Posted by: rusliharahap | December 6, 2015

MARGA HARAHAP DARI HANOPAN

MARGA HARAHAP DARI HANOPAN

TAROMBO MARGA HARAHAP
——————————————-
(15 Nopember 2015)

PERJALANAN SEJARAH MARGA HARAHAP

BAGIAN PERTAMA

Tarombo (silsilah) keluarga marga Harahap dari Hanopan (Sipirok) ini, ialah hasil temuan perjalanan Ompung Abdul Hamid Harahap (1876-1939), gelar Sutan Hanopan, Tuan Datu Singar, ketika itu sedang mencari kampung asal Hanopan dekat Sidangkal, tidak jauh dari kota Padangsidempuan setelah Perang Padri (1821-1837) silam. Beliau adalah anak sulung Baginda Parbalohan (1846-1928), yang usai menunaikan Ibadah Haji di Mekah dan Madinah bulan Desember tahun 1927, memperoleh nama Islam Tuan Syekh Muhammad Yunus. Sepeninggal Bagin-
da Parbalohan, anaknya ini lalu menggantikan dirinya sebagai Raja di Hanopan Sipirok, kampung yang ia bangun bersusah payah bersama kaum kerabat selama berdiam di Bunga Bondar, dengan seizin marga Siregar sang pemilik luat. Bung Dari perolehan tulisan tangan beliau, tarombo lalu dijadikan blue print (cetak biru) oleh anaknya kesebelas bernama Marajali Harahap BRE, yang telah bergelar Opzichter karena telah menammatkan sekolah  Wilhelmina di Batavia sebelum Perang Dunia ke-II meletus di Asia Tenggara ketika itu.
Tidak diragukan lagi banyak orang yang telah memegang cetak biru yang dikerjakan Uda Marajali di Pematang Siantar tahun 1940 silam, namun penyusun mendapatkannya dari peninggalan ayahanda: S. Harahap, gelar Baginda Pandapotan, yang setelah memasuki alam kemerdekaan menjadi kepala Sekolah Rakyat di kota Lubuk Linggau, Sumatera Selatan.

Generasi Pertama
* Ompu Raja Guru Sodungdangon di Nagasaribu

Generasi Kedua
Keturunan Ompu Raja Guru Sodungdangon:
* 1. Datu Dalu dan istrinya boru Pasaribu
2. Sahang Maima dan istri boru Lubis

Generasi Ketiga
Keturunan Datu Dalu dari boru Pasaribu:
1. Datu Tala Harahap
* 2. Siaji Malim Harahap di Sibatang Kayu
3. Sarumbosi yang pergi ke Muara dengan istri boru Pasaribu

Generasi Keempat
Keturunan Siaji Malim di Sibatang Kayu:
* 1. Datu Dalu Ni Bagana di Naga Marsuncang
2. Tuan Datu Singar

Generasi Kelima
Keturunan Datu Dalu Ni Bagana di Naga Marsuncang:
* 1. Ompu Sodogoron

Generasi Keenam
Keturunan Ompu Sodogoron:
1. Raja Imbang Desa di Pijorkoling, dekat Padang Sidempuan.
2. Tunggal Huajan di Pargarutan, dekat Padang Sidempuan.
3. Ompu Sarudak di Huta Imbaru, dekat Padang Sidempuan.
4. Bangun Di Batari di Losung Batu, dekat Padang Sidempuan.
* 5. Bangun Di Babuat di Hanopan Angkola.
6. Hasuhutan Maujalo di Sidangkal Angkola.
Hanopan dan Sidangkal, dua kampung bertetangga di jalan menuju ke Simarpinggan
tidak jauh dari kota Padangsidempuan.

Generasi Ketujuh
Keturunan Bangun Di Babuat dari Hanopan Angkola:
* 1. Naga Marjurang

Generasi Kedelapan
Keturunan Naga Marjurang di Hanopan Angkola:
* 1. Ja Gumanti Porang di Hanopan Angkola
2. Jantan di Sialang Padang Bolak

Generasi Kesembilan
Keturunan Ja Gumanti Porang dari Hanopan Angkola:
1. Tuan Raja di Sunge Janjilobi
* 2. Tulan Ni Gaja di Hanopan Angkola
3. Suhutan Harahap di Batu Gondit

Generasi Kesepuluh
Keturunan Tulan Ni Gaja dari Hanopan Angkola:
* 1. Ompu Pangaduan
2. Barunggam

Generasi Kesebelas
Keturunan Ompu Pangaduan dari Hanopan Angkola:
* 1. Manuk Na Birong

Generasi Keduabelas
Keturunan Manuk Na Birong dari Hanopan Angkola:
1. Ompu Sumurung
* 2. Nabonggal Muap

Generasi Ketigabelas
Keturunan Ompu Sumurung dari Hanopan Angkola:
1. Ja Pangaduan
Keturunan Nabonggal Muap dari Hanopan Angkola:
* 1. Namora Pusuk Ni Hayu

Generasi Keempatbelas
Keturunan Ja Pangaduan:
1. Ja Sumurung
Keturunan Namora Pusuk Ni Hayu di Bintuju, daerah Padang Bolak:
1. Sutan Humala Namorai di Sialang
2. Jabosi di Sialang
* 3. Parnanggar di Sialang

Generasi Kelimabelas
Keturunan Sutan Humala Namorai dari Sialang:
1. Mangaraja Ihutan
Keturunan Parnanggar dari Sialang:
* 1. Jasohataon

Generasi Keenambelas
Keturunan Ja Sohataon dari Sinapang di Padang Bolak:
1. Ja Mandais, pindah ke Saba Tarutung
2. Ja Manis, pindah ke Saba Tarutung
3. Ja Bintuju, pindah ke Bunga Bondar
* 4. Toga Ni Aji, pindah ke Hanopan Sidangkal

Generasi Ketujuhbelas
Keturunan Ja Mandais dari Saba Tarutung
1. Ja Pinontar
2. Ja Riar
3. Ja Malera
4. Ja Somendut
Keturunan Ja Manis dari Sabatarutung:
1. Ja Manuga
Keturunan Ja Bintuju dari Bunga Bondar:
1. Ja Ilani di Bunga Bondar
2. Ja Belengan
3. Baceker
Keturunan Toga Ni Aji dari Hanopan Sidangkal:
* 1. Demar Harahap, gelar Ja Manogihon dengan istrinya
Boru Pohan dari Parau Sorat.

Generasi Kedelapanbelas
Keturunan Ja Pinontar:
1. Ja Mandosing
Keturunan Ja Malera:
1. Ja Lilian
2. Ja Parsuntuhon
3. Ja Maripul
Keturunan Ja Somendut:
1. Ja Bangso
2. Ja Napesong
Keturunan Ja Manuga:
1. Ja Mengget
Keturunan Ja Ilani dari Bunga Bondar:
1. Ja Pantis
Keturunan Ja Belengan:
1. Ja Palak
Keturunan Baceker dari Bunga Bondar:
1. Ja Sohataon
Keturunan Demar Harahap, gelar Ja Manogihon, dengan istri boru Pohan:
1. Si Neser (pr)
2. Si Singkam (pr)
3. Si Tona (pr)
4. Si Nettes (pr)
* 5. Ja Alaan

BAGIAN KEDUA

Keluarga Demar Harahap, gelar Ja Manogihon lalu mengungsi meninggalkan kampung
halaman di Hanopan (Angkola) menuju ke daerah Padang Bolak. Ketika itu Perang Padri
yang timbul di Sumatera Barat telah merambah ke Tanah Angkola di Tapanuli Selatan.
Mereka berdiam di Lobu Sinapang dalam Luat Harangan Padang Bolak.

Generasi Kesembilanbelas
Keturunan Ja Mandasin:
1. Anggoto
Keturunan Ja Hapesong:
1. Ja Pikiran
Keturunan Ja Mengget:
1. Si Toga
Keturunan Ja Pantis:
1. Ja Tulis
2. Samsudin
3. Ja Ilani
4. Dulia
5. Pincang
Keturunan Dja Palak:
1. Justinus
2. Soripada
3. Teopilus
4. Baginda Panusunan
Keturunan Ja Sohataon:
1. Baginda Herman
2. Yakin

BAGIAN KETIGA

Dari Lobu Sinapang keempat putri Demar Harahap, gelar Ja Manogihon, dengan istri-istrinya boru Pohan dari Parau Sorat, lalu menikah ke Batu Horpak dan Bunga Bondar. Sedangkan Ja Alaan anak laki-laki yang bungsu mengikuti tiga ibotonya pindah ke Bunga Bondar.

Adapun keturunan Demar Harahap, gelar Ja Manogihon, dan cucu-cucunya:
1. Si Neser Harahap menikah dengan …, marga…..dari Batu Horpak, keturunannya:
Ja Imbang, gelar Baginda Ginduang.
2. Si Singkam Harahap menikah dengan..….., marga Siregar dari Bunga Bondar, keturu- nannya: Syekh Muhammad Kotip, gelar Baginda Maulana.
3. Si Tona Harahap menikah dengan..……, marga Siregar dari Bunga Bondar, keturunan-nya: Mangaraja Bunga Bondar.
4. Si Nettes Harahap menikah dengan ……., marga Siregar dari Bunga Bondar, keturunan-nya: Sutan Malayu, gelar Baginda Lului.
5. Ja Alaan, gelar Tongku Mangaraja Hanopan berdiam di Bunga Bondar mengikuti tiga
ibotonya yang menikah ke kampong itu, masing-masing: si Singkam, si Tona, dan si
Nettes. Ibotonya yang tertua si Neser menikah ke Batu Horpak letaknya tidak jauh dari
Bunga Bondar.
Ja Alaan, gelar Tongku Mangaraja Hanopan, di Bunga Bondar lalu menikah dengan:
Bolat, boru Regar dari Bunga Bondar, pomparan (keturunan) Ja Ulubalang. Dan setelah
yang disebut akhir ini wafat lalu digantikan Naipak, boru Pohan dari Parau Sorat.
Adapun keturunan Ja Alaan di Bunga Bondar.

a. Dari Boru Regar:
1. Erjep (pr)
1H 2. Sengel, gelar Baginda Parbalohan, Tuan Syekh Muhammad
Yunus.
2H 3. Sogi, gelar Baginda Soripada
1BB 4. Heber, gelar Baginda Maujalo
3H 5. Lilin (Ja Sutor), gelar Baginda Malim Muhammad Arif
2BB 6. Nanga (Ja Pahang), gelar Baginda Sialang
4H 7. Manis, gelar Baginda Malim Marasyad
8. Sento (pr)
9. Sanne (pr)
5H 10. Paian (Ja Taris), gelar Malim Muhammad Nuh

b. Dari boru Pohan:
P 11. Mandasin, gelar Baginda Khalifah Sulaiman
3BB 12. Kampung, gelar Haji Tuan Syekh Muhammad Jalil
S 13. Pardo (Mara Kamin), Baginda Saikum
6H 14. Kenis, gelar Baginda Pangibulan
7H 15. Gardok (Ja Simin), gelar Malim Muhammad Rahim
16. Sopot (pr).

Catatan: H – mereka yang pindah ke Hanopan, 7 orang.
BB – mereka yang tetap berdism di Bunga Bondar, 3 orang.
P – yang pindah ke Panggulangan, 1 orang.
S – yang merantau ke Siak Sri-Indrapura, 1 orang.

BAGIAN KEEMPAT

1. Ompung Tobang, Halaklahi dohot Dadaboru
Diawali dari Bunga Bondar.
Adapun keturunan Ja Alaan, Ompu ni Kupia, gelar Tongku Mangaraja Hanopan, dari dua
Orang istrinya ialah:
1. Erjep (pr), lahir….18.. di Bunga Bondar.
2. Sengel, lahir….1846 di Bunga Bondar
3. Sogi, lahir….18.. di Bunga Bondar.
4. Heber, lahir….18.. di Bunga Bondar.
5. Lilin, Sutor, lahir….18.. di Bunga Bondar.
6. Nanga, Ja Pahang, lahir….18.. di Bunga Bondar.
7. Manis, lahir….18.. di Bunga Bondar.
8. Sento (pr) , lahir….18.. di Bunga Bondar.
9. Sanne (pr) , lahir….18.. di Bunga Bondar.
10. Paian, Ja Taris, lahir….18.. di Bunga Bondar.
11. Mandasin, lahir….18.. di Bunga Bondar.
12. Kampung, lahir….18.. di Bunga Bondar.
13. Pardo, Mara Kamin, lahir….18.. di Bunga Bondar.
14. Kenis , lahir….18.. di Bunga Bondar.
15. Gardok, Ja Simin, lahir….18.. di Bunga Bondar.
16. Sopot (pr) , lahir….18.. di Bunga Bondar.
Generasi Keduapuluh
2. Amang Tobang, Inang Tobang
a. Mereka yang tetap tinggal di Bunga Bondar
No.1.Erjep Harahap, menikah dengan Sutan Mangalai, marga Siregar dari Situmbaga, Padang Sidempuan Barat.
No.4 Heber Harahap, Sintua Heber, gelar Baginda Maujalo (18..-19..) dengan istri…., gelar Ompu ni Kondar, boru Regar dari Bunga Bondar, iboto dari Ompu Raja Oloan Siregar. Keturunannya:
1. Melanthon, lahir….19.. di Bunga Bondar.
2. Hanna (pr) , lahir….19.. di Bunga Bondar.
No.6 Nanga Harahap, Ja Pahang, gelar Baginda Sialang (18..-19..) dengan istri…., gelar Ompu ni Tibanur, boru Regar dari Bunga Bondar, putri Sutan Baringin Siregar. Ketu-runannya:
1. Malik, lahir….19.. di Bunga Bondar.
2. Binahar, lahir….19.. di Bunga Bondar.
3. Banjor (pr), lahir….19.. di Bunga Bondar.
4. Tiomsa (pr), lahir….19.. di Bunga Bondar.
5. Tiapasa (pr), lahir….19.. di Bunga Bondar.
No.8 Sento Harahap, menikah dengan Ja Kola, marga Siregar dari Batu Horpak.
No.9 Sanne Harahap, menikah dengan Baginda Hinalongan, marga Siregar.dari Bunga Bondar.
No.12 Kampung Harahap, Haji Tuan Syekh Muhammad Jalil (18..-19..) dengan istri Siti Jorima, gelar Ompu ni Tiangat, boru Regar dari Bunga Bondar, putri Haji Abdus Somad Siregar. Menunaikan ibadah haji ke Mekah bersama abangnya Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan dari Hanopan pada bulan Desember tahun 1927. Keturunannya:
1. Yusuf, lahir….19.. di Bunga Bondar.
2. Tosim, lahir….19.. di Bunga Bondar.
3. Maia (pr), lahir….19.. di Bunga Bondar.
4. Sondar (pr), lahir….19.. di Bunga Bondar.
5. Kodima (pr), lahir….19.. di Bunga Bondar.
No.16 Sopot Harahap, meninggal gadis.
b. Mereka yang kemudian pindah ke Hanopan
No.2. Sengel Harahap, Haji Tuan Syekh Muhammad Yunus, gelar Baginda Parbalohan (1846-1928) dengan istri Giring, gelar Ompu ni Sutor, boru Regar dari Bunga Bondar, putri Ja Diatas Siregar; kemudian digantikan …., gelar Ompu ni Kasibun. Pendidikan: Sekolah Gouvernement di Sipirok. Pekerjaan: Raja Pamusuk (Dahulu memang dinamakan Raja, setelah Indonesia merdeka menjadi Kepala Kampung) pertama di Hanopan.
Ia menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci: Mekah dan Madinah, tanggal 7 Desember 1927, dalam rombongan Haji bersama: istriya Ompu ni Kasibun, adiknya Kampung, anaknya Rachmat, dan cucunya Noerdin, naik kapal laut dari Belawan. Ia wafat dalam perjalanan pulang ke Tanah Air naik bis dari Mekah, dan dikebumikan di Jeddah. Kecuali Nurdin Harahap karena harus belajar agama Islam di Mekah, anggota rombongan lain kembali ke Tabah Air selamat kembali ke Bunga Bondar dan Hanopan. Meninggalnya Amang Tobang Baginda Parbalohan di Tanah Suci disambut isak tangis duka kehilangan yang sangat dalam di Bunga Bondar dan Hanopan. Keturunannya:
1. Abdul Hamid, lahir….1876 di Bunga Bondar.
2. Kasim, lahir….1881 di Bunga Bondar.
3. Rakhmat, lahir….1883 di Bunga Bondar.
No.3. Sogi Harahap, gelar Baginda Soripada (18..-19..) dengan istri:……, gelar Ompu ni Nunggar, boru Regar dari Bunga Bondar, putri Ja Buku Siregar, kemudian digantikan….., boru Munthe dari Binanga. Keturunannya:
1. Mamin, lahir….19.. di Hanopan.
2. Maju, lahir….19.. di Hanopan.
3. Baitan, lahir….19.. di Hanopan.
4. Tobat, lahir…19.. di Hanopan.
5. Kombang (Malim Mohammad.Arif), lahir….19.. di Hanopan.
6. Adun, lahir….19.. di Hanopan.
7. Ratus, lahir….19.. di Hanopan.
8. Nunggar (pr), lahir….19.. di Hanopan.
9. Balau (Adong), lahir….19.. di Hanopan.
10. Jabal, lahir….19.. di Hanopan.
11. Bija (pr), lahir….19.. di Hanopan.
12. Dingin (pr), lahir….19.. di Hanopan.
13. Doja (pr), lahir….19.. di Hanopan.
14. Tiana (pr), lahir….19.. di Hanopan.
15. Tiraham (pr), lahir….19.. di Hanopan.
16. Lenggam (pr), lahir….19.. di Hanopan.
No.5. Lilin, Sutor Harahap, gelar Baginda Malim Muhammad Arif (18..-1900) dengan istri Khorijah (18..-1952), Ompu ni Sori, boru Pane Silaban Sihombing dari Gunung Manaon. Keturunannya:
1. Morgu, lahir….19.. di Hanopan.
2. Daliun, lahir….19.. di Hanopan.
3. Saribun (Ja Kidun), lahir….19.. di Hanopan.
4. Saib, lahir….19.. di Hanopan.
5. Mala (pr), lahir….19.. di Hanopan.
6. Tiamas (pr), lahir….19.. di Hanopan.
7. Tao (pr), lahir….19.. di Hanopan.
8. Tihari (pr), lahir….19.. di Hanopan.
9. Bonur (Tiaya, pr), lahir….19.. di Hanopan.
10. Kasania (pr), lahir….19.. di Hanopan.
11. Fatimah (pr), lahir….19.. di Hanopan.
No.7. Manis Harahap, gelar Baginda Malim Marasyad (18..-19..) dengan istri ……., Ompu ni Sindar, boru Pohan dari Parau Sorat. Keturunannya:
1. Lumut, lahir….19.. di Hanopan.
2. Bangun, lahir….19.. di Hanopan.
3. Tembang, lahir….19.. di Hanopan.
4. Rain, lahir….19.. di Hanopan.
5. Borkat (Ja Mukobul), lahir….19.. di Hanopan.
6. Sulaiman, lahir….19.. di Hanopan.
7. Salasa, lahir….19.. di Hanopan.
8. Adin (pr), lahir….19.. di Hanopan.
9. Montor (pr), lahir….19.. di Hanopan.
10. Tialan (pr), lahir….19.. di Hanopan.
No.10. Paian Harahap, Ja Taris, gelar Baginda Malim Muhammad Nuh (18..-19..) dengan istri …., Ompu ni Daim, boru Pane dari Gunung Manaon Arse. Keturunannya:
1. Tialas (pr), lahir….19.. di Hanopan.
2. Hadam, lahir….1902 di Hanopan.
3. Jalima (pr), lahir….19.. di Hanopan.
4. Sailan (pr), lahir….19.. di Hanopan.
5. Sobar, lahir….1916 di Hanopan.
6. Hariani (pr), lahir….19.. di Hanopan.
7. Tiona (pr), lahir….19.. di Hanopan.
8. Iran (pr), lahir….19.. di Hanopan.
No.14. Kenis Harahap, gelar Baginda Pangibulan (18..-19..) dengan istri….., Ompu ni Kaya, boru Regar dari Bunga Bondar, putri Ja Kombang Siregar. Keturunannya:
1. Ismail (Ja Lobe), lahir….19.. di Hanopan.
2. Tiamar (pr), lahir….19.. di Hanopan.
3. Moun (pr), lahir….19.. di Hanopan.
4. Jabeda (pr), lahir….19.. di Hanopan.
No.15. Gardok Harahap, Ja Simin, gelar Baginda Malim Muhammad Rahim (18..-19..) dengan istri Basaun, Ompu ni Marasali, boru Regar dari Hasang, Sipirok.
Keturunannya:
1. Moget, lahir….19.. di Hanopan.
2. Togu, lahir….19.. di Hanopan.
3. Ingan (pr), lahir….19.. di Hanopan.
4. Tiabin (pr), lahir….19.. di Hanopan.
c. Seorang yang pindah ke Panggulangan.
No.11. Mandasin Harahap, gelar Baginda Khalifah Sulaiman (18..-19..) dengan istri……, gelar Ompu ni Simin, boru Pohan dari Parau Sorat. Keturunannya:
1. Alaan, lahir….19.. di Panggulangan.
2. Marasan, lahir….19.. di Panggulangan.
3. Kedom, lahir….1904 di Panggulangan.
4. Mahir, lahir….1915 di Panggulangan.
5. Darajat, lahir….1921 di Panggulangan.
6. Nursalam (pr), lahir….19.. di Panggulangan.
7. Tania (pr), lahir….19.. di Panggulangan.
8. Mayur (pr), lahir….19.. di Panggulangan.
9. Nuria (pr), lahir….19.. di Panggulangan.
d. Seorang yang merantau ke Siak Sri-Indrapura, Riau daratan.
No.13 Pardo Harahap, Mara Kamin, gelar Baginda Saikum (19..-19..) dengan istri…., Ompu ni Syamsuddin, boru Riau dari Siak Sri-Indrapura. Keturunannya:
1. Nempol, lahir …..19.. di Siak Sri-Indrapura
2. Abu Bakar, lahir …..19.. di Siak Sri-Indrapura
3. Muhammad Soleh, lahir …..19.. di Siak Sri-Indrapura
4. Jambul, lahir …..19.. di Siak Sri-Indrapura
5………., lahir …..19.. di Siak Sri-Indrapura

