam baparting, seba-gainana yang terlihat pada “tampak samping” Gambar-II; diperlihatkan empat lapisan batere dengan nomor: 1, 2, 3, 4.

Sebagaimana juga parting, setiap pelataran baparting dilengkapi juga dengan empat Alat Angkat (AA) atau Lifting Device (LD) berteknologi sederhana, yakni: 1. Bolt-Nuts dengan Bevel Gears, atau 2. Rack-Pinions dengan Bevel Gears dan Worm Gears, yang digerakkan motor induksi rem (brake induction motor).

Keempat AA akan bersama-sama menaikkan pelataran serentak keatas, atau dalam arah yang sebaliknya bersama-sama menurunkan pelataran serentak kebawah, dilaksanakan oleh sistim mekanik yang terdapat dalam “ruang atau kompartemen penggerak”. Dengan bantuan sistim mekanik, seorang operator baparting akan dengan mudah menaikkan pelataran dengan kenda-raan yang berada diatasnya dari permukaan bumi hingga ketinggian parker dituju, saat “mem-parkir”; atau dalam arah sebaliknya.”men-deparkir” atau menurunkan pelataran berikut sebuah kendaraan diatasnya dari setiap ketinggian parkir kembali ke permukaan bumi.

Setiap pelataran batere tidak dapat turun dengan sendirinya atau merosot oleh berat sendiri dan kendaraan yang berada diatasnya, kecuali bila digerakkan motor induksi rem yang terdapat didalam ruang penggerak. Dengan perkataan lain, setiap pelataran baparting hanya dapat berge-rak naik atau turun, manakala mendapat yang datang dari operator.

Tenaga listrik datang dari PLN disalurkan kabel-daya menuju panel baparting, dan dari yang akhir ini dibagikan saluran lemas (flexible) menuju KEB dari setiap lapisan batere yang mem-bentuk baparting. Dari panel akhir ini, tenaga listrik selanjutnya disalurkan lewat pengantar tembaga tersekat tiga phasa vertical yang dipungut tiga sikat arang, dan disalurkan ke motor induksi rem yang berada dalam ruang atau kompartemen penggerak. Sebagaimana halnya parting, tenaga listrik batere kendaraan yang sedang dinaikkan atau diturunkan pelataran, dapat dimanfaatkan dalam keadaan darurat dengan pertolongan inverter, sebagai sumber tenaga listrik cadangan (emergency power supply).

Dengan peladangan cahaya matahari diubah menjadi listrik makin meluas dilakukan orang di muka bumi, begitu pula peladangan tenaga angin diubah menjadi listrik dimanamana, keduanya dapat digunakan oleh baparting, terutama untuk pemukiman yang belum mendapat layanan PLN. Tenaga listrik digunakan baparting untuk menggerakkan motor induksi rem yang terdapat dalam ruang atau kompartemen penggerak, menjalankan sistim listrik, sistim kendali termasuk monitor, pengolah data (data processing), dan penerangan dimalam hari.
Sebagaimana halnya parting, baparting juga memerlukan juga Pengatur Logika Terprogram (PLT) atau Programmable Logic Controller (PLC), bertugas sebagai antarmuka (interface) antara operator dengan sistim elektro-mekanik (electro-mechanical system) baparting, sehingga yang akhir ini dapat memahami perintah yang diberikan operator. Selain dari itu, masih ada pula sebilangan pemutus batas (limit switches), sejumlah saluran kendali (control wirings), dan tom-bol-tombol (push buttons) yang diperlukan perlu terdapat dalam KEB.

“Mem-parkir” kendaraan kedalam baparting, berarti memasukannya kedalam KPB yang terdapat pada salah satu sisi KEB sebuah ketinggian parkir. Untuk mem-parkir sebuah kendaran kedalam baparting diawali dengan mengemudikan kendaraan kedalam KEB, lalu menaikkannya keatas pelataran yang sudah menunggu. Pelataran dengan kendaraan diatasnya lalu dinaikkan ke ting-gian parkir tujuan, dan mobil didorong masuk ke salah satu KPB yang menempel pada KEB. Selesai.

“Men-deparkir” atau menurunkan sebuah kendaraan dari baparting, berarti mengosongkannya dari dalam salah satu KPB yang menempel pada salah satu sisi KEB. Untuk men-deparkir se-buah mobil dari baparting diawali dengan mendorong sebuah kendaraan dari KPB yang berada di salah satu sisi KEB sebuah ketinggian parkir keatas pelataran yang sudah menunggu. Pelata-ran berikut kendaraan lalu diturunkan ke permukaan bumi, dan dijemput si pemilik. Selesai.

Sebagaimana halnya parting, baparting juga menyiapkan dua alunan nada pada setiap pelataran yang sedang bekerja, sehingga orang yang berada disekitar akan sadar akan kegiatan yang sedang berlangsung, yakni: menaikkan kendaraan menuju suatu ketinggian parkir, atau sebaliknya menurunkan kendaraan dari suatu ketinggian parkir kembali ke permukaan bumi.

Baparting dirancang untuk tempat memparkir bertingkat kendaraan rooda empat waktu yang lama, mulai hitungan: jam, hari, minggu, bulan, pada berbagai tempat, seperti: stasion kereta, tempat perdagangan, pusat perkantoran, daerah pemukiman, dan lain sebagainya.

Kantor Pengelola
Pada puncak baparting tersedia ruangan untuk pengelola atau managemen baparting, terjabar ke-dalam: kantor, ruang istirahat, kamar makan, hiburan, dan lainnya, disiapkan untuk para petugas. Dengan demikian baparting dapat pelayanan parkir selama 24 jam setiap hari. Segala kebutuhan para petugas baparting, tidak terkecuali personalianya akan dinaikkan atau diturunkan oleh pelataran baparting.

SNI
Untuk menghadirkan parting dan baparting diperlukan keterlibatan Standard Nasional Indonesia (SNI). Dalam SNI terdapat sejumlah keterkaitan berbagai kepentingan, seperti: keamanan, kese-lamatan pengguna, keandalan alat, ekonomi, efisiensi, asuransi, dan sumber tenaga (energy) yang berurusan dengan keperluan masyarakat pemakai atau pengguna. Masih banyak aspek lain yang juga harus diperhatikan, antara lain: peraturan pemerintah, berbagai disiplin ilmu penetahuan dan teknologi yang digunakan untuk membuat berbagai bagian. Parting dan baparting dapat selu-ruhnya diproduksi dalam negeri dengan membutuhkan sedikit komponen import. Waktu pem-buatan sarana parker bertingkat: parting dan baparting untuk melayani kebutuhan masyarakat, ditaksir sekitar 6 sampai 12 bulan.

Catatan:
Parting dan baparting telah dipatenkan penulis di Kantor Paten Republik Indonesia Jakarta, dengan judul: ”Struktur Parkir Mobil Susun Bertingkat, tanggal 21 Nopember 2002.

——–selesai——–

Penulis:
H.M.Rusli Harahap
Pamulang Residence G1
Jalan Pamulang-2, Pondok Benda.
Kode Pos: 15416. Tangerang Selatan.
Tel. 021-74631125.

Posted by: rusliharahap | March 3, 2015

Elevator Rumah

Pendahuluan
Harga tanah di berbagai kota besar Tanah-Air dan Mancanegara yang terus membubung mene-lusuri waktu, tidak terkecuali daerah penyangganya, memaksa para pendatang yang menjadi ba-ru menjadi warga memilih mendiami rumah atau bangunan lantai banyak oleh kecilnya lahan yang berhasil dibeli. Banyak dari mereka yang telah membeli sebidang tanah di luar kota besar telah mendirikan bangunan modern (town house) lantai: dua, tiga, dan lainnya, guna mengatasi lahan yang terbatas.
Pada Gambar-I diperlihatkan sejumlah bangunan lantai banyak yang telah didirikan warga di berbagai pinggiran kota-kota besar sejauh ini. Pada bagian atas, diperlihatkan tampak samping rumah atau bangunan berlantai banyak yang telah dibangun, dimana terlihat jelas berapa jumlah lantainya. Kemudian di bawahnya, disajikan pula tampak atas rumah atau bangunan yang sama, sekaligus memperlihatkan denah rumah atau bangunan lantai banyak yang sudah berdiri.

ElevatorRumah.
Gambar-I

Yang menjadi masalah pokok berdiam dalam rumah atau bangunan berlantai banyak, ialah ketika bepergian dari lantai rendah menuju ke lantai lebih tinggi, demikian juga sebaliknya, orang harus menaiki atau menuruni tangga dengan sebilangan anak yang dapat menguras tidak sedikit tenaga (energy). Selama ini, tangga merupakan satu-satunya sarana untuk bepindah antar lantai dalam rumah atau bangunan tinggi yang berlantai banyak diketahui orang. Tulisan ini bermaksud memperkenalkan sarana lain, yang tidak lagi perlu menguras tenaga para penghuni rumah, mulai: anak-anak, kaum perempuan, orang dewasa, sampai orang tua, tidak terkecuali juga kaum kera-bat yang cacat, dengan apa yang kemudian dikenal dengan nama dalam bahasa Indonesia: “bilik-naik-turun”, disingkat: “binatu” dijalankan mesin tenaga listrik.

Binatu yang berkerja sebagai sebuah “bilik” atau “ruang angkut” akan memindahkan para penghuni rumah atau bangunan tinggi yang lantai banyak, dari lantai dasar sampai beberapa lantai lebih tinggi diatasnya, atau sebaliknya menurunkan mereka dari berbagai lantai lebih tinggi kembali ke lantai dasar dengan cepat. Binatu memang dibuat khusus untuk para penghuni rumah atau bangunan tinggi lantai tidak terlalu banyak jumlahnya, berteknologi sederhana: 1. Bolt-Nuts dengan Bevel Gears, atau 2. Rack-Pinions dengan Bevel Gears dan Worm Gears, digerakkan motor induksi rem (brake induction motor).
Dalam bahasa Inggris dikenal orang luas istilah:“cabin elevator”, yakni sarana bepergian antar lantai dalam rumah atau bangunan menjulang yang berlantai sangat banyak, akan tetapi “binatu” diwujudkan sebagai sarana bepergian antar lantai rumah atau bangunan yang tidak terlalu tinggi seperti: dua, tiga, dan sedikit lainnya, sehingga untuk memperkenalkan istilah binatu kedepan, perlu terlebih dahulu dimulai dengan memperkenalkan iatilah: Elevator Rumah, disingkat: ER.

Ketika menaiki anak-tangga dari rendah hingga yang lebih tinggi, orang harus mengerahkan te-naga otot kaki untuk mendaki, namun saat menuruni anak-tangga tenaga otot kaki yang dikerah-kan berkurang karena menurun, sehingga tidak sampai melelahkan. Karena ER menggunakan tenaga listrik yang diperoleh dari PLN atau sumber tenaga listrik lain, para penghuni rumah atau bangunan bertingkat yang mempunyai ER tidak lagi perlu mengerahkan tenaga otot kaki masing-masing karena telah diambil alih tenaga listrik. Itulah sebabnya mengapa ER sangat membantu: orang-orang tua, kaum wanita, dan anak-anak, termasuk kerabat penyandang cacat jasmani yang sedang bepergian antar lantai dalam rumah atau bangunan bertingkat.
Selain dari itu, perlu diketahui juga, tangga bersama anak-anaknya menempati ruang yang lebih besar dalam sebuah rumah atau bangunan bertingkat, karena perlu diletakkan terbaring dengan sudut kemiringan tertentu, supaya orang dapat bergerak naik ke lantai yang lebih tinggi, atau sebaliknya bergerak turun ke lantai yang lebih rendah. Akan tetapi ER harus diletakkan benar-benar berdiri tegak dalam sebuah rumah atau bangunan bertingkat agar bekerja baik, dan karena itulah ER menempati ruang lebih kecil dalam rumah atau bangunan bertingkat.

Elevator Rumah
Gambar-II memperlihatkan ER yang dibuat dari konstruksi baja melibatkan: kanal-C, atau kanal-H, pipa, plat, dan lain sebaginya, dilengkapi: sistim mekanik, sistim listrik, kendali sistim elek-tronik hingga pantau, sehingga para penghuni rumah atau bangunan bertingkat dapat memerin-tahkannya naik dari lantai dasar menuju lantai lebih tinggi dikehendaki, atau sebaliknya turun dari sejumlah lantai lebih tinggi ke lantai dasar, dengan hanya menekan Tombol Naik (TN) atau Tombol Turun (TT) ditempatkan dekat pintu ER. Gambar-IIa memperlihatkan pintu ER terlihat dari dalam rumah atau bangunan bertingkat dua lantai.
Dalam pembuatan, dibedakan dua macam ER, masing-masing: ER Topang Keliling, dising-kat ERTK (Peripherally Braced Home Elevator, PBHE) sebagaimana yang terlihat pada Gambar-IIa, dan ER Topang Tengah, disingkat ERTT (Centrally Braced Home Elevator, CBHE).

ERTK adalah konstruksi baja berupa sangkar bentuk persegi atau bundar, didalam mana sebuah bilik atau kabin dapat bergerak naik atau turun menolong penghuni rumah atau ba-ngunan bertingkat bepindah dari lantai yang satu menuju lainnya digerakkan tenaga listrik, sebagaimana terlihat pada Gambar-IIb. Adapun ERTT adalah sebuah tiang penyangga tengah terbuat dari dari beton bertulang atau baja, di luar mana sebuah bilik atau kabin terbuat dari konstruksi baja wujud sangkar bangun persegi atau bundar dapat bergerak naik atau turun me-nolong penghuni rumah atau bangunan bertingkat berpindah antar lantai yang dijalankan tenaga listrik sebagaimana terlihat pada Gambar-IIc.

Berlainan dari lift dalam gedung atau bangunan tinggi, ERTK dan ERTT tidak memerlukan samasekali kabel baja penggantung bilik bersama perlengkapannya, akan tetapi memerlukan pelataran atau platform untuk lantai dengan empat Alat Angkat (AA) atau Lifting Device (LD) berteknologi sederhana: 1. Bolt-Nuts dengan Bevel Gears, atau 2. Rack-Pinions dengan Bevel Gears dan Worm Gears; digerakkan motor induksi rem, sebagaimana yang terlihat pada Gambar-IIb.

Keempat AA (LD) yang ada pada pelataran akan bersama-sama menaikkan bikik atau kabin ERTK atau ERTT serentak bersama penghuni rumah atau bangunan bertingkat didalamnya kea-tas, atau sebaliknya bersama-sama menurunkan semuanya kebawah serentak, dilakukan sistim mekanik yang terdapat dalam ruang atau kompartmen penggerrak berada dibawah lantai bilik atau kabin. Dan bilik atau kabin ERTK atau ERTT tidak dapat turun sendiri atau merosot oleh berat sendiri berikut penghuni rumah atau bangunan bertingkat dalamnya, kecuali dijalankan motor induksi rem. Dengan perkataan lain, bilik atau kabin ERTK atau ERTT berikut penumpang didalamnya tidak dapat bergerak naik atau turun, manakala tidak menerima perintah untuk melakukannya.
Tenaga listrik didatangkan dari PLN atau sumber tenaga listrik lain lewat kabel daya menuju panel ER, dan pengantar lemas (flexsible wire) menuju bilik ER. Pilihan lain, ialah menggunakan tiga rel tembaga tersekat yang dipungut tiga sikat karbon. Manakala PLN gagal menyalurkan tenaga listrik, sebuah sumber tenaga listrik darurat (emergency power supply) perlu disediakan di dalam bilik ER.
Tenaga listrik diperlukan untuk menggerakkan motor induksi rem yang terdapat dalam ruang atau kompartemen penggerak di bawah lantai bilik atau kabin, sistim kendali elektronik, dan penerangan diperlukan.
Dengan peladangan cahaya matahari yang kian banyak dikembangkan orang kedepan, begitu juga peladangan tenaga angin, kedua sumber tenaga listrik akhir ini dapat digunakan pada sejumlah daerah terpencil yang belum lagi terjangkau PLN.
Sebuah Pengatur Logika Terprogram (PLT) atau Programmable Logic Controller (PLC) diper-lukan dalam ER sebagai antarmuka (interface) antara para penghuni rumah atau bangunan ber-tingkat dengan sistim elektromekanik (electromechanical system) yang menjalankan ER sehing-ga yang akhir ini mengerti perintah yang diberikan, tidak terkecuali sejumlah pemutus batas (li-mit switches), saluran kendali (control wirings), dan berbagai tombol (push buttons) yang diper-lukan.
Selain dari itu perlu ditentukan pula standardisasi panjang poros (shaft length) ERTK dan ERTT dalam bangunan tinggi, seperti: satu tingkat, dua tingkat, dan lainnya yang digunakan dalam rumah atau bangunan bertingkat, termasuk Daya Angkut Penumpang (DAP), atau Passenger Carrying Capacity (PCC), dari bilik atau kabin ER, misalnya: 2, 4, 6, 8 orang, dan lainnya.

Antuk menaikkan seorang penghuni rumah atau bangunan bertingkat, dimulai dengan menurunkan ER (ketika sedang berada diatas) sedemikian rupa sehingga lantainya rata dengan lantai dasar. Dengan menekan Tombol Buka (TB) dari luar, pintu ER akan terbuka dan penghuni dapat masuk. Lalu Tombol Tutup (TT) ditekan dari dalam ER, menyebabkannya bergerak naik. ER akan berhenti setelah menyentuh tombol batas atas. OB kemudian ditekan dari dalam, dan peng-huni rumah atau bangunan bertingkat keluar ke lantai tujuan. Selesai.

Untuk menurunkan penghuni rumah atau bangunan bertingkat, dimulai dengan menaikkan ER ( ketika sedang berada dibawah) sedemikian rupaa sehingga lantainya rata dengan lantai dimana penghuni berada. Dengan menekan TB dari luar, pintu ER akan terbuka dan penghuni dapat masuk. Kemudian TT ditekan dari dalam ER, menyebabkannya bergerak turun. ER akan ber-henti setelah menyentuh tombol batas bawah. OB kemudian ditekan dari dalam, dan penghuni la-lu keluar ke lantai dasar. Selesai.

Perlu dicatat, ER dirancang untuk rumah atau bangunan satu tingkat atau berlantai dua “berporos tunggal” (singgle shaft), yang dinamakan dengan ER-1. ER juga dapat dirancang berporos tunggal untuk rumah atau bangunan dua tingkat atau berlantai tiga, yang dinamakan ER-2. ER juga dapat dirancang untuk rumah atau bangunan tiga tingkat atau berlantai empat, yang dinamakan ER-3. Dan begitu juga selanjutnya. Bagi warga yang mendiami rumah atau bangunan berlantai tiga, dapat memilik memilih membeli tiga buah ER-1 dan diletakkan pada sejumlah tempat berlainan, selain membeli sebuah ER-2 terpsasang di satu tempat.

Gambar-II memperlihatkan Elevator Satu Tingkat (EST), atau Single Story Elevator (SSE), yang dinamakan ER-1, dan dbutuhkan oleh rumah atau bangunan satu tingkat atau dua lantai. Gam-bar-IIa memperlihatkan tampak depan ER-1, dimana garis putus-putus memperlihatkan ruang yang ditempatinya, yang dapat dinamakan: “Kubikel EST”, atau “SSE Cubicle”.

Gambar-IIb memperlihatkan tampak depan ERTK dan Gambar-IIc menunjukkan tampak depan ERTT, keduanya dirancang untuk dipakai dalam rumah atau bangunan satu tingkat. Pada bagian atas setiap gambar, diperlihatkan tampak atas masing-masing darinya. Mewujudkan ERTK dan ERTT sebagai “Kubikel ESL” (SSE cubicle) bertujuan memudahkan: pembuatan, pengujiannya (testing), pengiriman (transportation), pemasangan (installation) di tempat, dan pemakaian awal (commissioning) ER dalam rumah atau bangunan bertingkat disaksikan pembuatnya.

ER-I

Gambar-II

Untuk rumah atau bangunan satu tingkat, atau dua lantai, dapat dibeli sebuah Kubikel EST “langsung pakai” (ready for use) yang terlihat pada Gambar-IIb, atau Kubikel EST Gambar-IIc. Kubikel EST dimasukkan kedalam rumah atau bangunan bertingkat pada lantai dasar, baik yang disorong dari luar maupun dalam rumah atau bangunan bertingkat, tergantung keadaan, kemu-dian dibautkan ke pondasi yang telah disiapkan. Setelah sambungan listrik dipasan, dan arus listrik PLN dialirkan, Kubikel EST lalu melayani penghuni rumah atau bangunan bertingkat, menaikkan psrs penghuni dari lantai dasar ke lantai tujuan, begitu juga sebaliknya. Dengan demi-kian Kubikel EST diserahkan pabrik pembuatnya dalam keadaan “siap pakai”, artinya langsung dapat digunakan para penghuni rumah atau bangunan bertingkat pemesan dengan “jaminan pur-na jual” (warranty period) selama satu tahun.
Dengan menggunakan ER, para penghuni rumah atau bangunan bertingkat tidak perlu lagi me-ngerahkan kekuatan otot kaki masing-masing bepergian antar lantai dalam banguan moderen (to-wn house) yang mereka didirikan, mulai dari pusat kota hingga daerah pinggirannya. ER juga memudahkan orang-orang tua, kaum wanita, dan anak-anak, tidak terkecuali kerabat penyandang cacat jasmani, karena berkeliaran antar lantai bebas kendala.

SNI
Untuk membuat ERTK dan ERTT dalam rumah atau bangunan berlantai banyak tidak diragukan lagi perlunya keterlibatan Standard Nasional Indonesi (SNI). Dalam SNI tercantum keterkaitan beragam kepentingan, antara lain: keamanan, keselamatan, keandalan, ekonomi, efisiensi, sum-ber tenaga (energy), ketertiban; dan tidak terkecuali peraturan keselamatan, peraturan pemerin-tah, asuransi, dan sejumlah hal lainnya; juga berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan bagi pembuatannya. Elevator rumah atau binatu semuanya dapat dibuat didalam negeri mendatangkan hanya sedikit komponen import. Waktu menghadirkan sebuah Kubus EST (SSE Cubicle): ER-1, ER-2, ER-3 dan lainnya, untuk para penghuni rumah atau bangunan lantai tidak terlalu banyak diperkirakan berada sekitar 6 sampai 12 bulan.

Elevator Dalam Kendaraan
a. Kapal Laut
Elevator sejenis ER yang dibutuhkan kapal laut, disebut: Elevator Kapal (EK), atau Ship Eleva-tor (SE), dapat dibuat dengan teknologi yang sama. EK tidak hanya diperlukan dalam kapal laut sehingga para penumpang dapat mudah bepergian antar lantai, tetapi juga untuk memuat pe-numpang kedalam kapal laut dari dermaga yang terdapat di darat. Tangga yang digunakan selama ini benar-benar menyalahi: “hak asasi manusia” di laut. Sejauh ini belum lagi terdapat jaminan terhadap: “keamanan, kenyamanan, dan keselamatan” insan bepergian dengan kapal la-ut, tidak terkecuali ketika naik ke atas kapal maupun meninggalkannya dari dermaga di darat.

b. Pesawatterbang
Elevator sejenis ER untuk pesawatterbang juga dapat dikerjakan, dinamakan Elevator Pesawat (EP) atau Aircraft Elevator (AE). Dengan semakin besarnya ukuran pesawatterbang melayani penerbangan antar benua lagi lagi bertingkat kedepan, para penumpang memerlukan sarana be-pergian antar lantai, yang juga tidak lagi menyalahi hak asasi manusia di udara.

Catatan
Elevator rumah telah dipatenkan di Kantor Paten Republik Indonesia Jakarta, tanggal 14 April 2004, dibawah judul “Penyeberangan Jalan-Raya”.

———–selesai———–

Penulis:
H.M.Rusli Harahap
Pamulang Residence G1
Jalan Pamulang-2, Pondok Benda.
Kode Pos: 15416. Tangerang Selatan.
Tel. 021-74631125.

Posted by: rusliharahap | March 3, 2015

Sarana Penyeberang Jalan-raya

Pendahuluan
Dengan kendaraan bermotor roda: dua, tiga, empat, dan seterusnya meningkat terus menyerbu kota-kota besar dunia dalam perjalanan waktu kedepan, para pejalan-kaki (pedestrian) lalu menemukan sedikit “peluang” untuk menyeberang jalan-raya di lampu-lampu merah bertanda zebra di berbagai kota besar yang padat penduduknya kedepan; dan menjadi persoalan yang semakin sulit dipecahkan oleh para walikota. Adapun yang dikeluhkan para pejalan-kaki ialah: waktu menunggu untuk memperoleh peluang menyeberang yang semakin lama, dan menye-berang jalan-raya yang aman selamat sampai di seberang, kian menghabiskan banyak waktu. Para pejalan-kaki mendapat peluang waktu yang makin pendek di lampu-lampu merah bertanda zebra, terutama pada jam-jam sibuk di hari kerja. Difihak yang sebaliknya, memberi kesempatan kepada para pejalan-kaki menyeberang jalan-raya di lampu-lampu merah bertanda zebra di kota-kota besar yang padat penduduknya menyebabkan antrian panjang kendaraan bermotor pada jam-jam sibuk hari kerja, menimbulkan pencemaran udara yang mengancam kesehatan warga kota.

