Posted by: rusliharahap | November 23, 2016

Mengenang Amang Tobang Baginda Parbalohan

MENGENANG

AMANG TOBANG SENGEL HARAHAP,

gelar

BAGINDA PARBALOHAN

Sekapur Sirih

Dengan terlebih dahulu mengucapkan Syukur Alhamdulillah kepada Allah Subhanahu Wataala, selanjutnya berterimakasih kepadaNya, lalu menyampaikan salawat dan salam kepada junju-ngan Nabi Besar Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, penulisan perjalanan hidup Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan bermaksud untuk mengenang kembali perja-lanan hidup yang beliau lakukan bersama adik-adiknya, kahanggi marga Harahap asal Hanopan (Sidangkal) di Bunga Bondar, dan lainnya. Adapun perjalanan yang beliau laksanakan ialah hi-jrah marga Harahap dari Bunga Bondar ke Hanopan (Sipirok)  yang Amang Tobang lakukan ber-sama adik-adiknya, kahanggi Sidangkal, serta lainnya di waktu yang silam. Sebelumnya, marga Harahap Hanopan (Sidangkal) terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka di Tanah Ang-kola oleh meluasnya Perang Paderi (1825-1838) yang akhirnya merambah Tanah Angkola dari Sumatera Barat. Keadaan ini menyebabkan mereka yang berseberangan faham terpaksa mening-galkan kampung halaman untuk mencari perlindungan. Meski serdadu-serdadu Belanda kemu-dian datang menyerang untuk mengalahkan kaum Padri, tetapi zaman Hindia Belanda lalu me-landa Tanah Batak akhirnya.

Dengan kedatangan pemerintah Hindia Belanda ke Tapanuli, zaman keemasan para Raja Batak kemudian berlalu, namun Amang Tobang banyak mewarisi pengalaman dan pengetahuan ka-kek: Demar Harahap, gelar Ja Manogihon dengan istrinya Boru Pohan dari Parau Sorat, ketika itu mengungsi dari Angkola menuju Lobu Sinapang di Padang Bolak. Begitu juga dari ayahanda: Ja Alaan Harahap, gelar Tongku Mangaraja Hanopan dengan ibunda Bolat Siregar di Bunga Bondar. Amang Tobang Baginda Parbalohan memang lahir di Bunga Bondar, dan bernama kecil Se-ngel Harahap, serta dibesarkan di kampung moranya sendiri. Beliau juga sempat mengenyam pendidikan sekolah Gouvernement di Sipirok yan dibuka pemerintah Belanda. Pada saat kam-pung Bunga Bondar bertambah jumlahnya, tidak jarang Raja Marga Siregar menawarkan kesem-patan pada warga kampung mamungka Huta (mendirikan Kampung) yang baru guna mengatasi persoalan tempat tinggal dan lahan tempat mencari nafkah. Amang Tobang sebagai anakboru Bunga Bondar, juga mendapat tawaran mamungka huta yang baru, dan beliau bersama adik-a adik dan kahanggi dari Sidangkal serta lainnya, lalu membuka pemukiman baru di tempat yang kini dikenal dengan Hanopan (Sipirok). Beliau pun lalu diangkat warga menjadi Raja Pamusuk (RP) yang pertama di kampung yang baru dipungka, oleh keberhasilan mendirikan kampung ha-laman marga Harahap yang baru, pengganti yang hilang dalam Perang Padri silam.

Banyak pengalaman disampaikan  Amang Tobang kepada tiga putranya, terlebih beliau ketika itu seorang Raja Pamusuk (RP) di kampung marga Harahap yang belum lama dipungka ketika itu. Sejak beliau masih berada di kampung moranya, Amang Tobang telah menaruh minat berat men-jadi seorang yang menguasai Adat Batak Tanah Angkola. Amang Tobang mengajarkan kepada semua orang apa yang dinamakan: ”Tua ni na mangholongi, ni haholongi” (Untung seorang pe-nyayang akan disayangi orang). Amang Tobang juga memperlihatkan kepada semua kahanggi termasuk anak-anaknya dan para cucu semua, apa yang diperolehnya tentang Adat Batak di bumi ia lahir dan dibesarkan, yakni: “hormat mar mora” (menghagai mora), ialah keluarga marga Siregar dari Bunga Bondar yang telah mendatangkan Ina (Ibu) kepada marga Harahap berdiam di Hanopan yang turun-temurun; ”manat mar kahanggi” (pandai-pandailah hidup bersaudara) mulai dari: Bunga Bondar, Hanopan, hingga ke Panggulangan, demi memelihara keutuhan berkerabat lingkungan Dalihan Na Tolu (Tungku Yang Tiga); “elek mar anak boru” (pandai-pandailah me-ngambil hati para menantu dari kampung Simarpinggan dan kampung lainnya, dimanapun me-reka berdiam.

Adapun kakek Amang Tobang Baginda Parbalohan ialah: Demar Harahap, gelar Ja Manogihon, pada waktu yang silam dikhabarkan tinggal di kampung “Hanopan”, yang bertetangga dengan kampung “Sidangkal”, di pinggir jalan menuju Simarpinggan dari kota Padang Sidempuan, kini sudah menjadi bagian dari kecamatan Padang Sidempuan Barat. Sedangkan ayahnya Ja Alaan Harahap, gelar Tongku Mangaraja Hanopan. Karena Perang Padri telah merambah masuk ke Ta-nah Angkola, maka keluarga Demar Harahap, gelar Ja Manogihon, bersama Istri dan empat o-rang anaknya (empat orang putri: Neser Harahap, Singkam Harahap, Tona Harahap, Nentes Ha-rahap) dan seorang laki-laki (Ja Alaan Harahap), terpaksa mengungsi meninggalkan kampung halaman mereka menuju Lobu Sinapang, di Luhat Harangan, daerah Padang Bolak.

Meski tampaknya pemerintah Hindia Belanda, tidak berusaha untuk mencampuri urusan peme-rintahan kampung yang ada di Tanah Angkola, semuanya masih berjalan menurut Adat Batak se-tempat demi kesejahteraan masyarakat dan kerukunan hidup warga Tanah Angkola, terkecuali kewajiban membayar belasting (pajak) dan bekerja rodi, akan perlahan-lahan pemerintah Belanda yang berkuasa turut pula mencampuri urusan yang berhubungan dengan siapa yang sebaiknya diangkat menjadi “Kampong Hoofd” (Kepala Kampung). Istilah akhir ini memang buatan Belan-da untuk membangun hubungan erat dengan Hakuriaan (Kekuriaan), yakni Luhat bentukan pe-merintah Belanda beserta kampung-kampung yang ada di dalamnya agar berjalan dengan har-monis. Selama menjabat sebagai Raja Pamusuk, Amang Tobang berkantor di bagian depan ru-mah kediamannya, yakni “Bagas Godang” Hanopan. Berhadapan dengan Bagas Godang Hano-pan, diseberang jalan, terdapat “Sopo Godang” Hanopan, dimana semua pertemuan keperluan kampung diselenggarakan. Foto kenangan Amang Tobang: Sengel Harahap (1846-1928), gelar Baginda Parbalohan bersama Inang Tobang: Giring Siregar, gelar Ompu ni Sutor, tidak berhasil ditemukan sepeninggal beliau berdua. Dengan demikian, generasi  penerus tidak dapat  mengetahui bagaimana wajah keduanya. Inang Tobang Ompu ni Sutor, adalah Boru Regar dari Bunga Bondar putri Ja Diatas Siregar.

Pada bulan Desember tahun 1927, Amang Tobang Baginda Parbalohan menyiapkan  rombongan  keluarga yang berniat menunaikan rukun Islam ke-5 dengan menunaikan ibadah Haji ke Madinah dan Mekah di Saudi Arabia. Rombongan yang akan berangkat terdiri dari: beliau sendiri; istri beliau, karena Inang Tobang Ompu ni Sutor telah lebih dahulu berpulang ke rakhmatullah, maka digantikan oleh istri yang baru: Ompu ni Kasibun; adik dari bunga Bondar: Kam-pung Harahap, anak dari Hanopan: Rachmat Harahap, serta cucu dari Hanopan: Nurdin Harahap. Mereka berlima menunaikan ibadah Haji ke Madinah dan Mekah dengan naik kapal laut lewat Belawan. Perjalanan menunaikan Ibadah Haji berlangsung lancar hingga dengan melaksanakan  Tawaf Wada sebagai persiapan kembali ke Tanah Air. Usai menunaikan Ibada Haji ke Tanah Suci di Mekah dan Madinah, Amang Tobang Baginda Parbalohan  mendapat nama/gelar Islam:

Tuan Syekh Muhammad Yunus.

Dalam perjalanan pulang ke Tanah-Air, dalam kendaraan yang mengantarkan rombongan dari Mekah menuju Jeddah, beliau merasa tidak sehat mengutarakan kepada adiknya. Sang adik lalu memeluk erat Abangnya meski ada pertanyaan dari pemilik kendaraan akan kesehatannya. Ru-panya Amang Tobang telah berpulang ke Rachmatullah dalam perjalanan menuju Jeddah, lalu setibanya di kota pelabuhan Arab Saudi itu, beliau lalu dimakamkan di tempat pemakaman u-mum. Dalam perjalana hidup Amang Tobang Baginda Parbalohan dengan Inang Tobnag Ompu ni Sutor, mereka memperoleh karunia 3 (tiga) orang anak, semuanya laki-laki, lahir di Bunga Bondar lalu dibesarkan di Hanopan hingga dewasa. Ketiganya mendapat pendidikan Sekolah Gouvernemen di Sipirok, kemudian berkeluarga. Amang Tobang dan Inang Tobang sempat me-nyaksikan kelahiran para cucu, laki-laki dan perempuan, yang tumbuh cepat menjadi besar pada ketika itu di kampung Hanopan.

Akhirnya, tidak ada gading yang tak retak, maka apabila dalam perjalanan hidup Amang Tobang: Baginda Parbalohan dengan Inang Tobang: Ompu ni Sutor silam terdapat prilaku maupun perbuatan, dan hal-hal yang lain, kurang berkenan bagi hati kahanggi, anakboru, dan mora, demi-kian pula pula lainnya, sudilah kiranya semua memaafkan kekurangan dari keduanya. Dalam lubuk hati kami pomparan (keturunan) paling dalam tetap bersemayam rasa syukur dan terima-kasih yang sebesar-besarnya kepada Allah Subhanahu Wataala yang sudah menganugerahkan kepada kami: Amang Tobang Baginda Parbalohan dan Inang Tobang sebagaimana apa adanya dan sangat kami cintai.

Zaman Hindia Belanda

Pendahuluan

Belanda masuk ke Tanah Batak dan tiba di Angkola dari Sumatera Barat pada tahun 1833, masih dalam hiruk pikuk Perang Paderi (1825-1838) yang belum reda berkecamuk. Karena itu dapat dimengerti, mengapa serdadu-serdadu Belanda mendapat sedikit perlawanan dari Raja-raja se-tempat ketika menyeberang dari Sumatera Barat menuju Tapanuli lewat Rao di Mandailing. Belanda lalu mendirikan benteng Fort Elout di Panyabungan, guna menyatakan keberadaannya di Tanah Batak. Setahun kemudian, Belanda membentuk pemerintahan sipil di Tanah Batak yang ketika itu masih dipimpin seorang Asisten Residen yang berkedudukan di Natal.

Dengan demikian penjajahan Belanda atas Tanah Batak berarti telah dimulai, dan zaman peme-rintahan Hindia Belanda di Tanah Batak pun sudah berjalan. Memasuki zaman Hindia Belanda, Padang Sidempuan menjadi kota besar di Tanah Angkola, sekaligus pusat pemerintahan Hindia Be-landa yang mengatur Afdeeling Tapanuli Selatan, sekaligus ibukota afdeeling tersebut.

Pemerintah Hindia Belanda kemudian mengakhiri keberadaannya di Tanah Batak dengan kedatangan serdadu-serdadu Jepang yang menyerbu dari semenanjung Malaya, lalu menyeberang  selat Malaka masuk ke Nusantara di awal Perang Dunia ke-II silam. Tentara Jepang menghalau pe-merintah Hindia Belanda berkedudukan di Sibolga harus keluar meninggalkan Tanah Batak, dengan memaksa Generaal-Majoor Overtrakker yang terdapat di Pulau Sumatera menyerah tidak bersyarat pada tanggal 28 Maret 1942 pada Jepang tidak terlalu jauh dari Kotacane, menye-babkan penjajahan Belanda atas Tanah Batak berjalan 109 tahun lamanya.

Desa Asal

Bunga Bondar dimana Amang Tobang lahir dan dibesarkan ialah sebuah desa yang terdapat di tepi jalan-raya yang menghubungkan Sipirok di Kabupaten Tapanuli Selatan dengan Soborong-borong di Kabupaten Tapanuli Utara, melalui kota-kota: Sipagimbar, Pangaribuan, dan Sipahu-tar. Jalan-raya ini awalnya sebuah lintasan rimba yang biasa dilalui warga yang bepergian antar kampung, lalu oleh pemerintah Hindia Belanda diubah menjadi jalan-raya yang dapat dilalui kendaraan bermotor menghubungkan Onderafdeeling (sub-bagian) Tapanuli Selatan dengan On-der-afdeeling Tapanuli Utara, lalu dikenal dengan istilah: “jalan pahulu”. Adapun jalan-raya lain, yang juga menghubungkan kedua Onderafdeeling, ialah yang menghubungkan  Sipirok dengan Tarutung lewat Sarulla dan Onan Hasang dikenal dengan istilah: “jalan pahae”. Kedua jalan-raya ini lalu menjelma menjadi jalan penghubung sekaligus uratnadi ekonomi kedua onderafdeeling yang disebutkan, yakni Tanah Angkola yang terdapat di Kabupaten Tapanuli Selatan dan Tanah Toba yang terdapat di Kabupaten Tapanuli Utara.

 

g3-peta-tapanuli

Peta Kabupaten Tapanuli Selatan

Berkunjung Ke Bona Bulu

Daerah Aliran Sungai (DAS) Aek Silo

g9

Kampung Hanopan

RUMAH/BANGUNAN DI HANOPAN

——————————————————–

  1. Rumah/Bangunan sebelum Perang Dunia ke-II
  1. Rumah Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan, Tuan Sjech Mu-hammad Yoenoes, Ompu ni Soetor. Bagas Godang Hanopan.
  • Ompung Abdul Hamid Harahap, gelar Sutan Hanopan, Tuan Datu Singar, Ompu ni Amir.
  • Ayah Sutor Harahap, gelar Baginda Pandapotan, Ompu ni Iwan.
  • Abang Sangkot Muhammad Sjarif Ali Tua Harahap, gelar Mangaraja Hanopan.
  1. Rumah Amang Tobang Sogi Harahap, gelar Baginda Soripada, Ompu ni Nunggar.
  • Ompung Adong Harahap, gelar Sutan Sonanggaron, Ja Balau.
  1. Rumah Amang Tobang Lilin (Sutor) Harahap, Baginda Malim Muhammaf Arief, Ompu ni Sori.
  • Ompung Saribun Harahap, gelar Sutan Martua, Ompung Ja Kidun.
  • Uda Rusli (Cino) Harahap.
  1. Rumah Amangtobang Manis Harahap, gelar Baginda Malim Marasyad, Ompu ni Sindar.
  • Ompung Bangun Harahap, gelar Mangaraja Naposo.
  • Uda Mara Indo Harahap.
  1. Rumah Amang Tobang Paian Harahap, gelar Baginda Malim Moehammad Nuh, Dja Taris, Ompu Daim.
  • Ompung Hadam Harahap, Lobe Yakin.
  • Uda Sangkot, H. Abdul Rahim Harahap, gelar Baginda Taris Muda.
  1. Rumah Amang Tobang Pardo Harahap, gelar Baginda Pangibulan, Ompu ni Kaya.
  • Ompung Ismail Harahap, Ja Lobe, Ompu ni Alibosar.
  1. Rumah Amang Tobang Gardok Harahap, gelar Baginda Malim Muhammad Rakhim, Ja Simin.
  • Ompung Togu Harahap, gelar Mangaraja Sianggian, Ja Mangatur.
  • Uda Lokot, gelar Baginda Pangibulan.
  1. Rumah Ompung Kasim Harahap, gelar Tongku Mangaraja Elias Hamonangan, Ompu ni Paulina.
  • Diwariskan kepada Uda Dimpu Harahap, gelar Baginda Parbalohan Naposo,
  • Anggi Hanopan Harahap.
  1. Sama dengan nomor 8 di atas, tetapi diwariskan kepada:
  • Uda Toga Mulia Harahap, gelar Baginda Mulia.
  • Anggi Amru Bachrum Paranginan Harahap.
  1.   Rumah Ompung Rachmat Harahap, gelar Sutan Habonggal, Haji Abdullah Umar,  Ompu ni Mina.
  • Uda Zainuddin Harahap, gelar Baginda Pardomuan.
  1. Rumah Ompung Borkat Harahap, Ja Mukobul, Ompu ni  Pendi.
  2. Rumah Ja Siantar Batubara, Sengko Batubara.
  3. Kedai Ompungng Ismail Harahap, gelar Ja Lobe.
  4. Rumah Malim Muhammad Arif Harahap, Sormin Harahap.
  5. Sopo Godang Kampung Hanopan.
  6. Rumah Baginda Maripul Harahap, Imbalo Harahap, Ja Bahaman.
  7. Rumah Guru Sapala Siagian, Mulia Siagian, gelar Bgd. Humaliang.
  8. Rumah Ja Soritua Siregar.
  9. Kedai Ja Soritua Siregar, Tamar Siregar.
  10. Rumah Ja Aman Harahap dari Padangbujur, Burhanuddin Harahap.
  11. Rumah Ja Bahal Batubara, Syahban Batubara.
  12. Rumah Amangboru Rosip Pohan, gelar Ja Doktor.
  13. Madrasah Kampung Hanopan.
  14. Rumah Ja Lubuk Nasution, Tohar Nasution.
  15. Rumah Daud Nasution.
  16. Surau Kampung Hanopan.
  17. Mesjid di Kampung Hanopan.
  18. Sekolah Dasar di Kampung Hanopan.
  19. Rumah Ompu ni Aminuddin, Panggorengan.
  20.   Rumah Mahodum Batubara.
  21. Rumah Basari Batubara, Ja Kulabu.
  22. Rumah Rajap Batubara, bangunannya sudah hilang.
  23. Rumah Ja Mandaun Pohan.
  24. Rumah Sutan Barumun Muda Siregar dari Sibadoar, pindahan dari Sibolangit, bangoenannya telah hilang.
  1. Rumah Uda Roup Harahap, gelar Baginda Paraduan.
  2. Rumah Sutan Pangaribuan Harahap.
  3. Vervolgschool 5 tahun Kampung Hanopan, Sekolah Rakjat Hanopan.
  4. Rumah Mara Pohan.
  5. Kedai Mara Pohan.
  6. Rumah Mara Inggan Pohan, pindah ke Simangambat Mandailing.
  7. Rumah Ja Parlaungan Harahap.
  8. Rumah Nan Sere, gelar Ja Riapan, pernah terbakar pada zaman Jepang. (Terbakar sekitar tahun 1959)
  1.   Rumah Uda Baginda Harahap (Baginda Aek Hopur), tidak ditempati.
  2. Rumah Ja Hatunggal Harahap.
  3. Rumah Muhammad Lazim Harahap.
  4. Rumah Ja Paranginan Harahap.
  5. Kedai Ja Paranginan Harahap.
  6. Pemakaman Kampung Hanopan.

– Bale Jae: Tempat Amang Tobang Tongku Mangaradja Hanopan disemayamkan.

– Bale Julu: Tempat Ompoeng Soetan Hanopan, Ompung Mangaraja Elias Hamonangan dan lainnya disemayamkan.

  1.   Rumah Ja Kariaman Harahap, Ja Haruaya Harahap.
  2. Rumah Kalimangayun Pohan dari Lancat Jae. Ibunja Mayur Harahap dari Panggulangan.
  1. Rumah Ja Marliun Harahap.
  2. Kedai Ompung Ismail Harahap, gelar Ja Lobe.
  3. Kedai Sutan Pangaribuan Harahap.
  4. Rumah Sahir Harahap.
  5. Rumah Lolotan Harahap.
  6. Rumah Sayur Batubara, gelar Solonggahon dari Napompar.
  7. Kedai Sutan Pangaribuan Harahap, telah hilang.
  8. Rumah Amangboru Zainudding Simatupang, Siti Angur Harahap.
  9. Rumah Sutan Mangalai Harahap.
  10. Rumah Tahim Harahap.
  11. Kedai Ompung Ismail Harahap, gelar Ja Lobe.
  12. Rumah Uda Marip Harahap, lalu dijual pada Uda Marajali Harahap.
  13.   Rumah Zainuddin Harahap, gelar Baginda Pardomuan.
  14. Rumah milik Ompung Haji Abdullah Umar, gelar Sutan Nabonggal.
  15. Rumah Ja Solonggahon Batubara yang pindah dari Napompar.
  16. Bangunan Mesin Giling Padi Ompung Haji Abdullah Umar.

         Rumah/bangunan berdiri setelah Perang Dunia ke-II.

  1. Rumah Tahim Harahap.
  2. Rumah Horas Siregar.
  3. Rumah Taradin Siregar.
  4. Rumah petak dibangun oleh Sahat Pohan.
  5. Rumah petak dibangun Sahat Pohan.
  6. Rumah petak dibangun Sahat Pohan.
  7. Rumah petak dibangun Sahat Pohan.
  8. Rumah dibangun oleh si Jolil.
  9. Rumah dibangun bersama oleh: Ja Sumuran, Ja Lobe, dan Ismail.
  10. Kedai B.S.P Harahap, dipinjam, diperbaiki, dan dipakai oleh Sahat Pohan.
  11. Tanah milik B.S.P.Harahap, dipinjam dan dibangun bersama oleh Sukarti dan  Ja Marangin.
  1. Tanah milik Ja Manahan Pohan, dan dibangun oleh anaknya.
  2. Rumah Siddik Pohan, gelar Ja Manahan.
  3. Tanah milik Sahat Pohan, dibangun oleh anaknya si Halim.
  4. Tanah milik amangboru Ja Doktor dibangun anaknya si Bonor.
  5. Tanah milik O.Tetty dibangun oleh anaknya si Himpun.
  6.   Tanah milik O.Tetty dibangoen oleh anaknya si Himpun.
  7. Rumah dibangun Baha Pane dari Pagaran Tulason.
  8. Tanah milik Ompung Ratus Harahap, gelar Sutan Pangaribuan, dibangun anaknya Uda Morai Harahap, gelar Baginda Sojuangon.
  1. Rumah dibangun guru Siagian.
  2. Rumah dibangun Musla Harahap.
  3. Rumah dibangun Paruhuman Simatupang, suami si Nanna.
  4. Rumah dibangun oleh Uda Haposan Harahap.
  5. Rumah dibangun oleh Uda Maren Harahap.
  6. Rumah Hasan Pohan.
  7. Rumah Uda Pengeran Harahap.
  8. Rumah Uda Gomuk Harahap.
  9. Rumah dibangun Uda H.M.Diri Harahap S.H., gelar Baginda Raja Mulia Pinayungan.
  10. Rumah dibangun Ja Bahaman. (Rumah dibangun Mangaraja Sopujion (Aspan Harahap) Abang dari Ja Bahaman).
  1. Rumah dibangun Maujalo Harahap, gelar Baginda Soripada Panusunan.
  2. Rumah dibangun Haji Nurdin Harahap untuk anaknya si Muhiddin.
  3. Rumah dibangun Pijor Pane.
  4.   Rumah dibangun Marasaip, pendatang dari Tanjung.
  5. Rumah dibangun Ja Lambok, pendatang dari Bahap.
  6. Rumah dibangun Siti Syarifah Harahap, boru Baginda Soripada Panusunan.
  7. Rumah dibangun marga Gultom, seorang pendatang ke Hanopan.
  8. Rumah dibangun Natsir Simatupang dari Pagaran Tulason.
  9. Rumah dibangun Pangkal dari Pagaran Tulason.
  10. Rumah dibangun marga Sinambela dari Pangkaldolok.
  11. Rumah dibangun anak Ja Lambok.
  12. Rumah dibangun Alimuddin, anak Ja Pidjor dari Pagaran Tulason.
  13. PUSKESMAS Kampung Hanopan hasil upaya Uda H.M.Diri Harahap, gelar Baginda Raja Mulia Pinayungan.
  1. Rumah dibangun Nawi Harahap.
  2. Rumah dibangun guru Riduan Pohan.
  3. SMA Negeri Hutapadang di Kampung Hanopan.
  4. Rumah marga Sihombing, seorang perawat berasal dari Siborong-borong.
  5. Kantor Pos Hutapadang.

Baginda Parbalohan 

Kini desa Bunga Bondar, darimana Amang Tobang Baginda Parbalohan berasal, terletak di Kecamatan Arse, Kabupaten Sipirok. Amang Tobang adalah putra sulung, tetapi anak kedua dari enambelas orang bersaudara, lahir dari dua ibu, bernama kecil Sengel Harahap. Amang Tobang  lahir di Bunga Bondar pada tanggal… bulan… tahun 1846 dan dibesarkan juga di kampung yang sama. Ayahnya: Ja Alaan Harahap, gelar Tongku Mangaraja Hanopan, dan ibunya Bolat Siregar, gelar Naduma Parlindungan, putri Raja Mampe, dari Bunga Bondar, cucu dari Sutan Diapari.

Amang Tobang kemudian bersama 6 (enam) orang adaik-adiknya, membawa kedua orang tua mereka hijrah (pindah) ke Hanopan dari kampung Bunga Bondar, dan berdiam di Hanopan (Si-pirok) sampai akhir hayat mereka. Amang Tobang Sengel Harahap (1846-1928), gelar Baginda Parbalohan, ialah marga Harahap yang awalnya berdiam di Bunga Bondar bersama kedua orang tuanya, adalah anakboru dari Sutan Diapari Siregar. Lalu setelah mendapat kesempatan dari Raja Panusunan Bulung (RPB) marga Siregar yang berkuasa di Luhat Sipirok, berhasil mamungka (mendirikan) kampung yang baru untuk marga Harahap, dan diangkan menjadi Raja Pamusuk (RP) pertama kampung itu. Kampung yang baru terdapat di Luhat Sipirok mereka namakan Hanopan, diambil dari nama kampung Hanopan didekat kampung Sidangkal terdapat di jalan-raya menuju Simarpinggan dari kota Padang Sidempuan, guna mengenang kampung asal Demar Ha-rahap, gelar Ja Manogihon, kakek Baginda Parbalohan, sebelum meletusnya Perang Padri yang lalu berkecamuk dan meluas memasiki Tanah Angkola. Bagi marga Harahap dengan kahanggi dan anakboru serta kerabat lainnya, Hanopan (Sipirok) ini telah menjadi pengganti kampung Hanopan lama dekat kampung Sidangkal yang telah hilang silam.

amang-tobang

Ini adalah foto keponakan Baginda Parbalohan

yang menyerupai beliau.

Amang Tobang Baginda Parbalohan dibesarkan dalam lingkungan keluarga berpengaruh di kam-pung Bunga Bondar dari Luhat Sipirok. Ia tumbuh dan berkembang dalam lingkungan Adat Ba-tak Tanah Angkola yang masih kental, yang membentuknya menjadi seorang penggemar Adat Batak berat di tempatnya berdiam. Pada awalnya ia magang berdagang kain, dan menggeluti pekerjaan itu tetapi juga membekali diri dengan pengetahian dan adat istiadat yang berlaku di daerat Angkola. Akumulasi pengetahuan Adat Batak Angkola diperoleh dari mengikuti berma-cam perhelatan di kampung Bunga Bondar, dan kampung-kampung lain yang berdekatan, me-nyadarkan dirinya akan perlu adanya kampung yang baru untuk marga Harahap pengganti kam-pung yang hilang silam. Selain dari itu, ia juga melihat bahwa kampung Bunga Bondar pun telah semakin padat padat warganya, karena telah menjadi pusat pemerintahan Luhat. Maka ketika Raja Panusunan Bulung (RPB) marga Siregar dari Bunga Bondar sebagai penguasa Luhat Sipirok membuka kesempatan pada warganya mamungka kampung yang baru, anakboru marga Sire-gar di kampung itu pun beroleh kesempatan yang sama. Itulah sebabnya mengapa Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan, anak sulung Ja Alaan Harahap, bersama adik-adik dan kerabat lainnya lalu meninggalkan Bunga Bondar dalam rombongan masuk kedalam rimba membawa bermacam perbekalan untuk mendirikan kampung yang baru. Dengan demikian akan terbuka tempat tinggal yang baru, dan lahan tempat nencari nafkah baru, yang akan diwariskan kepada a-nak cucu yang datang kemudian.

Pada pagi hari disepakati mereka pun berangkan meninggalkan kampung Bunga Bondar menuju rimba menelusuri jalan yang biasa dilewati penduduk bepergian antar kampung Luhat Sipirok. Mereka harus menerobos hutan lebat untuk sampai di kaki Dolok Nanggarjati, dimana kampung yang akan dipungka diperkirakan terletak, tidak jauh dari kampung Huta Padang yang belum lama ada. Pada ketika itu di Bunga Bondar Sutan Ulubalang masih menjadi Raja Panusunan Bulung yang memerintah, dan setelah wafat digantikan oleh adik kandungnya Sutan Doli. Raja Panusunan Bulung di Bunga Bondar ketika itu sedang menghadapi serangan serdadu-serdadu Belanda yang datang dari Sipirok, setelah mereka berhasil masuk ke Tanah Batak dari Sumatera Barat lewat Mandailing dalam Perang Paderi yang mendapat perlawanan yang tidak berarti.

Belanda perlu menaklukkan Raja Panusunan Bulung (RPB) Luhat Sipirok yang berpusat di Bu-nga Bondar ketika itu oleh kedudukan strategisnya terletak di jalan yang biasa dilalui penduduk yang menghubungkan Tanah Angkola di wilayah tengah dengan Tanah Toba di Utara. Setelah berperang melawan serdadu-serdadu Belanda 4 tahun lamanya, maka pada tahun 1851 Belanda berhasil mematahkan perlawanan Sutan Doli yang ketika bertakhta sebagai Raja Panusunan Bulung (RPB), lalu menyingkirkan para penantangnya di kampung marga Siregar itu ke pembu-angan sampai ke Tanah Jawa. Lebih dari satu abad kemudian, dalam masa agresi militer Belanda yang ke-II, pada tahun 1945 serdadu-serdadu Belanda kembali datang ke Bunga Bondar untuk menduduki kampung marga Siregar keturunan Ja Lubuk, gelar Ompu Raja Lintong Soruon itu kedua kalinya, akan tetapi kampung itu telah dikosongkan warganya untuk melakukan perlawanan dengan berperang gerilya.

Setelah berhari jalan-kaki, tibalah rombongan Amang Tobang ke sebuah tempat yang dinamakan orang: “Hayuara Bodil”, tidak jauh dari kampung Arse Jae yang ada sekarang. Mereka mencoba bertanam benih yang dibawa dari bunga Bondar: padi, jagung, dan lainnya, karena ingin mengetahui apakah tempat yang ditemukan baik untuk dijadikan tempat membangun kampung untuk tempat bermukim. Kawasan mereka jelajahi pada saat itu masih tergolong rimba belantara yang dikatakan orang berhantu, juga dimana harimau Sumatera menemukan mangsa. Akan tetapi  usa-ha mereka berhari menanam bibit tenyata gagal samasekali, karena tidak ada yang tumbuh. Rom-bongan Amang Tobang lalu pindah, untuk mencari tempat yang lain, dan setelah berjalan ke arah Selatan tibalah mereka di suatu tempat yang disebut orang: “Padang Suluk”, tidak jauh dari Huta Padang yang sekarang. Pada tempat baru ini, mereka juga berusaha menanam benih yang diba-wa, namun setelah berhari dinantikan benih-benih tidak juga berhasil tumbuh. Kemudian rom-bongan Amang Tobang pindah lagi, dan kini agak ke bagian tengah untuk mencoba tempat lain-nya, dan ternyata pada tempat akhir ini, yang ketiga, bibit-bibit yang ditanam berhasil tumbuh dengan suburnya.

Rombongan Amang Tobang lalu untuk memutuskan mendirikan kampung di tempat yang akhir ini, lalu menamakan tempat itu: “Hanopan” di Luhat Sipirok, guna mengenang kampung Hano-pan dekat kampung Sidangkal yang ditinggalkan Kakek dan Ayahanda Amang Tobang Baginda Parbalohan, saat Perang Paderi berkecamuk dan merambah masuk ke Tanah Angkola silam. Lebih dari dua tahun lamanya rombongan Amang Tobang mengembara meninggalkan keluarga mereka di Bunga Bondar, sebelum kembali pulang mengabarkan keberhasilan mereka mamung-ka huta atau mendirikan kampung yang baru. Bagi pomparan Tongku Mangaraja Hanopan yang lahir kemudian, kampung Hanopan yang terletak dekat kampung Sidangkal, di tepi jalan dari kota Padang Sidempuan menuju ke kampung Simarpinggan, ialah “kampung asal” dari marga Harahap dan boleh disebut sebagai:“Hanopan-1”, sedangkan kampung Hanopan yang terdapat di Luhat Sipirok yang dipungka Amang Tobang Baginda Parbalohan bersama rombongannya, ialah kampung marga Harahap yang berasal dari Hanopan-1, kini dinamakan: “Hanopan-2”.

Kedua kampung Hanopan telah menjadi tempat berharga bagi pomparan (keturunan) Ja Alaan, gelar Tongku Mangaraja Hanopan dimanapu mereka berada. Adapun jalan rimba yang dilalui rombongan Amang Tobang silam, telah diubah pemerintah Hindia Belanda menjadi “sebagian  jalan-raya” yang menghubungkan Sipirok, di Kabupaten Tapanuli Selatan, dengan Siborong-borong, di Kabupaten Tapanuli Utara. Adapaun sejumlah kampung yang dilalui jalan-raya bikinan pemerintah Hindia Belanda ini, ialah: Bunga Bondar, Hanopan-2, Simangambat, Sipagimbar, Pa-ngaribuan, dan Sipahutar. Pemerintah Hindia Belanda telah mengerahkan penduduk untuk bekerja rodi (paksa) mengubah jalan rimba yang telah dilalui penduduk menjadi jalan-raya yang dapat dilalui kendaraan bermotor.

Setelah sejumlah persyaratan Adat Batak di Tanah Angkola dipenuhi, maka pada tanggal 23 Desember 1885, Hanopan-2 yang dipungka oleh marga Harahap dari Bunga Bondar terdapat di Luhat Sipirok lalu diresmikan jadi “Huta”, sekaligus “Bona Bulu” marga Harahap yang mendirikannya. Pada saat peresmian Hanopan-2, Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan, diangkat menjadi Raja Pamusuk pertama di kampung marga Harahap Luhat Sipirok, saat  beliau menginjak usia: 39 tahun. Amang Tobang yang berpendidikan: Sekolah Gouvernement di Sipirok silam, lalu menjadi Raja Pamusuk pertama di Hanopan (Sipirok) sesuai Adat Batak yang berlaku di Tanah Angkola, mulai dari tahun 1885, dan memimpin kampung itu 43 tahun lama-nya, dari tahun 1885 hingga tahun 1928 silam.

Memasuki alam kemerdekaan di Tapanuli, pemerintah Negara Repubik Indonesia (NRI) di Keresidenan Tapanuli dengan ibukotanya Tarutung, kemudian mengeluarkan ketetapan Residen Ta-panuli dengan No.: 274 tertanggal 14 Maret 1946, dan No: 1/D.P.T. tertanggal 11 Januari 1947 yang ditandatangani oleh Dr. Ferdinand Lumban Tobing. Adapun isi keputusan Residen Tapanuli pada ketika itu ialah sebagai berikut: Para Raja yang menjabat di pemerintahan, maupun mereka yang masih berhubungan dengan kegiatan publik di seluruh Tanah Batak, apapun jabatan yang diemban, maka dengan ini diberhentikan dengan hormat, dan disertai ucapan terimakasih. Para penyelenggara pemerintahan yang kemudian menggantikan, akan dipilih dengan cara demo-kratis. Dengan demikian seluruh jabatan Kampong Hoofd (Kepala Kampung) warisan dari peme-rintah Hindia Belanda di Tapanuli sebelum Perang Dunia ke-II silam, diambil alih oleh peme-rintah NRI di Tanah Batak, dan berlaku hingga dengan penyerahan kedaulatan NRI dari pe-merintah Belanda. Catatan tanggal peresmian Hanopan menjadi “Huta” marga Harahap masih dapat dibaca pada sebuah tiang penyangga Sopo Godang Hanopan.

Image0021

Surat Keterangan Kampong Hoofd

Setelah Arse, Huta Padang, dan Hanopa dipungka, kemudian bermunculan pula kampung-kam-pung lain dalam DAS (Daerah Aliran Sungai) Aek-Silo, seperti: Napompar, Roncitan, Huta To-nga, Simatorkis, Bahap, Purba Tua (Pagaran Tulason), Muara Tolang dan Tapus. Hanopan diba-wah kepimpinan Baginda Parbalohan tidak hanya terkenal dalam DAS Aeksilo, tetapi juga  dilu-ar Luhat Sipirok, bahkan sampai ke wilayah Mandailing. Baginda Parbalohan memperoleh ka-runia tiga orang anak, semua-nya laki-laki, masing-masing: Abdoel Hamid Harahap, gelar Soe-tan Hanopan, juga bernama: Tuan Datu Singar; Kasim Harahap, gelar Mangaraja Elias Hamona-ngan; dan Rakhmat Harahap, gelar Sutan Nabonggal. Dengan Inang Tobang Giring Siregar, ge-lar Ompu ni Sutor dari Bunga Bondar, ia lalu digantikan oleh “Inang Tobang panggonti” (pengganti) yang bernaama: Ompu ni Kasibun.

Marga Harahap

Keluarga-keluarga yang bermarga Harahap, baik di Tanah Batak maupun Tanah Perantauan dimanapun berada sesungguhnya berasal dari tempat yang sama di Bona Bulu, artinya mereka datang dari nenek moyang pemersatu yang sama oleh kesamaan  marga. Akan tetapi karena ber-bilang abad telah berlalu, maka sang leluhur pemersatu yang menjadi asal marga, begitu juga tempat berdiamnya silam sudah tidak lagi dapat ditemukan, maka yang tinggal hanya nama marga saja. Lalu muncul marga-marga Harahap yang berasal dari bermacam Huta (Kampung) dan Luhat (Daerah), dan tempat lainnya di Tapanuli. Sementara itu, terdapat keluarga-keluarga marga Harahap yang menyatakan mereka sebagai “Sipungka Huta”, dan Huta tempat mereka berasal di Tanah Batak; dilain fihak terdapat juga keluarga-keluarga marga Harahap yang “bukan Sipungka Huta” dan menyatakan tempat-tempat mereka berdiam di Tanah Batak, namun  memi-liki kekerabatan dengan marga Harahap yang terdapat di Bona Bulu, maupun Tanah Perantauan..

Kini masih dijumpai keluarga-keluarga marga Harahap yang tahu dengan benar kampung-kam-pung yang dipungka para leluhur di Tapanuli dari peninggalan yang diwarikan, antara lain: Bagas Godang (Rumah Adat), sawah, ladang, kahanggi (kerabat), catatan, dan para saksi. Di lain fihak terdapat juga keluarga-keluarga marga Harahap yang sudah tidak lagi tahu kampung asal  mereka di Tanah Batak lampau, lalu berusaha mencari asal-usul mereka lewat kekerabatan de-ngan keluarga-keluarga marga Harahap Sipungka Huta, sejauh yang masih dapat ditelusuri me-lalui kekerabatan yang masih dapat diketahui tersimpan ingatan atau catatan (tarombo). Begitu marga-marga Harahap yang telah bergenerasi tinggal di Tanah Perantauan (Nusantara, atau Mancanegara) juga berupaya menemukan asal usul di Bona Bulu silam lewat kekerabatan dengan para “Sipungka Huta” menurut garis laki-laki atau patrilenial, seperti: Ayah, Kakek, A-mang Tobang, dan seterusnya keatas.

Dalam masyarakat Batak dikenal istilah “Suhut”, yaitu keluarga kecil (keluarga batih) terdiri dari: ayah, ibu, dan satu atau lebih anak. Selanjutnya ada pula “Kahanggi”  untuk menyatakan kumpulan keluarga bermarga sama, datang dari Ayah, Kakek, Amang Tobang, dan lainnya keatas yang semarga. Agar kekerabatan tidak hilang ditelan waktu, menjalani generasi, menempuh zaman, maka suku-bangsa Batak menyusun:Tarombo (Silsilah Keluarga). Yang disebut akhir ini awalnya disuratkan pada: kulit kayu, bilah bambu, atau lainnya, dalam aksara Batak, dan membentuk bangun piramida. Dalam bahasa Indonesia tarombo dinamakan juga:  “rumpun keluarga”, terjemahan dari bahasa Belanda: “stamboom”, atau bahasa Inggris: “family tree”. Tarombo dalam masyarakat Batak merupakan himpunan dari nama Kahanggi yang datang dari satu marga, dalam hal ini marga Harahap dari Hanopan menurut garis kebapaan, atau patrilenial.