Generasi Duapuluhsatu
3. Ompung Halaklahi Dadaboru
a. Mereka yang tetap tinggal di, atau merantau dari, Bunga Bondar.
4. Cucu Heber Harahap, Sintua Heber, gelar Baginda Maujalo.
4-1. Melanthon Harahap, gelar Mangaraja Ujungpadang (19..-19..) dengan istri ….., Ompu ni Masnida, boru Regar dari Bunga Bondar, putri ke-9 Ompu Raja Oloan Siregar. Keturu-nannya:
1. Julianus (Juli), lahir …..19.. di Bunga Bondar.
2. Hadrianus (Ponten), lahir …..19.. di Bunga Bondar.
3. Beheri Nopan, lahir …..19.. di Bunga Bondar.
4. Siti Merawan (pr), lahir …..19.. di Bunga Bondar.
5. Sori Gunung, lahir …..19.. di Bunga Bondar.
6. Nurcahaya (pr), lahir 27 Juni 1929 di Bunga Bondar.
7. Jenahara (pr), lahir …..19.. di Bunga Bondar.
4-2. Hanna Harahap (19..-19..), menikah dengan Sutan Habonaran, marga Nainggolan dari Hurase, Padang Sidempuan. (Ibunda Prof. Dr. S.C.Nainggolan, Rektor UKI Jakarta 19..s/d 19…).
6. Cucu Nanga Harahap, Ja Pahang, gelar Baginda Sialang.
6-1. Hizkia (Malik) Harahap, gelar Sutan Harahap (19..-19..) dengan istri Tiabur, Ompu ni Goyur, boru Regar dari Bunga Bondar. Pendidikan: Sekolah Guru Pekerjaan: Guru Sekolah di Takengon, Aceh. Keturunannya:
1. Reman, lahir…..19… di Takengon.
2. Totauli (Tota), lahir 8 Mei 1922 di Takengon.
3. Hajopan (Jopan), lahir…..19… di Bunga Bondar.
4. Parman, lahir…..19… di Bunga Bondar.
5. Hasiholan, lahir…..19… di Bunga Bondar.
6. Sanneria (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
7. Istana (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
8. Mian (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
6-2. Binahar Harahap, gelar Ja Bintuju (19..-19..) dengan istri Mina, Ompu ni …., boru Pohan dari Parau. Keturunannya:
1. Marolop, lahir…..19… di Bunga Bondar.
2. Setto/Maria (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
3. Mintaria (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
6-3. Banjor Harahap, menikah dengan ja Bermalam, marga Siregar dari…….
6-4. Tiomsa Harahap, menikah dengan Durain, marga Siregar dari Sampean, Sipirok.
6-5. Tiapasa Harahap, menikah dengan Maujud, marga ……dari Lancat, Sipirok.
12. Cucu Kampung Harahap, Haji Tuan Syekh Muhammad Jalil.
12-1. Yusuf Harahap, gelar Mangaraja Sorialam (19..-19..) dengan istri……., Ompu ni….., boru Regar dari Bunga Bondar. Keturunannya:
1. Siti Angat (Angat, pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
2. Bidin, lahir…..19… di Bunga Bondar.
3. Tirohim (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
4. Nurba (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
5. Natin, lahir…..19… di Bunga Bondar.
6. Adin (Siti Adin, pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
7. Sanne (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
8. Arbania (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
9. Nabin (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
10. Mija (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
11. Manda (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
12-2. Tosim Harahap, gelar Mangaraja Hanopan (19..-19..) dengan istri Homitan (Hajjah Siti Angur), Ompoe ni Kalsum, boru Regar dari Bunga Bondar, keluarga Baginda Hasian Siregar. Keturunannya:
1. Mara Iman (Iman), lahir…..19… di Bunga Bondar.
2. Muslimin (Muslim), lahir…..19… di Bunga Bondar.
3. Pangibulan (Pangi), lahir…..19… di Bunga Bondar.
4. Rona (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
12-3. Maia Harahap, menikah dengan Ja Borayun (Ja Elo), marga Siregar dari Batu Hor-pak.
12-4. Sondar Harahap, menikah dengan Barita Raja, marga Siregar dari Simaninggir.
12-5. Kodima Harahap, menikah dengan Ja Mutais, marga Siregar dari Batu Horpak.
b. Mereka yang tinggal di, atau merantau dari, Hanopan.
2. Cucu Sengel Harahap, Haji Tuan Syekh Muhammad Yunus, gelar Baginda
Parbalohan.
1-1. Abdul Hamid Harahap, Tuan Datu Singar, gelar Sutan Hanopan (1876-1939) dengan istri Dorima, Ompu ni Amir, boru Regar dari Bunga Bondar, putri Sutan Bungabondar. Pendi-dikan: Sekolah Gouvernement Sipirok. Pekerjaan: Raja Pamusuk kedua Hanopan meng-gantikan ayahandanya yang wafat di Jeddah. Keturunannya:
1. Sutor, lahir 15 Juni 1896 di Bunga Bondar.
2. Maujalo (Jalo), lahir 10 September 1901 di Hanopan.
3. Sitti Anggur (pr), lahir 1905 di Hanopan.
4. Dumasari (pr), lahir 1908 di Hanopan.
5. Pelinuruddin (Nurdin), lahir 1911 di Hanopan.
6. Aminah (pr), lahir 1912 di Hanopan.
7. Sorimuda (Hisar), lahir 1913 di Hanopan.
8. Diri (Din), lahir 2 Agustus 1915 di Hanopan.
9. Muhammad, lahir 1917 di Hanopan.
10. Erjep Khairani (Erjep, pr), lahir 1920 di Hanopan.
11. Marajali, lahir 1922 di Hanopan.
12. Pamusuk, lahir 31 Maret 1925 di Hanopan.
1-2. Kasim Harahap, Tongku Mangaraja Elias Hamonangan (1881-1944) dengan istri Petronella, Naduma Bulung Pangondian, Ompu ni Paulina, boru Regar dari Bunga Bondar, putri ke-4 Ompu Raja Oloan Siregar. Pekerjaan: Raja Pamusuk ketiga di Hanopan, menggantikan abangnya. Keturunannya:
1. Surto Meta Khristina (Tabiran, pr), lahir 19..di Hanopan.
2. Dagar Na Lan (Dagar, pr), lahir 19..di Hanopan.
3. Dimpu, lahir 19..di Hanopan.
4. Menmen (pr), lahir 19..di Hanopan.
5. Siti Dinar (Dinar, pr), lahir 25 Desember 1914 di Hanopan.
6. Partaonan (Parta), lahir 4 Januari 1916 di Hanopan.
7. Hakim, lahir 19..di Hanopan.
8. Posma, lahir 19..di Hanopan.
9. Krisna Murti (pr), lahir 19..di Hanopan.
10. Bagon, lahir 1922 di Hanopan.
11. Bakhtiar (Samsu), lahir 23 Agustus 1924 di Hanopan.
12. Toga Mulia (Toga), lahir 30 Juli 1928 di Hanopan.
13. Sitiurma (Tiurma, pr), lahir 31 Agustus 1936 di Hanopan.
1-3. Rahmat Harahap, Haji Abdullah Umar, gelar Sutan Nabonggal (1883-1962) dengan istri Gorga, Ompu ni Mina, boru Regar dari Bunga Bondar Sampulu, iboto Sutan Kalisati Sire-gar. Turut menemani ayahnya menunaikan ibadah Haji ke Tanah Suci: Mekah dan Madi-nah, pada bulan Desember 1927. Keturunannya:
1. Sahat, lahir 19.. di Hanopan.
2. Utir (pr), lahir 19.. di Hanopan.
3. Marip, lahir 11 April 1927 di Hanopan.
4. Sahada (pr), lahir 19.. di Hanopan.
5. Malige (Malige, pr), lahir 19.. di Hanopan.
6. Zainuddin (Sai), lahir 4 Juli 1926 di Hanopan.
7. Siti Aisyah (Cia, pr), lahir 19.. di Hanopan.
3. Cucu Sogi Harahap, gelar Baginda Soripada
3-1. Mamin Harahap, gelar Mangaraja Alaan (19..-19..) dengan istri Tiara, Ompu ni Maralun, boru Pane dari Gunung Manaon. Keturunannya:
1. Tua, lahir 19.. di Hanopan.
2. Roup, lahir 19.. di Hanopan.
3. Buhanuddin, lahir 19.. di Hanopan.
4. Gonjong (pr), lahir 19.. di Hanopan.
5. Tiayur (pr), lahir 19.. di Hanopan.
6. Anna (pr), lahir 19.. di Hanopan.
3-2. Maju Harahap, gelar Mangaraja Riapan (19..-19..) dengan istri Sakia, Ompu ni Mindo, boru Regar dari Bunga Bondar, putri Mara Sutor Siregar. Keturunannya:
1. Djotur (pr), lahir 19.. di Hanopan.
2. Sere (Salam, pr), lahir 19.. di Hanopan.
3. Tinur (pr), lahir 19.. di Hanopan.
4. Napsiah (pr), lahir 19.. di Hanopan.
5. Siti Rahmah (pr), lahir 19.. di Hanopan.
6. Timahasa (pr), lahir 19.. di Hanopan.
7. Fatimah (pr), lahir 19.. di Hanopan.
8. Minta (pr), lahir 19.. di Hanopan.
3-3. Baitan Harahap, gelar Mangaraja Parlaungan (19..-19..) dengan istri Sariat, Ompu ni Makdin, boru Sitompul dari Simaninggir (Sipirok). Keturunannya:
1. Lolotan, lahir 19.. di Hanopan.
2. Aminuddin, lahir 19.. di Hanopan.
3. Ridoan, lahir 19.. di Hanopan.
4. Gomuk, lahir 19.. di Hanopan.
5. Tiamsa (pr), lahir 19.. di Hanopan.
6. Ngolu (pr), lahir 19.. di Hanopan.
3-4. Tobat Harahap, gelar Mangaraja Paranginan (19..-19..) dengan istri Nursana, Ompu ni Roslina, boru Regar dari Pagaran Padang. Keturunannya:
1. Lajim, lahir 19.. di Hanopan.
2. Batara (Karani), lahir 19.. di Hanopan.
3. Rama (pr), lahir 19.. di Hanopan.
4. Ronda (pr), lahir 19.. di Hanopan.
5. Lenggana (pr), lahir 19.. di Hanopan.
6. Mawar (pr), lahir 19.. di Hanopan.
3-5. Kombang Harahap, gelar Malim Moehammad Arif (19..-19..) dengan istri Enda, Ompu ni Panindoan, boru Pohan dari Parau Sorat. Keturunannya:
1. Junid, lahir 19.. di Hanopan.
2. Tirilan (pr), lahir 19.. di Hanopan.
3. Syahrir, lahir 19.. di Hanopan.
4. Matnusin (Djuma’at), lahir 19.. di Hanopan.
5. Mustamin, lahir 19.. di Hanopan.
6. Dalipa (pr), lahir 19.. di Hanopan.
7. Mariam (pr), lahir 19.. di Hanopan.
8. Jaleha (pr), lahir 19.. di Hanopan.
3-6. Adun Harahap, gelar Ja Hatunggal (19..-19..) dengan istri Nursani, Ompu ni Sa-pi’i, boru Tambunan dari Roncitan, lalu digantikan Simariza, Ompu ni Rosma, bo-ru Tampubolon dari Situnggaling. Keturunannya:
1. Pantis, lahir 19.. di Hanopan.
2. Uddin, lahir 19.. di Hanopan.
3. Pande, lahir 19.. di Hanopan.
4. Eras, lahir 19.. di Hanopan.
5. Janiba (pr), lahir 19.. di Hanopan.
6. Nurhaida (pr), lahir 19.. di Hanopan.
7. Maralan (pr), lahir 19.. di Hanopan.
8. Rontana (pr), lahir 19.. di Hanopan.
9. Dekman, lahir 19.. di Hanopan.
10. Dima (pr), lahir 19.. di Hanopan.
3-7. Ratus Harahap, gelar Ja Pangaribuan (19..-19..) dengan istri Nairan, Ompu ni Dahlan, boru
Hasibuan dari Lancat Jae. Keturunannya:
1. Teler, lahir 19.. di Hanopan.
2. Maraganti, lahir 19.. di Hanopan.
3. Morai, lahir 19.. di Hanopan.
4. Maya (pr), lahir 19.. di Hanopan.
5. Sorum (pr), lahir 19.. di Hanopan.
6. Beiti (pr), lahir 19.. di Hanopan.
7 Dorkas (pr), lahir 19.. di Hanopan.
3-8. Nunggar Harahap, menikah dengan….., marga…..dari…….
3-9. Adong Harahap, Ja Balau, gelar Sutan Sonanggaron, Tongku Mangaraja Hanopan Naposo, (19..-19..) dengan istri Simanyuruk, Ompu ni Buat, boru……dari Sibuar-buar, lalu digan-tikan Sitiangat, ompu ni Indrawan, boru Dalimunte dari Sitandiang, Simangambat. Ketu-runannya:
1. Ginda, lahir 19.. di Hanopan.
2. Syamsi, lahir 19.. di Hanopan.
3. Ikhwan, lahir 19.. di Hanopan.
4. Safaruddin, lahir 19.. di Hanopan.
5. Nurmaia (Maia, pr), lahir 19.. di Hanopan.
3-10. Jabal Harahap, gelar Mangaraja Bukit Sidua-dua (19..-19..) dengan istri Nursiti, Ompu ni Sintong, boru Dalimunte dari Simanyuruk, Binanga, bermukim di Rantau Prapat. Keturu-nannya:
1. Nurhayani (pr), lahir 19.. di Rantau Prapat.
2. Nukman, lahir 19.. di Rantau Prapat.
3. Jawani (pr), lahir 19.. di Rantau Prapat.
4. Masna (pr), lahir 19.. di Rantau Prapat.
5. Syarifudin, lahir 19.. di Rantau Prapat.
6. Sampe, lahir 19.. di Rantau Prapat.
7. Mara Ponu, lahir 19.. di Rantau Prapat.
8. Zainab (pr), lahir 19.. di Rantau Prapat.
9. Rohima (pr), lahir 19.. di Rantau Prapat.
3-11. Bija Harahap, menikah dengan Ja Rendo, marga Ritonga dari Roncitan.
3-12. Dingin Harahap, menikah dengan Kalimuda, marga Siregar dari Padang Mandailing.
3-13. Doya Harahap, menikah dengan Samudin, marga Rambe dari Arse Jae Lombang.
3-14. Tiana Harahap, menikah dengan Ja Manjolang, marga Hasibuan dari Simanosor Julu.
3-15. Tiraham Harahap, menikah dengan Ja Huraba, marga Pospos dari Roncitan.
3-16. Lenggam Harahap, menikah dengan Da Malarat, marga Siagian dari Arse Jae Dolok.
5. Cucu Lilin (Sutor) Harahap, gelar Baginda Malim Muhammad Arif.
5-1. Morgu Harahap, gelar Mangaraja Guna (19..-19) dengan istri……., gelar……., boru Regar dari Huta Padang. Keturunannya:
1. Jalil, lahir 19.. di Hanopan.
2. Pada, lahir 19.. di Hanopan.
3. Zainuddin, lahir 19.. di Hanopan.
4. Abdul (Wahid), lahir 19.. di Hanopan.
5. Pangibulan, lahir 19.. di Hanopan.
6. Hamzah, lahir 19.. di Hanopan.
7. Nuraisyah (Aisyah, pr), lahir 19.. di Hanopan.
5-2. Daliun Harahap, gelar Ja Marliun (19..-19) dengan istri Maimunah boru Regar dari…, lalu digantikan …boru Ujung Padang, dan…., boru Huta Padang, bermukim di Simangambat. Keturunannya:
1. Bahori, lahir 19.. di Simangambat.
2. Maskut, lahir 19.. di Simangambat.
3. Sabirin, lahir 19.. di Simangambat.
4. Fatimah (pr), lahir 19.. di Simangambat.
5. Nasrun, lahir 19.. di Simangambat.
6. Amirudin, lahir 19.. di Simangambat.
7. Maslina (pr), lahir 19.. di Simangambat.
8. Dahlena (pr), lahir 19.. di Simangambat.
9. Dahtinur (pr), lahir 19.. di Simangambat.
5-3. Saribun Harahap, Ja Kidun, gelar Sutan Martua (19..-19..) dengan istri Tiari boru Pane dari Arse Jae Lombang, kemudian digantikan Sarma boru Nainggolan dari Huta Padang. Ketu-runannya:
1. Yusuf, lahir 19.. di Hanopan.
2. Hasanudin, lahir 19.. di Hanopan.
3. Matnuin, lahir 19.. di Hanopan.
4. Rona (pr), lahir 19.. di Hanopan.
5. Teri, lahir 19.. di Hanopan.
6. Rusli (Cino), lahir 19.. di Hanopan.
7. Arbaia (pr), lahir 19.. di Hanopan.
8. Hanna (pr), lahir 19.. di Hanopan.
9. Enni (pr), lahir 19.. di Hanopan.
10. Ita (pr), lahir 19.. di Hanopan.
11. Rostina (pr), lahir 19.. di Hanopan.
12. Elpinawati (pr), lahir 19.. di Hanopan.
5-4. Saib Harahap, Ja Bolon, gelar Sutan Oloan (19..-19..) dengan istri……, Ompu ni ……, boru Batu Bara dari Napompar, bermukim di Panti. Keturunannya:
1. Tukko, lahir 19.. di Panti.
2. Salima (pr), lahir 19.. di Panti.
3. Zaleha (pr), lahir 19.. di Panti.
4. Sauna (pr), lahir 19.. di Panti.
5. Siti (pr), lahir 19.. di Panti.
5-5. Mala Harahap, menikah dengan Kosim marga Simanungkalit dari Roncitan.
5-6. Tiamas Harahap, menikah dengan Sjarifuddin, marga Simatupang dari Simangambat.
5-7. Tao Harahap, menikah dengan ……, marga Siregar dari Batu Horpak.
5-8. Tihari Harahap, menikah dengan Ja Gunung, marga Batu Bara dari Sipogu.
5-9. Tiaya (Bonur) Harahap, menikah dengan Oloan, marga Siregar dari Bunga Bondar
5-10. Kasania Harahap, menikah dengan Ja Mandaun, marga Pohan dari Hanopan.
5-11. Fatimah Harahap, menikah dengan Sati (Ja Konong), marga Pospos dari Roncitan
7. Cucu Manis Harahap, gelar Baginda Malim Marasyad.
7-1. Lumut Harahap, Mangaraja Parhimpunan (19..-19..) dengan istri Rongguan, boru Pohan dari Parau Sorat. Keturunannya:
1. Takim, lahir 19.. di Hanopan.
2. Marasia, lahir 19.. di Hanopan.
7-2. Tembang Harahap, gelar Sutan Mangalai (19..-19..) dengan istri Romdom, Ompu ni Lia, boru Regar dari Dolok Sinomba. Keturunannya:
1. Mara Indo, lahir 19.. di Hanopan.
2. Tahim, lahir 19.. di Hanopan.
3. Tiran (pr), lahir 19.. di Hanopan.
4. Timaheran (pr), lahir 19.. di Hanopan.
7-3. Bangun Harahap, Mangaraja Naposo (19..-19..) dengan istri Rongguan, boru Pohan dari Parau Sorat, istri abangnya yang sulung telah meninggal. Keturunannya:
1. Hormat, lahir 19.. di Hanopan.
2. Maren, lahir 19.. di Hanopan.
3. Nuro (pr), lahir 19.. di Hanopan.
7-4. Rain Harahap, gelar Mangaraja Bintuju (19..-19..) dengan istri Tiasma, boru Regar dari Bunga Bondar. Istri pertama meninggal tanpa keturunan, kemudian digantikan adiknya. Keturunannya:
1. Nasar, lahir 19.. di Hanopan.
2. Munir, lahir 19.. di Hanopan.
3. Dahler, lahir 19.. di Hanopan.
4. Nursiti (pr), lahir 19.. di Hanopan.
7-5. Borkat Harahap, Ja Mukobul (19..-19..) dengan istri Tiro, boru Sormin dari Jonggol Jae, lalu digantikan Basunu, Ompu ni Pendi, boru Regar dari Batu Horpak, dan Hanum, boru Parde-de dari Sipogoe. Keturunannya:
1. Doriolo (pr), lahir 19.. di Hanopan.
2. Sopian, lahir 19.. di Hanopan.
3. Sour (pr), lahir 19.. di Hanopan.
4. Mara Tohong, lahir 3 September 1941 di Hanopan.
5. Haposan, lahir 19.. di Hanopan.
6. Kotib, lahir 1 Nopember 1956 di Hanopan.
7. Marasat, lahir 19.. di Hanopan.
8. Amru, lahir 19.. di Hanopan.
9. Ati (pr), lahir 19.. di Hanopan.
7-6. Sulaiman Harahap, gelar Ja Oemar (19..-19..) dengan istri Halimah, ompu ni Raya, boru Sormin dari Pagaran Pisang, Arse. Keturunannya:
1. Rosdina (pr), lahir 19.. di Hanopan.
2. Muslimin, lahir 19.. di Hanopan.
3. Mandasin, lahir 19.. di Hanopan.
4. Nurhamima (Mima, pr), lahir 19.. di Hanopan.
5. Siti Rahmah (pr), lahir 19.. di Hanopan.
6. Musla, lahir 19.. di Hanopan.
7. Bahrum, lahir 19.. di Hanopan.
8. Nurida (pr), lahir 19.. di Hanopan.
9. Hairin, lahir 19.. di Hanopan.
7-7. Salasa Harahap, gelar Ja Niarba (19..-19..) dengan istri……., ompu ni……., boru Hasibuan dari Lancat. Keturunannya:
1. Gunung, lahir 19.. di Hanopan.
2……., lahir 19.. di Hanopan.
3…….., lahir 19.. di Hanopan.
4. Mida (pr), lahir 19.. di Hanopan.
7-8. Siti Adin Harahap, menikah dengan Sutan Batumahincat, marga Hasibuan dari Roncitan.
7-9. Montor Harahap, menikah dengan Mara Panusunan, marga Simatupang dari Pagaran Tulason.
7-10. Tialan Harahap, menikah dengan Judin, marga Siregar dari Batu Horpak.
10. Cucu Paian Harahap, gelar Malim Muhammad Nuh.
10-1. Tialas Harahap, menikah dengan Ja Uluan, marga Siregar dari Sampean.
10-2. Hadam Harahap, gelar Lobe Yakin (1902-1962) dengan istri Basani, Ompu ni….., boru Regar dari Huta Padang, putri Guru Dahlan Siregar, lalu digantikan Rombang, Ompu ni Sarimatua, boru Pane dari Aektorop. Keturunannya:
1. Tialima (pr), lahir 19.. di Hanopan.
2. Sangkot, lahir 19.. di Hanopan.
3. Majid, lahir 19.. di Hanopan.
4. Dahum, lahir 19.. di Hanopan.
5. Soleh, lahir 19.. di Hanopan.
10-3. Jalima Harahap, menikah dengan ….., marga Rambe dari Simangambat (Toba).
10-4. Sailan Harahap, menikah dengan Sutan Panusunan, marga Siagian dari Poldung.
10-5. Sobar Harahap, gelar Ja Mantar (1916-1981) dengan istri Limbajung, Ompu ni ….., boru Regar dari Bunga Bondar Sampulu. Keturunannya:
1. Bahuddin, lahir 19.. di Hanopan.
2. Sarpin, lahir 19.. di Hanopan.
3. Asni (pr), lahir 19.. di Hanopan.
4. Efendi, lahir 19.. di Hanopan.
5. Asra (pr), lahir 19.. di Hanopan.
10-6. Mariani Harahap, menikah dengan ….., marga Sinaga dari Padang Bujur.
10-7. Tiona Harahap, menikah dengan Horas, marga Pulungan dari Bunga Bondar.
10-8. Iran Harahap, menikah dengan Kalimangajun, marga Pohan dari Hanopan.
14. Cucu Kenis Harahap, gelar Baginda Pangibulan.
14-1. Ismail Harahap, gelar Ja Lobe (19..-19..) dengan istri Tiren, Ompu ni Alibosar, boru Regar dari Bunga Bondar. Keturunannya:
1. Ima, lahir 1936 di Hanopan.
2. Padusi, lahir 1938 di Hanopan.
3. Gandaera (pr), lahir 1940 di Hanopan.
4. Pinta (pr), lahir 1942 di Hanopan.
5. Oesman, lahir 1946 di Hanopan.
6. Jalil, lahir 1948 di Hanopan.
7. Ahmad Saleh, lahir 1950 di Hanopan.
14-2. Tiamar Harahap menikah dengan……, marga Ritonga dari Sigelgel.
14-3. Moun Harahap menikah dengan Ja Lundu, marga Siagian dari Arse Jae Dolok.
14-4. Jabeda Harahap menikah dengan…, marga Siregar dari Lancat Jae.
15. Cucu Gardok Harahap, gelar Malim Muhammad Rahim.
15-1. Moget Harahap, meninggal muda.
15-2. Togu Harahap, Ja Mangatur, gelar Mangaraja Sianggian (19..-19..) dengan istri…. …, Ompu ni Paraduan, boru Sormin dari Pagaran Pisang. Keturunannya:
1. Lokot, lahir 19.. di Hanopan.
2. Gunet (pr), lahir 19.. di Hanopan.
3. Zureda (pr), lahir 19.. di Hanopan.
4. Mandelina (pr), lahir 19.. di Hanopan.
5. Apul (pr), lahir 19.. di Hanopan.
15-3. Ingan Harahap menikah dengan….., marga Sinambela dari Roncitan.
15-4. Tiabin Harahap menikah dengan….., marga……dari Saba Tolang.
c. Mereka yang berdiam di, atau merantau dari Panggulangan.
11. Cucu Mandasin Harahap, gelar Baginda Khalifah Sulaiman.
11-1. Alaan Harahap, gelar Mangaraja Toga (19..-1959) dengan istri……, Ompu ni ….. boru Pohan dari Parau Sorat. Keturunannya:
1. Simin, lahir 19.. di Panggulangan.
2. Jamod, lahir 19.. di Panggulangan.
11-2. Marasan Harahap, gelar Ja Soriangon (19..-1956) dengan istri….., Ompu ni Hasbul-lah, boru Regar dari Bunga Bondar Sampulu. Keturunannya:
1. Siti Hawan (pr), lahir 19.. di Panggulangan.
2. Musleman (Belau), lahir 19.. di Panggulangan.
3. Maya (pr), lahir 19.. di Panggulangan.
4. Fatimah (pr), lahir 19.. di Panggulangan.
5. Soridima (pr), lahir 19.. di Panggulangan.
6. Anas Mursalim, lahir 19.. di Panggulangan.
7. Nur Asia (pr), lahir 19.. di Panggulangan.
8. Masito (pr), lahir 19.. di Panggulangan.
11-3. Kedom Harahap, gelar Haji Dollah (1904-1980) dengan istri Sitioli, Ompu ni Husin, boru Pohan dari Parau Sorat. Keturunannya:
1. Taris, lahir 19.. di Panggulangan.
2. Daud, lahir 19.. di Panggulangan.
3. Maarif, lahir 19.. di Panggulangan.
4. Abbas, lahir 19.. di Panggulangan.
5. Rukiah (pr), lahir 19.. di Panggulangan.
11-4. Mahir Harahap, gelar Ja Pariaman (1915-1981) dengan istri Suro, Ompu ni Rusli, boru Pohan dari Parau Sorat. Keturunannya:
1. Pangeran, lahir 19.. di Panggulangan.
2. Jalil, lahir 19.. di Panggulangan.
3. Hanizah, lahir 19.. di Panggulangan.
4. Maria (pr), lahir 19.. di Panggulangan.
5. Sarba (pr), lahir 19.. di Panggulangan.
6. Baidah (pr), lahir 19.. di Panggulangan.
11-5. Darajat Harahap, gelar Mangaraja Halongonan (1921-1984) dengan istri ……, Ompu ni Kartini, boru Nasution dari Garoga. Keturunannya:
1. Dasim, lahir 19.. di Panggulangan.
11-6. Nursalam Harahap, menikah dengan Datu Patna, marga Siregar dari Sipirok.
11-7. Tania Harahap, menikah dengan Batari, marga Sitompul dari Padang Padang.
11-8. Mayur Harahap, menikah dengan Ja Tukang, marga Pohan dari Hanopan.
11-9. Nuria Harahap, menikah dengan Ja Paranjulu marga Ritonga dari Paranjulu.
d. Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Siak Sri-Indrapura, Riau daratan.
13. Cucu Pardo (Mara Kamin) Harahap, gelar Baginda Saikum.
13-1. Nempol Harahap, gelar….(19..-1953) dengan istri Zainab, Ompu ni Mirza, boru Siak dari Sri-Indrapura. Awalnya ia Guru Sekolah di Pekan Baru. Pada tahun 1937 ia ditugaskan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengajar di Tiga Binanga, Tanah Karo, dan me-ninggal disana. Dari Tiga Binanga ia pernah berkunjung ke Bunga Bondar untuk men-jenguk kampung ayahandanya. Ia sempar berkenalan dengan H. M. Diri Harahap pejabat Kantor Keuangan di Medan, dan H. Muslim Harahap direktur Bank Dagang Negara di Medan pada ketika itu. Keturunannya:
1. Syamsudin, lahir 19.. di Siak Sri-Indrapura.
2. Rubiah (pr), lahir 19.. di Tiga Binanga.
3. Rukiah (pr), lahir 19.. di Tiga Binanga.
13-2. Abu Bakar Harahap (19..-19..), gelar….., istrinya……..
13-3. Muhammad Soleh Harahap (19..-19..), gelar….., istrinya…….
13-4. Jambul Harahap (19..-19..), gelar……, istrinya………..
13-5……….Harahap (19..-19..), gelar……, istrinya……….
Generasi Duapuluhdua
Amang Tua, Inang Tua, Amang, Inang, Uda, Nanguda, Namboru.
a. Mereka yang tetap tinggal di, atau merantau dari, Bunga Bondar.
4. Cicit Heber Harahap, Sintua Heber, gelar Baginda Maujalo.
4-1. Cucu Melanton Harahap, gelar Mangaraja Ujungpadang.
——————————————————————–
4-1-1. Julianus (Juli) Harahap, gelar Baginda…, (19..-19..) dengan istri Sabin, boru Regar dari Janji Nauli, Sipirok; bermukim di Bunga Bondar. Keturunannya:
1. Masnida (pr), lahir…..19.. di Bunga Bondar.
2. Marulam, lahir…..19.. di Bunga Bondar.
3. Nurlena (pr), lahir…..19.. di Bunga Bondar.
4-1-2. Hadrianus (Ponten) Harahap, gelar Baginda…(19..-19..) dengan istri …, boru Regar dari Bunga Bondar, lalu digantikan …, boru Regar dari Janji Nauli, Sipirok, bermukim di …. Lampung. Keturunannya:
1. Palito, lahir…..19.. di Lampung.
2. Maruli, lahir…..19.. di Lampung.
3. Thomas, lahir…..19.. di Lampung.
4. Tiurma (pr), lahir…..19.. di Lampung.
5. Murtio (pr), lahir…..19.. di Lampung.
6. Adelina (pr), lahir…..19.. di Lampung.
7. Rosita (pr), lahir…..19.. di Lampung.
4-1-3. Beheri Nopan Harahap, gelar Baginda…(19..-19..) dengan istri …, boru Simatupang dari Arse Julu. Ia merantau ke Sumatera Selatan dan tinggal di Lubuk Linggau. Lalu pindah ke Perkebunan Kelapa Sawit Tabapingin, dan akhirnya pulang ke Bunga Bondar. Pekerjaan: Guru Sekolah Rakyat. Keturunannya:
1. Sakti, lahir…..19.. di Tabapingin.
2. Agus, lahir…..19.. di Tabapingin.
3. Todung, lahir…..19.. di Tabapingin.
4-1-4. Siti Merawan Harahap menikah dengan Datuk, marga Batubara dari Napompar.
4-1-5. Sori Gunung Harahap, gelar Baginda…(19..-19..) dengan istri Komsiah, boru Sekayu dari Palembang. Awalnya tinggal di Perabumulih, pindah ke Ambon, Pontianak, Sanggan Ka-puas, akhirnya kembali Bunga Bondar. Pekerjaan: Polisi. Keturunan-nya:
1. Roslini (pr), lahir 1 Nopember 1953 di Ambon.
2. Raya Efendi, lahir 19 April 1958 di Ambon.
3. Bahrum, lahir 18 Mei 1959 di Sanggan Kapuas, Kalbar.
4. Saparudin (Baceker), lahir 23 Juli 1963 di Sanggan Kapuas, Kalbar.
5. Herlina Dwi Kora (pr), lahir 6 Juni 1966 di Sanggan Kapuas, Kalbar.
6. Putra Indra, lahir 25 Juni 1970 di Sanggan Kapuas, Kalbar.
7. Farida Ariani (pr), lahir 27 Oktober 1972 di Sanggan Kapuas, Kalbar.
4-1-6. Nurcahaya Harahap menikah dengan Adelin Panyahatan, marga Siregar dari Bagas
Lombang, Sipirok, tinggal di jalan Tapian Nauli no. 23 Padang Sidempuan.
4-1-7. Jenahara Harahap menikah dengan Sabam, marga Siregar dari Bunga Bondar, dan
menjadi guru sekolah di Jakarta.
6. Cicit Nanga Harahap, Ja Pahang, gelar Baginda Sialang.
6-1. Cucu Malik (Hizkia) Harahap, gelar Sutan Harahap.
—————————————————————
6-1-1. Reman Harahap, gelar Baginda……(19..-19..) dengan istri Marsiti, boru Silalahi dari ……; bermukim di…..Pematang Siantar. Pekerjaan: Guru Sekolah. Keturunannya:
1. Payungan, lahir 19 di Pematang Siantar.
2. Horas, lahir 19 di Pematang Siantar.
6-1-2. Totauli Harahap gelar Baginda Maratua (1922-19..) dengan istri Tinurlela (Ompu ni Neva), boru Regar dari Sibadoar, Sipirok. Pekerjaan: Pegawai BPM (De Bataafsche Pe-troleum Maatschaappij) hingga Pertamina di Plaju sampai pensiun. Terakhir tinggal di Jalan Sutan Syahrir, Gang Melati RT 21, Ladang Baru, Sekodjo, Palembang. Keturu-nannya:
1. Tumbur Mulia, lahir 11 Mei 1944 di Pelaju.
2. Masdah Riveria (pr), lahir 21 Agustus 1947 di Pelaju..
3. Sumurung, lahir …..1949 di Pelaju..
4. Bintan, lahir 1951 di Pelaju..
5. Gomos, lahir 1953 di Pelaju..
6. Januar, lahir 4 Januari 1956 di Pelaju..
7. Sontian, lahir 6 Agustus 1960 di Pelaju..
8. Lediana (pr), lahir 28 Nopember 1964 di Pelaju..
9. Lasmarovita (pr) lahir 16 Mei 1967 di Pelaju.
6-1-3. Hajopan Harahap gelar Baginda…(19..-19..) dengan istri Noung, boru Regar dari Bunga Bondar, lalu digantikan Martha, boru Ritonga dari Pahae, bermukim di Kemayoran, Jakarta. Pekerjaan: Polisi hingga pensiun. Alamat terakhir jalan.SMA 98 no.59 Pasar Re-bo, Jakarta.Tel: 870-2372. Keturunannya:
1. Bambang Posma (Posma), lahir….19.. di Jakarta.
2. Lamlandu Juni Martuani (Landu), lahir….19.. di Jakarta.
3. Patohan Satujuon (Johan), lahir….19.. di Jakarta.
4. Dertin Srikasi (Dertin, pr), lahir….19.. di Jakarta.
6-1-4. Parman Harahap, gelar Baginda……(19..-19..) dengan istri….., boru Regar dari Bunga Bondar, bermukim di jalan Gelas no.51, Medan. Pekerjaannya: Wirausaha. Tidak mem-punyai keturunan.
6-1-5. Hasiholan Harahap, gelar Baginda……(19..-19..) dengan istri ……, boru….dari ., bermukim di Pardagangan. Pekerjaan: Guru Sekolah. Kemudian kembali ke Bunga Bondar. Keturunannya:
1. Flores, lahir….19.. di Pardagangan.
2…….., lahir….19.. di Pardagangan.
3………, lahir….19.. di Pardagangan.
4………, lahir….19.. di Pardagangan.
6-1-6.Sanneria Harahap, menikah dengan Alpinus, marga Simorangkir dari…….
6-1-7.Istana Harahap, menikah dengan Raja Hot, marga Sinaga dari Pematang Siantar.
6-1-8.Mian Harahap, menikah dengan Keman Raja, marga Sinaga dari Pematang Siantar.
6-2. Cucu Binahar Harahap, gelar Ja Bintuju.
————————————————-
6-2-1. Marolop Harahap, gelar Jabulele…(19..-19..) dengan istri……, bermukim di Bunga Bondar. Keturunannya:
1. Hamonangan (Monang), lahir …19.. di Bunga Bondar.
2. Syahrun, lahir …19.. di Bunga Bondar.
3. Ipin, lahir …19.. di Bunga Bondar.
4. Deli (pr), lahir …19.. di Bunga Bondar.
5….., lahir …19.. di Bunga Bondar.
6-2-2. Setto (Maria) Harahap menikah dengan Mauli, marga….dari Sampean.
6-2-3. Mintaria Harahap, menikah dengan ……., marga….dari……(Pematang Siantar).
12. Cicit Kampung Harahap, gelar Haji Tuan Syekh Muhammad Jalil.
12-1. Cucu Yusuf Harahap, gelar Mangaraja Sorialam.
———————————————————–
12-1-1. Siti Angat Harahap, menikah dengan Darus, marga Siregar dari Bunga Bondar.
12-1-2. Bidin Harahap, gelar Dja Panusunan, (19..-19..) dengan istri Aminatu (Ompu ni Amrin), boru Regar dari Bunga Bondar; bermukim di Bunga Bondar. Keturunan-nya:
1. Mahmud, lahir …19.. di Bunga Bondar.
12-1-3. Tirohim Harahap, menikah dengan Mangaraja, marga Siregar dari Sialagundi.
12-1-4. Nurba Harahap, menikah dengan Muhammad Rohim, marga Siregar dari Bondar
Nauli.
12-1-5. Natin Harahap, gelar Baginda…, (19..-19..) dengan istri Cholija (Ompu ni …..), boru Regar dari Bunga Bondar, lalu digantikan……, boru Regar dari Bondar Sampulu; bermukim di Bunga Bondar. Keturunannya:
1. Masdelina (Erjep, pr), lahir …19.. di Bunga Bondar.
2. Sjamsulbakhri, lahir …19.. di Bunga Bondar.
3. Nursani (pr), lahir …19.. di Bunga Bondar.
4. Anadarlina (pr), lahir …19.. di Bunga Bondar.
5. Lensa (pr), lahir …19.. di Bunga Bondar..
6. Carda, lahir …19.. di Bunga Bondar.
7. Ulan, lahir …19.. di Bunga Bondar.
12-1-6. Siti Adin Harahap, menikah dengan ….., marga Siregar dari Batu Horpak.
12-1-7. Sanne Harahap, menikah dengan ………, marga……dari……..
12-1-8. Arbania Harahap, menikah dengan Manongap, marga Siregar dari Hasang.
12-1-9. Nabin Harahap, menikah dengan ….., marga …..dari Aek Botik.
12-1-10. Mija Harahap, menikah dengan ….., marga ……dari Arse Jae Dolok.
12-1-11. Manda Harahap, menikah dengan ….., marga …..dari Simpang Batu Horpak.
12-2. Cucu Tosim Harahap, gelar Mangaraja Hanopan.
———————————————————–
12-2-1. Mara Iman Harahap, gelar Haji Mara Iman (19..-19..) dengan istri…..(Ompu ni….), boru Regar dari Bunga Bondar; bermukim di jalan Sei. Bingei no.52, Medan. Pekerjaan: Direktur BDNI Medan. Keturunannya:
1. Leliwati, lahir …19.. di Medan.
12-2-2. Muslim Harahap, gelar Muslim Djalil (19..-19..) dengan istri Nurmala (Ompu ni Monda)
, boru Regar dari Pargarutan; bermukim di Jalan S. Parman no.302, Medan. Pekerjaan:
Direktur BDNI Sumut di Medan. Keturunannya:
1. Kalsum (pr), lahir …19.. di Medan.
2. Fahrudin, lahir …19.. di Medan.
3. Daman Syahri, lahir …19.. di Medan.
4. Syofian, lahir …19.. di Medan.
5. Bakhrumsyah, lahir …19.. di Medan.
6. Darwati (Tati, pr), lahir …19.. di Medan.
12-2-3. Pangibulan Harahap, gelar Hadji Anwar Pangi (1928.-1991) dengan istri Nursiah (Ompu ni Jepri), boru Regar dari Parandolok, Sipirok; bermukim di Jalan Sei Kuala no. 18, Medan. Keturunannya:
1. Nurul Helviani (pr), lahir 17 Agustus 1957 di Medan.
2. Syaful Indra, lahir 11 Nopember 1958 di Medan.
3. Syahrul Abdi, lahir 8 Nopemberr 1960 di Medan.
4. Nisrul (pr), lahir …1965 di Medan.
5. Mimi (pr), lahir …1966 di Medan.
12-2-4. Rona Harahap, menikah dengan Alben, marga Siregar dari Bunga Bondar.
(keturunannya: 1.pr, 2pr. ,3pr., 4pr. ,5. Ir Asrul Efendi, 6.dr Darwis, 7. drs. Arman
syah, 8.drs Arifin, 9 Ir. Rikin).
b. Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Hanopan.
2. Cicit Sengel Harahap, Haji Tuan Syekh Muhammad Yunus, gelar Baginda Parbalohan.
2-1. Cucu Abdul Hamid Harahap, Tuan Datu Singar, gelar Sutan Hanopan.
————————————————————————————-
2-1-1. Sutor Harahap, gelar Baginda Pandapotan (1896-1969) dengan istri Molun, Ompu ni Iwan (1900-1966), boru Regar dari Bunga Bondar; berdiam di Jalan Permiri no.500, Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Pendidikan: tammat Sekolah Gouverne-ment di Sipirok tahun 1913; tammat Kwekeling (Kursus Guru Sekolah Melayu) tahun 1915, tammat Hulp-onderwijzer (Guru Sekolah Melayu) tahun 1917, menyelesaikan Klein-Ambtenaar-sexamen (Ujian Pegawai Kecil) tahun 1929, seluruhnya berlangsung di Kota Raja (Banda Aceh). Pekerjaan: 1914 Guru Volksschool (Sekolah Rakyat) di Kaloee-Tamiang, Aceh Timur. Tahun 1918 pekerjaan sama, tetapi dipindahkan ke Blang-Poelo, Lhok-Seumawe, Aceh Utara, dan tahun 1922 mengepalai Volksschool. Tahun 1928 pindah menjadi Beambte bij het Landpandhuiszen (Pegawai Balai Pegadaian Tanah) di Kuala Simpang, dilanjutkan Pandhuis di Kota Raja.
Sejak tahun 1930 menjadi Beambte bij het BPM (De Bataafsche Petroleum Maats-chaappij) di Pangkalan Brandan, tinggal di Alur Gantung dekat Lapangan Bola. Pada tahun 1933 dipindahkan ke Plaju, dan ditempatkan di sejumlah Lapangan pengeboran Minyak, dan terakhir di Talang Jimar, Perabumulih. Setelah Belanda me-nyerah tahun 1942 dan Jepang masuk, bertugas di Asano-Butai, Perusahaan Minyak Japang di Kilang Mangunjaya. Setelah Jepang bertekuk lutut tahun 1945 pindah ke PERMIRI (Perusahaan Minyak Republik Indonesia) ditempat yang sama, sekaligus menjadi ketua penyantun Sekolah Rakyat Ladang Minyak tersebut. Memasuki kemerdekaan, sejak tahun 1950, menjadi Guru sekolah Rakyat no.1 di Lubuk Linggau dan mengepalai sekolah itu hingga pensiun. Kemudian tahun 1962 menjadi kepala Sekolah Rakyat Yayasan Pendidikan Nasional Lubuk Linggau hingga akhir hayatnya. Keturunannya:
1. Amir Hamzah, lahir 12 Nopember 1919 di Lhok-Seumawe, jam 06.00.
2. Sangkot Syarif Ali Tua,. lahir 12 Juni 1923 di Lhok-Seumawe jam 06.00-
07.00.
3. Marasuddin, lahir 12 Nopember 1925 di Paya Rabo, menjelang lohor.
4. Sangkot Hamid, lahir 31 Juli 1927 di Lhok-Seumawe, jam 22.00.
5. Sangkot Anwar Bey Effendy, lahir 27 Maret 1930 di Pangkalan Brandan.
6. Muhammad Arifin, lahir 23 Februari 1933 di Pangkalan Brandan.
7. Abdul Rasyid/Muhammad Rusli, lahir 7 Nopember 1936 di Sungai Lilin,
Palembang. Penyusun tarombo Marga Harahap dari Hanopan ini.
8. Fatimah (Siti Fatimah Marsari, pr), lahir 21 Nopember 1938 di Talang
Jimar, Palembang.
2-1-2. Maujalo Harahap, gelar Haji Baginda Soripada Paruhum (1901-1983) dengan istri Hajjah Siti Maddiah (1910-1969), Ompu ni Ida, boru Pulungan dari Aek Badak, Mandailing, bermukim Medan. Kemudian digantikan Hajjah Salohot, boru Regar dari Kampung Satia, Sipirok Setelah pensiun kembali ke Hanopan. Pendidikan: Sekolah Gouvernement di Sipirok. Pekerjaan: DSM (Deli Spoorweg Maatschappij, atau Perusahaan Keretaapi Deli) di zaman Penjajahan Belanda di Medan. Setelah kemerdekaan, bekerja di Kantor Bupati Padang Sidempuan. Keturunannya
1. Siti Ramalan (pr), lahir 1922 di Medan.
2. Sanusi, lahir 1924 di Medan.
3. Sahala (pr), lahir 1926 di Medan.
4. Muhammad Ali, lahir 1928 di Medan.
5. Syarifah (pr), lahir 1930 di Medan.
6. Luthfi, lahir 1932 di Medan.
7. Pangaduan Muda, lahir 1935 di Medan.
8. Mohammad Nasief/Muhammad Nasir, lahir………1936 di Medan.
9. Trimurti (pr), lahir……….1946 di Medan.
10. Indra Caya, lahir 6 Desember 1948 di Medan.
11. Zulkarnain, lahir 27 Agustus 1970 di Hanopan.
2-1-3. Siti Angur Harahap (1905-1975), menikah dengan Binanga, marga Pane dari Arse Jae; kemudian Manap, marga Siregar dari Sipirok; terakhir Zainuddin, marga Simatupang dari Pagaran Tulason.
2-1-4. Dumasari Harahap (1908-1945), menikah dengan Bunbunan, marga Simatupang dari Lumban Lobu.
2-1-5. Pelinuruddin Harahap, gelar Haji Muhammad Nurdin (1909-1983) dengan istri Intan Darilah (Ompu ni Erik), boru Tanjung dari Sibolga; berdiam di Jalan Santeong, Gang Cempaka no.9B, Sibolga. Pendidikan: Ikut naik haji dengan kakek ke Mekah dan Ma-dinah bulan Desember 1927 dan belajar agama Islam disana. Pekerjaan: Pegawai Kantor Agama di Sibolga. Keturunannya:
1. Alamsyah Budin, lahir 12 Januari 1935 di Sibolga.
2. Basri, lahir ……1937 di Sibolga.
3. Zubaidah (pr) , lahir 20 April 1939 di Sibolga.
4. Ustan, lahir……1940 di Sibolga.
5. Kartini (pr) , lahir……1942 di Sibolga.
6. Kardinah (pr) , lahir ……1945 di Sibolga.
7. Tobotan, lahir……..1947 di Sibolga.
8. Lahuddin, lahir 7 Agustus 1949 di Hanopan.
9. Muhiddin, lahir 16 April 1950 di Hanopan.
10. Halimatussakdiah (pr), lahir 16 April1952 di Sibolga.
11. Nursaidah (pr), lahir …..1954 di Sibolga.
12. Muhammad Sukri, lahir ……1956 di Sibolga.
13. Abdul Halim, lahir ……1958 di Sibolga.
2-1-6. Aminah Harahap, meninggal gadis.
2-1-7. Sorimuda (Hisar) Harahap, gelar Baginda Aek Hopur/Baginda Harahap (1913-1989) dengan istri Hamis, boru Tambunan dari Arse Jae Dolok, kemudian digantikan Tiani, boru Regar dari Ujung Padang; tinggal di Hanopan. Keturunannya:
1. Matumona (pr), lahir……19.. di ……..
2. Deliana (pr), lahir ……19.. di Hanopan.
2-1-8. Haji Muhammad Diri Harahap S.H, gelar Baginda Raja Mulia Pinayungan (1915-2000) dengan istri Hj. Sari Intan, boru Pane dari Arse Julu; lalu digantikan Nila Kesuma, adik kandung boru Pane, berdiam di Jalan Hang Tuah VIII/8, Kebayoran Baru. Pendidikan: UI-Ext. Pekerjaan: Wedana NRI di Sipirok, Kepala Kantor Keu-angan Medan, Residen KDK Hollandia (Irian Barat), Gubernur Muda d/p Gubernur KDK Ibukota Jakarta. Keturunannya:
1. Dirwan Yuliansyah (Iwan), lahir 31 Juli 1955 di Medan.
2. Dirwani Elvy Yuswita (Evi, pr), lahir 16 April 1957 di Medan.
3. Magnora Khaerina (Rina, pr), lahir 18 Juli 1959 di Kebayoran Baru.
2-1-9. Muhammad Harahap meninggal muda.
2-1-10. Hj. Erjep Masteri Khairani Harahap (1920-1992), menikah dengan Amirullah, marga Pulungan dari Sumuran, Sipirok.
2-1-11. Haji Marajali Harahap BRE, gelar Baginda Guru Sodoengdangon (1922-2001) dengan istri Irma, boru Regar dari Bagas Godang Sipirok; lalu digantikan Hj. dra. Derhana, boru Regar dari Baringin, Sipirok iboto Prof. Bismar Siregar S.H; berdiam di jalan Danau Marsabut no.2, Sambu Baru, Medan. Pendidikan: Opzichter dari Wihelmina School di Batavia masih di zaman Belanda, lalu melanjutkan ke Akademi PU Bandung mencapai Bachelor of Road Engineering (BRE). Pekerjaan: Kepala Kantor P.U. Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara di Padang Sidempuan. Keturunannya:
1. Darwisyah (pr), lahir 23 Juni 1945 di Medan.
2. Erwina (pr), lahir 2 Juni 1947 di Medan.
3. Irsan, lahir 8 Juli 1950 di Medan.
4. Ahmad Daulat Nabonggal, lahir ……19.. di Medan.
2-1-12. Haji Dr. Pamusuk Harahap, gelar Baginda Namora Pusuk ni Hayu (1925-1981) dengan istri Hj. Yusna Wagiman, boru Purworjo dari Jawa Tengah, berdiam di Jalan Setujuh no.2, Padang. Pendidikan: FK-USU dan FK-UNAN. Pekerjaan: Staf Pengajar FK-UNAN dan Kepala RSJ Gadut Padang.
Alamat terakhir: jalan Adinegoro no.22 B, Tabing, Padang.Tel: (…) -59003. Me-nunaikan ibadah Haji ke Tanah Suci: Mekah dan Madinah, menemani ibotonya Masteri Khairani pada tahun 1981, dan meninggal dalam perjalanan pulang dari Padang Arafah menuju pemondokan Haji di Mekah. Keturunannya:
1. Prita (pr), lahir 26 Januari 1964 di Padang.
2. Rina (pr), lahir 25 Mei 1965 di Padang.
3. Wirsma Arif (Uncok), lahir 21 Oktober 1966 di Padang.
4. Bourdon Saleh (Dedeh), lahir 17 Januari 1971 di Padang.
2-2. Cucu Kasim Harahap, gelar Tongku Mangaraja Elias Hamonangan.
———————————————————————————
2-2-1. Surto Meta Khristina (Tabiran) Harahap (19..-19..), menikah dengan Johan, marga Siregar dari Lancat Jae.
2-2-2. Dagar Na Lan (Dagar) Harahap (19..-19..), menikah dengan Sutan Kalirajo, marga Siregar dari Bunga Bondar.
2-2-3. Dimpu Harahap, gelar Baginda Aek Sanggar/Baginda Parbalohan Naposo (19..-1992) dengan istri Surtani, boru Regar dari Bunga Bondar, berdiam di Jl. Pinang IV/80 RT/ RW 13/02, Pondok. Labu, Jakarta. Pekerjaan: Pegawai PJKA di: Padang, Lahat, dan Ban-dung. Keturunannya:

1. Maria Khristina (Todas, pr), lahir 13 Maret 1931 di Padang.
2. Puji Makhdalena (Puji, pr), lahir 10 Maret 1934 di Padang.
3. Elizabeth Tiagar (Else, pr), lahir ….19.. di Padang.
4. Grace Nabasa (Grace, pr), lahir 30 Nopember 1937 di Padang.
5. Hanopan, lahir 10 Oktober 1939 di Padang.
6. Pandapotan (Panda), lahir 29 September 1943 di Lahat.
7. Torkis (pr), lahir ….19.. di Lahat.
8. Liman, lahir 22 Nopember 1948 di Padang.
9. Gazali (Rizal), lahir 22 Desember 1950 di Padang.
10. Soriduma (pr), lahir ….19.. di Bandung.
2-2-4. Menmen Harahap (19..-19..), menikah dengan Sutan Barumun Muda, marga Siregar dari Sibadoar, Sipirok.
2-2-5. Siti Dinar Harahap (19..-19..), menikah dengan Paian, marga Siregar dari Huta Raja, Baringin, Sipirok.
2-2-6. Partaonan Harahap, gelar Baginda Soripada Partaonan (BSP,1916-2001) dengan istri Mas-tura, boru Regar dari Bunga Bondar, lalu digantikan Nurbaiti Saleh, boru Caniago dari Maninjau Sumatera Barat; berdiam di jalan Mesjid Raya Baru no.14 Padang Sidempuan. Pendidikan: HIK, dan Sekolah Polisi. Pekerjaan: Komisaris Polisi di Medan. Keturunan-nya:
1. Asmaran, lahir 31 Desember 1941 di …..
2. Ida Hatni (pr) , lahir 20 April 1942 19.. di …..
3. Dona Rosaktina (pr) , lahir ….1943 di …..
4. Maharani Dohariana (pr) , lahir 21 April 1945 19.. di …..
5. Dewi Sri Hasiholan (pr) , lahir….1947 di …..
6. Dana Guswin, lahir ….1951 di …..
7. Edi Hanopan, lahir ….1955 di …..
8. Meutia Elfina (pr), lahir ….1956 di …..
9. Melfa Diana (pr), lahir ….1957 di …..
10. Rita Daminar (pr), lahir ….1959 di …..
11. Umar Dhani, lahir 12 Mei 1962 di Padang Sidempuan.
2-2-7. Hakim Harahap, meninggal muda di Palembang.
2-2-8. Posma Harahap, meninggal kecil di Hanopan.
2-2-9. Krisna Murti Harahap, meninggal kecil di Hanopan.
2-2-10. Bagon Harahap, gelar Baginda Hanopan (1922-1992) dengan istri Mutia, boru Regar dari Bunga Bondar, digantikan Kartini, boru Regar dari Bunga Bondar lalu Delima, boru Regar dari Marancar; berdiam di Jl. Fatmawati 45-B, Jakarta 12430. Pendidikan: MULO hingga kelas II, Sekolah Jepang. Dalam Perang Dai Toa Senso 1942-1945, mengikuti Kingrohosotai (Kerja Gotong-royong) di Petain tidak jauh dari Pekan Baru. Selanjutnya melola C.V Putra Muda (Pemborong), dan Anggota Legium Veteran dari Jakarta Se-latan. Keturunannya:
1. Syahrin, lahir 22 Juli 19.. di …..
2. Hapastian (Pasti), lahir 22 Nopember 19.. di …..
3. Nurcahaya (pr), lahir 12 Juli 1955 di …..
4. Bonggal, lahir 4 April 1957 di …..
5. Tetty (pr), lahir 15 Januari 1958 di …..
6. Martha (pr), lahir 12 Maret 1961 di …..
7. Ranto Cari (Ranto), lahir 9 September 1963 di …..
8. Diparbasa Tua (Basa), lahir 22 Nopember 1964 di …..
9. Yunita (pr), lahir 14 Januari 1966 di …..
10. Mei Abeto (Abeto), lahir Mei 1970 di …..
2-2-11. Syamsu Harahap (Bachtiar Harahap S.H) (1924-2010), gelar Baginda Hasayangan de-
ngan Istri Hariana, boru Regar dari Baringin, berdiam di Jl.Adyaksa IV/1 Lebak Bulus
Pendidikan: Universitas Indonesia Jakarta lulus dengan gelar Mr (Meester in de Rechte)
Pekerjaann: Kejaksaan R.I. Jakarta. Tidak mempunyai keturunan.

2-2-12. Toga Mulia Harahap, gelar Baginda Mulia (1928-2002) dengan istri Basaniah, boru Ritonga, putri Sutan Jundjungan dari Simangambat, berdiam di jalan Pengayoman no.7, Jakarta 12410. Pendidikan: smHK dari Univ. 17 Agustus. Jakarta. Pekerjaan: Wirau-saha Keturunannya:
1. Amru Bakhrum Paranginan (Amru), lahir 11 Maret 1955 di Jakarta.
2. Halomoan (Lomo), lahir 19 Januari 1957 di Jakarta.
3. Welly Hasiholan (Welly), lahir 2 September 1959 di Jakarta.
4. Meitiawati (pr), lahir 19 Mei 1962 di Jakarta.
2-2-13. Mastiurma Harahap, menikah dengan Parlindungan, marga Marpaung dari Galanggang Sipirok.
2-3. Cucu Rahmat Harahap, Haji Abdullah Oemar, gelar Sutan Nabonggal.
—————————————————————————————-
2-3-1. Sahat Harahap, gelar Baginda Marahasyim (19..-19..) dengan istri Sitiangat, boru Regar dari Bunga Bondar; bermukim di Pematang Siantar. Pendidikan: Sekolah Guru. Peker-jaan: Guru HIS di Lumban Lobu. Tidak mempunyai keturunan.
2-3-2. Hajjah Utir Harahap (19..-19..), menikah dengan Alitua, marga Siregar dari Parsorminan.
2-3-3. Marip Harahap, gelar Baginda Parbalohan/Baginda Panusunan (1917-1975) dengan istri Hj. Nursyawal, boru Hutasuhut dari Sipirok; bermukim di Medan. Pekerjaan: ADM PTP IX Sumatera Utara. Alamat terakhir jalan Ompu Gende no.44 Huta Suhut, Sipirok. Ke-turunannya:
1. Abdullah Umar, lahir ….19.. di …..
2-3-4. Hajjah Sahada Harahap (19..-19..), menikah dengan Abbas, marga Pospos (Hasi-buan) dari Huta Padang.
2-3-5. Hajjah Malige Harahap (19..-19..), menikah dengan Aladdin, marga Nasution dari Pa-dang-padang.
2-3-6. Haji Zainuddin Harahap, gelar Baginda Parguletan/Baginda Pardomuan (1926-1990) dengan istri Moun, boru Regar dari Padang Bujur, bermukim di Jakarta. Pekerjaan: Wirausaha. Keturunannya:
1. Sri Ulettina Dohar ni Mouza Harahap (Tina, pr) , lahir ….19.. di Jakarta.
2. Sri Rejeki Rahmawati Harahap (Jeki, pr) , lahir ….19.. di Jakarta.
2-3-7. Hajjah Siti Aisyah Harahap (19..-19..), menikah dengan Daulat, marga Hasibuan dari Roncitan.
3. Cicit Sogi Harahap, gelar Baginda Soripada.
3-1. Cucu Mamin Harahap, gelar Mangaraja Alaan.
———————————————————
3-1-1. Tua Harahap, meninggal muda di Hanopan.
3-1-2. Roup Harahap, gelar Baginda Paraduan (19..-19..) dengan istri Tinur, boru Siagian dari Bunga Bondar, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Pangeran, lahir ….19.. di …..
2. Parlindungan, lahir ….19.. di …..
3. Parsaulian, lahir ….19.. di …..
4. Parlaungan, lahir ….19.. di …..
5. Dewani (pr), lahir ….19.. di ……
6. Sulhana (pr), lahir ….19.. di ……
3-1-3. Burhanuddin Harahap, gelar Baginda Soaduon (19..-19..) dengan istri Nuraini, boru Pane dari Jonggol Jae, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Nagan, lahir ….19.. di Hanopan.
2. Rahman, lahir ….19.. di Hanopan.
3. Holija (pr), lahir ….19.. di Hanopan.
4. Siti Angur (pr), lahir ….19.. di Hanopan.
5. Nurhalima (pr), lahir ….19.. di Hanopan.
6. Ummi (pr), lahir ….19.. di Hanopan.
7. Sari Banun (pr), lahir ….19.. di Hanopan.
3-1-4. Gonjong Harahap, menikah dengan Amir, marga Pane dari Arse Jae Lombang.
3-1-5. Tiayur Harahap, menikah dengan yusdi, marga Siagian dari Lancat Jae.
3-1- 6. Anna Harahap, menikah dengan Sahat, marga Pohan dari Hanopan.
3-2. Cucu Maju Harahap, gelar Mangaraja Riapan.
——————————————————–
3-2-1. Jotur Harahap, menikah dengan Mara Uhum, marga Pospos dari Roncitan.
3-2-3. Tinur Harahap, menikah dengan Horas, marga Ritonga dari Roncitan.
3-2- 4. Napsiah Harahap, menikah dengan Majid, marga Pohan dari Sipogu.
3-2-5. Siti Rahmah Harahap, menikah dengan Tuten, marga Hasibuan dari Roncitan.
3-2-6. Timahasa Harahap, menikah dengan Dolla, marga Batubara dari Huta Padang.
3-2-7. Fatimah Harahap, menikah dengan ….., marga ….dari Attur Mangan.
3-2-8. Minta Harahap, menikah dengan ….., marga ….dari Bunga Bondar.
3-3. Cucu Baitan Harahap, gelar Mangaraja Parlaungan.
—————————————————————
3-3-1. Lolotan Harahap, gelar Baginda ….(19..-19..) dengan istri Sonang, boru Regar dari Bunga Bondar, lalu digantikan Sariat, boru Sitompul dari Simaninggir, berdiam di Hanopan. Keturunnannya:
1. Nuraini (pr), lahir ..19.. di Hanopan.
2……., lahir ..19.. di Hanopan.
3-3-2. Aminuddin Harahap, gelar Baginda ……(19..-19..) dengan istri Jawani, boru Ritonga dari Padang Mandailing, bermukim di Sosa. Keturunannya:
1. Dalian, lahir ..19.. di Sosa.
2. Ridoan, lahir ..19.. di Sosa.
3-3-3. Ridoan Harahap, gelar Baginda ….……(19..-19..) dengan istri…, boru Nasution dari Aek Horsik, bermukim di Rantau Prapat. Keturunannya:
1….., lahir ..19.. di Rantau Prapat
2……, lahir ..19.. di Rantau Prapat.
3-3-4. Gomuk Harahap, gelar Baginda …..……(19..-19..) dengan istri…, boru Sitompul dari Simaninggir, bermukim di Hanopan. Keturunanya:
1. Kipli, lahir ..19.. di Hanopan.
2……., lahir ..19.. di Hanopan.
3-3-5. Tiamsa Harahap, menikah dengan Firman, marga Siregar dari Padang Mandailing, Sipogu.
3-3-6. Ngolu Harahap, menikah dengan Nurin, marga Pakpahan dari Lumban Lobu.
3-4. Cucu Tobat Harahap, gelar Mangaradja Paranginan.
—————————————————————
3-4-1. Lajim Harahap, gelar Baginda Raja……(19..-19..) dengan istri Samaria, boru Regar dari Bunga Bondar, lalu digantikan Dasima, boru Regar, juga dari Bunga Bon-dar bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Roslina (pr), lahir ..19.. di Hanopan.
2. Rodoan, lahir ..19.. di Hanopan.
3. Salim, lahir ..19.. di Hanopan.
4. Asroida (pr), lahir ..19.. di Hanopan.
5. Mohammad Amin, lahir ..19.. di Hanopan.
6. Hapso (pr), lahir ..19.. di Hanopan..
7. Saidun, lahir ..19.. di Hanopan.
8. Bosur, lahir ..19.. di Hanopan.
9. Nurlan, lahir ..19.. di Hanopan.
10. Bokya, lahir ..19.. di Hanopan.
3-4-2. Karani Harahap, gelar Batara’i, (19..-19..) dengan istri Ruhut, boru Hasibuan dari Huta Padang, bermukim di Hanopan: Keturunannya:
1. Nawi, lahir ..19.. di Hanopan.
2. Annawati (pr), lahir ..19.. di Hanopan.
3. Rahmawati (pr), lahir ..19.. di Hanopan.
4. Ida Juwita (pr), lahir ..19.. di Hanopan.
5. Nur Masnah (pr), lahir ..19.. di Hanopan.
3-4-3. Rama Harahap, menikah dengan ….., marga Siregar dari Batu Horpak.
3-4-4. Ronda Harahap, menikah dengan ……, marga Ritonga dari Jonggol Julu.
3-4-5. Lenggana Harahap, menikah dengan Manap, marga Siregar dari Padang Mandailing.
3-4-6. Mawar Harahap, menikah dengan Maksum, marga Siregar dari Simangambat.
3-5. Cucu Kombang Harahap, gelar Malim Muhammad Arif.
———————————————————————
3-5-1. Junid Harahap, Haji Muhammad Junid, gelar Baginda …..(19..-19..) dengan istri Tapi, boru Regar dari Batu Horpak, bermukim di Medan. Keturunannya:
1. Matarip, lahir…..19 di Medan.
2. Bahrum, lahir…..19 di Medan.
3. Irsad, lahir…..19 di Medan.
4. Syahban, lahir…..19 di Medan.
5. Zul, lahir…..19 di Medan.
6. ……, lahir…..19 di Medan.
7. Rosma (pr), lahir…..19 di Medan.
8. Tina (pr), lahir…..19 di Medan.
9. Netti (pr), lahir…..19 di Medan.
3-5-2. Tirilan Harahap, menikah dengan Ja Ibana, marga Panjaitan dari Pagaran Pisang
Arba.
3-5-3. Syahrir Harahap, gelar Baginda Muda (19..-19..) dengan istri Nur Jannah, boru Pohan dari Ujung Padang, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Habonaran, lahir…..19.. di Hanopan.
2. Hamonangan, lahir…..19.. di Hanopan.
3. Ardin, lahir…..19.. di Hanopan.
4. Rifai, lahir…..19.. di Hanopan.
5. Rolan, lahir…..19.. di Hanopan.
6. Berli, lahir…..19.. di Hanopan.
7. Nuraini, lahir…..19.. di Hanopan.
3-5-4. Matnusin Harahap (Juma’at Harahap), gelar Baginda …..(19..-2004) istri Dahlena, boru Regar dari Paran Padang, lalu digantikan Sri Hardatin, boru Klaten, dari Jawa Tengah, bermukim di jalan Gusti Johan Idrus no.10, Pontianak. Kini keluarga berdiam di jalan Husen Hamzah, komplex Mitra Utama 2 Blok D 15 Pontianak. Penddikan: Sekolah Guru. Pekerjaan: Direktur SMA Negeri Pontianak. Keturunannya:
1. Harmaulina (pr), lahir 31 Juni 1968 di Pontianak.
2. Hartina (pr), lahir 21 April 1970 di Pontianak.
3. Harif Syahbudin, lahir 9 Desember 1971 di Pontianak.
4. Harpandi Agusnardi, lahir 7 Agustus 1973 di Pontianak.
5. Harry Effendi, lahir 19 Mei 1977 di Pontianak.
6. Harmeijn Maryadi, lahir 13 Maret 1979 di Pontianak.
7. Arif Widiansyah, lahir di Pontianak.