Untuk mengatasi persoalan diatas, terutama menghindarkan kecelakaan lalulintas di jalan-raya berbagai kota besar yang padat penduduknya di Tanah-Air dan Mancanegara, sudah tiba waktung para pejalan-kaki (pedestrian) hijrah dari: menyeberang jalan-raya “satu bidang” ke menyeberang jalan-raya “dua bidang”, dengan memperkenalkan: Penyeberang Pejalan-kaki Atas (PPA) atau Overhead Pedestrian Crossing (OPC) dan Penyeberang Pejalan-kaki Bawah (PPB) atau Underpass Pedestrian Crossing (UPC), di berbagai kota besar yang padat berpenduduknya di Tanah-Air dan Mancanegara.
PPA adalah satu atau lebih “jembatan penyeberangan” yang menghubungkan dua sisi jalan-raya yang diseberangi para pejalan-kaki ketinggian ± 5 meter diatas permukaan jalan-raya, sehingga beragam kendaraan bebas bergerak terpisah dibawahnya. Sedangkan PPB ialah sebuah pelintasan atau lorong ± 2.5 meter dibawah permukaan jalan-raya untuk para pejalan-kaki, sehingga beragam kendaraan bebas bergerak terpisah diatasnya. Bagi para pejalan-kaki PPB lebih disenangi, karena “menuruni” tangga sedalam ± 2.5 meter dibawah permukaan jalan-raya menguras sedikit tenaga (energy) ketimbang “menaiki” anak-anak tangga tinggi ± 5 meter diatas permukaan jalan-raya.

Penyeberang Pejalan-kaki
PPA dapat dibangun di berbagai kota besar yang padat penduduknya untuk melancarkan lalulintas sekaligus menghindarkan kecelakaan lalulintas di permukaan jalan-jalan raya, sedang-kan PPB hanya dapat dibangun pada sejumlah tempat yang dikenal aman untuk menghindarkan kejahatan. Dalam pelaksanaannya, dibedakan dua golongan PPA yang mendapat sambutan baik warga berbagai kota besar yang berpenduduk padat, yakni: Penyeberang Pejalan-kaki Lurus (PPL) atau Straight Pedestrian Crossing (SPC) sebagaimana yang diperlihatkan Gambar Ia, dan Penyeberangan Pejalan-kaki Terpadu (PPT) atau Integrated Pedestrian Crossing (IPC) sebagaimana tampak pada Gambar Ib.

SaranaMenyeberang Jalan-raya
Gambar-I

Sarana PPL dan PPT
Sebuah PPL dapat terdiri dari satu atau lebih jembatan penyeberangan yang menghubungkan kedua sisi jalan-raya yang diseberangi oleh para pejalan-kaki. Sedangkan PPT terdiri dari seke-lompok jembatan penyeberangan mengitari pertemuan jalan-jalan raya (roundabout). Yang disebut akhir ini tidak perlu merupakan sebuah lingkaran sempurna sebagaimana yang diperlihatkan oleh Gambar-Ia, tetapi dapat juga sebuah bangun tertutup (loop) sebarang bentuk menurut keadaan lingkungan alam yang terdapat di persimpangan jalan-jalan raya (motorway interchange) kota besar berpenduduk padat Tanah-Air atau Mancanegara yang dibicarakan.
Dengan PPL dan PPT sebagai “sarana baru” untuk menyeberang jalan-raya di berbagai kota besar yang padat penduduknya di nusantara dan mancanegara, menyeberang jalan-raya “budaya baru” yang dibantu “sarana naik” dan “sarana turun” dirancang khusus untuk para pejalan-kaki yang melintas di teriknya siang hari, atau dinginnya tengah malam, akan menggantikan “budaya lama” menyeberang jalan-raya “menaiki” dan “menuruni” anak-anak tangga yang menguras banyak “tenaga” (energy). Budaya lama selain sudah ketinggalan zaman, juga tidak lagi layak digunakan ditinjau dari ukuran (standard): keamanan, kenyamanan, perlindungan, dan kese-lamatan jiwa manusia, perlu segera diakhiri di Tanah-Air dan Mancanegara di berbagai kota besar yang padat penduduknya, oleh alasan sederhana: menyalahi “hak azasi manusia” untuk menyeberang jalan-raya: aman, nyaman, dan selamat sampai ke seberang; dewasa ini semakin dikuasai atau didominasi mesin bikinan manusia dimana-mana di hampir seluruh penjuru dunia.

Elevator Pejalan-kaki
Yang dinamakan “sarana naik” tidak lain dari sebuah “bilik-angkut” dinamakan juga “ruang-angkut” atau lebih popular dengan istilah: “kabin elevator” yang bergerak keatas, sedangkan “sarana turun” ialah bilik angkut yang sama tetapi sedang bergerak kebawah; keduanya tidak lain dari sebuah “kabin elevator” yang dirancang khusus untuk menaikkan atau menurunkan para pejalan-kaki menyeberang jalan-raya sebagaimana yang terlihat pada Gambar-II, berteknologi sederhana: 1. Bolt-Nut dengan Bevel Gear, atau 2. Rack-Pinion dengan Bevel Gear dan Worm Gear, dijalankan motor induksi rem (brake induction motor).
“Ruang angkut” akan menaikkan para pejalan-kaki dari permukaan jalan-raya menuju PPL atau bagian PPT di suatu ketinggian, atau sebaliknya menurunkan para pejalan-kaki dari sisi lain PPL atau bagian PPT suatu ketinggian kembali ke permukaan jalan-raya di seberang; dan “ruang angkut” inilah yang kemudian dinamakanaa; Elevator Pejalan-kaki (EP) atau Pedestrian Elevator (PE). Dengan meninggalkan “budaya lama” dan hijrah ke “budaya baru”, para pejalan-kaki dari semua generasi mulai yang normal hingga kaum disable, dimanapun di muka bumi ini, akan menyeberang jalan-raya berbagai kota yang padat penduduknya dengan: aman, nyaman, dan sselamat terbaik di dunia.

Dengan hijrah ke budaya baru, para pejalan-kaki warga kota besar yang padat penduduk yang menyeberang jalan-raya, akan pertama kali dinaikkan EP ke PPL atau bagian PPT ketinggian ± 5 m diatas jalan-raya. Lalu membiarkan mereka berjalan kaki diatas permukaan datar (hori-zontal) sepanjang PPL atau bagian PPT; kemudian dari sisi lain PPL atau bagian PPT, para pejalan-kaki akan diturunkan EP lain kembali ke permukaan jalan-raya seberang.

Tenaga listrik yang diperlukan untuk menaikkan atau menurunkan EP, menggerakkan sistim listrik, elektronik dan lainnya, tidak terkecuali menyalakan penerangan, diperoleh dari PLN. Sumber tenaga listrik lain yang juga dapat digunakan ialah peladangan sinar matahari dikendalikan sistim elektronik. Begitu juga tenaga listrik diperoleh dari peladangan tenaga angin.

Daya angkut atau kapasitas EP digunakan tergantung dari rancangan ukuran dan luas lantainya. Semakin luas lantainya, semakin besar daya angkut pejalan-kaki sebuah bilik atau kabin elevator. Dalam merancang EP perlu ditentukan standard daya angkut pejalan-kaki sebuah EP, seperti: 10 orang, 20 orang, 30 orang, dan lainnya.
PPL dan PPT dapat dibangun dari beton bertulang seperti tempat berjalan kaki setinggi ± 5 meter diatas jalan-raya yang dilalui para pejalan-kaki, juga konstruksi baja seperti EP lengkap dengan ruang-angkutnya. Sebagai bagian dari konstruksi beton, beton pratekan (reinforced concrete) dapat dimanfaatkan, seperti: jembatan lurus, jembatan terpadu, dan bermacam tiang penyangga yang dibutuhkan. Dalam pembuatan EP, diperlukan juga baja kanal-C atau baja kanal-H, pipa baja, plat baja, dan lain sebagainya, tidak terkecuali untuk pagar pembatas dan pengaman, agar lebih ekonomis.

Terdapat dua macam EP yang dapat dibuat, masing-masing: Elevator Topang Keliling (ETK) atau Peripherally Braced Elevator (PBE) sebagaimana tampak pada Gambar-IIa, dan Elevator Topang Tengah (ETT) atau Centrally Braced Elevator (CBE), yang diperlihatkan pada Gambar-IIb.

EP-I
Gambar-II

ETK adalah sebuah konstruksi baja bangun persegi atau bulat yang menyerupai sangkar, di dalam mana sebuah bilik atau kabin untuk para pejalan-kaki dapat bergerak naik atau turun. Sedangkan ETT, adalah tiang tengah terbuat dari beton atau baja, disekeliling mana bilik atau kabin untuk para pejalan-kaki bentuk persegi atau bulat dapat bergerak naik atau turun. Berbeda dengan lift bangunan tinggi, ETK dan ETT tidak memerlukan kabel baja untuk menggantung bilik atau kabin para pejalan-kaki berikut perlengkapannya, akan tetapi membutuhkan pelataran atau platform untuk lantai termasuk empat Alat Angkat (AA) atau Lifting Device (LD) bertek-nologi sederhana, yakni: 1. Bolt-Nut dengan Bevel Gear, atau 2. Rack-Pinion dengan Bevel Gear dan Worm Gear, yang digerakkan motor induksi rem.

Keempat AA (LD) akan bersama-sama menaikkan pelataran bersama bilik atau kabin serentak menaikkan para pejalan-kaki didalamnya keatas, sebaliknya bersama-sama menurunkan bilik atau kabin berikut para pejalan-kaki kebawah, dilakukan sebentuk sistim mekanik yang terdapat dalam kompartemen penggerrak dibawah lantai kabin. Elevator berikut bilik atau kabin yang ada diatasnya tidak dapat turun dengan sendirinya atau merosot oleh berat sendiri berikut para pejalan-kaki didalamnya, kecuali digerakkan oleh motor induksi rem. Dengan perkataan lain, elevator berikut para pejalan-kaki didalamnya tidak akan dapat bergerak naik atau turun, ma-nakala tidak mendapat perintah untuk melakukannya.

Tenaga listrik mengalir dari jala-jala PLN atau sumber listrik lain melalui kabel daya menuju panel ETK atau panel ETT, dan lewat pengantar daya lemas (flexsible) masuk kedalam bilik atau kabin. Pilihan lain menggunakan tiga rel tembaga tersekat dan dipungut tiga sikat karbon. Manakala jaringan PLN gagal menyediakan daya listrik, sebuah sumber tenaga listrik darurat (emergency power supply) perlu ditempatkan di dalam bilik atau kabin EP.
Dengan peladangan cahaya matahari semakin banyak dimanfaatkan orang kedepan, begitu juga peladangan tenaga angin, budaya baru menyeberang jalan-raya tidak saja terdapat di kota-kota besar yang padat penduduknya, tetapi juga di beragam tempat lain jauh di luar kota besar, dimana “hak manusia” untuk menyeberang jalan-raya dengan: aman, nyaman, dan selamat, harus dilaksanakan.
Sebuah Pengendali Logika Terprogram (PLT) atau Programmable Logic Controller (PLC) perlu terdapat dalam EP, yang bertindak sebagai antarmuka (interface) antara para pejalan-kaki dengan sistim elektro-mekanik (electro-mechanical system) yang menaikkan dan menurunkan bilik atau kabin EP, agar yang akhir ini dapat memahami perintah para pejalan-kaki, begitu juga sejumlah pemutus batas (limit switches), berbagai saluran kendali (control wirings), termasuk sejumlah tombol (push buttons) yang diperlukan.
Sarana Peneyeberang Jalan-Raya Mandiri
Gambar-III memperlihatkan sarana penyeberang jalan-raya berdiri sendiri atau mandiri untuk para pejalan-kaki, sebagaimana tampak atas yang terlihat pada Gambar-IIIa dibawah ini:

busway-01a
Gambar-IIIa

Adapun keterangan dari PPL mandiri yang terlihat dari atas, dari kiri ke kanan, adalah sebagaimana yang dikemukakan dibawah ini:
a. Lajur Angkutan Umum Hilir.
b. Lajur Angkutan Busway Hilir.
c. Lajur Angkutan Busway Mudik.
d. Lajur Angkutan Umum Mudik.
e. Tapak tempat para Penyeberang Jalan Raya Berkumpul atau Bubar:
x – jarak tapak dari Penyeberang Pejalan-kaki Lurus (PPL)
y – jarak tapak dari sumbu jalan-raya yang diseberangi pejalan-kaki.
Kedua besaran ini tidak perlu harus sama di kedua sisi jalan-raya, begitu juga luasnya. Hal ini banyak tergantung dari keberhasilan pemerintah kota membebaskan lahan keperluan para warga menyeberang jalan-raya, men- jadikannya tempat pemberhentian (halte) bus atau busway, menyimak keten- tuan SNI yang berhubungan dengan masalah ini.
f. PPL.
g. EP (Elevator Pejalan-kaki).
h. Tinggi PPL diatas jalan-raya.

busway-01b
Gambar-IIIb

Adapun sejumlah bagian PPL yang tampak dari depan, ialah sebagai berikut:
f. PPL yang menghubungkan kedua sisi jalan-raya diseberangi.
i. Tiang penyangga terdapat ditengah jalan-raya.
g. EP yang terdapat di kedua ujung PPL, diatas tapak kanan dan tapak kiri.
h = ± 5 m ketinggian PPL diatas jalan-raya diseberangi.

busway-01c
Gambar-IIIc

Gambar-IIIc memperlihatkan PPL mandiri terlihat dari samping.
f. PPL pada tinggi penyeberangan jalan-raya.
g. EP terdapat di salah satu tapak.
Saat akan menyeberang jalan-raya, para pejalan-kaki perlu menurunkan terlebih dahulu EP (bilamana elevator sedang berada diatas) sedemikian rupa, hingga lantai bilik atau kabin rata dengan permukaan jalan-raya. Dengan menekan Tombol Buka (TB) dari luar, pintu bilik atau kabin segera membuka, dan para pejalan-kaki dapat masuk. Dengan menekan Tombol Tutup (TT) dari dalam bilik atau kabin, EP akan bergerak keatas dan baru berhenti setelah menyentuh pemutus batas (limit switch) atas. Selanjutnya TB ditekan dari dalam, pintu bilik akan terbuka dan para pejalan-kaki dapat keluar menuju PPL atau bagian PPT. Selesai.
Menurunkan para pejalan-kaki dari tinggi PPL atau bagian PPT, dimulai dengan menaikkan EP (apabila elevator sedang berada dibawah) sedemikian rupa hingga lantai bilik rata lantai PPL atau bagian PPT. Dengan menekan TB dari luar, pintu bilik akan membuka dan para pejalan-kaki dapat masuk. TT kemudian ditekan dari dalam menyebabkan bilik atau kabin bergerak turun, baru akan berhenti setelah menyentuh pemutus batas bawah. Selanjutnya TB ditekan dari dalam membuat pintu bilik atau kabin terbuka, dan para pejalan-kaki keluar menuju jalan-raya sebe-rang. Selesai.
Terdapat nada berbeda yang akan menyertai EP saat bergerak naik maupun turun. Tujuannya untuk memberitahu orang-orang yang berada disekitar bahwa EP sedang bekerja memberi pelayanan kepada para pejalan-kaki yang menyeberang jala-raya.
PPL ditempatkan di berbagai tempat strategis kota besar yang berpenduduk padat dengan kendaraan sangat sibuk melaju pesat, sedangkan PPT ditempatkan mengelilingi sebuah per-simpangan jalan-jalan raya dengan kendaraan sibuk juga melaju pesat. Dengan pemisahan sempurna para pejalan-kaki dari bermacam kendraan berlalulalang, kecepatan rata-rata lalulintas dapat ditingkatkan menuju ke kecepatan ekonomis kendaraan dirancang, demi menghemat pemakaian bahan-bakar, mengurangi pencemaran udara, menyingkat waktu tempuh, dan mematuhi tertib lalulintas. Dan yang disebut belakangan, tidak dapat diperoleh hanya dengan manipulasi aturan lalu-lintas saja (soft-ware atau perangkat-lunak), tetapi harus dengan menghadirkan sarana (hardware atau perangkat-keras) berupa: PPL dengan EP, atau PPT de-ngan EP. Inilah yang dinamakan: Software+Hardware Solution , disingkst SHS, atau Pe-mecahan Perangkat-lunak+Perangkat-keras, disingkat PPP atau 3P, terhadap masalah lalu-lintas di kota-kota besar yang padat penduduknya di Tanah-Air maupun Mancanegara, dimanapun berada di muka bumi.

Penyeberangan Jalan-raya Berbayar
Dengan adanya PPL, PPT, dan EP di berbagai kota besar berpenduduk padat yang siap melayani, setiap orang yang dengan sengaja menyeberang jalan-raya di tempat yang terlarang harus dihukum. Dasar hukum yang mendasarinya jelas, para penye-berang liar akan membuat para pengemudi terkejut dan menurunkan laju kendaraan dibawah kecepatan lalulintas rata-rata yang diperintahkan, menyebabkan pemakaian bahan-bakar boros, pencemaran udara meningkat, peraturan dilanggar, dan lenyapnya waktu yang berharga.
Dengan keberadaan PPL, PPT, dengan EP di berbagai kota besar yang padat berpenduduknya di Tanah-Air maupun Mancanegara, dapat diperkenalkan “menyeberang membayar”, atau “pay crossing” kepada masyarakat. Tujuanny menghimpun dana untuk mengoperasikan dan merawat sarana menyeberang jalan-raya budaya-baru, manakala walikota menolak menggunakan dana pajak masyarakat. Dengan selogan: “Setiap orang dapat bayar menyeberang“, atau “Everyone can pay across”, siapa saja yang benar-benar tidak mempunyai uang, akan langsung diberi uang oleh yang melola untuk menyeberang, atau oleh siapa saja yang berniat membantu membayar atau bersedekah menyeberangkan orang.
Sarana kota budaya-baru ini tidak hanya mendapat pemasukan uang dari para pejalan-kaki yang akan menyeberang jalan-raya. Masih banyak sumber penghasilan lain yang dapat digali yang melola tergantung dari kreatifitas orang yang diberi kepercayaan. Dengan adanya PPL, PPT, dibantu EP di berbagai kota besar yang padat penduduknya di nusantara dan dunia, orang-orang tua demikian juga mereka yang cacat jasmani akan menyeberang jalan-raya dengan mudah, dan sudah tentu orang-orang perempuan dan anak-anak.

Penyeberang Jalan-Raya Tergabung Busway.
Prasarana budaya-baru menyeberang jalan-raya: PPL, PPT, berikut EP dapat dengan mudah bekerjasama dengan layanan angkutan umum, seperti: angkot, metromini, bus, tidak terkecuali busway di berbagai kota besar yang padat penduduknya, antara lain: Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar dan lainnya.
Pada gambar-IV disajikan Penyeberangan Pejalan-kaki Lurus Tergabung Busway atau Terpadu Busway, disingkat: PPLTB. Dengan kehadiran PPLTB para pejalan-kaki akan mudah disebe-rangkan, dan para penumpang busway: anak-anak, kaun permpuan, para disable, hingga orang tua, akan mudah “naik” atau “turun” dari buaway, sebagaimana tampak pada Gambar-IVa bawah ini.

busway-02a

Gambar-IVa

Adapun berbagai bagian dari PPLTB yang terlihat dari atas, ialah sebagaimana dibawah ini:
1. Lajur Angkutan Umum Hilir
2. Lajur Angkutan Busway Hilir
3. Lajur Angkutan Busway Mudik
4. Lajur Angkutan Umum Mudik
5. Tapak di sisi kiri dan sisi kanan jalan-raya, sekaligus Halte Busway
6. Ruang Naik Turun (RNT) penumpang Busway ditengah jalan-raya.
7. EP terdapat dalam RNT ditengah jalan-raya.
8. EP diatas tapak kanan dan tapak kiri kedua sisi jalan-raya.
9. PPLTB yang menghubungkan kedua sisi jalan-raya.

Dengan membangun PPLTB di seluruh Pemberhentian atau Halte Busway, maka semua tangga tempat berjalan kaki naik atau tempat berjalan kaki turun, dan berkelok-kelok mengitari setiap Halte Busway yang ada kini dapat dihilangkan, sehingga pemandangan garis-langit (skyline) Ibukota Jakarta, terlihat semakin indah dan menawan.

busway-02b

Gambar-IVb

Adapun bagian-bagian PPLTB yang terlihat dari muka, ialah:
9. PPLTB yang menghubungkan kedua sisi jalan-raya diseberangi
6. RNT ditengah jalan-raya dengan dua EP berada didalamnya
8. EP yang terdapat di kedua ujung PPLTB, diatas tapak kanan dan di tapak kiri.
h = tinggi PPLTB diatas jalan-raya.

busway-02c

Gambar-IVc
Adapun Gambar-IVc memperlihatkan sebuah PPLTB tampak samping.
9. PPLTB tinggi penyeberangan.
8. EP berdiri di salah satu tapak.
6. RNT ditengah jalan-raya dengan dua EP ada didalamnya.

Mempromosikan Sarana Menyeberang Jalan-Raya Budaya-Baru
Untuk memperkenalkan sarana menyeberang jalan-raya “budaya-baru” kepada para pejalan-kaki (pedestrian) di Tanah-Air dan Mancanegara, dimulai dari pengunjung kawasan Silang Monas Ibukota Jakarta yang tidak menggunakan kendaraan bermotor. Dengan menempatkan PPL atau PPT beserts EP di sejumlah tempat strategis, diantaranya di: jalan Merdeka Utara, jalan Merdeka Timur, jalan Merdeka Selatan, dan jalan Merdeka Barat, warga kota, wisatawan para pejalan-kaki domestik sampai mancanegara akan dengan sukacita masuk dengan “budaya baru”, ke kawasan Silang Monas di kota Jakarta karena itulah pilihan yang terbaik, karena: aman, nyaman, dan terhindar dari kecelakaan tidak diinginkan. Dengan hadirnya PPL, PPT, berikut EP, tak seorang pun yang berfikiran sehat atas kemauan sendiri bersedia meninggalkan “budaya baru”, saat meninggalkan kawasan Silang Monas, karena selain aman, nyaman, dan selamat juga sangat menghemat tenaga.

SNI.
Dalam menghadirkan: PPL, PPT berikut EP tidak diragukan lagi perlunya keterlibatan Standard Nasional Indonesi (SNI). SNI akan melibatkan banyak fihak yang berurusan dengan kepentingan warga kota, antara lain: keamanan, kenyamanan, keselamatan, keandalan, ekonomi, efisiensi, sumber tenaga (energy), peraturan perundang-undangan, peraturan pemerintah, asuransi, dan masih banyak lagi aspek lainnya; juga keterlibatan disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan untuk menghadirkannya. Sarana penyeberang jalan-raya budaya-baru ini dapat dibuat di dalam negeri dan hanya membutuhkan sedikit komponen import. Waktu pembuatan PPL, PPT berikut EP untuk para pejalan-kaki yang akan berkunjung ke Silang Monas di Jakarta diperkirakan sekitar 6 sampai 12 bulan.

Penyeberang Untuk Kendaraan Bermotor
Sarana jalan-raya PPL, PPT, berikut EP mudah dikembangkan juga untuk menyeberangkan kendaraan roda: dua, tiga, dan empat, guna mengalihkan sebagian lalulintas menuju ke jalan samping, jalan seberang, atau jalan bersilang, sehingga kepadatan kendaraan di jalan bebas hambatan, seperti: jalan tol dan jalan lainnya dapat diturunkan kepadatannya dengan segera.
Dengan demiksarana, kendaraan mogok, atau rusak, atau lainnya yang tidak lagi dapat bergerak dapat langsung dikeluarkan dari jalur jalan bebas hambatan.

Catatan:
Gagasan penyeberang jalan-raya ini telah dipatenkan penulis di Kantor Paten Republik Indo-nesia, Jakarta, dengan judul “Penyeberangan Jalan-Raya”, pada tanggal 14 April 2004.

——–selesai——–

Penulis:
H.M.Rusli Harahap
Pamulang Residence G1
Jalan Pamulang-2, Pondok Benda.
Kode Pos: 15416. Tangerang Selatan.
Tel. 021-74631125.

Posted by: rusliharahap | October 26, 2014

Mari Cepat Selamatkan Kedua Ibu!

Mari Cepat Selamatkan Kadua Ibu

Banyak orang yang mendengar keluhan dua Ibu kesakitan
Tetapi, tidak ada yang tahu darimana suara keluhan datang
Keluhan makin keras seiring waktu dan bertukarnya zaman
Mari cepat, selamatkan kedua Ibu kesakitan yang malang!
!

Pendahuluan
Agama telah mengajarkan bahwa, manusia tidak terkecuali berbagai makhluk lain, datang ke alam fana di muka bumi ditakdirkan oleh Allah Subhanahu Wataala, awalnya (pertama) sebagai ruh (bukan-benda) dalam perjalanan yang panjang. Setibanya di muka bumi, manusia begitu juga makhluk lain melangsungkan lagi perjalanan yang lain (kedua): diawali hadir dalam kandungan, lalu lahir ke dunia sebagai bayi, menjadi balita, anak, remaja, dewasa, orang-tua, kakek/nenek, menjalani usia senja, dan akhirrnya tiba di batas usia. Untuk menunjukkan keberadaan manusia, begitu juga makhluk lain di permukaan planit biru agar tampak, dapat bertegur sapa, berkomu-nikasi, melakukan hal lain, manusia demikian pula makhluk lain mendapat pinjaman benda (ma-teri) dari permukaan bumi untuk tubuh, juga dinamakan orang badan atau jasmani.

Adapun yang disebut belakangan, awalnya diberikan kedua orangtua pada manusia atau makhluk lain ketika sanggama, lalu setelah berhenti menyusu kepada ibu melahirkan, dipinjamkan langsung dari bumi melalui kegiatan: minum, makan, bernafas, berkegiatan, dan diolah Teknologi Makhluk Hidup (TMH) berlangsung dalam tubuh manusia atau makhluk lain melalui reaksi “kimia organik dingin” (cold organic chemistry), memanfaatkan beragam unsur kimia tertera dalam tabel Mendeleyev, seperti: hidrogen, aksigen, karbon, dan lainnya, dimana dua unsur yang disebutkan terdahulu merupakan terbanyak. Setelah menjalani kehidupan alam fana di permukaan bumi serentang hayat membuat “persiapan”, manusia demikian juga berbagai makhluk lain, lalu meneruskan perjalanan awal kembali sebagai ruh, setelah mengembalikan terlebih dahulu badan atau jasmani (materi) dipinjam dari permukaan bumi, guna memenuhi panggilan Allah Subhanahu Wataala.