Dengan datangnya agama Islam, ke Nusantara pada sekitar abad ke-13 Masehi, lalu masuk ke Tanah Batak dalam Perang Paderi (1825-1838) dan memperkenalkan aksara Arab, tarombo Batak beralih disuratkan dalam aksara Arab. Dengan diperkenalkannya aksara Latin oleh pemerintah Hindia Belanda melalui “Sekolah Gouvernemen” menjelang abad ke-20, tarombo yang disimpan dan dipelihara oleh marga-marga Harahap dari bermacam Huta dan Luhat di Tapanuli Selatan dialih-kan penyuratannya kedalam aksara Latin. Dari tarombo yang demikian dapat diketahui kekera-batan keluarga-keluarga bermarga Harahap datang dari berbagai kampung di Bona Bulu hingga dengan mereka yang telah berdiam di Tanah Perantauan. Melalui tarombo demikian juga dapat diketahui pertalian darah antara bermacam marga yang terdapat di Tanah Batak yang menjadi-kan keluarga besar bernama: “Dalihan Na Tolu (Tungku Yang Tiga)”, baik yang berdiam di Ta-panuli, maupun yang telah berada perantauan, Nusantara dan Mancanegara.

Sampai saat ini, tarombo masih dipelihara dan dikembangkan oleh berbagai marga dalam ma-syarakat suku-bangsa Batak, baik oleh mereka yang berdiam di Bona Bulu maupun yang telah berada di Tanah Perantauan, utamanya oleh mereka Sipungka Huta, baik yang didapat dari peninggalan leluhur silam, maupun yang dikembangkan kemudian melalui penelusuran ulang oleh prakarsa mereka yang sadar, untuk disampaikan kepada generasi penerus mulai kampung halaman di Bona Bulu sampai Tanah Perantauan. Kota Padang Sidempuan berikut wilayah sekitar-nya merupakan tempat asal marga Harahap di Tapanuli, terdapat di Kabupaten Tapanuli Selatan. Dalam wilayah yang luas ini dapat dengan mudah ditemukan sejumlah kampung asal marga Ha-rahap, antara lain di Utara: Losung Batu, Hutaimbaru, Siharangkarang, dan lainnya. Di Tengah, didalam kota Padang Sidempuan itu sendiri: Batuna Dua, juga kampung asal marga Harahap. Di  Timur, kini telah masuk kecamatan Padang Sidempuan Timur: Pargarutan, adalah kampung asal marga Harahap lainnya. Di Selatan terletak kampung asal marga Harahap yang bernama: Pijor Koling. Di sebelah Barat kota Padang Sidempuan, kini termasuk dalam kecamatan Padang Sidempuan Barat, terdapat lagi kampung Hanopan dan kampung Sidangkal, dua kampung bertetangga asal marga Harahap, terdapat di pinggir jalan yang menuju ke kampung Simarpinggan.

Tarombo Marga Harahap

TAROMBO MARGA HARAHAP

HANOPAN (SIDANGKAL)

————————————-

Generasi Pertama

* Ompu Raja Guru Sodungdangon di Nagasaribu

Generasi Kedua

   Keturunan Ompu Raja Guru Sodungdangon:

                                                    * 1. Datu Dalu dengan istri boru Pasaribu

  1. Sahang Maima dengan istri boru Lubis

Generasi Ketiga

                                           Keturunan Datu Dalu dari boru Pasaribu:

  1. Datu Tala Harahap

                                                   * 2. Siaji Malim Harahap di Sibatang Kayu

  1. Sarumbosi pergi ke Muara istrinya boru Pasaribu

Generasi Keempat

                                            Keturunan Siaji Malim di Sibatang Kayu:

                                                   * 1. Datu Dalu Ni Bagana di Naga Marsuncang

  1. Tuan Datu Singar

Generasi Kelima

                                            Keturunan Datu Dalu Ni Bagana di Naga Marsuncang:

          * 1. Ompu Sodogoron

Generasi Keenam

                           Keturunan Ompu Sodogoron:

  1. Raja Imbang Desa di Pijorkoling, dekat Padang Sidempuan.
  2. Tunggal Huajan di Pargarutan, dekat Padang Sidempuan.
  3. Ompu Sarudak di Huta Imbaru, dekat Padang Sidempuan.
  4. Bangun Di Batari di Losung Batu, dekat Padang Sidempuan.

                         * 5. Bangun Di Babuat di Hanopan Angkola

  1. Hasuhutan Maujalo di Sidangkal Angkola

Generasi Ketujuh

                         Keturunan Bangun Di Babuat dari Hanopan Angkola:

* 1. Naga Marjurang

Generasi Kedelapan

                         Keturunan Naga Marjurang di Hanopan Angkola:

                                       * 1. Ja Gumanti Porang di Hanopan Angkola

  1. Jantan di Sialang Padang Bolak

Generasi Kesembilan

                         Keturunan Ja Gumanti Porang dari Hanopan Angkola:

  1. Tuan Raja di Sunge Janjilobi

                               * 2. Tulan Ni Gaja di Hanopan Angkola

  1. Suhutan Harahap di Batu Gondit

Generasi Kesepuluh

                         Keturunan Tulan Ni Gaja dari Hanopan Angkola:

  * 1. Ompu Pangaduan

  1. Barunggam

Generasi Kesebelas

                        Keturunan Ompu Pangaduan dari Hanopan Angkola:

  * 1. Manuk Na Birong

Generasi Keduabelas

                        Keturunan Manuk Na Birong dari Hanopan Angkola:

  1. Ompu Sumurung

    * 2. Nabonggal Muap

Generasi Ketigabelas

                       Keturunan Ompu Sumurung dari Hanopan Angkola:

  1. Ja Pangaduan

                       Keturunan Nabonggal Muap dari Hanopan Angkola:

               * 1. Namora Pusuk Ni Hayu

Generasi Keempatbelas

                       Keturunan Ja Pangaduan:

  1. Ja Sumurung

                       Keturunan Namora Pusuk Ni Hayu di Bintuju, Padang Bolak:

  1. Sutan Humala Namorai di Sialang
  2. Jabosi di Sialang

            * 3. Parnanggar di Sialang

Generasi Kelimabelas

                       Keturunan Sutan Humala Namorai dari Sialang:

  1. Mangaraja Ihutan

                       Keturunan Parnanggar dari Sialang:

* 1. Jasohataon

Generasi Keenambelas

                       Keturunan Ja Sohataon dari Simapang di Padang Bolak:

  1. Ja Mandais, pindah ke Saba Tarutung
  2. Ja Manis, pindah ke Saba Tarutung
  3. Ja Bintuju, pindah ke Bunga Bondar

                          * 4. Toga Ni Aji, pindah ke Hanopan Sidangkal

Generasi Ketujuhbelas

  1. a. Keturunan Ja Mandais di Saba Tarutung
  2. Ja Pinontar
  3. Ja Riar
  4. Ja Malera
  5. Ja Somendut
  6. b. Keturunan Ja Manis di Saba Tarutung:
  7. Ja Manuga
  8. c. Keturunan Ja Bintuju di Bunga Bondar:
  9. Ja Ilani di Bunga Bondar
  10. Ja Belengan
  11. Baceker
  12.                      d. Keturunan Toga Ni Aji di Hanopan dekat Sidangkal:

                                 * 1. Demar Harahap, gelar Ja Manogihon

Sipirok

Setelah pemerintah Hindia Belanda memperkenalkan perguruan atau sekolah di Tanah-air sejak tahun 1880, maka sepanjang rentang waktu satu abad lamanya, tidak sedikit putera dan puteri dari berbagai Luhat dan Huta di Tanah Batak mengenyam sistim pendidikan dari Barat, mulai rendah di kampung kelahirannya, menjadi: murid Sekolah Gouvernement (Sekolah Pemerintah) yang dinamakan: Volks School (Sekolah Rakyat) selama 3 tahun: terdiri dari: kelas I, kelas II, dan kelas III, yang berbahasa Batak setempat dan bahasa Melajoe, bersurat Latin. Demikian pula sekolah lanjutannya ketika itu, dinamakan: Vervolg School (Sekolah Sambungan) selama 2 ta-hun, yang terdiri dari: kelas IV dan kelas V. Untuk dapat melanjutkan pelajaran ke Vervolg School, para murid saat itu perlu terlebih dahulu  diseleksi melalui ujian saringan. Kemudian pe-merintah Hindia Belanda menyatukan kedua macam pendidikan di Tanah Batak itu menjadi satu dan seterusnya dinamakan orang di Angkola: Sekolah Melajoe.

Setelah memasuki usia sekolah Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan ke-mudian dikirim oleh jedua orang tuanya ke Sipirok untuk mengikuti Sekolah Melajoe disana. Dan setelah beliau mendapat surat: “Tammat Belajar”, istilah yang digunakan orang ketika itu di daerah Sipirok kepada mereka yang sudah menyelesaikan sekolah Melayoe, dan Amang Tobang pun kembali ke kampung asalnya, ketika itu masih berdiam di Bunga Bondar.

Kilas Sejarah

Sebelum orang Belanda datang ke Tanah Batak tahun pada 1833, wilayah itu telah terbagi kedalam berbagai Luhat, dan setiap dari padanya memiliki pemerintahan yang berdiri sendiri dan bersifat otonom. Mereka belum mengenal adanya kekuasaan datang dari luar yang mengatur kehidupan Luhat berikut rakyatnya. Diantara sejumlah Luhat yang terdapat di Tapanuli Selatan ketika itu dapat diketengahkan: Luhat Sipirok, Luhat Angkola, Luhat Marancar, Luhat Padang Bolak, Luhat Barumun, Luhat Mandailing, Luhat Batang Natal, Luhat Natal, Luhat Sipiongot dan Luhat Pakantan. Semua Luhat yang terdapat di Tapanuli menempati kawasan di sebelah U-tara pulau Sumatera, ketika itu: di Utara berbatasan dengan Tanah Aceh, di Timur berbatasan de-ngan Tanah Melayu, di Selatan berbatasan dengan  Tanah Minangkabau, dan di Barat berbatasan Samudera Hindia.

Luhat, dinamakan juga Banua, ketika itu masih merupakan sebuah kesatuan genealogi wilayah, atau territorial, berada dibawah pemerintahan yang diselenggarakan menurut Adat Batak setem-pat berangkat dari kekerabatan Dalihan Na Tolu (Tungku Yang Tiga) sebagaimana tercantum dalam surat Tumbaga Holing diwariskan leluhur silam. Setiap Luhat maupun Banua, selain berdiri sendiri, juga sederajat satu sama lainnya. Pucuk pimpinan Luhat ialah Raja Panusunan Bu-lung (RPB), awalnya datang dari para keluarga Sisuan Haruaya (mereka yang menanam pohon Beringin, atau kerabat yang mendirikan Luhat) di wilayah yang dibicarakan. Dalam kebanyakan Luhat bernaung sejumlah Huta (Kampung), juga dikenal orang dengan Bona Bulu (“Rumpun Bambu”), karena memang pada zaman dahulu Huta atau bona Bulu memang berpagar pohon bambu menjadikannya “rumpun bambu” guna melindunginya dari musuh datang menyerang dari luar. Sebuah Bona Bulu biasanya membawahi sejumlah Anak Kampung dinamakan Pagaran (A-nak Kampung), agar kelak pada waktunya dapat pula berkembang menjadi Bona Bulu.

Huta selain menjadi tempat warga berdiam, juga lahan tempat mereka mencari nafkah karena terdapat: sawah, ladang; perairan (sungai, danau, laut), padang, semak/belukar, hutan, lembah, hingga dengan pegunungan mengitari. Selain dari kebutuhan pangan, bermacam kebutuhan hi-dup lainnya, seperti: sandang, papan, dan lainnya dapat diperoleh. Pucuk pimpinan Huta adalah Raja Pamusuk, awalnya datang dari keluarga-keluarga Sisuan Bulu (penanam rumpun Bambu atau para pendiri Kampung) dari tempat berdiam. Huta yang banyak warganya oleh subur tanah-nya, kaya lingkungan alamnya, juga dipimpin oleh Raja Pamusuk, namun dibantu oleh seorang Kepala Ripe (Kepala Keluarga).

Raja dalam pengertian masyarakat Batak bukanlah seorang penguasa sebagaimana yang ditemu-kan dalam buku sejarah Eropa pada zaman feodal yang dipelajari di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Tanah Air, tetapi adalah seorang yang dihormati dari kalangan yang dikenal dengan: is-tilah “Hatobangon ni Luhat atau Huta” (Tetua Luhat atau Huta), karena selain ia pandai, juga mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman hidup; tepatnya seorang bijak dari kalangan mereka (Primus Interpares) datang dari para keluarga pendiri Luhat dan Huta. Ia diberi gelar  da-lam Adat Batak: “Haruaya Parsilaungan” (Beringin Tempat Bernaung), di daerah Angkola dan Sipirok dinamakan orang: “Banir Parkolip-kolipan”, dan di Mandailing disebut “Banir Paron-ding-ondingan”.

Yang dinamakan “Sistim Pemerintahan Sentralistik” di Tanah Batak, pertama kali diperkenal-kan oleh pemerintah Hindia Belanda, dengan menempatkan seorang Asistent Resident Nederlands Indie (Asisten Residen Hindia Belanda) di Natal; dilanjutkan dengan menempatkan se-orang Resident Nederlands Indie (Residen Hindia Belanda) di Sibolga. Pemerintah Hindia Be-landa di Tanah Batak ketika itu merupakan bagian dari pemerintah Hindia Belanda yang mengu-asai Nusantara dan berkedudukan di Batavia, pulau Jawa. Adapaun pimpinan tertinggi pemerin-tah Hindia Belanda di Nusantara ketika itu, ialah Gouverneur-Generaal Nederlads Indie (Guber-nur-Jenderal Hindia Belanda). Adapun tugas Gubernur-Jenderal Hindia Belanda saat itu ialah wakil Raja Belanda yang berkedudukan di Den Haag, Eropa, untuk mengurus tanah jajahan Hin-dia Belanda terdapat di seberang lautan yang bernama Oost Nederlands Indie (ONI) atau Hindia Belanda Timur (HBT). Raja Belanda masih memiliki tanah jajahan seberang lautan yang lain, yang bernama West Nederlands Indie (WNI) atau Hindia Belanda Barat (HBB), dan yang di-sebut terakhir lebih dikenal dengan istilah Suriname, dan terdapat di Amerika Selatan.

Awalnya, pemerintah Hindia Belanda menamakan Afdeeling Batak Landen (sub-bagian Tanah Batak) untuk wilayah yang terdapat sekitar danau Toba dengan Tarutung sebagai ibukotanya. Sub-bagian Tanah Batak lainnya, dinamakan Afdeeling Padang Sidempuan untuk Tapanuli Selatan, dan Afdeeling Sibolga untuk Tapanuli Tengah. Penggabungan ketiga Afdeeling menjadi sebuah keresidenan Tapanuli di dalam pemerintahan Hindia Belanda muncul dari hasil penelitian Etnoloog (Belanda) atau Etnologist (Inggris), yaitu ahli tentang bangsa dan suku-sukunya asal Belanda yang menemukan kesatuan logat (bahasa) dan adat-istiadat yang terlihat jelas dari ma-syarakat dari ketiga afdeeling, baik untuk kehidupan sehari-hari maupun dalam upacara adat. Lingkungan alam yang memudahkan perhubungan, kekerabatan, perkawinan, dan agama, juga ikut berperan kedalam penelitian ketika itu. Pemerintahan Hindia Belanda lalu mengelompokkan beragam suku-bangsa Batak yang berdiam di daratan pulau Sumatera menurut logat dan adat- istiadatnya kedalam berbagai puak, masing-masing: Karo, Simalungun, Pakpak dan Dairi, Toba, Angkola, dan Mandailing, yang masih dikenal luas sampai kini.

Pada tahun 1867 Tanah Batak masih menjadi bagian dari Gouvernement van West Kust (Gubernemen Sumatera Barat) berkedudukan di Padang, Sumatera Barat, dengan ibukotanya Padang Si-dempuan. Lalu pada tahun 1906, Tanah Batak memisahkan diri, lalu membentuk keresidenan Tapanuli dengan Sibolga sebagai ibukotanya. Keresidenan Tapanuli oleh pemerintah Hindia Be-landa selanjutnya dibagi menjadi dua Afdeeling, masing-masing: Afdeeling Tapanuli Utara diba-wah Asisten Residen berkedudukan di Tarutung, dan Afdeeling Tapanuli Selatan dibawah Asis-ten Residen berkedudukan di Padang Sidempuan. Afdeeling akhir ini kemudian oleh pemerintah Hindia Belanda dipecah jadi 8 (delapan) Onderafdeeling, yang setiap darinya dipimpin oleh seorang Controleur yang berkedudukan di: Batang Toru, Angkola, Sipirok, Padang Bolak, Barumun, Mandailing, Ulu dan Pakantan, dan Natal.

Dibawah sebuah Onderafdeeling pemerintah Hindia Belanda lalu memperkenalkan: Distrik, yang dipimpin oleh seorang Demang. Dibawah Distrik diperkenalkannya Onderdistrik yang dipimpin Asisten Demang. Dibawah asisten Demang pemerintah Hindia Belanda memperkenalkan: Kuria yang memimpin Hakuriaan (Kekuriaan) untuk membawahi Huta berikut sawah ladang dan ling-kungan alam sekitarnya. Kata Kuria ini berasal dari “Curia”, istilah yang terdapat dalam peme-rintahan Gereja Katholik di Vatikan, Roma, Italia; lalu oleh pemerintah Hindia Belanda diperkenalkan di Tanah Batak. Dari tulisan Curia menjelma Kuria, melahirkan kata Hakuriaan dalam bahasa Batak. Dengan Hakuriaan, pemerintah Hindia Belanda ingin melenyapkan istilah Luhat atau Banua dipimpin Raja Panusunan Bulung (RPB) kebanggaan suku-bangsa Batak dari pe-redaran, ketika itu bersemayam dalam fikiran anak-anak Batak yang merupakan kebanggaan da-erah asal mereka. Meski pemerintah Hindia Belanda tampaknya tidak memperlihatkan minat mencampuri urusan pemerintahan Huta yang berjalan masih menurut Adat Batak setempat, akan tetapi dalam pelaksanaannya Belanda selalu berupaya mempengaruhi siapa yang sebaiknya dija-dikan Raja Pamusuk yang memimpin sebuah Huta.

Dengan semakin merosotnya anggaran pendapatan pemerintah Hindia Belanda di Tapanuli Sela-tan silam, maka Onderafdeeling yang delapan buah jumlahnya saat itu, lalu disusutkan menjadi 4 (empat), masing-masing: Angkola dan Sipirok, Mandailing Besar dan Kecil Ulu serta Pakantan, Natal dan Batang Natal, dan Padang Lawas. Lalu menjelang pemerintah Hindia Belanda bertekuk lutut kepada serdadu-serdadu Jepang di pulau Sumatera pada awal Perang Dunia ke-II di kawasan Asia Pasifik, keempat Onderafdeeling di Tapanuli Selatan itu kembali disusutkan men-jadi  3 (tiga) buah saja, masing-masing: Angkola dan Sipirok, Padang Lawas, Mandailing dan Natal.

Amang Tobang Sengel Harahap (1846-1928), gelar Baginda Parbalohan dengan Inang Tobang  Giring Siregar, gelar Ompu ni Sutor, boru Regar dari Bunga Bondar, putri Ja Diatas Siregar, mendapat karunia tiga orang anak, semuanya laki-laki, dari yang sulung hingga dengan yang bungsu, masing-masing namanya:

  1. Abdul Hamid Harahap, lahir di Bunga Bondar….tahun 1876.
  2. Kasim Harahap, lahir di Bunga Bondar ….tahun 1881.
  3. Rakhmat Harahap, lahir di Bunga Bondar ….ahun 1883.

Setelah Inang Tobang Giring Siregar, gelar Ompu ni Sutor berpulang ke Rakhmatullah, maka beliau digantikan oleh:….…., gelar Ompu ni Kasibun.

Menunaikan Ibadah Haji ke Tanah Suci, di Madinah dan Mekah

Pada bulan Desember tahun 1927, Amang Tobang Baginda Parbalohan dengan rombongan me-nyiapkan perjalanan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci di Madinah dan Mekah, di Saudi A-rabia, yang lama sudah direncanakan. Adapun rombongan yang akan berangkat dari Tanah-air  berjumlah 5 (lima) orang, yaitu: Amang Tobang Baginda Parbalohan sendiri, Inang Tobang Ompu ni Kasibun, Kampung Harahap, adik Amang Tobang dari Bunga Bondar, Rachmat Harahap, anak bungsu Amang Tobang dari Hanopan, dan Nurdin Harahap, cucu Amang Tobang dari Ha-nopan yang akan tinggal di Mekah  untuk belajar agama Islam. Mereka berangkat lewat Belawan dengan naik kapal laut menuju ke Jeddah, kota pelabuhan Saudi Arabia.

Rombongan berhasil menyelesaikan seluruyh rukun Haji selama berdiam di Mekah. Setelah me-nunaikan ibadah haji di Madinah dan Mekah, Amang Tobang Sengel Harahap (1846-1928), gelar Baginda Parbalohan, mendapat nama/gelar Islam, masing-masing: Haji Tuan Syekh Muham-mad Yunus; adiknya Kampung Harahap mendapat nama/gelar Islam: Haji Tuan Syekh Muhammad Jalil; anaknya Rachmat Harahap mendapat nama/gelar Islam: Haji Abdullah Umar; cucunya Nurdin Harahap mendapat nama/gelar Islam: Haji Nurdin. Setelah menunaikan semua rukun Haji yang diperlukan, mereka pun melaksanakan tawaf wada, dan bersiap kembali pulang ke Tanah-air. Adapun Haji Nurdin harus tinggal di Mekah untuk belajar agama Islam, menyebabkan rombongan yang kembali ke Tanah-air tinggal 4 (empat) orang, yakni: Baginda Parba-lolan, gelar Haji Tuan Syekh Muhammad Yunus; Inang Tobang Ompu ni Kasibun; Kam-pung Harahap gelar Haji Tuan Syekh Muhammad Jalil, Rachmat Harahap, gelar Haji Ab-dullah Umar.

Amang Tobang Berpulang ke Rahmatullah

Selama di Mekah pada akhir perjalanan menunaikan ibadah haji, Amang Tobang masih mem-perlihatkan badan yang sehat melakukan tawaf wada mengitari mengelilingi Ka’bah. Rombo-ngan perjalanan Haji dari Hanopan lalu menaiki kendaraan yang mengantarkan mereka kembali menuju Jeddah, dimana kapal yang membawa mereka kembali ke Tanah-air berlabuh. Rombo-ngan Haji awalnya berjumlah 5 (lima) orang, lalu kembali ke tanah-air berjumlsh 4 (empat) o-rang, karena Haji Nurdin harus tinggal untuk belajar agama Islam. Dalam perjalanan menuju Jeddah naik bus dari Mekah, dengan tidak menunjukkan gangguan kesehatan berarti kecuali usia  senja, Amang Tobang tiba-tiba merasa tidak enak badan lalu menjadi lemah. Ia lalu dipeluk oleh adiknya Tuan Syekh Muhammad Jalil dan anaknya Haji Abdullah Umar. Dikabarkan beliau ber-pulang ke Rachmatullah dalam peralanan kembali menuju Jeddah. “انا لله وانا اليه راجعون”  (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un). Beliau kemudian dimakamkan di kota pelabuhan Kerajaan Saudi Arabia itu tahun 1928.

Wafatnya Amang Tobang Baginda Parbalohan di Tanah Suci, membuat rombongan yang kembali ke Tanah-air semula terdiri dari 4 (empat) orang kemudian menyusut jadi 3 (tiga), yakni: I-nang Tobang Ompu ni Kasibun, Amangtobang Syeh Muhammad Jalil, dan Opung Sutan Nabonggal. Setibanya di Bona Bulu, tepatnya di kampung Bunga Bondar, pada simpang empat kampung itu, di hadapan rumah tempat Amang Tobang Baginda Parbalohan lahir dan dibesar-kan, rombongan disambut deraian air mata penuh isak tangis tanda kehilangan, saat orang me-ngetahui bahwa pemimpin rombongan tidak ikut kembali karena telah berpulang ke rachmatullah di Jeddah. Semua kahanggi yang berdiam di kampung Bunga Bondar, begitu juga kaum kerabat, kenalan, dan handai tolan, segera datang meramaikan rumah di Bunga Bondar untuk menyampaikan duka kehilangan yang amat dalam terhadap orang yang amat dicintai.

Mereka pun satu per satu datang melayat bergantian guna menyampaikan rasa duka yang dalam kepada rombongan, dan keluarga terdekat yang ditinggalkan. Maklum, pada ketika itu belum ada sarana komunikasi yang dengan cepat dapat menyampaikan khabar duka ke Bunga Bondar dan Hanopan. Dan satu-satunya sumber berita di kampung halaman ketika itu, ialah apa yang dibawa oleh rombongan Haji yang kembali dari Tanah Suci setelah menunaikan rukun Islam yang keli-ma. Para pelayat mengharapkan ketabahan dan kesabaran rombongan dan sanak keluarga dekat yang ada di Bunga Bundar, agar bertawakkal kepada Allah Suhanahu Wataala atas musibah yang terjadi. Pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran ul Karim pun lalu dikumandangkan di rumah duka di kampung Bunga Bondar.

Dari Bunga Bondar, rombongan lalu melanjutkan perjalanan ke Hanopan. Dari 3 (tiga) orang anggota keluarga yang pulang dari Tanah Suci, kini tinggal 2 (dua), masing-masing: Inang Tobang Ompu ni Kasibun dan Opung Sutan Nabonggal, karena Amang Tobang Tuan Syeh Muhammad Jalil berdiam di Bunga Bondar. Namun Amang Tobang ini turut juga ke Hanopan untuk berkumpul di Bagas Godang Hanopan guna menyampikan khabar duka kepada keluarga dan sa-nak saudara, maklum almarhum Baginda Parbalohan adalah Raja Pamusuk di Hanopan. Di kampung akhir ini juga, rombongan disambut lagi dengan deraian air mata, saat mengetahui bah-wa Amang-tobang Baginda Parbalohan, Raja Pamusuk di kampung itu, telah berpulang ke Rakhmatullah dalam perjalanan kembali, usai menunaikan ibadah haji di Tanah Suci, Madinah dan Mekah.

Acara dalam Adat Batak pun lalu diselenggarakan sehubungan dengan telah berpulangnya Raja Pamusuk yang pertama di kampung Hanopan. Pembacaan ayat-ayat suci dari Al-Quran pun di-langsungkan dengan tahlilan guna memanjatkan doa kepada almarhum Amang Tobang Baginda Parbalohan dan kedua orang tuanya yang telah berpulang ke Rakhmatullah di masa yang silam, agar kepada mereka semua yang ditinggalkan dikaruniakan-Nya kesabaran dan ketabahan meng-hadapi musibah dan duka yang tengah melanda ditinggalkan Amang Tobang Baginda Parbalohan, karena beliau telah dipanggil  oleh Sang Khalik menghadap kepadaNya. Amin.

Surat Wasiat Amang Tobang untuk tiga orang putranya.

SURAT PARTINGGAL

HAJI SENGEL HARAHAP (1846-1928),

gelar

BAGINDA PARBALOHAN,

OMPU NI SUTOR,

TUAN SYEKH MUHAMMAD YUNUS

(Ditulis pada tanggal 3 Desember 1927 dalam aksara Batak, di Hanopan)

On ma suratku partinggal di hamu amang. Ulang hamu marbadai anso manjadi pancarian munu. Taringot tu saba julu madung ta bagi do i. Olat ni bondar tu balok ni si Gardok dohot panjaean ni si Badul, i ma di si Kasim. Saba na hu baen i, muda mate au, tinggal di si Rachmat tamba ni saba na dibaennia. Bagian ni si Badul ima saba tonga sian julu Ja Saidi, sian jae si Kariaman dohot si Mamin. Nadung tahinta do i najolo.

Taringot tu bagas dohot parbagasan, ulang hamu amang marsietongan. Na di pakarangan ni si Kasim tinggal disia harambir dua batang, pining, bulu, parira, bakore. Di si Rachmat harambir na di kobun ni Baginda Pangibulan i ma, sada na dilambung sopo ni si Gardok.

Taringot tu bagas godang on amang madung huisinkon di si Badul, umbahat do poko nia tusi. Nada tola dohononmunu partopan bagas i. Harambir dua batang, unte sabatang, jambu sabatang, lancat sabatang, mangga dua batang. Harambir na di sopo Nagodang i si Badul do nampuna i dohot kuéni i.

Amang, jagit hamu ma sipaingotkon:

Indalu batiti, indalu batonang,

                                             indalu pasitik manuk butongan.

Amang, anggo saba jae nada bagian munu be i, panjaean ni pahompu siangkaan, dohot bagian ni boru pahompu dohot ibotongku; bagianna songon on:

                 Saba i lima ruang.

—————————————————————————————————–

Dua ruang sian julu on, i ma bagian ni si Sutor dohot  tobat dohot sopo na lopus tu

Baginda Pangibulan.

—————————————————————————————————–

Ruang patoluhon i ma bagian ni si Bahat lopus tu bondar ni Ja Tahanan.

—————————————————————————————————–

Ruang paopatkon dibagi dua: Satonga di si Sento dohot si Sanne, na satonga nari

di pahompu dadaboru sudena. Onom tangga di iboto hasurungan rimbaonna.

——————————————————————————————————

Ruang parjae, i ma bagian ni si Dimpu, lopus tu bondar ni Ja Tahanan.

——————————————————————————————————

Amang, bagian ni boru on nada tola gadison ni halahi. Muda mate boru nada adong

panyundutna nada taruli bagian be. Anso tongtong adong bagian ni boru mamanjang,

manjujung hamu.

——————————————————————————————————

Amang natolu simanjujung:

Ulang hamu mangalaosi patik nanibaen 

                                           ni amamu, gusar Tuhan di hamu.

Taringot tu hapea i. Hapea na tobang on ma di si Sutor lalu tu aek i. Hapea naposo on dibagi dua: satonga sian jae di si Bahat, sian julu di si Dimpu.

Amang, tai anggo laing mangolu dope inangmu, nada tola buatonmunu saba jae sudena dohot hapea, anggo diboto ia aturan maranak di hamu.

Antong horasma di anak, horas di parumaen, horas di pahompu, sude dadaboru dohot halak-lahi. Botima.

Amang, taringot tu pahompu halaklahi, i sudena ima lombu na di Padang Bolak na salapan bolas i. Ima bagi hamu di halahi, dosdos bagi hamu. Bulu soma parjulu di si Bahat. Bulu surat di si Dimpu. Bulu poring, bulu soma na di kobun i di si Sutor.

Tobat na di julu ni hapea natobang i dohot pakaranganna, madung hu lehen di si Peli sudena.

Madabu sada, madabu dua, ilu sipareon ni amamu.

Botima,

Horas ma di pomparanku sudena!

Ttd.

BAGINDA PARBALOHAN

 3-12-’27

Terjemahan Surat Wasiat

Inilah surat peninggalan untuk anak-anakku sekalian. Jangan kalian berkelahi agar berhasil pen- carian kalian. Tentang sawah yang ada dihulu sudah kita bagi nya itu. Mulai parit sampai ke bagi-an si Gardok hingga yang dikerjakan si Badul, ialah untuk si Kasim. Sawah yang aku kerjakan itu, bila aku telah tiada nanti, adalah untuk si Rachmat untuk menambah sawah yang dikerjakannya. Bagian si Badul, ialah sawah tengah, dari sebelah hulu Ja Saidi, sebelah hilir si Kariaman dan si Mamin. Yang sudah kita sepakati nya itu dahulu.

Tentang rumah dan perumahan jangan kalian saling berhitung. Yang terdapat di pekarangannya si Kasim menjadi miliknya dua batang kelapa, pohon pinang, rumpun bambu, pohon pete, dan ba-tang kemiri. Untuk si Rachmat pohon kelapa yang terdapat di kebun Baginda Bangibulan itu, dan satu lagi didekat pondok si Gardok.

Tentang Bagas Godang ini nak, telah kurelakan bagian si Badul, karena telah banyak modal yang dituangkannya kesitu. Tidak boleh kalian katakan milik bersama rumah itu. Di halamannya terda-pat dua batang pohon kelapa, pohon jeruk sebatang, pohon jambu sebatang, pohon duku sebatang, dan pohin mangga dua batang. Pohon kelapa yang terdapat di halaman Sopo Nagodang itu termasuk milik si Badul begitu juga pohon kuéni itu.

Nak, terima kalian nasihatku ini:

Indalu batiti, indalu batonang (alu betitik, alu betanang),

indalu pasitik manuk butongan (alu bertikai, ayam pun kenyang).

Nak, kalau sawah hilir bukan lagi bagian kalian, akan menjadi bagian cucu tertua, dan bagian cucu perempuan, serta saudara perempuanku; dan pembagiannya adalah sebagai berikut:

                 Sawah itu lima petak.

—————————————————————————————————-

Dua petak dari sebelah hulu, itulah bagian dari si Sutor berikut kolam dan pondok

hingga ke batas Baginda Pangibulan.

—————————————————————————————————-

Petak ketiga, ialah bagiannya si Bahat, sampai ke parit milik Ja Tahanan.

—————————————————————————————————-

Petak keempat dibagi dua: setengah untuk si Sento dan si Sanne, adapun sisanya

untuk semua cucu perempuan. Enam tangga istimewa untuk digarap saudara pe-

rempuan

—————————————————————————————————-

Petak paling hilir, ialah bagian dari si Dimpu, sampai ke parit Ja Tahanan.

—————————————————————————————————-

Nak, bagian perempuan tidak boleh mereka jual. Kalau perempuan wafat dan tidak

ada keturunannya, tidak lagi mendapat bagian. Maksudnya, agar selalu ada bagian

anak boru yang membantu untuk menghormati kalian.

—————————————————————————————————–

Nak, kalian bertiga junjunganku:

Jangan kalian melanggar perintah yang dibuat

oleh ayahmu, marah Tuhan kepada kalian.

Tentang pohon karet itu. Pohon karet yang tua inilah untuk si Sutor sampai ke air. Pohon karet yang muda ini dibagi dua: setengah dari hilir untuk si Bahat, yang dari hulu untuk Dimpu.

Nak, akan tetapi apabila ibumu (Ompu ni Kasibun) masih hidup, tidak boleh kalian ambil semua hasil sawah hilir dan kebun karet, kalau ia tahu aturan beranak terhadap kalian.

Jadi, selamatlah kepada anak, selamat parumaen, dan selamat pahompu, semuanya laki-laki dan perempuan. Demikian.

Nak, teringat kepada cucu laki-laki itu semua, itulah sapi yang ada di Padang Bolak delapan belas ekor jumlahnya. Bagi rata kalian kepada mereka, sama semua bilangannya. “Bulu Soma” bagian si Bahat. “Bulu Surat” untuk si Dimpu. “Bulu Poring” dan “Bulu Soma” yang di dalam kebun untuk si Sutor.

Kolam yang di hulu pohon karet yang tua termasuk pekarangannya sudah kuberikan kepada si Peli semua.

Jatuh satu, jatuh dua, airmata duka dari ayahmu.

Demikian,

Selamat untuk keturunanku semua!

 

Penjelasan:

  1. Surat Partinggal Amang Tobang yang tertulis dalam Aksara Batak di Hanopan silam, ditemukan dalam arsip surat-surat Ayahanda Sutor Harahap, gelar Baginda Pandapotan, cucu Amang Tobang, putra sulung Ompung Sutan Hanopan.
  1. Alih aksara dari Batak ke Latin masih dalam Bahasa Batak, dikerjakan oleh cucu Amang Tobang Baginda Parbalohan bernama: H.M.Diri Harahap S.H., putra kedelapan Sutan Hanopan pada tanggal 26 Oktober 1974 di rumah kediamannya, di jalan Hang Tuah VIII/8, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
  1. Sento Harahap ialah iboto (adik perempuan) Amang Tobang Baginda Parbalohan yang menikah dengan Ja Kola dari Batu Horpak, tidak jauh dari Bunga Bondar..
  1. Sanne Harahap juga adik perempuan Amang Tobang Baginda Parbalohan yang menikah dengan Baginda Hinalolongan berasal dari Bunga Bondar. Ayahanda: Tigor Siregar,………. Habincaran Siregar).
  1. Kenis Harahap, gelar Baginda Pangibulan, Ompu ni Kaya, ialah adik Amang Tobang Baginda Parbalohan yang ke-14 dan bermukim di Hanopan.
  1. Gardok Harahap, gelar Baginda Malim Muhammad Rahim, Ompu ni Marasali adalah adik Baginda Parbalohan yang ke-15, juga berdiam di Hanopan.
  1. si Badul adalah nama kecil Ompung Abdul Hamid Harahap, Ompu ni Amir laki-laki,Tuan Datu Singar, gelar Sutan Hanopan, anak sulung, putera tertua dari Baginda Parbalohan yang berdiam di Hanopan.
  1. Kasim adalah nama kecil Ompung Mangaraja Elias Hamonangan, Ompu ni Paulina laki-laki,  Gelar Tongku Mangaraja Elias Hamonangan, adalah anak kedua dari Baginda Parbalohan yang berdiam di Hanopan.
  1. Rachmat adalah nama kecil Ompung Haji Abdullah Umar, Ompu ni Mina laki-laki, gelar Sutan Nabonggal, adalah anak ketiga, anak bungsu, dari Amang Tobang Baginda Parbalohan yang ikut bersamanya menunaikan Ibadah Haji ke Tanah Suci di Medinah dan Mekah pada tanggal 3 Desember 1927, berdiam di Hanopan.
  1. Sutor Harahap, gelar Baginda Pandapotan, adalah anak sulung Sutan Hanopan, cucu sulung  Amang Tobang Baginda Parbalohan dari putera sulungnya.
  1. Dimpu Harahap, gelar Baginda Parbalohan (Naposo), adalah anak ketiga, putra sulung Ompung Mangaraja Elias Hamonangan, cucu laki-laki sulung Amang Tobang Baginda Parbalohan dari puteranya yang kedua.
  1. Bahat Harahap, ialah anak sulung Ompung Sutan Nabonggal, cucu sulung Baginda Parbalohan dari puteranya yang ketiga.
  1. Pelinuruddin Harahap, Uda Haji Muhammad Nurdin, adalah putera kelima Ompung Sutan Hanopan, cucu Amang Tobang Baginda Parbalohan yang menemaninya menunaikan Ibadah Haji ke Tanah Suci, lalu tinggal di Mekah untuk belajar agama Islam.
  1. Mamin, warga kampung Hanopan.
  2. Ja Saidi, warga kampung Hanopan.
  3. Kariaman, warga kampung Hanopan.
  4. Ja Tahanan, warga kampung Hanopan.

Alih bahasa dari Batak ke Latin dilakukan oleh cucu

Baginda Parbalohan: H. M. Diri Harahap S.H.,

gelar Baginda Raja Mulia Pinayungan.

 

Terjemah dan diberi penjelasan pada tanggal 19 Mei

2009, dikerjakan oleh cicit Baginda Parbalohan:

H.M.Rusli Harahap, gelar Sutan Hamonangan.

 

Pasidung Ari Amang Tobang Baginda Parbalohan.

Karena Amang Tobang Baginda Parbalohan bepulang ke Rakmatullah dalam perjalanan kembali menuju Tanah-Air dari Mekah, maka beliau lalu dimakamkan di kota Jeddah. Meski demikian  dalam Bale Julu di kampung Hanopan, dibuatkan makam untuknya, guna mengenang orang yang begitu berjasa mendirikan kampung untuk Marga Harahap di Luhat Sipirok, dengan memberi keterangan, bahwa beliau sesungguhnya telah  di makamkan di Jeddah pada tahun 1928 silam. A-mang Tobang Baginda Parbalohan pernah “berwasiat” kepada pomparannya, agar membawa pulang ke kampung Hanopan saring-saringan kerabat yang berpulang ke Rachmatulh di tanah perantauan. Memang terniat dalam hati untuk membawa pulang “saring-saringan” Amang To-bang Baginda Parbalohan yang sangat dicintai, akan tetapi karena sudah tidak lagi dapat dilaku-kan, diwujudkanlah sebagaimana yang dijumpai di dalam Bale Jae. Pasidung ari adalah sebuah acara sejalan Adat Batak untuk memberitahukan atau mengabarkan bahwa seseorang telah me-ninggal dunia dan tidak dapat kembali lagi.

Pelaksanaan Pasidung Ari Amang Tobang Baginda Parbalohan  

  1. Menyampaikan undangan acara Adat Batak Pasidung Ari almarhum Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan   kepada: Dalihan na Tolu, Hatobangon, dan Harajaon, dari Hanopan, Bunga Bondar, Parau Sorat, Panggulangan, dan Huta-huta Torbing Balok yang terdapat dalam DAS Aek Silo.
  2. Para Penyelenggara Acara Pasidung Ari.
  3. Raja Panusunan Bulung
  4. Paralok-alok na Pande
  5. Suhut Sihabolonan
  6. Kahanggi
  7. Hombar Suhut/Pareban
  8. Anak Boru
  9. Pisang Raut/Sibuat Bere
  10. Mora
  11. Hatobangon ni Huta Hanopan (Namora Natoras):
  12. Raja ni Huta Hanopan
  13. Raja-raja ni Huta Torbing Balok
  14. Raja-raja Luat ni Desa na Walu.
  15. Pemasangan bendera-bendera Adat Batak di depan rumah duka Bagas Godang Hanopan.
  16. Mengeluakan Perbendaharaan Adat Batak:
  17. Bulang
  18. Perbedaharaan almarhum Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan.
  19. Abit Godang (Abit Batak, atau Ulos)
  20. Tikar Lapis (3, 5, atau 7 lapis)
  21. Burangir Nahombang dan Burangir Panyurduan.
  22. Payung Rarangan.
  23. Bendera Batak.
  24. Tombak, Podang
  25. Tawak-tawak
  26. Tanduk ni Horbo (Kerbau).
  27. Acara Adat Batak Pasidung Ari
  28.  Pemakaman Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalihan, sudah berlangsung

dalam tahun 1928 di Jeddah, Saudi Arabia.