3-5-5. Mustamin Harahap, gelar Baginda Pariaman (19..-19..) dengan istri Rosliana, boru Simamora dari Dolok Sinomba, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Hirawati (pr), lahir 27 Juli1967 di Hanopan.
2. Asnan Sandy , lahir 6 April 1969 di Hanopan.
3. Juniar Herlita (pr), lahir 23 Juni 1971 di Hanopan.
4. Linda Nirwana (pr), lahir 17 Nopember 1973 di Hanopan.
5. Rostanida (pr) lahir 23 April 1976 di Hanopan.
3-5-6. Dalipa Harahap, menikah dengan Sinali, marga …dari Padang Sidempuan.
3-5-7. Mariam Harahap, menikah dengan Si Gumanda, marga Hasibuan dari Simanosor.
3-5-8. Jaleha Harahap, menikah dengan Arifin, marga Pane dari Arse Jae Dolok.
3-6. Cucu Adun Harahap, gelar Ja Hatunggal.
————————————————–
3-6-1. Pantis Harahap, gelar Baginda …..(19..-19..) dengan istri Ia boru Rantau Prapat, dari Su-matera Timur, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Hamonangan, lahir…..19.. di Hanopan.
2.
2. Ruslan, lahir…..19.. di Hanopan.
3. Amril, lahir…..19.. di Hanopan.
4. Makmun, lahir…..19.. di Hanopan.
5. Rosinar (pr), lahir…..19.. di Hanopan.
6. Juria (pr), lahir…..19.. di Hanopan.
7. Rohma (pr), lahir…..19.. di Hanopan.
3-6-2. Uddin Harahap, gelar Baginda …..(19..-19..) dengan istri Hatiran boru…dari…., ber-mukim di Kota Pinang, Rantau Prapat. Keturunannya:
1….. , lahir…..19.. di Kota Pinang.
2……, lahir…..19.. di Kota Pinang.
3……., lahir…..19.. di Kota Pinang.
3-6-3. Pande Harahap, gelar Baginda …..(19..-19..) dengan istri…, boru…..dari…., bermukim di Ramba Bidang, Gunung Slamat, Kota Pinang, Rantau Prapat. Keturunannya:
1……., lahir…..19.. di Kota Pinang.
2……., lahir…..19.. di Kota Pinang.
3……., lahir…..19.. di Kota Pinang.
4…….., lahir…..19.. di Kota Pinang.
5…….., lahir…..19.. di Kota Pinang.
3-6-4. Eras Harahap, gelar Baginda …..(19..-19..) dengan istri…, boru…..dari ….., berdiam di Cilandak, Jakarta. Keturunannya:
1. Ronda, lahir…..19.. di Jakarta.
2………, lahir…..19.. di Jakarta.
3………, lahir…..19.. di Jakarta.
4………, lahir…..19.. di Jakarta.
5………, lahir…..19.. di Jakarta.
3-6-5. Janiba Harahap, menikah dengan Bangkit, marga Babiat dari Dolok Sinomba.
3-6-6. Nurhaida Harahap, menikah dengan Toguan, marga Pohan dari Tanjung Lama.
3-6-7. Maralan Harahap, menikah dengan Panusunan, marga Simatupang dari Pagaran Tulason.
3-6-8. Rontana Harahap, menikah dengan ….., marga Sitompul dari Padang Padang, Simaning-gir.
3-6-9. Dekman Harahap, gelar Baginda …..(19..-19..) dengan istri Aisyah, boru Regar dari Sipirok, berdiam di Palembang. Keturunannya:
1……., lahir…..19.. di Palembang.
2……., lahir…..19.. di Palembang.
3-6-10. Dima Harahap, menikah dengan Al Napia, marga Dalimunthe dari Poldung.
3-7. Cucu Ratus Harahap, gelar Ja Pangaribuan.
—————————————————–
3-7-1. Teler Harahap, gelar Baginda …..(19..-19..), dengan istri …., boru Rantau Prapat, dari Sumatera Timur, bermukim di Labuhan Bilik. Keturunannya:
1……. , lahir…..19.. di Labuhan Bilik.
2…….., lahir…..19.. di Labuhan Bilik.
3-7-2. Maraganti Harahap, gelar Baginda Habiaran (19..-19..) dengan istri Lamro, boru Hasibuan dari Lancat Jae, berdiam di Hanopan. Keturunannya:
1. Johny, lahir…..1965 di Hanopan.
2. Loberto, lahir…..1970 di Hanopan..
3. Anaria (pr), lahir…..1971 di Hanopan..
4. Sepnauli, lahir…..19.. di Hanopan.
5. Timbul Hamonangan, lahir…..19.. di Hanopan.
6. Masdinar (pr), lahir…..19.. di Hanopan.
3-7-3. Morai Harahap, gelar Baginda Sojuangon (19..-19..) dengan istri Tiaisyah, boru Babiat dari Tanjung Barat, lalu digantikan Minar, kakak kandungnya, berdiam di Hanopan. Ke-turunannya:
1. Masdalena (pr), lahir…..19.. di Hanopan.
2. Elias, lahir…..1970 di Hanopan.
3. Pandapotan, lahir…..1972 di Hanopan.
4. Marlina, lahir…..1974 di Hanopan.
5. Muhammad Ali, lahir…..1978 di Hanopan.
6. Muhammad Alpian, lahir…..1980 di Hanopan.
3-7-4. Maya Harahap, menikah dengan Pangeran, marga Simatupang dari Pagaran Tulason.
3-7-5. Sorum Harahap, menikah dengan Pagang, marga Pane dari Sampean.
3-7-6. Beiti Harahap, menikah dengan Labuan, marga Siregar dari Huta Padang.
3-7-7. Dorkas Harahap, menikah dengan Panindaan, marga Rambe dari Huta Dolok.
3-9. Cucu Adong Harahap, Ja Balau, gelar Sutan Sonanggaron, Tongku Mangaraja Hanopan Naposo.
————————————————————————————————————–
3-9-1. Ginda Harahap, gelar Baginda…..(19..-19..) dengan istri Syamsinar, boru Tembilahan dari Riau, bermukim di Tembilahan. Keturunannya:
1. Indrawan, lahir…..19.. di Tembilahan.
2. Edwardsyah, lahir…..19.. di Tembilahan.
3. Elpaguoes Hendri, lahir…..19.. di Tembilahan.
4. Yoelianti (pr), lahir…..19.. di Tembilahan.
5. Maulana, lahir…..19.. di Tembilahan.
6. Parlindoengan, lahir…..19.. di Tembilahan.
7. Dadang, lahir…..19.. di Tembilahan.
3-9-2. Syamsi Harahap, gelar Baginda ……(19..-19..) dengan istri Lamro, boru ….dari….., bermukim di Jakarta. Keturunannya:
1……., lahir…..19.. di Jakarta.
2……., lahir…..19.. di Jakarta.
3-9-3. Ichwan Harahap, gelar Baginda…..(19..-19..) dengan istri Doharni, boru Hutapea dari Lancat Julu, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Faisal, lahir…..19.. di Hanopan.
2. Paima, lahir…..19.. di Hanopan.
3. Pahron, lahir…..19.. di Hanopan.
3-9-4. Safaruddin Harahap, gelar….(19..-19..) dengan istri…., boru……dari….., bermukim di Pontianak. Keturunannya:
1. Nurulhuda (pr), lahir…..19.. di Pontianak.
2.
3-9-5. Nurmaia (Maia) Harahap, menikah dengan Rame, marga Siregar dari Baringin.
3-10. Cucu Jabal Harahap, gelar Mangaradja Bukit Sidua-dua.
——————————————————————–
3-10-1. Nurhayani Harahap, menikah dengan Kosim, warga dari Rantau Prapat.
3-10-2. Nukman Harahap, gelar….….(19..-19..) dengan istri…., boru……dari….., bermukim di…..Keturunannya:
1……, lahir…..19.. di …….
3-10-3. Jawani Harahap, menikah dengan …….., marga …..dari…..
3-10-4. Masna Harahap, menikah dengan ……, marga……dari……..
3-10-5. Sjarifudin Harahap, gelar….….(19..-19..) dengan istri…., boru……dari….., bermukim di…..Keturunannya:
1……, lahir…..19.. di ……
3-10-6. Sampe Harahap, gelar….….(19..-19..) dengan istri…., boru……dari….., bermukim di…..Keturunannya:
1……., lahir…..19.. di……..
3-10-7. Mara Ponu Harahap, gelar….….(19..-19..) dengan istri…., boru……dari….., bermukim
di….. Keturunannya:
1…….., lahir…..19.. di………
3-10-8. Zainab Harahap, menikah dengan….., marga Siregar dari ……
3-10-9. Rohima Harahap, menikah dengan ……, marga…..dari……
5. Cicit Lilin (Sutor) Harahap, gelar Baginda Malim Muhammad Arif.
5-1. Cucu Morgu Harahap, gelar Mangaraja Guna.
——————————————————–
5-1-1. Jalil Harahap, gelar….….(19..-19..) dengan istri…., boru Regar dari Huta Padang, ber-diam di Panti, Sumatera Barat….. Keturunannya:
1. …….., lahir…..19.. di Panti.
5-1-2. Pada Harahap, gelar….….(19..-19..) dengan istri…., boru Hutasuhut dari Sipirok, berdiam di Panti, Sumatera Barat ….. Keturunannya:
1. …….., lahir…..19.. di Panti.
5-1-3. Zainudin Harahap, gelar….….(19..-19..) dengan istri…., boru Regar dari….., berdiam di Padang Mandailing, Simangambat. Keturunannya:
1. …….., lahir…..19.. di Padang Mandailing.
5-1-4. Abdul Wahid Harahap, gelar….(19..-19..) dengan istri…., boru Ritonga dari Ron-citan, bermukim di Padang Mandailing, Simangambat. Keturunannya:
1. …….., lahir…..19.. di Padang Mandailing.
5-1-5. Pangibulan Harahap, gelar….….(19..-19..) dengan istri…., boru Regar dari Huta Padang, bermukim di Panti, Sumatera Barat. Keturunannya:
1. …….., lahir…..19.. di.Panti.
5-1-6. Hamzah Harahap, gelar….….(19..-19..) dengan istri…., boru Regar dari Huta Padang, bermukim di Padang Mandailing, Simangambat. Keturunannya:
1. …….., lahir…..19.. di Padang Mandailing.
5-1-7. Nuraisyah Harahap, menikah dengan ……, marga…..dari Marancar.
5-2. Cucu Daliun Harahap, gelar Ja Marliun.
————————————————
5-2-1. Bahori Harahap, gelar….….(19..-19..) dengan istri Nurbasa, boru Regar dari…., lalu digantikan Tiaya, boru Regar dari Bunga Bondar Sampulu, bermukim di Jalan Sukaria no. 116, Medan. Tel: 663-3517. Keturunannya:
1. Burhanuddin, lahir…..19.. di Medan.
2. Hasbi, lahir…..19.. di Medan.
3. Umar, lahir…..19.. di Medan.
4. Ansor, lahir…..19.. di Medan.
5. Hot Matua, lahir…..19.. di Medan.
6. Rostina (pr) , lahir…..19.. di Medan.
7. Damila (pr), lahir…..19.. di Medan.
5-2-2. Maskut Harahap, gelar…….….(19..-19..) dengan istri…., boru….dari Hutasuhut, ber-mukim di Panti, Sumatera Barat. Keturunannya
1.
5-2-3. Sabirin Harahap, gelar…….….(19..-19..) dengan istri…, boru Regar dari Ujung Padang, bermukim di Parbaungan, Sumatera Timur. Kemudian pindah ke Padang Mandailing, Simangambat. Keturunannya:
1.
5-2-4. Fatimah Harahap, menikah dengan….., marga Sibaroeang dari Angkola Jae.
5-2-5. Nasrun Harahap, gelar….….….(19..-19..) dengan istri…., boru…dari Mandailing, bermu-kim di Padang Mandailing, Simangambat. Keturunannya
1.
5-2-6. Amirudin Harahap, gelar….….(19..-19..) dengan istri…., boru …dari….., awalnya ber-diam di Hanopan, kemudian pindah ke Padang Mandailing, Simangambat. Keturunan-nya:
1.
5-2-7. Maslina Harahap, menikah dengan….., marga …dari Danau Marsabut.
5-2-8. Kasania Harahap, menikah dengan….., marga …..dari Simangambat.
5-2-9. Dahlena Harahap, menikah dengan….., marga ….dari Simangambat.
5-2-10. Dahtinur Harahap, menikah dengan….., marga …..dari ……
5-3. Cucu Saribun Harahap, Ja Kidun, gelar Sutan Martua.
——————————————————————
5-3-1. Jusuf Harahap, gelar….….….(19..-19..) dengan istri…., boru Regar dari Padang Bolak, bermukim di Desa Bandar Dunia, Labuhan Batu. Keturunannya
1.
5-3-2. Hasanudin Harahap, gelar….….….(19..-19..) dengan istri…., boru Ritonga dari….., ber-mukim di Rantau Prapat. Keturunannya
1.
5-3-3. Matnuin Harahap, gelar….….….(19..-19..) dengan istri…., boru Regar dari….., ber-mukim di Rantau Prapat. Keturunannya:
1.
5-3-4. Rona Harahap, menikah dengan Madun, marga Batubara dari Sipogu.
5-3-5. Teri Harahap, gelar….….….(19..-19..) dengan istri…., boru …dari….., bermukim
di Cirebon. Keturunannya:
1.
5-3-6. Rusli (Cino) Harahap, gelar Baginda Namuap….….(19..-19..) dengan istri Lena, boru Re-gar dari Bunga Bondar, bermukim di Hanopan.Keturunannya:
1.
5-3-7. Arbaia Harahap, menikah dengan Baharoeddin, marga Pane dari Pagaran Tulason.
5-3-8. Hanna Harahap, menikah dengan Sa’adin, marga Lubis dari Tano Tambangan, Panti.
5-3-9. Enni Harahap, menikah dengan Muara, marga Siregar dari Baringin.
5-3-10. Ita Harahap, menikah dengan Ruslan, marga Hutagaol dari Hanopan.
5-3-11. Rostina Harahap, menikah dengan….., marga Pospos dari Roncitan, tinggal di Medan.
5-3-12. Elpinawati Harahap, menikah dengan Marwan, marga Siregar dari Gunung Tua.
5-4. Cucu Saib Harahap, Ja Bolon, gelar Sutan Oloan.
———————————————————–
5-4-1. Tukko Harahap, gelar Baginda Namuap….….(19..-19..) dengan istri …, boru Sinambela dari Roncitan, bermukim di Panti, Sumatera Barat. Keturunannya:
1.
5-4-2. Salima Harahap, menikah dengan ….., marga Siregar dari Padang Bolak.
5-4-3. Zaleha Harahap, menikah dengan Kapar, marga Gultom dari Simangambat.
5-4- 4. Sauna Harahap, menikah dengan ……., marga……..dari Padang Bolak.
5-4-5. Siti Harahap, menikah dengan……, marga…….dari ……..
7. Cicit Manis Harahap, gelar Baginda Malim Marasyad.
7-1. Cucu Lumut Harahap, Mangaraja Parhimpunan.
———————————————————-
7-1-1. Takim Harahap, Ja Biaso….….(19..-19..) dengan istri Mariani, boru Siagian dari Arse Jae Dolok, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Lamsari (pr), lahir…..19.. di Hanopan.
2. Parhimpunan, lahir…..19.. di Hanopan.
3. Buyung, lahir…..19.. di Hanopan.
4. Maslina (pr), lahir…..19.. di Hanopan.
5. Sutan, lahir…..19.. di Hanopan.
6. Nurianna (pr), lahir…..19.. di Hanopan.
7-1-2. Marasia Harahap, meninggal muda.
7-2. Cucu Bangun Harahap, Mangaraja Naposo.
—————————————————–
7-2-1. Hormat Harahap, gelar Baginda Pangibulan (19..-19..) dengan istri Tiani, boru Pohan dari Parau, lalu digantikan Basaria, boru Siagian dari Simaninggir, bermukim di Cikampah, Rantau Prapat.Keturunannya:
1. Adil, lahir…..19.. di Rantau Prapat.
2.
2. Sori, lahir…..19.. di Rantau Prapat.
3. Otmaida (pr), lahir…..19.. di Rantau Prapat.
4. Oslan, lahir…..19.. di Rantau Prapat.
5. Nisma (pr), lahir…..19.. di Rantau Prapat.
7-2-2. Maren Harahap, gelar Baginda Marsoit (19..-19..) dengan istri Nurasia, boru Pane dari Arse Julu, bermukim di Hanopan.Keturunannya:
1. Samsulbahri, lahir…..19.. di Hanopan.
2. Abdulah, lahir…..19.. di Hanopan
3. Sahdin, lahir…..19.. di Hanopan.
4. Sahyuti, lahir…..19.. di Hanopan
5. Ito, lahir…..19.. di Hanopan
6. Pantas Roma, lahir…..19.. di Hanopan.
7. Parmintaan, lahir…..19.. di Hanopan
8. Rosni Rusui (pr), lahir…..19.. di Hanopan
9. Bardansyah, lahir…..19.. di Hanopan.
7-2-3. Nuro Harahap, menikah dengan Judin, marga Siregar dari Batu Horpak.
7-3. Cucu Tembang Harahap, gelar Sutan Mangalai.
———————————————————
1. Mara Indo Harahap, gelar Baginda Natio (19..-19..) dengan istri …, boru Sinambela dari Roncitan, bermukim di Kota Pinang. Mantan Asisten Kebun di Banda Aceh. Keturunannya:
1. Berliana (pr), lahir…..19.. di Kota Pinang.
2. Sarip, lahir…..19.. di Kota Pinang.
3. Ismail, lahir…..19.. di Kota Pinang.
4. Ati (pr), lahir…..19.. di Kota Pinang.
5. Harris, lahir…..19.. di Kota Pinang.
6. Deliana (pr), lahir…..19.. di Kota Pinang.
7. Lisma (pr), lahir…..19.. di Kota Pinang.
8. Niar (pr), lahir…..19.. di Kota Pinang.
9. Johnny, lahir…..19.. di Kota Pinang.
2. Tahim Harahap, gelar Baginda Parbatasan (19..-19..) dengan istri Nurba, boru Regar dari Bunga Bondar, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Gondoria (pr), lahir…..19.. di Hanopan
2. Dasima (pr), lahir…..19.. di Hanopan
3. Bonggal, lahir…..19.. di Hanopan
4. Paruhuman, lahir…..19.. di Hanopan.
5. Pakri, lahir…..19.. di Hanopan
6. Batu, lahir…..19.. di Hanopan
7. Muhammad, lahir…..19.. di Hanopan.
3. Tiran Harahap, menikah dengan Marajo, marga Simatupang dari Pagaran Tulason.
4. Timaheran Harahap, menikah dengan Rencong, marga Siregar dari Jonggol Julu.
7-4. Cucu Rain Harahap, gelar Mangaraja Bintuju.
——————————————————–
7-4-1. Nasar Harahap, gelar Baginda Malim (19..-19..) dengan istri Rahayo, boru Hasibuan dari Sipirok, bermukim di Sipirok. Keturunannya:
1. Sakti, lahir…..19.. di Sipirok.
2. Ahmad, lahir…..19.. di Sipirok.
3. Erwin, lahir…..19.. di Sipirok.
4. Siti Adin (pr), lahir…..19.. di Sipirok.
7-4-2. Munir Harahap, gelar …..(19..-19..) dengan istri…….., boru……, bermukim di Pematang Siantar, lalu pindah ke Kisaran. Keturunannya:
1… lahir…..19.. di Pematang Siantar.
7-4-3. Dahler Harahap, gelar….(19..-19..) dengan istri……, boru….dari….., bermukim di Sitin-jak, Batang Toru. Keturunannya:
1….. , lahir…..19.. di Sitinjak.
2……, lahir…..19.. di Sitinjak.
7-4-4. Nursiti Harahap, meniggal muda.
7-5. Cucu Borkat Harahap, Ja Mukobul.
——————————————-
7-5-1. Doriolo Harahap, menikah dengan Karani, marga Hasibuan dari Roncitan.
7-5-2. Sopian Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri…., boru Sumatera Barat, bermukim di Padang. Pekerjaan: Pegawai Negeri. Keturunannya:
1. ……, lahir…..19.. di Padang.
7-5-3. Sour Harahap, menikah dengan Porngis, marga Tambunan dari Roncitan.
7-5-4. Mara Tohong Harahap, gelar Baginda Rangke Hatoguan….(19..-19..) dengan istri Robiah, boru Siagian dari Sipirok, berdiam di Fakfak, Irian Barat. Meninggal disana dalam men-jalankan tugas. Pekerjaan: Pegawai Negeri. Keturunannya:
1. Meri Yamashita (pr), lahir 31 Desember 1969 di Jakarta.
2. Umar, lahir 25 April1972 di Biak.
3. Audi, lahir 19 Juli 1974 di Biak.
4. Syarifuddin, lahir 27 Nopember 1980 di Biak.
7-5-5. Haposan Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri…., boru Regar dari Roncitan, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Awaluddin, lahir 23 April 1974 di Hanopan.
2.
2. Lasmiwati (pr), lahir 12 Juli 1975 di Hanopan.
3. Seribulan (pr), lahir 1 Januari 1978 di Hanopan.
4. Masdalena (pr), lahir 15 Mei 1980 di Hanopan.
5. Epa Yanti (pr), lahir 8 Oktober 1982 di Hanopan.
6. Kobul Pangidoan, lahir 10 Januari 1985 di Hanopan.
7. Irawati (pr), lahir 20 Januari 1987 di Hanopan.
8. Abdul Haji, lahir 13 Juli 1989 di Hanopan.
9. Hopipah (pr), lahir 20 Oktober 1991 di Hanopan.
7-5-6. Kotib Harahap, gelar Baginda Hatimbulan….(19..-19..) dengan istri Elizabeth, boru Yog-yakarta dari Jawa Tengah, bermukim di Kebon Nanas II/24, Otista IV, Jakarta Timur. Tel: 850-0150. Pendidikan: Akademi Telkom Bandung. Pekerjaann: Kantor Telkom Ca-bang Kebayoran Baru, Jakarta. Setelah pensiun kembali ke Hanopan dan menetap disana hingga akhir hayatnya. Keturunannya:
1. Dedi Indrawardana (Dedi), lahir 3 Desember 1980 di Jakarta.
2. Medi Rendra Cahyadi (Medi), lahir 19 Mei 1982 di Jakarta.
7-5-7. Marasat Harahap, gelar….., dengan istri…., boru…….dari…, bermukim di….. Ketu-runannya:
1.
7-5-8. Amru Harahap, gelar….., dengan istrinya…., boru….dari….., bermukim di……Ketu-runannya:
1.
7-5-9. Ati Harahap, menikah dengan ……, marga…..dari……
7-6. Cucu Sulaiman Harahap, gelar Ja Umar.
————————————————-
7-6-1. Rosdina Harahap, menikah dengan Amaran, marga Pospos dari Huta Padang.
7-6-2. Muslimin Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri Rukia, boru Regar dari Huta Pa-dang, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Raya, lahir……19.. di Hanopan.
2. Nita (pr), lahir……19.. di Hanopan.
3. Emmi (pr), lahir……19.. di Hanopan.
4. Rina (pr), lahir……19.. di Hanopan.
5. Maryan, lahir……19.. di Hanopan.
6. Erwin, lahir……19.. di Hanopan.
7. Arne, lahir……19.. di Hanopan.
8. Alamsyah, lahir……19.. di Hanopan.
9. Zuliadani (pr), lahir……19.. di Hanopan.
7-6-3. Mandasin Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri Achir, boru Regar Dongoran dari Arse Jae Dolok, bermukim di Medan, lalu pindah ke Bagan Batu. Pekerjaan: anggota TNI. Keturunannya:
1. Susi (pr), lahir……19.. di Medan.
2. Delimasari (pr), lahir……19.. di Medan.
3. Purnamasari (pr), lahir……19.. di Bagan Batu.
4. Rizal Efendi, lahir……19.. di Bagan Batu.
5. Anggi, lahir……19.. di Bagan Batu.
7-6- 4. Nurhamima Harahap, menikah dengan Sutan, marga Simatupang dari Pagaran Tulason.
7-6-5. Siti Rahmah Harahap, menikah dengan Darwin, marga Siregar dari Bondar Nauli.
7-6-6. Musla Harahap, gelar….., dengan istri Nursania, boru Regar dari Ujung Padang, berdiam di Hanopan. Keturunannya:
1. Sandi, lahir……19.. di Hanopan.
2. Sahli, lahir……19.. di Hanopan.
3. Desi (pr), lahir……19.. di Hanopan.
7-6-7. Dahrum Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri Tiur, boru Sitorus dari Porsea, lalu digantikan Nursani, boru Regar dari Ujung Padang. Awalnya bertugas di Medan kemu-dian dipindahkan ke Sipirok. Pekerjaan: Anggota TNI. Keturunannya:
1. Rida (pr), lahir……19.. di Medan.
2. Anto, lahir……19.. di Medan.
3. Mariska (pr), lahir……19.. di Sipirok.
4. Laila, lahir……19.. di Sipirok.
5. Nurul Oktavia, lahir……19.. di Sipirok.
7-6-8. Siti Rohma Harahap, menikah dengan …., marga Siregar dari Bondar Nauli, Gunung
Bayu Pematang Siantar.
7-6-9. Nurida Harahap, menikah dengan Wandi, marga Siregar dari Jonggol Jae.
7-6-10. Hairin Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri Darma, boru Ritonga dari Lancat
Julu, berdiam di Hanopan. Keturunannya:
1. Taufik Akbar, lahir……19.. di Hanopan.
2. Nensi (pr), lahir……19.. di Hanopan.
3. Umar, lahir……19.. di Hanopan.
7-7. Cucu Salasa Harahap, gelar Ja Niarba.
———————————————-
7-7-1. Gunung Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri Dama, boru Rambe dari Lancat Julu, bermukim di Medan. Keturunannya:
1…….., lahir……19.. di Medan.
2. Hanida (pr), lahir……19.. di Medan.
3. Agus, lahir……19.. di Medan.
4. Tetty (pr), lahir……19.. di Medan.
5……., lahir……19.. di Medan.
7-7-2……..Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri….., boru…..dari……, bermukim di Me-
dan. Keturunannya:
1……., lahir……19.. di Medan.
7-7-3……..Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri….., boru……dari…., bermukim di Me-dan. Keturunannya:
1……., lahir……19.. di Medan.
7-7-4. Mida Harahap, menikah dengan ……, marga…..dari Sampean Sipirok.
10. Cicit Paian Harahap, gelar Baginda Malim Muhammad Nuh.
10-1. Cucu Togu Harahap, Ja Mangatur, gelar Mangaraja Sianggian.
—————————————————————————
10-1-1. Lokot Harahap, gelar Baginda Parbalohan Dua, dengan istri Mastiur, boru Regar dari Hasang, bermukim di Hanopan. Pendidikan:…Pekerjaan:…Keturunannya:
1. Edisuandi, lahir……19.. di Hanopan.
2. Epri Pardomuan, lahir……19.. di Hanopan.
3. Pangondian, lahir……19.. di Hanopan.
4. Erni Tati (pr), lahir……19.. di Hanopan.
5. Tuti Alawijah (pr), lahir……19.. di Hanopan.
6. Suryani (pr), lahir……19.. di Hanopan.
7. Suryadi, lahir……19.. di Hanopan.
10-1- 2. Gunet Harahap, menikah dengan Kamal, marga Pohan dari Hanopan, anak Ja Mandaun.
10-1-3. Zureda Harahap, menikah dengan Akup, marga Simatupang dari Gunung Manaon.
10-1-4. Mandelina Harahap, menikah dengan Aziz, marga Tobing dari Silangge.
10-1-5. Apul Harahap, menikah dengan Sodirin, marga Rambe dari Batu Horpak Jae.
14. Cicit Kenis Harahap, gelar Baginda Pangibulan.
14-1. Cucu Ismail Harahap, gelar Ja Lobe.
———————————————
14-1-1. Padusi Harahap, menikah dengan…, marga……..dari………
14-1-2. Gandaera Harahap, menikah dengan Maidin, marga Simatupang dari Gunung Manaon.
14-1-3. Pitta Harahap, menikah dengan Mahyudin, marga Lubis dari Kotanopan.
14-1-4. Ima Harahap, menikah dengan ……, marga Pane dari Arse Jae Lombang.
14-1-5. Usman Harahap, gelar Baginda Pangibulan, dengan istri Otnida, boru Regar dari Ujung Padang, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Parulian, lahir……19.. di Hanopan.
2. Tinabin (pr), lahir……19.. di Hanopan.
3. Dirman, lahir……19.. di Hanopan.
4. Bayani (pr), lahir……19.. di Hanopan.
5. Habibullah, lahir……19.. di Hanopan.
14-1-6. Jolil Harahap, gelar Baginda Kotib, dengan istri Nurhamida, boru Pane dari Gunung Manaon, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Abdul Harris, lahir……19.. di Hanopan.
2. Dahliani (pr), lahir……19.. di Hanopan.
3. Sjamsiruddin, lahir……19.. di Hanopan.
4. Masdelina (pr), lahir……19.. di Hanopan.
5. Umarwira, lahir……19.. di Hanopan.
14-1-7. Ahmad Soleh Harahap, gelar Baginda Sidangkal, dengan istri Kholija, boru Regar dari Hasang, bermukim di Hanopan. Kadus 2010 (Kepala Dusun). Keturunannya:
1. Karlina (pr), lahir……19.. di Hanopan.
2. Bahari. lahir……19.. di Hanopan.
3. Syarif, lahir……19.. di Hanopan.
15. Cicit Gardok Harahap, gelar Baginda Malim Muhammad Rahim.
15-1. Cucu Hadam Harahap, gelar Lobe Yakin.
————————————————–
15-1-1. Tialima Harahap, menikah dengan ……, marga…..dari……
15-1-2. Sangkot Harahap, Haji Abdurrakhim, gelar Baginda Taris Muda (19..- 2008) dengan istri Hj. Nuraisyah, boru Regar dari Huta Padang. Pendidikan: Sekolah Guru. Pekerjaan: A-walnya menjadi Guru di Hanopan, lalu pindah ke Sipirok, akhirnya Medan. Setelah pensun kembali ke Bona Bulu dan tinggal di jalan Simangambat no.115 Sipirok hingga akhir hayatnya. Keturunannya:
1. Saulina (pr), lahir……19.. di Sipirok.
2. Sariaman, lahir……19.. di Sipirok.
3. Rosita (pr), lahir……19.. di Sipirok.
4. Masia (pr), lahir……19.. di Sipirok.
5. Abdul Muin, lahir……19.. di Sipirok.
6. Merida Sinta (pr), lahir……19.. di Sipirok.
7. Achmadi, lahir……19.. di Sipirok.
8. Hakkul Yakin, lahir……19.. di Sipirok.
9. Nurhasami (pr), lahir……19.. di Sipirok.
15-1-2. Abdul Majid Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri…., boru Regar dari Sima-ngumban, bermukim di Percut, Medan. Keturunannya:
1……., lahir……19.. di Medan.
15-1-3. Dahum Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri……, boru Bagan dari Percut, bermukim di Percut, Medan. Keturunannya:
1……., lahir……19.. di Medan.
15-1-4. Ahmad Soleh Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri……, boru Pane dari Sima-ngumban, bermukim di Percut, Medan. Keturunannya:
1……., lahir……19.. di Medan.
15-2. Cucu Sobar Harahap, gelar Ja Mantar.
———————————————-
15-2-1. Bahuddin Harahap, gelar Baginda Malim Muda….(19..-19..) dengan istri Maimunah, boru Hasibuan dari Simangambat, bermukim di Hanopan. Pendidikan:..Pekerjaan: Kepa-la Kampung Hanopan ke…. Keturunannya:
1. Syahriana (pr), lahir……19.. di Hanopan.
2. Masnilam (pr), lahir……19.. di Hanopan.
3. Syaifulbakhri, lahir……19.. di Hanopan.
15-2-2. Sarpin Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri Tiabin, boru Rambe dari Lancat Julu, berdiam di Hanopan. Keturunannya:
1…….., lahir……19.. di Hanopan.
15-2-3. Asni Harahap, menikah dengan Sampun, marga Pasaribu dari Roncitan.
15-2-4. Efendi Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri Nurma, boru Regar dari Batuna Dua, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1…….., lahir……19.. di Hanopan.
15-2-5. Asra Harahap, menikah dengan ……, marga…..dari……
c. Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Panggulangan.
11. Cicit Mandasin Harahap, gelar Baginda Khalifah Sulaiman.
11-1. Cucu Alaan Harahap, gelar Mangaradja Toga.
——————————————————-
11-1-1. Simin Harahap, gelar Mara Soleman (19..-19..) dengan istri Halimatussakdiah, Ompu ni Sahir, boru Regar dari Sipirok. Keturunannya:
1. Akup, lahir……19.. di Panggulangan.
2. Malim Saidi, lahir……19.. di Panggulangan.
3. Syafe’i, lahir……19.. di Panggulangan.
4. Firman, lahir……19.. di Panggulangan.
5. Omas (pr), lahir……19.. di Panggulangan.
6. Tiadin (pr), lahir……19.. di Panggulangan.
7. Aslamiah (pr), lahir……19.. di Panggulangan.
8. Berlian (pr), lahir……19.. di Panggulangan.
9. Zainab (pr), lahir……19.. di Panggulangan.
11-1-2. Jamod Harahap, gelar…..…..….(19..-19..) dengan istri Salakiah, boru Regar dari Bari-ngin, bermukim di Banda Aceh. Keturunannya:
1.Harun, lahir……19.. di Banda Aceh.
11-2. Cucu Marasan Harahap, gelar Ja Soriangon.
—————————————————-
11-2-1. Siti Hawan Harahap, menikah dengan Marbun, marga Siregar dari Kampung Satia, Sipirok berdiam di Kepahyang, Bengkulu.
11-2-2. Musleman (Belau) Harahap, gelar Baginda Parbatasan (19..-19..) dengan istri Rubaniah, boru Regar dari Bunga Bondar Sampulu, lalu digantikan Aslamiah, boru Regar dari Parau Sorat, berdiam di Jalan D.I. Panjaitan no.6/46, Lingkungan V, Kelurahan Talang Benih, Curup, Bengkulu. Keturunannya:
1. Hasbullah, lahir 28 Nopember 1938 di Pematang Danau (Bengkulu).
2. Sjahruddin, lahir 18 Agustus 1942 di Lubuk Linggau.
3. Nukman, lahir 26 Januari 1945 di Belitar (Curup).
4. Mara Ingon, lahir 30 Januari 1947 di Belitar (Curup).
5. Amrul Hakim, lahir 4 Nopember 1950 di Belitar (Curup).
6. Syahzuana, lahir …195. di Belitar (Curup).
7. Lenan, lahir 29 Januari 1962 di Curup.
8. Arman, lahir 21 April 1964 di Curup.
9. Musriani (pr), lahir 18 September 1965 di Curup.
10. Hanopan, lahir 18 September 1967 di Curup.
11. Aliana, lahir……..1969 di Curup.
12. Adam, lahir…..1971 di Curup.
13. Anna Leli (pr), lahir….1972 di Curup.
14. Sakti, lahir……1974 di Curup.
11-2-3. Maya Harahap, menikah dengan Ja Bolon, marga Pakpahan dari Panggulangan.
11-2-4. Fatimah Harahap, menikah dengan Kabidun, marga Siregar dari Jambur Batu.
11-2-5. Soridima Harahap, menikah dengan Bahat, marga Siregar dari Saba Tolang.
11-2-6. Anas Mursalim Harahap, gelar Baginda Harahap (19..-19..) dengan istri Salohot, boru Regar dari Parandolok, tinggal di Talang Benih, Curup, Bengkulu. Lalu pindah dan menetap di Bogor. Keturunannya:
1. Nurhayati (pr), lahir 24 Juli 1955 di Banda Aceh.
2. Edi Erwin, lahir 18 Januari 1958 di Natal.
3. Siti Nanni (pr), lahir 6 Januari 1962 di Curup.
4. Eppy Narulita (pr), lahir 24 Desember 1964 di Curup.
5. Ansori Hidayat, lahir 16 Juni 1966 di Curup.
6. Susi Nender (pr), lahir 16 Juni 1968 di Curup.
7. Antonius, lahir 12 Nopember 1970 di Bogor.
8. Susanti (pr), lahir 10 Oktober 1973 di Panggulangan.
9. Umar, lahir 24 Juni 1975 di Panggulangan.
11-2-7. Nurasia Harahap, menikah dengan Adenan, marga Siregar dari Parau Sorat.
11-2-8. Masito Harahap, menikah dengan Kosim, marga Siregar dari Sidangardangar.
11-3. Cucu Kedom Harahap, gelar Haji Dollah.
————————————————–
11-3-1. Lokot Harahap, gelar Ja Taris (19..-19..) dengan istri Jarilah, boru Regar dari Parau Sorat, bermukim di Medan. Keturunannya:
1. Husin, lahir……19.. di Medan.
2. Ratna (pr), lahir……19.. di Medan.
3. Ani (pr), lahir……19.. di Medan.
4. Azis, lahir……19.. di Medan.
5. Buhanuddin, lahir……19.. di Medan.
6. Ibrahim, lahir…19.. di Medan.
11-3-2. Marip Harahap, gelar…..(19..-19..) dengan istri Nurilan, boru Simatupang dari Poken Arse, bermukim di jalan T. Sulong Syahnara no.9, Rantau Prapat 21412. Keturunannya:
1. Siti Hajar (pr), lahir……19.. di Rantau Prapat.
2. Siti Khalijah (pr), lahir……19.. di Rantau Prapat.
3. Riduan, lahir……19.. di Rantau Prapat.
4. Ummi Kaluem (pr), lahir……19.. di Rantau Prapat.
5. Hanafi, lahir……19.. di Rantau Prapat.
6. Masnah (pr), lahir……19.. di Rantau Prapat.
7. Syahruddin, lahir……19.. di Rantau Prapat.
8. Umaruddin, lahir……19.. di Rantau Prapat.
9. Mahran, lahir……19.. di Rantau Prapat.
10. Ahmadan, lahir……19.. di Rantau Prapat.
11. Hasan Azhari, lahir……19.. di Rantau Prapat.
11-3-3. Daud Harahap, gelar…..(19..-19..) dengan istri Maslian, boru Pohan dari Parau Sorat, bermukim di jalan Bandar Sono, Tebing Tinggi (Deli). Pendidikan: Sekolah Guru. Pe-kerjaan Guru SMA Tebing Tinggi (Deli). Keturunannya:
1. Syahril, lahir……19.. di Tebing Tinggi.
2. Agustina (pr), lahir……19.. di Tebing Tinggi.