Dari dua perjalanan yang dikemukakan, yang paling banyak mendatangkan persoalan kepada manusia, adalah yang disebut paling akhir sebagai benda (materi), yakni perjalanan alam fana di permukaan bumi. Tidak dapat disangkal, bahwa dalam perjalanan disebut belakangan, terdapat kewajiban dan tanggungjawab yang harus diemban yang terjabar kedalam 3 (tiga) golongan agar tertib hidup dengan segala yang ada boleh tercipta. Pertama: hubungan dengan Sang Maha Pen-cipta, juga dikenal dengan: “hablumminAllah” yang mendatangkan manusia dengan beragam makhluk lainnya ke Alam Semesta, wabilkhusus bumi sebagai tempat berdiam dan diselimuti atmosfer yang berisi udara; begitu pula air yang memenuhi segala cekungan yang ada pada per-mukaannya, mulai: parit, kolam, sungai, danau, laut sampai dengan samudra; dan daratan seba-gai tempat tinggal dan berusaha. Yang disebut belakangan ini tidak lain dari lahan untuk ber-tanan menumbuhkan bermacam tanaman: pangan, obat, sandang, papan, dan lainnya, dengan cahaya dan panas dipancarkan langsung dari matahari. Kedua: hubungan manusia antar sesam-anya apapun suku dan kepercayaannya, juga dinamakan: “hablumminannas”, tidak terkecuali terhadap aneka makhluk lain yang juga berdiam di permukaan planit biru. Ketiga: hubungan manusia bersama makhluk lain dengan Alam Semesta, dikenal dengan: “hablumminalkaun”, wabilkhusus dengan bumi juga dikenal “planit biru”, oleh keistimewaan yang dimiliki belum semuanya terungkap sampai kini, dan belum lagi ditemukan orang bandingannya dengan planit manapun terdapat di Alam Semesta. Terhadap yang akhir ini sebuah “aturan berprilaku” (code of conduct) diawali “sopan santun” hingga “etika” dan “hukum” perlu disusun segera untuk “ditegakkan” dan “dipantau” pelaksanaannya dengan hukuman yang dikenakan terhadap para pelanggarnya, sehingga kedepan Alam Semesta, wabilkhusus bumi, tempat berbagai makhluk bernyawa berdiam, dapat terjaga kelestariannya dari kerusakan yang ditimbulkan perbuatan ta-ngan manusia tidak bertanggungjawab menelusuri perjalanan waktu menempuh zaman.

Revolusi Industri
Surat Al-Baqarah (Sapi Betina), Ayat 11, telah menyampaikan:

 

2_11
Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi24, mereka menjawab: ”Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”.
24Kerusakan yang mereka perbuat di bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.

Selanjutnya, surat Ali-Imran Ayat 112 mengemukakan pula:

3_112
Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia218), dan mereka kembali mendapat kemur-kaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu219) karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu220) disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.

[Sumber: Al-Quran dan Terjemahannya, hadiah “Kerajaan Saudi Arabia”, berlangsung pada mu-sim haji tahun 1983.]

Masih terdapat berbagai surat lain menyusul kemudian, yang juga mengingatkan manusia agar “tidak membuat kerusakan di permukaan bumi”. Akan tetapi dengan timbulnya revolusi industri di Eropa: gelombang pertama diawali tahun 1760 sampai 1820 dan 1840 (penghujung abad ke-18 dan awal abad ke-19), dilanjutkan gelombang kedua dari 1840 hingga 1870, lalu mengawali kemajuan perekonomian di daratan Eropa silam; menemukan momentum dengan tersebarnya jaringan jalan kereta-api yang dihela lokomotiv uap di berbagai negara benua itu; lahirnya bermacam kapal: mulai sungai, laut, sampai samudra yang dijalankan mesin-uap di Amerika Serikat tahun 1850 menggantikan kapal-layar dihembus angin. Penemuan pesawat-terbang oleh Wright Bersaudara dari Amerika Serikat memasuki abad ke 20, juga menjadi bagian dari semua yang telah menyebabkan perubahan besar di permukaan bumi dalam berbagai bidang kehidupan manusia, seperti: angkutan darat awalnya serba berjalan kaki dimana-mana di seluruh dunia dan gerobak (wagon) hela ternak piaraan seperti: lembu, kerbau, kuda, dan lainnya, menjadi yang dijalankan mesin; juga lahir angkutan laut dijalankan mesin menggan-tikan layar; muncul pula angkutan udara dan antariksa meramaikan langit seputar bumi yang belum terba-yangkan umat sebelumnya akan dapat disaksikan sepanjang hayat di muka bumi.

Pertanian, industri, tambang, dan lain sebagainya kemudian beralih dari serba dikerjakan tenaga manusia dibantu hewan, menjadi yang samasekali dijalankan mesin. Muncul pula beragam ma-cam mesin perang, sebagaimana yang telah disaksikan orang dalam Perang Dunia ke-I dan ke-II silam, dan sejumlah perang menyusul kemudian, antara lain: perang Korea dan perang Viet-nam, dan lainnya.

Semuanya telah mengubah lingkungan hidup manusia di muka bumi termasuk makhluk lain di dari berbagai zaman yang telah mendahului. Revolusi industri juga telah mengubah hidup komunitas manusia di muka bumi, mulai: masyarakat/sosial, tata-nilai, ekonomi, seni dan buda-ya, kepercayaan, agama, dan masih banyak lainnya di seantero planit, diawali dari negara maju hingga dengan negara yang tengah berkembang. Revolusi industri diawali dari Inggris, meluas ke seluruh Eropa, lalu menyebar ke Amerika Utara, kemudian Jepang, akhirnya melanda dunia, dan tidak terkecuali Indonesia. Revolusi yang awalnya dianggap sebagai “berkah” kepada umat yang hidup di muka bumi dengan kehadiran beragam sarana angkutan dijalankan mesin yang memudahkan orang bepergian kemana-mana, tidak terkecuali menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci di Mekah dan Madinah, Saudi Arabia, naik pesawatterbang.

Akan tetapi, setelah lebih dari dua setengah abad waktu berlalu, umat manusia kemudian sadar, bahwa revolusi industri diawali darii Eropa silam, ternyata menjadi “pembawa bencana” kepada umat dan makhluk lain di permukaan bumi, dengan semakin seringnya muncul badai berembus dengan “kecepatan pesawatterbang tinggal landas”, dan salah satu darinya, ialah yang telah “meratakan kota Tacloban” yang berada di Filipina belum lama berselang.

Surat Ar-Rum, ayat 41, tercantum dalam Al-Quran, telah memperingatkan kepada umat:

30_41
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, su-paya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Tampaknya peringatan surat Ar-Rum, ayat 41, sekarang sedang berbuat merasakan kepada umat di muka bumi “sebahagian dari akibat dari perbuatan tangan mereka, agar kembali ke jalan yang benar”.

Sudah sejak ratusan ribu tahun berlalu, terjabar kedalam berbilang zaman silam, Allah Subha-nahu Wataala mengutus para Nabi datang ke dunia untuk mengajarkan kepada umat bagaimana cara menjalani kehidupan alam fana di permukaan bumi, mulai kewajiban dan tanggung jawab yang harus diemban, agar manusia begitu juga makhluk lain sebagai bagian dari Alam Semesta, wabilkhusus bumi, dapat berlangsung dengan tertib dan aman. Tiga orang Rasul yang tampil belakangan menemui umat, sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran, ialah: Nabi Musa AS yang membawa Kitab Taurat kepada umat Yahudi, kemudian disusul Nabi Isa Al-Masih AS yang membawa Kitab Injil untuk kaum Nasrani, dan terakhir Nabi Muhammad SAW yang membawa Kitab Al-Quran untuk umat Muslim. Selain menyempaikan berbagai Kitab Suci yang memuat beragam surat memuat bermacam ayat, ada juga cara hidup yang diteladankan para Ra-sul diriwayatkan para penulis hadis yang telah luas disebarkan.

Sebagai benda (materi) ciptaan Ilahi terbuat dari bahan asal dari permukaan bumi lewat TMH, manusia begitu juga makhluk lain akan menghadapi banyak persoalan dan masalah dengan keragaman masing-masing menempuh hidup alam fana di muka bumi mulai dari kandungan, lahir sebagai bayi, menjadi balita, anak, remaja, dewasa, orang tua, kakek/nenek, menjalani usia senja, dan tiba di akhir hayat. Setelah sekitar dua tahun menyusu kepada “ibu melahirkan” (birthmother), tanggungjawab mengurus manusia diserahkan kepada “ibu asuh” (caremother). Adapun yang dimaksud dengan “ibu asuh” pada manusia, begitu pula makhluk lain, ialah “bumi” atau “planit biru”, karena yang disebut akhir ini selain menjadi tempat berdiam bagi insan dan makhluk lain, juga lingkungan hidup menyediakan berbagai kebutuhan hidup alam fana di muka bumi, seperti: udara, air, pangan, obat-obatan, sandang, papan, dan lain sebagainya hingga cahaya dan panas matahari, sebelum akhirnya kembali menghadap Sang Khalik. Itulah sebabnya, mengapa setiap makhluk yang ditakdirkan berdiam di muka sebuah planit dimanapun di Alam Semesta (Al-Kaun) yang sangat luas, akan memperoleh dua ibu, masing-masing: ibu melahirkan dikenal dengan: “Ibu Kandung” (Birthmother), disingkat IK, dan lainnya ibu pengasuh dikenal dengan: “Ibu Asuh” (Mothercare), yang tidak lain dan tidak bukanadaalah planit tempat berdiam di Alam Semesta, dikenal dengan: Ibu Planit, disingkat IP. Tiap negera yang ada di muka bumi mengenal apa yang dinamakan: “ibu-pertiwi”, yakni bagian dari muka bumi yang didiami oleh warga bangsanya. Dengan demikian Ibu Planit, merupahan gabungan dari segala ibu-pertiwi semua bangsa yang berdiam di muka bumi atau planit biru. Itulah sebabnya mengapa planit, dimana manusia dan beragam makhluk lain yang ada di Alam Semesta dinamakan: Ibu Bumi, disingkat IB. Dengan demikian setiap mahluk yang berada di Alam Semesta, di planet manapun ditakdirkan Allah Subhanahu Wataala berdiam, akan dilahirkan IK masing-masing lalu diasuh IP bersama.

 

Earth_Eastern_Hemisphere

Ibu Bumi
Sumber: Google

Kehidupan Alam Fana
Tidak terhitung macam persoslsn berikut ragamnya dihadapi manusia hidup menjalani alam fana di muka bumi, terjabar dalam: perseorangan, keluarga, kelompok, suku, daerah, nasional, dan internasional. Ada persoalan anak masuk usia puber berikut kenakalannya yang memerlukan perhatian. Ada persoalan kemiskinan umat berdiam di bumi yang perlu dipecahkan. Ada lagi persoalan buta huruf yang menghambat umat mendapat pendidikan diperlukan. Ada persoalan kakek/nenek lemah fisik lagi pikun yang kian besar jumlahnya di muka bumi. Ada persoalan: keyakinan, agama, intelektual, dan lain sebagainya yang membutuhkan perhatian masyarakat dan pemerintah. Ada persoalan pembabatan hutan liar kian merajalela di bumi yang tidak mudah dikendalikan pemerintah. Ada pula masalah: kriminal, narkoba, pembajakan, pelanggaran disi-plin, moral; ada lagi kejahatan dunia maya, penyadapan, dan banyak lagi yang lainnya. Yang tidak kalah mengkhawatirkan umat kini pencemaran lingkungan hidup di muka bumi, dari: darat, air (parit, kolam, kanal, sungai, laut, hingga samudra), atmosphere, tidak terkecuali angkasa diseputar bola bumi, sejak “revolusi industri” bergulir di Eropa lebih dari dua abad silam. Perlu dicatat, bahwa setiap persoalan memperlihatkan dinamika masing-masing, artinya: ada yang baru muncul, ada pula yang terus bertahan, ada lagi yang lenyap untuk sementara lalu tiba-tiba muncul dengan tak-terduga. Itulah sebabnya mengapa persoalan yang dihadapi manusia di muka bumi tidak mungkin dingkapkan seluruhnya, apalagi untuk dirinci satu demi satu. Selain dari itu, berbagai persoalan yang tampil saling berkejaran menuntut penyelesaian, karena bila tidak atau terlambat, akan dapat menimbulkan bencana atau malapetaka kepada manusia atau makhluk lain.
Rumah Ilahi
Selama kehadirannya silam, Nabi Muhammad SAW menganjurkan umat mendirikan mesjid. Mesjid adalah “baitullah” atau “rumah Ilahi”, karena tempat didirikannya telah ditentukan oleh mereka yang mendapat petunjukNya, sementara anggaran pembangunannya diperoleh dari umat yang rela berbagi rezeki, karena hati mereka telah digerakkanNya. Kini terdapat tidak kurang dari 1.000.000 Mesjid di Nusantara, besar dan kecil, tersebar dari kota besar hingga kecil dan desa. Lebih banyak lagi mesjid berdiri di bagian dunia lain diluar Tanah-Air. Semua Rumah Ilahi, adalah tempat beribadah kepada Yang Maha Esa (Hablumminallah) sebagaimana yang di-sampaikan surat Ali-Imran, ayat 112; demikian juga tempat bersilaturrakhmi antara sesama umat (Hablumminannas), untuk menyebarluaskan dan mendalami keimanan Islam serta menimba bermacam pengetahuan yang telah disemaikan dari langit sampai ke bumi. Dengan telah berlangsunya “revolusi industri” di muka bumi, dan menyebar ke seluruh penjuru dunia tidak terkecuali Tanah-Air, serta menimbulkan beragam pencemaran terhadap lingkungan hidup umat mulai: darat, laut, udara, hingga antariksa, berlangsung lebih dua abad lamanya, maka tidak ada pilihan bagi umat Islam, kecuali mengambil langkah nyata untuk meghilangkan dampaknya dari permukaan bumi.
Untuk menanggulangi dampak pencemaran yang ditimbulkan “revolusi industri” berawal dari Eropa silam, kini semakin meresahkan IB (Ibu Bumi) yang mengasuh umat di muka bumi, surat Ali-Imran, ayat 112, perlu diperkuat dengan peringatan Ilahi tertera dalam surat Ar-Rum (Bangsa Rumawi), Ayat 41, yang mengatakan: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) dari perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Surat Ali-Imran, ayat 112, sepertinya mewakili periode kehidupan umat sebelum “revolusi industri” di Eropa di-mulai silam, ketika umat masih menganut sudut pandang: “duologi”, yakni: HablumminAllah dan Hablumminannas semata. Akan tetapi kini, dengan telah berlangsungnya “revolusi industri” lebih dari dua abad lamanya, dan dengan jelas telah menampakkan tanda-tanda perubahan iklim yang nyata di muka bumi; peringatan surat Ar-Rum, Ayat 41, perlu segera dilibatkan untuk menyelamatkan: IB (Ibu Bumi) dan IK (Ibu Kandung). Kerjasama Surat “Ali-Imran, Ayat 112” dengan Surat “Ar-Rum, Ayat 41”, melahirkan sudut pandang baru: “trilogi”, yakni: Hablum-minAllah, Hablumminannas, dan Hablumminalkaun, kini dibutuhkan oleh periode kehidupan umat setelah “revolusi industri” berlangsung di muka bumi. Pergantian “pandangan hidup” umat akhir ini harus segera disampaikan atau dikomunikasikan kepada semua orang yang ada di muka bumi oleh para ahli dakwah, baik yang bertugas di seluruh Mesjid maupun semua Rumah Suci beragam kepercayaan yang ada di muka bumi, dilaksanakan para rohaniawan, mulai Imam berikut jajarannya di mesjid-mesjid demikian pula rumah-rumah suci lainnya bersungguh-sungguh agar benar-benar sampai kepada setiap warga bumi dimanapun berada, guna menang-gulangi semua kerusakan yang telah timbul di bumi, terutama perubahan iklim nyata dengan akibat yang telah ditimbulkannya, agar tidak ada seorang anak Adam pun di muka bumi ini yang tidak mengetahui.
Kedatangan Makhluk
Setelah bumi berobah menjadi dingin dari pijaran bola api yang sangat panas, tumbuh-tumbuhan diperkirakan datang ke bumi sekitar 430 juta tahun silam. Dengan telah hadirnya bermacam tanaman yang mampu menyediakan beragam pangan, binatang kemudian menyusul datang ke bumi ditaksir mulai dari 75 juta tahun terakhir, disusul kera menyerupai orang sekitar 10 juta ta-hun yang silam, dan yang paling belakangan sampai di bumi manusia sekitar 300.000 tahun yang lampau. Demikianlah hasil penelitian para ilmuwan yang mengkaji kedatangan berbagai macam makhluk ke muka bumi dari sudut pandang evolusi yang sudah berkembang sejauh ini.
Tidak dapat disangkal, Allah Subhanahu Wataala telah menjadikan TMH kimia organik suhu tubuh (rendah) untuk menghadirkan bermacam makhluk hidup di muka bumi, seperti: tanaman, hewan, dan manusia memanfaatkan bermacam unsur kimia tercantum dalam tabel Mendeleyev dengan air sebagai bagian yang terbanyak, yakni sekitar 70% dari berat tubuh. Dengan TMH, setiap makhluk yang terlahir di muka bumi akan memperoleh pangan diperlukan, begitu pula beragam keperluan hidup lainnya menempuh “perjalanan kedua”, yakni kehidupan alam fana di muka bumi, mulai lahir dari kandungan hingga akhir hayat, didukung panas dan cahaya yang didatangkan dari matahari. Selain dari itu, TMH juga menyiapkan serangkaian teknologi daur ulang yang dibutuhkan menangani pencemaran lingkungan hidup, ketika berbagai makhluk yang telah menyelesaikan kehidupan alam fana mengembalikan benda (materi) yang dipinjam dari muka bumi usai menempuh kehidupan alam fana serentang hayat.
Perlu difahami, TMH ciptaan Ilahi juga memperkenalkan peredaran beragam unsur kimia di bumi yang menjadikan tubuh atau jasmani aneka ragam makhluk dalam menempuh “perjalanan kedua. Pertama, bumi meminjamkan bermacam unsur kimia yang dibutuhkan tubuh atau jasma-ni berjenis makhluk, seperti: tanaman, hewan, dan manusia, didatangkan dari kerak bumi keda-laman dangkal, hanya puluhan meter. Kedua, tubuh atau jasmani yang telah ditinggalkan ruh makhluk yang telah menempuh “perjalanan kedua”, lalu dikembalikan ke bumi lewat: pemaka-man, penenggelaman, atau pembiaran, akan didaur ulang dengan segera oleh bermiliard bakteri yang bertindak sebagai pemangsa (predator), menyebakan jasad-jasad tubuh yang dikembalikan akan terurai kembali menjadi bermacam unsur kimia asal, agar nantinya dapat dipinjamkan kembali kepada bermacam makhluk yang akan menjalani kehidupan alam fana di muka bumi, antara lain: tanaman, hewan, dan manusia yang baru lahir. Bagi yang dikremasi, predator diguna-kan adslah nyala api. Ketiga, TMH memanfaatkan reaksi kimia organik, yaitu “cara dingin” menghadirkan beragam makhluk alam fana di muka bumi, diawali dari dalam kandungan, lahir sebagai bayi, balita, anak, remaja, dewasa, orang tua, kakek/nenek, menjalani usia senja, hingga ke akhir hayat, tidak terkecuali kemandirian yang dimiliki setiap makhluk, mulai: kepribadian, kecerdasan, dan lain sebagainya yang kini masih belum banyak terungkap kepada umat sampai dengan saat ini.

Penduduk Bumi
Sampai hari ini manusia yang berdiam di muka bumi terus bertambah jumlahnya menelusuri perjalanan waktu. Pada saat Nabi Muhammad SAW menerima surat Al-Alaq diantarkan Malai-kat Jibril pada tanggal: 6 Agustus Tahun 610 M (Masehi) di Gua Hira silam, jumlah manusia yang mendiami bumi ditaksir seluruhnya 200.000.000 orang. Setelah 1150 tahun waktu berlalu, lebih dari satu Milenium menjelang diawalinya “revolusi industri” di Eropa silam, warga bumi selu-ruhnya telah meningkat menjadi 720.000.000 orang, dengan pertumbuhan rata-rata pendu-duk: 452.000 orang setiap tahun. Lalu pada tahun 1850 M, manusia yang menghuni permukaan bumi sudah mencapai 1.200.000.000 (satu Miliar dua ratus juta) orang. Lalu pada tahun 1950 M, seratus tahun kemudian, umat yang berdiam di muka bumi telah mencapai 2.500.000.000 orang, dengan pertumbuhan rata-rata penduduk: 13.000.000 orang per tahun. Dari apa yang telah diuta-rakan diatas, terlihat jelas adanya “perubahan” peningkatan rata-rata penduduk bumi dalam satu milenium, dari: 0,452 juta orang per tahun, menjadi: 13 juta orang per tahun periode seratus tahun kemudian. Perubahan peningkatan rata-rata penduduk mencolok, dari “landai” menjadi “hampir tegak”, tidak diragukan lagi merupakan sumbangan nyata dari “revolusi industri” yang telah berlangsung dan melanda dunia, karena telah tampak begitu banyak kemudahan hidup yang didapat umat menempuh “perjalanan kedua”, yaitu kehidupan alam fana di muka bumi. Pada tahun 2000 M silam warga bumi telah melampaui 6 Miliar orang, dan pada tahun 2011 M mencapai 7 Miliar orang. Ramalan kedepan memperlihatkan pada tahun 2025 M warga bumi akan berjumlah 8 Miliar orang, dan tahun 2043 M mencapai 9 Miliar orang, lalu memasuki abad pertama Milenium ketiga akan melebihi 10 Milyar orang. Grafik dibawah ini memperlihatkan perjalanan penduduk bumi lewat sebuah kurva yang dihasilkan Google.

 penduduk

Sumber: Google

Kilas Sejarah Filsafat
1. Filsafat Islam Di Timur Tengah.
Agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW mengantarkan umat Muslim mendirikan kekhali-fahan Islam di jazirah Arab abad ke-7 Masehi, lalu meluaskan pengaruh ke daerah sekitarnya. Sebagai akibatnya, pertemuan dengan berbagai budaya yang telah ada sebelumnya tidak dapat dihindarkan. Lahir “ilmu kalam” bertujuan menyampaikan cara praktis ajaran agama yang baru kepada umat Muslim, yang melahirkan theologi Islam. Menyusul kemudian ilmu Fiqih, Ilmu Tasauf, dan Filsafat Islam, dan yang akhir ini memperkenalkan: perdebatan, dialektika, dan argumentasi, begitu juga lainnya. Filsafat Islam berurusan dengan berbagai masalah berkaitan dengan kehidupan, antara lain: alam fana, alam raya, nilai, etika, masyarakat, dan lain sebagai-nya, lalu dihimpun secara beraturan kebutuhan kaum Muslim. Orang-orang Islam lalu tertarik dengan filsafat Yunani, setidaknya pada bagian awal abad hijrah, karena dalam keyakinan orang-orang Muslim ketika itu, Allah ialah Pencipta dari segalanya, dan ilmu pengetahuan diturunkan dan disebarkan ke Alam Semesta bermaksud tidak lain mengantarkan umat ke pemahaman yang lebih dalam tentang Dia, dan segala apa yang telah diciptakanNya.

Tidak lama setelah kekhalifahan Islam melebarkan sayap yang pertama, Bani Abbasyiah me-merintahkan rakyat mengumpulkan semua manuskrip Yunani yang beredar guna meningkatkan citra. Sebilangan filosof Muslim lalu menjadi terkemuka Timur Tengah sejak dari saat berse-jarah itu, dan mereka antara lain: Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al Gazali, Ibnu Bajah, Ibnu Thufail, dan Ibnu Rusyd. Sejak abad ke-9 Masehi, kekhalifahan Al-Makmun beserta penerusnya, giat memperkenalkan filsafat Yunani kepada masyarakat muslim di bumi Arab.
Setelah kekhalifahan Bani Abbasyiah turun dari singgasana tahun 750 di Damaskus, di Kordoba muncul Bani Umayyah yang mendirikan kekhalifahan di semenanjng Iberia, atau lebih dikenal dengan Andalusia dari tahun 929 hingga 1031 Masehi, tidak terkecuali ujung Utara benua Afri-ka ketika itu. Masa kekhalifahan yang beribukota Kordoba ini, ditandai oleh kemajuan per-dagangan dan budaya antara kedua tepian Laut Tengah, yakni sisi Timur sekitar: Yunani, Turki, Jazirah Arab, dan lainnya, dengan semenanjung Iberia, yang kini lebih dikenal dengan negara-negara: Portugal, Spanyol, Perancis, dan lainnya. Berbagai bangunan megah yang didirikan oleh kekhalifahan Islam silam, yang masih dapat disaksikan di Spanyol saat ini, antara lain: Mesjid Agung Kordoba dan istana lainnya, yang didirikan masih pada zaman keemasan itu.