  1. Upacara Adat Pasidung Ari.
  2. Menyembelih hewan Nabontar (Kerbau) di halaman Bagas Godang Hanopan.
  3. Menyiapkan ruangan.
  4. Dalihan Na Tolu, Hatobangon, Harajaon, dan masyarakat mengambil tempat dalam ruang tengah Bagas Godang Hanopan.

Bagian Pertama

(Sidang Adat Batak para Raja yang tidak dihadiri oleh kaum ibu)

  1. Sidang Adat Haruaya Mardomu Bulung dipimpin oleh Raja Panusunan Bulung (RPB).
  2. Orang Kaya pembawa acara minta anakboru manyurduhon burangir (panyurduan dan

nahombang), dan meletakkan keduanya dihadapan Raja Panusunan Bulung.

  1. Orang Kaya minta kepada Suhut Sihabolonan menyampaikan isi hatinya. Adapun pokok

pembicaraan pada ketika itu ialah:

– melaporkan kepada Raja Panusunan Bulung bahwa: Sengel Harahap, gelar Baginda

Parbalohan Raja Pamusuk di Hanopan, telah berpulang ke Rachmatullah di Jeddah.

– memohon kepada para Raja untuk menyampaikan khabar duka ini kepada khalayak

ramai.

– bahwa keluarga almarhum telah menyelesaikan segala hutang adat (mandali), dan ka-

ena itu telah diperkenankan untuk melaksanakan horja siriaon.

– memohon kepada para Raja untuk menyaksikan Suhut Sihabolonan menghadap Mora

untuk secara resmi menyampaikan chabar duka ini.

  1. Setelah Suhut Sihabolonan berbicara, lalu disusul dengan Pareban, Anakbpru, Pisang,

Raut, Mora, Hatobangon, Harajaon, begitu juga Raja-raja torbing balok.

  1. Setelah seluruhnya berbicara, Raja Panusunan Bulung memutuskan untuk mengabulkan

semua permohonan Suhut Sihabolonan.

Memanjatkan doa, dan sidang Adat Batak bagian pertama lalu selesai.

  1. Pembagian daging Nabontar terjinjing baiyon loging dibagikan kepada seluruh yang hadir

dalam sidang pasidung ari.

Inilah cara Adat Batak untuk menyampaikan khabar duka di Bona Bulu kepada masyarakat

luas, bahwa: Amang Tobang: Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan, telah berpulang ke Rachmatullah dari tengah-tengah

para hadirin.

Adapun cara pembagian nabontar yang berlaku di Bona Bulu ketika itu sebagai berikut:

  1. Suhut dan Kahanggi menerima: ate-ate dan pusu-pusu.

(maksudnya agar sapangkilalaan, maknanya sependeritaan)

  1. Anakboru : juhut jantung, udut rungkung

(artinya: yang memiliki kekuatan untuk manjuljulkon)

  1. Pisang Raut : juhut holi-holi dan kaki depan.

(maknanya: agar selalu cekatan dan rajin bekerja)

  1. Raja-raja dan Hatobangon : juhut na marbobak, sude gorar-goraran.

(maknanya: supaya menjadi (berhasil) pangidoan na bisuk dohot uhum.

  1. Raja Panusunan Bulung : lancinok sude gorar-goraran

(maknanya: orang tempat mendapat parsilaungan, paronding-ondingan)

  1. Mora tulang rincan, gorar-goraran

(maknanya: tempat permomohon sahala dohot bisuk).

Ketika menyerahkan bagian Mora, daging diletakkan diatas anduri beralaskan daun pisang, lalu ditutup daun yang

sama dari atas, lalu diatas semua-nya diletakkan abit (kain) Batak.

Bagian Kedua

(Sidang Adat Batak Dalihan Natolu yang dihadiri oleh kaum ibu)

Raja Panusunan Bulung, Raja Pamusuk, Harajaon Torbing Balok, dan Hatobangon bertindak se-bagai saksi terhadap jalannya sidang Adat Batak.

  1. Menyerahkan Hasaya ni Karejo dilaksanakan oleh Suhut Sihabolonan:
  2. Kepada Mora: tulang rincan, ate-ate, mata, dan pinggol diletakkan diatas anduri beralaskan daun pisang sitabar.

Mora menebus dengan kembalian diatas Pinggan Raja (porselen) bertabur beras.

  1. Kepada Anakboru: udut rungkung, juhut jantung diletakkan diatas anduri beralaskan

daun pisang sitabar.

Anakboru menebus dengan kembalian diatas Pinggan Raja (porselen) yang bertabur beras.

  1. Suhut Sihabolonan dan kahanggi bertugas menyerahkan pemberian kepada Mora.

Menyiapkan ruangan tempat acara adat Batak berlangsung..

Mora duduk di juluan berseberangan dengan Suhut, Kahanggi, Anakboru, Pisang Raut; dan mengambil tempat saling

berhadapan. Hatobangon dan para Raja duduk disebelah kanan dan kiri Mora untuk menyaksikan acara adat Batak..

  1. Anakboru selanjutnya manyurduhon Burangir.
  1. Suhutsihabolonan lalu mengutarakan isi hatinya kepada Moranya, perihal dibawah ini:

– bahwa Raja Pamusuk dari Bagas Godang Hanopan telah berpulang ke Rakhmamatullah, agar mora tidak lagi

mengharapkan kedatangannya di masa datang memperlihatkan hormat bermora sebagaimana yang dilakukan selama ini.

  1. Setelah Suhutsihabolonan marlidung, lalu disusul dengan Pareban, Anakboru, Pisang Raut.
  1. Pakaian peninggalan Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan, terdapat dalam peti lalu diperlihatkan kepada Mora sebagai “pangitean ni namangolu”, dengan harapan agar Mora, agar yang disebut akhir ini tidak lagi menantikan kedatangan anakborunya  sebagaimana yang diperbuatnya selama ini.

Mora kemudian menjawab Suhut Sihabolonan dan menerima dengan resmi peti pakaian peninggalan almarhum Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan berikut isinya.

Mora meminta agar isi kopor peninggalan almarhum dibagikan kepada seluruh kahanggi. Acara Adat Pasidung Amang Tobang

Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan pun dengan demikian selesai.

Pendidikan dan Pekerjaan Ketiga Putera Baginda Parbalohan

  1. Abdul Hamid Harahap (1876-1939), gelar Sutan Hanopan, juga bernama Tuan Datu Singar, lahir di Bunga Bondar, menempuh pendidikan Sekolah Gouvernement di Sipirok. Pekerjaannya menjadi Raja Pamusuk di Hanopan menggantikan ayahanda            Baginda Parbalohan yang berpulang ke Rakhmatullah di Jeddah tahun 1928.
  1. Kasim Harahap (1881-1944), Tongku Mangaraja Elias Hamonangan lahir di Bunga Bondar. Menempuh pendidikan Sekolah Gouvenement di Sipirok. Pekerjaan menjadi Raja Pamusuk di Hanopan menggantikan abanghanda Sutan Hanopan yang              wafat tahun 1939.
  1. Rakhmat Harahap (1883-1962), gelar Sutan Nabonggal, lahir di Bunga Bondar. Ompung Sutan Nabonggal menyertai ayahnya Baginda Parbalohan menunaikan ibadah Haji ke Madinah dan Mekah pada tahun 1927, dan mendapat gelar Haji Abdullah U-       mar.

Amang Tobang Baginda Parbalohan menikahkan ketiga putera dengan para cucu:

a. Ompung Sutan Hanopan menikah dengan Dorima Siregar, gelar Ompu ni Amir Boru Regar dari Bunga Bondar, putri Sutan

Bungabondar. Keturunannya:

  1. Sutor, lahir 15 Juni 1896 di Bunga Bondar.
  2. Maujalo, lahir 10 September 1901 di Bunga Bondar.
  3. Siti Angur (pr), lahir ….  1905 di Hanopan.
  4. Dumasari (pr), lahir …. 1908 di Hanopan.
  5. Pelinuruddin, lahir …..1911 di Hanopan.
  6. Aminah (pr), lahir …..1912 di Hanopan.
  7. Sorimuda (Hisar), lahir ….. 1913 di Hanopan.
  8. Diri (Din), lahir ….. 1915 di Hanopan.
  9. Muhammad, lahir …..1917 di Hanopan.
  10. Khairani (Erjep, pr), lahir ……1920, di Hanopan.
  11. Marajali, lahir……1922 di Hanopan.
  12. Pamusuk, lahir …..1925 di Hanopan.

b. Ompung Tongku Mangaraja Elias Hamonangan menikah dengan Petronella Siregar, gelar Ompu ni Paulina, juga bergelar Naduma

Bulung Pangondian, boru Regar, putri ke-4 Ompu Raja Oloan Siregar dari Bunga Bondar. Keturunannya:

  1. Surto Meta Khristina (Tabiran, pr), lahir…. di Hanopan.
  2. Dagar Na Lan (Dagar, pr), lahir…..di Hanopan.
  3. Dimpu, lahir….. di Hanopan.
  4. Menmen (pr), lahir di Hanopan.
  5. Siti Dinar (Dinar, pr), lahir di Hanopan.
  6. Partaonan (Parta), lahir di Hanopan.
  7. Hakim, lahir di Hanopan.
  8. Poma, lahir di Hanopan.
  9. Krisna Murti (Murti, pr), lahir di Hanopan.
  10. Bagon, lahir…..1922 di Hanopan.
  11. Bakhtiar (Samsu), lahir 23 Agustus 1924 di Hanopan.
  12. Toga Mulia (Toga), lahir 30 Juli 1928 di Hanopan.
  13. Sitiurma (Tiurma, pr), lahir 31 Agustus 1936 di Hanopan.

c. Ompung Rakhmat Harahap, gelar Sutan Nabonggal, Haji Abdullah Umar, dengan istri Gorga Siregar, gelar Ompu ni Mina, boru

Regar dari Bondar Sampulu, iboto Sutan Kalisati Siregar. Keturunannya:

  1. Bahat, lahir…….di Hanopan.
  2. Utir (pr), lahir di Hanopan.
  3. Marip, lahir 11 April 1927 di Hanopan.
  4. Sahada (pr), lahir di Hanopan.
  5. Malige (Lige, pr), lahir di Hanopan.
  6. Zainuddin (Sai), lahir di Hanopan.
  7. Siti Aisyah (Cia, pr), lahir di Hanopan.

Dengan demikian cucu Amang Tobang Baginda Parbalohan semuanya berjumlah 32 orang.

 

 

——–selesai——-

 

Disusun oleh cicit Baginda Parbalohan:

H.M.Rusli Harahap,

gelar Sutan Hamonangan

Pamulang Residence G-1

Jalan Pamulang 2 Raya Pondok Benda. Kode Pos 15416

Tangerang Selatan, Banten. Indonesia.

Tel: 021-74631125.

 

Posted by: rusliharahap | September 23, 2016

KERAGAMAN MITHOLOGI DUNIA

Keberagaman Mitologi Umat

Berdiam di Muka Bumi

——————————-

Pendahuluan

Alam Semesta (Universe) maha luas yang melingkungi kehidupan makhluk berdiam di muka bu-mi ini ialah ruang Alam maha besar, yang belum ada bandingnya dengan apapun yang telah diketahui orang selama ini. Ruang Alam kosong lagi hampa udara (vakum) maha besar ini, ter-nyata tempat keberadaan tidak terhitung bilangan benda-langit yang beraneka ragam, mulai dari bintang yang memancarkan cahaya ke segala penjuru ruang, bermacam benda-langit yang tidak memancarkan cahaya dinamakan planit, dan masih banyak lagi yang lain, dan tidak mungkin dapat diperinci satu persatu disini. Masih belum lagi diketahui orang bentuk Alam Semesta yang mengitari kehidupan umat ini, apakah bulat bagai bola, atau persegi layaknya kubus, atau bentuk lainnya; karena dengan mengatakan terdapat “batas”, sudah berarti ada ruang lain yang berada disebelahnya, lalu mengecilkan ukuran atau dimensi yang disebut terdahulu. Gambar-I memperlihatkan ruang Alam Semesta yang terlihat dari permukaan bumi.

ragammit1

Gambar-I

Alam Semesta mengitari kehidupan makhluk di muka bumi ini tidak diragukan lagi ruangan yang amat sangat besar, dimana terdapat tidak terhitung banyak benda-langit (celestial bodies)  bertebaran yang mengisi Alam Semesta, mulai dari yang tampak siang hari, seperti: matahari dan bulan, hingga yang hanya terlihat pada malam hari, ketika cahaya matahari tengah terhalang oleh bumi, membuat tak-terhitung jumlah bintang tampak gemerlapan menghiasi angkasa sejauh mata memandang, terutama ketika cuaca lagi cerah dan langit sedang tidak berawan, tidak terkecuali bermacam bintang berekor tengah melintas menampakkan diri di angkasa warna kelam, dan  ma-sih banyak lagi lainnya.

Diperkirakan terdapat sekitar 170 sampai 200 Bilyun (1 Bilyun = 1.000.000.000) jumlah Galaksi (Galaxy) terdapat pada bagian Alam Semesta yang tampak dari permukaan bumi. Galaksi adalah himpunan: bermacam sistim-bintang, beragam benda-langit, pecahan aneka ragam benda-benda langit, batu dan debu angkasa, benda hitam (dark matter), dan gas-gas bertebaran antar bintang, yang terjaring oleh sebentuk medan gravitasi. Istilah “galaksi” berasal dari “galaxias” dalam ba-hasa Yunani, yang artinya “milky” dalam bahasa Inggris, atau “bersusu” dalam bahasa Indone-sia. Lalu muncul istilah: “Milky-Way” dalam bahasa Inggris, dan “Jalur Bersusu”, disingkat “Ja-lur Susu” dalam bahasa Indonesia; untuk menamakan galaksi dalam mana terdapat sistim mata-hari (solar system) dimana ada bumi. Adapun “Milky way” sendiri ialah terjemahan dari “Via Lactea” dalam bahasa Yunani, yang memperlihatkan tampilan Galaksi di angkasa terlihat dari muka bumi bagai tumpahan “air susu” diatas meja, yang diketahui orang berasal dari mithologi Yunani. Galileo Galilei seorang astronom bangsa Italia yang pertama mengungkapkan kepada dunia pada tahun 1610, bahwa kumpulan bintik-bintik yang memancarkan cahaya tampak di kejauhan angkasa bagaikan pita dari bumi, sesungguhnya tidak lain dari tidak terhitung jumlah bintang yang setiap dari pada berdiri sendiri. Galileo membuat sendiri teleskop yang digunakan untuk membuktikan kebenaran pernyatannya.

ragammit2

Gambar-II

Terdapat aneka ragam Galaksi yang ada di Alam Semesta, dimulai dari ukuran kecil terdiri ha-nya dari ribuan bintang bergabung, hingga dengan yang ukurannya sangat besar memiliki Tril-yun (1 Trilyun = 1.000.000.000.000) jumlah bintang yang bergabung. Setiap Galaksi berputar mengelilingi pusat massa masing-masing. Galaksi yang tampak dari muka bumi bagai jalur-susu itu, lalu dibedakan orang menurut tampilan masing-masing terlihat dari muka bumi, yakni: ellips, spiral, dan tidak-beraturan. Banyak dari Galaksi yang terdapat di Alam Semesta yang masih menyimpan lubang hitam (black hole) yang terdapat di pusat massa masing-masing yang masih bersifat aktif. Gambar-II memperlihatkan sebuah Galaksi berpenampilan spiral.

ragammit3

Gambar-III

Jalur-Susu (Milky-Way) kemudian menjadi nama Galaksi yang sangat terkenal, karena didalam-nya terdapat “Sistim-Bintang” dikenal dengan nama: “Sistim-Matahari” (Solar System), sebagai-mana terlihat pada Gambar-III. Sistim-Matahari adalah sebuah sistim bintang dimana yang memancarkan cahaya dinamakan Matahari atau Surya, dan terdapat delapan planit yang me-ngorbit mengitari bintangnya. Salah satu planit yang terdapat dalam Sistim-Matahari, yakni pada orbit ketiga, ialah bumi (earth). Permukaan planit disebut belakangan ini, menjadi tempat berdiam berbagai makhluk hidup, masing-masing bernama: manusia, hewan, dan tumbuh-tum-buhan. Gambar-III memperlihatkan Galaksi Jalur-Susu (Milky-Way) terdapat dalam Alam Se-mesta, dimana Sistim-Matahari (Solar System) bertempat tinggal, atau berkediaman, atau juga berdomisili.

ragammit4-2

Gambar-IV

Gambar-IV memperlihatkan Sistim-Matahari dari Gambar III yang ukuran dibuat lebih besar. Dari gambar ini terlihat jelas kedelapan planit yang mengitari Matahari, masing-masing: Mer-kurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Tampak pada gambar akhir ini, diantara planit Mars dengan planit Yupiter terdapat sebaran bongkahan bebatuan Alam Semesta yang juga mengitari Matahari.

ragammit5-2

Gambar-V

Gambar-V memperlihatkan bumi yang juga bernama planit biru (blue planet) oleh warna yang di tampilkannya di angkasa. Adapun bagian permukaan bumi yang tampak, meski kutang jelas ter-lihat wilayahnya, ialah: Indonesia, anak benua India, Irak, Iran, Semenanjung Tanah Arab, Tan-duk Afrika, Mesir, dan beberapa lainnya. Warna coklat ingga hijau memperlihatkan wilayah darat di muka bumi, sedangkan warna biru menunjukkan laut dan samudra.

Karena Alam Semesta ini hampa udara, maka agar: manusia, bermacam hewan, dan aneka ragam tanaman dapat bernafas untuk hidup, Ibu Bumi (Mother Earth) menyiapkan lapisan atmosfir yang menyelimuti bumi dengan udara yang mengandung zat-asam atau oksigen (30%), tidak ter-kecuali bermacam gas lainnya. Ibu Bumi juga menyediakan perairan wujud: paya atau rawa, ko-lam, tambak, danau, sungai, laut, dan samudra, untuk menyediakan air keperluan hidup manusia (70%), bermacam hewan, dan aneka jenis tanaman agar dapat terhindar dari kekeringan. Selain dari itu, Ibu Bumi menyiapkan pula lahan darat tempat berdiam di muka bumi bentuk: pulau, ke-pulauan, dan benua. Di atas berbagai tempat akhir inilah manusia tinggal manusia dan mela-kukan beragam usaha, seperti: bersawah, berkebun, menggali tambang, membangun industri, dan lain sebagainya. Juga pada tempat akhir ini beragam tanaman tumbuh dan berkembang, dan sekaligus menjadi tempat berdiam berjenis hewan liar dan peliharaan berkeliaran menemukan makanan mereka. Agar supaya manusia, bermacam hewan dan aneka jenis tanaman, demikian pula aneka ragam barang yang ada di permukaan bumi tidak terjatuh kedalam ruang Alam Se-mesta yang kosong lagi hampa udara ini, Ibu bumi menyiapkan pula medan gravitasi dan medan magnit di muka bumi (earth gravity and magnetic field) tersebar merata ke segala penjuru planit ini, untuk mengamankan segala benda yang berada di muka bumi agar senantiasa berada pada tempatnya.

Dengan sendirinya muncul segera pertanyaan, bagaimana Alam Semesta tempat berhimpun tak-terbilang jumlah Galaksi, aneka-ragam sistim-bintang, tidak terkecuali benda-benda langit, pe-cahan yang akhir ini, beragam benda hitam, taburan bermacam debu dan gas, dan masih banyak lagi lainnya, dapat hadir di Alam Semesta yang maha besar lagi teramat luas ini. Manusia lewat akal-budi karunia Ilahi dimiliki, akan terus mempertanyakan berdasarkan rasa ingin tahu ter-hadap permasalahan ini. Sampai dengan kini, masih belum juga ditemukan orang jawaban yang memuaskan dahaga ingin tahu insan di muka bumi. Bermacam theori telah dilontarkan sejak a-wal keberadaan insan di muka bumi ini, diperkirakan berawal dari sekitar dua ratus ribu tahun yang silam, dan masih menjadi bahan diskusi dan perdebatan tak kunjung selesai dikalangan insan berfikir serta cerdik pandai bermacam bangsa di muka bumi, diwakili para cendekiawan dan kaum rohaniawan beragam kepercayaan hingga agama. Dengan kemajuan ilmu penge-tahuan dan teknologi, kini telah memasuki abad ke-21, dengan pengetahuan yang telah begitu banyak terhimpun, kaum cerdik pandai pun telah beralih menjadi akademisi beragam disiplin ilmu bermacam bidang, maka diskusi dan perdebatan lalu memenuhi auditorium insan gemar berfikir dan mengetengahkan pendapat berdiam di muka bumi, mulai dari lintang Barat planit biru hingga dengan lintang Timur.

Ciptaan Ilahi dan Penemuan Ilmu Pengetahuan

Ciptaan Ilahi ialah pendapat tertua dan paling awal diketahui orang tentang bagaimana Alam Se-mesta ini tampil ditengah kenyataan hidup manusia, bahkan jadi tempat berdiam makhluk di Alam Semesta, sekaligus tempat berusaha untuk mencari nafkah menjalani kehidupan Alam  Fana selama hayat dikandung badan.

Dengan sendirinya penjelasan demikian tidak memuaskan dahaga ingin tahu manusia, dan ilmu pengetahuan pun bergerak mencari penjelasan astronomi (astronomy) dengan mengungkapkan cosmologi (cosmology) bagaimana Alam Semesta ini dapat terbentang menjadi kenyataan menu-rut jalan fikiran dapat diterima akal juga bersifat logis. Bukankah beragam peristiwa atau ke-jadian berlangsung da ditemukan orang di muka bumi dalam kehidupan sehari-hari juga berjalan menurut aturan yang masuk akal atau logis. Perlu diketahui ilmu astronomi beserta kosmo-loginya merupakan salah satu dari sekian ilmu pengetahuan yang berhasil diungkapkan manusia di muka bumi berasal dari Alam Semesta, sebagaiman juga: matematika, fisika, mekanika, teknik, ilmu logam (metalurgi), dan masih banyak lainnya, tidak lain dari kaidah bermacam pengetahuan yang “dihamparkan” Tuhan Yang Maha Esa, tepatnya Allah Subhanahu Wataala, bersamaan dengan tampilnya Alam Semesta bermilyard tahun yang silam. Bermacam penge-tahuan telah berhasil ditemukan, dan diungkapkan oleh warga bumi wabilkhusus siapa saja dari mereka yang giat melaksanakan penelitian dan pengembangan ilmu dan pengetahuan untuk men-dapatkannya dengan bersungguh-sungguh. Difihak yang lain, bermacam Kitab Suci mulai dari agama bumi hingga dengsn agama samawi yang menyusul kemudian setelah manusia berdiam di muka bumi, tidak lain dari “firman” yang disampaikan oleh Allah Subhanahu Wataala kepada umat disampaikan melalui utusan-Nya. Karena itu tidak mungkin ada pertentangan antara apa yang “dihamparkan-Nya” di Alam Semesta ini silam dengan apa yang “difirmankan-Nya” kemu-dian pada umat berdiam di muka bumi. Kalau ternyata kemudian muncul ketidak sesuaian ber-bagai bagian dari apa yang “dihamparkan-Nya” ditemukan para ilmuwan dengan apa yang “difir-mankan-Nya” menurut hasil kajian (interpretasi) kaum rohaniawan bermacam kepercayaan hing-ga agama, maka hal itu tidak lain disebabkan oleh “kelemahan manusia” memahami keduanya, yakni: apa yang telah dihamparkan-Nya dengan yang ayan difirmankan-Nya kemudian, sehingga perlu dicarikan penyebab yang menimbulkan perbedaan untuk diselesaikan dengan tepat, tanpa menyebabkan adanya kontroversi dibelakang hari.

Karena itu, tidak ada salahnya apabila manusia berusaha menurunkan bermacam theori tentang bagaimana Alam Semesta ini tampil menjadi kenyataan menurut jalan fikiran manusia yang sis-tematis berjalan logis, berangkat dari theori ilmu pengetahuan yang dikembangkan dan hasil pengamatan (observasi) Alam Semesta dan pengalaman hidup yang dihimpun umat di dunia ini. Dibawah ini diturunkan aneka ragam theori yang telah dikembangkan umat di muka bumi sela-ma ini.

  1. Periode Menjelang Tarikh Masehi.
  2. Alam Semesta Brahmanda (telur Kosmos). Dalam kitab Hindu bernama Rigveda, ditulis pada

     sekitar Abad ke-15 hingga ke-12 memasuki tarikh Masehi diterangkan, bahwa Alam Semesta

     ini selalu dalam pergantian atau berayun, dimana sebuah “telur kosmos” bernama Brahmanda,

     bermuatan segala yang terdapat dalam Alam Semesta (termasuk Matahari, Bulan, semua Pla-

     net, dan lainnya) berkembang dari sebuah titik konsentrasi tertentu bernama Bindu, sebelum

     kembali menyusut ke keadaan yang semula. Kosmos ialah Alam Semesta yang memiliki atu-

     ran. Alam Semesta ini berulang kali mengembang lalu menyusut berlangsung terus menerus

     tanpa mengenal henti.

  1. Alam Semesta Nabi Musa AS. Pada sekitar Abad ke-14 sebelum tarikh Masehi di semenan-

    Jung Sinai turun Firman Tuhan untuk umat Yahudi yang kemudian dikenal dengan kitab

    Taurat. Di dalam kitab ini diterangkan bagaimana Alam Semesta ini muncul menjadi kenyata-

    an kepada umat berdiam di muka bumi.

  1. Alam Semesta Anaxagoras. Pada sekitar Abad ke-5 sebelum Masehi seorang filosof Yunani

    bernama Anaxagoras beranggapan, bahwa kosmos adalah campuran asli dari segala macam ba

    gian yang menjadikannya dari pecahan amat sangat kecil. Campuran ini tidak semuanya sera-

    gam, karena ada bagian yang memiliki konsentrasi yang lebih tinggi dari lainnya, juga bervari-

    asi dari satu tempat ke tempat yang lain. Pada suatu ketika tertentu, campuran ini bergerak o-

    leh perbuatan “nous” (akal), dan adukan ini pun berpindah mengakibatkan bermacam bagian

    pembentuk memisahkan diri lalu melahirkan berjenis bahan dengan sifatnya masing-masing,

    seperti yang ditemukan orang pada saat ini.

  1. Alam Semesta serba atom. Kemudian pada Abad ke-5 sebelum Masehi, dua orang filosof Yu-

    nani, yakni: Leucippus dan Democritus, mengajarkan segalanya yang serba atom. Menurut

    kedua pemikir Yunani ini, Alam Semesta yang maha besar lagi sangat luas ini terbentuk dari

    unsur amat sangat kecil yang tidak dapat dibelah dan tidak pula dapat dihancurkan bernama

    “atomos”. Kata atom berasal dari atomos dalam bahasa Yunani artinya terkecil yang tidak

    dapat dibelah lagi. Segala benda nyata, apapun bentuknya terdapat di Alam Semesta terbuat

    dari susunan bermacam atom abadi dengan ruang kosong tak berbatas terdapat diantaranya,

    dengan mana keduanya menciptakan bermacam kombinasi yang menciptakan beragam ben-

    tuk bangun.

  1. Alam Semesta Aristoteles. Aristoteles seorang filisof Yunani dari Abad ke-4 sebelum Masehi

     memperkenalkan pula Alam Semesta geosentris, dengan bumi yang tetap bertindak sebagai

     pusatnya. Benda-benda langit lainnya lalu mengitari bumi dengan bermacam orbit lingkaran

     sepusat, tidak terkecuali beragam bintang yang terdapat di kejauhan angkasa. Walaupun ia me

     ngakui Alam Semesta ini terbatas ukurannya, akan tetapi ia bersikukuh mengatakan bahwa

     tampilannya tidak berubah dan statis sampai ke akhir zaman. Aristoteles  juga memperkenal-

     kan empat unsur alam klassik yakni: api, air, tanah, dan air, dan digerakkan dua gaya berla-

     wanan, masing-masing: gaya berat (kecenderungan tanah dan air untuk tenggelam) menuju

     ke dalam perut bumi dan menguap naik keudara (kecenderungan udara dan api naik ke atas).

     Akhirnya ia menambahkan lagi elemen kelima bernama ether, untuk menjelaskan bahan pe-

     ngisi ruang kosong (vakum) Alam Semesta terdapat diantara berbagai macam benda langit.

ragammit6

(Click for a larger version)
Alam Semesta bumipusat atau geosentris Aristoteles
(Source: Cartage.org: http://www.cartage.org.lb/en/
themes/sciences/mainpage.htm
)

  1. Alam Semesta Stoic. Kaum Stoic pandangan filsafat Yunani purba (sekitar Abat ke-3 sebelum

    Dan setelah Masehi) ketika itu percaya akan adanya “pulau Alam Semesta”, yakni kosmos ter-

    batas yang dikelilingi ruang hampa udara (vakum) tak terbatas (tidak beda pada dasarnya de-

    ngan Galaksi). Menurut pendapat mereka kosmos ini berubah-ubah ukurannya dan berdenyut

    melibatkan pergolakan api yang sangat besar. Menurut kaum Stoic, Alam Semesta ini bagai sa

    tu tubuh makhluk raksasa, dengan berbagai bagian tubuh utama: beragam bintang dan Mataha-

    ri, namun semuanya saling berkaitan, sehingga apa yang terjadi pada suatu bagian akan segera

    mempengaruhi bagian lainnya. Mereka juga percaya pada kejadian berkala dalam sejarah,

    yang mengatakan bahwa dunia ini awalnya adalah sebuah bola api, dan akan kembali lagi

    menjadi bola api. (Pendapat ini berasal dari Heraklitus).

  1. Alam Semesta Heliosentris. Pada Abad ke-3 sebelum Masehi, seorang astronom dan matema-

    tikawan Yunani bernama: Aristarchus dari Samos, ialah orang pertama di dunia yang menga-

    takan dalam argumen terbuka model “Sistim Matahari” atau Solar System, menempatkan Ma-

    tahari, bukan Bumi, sebagai pusat peredaran Alam Semesta yang dikenal orang ketika itu.

    Ia mengemukakan Bumi berputar pada porosnya setiap hari dan beredar mengorbit Matahari

    dalam lintasan berupa lingkaran, yang diiringi segugusan bintang tetap.  Gagasan yang disam-

    paikannya ini ditolak masyarakat karena orang banyak menggandrungi ajaran geosentris yang

    telah diperkenalkan oleh Aristoteles dan Ptolemaeus. Baru 1800 tahun kemuian Kopernikus

    berhasil memulihkan Sistim Matahari Aristarchus. Meskipun demikian terdapat kekecualian:

    Seleucus dari Seleucia, hidup sekitar satu abad setelah Aristarchus, tetap mendukung gagasan

    Heliosentris dan memanfaatkannya untuk menerangkan munculnya banjir (rob) dan pengaruh

    kedudukan Bulan. Seorang astronom dan matematikawan India bernama Aryabhata pada akhir

    Abad ke-5 Masehi mengatakan bahwa orbit Bumi mengitari Matahari yang bukan lingkaran, a

    kan tetapi ellips; demikian juga astronom Muslim yang bernama Ja’far Ibnu Muhammad Abu

    Ma’shar al-Balkhi dan mengakuinya pada Abad ke-9 Masehi.

  1. Periode Setelah Tarikh Masehi
  2. Alam Semesta Nabi Isa AS. Tepat pada awal tarikh Masehi Nabi Isa AS lahir di Nazareth, de-

    kat Bethlehem, Israel. Isa AS membawa kitab suci agama Kristen untuk umat Nasrani yang di-

    namakan Injil. Di dalam kitab ini diterangkan bagaimana Alam Semesta ini muncul menjadi

    kenyataan dihadapan umat yang berdiam di muka bumi.

  1. Alam Semesta Ptolemaeus. Pada Abad ke-2 setelah Masehi, seorang astronomer dan metema-

    tikawan Mesir-Romawi bernama Claudius Ptolemaeus menerangkan model geosentris berang-

    kat kebanyakan dari pendapat Aristoteles, bahwa planet-planet dan Alam Semesta ini juga me-

    ngitari Bumi siklustepi (epicycle). Dalam hal masa berlaku, model kosmologi (cosmologi)

    ini ternyata terpanjang masa berlakunya dibandingkan lainnya yang pernah diketahui orang.

    Model lain dari gagasan awal Ptolemaeus, diperkenalkan pula oleh Sekolah Islam Maragha

    (the Islamic Maragha School) pada Abad ke-13, Abad ke-14, dan Abad ke-15 setelah Masehi,

    termasuk model bulan pertama oleh Ibn al-Shatir, dan penolakan Bumi diam namun berfihak

    kepada bumi beredar dari pandangan Ali Qushji.

ragammit6

  1. Orbit planet lingkaran

(Click for a larger version)
Alam Semesta bumipusat atau geosentris Ptolemaeus
(Source: Cartage.org: http://www.cartage.org.lb/en/
themes/sciences/mainpage.htm
)

ragammit7

 2. Orbit planet Epicycle

  1. Alam Semesta Nabi Muhammad SAW. Pada awal abad ke-7 setelah Masehi, Nabi Muham-

      mad menerima wahyu dari Allah dalam gua Hiraq, Mekah, Saudi Arabia, mengajarkan kitab

      Al-Quran untuk kaum Muslim yang mengajarkan agama Islam. Di dalam kitab ini diterang-

      kan bagaimana Alam Semesta ini muncul menjadi kenyataan kepada umat berdiam di muka

      bumi.

  1. Alam Semesta Abraham. Sejumlah masyarakat berpendidikan kala itu Keristen, Islam, dan

     Yahudi mengangkat permasalahan Alam Semesta tetap menurut waktu. Pada Abad ke-6 se-

     telah Masehi, filosof Keristen bernama John Philoponus dari Alexandria menolak pernyataan

     Yunani kuno yang mengatakan tentang lampau yang tak terbatas, dan barangkali komentator

     petama mengatakan bahwa Alam Semesta ini terbatas dalam waktu, sehingga mempunyai a-

     wal. Masyarakat theolog awal Muslim, seperti Al-Kindi (abad ke 9 Masehi, dan Al Gazali se-

     (abad ke 11 Masehi) menyampaikan argumen logis yang mendukung Alam Semesta terbatas,

     bagaimana juga filosof Yahudi dari abad ke-10 bernama Saadia Gaon.

  1. Alam Semesta Sebagian Heliosentris. Pada abad ke-15 dan Abad ke-16 setelah Masehi, So-

      mayaji Nilakantha dari Sekolah Astronomi dan Matematika Kerala (The Kerala School of

      Astronomy and Mathematics), di selatan India mengembangkan sistim komputasi untuk se-

      bagian sistim model planit heliosentris, dimana Mercurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Satur-

      nus, mengorbit mengitari Matahari, lalu semuanya menorbit Bumi. Dan pendapat ini mirip

      sekali de ngan  sistim Tychonic yang diperkenalkan oleh bangsawan Tycho Brahe, kemudian

      pada Abad ke-16, sebagai gabungan dari model-model Ptolemaeus dan Kopernikus.

  1. Alam Semesta Kopernikus. Pada tahun 1543 M seorang astronomer dan polimatik (polyma-
  2. th) bangsa Polandia bernama Nikolaus Kopernicus berupaya menyesuaikan model geosentris

      Maragha pilihan Ibnu Al-Shatir dengan keperluan Alam Semesta “heliosentris kuno” usulan

      Aristarchus.

      Uraian theori heliosentris dipublikasikannya, memperlihatkan bagaimana bermacam benda la

      angit dapat bergerak tanpa harus membuat bumi harus diam di pusat Alam Semesta, yang me

      nebabkan penelitian ilmu berkembang lebih jauh dan meletakkan landasan sejarah ilmu pe-

      ngetahuan moderen, terkadang dinamakan Revolusi Kopernikus. Adapun yang disebut prin-

      sip Kopernikus (bumi bukanlah sebuah pusat pilihan) berdampak pada kenyataan bahwa ber-

      macam benda langit juga tunduk kepada hukum alam (fisika) sebagaimana yang berlaku di

      muka bumi, dengan pertama menemukan dahulu kosmologi (cosmology) sebagai bidang il-

      mu, dan bukan mencari cabang filsafat yang baru samasekali.

ragammit8-2

(Click for a larger version)
Alam Semesta mataharipusat atau heliosentris Kopernikus
(Source: Cartage.org: http://www.cartage.org.lb/en/
themes/sciences/mainpage.htm

 

     Pada tahun 1576 astronomer Inggris bernama Thomas Digges mempopulerkan gagasan Kopernikus, juga meluaskannya dengan menempatkan begitu banyak sistim bintang sampai tak terhingga, tidak hanya sejumlah sisitim bintang band sempit relatif kurang bermakna, sebagaimana yang dikerjakan Kopernikus. Astronomer Italia Giordano Bruno tahun 1584 bahkan lebih jauh lagi mengembangkan prinsip Kopernikus ini dengan mengatakan, bahwa Sisitim Matahari (Solar System) bukanlah pusat Alam Semesta, tetapi kemungkin sistim bintang yang relatif kurang bermakna diantara yang tak terhingga lain-nya. Pada tahun 1605, Johannes Kepler melaksana penyempurnaan lebih jauh dengan melenyapkan samasekali orbit lingkaran dan menggantikan semuanya dengan orbit ellips  yang memudahkan penjelasan mengapa planet-planet bergerak terlihat aneh. Dukungan kontroversial Galileo ketika itu terhadap model heliosentris Kopernikus, meski ditentang keras Takhta Suci di  kota Roma pada awal abad ke-17, banyak berjasa mempopulerkan ide heliosentris.

  1. Alam Semesta Vortex Kartesian. Pada pertengahan abad ke-17, filosot Perancis René Des

      cartes membuat model Alam Semesta yang banyak kesamaannya dengan cara Newton

      yang kemudian Alam Semesta statis dan tak terbatas. Akan tetapi, menurut Descartes, ru-

      ang vakum di angkasa tidak kosong samasekali, namun berisi bahan (materi) yang berke-

      liling dalam pusaran besar dan kecil. Pendapatnya mencakup pusaran kolam cairan ether

      atau benda amat halus, dan menghasilkan apa yang lalu dikenal dengan pengaruh gravita-

  1. Alam Semesta Statis (Pandangan Newton). Pada tahun 1687, Sir Isaac Newton dari Ing-

      gris menerbitkan tulisan berjudul “Principia” (Hukum Dasar), yang menjelaskan diantara

      berbagai hal, ialah Alam Semesta dalam keadaan: statis, keadaan tetap, dan keadaan tak

      terbatas, yang oleh Einstein pada awal Abad ke-20, dijadikan sebagai masukan (sampai

      dengan ia buktikan sebaliknya). Dalam Alam Semesta Newton benda ( materi) berukuran

      besar terbagi secara merata, dan Alam Semesta ini dengsn medan gravitasinya seimbang,

      tetapi pada hakekatnya tidak stabil.

  1. Alam Semesta Hierarkhis dan Hipothesis Nebula. Walaupun pada dasarnya masih ber-

      pandangan  Alam Semesta statis dari Newton, bahan (materi) dalam Alam Semesta hier-

      arkhis terkelompok kedalam sekala hierakhi lebih besar, dan menjalani daur ulang yang

      tidak habis-habisnya. Hal ini pertama kali digagas oleh Emanuel Swedenborg pada tahun

      1734, seorang ilmuwan dan filosof asal Swedia, dan dikembangkan lebih jauh secara ter-

      pisah oleh  Thomas Wright (1750), Immanuel Kant (1755), dan Johann Heinrich Lam-

      bert (1761), lalu model yang sama juga diusulkan oleh Pierre-Simon Laplace tahun 1796.

      Nebula adalah kata dalam bahasa Latin untuk awan, digunakan untuk menerangkan kabut

      debu, hidrogen, helium, dan beragam gas yang terionisasi lain.

        Perang Dunia pertama, Perang Agung, Perang Global, berlangsung di daratan Eropa

       berlangsung dari tanggal 28 Juli tahun 1914 hingga tanggal 11 Nopember tahun 1918.

  1. Alam Semesta Einstein. Adapun model Alam Semesta gagasan Albert Einstein dalam the-

      ori dasar medan gravitasi pada awal Abad ke 20 tidak berbeda dari Newon dalam hal A-

      lam Semesta yang statis, dinamis stabil tidak mengembang maupun menyusut. Akan teta-

      pi ia perlu menambahkan “konstanta kosmologi” pada persamaan relativitas umum untuk

      mengimbangi pengaruh dinamis medan gravitasi yang apabila tidak akan menyebabkan

      Alam Semesta ini akan dengan sendirinya runtuh. Meskipun ia kemudian mengabaikan

      bagian dari theorinya itu ketika Edwin Hubble memperlihatkan tahun 1929 mengatakan

      dengan tegas bahwa Alam Semesta ini tidak bersifat statis.

  1. Alam Semesta Letusan Dahsyat (Big Bang). Setelah Hubble memperagakan bahwa Alam

       Semesta berkembang terus menerus tahun 1929 (dan terlebih setelah penemuan radiasi la-

       tarbelakang  (background radiation) gelombangmikro (microwave) kosmos oleh Arno Pen

       zias dan Robert Wilson pada tahun 1965). bermacam versi Letusan Dahsyat telah pula ber

       kembang menjadi jalurutama (maistream) pandangan ilmu pengetahuan dewasa ini.

ragammit10

(Click for a larger version)
Alam Semesta Letusan Dahsyat (Big Bang) dan pengembangannya.
(Source: HETDEX: http://hetdex.org/dark_energy/index.php)

      Theori Letusan Dahsyat mengemukakan, bahwa Alam Semesta ini berawal dari titik yang tak terhingga kecil, dan tak terhingga padat bernama singlaritas (singularity) pada sekitar 13 hingga 14 Milyard tahun silam, yang berkembang terus sejak dari saat yang bersejarah itu. Bagian uta-ma theori umumnya dialamatkan kepada Georges Lemaitre tahun 1927, seorang pendeta dan ahli fisika Katholik-Roma dari Belgia tahun (bahkan sebelum muncul sumbangan Hubble), meski theori yang sama pernah diusulkan tetapi tidak dilanjutkan oleh Alexander Friedmann seorang kebangsaan Rusia tahun 1922. Fridmann sebetulnya telah menyiapkan dua model A-lam Semesta yang berkembang berangkat dari persamaan-persamaan theori relativitas umum Einstein, sebuah lengkung positiv atau sistim koordinat spheris, dan  lainnya lengkung nega-tiv atau ruang hiperbolis.