3. Ramadan, lahir……19.. di Tebing Tinggi.
4. Gozali, lahir……19.. di Tebing Tinggi.
5. Astuti (pr), lahir……19.. di Tebing Tinggi.
6. Khairul, lahir……19.. di Tebing Tinggi.
11-3-4. Abbas Harahap, gelar…..(1939-1985) dengan istri Maimah, Ompu ni Yanti, boru Regar dari Sialagundi, bermukim di Panggulangan. Keturunannya:
1. Darwin, lahir 8 Juni 1961 di Panggulangan.
2. Irwan, lahir …1963 di Panggulangan.
3. Anna (pr), lahir 5 Mei 1965 di Panggulangan.
4. Sahlan, lahir…..1966 di Panggulangan.
5. Masrawati (pr), lahir …..1968 di Panggulangan.
6. Midasari (pr), lahir ……1971 di Panggulangan.
7. Masjuwita (pr), …..Juni 1973 di Panggulangan.
8. Yusraliani (pr),…..1975 di Panggulangan.
11-3-5. Rukiah Harahap, menikah dengan Sutan Pangibulan, marga Pakpahan dari Panggu-langan.
11-4. Cucu Mahir Harahap, gelar Ja Pariaman.
————————————————-
11-4-1. Pangeran Harahap, gelar…..(19..-19..) dengan istri Salam, boru Rambe dari Baringin, bermukim di Rantau Prapat. Keturunannya:
1. Saparuddin, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
2. Fahrudin, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
3. Masdalina (pr), lahir …….19.. di Rantau Prapat.
4. Awaluddin, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
5. Koharuddin, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
6. Ulla (pr), lahir …….19.. di Rantau Prapat.
7. Kifli, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
8. Fahmi, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
9. Musa, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
10. Ros (pr), lahir …….19.. di Rantau Prapat.
11-4-2. Jalil Harahap, gelar…..…..(19..-19..) dengan istri Maya, boru Regar dari Situmba, ber-mukim di Sioldengan, Rantau Prapat. Keturunannya:
1. Ramlan, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
2. Ani (pr), lahir …….19.. di Rantau Prapat.
3. Burhan, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
4. Lahuddin, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
5. Toga, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
6. Aman, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
7. Ros (pr), lahir …….19.. di Rantau Prapat.
8. Yunus, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
11-4-3. Hamzah Harahap, gelar….(19..-19..) dengan istri Masnilam, boru Pohan dari Parau So-rat, bermukim di Pekanbaru. Pekerjaan: Pegawai Kehutanan. Keturunannya:
1. Nurlela (pr), lahir …….19.. di Pekanbaru.
2. Amrul, lahir …….19.. di Pekanbaru.
3. Iwan, lahir …….19.. di Pekanbaru.
4. Syahrial, lahir …….19.. di Pekanbaru.
5. Siti Mariam (pr), lahir …….19.. di Pekanbaru.
6. Bahrum, lahir …….19.. di Pekanbaru.
7. Halim, lahir …….19.. di Pekanbaru.
11-4-4. Maria Harahap, menikah dengan Soaduon, marga Pane dari Lancat Jae.
11-4-5. Sarba Harahap, menikah dengan Muslimin, marga Siregar dari Sipirok.
11-4-6. Baidah Harahap, menikah dengan Kodir, marga Siregar dari Baringin.
11-5. Cucu Darajat Harahap, gelar Mangaraja Halongonan.
—————————————————————–
11-5-1. Dasim Harahap, gelar…..(19..-19..) dengan istri Salmah, boru Pohan dari Parau Sorat, lalu digantikan Rosminah, boru Pulungan dari Baringin, bermukim di Panggulangan. Keturunannya:
1. Bonggal, lahir …..19.. di Panggulangan.
2. Kartini (pr), lahir …..19.. di Panggulangan.
3. Nenni (pr), lahir …..19.. di Panggulangan.
4. Amarudi, lahir …..19.. di Panggulangan.
5. Sudirman, lahir …..19.. di Panggulangan.
6. Merianna (pr), lahir …..19.. di Panggulangan.
7. Pandapotan, lahir …..19.. di Panggulangan.
8. Sonang Matua, lahir …..19.. di Panggulangan.
9. Pangondian, lahir …..19.. di Panggulangan.
d. Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Siak Sri-Indrapura, di Riau daratan.
13. Cicit Pardo (Mara Kamin) Harahap, gelar Baginda Saikum.
13-1. Cucu Nempol Harahap, gelar….
—————————————-
13-1-1. Syamsudin Harahap, gelar…..(19..-19..) dengan istri Mahanum Ali, Ompu ni Andri, boru Siak Sri-Indrapura dari Riau, bermukim di Pekanbaru. Keturunannya:
1. Mirza Sjamsudin, lahir 21 Maret 1945 di Pekanbaru.
2. Zuraida, lahir 18 Agustus 1952 di Pekanbaru.
3. Rubiah Harahap, menikah dengan Harry Parhimpunan, marga Siregar dari Sipirok.
4. Rukiah Harahap, menikah dengan ……, marga…..dari……
11-2. Cucu Abu Bakar Harahap, gelar…..
——————————————–
11-3. Cucu Muhammad Soleh Harahap, gelar….
—————————————————-
11-4. Cucu Djambul Harahap, gelar……
——————————————
11-5. Cucu…….Harahap, gelar……
————————————–
Generasi Duapuluhtiga
Augkang, Au, Anggi, Iboto
a.Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Bunga Bondar
4. Anak cicit Heber Harahap, Sintua Heber, gelar Baginda Maujalo.
4-1. Cicit Melanton Harahap, gelar Mangaraja Ujung Padang
4-1-1. Cucu Julianus Harahap.
—————————–
1. Masnida Harahap menikah dengan…., marga……dari…….
2. Marulam Harahap dengan istri …, boru …dari bermukim di Bunga Bondar keturu-nannya:
1.
3.Nurlena Harahap menikah dengan…., marga……dari…….
4-1-2. Cucu Hadrianus Harahap.
——————————-
1. Palito Harahap dengan istri….., boru……dari ……..keturunannya:
1.
2. Maruli Harahap dengan istri….., boru……dari ……. keturunannya:
1.
3. Thomas Harahap dengan istri….., boru……dari …….. keturunannya:
1.
4. Tiurma Harahap menikah dengan…., marga……dari……. .
5. Murtio Harahap menikah dengan…., marga……dari……. .
6. Adelina Harahap menikah dengan…., marga……dari……. .
7. Rosita Harahap menikah dengan…., marga……dari…….
4-1-3. Cucu Beheri Nopan Harahap.
————————————
1. Sakti Harahap dengan istri….., boru……, dari …….. keturunannya:
1.
2. Agus Harahap dengan istri….., boru……dari …….. keturunannya:
3. Todung Harahap dengan istri….., boru……dari …….. keturunannya:.
4-1-5. Cucu Sori Gunung Harahap.
———————————-
1. Roslini Harahap menikah dengan Adenan, marga Nasution dari Cubadak
(Panti), bermukim di jalan Beringin no. 36, Kampung Kapuas, Sanggau,
Kalimantan Barat.
2. Raya Efendi Harahap dengan istri….., boru……dari ……bermukim di Ja-
karta, keturunannya:
1.
3. Bahrum Harahap dengan istri….., boru……dari ……..tinggal di Kaliman-
tan Barat, keturunannya:
1.
4. Saparuddin Harahap dengan istri….., boru……dari …….. tinggal di Palembang,
keturunannya:
1.
5. Herlina Harahap menikah dengan Hamonangan, marga Lubis dari Sayurmahincat, Ko-
tanopan, Tamiang. Tinggal di jalan Pattimura no.42, Kampung Darek, Gang Dame 1, Padang Sidempuan.
6. Putra Indra Harahap dengan istri…., boru……dari…….tinggal di Padang Sidempuan keturunannya:
7. Farida Ariani Harahap menikah dengan Sudarso, kepala SMA Bunut di Sanggau, Ka-limantan Barat.

6. Anak cicit Nanga Harahap, Ja Pahang, gelar Baginda Sialang.
6-1. Cicit Malik (Hizkia) Harahap, gelar Sutan Harahap.
6-1-1. Cucu Reman Harahap.
—————————-
1. Ir. Payungan Harahap dengan istri….., boru……dari …….. keturunannya:
1.
2. Horas Harahap dengan istri….., boru……dari …….. keturunannya:
6-1-2. Cucu Totauli Harahap gelar Baginda Maratua.
——————————————————–
1. Tumbur Mulia Harahap (1944-2004) dengan Siti Dahniar, boru Lampung dari Bu-mi Agung bermukim di jalan Sriwijaya, Gang Amarta no.77 Kotabumi. Pedidikan SD, SMP. Pekerjaan Polisi, dan Satpam di P.T. Telkom. Keturunannya:
1. Neva Iskandaria, lahir 26 Juni 1968 di Kotabumi.
2. Novatiana Medya (pr), lahir 28 Nopember 1972 di Kotabumi.
3. Kristina Melvia (pr) lahir, 25 Maret 1974 di Kotabumi.
4. Devi Oktavia (pr) lahir, 30 Oktober 1975 di Kotabumi.
5. Alex Sanderia (pr) lahir, 27 April 1982 di Kotabumi.
2. Masdah Riveria Harahap menikah dengan Makmun, marga Martadipura dari Sirah Pulau Padang OKI, Sumsel.
3. Sumurung Harahap meninggal muda.
4. Bintan Harahap dengan istri Rugun, marga Siregar dari Muara, Pulau Samosir, ber-diam di jalan Karya, Gang Adil no.25, Medan Tel: (061) 662-2446. Pendidikan: SMA, Pekerjaan Karyawan BRI Binjei, Sumut. Keturunannya:
1. Fredi lahir, …19.. di Medan.
2. Marieta (pr) lahir, …..19.. di Medan
3. Rusli lahir, 19.. di Medan.
4. Joshua lahir, …19.. di Medan.
5. Gomos Hajongjongan Harahap dengan istri Dahlina, boru Gultom dari Pematang Siantar bermukim di Palembang. Pendidikan STM/Mesin. Pekerjaan Kantor LLSAD Sido Ing Lautan 35 Ilir Tangga Buntung, Palembang. Keturunannya:
1. Yosef Efendi lahir 19 Juni 1986 di Palembang
2. Elfrida Gita Patricia (pr) lahir 10 januari1992 di Palembang
3. Astri (pr) lahir 27 Mei 1993 di Palembang.
6. Januar Halomoan Harahap (1956-1998) dengan istri Tioria, boru Simatupang dari Sungei Gerong bermukim di Komplex BLK Kenten Sako, Palembang. Pendidikan: STM, BLK Malang, BLK Cork di Irlandia, Inggris. Pekerjaan Instrutur BLK Pa-lembang. Keturunannya:
1. Wily Halomoan, lahir 19 Nopember 1990 di Palembang.
2. Windy Christiani, lahir 4 Desember 1993 di Palembang.
7. Sontian Harahap SD, SMP, SMA, IPB Bogor, belum berkeluarga.
8. Ledyana Harahap menikah dengan Mangatas, marga Simatupang dari Balige.
9. Lasmarovita Harahap S.H. menikah dengan…., marga……dari…….
6-1-3. Cucu Hajopan Harahap.
—————————–
1. Bambang Posma Harahap dengan istri….., boru……,dari ……..keturunannya:
1.
2. Lamlandu Juni Martuani Harahap dengan istri….., boru……,dari ……..
keturunannya:
3. Patohan Satujuon Harahap dengan istri….., boru……,dari ……..keturunannya:
4. Dertin Srikasi Harahap menikah dengan ….., marga……., dari…….
6-1-4. Cucu Parman Harahap.
—————————-
6-1-5. Cucu Hasiholan Harahap.
——————————-
6-2. Cicit Binahar Harahap, gelar Ja Bintuju.
6-2-1. Cucu Marolop Harahap, gelar Ja Bulele.
————————————————
1. Monang Harahap dengan istri……., boru……dari……bermukim di Tanjung Karang,
Lampung. Keturunannya:
1.
2. Syahrun Harahap dengan istri….., boru……dari…….bermukim di….. ke-
turunannya:
3. Ipin Harahap dengan istri….., boru……dari……bermukim di……
4. Deli Harahap, menikah dengan……, marga……dari……..
5…………………..
6………………….
12. Anak cicit Kampung Harahap, gelar Haji Tuan Syekh Muhammad Jalil.
12-1. Cicit Yusuf, gelar Mangaraja Sorialom Harahap.
12-1-2. Cucu Bidin, gelar Baginda ………..
————————————————
1. Mahmud Harahap, dengan istri Dewani, boru Regar dari Bunga Bondar, berdiam di Lubuk Pakam. Keturunannya:
1. Amrin, lahir 19.. di Lubuk Pakam.
2. Armen (Butong), lahir 3 Mei 1959 di Lubuk Pakam.
3. Sutan, lahir 14 Juni 1961 di Lubuk Pakam
4. Rohima (pr), lahir 19.. di Lubuk Pakam.
5. Apdi, lahir 19.. di Lubuk Pakam..
6. Syahrial, lahir 19.. di Lubuk Pakam..
7. Budiantoni, lahir 19.. di Lubuk Pakam..
8. Elita (pr) lahir 19.. di Lubuk Pakam.
12-1-5. Cucu Natin, gelar Ja Harahap.
————————————-
1. Masdelina Harahap menikah dengan….., marga…..dari Sibadoar.
2. Syamsulbahri Harahap, dengan istri…boru… dari……, bermukim di jalan M. Yakub
no.78, jalan Prof. Yamin (dulu jalan Serdang), Medan. Keturunannya:
1. Sadrina (pr), lahir 19…di Medan.
2. Syahrial, lahir 19… di Medan.
3. Sriwarni (pr), lahir 19… di Medan.
4. Chairani (pr), lahir 19… di Medan.
5. Zubaidah (pr), lahir 19… di Medan.
3. Nursani Harahap menikah dengan Haji M. Nuh, marga Siregar dari Gunung Tua.
4. Anadarlina Harahap menikah dengan Jamili, marga Melayu dari Medan.
5. Lensa Harahap menikah dengan….., marga Silangit dari Karo.
6. Carda Harahap, dengan istri….,boru……dari…..bermukim di……… Keturunannya:
7. Ulan Harahap menikah dengan Kasimir, marga Siregar dari Bunga Bondar.
8…… Harahap menikah dengan…. , marga …..dari……..
12-2. Cicit Tosim Harahap, gelar Ja Badaman.
12-2-1. Cucu Mara Iman Harahap, gelar Haji Mara Iman.
———————————————————–
Tidak terdapat keturunan anak laki-laki.
12-2-2. Cucu Muslim Harahap, gelar Haji Muslim Jalil.
———————————————————
1. Jahara Kalsum Harahap menikah dengan Ir. Mananalom Soaloön, marga Siregar da-ri Simaninggir, Sipirok.
2. Fahruddin Harahap (1947-1988), dengan istri Herawati, boru Sirait dari Tanjung Balai bermukim di Tanjung Balai, Sumatera Utara. Keturunannya:
1. Ahmad Rizaldi Parsaulian, lahir 7 Maret 1976 di Tanjung Balai.
3. Drs. Daman Syahri Harahap (1948-1986), dengan istri Ovvi Syarifah Hanum, boru Lubis dari Panyabungan bermukim di Jakarta. Keturunannya:
1. Hafni Sari Damayanti (pr), lahir 10 Oktober 1978 di Jakarta.
2. Rika Yuliana (pr), lahir 19 Juli 1981 di Jakarta.
4. Mohammad Syofian Harahap, gelar Sutan Habincaran Oloan (1950-2000), dengan istri Syafiatun, boru Regar dari Sipirok, bermukim di Jalan Katelia no 19 Jatibe-ning I, Pondok Gede Bekasi.Kodepos 17412.Telepon:847-1552. Keturunannya:
1. Dini (pr), lahir 31 Januari 1978 di Jakarta.
2. Dewi (pr), lahir 9 Juni 1980 di Jakarta.
5. Barumsyah Harahap (1952-2002), dengan istri Erwati boru Tanjung dari Padang bermukim di jalan S. Parman no. 302, Medan. HP: 08126025655. Keturunannya:
1. Nila Ramadiana, lahir 18 April 1990 di Medan.
6. Tati Darwati Harahap menikah dengan Ir. Soleman, marga Siregar dari Sidingkat.