Dalam zaman kekhalifahan Bani Umayyah, Laut Tengah menjadi jalan-air sekaligus urat nadi perdagangan dan pengantar budaya antara kedua sisi-sisinya, karena jalan darat di pesisir Utara dan Selatan Laut Tengah masih terbatas pada kafilsh berjalan kaki atau kereta kuda atau ternak lain yang sangat terbatas jangkauannya. Demikian juga hubungan perdagangan dan budaya antara semenanjung Iberia dengan negara-negara yang berada di Barat Laut Eropa, seperti: Pe-rancis, Inggris, Belanda, Jerman, dan lainnya. Jalan-air samudra Atlantik dapat terhindar dari ke-bekuan di musim dingin, tidak lain berkat aliran arus bawah laut teluk Meksiko yang panas mengalir hingga jauh ke Utara yang tersohor itu. Kedua jalan-air ini telah banyak berjasa me-ngembangkan perdgangan dan hubungan budaya antara semenanjung Iberia dengan Eropa Barat, tetapi juga memindahkan bermacam pengetahuan dan budaya dari sekitar: Yunani, Turki, Jazirah Arab, bahkan dari Persia dan India, serta lainnya menuju Eropa yang telah berhasi dihimpun dan diolah pemikir-pemikir Arab menjelang zaman renaissance (pencerahan) bersemi di Eropa Barat silam.
Perhatian umat Islam kepada filsafat dan ilmu pengetahuan berlanjut dibawah kepemimpinan Bani Umayyah ke-5 dikenal dengan: Muhammad ibn Abdurrahman (832-886 M). Pada ketika itu para pemikir dan ilmuwan dari dunia Islam buksn lagi tergolong kaum Muslim orthodox. Mereka bersama kaum bukan-Muslim lain ambil bagian dalam menyebarluaskan pemikiran: Yunani, Hindu, dan masa praIslam lainnya, lewat kekerabatan dan persahabatan dengan kaum Khristiani yang bermukim di Eropa. Mereka bersama-sama menjadikan hasil pemikiran Aristoteles kembali dikenal oleh masyarakat Khristiani Eropa, setelah lama lenyap dari perbendaharaan ingatan masyarakat. Adapun pemikir Islam yang tersohor ketika itu dapat dikemukakan, ialah: Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Kindi. Ketiga filosof disebutkan akhir ini telah lama memperkenalkan hasil pemikiran: Aristoteles, Neoplatonis, dan lainya kedalam masyarakat Islam di Timur Tengah. Banyak kalangan ketika itu yang telah menganggap mereka bukan lagi termasuk orang-orang Islam orthodox, bahkan ada yang mengatakan mereka bukan lagi filosof Islam melihat tulis yang mereka kerjakan. Dibawah ini disampaikan sekelumit tentang para filosof Islam yang terkemuka pada zamannya.
Al-Kindi (801-873) ialah seorang Arab keturunan suku Kinda, seorang filosof peletak dasar filsafat Islam, lahir di Basra, Irak. Setelah selesai menammatkan sekolah dasar di kota kelahi-rannya, lalu melanjutkan pendidikan ke Bagdad, dan mempelajari beragam ilmu, seperti: mathematika, fisika, mistik, dan seni; tidak terkecuali juga lainnya. Ia berjasa memperkenalkan pengetahuan filsafat ke dunia Islam di Timur Tengah. Al-Kindi cepat dikenal dalam lingkungan “Rumah Kebijakan”, begitu pula kalangan kekhalifahan Abbassyiah, sehingga yang akhir ini segera menugaskannya menjadi pengawas penterjemahan bermacam naskah ilmu pengetahuan dan filsafat dari bahasa Yunani kedalam bahasa Arab. Ia tergolong seorang ilmuwan yang banyak meninggalkan tulisan meliputi: metafisika, etika, logika, psikhologi, pengobatan, phar-makologi, mathematik, astronomi, astrologi, optik. Al-Kindi termasuk orang yang menyukai permasalahan: meteorologi, gempa bumi, dan lainnya yang tergolong membumi.
Al-Ash’arī (874–936) ialah seorang ilmuwan dan theolog Islam dari Timur Tengah yang ber- nama Al-Ash’arī. Ia lahir di Basra, dan keturunan dari salah seorang sahabat dekat nabi Muham-mad SAW silam. Sebagai seorang muda, ia mulai berguru kepada Al-Jubba’i, sebuah perguruan theologi dan filsafat Mu’tazilah terkemuka kala itu. Dan perguruan ini tidak lain dari “sekolah theologi” berdasar alasan (reasning) hasil pemikiran manusia bersifat logis (rational) yang amat terkenal pada masa itu. Ia mengamalkan ajaran Mu’tazilah dengan penuh kesetiaan hingga usia empat puluh tahun. Kemudian suatu ketika di bulan Ramadan, ia mimpi bertemu dengan nabi Muhammad SAW. Mimpi yang sama berlangsung tiga malam berturut-turut, yang memintanya agar kembali kepadanya, yaitu mengikui tradisi hadis. Lalu dari saat itu, Al-Ash’arī meninggal-kan ajaran Mu’tazilah, dan berganti menjadi penentang utama ajaran tersebut. Segala pengeta-huan filsafat yang dimiliki lalu dikerahkan untuk menentang ajaran, yang sebelumnya dengan amat setia diikutinya. Karena pengaruhnya yang amat besar di Timur Tengah waktu itu, umat Islam lalu menjadikan Al-Ash’ari sebagai peletak dasar akidah sunni Ash’ari yang berpengaruh luas, bahkan Imam Al-Ghazali yang tersohor dengan keempat kitab “Ihya Ulumiddin” (Menghi-dupkan lagi ilmu-ilmu agama), karya tulisnya.
Ibnu Sina (980-1037) seorang ilmuwan Arab lain menguasai beragam bidang pengetahuan, antara lain: filsafat, astronomi, kimia, geologi, psikhologi, theologi Islam, logika, mathematika, fisika, tidak terkecuali membuat sajak, sebagaimana kebanyakan ilmuan Arab Timur Tengah pa-da saat itu. Akan tetapi hasil karya yang melambungkan namanya di dunia ialah bidang penyem-buhan penyakit. Buku induk penyembuhan yang ditulisnya tentang pengobatan beragam penyakit menjadi buku induk dua universitas ternama di benua Eropa ketika itu, masing-masing Montpellier dan Leuvant dari Perancis sampai tahun 1650 M.
Al-Ghazali (1058–1111) seorang theolog Islam asal Persia dan penggemar hukum Islam, filsafat, dan tidak terkecuali mistik. Ia menjadi seorang Muslim yang amat berpengaruh di dunia Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Dalam dunia Islam, ia termasuk seorang pembaharu (mujaddid) keimanan Islam, dan menurut tradisi keagamaan yang dipercaya umat di Timur Tengah, akan datang ke dunia sekali dalam seratus tahun. Hasil karya Al-Ghazali men-dapat penghargaan tinggi di kalangan umat Islam yang sezaman, menyebabkannya memperoleh gelar sebagai: “bukti Islam”. Yang lain menuduhnya lawan dari ajaran Islam berpandangan Neo-platonis yang juga banyak pengikutnya, juga yang berpandangan helenistik. Al-Ghazali juga berhasil mengembalikan pengaruh kaum Islam orthodox yang sebelumnya terus mengamalkan ajaran Sufi yang telah mereka anut sebelumnya.
Al-Farabi (1165-1240) seorang sufi Arab dari Andalusia, adalah juga seorang sufi mistik, dan seorang filosof. Ia menguasai berbagai bidang pengetahuan, seperti: logika, penyembuhan, sosio-logi, dan analisa posteriori dari Aristoteles. Lewat bermacam naskah tulisan dan komentar yang disampaikannya, Al-Farabi menjadi tersohor dikalangan umat Muslimin di Timur Tengah. Ma-syarakat intelektual abad pertengahan menganugerahkannya gelar: “Guru Kedua”, yakni penerus setia ajaran Aristoteles dari Yunani yang menjadi “Guru Pertama”. Al-Farabi menghabiskan se-bagian besar masa hidupnya berdiam dan bekerja di Bagdad.
Ibnu Rushd (1126-1198) lahir di Kordoba Spanyol dan wafat di Marrakesh Maroko. Ia merupakan seorang asli bumi Andalusia, seorang Muslim berpengetahuan yang sangat luas meli-puti: filsafat Aristoteles, filsafat Islam, theologi Islam, hukum Maliki berikut yurisprudensinya, logika, psikhologi, politik dan theori klasik seni musik Andalusia, pengobatan, astronomi, geo-graphi, mathematik, tidak terkecuali mekanika gerakan benda langit. Ibnu Rushd juga dikenal se-bagai peletak dasar “filsafat sekular” yang sekarang diterima orang secara luas di benua Eropa. Ia menjadi seorang pembela setia filsafat Aristoteles, meski berseberangan dengan theologi yang diajarkan Ash’ari dan didukung oleh Imam Al-Ghazali.
Dari bumi Andalusia (Spanyol), karya filsafat yang berhasil dikembangkan bangsa Arab kemu-dian diterjemahkan kedalam bahasa Yahudi dan Latin, lalu dibawa ke Eropa untuk mengem-bangkan filsafat modern di bemua itu. Diantara para filosof Arab masa itu, terdapat Maimodes seorang Yahudi yang hidup dan berkarya dalam lingkungan Muslim Spanyol, juga ambil bagian menterjemahkan karya filsafat Islam dari bahasa Arab ke berbagai bahasa lain. Dari kalangan ilmuwan Muslim ketika itu, terdapat juga Ibnu Khaldun seorang kelahiran Tunisia asal Anda-lusia, yang meletakkan dasar ilmu kemasyarakatan kini dikenal dengan nama sosiologi dan histo-grafi, menjadi ilmuwan Arab penting lain terkemuka ketika itu, meski ia tidak menyebut dirinya sebagai seorang filosof, tetapi seorang penulis kalam saja.
Pada abad pertengahan, sejarah runtuhnya kekaisaran Romawi di Eropa silam demikian pula perpisahan Katholik Ortodox dari Timur dengan Katholik Romawi di Barat, telah lama hilang dari ingatan masyarakat banyak, tidak terkecuali kecakapan baca dan tulis abjad Yunani. Akan tetapi, dengan kembali diperkenalkannya filsafat Yunani terjemahan dari bahasa Arab ke bahasa Latin dan Yahudi yang masuk ke Eropa Barat lengkap dengan berbagai catatan dan keterangan yang dikerjakan para pemikir Arab, lalu membawa pengaruh besar kepada filsafat yang kembali lahir dan berkembang di daratan Eropa ketika itu, yang berpengaruh jauh hingga memasuki za-man renaissance (kembali ke zaman Yunani kuno) pada abad ke-15 di benua Eropa silam.

2. Filsafat Islam Di Asia Tenggara.
Setelah tampil di jazirah Arab lalu berkembang di kawasan Timur Tengah dan lain, Agama Islam selanjutnya meluas ke Asia, tidak terkecuali Asia Tenggara disebarkan kaum mubaligh dan para pedagang. Mereka ada yang berangkat dari Mekah, ada pula yang dari Gujarat (India), ada lagi dari Persia, dan sejumlah tempat lain. Lalu tampil kerajaan Islam di kawasan Asia Tenggara, beserta perlembagaan Islam, seperti: pemerintahan, pendidikan, kehidupan, kesusastraan, kese-nian, tidak terkecuali perekonomian bercorak Islam. Pada waktu Ibnu Batutah, pengelana dari Maroko singgah di sebuah negeri bernama: Samudra Pasai tahun 1345 silam, dan ia berjumpa dengan seorang Muslim saleh mazhab Al-Shafi’i yang menjadi Raja. Tampak dengan demikian ajaran imam Ash’ari yang didukung imam Al-Ghazali telah menyebar di Asia Tenggara.