  1. Alam Semesta Berayun. Ini adalah model Alam Semesta yang digemari Albert Einstein, se-

       telah menolak model Alam Raya awal pilihan sebelumnya tahun 1930 silam. Alam Semesta

       berayun ini mengikuti model Alam Semesta berkembang dqari Alexander Friedmann yang

       juga berangkat dari persamaan-persamaan relativitas umum lengkung positif (ruang spheris),

       membuat Alam Semesta berkembang sesaat lalu kemudian menyusut kembali oleh gaya ta-

       rik medan gravitasi, berayunan abadi Letusan Dahsyat yang diiringi Susut Dahsyat. Waktu

       ayun berlangsung tidak terbatas dan tidak pula terdapat waktu permulaan, dan  awal waktu

       paradox dalam hal ini ditiadakan.

       Perang Dunia Kedua, Perang Global, berlangsung dari tahun 1939 hingga tahun 1945 mes-

       ki telah diawali konflik sebelumnya. Sebagian besar negara di muka bumi terlibat, termasuk

       sejumlah negara besar, yang kemudian mengerucut menjadi dua kubu, masing-masing: Se-

       kutu dan Poros (Axis).

  1. Alam Semesta Mantap. Ini adalah kosmologi bersifat tidak standard (artinya bertentangan de

       ngan model Alam Raya Letusan Dahsyat, atau Big Bang) telah muncul dalam bermacam ver

       si sejak theori Letusan Dahsyat itu diterima dan bergulir di kalangan para ilmuwan. Salah sa-

       tu variasi populer dari Alam Semesta mantap (steady state) telah diajukan tahun 1948 oleh

       Fred Hoyle seorang astronomer Inggris berikut dua astronomer Austria masing-masing Tho-

       mas Gold dan Hermann Bondi.

ragammit11

(Click for a larger version)
Perluasan Alam Semesta diamati yang menggelembung
(Source: Wikipedia: http://en.wikipedia.org/wiki/Cosmic_inflation

       Telah diramalkan bahwa Alam Semesta ini terus menggelembung, meski kepadatannya ti-

       dak bertambah kendati bahan (materi) terus menerus ditambahkan kepadanya, tidak lain gu-

       na mempertahankan agar kepadatan bahan dalamnya selalu tetap. Meski masih terdapat ke-

       kurangan, akan tetapi model Alam Raya ini sangat populer sampai dengan ditemukan radia-

       asi latarbelakang gelombangmikro kosmos oleh Arno Penzias dan dan Robert Wilson tahun

       1965), yang menyokong model Alam Raya Letusan Dahsyat (Big Bang).

      Proyek Apollo, penerbangan angkasa luar ketiga oleh Amerika Serikat dilaksanakan NASA,

      mulai tahun 1969 hingga tahun 1972 mendaratkan manusia di permukaan bulan. Dari 17 bu

      ah proyek dirancang: Apollo 11, Apollo 12, Apollo 14, Apollo 15, Apollo 16, dan Apollo 17

       berhasil mendarat di permukaan bulan dan kembali ke bumi dengan selamat.

  1. Alam Semesta Menggelembung. Pada tahun 1980, seorang fisikawan Amerika Alan Guth me

      ngusulkan model Alam Raya yang juga berangkat dari Letusan Dahsyat, tetapi melengkapi-

      nya dengan masa awal penggelembungan kosmos eksponential untuk mencari jalan keluar ter

      hadap permasalahan horizon dan datarnya model standard Letusan Dahsyat. Variasi lain dari

      Alam Semesta yang menggelembung ialah model siklus yang dikembangkan oleh Paul Stein-

      hard dan Neil Turok  pada tahun  2002 menerapkan Theory-M mutakhir (state-of-the-art M-

      Theory), theori superstring (superstring theory), dan Brane cosmology, yang menyebabkan A

      lam Semesta ini mengembang lalu menyusut secara berkesinambungan tidak pernah menge-

      nal henti.

  1. Alam Semesta Jamak. Andrei Linde seorang fisikawan Rusia-Amerika mengembangkan lan-

      jut gagasan Alam Semesta menggelembung tahun 1983, memperkenalkan theori gelembung

      kaotis (penggelembungan abadi), menggambarkan Alam Semesta ini sebagai salah satu dari

      sekian banyak bilangan balon yang tampil, sebagai bagian dari “multi universe” disingkat:

       “multiverse”, atau dalam bahasa Indonesia Alam Semesta Jamak, disingkat: ASJ oleh hadir-

      nya ruang vakum yang belum sirna. Ahli fisika Hugh Everett III dan Bryce DeWitt dari Ame

      rika Serikat sebenarnya telah lebih dahulu mengembangkan dan mempopulerkan “dunia ja-

      mak” untuk multiverse mereka yang ketika itu masih pada tahun 1960 dan tahun 1970.

      Sebagai pilihan lain telah pula dikembangkan, dimana Alam Semesta yang dapat diamati ini

      hanyalah bagian kecil beraturan dari sebuah Kosmos besar takberhingga kebanyakan darinya

      berada dalam keadaan kaos (kacau balau), atau bagian Alam Semesta teratur ini tampaknya

      hanya satu episode sementara dari sederetan takberhingga kebanyakan bersifat kaotis dari

      rangkaian susunan tidak beraturan.

      Pengamatan Alam Semesta.

      Para astronom yang mempelajari kosmilogi lalu melakukan pendekatan dari apa yang telah

      dihamparkan-Nya, dan mendirikan pusat-pusat pengamatan Alam Semesta bernama observa-

      rium di seluruh penjuru dunia, dari berbagai ketinggian diatas muka laut untuk mengamati pe

      rilaku beragam benda-langit guna mengungkapkan: keberadaan, sifat, dan prilaku setiap dari

      padanya untuk diketahui dengan sebaik-baiknya. Tidak hanya yang bersifat kebendaan saja

      yang harus diketahui ilmuwan, tetapi juga yang bukan-benda, seperti: tenaga hitam (dark e-

      nergy), benda hitam (dark matter), neutrinos, dan lain sebagainya yang belum terungkap. Pe-

      ngamatan terhadap apa yang dihamparkan-Nya, kini telah pula berkembang dari yang awal-

      nya bernama “observatorium bumi”, kini telah pula menjadi “observatorium terbang”, obser-

      vatorium orbit”, “observatorium penjelajah”, dan “observatorium pendarat”.

  1. Observatorium Bumi.

          Dibawah ini adalah sejumlah observatoriun yang berhasil dibangun di muka bumi untuk

          mengamati bermacam benda-langit berkegiatan dalam Alam Semesta.

  1. Tahun 825 AD, Observatorium Al-Shammisiyyah Baghdad, Iraq.
  2. Tahun 869, Observatorium Mahodayapuram Kerala, India.
  3. Tahun 1259, Observatorium Maragheh, Azerbaijan.
  4. Tahun 1276, Observatorium Gaocheng, China.
  5. Tahun 1420, Observatorium Ulugh Beg, Samarkand, Uzbekistan.
  6. Tahun 1442, Observatorium Kuno Beijing, China.
  7. Tahun 1577, Observatorium Taqi al-Din dari Istanbul, Turki.
  8. Tahun 1580, Observatorium Uraniborg, Denmark.
  9. Tahun 1581, Observatorium Stjerneborg, Denmark.
  10. Tahun 1642, Observatorium Panzano, Italy.
  11. Tahun 1642, Observatorium Round Tower, Denmark.
  12. Tahun 1633, Observatorium Leiden , Netherland.
  13. Tahun 1667, Observatorium Paris, France.
  14. Tahun 1675, Royal Greenwich, England.
  15. Tahun 1695, Menara Sukharev, Russia.
  16. Tahun 1711, Observatorium Berlin, German.
  17. Tahun 1724, Observatorium Jantar Mantar, India.
  18. Tahun 1753, Observatorium Stockholm, Sweden.
  19. Tahun 1753 Observatorium,  Universitas Vilnius, Lithuania.
  20. Tahun 1753, Institute Angkatan Laut Kerajaan dan Observatorium, Spanyol.
  21. Tahun 1759, Observatorium Trieste, Italia.
  22. Tahun 1757, Observatorium Macfarlane, Skotlandia.
  23. Tahun 1759, Observatorium Turin, Italia.
  24. Tahun 1764, Observatorium Astronomi, Brera , Italia.
  25. Tahun 1765, Observatorium Mohr, Indonesia.
  26. Tahun 1774, Observatorium Vatican, Vatican.
  27. Tahun 1785, Observatorium Dunsink , Irlandia.
  28. Tahun 1786, Observatorium Madras , India.
  29. Tahun 1789, Observatorium Armagh , Irlandia Utara.
  30. Tahun 1790, Observatorium Real de Madrid, Spanyol.
  31. Tahun 1803, Observatorium Astronomi National , Bogotá, Colombia.
  32. Tahun 1811, Observatorium Tartu Old, Estonia.
  33. Tahun 1812 Observatorium Astronomi Capodimonte, Naples, Italia.
  34. Tahun 1830/1842, Depot of Charts & Instruments, Observatorium Angkatan Laut AS,

                USA.

  1. Tahun 1830, Observatorium Universitas Yale University, Atheneum, USA.
  2. Tahun 1838, Observatorium Hopkins, Williams College, USA.
  3. Tahun 1838 Observatorium, Loomis, Western Reserve Academy, USA.
  4. Tahun 1839 Observatorium, Pulkovo , Russia.
  5. Tahun 1839/1847, Observatorium Harvard College, USA.
  6. Tahun 1842, Observatorium Cincinnati, USA.
  7. Tahun 1873, Observatorium Astronomi Quito , Ecuador.
  8. Tahun 1884, Observatorium McCormick , USA.
  9. Tahun 1890, Observatorium Astrofisika Smithsonian, USA.
  10. Tahun 1894, Observatorium Lowell , USA.
  11. Tahun 1897, Observatorium Yerkes, USA.
  12. Tahun 1899, Observatorium Matahari Kodaikanal, India.

II. Observatoriun Terbang

ragammit12

Observatorium terbang dipanggil SOFIA adalah pesawatterbang Boeing 747SP diran-cang untuk menerbangkan teleskop yang bergaris tengah 100-inchi. Observatorium terbang ini ialah sebuah proyek kerjasama antara Pusat Aerospace Jerman dengan NASA Amerika Serikat. Ames Resea-rch Center Silicon Valley milik NASA, bertugas melola program-program SOFIA, untuk tujuan ilmu pengetahuan yang bekerja sama dengan Perkumpulan Peneliti Angkasa Universitas berpu-sat di Columbia, Maryland, dan lembaga German SOFIA Iinstitute (DSI) dari Universitas Stut-tgard. Pesawatterbang berpangkalan di Armstrong Flight Reseach Center, Hangar 703, di Palm-dale Calfornia, Amerika Serikat.

Keunggulan observatorium terbang ini ialah keberadaannya yang tinggi di atas beragam instalasi darat terdapat di permukaan bumi, sekaligus berada pada bagian paling atas atmosphere bumi se-hingga dapat terhindar dari pengaruh perubahan cuaca.

Observatorium terbang juga lebih menguntungkan ketimbang observatorium orbit (teleskop me- ngorbit bumi), karena selain dari cepat dapat digunakan juga mudah merbaikinya dengan ongkos pengerjaan yang lebih murah.

           III. Observatoriun Orbit

Observatorium orbit adalah instrumen pengamat Alam Semesta yang ditempatkan di angkasa lu-ar, dan kebanyakan daripadanya mengorbit bumi. Teleskop angkasa dapat digunakan untuk me- ngamati bermacam objek astronomi lewat spektrum panjang gelombang elektromaknit yang ti-dak mampu menerobos tebalnya lapisan atmosphere bumi, dan inilah pula alasannya mengapa observatorium bumi tidak dapat digunakan. Perlu diketahui atmosphere bumi ini tidak dapat di-terobos radiasi ultrviolet, pancaran sinar-X, dan sinar-sinar gamma, namun secara sebagian sinar inframerah mampu menerobosnya, dan itulah sebabnya untuk sebagian spektrum gelombang e-lektromaknit pengamatan jauh lebih baik dilakukan diluar atmosphere planit ini. Keuntungan lain dari observatorium orbit, karena berada di luar atmosphere bumi, gangguan turbulensi udara dan lain sebagainya yang biasa dialami observatorium bumi menjadi sama sekali tidak ada.  Sebagai akibatnya ketajaman resolusi (angular resolution) gambar yang diperoleh teleskop Hubble di ang kasa jauh lebih kecil ketimbang perolehan observatorium bumi  pada bukaan jendela (aperture) yang sama. Akan tetapi, segala keunggulan ini muncul dengan harga teleskop angkasa yang lebih mahal kettimbang observatorium bumi. Karena keberadaannya di angkasa luar teleskop yang terdapat di orbit sangat mahal biaya perawatannya. Teleskop angkasa Hubble dirawat dengan meng utus pesawat angkasa bolak-balik (space shuttle) berawak dari bumi datang berkala. Telaskop angkasa lain yang lebih dahulu diluncurkan, karena letaknya lebih jauh dibiarkan saja hilang oleh biaya perawatan yang tidak lagi terjangkau.

ragammit13

Teleskop Hubble yang mengorbit bumi.

  1. Observatoriun Jelajah.

Upaya manusia untuk mengetahui lebih jauh Alam Semesta, bagaimana ia muncul menjadi ke-nyataan dalam hidup Alam Fana ini, lalu keadaannya, dan kemudian kemana akhirnya menuju kelak, kini dilakukan dengan melepas “Observatoriun Jelajah” dari permukaan bumi dengan ber-macam bentuk, maksud, tujuan, hingga mendarat di permukaan benda-langit (planit, asteroid, atau lainnya) yang didarati, bahkan membawa kembali ke bumi selain laporan ilmiah, juga as-berbagai contoh benda atau bahan yang berhasil dipungut dari permukaan benda-langit (planit, teroid, atau lainnya) yang berhasil dikunjungi. Terdapat dua golongan Observatoriun Jelajah ini, masing-masing:  Observatoriun Jelajah Tanpaawak (OJT), dan Observatoriun Jelajah Berawak (OJB). Laporan perjalanan OJT dikirim ke bumi melalui gelombang elektromaknit berfrequensi tinggi yang ditangkap di bumi dengan antena parabola besar. Adapun laporan OJB terbagi dua, ada yang dikirim dengan gelombang elektromaknit frequesi tinggi, namun ada juga yang dibawa  para astronout yang melakukan misi menjelajah antariksa. OJT yang sudah menunaikan tugas tidak dapat lagi kembali ke bumi dan akan berserakan terlantar di antariksa menjadi sampah A- lam Semesta (Universal Waste) bikinan manusia.

Beragam Misi Penjelajahan ke Angkasa Luar sejumlah negara.

Dua negara di muka bumi: Uni-Sovyet (Rusia) dan Amerika Serikat lalu memulai perlombaan mengarungi angkasa luar Alam Semesta ini, yang lalu diikuti negara-negara lain yang juga me-nguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemampuan ekonomi sesuatu bangsa.

  1. Tanggal 4 Oktober 1957, Uni Sovyet meluncurkan satelit Sputnik-1 ke angkasa yang kemu-

     dian mengorbit bumi.

  1. Tanggal 3 Nopember 1957, Sputnik -2 meluncur ke orbit bumi dengan anjing Laika yang ber-

    ada didalamya.

  1. Tanggal 31 Januari 1958 Amerika Serikat meluncurkan Satelit pertama Explorer-1 bikinan

    “Jet Propulsion Laboratory” (JPL), dari Institut Teknologi California, didorong roket Jupiter

    C yang bertolak dari Cape Canaveral Florida dipimpin Dr. Wernher Von Braun.

  1. Tanggal 19 Agustus 1960, Sputnik-5 membawa dua anjing bernama Strelka dan Belka. Kedua

    hewan menjadi makhluk pertama yang berhasil melangsungkan perjalanan antariksa.

  1. Tanggal 12 April 1961, Yuri Gagarin cosmonaut Rusia menjadi orang pertama di dunia me-

    luncur ke angkasa seputar bumi, dan kembali selamat tiba di bumi.

  1. Tanggal 5 Mei 1961 Allan Shephard cosmonaut Amerika Serikat pertama meluncur ke angka-

    sa dan kembali lagi ke bumi.

  1. Tanggal 25 Mei 1961, Presiden Kennedy menantang negerinya mendaratkan manusia di per-

    mukaan bulan sebelum Abad ke-20 berakhir.

  1. Tanggal 20 Februari 1962, astronaut John Glenn menjadi orang Amerika Serikat pertama yang

    berhasil ke antariksa untuk mengorbit bumi.

  1. Tanggal 16 Juni 1962, Valentina Nikolayeva Tereshkova menjadi astronaut wanita pertama

    di dunia asal Rusia terbang ke antariksa, dan kembali selamat di bumi.

  1. Tanggal 18 Maret 1965, meski tertambat pada pesawat angkasa, astronaut Leonov menjadi

      manusia pertama yang berhasil jalan-jalan di angkasa.

  1. Tanggal 3 Juni 1965, astronaut Ed White adalah orang Amerika Serikat pertama berhasil ja-

      lan-jalan di angkasa.

  1. Tanggal 14 Juli 1965 pesawat antariksa Marinir 4 mengirim gambar permukaan planit Mars

      yang pertama.

  1. Tanggal 3 Februari 1966, pesawat angkasa buatan manusia asal Rusia bernama Luna 9, ber-

      hasil mendarat di permukaan bulan untuk pertama kali.

  1. Tanggal 2 Juni 1966, pesawat antariksa Amerika Serikat Surveyor 1 berhasil mendarat di per-

       mukaan bulan untuk pertama kali.

  1. Tanggal 27 Januari 1967, astronaut-astronaut: Gus Grissom, Ed White, dan Roger Chaffee te-

      was dalam kecelakaan modul komando (command module) ketika masih berada diatas landa-

      san sebelum luncur.

  1. Tanggal 24 April 1967, astronaut Vladimir M. Komarov tewas membentur bumi, ketika para-

      sut pesawat antariksa Soyuz 1 tidak berhasil mengembang ketika kembali ke bumi.

  1. Tanggal 18 Oktober 1967 kapsul pendarat dari penjelajah Venera 4 berhasil menghimpun ke-

      terangan (data) tentang atmosphere planit Venus.

  1. Tanggal 15 September 1968, pesawat angkasa Sovyet Zond 5 diluncurkan, menjadi pesawat

      Antariksa pertama yang berhasil mengorbit bulan, sebelum kembali ke bumi.

  1. Tanggal 21 Desember 1968, pesawat antariksa Apollo 8 diluncurkan, dan awak pesawat ini

      menjadi manusia pertama yang berhasil mengorbit mengelilingi bulan.

  1. Tanggal 20 Juli 1969, Neil Armstrong dan “Buzz” Aldrin menjadi dua manusia bumi asal A-

      merika Serikat pertama berhasil mendarat di permukaan bulan, dan selamat kembali di bumi.

  1. Tanggal 11 April 1970, Apollo ke 13 diluncurkan.
  2. Tanggal 12 September 1970, pesawat antariksa Luna 16 milik Sovyet diluncurkan, dan men-

      jadi pesawat antariksa otomatis pertama berhasil membawa pulang contoh tanah bulan kem-

      bali ke bumi.

  1. Tanggal 17 Nopember 1970, robot otomatis Lunokhod 1 mendarat di permukaan bulan bersa-

      ma Luna 17.

  1. Tanggal 15 Desember 1970, Venera 7 milik Sovyet merupakan penjelajah antariksa pertama

      yang berhasil mendarat di permukaan planet Venus.

  1. Tanggal 19 April 1971, Rusia meluncurkan stasion antariksa yang pertama Salyut 1.
  2. Tanggal 30 Juli 1971, penjelajah bulan (moon rover) pertama kali digerakkan untuk menjela-

      jahi permukaan bulan.

  1. Tanggal 13 Nopember 1971, penjelajah Marinir 9 dari Amerika Serikat menjadi pesawat an-

      tariksa pertama yang mengorbit planit Mars.

  1. Tanggal 11 Desember 1972, Eugene Cernan dan Harrison “Jack” Schmitt menjadi dua orang

      Amerika Serikat terakhir yang telah berjalan di permukaan bulan.

29.Tanggal 14 Juli 1973, Amerika Serikat meluncurkan stasion antariksa yang pertama Skylab.

  1. Tanggal 17 Juli 1975, Apollo 18 dari Amerika Serikat bergandeng di antariksa dengan Soyuz

      19 dari Sovyet melakukan apa yang dinamakan Apollo-Soyuz proyek ujigandeng.

  1. Pada bulan Sepember 1976, penjelajah Amerika Serikat Viking 2 menemukan air yang mem-

      beku di permukaan planit Mars.

  1. Pada bulan Agustus dan September 1977 , Voyager 1 dan Voyager 2 diluncurkan ke antariksa.

      Voyager 2 diberangkatkan sebelum Voyager 1, akan tetapi Voyager 1 berada pada trayektori

      yang lebih cepat.

  1. Pada bulan Maret dan Agustus 1979, Voyager 1 dan Voyager 2 mulai mengirimkan gambar

      planet Jupiter berikut bulan-bulannya ke bumi.

  1. Pada bulan September 1979, penjelajah antariksa Amerika Serikat Pioneer 11 berhasil

      mencapai planit Saturnus lalu mengirim gambar ke bumi.

  1. Tanggal 13 Nopember 1980, Voyager 1 lebih dahulu mencapai planit Saturnus, karena itu le-

       bih dahulu mengirimkan gambar ke bumi.

  1. Tanggal 12 April 1981, pesawat antariksa bolak-balik pertama Columbia diluncurkan ke ang-

       kasa.

  1. Tanggal 26 Agustus 1981, Voyager 2 mencapai planit Saturnus dan mengirim pula gambar ke

      bumi.

  1. Tanggal 4 Juli 1983, pesawat bolak-balik antariksa kedua Challenge diluncurkan.
  2. Tanggal 19 Juli 1983, Sally Ride menjadi antronaou wanita pertama dari Amerika Serikat

      dalam misi Challenger kedua.

  1. Tanggal 30 Agustus 1983, Guion Bluford menjadi orang Afrika-Amerika Serikat pertama

      terbang ke antariksa.

  1. Tanggal 3 Februari 1984, astronaut Bruce McCandless menjadi orang pertama di dunia

      berjalan-jalan di antariksa tanpa diikat tali dengan pesawat antariksa.

  1. Tanggal 30 Februari 1984, pesawat bolak-balik antariksa ketiga Discovery diluncurkan ke

       angkasa.

  1. Pada bulan Oktober 1984, Kathryn Sullivan menjadi wanita pertama di dunia berjalan-jalan di

      antariksa asal Amerika Serikat.

  1. Tanggal 3 Oktober 1985, pesawat bolak-balik antariksa keempat Atlantis diluncurkan.
  2. Tanggal 24 Januari 1986, penjelajah Voyager 2 mulai mengirim gambar planit Uranus ke

      bumi.

  1. Tanggal 28 Januari 1986, pesawat bolak-balik antariksa Challenger meledak beberapa detik

      setelah lepas landas, menewaskan seluruh  anak buahnya.

  1. Tanggal 20 Februari 1986, bagian tengah dari stasion antariksa Mir diluncurkan.
  2. Pada bulan Agustus 1989, Voyager 2 mulai mengirim gambar planit Neptunus.
  3. Tanggal 10 Agustus 1990, penjelajah antariksa Magellan memetakan permukaan planit Ve-

      nus memanfaatkan peralatan radar.

  1. Tanggal 24 Agustus 1990, pesawat bolak-balik antariksa Discovey digunakan sebagai pemba-

      wa untuk menempatkan Teleskop Antariksa Hubble pada orbit mengitari bumi.

  1. Tanggal 7 Mei 1992, pesawat bolak-balik antariksa Endeavor diluncurkan untuk mengawali

      perjalanan perdananya.

  1. Tanggal 12 September 1992, Mae Jemison menjadi orang Afrika-Amerika Serikat pertama

      berada di antariksa.

  1. Pada bulan Desember 1993, pesawat bolak-balik antariksa Endeavor melakukan perjalanan

      perdana menghampiri Teleskop Antariksa Hubble untuk melakukan pemeliharaan.

  1. Tanggal 3 Februari 1994, Sergei Krikalev adalah astronout Rusia pertama yang terbang de-

      dengan pesawat bolak-balik antariksa.

  1. Tanggal 2 Februari 1995, Eileen Collins menjadi pilot pesawat bolak-balik yang pertama.
  2. Pada bulan Desember 1995, penjelajah antariksa Galileo mengirim keterangan (data) planit

      Jupiter ke bumi.

  1. Tanggal 4 Juli 1997, penjelajah Mars Pathfinder tiba di planit Mars, kemudian mengirim ke

      bumi gambar-gambar dari planit tersebut.

  1. Tanggal 29 Oktober 1998, John Glenn menjadi manusia tertua berada di antariksa.
  2. Tanggal 23 Juli 1999, Eileen Collins menjadi komandan pesawat bolak-balik antariksa wanita

       pertama.

  1. Tanggal 14 Februari 2000, penjelajah antariksa Amerika Serikat Near Earth Asteroid Rendez-

      vous, disingkat NEAR (Pertemuan Asteroid Dekat Bumi, disingkat PADB) melakukan per-

      jumpaan dengan asteroid, dan mengirimkan gambar -gambar asteroid Eros ke bumi.

  1. Tanggal 12 Februari 2001, NEAR (PADB) mendarat di permukaan asteroid Eros.
  2. Tanggal 28 April 2001, Dennis Tito, warganegara Amerika Serikat, menjadi wisatawan anta-

      riksa yang pertama di dunia, setelah membayar uang sebesar $20,000,000. kepada program

      angkasa luar Rusia.

  1. Tanggal 1 Februari 2003, pesawat bolak-balik Columbia hancur saat sedang kembali mema-

      suki atmosphere bumi.

  1. Tanggal 13 Februari 2003, hasil panel penelitian dilakukan menemukan, bahwa semburan u-

      dara suhu sangat tinggi (superheated air) menerobos masuk lewat pecahan sayap pesawat Co-

      lumbia sebelah kiri, mungkin sekali masuk ke ruang roda pendarat saat menghujam ke atmos-

      phere bumi, menyebabkan gugurnya ketujuh astronaut.

  1. Tanggal 25 Februari 2003, NASA meluncurkan teleskop inframerah dengan garis-tengah ter-

      besar  yang diketahui orang, yakni: The Spitzer Space Telescope.

  1. Tanggal 21 September 2003, NASA mengakhiri misi Galileo yang telah berlangsung 14 ta-

      hun lamanya mengexplorasi Jupiter, planit terbesar terdapat dalam Sistim-Matahari (Solar-

      System),  berikut semua bulan yang mengitarinya, lalu menghujamkan pesawat antariksa itu

      ke permukaan planit terbesar itu dengan kecepatan 108.000. mil per jam, untuk menghindar-

      kan limbah.

  1. Tanggal 14 Januari 2004, Presiden Bush mengusulkan program antariksa baru yang akan me-

      ngirim lagi manusia ke bulan tahun 2005, lalu mendirikan basis di planit Mars dan lainnya.

  1. Tanggal 1 Juli 2004, pesawat antariksa Cassini mengirim ke bumi gambar gelang-gelang Sa-

      turnus yang berkilau.

  1. Tanggal 3 Juli 2005, pesawat antariksa NASA dengan sengaja membenturkan diri pada comet

      ukuran setengah Manhattan (wilayah di kota New York) guna menghasilkan percikan kosmos

      yang diperlukan ilmuwan mengetahui bahan pembentuk kehidupn di bumi ini.

  1. Tanggal 26 Juli 2005, pesawat bolak-balik antariksa Discovery dengan tujuh orang astronaout

      didalamnya; inilah kali pertama Amerika Serikat meluncurka misi ke angkasa luar setelah ma-

      lapetaka Columbia tahun 2003 yang lalu.

  1. Tanggal 15 Januari 2006, pesawat antariksa Stardust milik NASA kembalike bumi mendarat

      di gurun dekat kota Salt Lake, pertama kali berhasil membawa pulang ke bumi debu yang di

      tangkap dari sebuah comet yang tengah melintas.

  1. Tanggal 4 Agustus 2007, NASA meluncurkan penjelajah muka planit Mars bernama Phoenix

      Mars Lander.

  1. Tanggal 8 Agustus 2007, pesawat bolak-balik antariksa Endeavour dengan anak buah tujuh o-

      rang diluncurkan dengan seorang guru bernama Barbara Morgan turut didalamnya. Morgan

      adalah seorang guru pertama yang berada di antariksa asal Amarika Serikat sejak malapetaka

      Challenger pada tahun 1986 silam.

  1. Tanggal 14 Januari 2008, NASA mengutus penjelajah antariksa Messenger meliput planit

      Merkuri dari tinggi 124 mil dari permukaannya.

  1. Tanggal 25 Mei 2008, Phoenix Mars Lander milik NASA berhasil mendarat di permukaan

       Mars mengirimkan gambar-gambar muka planet itu kembali ke bumi, setelah menghabiskan

       waktu 10 bulan dan menempuh jarak 422 juta mil dari bumi. Para ilmuwan kemudian mela-

       porkan, bahwa Phoenix juga menemukan bongkahan-bongkahan es di planit merah itu.

  1. Tanggal 6 Maret 2009, pesawat antariksa Kepler diluncurkan. Adapun tugasnya menemukan

      planit lain diluar Sistim-Matahari (Solar-System), dalam kawasan jauh Jalur Susu (Milky

      Way).

  1. Tanggal 18 Juni 2009, NASA meluncurkan ke bulan Satelit Pengamat dan Pengindra Kawah

      (Crater Observation and Sensing Satellite), juga dikenal dengan LCROSS. Perjalanan ini ber-

      tujuan untuk memastikan ada atau tidaknya es di bulan. Pada tanggal 13 Nopember 2009, il-

      muwan NASA mengabarkan telah ditemukannya “jumlah berarti” es didalam kawah dekat

      Kutub Selatan bulan.

  1. Tanggal 10 Oktober 2010, Virgin Galactic, sebuah perusahaan swasta, mengumumkan keber-

      hasilan perusahaannya dengan ujiterbang antariksa VSS Enterprise. Apa yang dilakukan peru-

      sahaan menyediakan penerbangan orbitrendah (suborbital) kepada warga bumi (private citi-

      zen) yang ingin melakukan wisata ke antariksa orbitrendah di sekitar bumi.

  1. Tanggal 11 Oktober 2010, Preside Obama menandatangani sebuah undang-undang yang mem

      beri NASA tugas khusus bagi penelitian planit Mars dan asteroid sekitarnya.

  1. Tanggal 8 Desember 2010, sebuah perusahaan swasta bernama Space X meluncurkan pesawat

      antariksa ke orbit dan kembali selamat ke bumi. Ini merupakan usaha organisas bukan-peme-

      rintah (non-government) pertama di dunia pernah dilakukan dalam hal ini.

  1. Tanggal 8 Juli 2011, pesawat bolak-balik antariksa Atlantis menjadi pesawat bolak-balik tera-

      khir diluncurkan ke angkasa. Misi STS-135 dengan empet orang anak-buah  telah melakukan

      pengiriman logistik dan peralatan ke Stasion Antariksa Internasional, disingkat SAI (Interna-

      tional Space Station , disingkat ISS.

  1. Tanggal 16 Juli 2011, pesawat antariksa NASA bernama Dawn menjadi pesawat buatan ma-

      nusia yang mengorbit sebuah Asteroid.

  1. Tanggal 26 November 2011, NASA meluncurkan Curiocity, robot terbesar, dan yang terbaik

      dilengkapi untuk menyelidiki planit lain. Ia akan mencapai planit Mars pada tahun 2012.

  1. Tanngal 22 Mei 2012, sebuah perusahaan komersial antariksa bernama Space X meluncurkan

      Misi Dragon C2+ yang mengirim logistik  ke Stasion Antariksa Internasional (SAI).

  1. Pada bulan Agustus tahun 2012, penjelajah Voyager 1 diluncurkan tahun 1977, berhasil men-

      capai ruang angkasa antar bintang.

  1. Tanggal 6 Agustus 2012, kendaraan jelajah Curiosity milik NASA berhasil mendarat di per-

      mukaan  planit Mars. Kendaraan jelajah sebesar mobil itu, membawa serta rangkaian instru-

      men mutakhir dan percobaannya.

  1. Tanggal 7 September 2013, NASA meluncurkan pesawat antariksa tanpa awak LADEE dari

      Wallops Flight Facility milik NASA di Virginia. Ini merupakan penjelajah bulan ketiga milik

      Badan Antariksa Amerika Serikat sepanjang lima tahun.

  1. Tanggal 24 Desember 2013, para astronaut NASA berhasil menyelesaikan tugas memperba-

      iki Stasion Antariksa Internasional setelah merayakan hari Natal yang langka di antariksa de-

      ngan berjalan-jalan di angkasa untuk memperbaiki sistim pendingin sebuah alat.

Dan lain sebagainya menyusul kemudian.

 Catatan: Bahan dikutip dari NASA Space Exploration Timeline.

Perlu dicatat, penjelajahan antariksa dengan roket dan satelit telah dipelopori Rusia dan Amerika Serikat. Kemudian sejumlah negara yang tergolong kuat ekonominya menyusul, seperti: Jepang, Jerman, Inggris, China, dan India. Penjelajahan antariksa memang menghabiskan banyak dana, bukan saja mengembangkan ilmu pengetahuan tentang Alam Semesta ciptaan Tuhan, tetapi juga untuk pertahanan negara dan bangsa akibat kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan dari hasil ciptaan Ilahi bersumber dari beragam Kitab Suci (Scriptures), dan penemuan Ilmu Pengetahuan yang didukung perkembangan Teknologi diutarakan  diatas, serta menerima pendapat telah timbulnya Letusan Dahsyat (Big Bang) tampil menjelang kelahiran  A-lam Semesta, maka dapat diterima apa yang disampaikan dibawah ini:

  1. Alam Semesta ini telah berusia                             :  13.800.000.000 tahun.
  2.             Sistim matahari dimana bumi berada telah beusia   :    5.000.000.000 tahun.
  3. Bumi ini berusia                                                    :    4.600.000.000 tahun.
  4.            Manusia berdiam di muka bumi berlangsung                 :               200.000 tahun.

Kehidupan Alam Fana

Pada awalnya manusia berada di muka bumi mendiami: pulau, kepulauan, hingga benua di ber-bagai kawasan dari planit ini. Awalnya insan terhimpun kedalam: keluarga, kelompok hidup atau komunitas, masyarakat, suku-bangsa, hingga bangsa. Kebanyakan dari mereka masih sangat berjauhan satu sama lain dan bilangan insan berdiam di muka bumi pun masih berum seberapa jumlahnya. Setiap keluarga, komunitas, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa pada ketika itu lalu bertetangga dengan lingkungan alam yang mengitari, seperti: kawasan tropis berhawa panas diseputar khatulistiwa, juga kawasan subtropis berhawa sejuk hingga dingin di bagian bumi sebelah Utara dan belahan bumi bagian Selatan. Selain dari itu, terdapat pula yang bernama perairan, antara lain: paya atau rawa, tambak, sungai, danau, laut, hingga samu-dra. Ada juga yang dinamakan dataran rendah wujud padang rumput yang sangat luas. Dari alam sekitar muka bumi belakangan, lingkungan beralih menjadi dataran tinggi, dan di-lanjutkan wilayah pegunungan berudara sejuk beragam          ketinggian diatas permukaan laut. Ada lagi kawasan lain di muka bumi  menyajikan padang pasir luas berhawa panas, tandus, lagi gersang terhampar di beberapa kawasan yang bersifat regional. Terdapat lagi muka bumi bersalju berudara amat dingin, mulai yang tampil musiman hingga dengan salju abadi, khususnya pada bagian muka bumi yang bertetangga dengan kutub Utara dan kutub Selatan.

Adapun yang menjadi pemandangan sehari-hari insan pada masa awal keberadaan di muka bumi ini, ialah: pertama: manusia dalam kelompok hidup yang bersangkutan itu sendiri, diawali ke-luarga dekat hingga masyarakat tempat berdiam; kedua: alam sekitar yang melingkungi di muka bumi, antara lain: padang rumput luas, hutan hingga dengan rimba belantara; perairan, mulai rawa atau paya, tambak, sungai, danau, laut, hingga dengan samudra; lainnya padang pasir, padang salju mulai dari musiman hingga dengan salju abadi; campuran dari bermacam ling-kungan sekitar yang telah disebutkan sebelumnya; ketiga: apa yang menampakkan diri di ang-kasa hingga ketinggian langit biru yang sangat jauh, dimana: matahari dan bulan timbul tenggelam, bermilyard bilangan bintang gemerlapan di malam hari, bintang-bintang berekor (komet) yang tengah melintas, dan masih banyak lagi yang lain datang silih berganti yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Ketiga macam lingkungan yang mengelilingi insan berdiam di muka bumi, masing-masing: “manusia”, “alam sekitar”, dan “beragam benda langit” menam-pakkan di angkasa, melahirkan apa yang kemudian dinamakan: “Lingkungan Tiga Sekawan”, disingkat: LTS (The Three Friendly Environment, disingkat: TFE) kepada umat yang kemudian mempengaruhi lahir dan bathin insan berdiam di muka bumi, mulai: perorangan (individu), keluarga, komunitas, masyarakat, suku-bangsa, hingga bangsa; dan tidak diragukan lagi menitipkan pesan yang telah menggugah “akal-budi” insani dibagian bumi manapun mereka berada diseantero planit biru ini, lalu meninggalkan rekaman berupa kesan dan pesan hingga yang citra yang melekat kepada Tondi (Batak), Sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) dalam mutu (kualitas) dan jumlah deraan (kuantitas) berbeda-beda mulai dari: perorangan, keluarga, komunitas, masyarakat, suku-bangsa, hingga bangsa berdiam di muka bumi yang bulat bagai bola, menelusuri waktu ribuan tahun lamanya menembus perjalanan zaman.

Sebagaimana telah disampaikan, kelompok manusia hidup di muka bumi, mulai: keluarga, ko-munitas, masyarakat, dan lainnya masih sangat berjauhan satu sama lain kala itu diseantero planit ini. Meski sudah tergabung kedalam beragam kelompok hidup mulai kecil hingga besar beraneka ragam bentuk, masing-masing kelompok hidup ini masih dipagari pula jarak tempuh berjalan kaki yang lama dan sangat melahkan. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa “re-volusi industri” belum lagi timbul di Eropa, belum lagi terdapat jalan-raya (prasarana) dan kendaraan (sarana) dimana-mana yang menghubungkan berbagai tempat di dunia dijalankan mesin pembakaran berbahan bakar bensin dan mesin diesel berbahan bakar solar, sebagaimana yang telah dikenal orang sekarang. Pada waktu itu orang bepergian ke tempat jauh, baik sen-dirian maupun berkelompok harus berjalan kaki, atau menunggang ternak yang telah dijinakkan. Lintasan ditempuh termasuk berulangkali keluar masuk hutan hingga rimba belantara, me-nelusuri jalan-setapak antar kampung satu dengan lainnya yang biasa dilalui orang. Medan  ditempuh termasuk menuruni lembah dan tebing untuk sampai ke tepi sungai yang harus dise-berangi, dan setelah sampai di seberang, kembali lagi mendaki tebing dan lembah untuk sampai di jalan rata seberang. Perjalanan masih dilanjutkan dengan meniti galangan sawah, keluar masuk semak belukar terbentang, termasuk melangkahi gunungan pasir penuh batuan, dan lain sebagainya. Tidak jarang, orang harus berjalan kaki berhari lamanya, atau menunggang ternak piaraan agar tidak kelelahan, menguras tidak sedikit tenaga dan waktu dengan harus menginap di di sejumlah kampung untuk sampai ke tujuan. Apabila perjalanan yang sama kini ditempuh dengan kendaraan bermotor diatas jalan-raya yang ada seperti sekarang, waktu tempuh pastilah jauh lebih singkat dan samasekali tidak menyeng-sarakan badan pelaku, karena dibantu jalan-raya yang terbentang dibantu teknologi sarana transportasi yang sudah maju pula.

Meski di Timur Tengah terdapat peradaban yang maju menjelang tarikh Masehi, akan tetapi “revolusi industri” di muka bumi justru diawali dari daratan Eropa jauh di sebelah Utara, ketika itu boleh dikatakan masih tergolong kampung ketimbang Timur Tengah. Gelombang pertama revolusi dimulai dari tahun 1760 hingga 1820 dan 1840 (penghujung abad ke-18 dan awal abad ke-19) dengan ditemukan orang mesin-uap (steam engine) oleh James Watt, dilanjutkan gelom-bang kedua dari tahun 1840 hingga 1870, mengawali perubahan besar yang timbul di berbagai bidang: ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan lainnya berlangsung besar-besaran di bagian bumi itu. Revolusi industri lalu menemukan momentum dengan tersebarnya jaringan jalan ke-reta-api dihela lokomotiv-uap membakar batubara di bagian benua itu hingga ke Wladiwostok di wilayah kekaisaran Rusia. Juga tersebarnya jaringan jalan-raya dengan ditemukannya mesin bensin oleh Nikolaus Otto dan mesin diesel oleh Rudolf Diesel, keduanya berasal dari Jerman. Hingga dengan dimulainya revolusi industri di Eropa, orang dimana-mana diseluruh dunia ter-masuk kawasan Timur Tengah bepergian kemana saja hanya dengan berjalan-kaki sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, paling banyak menunggang hewan piaraan yang telah dijinakkan, atau naik kereta yang dihela binatang peliharaan. Adapun hewan peliharaan yang banyak digunakan orang di seluruh dunia ketika itu, adalah: kuda, lembu, sapi, bison, rusa salju (reindeer), unta di Timur Tengah, dan setaranya.