12-2-3. Cucu Pangibulan Harahap, gelar Haji Anwar Pangibulan.
———————————————————————
1. Nurul Helviani Harahap menikah dengan….., marga………dari……..
2. Syaiful Indra Harahap, dengan istri Yanti, boru Regar dari Parau, bermukim di jalan
Tomat no.17 Medan Baru. Tel: 4568575. HP: 085261050220. Keturunannya:
1.
3. Abdi Harahap, dengan istri…, boru…..dari….bermukim di……Keturunannya:
1.
4. Misrul Harahap menikah dengan….., marga………dari……..
5. Mini Harahap menikah dengan….., marga………dari……..
b. Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Hanopan.
2. Anak cicit Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan.
2-1. Cicit Abdul Hamid Harahap, Tuan Datu Singar, gelar Sutan Hanopan.
2-1-1. Cucu Sutor Harahap, gelar Baginda Raja Pandapotan.
—————————————————————–
1. Amir Hamzah Harahap meninggal kecil di Lhok Seumawe, Aceh. Akan tetapi na-manya menjadi panggoraran Ompung Sutan Hanopan di Kampung, yakni: “Ompu ni Amir”.
2. Haji Sangkot Muhammad Syarif Ali Tua Harahap, gelar Mangaraja Hanopan (1923-2005), dengan istri Hj. Nonggar (1928-2006), boru Regar dari Bunga Bon-dar bermukim di Kampung F Trikoyo, Tugumulyo, Lubuk Linggau, Sumsel. Tel. (0733)-371402. Pendidikan: Tahun 1938 masuk HIS Andreas School Roomsch Katholiek, Palembang, dan terhenti karena Perang Dunia Ke-II. Pekerjaan: Pega-wai Sipil bagian Teknik Batalion Genie Pioneer Territorium II Sriwijaya di Lubuk Linggau. Tidak mempunyai keturunan.
3. Marasuddin Harahap meninggal kecil.
4. Sangkot Hamid Harahap (1927-1986), gelar Sutan Hanopan Naposo, dengan istri Hj. Rosmanidar boru Regar dari Bunga Bondar berdiam di Jalan Dilli Raya Blok A/8 no. 4, BTN Jaya Indah, Mekar Sari, Bekasi Tel. 880-5044. Pendidikan: Tahun 1941 mengikuti HIS Andreas School Roomsch Katholiek, Palembang, terhenti karena Perang Dunia ke-II. Pekerjaan: Pegawai Sipil Tata Usaha Angkatan Darat Kodam V Sriwijaya di Palembang, lalu pulang ke Hanopan. Kemudian merantau la-gi ke Jakarta dan berwirausaha. Keturunannya:
1. Nusyirwan, lahir 5 Mei 1955 di Palembang.
2. Rosalina Lilian Galina Putri (pr), lahir 7 Desember 1956 di Palembang.
3. Ellisya (pr), lahir 19 April 1959 di Palembang.
4. Lisna (pr), lahir 25 Juni 1962 di Hanopan
5. Kusnandar, lahir 22 Juni 1969 di Jakarta.
6. Farida (pr), lahir 2 April 1972 di Jakarta.
5. Sangkot Anwar Bey Effendy Harahap (1930-1991) dengan istri Hj. Siti Ramiah (….-2011), boru Regar dari Tanjung dekat Hanopan, awalnya bermukim Pa-lembang kemudian pindah ke Irian Barat (Papua). Pendidikan: SGA. Pekerjaan: Guru SD, SMP, Kepala SMP Negeri, Kandep P&K Yapen Selatan di Serui. Ketu-runannya:
1. Sori Budimansyah, lahir 11 Januari 1956 di Palembang.
2. Ida (pr), lahir 5 Januari 1957 di Palembang.
3. Khairani (Reni, pr), lahir 5 Februari 1959 di Palembang.
4. Tetty (pr), lahir 25 Nopember 1960 di Palembang.
5. Anitha (pr), lahir 23 Nopember 1963 di Lubuk Linggau.
6. Erni (pr), lahir 16 Oktober 1967 di Serui.
7. Evie (pr), lahir 15 Mei 1968 di Serui.
8. Sutor Wansyah, lahir 6 September 1971 di Serui.
6. Haji Drs. Mohammad Arifin Harahap dengan istri Hj. Dr. Machrani, boru Regar dari Sipirok. Awalnya tinggal di Jakarta lalu pindah ke Kuala Lumpur, Malaysia mengi-kuti tawaran menjadi guru di Malaysia pada zaman Perdana Menteri Tun Abdul Razak. Terakhir bermukim di: 7 Tingkat Pantai Jerjak, Taman Century 11700 Gelu-gor, Pulau Pinang. Pendidikan: IKIP Bandung. Pekerjaan: Guru di Sekayu, Sumate-ra Selatan, lalu menjadi Guru Sekolah Alamsyah di Kuala Lumpur, Dosen Uni-versiti Sains Malaysia (USM) di Pulau Pinang. Keturunannya:
1. Irwan, lahir 14 Nopember 1971 di Kuala Lumpur.
2. Yuska (pr), lahir 15 Januari 1973 di Kuala Lumpur.
3. Helmi, lahir 3 Maret 1975 di Kuala Lumpur.
7. Haji Mohammad Rusli Harahap M.Sc., gelar Sutan Hamonangan, dengan istri Ir. Hj. Rusmini S.R., boru Nasution dari Muara Botung berdiam di jalan Batu Pancawarna I/2A, Pulomas Jakarta 13210. Pendidikan: ATN Jakarta, lalu melanjutkan ke MEI (Institut Tenaga Listrik Moskow) di Uni-Sovyet. Pekerjaan Staf Pangajar ISTN Jakarta. Penyusun Tarombo Marga Harahap pomparan Tongku Mangaraja Hanopan dari Hanopan ini. Keturunannya:
1. Arifilmiansyah Parlindungan, lahir 11 Juli 1974 di Jakarta.
2. Budiadiliansyah Pardomuan, lahir 30 Maret 1976 di Jakarta.
3. Altinai Molunasari, lahir 23 Juni 1978 di Jakarta.
4. Mulia Firmansyah, lahir 2 juli 1982 di Jakarta.
8. Hj. Dra. Siti Fatimah Marsari Harahap menikah dengan Humam Yahya asal Semarang, Jawa Tengah.
2-1-2. Cucu Maujalo Harahap, gelar Baginda Soripada Paruhum.
———————————————————————–
1. Siti Ramalan meningal kecil.
2. Sanusi Harahap, gelar Sutan Datu Singar (1924-19..), dengan istri Siti Maimunah, boru Lubis dari…; digantikan Nursih boru dari …, bermukim di jalan…, Sido Dadi, Lubuk Pakam. Pekerjaan: Kantor Pertanian. Keturunannya:
1. Ida Murni (pr), lahir ……1947 di Parbaungan.
2. Nurhayati (pr), lahir ……1951 di Parbaungan.
3. Nilawati (pr), lahir ……1953 di Parbaungan.
4. Khairul Anwar, lahir ……1955 di Parbaungan.
5. Rizal, lahir ……1957 di Parbaungan.
6. Suryani, lahir ……1959 di Parbaungan.
7. Suryati, lahir ……1961 di Parbaungan.
8. Rahmat Hanopan, lahir ……1963 di Parbaungan.
9. Ernawati, lahir ……1965 di Lubuk Pakam.
10. Masita, lahir ……1967 di Lubuk Pakam.
11. Butet (pr), lahir ……19. di Lubuk Pakam.
12. Saiful, lahir ……19. di Lubuk Pakam.
13. Sari (pr), lahir ……19. di Lubuk Pakam.
3. Sahala Harahap meninggal muda.
4. Muhammad Ali Harahap (1928-2003) dengan istri Fatimah Reni, boru Harahap dari Pintu Padang, bermukim di Padang Sidempuan. Keturunannya:
1. Marwan, lahir 6 Desember 1957 di Padang Sidempuan.
2. Syafril, lahir 26 Agustus 1960 di Padang Sidempuan.
3. Nani (pr), lahir 2 Januari 1962 di Padang Sidempuan.
4. Taviana (pr), lahir 16 Agustus 1963 di Padang Sidempuan.
5. Ilvan Amri, lahir 20 Juli 1965 di Padang Sidempuan.
6. Rosnawati (pr), lahir 29 September 1968 di Padang Sidempuan.
7. Lisnasari (pr), lahir 23 Nopember 1971 di Padang Sidempuan.
8. Indrayani (pr), lahir 20 Februari 1974 di Padang Sidempuan.
5. Tapiangat Syarifah Harahap (1930-2000) menikah dengan Arfan Marwazie, marga Lubis dari Silaping, Mandailing.
6. Muhammad Muchtar (Luthfi) Harahap (1932-2012), gelar Tongku Datu Batara Gu-ru, dengan istri Asnah, boru Muntok dari Pulau Bangka, berdiam di jalan Senang Hati no.14, RT 01, RW 1, Mentok, Bangka. Keturunannya:
1. Suryani (pr), lahir 20 Februari 1965 di Mentok.
2. Rini (pr), lahir 10 Juni 1966 di Mentok.
3. Rudi, lahir 25 Desember 1967 di Mentok.
4. Fery, lahir 17 Oktober 1969 di Mentok.
5. Rinaldi, lahir 20 Agustus 1971 di Mentok.
6. Yusuf Parlindungan, lahir 26 Maret 1973 di Mentok.
7. Charlie, lahir 9 Mei 1976 di Mentok.
7. Pangaduan Muda Harahap (1935-1950) berdiam di Sipirok.
8. Haji Mohammad Nasir Harahap MBA, gelar Tongku Raja Hamonangan Soripada (1936-2003) dengan istri Syamsinar, boru Minang dari Jakarta, berdiam di jalan Ja-tinegara Timur III no.131, Jakarta 13350.Tel:819-6152. Karena meninggal lalu digantikan adiknya Ida. Keturunannya:
1. Nura (pr), lahir 2 Oktober 1968 di Jakarta.
2. Sari (pr), lahir 10 Desember 1970 di Jakarta.
3. Diah (pr), lahir 17 Desember 1972 di Jakarta.
4. Reza, lahir 23 September1976 di Jakarta.
5. Riza, lahir 20 Juli 1988 di Jakarta.
9. Trimurti Harahap (1946-20..) menikah dengan …., marga Siregar dari Pargarutan Pasar.
10. Haji Indra Tjaja Harahap (1948-20..) dengan istri Kati, boru Pulungan dari Bedage, Deli, bermukim di Perumahan Pondok Cipta, Blok E-40, Bekasi 17134. Tel.884-6749. Keturunannya.
1. Arsyad, lahir 14 September 1975 di Jakarta.
2. Alfrady, lahir 3 Agustus 1983 di Jakarta.
11. Drs. Dzulkarnain Harahap (1970-20..) dengan istri Ir.Tati Yasin boru Sulawesi bermukim di Perumahan Bukit Kencana, Blok ANII/2, Pondok Gede, Bekasi. 17414. Tel.847-3440. Ke-turunanya:
1. Syifa Azzahra (Fara, pr), lahir 17 Januari 2003 di Jakarta.
2. Adek, lahir ……. di Jakarta.
3. lahir ……. di Jakarta.
2-1-5. Cucu Pelinuruddin Harahap, Haji gelar Muhammad Nurdin
————————————————————————
1. Alamsyah Budin Harahap dengan istri Arimastuti, boru Ngawi, Madiun, dari Jawa Timur, bermukim di jalan pulau Matagatik Blok A-1/3, Jati Makmur Permai, Pon-dok Gede, Bekasi 17413. Pendidikan: ALRI. Pekerjaan: di Pangkalan ALRI Su-rabaya.
1. Farida (pr), lahir 27 April 1973 di Surabaya.
2. Gatot, lahir 31 Mei 1975 di Surabaya.
2. Basri Harahap meninggal kecil.
3. Hj.Zubaidah Harahap menikah dengan Idris, marga Pardede dari Sibolga.
4. Ustan Harahap meninggal masih kecil.
5. Krtini Harahap meninggal kecil.
6. Kardinah Harahap menikah dengan Firman, marga Sihombing dari Siborong-borong.
7. Tobotan Harahap meninggal kecil.
8. Haji Lahuddin Harahap dengan istri Risna, boru Pane dari Lancat, bermukim di jalan Bima, Kapling PTB Blok J-5 no.1-2 Tegal Alur, Cengkareng Jakarta 11820. Pendidi-kan SMA. Pekerjaan Samsat DKI. Keturunannya:
1. Dani Mulya Jaya, lahir 20 April 1977 di Jakarta.
2. Muhammad Yudi, lahir 10 Juli 1980.
9. Muhiddin Harahap dengan istri Holida, boru Regar dari Tanjung, Dolok Sinomba, bermukim di Hanopan. Pekerjaan: Tani. Keturunannya:
1. Hendra Marzuki Pandapotan, lahir 1 Mei 1978 di Hanopan.
2. Veronika (pr), lahir 1 Maret 1981 di Hanopan.
3. Jani Pramana, lahir 6 Juni 1985 di Hanopan.
4. Wirja Wijaya, lahir 9 Nopember1987 di Hanopan.
5. Anugrah, lahir 8 Mei 1991 di Hanopan.
10. Halimatussakdiah Harahap menikah dengan ….., marga….. dari……
11. Nursaidah Harahap menikah dengan Hairudin, marga Hasibuan dari Roncitan.
12. Muhammad Sukri Harahap dengan istri Justima, boru Pasaribu dari Sorkam bermu-kim di Sibolga, keturunannya:
1. Juandi, lahir di Sibolga.
2. Asnita (pr), lahir di Sibolga.
3. Erwina (pr), lahir di Sibolga.
4. Nuraisah (pr), lahir di Sibolga.
13. Abdul Halim Harahap dengan istri …., boru…..dari…., bermukim di…..….Keturunannya:

2-1-7. Cucu Hisar Harahap, gelar Baginda Harahap
——————————————————
1. Deliana Harahap menikah dengan Tohar, marga Nasution dari Hanopan.
2-1-8. Cucu Haji Muhammad Diri Harahap S.H, gelar Baginda Raja Mulia
Pinayungan.
———————————————————————————–
1. Drs. Dirwan Yuliansyah Harahap, gelar Tuan Datu Singar, dengan istri Irna, boru Periangan dari Bandung, bermukim di jalan Hang Tuah VIII/8, Kebayoran Baru, Jakarta. Sejak tanggal 12 Juni 2006, pindah ke alamat sementara jalan MPR III, no.24, Cipete, Jakarta Selatan, Tel. 722-4423. Tempat tinggal tetap beralamat: Kompleks Jati Indah, jalan Jati Indah V no.20, Pangkalan Jati, Pondok Labu. 12450. Tel: 765-6695. Keturunannya:
1. Adrian, lahir 27 Mei 2000 di Jakarta.
2. Elkie Kumala, lahir 10 Desember 2006.
2. Hj. Dirwani Elvy Yuswita Harahap S.H. menikah dengan Alvin, marga Tanjung dari Sorkam, Sibolga.
3. Magnora Chaerina Yulianti Harahap S.H. menikah dengan Ir. Sony anak Ir. Suradi, dari Solo, Jawa Tengah.
2-1-11. Cucu Haji Marajali Harahap, gelar Baginda Guru Sodungdangon
——————————————————————————-
1. Hj. Dr. Darwisyah Harahap (1945-20..), menikah dengan drs.Barita,
marga Tambunan dari Tukka, Sibolga.
2. Hj. Dr. Erwina Harahap (1947-2005) menikah dengan Sakuri dari
Purwokerto, Jawa Tengah.
3. Ir. Irsan Harahap (1950-2006), dengan istri Ir. Dedeh Zubaidah, boru Le-
Les, Garut, Periangan, Jawa Barat, bermukim di Perumahan Flat Pulo Mas, Gedung 3, Lantai 3, Jakarta Timur. Tidak mempunyai keturunan.
4. Ahmad Daulat Nabonggal Harahap meninggal kecil.
2-1-12. Cucu Haji. Dr. Pamusuk Harahap, gelar Baginda Namora Pusuk ni Hayu
—————————————————————————————-
1. Dr. Ir. Prita Wardani Dumasari Harahap M.Sc., gelar Namora Dumasari Rondabulan menikah dengan Ir. Krisna Murti Murad MSA, marga Guei dari Bukit Tinggi, Su-matera Barat.
2. Ir. Irina Masteri Chairani Harahap, gelar Tapi Mastri Khairani, menikah dengan drs. Zukri Saat dari Bukit Tinggi, Sumatera Barat.
3. Haji Dr. Wiersma Arif Hanopan Harahap SpB, gelar Tongku Datu Arif Hanopan de-ngan istri Dr. Meifi Jelita, marga Pamuncak, boru Minang dari Padang Panjang, berdiam di Komplex Filano Jaya Permai, Blok A/2, Alai Gunung Pangilun, Padang. Keturunannya:
1. Annisa (pr), lahir 30 Desember 1994 di Bukit Tinggi.
2. Nadila (pr), lahir 22 Februari 1996 di Padang.
3. Andini (pr), lahir 26 Januari 1999 di Padang.
4. Yulia Rahmi (pr), lahir 26 Juli 2000 di Padang.
5. Muhammad Irfan, lahir 23 Agustus 2002 di Jakarta.
Catatan: Susunan keluarga generasi duapuluhtiga ini, mengulangi keluarga Demar
Harahap, gelar Ja Manogihon dari generasi kesembilanbelas diatas.
4. Ir. Bourdon Saleh Harahap MBA, gelar Tongku Batu Nanggar Jati, dengan istri Dewi Mustika, boru Pariaman dari Sumatera Barat, bermukim di jalan Kamang no.4 Padang. Keturunanya:
1. Muhammad Adnan, lahir 16 Juni 2000 di Padang.
2 Adinda (pr), lahir 21 Desember 2001 di Padang.
2-2. Cicit Kasim Harahap, gelar Tongku Mangaraja Elias Hamonangan.
2-2-3. Cucu Dimpu Harahap, gelar Baginda Parbalohan Naposo
———————————————————————-
1. Maria Christina (Todas) Harahap (1931-2006) menikah dengan Binsar, marga Si- tompul dari Pahae, berdiam di Lampung.
2. Puji Machdalena Harahap menikah dengan Umar, marga Nasution dari Padang Si-dempuan, berdiam di Jakarta.
3. Elizabeth Tiagar Harahap menikah dengan Uhum, marga Siagian dari Hanopan.
4. Grace Nabasa Harahap (1937-2002) menikah dengan Sjamsir, marga Siregar dari Bunga Bondar.
5. Hanopan Harahap (1939-2003) dengan istri Nurmaingot, boru Gultom dari Silangge, bermukim di jalan Pinang IV no.80, Pondok labu RT13, RW 02, Jakarta1245. Pe-kerjaan: wirausaha. Keturunannya:
1. Dameria (pr), lahir…..19.. di Jakarta.
2. Lasmaria (pr), lahir…..19.. di Jakarta,
3. Oberlin, lahir…..19.. di Jakarta.
6. Laung Pandapotan Harahap dengan istri Tintin Aisyah boru Cianjur dari Periangan, lalu digantikan Iik dari Nakgrak Bogor, bermukim 2 km dari simpang Sukaraja-Na-grak, Nagrak, RT 01, RW 01, Bogor. Keturunannya:
1. Ruli Arga, lahir 4 September 1974 di Bogor. Tel. (0251)-358275.
2. Hikmat Ilyas, lahir 14 Februari1976 di Bogor.
3. Surtani Natalia (pr), lahir 25 Desember 1981 di Bogor.
4. Rudi Arga, lahir 11 September 1994 di Bogor.
7. Torkis Harahap menikah dengan Edi M, marga Ritomga dari Roncitan.
8. Liman Barisan Angkola Harahap dengan istri Tetty, boru Regar dari Bu-nga Bondar, boru Sutan Habiaran, bermukim di jalan Lembah Aren III, Pondok Kelapa, Ka-veling DKI, Blok K11/12, Jakarta Timur. Tel.864-3258. Keturunannya:
1. Dorkas (pr), lahir 24 Maret 1972 di Jakarta.
2. Yongki Doni Safari, lahir 25 Agustus 1983 di Jakarta.
3. William Har, lahir 19 Nopember 1983.
9. Gozali Harahap dengan istri Yeti, boru Kuningan dari Cirebon, Jawa Barat, ber-mukim di jalan Swadaya Rawa Domba no. 23, RT/RW 009/07 Jakarta. Keturu-nannya:
1. Steven Tuanku Elias, lahir 17 Januari 1999 di Bogor.
10. Soriduma Sanne Harahap menikah dengan Indra, marga Sitompul dari Pematang Si-antar.
2-2-6. Cucu Partaonan Harahap, gelar Baginda Soripada Partaonan (BSP).
———————————————————————————-
1. Asmaran Parsaulian Harahap (1941-19..) dengan istri Bertina boru Nainggolan dari Sijungkit, bermukim di jalan Mesjid Raya Baru no.14 Padang Sidempuan. Tidak mempunyai keturunan.
2. Ida Hatni Harahap menikah dengan Kalibumi, marga Siregar dari Lancat, bermukim di Jakarta.
3. Dona Rosaktina Harahap, menikah dengan Jashia, marga Marpaung dari Galang-gang, Sipirok.
4. Maharani Dohariana Harahap, menikah dengan Arden, marga Siregar dari Sibadoar.
5. Dewi Sri Hasiholan Harahap, menikah dengan Amru, marga Sinaga dari Sipagimbar
6. Dana Guswin Harahap (1951-19..) dengan istri Fifa, boru Nasution dari Kotanopan berdiam di Padang Sidempuan. Keturunannya:
1.
2.
7. Eddy Mangaraja Hamonangan Harahap, (1956-….), dengan istri Misna Herawati, boru Meulaboh dari Aceh, bermukim di jalan Mesjid Raya Baru no.14 Padang Sidempuan. Keturunannya;
1.
2.
8. Meutia Elfina Harahap, menikah dengan Alfian, marga Siregar dari Pijorkoling.
9. Melfa Diana Harahap, menikah dengan Halim, marga Pohan dari Hanopan.
10. Ritha Dominar Harahap, menikah dengan Inyo Wage, marga……dari Tomohon, Su-lawesi Utara.
11. Umar Dhani Harahap, dengan istri Ida boru Caniago dari Pasaman Sumatera Barat bermukim di Hanopan. Alamatnya: Kantor Pos Huta Padang 22747, Kecamatan Arse. Nomor HP: 0813-61757108. Keturunannya:
1.
2-2-10. Cucu Bagon Harahap, gelar Baginda Hanopan.
——————————————————–
1. Sjahrin Halomoan Harahap SH (19.. – 2011) dengan istri Clara, boru Regar dari
Bunga Bondar, berdiam di jalan Matahari Raya no.10 Blok VI, Helvetia, Medan 20124. HP: 0811613335. Keturunannya:
1. Ika Sandra (pr), lahir…. 19…di Medan.
2. Adiaksa, lahir…… 19… di Medan.
3. Hendri, lahir….. 19… di Medan.
2. Hapastian Harahap S.H. dengan istri Siti A, boru Simangunsong dari…., bermukim di jalan Sepat No.45 B, RT 008 RW 02, Kel. Kebagusan I, Kec. Pasar Minggu. Tel. 7884-4354. Keturunannya:
1. Andy, lahir 1 April 1978 di Jakarta.
2. Agnes Stephanie (pr), lahir 23 Juli 1982 di Jakarta.
3. Nurcahaya Harahap, menikah dengan……, marga…..dari……
4. Ir. Bonggal Harahap dengan istri Rosanih boru …dari…… , bermukim di jalan
Bahari Tarogong, Jakarta Selatan. Tel.7266-4277. Pekerjaan: Kawasan Berikat
Nusantara Cilincing. Keturunannya:
1. Robert, lahir ….19….di Jakarta.
2. Maria (pr), lahir…. 19… di Jakarta.
3. Thesa (pr), lahir ….19… di Jakarta.
5. Tetty L. Harahap menikah dengan Drs.Aga B, marga Sitompul dari…….
6. Martha Harahap menikah dengan Johny Hans Sopaheluwakan dari……Maluku.
7. Drs. Ranto Cari Harahap dengan istri ……..boru …dari….. bermukim di jalan Fat-mawati 45 B, Cilandak Jakarta 12430. Tel. 769-5486. Keturunannya:
1.
8. Diparbasa Tua Harahap dengan istri …….., boru …dari…..bermukim di jalan Fat-
mawati 45 B, Cilandak Jakarta 12430. Tel. 769-5486. Keturunannya:
9. Dra Yunita D. Harahap menikah dengan …….. dari ………
10. Mei Abeto Harahap dengan istri ….., boru….dari bermukim di jalan Fatmawati
45 B, Cilandak Jakarta 12430. Tel. 769-5486. Keturunannya:
1.
2-2-12. Cucu Toga Harahap, gelar Baginda Mulia.
—————————————————-
1. Dr. Amru Bahrum Paranginan Harahap SpOb. dengan istri dr.Tetty Murniati Dairi-ani, boru Hutabarat dari Pahae, bermukim di jalan Pondok Labu I/6 Jakarta Selatan 12450 Tel: 765-8061. Keturunannya:
1. Ezra, lahir 24 Januari 1988 di Jakarta.
2. Dwita (pr), lahir 18 April 1989 di Jakarta.
3. Ruth Daratri (Utti, pr), lahir 8 Juni 1980 di Jakarta.
4. Andrew, lahir 24 Desember 1986 di Jakarta.

2. Halomoan Harahap BSc., gelar Mangaraja Naposo (1957-2000), dengan istri Hus-niati Mariati, boru Pasundan dari Jawa Barat, mendapat marga Ritonga dari Si-mangambat, berdiam di Jalan Pengayoman no.7 Jakarta Selatan 12410. Keturu-nannya:
1. Ira Deviana (pr), lahir 21 Agustus 1983 di Jakarta.
2. Nico Mulia Utama, lahir 24 Agustus 1984 di Jakarta.
3. Nanda Rico Parsaulian (Anggi), lahir .. September1992 di Jakarta.
3. Welly Hasiholan Harahap S.E., gelar…….(1959-20..), dengan istri Berty, boru Rito-nga dari Simangambat, berdiam di jalan Kelapa Gading no.25, Jakarta Selatan 12420. Tel:765-9973. Keturunannya:
1. Bersaniya Nella Nauli (pr), lahir 24 April 1996 di Jakarta.
2. Bertrice Esmiralda Serena, lahir 23 Agustus 1998 di Jakarta.
4. Meitiawati Harahap menikah dengan Ir. Hotman, marga Sitompul dari Tarutung ber-
diam di Pekanbaru.

2-3. Cicit, Rachmat Harahap, gelar Sutan Nabonggal.
2-3-1. Cucu Sahat Harahap, gelar Baginda Mara Hasyim.
————————————————————-
Tidak memiliki keturunan anak laki-laki.
2-3-2. Cucu Marip Harahap, gelar Baginda Parbalohan/Baginda Panusunan.
———————————————————————————–
Terdapat keturunan anak laki-laki, tetapi meninggal kecil.

2-3-3. Cucu Zainuddin Harahap, gelar Baginda Pardomuan
—————————————————————–
1. Sri Ulettina Dohar ni Mouza Harahap menikah dengan Mohammad Ilyas Mohaji
dari Jawa tengah.
2. Sri Rejeki Rahmawati Harahap menikah dengan Toris Amani dari Jakarta.
3. Anak-cicit Sogi Harahap, gelar Baginda Soripada.
3-1. Cicit Mamin Harahap, gelar Mangaradja Alaan
3-1-2. Cucu Roup Harahap, gelar Baginda Paraduan.
———————————————————
1. Pangeran Harahap dengan istri…., boru….dari……, bermukim di……Keturunan-nya:
2. Parlindungan Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di………. Keturunannya:
3. Parsaulian Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di….Keturunan-nya:
4. Parlaungan Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di…….. Keturu- nannya:
5. Dewani Harahap menikah dengan …., marga……dari…….
6. Sulhana Harahap menikah dengan …., marga……dari……..
3-1-3. Cucu Burhanuddin Harahap, gelar Baginda Soaduon.
—————————————————————–
1. Nagan Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di…..Keturunannya:
1.
2. Rahman Harahap dengan istri…., boru….dari……, bermukim di………. Keturu-nannya:
3. Holija Harahap menikah dengan …., marga……dari……..
4. Sitiangur Harahap menikah dengan …., marga……dari……..
5. Nurhalima Harahap menikah dengan …., marga……dari……..
6. Ummi Harahap menikah dengan …., marga……dari…….
7. Sari Banun Harahap menikah dengan …., marga……dari……..
3-2. Cicit Maju Harahap, gelar Mangaraja Riapan.
——————————————————-
Tidak memiliki keturunan anak laki-laki.
3-3.Cicit Baitan Harahap, gelar Mangaraja Parlaungan.
3-3-1. Cucu Lolotan Harahap, gelar Baginda …..
—————————————————-
1. Nuraini Harahap menikah dengan …., marga……dari……..
2…….Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di Keturunannya:
1.
3-3-2. Cucu Aminuddin Harahap, gelar Baginda ……
———————————————————
1. Dalian Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di……Keturunannya:
2. Ridoan Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di……Keturunannya:

3-3-3. Cucu Ridoan Harahap, gelar Baginda …..
—————————————————
1. ……Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di Keturunannya:
2.
3-3-4. Cucu Gomuk Harahap, gelar Baginda …..
—————————————————-
1. Kipli Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di…..Keturunannya:

3-4. Cicit Tobat Harahap, gelar Mangaraja Paranginan.
3-4-1. Cucu Lajim Harahap, gelar Baginda Raja.
—————————————————
1. Roslina Harahap menikah dengan …., marga……dari……..
2. Ridoan Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di…..Keturunannya:
3. Salim Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di……Keturunannya:
4. Asroida Harahap menikah dengan …., marga……dari……..
5. Mohammad Amin Harahap dengan istri…., boru…. dari……bermukim di…….
Keturunannya:
6. Hapso Harahap menikah dengan …., marga……dari……..
7. Saidun Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di……Keturunannya:
8. Bosur Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di…….Keturunannya:
9. Nurlan Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di……Keturunannya:
10. Bokya Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di….Keturunannya:
3-4-2. Karani Harahap, gelar Batara’i.
————————————-
1. Nawi Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di……Keturunannya:
2. Annawati Harahap menikah dengan …., marga……dari………
3. Rahmawati Harahap menikah dengan …., marga……dari………
4. Ida Juwita Harahap menikah dengan …., marga……dari………
5. Nur Masnah Harahap menikah dengan …., marga……dari………
3-5.Cicit Kombang Harahap, gelar Malim Muhammad Arif.
3-5-1. Cucu Junid Harahap, gelar Haji Muhammad Junid.
————————————————————-
1. Matarip Harahap dengan istri…., boru….dari……, bermukim di…….Ketuunannya:
2. Bahrum Harahap dengan istri….,boru… dari……, bermukim di……Keturunannya:
3. Irsad Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di…….Keturunannya:
4. Syahban Harahap dengan istri….,boru….dari……,bermukim di…….Keturunannya:
5. Zul Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di……Keturunannya:
6…… Harahap dengan istri…., boru…., dari……bermukim di…..Keturunannya:
7. Rosma Harahap menikah dengan …., marga……dari………
8. Tina Harahap menikah dengan …., marga……dari………
9. Netti Harahap menikah dengan …., marga……dari………
3-5-3. Cucu Syahrir Harahap, gelar Baginda Muda.
——————————————————
1. Habonaran Harahap dengan istri Atun, boru dari Tegal, Jawa Tengah, ber-ukim di jalan…….Jakarta. Keturunannya:
1. Meriana (pr), lahir……19 di Jakarta.
2. Ramadan, lahir……19 di Jakarta.
3. Desi (pr), lahir……19 di Jakarta.
2. Hamonangan Harahap dengan istri Sumawati, boru Bugis, dari Sulawesi Selatan berrmukim di jalan…..Pontianak. Keturunannya:
1. Bahari, lahir……19 di Pontianak.
2……. lahir……19 di Pontianak.
3. Ardin Harahap dengan istri Tini, boru Sagala dari Sigiring-giring dekat Silangge, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Susi (pr), lahir 19.. di Hanopan.
2. Sanusi Saleh, lahir 19.. di Hanopan.
3. Ita (pr), lahir 19.. di Hanopan.
4. Sahrin, lahir 19.. di Hanopan.
4. Rifai Harahap dengan istri Talisma, boru Betawi dari Jakarta, bermukim di jalan ……Jakarta. Keturunannya:
1. Robbi, lahir 19.. di Jakarta.
2. Rohana (pr), lahir 19.. di Jakarta.
5. Roland Harahap dengan istri Aini, boru Gultom dari Simangambat, bermukim di jalan…..Jakarta. Keturunannya:
1. Desti (pr), lahir 19.. di Jakarta.
2. Roni, lahir 19.. di Jakarta.
6. Berli Harahap menikah dengan Medison, marga Panjaitan dari Pagaran Pisang.
7. Nuraini Harahap menikah dengan …., marga……dari………
3-5-4. Cucu Matnusin Harahap, gelar Baginda ….
—————————————————–
1. Ir.Harmaulina Juniarti Harahap menikah dengan …., marga …… dari………
2. Dra. Hartina Aprida Harahap menikah dengan …., marga……dari………
3. Harif Syahbudin Harahap dengan istri….,boru…. dari……,bermukim di…..Keturu-nannya:
4. Harpandi Agusnardi Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di Ketu-runannya:
5. Harry Effendi Harahap dengan istri…., boru….dari……, bermukim di…..Keturu- nannya:
6. Harmeijn Maryadi Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di….. Ke-turunannya:
7. Arif Widiansyah Harahap dengan istri…., boru….dari……, bermukim di…..Keturu- nannya:
3-5-5. Cucu Mustamin Harahap, gelar Baginda Pariaman.
————————————————————-
1. Hirawati Harahap menikah dengan …., marga……dari………
2. Asnan Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di……Keturunannya:
1.
3. Juniar Harahap menikah dengan …., marga……dari………
4. Linda Harahap menikah dengan …., marga……dari………
5. Rostanida Harahap menikah dengan …., marga……dari………
3-6. Cicit Adun Harahap, gelar Ja Hatunggal.
3-6-1. Cucu Pantis Harahap, gelar Baginda …..
————————————————–
1. Hamonangan Harahap dengan istri…., boru…. dari…bermukim di……Keturunan-nya:
1.
2. Ruslan Harahap dengan istri…., boru…. dari……,bermukim di…..Keturunannya:
3. Amril Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di…..Keturunannya:
4. Makmun Harahap dengan istri…., boru…. dari……,bermukim di…Keturunannya:
5. Rosinar Harahap menikah dengan …., marga……dari………
6. Juria Harahap menikah dengan …., marga……dari………
7. Rohma Harahap menikah dengan …., marga……dari………
3-6-2. Cucu Uddin Harahap, gelar Baginda………
——————————————————
1.
2.
3.
3-6-3. Cucu Pande Harahap, gelar Baginda………
——————————————————
1.
2.
3.
4.
5.
3-6-4. Cucu Eras Harahap, gelar Baginda …..
———————————————–
1. Ronda Harahap menikah dengan …., marga……dari………
2.
3.
4.
5.
3-6-9. Cucu Dekman Harahap, gelar Baginda …..
—————————————————–
1.
2.
3-7. Cicit Ratus Harahap, gelar Ja Pangaribuan.
3-7-1. Cucu Teler Harahap, gelar Baginda ………….
———————————————————
1.
2.
3-7-2. Maraganti Harahap, gelar Baginda Habiaran.
——————————————————-
1. Johny Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di … Ketu-runannya:
1.
2. Loberto Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di.. Ketu-runannya:
1.
3. Anaria Harahap menikah dengan …., marga……dari………
4. Sepnauli Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di… Keturunannya:
1.
5. Timbul Hamonangan Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di…… Keturunannya:
1.
6. Masdinar Harahap menikah dengan …., marga……dari………
3-7-3. Morai Harahap, gelar Baginda Sojuangon.
—————————————————
1. Masdalena Harahap menikah dengan …., marga……dari………
2. Elias Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di.. Keturunan-nya:
1.
3. Pandapotan Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di.. Ketu-runannya:
1.
4. Marlina Harahap menikah dengan …., marga……dari………
5. Muhammad Ali Harahap dengan istri…., boru….dari…, bermukim di… Ketu-runannya:
1.
6. Mohammad Alpian Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di… Keturunannya:
1.
3-9. Cicit Adong Harahap, Ja Balau, gelar Sutan Sonanggaron, Tongku Mangaraja Hanopan Naposo.
3-9-1. Cucu Ginda Harahap, gelar Baginda…….
—————————————————
1. Indrawan Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di.. Keturunannya:
1.
2. Edwardsyah Harahap dengan istri…., boru… dari…, bermukim di.. Keturunannya:
1.
3. Elpagus Hendri Harahap dengan istri…., boru….dari…, bermukim di…… Keturu-nannya:
1.
4. Yulianti Harahap menikah dengan …., marga……dari………
5. Maulana Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di.. Keturunannya:
1.
6. Parlindungan Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di…..Ke-turunannya:
1.
7. Dadang Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di Keturu-nannya:
1.
3-9-2. Cucu Syamsi Harahap, gelar Baginda ……
—————————————————–
1.
2.
3-9-3. Cucu Ichwan Harahap, gelar Baginda…….
—————————————————–
1. Faisal Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di Ketu-ru-nannya:
1.
2. Paima Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di Keturu-nannya:
1.
3. Pahron Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di Keturu-nannya:
1.
3-9-4. Cucu Safaruddin Harahap, gelar……
———————————————-
1. Nurulhuda Harahap menikah dengan …., marga……dari………
3-10. Cicit Jabal Harahap, gelar Mangaraja Bukit Siduadua.
3-10-2. Cucu Nukman Harahap, gelar…….
——————————————–
1.
3-10-5. Cucu Syarifudin Harahap, gelar…….
———————————————-
1.
3-10-6. Sampe Harahap, gelar……
———————————
1.
3-10-7. Mara Ponu Harahap, gelar……
—————————————
1.
5. Anak cicit Lilin (Sutor) Harahap, gelar Baginda Malim Muhammad Arif.
5-1. Cicit Morgu Harahap, gelar Mangaraja Guna.
5-1-1. Cucu Jalil Harahap, gelar………
————————————–
1….Harahap, dengan istri…. boru……dari…., bermukim di…, Sumatera Barat. Ketu- runannya:
1.
5-1-2. Cucu Pada Harahap, gelar………….
——————————————
1……Harahap, dengan istri….boru….dari….., bermukim di …, Sumatra Barat. Ketu-
runannya:
1.
5-1-3. Cucu Zainuddin Harahap, gelar………….
————————————————-
1……Harahap, dengan istri….boru….dari….., bermukim di Simangambat. Keturu-nannya:
1.
5-1-4. Cucu Abdul Wahid Harahap, gelar…………
—————————————————
1….. Harahap, dengan istri…. boru……dari …….., bermukim di Simangambat. Ke-
turunannya:
1.
5-1-5. Cucu Pangibulan Harahap, gelar………..
———————————————–
1…..Harahap, dengan istri.….boru…..dari ……, bermukim di……, Sumatera Barat. Keturunannya:
1.
5-1-6. Cucu Hamzah Harahap, gelar…………
———————————————
1…….Harahap, dengan istri…. boru…..dari……, bermukim di Simangambat. Keturunannya:
1.
5-2. Cicit Daliun Harahap, gelar Ja Marliun.
5-2-1. Cucu Bahori Harahap, gelar……….
——————————————
1. Burhanuddin Harahap, dengan istri…..boru……dari…… Keturunannya:
1.
2. Drs. Hasbi Harahap (19..-19..) dengan istri…..boru……dari……Keturunannya:
3. Umar Harahap, dengan istri…..boru……dari…… Keturunannya:
4. Ansor Harahap, dengan istri…..boru……dari…… Keturunannya:
5. Hot Matua Harahap, dengan istri…..boru……dari…… Keturunannya:
6. Rostina Harahap menikah dengan …., marga……dari………
7. Jamila Harahap menikah dengan …., marga……dari……….
5-2-2. Cucu Maskut Harahap, gelar………….
———————————————
1……Harahap, dengan istri…., boru…..dari….., bermukim di…., Sumatera Barat. Keturunannya
1.
5-2-3. Cucu Sabirin Harahap, gelar………
——————————————
1…..Harahap, dengan istri.…, boru…..dari….., bermukim di …….., Simangambat Keturunannya:
1.
5-2-5. Cucu Nasrun Harahap, gelar………….
———————————————
1……Harahap, dengan istri …..boru…dari……, bermukim di……… Simangambat. Keturunannya
1.
5-2-6. Cucu Amiruddin Harahap, gelar…………
————————————————-
1……. Harahap, dengan istri……., boru….. dari….., bermukim di Simangambat. Keturunannya
1.
5-3. Cicit Saribun Harahap, Ja Kidun, gelar Sutan Martua.
5-3-1. Cucu Yusuf Harahap, gelar……..
—————————————-
1……Harahap, dengan istri…., boru……dari…., bermukim di jalan……, Labuhan Batu. Keturunannya
1.
5-3-2. Cucu Hasanuddin Harahap, gelar………..
————————————————-
1……Harahap, dengan istri…., boru……dari…..bermukim di jalan……, Rantau Pra-pat. Keturunannya:
1.
5-3-3. Matnuin Harahap, gelar……
———————————–
1.…Harahap, dengan istri…., boru……dari….., bermukim di jalan……, Rantau Pra-pat. Keturunannya:
1.
5-3-6. Rusli Harahap, gelar Baginda Namuap.
———————————————–
1……Harahap, dengan istri…. boru……dari….., bermukim di jalan……, Rantau Pra-pat. Keturunannya
1.
5-4. Cicit Saib Harahap, Ja Bolon, gelar Sutan Oloan.
5-4-1. Cucu Tukko Harahap, gelar Baginda Namuap.
———————————————————
1…..…Harahap, dengan istri….boru……dari….., bermukim di …, Sumatera Barat. Keturunannya
1.
7. Anak-cicit Manis Harahap, gelar Baginda Malim Marasyad.
7-1. Cicit Ja Lumut Harahap, gelar Mangaraja Parhimpunan.
7-1-1. Cucu Takim Harahap, gelar Ja Biaso.
———————————————
1. Lamsari Harahap menikah dengan Tahir, marga Siregar dari Jonggol Julu.
2. Parhimpunan Harahap, dengan istri….. . boru…..dari……Keturunannya:
1. Adam Pangihutan, lahir…….1983, di Hanopan.
2. Makruf Suitaro, lahir…….1985, di Hanopan.
3. Irfan Subuh Ro, lahir…….1989, di Hanopan.
4. Astita Nurlaila, lahir…….1995, di Hanopan.
5. Raja Said Natio, lahir…….1998, di Hanopan.
3. Buyung Harahap, dengan istri Ros, boru Regar dari Bunga Bondar Sampulu, ber-mukim di Hanopan. Keturunannya:
1.
2.
4. Maslina Harahap, menikah dengan Japar, marga Ritonga dari Lancat.

5. Sutan Harahap, dengan istri….. boru Regar dari Sabatolang, bermukim di.. … Keturunannya:
1.
2.
6. Nurianna Harahap, menikah dengan Muhun, marga Simatupang dari Lumban Lobu.

7-2. Cicit Bangun Harahap, gelar Mangaraja Naposo.
7-2-1. Cucu Hormat Harahap, gelar Baginda Pangibulan.
————————————————————-
1. Adil Harahap, dengan istri…… boru ……dari………, bermukim di……… Ketu-runannya:
1.
2. Sori Harahap, dengan istri……boru ……dari………, bermukim di…… …Keturu-nannya:
1.
3. Otmaida Harahap, menikah dengan…….., marga….. dari……..
4. Oslan Harahap, menikah dengan. …….., marga….. dari………
5. Nisma Harahap, menikah dengan…….., marga….. dari………
7-2-2. Cucu Maren Harahap, gelar………..
——————————————
1. Syamsulbahri Harahap dengan istri……, boru ……dari………, bermukim di……. Keturunannya:
1.
2. Abdullah Harahap, dengan istri……boru ……dari………, bermukim di ……… Keturunannya:
1.
3. Sahdin Harahap, dengan istri…… boru ……dari………, bermukim di… …Keturu-nannya:
1.
4. Sayuti Harahap, dengan istri…… boru ……dari………, bermukim di…..… Ketu-runannya:
1.
5. Ito Harahap, dengan istri……, boru ……dari………, bermukim di… ……Ketu-runannya:
1.
6. Pantas Roma Harahap dengan istri……, boru ……dari………, bermukim di……… Keturunannya:
1.

7. Parmintaan Harahap, dengan istri……, boru ……dari………, bermukim di……… Keturunannya:
1.
8. Rosni Rusui Harahap, menikah dengan……, marga……. dari…….
9. Bardansyah Harahap, dengan istri……boru ……dari………bermukim di ……… Keturunannya:
1.
7-3. Cicit Tembang Harahap, gelar Sutan Mangalai.
7-3-1. Cucu Mara Indo Harahap, gelar Baginda Natio.
———————————————————-
1. Berliana Harahap, menikah dengan….., marga……. dari…….
2. Sarip Harahap, dengan istri…… boru ……dari………, bermukim di……… Ketu-runannya:
1.
3. Ismail Harahap, dengan istri……, boru ……dari………, bermukim di……… Ketu-runannya:
1.
4. Ati Harahap, menikah dengan …., marga…….. dari…….
5. Harris Harahap, dengan istri…… boru ……dari………, bermukim di ……Keturu-nannya:
1.
6. Deliana Harahap, menikah dengan …., marga…….. dari…….
7. Lisma Harahap, menikah dengan …., marga…….. dari…….
8. Niar Harahap, menikah dengan …., marga…….. dari…….
9. Johny Harahap, dengan istri……, boru ……dari………, bermukim di……… Ke-turunannya:
1.
7-1-2. Cucu Tahim Harahap, gelar Baginda Parbatasan.
———————————————————–
1. Gondoria Harahap menikah dengan …….., marga……dari ………
2. Dasima Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
3. Bonggal Harahap, dengan istri……, boru…… dari……., bermukim di… Keturu-nannya:
1.
4. Paruhuman Harahap, dengan istri……, boru…… dari……., bermukim di Hanopan.
Ialah Kepala Kampung Hanopan tahun 1994. Keturunannya:
1.
5. Fakri Harahap, dengan istri……, boru…… dari……., bermukim di……….Ketu-runannya:
1.
6. Batu Harahap dengan istri……, boru…… dari…….bermukim di… Keturunannya:
1.
7. Muhammad Harahap dengan istri……, boru…… dari……., bermukim di… .Ketu-runannya:
1.
7-4. Cicit Rain Harahap, gelar Mangaraja Bintuju.
7-4-1. Cucu Nasar Harahap, gelar Baginda Malim.
—————————————————-
1. Sakti Harahap dengan istri……, boru……dari…….bermukim di… Keturunannya:
1.
2. Ahmad Harahap dengan istri……, boru…… dari…….bermukim di… Keturunannya:
3. Erwin Harahap dengan istri……, boru…… dari…….bermukim di… Keturunannya:
4. Siti Adin Harahap menikah dengan……., marga ……..dari ……
7-4-2. Cucu Munir Harahap, gelar ……
—————————————–
1.
7-4-3. Cucu Dahler Harahap, gelar……
—————————————–
1.
2.
7-5. Cicit Borkat Harahap, Ja Mukobul.
7-5-2. Cucu Supian Harahap, gelar…………
———————————————-
1.
7-5-4. Cucu Mara Tohong Harahap, gelar Baginda Rangke Hatoguan.
—————————————————————————-
1. Meri Yamashita, menikah dengan Abdul Majid, marga Siregar dari Sialagundi.
2. Umar Harahap dengan istri……, boru……dari…….bermukim di… Keturunannya:
1.
3. Audi Harahap dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Keturunan-nya:
4. Syarifuddin Harahap dengan istri……, boru……dari…….bermukim di… .Keturu-nannya:
7-5-5. Cucu Haposan Harahap, gelar…….
——————————————-
1. Awaluddin Harahap dengan istri……, boru……dari……., bermukim di …..Keturu-nannya:
1.
2. Lasmiwati Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
3. Seribulan Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
4. Masdalena Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
5. Epa Yanti Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
6. Kobul Pangidoan Harahap dengan istri……, boru……, dari…… .bermukim di… Keturunannya:
1.
7. Irawati Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
8. Abdul Haji Harahap dengan istri……, boru……, dari…….bermukim di …Ketu-runannya:
1.
9. Hopipah Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
7-5-6. Cucu Kotib Harahap, gelar Baginda Hatimbulan.
———————————————————–
1. Dedi Indrawardana Harahap dengan istri……, boru…… dari……., bermukim di… Keturunannya:
1.
2. Medi Rendra Cahyadi Harahap dengan istri……, boru…… dari……., bermukim di… . Keturunannya:
7-5-7. Cucu Marasat Harahap, gelar…..
—————————————-
1.
7-5-8. Cucu Amru Harahap, gelar…….
—————————————
1.
7-5-10. Cucu Lian Harahap, gelar…….
————————————–
1.

7-5-11. Cucu Kompes Harahap, gelar…….
——————————————-
1.
7-6. Cicit Sulaiman Harahap, gelar Ja Umar
7-6-2. Cucu Muslimin Harahap, gelar……..
———————————————-
1. Raya Harahap dengan istri……, boru……dari……, bermukim di… Keturunannya:
1.
2. Nita Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
3. Emmi Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
4. Rina Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
5. Marjan Harahap dengan istri……, boru……dari……., bermukim di………. Keturu-nannya:
6. Erwin Harahap dengan istri…….., boru……dari……., bermukim di……..Keturu-nannya:
7. Arne Harahap dengan istri……, boru……dari…….bermukim di… Keturunannya:
8. Alamsyah Harahap dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Keturu-nannya:
9. Zuliadani Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
7-6-3. Cucu Mandasin Harahap, gelar…..
——————————————-
1. Susi Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
2. Delimasari Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
3. Purnamasari Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
4.Rizal Efendi Harahap dengan istri……
5. Anggi Harahap….
7-6-6. Cucu Musla Harahap, gelar……
—————————————
1. Sandi Harahap dengan istri……, boru……dari…….bermukim di… Keturunannya:
2. Sahli Harahap dengan istri……, boru……dari…….bermukim di… Keturunannya:
3. Desi Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
7-6-7. Cucu Dahrum Harahap, gelar……
——————————————
1. Rida Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
2. Anto Harahap dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Keturunannya:
3. Mariska Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
4. Laila Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
5. Nurul Oktapia Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
7-6-10. Cucu Hairin Harahap, gelar…….
—————————————-
1. Taufik Akbar Harahap dengan istri……, boru……dari…….bermukim di …Keturu-nannya:
2. Nensi Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
3. Umar Harahap dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Keturunannya:
7-7. Cicit Salasa Harahap, gelar Ja Niarba.
7-7-1. Cucu Gunung Harahap, gelar…….
——————————————
1.
2. Hanida Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
3. Agus Harahap dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Keturunannya:
4. Tetty Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
5 .…..Harahap dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… .Keturunannya:
7-7-2. Cucu……..Harahap, gelar……
—————————————
1.
7-7-3. Cucu …….Harahap, gelar……
————————————–
1.
10. Anak-cicit Paian Harahap, gelar Baginda Malim Muhammad Nuh.
10-1. Cicit Togu Harahap, gelar Mangaraja Sianggian.
10-1-1. Cucu Lokot Harahap, gelar Baginda Parbalohan Dua.
—————————————————————–
1. Edisuandi Harahap, dengan istri……,boru……dari……Keturunannya:
1.
2. Epri Pardomuan Harahap, dengan istri……, boru……dari……Keturunannya:
3. Pangondian Harahap,. dengan istri……, boru……dari……Keturunannya:
4. Erni Tati Harahap, menikah dengan …., marga…..dari…….
5. Tuti Alawiah Harahap, menikah dengan …., marga…..dari….
6. Suryani Harahap, menikah dengan …., marga…..dari………
7. Suryadi Harahap, dengan istri……, boru……dari……Keturunannya:
14. Anak-cicit Kenis Harahap, gelar Baginda Pangibulan.
14-1. Cicit Ismail Harahap, gelar Ja Lobe
14-1-5. Cucu Usman Harahap, gelar Baginda Pangibulan
————————————————————
1. Parulian Harahap dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Keturunan-nya:
1.
2. Tinabin Harahap, menikah dengan …., marga…..dari………..

3. Dirman Harahap dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Keturunan-nya:
4. Bayani Harahap, menikah dengan …., marga…..dari………..
5. Habibullah Harahap, dengan istri……, boru……dari……, bermukim di… Keturu-nannya:
14-1-6. Cucu Jolil Harahap, gelar Baginda Kotib.
————————————————–
1. Abdul Harris Harahap, dengan istri……, boru……dari…….bermukim di …..Ketu-runannya:
.. 1.
2. Dahliani Harahap menikah dengan …., marga….., dari…..

3. Syamsiruddin Harahap, dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Ketu-runannya:
4. Masdelina Harahap, menikah dengan …., marga….., dari…..
5. Umar Wira Harahap, dengan istri……, boru……dari…….bermukim di…….Ketu-runannya:
14-1-7. Cucu Soleh Harahap, gelar Baginda Sidangkal.
———————————————————
1. Karlina Harahap, menikah dengan …., marga…..dari…..
2. Bahari Harahap, dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Ketu-runanya:
. 1.
3. Syarif Harahap, dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Keturu-nannya:
15. Anak cicit Gardok Harahap, gelar Baginda Malim Muhammad Rahim
15-1. Cicit Hadam Harahap, gelar Lobe Yakin.
15-1-2. Cucu Sangkot Harahap, Haji Abdurrakhim, gelar Baginda Taris Muda.
————————————————————————————-
1. Saulina Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
2. Sariaman Harahap dengan istri……, boru……dari…….bermukim di… Keturunan-nya:
1.
3. Rosita Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
4. Masia Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
5. Abdul Muin Harahap dengan istri……, boru…… dari……, bermukim di …. Ketu-runannya:
6. Merida Sinta Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
7. Akhmadi Harahap dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Ketu-runannya:
8. Hakkul Yakin Harahap S.Ag dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Keturunannya:
9. Nurhasmi Harahap S.Ag. menikah dengan……., marga ……..dari …….
15-1-3. Cucu Abdul Majid Harahap, gelar…….
————————————————
1.
15-1-4. Cucu Dahum Harahap, gelar…….
——————————————
1.
15-1-5. Cucu Ahmad Soleh Harahap, gelar…….
————————————————-
1.
15-2. Cicit Sobar Harahap, gelar Ja Mantar.
15-2-1. Cucu Bahuddin Harahap, gelar Baginda Malim Muda.
—————————————————————–
1. Syahriana Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
2. Masnilam Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
3. Syaifulbakhri Harahap dengan istri……, boru……dari…….bermukim di Hanopan. Menjadi Kepala Kampung Hanopan tahun 2007. Keturunannya:
1.
15-2-2. Cucu Sarpin Harahap, gelar…..
————————————–
1.
15-2-4. Cucu Efendi Harahap, gelar…….
—————————————–
1.
c.Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Panggulangan
11. Anak-cicit Mandasin Harahap, gelar Baginda Khalifah Sulaiman.
11-1. Cicit Marasan Harahap, gelar Jasoriangon.
11-1-1. Cucu Simin Harahap, gelar Mara Soleman.
—————————————————-
1. Akup Harahap dengan istri……, boru……dari……, bermukim di Panggulangan. Keturunannya:
1.
2. Malim Saidi Harahap dengan istri……, boru……dari……, bermukim di Panggula-ngan, keturunannya:
1.
3. Syafei Harahap dengan istri……, boru……dari……, bermukim di Panggulangan, keturunannya:
1.
4. Firman Harahap dengan istri……, boru……dari……, bermukim di Panggulangan, keturunannya:
1.
5. Omas Harahap menikah dengan ……, marga……., dari…..
6. Tiadin Harahap menikah dengan ……, marga……., dari……
7. Aslamiah Harahap menikah dengan ……, marga……., dari…..
8. Berlian Harahap menikah dengan ……, marga……., dari…..
9. Zainab Harahap menikah dengan ……, marga……., dari…..
11-1-2. Cucu Jamod Harahap, gelar……
—————————————-
1. Harun Harahap dengan istri……, boru……dari……, bermukim di Panggulangan, keturunannya:
1.
11-2-1. Cucu Musleman Harahap, gelar Baginda Parbatasan.
—————————————————————-
1. Drs. Hasbullah Harahap, gelar Sutan Soriangon..(1938-2002), dengan istri Nur-syamsiah boru Regar dari Bunga Bondar Sampulu, bermukim di Kom-plex Dirjen. Anggaran No.35, jalan Pahlawan Revolusi, Pondok Bambu Jakarta Timur. 13430. Telepon: (021) 862-6247. Pendi-dikan: IKIP Yogyakarta. Pekerjaan: Departemen Keuangan di Jakarta, Widyaswara. Keturunannya.
1. Affuanny (Nenny, pr), lahir 10 Nopember 1963 di Curup.
2. Novierry (Eri), lahir 8 Nopember 1965 di Bogor.
3. Covina Nurbaningsih (pr), lahir 8 April 1967 di Bandung.
4. Ardiansyah, lahir 23 Mei 1969 di Bogor.
5. Vivi Sylvia (pr), lahir 11 April 1970 di Bogor.
6. Musleman Alfadiansyah, lahir 18 Mei 1972 di Bogor.
2. Syahruddin Harahap dengan istri Siro, boru Regar dari Sipirok, bermukim di Kali-benih, Curup, Bengkulu. Pekerjaan: Wiraswasta. Keturunannya:
1. Lenni, lahir …19..di Curup.
2. Ahmad Rivai, lahir …..1966 di Curup.
3. ….. lahir…. 19.. di Curup.
4. Zulkarnain, lahir….. 1968 di Curup.
5. Rina, lahir …19.. di Curup
6. Fitrianti, lahir …19… di Curup
7. Reni, lahir…. 19.. di Curup.
3. Nukman Harahap, dengan istri Uning, boru Regar dari…….. Keturunannya:
1. Rudi, lahir ….1969 di Curup.
2. Ridwan, lahir 19… di Curup.
3. Fifianti (pr), lahir 19… di Curup.
4. Irsan, lahir 19… di Curup.
5. Lusi (pr), lahir 19.. di Curup.
6. ….. lahir 19.. di Curup.
4. Maraingon Harahap dengan istri Masmurni, boru Pohan dari Parau, berdiam di jalan Raya Ciomas no.319, Pintu Ledeng, Bogor. Pekerjaan: Departemen Keuangan Bogor. Tel.(0251)-635681.Keturunannya:
1. Diana (pr), lahir 19…di Bogor.
2. Andi, lahir 19… di Bogor
3. Tanti (pr), lahir 19… di Bogor
4. Tasahirawan, lahir 19… di Bogor.
5. Amrul Harahap dengan istri Basaia, boru Regar dari Sipirok, berdiam di Curup. Ke-turunannya:
1. Ferdi, lahir 19…di Curup.
2. Yusuf, lahir 19… di Curup.
3. Fahriza, lahir 19.. di Curup.
4. Doli, lahir 19… di Curup.
5. ….. lahir 19… di Curup.
6. Syahzuana Harahap dengan istri…….boru dari Bali, bermukim di Jalan Merbuk III, no.198 Perumnas Monang-Maning Denpasar, Kode Pos 80119, Bali, Telepon: 3-1505. Pendidikan: STM. Pekerjaan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tingkat II Badung Bali. Keturunannya:
1. Firmansyah, lahir 19…di Denpasar.
2. Ida (pr), lahir 19… di Denpasar.
3. Kori (pr), lahir 19… di Denpasar.
7. Ir. M. Lenan Harahap dengan istri ……, boru dari Jawa Timur, bermukim di Peru-mahan Graha Prima, Blok G no.1, Tambun Bekasi. Tel. 883-1775. Keturunannya:
8. Armansyah Harahap dengan istri Hartati, boru Rejang Lebong, bermukim di jalan D.I.Panjaitan no.6/46, Lingkungan 5, Kelurahan Talang Benih, Curup, Bengkulu. Keturunannya:
1. Marasohi, lahir 19…di Curup.
2……(pr), lahir 19… di Curup.
3…. lahir 19… di Curup.
9. Muhammad Hanopan Harahap dengan istri Poppy Irani, boru Rejang Lebong, Bengkulu, bermukim di jalan Lontar no.37 A, RT 010, RW 03, Lenteng Agung, Jakarta. Keturunannya:
1.Asnita (pr), lahir 10 September 1987 di Curup.
10. Musriani Harahap menikah dengan Jufri, marga Siregar, anak namboru dari Parau Sorat, Sipirok.

11. Aliana Harahap dengan istri ……….., boru dari …………, bermukim di jalan ……… Yogyakarta. Pendidikan: Universitas Kristen Duta Wacana. Pekerjaan:.…. Keturunannya:
12. Adam Sory Harahap dengan istri ……….., boru…..dari………., bermukim di Bali Keturunannya:
13. Anna Leli Harahap menikah dengan, marga…..dari……….:
14. Sakti Harahap dengan istri ……….., boru…..dari………., bermukim di Curup. Ketu-runannya:

11-1-6. Cucu Anas Mursalim, gelar Baginda Harahap.
——————————————————–
1. Nurhayati Harahap, menikah dengan R.Suryadirja dari Jawa Tengah.
2. Eddy Erwin Harahap, dengan istri….boru…..dari…, bermukim di…Keturunannya:
3. Sitty Nanny Harahap menikah dengan…, marga….dari……
4. Eppy Narulita Harahap menikah dengan…, marga….dari……
5. Ansori Hidayat Harahap, dengan istri….boru…..dari….., bermukim di… Keturu-nannya:
6. Susi Nender Harahap menikah dengan…, marga….dari……
7. Antonius Harahap, dengan istri….boru…..dari….., bermukim di…Keturunannya:
8. Susanti Harahap, menikah dengan……, marga……dari……
9. Umar Harahap dengan istri….boru…..dari….., bermukim di…Keturunannya:
11-3. Cicit Kedom Harahap, gelar Haji Dolla.
11-3-1. Cucu Lokot Harahap, gelar Ja Taris.
——————————————–
1. Husin Harahap dengan istri ….., boru Pohan dari Panggulangan, bermukim di
Medan Keturunannya:
1.
2. Ratna Harahap, menikah dengan ……, marga Siregar dari Batu Horpak.
3. Ani Harahap, menikah dengan….., marga Sitompul dari Sipirok.
4. Azis Harahap, dengan istri …..boru ….dari ….., bermukim di Medan
5. Burhanuddin dengan istri ….., boru …..dari……, bermukim di Medan.
6. Ibrahim Harahap, dengan istri ….., boru …..dari……., bermukim di Medan.
11-3-2. Cucu Marip Harahap, gelar……………
——————————————–
1. Siti Hajar Harahap, menikah dengan Gindo, marga Siregar dari Pagaran Tulason, bermukim di Rantau Prapat.
2. Siti Khalijah Harahap, menikah dengan Jasmin, marga…., tinggal di Desa Padang Maninjau, Aek Natas, Kab.Labuhan Batu, Sumatera Utara.
3. Riduan Harahap, dengan istri…, boru Hasibuan dari…., bermukim di Rantau Prapat. Keturunannya:
1.
4. Umi Khalsum Harahap, menikah dengan Hamid, marga Situmorang dari Padang Sidempuan.
5. Hanafi Harahap dengan istri Ramlah, boru Hasibuan dari….., bermukim di Labuhan Bilik. Keturunannya:
6. Masnah Harahap menikah dengan…………….
7. Syahruddin Harahap, dengan istri Sulastri dari Kisaran., bermukim di Tanjung Ba-lai. Pekerjaan: Polisi. Keturunannya:
8. Umaruddin Harahap, dengan istri , boru….dari….., bermukim di.. Pendidikan: UMSU Medan. Pekerjaan…….Keturunannya:
9. Mahran Harahap, dengan istri , boru….dari….., bermukim di Meulaboh, Aceh.
Keturunannya:
10. Ahmadan Harahap, dengan istri , boru….dari….., bermukim di Meulaboh. Ketu-runannya:
11. Hasan Azhari Harahap, dengan istri , boru….dari….., bermukim di Rantau Prapat.
Keturunannya:
11-3-3. Cucu Daud Harahap, gelar………….
——————————————
1. Ir. Syahril Harahap, dengan istri Malari, boru Regar dari….., bermukim di Padang Sidempuan. Pendidikan: UISU Medan. Keturunannya:
1.
2. Agustina Harahap, menikah dengan……., marga….dari…., tinggal di Tebing Tinggi (Deli).
3. Ramadan Harahap, dengan istri…, boru…..dari….., bermukim di Tebing Tinggi (De-li) . Keturunannya:
4. Gozali Harahap, dengan istri…, boru Regar dari….., bermukim di Tebing Tinggi (Deli). Keturunannya:
5. Astuti Harahap, menikah dengan …, marga Siregar dari Parau.
6. Khairul Harahap, dengan istri…., boru….dari….., bermukim di Medan. Keturu-nannya:
11-3-4. Cucu Abbas Harahap, gelar…………….
———————————————-
1. Drs. Darwin Harahap MSc., dengan istri Ummi Kalsum, boru Hasibuan dari Aek Godang, bermukim di Jalan Haji Ten I no.11, RT 011, RW 01, Kelurahan Rawa-mangun, Jakarta 13220. Pendidikan: UNRI, dan UI. Pekerjaan Departemen Perhu-bungan. Keturunannya:
1. Rahmita Hidayanti (pr), lahir 17 Agustus 1984 di Jakarta.
2. Arif Rahman, lahir 14 Juni 1989 di Jakarta.
3.
4.
2. Irwan Harahap, dengan istri…..boru Regar dari Muara, bermukim di Panggulangan. Keturunanya:
1. Satrio Basri, lahir 19.. di Panggulangan
2. Napan Andi, lahir 19.. di Panggulangan.
3. Doli Rais, lahir 19.. di Panggulangan.
3. Sahlan Harahap, dengan istri…., boru Regar dari Padang Bujur, bermukim di Tembi-
lahan.Keturunannya.
1. Rizki Rahmiana (pr), lahir 19.. di Tembilahan.
2. Desi Yulianti (pr), lahir 19.. di Tembilahan.
4. Anna Harahap, menikah dengan Fahruddin, marga Siagian dari Lancat.
5. Masrawati Harahap, menikah dengan Sahrun, marga Siagian dari Jambur Batu.