Kesejahteraan Umat
a. Sistim Ekonomi Bebas, atau Liberal
Dalam zaman merkantilis di Inggris silan, siapa saja dapat mejalankan beragam usaha (business) untuk mencari nafkah, mulai menghasilkan bermacam barang (produk), hingga dengan menye-diakan layanan jasa (service), atau keduanya, untuk memenuhi keperluan masyarakat. Semuanya diperdagangkan orang di beragam pasar yang ada dimana-mana. Lalu timbul persaingan diantara para penyedia barang atau jasa atau keduanya oleh tangan-tangan tersembunyi (invisible hands), untuk harga dan mutu barang atau jasa dihasilkan dalam jumlah (kuantitas) dan mutu (kualitas) barang atau jasa yang terikat kedalam suatu kesepakatan dagang. Pendapatan para pengusaha di-tentukan oleh jumlah barang atau jasa yang terjual dalam setahun. Pemerintah hanya berperan sebagai pengawas dan administrator, dan dan samasekali tidak mencampuri urusan pengusaha dalam menghasilkan barang atau jasa, akan tetapi menyediakan tempat usaha dengan perangkat aturan dan lingkungan: ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang setara bagi semua, terhadap pungutan (pajak) dikenakan.
Memasuki abad pencerahan di Eropa, dibekali filsafat dan berbagai pengetahuan yang diolah dan diantarkan bangsa Arab dari Timur Tengah, landasan berfikir kaum intelektual orang-orang Eropa telah berkembang sedemikian jauh, memungkinkan mereka mengembangkan bermacam pengetahuan tepat guna di bagian dunia itu. Ini terlihat jelas dengan diterapkannya “analisa ilmu” dalam mengembangkan mesin-uap, yang awalnya dipicu pompa air dibantu uap-bertekanan yang diperkenalkan Thomas Savery (1650-1715) dari Inggris, kemudian diperbaiki Thomas Newco-men (1664-1729) rekan senegaranya, membuat James Watt (1736-1819) rekan senegara lainnya berhasil menciptakan “sumber tenaga gerak” (mechanical energy source) pertama di dunia me-manfaatkan uap-bertekanan yang amat diperlukan banyak orang untuk menggerakkan beragam industri ketika itu. Ketiga orang Inggris ini telah merobohkan kartu: “domino teknologi” pertama di bumi, memperkenalkan tenaga alam hasil rekayasa akal-budi manusia, sekaligus membidani dimulainya “revolusi industri” berlangsung di muka bumi diawali dari Eropa, lebih dari dua abad silam.
Analisa ilmu yang telah dikuasai segelintir bangsa Eropa saat itu, kemudian diperlebar ruang lingkupnya bahasannya, tidak terbatas hanya kepada sumber tenaga gerak dan beragam industri yang telah dilahirkannya, tetapi juga berbagai bidang lain, seperti: politik, sosial, dan lainnya, dan berpuncak pada kajian “Kesejahteraan Hidup Berbagai Bangsa” di muka bumi sebagaimana disampaikan Adam Smith dari Inggris. Akan tetapi yang jelas, pengaruhnya telah menyebabkan “sistim ekonomi merkantilis”, berubah menjadi “sistim ekonomi kapitalis” di Inggris, dan sejum-lah negara Eropa lain saat itu, yang lalu dikenal dengan “kapitalisme”, karena memperoleh amu-nisi dari perkembangan revolusi industri melaju pesat. Adam Smith melanjut kajiannya tentang: “Memperbaiki Keadaan Dunia”, yang menimbulkan pertanyaan: apakah industrialisasi akan menyejahterakan kehidupan umat di bumi ditilik dari angka harapan hidup manusia, jam kerja yang singkat, dan dibebaskannya anak-anak dan orang-orang tua dari kewajiban bekerja untuk mencari nafkah?
Sejak awal revolusi industri, kapitalisme berkembang pesat di Eropa didukung kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat dan terhimpun di benua itu. Mobil lalu dengan cepat menggantikan kereta yang dihela ternak di jalan-jalan raya berbagai negara, dimu-lai dari Eropa, lalu menyebar ke Amerika Utara, kemudian Jepang, dan bagian dunia lainnya. Angkutan jalan-baja yang dihela lokomotif-uap dan membakar batubara melahirkan angkutan kereta-api, dan menebar jaringan ke berbagai negara di benua Eropa melayani angkutan penumpang dan barang, lalu diexport ke berbagai negara di bagian dunia lainnya, tidak terke-cuali Asia, oleh “ongkos angkut” muatan: penumpang dan barang yang sangat murah. Transpor-tasi air juga ikut berkembang, mulai: kanal, sungai, danau, laut, hingga samudra yang selama ini dikuasai oleh kapal layar, lalu digantikan mesin-uap karena dapat lebih diandalkan ketimbang hembusan angin; kini telah pula diambil alih oleh mesin diesel. Keberhasilan Wright bersaudara dari Amerika Serikat membuat “kapal terbang”, kini dikenal dengan pesawatterbang, memung-kinkan dikemkembangkannya angkutan udara yang memindahkan penumpang dan barang melin-tasi benua melalui atmosfer bumi. Selain berbagai industri dan sarana angkutan yang telah disebutkan, sumber tenaga hasil akal-budi manusia ini telah pula melahirkan tak-terhitung banyak pabrik dan industri berikut keragamannya menyusul pula bermunculan di muka bumi, antara lain: pabrik semen, industri baja, pabrik pengolahan logam, tambang batubara, tambang beragam mineral, pengeboran minyak dan kilang pengolahannya mulai daratan hingga lepas pantai, in-dustri: plastik, bahan bangunan, kimia, pharmasi, kertas, makanan dalam kemasan; dan masih banyak lagi lainnya.
Dalam perjalanan waktu, kapitalisme di bumi berkembang menjadi imperialisme, karena mengu-asai lahan yang semakin luas di bumi, yang selanjutnya beralih jadi tanah jajahan, atau koloni. Kolonialisme akhirnya melanda dunia, dan menguasai tanah-tanah subur yang luas untuk dija-dikan perkebunan bermacam tanaman ekonomi, seperti: karet untuk ban, kelapa sawit untuk minyak goreng dan lainnya, tembakau untuk rokok, tebu untuk gula, dan lain sebagainya. Peng-galian tambang batubara, minyak bumi dan lainnya, di tanah jajahan dilakukan untuk memasok keperluan industri yang telah berkembang di Eropa, Amerika Utara, Jepang yang kelaparan ba-han-baku, dan dahaga bahan-bakar serta minyak lumas, terus berlangsung jauh menerobos masuk kedalam abad ke-20 silam. Sejak dari awal revolusi industri, kapitalisme telah berhasil mendirikan beragam industri: mulai ringan sampai berat dan sangat berat di sejumlah negara beragam bagian bumi ini. Sebagai akibatnya, tidak dapat dihindarkan munculnya aliran bahan atau benda (materi) dari dalam perut bumi menuju ke permukaan, antara lain: bahan-bakar (batu-bara, minyak bumi, dan gas), bermacam mineral berguna (biji besi untuk membuat besi dan baja, tembaga, aluminium, logam mulia, dan lainnya); dan masih banyak lagi lainnya. Bahan-bahan ini diperlukan oleh negara-negara yang memproduksi berjenis barang, seperti: prasarana dan sarana angkutan: darat, laut, udara, antariksa; menyediakan perlengkapan dan peralatan militer termasuk berjenis mesin perang, dan masih banyak lagi yang dibutuhkan oleh negara dan masyarakat mulai lokal hingga dengan global. Juga industri penyedia minuman dan makanan yang dikemas, industri texstil, industri pertanian, industri peternakan dan perikanan, dan banyak lagi lainnya. Aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan ini sudah berlangsung sejak dari dimulainya revolusi industri di muka bumi lebih dari dua abad yang lalu dan masih terus ber-langsung sampai dengan hari ini, selanjutnya dikenal dengan nama: “aliran benda” (materi)”.
Selain kepiawaian menghasilkan beragam produk atau jasa sesuai harga, mutu, dan jumlah yang disepakati dalam suatu perjanjian; masalah yang dihadapi kapitalisme di muka bumi dewasa ini: pertama limbah-gas hasil pembakaran bahan-bakar (padat, cair, dan gas) yang terus menerus di-hamburkan menuju atmosfer planet biru oleh beragam sarana angkutan: darat, laut, dan udara, mengganggu pernafasan; kedua limbah-cair yang dibuang menuju lingkungan oleh bermacam in-dustri, dan kegiatan perekonomian lainnya, tidak terkecuali berasal dari rumah-tangga kota-kota besar hingga kecil yang ada di muka di bumi dibuang begiu saja kedalam badan-air (parit, kolam, kana, sungai, danau, laut, hingga samudra), lalu mencemari minunan dan makanan umat, tidak terkecuali makhluk lain yang menimbulkan gangguan kesehatan mulai lahir (fisik) hingga bathin (mental); ketiga: limbah-padat rongsokan beragam sarana angkutan (darat, laut, udara, dan lainnya) produk bermacam industri yang telah habis masa pakai ekonominya, mulai: sarana transportasi hingga berbagai industri, bermacam tambang, instalasi pengeboran minyak dari darat hingga lepas pantai; bangkai bermacam peralatan elektronik dan teknik digital begitu juga gadget dan lain sebagainya. Dalam hal ini tidak terkecuali pula bermacam perabotan dan perlengkapan rumah tangga produk industri yang tidak lagi diperlukan, lalu diterlantarkan begitu saja di muka bumi menyita banyak lahan. Sejak dari awal revolusi industri di Eropa lalu, ketiga kelompok limbah awalnya berasal dari “aliran benda (materi)” yang meninggalkan perut bumi menuju permukaan yang tidak pernah berhenti dan mengalir terus menerus sampai dengan hari ini.
Kini tidak dapat dirsangkal, “aliran benda (materi)” meninggalkan perut bumi menuju permuka-an semakin besar jumlahnya dalam “juta metric ton”, sejalan dengan meningkatnya penduduk bumi dan aktivitas serta kreativitas mereka, bagai bola salju yang sedang menggelinding dari lereng gunung Alpen dari Eropa di musim dingin. Selain dari itu, kapitalisme juga semakin me-nguasai dan mengendalikan perekonomian dunia. Kaum kapitalis juga kian bersaing mendapat-kan bermacam benda (materi) berharga yang diperlukan dari dalam perut bumi, baik yang ter-dapat di negerinyai maupun yang didatangkan dari diluar Tanah-Airnya, menyebabkan ekosistim di muka bumi kian tidak dapat dipelihara kelestariannya. Selain dari itu kapitalisme telah banyak berpengalaman dalam bidang menghasilkan produk industri atau komoditi didukung SDM bermutu dan sumber dana global, membuat lingkungan hidup di muka bumi, terutama di dunia ketiga yang kurang pengetahuan dan lemah pengawasan, tidak terhindar dari exploitasi SDA berlebihan memenuhi permintaan pasar global akan barang dan jasa.
Kini kapitalisme harus mencari jalan keluar, agar “aliran benda (materi)” dari dalam perut bumi menuju permukaan tidak lagi berakhir menjadi: 1. “limbah-gas” mencemari udara yang terdapat dalam atmosfer bumi, 2. limbah-cair dari penggunaan air-bersih tidak lagi mengotori badan-air, dan 3. limbah-padat rongsokan bermacam produk industri tidak diterlantarkan lagi dimanamana di muka bumi. Harus ditemukan jalan keluar, agar aliran bahan dari dalam perut bumi menuju permukaan tidak lagi manjadi pencemar: mulai pencemar biasa, berbahaya, hingga dengan yang sangat berbahaya bagi makhluk, dengan menghindarkannya dapat masuk kedalam tubuh manu-sia atau bermacam makhluk lain pada kegiatan hidup sehari-hari, mulai: minum, makan, bernafas, hingga bekegiatan, sehingga gangguan lahir (fisik), an-tara lain: tidak normal bekerja atau berfungsi bermacam organ tubuh, tidak terkecuali penga-ruhnya terhadap bathin (mental), seperti: keanehan berprilaku seharihari, kelemahan berfikir sampai dengan kehilangan ingatan dini, dan lain sebagainya.
Salah satu gagasan yang layak mendapat acungan jempol untuk butir pertama, ialah apa yang kini tengah menjalani ujicoba bersungguh-sungguh. Apa yang sebenarnya sedang diusahakan, ialah hijrah dari “ekonomi bahan-bakar fossil” menuju “ekonomi bahan-bakar hidrogen” terhadap sarana angkutan darat, sehingga gas hasil pembakaran yang ditimbulkan mesin, dalam hal ini sel bahan-bakar (fuel cell) yang menggerakkan mesin listrik, hanyalah air. Gagasan ini semula diperkenalkan John Bockris dari Pusat Teknik General Motor, Amerika Serikat, pada sebuah pembicaraan tahun 1970 silam. Kemudian pada tanggal 10 October 1997, Richard Daley, wali-kota Chicago, bersama rekannya berpesiar dalam kota mengendarai bis berbahan-bakar hidrogen, unsur kimia dalam tabel Mendeleyev terbanyak yang ada di bumi, dipisahkan dari gas alam melalui proses kimia. Sebuah Sel Bahan-Bakar (SBB) mengubah hidrogen yang disalurkan keda-lam SBB menjadi “tenaga lisrik” dan “air”, tanpa harus melakukan pembakaran, diperkenalkan oleh Ballard Power Systems (BPS) dari Vancover. SBB ternyata “tiga kali” lebih hemat (efisien) dari mesin pembakaran yang telah diciptakan orang sebelumnya: MPL dan MPD. Tenaga listrik yang didapat dari SBB lalu disalurkan kedalam mesin listrik yang menyebabkan bis BPS ber-gerak. Gas buang yang dihasilkan bis ialah uap-air dan samasekali tidak tercemar. Sang walikota meminum segelas air diambil dari knalpot bis sambil berkata “tidak jelek”. Bis dijalankan sel bahan-bakar melaju dengan kecepatan hingga 80 km/jam, dan mencapai jarak tempuh 400 km, atau sehari penuh perjalanan bis, terhadap sekali pengisian BBH (Bahan Bakar Hidrogen).
Terhadap butir kedua, untuk menghindarkan air-kotor mencemari badan-air yang ada di muka bumi, beragam pencemar yang larut kedalam air-kotor oleh Instalasi Penjernihan Air (IPA) ha-rus dipisahkan untuk memperoleh kembali air-bersih. Perlu dikembangkan beragam IPA, mulai keperluan rumah tangga ukuran mini sampai desa, kota, tidak terkecuali kawasan industri beru-kuran raksasa. Dengan demikian, hanya air bersih yang akan dibuang kedalam badan-air yang ada di muka bumi ini apapun ragamnya. Perlu dicatat, lebih dari 70% berat tubuh manusia, tidak terkecuali beragam makhluk lain, adalah air. Itulah sebabnya mengapa manusia, demikian juga makhluk lainnya sangat peka terhadap air yang tercemar; karena manakala yang disebut akhir ini masuk kedalam tubuh lewat aktivitas: minum, makan, dan berkegiatan, akan menimbulkan gangguan lahir (fisik), tidak terkec-ali munculnya pengaruh bathin (mental) yang tidak diinginkan.
Untuk butir ketiga, limbah-padat: rongsokan beragam angkutan (mobil, kapal, pesawatterbang, bermacam mesin perang, dan lain sebagainya), begitu pula reruntuhan konstruksi baja dan lain- ya, tidak terkecuali instalasi tambang dari darat hingga lepas pantai, dan masih banyak lagi lainnya. Memasuki milenium ketiga, tampil lagi onggokan benda-benda elektronik bekas (kom-puter, telepon pintar, tablet, dan lain sebagainya) yang beralih menjadi limbah. Untuk menghin-darkan kehadiran tumpukan limbah teknologi elektronik-digital (digital-electronic) yang diterlan-tarkan orang berserakan di dimana-mana menyita lahan, perlu diciptakan “cadangan berputar” (spinning reseve) beragam “bahan baku” kebutuhan industri yang memproduksi bermacam barang (produk) mulai ukuran kecil hingga dengan raksasa. Adapun yang dimaksud dengan cadangan berputar tidak lain dari “Bank Bahan Baku”, disingkat BBB (Bank of Raw Materials, disingkat BRM). Sebagaimana yang diteladankan TMH (Teknologi Mahluk Hidup) yang telah menyediakan “pemangsa” (predator) sebagai bagian rantai makanan yang bertugas “mendaur ulang” bermacam jasad yang telah ditinggalkan ruh, agar pencemaran di muka bumi dapat dihindarkan Sejalan dengan apa yang telah dicontohkan TMH diatas, maka terhadap beragam barang (produk) hasil industri ciptaan manusia apapun jenisnya, dapat juga dilakukan cara yang sama, sehingga rongsokan beragam barang (produk) hasil industri yang telah habis masa pakai ekonominya dapat kembali didaur ulang untuk memperoleh lagi bahan-baku asalnya.
Dengan demikian perlu dihadirkan beragam Industri Pemangsa (IP), atau Predator Industry (PI), di muka bumi bertugas mendaur ulang beragam barang (produk) hasil industri yang sudah habis masa pakai ekonominya. Semua IP akan bertugan menjadi pemasok bahan-baku ke BBB, digali dari tambang perkoaan (urban mining) dimanapun berada di muka bumi, seperti: baja, tembaga, aluminium, dan lainnya, agar kembali disimpan dalam cadangan berputar. Masing-masing IP akan menghasilkan kembali bermacam bahan-baku yang diperlukan oleh beragam industri yang membuat bermacam barang (produk) yang dibutuhkan pasar, mulai aneka ragam industri hingga dengan berjenis kerajinan rumah tangga dari kota sampai ke desa. Dengan demikian mereka yang membutuhkan beragam bahan-baku dapat membeli langsung ke BBB, sehingga kedepan, penggalian bahan tambang dari dalam perut bumi langsung untuk beragam mineral asal alam harus dibatasi untuk hanya keperluan kekurangan stok BBB dengan pengawasan ketat. Dengan menyediakan cadangan berputar di muka bumi, maka ekosistim yang telah terpelihara baik tidak lagi dapat dirusak dengan semena-mena oleh orang-orang yang tidak bertanggung-jawab seba-gaimana yang telah terjadi selama ini guna melindungi planit biru, satu-satunya benda langit isti-mewa terdapat di Alam Semesta, kini diketahui orang telah berumur 4,6 Miliard tahun.
b. Sistim Ekonomi Terpimpin, atau Diktator
Sosialisme tampil sebagai kritik terhadap kapitalisme. Ajaran Marxis berawal dari penolakan terhadap timbulnya revolusi industri di Eropa. Menurut Karl Marx (1818-1883), industrialisasi akan mengelompokkan masyarakat kedalam kaum borjuis (bourgeoisie), yaitu kelompok orang yang kecil jumlahnya yang memiliki bermacam alat produksi dari tanah hingga pabrik yang tidak banyak jumlahnya, dan kaum proletar (proletariat), yaitu orang-orang yang besar jumlahnya melakukkan pekerjaan membuat sesuatu dari bermacam alat produksi yang dimiliki kaum bor-juis. Marx memandang industrialisasi sebagai dialektika logis pelaku ekonomi kaum feodal me-nuju kapitalisme sempurna, dan yang akhir ini adalah pendahuluan menuju komunisme. Dalam sistim sosialis segala alat produksi beragam usaha (business) adalah miliki negara yang dikelola pemerintah komunis dengani deologi Marksiasme Leninisme. Seluruh warga bangsa bekerja ke-pada negara: “memberikan kepadanya sesuai kemampuan, dan mendapat darinya menurut kebu-tuhan. Akan sangat menyalahi moral sosialisme, manakala ada anak bangsa yang menjalankan usaha (business) pribadi menghasilkan barang atau jasa dengan mengeksploitasi rekan sebang-sanya sendiri, dan membayar upah (uang) kepadanya sebagai imbalan.
Sepeninggal Marx, para pengikutnrya lalu terbelah. Sebuah kelompok yang berkembang di Jer-man meninggalkan cara revolusi Perancis (1789-1799) yang telah menewaskan Raja Louis XVI yang tengah bertahta di negeri itu, menyebabkan munculnya bermacam terror dimana-mana yang menyengsarakan kehidupan warga bangsa, dan mencari jalan damai untuk memperbaiki nasib kaum buruh di Eropa dengan reformasi. Kelompok lain kaum Marxist Ortodox pengikut K. Ka-utsky, pimpinan W. I. Lenin, mengulangi lagi cara revolusi Perancis 128 tahun silam, tetapi kini menggulingkan Tsar Nikolas II dari singgasana di ibukota Rusia Petrograd, pada tanggal 7 Nopember 1917, dengan menggerakkan kaum buruh negeri Beruang Merah. Revolusi berdarah kaum Bolshevik dipimpin W.I. Lenin berhasil menyingkirkan sang Raja beserta keluarganya ke Ekaterinburg di Siberia. Lenin berhasil menyusun pemerintahan diktator proletariat di Rusia bersama kaum Bolshevik dikendalikan Partai Komunis tunggal dan menguasai negara tanpa diperkenankan adanya kaum oposisi terhadap pemerintah yang berkuasa.
Pada ketika itu, kekaisaran Rusia sedang giat mengembangkan sistim ekonomi kapitalis yang akan bertanggungjawab kepada kesejahteraan rakyat negeri, sebagaimana yang kabanyakan dila-kukan banyak negeri di Eropa saat itu, akan tetapi dengan keberhasilan kaum Bolshevik meng-gulingkan Tsar dari singgasananya, “sistim ekonomi kapitalis” yang tengah berkembang di Ru-sia, terpaksa digantikan “sistim ekonomi sosialis” pertama di dunia menurut ajaran Marx. Negara yang baru berdiri lalu dinamakan: Uni-Sovyet. Dengan demikiann sistim ekonomi kapitalis yang telah dibangun Tsar Nikolas II untuk bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat, langsung digantikan sistim ekonomi sosialis pertama di planit biru. Sistim ekonomi akhir ini kemudian disebarluaskan ke segala penjuru dunia, dan pasca perang dunia ke-II wajib diterima oleh semua negara yang kemudian menjadi “satelit Uni-Sovyet”, tidak terkecuali berbagai negara dunia ke-III dan anggota negara-negara Non-blok yang berminat mencicip sistim ekonomi sosialis untuk mesejahteraan kehidupan bangsa masing-masing.
Saat negara Beruang Merah ditimpa kegaduhan politik yang berat, Michail Gorbachov selaku presiden Uni Sovyet memberi izin dilangsungkannya pemilu, satu-satunya yang pernah dilaksa-nakan di negeri Beruang Merah dengan sistim ekonomi sosialis dikelola Partai Komunis. Keluar sebagai pemenang pemilu pertama di RFSR (Republik Federasi Sosialis Rusia) yang dilaksana-kan cara demokratis tanggal 26 Maret 1989, ialah B. N. Boris Yeltsin, yang kemudian menjadi Presiden pertama RFSR, meski ia telah lebih dahulu menyatakan diri keluar dari keanggotaan Partai Komunis yang berkuasa di negeri Beruang Merah itu.
Setelah lebih tujuh dekade mengendalikan kekuasaan tertinggi di Uni-Sovyet, sosialisme atau sistim ekonomi sosialis ternyata gagal memenuhi janji bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat di seantero negeri, oleh ideologi yang telah usang, terutama membodohi anak bangsa de-ngan bermacam indoktrinasi klassik daripada mencerdaskan, membelenggu kemerdekaan indivi-du, sekaligus melanggar hak azasi manusia. Uni-Sovyet saat itu, masih salah satu negara adidaya dunia, pemimpin Negara Sosialis dari Blok Timur, kemudian hilang begitu saja ditelan sejarah dari permukaan bumi. Sebagai gantinya, tampil sejumlah negara, salah satu darinya ialah: Fede-rasi Rusia (Russian Federation) yang dipimpin B. N. Boris Yeltsin, kembali menjadi negara demokratis. Yang akhir ini lalu menyambut lagi “sistim ekonomi kapitalis” yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat, sebagaimana yang sudah dirintis kekaisaran Rusia silam, dalam memulihkan perekonomian negeri yang telah porak poranda.
Uni-Sovyet yang telah berjaya selama lebih dari 72 tahun (1917-1989), berupaya keras mem-buktikan sosialisme yang menuju komunisme, menjadi kenyataan sebagaimana yang diajarkan oleh ideologi Komunis, akan tetapi terbukti gagal. Sosialisme juga tidak menunjukkan keung-gulan dalam berbagai bidang, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi, dan penerapan kedu-anya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Manakala dibandingkan dengan Jerman dan Jepang, yang begitu hancur di bom sekutu dalam Perang Dunia ke-II silam, hanya dalam waktu sedikit lebih dari setengah abad, keduanya berhasil tampil menjadi raksasa-raksasa ekonomi ke-2 dan ke-3 dunia sesudah Amerika Serikat, namun dalam periode waktu tidak jauh berbeda Uni-Sovyet justru hilang ditelan sejarah. Negara adidaya dunia saingan Amerika Serikat itu, juga terlihat kelabakan berhadapan dengan bencana Chernobyl timbul tanggal 26 April 1986 silam. Bantuan datang dalam menghadapi malapetak nuklir dinegeri itu, justru datang dari negara-ne-gara kapitalis ketimbang negara-negara sosialis sealiran ideologi menghadapi serangan radiasi radio-aktif. Perlu dicatat, ketika itu “perang dingin” antara Blok Barat dan Blok Timur masih be-lum berakhir.
Sosialisme juga tidak memiliki penyelesaian terhadap masalah limbah, seperti yang dihadapi negara-negara kapitalis asal dari rumah-tangga maupun buangan bermacam industri yang me-landa negara-negara kapitalis di dunia ketika itu. Pasca keruntuhan Uni-Sovyet, barulah media berpeluang mengabarkan kerusakan lingkungan yang terjadi di negara bersistem ekonomi sosia-lis dikenal dengan tirai besi. Pencemaran dan kerusakan lingkungan juga terkuak ke media di berbagai negara satelit Beruang Merah, oleh lamanya terisolasi dari masyarakat dunia karena perbedaan ideologi, juga ketidak mampuan sistim ekonomi sosialis mengembangkan prakarsa berkaitan dengan memelihara kelestarian ekosistim di muka bumi. Tidak dapat dihindarkan, ter-seretnya negara-negara anggota non-blok yang telah menerapkan sistim ekonomi sosialis model Uni-Sovyet guna mensejahterakan kehidupan bangsa, lalu terjerumus kedalam penanganan ling-kungan hidup birokratis yang merugikan ekosistim bumi negara bersangkutan.
c. Sistim Ekonomi Romantis
Revolusi industri berkembang di Eropa lalu meluas ke Amerika, kemudian Jepang dan berbagai bagian dunia lain, tidak dapat disangkal mendapat perlawanan juga dari kaum penentang lain, seperti: penulis, masyarakat intelektual, para penggelut seni, dan lainnya. Kelompok masyarakat yang menolah kehadiran revolusi industri digerakkan kaum pengusaha di Eropa ketika itu mendapat nama julukan: kaum romantis. Kedalam kelompok ini termasuk juga para penyair yang rajin menyuarakan buah fikiran dan suara hati melalui tulisan, antara lain: makalah, puisi, mengarang sajak, dan lain sebagainya. Mereka juga mempertontonkan karikatur, melaksanakan pentasan panggung atau theater, dan masih banyak lagi yang lain. Kaum romantis ingin memeli-hara hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungannya di muka bumi, bersenjata-kan kepiawaian seni dan kekayaan warisan budaya lewat bahasa. Apa yang mereka perbuat bertolak belakang dengan beragam mesin ukuran gergasi dan bangunan ukuran raksasa yang se-gera bermunculan di sekitar mereka ketika itu. “Dark Satanic Mills” karya William Blake, novel “Frankenstein” tulisan Marry Shelley, dan masih banyak lainnya ingin memperlihatkan kepada dunia ketidak senangan mereka akan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Eropa berwajah ganda. Pernyataan dilontarkan dan prilaku dipertontonkan, semuanya memperlihatkan sikap tidak senang. Akan tetapi kaum romantis tidak pernah memperjuangkan berdirinya negara yang beranggungjawab terhadap kesejahteraan rakyat suatu bangsa, dan itulah sebabnya mengapa tidak ada uraian diketahui orang tentang kelebihan atau kekurangan: “sistim ekonomi romantis” yang bertanggungjawab terhadap kesejahteraan sesuatu bangsa di muka bumi, terke-cuali keinginan besar menjaga kelestarian ekosistim di bumi yang sudah berkembang di muka planit biru ini.
Pencemaran Muka Bumi
Pencemaran di muka bumi memang bukan masalah baru, karena telah ada sejak ribuan tahun si-lam disebabkan beragam bencana, antara lain: meletusnya gunung-api yang menghamburkan asap ke udara, mengalirkan lahar panas beserta batuan, muncul lahar dingin yang menerobos pemukiman warga setelah turunnya hujan, dan lain sebagainya. Ada lagi yang ditimbulkan per-geseran landas kontinen dan menyebabkan munculnya tsunami. Demikian juga banjir bandang yang ditimbulkan tingginya curah hujan sesuatu tempat di muka bumi oleh perubahan iklim ditimbulkan pemanasan global. Selain dari itu, ada pula rob yang disebabkan matahari dan bulan berada dalam segaris. Bencana alam memang dapat memporakporandakan lingkungan hidup tempat umat berdiam di muka bumi, mulai dari kerusakan lahir, tersebarnya beragam bahan kimia, dari yang biasa, berbahaya, hingga dengan sangat berbahaya terhadap makhluk; tidak ter-kecuali yang mengandung bahan radioaktif. Kerugian yang ditimbulkan mulai dari kehilangan jiwa, kehilangan harta-benda, sawah, ladang, dan lingkungan sekitar yang tidak lagi dapat digu-nakan untuk jangka waktu yang panjang.
Pasca Perang Dunia ke-II, warga Jerman dan Jepang mendapat kerusakan lingkungan hidup yang ditimbulkan begitu banyak bom yang dijatuhkan sekutu di kedua negeri. Selain dari itu, di negeri yang terakhir, ada lagi dua “bom atom” yang dijatuhkan di kota-kota Hiroshima dan Nagasaki merenggut tidak sedikit korban jiwa. Kedua bom atom yang dijatuhkan di Jepang tidak semata menimbulkan kerusakan lahir, tetapi juga radiasi bahan radioaktif yang tidak terlihat mata ber-kepanjangan yang membahayakan jiwa makhluk. Belakangan banyak dibicarakan media massa tentang pencemaran radioaktif ditimbulkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushi-ma Daiichi, diakibatkan kegagalan mengatasi kebocoran air pendingin reaktor yang terbuang ke laut Jepang.
Adapun pencemaran atmosfer yang menimbulkan bahaya maut tidak terduga terhadap warga yang hidup di muka bumi, ialah malapetaka Bhopal timbul di negara bagian Madhya Pradesh, India. Pada malam yang naas tanggal 2-3 Desember 1984, terjadi kebocoran bahan methyl iso-cyanate dari sebuah pabrik kimia, yang tidak berjauhan dari sebuah pemukiman kumuh. Ke-esokan harinya, dikhabarkan ribuan orang yang bediam di pemukiman tersebut tidak lagi terjaga dari tidur mereka, karena sudah berpulang ke rakhmatullah.
Sepanjang tahun 2008 silam diberitakan, telah dihamburkan menuju atmosfer bumi yang menye-limuti planit biru gas karbon dioxida (CO2) berjumlah 29 Triliun metic-ton. Gas berbahaya ini bersumber dari beragam industri yang menghasilkan beragam barang kebutuhan umat di bumi, tidak terkecuali aneka ragam sarana angkutan melayani umat bepergian dimana-mana di muka pada tahun disebutkan.
Di daratan Eropa timbul hujan-asam (acid rain) dari asap yang meninggalkan PLTU yang masih membakar bermacam Bahan Bakar Padat (BBP), kebanyakan batubara. Sebagai akibatnya, daun-daun pohon dari hutan yang tidak jauh letaknya dari pusat-pusat pembangkit tenaga listrik di-sebutkan lalu mengering.
Sepanjang Perang Vietnam silam, negeri itu pernah dilanda hujan-kuning (yellow-rain) di bagian utara negeri. Negara Paman Sam ketika itu membuat kebijakan menyebarkan bahan-kimia dari udara yang menyebabkan turunnya hujan-kuning turun di musim hujan. Adapun maksud penye-baran bahan-kimia ialah untuk menghambat gerakan pasukan-pasukan Vietcong yang tengah bergerak ke Selatan, namun akibat yang tidak diinginkan menyebabkan bayi-bayi manusia yang lahir di wilayah terkena hujan kuning menjadi cacat ketika lahir, tidak terkecuali gangguan kesehatan lain.
Di negeri Sakura pernah berjangkit penyakit-Minamata (Minimata-disease). Penyakit ini dikha-barkan disebabkan tercemarnya air laut oleh airraksa (merkuri), cairan logam berat yang dibawa aliran sungai-sungai di Jepang yang menuju ke laut. Sebagai akibatnya banyak ikan-ikan yang hidup dan mencari makan di laut tercemar, lalu mengandung logam airraksa berbahaya dalam tubuh mereka. Kaum ibu Jepang yang menyantap ikan-ikan yang ditangkap dari perairan yang tercemar lalu melahirkan bayi-bayi cacat, tidak terkecuali gangguan kesehatan lain. Limbah air-raksa juga mencemari sungai-sungai di Tanah-Air, di hulu mana terdapat para pendulang emas yang menggunakan airraksa untuk memurnikan emas perolehan mereka, lalu membuang limbah dihasilkan begitu saja ke sungai yang mencemari air sungai.
Salah sebuah contoh bahaya “sinar radioaktif”, ialah terbunuhnya Alexander Livinenko dari Ru-sia diberitakan belum lama berselang. Ia dikhabarkan mendapat radiasi logam Plutonium 210 (Po-210) radioaktif memancarkan sinar alpha berkepanjangan, yang disembunyikan oleh orang yang tidak bertanggungjawab.
Sebuah penelitian dari Universitas Chicago, Amerika Serikat, memperlihatkan adanya hubungan atau korelasi, antara tingkat pencemaran pestisida sebuah lingkungan hidup dengan timbulnya gejala autisme, demikian pula kekurang-cerdasan (Intellectual Disability, ID) anak yang baru dilahirkan di lingkungan tersebut. Tampaknya, pencemaran lingkungan hidup tingkat tertentu, akan mengganggu kegiatan TMH (Teknologi Makhluk Hidup) dalam kandungan, menyebabkan berbagai program kimia organik dingin yang tengah berlangsung dalam tubuh bayi terusik karenanya.
Masih terdapat banyak macam pencemaran lingkungan hidup yang muncul di muka bumi oleh perbuatan manusia, seperti yang ditimbulkan karamnya tanker Exxon Valdez di Prince William Sound, Alaska, tanggal 24 Maret 1989 silam. Kapal minyak tujuan Long Beach, California, A-merika Serikat, itu tiba-tiba membentur karang Bligh dalam perjalanannya, dan menumpahkan minyak-mentah mulai dari 260,000 hingga 750,000 barrels (41,000 hingga 119,000 m3), merupa-kan salah sebuah bencana lingkungan hidup yang terparah pernah diketahui orang selama ini.
Bermacam pencemar yang terdapat dalam lingkungan umat dapat masuk kedalam tubuh manusia, pertama: ketika orang sedang bernafas lewat paru-paru menghirup limbah-gas dan buti-ran-butiran benda renik; kedua: melalui mulut ketika orang sedang: minum dan menyantap makanan mengandung limbah-cair berbahaya atau sangat berbahaya, dan ketiga: melalui sentu-han langsung dengan benda-padat berbahaya atau sangat berbahaya ketika sedang berkegiatan.
Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, revolusi industri yang tampil di Eropa silam, awalnya dianggap berkah kepada umat. Akan tetapi dengan timbulnya perubahan iklim nyata disertai angin kencang dan iringan ombak besar yang mendatangkan banyak bencana di muka bumi, umat Islam lalu menjadi sadar akan peringatan Tuhan dalam surat Ar-Rum, Ayat 41, terdapat dalam Al-Quran, akan “arti” sebenarnya rangkaian kata: “merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) dari perbuatan” manusia: “agar kembali ke jalan yang benar”.
Revolusi industri timbul di Eropa silam, awalnya dipicu temuan Thomas Savery (1650-1715) dari Inggris, yang kebetulan tertantang untuk membuat pompa-air bertenaga atmosfer keperluan tambang, dan mempatenkannya. Thomas Newcomen (1664-1729), rekan senegaranya menemu-kan kekurangan pompa rekannya, lalu memperkenalkan pompa-air berpengisap dibantu uap untuk tujuan yang sama. Pompa akhir ini lalu menggoda James Watt (1736-1819) rekan senegara lainnya, membuat mesin-uap berputar yang digrerakkan uap-bertekanan untuk keperluan beragam industri yang dibutuhkan orang ketika itu, tidak terkecuali memperkenalkan kereta-api pertama di dunia oleh George Stephenson (1781-1848) yang menghubungkan Sockton dengan Darlington di Inggris menggunakan Bahan Bakar Padat (BBP) jenis batubara. Mesin-uap berna-ma ilmiah Mesin Pembakaran Luar (MPL), dengan kemasan ganda (double package): sebuah digunakan untuk “periuk” tempat bertanak air penghasil uap bertekanan (tenaga potensial) de-ngan pembakaran di luar silinder, lainnya terdiri dari: “silinder dengan pengisap”, digunakan untuk mengubah tenaga potensial uap yang terdapat dalam kemasan pertama, menjadi tenaga-gerak yang dibutuhkan beragam industri, antara lain: angkutan, dan lainnya. Batubara kemudian ditambang orang dimana-mana di muka bumi kedalaman puluhan hingga ratusan meter, sedang-kan air didatangkan dari sungai terdekat.
Dari Belgia, negara Eropa lain, tahun 1860 Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) memper-kenalkan pula Mesin Pembakaran Dalam (MPD) pemantik sumbu, yang dikenal dengan istilah “motor bakar. Bahan-bakar digunakan bukan batubara, tetapi Bahan Bakar Cair (BBC) yang dinamakan bensin gampang menguap. Karena gas bertekanan yang mendorong pengisap kebawah dapat dihasilkan langsung di dalam silinder sekejap lewat pemantikan, maka MPD tidak memerlukan samasekali periuk tempat bertanak air, sehingga kemasan yang dibutuhkan tinggal sebuah atau tunggal. Sebagai akibatnya MPD memerlukan tempat lebih kecil pada daya dihasil-kan yang sama, menyita ruang atau volume lebih sedikit dalam kendaraan, lebih ringan, lebih murah pula harganya. Akan tetapi MPD memerlukan BBC mudah menguap, dengan minyak mentah asalnya harus didatangkan dari dalam perut bumi ribuan meter dalamnya, kemudian perlu diolah dalam kilang menjadi bensin.
Dua tahun kemudian dari Jerman, negara Eropa yang lainnya, Nikolaus Otto memperkenalkan MPD dilengkapi pengabut (carburettor) dan pemantik listrik (electric ignition), yang kemudian dikenal orang: mesin bensin. Menyusul pula pada tahun 1900, Rudolf Diesel rekan sebangsanya, memperkenalkan MPD dipantik kempa (compression ignition), yang dinamakan orang: mesin diesel. Berlainan dengan TMH (Teknologi Makhluk Hidup) “pengubah panas” kimia organik “suhu tubuh” atau suhu rendah diperkenalkan Ilahi di muka bumi, akan tetapi teknologi yang di-kembangkan manusia sejak awal revolusi industri di Eropa silam, lalu menyebar ke seluruh penjuru dunia, menperkenalkan “pengubah panas” kimia anorganik exothermis suhu sangat ting-gi bertemperatur ribuan derajat Celsius. Revolusi industri diawali dari Eropa silam dengan demi-kian telah melahirkan: serangkaian “Sumber Tenaga Gerak”, disingkat STG, atau Mechanical Energy Source (MES), untuk mengubah “panas” hasil pembakaran bahan-bakar bersuhu amat tinggi, berupa: sebuah MPL dikenal dengan nama “mesin-uap”, dan dua buah MPD masing-masing dinamakan “mesin-bensin” dan “mesin-diesel”.
Ketiga macam pengubah “panas” menjadi “gerak”, disingkat: Pengubah Panas Gerak (PPG), a-tau Thermo Mechanic Convertor (TMC), dikenal dengan: “mesin pembakaran”, terdiri: MPL yang harus bertanak air dalam periuk (ketel) untuk memperoleh uap bertekanan yang diperlukan mesin, berlangsung diluar silinder-silinder mesin memanfaatkan BBP, dan MPD yang melak-sa-nakan pembakaran langsung di dalam silinder-silinder mesin, sehingga tidak memerlukan lagi periuk tempat bertanak air, akan tetapi memanfaatkan BBC atau BBG. Dengan demikian STG- PPG, atau MES-TMC, yang telah diperkenalkan revolusi industri kepada dunia yang pertama ka-li benar-benar barang baru, diawali dari Inggris, dilanjutkan Belgia, lalu disempurnakan Jerman, memperkenalkan kepada umat apa yang kemudian dinamakan dengan istilah: “mesin” (Indone-sia), “engine” (Inggris), dan “maschine” (Jerman), lalu menyebar ke segala penjuru dunia.