Mitologi

Lingkungan Tiga Sekawan (LTS) lalu dengan setia mengitari umat mulai: keluarga, komunitas, masyrakat, suku-bangsa, dan bangsa, di muka bumi lalu mengawal hidup keseharian manusia, diawali komunitas, alam sekitar, dan beragam benda langit, pada masa awal keberadaan insan di permukaan bumi, setiap hari, minggu, bulan, tahun, abad,millenium, mulai dari siang sampai malam; lalu mengetuk hati yang menggerakkan akal-budi insani untuk menggerakkan berfikir (motivation), kemudian menumpahkan gagasan (inspirasi) dari dalam bathin kedalaman benak (otak), mulai: perorangan, komunitas, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa; melahirkan kehendak atau keinginan untuk “melakukan” atau “berbuat” sesuatu” (do something) pada masa itu. Dengan mengolah “akal-budi” (brain-heart) karunia “Ilahi” bersemayam dalam sanubari insan: “akal” (brain) bertugas memecahkan bermacam permasalahan dan tantangan betapapun muskilnya, “budi” (heart) menghimpun manusia dalam “kebersamaan”, dari: perorangan, keluarga, komunitas, masyarakat, suku-bangsa hingga bangsa, demi menggalang kemampuan akal bekerja supaya makin pekasa dalam berbuat dan bertindak. Dengan demikian, segala macam rintangan sampai hambatan mulai yang kecil dan sederhana (sepele) hingga yang besar dan sangat besar lagi muskil dan rumit serta mustahil, dapat dipecahkan dengan cara bersama.

Lingkungan Tiga Sekawan (LTS) ini lalu menciptakan mitologi yang menggalang kebersamaan hidup insani, dalam keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa. Mitologi berasal dari bahasa Yunani “mythos” yang artinya: ceritra rakyat dan “logos” artinya: diucapkan atau tertulis. Mito-logi itu sendiri tidak lain dari hikayat atau ceritra yang menempuh perjalanan waktu panjang lalu  menjadi ajaran hidup tersimpan dalam sanubari untuk menjaga kebersamaan hidup, mulai: kelu-arga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa. Mitologi juga amalan hidup yang diyakini dapat me-ngawal kebersamaan guna keselamatan para penganutnya. Selanjutnya muncul para pemikir (thinkers) yang mendalami mitologi untuk menjadikannya perantara (medium) guna mempersa-tukan memperjuangkan hidup umat, mulai: perorangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa. Disiapkan pula acara dan ritual untuk waktu dan momen bersejarah yang diterima ber-sama guna mengakrabkan kehidupan masyarakat di berbagai belahan bumi, tidak terkecuali me-negakkan keadilan dan mejaga ketenteraman hidup, dan lain sebagainya.

Dan salah satu permasalahan sulit dan menuntut pemecahan segera, ialah: “menyelamatkan Ibu Bumi dari beragam pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup yang telah terjadi sejak awal revolusi industri di muka bumi diawali dari Eropa silam, akibat dari perbuatan tangan manusia oleh ketidaktahuan orang di dunia selama ini. Ketiganya menjadi: “tiga-seuntai” atau “tiga-sekawan” yang bertugas menggugah “akal-budi” (brain-heart) manusia yang dibutuhkan orang  ketika itu; lalu berkembang dengan lahirnya revolusi industri di Eropa silam; dilanjutkan  lahirnya beragam lembaga pendidikan lahirnya Pendidikan Dasar, dilanjutkan Pendidikan Menengah, disusul Pendidikan Tinggi (Universitas), dan lembaga-lembaga lain yang muncul kemudian di muka bumi. Menyusul pula bermacam lembaga lainnya bergerak di bidang peneli-tian, pengembangan, penciptaan barang (produk) dan jasa kebutuhan hidup manusia, tidak terkecuali yang untuk memenuhi permintaan pasar melalui persaingan bebas di pasar terbuka. Kini umat di muka bumi sudah mulai sadar, bahwa pengembangan “akal-budi karunia Ilahi” sudah menjadi kewajiban setiap bangsa yang ada di muka bumi untuk memecahkan beragam persoalan yang dihadapi umat pada saat ini, antara lain: keterbelakangan, kemiskinan, me-ningkatkan kesejahteraan hidup, melindungi hak azasi manusia, ketenteraman dunia, mene-gakkan keadilan terhadap semua bangsa, penegakan hukum yang adil lagi beradab, dan masih banyak lagi yang lain kedepan. Hidup Alam Fana di muka bumi semakin pelik, permasalahan yang ditimbulkan semakin sukar dipecahkan menelusuri perjalanan waktu. Selain dari itu terdapat banyak tantangan yang semakin berat dihadapi untuk menemukan jalan keluar yang diperlukan oleh bermacam rintangan yang tidak putus-putusnya dihadapi.

Seandainya manusia dapat menghui setiap permukaan planit yang terdapat dalam “sistim matahari” selain bumi ini, maka tiga-sekawan penggerak akal-budi manusia yang sudah dike-mukakan sebelumnya akan tetap saja sama, terkecuali alam sekitar yang akan berbeda, sudah tentu akan disesuaikan dengan keadaan permukaan planit yang dihuni; sedangkan pertama: manusia, dan  ketiga: segala yang menampakkan diri di angkasa hingga ketinggian langit, akan tetap saja sama. Demikian juga halnya, apabila seandainya manusia dapat menghuni permukaan setiap planit bermacam “sistim bintang” menyerupai “sistim matahari” yang ada di Alam Semes-ta maha besar dan luas ini. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa “tiga-sekawan” peng-gerak akal-budi manusia” ini bersifat semesta-alam (universal), artinya: akan dijumpai orang dimana saja ia berdiam di seantero Alam Semesta yang sangat besar dan teramat luas ini.

Dengan bumi bulat bagai bola dan garis-tengah rata-rata: 12.740 km, luas permukaannya: 510 juta km2. Lebih dari 70% permukaan bumi ini adalah air, dan hanya 30% saja daratan. Meski demikian, dengan jumlah manusia yang berdiam di muka bumi masih dalam bilangan puluhan hingga ratusan juta orang memasuki “revolusi industri” di Eropa silam, kepadatan penduduk di permkaan bumi masih tergolong jarang, dan bermacam komunitas yang hidup di muka bumi ini masih sangat berjauhan satu dari lainnya. Dalam keterpisahan yang dipagari waktu berjalan kaki sangat lama dan melelahkan, para insan dilengkapi: Tondi (Jiwa, Ruh, soul, Seele), akal-budi, dan jasmani di muka bumi ketika itu, sadar akan keberadaan mereka masing-masing. Dalam hidup berkelompok bernama komunitas silam, diawali keluarga, masyarakat, hingga dengan bangsa, masing-masing komunitas lalu berdiskusi diantara sesama mereka; mereka lalu  berko-munikasi dengan lingkungan sekitar tempat berdiam mengitari, seperti: padang rumput, hutan hingga rimba; sungai, laut, hingga samudra; padang pasir, gurun, padang salju dari musiman sampai dengan salju abadi; mereka juga tidak lupa berdialog dengan yang menampakkan diri tinggi di angkasa dari siang hingga malam bermacam ketinggian dari , seperti: awan, langit biru, matahari, bulan, bintang-bintang yang gemerlapan, begitu pula lainnya, mulai yang setiap hari tampak di langit hingga dengan yang jarang tampil.

Mitologi Dunia

Mitologi pun bermunculan dan berkembang di bumi menelusuri perjalanan waktu yang sangat  panjang, sejak awal keberadaan manusia di muka bumi ditaksir sekitar dua ratus ribu tahun yang silam dari saat ini, dan melalui beragam zaman, dimulai: a. Zaman Batu, b. Zaman Perunggu

, yang ditandai:

        – mitologi Proto-Indo-Eropa:

        – Proto-Indo-Iran

        – mitologi Mesopotamia (Sumeris, Akkadia)

        – mitologi Mesir

        – mitologi Persia

        – mitologi Canaan

        – mitologi Hittit

        – mitologi Hurian

        – mitologi Rigvedic

        – mitologi China;

dan c. Zaman Besi, ditandai oleh:

        – mitologi Klassik

                – Yunani

                – Romawi

                – Norse

       – mitologi Etruskan

       – mitologi Celtik

       – mitologi Germania; serta

  1. Zaman Purba akhir

       – mitologi Slavia

       – Mitologi Arab.

  1. Kawasan Asia
  2. Asia Barat Daya
  3. Zaman Purba

        – agama Sumeria

        – mitologi Mesopotamia (Sumeria, Assiro-Babylonia)

        – mitologi Iran

        – mitologi Semitik:

                 – Babylonia

                 – Arab

                 – Canaan

        – mitologi hittit

        – mitologi Hurrian

        – mitologi Scythian

        – mitologi Elamite

  1. Zaman Pertengahan hingga Modern

        – mitologi Armenia

        – mitologi Arabia

        – mitologi Iran:

                – Balochi

                – Ossetia

                – Kurdish

                – Persia

         – mitologi Islam.

  1. Asia Selatan

         – mitology Ayyavazhi

         – mitologi Hindu

         – mitologi Tamil

         – mitologi Buddhist.

  1. Asia Timur

         – mitologi China

         – mitologi Jepang

         – mitologi Korea

         – mitologi Tibet

         – mitologi Ryukyuan

         – mitologi Ainu.

  1. Asia Tenggara

         – mithologi Filipina

         – mitologi Melayu

         – mitologi Indonesia:

                 – Batak

                 – Miangkabau

                 – Nias

                 – Melayu

                 – Dayak

                 – Toraja

                 – Asmat

                 – Sunda

                 – Jawa

                 – Papua

         – mitologi Vietnam.

  1. Asia Tengah dan Utara

         –  ajaran Shamanisme dari Siberia

         –  mitologi rakyat Turki dan Mongolia

         – mitology Scythian

         – mitologi Mongolia

         – mitologi Finnik

  1. Kawasan Afrika
  2. Afrika Tengah

         – Bantu

         – Bushomgo, Congo

         – Baluba

         – Bambuti (Pygmy), Congo

         – Lugbara, Congo.

  1. Afrika Timur

         – mitologi Akamba (Kenya Timur)

         – mitologi Dinka (Sudan)

         – mitologi Lotuko (Sudan)

         – Masai (Kenya, Tanzania)

         – mitologi: Kintu, Kaikuzi, Warumbe, dan lainnya (Uganda).

  1. Tanduk Afrika

          – mitologi Somalia.

  1. Afrika Utara

          – mitologi Berber

          – mitologi Mesir (sebelum Islam).

  1. Afrika Barat

          – mitologi Akan

          – mitologi Ashanti (Ghana)

          – mitologi Dahomey (Fon)

          – mitologi Edo (Nigeria, Kameron)

          – mitologi Efik

          – mitologi Igbo (Nigeria, Kameron)

          – mitologi Isoko (Nigeria)

          – mitologi Yoruba (Nigeria, Benin).

  1. Afrika Selatan

          – mitologi Khoikhoi

          – mitologi Lozi (Zambia)

          – mitologi Magalasi

          – mitologi Tumbuka (Malawi)

          – mitologi Zulu (Afrika Selatan).

  1. Kawasan Australia dan Oseania

          – mitologi Aborigin Australia

          – mitologi penciptaan Kaluli

          – mitologi Melanesia

          – mitologi Mikronesia

          – mitologi Papua

          – mitologi Polinesia:

                 – Hawaii

                 – Mangarevan

                 – Māori

                 – Rapa Nui

                 – Samoa

                 – Tahiti

                 – Tongga

                 – Tuvaluan

  1. Kawasan Kutub Utara

      Ajaran Shamanisme dari Siberia tumpang tindih dengan Asia Utara, Eropa Utara, dan

      Amerika Utara:

          – mitologi Finlandia

          – mitologi Inuit

          – mitologi Norse

          – mitologi Sami.

  1. Kawasan Eropa

     Zaman Purba:

          – mitologi Yunani

  • mitologi Romawi
  • mitologi Etruskan
  • mitologi Paleo-Balkan
  • mitologi Lusitania
  1. Eropa Utara

          – mitologi Germania:

                 – Paganisme (percaya kepada banyak Tuhan)

                 – Norse

                 – Anglo-saxon

          – mitologi Finnik

                 – Estonia

                 – Finlandia

                 – Sami

         – mitologi Slavia:

                 – Polandia

          – mitologo Baltik:

                 – Latvia

                 – Lituania

                 – Prusia

  1. Eropa Timur

          – mitologi Hongaria

          – mitologi Roma (Gypsy)

          – mitologi Slavia

          – mitologi Romania

          – mitologi Tatar

  1. Eropa Selatan

          – mitologi Albania

          – mitologi Catalonia

          – mitologi Yunani

          – mitologi Italia

          – mitologi Lusitania

          – mitologi Maltes

          – mitologi Spanyol

          – mitologi Turki

  1. Eropa Barat

          – mitologi Alpen

          – mitologi Basque

          – mitologi Frankish

          – mitologi Perancis

  1. Kaukasia Utara

          – mitologi Nart Saga (meliputi: Abazin, Abkhaz, Circasian, Occetia, Kharachay-Balkar,

            Chechen-Ingusetia).

          – mitologi Osetia

          – mitologi Vainakh (meliputi Chechen dan Ingusetia).

          – mitologi Adyghe Habze.

  1. Kaukasia Selatan/Transkaukasia

          – mitologi Armenia

          – mitologi Georgia

  1. Kepulauan Inggris

          – mitologi Celtik

          – mitologi Irlandia

          – mitologi Skotlandia

          – mitologi Welsh

  1. Kawasan Amerika
  2. Mesoamerika

          – mitologi Aztek

          – mitologi Maya

          – mitologi Olmek

  1. Karibia

          – mitologi Haiti

  1. Amerika Selatan

          – mitologi Chilota

          – mitologi Brazilia

          – mitologi Inka

          – mitologi Guarani

          – mitologi Mapuche

  1. Diaspora Afrika

         Kepercayaan dan agama orang-orang diaspora Afrika:

          – Hoodoo

          – Vodou

          – Santeria

          – Obeah

          – Kumina

          – Palo

          – Kandomble

          – Umbanda

          – Quimbanda

  1. Mitologi Khayal

          – mitologi William Blake

          – mitos Lovekraft

  1. Mitologi Syncretic

         – mitologi theosofi (Tuhan)

Selain telah menjalani perkembangan Zaman di bermacam Kawasan terdapat di muka bumi menelusuri perjalanan waktu, mitologi lalu dibedakan pula menurut Agama (Religion) yang kemudian muncul di muka bumi sebagaimana kriteria yang dibawah ini:

  1. agama Bumi:

         – mitologi Hindu

         – mitologi Buddha

  1. agama Samawi (Langit).

         – mitologi Yahudi

         – mitologi Kristiani

         – mitologi Islam

  1. II. Ajaran Leluhur

Sebahagian dari mitologi warisan leluhur berbagai bangsa dari masa silam, dalam perjalanan waktu lalu berkembang menjadi kepercayaan yang berasal dari para leluhur.

  1. Mitologi Romawi
  2. Mitologi Mesir
  3. Mtologi Yunani
  4. Mitologi Jepang
  5. Mitologi Mayan
  6. Mitologi Mesopotamia
  7. Mitologi Zoroaster
  8. Mitologi Batak
  9. …..
  10. …..

        Masih banyak lagi lainnya.

III. Agama Bumi

Dalam hal agama bumi, “mitologi” berasal dari ajaran berbagai orang suci dan terkenal yang pernah ada di muka bumi diwaktu silam. Dinamakan agama bumi, karena fikiran cerdas ini berasal dari se-orang atau kelompok cendekia yang pernah ada dan hidup menjadi teladan serta berkarya selamag hidup di muka bumi. Ajarannya diamalkan para pengikutnya dengan setia, lalu berkembang men-jadi kepercayaan nyata dalam kehidupan masyarakat ribuan tahun, akhirnya menjelma menjadi a-gama bumi.

  1. Agama Hindu
  2. Agama Buddha
  3. Agama Khonghucu
  4. Agama Shinto
  5. Dan masih banyak lainnya.
  6. Agama Samawi

Dalam hal ini, “mitologi” diyakini para penganutnya merupakan firman Tuhan didatangkan dari la-ngit untuk sesuatu umat berdiam di muka bumi. Mitologi yang terhimpun menjadi Kitab Suci bermuatan beragam Surah terinci dalam bermacam ayat yang didatangkan Tuhan diantarkan oleh seorang Rasul atau Nabi yang datang dari langit. Dinamakan “agama samawi” karena perkataan Tuhan yang telah terhimpun kedalam Kitab Suci berasal dari langit, itu alasannya maka dinamakan “agama langit”. Dengan demikian Kitab Suci itu adalah perkataan Tuhan yang dikirim dari langit dan diantarkan seorang utusan (messenger) kepada manusia yang hidup di bumi.

Dari sekian orang utusan Tuhan yang diketahui sejauh ini, ialah ketiga mitologi agama yang paling akhir tampil berikut ini:

  1. Nabi Musa AS sebelum tarikh Masehi, diutus Tuhan mengantarkan Kitab Taurat kepada

       umat Yahudi.

  1. Nabi Isa AS pada awal tarikh Masehi, diutus Tuhan mengantarkan Kitab Injil kepada umat

        Nasrani.

  1. Nabi Muhammad SAW pada tahun 610 Masehi, diutus Tuhan mengantarkan Kitab Al-

       Quran kepada umat Islam.

Revolusi Industri

Meski di Timur Tengah telah terdapat peradaban yang sangat maju memasuki tarikh Masehi silam, akan tetapi “revolusi industri” diaali justru dari daratan Eropa jauh di sebelah Utara, ketika itu masih tergolong kampung ketimbang kawasan yang disebut terdahulu. Gelombang pertama “revolusi in-dustri” muncul tahun 1760 hingga 1820 dan 1840 (penghujung abad ke-18 dan awal abad ke-19), pada ketika itu James Watt dari Inggris baru memperkenalkan mesin-uap (steam engine) pertama di dunia temuannya; disusul gelombang kedua dari tahun 1840 hingga tahun 1870, yang mengawali perubahan besar kehidupan umat bermacam bidang, antara lain: ekonomi, budaya, pendidikan, kemasyarakatan, dan lainnya di daratan Eropa Barat. Revolusi industri lalu menemukan momentum dengan tersebarnya jaringan jalan kereta-api dihela lokomotiv-uap membakar batubara di Eropa, yang meluas sampai Wladiwostok, di ujung Timur kekaisaran Rusia. Jaringan jalan-raya pun kemudian menyusul di Eropa daratan dengan diperkenalkannya mesin bensin oleh Nikolaus Otto dan mesin diesel oleh Rudolph Diesel, keduanya oleh bangsa Jerman. Sampai dengan munculnya revolusi industri di benua Eropa, umat dimana-mana dese-luruh penjuru dunia pada ketika itu bepergian kemana-mana hanya dengan berjalan-kaki seba-gaimana telah diutarakan sebelumnya, paling banyak mengendarai ternak peliharaan yang telah dijinakkan, atau kereta yang dihela hewan peliharaan yang sudah jinak. Adapun hewan yang banyak digunakan untuk angkutan penumpang dan barang pada ketika itu dimana-mana di seluruh penjuru dunia, ialah: kuda, lembu, sapi, unta, dan lain yang setara.

Revolusi industri yang muncul pada abad ke-18 silam, mengantarkan umat menguasai “teknologi angkutan” yang memudahkan orang berdiam di muka bumi bepergian memanfaatkan bermacam moda transportasi, melalui: jalan-baja, jalan-raya, jalan-air, dan jalan-udara. Layanan angkutan kemudian berkembang pesat, dimulai layanan  angkutan dalam kota-kota besar bersifat lokal atau setempat, lalu angkutan antar kota atau  propinsi bersifat kawasan atau regional, dan angkutan antar negara bersifat antarbangsa atau internasional. Dengan demikian siapapun yang bermukim di muka bumi, dibagian bumi manapun berdiam, mulai: perorangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa, meski berjauhan letaknya satu sama lain, dan dipagari jarak berjalan-kaki lama dan melelahkan, kini dapat dengan mudah saling berkunjung untuk bersilaturrahmi, kapan pun, bersua siapa pun, dan dimanapun di muka bumi ini, hanya dengan membeli tiket angkutan darat, atau amngkutan laut, atau angkutan udara, dengan kehadiran aneka ragam moda angkutan yang lahir dibidani oleh revolusi industri yang muncul di muka bumi silam.

Revolusi Elektronik

Kemudian menghampiri penghujung abad ke-20 lalu, dua abad settelah revolusi industri tampil di Eropa silam, lahir pula “revolusi elektronik” yang dibidani oleh: Teknologi Informasi dan Komunikasi, disingkat TIK” ( Information and Communication Technologi, disingkat ICT) yang memungkinkan orang dapat bercakap-cakap dan bertatap muka langsung (in real time) lewat layar pengamat (monitor screen) menggunakan apa yang dinamakan “Perangkat Elektronik Bergerak”, disingkat PEB (Electronic Mobile Device, disingkat EMD) yang dapat dikantongi dan dibawa kemana pergi, dan dinamakan orang: gawai (gadget). Dengan demikian siapapun di muka bumi ini, mulai: perorangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa, meski saling  saling berjauhan letaknya, dipagari pula jarak tempuh berjalan-kaki lama dan melelahkan, kini dapat dengan mudah bercakap-cakap dan saling pandang untuk bersilaturrahmi langsung, kapan pun, dengan siapa pun, dan dimanapun di muka bumi ini, dengan mengetahui “nomor telepon” dan “membeli pulsa” memanfaatkan gawai, oleh hadirnya  PEB beragam merek yang diper-dagangkan orang di pasar elektronik di seluruh dunia, sejak timbulnya “revolusi elektronik”.

Dunia Yang Semakin Terbuka

Kedua jenis revolusi, yakni: “revolosi industri” membidani beragam moda transportasi memindahkan umat cara lahiriah di muka bumi, dan “revolusi elektronik” membidani PEB (EMD) lebih dikenal dengan istilah gawai (gadget) menyampaikan berita atau informasi kepada siapaun, kapanpun, dan dimanapun berada di muka bumi, menyebabkan mitologi yang lahir di berbagai kawasan muka bumi, tampil sejak dari ratusan ribu tahun silam, bermuatan: sejarah, ceritra, dan hikayat warisan luhur, dan lainnya yang telah menjadi budaya; begitu juga bermacam hal bernilai sakral dan dikeramatkan di tempat kelahirannya; aneka ragam kepercayaan mulai dari animisme bersifat setempat sampai dengan agama dengan keimanan dari langit, mulai: perorangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa; dalam seketika jadi terbuka kepada dunia oleh kehadiran teknologi transportasi dan komunikasi yang telah meluas ke seluruh penjuru dunia. Aneka ragam mitologi “harta hati-sanubari” insani beragam komunitas asal bermacam bangsa, beragam budaya, aneka agama, mulai: perorangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa yang menjadi peradaban manusia terpecah kedalam beragam pandangan hidup yang ada di muka bumi, lalu dijadikan bahan atau materi kajian ilmu pe-ngetahuan dan perbandingan nilai oleh para cerdik-pandai penggemar sains yang bekerja keras dalam bidang masing-masing untuk mencari kebenaran hakiki.

Harta insani bersemayam didalam hati-sanubari umat berbagai bangsa yang tidak seragam lahir ke muka bumi dalam perjalanan panjang menerobos zaman dalam menciptakan peradaban, dalam waktu singkat dipertukarkan diantara sesama insan dalam kegiatan bersilaturrahmi, baik  didekatkan oleh “sarana transportasi” dengan kemudahan bepergian memanfaakan beragam moda angkutan, maupun didekatkan oleh “sarana komunikasi” PEB atau “gawai“ (gadget) beragam merek yang telah tersebar luas ke seluruh penjuru dunia. Bermacam kelompok berkepentingan lalu memanfaatkan harta insani bersemayam dalam hati-nurani menjadi bahan atau materi diskusi, kajian ilmu pengetahuan bermacam disiplin ilmu sosial yang dikuasai untuk mencari kebenaran mutlak atau absolut di dunia ini. Analisa perbandingan, asal: budaya, sakral, kepercayaan, hingga keimanan, dan lain sebagainya lalu berkembang; diaali negara maju hingga  negara yang sedang berkembang. Publikasi hasil kajian jenis ini, mulai yang awam hingga hasil kerja para ahli bermacam keahlian menarik perhatian beragam media hingga dengan penerbit. Publikasi hasil kajian akhir ini rawan menimbulkan silang pendapat sampai sengketa diantara kaum yang pro dan kontra melahirkan pertikaian diantara kalangan pewaris harta insani bersemayam dalam akal-budi tersebar dalam kehidupan bermasyarakat, mulai: lokal, regional dan internasional, yang terdapat di muka bumi ini.

Untuk memelihara Ketenteraman Hidup Masyarakat Dunia, disingkat KHMD, (The Life Wellbeing of World Society, disingkat LW2S) yang telah terjaga baik di muka bumi, kemudian terusik oleh hadirnya aneka ragam moda transportasi dibidani “revolusi industri”, dilanjutkan  beragam merek (brand) gawai (gadget) yang telah diperdagangkan ke seluruh penjuru dunia dengan bebas dibidani “revolusi elektronik” (revolusi digital) lebih dari dua abad silam, dan sudah pula mengusik ketenteraman para pewaris harta karun insani diwariskan para leluhur silam. Kini sudah tepat saatnya mendirikan: Majelis Mitologi Dunia, disingkat MMD (World Mitho-logy Council, disingkat WMC) sebagai bagian dari PBB untuk menyediakan “rumah perdamaian” (reconsiliation house) sebagai tempat untuk membicarakan segala urusan yang berkaitan dengan mithologi dalam mengatasi persoalan yang telah maupun akan timbul tentang hal ini. Adapun tugas MMD (WMC) ialah ”menyiapkan tempat” berikut “fasilitas” dan “anggaran” diperlukan, serta “ kaum cerdik cendekia dunia” yang akan mengambil bagian di berbagai kawasan strategis muka bumi ini, sehingga segala macam persoalan yang mengemuka yang berangkat dari keaneka ragaman harta karun insani bersemayam dalam hati-nurani umat berdiam di bumi ini, khususnya yang bermuatan sakral, kepercayaan, dan agama, mulai dari yang diwariskan para leluhur hingga yang diantarkan Rasul, dapat ditangani dengan cepat, tepat, dan tuntas, sehingga kebersamaan hidup umat di planit ini dapat berjalan harmonis.

——– selesai ——–

Penulis:

H.M.Rusli Harahap

Pamulang Residence, G1

Jalan Pamulang 2, Pondok Benda. Kode Pos: 1541

Tangerang Selatan, Banten. 11 Desember 2016

Tel. 021-74631125.

 

Posted by: rusliharahap | June 20, 2016

BATAKOLOGI

Pendahuluan

Pada awalnya manusia menghuni muka bumi berdiam di: pulau, kepulauan, hingga benua. Mereka tergabung dalam beragam komunitas, seperti: keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa. Semua komunitas ini masih tercerai-berai dan saling berjauhan satu dari lainnya, karena penduduk bumi pun kala itu masih sangat sedikit jumlahnya belum seperti sekarang. Komunitas manusia yang terdapat di muka bumi, apapun ragamnya lalu bertetangga dengan alam sekitar yang menjadi lingkungan hidup masing-masing. Ada yang bernama kawasan tropis berhawa panas diseputar khatulistiwa, lainnya ialah kawasan subtropis lagi sejuk sampai dingin di belahan bumi bagian Utara dan belahan bumi bagian Selatan. Terdapat alam sekitar perairan, diawali: paya atau rawa, tambak, sungai, danau, laut, hingga dengan samudra.  Adapun lagi dataran rendah sangat luas bernama padang rumput dimana bermacam hewan mencari makan dengan bebas. Dari alam sekitar disebut belakangan, alam sekitar di muka bumi beralih menjadi dataran tinggi yang dilanjutkan kawasan pegunungan berudara sejuk beragam ketinggian diatas per-mukaan laut. Masih ada alam sekitar lain di muka bumi bernama padang pasir yang berhawa panas dan gersang lagi tandus sangat luas yang bersifat regional. Selain dari itu, ada pula kawasan muka bumi yang ditutupi salju yang luas, mulai dari bersifat musiman hingga de-ngan salju abadi. Yang akhir ini dijumpai pada belahan bumi bagian Utara yang bertetangga dengan kutub Utara, dan belahan bumi bagian Selatan yang bertetangga dengan kutub Selatan dari planit biru ini.

Yang menjadi pemandangan sehari-hari insan berdiam di bumi ketika itu, di bagian muka bumi manapun berdiam di bumi pada masa awal keberadaan di planit ini: pertama manusia yang menjadi warga komunitas masing-masing, dimulai keluarga hingga masyarakat tempat berdiam, baik komu-nitas yang masih kecil anggota hingga dengan yang sangat besar warganya; kedua: alam mengitari yang menjadi lingkungan hidup komunitas, seperti: padang rumput, hutan hingga rimba belantara; perairan, mulai dari rawa atau paya, kolam, tambak, sungai, danau, laut, hingga samudra. Ada alam sekitar berwujud: padang pasir, padang salju dari musiman hingga dengan salju abadi; juga terdapat alam sekitar campuran dari apa yang sudah disebutkan sebelumnya; ketiga: segala menampakkan diri di angkasa hingga dengan ketinggian langit, dimana: gugusan awan berarakan, matahari dan bulan timbul tenggelam, himpunan bintang gemerlapan bercahaya di malam hari, bintang berekor (komet) melintas, dan banyak lagi lainnya, yang tidak mungkin dirinci satu persatu; semuanya de-ngan setia menampakka diri di angkasa hingga ketinggian langit. Ketiga ragam “pemandangan” yang mengitari kehidupan insan di muka bumi pada masa itu, yakni: “manusia”, “alam sekitar”, dan “bermacam benda langit” menampakkan diri pada ketinggian; tidak diragukan lagi mengirimkan pesan kepada insan yang dialamatkan kepada “akal-budi” masing-masing, dimanapun berdiam dise-putar planit biru ini, mulai dari bumi bujur Barat hingga dengan  bumi bujur Timur, demikian pula dari bumi lintang Utara hingga dengan bumi lintang Selatan. Ketiga macam pemandangan lalu menorehkan pesan, kesan, yang membentuk citra terekam dalam kepada: Tondi (Batak), Hati-sanu-bari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman), dengan jumlah benturan (kuan-titas) dan mutu (kualitas) bervariasi dari: perorangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa yang berdiam di seantero planit bulat bagaikan bola, menelusuri perjalanan waktu ratusan ri-bu tahun menerobos zaman sampai dengan hari ini.

Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya, beragam komunitas berdiam di muka bumi, mulai: perorangan, keluarga, masyarakat, suku bangsa, dan bangsa, masih sedikit bilangannnya, maklum manusia yang mendiami muka bumi masih sedikit kala itu. Pada ketika Nabi Muhammad SAW me-nerima Surah Al-Alaq dalami Gua Hiraq yang dibawakan oleh malaikan Jibril tahun 610 Masehi silam, penduduk bumi ditaksir berjumlah sekitar 200.000.000 orang semuanya. Dengan bumi ber-bentuk bola dengan garis-tengah rata-rata: 12.740 km yang baru diketahui orang belakangan ratusan tahun kemudian, luas permukaannya: 510 juta km2. Sebagian besar permukaan bumi ini (70%) berupa air, dan hanya sebagian kecil (30%) berupa daratan. Dengan demikian kepadatan pendu-duknya pada masa itu barulah: 1,3 orang per km2. Itulah sebabnya mengapa jauh sebelum Ra-sulullah menerima berbagai Surah yang menjadikan kitab Suci Al-Quran umat Islam, insan ber-diam di muka bumi jumlahnya jauh lebih sedikit lagi, dan keberadaan masing-masing sangat ber-jauhan satu sama lain.

Selain dari itu, tiap komunitas mulai kecil bernama keluarga hingga besar dinamakan bangsa, di-pagari pula oleh jarak tempuh berjalan-kaki yang lama dan sangat melahkan untuk berjumpa de-ngan warga atau anggota komunitas lainnya. Hal ini disebabkan oleh kenyataan, bahwa “revolusi industri” belum muncul di daratan di Eropa, dan belum lagi terdapat jalan-raya (prasarana) dan ken-daraan (sarana) dijalankan “motor bakar” dengan bahan bakar “bensin” dan “mesin diesel” berbahan bakar “solar” dimana-mana diseluruh penjuru dunia ini yang memudahkan orang beper-gian ke tempat yang jauh seperti sekarang ini. Grafik dibawah ini memperlihatkan pertumbuhan “penduduk bumi” dalam Bilyun orang, menelusuri perjalanan waktu dua ribu tahun, yang berhasil dikerjakan Google untuk diketahui semua orang segala kepercayaan berdiam di muka bumi.

penduduk

Courtesy of Google

Perlu diketahui, orang yang ingin bepergian ke tempat jauh ketika itu, baik sendiri maupun beramai-ramai harus berjalan kaki puluhan hingga ratusan kilometer jaraknya. Medan ditempuh antara lain berulang kali harus keluar masuk hutan hingga rimba belantara di Nusantara, menelusuri jalan setapak antara kampung yang biasa dilewati penduduk setempat. Muka jalan dilalui tidak selalu datar, ada kalanya terpaksa menuruni lembah terjal dan merangkak menuruni tebing untuk tiba ke tepi anak-sungai atau sungai yang perlu diseberangi, dan setelah menyeberang, kembali merangkak mendaki tebing terjal seberang untuk sampai di permukaan jalan rata. Perjalanan masih harus dilan-jutkan meniti galangan sawah, menembus semak belukar, bertemu jalan tanah berair lagi berpasir penuh batuan, yang menjadi tantangan lain. Tidak jarang berjalan kaki berhari lamanya disertai me-nginap di berbagai kampung orang yang perlu dilalui. Perjalanan darat ketika itu memang menguras  tenaga badani dan tidak terkecuali waktu yang tidak sedikit dihabiskan untuk sampai ke tujuan. Apabila perjalanan yang sama dilakukan dengan kendaraan bermotor roda: dua, tiga, atau empat, dan diatas jalan-raya mulus sebagaimana sekarang ini setelah revolusi industri muncul di Eropa silam, waktu perjalanan dihabiskan menjadi jauh lebih singkat, dan tidak melelahkan badan, karena dibantu jalan-baja atau jalan-raya dengan sarana transportasi berteknologi sudah maju.

Pandangan Tiga Sekawan

Ketiga ragam “pemandangan” yang dijumpai oleh setiap komunitas, mulai: perorangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa, mengelilingi masing-masing dimana-mana di muka bumi se-luruh dunia saat itu: “manusia”, “alam sekitar melingkungi”, dan “beragam benda-langit yang me-nampakkan diri mulai angkasa sampai ketinggian langit, menemani keseharian hidup insan saat awal keberadaan bermukim di muka bumi. Ketiga macam pemandangan menjelma menjadi: “pe-mandangan yang tiga”, atau “tiga serangkai pemandangan”, atau “tiga-sekawan pemandangan” pe-ngetuk “akal-budi” (brain-heart) yang diperlukan insan untuk “berfikir” dan “bekerjasama” menja-lani hidup Alam Fana di muka bumi. Ketiganya lalu membidani lahirnya pengetahuan, yang dalam perjalanan waktu muncul jadi ilmu (science) tentang: manusia, alam sekitar melingkungi, dan ber-macam benda-langit yang menampakkan diri mulai angkasa sampai ketinggian langit. Ketiga “pemandangan” dengan setia mengawal insan dari siang sampai malam: berhari, berminggu, ber-bulan, bertahun, berabad, bermillenia, dan beratus millenia, berkembang dalam benak manusia  menjadi: Tiga Sekawan Pandangan, disingkat TSP, penggugah “akal” dan pengetuk “budi” insan, atau penggugah-ketuk “akal-budi” insan yang tidak pernah istirahat berkegiatan. Dengan melola kecerdasan berfikir (motivation), dan menuangkan gagasan (inspirasi) kedalam benak (otak), mulai: perorangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa, menyebabkan manusia terdorong  “bertindak atau berbuat sesuatu” (to do something). Lewat pengolahan “akal-budi” (brain-heart) “karunia Ilahi” bersemayam dalam “hati-sanubari insan”: “akal” (brain) bertugas memecahkan persoalan dan tantangan betapapun peliknya, “budi” (heart) menghimpun manusia guna menggan-dakan kemampuan lewat kebersamaan, dari: perorangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa demi memperkasakan akal. Dengan demikian, aneka ragam permasalahan sehari-hari yang dihadapi di Alam Fana bermukim di muka bumi, mulai kecil lagi sederhana hingga yang besar dan rumit setra muskil dapat dipecahkan secara bersama.

Dengan bumi berbentuk bola bergaris-tengah rata-rata: 12.742 km, maka luas permukaannya: 510 juta km2. Sebagian besar muka bumi berupa perairan (70%), dan hanya bagian kecil (30%) daratan. Dengan jumlah manusia berdiam di muka bumi dalam hitungan puluh hingga ratus juta orang menjelang “revolusi industri” di Eropa silam, kepadatan penduduk di muka bumi ketika itu masih termasuk rendah, sehingga komunitas manusia bermukim di muka bumi saling berjauhan satu sama lain. Dalam keterpisahan hidup di bumi silam, insan dipagari pula jarak tempuh berjalan kaki lama lagi melelahkan, maka manusia yang dibekali Tuhan dengan: Tondi (Jiwa, Ruh, Soul, Seele), Akal-budi, dan Jasmani, menjadi sadar keadaan masing-masing, lalu melangsungkan: 1. diskusi antara sesama warga setiap komunitas, seperti: keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa; 2. menja-lin komunikasi dengan alam sekitar melingkungi: padang rumput, rimba sampai hutan belantara; paya atau rawa, sungai, laut, hingga samudra; juga padang pasir, gurun, padang salju mulai mu-siman hingga salju abadi; 3. mendengarkan bisikan semilir angin, amukan badai, hempasan ombak sampai gelombang, angkara murka gemuruh hingga dentuman petir, sayatan cahaya kilat sambar menyambar, getaran gempa mengguncang bumi, letusan gunung api, dan banyak lagi yang harus diketahui insan berakal-budi, mulai dari hidup sendiri hingga tergabung dalam komunitas; 4. tidak juga lupa juga insan berdialog dengan semua yang menampakkan diri di angkasa sampai ketinggian langit dari siang sampai malam, seperti: arakan awan berwarna warni, matahari dan bulan yang tim-bul tenggelam, bintang gemerlapan di langit pada malam hari, dan masih banyak lagi lainnya yang terlihat setiap hari  hingga dengan mncul berkala.

Andaikata manusia dapat bermukim di permukaan setiap planit yang terdapat dalam “sistim mata-hari” selain bumi, tampaknya tiga-sekawan penggerak akal-budi insani diutarakan diatas tidak akan berubah, meski sudah tentu perbedaan akan timbul pada alam sekitar di permukaan setiap  pla-nit yang sedang dihuni. Walaupun demikian perlu dimengerti, bahwa sejumlah planit yang terdapat dalam “sistim matahari” lebih besar ukurannya ketimbang bumi. Ini berarti “massanya” jauh lebih besar dari bumi, sehingga medan gravitasi yang ada dipermukaannya dapat menyebabkan orang tidak dapat berdiri disana. Bulan yang telah berulangkali disinggahi oleh astronaut Apollo dari Amerika Serikat, lebih kecil dari bumi. Gaaris tengahnya 3.474 km, hampir 1/4 dari garis tengah bumi tepatnya 27,3% garis tengah bumi. Bulan ternyata memiliki medan gravitasi 1/6 dari medan gravitasi bumi tepatnya 16,54 %, sehingga orang dapat melompat enam kali lebih tinggi dari yang dapat dilakukannya di muka bumi.

Tampaknya, apabila manusia dapat berdiam permukaan planit mana saja yang ada dalam sebuah “sistim bintang” tergabung kedalam Galaksi mana saja yang ada dalam Alam Semesta yang maha besar dan sangat luas ini, tiga-sekawan penggerak akal-budi insani yang telah diutarakan diatas ti-dak akan banyak berbeda. Perbedaan hanya akan terdapat pada alam sekitar masing-masing planit yang didiami orang. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa “tiga-sekawan” penggerak akal-bu-di insan yang telah diutarakan diatas bersifat “alamsemesta” (universal), artinya akan selalu ditemui manusia dimana saja ia berdiam di seantero Alam Semesta yang maha besar lagi sangat lu-as ini.

Mitologi

Setelah berlalu masa dalam hitungan ratus ribu tahun, “akal-budi” insani berbagai komunitas ber-diam di muka bumi yang keberadaannya tercerai-berai, dipagari lagi jarak tempuh berjalan-kaki  la-ma dan melelahkan untuk bersua dengan salah satu komunitas lain, diawali: 1. dialog antar warga  setiap komunitas, lalu: 2. hasil dialog komunitas dengan alam sekitar tempat berdiam, dan: 3. Hasil komunikasi komunitas dengan segala yang menam-pakkan diri di angkasa sampai ketinggian langit; maka perolehan 1, 2, 3, dipelajari dengan saksama, lalu didalami baik-baik oleh setiap komunitas berangkat dari pengetahuan yang ada pada mereka masing-masing, lahirlah  dalam setiap komunitas apa yang dikenal dengan: ceritra lama, atau hikayat purba, masing-masing komunitas berdiam di muka bumi. Perjalanan waktu panjang berada di muka bumi mengantarkan perolehan budaya ini menjadi “ceritra rakyat”, kesepakatan diterima bersama, mulai: keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa, menjadi: hikayat, sejarah, kepercayaan, kesakralan, keimanan, dan lainnya kesepakatan bersama, milik bersama pula. Ceritra rakyat demikian dalam bahasa Yunani dinamakan: “mythos”, melahirkan: “myth”, dalam bahasa Inggris dan: “mitos”. dalam bahasa Indonesia. Adapun bahan (materi), mulai hikayat, ajaran, pengetahuan, kepercayaan hingga keyakinan terkandung dalam ceri-tra rakyat, mulai disampaikan dari mulut ke mulut, begitu juga lewat ceramah, tidak terkecuali yang tertulis dalam beragam aksara, dalam bahasa Yunani disebut: “logos”. Lahir dengan demikian: “logy” dalam bahasa Inggris, dan: “logi” dalam bahasa Indonesia. Selanjutnya kata “mithology”, gabu-ngan dari “myth” dengan “logy” dalam bahasa Inggris, dan “mitologi” gabungan “mitos” dan “logi” dalam bahasa Indonesia. Mitologi lalu berkembang menjadi: ilmu atau pengetahuan (science) yang mempelajari aneka ragam ceritra rakyat yang ada di muka bumi, datang dari bermacam latar belakang budaya hingga kepercayaan dan agama yang ada di muka bumi sejak awal kehadiran manusia silam. Mitologi menjadi khazanah atau lumbung peradaban bermuatan: adat-istiadat, ke-percayaan, agama yang dihasilkan sesuatu komunitas, mulai dari ceritra rakyar jenaka hingga dengan upacara sakral (suci) suatu kepercayaan, dan agama. Bentuknya dapat bercorak: legenda, fabel, nasihat, ramalan, petuah, dan banyak lagi lainnya hingga beragam kitab-suci yang berhasil di-himpun manusia dengan berdiam di muka bumi. Mitologi juga mencakup tentang bermacam nilai, seperti: kebaikan prilaku, penolakan pada yang buruk; tertib hidup dalam kelompok diawali: kelu-arga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa, demi menjaga tertib sosial. Mitologi juga tentang ikh-wal manusia itu sendiri, seperti hidup dan kematian, keabadian Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) setelah mati, tentang Tuhan dan keesa-anNya, dan masih banyak lagi lainnya. Ada pula yang berupa: nasihat, perumpamaan, pantun, dan petuah yang diciptakan beragam komunitas, seperti: keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa yang tidak pernah sama disebabkan kehidupan insan yang terpencar selama ini, dipagari pula jarak berjalan kaki lama yang melelahkan ribuan km jaraknya, oleh belum adanya sarana dan prasarana transportasi tidak terkecuali peralatan telekomunikasi di waktu yang silam.

Tak terbilang banyak mitos mengemuka lahir dari komunitas, mulai keluarga hingga bangsa berdi-am di beragam tempat muka bumi, meski tidak muncul seketika. Beragam hikayat dan ceritra rak-yat berkembang, dan dalam rentang waktu panjang mengemuka dalam tiap komunitas, walau belum tentu sejarah, tetapi tidak diragukan adalah sebuah perolehan budaya, mengisahkan jalan hidup ko-munitas mulai perorangan hingga bangsa, tidak terkecuali oleh tokoh sentral yang mem-perlihatkan kepahlawanan kepada komunitas sampai bangsa masing-masing. Selain tentang orang, mitos juga berceritra tentang kepercayaan, peristiwa, nilai, dan sejumlah hal sakral, dan lain yang penting da-lam komunitas hingga bangsa, antara lain bagaimana mereka sampai tiba ke suatu tempat ke-beradaan dimuka bumi ini, kemana mereka kelak akan menuju setelah hidup yang sementara ini berakhir, dan apa yang harus diperbuat atau kerjakan selama hidup serentang hayat ini, dan banyak lagi lainnya. Di Indonesia mitologi umumnya memuat kisah awal keberadaan dunia, juga ceritra tentang dewa dan dewi serta makhluk supranatural, juga tidak terkecuali kisah tentang asal mula da-ri sesuatunya.

Berbagai mitologi telah tampil di muka bumi dibidani oleh tak begitu banyak komunitas yang  telah berdiam di muka bumi bertukar generasi sejak dari awal keberadaan insan di muka bumi ini, dimulai: keluarga, masyarakat, suku-banga, dan bangsa, dari masa yang silam. Dipagari oleh jarak tempuh berjalan kaki lama lagi melelahkan sepanjang sekitar dua ratus ribu tahun, mereka saling terpencar satu sama lain, sampai dengan timbulnya “revolusi industri” di Eropa silam, yang mem-perkenalkan bermacam moda angkutan: angkutan darat, angkutan air, angkutan udara, angkutan antariksa, dan “revolusi elektronika” memperkenalkan perangkat telekomunikasi bernama: gadget (gawai), membuat dunia menjadi terbuka lebar. Kini mitologi bermuatan: ceritra rakyat, ajaran lelu-hur, kepercayaan bangsa, agama bumi, dan agama langit, dari tak terhitung banyak komunitas yang ada di seluruh penjuru dunia, telah menjadi harta kekayaan “hati-sanubari insani”: budaya, berma-cam nilai sakral, dan keiman agama, menjadi pengetahuan milik orang banyak. Kekayaan hati-sa-nubari ini menjadi “perbendaharaan bukan-material” (immaterial things) milik umat sedunia peng-gerak “akal-budi” manusia, lawan dari “perbendaharaan material” (materal things) pengisi “ruang alam sekitar” yang mengelilingi insani di muka bumi. Dibawah ini adalah berbagai tempat asal  per-bendaharaan bukan-material yang dikelompokkan kedalam kawasan tempat asal dari bermacam mi-tologi yang kini terdapat di muka bumi, sebagai berikut:

I. Mitologi Dunia

  1. Kawasan Asia
  2. Asia Barat Daya
  3. Zaman Purba

        – agama Sumeria

        – mitologi Mesopotamia (Sumeria, Assiro-Babylonia)

        – mitologi Iran

        – mitologi Semitik:

                 – Babylonia

                 – Arab

                 – Canaan

        – mitologi hittit

        – mitologi Hurrian

        – mitologi Scythian

        – mitologi Elamite

  1. Zaman Pertengahan hingga Modern

        – mitologi Armenia

        – mitologi Arabia

        – mitologi Iran:

                – Balochi

                – Ossetia

                – Kurdish

                – Persia

         – mitologi Islam.

  1. Asia Selatan

         – mitology Ayyavazhi

         – mitologi Hindu

         – mitologi Tamil

         – mitologi Buddhist.

  1. Asia Timur

         – mitologi China

         – mitologi Jepang

         – mitologi Korea

         – mitologi Tibet

         – mitologi Ryukyuan

         – mitologi Ainu.

  1. Asia Tenggara

         – mithologi Filipina

         – mitologi Melayu

         – mitologi Indonesia:

                 – Batak

                 – Miangkabau

                 – Nias

                 – Melayu

                 – Dayak

                 – Toraja

                 – Asmat

                 – Sunda

                 – Jawa

                 – Papua

         – mitologi Vietnam.

  1. Asia Tengah dan Utara

         –  ajaran Shamanisme dari Siberia

         –  mitologi rakyat Turki dan Mongolia

         – mitology Scythian

         – mitologi Mongolia

         – mitologi Finnik

  1. Kawasan Afrika
  2. Afrika Tengah

         – Bantu

         – Bushomgo, Congo

         – Baluba

         – Bambuti (Pygmy), Congo

         – Lugbara, Congo.

  1. Afrika Timur

         – mitologi Akamba (Kenya Timur)

         – mitologi Dinka (Sudan)

         – mitologi Lotuko (Sudan)

         – Masai (Kenya, Tanzania)

         – mitologi: Kintu, Kaikuzi, Warumbe, dan lainnya (Uganda).

  1. Tanduk Afrika

          – mitologi Somalia.

  1. Afrika Utara

          – mitologi Berber

          – mitologi Mesir (sebelum Islam).

  1. Afrika Barat

          – mitologi Akan

          – mitologi Ashanti (Ghana)

          – mitologi Dahomey (Fon)

          – mitologi Edo (Nigeria, Kameron)

          – mitologi Efik

          – mitologi Igbo (Nigeria, Kameron)

          – mitologi Isoko (Nigeria)

          – mitologi Yoruba (Nigeria, Benin).

  1. Afrika Selatan

          – mitologi Khoikhoi

          – mitologi Lozi (Zambia)

          – mitologi Magalasi

          – mitologi Tumbuka (Malawi)

          – mitologi Zulu (Afrika Selatan).

  1. Kawasan Australia dan Oseania

          – mitologi Aborigin Australia

          – mitologi penciptaan Kaluli

          – mitologi Melanesia

          – mitologi Mikronesia

          – mitologi Papua

          – mitologi Polinesia:

                 – Hawaii

                 – Mangarevan

                 – Māori

                 – Rapa Nui

                 – Samoa

                 – Tahiti

                 – Tongga

                 – Tuvaluan

  1. Kawasan Kutub Utara

      Ajaran Shamanisme dari Siberia tumpang tindih dengan Asia Utara, Eropa Utara, dan

      Amerika Utara:

          – mitologi Finlandia

          – mitologi Inuit

          – mitologi Norse

          – mitologi Sami.

  1. Kawasan Eropa

     Zaman Purba:

          – mitologi Yunani

  • mitologi Romawi
  • mitologi Etruskan
  • mitologi Paleo-Balkan
  • mitologi Lusitania
  1. Eropa Utara

          – mitologi Germania:

                 – Paganisme (percaya kepada banyak Tuhan)

                 – Norse

                 – Anglo-saxon

          – mitologi Finnik

                 – Estonia

                 – Finlandia

                 – Sami

         – mitologi Slavia:

                 – Polandia

          – mitologo Baltik:

                 – Latvia

                 – Lituania

                 – Prusia

  1. Eropa Timur

          – mitologi Hongaria

          – mitologi Roma (Gypsy)

          – mitologi Slavia

          – mitologi Romania

          – mitologi Tatar

  1. Eropa Selatan

          – mitologi Albania

          – mitologi Catalonia

          – mitologi Yunani

          – mitologi Italia

          – mitologi Lusitania

          – mitologi Maltes

          – mitologi Spanyol

          – mitologi Turki

  1. Eropa Barat

          – mitologi Alpen

          – mitologi Basque

          – mitologi Frankish

          – mitologi Perancis

  1. Kaukasia Utara

          – mitologi Nart Saga (meliputi: Abazin, Abkhaz, Circasian, Occetia, Kharachay-Balkar,

            Chechen-Ingusetia).

          – mitologi Osetia

          – mitologi Vainakh (meliputi Chechen dan Ingusetia).

          – mitologi Adyghe Habze.

  1. Kaukasia Selatan/Transkaukasia

          – mitologi Armenia

          – mitologi Georgia

  1. Kepulauan Inggris

          – mitologi Celtik

          – mitologi Irlandia

          – mitologi Skotlandia

          – mitologi Welsh

  1. Kawasan Amerika
  2. Mesoamerika

          – mitologi Aztek

          – mitologi Maya

          – mitologi Olmek

  1. Karibia

          – mitologi Haiti

  1. Amerika Selatan

          – mitologi Chilota

          – mitologi Brazilia

          – mitologi Inka

          – mitologi Guarani

          – mitologi Mapuche

  1. Diaspora Afrika

         Kepercayaan dan agama orang-orang diaspora Afrika:

          – Hoodoo

          – Vodou

          – Santeria

          – Obeah

          – Kumina

          – Palo

          – Kandomble

          – Umbanda

          – Quimbanda

II. Ajaran Para Leluhur

Sebahagian dari mitologi warisan leluhur berbagai bangsa dari masa silam, dalam perjalanan waktu lalu berkembang menjadi kepercayaan yang berasal dari para leluhur.

  1. Mitologi Romawi
  2. Mitologi Mesir
  3. Mtologi Yunani
  4. Mitologi Jepang
  5. Mitologi Mayan
  6. Mitologi Mesopotamia
  7. Mitologi Zoroaster
  8. Mitologi Batak ←
  9. …..
  10. …..

        Dan masih ada lainnya.

III. Agama Bumi

Dalam hal agama bumi, “mitologi” datang dari ajaran orang-orang suci yang terkenal dan pernah berdiam di muka bumi diwaktu yang silam. Dinamakan agama bumi, karena fikiran cerdas dan bijak ini datang dari seorang atau lebih cendekia yang pernah ada dan hidup di muka bumi yang menjadi teladan dan berkarya sepanjang hayat hidup di muka bumi. Ajaran mereka diamalkan para pengikutnya dengan rajin dan setia, lalu berkembang menjadi kepercayaan nyata dalam kehidupan masyarakat ribuan tahun lamanya, lalu menjelma menjadi agama bumi.

  1. Agama Hindu
  2. Agama Buddha
  3. Agama Khonghucu
  4. Agama Shinto
  5. Masih banyak lainnya.
  6. Agama Samawi.

IV. Agama Samawi

Dalam hal ini, “mitologi” diajarkan diyakini oleh para penganutnya sebagai firman Tuhan yang datang dari langit untuk sesuatu umat yang berdiam di muka bumi. Mitologi yang terhimpun kedakan Kitab Suci bermuatan bermacam Surah terinci dalam beragam ayat didatangkan Tuhan diantarkan oleh seorang Rasul atau Nabi yang diutus dari langit. Dinamakan “agama samawi” karena perkataan Tuhan yang terhimpun dalam Kitab Suci berasal dari langit, itu alasannya mengapa disebut “agama langit”. Dengan demikian Kitab Suci itu ialah perkataan Tuhan yang dikirim dari langit dan disampaikan oleh seorang utusan (messenger) kepada manusia yang hidup di muka bumi.

Dari sekian banyak utusan Tuhan yang telah datang sampai kini diketahui orang, ialah tiga mitologi agama paling akhir disampaikan bawah ini:

  1. Nabi Musa AS di utus ke muka bumi 1400 tahun sebelum tarikh Masehi, diutus Tuhan

        menyampaika Kitab Taurat kepada umat Yahudi.

  1. Nabi Isa AS diutus pada awal tarikh Masehi, diutus Tuhan menyampaikan Kitab Injil kepada

        umat Nasrani.

  1. Nabi Muhammad SAW tahun 610 Masehi, diutus Tuhan menyampaikan Kitab Al-Quran kepa-

        da umat Islam.

Banua Tiga Sekawan

Salah satu komunitas manusia berdiam di muka bumi silam, diwakili cendekiawan bermukim di Su-matera Utara, tepatnya di bumi Tapanuli, ialah suku-bangsa Batak. Sebagaimana komunitas manu-sia lain, orang Batak juga menemukan BTS penggugah “akal” dan pengetuk “budi” manusia yang telah diutarakan sebelumnya, namun “Ompu Simulajadi orang Batak pertama diketahui berdiam di Tanah Batak silam, tampil dengan pandangan bahwa “Alam Semesta” yang maha besar lagi sangat luas ini, tidak lain dari apa yang dinamakan “Banua na Tolu Sadongan” (Banua yang Tiga Seka-wan), disingkat BTS, masing-masing terdiri dari: “Banua Ginjang” (Alam Atas), “Banua-Tonga” (Alam Tengah), dan “Banua Toru” (Alam Bawah); ketiganya lalu, menurut pemahaman “manusia pertama suku-bangsa Batak ini”, tersusun rapi dari atas kebawah bagaikan kue lapis yang sangat besar tergolek diatas sebuah talam yang amat luas. Banua artinya “Ruang Alam”, tiga buah bila-ngannya semua, dan menjadikan Alam Semesta ini.

Kata “simulajadi” memang bahasa Batak, akan tetapi bukan asli berasal dari Tanah Batak. Di se-menanjung Tanah Melayu silam, kata itu telah dikenal orang dengan: “semulajadi”. Meski telah menjadi bahasa Melayu, akan tetapi bukan asli berasal dari Tanah Melayu. Menurut penulis sejarah di Semenanjung Malaya, kata itu sudah dikenal orang lama di anak benua India, lalu dibawa  pen-deta Hindu ke Tanah Melayu; dan dari tempat akhir ini dibawa rohaniawan Hindu lagi ke Tanah Batak, ketika mereka membangun kompleks peribadatan bentuk “Candi’ di desa Bahal, Portibi; kini termasuk dalam Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas, Tapanuli Selatan. Para ro-haniawan Hindu dahulu rupanya masuk ke Tanah Batak lewat selat Malaka lalu dari Labuhan Bilik di muara sungai Barumun melayari sungai itu hingga di Portibi. Banyak perkataan dalam bahasa Batak berasal dari bahasa Sansekerta yang dibawa ke Tanah Batak oleh kaum rohaniawan, dan yang juga banyak digunakan ialah: “Debata” datang dari kata “Dewata” yang artinya Dewa. Orang-orang Hindu telah mendirikan sejumlah Kerajaan di sejumlah negara Asia Tenggara pada masa  menjelang masuknya tarikh Masehi.

Adapun yang dinamakan Banua Ginjang ialah tempat berada diatas yang benderang, berlatar biru la-ngit bermandikan cahaya, dimana Debata yang mengatur segalanya bersemayam. Juga tempat asal dari segala yang bernyawa. Sedangkan Banua Tonga, ialah tempat yang terdapat di muka bumi, dimana mengalir dalam jasad semua yang bernyawa untuk serentang hayat. Adapun Banua Toru, ialah tempat gelap gulita di dalam perut bumi, kemana segala yang bernyawa akan menuju setelah Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) berpisah dari badan.

Demikian dijelaskan Ompu Simulajadi tentang Alam Semesta maha besar ini pada awalnya. Agar  mudah diingat, lalu dinyatakan kedalam “Warna Sekawan Batak”, disingkat WSB, masing-masing: “Putih”, untuk Banua Ginjang yang benderang, “merah” untuk Banua Tonga dimana mengalir da-rah dalam tubuh yang bernyawa, dan “hitam”, untuk Banua Toru yang gelap gulita, tempat tujuan segala tubuh setelah Tondi bercerai dari badan. Kawanan warna kemudian digunakan untuk meng-hiasi bermacam hasil kerajinan suku-bangsa Batak, antara lain: kain tenunan Batak yang bernama “ulos” (selimut), pakaian dan perlengkapan Adat Batak, aneka ragam hiasan (ornamen), dan lain se-bagainya supaya tidak terlupakan. Berbagai macam denda kerajinan diperlukan untuk melangsung-kan acara dan upacara dalam adat Batak, mulai yang bersifat keagamaan dan sakral sifatnya, hingga dengan yang biasa untuk perkawinan dan beragam perayaan. Bangunan rumah kediaman suku-bangsa Batak selain memperlihatkan keunikan bentuk, juga dilengkapi WSB, yang menjadi bagian penting dari seni ukir dari arsitektur Batak.

Bendera Batak menggambarkan warisan pandangan Alam Semesta dari Ompu Simulajadi pernah berdiam Tanah Batak silam, dan tidak lain dari arna Sekawan Batak (WSB) yang telah diterangkan sebelumnya masing-masing berurutan dari atas kebawah: putih, merah, dan hitam.

bendera-batak

Bendera Batak

Masyarakat Batak

Setelah menempuh perjalanan waktu panjang, suku-bangsa Batak lalu dengan istilah yang dikenal dengan sebutan: “marga”. Marga tidak lain dari nama awal dalam suatu kekerabatan suku-bsngsa Batak yang menganut sistim “patrilenial” (kebapaan) datang dari seorang leluhur pemersatu yang pernah berdiam di Bonabulu (Tanah Batak) silam. Nama marga itu, tidak lain dari nama “orang per-tama” dari marga disebutkan. Muncul dengan demikian  beragam nama marga, seperti: Harahap, Siregar, Lubis, Batubara, Nasution, Panjaitan, Simatupang, dan lain sebagainya. Nama marga lalu digunakan terus oleh keturunannya “mendampingi” nama diri, guna mengetahui darimana asal sese-orang yang berdiam di Bonabulu silam. Maka orang yang bernama: Abdul Hamid Harahap, ialah seorang bernama: Abdul Hamid, keturunan generasi sekian dari pendahulu atau leluhur pemersatu bernama Harahap berdiam di Tanah Batak silam. Sebagai pembanding dapat diketengah-kan cara orang Arab yang bernama: Abu. Untuk menghubungkan orang bernama Abu dengan leluhurnya silam, budaya Timur Tengah menyuratkan sebagai berikut: Abu bin Saad, bin Taslim, bin Daud, bin Siddiq, bin Maqruf, bin Talal, dan seterusnya. Untuk menjelaskan siapa sebenarnya orang yang ber-nama: Abdul Hamid keturunan marga Harahap itu, suku-bangsa Batak lalu menyiapkan yang dina-makan “tarombo” (silsilah) awalnya tersurat diatas kulit kayu dalam aksara Batak sebagai catatan. Akan tetapi orang Arab tidak memerlukan tarombo, karena semua nama hingga dengan leluhur di-maksud telah tercantum dalam garis keturunan keluarga yang sudah jelas terbaca.

Dalihan Na Tolu

Masyarakat Batak bergaris keturunan patrilenial, artinya laki-laki merupakan suhut bolon (kepala keluarga), dan menurut adat Batak berhak menurunkan nama marga kepada anak-anaknya. Seba-liknya masyarakat Minang bersilsilah “matrilenial” (keibuan), karena sejalan adat Minang wa-nitalah yang menu-runkan nama marga kepada anak-anaknya, meski dilakukan oleh saudara laki-lakinya. Dalam masyarakat Batak “pertama” dikenal istilah: “kahanggi”, yakni himpunan keluarga Batak bermarga sama yang terdiri dari bermacam generasi. Seorang dikatakan bermarga Harahap di Bonabulu atau perantauan, karena yang bersangkutan masih keturunan marga Harahap yang dahulu pernah berdiam di Tanah Batak. Selain dari itu “kedua”, ada lagi yang dinamakan: “anakboru”, yakni himpunan dari suku-bangsa Batak bermacam marga, antara lain: Pane, Lubis, Rambe, Sor-min, dan lainnya yang mempersunting “gadis” marga Harahap menjadi ibu di berbagai kampung mereka guna menambah bilangan. Kemudian yang “ketiga” ada pula yang dinamakan: “mora”, yak-ni himpunan dari suku-bangsa Batak bermacam marga, seperti: Siregar, Pohan, Nasution, Rambe, dan lainnya yang mendatangkan ibu kepada marga Harahap di berbagai kampung mereka untuk menambah bilangan. Dengan demikian terbentuklah “sekawan marga” dinamakan: “anakboru”, ter-diri dari: Pane, Lubis, Rambe, Sormin, dan lainnya menjadi “anak-boru” dari Marga Harahap di Bo-nabulu silam, lalu meluas ke perantauan. Adapun “sekawan marga” lain  terdiri dari: Siregar, Po-han, Nasution, Parinduri, dan lainnya dinamakan: “mora” dari Marga Harahap di Bonabulu silam, juga lalu meluas ke perantauan.

Ketiganya, masing-masing: “kahanggi” marga Harahap dengan “sekawan marga anakboru” dan   “sekawan marga mora”, membentuk apa yang kemudian dinamakan: “Sekawan Masyarakat Batak”, disingkat SMB, dikenal dengan nama: “keluarga besar”, dan dalam adat Batak disebut: “Dalihan Na Tolu”, disingkat DNT, artinya: “Tungku Yang Tiga”, disingkat TYT, terdapat dalam masyarakat dari suku-bangsa Batak di Bonabulu silam, yang dibidani perkawinan antar marga yang bersifat sa-kral. Gabungan dari ketiganya mengingatkan suku-bangsa Batak kembali kepada mitos BTS pan-dangan Ompu Simulajadin akan Alam Semesta dari silam, dan menegaskan pula bahwa: kehidu-pan masyarakat juga membutuhkan adanya ketiga unsur sebagaimana telah diterangkan diatas.

Selain dari itu dahulu, ketika orang baru mengenal api, nyala api didapur menjadi tempat orang ber-kumpul membicarakan dalam suatu komunitas. Agar dapat bertanak diatas api, diperlukan tiga batu sebagai tungku tempat meletakkan periuk. Dua batu kurang, empat batu terlalu banyak, hanya tiga batu yang tepat bilangannya. Dari sini lahir sudut pandangan lain yang dikenal dengan istilah: “Tungku Yang Tiga”, disingkat TYT. Dan ini mengisyaratkan akan perlu adanya “keluarga besar” dalam masyarakat suku-bangsa Batak terdiri dari: “kahanggi”, “anak-boru”, dan “mora”, agar kehi-dupan di Banua-Tonga atau Alam Fana, dapat berlangsung baik dan hamonis.

Perkawinan

Dalam masyarakat Batak di bonabulu, adat telah menetapkan berlaku perkawinan keluar marga, atau eksogami. Naposo bulung (anak laki-laki) kahanggi boleh dipaebat (dinikahkan) dengan nauli bujing (anak gadis) moranyabegitu juga naposo bulung anakboru boleh dipaebat dengan nauli bu-jing kahanggi; akan tetapi tidak untuk sebaliknya. Inilah yang disebut adat perkawinan tidak-sime-tris (asimetric marriage). Hal ini dilaksanakan guna menghindarkan nauli bujing anakboru dipaebat oleh naposo bulung kahanggi, demikian pula nauli bujing kahanggi dipaebat oleh naposo bulung mora, karena akan menimbulkan rompak tutur (rusaknya pertuturan) dan menyalahi adat di Bona-bulu. Dalam A-dat Batak di kampung silam telah berlaku serangkaian kaidah yang berlaku dalam keluarga besar SMB, yakni: somba marmora (hormat kepada mora), manat markahamaranggi (pandai bergaul bersaudara), dan elek maranak-boru (membujuk anakboru) yang telah ditetapkan dalam pertuturan menurut Adat Batak.

Tutur tidak lain dari kaidah bertegursapa yang digariskan dalam Adat Batak digunakan dalam kelu-arga besar DNT, yakni ragam tutur (sapa) digunakan antara mereka berlainan generasi; oleh mereka yang lebih tua kepada yang lebih muda, atau sebaliknya dalam garis vertikal, begitu juga ragam tutur diantara mereka yang masih satu generasi berbeda kedudukan dalam aturan Adat Batak, seperti: kahanggi, anakboru, dan mora dalam garis horizontal; tidak terkecuali arah bertegursapa. Tutur menjadi hapantunan (sopan santun) dalam pergaulan hidup sehar-hari masyarakat Batak, terlebih dalam kehidupan sehari-hari kekerabatan DNT yang dihormati, amat diperhatikan pelaksa-naannya dalam kehihidupan. Kesalahan menyebutkan tutur terhadap seseorang dalam masyarakat di Bonabulu yang masih kuat, berakibat mendapat koreksi langsung di tempat lengkap dengan pen-jelasan menerangkan mengapa harus menyebut demikian.

Selain alasan rompak tutur disebutkan diatas, adat perkawinan tidak simetris Adat Batak juga dipengaruhi peran yang diemban oleh unsur-unsur: kahanggi, mora, dan anakboru dalam keluarga besar Dalihan Na Tolu menyelenggarakan sebuah perhelatan adat. Dalam sebuah perhelata Adat Batak diselenggarakan kahanggi, baik siriaon (kebahagiaan) maupun siluluton (kedukaan), kahang-gi akan dibantu tenaga oleh anakborunya, sementara moranya menyumbangkan pemikiran diperlu-kan supaya acara berjalan lancar sebagaimana mestinya.

“Naposo bulung” (pemuda) dari suatu marga di kampung halaman dinamakan: Sisuan Bulu (Sipe-nanam Bambu), adalah yang membela kampung halaman andalan kahanggi bermukim di Bonabulu bersama kerabat semarga yang lain. Karena itu ia didampingi oleh “nauli bujing” (gadis) datang da-ri mora yang jadi “rongkap ni tondi” (pasangan hidup) untuknya. Dalam Adat Batak perkawinan antara “naposo bulung”, atau yang bernama “bayo pangoli” (pengantin pria) dengan “nauli bujing”, atau yang bernama “boru na dioli” (pengantin wanita) harus berasal dari marga yang berbeda. Ada-pun “boru dioli” yang ideal dalam Adat batak anak-gadis saudara kandung ibu laki-laki, yang biasa dinamakan “boru tulang”. Setelah perkawinan berlangsung, “boru na dioli” ini akan menjadi Si-suan Pandan (Sipenanam Pandan) di kampung halaman kebanggaan kahanggi. Perlu diketahui, Adat Batak melarang “naposo bulung” sesuatu marga menikah dengan nauli bujing marga yang sa-ma, atau dikenal dengan istilah perkawinan semarga (endogami). Ini disebabkan pemahaman su-ku-bangsa Batak, bahwa orang-orang yang bermarga sama masih bersaudara, dan tergolong masih seayah dan seibu, dan karena itu akan menyebabkan insest (incest) terlarang dalam adat Batak.

Dibandingkan tataring, perkawinan dua sejoli demikian, bagai tungku dengan dua dalihan, periuk diletakkan diatasnya akan terjungkal. Dalam hidup bermasyarakat, pasangan ini juga tidak mem-punyai mora, karena itu akan mendapat kesulitan bergabung kedalam keluarga besar DNT mengikuti perhelatan adat Batak siriaon dan siluluton. Juga dalam lingkungan SMB, kedua sejoli tidak memperoleh “habisuhon na sian mora” (tuntunan dari lingkungan mora), dan tidak pula dapat melangsungkan “somba mar mora (“hormat kepada mora”). Karena telah melangsungkan perka-winan semarga menyalahi Adat Batak, jalan keluarnya ialah salah seorang dari dua sejoli harus mengganti marga melalui upacara adat Batak, agar nama keduanya dapat kembali bergabung ke-dalam DNT dan nama mereka dimuat kedalam tarombo marga pengantin laki-laki.

Kebersamaan

Dari SMB, Trilogi Batak merambah ke ranah nilai (value) hidup bersama yang berguna dalam ke-hidupan keluarga besar di Bonabulu. Mora dikatakan “na mangalehen hangoluan” (si pemberi kehi-dupan) kepada kahanggi. “Mora soksok” dialamatkan kepada marga yang pertama kali mendatang-kan Ina (Ibu) kepada kahanggi. Adapun marga yang telah mendatangkan Ina lebih dari tiga generasi berturut-turut kepada kahanggi, seperti marga Siregar dari Bunga Bondar kepada marga Harahap dari Hanopan (Sipirok), dinamakan “mataniari naso gakgahon” (matahari yang tidak dapat ditatap). “Mora i ma mual ni hangoluan” (mora adalah mata air kehidupan) kata para cendekiawan, “mora na mangalehen habisuhon” (mora ialah si pemberi kecerdikan). Itulah sebabnya mengapa turun perin-tah Adat Batak kepada kahanggi yang mengatakan agar yang akhir ini melakukan “somba mar Mora” (hormat kepada mora).

Lingkungan kahanggi dinamakan: “dongan sabutuha” (himpunan sekandung), merupakan kumpu-lan hidup orang-orang yang semarga terdiri dari bermacam generasi. Orang-orang bersaudara mem-punyai hak dan kewajiban yang benar-benar sama,  tidak seorangpun boleh mendapat lebih banyak atau kurang dari lainnya. Kahanggi ialah “alam kehidupan” di kampung halaman atau Bonabulu silam, dimana mereka yang senasib dan sepenanggungan dahulu mempertahankan marga dengan kampung dari musuh yang datang meyerang. Karena itu turun perintah Adat Batak pada kahanggi mengatakan a-gar: ”manat-manat markahamaranggi” (pandai-pandailah hidup orang bersaudara).

Anakboru dinamakan: “nagogo manjujung, na ringgas mangurupi morana (yang kuat menjujung di kepala, dan rajin membantu moranya). Anakboru dikatakan juga: “sitamba na hurang, sihorus na lobi” (si penambah yang kurang dan si penguras kelebihan) dalam beragam perhelatan Adat Batak, baik siriaon maupun siluluton dalam lingkungan kahanggi. Itulah sebabya mengapa turun perintah Adat Batak pada kahanggi mengatakan: “elek mar anakboru” (pandailah mengambil hati anakboru) agar bantuan mereka selalu dapat diperoleh. Dengan demikian nilai-nilai: somba mar mora, manat mar kahanggi, dan elek mar anakboru menjadi Trilogi Nilai Batak, disingkat TNB yang amat ber-guna untuk kebersamaan hidup lingkungan DNT (TYT) suku-bangsa Batak, agar kekerabatan  yang harmonis senantiasa dapat terpelihara dari Bonbulu hingga dengan perantauan, selama berada di Banua-Tonga.

Karena hidup di Banua-Tonga atau Alam Kedua bersifat sementara, yakni serentang hayat, maka guna memelihara kerukunan komunitas suku-bangsa Batak berdiam di Bonabulu, Adat Batak menurunkan perintah: “inte disiriaon, tangi disiluluton“ (menantikan khabar bahagia, selalu menyi-mak berita duka). Selain pesan untuk masyarakat DNT dikemukakan diatas, ada pula perintah Adat Batak untuk perorangan (individu) yang memerlukan perhatian serious masyarakat di Bonabulu ke-tika itu, baik terhadap mereka yang sudah tua apalagi yang masih muda, ialah apa yang dinamakan:  Tolu Sadongan Nijalahan (Tiga Sekawan Dicari), disingkat TSN(TSD) dalam hidul berdiam di Banua Tonga selama hayat seseorang yakni: hamoraon, hagabeon, dan hasangapon.

Mora artinya teladan, dan hamoraon ialah keteladanan mencakup: keakraban, taat hukum, ber-pan-dangan hidup maju, penuntut dan pencari ilmu pengetahuan, penyayang sekaligus pelindung, pan-dai menengahi perbedaan demi kerukunan hidup, beriman, dan masih banyak lagi yang lain ber-sa-rang dalam Tondi (jiwa/ruh/hati-nurani/soul/seele) bersifat bukan-benda (material) untuk memoti-vasi Roha (akal-budi) manusia untuk berbuat berguna. Inilah yang dinamakan: kekayaan atau harta batin (wealth of the soul) yang dimiliki seorang bergelar: halak na mora (manusia yang teladan). Gabe ialah kaya, sehingga hagabeon artinya kekayaan dikuasai orang meliputi: rumah, harta-benda, sawah ladang, simpanan bank, dan lain sebagainya bersifat kebendaan (material) di dunia dikuasai seorang, termasuk juga keturunan. Inilah yang dinamakan orang harta lahir (the material wealth) yang dimiliki seseorang bergelar: halak na gabe (orang yang kaya). Adapun hasangapon berasal dari kata sangap yang artinya martabat (dignity). Hasangapon ialah martabat yang berhasil diraih  seorang menjalani hidup di Banua-Tonga, atau Alam Fana di dunia ini. Pada zaman kerajaan silam orang bermartabat ialah: Raja, kaum bangsawan, datu, dan lain sebagainya. Kini orang bermartabat, ialah: Kepala Negara, Menteri, Gubernur, Bupati, rohaniawan beragam agama, ilmuwan, peneliti penemu, pendiri aneka industri, penggiat olahraga, dan masih banyak lainnya yang tidak dapat dirinci satu persatu. Mereka yang berbuat: amal yang baik, menolong fakir miskin, pendiri rumah yatim-piatu, penjelajah alam, pengarung samudra, dan lain sebagainya yang tak terhitung banyak jumlah dan ragamnya. Dengan melola hamoraon (harta batin), hagabeon (harta lahir), seseorang dapat meraih hasangapon atau martabat hidup di Banua Tonga, dahulu menjadi: Raja, kaum bang-sawan, Datu, Ompu, dan lian sebagainya; kini Presiden, menteri, rohaniawan, ilmuwan, olahraga-wan, kepahlawanan, astronaut, dan lain sebagainya.

Tolu Sadongan Nijalahan

Hamoraon, hagabeon, dan hasangapon lalu menjadi jembatan bagi manusia untuk meraih martabat tinggi selama berdiam di Banua-Tonga. Inilah yang dinamakan Tolu Sadongan Nijalahan, disingkat TSN (Tiga Sekawan Dicari, disingkat TSD). Dengan hamoraon, orang dapat mencapai martabat  tinggi dengan mengamalkan “harta batin” bersemayan dalam hati-nurani insani. Dengan hagabeon, orang juga dapat mencapai martabat tinggi dengan memberdayakan “harta lahir” yang dikuasainya terdapat di Banua-Tonga atau dunia ini, demi kemaslahatan orang banyak. Dengan hasangapon pun orang dapat mencapai martabat tinggi lewat keturunan, seperti: putra atau putri Raja, keturunan para bangsawan, anak-anak orang dengan nama besar, keturunan gelar tersohor, dan lainnya. Hanya saja untuk yang disebut terakhir, yang bersangkutan perlu membuktikan dirinya layak untuk me-nyandang martabat yang diwarisi. Karena, bila tidak martabat disandang akan cepat tergerus  oleh waktu. Ini disebabkan kenyataan, bahwa martabat itu diraih lewat perjuangan berat yang menuntut bukti meyakinkan. Diibaratkan kredit (utang), martabat (dignity) keturunan harus dilunasi prestasi, agar memperoleh pengakuan. Dan, manakala pewaris berhasil, maka orang akan mengatakan: “ia bako amangna”, artinya: dia seperti bapaknya; atau: ia memang keturunan keluarga si Haji Polan yang tersohor itu.

Apabila dengan harta batin seseorang dapat membangun kehidupan harmonis mendatangkan damai dan kesejahteraan kepada suatu komunitas berdiam di Banua-Tonga, maka yang memprakarsainya  akan memperoleh martabat tinggi dalam komunitasnya. Demikian juga, apabila harta lahir yang dikuasai seseorang diberdayakan untuk kemaslahatan orang banyak dengan mudah berbagi kepada sesama, untuk mengatasi penderitaan umat pasca bencana alam yang timbul di suatu kawasan, ma-ka si dermawan akan memperoleh martabat tinggi lewat kemurahan hati dalam komunitasnya. Akan tetapi untuk kaum bangsawan dan yang setara, yang mewarisi martabat dari keturunan, perlu mem-buktikan kemampuannya agar diterima masyarakat. Itulah sebabnya mengapa seorang pangeran, atau putri kerajaan dimasa silam, harus memperlhatkan kecakapan menegakkan keadilan guna me-nunjukkan kepada masyarakat kelayakan martabat yang tengah disandang.

Selain martabat “bersifat positif” diutarakan diatas, di Banua Tonga atau dunia ini, terdapat juga martabat yang “bersifat negatif” dan mengantarkan seseorang terjerembab kelembah hina dina hi-dup di Banua-Tonga, apabila: hamoraon dimiliki, hagabeon dikuasai, dan hasangapon disandang ti-dah dipersembahkan untuk kemaslahatan orang banyak dari komunitas tempat berdiam.

Seperti telah dikemukakan sebelumnya, badan atau tubuh yang dimiliki seseorang dalam bahasa Batak dinamakan: pamatang. Dan akhir ini, lebih dari 70% berat badan hanyalah air, terdapat pada segala yang bernyawa, pinjaman dari Banua-Tonga. Demikian pula: hamoraon dan hagabeon yang menyusul kemudian. Segala yang bernyawa asal dari Banua Ginjang, setelah menjalani hidup di Banua-Tonga, meneruskan perjalanan ke Banua-Toru, setelah Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) meninggalkan badan. Tubuh manusia (ma-teri) yang berasal dari Banua-Tonga, lalu kembali ke asalnya tidak terkecuali: hamoraon dimiliki dan hagabeon dikuasai. Adapun hasangapon akan terus mendampingi Tondi (Batak), Hati-sanu-bari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) seseorang. Hanya hasangapon yang setia menemani Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) meneruskan perjalanan menghadap Debata (Sang Pencipta) berdiam Banua Ginjang, dan hasangapon seseorang juga yang akan tinggal di Banua-Tonga, atau Alam Fana, atau dunia ini untuk menyapa semua orang.

Dengan demikian Tolu Sadongan Nijalahan (TSN) atau Tiga Sekawan Dicari (TSD), menjelma menjadi pengamalan hidup suku-bangsa Batak bermukim di Banua-Tonga dalam pandangan Ompu Simulajadi berangkat dari falsafah TBS yang sangat perlu diperhatian. Dengan TSN/TSD diharap-kan hati-nurani insani mendapat pencerahan dari Debata, mulai perorangan (individu), keluarga, suku-bangsa, dan bangsa Batak, agar selalu bergiat mencari celah dalam belantara hidup di Banua-Tonga, menyongsong datangnya terang sinar matahari yang menembus kelam hati-nurani, menun-jukkan lembar pilihan hidup yang benar-benar sejalan dengan bakat dan kemampuan dimiliki ber-mukim di Banua-Tonga.

Tarombo

Suku-bangsa Batak terdapat di Sumatera Utara, tepatnya di Tanah Batak yang luas, juga dikenal de-ngan “Tapian Na Uli”, disingkat Tapanuli. Dari sekian banyak suku-bangsa Batak berdiam di wila-yah tersebut, terdapat sejumlah puak masing-masing memiliki keragaman: budaya, kebiasaan, adat-istiadat, dan dialek suku-bangsa Batak berbeda. Selain memiliki bahasa lisan yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari dalam masyarakat, suku-bangsa Batak juga mempunyai “bahasa tulis” dengan aksara Batak yang dinamakan: “surat Batak” (tulisan Batak). Dengan aksara Batak, bera-gam catatan (dokumen) telah diwariskan leluhur Batak kepada keturunan yang datang kemudian.  Salah satu catatan penting yang biasa diwariskan untuk generasi penerus dalam masyarakat Batak ialah apa yang disebut di Bonabulu silam:“tarombo” (silsilah keluarga). Melalui sebuah tarombo suku-bangsa Batak dapat mengetahui Huta (Kampung) asal mereka di Tapanuli silam, termasuk  kerabat semarga bernama: “kahanggi” hingga “keluarga besar” disebut: Dalihan Na Tolu (DNT). “Kahanggi” dan “keluarga besar” adalah dua bentuk “tubuh masyarakat” (social bodies) yang me-ngikat erat: “perorangan” (individu)  kedalam “kelompok hidup”, dalam masyarakat suku-bangsa Batak lahir di Bonabulu silam lalu menyebar ke perantauan.