Meski MPL dan MPD begitu besar kegunaannya pada umat sejak awal revolusi industri, akan tetapi sebagian besar (mayoritas) “panas” dihasilkan dari proses pembakaran bahan-bakar dinya-takan dalam “kalori” terbuang percuma. Hanya sebagian kecil (minoritas) “panas” hasil pemba-karan bahan-bakar yang dapat diubah menjadi “gerak” (mekanik) menjalankan beragam industri, atau sarana angkutan: darat, air, dan udara, serta lainnya. Itulah juga sebabnya mengapa ketiga macam PPG ini termasuk “boros” atau “tidak-efisien” dalam pemakaian bahan-bakar, karena lebih banyak “panas” hasil pembekaran yang dibuang percuma ketimbang dimanfaatkan. Diter-jemahkan kedalam penggunaan bahan-bakar, lebih banyak bahan-bakar diangkut kendaraan di-hamburkan begitu saja sepanjang jalan dilalui untuk mencemari lingkungan di permukaan bumi daripada yang digunakan.
Sebuah lokomotiv-uap dijalankan MPL menarik rangkaian kereta-api dari Jakarta ke Surabaya sebetulnya memerlukan 10% “panas” hasil pembakaran semua batubara yang dibawa untuk mengantarkan kereta-api berikut penumpang sampai ke tujuan; sedangkan 90% “panas” lainnya, dihamburkan begitu saja sepanjang jalan dilalui memanasi udara sekitar. Diterjemahkan kedalam penggunaan BBP, hanya 10% berat batubara yang dibawa bermanfaat mengantarakan rangkaian kereta-api bersama penumpang sampai ke tujuan, sedangkan 90% berat batubara lainnya diham-burkan saja sepanjang jalan dilalui yang mengotori lingkungan. Sebuah sepeda motor atau mobil dijalankan MPD, akan menghamburkan 75% “panas” hasil pembakaran bensin memanasi udara sekitar, dan hanya 25% “panas” hasil pembakaran bensin yang berguna mengantarkan penge-mudi berikut kendaraan sampai ke tujuan. Diterjematukhkan kedalam pemakaian BBC, 75% be-rat bensin yang terdapat dalam tanki motor atau mobil ditumpahkan saja sepanjang jalan dilalui, dan hanya 25% berat bensin dalam tanki yang benar-benar mengantarkan pengemudi beserta kendaraan sampai ke tujuan.

Itulah pula alasannya mengapa: sepeda motor, angkot, mobil, bis, kapal laut, pesawatterbang dan lainnya yang menggunakan MPD, begitu juga yang menjalankan beragam pabrik hingga industri, sangat boros mengkonsumsi BBM. Ini disebabkan kenyataan, bahwa kurang dari 25% “panas” hasil pembakaran: bensin, solar, atau lainnya muncul dalam sekejap dalam silinder-silinder mesin bermanfaat mengantarkan kendaraan berikut penumpang, barang, atau keduanya sampai ke tujuan, sedangkan 75% lainnya hanya terbuang percuma saja sepanjang jalan dilalui memanasi lingkungan sekitar. Lalu keduanya, baik yang berguna maupun yang terbuang per-cuma, menimbulkan apa yang kemudian dikenal dengan nama: “jejak karbon” (carbon footprint). Pencemaran yang ditimbulkan sarana angkutan darat yang membakar bahan-bakar kemudian di-nyatakan dengan “berat carbon dalam gram” yang dihamburkan ke lingkungan sekitar terhadap untuk setiap km jarak ditempuh. Dengan demikian, sebuah kendaraan pribadi roda empat merek tertentu dijalankan MPD akan menghamburkan ke udara “jejak karbon” sejumlah: x gr/km, seba-gai contoh 135 gr/km.
Adapun gas hasil pembakaran yang dihamburkan bermacam kendaraan melalui knalpot masing-masing, ialah: nitrogen (N2), uap air (H2O), karbon dioksida (CO2); meski ketiganya tidak tergolong bebahaya, namun yang paling akhir ini termasuk gas penyumbang pemanasan global. Diantara sejumlah gas yang tidak dikehendaki keberadaannya dalam atmosphere bumi ialah: karbon mono-oksida (CO), hidrokarbon (CxHy), dan oksida nitrogen (NOx). Kini setelah lebih dari dua abad revolusi industri berlangsung, ketiga jenis mesin yang diperkenalkan revolusi in-dustri dari Eropa silam, masih belum banyak beranjak dari keborosan penggunaan BBC. Ini dise-babkan “Bidang Teknik Mesin” dari berbagai Perguruan Tinggi Teknologi di muka bumi masih belum berhasil memecahkan permasalahan dihadapi secara ekonomis. Jejak karbon inilah yang belakangan ini disaksikan warga China mengambang di udara sejumlah kota besar di negeri Tirai Bambu itu, seperti: Beijing, Shanghai, dan lainnya yang menganggu pernafasan warga negara-nya. Ancaman semacam juga akan menghampiri Tanah-Air, manakala anak negeri tidak berhasil mengambil langkah nyata dalam perencanaan untuk menghindarkannya.

Gunung-Api Buatan Manusia
Hingga kini, sudah dikenal tiga golongan limbah yang mencemari lingkungan hidup makhluk di muka bumi ditimbulkan “aliran benda (materi)” yang hijrah dari dalam perut bumi menuju per-mukaan buatan manusia, pertama: gas dan benda renik (small particles) hasil pembakaran bera-gam bahan-bakar asal bermacam industri penghasil barang (produk) dan jasa (service), seperti: industri dan pabrik, sarana angkutan, tambang, kilang mulai kecil hingga besar, beragam kegiatan ekonomi masyarakat dari kecil hingga menengah, dan lainnya yang ada di muka bumi yang dihamburkan begitu saja ke atmosfer diseputar bumi lalu mencemari udara; kedua: air-kotor dihasilkan bermacam industri penghasil barang (produk), jasa (jasa), seperti: industri dan pabrik, angkutan, tambang, kilang, kota dari kecil hingga besar, dan lainnya, dan dibuang begitu saja kedalam badan-air: parit, kolam, kanal, danau, sungai, dan berakhir di laut hingga samudra; ketiga: berjenis barang hasil industri yang sudah habis masa pakai ekonominya dan berubah menjadi rongsokan, seperti: mobil, kereta-api, kapal sungai hingga samudra, pesawatterbang, bermacam perlengkapan dan peralatan perang, komputer, laptop, telepon pintar, sampah rumah tangga mulai kota kecil hingga besar, dan lainnya, diterlantarkan begitu saja di dimana-mana di darat menyita lahan tidak sedikit. Dengan penduduk bumi yang terus meningkat jumlahnya, ketiga kelompok limbah disebutkan, juga akan bertambah jumlahnya di muka bumi menelusuri perjalanan waktu kedepan.

a. Pencemaran Atmosfer
Pengendara sepeda motor menyimak pengukur bensin, lalu mampir ke tempat pengisian BBM. Dari dalam tanki, lewat teknologi mutakhir bensin kemudian disuntikkan kedalam silinder, dan setelah bercampur udara lalu dipantik. Timbul letusan, “panas” dibebaskan, dan gas bertekanan ttimbul sekejap didalam silinder mendorong “pengisap” kebawah. Dengan pertolongan poros-engkol, gerakan lurus pengisap diubah menjadi putar. Selanjutnya dengan rantai, gerakan putar poros dihubungkan dengan roda belakang yang membuat sepeda motor bergerak. Diperlukan banyak sekali letusan dalam silinder mengantarkan pengendara sepeda motor berikut pengendara sampai ke tujuan. Dengan mengatur isi (volume) silinder, mulai ukuran hingga dengan jumlah-nya, demikian juga ragam BBM digunakan, daya (power) yang dihasilkan mesin dapat diatur.
Demikianlah awalnya, bagaimana revolusi industri di Eropa silam memperkenalkan STG buatan manusia, hanya menerapkan “ilmu alam” (fisika) yang sederhana, lalu mengubah “peradaban u-mat” di muka bumi, lebih dari dua abad lamanya hingga hari ini, hanya dipicu pompa temuan Thomas Savery, yang kemudian diperbaiki Thomas Newcomen, lalu oleh James Watt diubah menjadi “sumber tenaga gerak” mesin pembakaran luar, disingkat MPL, ketiganya dari Inggris; dilanjutkan J.E.Lenoir dari Belgia memperkenalkan “sumber tenaga gerak” mesin pembakaran dalam, disingkat MPD. Yang disebut belakangan, boleh dinyatakan sebagai: untaian letusan hasil pembakaran BBM terkendali kemasan tunggal (single package) yang menghasilkan tenaga gerak keperluan beragam industri, wabilkhusus: sarana angkutan, tidak terkecuali beragam industri la-innya. Apabila tidak terkemas baik, dan tidak pula terkendali, akan menimbulkan letusan bom seketika yang dapat menghancurkan apabila bahan-bakar yang telah bercampur udara dipantik. Sejak dari saat bersejarah itu, berbagai industri lalu bermunculan dimana-mana di muka bumi i-barat jamur di musim hujan yang membuka lapangan kerja untuk umat, tidak terkecuali memper-kenalkan beragam sarana angkutan: darat, air, udara, kebutuhan: sipil, militer, dan lainnya. Buda-ya bepergian berjalan-kaki dan naik-kuda, tidak terkecuali kereta dihela kuda atau ternak lain yang selama ini dimanfaatka orang dimana-mana di muka bumi, lenyap dan digantikan kenda-raan di-jalankan mesin pembakaran yang belum dikenal orang dari zaman sebelumnya. Berbagai lingkungan budaya dan adat istiadat yang tadinya tertutup karena terisolasi oleh jarak tempuh yang jauh, kemudian segera terbuka mengakibatkan timbulnya berbagai persoalan sosial, ekono-mi, politik, keamanan, dan lainnya yang sangat rumit.
Usai letusan pertama, silinder mesin lalu dibilas menjelang penyuntikan bensin baru untuk dicampur dengan udara baru sebelum pemantikan berikutnya; demikian seterusnya dengan letusan-letusan yang menyusul kemudian. Pembilasan silinder menimbulkan “gas buang” yang dikelu-arkan dari knalpot, melahirkan “limbah gas” yang diperkenalkan revolusi industri. Limbah-gas dihasilkan oleh dari ribuan, jutaan, miliard, triliun, bahkan lebih letusan, yang dihamburkan begitu saja ke atmosfer bumi yang mengotori udara, karena tidak dapat lagi dikembalikan keda-lam perut bumi darimana asalnya, setelah “panas” berhasil pembakaran bensin diubah menjadi “gerak” yang diperlukan pengendara sepeda motor.
Limbah gas tidak hanya dihamburkan angkutan: darat, laut, dan udara, tetapi juga oleh tak terhi-tung jumlah pabrik dan industri yang ada di muka bumi sampai kini yang menggunakan: mesin-uap, mesin-bensin, dan mesin-diesel guna memproduksi: beragam barang (produk), layanan jasa; (service) yang bilanagn dan ragamnya terus meningkat di bumi dalam perjalanan waktu, tersebar kedalam beragam negara. Selain pencemaran atmosfer diperoleh dari pembakaran: BBP, BBC, dan BBG berlangsung dalam silinder-silinder beragam kendaraan, masih ada lagi sumber pence-maran dari bahan “additive” yang sengaja ditambahkan orang, seperti: logam timbel kedalam bahan-bakar, dan lainnya kedalam minyak lumas. Adapun tujuan penambahan bahan-bahan ini guna meningkatkan kinerja: mesin-uap, mesin-bensin, dan mesin-diesel. Kegunaan pemakaian bahan additive terhadap mesin kendaaraan diterangkan dengan baik oleh pabrik pembuatnya, a-kan tetapi dampak “sampah-gas” yang mengandung bahan additive manakala terhirup kedalam pernafasan manusia hampir samasekali tidak diterangkan.
Seperti yang telah berulang kali diterangkan, “limbah gas” yang dihamburkan ke atmosfer bumi yang mengelilingi planit biru, datang dari beragam industri, seperti: beragam sarana tansportasi dan berjenis industri yang terdapat di bumi. Banyaknya limbah-gas dihamburkan dalam Triliun metric-ton amat tergantung dari: isi (volume) silinder, bilangan silinder, putaran poros per menit, daya dihasilkan, dan banyaknya: mesin-uap, mesin-bensin, dan mesin-diesel dimanfaatkan umat setiap hari di seluruh penjuru dunia dalam setahun memproduksi beragam barang (produk) dan aneka jasa (service). Perlu dicatat luas muka bumi, terdiri dari daratan dan permukaan air, semuanya: 510 juta km2. Tiga perempat berat (massa) udara yang menyelimuti bola bumi berada hingga ketinggian 11.000 meter (11 km) diatas permukaan laut. Puncak Everest, tempat tertinggi yang ada di muka bumi berada pada ketinggian 8.848 m diatas permukaan laut, sementara tempat tertinggi yang dapat dihuni manusia ialah: 5.500 m diatas permukaan laut, karena pada keting-gian ini kemampuan paru-paru memperoleh oksigen untuk bernafas telah berkurang menjadi hanya 50%. Adapun sebagian besar Volume Udara (VU) yang terdapat dalam atmosfer bumi yang mengitari planet biru, keberadaannya dipercayakan kepada gaya-tarik (gravitasi) bumi, ber-jumlah: 5,41 Miliard km3. Dengan garis-tengah bumi: 12.740 km, Volume Bumi (VB) ini besarnya: 1.081 Miliard km3. Dengan demikian perbandingan volume udara terhadap volume bu-mi memberikan angka:

VU/VB = 0,5%

Dari perbandingan diatas jelas tampak, bahwa lapisan udara yang menyelimuti bola bumi atau planit biru, hanyalah sebuah lapisan tipis, yang boleh juga disebut “selaput udara”. Karena begitu tipisnya lapisan udara ini, maka tidak dapat diragukan lagi amat rawan terhadap pencemaran yang ditimbulkan aliran benda (materi) mengalir dari dalam perut bumi menuju permukaan yang ditimbulkan revolusi industri.
Guna memberi gambaran yang lebih jelas tentang “arti” perbandingan yang disebutkan diatas, bayangkan sebuah bola dengan garis tengah 100 m diletakkan ditengah sebuah stadion sepak-bola, untuk mewakili bola bumi dengan ukuran yang diperkecil. Lalu sentuhkan sebuah mistar panjang 10 cm tegak lurus terhadap bidang yang menyentuh bola. Dengan demikian, tiga pe-rempat berat udara yang menyelimuti bola bumi yang diperkecil akan terdapat pada angka 8,64 cm. Memandang bola bumi diperkecil dari salah satu kursi didalam stadion, orang akan men-dapat kesan betapa kecilnya lapisan atmosfer bumi berukuran selaput ini, benar-benar tampak rawan terhadap pencemaran yang ditimbulkan aliran bahan (materi) yang meninggalkan perut bumi (diperkecil) menuju permukaan berlangsung tanpa henti, yang terus meningkat jumlahnya menelusuri perjalanan waktu. Akan tetapi bagi orang yang memandang ke angkasa dari tempat duduk yang sama dalam stadion, tidak akan mudah percaya bahwa ruang atmosfer seputar bola bumi (sebenarnya) yang terluhat begitu luas, akan mudah tercemar oleh aliran bahan (materi) yang meninggalkan perut bumi menuju permukaan berlangsung tanpa henti, meski jumlahnya terus meningkat menelusuri waktu. Apa yang akan mengadili sudut pandang bertolak belakang dari dua pengamat yang duduk di kursi stadion yang sama, terpulang kepada “penguasaan ilmu pengetahuan” dan “akal sehat” yang mereka miliki semata.
Selain dari itu, apabila lapisan udara atmosfer bumi diibaratkan garasi mobil tertutup rapat yang memuat mobil dengan mesin dihidupkan. Secara perlahan tapi pasti, udara yang berada dalam garasi akan tercemar limbah-gas buang yang menyebabkan orang-orang berada dalam mobil dengan kaca terbuka menderita sesak nafas. Bagi mereka yang duduk di dalam mobil masih ada jalan keluar untuk mendapat pertolongan, yakni manakala ada orang di luar garasi yang cepat mengetahui keadaan, lalu dengan cepat mendobrak pintu garasi untuk membuka paksa secepat-nya. Akan tetapi bagi umat yang berdiam di muka bumi dengan atmosfer tercemar pertolongan demikian samasekali sudah tidak lagi mungkin dilakukan.

b. Pencemaran Badan Air
Beragam industri yang menghasilkan aneka ragam barang (produk) dan jasa (service), tidak terkecuali bermacam sarana angkutan, kilang, dan lainnya, tidak terkecuali rumah tangga kota-kota kecil hingga besar, dan masih banyak lagi lainnya yang ada di muka bumi memerlukan air bersih dalam kegiatan sehari-hari. Air bersih yang melalui proses: campur, endap, saring, bilas, cuici, radiasi, dan lainnya, kemudian berubah menjadi air-tercemar atau air-kotor, karena tidak dapat digunakan lagi. Air bersih juga mengalami berbagai proses dalam tambang: batubara, mi-nyak bumi, biji mineral, dan lainnya, mulai dari kegiatan: penggalian, pengeboran, transportasi, pengolahan dalam kilang atau pabrik; baik yang sudah berjalan maupun yang akan menusul ke-mudian; semuanya memerlukan air-bersih yang kian besar jumlahnya. Air bersih yang menjala-ni satu atau lebih proses akan menjadi air kotor yang kemudian dibuang. Dengan penduduk bumi yang terus bertambah jumlahnya, begittu pula kegiatan ekonomi kian berkembang, jumlah air-kotor yang dihasilkan kegiatan hidup dan ekonomi akan semakin banyak dalam perjalanan wak-tu. Karena belum terdapat Instalasi Penjernihan Air (IPA) yang dapat menangani air-kotor terhadap jumlah dihasilkan di berbagai tempat di muka bumi yang memerlukan, maka air-kotor dihasilkan beragam proses yang berhubungan dengan kegiatan hidup dan ekonomi umat di muka bumi, dibuang begitu saja kedalam badan air: parit, kanal, sungai, danau, laut, hingga samudra dimana-mana di seantero dunia.

c. Pencemaran Darat
Beragam barang hasil industri yang telah habis masa pakai ekonominya beralih menjadi barang rongsokan, seperti: mobil, kereta-api, kapal sungai hingga samudra, pesawatterbang, beragam mesin perang, komputer, laptop, telepon pintar, sampah kota dari kecil sampai besar, dan lain sebagainya, diterlantarkan saja dimana-mana menyita lahan di muka bumi. Dalam hal ini tidak terkecuali bangunan dan instalasi bermacam tambang, bor bumi, sarana angkutan yang telah habis masa pakai ekonomisnya; seluruhnya diterlantarkan saja menyita lahan di muka bumi dari da-ratan hingga lepas pantai dimana-mana.
Gunung-Api Buatan Manusia
Dari apa yang telah disampaikan, bensin sebelum tiba di pompa BBM, awalnya “minyak mentah” yang dalam kilang diolah menjadi bensin. Dan “minyak mentah” itu sendiri sebelum sampai ke kilang, berada ribuan meter dalam perut bumi. Bensin yang berahir menjadi: limbah-gas lalu dihamburkan ke atmosfer seputar bola bumi yang mencemari udara. Begitu pula keadaannya de-ngan air-bersih yang telah tercemar, lalu menjadi air-kotor. Yang akhir ini datang dari berbagai proses pembuatan barang (produk) dan jasa (service) dalam berjenis pabrik, industri, kilang, tam-bang penggalian: batubara, minyak bumi, gas, mineral dan lainnya. Ada pula air kotor datang dari kegiatan mencuci atau pembilasan: motor, mobil, kereta-api, pesawatterbang, kapal sungai hingga samudra, dan masih banyak lainnya. Dan tidak dapat dihindarkan adanya air-kotor yang datang dari beragam rumah tangga yang terdapat di muka bumi, mulai kota-kota kecil hingga besar. Semuanya menghasilkan: limbah-cair yang terhimpun di muka bumi. Akhirnya rongsokan segala macam barang bekas mulai: motor, mobil, kereta-api, pesawatterbang, kapal sungai hing-ga samudra, dan lain sebagainya. Begitu pula rongsokan tambang: batubara, minyak bumi, biji aneka mineral, tidak terkecuali instalasi penggalian, pengeboran, alat-alat berat dan transportasi, beragam instalasi pengolahan, dan lain sebagainya yang sudah habis masa pakai ekonomisnya. Selain dari itu tidak boleh dilupakan sampah perkotaan yang menggunung tampil dimana-mana di muka bumi yang menimbulkan: limbah-padat.
Dari apa yang telah dikemukakan diatas terlihat jelas, bagaimana aliran benda (materi) dari da-lam perut bumi menuju permukaan “buatan manusia” yang berakhir menjadi: “limbah-gas”, “limbah-cair”, dan “limbah-padat”. Karena limbah-gas tidak dapat lagi dikembalikan kedalam perut bumi setelah “panas” hasil pembakaran bahan-bakar diambil untuk menggerakkan kenda-raann, industri dan lainnya; begitu juga pencemar air-bersih tidak lagi dapat dipisahkan dari air kotor untuk dipulangkan kedalam perut bumi; selanjutnya rongsokan barang-barang hasil pro-duksi beragam industri tidak terkecuali sampah perkotaan tidak mungkin lagi dipulangkan keda-lam perut bumi, semuanya lalu mencemari: atmosphere, badan air, dan lahan di muka bumi. Manakala dibandingkan dengan gunung-api yang sedang meletus, “limbah gas” bikinan manusia boleh disetarakan dengan asap gunung api yang disemburkan ke udara; “limbah cair” bikinan manusia boleh disetarakan dengan lahar dingin, atau aliran lumpur gunung-api, atau aliran lum-pur Lapindo; dan “limbah padat” bikinan manusia boleh disetarakan dengan lahar panas gunung-api yang telah menjadi: abu, pasir, dan bongkahan bebatuan. Dengan munculnya “revolusi in-dustri” di bumi, diawali dari Eropa lebih dari dua abad silam, ketiga jenis limbah yang telah dibi-daninya ini, dapat dinamakan dengan: “Letusan Gunung-api Buatan Manusia”, disingkat LGBM, atau The Man Made Volcano, disingkat TM2V.
Perlu dicatat, gunung-api yang banyak jumlahnya di bumi, apabila meletus akan berhenti setelah beberapa lama berlangsung, dan baru akan meletus kembali bertahun atau puluh tahun kemudian. Akan tetapi, berlawanan dengan gunung-api bumi, LGBM meletus setiap hari sepanjang tahun, dan setiap tahun sepanjang abad, terus-menerus meletus, karena tidak mengenal istilah berhenti walau untuk sejenak.

Sebuah Pengandaian
Mengingat filsafat dan ilmu pengetahuan telah lama berkembang di kawasan Timur Tengah, didukung luasnya perdagangan dan kontak budaya antara berbagai bangsa yang berdiam disana dalam perjalanan waktu yang begitu panjang ketimbang bagian dunia lain, lalu menimbulkan pertanyaan: mengapa “revolusi industri” tidak bermula justru dari bagian dunia itu? Agaknya, Timur Tengah ketika itu terlalu penuh hirukpikuk percaturan pengaruh dan kekuasaan berkepan-jangan sehingga menyebabkannya bukan lahan baik untuk melahirkan penemuan sederhana yang mengubah peradaaban dunia. Di fihak yang sebaliknya, Eropa utamanya Inggris kala itu, meski masih tergolong “kampung”, jauh dari kegaduhan model Timur Tengah, didukung kaum intelek-tual berpengetahuan tepat guna yang tengah bersemi, membuat Eropa ketika itu ladang subur tempat munculnya gagasan baru, sebagaimana yang dipelopori Thomas Savery (1650-1715), saat memperoleh tantangan membuat pompa-air keperluan tambang memanfaatkan vakum yang di-timbulkan uap bertekanan dalam bejana yang disiram air dingin, lalu mempatenkannya. Thomas Newcomen (1664-1729) rekan sebangsanya, memperkenalkan pula gagasan lain untuk tujuan yang sama. Dari hasil karya kedua rekan sebangsanya, James Watt (1736-1819) lalu memper-kenalkan “sumber tenaga gerak” pertama buatan manusia kepada dunia berwujud sebuah mesin-uap berputar. Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) dari Belgia, memperkenalkan pula “mesin pembakaran” berbahan-bakar bensin pemantik sumbu sebagai “sumber tenaga gerak” ringan pertama di dunia. Nikolaus Otto dari Jerman memperkenalkan mesin pembakaran berpengabut dan berpemantik listrik dinamakan: mesin bensin, untuk yang mudah digunakan pertama di dunia. Pada tahun 1900, Rudolf Diesel, rekan sebangsanya dari Jerman turut pula memperkenal-kan mesin pembakaran berpemantik kempa yang bernama: mesin diesel pertama di dunia. De-ngan demikian, deretan kartu domino teknologi STG pengubah PPG (TMC) diperkenalkan revo-lusi industri kepada dunia di Eropa lebih dari dua abad silam. Sejak dari saat bersejarah itu umat berkenalan dengan STG-PPG(MES-TMC) yang baru samasekali, diawali dari Inggris, dilanjut-kan Belgia, kemudian disempurnakan Jerman; semuanya memperkenalkan kepada dunia apa yang lalu dikenal orang dengan: “engine” (Inggris), “maschine” (Jerman), dan “mesin” (Indone-sia), yang kemudian menyebar ke Amerika Utara, lalun Jepang, dan akhirnya seluruh penjuru du-nia, tidak terkecuali Tanah-Air.
Setelah lebih dari dua abad berlangsung, manusia kemudian sadar, bahwa PPG (TMC) yang di-perkenalkan revolusi industri diawali dari Eropa silam, menjadi “penyebab” utama pencemaran lingkungan hidup umat di bumi, mulai: atmosfer, badan-air, hingga daratan. Para ahli ilmu pe-ngetahuan dari berbagai penjuru dunia mulai Barat hingga dengan Timur, kini mengevaluasi kea-daan, dan berusaha dengan sungguh mencari jalan keluar untuk mengatasi dampak negatif yang ditimbulkan pencemaran, sebagaimana diperingatkan oleh “Surat Ar-Rum, ayat 41”.

Menanggulangi Pencemaran Atmosfer
Untuk menghindarkan udara yang mengisi atmosfer bumi ini tercemar dari limbah-gas yang di-hamburkan beragam kendaraan, bermacam industri, dan lainnya yang membakar bahan-bakar fossil, seperti: BBP, BBC, dan BBG yang telah meresahkan umat kini bermukim di perkotaan, bahkan telah dikeluhkan awal revolusi industri lebih dari dua abad silam, John Bockris dari Pusat Teknik General Motor, Amerika Serikat, memperkenalkan gagasan Bahan Bakar Hidrogen (B-BH) tahun 1970, unsur kimia paling banyak terdapat di bumi, digunakan untuk kendaraan umum, sehingga gas buang yang dikeluarkan dan dihamburkan ke atmosfer bumi hanyalah uap-air. Dengan demikian pencemaran atmosfer yang ditimbulkan aliran benda (materi) yang me-ninggalkan perut bumi menuju permukaan yang diperkenalkan revolusi industri di Eropa silam, akan hilang dengan sendirinya. Sebagai pelopor menghindarkan pencemaran atmosfer bumi menggunakan BBH tampil sejumlah negara Nordik, juga dari luar kawasan Timur Tengah. Pe-mimpin Islandia terinspirasi oleh ide John Bockris dari Amerika Serikat, menjadikan bangsanya pertama muka bumi memproklamirkan “hydrogen-powered economy” (ekonomi berdaya-hidro-gen). Untuk mendapatkan (BBH) yang dibutuhkan bangsanya; tetangga Kutub Utara itu meng-gunakan tenaga listrik yang dihasilkan Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) banyak terdapat dinegeri itu, untuk mengurai “air” menjadi: hidrogen dan oksigen. Bis angkutan umum bertenaga hidrogen lalu diujicoba di jalan-raya ibukota Reykjavik, disusul mobil listrik bersumber tenaga listrik sel bahan-bakar.
Negara luar kawasan Timur Tengah lain, yang juga berkemas menyambut “hydrogen-powered economy”, ialah Swedia. Berlainan dengan Islandia yang mengandalkan tenaga panas bumi, Swedia memanfaatkan tenaga listrik yang diperoleh dari peladangan panel-surya. Bagian Barat negeri telah disiapkan untuk tempat mengembangkan wilayah ramah-lingkungan, terutama pela-buhan dan lokasi industri kendaraan bermotor SAAB yang akan menggunakan BBH sebagai bahan-bakar.
Negara Nordik yang juga tidak mau ketinggalan, ialah Denmark. Walikota Nakskov dari pulau Lolland telah membuat kerjasama dengan pengembang sel bahan-bakar negeri bernama IRD, dan mengembangkan pula proyek dan organisasi bernama: “Baltic Sea Solution”. Yang disebut akhir ini tidak lain dari masyarakat Denmark sendiri yang akan membentuk kelompok warga yang akan menjadi komunitas tempat pengujian kelaikan penggunaan teknologi sel bahan-bakar yang sedang dikembangkan termasuk menyediakan beragam fasilitas yang diperlukan.
Bagaimana dengan Indonesia, sebuah negara Asia Tenggara yang terletak di luar kawasan Timur Tengah. Di negeri dengan Sumber Daya Alam (SDA) panas bumi melimpah, bahkan langsung dari gunung-api masih aktif banyak jumlahnya, begitu pula lahan peladangan panel-surya luas di khatulistiwa, dengan sendirinya tidak boleh ketinggalan dari segelintir negeri Nordik disebut-kan. Walau tidak lagi menjadi pelopor, namun Indonesia dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang besar lagi berpendidikan, kesempatan menjadi “motor” hydrogen-powered ekonomi kawa-san Asia Tenggara berdampak global besar, akan tetapi negara ini memilih lain. Meski sejak tanggal 30 Desember 1949 Indonesia telah menjadi negara merdeka yang diakui dunia (PBB) de-ngan nama Republik Indonesia Serikat (RIS), sejak semula pemimpin negeri memilih berpetualang dengan “Demokrasi Terpimpin”, mengindoktrinasi rakyat dengan TUBAPI, menggunting dan mendevaluasi ganda Rupiah yang meluluhlantakkan perkonomian; lalu disusul “Demokrasi Pancasila”, mengindoktrinasi rakyat dengan BP7, terjangkit krismon asal Thailand yang menga-kibatkan Rupiah terpelanting tahun 1997 lalu mengacaukan perekonomian bangsa berkepanja-ngan; sebelum reformasi muncul menyelamatkan. Sebagai akibat kedua petualangan menghabis-kan waktu lebih setengah abad, Indonesia tampil tertinggal dari Korea Selatan yang hancur da-lam perang semenanjung negeri itu, baru damai tanggal 27 July 1953; juga negara-negara tetang-ga, seperti: Malaysia merdeka 1957, Singapura merdeka 1965, Brunai merdeka 1984, dalam ber-bagai bidang kehidupan, kesejahteraan rakyat, begitu juga hak azasi manusia.

Kesalahan Jalan Sejarah
Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya, agama Islam datang ke Nusantara dibawa muba-ligh dan para pedagang. Mereka kemudian mendirikan mesjid dan surau untuk tempat beribadah sekaligus pusat pengajaran kepercayaan baru. Kemudian tampil madrasah, yang kini dinamakan: Pondok Pesantren, disingkat Ponpes. Adapun matapelajaran yang diberikan di madrasah-madrasah Asia Tenggara dan Tanah-Air, ialah pelajaran agama Islam, bermuatan: keimanan, hu-kum, nilai, dan lainnya sebagainya sebagaimana yang tercantum dalam Al-Quran dan Hadis memanfaatkan bahasa daerah dan “aksara Arab”. Lahirlah bahasa daerah yang menggunakan aksa-ra Arab.
Memasuki abad ke-20, kaum kolonial dari: Inggris, Perancis, dan Belanda yang memiliki tanah jajahan di Asia Tenggara, memperkenalkan program baru dalam koloni mereka. Itulah sebabnya mengapa negara-negara kolonial itu lalu memperkenalkan pendidikan Barat guna mendukung program yang telah dipersiapkan. Di Nusantara, Belanda memperkenalkan “sekolah gouverne-ment” yang lalu berganti menjadi “sekolah melayu”. Sekolah akhir ini dirancang untuk mencetak SDM anak-anak negeri yang akan dijadikan: pamong, guru, kerani (pegawai administrasi), dan lain sebagainya. Adapun matapelajaran yang diberikan di sekolak-sekolah melayu, ialah: me-nulis, membaca, berhitung, tidak terkecuali pengetahuan umum. Bahasa pengantar digunakan: ialah “bahasa melayu” dan bahasa daerah, akan tetapi aksara digunakan “tulisan Latin” pilihan Belanda. Lahir dengan demikian bahasa melayu beraksara Latin, dan bahasa daerah tulisan yang sama.
Belanda mengembangkan lebih lanjut pendidikan Barat yang telah diperkenalkannya sampai ke jenjang Perguruan Tinggi dan Universitas sebagaimana telah berkembang di daratan Eropa, seba-liknya pendidikan madrasah berjalan sebagaimana yang berlangsung di Timur Tengah. Meski-pun pendidikan Barat yang dikembangkan Belanda silam di Tanah-Air telah berubah menjadi: Sekolah Rakyat (SR), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Universitas memasuki alam kemerdekaan, dalam mengembangkan pendidikan di Tanah-Air ber-sifat nasional, demikian pula pedidikan Ponpes asal madrasah dengan memasukkan matapela-jaran ideologi negara, managemen, keterampilan teknologi, dan lain sebagainya kedalam kuriku-lum; namun kedua sistim pendidikan muncul dari perjalanan sejarah yang berlainan itu masih memperlihatkan padangan hidup kaum wisudawan yang tidak seiring. Dualisme masih tampak jelas dalam pemahaman masyarakat, dengan menyeruaknya dalam kehidupan umat pengertian “ahli zikir” dan “kaum intelektual” yang masih belum sejalan.
Dinamika Sumber Tenaga Gerak
Alam semesta merupakan sistim mekanik terbesar. Itulah sebabnya mengapa makhluk yang hi-dup di muka benda langit, tidak terkecuali bumi, menjadi bagian dari sistim mekanik benda langit tersebut. Setiap benda, baik yang hidup tidak terekecuali mati, membutuhkan tenaga gerak. Manusia, hewan, dan tumbuhan juga menggunakan “panas” hasil pembakaran “karbohidrat” yang dihasilkan dalam tubuh makhluk dengan “oksigen” diperoleh dari atmosfer bumi, lalu diolah serangkaian otot menjadi gerak. Terdapat beragam kemasan STG (MES) yang telah di-kembangkan umat yang hidup di muka bumi, yakni:

A. Panas Reaksi Kimia
Apa yang telah diperkenalkan revolusi industri di Eropa silam, ialah STG yang mengubah “panas” (heat) hasil pembakaran bahan-bakar fossil menjadi gerak, dikenal dengan singkatan: PPG (TMC), yang pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh James Watt (1736-1819) dari Inggris, kemasan x-y PPG (TMC), diman: x = periuk/bejana tempat bertanak air untuk mengha-silkan uap-bertekanan, atau uap yang memiliki tenaga potensial, diperoleh dari bertanak air de-ngan panas yang didapat dari pembakaran bahan-bakar (beragam hidrokarbon atau bahan-bakar fossil), dan y = pasangan silinder-pengisap berikut poros-engkol yang mengubah tenaga potensial uap menjadi tenaga gerakan putar. Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) dari Belgia, kemudian memperkenalkan lagi STG kemasan y pemantik sumbu. Mengapa kemasan y dapat be-kerja, karena gas bertekanan yang mendorong pengisap kebawah, dapat diperoleh sekejap de-ngan “memantik sumbu” campuran uap-bensin dengan udara didalam silinder. Pemantik akhir ini kemudian diperbaiki Otto dengan memperkenalkan STG pemantik listrik melahirkan ke-masan y pemantik listrik (electric ignition). Rudolf Diesel selanjutnya memperkenalkan pula S-TG kemasan y pemantik kempa (compression ignition) dengan bahan-bakar yang dikenal de-ngan nama solar (diesel fuel).

B. STG Reaksi Kimia
Kemasan x-y yang telah diperkenalkan James Watt (1736-1819), kemudian berkembang, lalu mengganti pasangan silinder pengisap berikut poros engkol dengan turbin-uap yang memutar ge-nerator. Lahir dengan demikian Pusat listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan bahan-bakar fossil (B-BP, BBC, BBG), kini digunakan berbagai negara di muka bumi, mulai dari negara maju hingga dengan berkembang yang menghasilkan tenaga listrik yang diperlukan perekonomian berbagai negara.
Kemasan y yang diperkenalkan Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900), juga turut berkembang dengan mengganti pasangan silinder pengisap berikut poros-engkol dengan turbin-gas yang juga memutar generator. Lahir pula Pusat listrik Tenaga Gas (PLTG), dilanjutkan PLTGU yang me-ningkatkan daya-guna, membakar bahan-bakar gas alam (natural gas) untuk menunjang pereko-nomian agar maju lebih pesat. Ini disebabkan oleh PLTG dan PLTGU dapat dibangun dalam waktu singkat untuk meningkatkan produksi tenaga listrik. Kemasan y dengan turbin-gas, juga dapat mengembangkan mesin pesawatterbang yang dikenal dengan: turbo-prop, torbo-jet, dan turbo-fan, yang menghasilkan gaya tarik/dorong besar dinyatakan dalam metric-ton yang sangat dibutuhkan angkutan udara dunia, sehingga dalam waktu singkat menjadi tulang punggung trans-portasi udara internasional di muka bumi.

C. STG Elemen Kimia
Selain sebagian “panas” yang dapat diubah menjadi gerak, dinamakan Pengubah Panas Gerak (PPG) atau Thermo Mechanic Conversion (TMC) yang telah diperkenalkan revolusi industri be-rangkat dari disiplin ilmu alam (fisika) lampau, “listrik” juga dapat diubah menjadi gerak berangkat dari disiplin ilmu yang sama, dikenal dengan Pengubah Listrik Gerak (PLG) atau Electro Mechanical Conversion (EMC). Dengan demikian berlaku juga kemasan x-y PLG (EMC), dimana: x = elemen kimia yang membangkitkan tenaga listrik, dan y = mesin listrik yang mengubah tenaga listrik menjadi tenaga gerakan putar.

D. STG Sel Bahan-Bakar
STG elemen kimia lainnya mengemuka dari gagasan John Bockris yang timbul di Pusat Teknik General Motor Amerika Serikat tahun 1970 lalu. Dari kemasan x-y, disini: x = sel bahan-bakar yang membangkitkan tenaga listrik dengan pemasukan BBH tanpa melakukan pembakaran samasekali apapun ragamnya, dan y = mesin listrik yang mengubah tenaga listrik menjadi tenaga gerakan putar.

E. Panas Reaksi Nuklir
Albert Einstein dari Amerika Serikat, pada tanggal 26 September 1905 mengununkan kepada dunia “theori relativitas”dengan persamaan: E = mc² yang amat terkenal. Apa yang sebenarnya ingin disampaikan Einstein kepada seluruh umat di muka bumi ketika itu, bahwa “benda” (ma-teri) dan “tenaga” (energy) dapat dipertukarkan, sehingga tenaga dapat diperoleh dengan mele-nyapkan benda, begitu pula sebaliknya. Lewat theori relativitasnya, Einstein juga ingin menyam-paikan kepada dunia, bahwa terdapat tenaga (energy) yang melimpah ruah, sehingga manusia di muka bumi tidak akan kekurangan. Yang menjadi persoalan ketikaitu bagaimana mengeta-huinya? Untuk yang akhir ini harus dilakukan percobaan. Maka pada tanggal 16 Agustus 1945, sebuah “bom-atom” pertama dicoba Proyek Manhattan bekerjasama dengan Angkatan Darat A-merika Serikat, di White Sands Proving Ground, Jonada del Muerto, 56 km tenggara Socorro, Padang Pasir New Mexico, dan berhasil. Lalu pada tahun 1952 sebuah “bom-hidrogen” pertama dicoba pula di kawasan Pacifik, juga berhasil. Kedua bom ini memperoleh “panas” bukan dari “reaksi kimia” (chemical reaction) hasil pembakaran bahan-bakar fossil sebagaimana yang telah dikenal sejak awal revolusi industri di Eropa silam, akan tetapi dari apa yang kemudian dinama-kan: “nuclear reaction” (reaksi nuklir, atau reaksi inti). Kini dikenal orang dua macam reaksi nuklir, masing-masing: “reaksi belah inti” (nuclear fission reaction) juga dikenal dengan reaksi nuklir fisi, karena inti uranium terbelah oleh benturan neutron yang menyebabkan “bom-atom” meletus; dan “reaksi gabung inti” (nuclear fusion reaction) juga dikenal dengan reaksi nuklir fusi, karena inti-inti isotop hidrogen ringan bergabung oleh temperatur reaksi yang sangat tinggi mendekati inti matahari menyebabkan “bom-hidrogen” meletus. Perlu dicatat, reaksi belah inti memancarkan sinar-sinar radioaktif berbahaya berkepanjangan; sebaliknya reaksi gabung inti ti-dak memancarkan sinar-sinar radioaktif. Sebagai dampak dari terbelahnya inti atom berat, atau tergabungannya inti-inti atom ringan, sebahagian “massa” atom-atom yang terlibat akan lenyap atau hilang dari Alam Semesta, lalu berganti menjadi “panas” (kalor) sebagaimana yang dikemu-kakan persamaan Einstein.
Berangkat dari theori relativitas Einstein, umat lalu mengetahui dua macam sumber “panas” (heat) di muka bumi: pertama “panas” asal pembakaran atau reaksi kimia, seperti pembakaran: kertas, kayu, bahan-bakar fossil, sampah, dan lain sejenisnya, kedua “panas” asal pembelahan i-nti atom berat, dikenal dengan reaksi fisi, atau penggabungan inti-inti atom ringan, dikenal dengan reaksi fusi; keduanya dinamakan reaksi nuklir, atau reaksi inti. Kedua reaksi mengaki-batkan sebagian massa atom yang terlibat sekonyon-konyong lenyap atau hilang lalu digantikan panas sesuai rumus Eistein.
Panas yang ditimbulkan reaksi nuklir belah atau fisi melahirkan Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fisi (PLTNFi) pasca Perang Dunia Ke-II. Dari kemasan x-y, panas belah nuklir-gerak (thermo nu-clear fission-mekanik), disini: x = Reaktor Air Tekanan (RAT) atau Pressure Water Reactor (P-WR), bertindak sebagai periuk tempat bertanak air yang menghasilkan uap-bertekanan asal re-aksi fisi, dan y = pasangan turbin generator yang membangkitkan tenaga listrik; disusul Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fusi (PLTN-Fu) kemasan x-y panas gabung nuklir-gerak (thermo nuclear fusion-mekanik), disini: x = sebentuk bejana dinamakan TOKAMAK bertindak sebagai periuk tempat bertanak air yang menghasilkan uap-bertekanan dari reaksi fusi, dan y = pasangan turbin generator yang membangkitkan tenaga listrik, kini tengah dikerjakan sejumlah negara maju di Cadarache, Perancis Selatan.
Sebuah reaksi nuklir belah (fusion reaction) membebaskan tenaga panas (heat energy) setara 200.000.000 electron Volt (eV), disingkat 200 MeV, per satuan massa untuk tiap kejadian. Sebaliknya, pembakaran bahan-bakar fossil (BBP, BBC, BBG) atau reaksi kimia, membebaskan tenaga panas hanya beberapa eV per satuan massa untuk tiap kejadian. Itulah sebabnya mengapa reaksi nuklir, baik reaksi fisi maupun reaksi fusi, jauh lebih perkasa perkasa dibandingkan reaksi kimia yang sudah dikenal umat sampai kini, sebagaimana yang telah diperlihatkan letusan “bom atom” dan letusan “bom hidrogen” yang amat menakutkan umat di muka bumi ini.

F. Reaksi Nuklir Gabung Dingin
Apabila hidrogen besentuhan dengan beragam logam, antara lain: nikel, palladium, dan lainnya akan terjadi apa yang kemudian dinamakan orang dengan istilah reaksi gabung dingin (cold fu-sion reaction). Manakala hidrogen, unsur kimia pembentuk air ini bertemu dengan logam yang telah disebutkan, akan timbul reaksi nuklir yang juga membebaskan “panas” berikut produk transmutasinya. Reaksi gabung dingin juga dikenal dengan Reaksi Nuklir Tenaga-Rendah (RNT-R), atau Low-Energy Nuclear Reaction (LENR), dan yang akhir ini dapat menjadi menjadi penyedia “air-panas” bersih dan membangun uap-bertekanan dalam bejana yang boleh diguna-kan memutar turbin untuk membangkitkan tenaga listrik. Dari kemasan x-y, disini: x = RNTR yang memproduksi uap-bertekanan, dan y = turbin uap yang memutar generator pembangkit te-naga listrik layaknya sebuah PLTU. Umat bermimpi menantikan datangnya Elemen Reaksi Gabung Dingin (ERGD) atau Cold Fusion Reaction Element (CFRE), yakni sebuah batere umur panjang, sehingga suatu ketika orang dapat membeli: sepeda motor, mobil, dan lain sejenisnya, lengkap dengan STG listrik yang akan habis muatannya bersamaan masa pakai ekonomis ken-daraan (vehicle’s economic service life), misalnya: 5 atau 10 tahun, lalu ERGD dan kendaraan di daur ulang kembali.

G. Tanaga Terbarukan
a. Peladangan Cahaya Matahari
Kemasan x-y lain yang kini berkembang di sejumlah negara untuk menurunkan pencemaran atmosfer yang telah timbul, dimanfaatkannya apa yang dinamakan orang tenaga terbarukan (re-newable energy). Adapun contoh jenis tenaga yang kian digandrungi umat di berbagai belahan bumi saat ini, ialah panen cahaya matahari diubah langsung menjadi listrik menggunakan pengu-bah fotovoltaik (photovoltaic converter). Dari kemasan x-y, disini: x = cahaya matahari, dan y = alat pengubah fotovoltaik. Lahir dengan demikian peladangan cahaya matahari yang memanen “cahaya matahari” mulai dari Eropa, lalu menyebar ke Amerika, dan Asia, mulai daratan hingga lepas pantai, untuk kawasan dimana matahari bersinar terang ditemukan sepanjang tahun. Sebu-ah peladangan cahaya matahari dapat terdiri: mulai beberapa sampai ribu bahkan lebih bilangan papan, dan membentuk apa yang kemudian dikenal dengan: Pusat Listrik Tenaga Cahaya Mata-hari (PLTCM).
Sebuah keluarga yang melakukan peladangan cahaya matahari sekitar rumah mulai atap rumah sampai halaman, kini telah dapat memenuhi tenaga listrik keperluan sendiri. Tampaknya kelu-arga demikian membutuhkan listrik PLN hanya malam hari karena matahari telah tenggelam, manakala keluarga itu belum memiliki instalasi batere tempat menyimpan tenaga listrik. Apabila keluarga ini menghasilkan tenaga listrik lebih dari yang dikonsumsi, kelebihannya dapat lang-sung dijual ke PLN, sehingga rekening listrik keluarga untuk pemakaian malam hari dapat diturunkan.

b. Peladangan Tenaga Angin
Adapun tenaga terbarukan lain yang mudah diketahui ialah angin. Dari kemasan x-y, disini: x = aliran udara, muncul karena permukaan bumi mendapat pemanasan matahari, dan y = baling-baling udara yang mengubah gerakan molekul-molekul udara (tenaga kinetik) menjadi gerakan putar baling-baling udara yang memutar generator listrik menggunakan hukum aerodinamika. Timbul peladangan “tenaga angin” diawali dari Eropa, lalu menyebar ke Amerika, dan Asia, dari daratan hingga lepas pantai, dimana angin terdapat berhembus sepanjang tahun. Sebuah peladangan angin dapat memuat sebuah menara tinggi, di puncak mana terdapat baling-baling udara berdaun tiga memutar generator listrik. Sebuah perkebunan angin dapat memiliki puluhan, ratusan, bahkan ribuan menara tinggi dengan sebuah baling-baling udara diuncaknya memutar generator-generator listrik yang bekerja paralel, dikenal dengan: Pusat Listrik Tenaga Angin (PLTAn).

c. Peladangan Panas Matahari
Tenaga terbarukan lain ialah panas matahari yang kini telah cukup lama digunakan di Spanyol. Tenaga terbarukan sama kini tengah dikembangkan di gurun Afrika Utara, dan tenaga listrik di-hasilkan sesuai rencana akan dikirim lewat SUTET ke negara-negara Uni Eropa. Apa yang diker-jakan disini ttidak lain sebuah PLTU, hanya “panas” dibutuhkan datang dari matahari yang sam-pai di muka bumi. Dari kemasan x-y, disini: x = ialah periuk tempat bertanak air yang meng-hasilkan uap-bertekanan terdapat di tengah PLTU dikelilingi ribuan cermin, dan y = turbin uap yang bekerja mengubah tenaga potensial uap menjadi gerakan putar turbin yang menggerakkan generator listrik. Setiap hari, mulai matahari terbit di ufuk Timur sampai tenggelam di Barat, setiap cermin ini akan mengatur posisi masing-masing sedemikian rupa, sehingga cahaya dan pa-nas matahari yang dipantulkannya akan senantiasa tertuju ke periuk. Sebagai akibatnya, suhu periuk menjadi amat tinggi, sehingga air didalamnya cepat mendidih dan menghasilkan uap- bertekanan. Yang disebut akhir ini lalu digunakan untuk menggerakkan turbin-uap yang memu-tar generator listrik. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Panas Matahari (PLTPM).

d. Perkebunan Panas Bumi
Panas bumi muncul dekat permukaan, antara lain ditemukan di daerah pegunungan dan sekitar gunung berapi aktif atau lainnya, juga tergolong tenaga terbarukan. Apa yang dilakukan disini juga mewujudkan sebuah PLTU, hanya “panas” digunakan diperoleh langsung atau tak-langsung dari dalam perut bumi. Dari kemasan x-y, disini: x = periuk tempat bertanak air menghasilkan uap-bertekanan, dalam hal ini didapat dari dalam perut bumi dengan cara mengebor hingga ke sumber panas. Ada kalanya uap-bertekanan tidak langsung keluar dari dalam perut bumi setelah dibor sampai ke sumber panas, dalam keadaan demikian air bersih perlu disuntikkan kedalam sumur bor agar uap-bertekanan mengalir keluar, dan y = turbin uap untuk mengubah tenaga po-tensial uap menjadi gerakan putar turbin-uap yang memutar generator listrik. Lahir Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB).