Tarombo berawal dari ingatan bersemayam dalam kenangan orang Batak yang kemudian beralih ke ranah tulis. Susunan dimulai dari: 1. Kahanggi, yakni mereka yang bermarga sama, diawali lelu-hur pemersatu hingga kepada generasi yang ada sekarang. Selanjutnya: 2. Anakboru, ialah himpu-nan berbagai marga yang mempersunting anak-gadis kahanggi dibawa ke kampung mereka untuk menambah bilangan. Akhirnya: 3. Mora, ialah kumpulan bermacam marga yang mendatangkan ibu pada kahanggi di kampung yang akhir ini untuk menambah bilangan. Gabungan: 1. Kahanggi, 2. Anakboru, dan 3. Mora, lalu membentuk apa yang dalam masyarakat dinamakan “keluarga besar”, bernama: Dalihan Na Tolu (DNT). Ketiganya mengingatkan kepada pandangan Ompu Simulajadi yang mengatakan: kalau Alam Semesta itu “Tiga sekawan” adanya, maka hidup bermasyarakat di Banua-Tonga juga perlu benirukan “ber-Dalihan Na Tolu” untuk memperoleh kebaikan. Perlu dicatat, dalam SMB “laki-laki” menjadi pemimpin dalam lingkungan kahanggi, tetapi “perempuan” menjadi jembatan dengan marga lain lewat perkawinan, yang akan dipantau saudara laki-laki marga perempuan. Dengan demikian manakala timbul perselisihan diantara laki-laki dan perempuan da-lam sebuah rumah tangga, maka saudara laki-laki dari fihak perempuan selaku “mora” dapat mene-ngahi “perbedaan pendapat” sejalan Adat Batak untuk menyelesaikan perkara.

Kahanggi, Anakboru, dan Mora, lalu memainkan peran penting dalam setiap perhelatan Adat Batak, baik siriaon (kegembiraan) maupun siluluton (kesedihan) mulai dari Bonabulu hingga perantauan. Dalam tarombo akan segera tampak mereka yang segenerasi, mereka yang berlainan generasi, baik pada tingkat orang tua, maupun kakek, dan lainnya. Lalu tegur sapa (tutur) apa yang harus diguna-kan menyapa yang masih segenerasi, mereka yang lain generasi, dan bagaimana menghindarkan timbulnya rompak (kesalahan) tutur, dan lain sebagainya.

Mudah difahami, dalam masyarakat Batak yang sederhana silam, teknologi belum lagi berkembang,  belum lagi ada peluang untuk memeriksa kebenaran pandangan Ompu Simulajadi yang bersema-yam dalam fikiran orang-orang Batak berdiam di Bonabulu, terhadap Alam Semesta sebenarnya terdapat di luar sana. Sebelum datangnya abad pertengahan di Eropa, orang-orang diseantero jagad masih menganut pandangan Ptolomaëus yang mengatakan bahwa bumi ini adalah pusat dari segala peredaran benda langit yang ada di Alam Semesta termasuk matahari. Cara pandang Alam Raya ini dinamakan: ajaran geosentris. Sri Paus, pemegang Tahta Suci di Vatican, Roma, Italia, kala itu, ju-ga menganut geosentris karena tidak menyalahi ajaran Kitab Suci, lalu menjadikannya pegangan hidup umat Katholik di seluruh penjuru dunia.

Akan tetapi dengan kedatangan abad pertengahan, Koppernigt (Copernicus 1473-1543) seorang ilmuwan dan astronom berkebangsaan Polandia membantah, dan mengatakan bahwa mataharilah yang menjadi pusat peredaran segala macam benda-langit. Bantahan ini melahirkan cara pandang Alam Semesta baru, dinamakan: ajaran heliosentris. Galileo Galilei (1564-1642), seorang cende-kiawan dan astronom dari Italia membuktikan kebenaran Koppernigt dengan teleskop bikinannya sendiri. Namun malang, Galileo Galilei dinyatakan bersalah dengan kelancangan membenarkan aja-ran heliosentris, sehingga terpaksa menjalani tahanan rumah hingga akhir hayatnya. Baru pada bu-lan Mei tahun 1994, 600 tahun kemudian, hukuman itu dicabut oleh Paus Yohannes Paulus II, se-telah terlebih dahulu meminta maaf didepan umum atas kekeliruan rekan pendahulunya, yang saat itu menduduki Tahta Suci di Vatican.

Memasuki penggal kedua abad ke-20 ilmu pengetahuan dan teknologi maju pesat menyebabkan Niels Armstrong, warga Amerika Serikat menjadi manusia pertama yang menjejakkan kaki di per-mukaan bulan. Bermacam satelit cerdas melanglang buana menjelajahi angkasa hingga melewati batas tatasurya; dan orang-orang Batak pun lalu menyadari, bahwa ajaran Ompu Simulajadi tentang Alam Semesta terbukti tidak sesuai kenyataan. Banua-Ginjang bernama Surga ternyata tidak ada di atas sana. Banua-Tonga dimana manusia, hewan, dan bermacam tanaman tumbuh hanyalah muka bumi bulat seperti bola. Adapun yang dinamakan Banua-Toru tidak lain dari isi bumi yang bulat ba-gaikan bola.

Lalu timbul pandangan dualisme terhadap Alam Semesta dalam masyarakat Batak: sebuah berasal dari pandangan Ompu Simulajadi berseayam dalam fikiran orang-orang Batak yang percaya, dan yang lain kebenaran Alam Semesta terdapat diluar sana. Usai penggal kedua abad ke-20, dunia pun memasuki milenium ke-tiga, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan cepat me-ngalihkan perhatian umat dari permukaan bumi ke angkasa. Dalam ruang antar planit yang hampa, gaya tarik bumi tidak lagi menjadi patokan, mana yang dinamakan atas atau bawah tidak lagi menjadi persoalan, ternyata ajaran Ompu Simulajadi memperlihatkan “pemahaman  baru”.

Dengan meletakkan Alam Benda, dimana: manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan lain sebagainya di tengah sebagai Alam Kedua, maka menurut pemahaman baru, harus terdapat Alam Pertama dari mana segala yang ada berasal. Kemudian usai menjalani kehidupan  Alam Kedua, maka perlu ada lagi Alam Ketiga, kemana semuanya akan menuju. Adapun ajaran Alam Semesta dari Ompu Simu-lajadi yang mengatakan, terdapat: Banua-Ginjang di Atas, Banua-Tonga di Tengah, dan Banua-Toru di Bawah, timbul dalam dari pemikiran suku-bangsa Batak ketika itu ialah karena adanya “medan gravitasi” di permukaan bumi yang menguasai segalanya. Dengan kehadiran medan gra-vitasi orang lalu mengenal arah yang dinamakan: atas dan bawah. Dan dari yang akhir ini lalu mun-cul berbagai macam arah lainnya.

Muncul dengan demikian Tolu Banua Sadongan  (TBS) pemahaman baru, masih tetap seperti yang  lama, tetapi berganti nama menjadi: Alam pertama, Alam Kedua, dan Alam Ketiga. Juga masih tetap kue talam yang berlapis tiga warna: putih, merah, hitam. Ketiganya tidak perlu lagi tergolek di atas talam yang sangat luas, akan tetapi mengambang bebas di angkasa bebas dari segala medan gravitasi. Adapun dalam “pemahaman lama”, ialah yang dikemukakan oleh Ompu Simulajadi, se-belumnya yakni: Banua-Ginjang, Banua-Tonga, dan Banua-Toru yang masih berada dalam medan gravitasi bumi.

Apabila Alam Kedua dikatakan sebagai Banua Na Marpamatang (Alam Yang Berbadan) bersifat kebendaan (material), maka Alam Pertama dan Alam Ketiga seyogyanyalah berupa Banua Naso Marpamatang (Alam Yang Tidak-Berbadan) alias Alam Transenden (Transcendant), karena sama-sekali bersifat bukan benda (immaterial). Lantas bagaimanakah perwujudannya? Belum lagi dapat diketahui orang hingga kini! Lalu mungkinkah Alam Pertama dan Alam Ketiga sama? Tentu saja mungkin, akan tetapi keduanya boleh juga tidak sama. Dua Alam dapat dikatakan sama, apabila dapat dibuktikan bahwa keduanya sama, sebaliknya dua Alam dikatakan bebeda, kalau keduanya dapat dibuktikan tidak sama. Peluang Alam Pertama dan Alam Ketiga sama, atau tidak sama, jelas sama banyaknya, karena itu tidak satupun yang dapat mengalahkan yang lain.

Hanya hasangapon (martabat) saja dipercaya orang Batak akan setia menemani Tondi (Batak), Ha-ti-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) dalam perjalanan yang a-badi. Apabila Alam Pertama sama dengan Alam Ketiga dan transenden, maka Tondi (Batak), Hati-sa-nubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman), maka yang demikian ibarat Tondi baru saja meninggalkan Alam Kedua, lalu kembali lagi ke Alam yang sama. Ini mengingat-kan kepada reinkarnasi kehidupan dunia. Manakala kedua Alam transenden ini berbeda satu sama lain, tondi akan berjalan dalam lintasan garis lurus. Perjalanan demikian mengukuhkan kembali a-kan pandanga TBS, sekaligus memperkenalkan pemahaman yang baru dari pandangan Ompu Simu-lajadi yang mengatakan, bahwa Alam Semesta ini tersusun dari tiga Banua sebagaimana yang sudah diterangkan diatas.

Mungkin saja Ompu Simulajadi leluhur suku-bangsa Batak pertama ada, telah sejak awal memiliki pandangan kedua, dimana kue talam besar lapis tiga warna sekawan: putih, merah, hitam, benar-benar mengambang di angkasa; bukan sebagaimana kue talam besar lapis tiga warna-warni tergolek di atas talam amat luas, karena memang dari sejak dahulu suku-bangsa Batak juga mengetahui akan adanya bermacams Alam termasuk transenden terdapat di luar Alam kebendaan bersifat material. Akan tetapi, karena kebanyakan masyarakat suku-bangsa Batak belum dapat mencernanya, maka disampaikanlah gagasan kue talam besar lapis tiga sekawan warna tergolek di atas talam yang amat luas. Benarkah sangkaan demikian, wallahualam bissawab, tak ada seorang pun mengetahui!

Keluarga

Suku-bangsa Batak menamakan masyarakat terkecil berdiam di Banua-Tonga dengan kata: suhut. Suhut artinya keluarga batih (nuclear family) terdiri dari berbagai unsur: Amang (Ayah), Inang (I-bu) dan Pomparan (Keturunan), disingkat AIP. Dan yang disebut akhir ini cerminan dari TBS pan-dangan Ompu Simulajadi silam. Dalam masyarakat, dibedakan orang Batak “istilah” yang digunakan untuk menyebut turunan laki-laki dari turunan perempuan. Hanya kepada keturunan laki-laki saja kata “anak” digunakan, sedangkan kepada keturunan perempuan digunakan kata “boru”. Dengan demikian keluarga dalam masyarakat Batak dikatakan sempurna di Bonabulu, apabila seseorang telah mempunyai anak laki-laki dan anak perempuan, sehingga dalam sebuah keluarga lengkap akan terdapat: Amang, Inang, Anak, dan Boru, disingkat AIAB. Itulah sebabnya mengapa kepada mereka yang melangsungkan pernikahan menurut adat Batak, salah sebuah pesan penting yang disampaikan pada kedua mempelai agar: “maranak marboru hamu”; artinya: mempunyai ketu-runan anak laki-laki dan keturunan anak perempuan. Dengan demikian suhut atau keluarga batih dalam masyarakat Batak dinyatakan dengan AIP sejalan dengan TSB, dan manakala dijabarkan akan menjadi AIAB.

Manusia

Suku-bangsa Batak memandang jolma (manusia) yang hidup di Banua-Tonga, perwujudan lain dari   Banua Tolu Sadongan (BTS) pandangan Ompu Simulajadi. BTS lalu menjelma menjadi ”Tri Logi Batak” (TLB), yakni istilah populer pandangan Ompu Simulajadi. Itulah sebabnya manusia ber-diam di Banua-Tonga dinyatakan tidak lain dari apa yang kenal dengan: “Tolu Na Marsada” atau “Tiga Yang Menyatu”, artinya terdapat tiga bagian yang menyatu menjadikan manusia). Apakah yang dimaksud dengan ketiga bagian tersebut, tidak lain dari: Tondi, Roha, dan Pamatang. Tanpa tondi, insan akan hilang kemanusiaan terdapat dalam dirinya: semangat, emosi, kharisma, motivasi, kemauan, hidup di Banua-Tonga; tanpa roha orang akan hilang akal-budinya: bisuk (bijak), cerdas, ingatan (memory), ilham (intuisi); dan tanpa badan (pamatang) manusia akan hilang keberadaan diri di Banua-Tonga, alias meninggal dunia. Perlu diketahui, pamatang atau jasmani tidak lain dari “tandatangan manusia” di atas ketas lembar kehidupan di Banua-Tonga, yakni muka bumi ini.

Dalam pelbagai acara maupun upacara adat Batak, baik berupa siriaon (gembira) maupun siluluton (kesedihan), manusia diperlihatkan sebagai “pira manuk na ni hobolan” (telur ayam yang telah dikebalkan), dan disebut terakhir ini tidak lain dari telur ayam yang direbus. Manakala dibaca dari luar kedalam, akan mengungkapkan pengertian sebagai berikut: kulit telur: Pakaian, putih telur: Pa-matang, lapisan diantara putih dan kuning telur: Roha, dan kuning telur itu: Tondi (Batak), Hati-sanu-bari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman).

Jiwa

Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman), (ruh/ jiwa/kharisma) berada di Alam bukan-benda (Banua Naso-Marpamatang), menurut kepercayaan suku-bangsa Batak dapat bepergian meninggalkan pamatang (jasmani) saat orang sedang tidur, atau  sakit, atau keadaan tidak normal lainnya. Tondi adalah “Badan Halus” (Superbeing) yang terdapat dalam setiap kehidupan, apapun bentuknya. Tondi (Batak), Hati-sanu-bari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) membedakan seorang insan dari yang lain, diperlihatkan: semangat, emosi, kharisma, dan ditampilkan keluar lewat “bahasa badan” (body language). Diibaratkan mobil sedang melaju diatas jalan raya, apabila dikemudikan oleh orang berbrda, akan memperlihatkan prilaku gerakan kendaraan yang berbeda pula. Lewat analogi yang sama, manakala jasmani seseorang dihuni oleh Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) bukan miliknya dari sejak lahir, disebabkan penyakit misalnya, akan memperlihatkan prilaku atau kelakuan keluar bukan aslinya. Walau bermacam pengetahuan tentang tondi telah terkuak kepada manusia dari pengalaman hidup dan pergaulan sehari-hari sampai  dengan penyelidikan ilmu pengetahuan di Banua-Tonga, akan tetapi alam bukan-benda pertama yang terdapat dalam diri insan ini terus menyimpan teka-teki yang masih sedikit sekali terungkap kepada manusia.

Akal

Roha (akal) juga terdapat di alam bukan-benda. Inilah yang dinamakan kecerdasan sebenarnya (the true intelligence) lawan dari kecerdasan buatan (the artificial intelligence) yang sekarang giat di-kembangkan orang untuk mengendaliakn bermacam peralatan cerdas bikinan manusia, antara lain: teknology bedah jarak jauh, aneka ragam robot, peluru kendali, bermacam roket, hingga dengan sa-telit. Ini pula yang diungkapkan Sokrates (470-399 SM), pemikir Yunani dari Athena pada zaman praklassik, yang temuannya tentang hal ini disampaikan dalam bahasa Jerman pada dunia oleh seorang filosof bernama: Windelband (1848-1915): “Die immateriele Welt ist endeckt, und das Au-ge des Geistes hat sich nach innen aufgeschlagen”; seorang penganut aliran idealisme subjektif bangsa Jerman. Dalam bahasa Batak: “Banua naso-marpamatang tarungkap madung, mata ni roha manaili ma tu bagasan”; dan oleh Dr. Mohammad Hatta diindonesiakan menjadi: “Alam tidak bertubuh diketahuilah sudah, dan mata fikiran pun memandanglah kedalam”.

Sebagaimana: komputer, telepon genggam (gadget), tablet (electronic reader), dan bermacam pe-rangkat pintar yang lain, adalah benda yang merupakan perpaduan antara “perangkat-keras” (hard-ware) dengan “perangkat-lunak” (software) untuk mampu melakukan bermacam pekerjaan. Roha pada mnusia dapat dinamakan: “perangkat lunak insani”, disingkat perlunsani (human software, di-singkat: human-ware). Perinsani bertindak menjembatan Tondi dengan Pamatang, sehingga yang disebut terakhir dapat melakukan berbagai macam pekerjaan yang diimginkan oleh Tondi, berang-kat dari: kemampuan, keterampilan, keahlian, kecakapan, dan lain sebagainya yang telah diajarkan dan dilatihkan pada seseorang. Kegiatan pemrograman Roha sesungguhnya telah dimulai oleh ma-nusia sejak masih berada dalam kandungan, dilanjutkan setelah lahir lewat: pendidikan, pelatihan, perjalanan jabatan, pengalaman hidup, dan lainnya serta berlangsung tanpa henti selama hayat ma-sih dikandung badan, berangkat dari pandangan hidup yang dimiliki oleh orang yang bersangkutan.

Roha (Alam bukan-benda) yang terdapat dalam diri manusia inilah yang oleh segelintir negara si-lam: Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur; itu pun digeluti jumlah kecil warganya (sumber daya manusia) lewat kegiatan akademik berjenjang mulai rendah hingga tinggi, menjadikan berbagai ne-gara tersebut dengan cepat menjadi terkemuka di dunia, setelah menerima buah fikiran Yunani  yang diantarkan bangsa Arab kedaratan Eropa dalam Abad Pertengahan silam.

Diawali penghujung abad ke-19, lalu sepanjang abad ke-20, dilanjutkan kini abad ke-21, berbagai negara di Eropa: Inggris, Perancis, Jerman dan sekitarnya; kemudian Amerika Utara: Amerika Seri-kat; lalu Asia Timur: Jepang; menjadi sadar akan apa yang dikatakan Sokrates tentang keperkasaan “Banua Naso-Marpamatang” bersemayam dalam diri “Sumber Daya Manusia” bernama Roha dari bangsa mereka masing-masing, lalu dengan cepat mengembangkan: pendidikan, pelatihan, industri, laboratorium, penelitian, mencari sumber daya alam, dan lain sebagainya dalam sistim ekonomi Laissez-faire (perdagangan bebas). Sehingga dalam rentang waktu kurang dari 150 tahun, berhasil segelintir negara ini lalu mengubah peradaban umat di muka bumi: dari yang serba berjalan kaki dan menunggang ternak (kuda, lembu, dan lainnya) dimana-mana di seluruh dunia, menjadi pera-daban dengan kendaraan bermotor: mobil, kereta api, kapal laut, pesawatterbang, hingga menjelajah antariksa.

Penyampaian berita semula dilakukan orang dengan bertemu fisik: dari mulut ke mulut, beragam tetabuhan, surat, mengutus orang dan burung;  lalu diubah menjadi gelombang elektromagnetik: radio, telepon, televisi, ponsel, internet. Bekerja awalnya dilakukan orang di kantor, pabrik, lapa-ngan terbuka, dan lainnya, dengan: Information and Communication Technology (ICT), atau Tek-nologi Komunikasi dan Informatika (TKI), lalu diubah menjadi bekerja dimana saja orang mau me-lakukannya di muka bumi ini. Masih banyak lagi kemajuan lain yang tidak mungkin dikemukakan kini satu persatu, yang akan segera datang menuju ke yang semakin memudahkan oranng hidup di Banua-Tonga atau muka bumi ini nanti.

Segelintir negara dikemukakan diatas menjadi teladan umat, membuat lainnya: dari Utara ke Sela-tan, dan dari Barat ke Timur, termasuk Timur Tengah, Asia Tenggara, dan belahan bumi lain yang masih tertinggal, bergegas mengembangkan “Roha=Perlunsani” Sumber Daya Manusia masing-masing bangsa menyimak apa yang telah dikatakan oleh Sokrates. Mereka melakukan pemberanta-san buta huruf, mengembangan pendidikan berjenjang beragam ilmu dan keterampilan guna me-ngejar ketertinggalan dari segelintir negara yang telah mengemuka disebutkan diatas.

Kendati Roha telah banyak terungkap oleh para ahli bermacam negara maju lewat ilmu penge-tahuan dan teknologi, laboratoriun, tidak terkecuali industri, tambang, archeologi, penelitian anta-riksa, dan lainnya, serta terekam kedalam tidak terbilang banyak buku, jurnal, dan lainnya; baik media tradisional, elektronik, maupun digital; namun alam bukan-benda kedua terdapat dalam diri manusia bernama “Roha” masih menyimpan banyak rahasia yang belum lagi dapat diketahui orang sampai saat ini.

Pamatang

Pamatang (tubuh, badan, jasmani), adalah bukti keberadaan manusia di Banua-Tonga atau muka bumi atau Alam Fana. Jasmani juga dapat disebut “cap jempol” seseorang di atas lembar kertas ke-hidupan di muka bumi ini. Dengan badan, si A, si B, si C dan seterusnya dapat dikenali dan dibe-dakan satu dari lainnya; mereka pun dapat saling berkenalan, bergaul dan berbincang untuk bertu-kar fikiran. Jasmani bersama gerakannya memungkinkan orang dapat dibaca: isi hati, sikap, budi pekerti, dan perangainya oleh orang berpengetahuan.

Temuan Human Genome Project, atau Proyek Gen Manusia, yang dipimpin Craig Venter dari Amerika Serikat, salah satu segelintir negara terkemuka dunia, pada tanggal 11 Febrruari 2001 ber-hasil mengungkapkan, terdapat 30.000 gen dalam setiap tubuh manusia yang bertanggungjawab ter-hadap kehidupan insan, dan senantiasa membuka dan menutup dalam melakukan tugasnya sepanjang jalannya waktu. Dan hanya gen-gen yang membuka saja bertanggungjawab mengendali-kan semua sel terdapat dalam tubuh manusia bilangannya diperkirakan berjumlah 3.000.000.000. sel.

Tubuh manusia yang terdapat di Banua-Tonga, demikian juga hewan dan tumbuhan, tersusun dari beragam sistim kehidupan rumit (biologi), seperti: peredaran darah, pencernaan, pernafasan, peng-indraan, syaraf, dan banyak lainnya. Selain dari itu, keseluruhan sistim dikendalikan puluhan ribu gen terbuka pada manusia, harus juga bekerjasama dalam orkestra harmonis menjadikan tubuh yang sehat tempat  tondi dan roha berdiam. Kegagalan badan atau jasmani menjadi sehat oleh berbagai alasan, antara lain: penyakit, kecelakaan, hingga dengan uzur, akan menyebabkan tondi dalam per-jalanan waktu meninggalkan badan di Alam Kedua (Alam Benda) dan melanjutkan perjalanan ke Alam Ketiga.

Meski jasmani telah banyak dipelajari para ahli terutama bidang kedoktern di berbagai negara yang telah maju ilmu pengetahuan dan teknologinya, namum bagian TLB yang paling banyak dan  sering dikaji di muka bumi, menjadi bukti keberadaan manusia di Banua-Tonga atau Alam Kedua ini  masih menyimpan rahasia yang belum dapat diungkapkan semuanya, apakah tubuh manusia itu sebenarnya?

Kedatangan Insan

Saat Tondi Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jer-man) tiba di perbatasan Alam Pertama (bukan-benda) dengan Alam Kedua (benda), dalam lang-langbuana Tondi sejalan “pemahaman baru”, tepatnya setelah di turun dari Banua-Ginjang dalam menghampiri Banua-Tonga dalam “pemahaman lama”, ia perlu terlebih dahulu menjemput benda (materi) guna menyatakan keberadaan di Alam Kadua atau Banua-Tonga. Materi adalah sesuatu yang terdapat di Alam Kedua dan tunduk kepada hukum Alam atau fisika, karena memiliki berat (massa) dan menempati ruang.

Segala sesuatu yang ada, tetapi tidak memiliki massa dan tidak pula menempati ruang, pasti bukan-benda (immaterial) dan akan terdapat di Alam Pertama, dan/atau Alam Ketiga. Perpaduan Tondi, Roha, dan Pamatang dalam Adat Batak diperlihatkan dengan pertolongan “pira manuk na ni ho-bolan”. Tondi kuning telur terdapat di tengah, Pamatang putih telur yang mengitari. Sedangkan Ro-ha  selaput yang terselip memisahkan kuning  dari putih telur.

Pertemuan “Tondi” dengan “Pamatang”, setelah yang pertama tiba dari Banua Ginjang berada di-perbatasan Banua-Tonga, atau turun dari “Alam Pertama” dan tiba diperbatasan “Alam Kedua”; pada manusia diawali dari konsepsi (conception) ketika sepasang insan, yakni: seorang laki-laki dengan seorang perempuan berhubungan badan. Konsepsi tidak lain dari Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) yang turun dari Banua Gin-jang, atau Alam Pertama, yang menjemput badan (materi) dari Banua-Tonga, atau Alam Kedua, untuk menciptakan benih manusia yang aktif melakukan pembelahan sel. Pembelahan sel  berlang-sung berkesinambungan menciptakan janian, dan yang akhir dapat berkegiatan terus-menerus ka-rena mendapat pemasukan bahan (materi) dari ibu yang mengandung di Banua-Tonga atau Alam Kedua, hingga pada saatnya lahir ke dunia sebagai bayi.

Setelah lahir, bayi melanjutkan kegiatan menghimpun bahan (materi), kini diluar kandungan de-ngan menyusu kepada ibu, juga makanan dan minuman yang diberikan langsung oleh orang tua, ba-ik untuk menambah berat dan menambah tinggi badan. Dengan memelihara kesehatan selama per-tumbuhan, maka bayi akan  menjadi: anak, akil balig, remaja, dan memasuki usia dewasa.

Memasuki usia dewasa, kegiatan menghimpun bahan (materi) berlanjut terus, tetapi  bukan lagi dari pemberian orang tua, melainkan dari usaha mencari nafkah. Pada usia dewasa materi dihimpun melalui kegiatan: makan, minum, bernafas, dan bergerak kebanyakan digunakan untuk metabolisme (pertukaran zat) tubuh berlangsung cara kimia, seperti: perbaikan jaringan tubuh, menyediakan te-naga (energi), pertukaran zat, dan lainnya, untuk memelihara jasmani agar tetap sehat sampai ke batas usia.

Sementara pada hewan, ada yang mengikuti cara manusia, tetapi tidak sedikit yang menyiapkan pinjaman materi bagi generasi dengan telur, dan kehidupan dipicu panas pengeraman. Pada tana-man telur diganti benih (bibit) dan kehidupan dipicu lembab (air) suhu lingkungan.

Menurut ahli kesehatan, pertukaan zat berlangsung tidak berkeputusan dalam tubuh manusia selama hayat membuat yang disebut terakhir, atau bukti kehadiran manusia di muka bumi, berganti selu-ruhnya, mulai kulit yang terdapat di permukaan hingga bagian tubuh terdalam, sekitar tujuh tahun tahun sekali. Itulah sebabnya mengapa bayi lahir ke dunia menjadi besar dengan kegiatan: makan, minum, bernafas, dan bergerak; bertambah beratnya, berubah wajahnya, berganti bentuknya, ber-tambah pengetahunnya, dan lain sebagainya sampai dewasa. Seorang anak usia diatas 7 tahun de-ngan demikian tidak akan lagi menyimpan benda (materi) yang diperoleh dari kedua orang tua saat konsepsi. Kini seluruh benda (materi) yang ada dalam tubuh si anak semata perolehan kegiatan makan dan minum pemberian orang tua saja. Kedua orang tua anak ini, menurut ahli kesehatan tadi, juga telah beralih dari sepasang manusia yang pernah meminjamkan benda (materi) kepada si anak, menjadi hanya pewaris dari pasangan orang tua yang pernah memin-jamkan benda (materi) kepada anak waktu yang silam. Hubungan pasangan orang tua dengan anak yang kini tersisa hanya penje-lasan sejarah saja.

Metabolisme tubuh yang didukung kegiatan: makan, minum, bernafas, dan bergerak membuat se-tiap manusia menukar tubuh (jasmani) secara berkala, menyebabkan “semua orang sama” dimana-mana di seluruh dunia ini, terkecuali yang diatur gen sebagainana yang diungkapkan Proyek Gen Manusia, seperti: bangun tubuh, warna kulit, bentuk wajah, dan berbagai hal yang bersifat khusus lainnya, meskipun hal-hal yang disebutkan belakanganr tidak banyak pengaruhnya dalam hidup sehari-hari insan, selain untuk pengenal diri atau identitas. Karena itu benarlah apa yang dikatakan orang tua-tua di Bona Bulu silam, agar anak yang sudah dewasa diperlakukan sebagai “dongan” (te-man), bukan lagi “anak” sebagaimana sebelumnya. Ini disebabkan anak yang sudah menjadi de-wasa telah sempurna “metamorphosa badannya” menjadi orang lain lewat pergantian jasmani ber-langsung berkali-kali sebagaimana yang telah dijelaskan ahli kesehatan diatas.

Orang yang telah mencapai umur 63 tahun setidaknya telah berganti tubuhnya 9 kali lewat pertu-karan zat yang berjalan 7 tahun sekali. Pelaku kejahatan menjalani hukuman penjara lebih dari 7 tahun dengan demikian telah digantikan oleh serang pewaris bukan lagi pelaku kejahatan, karena tubuh yang terdapat padanya tidak pernah telibat kedalam kejahatan dituduhkan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Pelaku kejahatan tercantum dalam BAP sebetulnya telah meninggalkan penja-ra lewat metabolisme tubuh yang tidak diketahui sipir penjara yang mengawasinya.

Tampak disini hukum alam yang bermain di dunia renik (mikro kosmos) yang tidak harus sejalan dengan keputusan hakim (penegak hukum). Sebaliknya hidup insan di Banua-Tonga sangat ter-gantung kepada aturan biologi memanfaatkan beragam molekul yang menjadikan sel-sel tubuh mnusia. Molekul-molekul ini masih lagi tergantung dari bermacam atom yang menyusunnya. Selain dari itu, tidak dapat dipungkiri peran medan gravitasi dunia renik (gaya tarik-mearik antar atom dan gaya antar molekul) yang membentuk benda, termasuk yang menjadikan tubuh mahluk hidup. Tan-pa kepatuhan dan kesetiaan medan gravitasi dunia renik menunaikan tugas yang diemban masing-masing, maka insan bernama manusia terbentuk lebih dari 70% air dan sedikit tanah (Carbon, Kal-sium, dan sedikit lainnya) ini, tidak lebih dari onggokan atom tak-bernyawa berserakan dalam ru-ang yang tidak ada gunanya.

Akhirnya, masih terdapat medan gravitasi bumi yang membuat manusia dapat menjejakkan kaki di muka bumi atau berbagai benda-langit lain. Kegagalan medan gravitasi akhir ini melaksanakan tu-gas, berakibat semua benda yang ada di muka bumi akan melayang berserakan di angkasa, juga ti-dak trekecuali mahluk yang bernama manusia.

Orang-orang yang telah meninggal, sesungguhnya telah mengembalikan tubuh mereka berulang ka-li sedikit demi sedikit kembali ke Banua-Tonga atau Alam Kedua, lewat pertukaran zat atau me-tabolisme tubuh, akan tetapi yang dikembalikan belakangan ialah yang dimilikinya 7 tahun tera-khir. Tubuh manusia kata orang kebanyakan terdiri dari daging dan tulang, akan tetapi ilmu penge-tahuan membuktikan jasmani ini tidak lain dari tempayan atau kendi yang penuhi air. Hal ini dise-babkan lebih dari 70% berat badan manusia hanyalah air, dan kurang dari 30% yang berupa  unsur-unsur kimia, seperti: karbon (C), kalsium (Ca), kalium (K), besi (Fe), fosfor (P) dan lainnya tidak terkecuali unsur langka bumi (rare earth), sebagaimana terlihat dalam tabel unsur-unsur kimia yang pertama kali diungkapkan oleh Dmitri Ivanovich Mendeleev (1834-1907). Kembali tampak disini, dari apa yang membentuk tubuh manusia, ternyata “semua orang sama” dimana-mana di seluruh dunia ini, tidak lain dari benda (materi) pinjaman dari Banua-Tonga. Perbedaan orang gemuk dari yang kurus lebih disebabkan perbedaan banyak air yang ada pada orang gemuk ketimbang beragam unsur kimia lainnya.

Orang meninggal dunia sesungguhnya manusia yang telah berada di perbatasan antara Banua-Tonga dengan Banua-Toru, atau antara Alam Kedua dengan Alam Ketiga, dalam perjalanan hidup-nya. Pada saat itu, Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) mengembalikan pamatang atau jasmani ke asalnya, yakni Banua-Tonga, atau Alam Ke-dua, karena tubuh manusia hanyalah barang pinjaman. Ini berarti segala mahluk hidup: manusia, hewan, dan tanaman, akan mengembalikan badan (jasmani) bersifat kebendaan (materi) melalui dua tahap, yakni: pengembalian sedikit demi sedikit (partial)  dan pengembalian menyeluruh atau pe-ngembalian belakangan. Banua-Tonga atau Alam Kedua telah menetapkan bahwa setiap jasmani (materi) yang dikembalikan perlu di daur ulang untuk menghindarkan “sampah biologi” (biological waste) yang akan mencemari lingkungan. Daur ulang dikerjakan bermilliar bakteri yang berdiam di tubuh masing-masing mahluk, yang sehari-harinya bertugas mengukir tubuh makhluk agar terlihat sekat dan bersih. Bakteri-bakteri lalu melepaskan gas penyengat indra penciuman yang tersebar ke udara. tujuannya untuk mengundang pendaur ulang lain segera datang guna menyelesaikan peker-jaan secepat mungkin.

Tubuh yang dikembalikan belakangan berada di perbatasan antara Banua-Tonga dengan Banua-To-ru, atau Alam Kedua dengan Alam Ketiga. Bermacam adat-istiadat dan agama yang dianut manusia di muka bumi telah mengajarkan, untuk menghindarkan pencemaran sampah biologi me-ngotori lingkungan, daur ulang dapat dilakukan lewat: pemakaman, pembakaran (kremasi), penenggela-man, dan pembiaran. Pada pemakaman, air kembali ke Banua-Tonga diserap akar tanaman, kemudian menguap ke udara, menjadi awan, menjadi hujan, akhirnya dan kembali ke laut. Beragam unsur kimia lain dikembalikan ke tanah lalu diserap tanaman, dimakan hewan, dan dikonsumsi ma-nusia. Pada pembakaran, air akan mennguap, naik ke udara menjadi awan, akhirnya kembali lagi ke laut. Bermacam unsur kimia yang ikut terbakar menjadi asap, ada yang menjadi abu lalu disimpan keluarga di rumah atau tempat perabuan. Pada penenggelaman, air kembali bergabung dengan yang lain. Bermacam unsur kimia mengendap didasar badan air, seperti: kolam, sungai, danau, laut, dan samudra, menjadi makanan tanaman dan binatang laut. Pada pembiaran, pengeringan di udara terbuka membuat air segera meguap menjadi awan, akhirnya kembali lagi ke laut. Pada yang akhir ini terdapat peran burung manakala ditempatkan di suatu ketinggian di udara terbuka; atau binatang buas bilamana diterlantarkan dalam rimba. Ada pulan yang disimpan dalam bangunan, gua, dan  lain sebagainya dalam mendaur ulang jasmani yang dikembalikan belakangan.

Banua-Tonga atau Alam Kedua telah menetapkan sampah biologi dikembalikan partial dan bela-kangan akan menjadi “rantai makanan” (food chain) pertama sangat diperlukan makhluk hidup: manusia, hewan dan tanaman. Rantai makanan pertama membebaskan tenaga diperlukan manusia, beragam hewan dan tanaman menjalani kehidupan di Banua-Tonga atau Alam Fana serentang hayat. Rantai makanan ragam ini bekerja membebaskan tenaga (energy) matahari yang terdapat dalam jasad dikembalikan lewat penguraian (decompose) kedalam beragam unsur kimia yang ter-cantum dalam tabel Mendeleev.

Adapun rantai makanan kedua ialah yang merakit kembali (recompose) bermacam unsur kimia yang telah terurai, kembali menjadi: butiran, bijian, buah, dan lain sebagainya dikerjakan tumbuhan dibantu proses photosynthesis oleh sinar matahari guna menyimpan tenaga (energy); juga oleh bermacami hewan menghasilkan: susu, daging, madu, dan lainnya. Itulah sebabnya mengapa tana-man sangat memerlukan zat makanan yang mengandung unsur-unsur kimia dari daur ulang pe-ngembalian partial dan belakangan untuk kelangsungannya. Melalui daur ulang dan kesegeraannya, pencemaran lingkungan di Banua- Tonga atau Alam Kedua oleh sampah biologi dengan demikian dapat dihindarkan.

Bagi tubuh orang sehat, Tondi dan Roha selalu menyertai Badan berada di Banua Tonga, atau Alam Kedua. Tidak ada orang yang dapat memperkirkan, berapa lama Tondi dan Roha akan menyertai jasmani pada mahluk hidup, hingga tiba batas waktu yang telah ditentukan. Ketika waktu itu tiba, Tondi akan mengembalikan badan di perbatasan Alam Kedua dan Alam Ketiga. Dan setelah berpisah dari badan, tidak ada lagi yang dapat diketahui orang tentang perjalanan Tondi selanjutnya kembali ke asalnya di Alam Pertama atau Banua-Ginjang.

Dinamika Zaman

Pada awalnya kehidupan masyarakat Batak di beragam tempat di Bonabulu silam berjalan perlahan atau alami, yang dikenal berlangsung evolusioner. Gelombang petama kedatangan agama Islam ke Nu-santara pada abad ke-13 silam, belum menyebabkan perubahan berarti dalam kehidupaan ma-syarakat di Tanah Batak. Akan tetapi dengan datangnya gelombang kedua kedatangan agama Islam dari Sumatera Barat terletak di selatan Tanah Batak lewat Perang Padri (1821-1837), benar-benar menimbulkan perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, atau berlangsung revolusioner.

Pemerintah Hindia Belanda (1833-1942) yang kemudian menggantikan kaum Paderi, melakukan perubahan ce-pat atau revolusioner di Tanah Batak memperkenalkan kerja rodi (kerja paksa) mem-buat jalan dan jembatan. Pemerintah Hindia Belanda yang kolonial, kala itu juga mengharuskan pa-ra Raja dan rakyat membayar belasting (pajak). Dengan sistim pemerintahan terpusat (sentralistis) yang perta-ma kali diperkenalkannya di seluruh Tanah Batak, para Raja dan rakyat lalu dijadikan bagian dari pemerintah Hindia Belanda seberang lautan. Para Raja di Tanah Batak diwajibkan memungut bela-ting bersasaran pendapatan ditetapkan (bertarget). Imbalan yang diberikan kepada masyarakat pada ketika itu: adanya pemerintahan, layanan masyarakat, jalan raya, jembatan, dan pendidikan bagi anak-anak pribumi.

Pemerintah Fascist Jepang (1942-1945) yang menggantikan pemerintah Hindia Belanda di Tanah Batak, juga tidak kalah kolonialnya, memberlakukan perubahan cepat di Tanah Batak, bahkan de-ngan sikap kasar dan kekejaman senjata. Jepang mengharuskan dibentuk barisan-barisan Zikedan dan Bogodan pada setiap kampung di Tanah Batak untuk menghimpun orang muda guna dijadikan “heiho” (pembantu prajurit Jepang) dan “romusha” (pekerja rodi Jepang). Mereka juga memaksa rakyat menyerahkan hasil bumi, baik yang dibayar dengan uang Jepang maupun yang tidak memperoleh bayaran samasekali. Setelah Jepang bertekuk lutut kepada Sekutu pimpinan Amerika Serikat di penghujung Perang Dunia Ke-II silam, pemimpin pergerakan NRI (Negara Republik Indonesia) di Tanah Batak lalu mengambil alih pemerintahan. Kaum pergerakan anak-negeri juga tidak luput dari melakukan perubahan cepat di Tanah Batak, dengan melakukan revolusi untuk menolak kembali datangnya Belanda menjajah Tanah-air, setelah Jepang bertekuk lutut di negeri-nya kepada Amerika Serikat, lalu menjanjikan kehidupa yang bebas dari kemiskinan dalam alam kemerdekaan.

Memasuki revolusi kemerdekaan, pemerintah NRI keresidenan Tapanuli yang beribukota Tarutung mengeluarkan ketetapan Residen Tapanuli No.: 274 tertanggal 14 Maret 1946, dan No: 1/D.P.T. tertanggal 11 Januari 1947, ditandatangani Dr. F.L. Tobing. Adapun isi ketetapan Residen Tapanuli itu ialah: Para Raja yang masih menjabat pada pemerintahan, maupun mereka yang masih beru-rusan dengan kegiatan lingkungan publik di Tanah Batak, apapun jabatan diemban, diberhentikan dengan hormat. Adapun para pejabat pemerintah pengganti yang akan menyelenggarakan pemerin-tahan selanjutnya di Tanah Batak, akan dipilih secara demokratis oleh Pemerintah Republik Indo-nesia. Dengan demikian seluruh pemerintahan yang awalnya masih berlangsung menurut adat Ba-tak setempat, masih diperkenankan oleh pemerintahan Hindia Belanda untuk tingkat Bonabu-lu/Huta silam, sejak saat bersejarah itu terpaksa harus tersingkir dari wilayah publik di Tanah Ba-tak, lalu berhijrah ke ranah seremonial perhelatan Adat Batak semata.

Gelombang perubahan cepat yang melanda Tanah Batak, dimulai: Perang Paderi, penjajahan Hin-dia Belanda, penjajahan Facist Jepang, revolusi dan perang kemerdekaan, hingga memasuki zaman kemerdekaan; telah menyebabkan masyarakat Batak mulai dari Bonabulu hingga perantauan (orang Batak diaspora) menjadi terbuka dan menerima kenyataan. Kini memasuki abad ke-21, suku-bangsa Batak harus pula menerima bermacam pengaruh lain, termasuk dampak globalisasi dunia (Interna-sionalisasi) dengan masuknya: pandangan hidup kemasyaakatan dengan aneka ragam agama, ser-buan budaya dari beragam bangsa, aneka musik populer, ilmu pengetahuan aneka ragam disiplin dan teknologi, yang mengantarkan insan sedunia memasuki peradaban millenium ketiga.

Apapun berbagai pengaruh yang telah mendera masyarakat di Tanah Batak, apapun ragam maupun bentuknya, mulai dari waktu silam hingga dengan sekarang, baik kepada masyarakat yang masih berdiam di Bona Bulu maupun yang telah berada di perantauan, kenyataan masih tetap memper-lihatkan TBS sebagaimana pandangan Ompu Simulajadi tentang segala yang ada, dan tetap saja serba-tiga kenyataannya, yakni:

Pertama. Dengan munculnya keragaman agama dianut berbagai bangsa di dunia, masyarakat Batak di Bonabulu demikian juga mereka yang telah berada di perantauan lalu menganut ajaran mono-theisme, yakni ajaran beriman kepada Tuhan Yang Esa yang tunggal, karena  banyak persamaannya dengan pandangan Ompu Simulajadi silam. Kepada mereka yang beragama Islam, ini berarti mengakui hadirnya Tuhan Yang Maha Esa, maknanya tidak ada Tuhan selain Allah. Dan ini memperlihatkan Semangat Ketuhanan; yang dalam bahasa Arab diungkapkan oleh rangkaian kata: Hablumminallah.

Kedua. Dengan timbulnya bermacam pengaruh budaya dan ilmu pengeauan dari segala penjuru dunia mempengaruhi kehidupan masyarakat Batak dari Bonabulu sampai perantauan, menyebabkan adat-istiadat warisan leluhur diperkaya, dan pengayaan datang dari lingkungan Nasional dan lingkungan Inter-nasional. Bermacam pengaruh tadi membuat suku-bangsa Batak melebarkan pan-dangan hidup: diawali dari kesukuan yang sempit di Bonabulu silam, menjadi Nasional yang lebih luas, kemudian Internasional bersifat gelobal; sekaligus menjadikan suku-bangsa Batak bagian dari masyarakat dunia. Kepada mereka yang beragama Islam ini menunjukkan Semangat Kemanusiaan; yang dalam bahasa Arab diungkapkan dengan rangkaian kata: Hablumminannas.

Ketiga. Perkebangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menciptakan kemajuan: sosial, ekonomi, dan budaya dalam masyarakat suku-bangsa Batak mulai dari Bonabulu, lalu Nasional, dan Internasional, membuat suku-bangsa Batak dari Bona Bulu hingga tanah perantauan turut me-nikmatinya. Karena itu harus ikut pula bertanggungjawab terhadap lingkungan hidup, tidak semata tingkat Bonabulu, tetapi pula Nasional dan Internasional hingga ke tepian Alam Semesta. Bukankah dalam Al-Quran ‘ul Karim tercantum surat 2:11, yang menyerukan agar: “….jangan kamu membuat kerusakan di muka bumi….”, dan diulang kembali dalam bermacam surat-surat yang kemudian me-nyusul. Kepada mereka yang beragama Islam ini memperlihatkan Semangat Memelihara Lingku-ngan Alam Semesta; yang manakala diutarakan dalam bahasa Arab akan melahirkan untaian kata: Hablumminalkaun.

Dengan demikian Trilogi: Hablumminallah, Hablumminannas, dan Hablumminalkaun, menjadi Sekawan Kesepakatan Manusia (SKM), tidak asing lagi di telinga suku-bangsa Batak beragama Islam, karena memang sejalan dengan pandangan Ompu Simulajadi silam tentang Alam Semesta, tentang adanya: Banua-Ginjang, Banua-Tonga, dan Banua-Toru mengitari kehidupan mahluk di bumi ini. Hablumminallah menjadi pertanda penyerahan diri manusia kepada Al-Khalik Sang Pencipta dalam arah vertical; lalu Hablumminannas ialah persaudaraan sesama manusia bercorak horzontal di permukaan bumi, sedangkan Hablumminalkaun menjadi tanggungjawab manusia kepada lingkungan hidup tempat keberadaan yang menampung semuanya, mulai dari dimana kaki manusia berpijak hingga ke tepian Alam Semesta.

Apapun agama dianut suku-bangsa Batak yang mengatur hubungan manusia dengan Al-Khalik yang vertikal, tidak diragukan lagi berawal dari pandangan Ompu Simulajai silam. Sedangkan hubungan antara sesama manusia yang horizontal berangkat dari adat Batak Dalihan Na Tolu di Bonabulu bersifat lokal, lalu meningkat menjadi budaya bangsa Indonesia bersifat nasional, akhir-nya meluas menjadi budaya antarbangsa atau dunia bersifat Internasional. Adapun kepedulian suku-bangsa Batak terhadap lingkungan tempat berdiam di muka bumi dimulai peradaban zaman batu corak lokal, berkembang menjadi peradaban zaman logam yang global, lalu berkembang menjadi peradaban ilmu pengetahuan dan teknologi, disingkat Iptek, meliputi Alam Semesta.

Dengan demikian Agama, Adat-istiadat, dan Iptek telah merupakan Sekawan Kebutuhan Manusia  (SKM) untuk mencapai: perdamaian, kemajuan, dan kesejahteraan umat hidup di muka bumi ke-depan menelusuri abad ke-21 atau Millenia ke-III yang sedang berjalan. Khusus untuk suku-bangsa Batak SKM menjadi kelanjutan dari pandangan Ompu Simulajadi di Bonabulu silam.

Revolusi Industri

Meski peradaban di Timur Tengah telah sangat maju memasuki tarikh Masehi silam, akan tetapi “revolusi industri” bermula dari daratan Eropa jauh di bagian Utara, ketika itu masih tergolong  kampung dibandingkan dengan yang disebut terdahulu. Gelombang pertama “revolusi industri” muncul tahun 1760 hingga 1820 dan 1840 (penghujung abad ke-18 dan awal abad ke-19), pada saat itu di Inggris James Watt memperkenalkan mesin-uap (steam engine) pertama temuannya kepada  dunia; dilanjutkan gelombang kedua dari tahun 1840 hingga tahun 1870, yang mengawali peru-bahan besar kehidupan manusia pada bermacam bidang, antara lain: ekonomi, budaya, pendidikan, kemasyarakatan, dan lainnya di daratan Eropa Barat. Revolusi industri menemukan momentum de-ngan tersebarnya jaringan jalan kereta-api dihela lokomotiv-uap yang membakar batubara di Ero-pa, dan meluas hingga ke Wladiwostok, di ujung Timur kekaisaran Rusia silam. Jaringan jalan-raya juga menyusul di Eropa dengan diperkenalkannya mesin bensin diperkenalkan Nikolaus Otto dan mesin diesel oleh Rudolph Diesel, dari Jerman. Hingga dengan timbulnya revolusi industri di Eropa, umat dimana-mana deseluruh penjuru dunia bepergian kemana-mana hanya dengan ber-jalan-kaki saja, paling banyak mengendarai ternak peliharaan yang telah jinak, atau kereta dihela hewan peliharaan yang telah dijinak-kan. Adapun ternak yang banyak digunakan untuk angkutan penumpang dan barang dimana-mana di dunia ketika itu, ialah: kuda, lembu, sapi, unta, dan lain se-taranya.

Revolusi industri yang tampil abad ke-18, lalu mengantarkan manusia menguasai “teknologi angku-tan” memudahkan orang untuk bepergian di muka bumi menggunakan bermacam moda transpor-tasi, seperti: jalan-baja, jalan-raya, jalan-air, dan jalan-udara. Layanan angkutan kemudian berkem-bang pesat, dimulai angkutan kota besar bersifat lokal atau setempat, lalu angkutan antar kota dan propinsi yang bersifat kawasan atau regional, dan angkutan antar negara yang bersifat antarbangsa atau internasional. Dengan demikian siapapun yang kini berdiam di muka bumi, mulai: perorangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa, walau tinggal berjauhan satu sama lain, dipagari lagi jarak berjalan-kaki yang lama dan melelahkan, kini dapat dengan mudah saling berkunjung untuk bersilaturrahmi, kapan pun, dengan siapa pun, dan dimanapun di muka bumi, dengan hanya membeli tiket, berkat adanya beragam moda  angkutan yang dibidani revolusi industri silam.

Revolusi Digital

Menghampiri penghujung abad ke-20 silam, dua abad pasca revolusi industri, muncul pula “re-volusi elektronik”, dibidani: “ICT” (Information and Communication Technologi) atau “TIK” (Teknologi Informasi dan Komunikasi), memungkinkan orang dapat bercakap-cakap sekaligus  ber-tatap muka langsung (in real time) memanfaatkan “Perangkat Elek-tronik Bergerak”, disingkat PEB (Electronic Mobile Device, disingkat EMD) dapat dikantongi dan dibawa kemana saja pergi, dina-makan: gadget (gawai). Dengan demikian siapapun yang berdiam di muka bumi, mulai: pero-rangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa, meski berada saling berjauhan, dipagari la-gi jarak berjalan-kaki yang lama dan melelahkan, kini dengan mudah dapat bercakap-cakap untuk bersilaturrahmi, kapan pun, dengan siapa pun, dan dimanapun di muka bumi ini, dengan hanya membeli pulsa lewat gawai, dengan diperdagangkannya PEB bermacam merek di pasar perangkat elektronik, dilahirkan “revolusi elektronik”.

Informasi Yang Terbuka

Kedua revolusi masing-masing: “transportasi” dan “telekomunikasi”, membuat mitologi bermacam komunitas, mulai: keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa berbagai kawasan di muka bumi sejak ratusan ribu tahun yang silam, berisi antara lain: sejarah, ceritra, hikayat dari luhur, dan lain sebagainya yang telah menjadi budaya, demikian pula berbagai hal sakral; aneka ragam keperca-yaan sampai keimanan beragama, dari: perorangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa, lalu menjadi terbuka pada dunia oleh teknologi transportasi dan komunikasi. Mitologi yang menjadi “harta hati-sanubari” insani bermacam komunitas beragam bangsa, dari: perorangan, keluarga, ma-syarakat, suku-bangsa, dan bangsa yang terdapat di muka bumi, lalu menjadi bahan atau materi kajian perbandingan kalangan cerdik-pandai yang gemar bekerja menemukan kebenaran yang ber-sifat hakiki.

Harta insani bersemayam dalam hati-sanubari kini lebih dari 7 Milliad manusia di dunia dari ber-bagai bangsa tampil tidak bersamaan ke muka bumi nenempuh perjalanan waktu panjang silam, lalu dalam waktu singkat dipertukarkan diantara sesama orang dalam kegiatan silaturrahmi, baik yang didekatkan oleh “sarana transportasi” oleh kemudahan bepergian dengan bermacam kendaraan, maupun didekatkan oleh “sarana komunikasi” PEB atau “gadget (gawai)” beragam merek  tersebar luas yang diperdagangkan di pasar. Bermacam kelompok berkepentingan lalu memanfaatkan harta insani bersemayam dalam hati-nurani insani ini menjadi bahan atau materi diskusi, kajian ilmu pe-ngetahuan beragam disiplin dikuasai untuk menemukan kebenaran mutlak atau absolut. Analisa perbandingan, dari: budaya, nilai sakral, kepercayaan, sampai keimanan, dan lainnya berkembang, mulai dari negara maju hingga yang masih berkembang. Publikasi hasil kajian, mulai yang dilakukan orang awam hingga para ahli berbagai disiplin menarik perhatian media hingga penerbit untuk disebarkan ke masyarakat, mulai dari talkshow hingga penjualan buku. Publikasi jelas rawan menimbulkan sengketa pendapat diantara mereka yang pro dengan yang kontra dan menimbulkan pertikaian tidak diinginkan antara kaum pewaris harta insani yang tersebar dalam masyarakat, mu-lai dari: lokal, regional, hingga internasional.

Untuk menjaga Ketenteraman Masyarakat Dunia, disingkat KMD, (The Wellbeing of World Socie-ty, disingkat W2S) terusik oleh “Teknologi Transportasi dan Komunikasi”, disingkat T2K (Trans-portation and Communication Technology, disingkat TCT) dibidani “revolusi industri” dan “revo-lusi digital” yang melahirkan bermacam sarana transportasi dan komunikasi, maka untuk menghin-darkan keresahan para pewaris harta karun insani dari leluhur, kepercayaan, agama dan beragam nilai sakral yang ada, sudah tiba saatnya membentuk: Majelis Mitologi Dunia, disingkat MMD (World Mithology Council, disingkat WMC. Adapun tugas MMD ialah menyediakan “tempat” mengatasi persoalan sekaligus “tenaga ahli” dibidangnya”, mulai persoalan yang telah timbul hing-ga dengan yang berpotensi menimbulkan masalah. Dengan demikian berbagai macam harta karusn insani bersemayam dalam hati-nurani umat bermukim di muka bumi ini, terutama berkaitan dengan kepercayaan, keimanan agama, bernilai sakral, dan lainnya dapat diantisipasi lalu dijembatani, se-hingga kebersamaan hidup umat di planit biru ini selalu dapat berjalan harmonis, dan dinaungi ke-rukunan.

——————–selesai——————–

Catatan Penulis:

Paukpauk Hudali, Pagopago Tarugi; Na Tading Taulahi, Na Sego Tapauli.

(Dikutip dari tarombo Marga Siregar Bunga Bondar yang dikerjakan Tulang: Sutan Habiaran).

Penulis:

H.M.Rusli Harahap

Pamulang Residence, G1

Jalan Pamulang 2, Pondok Benda. Kode Pos: 1541

Tangerang Selatan, Banten. Indonesia.

11 Mei 2016

Tel. 021-74631125.

Bottom of Form

 

Posted by: rusliharahap | May 24, 2016

ELEVATOR JALAN-RAYA UNTUK PARA PENYEBERANG

Pendahuluan

Dengan kendaraan bermotor bermacam jumlah roda terus menyerbu perkotaan Nusantara dan Mancanegara, mulai kecil apalagi yang besar menelusuri perjalanan waktu, para pejalan-kaki (pedestrian) yang menyeberang jalan-raya di kota-kota yang padat penduduknya mendapat semakin sedikit waktu menyeberang pada lampu merah berlambang zebra yang disediakan. Para penyeberang jalan-raya mengeluh oleh waktu tersedia yang semakin pendek, demikian pula keselamatan jiwa manusia untuk sampai diseberang yang tidak terjamin. Para pejalan-kaki merasa sangat dirugikan oleh banyaknya waktu berharga yang terbuang percuma menunggu peluang me-nyeberang jalan yang kian langka. Menyeberang jalan kini menjadi permasalahan pelik yang tidak mudah dipecahkan oleh para walikota menelusuri waktu terlebih pada jam sibuk hari-hari kerja dewasa ini. Selain itu masalah lain ditemui, memberi peluang kepada para pejalan-kaki menyeberang jalan-raya di zebra-cross menimbulkan antrian panjang kendaraan bermotor yang menghamburkan gas buang hasil pembakaran BBM yang mencemari udara kota sekitar. Dan yang akhir ini jelas mengganngu kesehatan warga kota yang sedang berlalu lalang disekitar.

Untuk mengatasi persoalan diatas, terlebih lagi timbulnya kecelakaan lalulintas di permukaan ja-lan-raya berbagai kota besar yang padat penduduknya Tanah-air maupun Mancanegara, sudah tiba waktunya para pejalan-kaki “hijrah” dari menyeberang jalan-raya “satu bidang” menuju menyeberang jalan-raya “dua bidang”, dengan memperkenalkan prasarana atau infrastruktur penyeberang jalan-raya diperlukan. Adapun prasarana dimaksud, ialah apa yang dinamakan: Penyeberang Pejalan-kaki Atas (PPA) atau Overhead Pedestrian Crossing (OPC), dan Penyeberang Pejalan-kaki Bawah (PPB) atau Underpass Pedestrian Crossing (UPC), dibangun pada berbagai lokasi strategis di kota-kota besar yang padat penduduknya Tanah-Air maupun Mancanegara.

PPA dapat berupa satu atau lebih “jembatan penyeberangan” menghubungkan dua sisi jalan-raya yang diseberangi para pejalan-kaki ketinggian ± 5 meter diatas muka jalan-raya, sehingga beragam kendaraan bermotor bergerak terpisah dibawahnya. Sedangkan PPB tidak lain dari satu atau lebih perlintasan atau lorong ± 2.5 meter dibawah muka jalan-raya yang dilewati para pejalan-kaki, sehingga bermacam kendaraan dapat bergerak terpisah diatasnya. Bagi para pejalan-kaki PPB lebih diminati, karena “menuruni” tangga sedalam ± 2.5 meter dibawah permukaan jalan menguras sedikit tenaga (energy) ketimbang naik tangga menuju PPA tinggi  ± 5 meter diatas permukaan jalan-raya.

Prasarana Menyeberang Jalan-raya

PPA dapat didirikan dalam kota yang padat penduduknya untuk melancarkan lalulintas kendaraan bermotor roda dua, tiga, empat, dan lainnya, juga memudahkan warga kota menyeberang jalan-raya tanpa menyebabkan timbulnya kecelakaan lalu-lintas. Akan tetapi PPB hanya dapat dibangun di tempat-tempat yang dikenal aman dalam kota untuk menghindarkan timbulnya keja-hatan. Dalam pelaksanaannya, dibedakan dua macam (kategori) PPA yang mendapat sambutan baik warga kota kecil maupun besar padat penduduknya, masing-masing: Penyeberang Pejalan-kaki Lurus (PPL) atau Straight Pedestrian Crossing (SPC) sebagaimana tampak pada Gambar Ia, dan Penyeberangan Pejalankaki Terpadu (PPT) atau Integrated Pedestrian Crossing (IPC) seba-gaimana tampak pada Gambar Ib.

SaranaMenyeberang Jalan-raya

Gambar-I

PPL dan PPT

Sebuah PPL dapat terdiri dari satu atau lebih jembatan penyeberangan menghubungkan dua sisi jalan-raya yang diseberangi para pejalan-kaki (pedestrian), sedangkan PPT adalah sejumlah jem-batan penyeberangan mengitari pertemuan sejumlah jalan-raya (roundabout). Yang disebut akhir ini tidak perlu bulat bagai lingkaran seperti yang diperlihatkan Gambar-Ib, tetapi boleh bentuk tertutup sebarang (loop) menurut keadaan lingkungan pertemuan jalan-jalan raya (motorway interchange) dikelilingi kota besar yang padat penduduknya Tanah-Air atau Mancanegara dibica-rakan.

Dengan telah adanya PPL (SPC) dan PPT (IPC) di kota-kota besar yang padat penduduknya, baik Nusantara maupun Mancanegara, menyeberang jalan-raya di berbagai kota besar yang padat penduduknya, menyebarang jalan-raya “budaya lama” dibantu tangga perlu ditinggalkan untuk hijrah ke “budaya baru” dibantu sarana naik turun, disingkat “sanatu”, atau “elevator jalan-raya”. Sanatu atau elevator jalan-raya dirancang khususn untuk para pejalan-kaki (pedestrian) yang menyeberang jalan-raya. Dengan demikian, menyeberang jalan-raya di tengah terik matahari atau dinginnya tengah malam tidak perlu lagi menguras tenaga (energy) tubuh manusia, atau para pejalan-kaki. Budaya lama selain telah ketinggalan zaman, juga tidak layak lagi digunakan me-ngingat keamanan dan kenyamanan para pejalan-kaki yang tidak terjamin, sebagaimana yang telah diatur dalam “Standardisasi Nasional Menyeberang Jalan Indonesia” (SNMJI). Menyeberang jalan-raya budaya lama dengan tangga perlu diakhiri di kota-kota yang padat penduduknya baik, Nusantara maupun Mancanegara oleh alasan sederhana, yakni: menyalahi “hak azasi  ma-nusia” karena menyalahi ketentuan SNMJI. Perlu dicatat jalan-raya sudah semakin dikuasai sa-rana angkutan bermotor bikinan manusia, sehingga untuk keselamatan jiwa para pejalan-kaki (pedestrian) harus mendapat perlindungan undang-undang yang telah diatur dalam SNMJI agar selamat sampai ke tujuan diseberang jalan-raya.

Sanatu atau Elevator

Yang disebut dengan “sanatu” tidak lain dari “bilik-angkut” orang, atau ruang-angkut orang, dan lebih populer dengan sebutan “elevator”. Dengan elevator para pejalan-kaki (pedestrian) dinaikkan dari muka jalan-raya ke satu sisi PPL (SPC) ketinggian sekitar ± 5 meter, kemudian menurunkan para pejalan-kaki (pedestrian) dari sisi lain PPL (SPC) kembali ke muka jalan-raya diseberangi. Sanatu atau elevator juga menaikkan para pejalan-kaki (pedestrian) dari muka jalan-raya ke satu sisi PPT (IPC), sebaliknya menurunkan para pejalan-kaki (pedestrian) dari sisi lain PPT (IPC) kembali ke muka jalan-raya. Gambar-II memperlihatkan sebuah sanatu terdiri dari satu kabin yang bergerak naik atau turun dan penyangga yang dibutuhkan. Gambar IIa memperlihatkan “topang luar” (external support) berupa sangkar, sementara Gambar IIb memperlihatkan “topang tengah” (central support) berupa tonggak. Adapun teknologi digunakan untuk menaikkan atau menurunkan bilik (kabin) elevator sangat sederhana, yaitu: 1. Bolt-Nut dengan Bevel Gear, atau 2. Rack-Pinion dengan Bevel Gear dan Worm Gear, dijalankan motor induksi rem (brake induc-tion motor).

“Ruang angkut” sanatu bekerja menganta para pejalan-kaki (pedestrian) dari permukaan jalan-raya menuju ketinggian PPL (SPC) atau bagian PPT (IPC), sebaliknya menurunkan para pejalan-kaki (pedestrian) dari sisi lain PPL (SPC) atau bagian PPT (IPC) kembali ke permukaan jalan-raya seberang. Ruang angkut ini selanjutnya diberi nama: Elevator Pejalan-kaki, disingkat EP, atau Pedestrian Elevator, disingkat PE. Dengan meninggalkan “budaya lama” dan berhijrah ke “budaya baru”, para pejalan-kaki (pedestrian) dari segala generasi mulai normal hingga para di-sabel (disable) dimanapun akan dapat menyeberang jalan-raya kota-kota yang padat penduduk-nya dengan mudan dan selamat sampai diseberang sesuai SNI yang berlaku.

Dengan hijrah ke budaya baru, para pejalan-kaki (pedestrian) kota-kota besar yang padat penduduknya ketika menyeberang jalan-raya: pertama akan dinaikkan EP ke PPL atau bagian PPT tinggi sekitar ± 5 m diatas jalan-raya. Lalu membiarkan mereka berjalan-kaki sepanjang PPL atau bagian PPT yang horizontal atau datar, lalu dari sisi lain PPL atau bagian PPT, pejalan-kaki (pedestrian) akan diturunkan EP kembali ke muka jalan-raya seberang.

Daya angkut EP (PE) tergantung luas lantai bilik atau elevator. Semakin luas lantai ini, semakin baanyak orang yang dapat diangkut bilik atau kabin elevator. Dalam merancang EP perlu di-tetapkan “standard daya angkut” bilik atau kabin EP (PE), seperti: 5 orang, 10 orang, 15 orang, 20 orang, 25 orang, 30 orang, dan lainnya.

PPL dan PPT dapat dibuat dari konstruksi beton bertulang, seperti tempat berjalan kaki (pe-destrian crossing) setinggi ± 5 meter diatas muka jalan-raya untuk para pejalan-kaki (pedestrian), demikian juga konstruksi baja untuk EP (PE) termasuk bilik atau kabin. Sebagai bagian dari kon-struksi beton, beton pratekan (reinforced concrete dapat dimanfaatkan), seperti untuk: pembuatan badan jembatan, dan beragam tiang penyangga yang digunakan. Dalam pembuatan EP (PE), tidak diragukan lagi diperlukan juga baja kanal-C atau baja kanal-H, pipa baja, plat baja, dan la-innya, tidak terkecuali pembuatan pagar pembatas dan pengaman, supaya  lebih ekonomis secara keseluruhan.

Terdapat dua macam EP (PE) dalam pelaksanaannya, masing-masing: Elevator Topang Keliling (ETK) atau Peripherally Braced Elevator (PBE) sebagaimana tampak pada Gambar-IIa, dan Ele- vator Topang Tengah (ETT) atau Centrally Braced Elevator (CBE), sebagaimana yang tampak pada Gambar-IIb.

EP-I
Gambar-II

ETK adalah konstruksi baja yang mempunyai penampang persegi atau bulat seperti sangkar, di dalam mana bilik atau kabin para pejalan-kaki (pedestrian) dapat bergerak naik atau turun. Ada-pun ETT, adalah tiang tengah terbuat dari baja atau beton, di sekeliling mana bilik atau kabin untuk pejalan-kaki (pedestrian) berbentuk sangkar dengan penampang persegi atau bulat yang  dapat bergerak naik atau turun. Berbeda dengan lift bangunan tinggi, ETK dan ETT tidak mem-butuhkan kabel baja untuk menggantung bilik atau kabin berikut dan perlengkapannya, tetapi memerlukan pelataran atau platform untuk lantai dengan empat Alat Angkat (AA) atau Lifting Device (LD) teknologi sederhana, yaitu: 1. Bolt-Nut dengan Bevel Gear, atau 2. Rack-Pinion de-ngan Bevel Gear dan Worm Gear, digerakkan motor induksi-rem.

Empat AA (LD) akan menaikkan pelataran bilik atau kabin berikut para pejalan-kaki (pedestrian) serentak kesuatu ketinggian, atau sebaliknya menurunkan bilik atau kabin berikut para pejalan-kaki kebawah dari suatu ketinggian serentak, dilaksanakan sistim mekanik yang terdapat dalam kompartemen dibawah lantai bilik atau kabin. Bilik atau kabin yang terdapat dalam ETK atau ETT tidak dapat merosot atau turun dengan sendirinya oleh berat bilik atau kabin termasuk para pejalan-kaki (pedestrian) di dalamnya, kecuali digerakkan motor induksi-rem. Dengan perkataan lain, ETK and ETT dengan bilik atau kabin bersama para pejalan-kaki (pedestrian) dalamnya tidak dapat bergerak turun atau naik, kecuali mendapat perintah untuk melakukannya.

Tenaga listrik diperlukan menggerakkan ETK dan ETT diperoleh dari jala-jala PLN, atau sumber listrik lain, melalui kabel daya menuju panel ETK dan ETT, dan dari yang akhir ini dengan kabel tembaga lemas (flexsible wire) menuju bilik atau kabin. Pilihan lain, memanfaatkan tiga rel tem-baga terisolasi yang dipungut tiga sikat karbon. Apabila jaringan PLN gagal menyediakan daya listrik, sebuah sumber tenaga listrik darurat (emergency power supply) dapat ditempatkan keda-lam bilik atau kabin.

Sumber listrik lain yang juga dapat digunakan ialah tenaga surya (sun energy) memanfaatkan pa-nel surya, dan peladangan angin (wind farm). Tenaga listrik dibutuhkan selain untuk menaikkan atau menurunkan bilik atau kabin beserta para pejalan-kaki didalamnya, juga menjalankan sistim listrik, sistim elektronik, sistim kendali; juga penerangan jalan-raya.

Terdapat Pengendali Logika Terprogram (PLT) atau Programmable Logic Controller (PLC)  da-lam kompartemen guna antarmuka (interface), supaya para pejalan-kaki (pedestrian) dapat me-merintahkan sistim elektro-mekanik (electro-mechanical system) ETK dan ETT bekerja me-naikkan atau menurunkan bilik atau kabin. Juga terdapat saluran kendali (control wirings), be-serta tombol-tombol (push buttons) termasuk pemutus-pemutus batas (limit switches), sehingga ETK dan ETT dapat mengerti perintah para pejalan-kaki (pedestrian) dengan baik.

Peneyeberangan Jalan-raya Mandiri

Gambar-III memperlihatkan penyeberangan jalan-raya mandiri, karena hanya bertugas  menye-berangkan para pejalan-kaki saja. Penyeberangan Jalan-raya Mandiri (PJM) untuk para pejalan-kaki (pedestrian) yang disederhanakan, terlihat pada Gambar-IIIa dibawah ini:

busway-01a

Gambar-IIIa

Adapun keterangan dari pandangan atas PPL bekerja sebagai PJM adalah, dari kiri ke kanan, adalah sebagaimana yang dikemukakan dibawah ini:

  1. Lajur Angkutan Umum Hilir.
  2. Lajur Angkutan Busway Hilir.
  3. Lajur Angkutan Busway Mudik.
  4. Lajur Angkutan Umum Mudik.
  5. Tapak tempat para penyeberang jalan-raya (pedestrian) berhimpun atau bubar:

x – jarak tapak dari PJM.

y – jarak tapak dari sumbu jalan-raya diseberangi.

Kedua besaran ini tidak perlu sama luas maupun bentuknya di tepi jalan-raya diseberangi. Dan ini banyak tergantung dari keberhasilan pemerintah kota membebaskan lahan kebutuhan para menyeberang jalan-raya (pedestrian), untuk menjadikannya perhentian (halte) bus, menyimak ketentuan SNI yang berhubungan dengan masalah ini.

  1. EP (PE) Sanatu atau Elevator.

busway-01b

Gambar-IIIb

Adapun berbagai bagian PPL tampak dari depan ialah sebagai berikut:

  1. PPL menghubungkan kedua sisi jalan-raya diseberangi.
  2. Tiang penyangga yang ada ditengah.
  3. EP (PE) berada di kedua ujung PPL, masing-masing terdapat diatas tapak kanan

dan tapak kiri.

h =  tinggi PPL ± 5 m diatas jalan-raya yang diseberangi.

busway-01c

Gambar-IIIc

Gambar-IIIc memperlihatkan PPL mandiri tampak dari samping.

  1. PPL tinggi ± 5 meter diatas jalan-raya.
  2. EP (PE) tampak dari samping diatas sebuah tapak.

Ketika akan menyeberang jalan-raya, pejalan-kaki (pedestrian) perlu terlebih dahulu menurunkan  EP (PE) apabila sedang berada diatas sedemikian rupa, sehingga lantai bilik atau kabin rata de-ngan permukaan tapak. Dengan menekan Tombol Buka (TB) dari luar, pintu bilik atau kabin akan terbuka, dan para pejalan-kaki dapat masuk. Dengan menekan Tombol Tutup (TT) dari da-lam bilik atau kabin, EP akan bergerak naik dan baru berhenti setelah menyentuh pemutus batas (limit switch) bagian atas. Selanjutnya TB ditekan, dan pintu bilik atau kabin akan terbuka dan para pejalan-kaki (pedestrian) lalu keluar menuju PPL, atau bagian PPT. Selesai.

Menurunkan para pejalan-kaki (pedestrian) dari ketinggian PPL (SPC) atau bagian PPT (IPC), diawali menaikkan EP (PE) manakala sedang ada dibawah sedemikian rupa, sehingga lantai bilik rata dengan lantai PPL (SPC) atau bagian PPT (IPC). Dengan menekan TB dari luar, pintu bilik atau kabin membuka dan para pejalan-kaki (pedestrian) dapat masuk. TT lalu ditekan dari dalam membuat bilik atau kabin bergerak turun, baru berhenti setelah menyentuh pemutus batas (limit switch) bagian bawah. Selanjutnya TB ditekan dari dalam membuat pintu bilik atau kabin mem-buka, dan para pejalan-kaki (pedestrian) keluar ke permukaan tapak-seberang. Selesai.

Terdapat irama nada berbeda menyertai saat EP (PE) bergerak naik, atau turun. Maksudnya  memberitahukan orang yang ada disekitar bahwa EP (PE) sedang melayani para pejalan-kaki (pedestrian) menyeberang jalan-raya.

PPL (SPC) dibangun untuk menyeberang jalan-raya pada berbagai tempat strategis dalam kota-kota besar yang padat penduduknya dimana banyak kendaraan melaju pesat, sedangkan PPT (IPC) dibangun mengitari persimpangan banyak jalan-raya dimana banyak kendaraan juga me-laju pesat. Dengan pemisahan sempurna pejalan-kaki (pedestrian) dari kendraan, kecepatan rata-rata lalulintas diting-katkan menuju kecepatan ekonomis kendaraan untuk menghemat pema-kaian bahan-bakar, menurunkan pencemaran udara, menyingkat waktu tempuh, dan memelihara tertib lalulintas. Dan yang disebut belakangan, tidak mungkin diperoleh dengan manipulasi atu-ran lalu-lintas (software atau perangkat-lunak) semata, tetapi harus juga menghadirkan sarana (hardware atau perangkat-keras) diperlukan: PPL (SPC) berikut EP (PE), juga PPT (IPC) berikut EP (PE). Inilah yang dinamakan: Software+Hardware Solution, disingkst SHS, atau Peme-cahan Perangkat-lunak+Perangkat-keras, disingkat PPP atau 3P, terhadap persoalan lalu-lintas jalan-raya kota besar yang padat penduduknya di Tanah-Air dan Mancanegara manapun muka bumi ini.

Menyeberang Membayar

Dengan kehadiran: PPL (SPC), PPT (IPC), dibantu EP (PE) pada kota-kota besar yang padat penduduknya, maka orang yang sengaja menyeberang jalan-raya pada tempat “terlarang” perlu dihukum. Dasar “melanggar hukum” mendasari jelas: 1. Penyeberang sembarangan atau penyeberang liar menyebabkan pengemudi terkejut, 2. Ia menurunkan kecepatan kendaraan dengan tiba-tiba dibawah besaran diperkenankan, 3. Pemakaian bahan-bakar menjadi boros, 4. Pencemaran udara meningkat, 5. Tertib lalu-lintas terganggu, dan 6. waktu yang berharga lang-sung terbuang.

Dengan telah terdapat PPL (SPC), PPT (IPC), dengan EP (PE) di berbagai kota besar padat pen-duduknya Tanah-Air dan Mancanegara, gagasan “Menyeberang Membayar” (MM), atau “Pay Crossing” (PC) dapat diperkenalkan pada masyarakat berdiam di perkotaan. Tujuannya menghimpun dana yang diperlukan untuk: 1. Menjalankan (mengoperasikan), 2. Merawat, dan 3. Melunasi cicilan bank untuk pembuatan PPL (SPC), PPT (IPC), berikut dengan EP (PE) diatas jalan-raya kota-kota besar padat penduduknya; manakala walikota tidak mengeluarkan uang yang berasal dari pajak. Dengan selogan: “Setiap orang dapat membayar menyeberang“, atau “Everyone can pay across”, manakala ditemukan seseorang yang benar-benar tidak memiliki uang samasekali lalu ingin menyeberang agar sampai ke tujuan, ia akan mendapat uang yang di-perlukan langsung dari si pelola sarana. Terbuka juga peluang kepada siapa saja yang berniat “sedekah” mendapat pahala memembayar orang yang tidak punya uang menyeberang agar sam-pai ke tujuan.

Prasarana menyeberang budaya-baru ini mendapat uang masuk tidak semata dari para pejalan-kaki yang menyeberang jalan-raya. Masih banyak sumber pemasukan uang lain yang dapat digali dan ini tergantung dari kreatifitas yang mendapat mandat untuk melola. Dengan kehadiran PPL (SPC), PPT (IPC), dengan EP (PE) di kota-kota besar yang padat penduduknya di Nusantara dan Mancanegara, orang-orang tua demikian pula mereka yang cacat jasmani atau disabel akan mudah menyeberang jalan-raya, dan tidak terkecuali kaum perempuan dan anak-anak.

Sistim Mekanik Sanatu

Untuk menaikkan, atau sebaliknya menurunkan bilik atau kabin ETK (PBE) dan ETT (CBE) ke suatu ketinggian tinggi  ± 5 meter diatas muka jalan-raya, sebuah Sistim Mekanik Sanatu (SMS)  dipersiapkan sebagaimana tampak pada Gambar IV. SMS terdapat dalam “Kompartmen” berada dibawah lantai bilik atau kabin yang hendak dinaikkan atau diturunkan. Yang akkhir ini menjadi bagian integral atau tidak terpisahkan dari bilik atau kabin sanatu.

jalan raya

Gambar IVa

Pada Gambar IVa diperlihatkan SMS bertugas menaikkan atau menurunkan bilik atau kabin ETK (PBE) bangun sangkar persegi atau sangkar silinder. Pada Gambar IVb diperlihatkan SMS menaikkan atau menurunkan bilik atau kabin ETT (CBE) bangun sangkar silinder atau sangkar persegi. SMS sanatu pilihan ini juga menempati ruang bawah lantai bilik atau kabin yang tidak menyita ruang amat besar, juga menjadi bagian integral dari bilik atau kabin. Sebuah bilik atau kabin sanatu jalan-raya rata-rata ditaksir akan bermuatan 10 hingga 20 para pejalan-kaki (pe-destrian) dewasa untuk sekali naik atau sekali turun tinggi ± 5 m diatas muka jalan-raya. Bilik atau kabin sanatu semuanya dibuat dari bahan tembus pandang tidak terkecuali atap, sehingga para pejalan-kaki (pedestrian) yang berada didalamnya dapat jelas terlihat dari luar.

jalan raya 2

jalan raya 3

Gambar IVb

Tenaga listrik tiga phasa diperoleh dari PLN melalui kabel lemas (flexible cable) menuju panel dari panel Sanatu atau Elevator untuk menjalankan mesin listrik. Pilihan lain lewat tiga rel tembaga tersekat yang dipungut tiga sikat arang (carbon brushes). Sistim listrik akan menya-lurkan tenaga listrik kedalam motor induksi-rem lewat “tombol” ditempatkan didalam bilik atau kabin. Dengan menekan tombol, pejalan-kaki (pedestrian) akan memerintahkan bilik atau kabin sanatu untuk bergerak naik atau turun, tergantung dari dimana sanatu sedang berada: diatas atau dibawah. Sistim listrik menyediakan juga tombol untuk membuka atau menutup pintu bilik atau kabin, dan bilik atau kabin tidak akan dapat bergerak manakala pintunya tidak tertutup. Selain dari itu lagi sistim: pantauan, pelapor, pengawas, dan lampu penerangan. Tenaga listrik cadangan  tersedia dalam Komparteman, sehingga bilik atau kabin sanatu harus selalu dapat kembali ke permukaan tapak (devault position), manakala listrik PLN sedang padam.

Alat Angkat

Adapun “cara” digunakan untuk hijrah dari menyeberang jalan-rayabudaya lama” menuju me-nyeberang jalan-rayabudaya baru”, ialah yang dinamakan: “Alat Angkat” (Lifting Device) de-ngan teknologi: 1. Bolt-Nut dengan Bevel Gear, atau 2. Rack-Pinion dengan Bevel Gear dan Worm Gear dijalankan motor induksi rem (brake induction motor). Dengan teknologi ini, maka  layanan lift bangunan tinggi dapat dipindahkan ke jalan-raya.

Gambar Va memperlihatkan teknologi Alat Angkat, disingkat AA, atau Lifting Device, disingkat LD, dinyatakan sebagai AA(LD) berteknologi Bolt-Nut dengan Bevel Gear.

jalan raya 4

Gambar Va

Seperti tampak pada Gambar Va, KSUD (Kolom Silinder Ulir Dalam) digunakan berpasangan dengan SPUL (Silinder Panjat Ulir Luar) bekerja sebagai AA(LD) guna menaikkan atau menu-runkan bilik atau kabin elevator. Daya mekanik diperlukan diperoleh dari PDM (Poros Daya Mekanik) terlihat jelas pada Gambar IVad dan Gambar IVbc. Sudut kemiringan ulir AA(LD) digunakan menahan agar bilik atau kabin tidak mungkin dapat turun dengan sendirinya oleh berat bilik atau kabin dimiliki beserta para pejalan-kaki (pedestrian) yang ada didalamnya, kecuali digerakkan mesin listrik-rem.

Pilihan lain ialah sebagaimana yang disajikan dalam Gambar Vb, menampilkan Rack-Pinion dengan Bevel Gear dan Worm Gear.

Gambar Vb

Seperti yang terlihat pada Gambar Vb, BGDS (Batang Gigi Dua Sisi) diwujudkan berpasangan dengan PRGP (Pasangan Roda Gigi Panjat) bertugas sebagai AA(LD) guna menaikkan atau menurunkan bilik atau kabin elevator. Daya mekanik diperlukan juga diperoleh dari PDM (Poros Daya Mekanik) terlihat pada Gambar IVae dan Gambar IVbd. Worm Gear dimanfaatkan untuk menjaga agar keempat AA(LD) tidak  turun dengan sendirinya oleh berat bilik atau kabin beserta  para pejalan-kaki (pedestrian) ada didalamnya, kecuali digerakkan mesin listrik-rem.

——————-selesai——————

Penulis:

H.M.Rusli Harahap

Pamulang Residence, G1

Jalan Pamulang 2, Pondok Benda. Kode Pos: 1541

Tangerang Selatan, Banten. 11 Desember 2015

Tel. 021-74631125.

 

 

 

Older Posts »

Categories