e. Tenaga Air
Tenaga terbarukan lain yang banyak dimanfaatkan di berbagai negara ialah tenaga air. Tenaga air datang dari matahari yang memanasi permukaan bumi, sehingga air yang adat dipermukaannya lalu menguap menjadi awan. Yang akhir ini lalu dibawa angin ke berbagai jurusan, dan setelah mendingin kembali menjadi air yang kembali jatuh ke bumi sebagai hujan. Terdapat dua macam tenaga air yang diperoleh dari hujan, masing-masing: “tenaga potensial” karena air terhimpun di dalam: kolam, waduk, danau, waduk, sungai, dan lainnya terletak pada suatu ketinggian diatas permukaan laut, dan aliran air deras dari bermacam sungai curam yang mempunyai “tenaga ki-netik. Tenaga air golongan pertama amat tergantung dari hasil kali: Q.l, dimana: Q menyatakan aliran (debit) air dalam m3/det, sedangkan tinggi jatuh air l (m); sedangkan yang kedua juga tergantung debit Q (m3/det), lainnya kecepatan air mengalir dalam v (m/det). Terhadap golongan pertama, kemasan x-y, disini: x = aliran air (Q) dan tinggi jatuh l (m), dan y = baling-baling atau turbin air yang diterapkan mengubah tenaga potensial air, menjadi gerakan turbin-air yang me-mutar generator listrik memanfaatkan kaidah hidrodinamika. Lahir dengan demikian Pusat Lis-trik Tenaga Air (PLTA). Tergantung hasil kali Ql didapat, PLTA dibedakan kedalam daya: amat besar, daya besar, daya menengah, daya sedang, daya kecil, dan daya sangat kecil. Dan yang a-khir ini dinamakan PLTA-mikro, dan di Tanah-air umumnya disebut mikro-hidro. Terhadap golongan kedua, kemasan x-y, disini: x = aliran air (Q) dan kecepatan air v (m/det), dan y = ba-ling-baling digunakan untuk mengubah tenaga kinetik air, menjadi gerakan turbin-air yang me-mutar generator listrik menerapkan kaidah hidrodinamika, dan dinamakan PLTAir Deras, di-singkat (PLTAD).

f. Tenaga Gelombang
Angin berhembus kencang di permukaan laut atau samudra akan menyebabkan timbulnya gelombang air yang menghempas di pantai. Gulungan gelombang air laut bergerak menuju pan-tai termasuk kedalam golongan tenaga air terbarukan. Banyak negara khususnya yang telah maju berhasil memanfaatkan gelombang air untuk memperoleh listrik yang dibutuhkan mercu suar, juga sekelompok masyarakat terpencil yang berdiam di tepi pantai, dan lainnya. Dari kemasan xy, disini: x = gelombang air laut, dan y = pengubah tenaga gelombang air menjadi gerak me-manfaatkan kaidah aerodinamik, atau hidrodinamika, atau gabungan dari keduanya. Lahir de-ngan demikian Pusat Listrik Tenaga Gelombang Air Laut (PLTGAL).

g. Tenaga Arus Bawah Laut
Arus-arus air dasar laut hingga samudra juga termasuk tenaga terbarukan bersumber dari dalam laut. Sekarang sumber tenaga terbarukan ini mulai dilirik bergabai negara maju untuk diubah menjadi tenaga listrik yang dapat mengurangi pencemaran atmosfer bumi. Dari kemasan x-y, disini: x = arus bawah laut yang timbul karena perbedaan suhu air di permukaan dengan suhu air pada kedalaman laut tertentu, dan y = baling-baling air yang mengubah gerakan molekul-mole-kul air (tenaga kinetik) menjadi gerakan putar baling-baling air yang menggerakkan generator listrik menerapkan hidrodinamika. Dengan demikian, peladangan tenaga aliran air-laut dalam berkembang, lalu menyebar ke segala penjuru dunia dimana terdapat sumber-sumber arus bawah laut dalam yang dapat dimanfaatkan. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Arus Bawah Laut Dalam (PLTABLD).

h. Tenaga Suhu Air Laut
Perbedaan suhu air laut yang terdapat di permukaan dengan suhu air laut yang berada pada suatu kedalaman, kini telah dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan tenaga listrik. Cara pengubahan diterapkan adalah juga sebagaimana PLTU, oleh perbedaan suhu air laut yang berbeda yang samasekali tidak memerlukan bahan-bakar, karena termasuk kelompok tenaga terbarukan. Dari kemasan x-y, disini: x = perbedaan suhu air laut, dan y = turbin-uap yang digunakan untuk mengubah uap-bertekanan menjadi gerakan putar turbin yang memutar generator listrik.

i. Tenaga Kilat
Kilat yang sambar-menyambar di angkasa, tidak diragukan lagi adalah listrik yang bertenaga besar oleh tegangan yang sangat tinggi: “jutaan volt” dan arus mengalir yang juga besar: “ribuan Ampere”, mampu menghanguskan pohon kayu besar. Perlu dicatat “kilat” adalah juga “petir”, hanya saja perbedaannya: yang pertama apa yang disaksikan dengan mata, sedangkan yang ke-dua ialah yang dapat didengar oleh telinga. Dengan tegangan yang sedemikian tinggi, kilat dengan mudah dapat menyambar kemana-mana di angkasa, baik antara awan dengan awan keti-ka muatan listrik keduanya berlawanana, demikian pula antara awan dengan, ketika muatan lis-trik keduanya sedang berlawanan. Kilat sambar-menyambar di angkasa antara awan dengan awan berlainan muatan tidak dapat ditangkap, akan tetapi kilat dari awan yang menyambar bumi dapat ditangkap guna diperas tenaga listriknya. Beragam percobaan telah dilakukan di sejumlah negara maju, tidak terkecuali di Indonesia, memancing kilat dengan meluncurkan roket berekor logam menuju awan yang sedang bermuatan untuk mendapatkan tenaga listriknya. Penelitian dan pengujian terus berlangsung dimana-mana di muka, akan tetapi belum lagi dapat diketahui bila sebuah Pusat Listrik Tenaga Kilat (PLTK) dapat diwujudkan.

Kesimpulan
Dari apa yang sudah dikemukakan diatas, tampak jelas, bahwa: “panas” yang diperoleh dari hasil reaksi kimia, demikian juga pengembangannya sejak awal revolusi industri lebih dari dua abad silam, telah menjadi penyebab utama pencemaran atmosfer yang mengitari planit biru tempat u-mat berdiam, oleh hasil pembakaran bahan-bakar fossil: BBP, BBM, dan BBG yang digali dari dalam perut bumi. Pencemaran atmosfer diperparah oleh “daya-guna” atau efisiensi yang diperoleh rendah, untuk sebuah MPD sekitar 25%, sehingga sebagian besar (75%) panas hasil pembakaran bahan-bakar dihasilkan pembakaran hanya terbuang percuma memanasi udara se-kitar. Manakala bahan-bakar nabati (biofuel) atau biomasa (biomass) yang digunakan, pencemaran atmosfer dari unsur belerang atau sejenis memang berkurang, akan tetapi efisiensi MPD digunakan tetap tidak membaik. Tampaknya kedepan, STG memanfaatkan panas hasil reaksi ki-mia atau pembakaran bahan-bakar fossil harus dilenyapkan dari muka bumi, untuk menghilangkan pencemaran atmosfer bumi yang tidak lagi kehendaki umat di bumi.
Dilai fihak, tenaga listrik yang berasal dari elemen kimia kedepan perlu mendapat perhatian. Pengubah Listrik Gerak (PLG) atau Electro Mechanic Conversion (EMC) mempunyai banyak pilihan dan beragam pula, dan samasekali tidak menghasilkan bahan pencemar yang dapat me-ngotori atmosfer bumi. Demikian juga tenaga listrik yang diperoleh dari sel bahan-bakar yang menggunakan bahan-bakar hidrogen. Untuk memperoleh tenaga gerak, diperlukan mesin listrik yang bekerjasama dengan elemen kimia untuk menghasilkan gerakan putar. Perlu dicatat, mesin listrik memiliki efisiensi tinggi mengubah tenaga listrik menjadi tenaga gerak, yakni 85%, lebih . dari “tiga kali” MPD Dengan demikian umat tidak perlu lagi menggali kedalam perut bumi ribuan meter dalamnya sekadar untuk memperoleh bahan-bakar fossil, sebaliknya elektrolit dapat dihasilkan dari kedalaman perut bumi kurang dari 100 m.
Dalam menuntun umat hijrah dari STG menggunakan bahan-bakar fossil ke STG listrik meman-faatkan elemen kimia di Asia Tenggara dan bagian dunia lain, dimulai dari desa lewat penyulu-han. Kaum remaja mesjid dan lainnya mendapat bimbingan dari seorang penyuluh dari mesjid dan lainnya, mencari cairan elektrolit diperlukan beserta elektroda diperlukan. Untuk elektrolit dapat digunakan cairan bermacam tanaman tumbuh di seputar kampung diperas dari beragam buah, daun, atau batang; demikian juga bermacam cairan dihasilkan hewan dan manusia. Penyuluh menerangkan kepada para remaja tegangan listrik (Volt) dihasilkan dua logam berbeda yang dicelupkan kedalam elektrolit, juga menerangkan arus listrik (Ampere) yang mengalir melalui bola lampu tengah menyala. Tegangan dan arus merupakan dua besaran listrik yang menentukan daya listrik (Watt) yang dihasilkan sebuah elemen kimia.
Apa yang harus dikerjakan kaum remaja pada usaha awal ini, menemukan elektrolit beserta pa-sangan logam yang memperlihatkan tegangan yang tinggi. Yang akhir ini akan menjadi kunci daya dihasilkan besar, demikian pula arus mengalir. Para remaja juga perlu menghubungkan ele-men-elemen kimia kedalam hubungan seri, agar lampu dapat menyala lebih terang. Demikian juga hubungan paralel yang dibutuhkan. Dengan modal elektrolit dari kampung sendiri, dan pa-sangan logam berikut bola lampu didatangkan dari kota, anak-anak desa dapat mengganti lampu minyak-tanah juga lampu minyak-kelapa yang menghitamkan hidung dengan lampu listrik ele-men kimia yang bersih. Kelak, kaum remaja yang telah dibangunkan rasa ingin tahu mereka, akan menjadi pengembang elemen-elemen kimia maju daya besar dan ramah lingkungan yang akan menghindarkan bumi dari beragam pencemaran.
Panas hasil reaksi nuklir yang diubah menjadi listrik kian banyak digunakan perekonomian ber-bagai negara maju guna memenuhi kebutuhan: industri, transportasi, pemukiman, dan banyak lagi lainnya, kendati dibayangi ketakutan akan penyebaran bahan radioaktif berbahaya dari Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fisi (PLTNFi) yang bocor menuju lingkungan. Sebaliknya Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fusi (PLTNFu) yang tidak menghasilkan bahan radioaktif, kini sedang dikerja-kan di Perancis. Masih banyak penelitian yang harus dilakukan untuk menghindarkan dampak negatif yang ditimbulkan PLTNFi di muka bumi kedepan.
Tenaga dibangkitkan reaksi gabung dingin (cold fusion reaction) menjadi harapan untuk mewujudkan STG keperluan kendaraan bermotor yang tidak lagi mencemari atmosfer. Tidak ter-hitung banyak penelitian, pengujian, dan evaluasi hasil yang perlu dikerjakan untuk menemukan pilihan terbaik yang dapat menurunkan pencemaran lingkungan hidup yang telah timbul di bumi sejak revolusi industri silam, bahkan menghilangkannya samasekali. Kini terbentang dihadapan generasi muda Asia Tenggara, demikian juga bagian dunia lain yang kian besar jumlahnya, tan-tangan menjadi khalifah di muka bumi membentengi planit biru dari limbah gunung-api bikinan manusia sendiri. Harus ditemukan dari harta karun SDA bumi yang keanekaragaman bahan, mulai: mineral, logam, dan lainnya sampai elektrolit terbaik digunakan untuk membuat elemen kimia yang membangkitkan tenaga listrik guna diubah menjadi gerak oleh mesin listrik, menyediakan keperluan beragam industri dan lainnya, tidak terkecuali angkutan, mulai: darat, laut, hingga udara.
Khusus terhadap sumber tenaga terbarukan, dapat dikembangkan dimana saja dengan bebas di muka bumi sejauh potensi yang ada dapat dikembangkan dengan ekonomis, karena samasekali tidak membutuhkan bahan-bakar apapun ragamnya, dan tidak juga mencemari lingkungan hidup di bumi apapun bentuknya, tidak terkecuali atmosfer yang mengitari bola bumi ini.

Kembali Ke Rumah Ilahi
Setelah lebih dua abad lamanya berlangsung, revolusi industri telah menimbulkan perubahan ik-lim nyata di bumi, akibat aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan yang berjalan tanpa henti menelusuri perjalanan waktu hingga kini, dengan jumlah yang semakin me-ningkat dan ragam semakin berubah. Umat kemudian semakin sadar, bahwa aliran benda (mate-ri) ini tidak saja menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan hidup umat yang semakin pa-rah, tetapi juga menimbulkan dampak buruk terhadap ekosistem bumi, dan kini telah menggang-gu kesehatan umat di berbagai kawasan planit ini. Itulah sebabnya, mengapa langkah nyata harus dibuat untuk mengatasinya, bahkan menghilangkan pengaruhnya samasekali. Adapun keadaan lingkungan hidup muka bumi yang ingin dicapai, ialah keadaan sebelum revolusi industri di Eropa silam dimulai, bahkan keadaan yang lebih baik dari itu.
Rumah Ilahi, ialah tempat di muka bumi yang sudah ditentukanNya, dipimpin mereka yang telah memperoleh petunjukNya, sebagaimana yang telah diutarakan sebelumnya. Rumah Ilahi menjadi garis depan, tempat-tempat dimana umat berhubungan langsung dengan para wakilNya di muka bumi: dimana Imam (Pengurus) Mesjid beserta jajaran mereka umat Islam, demikian juga para Pengasuh Rumah-rumah Suci agama dan kepercayaan lain beserta jajaran mereka untuk umat agama dan kepercayaan lain. Demikian awalnya gagasan berdirinya mesjid untuk umat Islam yang diperkenalkan Nabi Muhamad SAW silam, juga dikehendakinya berjalan hingga akhir zaman. Lalu timbul pertanyaan, bagaimana hal ini dilakukan.
Dalam surat ke-13 Ar-Rad (Guruh), Ayat 11, telah dikatakan dalam Al-Quran:

13_13

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dimuka dan dibela-kangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah767. Sesungguhnya Allah tidak mengubah kea-daan suatu kaum, sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.768 Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekalikali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
767 Selain yang menjaga, ada juga malaikat yang mencatat, dan namanya Hafazhah
768 Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.

Sebuah Intermeso
Pada suatu ketika, televisi Al-Jazeera dari Qatar menyiarkan laporan operasi jantung berlangsung di sebuah Rumah Sakit India. Negara yang sebahagian besar warganya beragama Hindu yang berusia lebih dari dua ribu tahun, melahirkan budaya dan adat-istiadat unik dan sangat menarik di muka bumi. Itulah sebabnya mengapa banyak sekali turis dari mancanegara yang datang berkunjung ke India, tidak terkecuali para turis menjalani pengobatan (medical tourism), terma-suk mereka yang menjalani operasi jantung dari beragam bangsa. Menjelang operasi dilang-sungkan, pasien dan keluarga pertama disambut acara keagamaan dipimpin seorang pendeta Hindu tidak terkecuali dokter-dokter jantung dengan para stafnya dan kelompok perawat yang dilibatkan. Operasi jantung yang serius dilangsungkan termasuk memperagakan keahlian ilmu kedokteran mutakhir yang terlihatt sederhana. Setelah beberapa lama operasi berlangsung, pasien lalu siuman. Ketika ditanyakan, bagaimana rumah sakit negeri Mahatma Gandi itu bisa terkenal di dunia dengan lebih dari 5000 operasi jantung per tahun, Dr Devi Shetti pemimpin rumah sakit jantung tersohor itu menjawab, bahwa ia terinspirasi oleh kata-kata Ibu Theresa, biarawati Ka-tholik asal Hongaria yang telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya di India menolong orang-orang tidak mampu. Biarawati terkenal itu pernah berkata kepadanya suatu ketika, bahwa dibalik bibir-bibir yang fasih membacakan doa, harus juga ada tangan-tangan terampil dengan jemari yang cekatan mengerjakan.

Apa Yang Harus Dilakukan?
Revolusi industri diawali dari Eropa lebih dari dua abad silam, tidak diragukan lagi bermaksud mengganti sistim kemasyarakatan lama yang tidak lagi sesuai dengan keadaan ketika itu, dengan yang baru lebih cocok dengan zaman menggantikan. Sebuah revolusi apapun bentuknya tunduk kepada aturan umum yang mengaturnya, yakni: revoltare dan revolvere. Revoltare ialah bagian revolusi bertugan menumbangkan sistim kemasyarakatan lama yang tidak lagi cocok dengan keadaan tengah berlangsung, sedangkan yang kedua bagian yang menciptakan sistim kemasya-rakatan baru lebih baik dari ebelumnya. Keberhasilan sebuah revolusi menelusuri perjalanan waktu ditentukan keberhasilan revolvere memperbaiki keadaan sebelum revoltare digulirkan, karena manakala tidak kekacauan (khaos) akan timbul, dan akan mengorbankan mereka yang telah menggerakannya.
Setelah revolusi industri berlangsung di muka bumi lebih dari dua abad, keadaan lingkungan hidup di planet ini masih dalam wilayah revotare. Ini dapat dikenali dari pencemaran di muka bumi yang semakin buruk menelusuri waktu, meski telah tampak kesadaran umat akibat pencemaran yang ditimbulkan revolusi industri bikinan manusia termasuk upaya manusia untuk meng-atasinya. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengatasinya, meski belum lagi memadai me-ngingat revolusi industri telah berjalan dalam hitungan abad. Sebagaimana yang telah dikemuka-kan sebelumnya, keadaan yang ingin diraih, ialah sebelum dimulainya revolusi industri silam, bahkan yang lebih baik dari itu, sebagaimana yang dituntut revolvere dan tidak dapat ditawar.
“Untuk mengubah keadaan kaum”, sebagaimana yang disampaikan dalam surat: Ar-Rad (Gu-ruh), Ayat 11, manusia perlu menyimak kembali filsafat Islam yang telah berkembang dari Irak hingga Andalusia kemudian Eropa, menyebabkan di bagian benua itu bersemi pengetahuan tepat guna yang mengantarkan umat meraih peradaban kini berlangsung. Pengetahuan tepat guna beserta analisa ilmu yang dikembangkan, telah mengantarkan umat membuat STG (MES) de-ngan “bahan-bakar fossil” keperluan beragam industri termasuk transportasi yang menimbulkan aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan yang mencemari lingkungan hidup umat berabad lamanya hingga hari ini; maka dengan filsafat Islam yang sama tetapi sudut pandang sebaliknya, memanfaatkan STG (MES) listrik menggunakan bermacam “elemen kimia” termasuk pengembangannya, menghentikan aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan yang sudah mencemari lingkungan hidup umat, juga meyiapkan Cadangan Berputar, dikenal dengan Bank Bahan Baku (BBB) .
Apa yang ingin dicapai filsafat Islam sudut pandang yang berlawanan ialah, agar setiap anak manusia yang hidup di muka bumi menerima dan memanfaatkan akal sehat yang terkandung di dalamnya, karena memang itulah yang sebenarnya maksud dari surat Ar-Rad, Ayat 11, karena demikian pula prasyarat yang diminta Allah kepada umat untuk mengabulkan perbaikan keadaan suatu kaum di muka bumi, yakni dengan menghilangkan segala pencemaran lingkungan hidup di muka bumi.

Laboratorium Bumi
Untuk menghadirkan lingkungan hidup yang dibutuhkan beragam makhluk yang ada di muka bumi menelusuri waktu, diperlukan laboratorium yang bertugas memantau keadaan lingkungan, rupa: udara, air, dan darat, dan akan disampaikan berkala untuk diketahui masyarakat di dunia. Dengan sendirinya harus terlebih dahulu ditetapkan apa yang dinamakan: “Standard Lingkungan Hidup” (SLH) muka bumi yang menjadi hak setiap makhluk yang dilindungi hukum menelusuri perjalanan kedua alam fana di muka bumi, menjelang revolusi industri dimulai dari Eropa silam, sehingga semua makhluk yang hidup di muka bumi dapat menjalani kehidupan normal sebagai-mana dikodratkan Ilahi kepada mereka, tidak terkecuali manusia.
Laboratorium demikian tidak akan segera terbentuk, apalagi bila harus mencakup seluruh per-mukaan bumi, karena akan terdiri dari sejumlah laboratorium penelitian yang kini telah terdapat di bumi, tersebar kedalam beragam negara, dan dilola sejumlah bangsa yang telah sadar akan dampak pencemaran yang telah ditimbulkan revolusi industri diawali dari Eropa silam, dan me-nyebabkan munculnya berbagai penyakit, antara lain: kanker, kelahiran anak-anak cacat, mun-culnya kecacatan mental, dan masih banyak lainnya; bahkan belakangan ini anak-anak yang su-dah pikun di usia balita karena keluarga bermukim tidak jauh dari industri pengolahan mineral (smelter) digali dari perut bumi di bekas Negara Komunis.
Tidak dapat disangkal, IB (Ibu Bumi) sangat memerlukan kepedulian umat yang diasuh mulai la-hir ke dunia sampai akhir hayat. Karena hanya dengan kepedulian umat, IB akan dapat me-ngemban tugas mengasuh setiap makhluk yang ada di muka bumi menyediakan: tempat tinggal, sandang, pangan, dan lain sebagainya, setelah berhenti menyusu pada IK (Ibu Kandung) sekitar dua tahun lamanya. Laboratorium bumi dengan demikian merupakan jembatan atau antarmuka yang menghubungkan makhluk dengan IB, sehingga umat dapat mengetahui keadaan kesehatan yang disebut terakhir dalam mengemban tugasnya. Itulah alasannya mengapa laboratorium bumi harus memantau lingkungan hidup dari: kampung (desa), kecamatan, kabupaten, propinsi, ne-gara, sampai dunia; kesemuanya menjadi bagian dari Informasi Lingkungan Hidup (ILH) yang secara teratur harus dipantau oleh laboratorium bumi. Pada tingkat desa atau kampung berperan Rumah-rumah Ilahi, tidak terkecuali Rumah-rumah Suci agama dan kepercayaan lain, semuanya bahu membahu melakukan penyuluhan SLH kepada masyarakat yang hidup di muka bumi, atau penerima laporan yang menyimpang dari SLH, sehingga petugas berwenang dapat berbuat untuk memperbaiki keadaan sesuai SLH yang sudah diberlakukan.

Dengan terbentuknya jaringan ILH, keadaan/kesehatan IB mudah diketahui, dikelola (dimanage), dilaksanakan, dan disimpan, sehingga keadaannya atau kesehatannya dimana-mana sesuai SLH, dapat dipantau dalam perjalanan waktu, dikhabarkan sebagaimana berita cuaca. Sehubungan dengan yang disebut akhir ini, tidak dapat disangkal harus dibangun kerjasama Antarbangsa (Internasional) diikuti semua negara yang ada di planit ini, karena planit biru ini hanya ada sebuah. Setiap kerusakan di muka bumi oleh perbuatan tangan manusia harus segera dihentikan, karena tidak terdapat kemungkinan bagi umat hijrah ke planit lain. Kini terdapat hanya satu pili-han pada umat di bumi, dan yang disebut terakhir ini dibersihkan dari beragam pencemaran yang telah dibuatt para penghuninya sejak dari awal revolusi industri di Eropa silam, lebih dari dua abad yang lalu.

Departemen Limbah
Untuk mewujudkan SLH ysng sinambung di muka bumi, perlu dibentuk Departemen Limbah di setiap negara di muka bumi. “Departemen Limbah” bertindak sebagai bagian hulu dari upaya umat menghindarkan pencemaran di muka planit biru, sedangkan “Departemen Lingkungan Hidup” berperan untuk bagian hilirnya. Dengan penduduk bumi yang meningkat terus kedepan, perso-alan yang akan dihadapi kedepan, ialah penyediaan: sumber tenaga, pangan, sandang, dan papan, serta lain yang jumlah (kuantitas) kian bertambah dan mutu (kualitas) yang juga membaik. Se-perti yang telah dikemukakan sebelumnya pemenuhan keperluan umat ini, akan meningkatkan jumlah aliran bahan (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan disusul meningkatnya limbah yang kian beragam.
Departemen limbah yang dibentuk di beragam negara, perlu lebih dahulu menangani limbah dari aliran bahan (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan, muncul sejak awal revolusi industri lebih dari dua abad silam, yang telah mencemari bumi hingga hari ini. Perlu juga dikem-bangkan sebentuk teknologi limbah berjalan mundur (waste reverse engineering) guna menge-tahui bagaimana limbah yang telah mencemari muka bumi, mulai: daratan, badan air, udara, hingga angkasa timbul, sehingga cara untuk melenyapkannya dapat ditemukan.
Kini dikenal orang pula ilmu rekayasa bahan (materials science and engineering), yang dapat menciptakan beragam bahan yang samasekali baru diperlukan bermacam industri, yang belum lagi diketahui dampak yang akan ditimbulkannya kelak, apabila kemudian beralih menjadi sampah. Departemen limbah juga perlu mewaspadai teknologi yang dikembangkan umat di mu-ka bumi berjalan berdampingan dengan TMH (Teknologi Mahluk Hidup) ciptaan Ilahi agar tidak saling mengganggu yang tidak diinginkan, karena sama-sama menggunakan beragam unsur kimia yang tercantum dalam tabel Mendeleyev yang sama.
Masih terdapat banyak hal yang menjadi tugas departemen limbah guna mengawal kehidupan umat di muka bumi, agar kedepan umat tidak lagi berurusan dengan unsur-unsur dan bahan ki-mia yang samasekali tidak bersahabat dengan TMH karunia Ilahi.

——— sekian ———

Penulis:
H.M.Rusli Harahap
Pamulang Residence G1
Jalan Pamulang 2, Pondok Benda.
Kode Pos: 15416. Tangerang Selatan.
Tel. 021-74631125.

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.