6. Midasari Harahap, menikah dengan Ahmad Tahir, marga Pakpahan dari Pang-
gulangan.
7. Masjuwita Harahap, menikah dengan………….
8. Yusraliani Harahap, menikah dengan………….
11-4. Cicit Mahir Harahap, gelar Ja Pariaman.
11-4-1. Cucu Pangeran Harahap, gelar………….
———————————————–
1. Saparuddin Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di Panggu-
langan.Keturunannya:
1. Indra Samson, lahir…..1974, di Panggulangan.
2. Teri Herawati (pr), lahir 9 September 1978 di Panggulangan.
3. Riswan, lahir 3 Juli 1980, di Panggulangan.
4. Azhari, lahir 7 Oktober 1982, di Panggulangan.
5. Yenti Marlina (pr), lahir…..1985, di Panggulangan.
6. Siti Holiza (pr), lahir…..1988, di Panggulangan.
7. Nursaima Holida (pr), lahir…..1991, di Panggulangan.
8. Fajri Basuki, lahir…..1993, di Panggulangan.
2. Fahruddin Harahap, dengan istri ….., boru….dari …, bermukim di… Keturunannya:
3. Masdalina Harahap, menikah dengan……., marga……..dari……..
4. Awaluddin Harahap, dengan istri.. .., boru….dari…, bermukim di.. Keturunannya:
5. Koharuddin Harahap, dengan istri….., boru….dari……, bermukim di. Keturunan-nya:
6. Ulla Harahap, menikah dengan……… ,marga……..dari…………..
7. Kipli Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
8. Fahmi Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di..Keturunannya:
9. Musa Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
10. Ros Harahap, menikah dengan……… , marga……..dari……..
11-4-2. Cucu Jalil Harahap,gelar………….
—————————————-
1. Ramlan Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
2. Ani Harahap, menikah dengan……… ,marga……..dari…………..
3. Burhan Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
4. Lahuddin Harahap, dengan istri….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
5. Toga Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
6. Aman Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
7. Ros Harahap, menikah dengan……… ,marga……..dari…………….
8. Yunus Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
11-4-3. Cucu Hamzah Harahap, gelar…………….
————————————————
1. Nurlela Harahap, menikah dengan……… , marga……..dari……………
2. Amrul Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
1.
3. Iwan Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
4. Syahrial Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
5. Siti Mariam Harahap, menikah dengan………, marga……..dari……………
6. Bahrum Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
7. Halim Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
11-5. Cicit Darajat Harahap, gelar Mangaraja Halongonan.
11-5-1. Cucu Dasim Harahap,gelar…………….
———————————————
1. Bonggal Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
2. Kartini Harahap, menikah dengan……… , marga……..dari……………
3. Nenni Harahap, menikah dengan……… , marga……..dari……………..
4. Sudirman Harahap, dengan istri….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturu-nannya:
5. Merianna Harahap, menikah dengan……… , marga……..dari……………
6. Pandapotan Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Ketu-runannya:
7. Sonang Martua Harahap, dengan istri ….., boru….dari …, bermukim di…Ketu-runannya:
8. Pangundian Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di..Ketu-runannya:
d. Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Siak Sri-Indrapura, Riau.
13. Anak-cicit Pardo Harahap, Marah Kamin Harahap, gelar Baginda Saikum.
13-1. Cicit Nempol Harahap, gelar……….
13-1-1. Cucu Sjamsuddin Harahap, gelar………..
————————————————
1. Drs. Mirza Harahap dengan istri Farida Ariani, boru Bengkalis dari Riau, bermukim di jalan Petala Bumi no.9 Pekanbaru, Riau Daratan. Kode Pos 28133. Telepon: (0761) 3-5787, Pendidikan: UNRI. Pekerjaan: Kantor Keuangan Propinsi Riau Pe-kanbaru. Tel. (07-61)-35787. Keturunannya:
1. Andri Faizal, lahir 30 Oktober 1977 di Pakanbaru.
2. Tanti Dewayan (pr), lahir 3 Februari 1979 di Pakanbaru..
3. Adhitia Arnanda (pr), lahir 9 Maret 1983 di Pakanbaru..
2. Zuraida Harahap, menikah dengan ……., marga…….dari…

13-2. Cicit Abu Bakar Harahap, gelar……..
———————————————
13-3. Cicit Muhammad Soleh Harahap, gelar………..
——————————————————-
13-4. Cicit Jambul Harahap, gelar……….
—————————————–
13-5. Cicit ……..Harahap, gelar………..
—————————————–
Generasi Duapuluhempat
a. Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Bunga Bondar.
b. Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Hanopan.
2. Cicit-cicit Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan.
2-1. Anak cicit Abdul Hamid Harahap, Tuan Datu Singar, gelar Sutan Hanopan.
2-1-1. Cicit Sutor Harahap, gelar Baginda Raja Pandapotan.
—————————————————————-
4. Cucu-cucu Sangkot Abdul Hamid Harahap, gelar Sutan Hanopan Naposo.
1. Nusyirwan Harahap dengan istri Refi, boru Simatupang dari Lumban Lobu Sipirok, bermukim di jalan Buaran Raya Blok E1, Taman Bukit Indah II, Jakarta Timur. Keturunanya:
1. Jasmin Rosmaria (pr), lahir 28 Januari 1998 di Jakarta.
2. Mohammad Rafi Ananta, lahir 19 Oktober 2000 di Jakarta.
3. Mohammad Zaki Ananta, lahir 30 September 2003 di Jakarta.
2. Rosalina Lilian Galinaputri Harahap menikah dengan Jabbar, marga Siregar dari
Pargarutan Jae.
3. Ellisya Chairani Harahap menikah dengan I Nyoman Sumantra dari
Bali, keturunannya:
1. Amelia Purnamasari (pr), lahir 29 Januari 1983 di Jakarta.
2. Anggi Rizki Imansyah, lahir 25 Juni 1986 di Jakarta.
3. Ray Adriansyah, lahir 12 September 1993 di Jakarta.
4. Lisna Megawati Harahap menikah dengan Fathir dari Jakarta, keturunannya.
1. Luky Febryan, lahir 18 Februari 1991 di Jakarta.
2. M. Riski Baihaqi, lahir 8 Agustus 1991 di Jakarta.
5. Kusnandar Fauzie Harahap dengan istri ….., boru Bekasi dari Jakarta bermukim di ………Bekasi, keturunannya:
1. Jascynda Zahra (pr), lahir 27 Februari 2006 di Bekasi.
6. Farida Utami Harahap menikah dengan Hari Hartono dari Jawa Tengah, keturu-
nannya:
1. Heikal Aurel Nunzi, lahir 6 Nopember 2000 di Jakarta.
5. Cucu-cucu Sangkot Anwar Bey Effendy Harahap, gelar
1. Sori Budimansyah Harahap dengan istri Suryati, boru Pati dari Jawa Tengah, ber-mukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Warti Ramiah (pr), lahir 6 Juli 1985 di Papua.
2. Kurniawansyah (Iwan), lahir 7 November 1986 di Papua.
3. Siti Khadijah (pr), lahir 25 Agustus 1988 di Papua.
4. Muhammad Irianto, lahir 16 Desember 1991 di Papua.
5. Rudianto, lahir 27 Juni1996 di Padang Sidempuan.
6. Desi Ratnasari (pr), lahir 16 Desember 1999 di Padang Sidempuan.
2. Ida Harahap menikah dengan Baharuddin, marga Pohan dari Hanopan, keturu-nannya:
1. Joni Maradona (Uncok), lahir 25 Oktober 1979 di Serui.
2. Mohamad Ramadan, lahir 8 Juni 1983 di Serui.
3. Rahmad, lahir 3 Mei 1985 di Serui.
4. Dongan Pardomuan, lahir 27 Desember 1987 di Serui.
3. Chairani (Reni) Harahap menikah dengan Maas, marga Siagian dari Pangaribuan Sipirok, keturunannya:
1. Rima Novianti (pr), lahir 6 Novmber 1988 di Papua.
2. Muhammad Rifai, lahir 23 September 1989 di Papua
3. Febriani Khairani (pr), lahir 1 Februari 1991 di Papua.
4. Harlindungan, lahir 2 Juli 1993 di Papua.
4. Tetty Harahap menikah dengan Ismail dari Cirebon, keturunannya:
1. Addin, lahir 28 Maret 1998 di Jakarta.
2. Cantika (pr), lahir 27 April 2001 di Jakarta.
5. Anitha Harahap menikah dengan Jafar Sofian dari Soppeng Makassar, keturunan-nya:
1. Chandra Hidayat, lahir 10 April 1993 di Papua.
2. Aditya Pratama, lahir 13 Juni 1998 di Papua.
3. Anjarini (pr), lahir 25 Oktober 1999 di Papua.
6. Erni Srijarwati Harahap menikah dengan Turseno dari Ciamis Jawa Barat, ketu-runannya:.
1. Alief Rizky Purnama Adji, lahir 10 Maret 1998 di Papua.
2. Tegal Agil Nugroho, lahir di 14 Februari 2002 di Yogyakarta.
7. Evie Irjarini Harahap menikah dengan Suhardi dari Solo, keturunannya:
1. Harviana Anggraini Putri (pr), lahir 17 Maret 1994 di Papua.
2. Fajarina Wulandari (pr), lahir 5 Juni 1998 di Papua.
8. Sutor Wansyah Harahap dengan istri Yusriana, boru Deli yang berasal dari Pulau Jawa, keturunannya:
1. Muhammad Fitra Awalin Nazir, lahir 19 Februari 1998 di Binjai.
2. Azis Akbar, lahir 20 Maret 2001 di Hanopan.
3. Anwar Farkhan 2 Januari 2007 di Hanopan.
6. Cucu-cucu Haji Mohammad Arifin Harahap, gelar……..
1. Irwan Harahap dengan istri Faiza boru Alor Setar dari Malaysia asal Bangkinang (Sumatera Barat), bermukim di: 7 Lintang Pantai Jerjak 2 11700 Taman Century, Pulau Pinang, Malaysia. Keturunannya:
1. Alia Irdina (pr) , lahir 6 Februari 2009 di Alor Setar.
2. Aira Alisa (pr), lahir 29 Januari 2011 di Alor Setar.
2. Yuska Hariani Harahap menikah dengan Mohammad Isa bin Hamzah bermukim di: No.1, Jalan Ampang 3 Selatan 27/20 C, Taman Bunga Negara, Sek. 27 40400 Shah Alam Selangor, Malaysia. Keturunannya:
1.
3. Helmi Harahap dengan istri …… bermukim di Malaysia.
7. Cucu-cucu Haji Mohammad Rusli Harahap, gelar Sutan Hamonangan.
1. Arifilmiansyah Parlindungan Harahap dengan istri Eva Khairunisa, boru Padang dari Sumatera Barat, bermukim di Pesona Depok Estate, Blok V no.11, Depok I, keturu-nannya:
1. Althaira Kyosa Azalia (pr), lahir 18 Desember 2010 di Jakarta.
2. Almaura Lumongga Bungasinoru (pr), lahir 27 Juni 2015.
2. Budiadiliansyah Pardomuan Harahap dengan istri Rani, boru Jakarta yang berasal dari Bangkinang Sumatera Barat, bermukim di Pamulang Residence G-2, jalan Pamulang 2 Raya, Pondok Benda, Tangerang Selatan, Banten. Kode Pos
1. Liana Mahira Andini (pr), lahir 06 Oktober 2014 di Tangsel, Banten.
2.
3. Altinai Molunasari Harahap menikah dengan Widi, marga Gebang dari Maumere Flores bermukim di perumahan The Icon, cluster Eastern Cosmo F5, rumah no.15 Serpong. Keturunannya:
1. Naila Adwina Mawar (pr), lahir 06 April 2008 di Jakarta.
2. Rajendra Adila Ramadan, lahir 15 September 2009 di Jakarta.
3. Raina Adindra Ixora (pr), lahir 31 Agustus 2011 di Jakarta.

Catatan: Keturunan dari Bagas Godang Hanopan

Marga Harahap, pomparan Tongku Mangaraja Hanopan dari Hanopan, mambuat boru Re-gar dari Bunga Bondar selama 5 (lima) generasi berturut-turut, ialah:
1. Tongku Mangaraja Hanopan (Alaan Harahap), menikah dengan Bolat Siregar, boru
Regar dari Bunga Bondar, boru Raja Mampe, iboto Sutan Ulubalang.
2. Baginda Parbalohan (Sengel Harahap, 1846-1928), menikah dengan Giring Siregar
(1848-1925), boru Regar dari Bunga Bondar, boru Ja Diatas, iboto Baginda Humala Hasian.
3. Sutan Hanopan (Adul Hamid Harahap, 1876-1939), menikah dengan Dorima Siregar (1879-1950), boru Regar dari Bunga Bondar, boru Sutan Bungabondar, iboto Baginda Soritua.
4. Baginda Pandapotan (Sutor Harahap, 1896-1969), menikah dengan Molun Siregar (1900-1966), boru Regar dari Bunga Bondar, boru Mangaraja Pangajian/Soaloon, iboto Aaron Diatas.
5. a. Mangaraja Hanopan (Syarif Harahap, 1923-2005) menikah dengan Nonggar Siregar (1928-2006), boru Regar dari Bunga Bondar, boru Sutan Mangarahon, iboto Madduhir Siregar.
b. Sutan Hanopan Naposo (Abdul Hamid Harahap, 1927-1986), menikah dengan Ros-manidar Siregar, boru Regar dari Bunga Bondar, boru Maradomsah Siregar, iboto Ru-di Siregar.
c. Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Panggulangan.

d. Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Siak Sri-Indrapura (Riau).

(Akan dilanjutkan oleh genersi penerus Ja Alaan, gelar Tongku Mangaraja Hanopan).
———– selesai———

H.M.Rusli Harahap,
gelar Sutan Hamonangan
Perumahan Pamulang Residen Blog G1
Jalan Pamulang 2 Raya, jalan Parakan, Pondok Benda, Kode Pos: 15146
Tangerang Selatan, Banten.
Telepon Rumah: 021-74631125
Mobile Phone : + 62 821-2230-0783

Posted by: rusliharahap | July 3, 2015

Cepat Selamatkan Kedua Ibu!

Cepat Selamatkan Kedua Ibu!

Banyak yang telah mendengar keluhan dua Ibu kesakitan
Tetapi, tidak ada yang tahu darimana suara derita datang
Keluhan semakin keras bersama waktu, bertukar zaman
Mari, selamatkan kedua Ibu kesakitan malang sekarang!

Pendahuluan
Agama telah menyampaikan bahwa, manusia tidak terkecuali beragam makhluk lain, datang ke alam fana di muka bumi ditakdirkan Allah Subhanahu Wataala, awalnya (pertama) sebagai ruh (bukan-benda) dalam perjalanan panjang. Setibanya di muka bumi, manusia begitu pula makhluk lain melangsungkan pula perjalanan berikutnya (kedua): diawali hadir dalam kandungan, lalu lahir ke dunia sebagai bayi, menjadi balita, anak, remaja, dewasa, orang-tua, kakek/nenek, men-jalani usia senja, dan akhirrnya tiba ke batas usia. Untuk memperlihatkan keberadaan manusia, begitu juga makhluk lain di permukaan planit biru agar terlihat, dapat bertegur sapa, berkomu-nikasi, dan melakukan hal lain; manusia demikian juga makhluk lain mendapat pinjaman benda (materi) dari muka bumi untuk “tubuh”, juga dinamakan orang “badan” atau “jasmani”.

Adapun yang dinamakan belakangan, awalnya diberikan kedua orangtua pada manusia atau makhluk lain saat bersanggama, lalu usai menyusu kepada ibu yang melahirkan, dipinjamkan langsung oleh bumi lewat kegiatan: minum, makan, bernafas, bergerak, diolah Teknologi Makh-luk Hidup (TMH) yang berlangsung dalam tubuh manusia atau makhluk lain dengan reaksi “kimia organik dingin” (cold organic chemistry), memanfaatkan berbagai macam unsur kimia tercantum dalam tabel Mendeleyev, kini lebih dikenal dengan table periodic, seperti: hidrogen, aksigen, karbon, dan lainnya; dimana dua unsur kimia dituliskan terdahulu merupakan yang terbanyak. Setelah menempuh kehidupan alam fana di muka bumi serentang hayat melakukan “persiapan”, manusia demikian pula berbagai makhluk lain, meneruskan perjalanan awal kem-bali sebagai ruh, setelah terlebih dahulu mengembalikan badan atau jasmani (materi) yang dipin-jam dari muka bumi memenuhi panggilan Allah Subhanahu Wataala.

Dari dua perjalanan dikemukakan, yang banyak mendatangkan persoalan kepada manusia, ialah yang disebut terakhir sebagai benda (materi), yakni perjalanan alam fana di permukaan bumi. Tidak dapat disangkal, bahwa dalam perjalanan belakangan ini, terdapat “kewajiban” dan “tang-gungjawab” yang harus diemban terjabar kedalam: 3 (tiga) golongan agar tertib hidup dengan segala yang ada dapat tercipta. Pertama: hubungan dengan Sang Maha Pencipta, juga dikenal dengan ungkapan: “hablumminAllah” karena telah mendatangkan manusia dengan beragam makhluk lainnya ke Alam Semesta, wabilkhusus permukaan bumi sebagai tempat berdiam, yang diselimuti atmosfer berisi udara; begitu juga air yang memenuhi segala cekungan yang ada di permukaannya, mulai: parit, kolam, sungai, danau, laut, hingga samudra; daratan sebagai tempat berdiam dan berusaha. Yang disebut belakangan, tidak lain dari lahan untuk bertanan menum-buhkan beragam tanaman: pangan, obat, sandang, papan, dan lainnya, dengan cahaya dan panas didatangkan langsung dari matahari. Kedua: hubungan manusia antara sesam-anya apapun suku asal dan kepercayaannya, juga dikenal dengan ungkapan: “hablumminannas”, tidak terkecuali dengan aneka ragam makhluk lain yang juga terdapat di muka planit biru. Ketiga: hubungan manusia berikut makhluk lainnya dengan Alam Semesta, dikenal dengan ungkapan: “hablum-minalkaun”, wabilkhusus bumi juga dinamakan “planit biru”, oleh keistimewaan dimiliki yang belum semuanya terungkap kepada insan sampai kini, dan belum dapat ditemukan bandingannya dengan planit manapun yang ada di Alam Semesta. Dan terhadap yang akhir, sebuah “aturan ber-prilaku” (code of conduct) dimulai dari “sopan santun” hingga “etika” dan “hukum” harus disu-sun segera guna “ditegakkan” dan “dipantau” pelaksanaannya dengan pengadilan dikenakan kepada para pelanggarnya, sehingga kedepan Alam Semesta, wabilkhusus bumi tempat berbagai makhluk bernyawa berdiam akan dapat terpelihara kelestariannya dari kerusakan yang dise-babkan perbuatan tangan manusia, baik oleh ketidak tahuan melahirkan kebodohan, juga yang tidak bertanggungjawab, menelusuri waktu dan menempuh zaman.

Revolusi Industri
Surat Al-Baqarah (Sapi Betina), Ayat 11, telah menyampaikan:

2_11
Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi24, mereka menjawab: ”Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”.
24Kerusakan yang mereka perbuat di bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.

Selanjutnya, surat Ali-Imran Ayat 112 mengemukakan pula:

3_112
Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia218), dan mereka kembali mendapat kemur-ka-an dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu219) karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu220) disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.
[Sumber: Al-Quran dan Terjemahannya, hadiah “Kerajaan Saudi Arabia”, berlangsung pada mu-sim haji tahun 1983.]

Masih banyak lagi surat lain menyusul kemudian, juga mengingatkan manusia agar “tidak membuat kerusakan di muka bumi”. Akan tetapi dengan telah munculnya revolusi industri di Eropa: gelombang pertama diawali tahun 1760 sampai 1820 dan 1840 (penghujung abad ke-18 dan awal abad ke-19), diteruskan gelombang kedua dari 1840 hingga 1870; mengawali kemajuan perekonomian di daratan Eropa silam, menemukan momentum dengan jaringan jalan kereta-api yang dihela lokomotiv-uap tersebar di berbagai negara di bagian dunia itu; juga lahirnya ber-agam kapal: mulai sungai, laut, hingga samudra yang dijalankan mesin-uap diawali di Amerika Serikat tahun 1850, untuk menggantikan layar yang dihembus angin. Penemuan pesawat-terbang oleh Wright Bersaudara di Amerika Serikat memasuki abad ke 20, juga menjadi bagian dari semua yang menyebabkan perubahan besar di muka bumi dalam berbagai bidang kehidupan manusia, antara lain: perjalanan darat awalnya serba berjalan kaki dimana-mana di seluruh dunia, dan gerobak (wagon) dihela ternak piaraan: lembu, kerbau, kuda, dan lainnya, lalu digantikan mesin-uap lalu mesin-diesel; juga angkutan laut yang digerakkan layar menjadi dijalankan mesin-diesel; muncul lagi angkutan udara dijalankan mesin dan antariksa didorong roket meramaikan langit di seputar bola bumi yang tidak terba-yangkan umat sebelumnya dapat disaksikan orang di muka bumi.

Pertanian, industri, tambang, dan lain sebagainya lalu beralih dari serba dikerjakan tenaga manusia dibantu hewan, menjadi samasekali dijalankan mesin. Muncul pula beragam mesin perang, sebagaimana yang telah disaksikan banyak orang dalam Perang Dunia ke-I dan Perang Dunia ke-II silam, dan sejumlah perang kemudian menyusul, antara lain: perang Korea dan perang Vietnam, dan lainnya.

Revolusi industry telah mengubah lingkungan hidup umat di muka bumi, tidak terkecuali makh-luk lain dibandingkan dengan berbagai macam zaman yang telah mendahului. Revolusi industri juga telah mengubah hidup masyarakat manusia di muka bumi, mulai: adat-istiadat, komunitas, tata-nilai, ekonomi, seni dan budaya, kepercayaan, agama, dan masih banyak lagi lainnya di seantero planit biru, dimulai dari negara maju hingga dengan negara yang masih berkembang. Revolusi industri yang dimulai dari Inggris, lalu meluas ke seluruh Eropa, kemudian menyebar ke Amerika Utara, dan Jepang, akhirnya melanda dunia, tidak terkecuali Indonesia. Revolusi yang semula dianggap “berkah” untuk umat yang hidup di permukaan bumi dengan hadirnya beragam sarana angkutan digerakkan mesin memudahkan orang bepergian kemana saja, tidak terkecuali menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci di Mekah dan Madinah, Saudi Arabia me-ngendarai pesawatterbang.

Akan tetapi, setelah lebih dari dua setengah abad berlangsung, umat manusia lalu menyadari, bahwa revolusi industri diawali dari Eropa silam terbukti menjadi “pembawa bencana” kepada umat dan makhluk lain yang hidup di permukaan bumi, dengan semakin seringnya timbul badai bertiup dengan “kecepatan pesawatterbang tinggal landas”; salah satu daripadanya, ialah yang telah “meratakan kota Tacloban” yang terdapat di Filipina belum lama berselang.

13_13

Surat Ar-Rum, ayat 41, dalam Al-Quran, telah memperingatkan umat dengan ungkapan:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, su-paya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Tampaknya peringatan surat Ar-Rum, ayat 41, sekarang sedang berbuat merasakan kepada umat di muka bumi “sebahagian dari akibat dari perbuatan tangan mereka, agar kembali ke jalan yang benar”.
Sudah sejak ratusan ribu tahun berlalu, terjabar kedalam berbilang zaman silam, Allah Subha-nahu Wataala mengutus para Nabi datang ke bumi mengajarkan umat bagaimana cara menjalani kehidupan alam fana di muka bumi, mulai dari menjalankan kewajiban hingga dengan memikul tanggung jawab yang harus diemban, agar manusia begitu juga makhluk lain sebagai bagian dari Alam Semesta, wabilkhusus bumi, dapat berjalan dengan tertib dan aman. Tiga orang Rasul terkenal tampil belakangan menemui umat di muka bumi, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Quran, ialah: Nabi Musa AS membawa Kitab Taurat untuk umat Yahudi, kemudian Nabi Isa Al-Masih AS yang membawa Kitab Injil untuk umat Nasrani, dan terakhir Nabi Muhammad SAW yang membawa Kitab Al-Quran untuk umat Muslim. Selain menyampaikan bermacam Kitab Suci memuat beragam surat berisikan ayat-ayat yang menjabarkan, masih ada lagi cara hidup diteladankan para Rasul yang diriwayatkan para penulis hadis tersebar luas yang diting-galkan.

Sebagai benda (materi) ciptaan Ilahi terbentuk dari bahan asal permukaan bumi lewat TMH, manusia begitu juga makhluk lain akan berhadapan dengan beragam persoalan dan masalah berikut keragaman masing-masing menjalani kehidupan alam fana di muka bumi sejak dari kan-dungan, lahir sebagai bayi, menjadi balita, anak, remaja, dewasa, orang tua, kakek/nenek, men-jalani usia senja, hingga tiba di akhir hayat. Setelah sekitar dua tahun menyusu pada “ibu yang melahirkan”, tanggungjawab mengurus insan lalu diserahkan pada “ibu asuh”. Adapun yang men-jadi “ibu asuh” manusia, begitu juga makhluk lain, ialah “bumi” atau “planit biru”, karena yang akhir ini selain menjadi tempat berdiam bagi insan dan makhluk lainnya, juga lingkungan hidup menyediakan beragam keperluan hidup alam fana di muka bumi, seperti: udara, air, pa-ngan, obat-obatan, sandang, papan, dan lain sebagainya, hingga dengan cahaya dan panas matahari, sebelum akhirnya kembali menghadap pada Sang Khalik. Itulah sebabnya, mengapa setiap makhluk ditakdirkan berdiam di permukaan sebuah planit dimanapun di Alam Semesta (Al-Kaun) yang sangat luas ini, akan memperoleh dua ibu, masing-masing: ibu yang melahirkan dinamakan: “Ibu Kandung”, disingkat IK, lainnya ibu yang mengasuh dinamakan: “Ibu Asuh”, yang tidak lain dan tidak bukan ialah planit tempat berdiam di Alam Semesta, dinamakan juga: Ibu Planit, disingkat IP. Setiap bangsa yang ada di muka bumi ini mengenal apa yang dinamakan: “ibu-pertiwi”, yakni bagian dari muka bumi yang dihuni oleh warga bangsanya. Dengan demikian Ibu Planit, merupahan gabungan dari semua ibu-pertiwi yang dihuni segala bangsa yang ada di muka bumi atau planit biru ini. Itulah sebabnya mengapa planit, dimana manusia dan berbagai makhluk lain yang ada di Alam Semesta bernama: Ibu Bumi, disingkat IB. Dengan demikian setiap mahluk yang berada di Alam Semesta, di planet manapun mahluk tadi ditakdirkan Allah Subhanahu Wataala berdiam, akan dilahirkan IK masing-masing dan diasuh IP bersama.

Earth_Eastern_Hemisphere

Ibu Bumi
Sumber: Google

Kehidupan Alam Fana
Tidak terhitung banyak persoalan berikut ragamnya dihadapi manusia dalam menjalani hidup alam fana di permukaan bumi, terjabar kedalam: perorangan, keluarga, kelompok, suku, daerah, nasional, dan internasional. Ada persoalan anak baru menginjak puber berikut kenakalannya yang memerlukan perhatian. Ada lagi persoalan kemiskinan umat yang berdiam di muka bumi yang membutuhkan pemecahan. Ada pula persoalan buta huruf menghlangi kaum muda memperoleh pendidikan diperlukan. Ada persoalan kakek/nenek lemah fisik sudah pikun yang jumlahnya makin bertambah di negara ekonomi maju. Ada masalah keyakinan, agama, inte-lektual, dan banyak lagi lainnya memerlukan perhatian masyarakat dan pemerintah. Ada masalah pengrusakan hutan di muka bumi yang belum dapat dikendalikan oleh yang berwenang. Ada masalah yang termasuk: kriminal, narkoba, pembajakan, pelanggaran disiplin, keteladanan moral. Ada lagi kejahatan dunia maya, penyadapan informasi, dan masih banyak lainnya. Yang tidak kalah mengkhawatirkan umat yang hidup di muka bumi ialah pencemaran lingkungan hidup mulai: darat, air (parit, kolam, kanal, sungai, laut, hingga samudra), atmosphere, juga angkasa sekeliling bola bumi, sejak “revolusi industri” dilakukan orang lebih dari dua abad di daratan Eropa silam. Perlu juga diketahui, setiap persoalan yang dikemukakan diatas mem-perlihatkan dinamika masing-masing, artinya: ada persoalan yang baru timbul, ada lagi per-masalahan yang terus bertahan, ada pula yang hilang sementara lalu tiba-tiba timbul lagi secara tidak terduga. Itulah sebabnya mengapa persoalan yang dihadapi insan dalam alam fana di permukaan bumi tidak dapat dingkapkan semuanya, apalagi untuk diperinci satu per satu. Selain dari itu, beragam persoalan ini muncul saling berkejaran dan masing-masing menuntut peme-cahan, karena manakala terlambat, dapat menimbulkan malapetaka atau marabahaya kepada umat, atau makhluk lain yang sedang menjalani hidup alam fana di permukaan bumi.

Rumah Ilahi
Selama Nabi Muhammad SAW berada di muka bumi silam, beliau menganjurkan umat untuk mendirikan mesjid. Mesjid adalah “bait ul-Alah” artinya “rumah Ilahi”, karena tempat berdirinya ditemukan oleh mereka yang sudah memperoleh petunjukNya, sedangkan dana pembangunannya datang dari mereka yang rela berbagi rezeki, karena hati mereka pun telah digerakkanNya. Tidak kurang dari 1.000.000 Mesjid yang berdiri di Nusantara, besar dan kecil, tersebar dari desa sampai ke kota, kecil hingga besar, tidak terkecuali di Ibukota negeri. Lebih banyak lagi mesjid yang telah didirikan orang di bagian dunia lain diluar Tanah-Air. Semua rumah Ilahi menjadi “tempat beribadah” kepada Yang Maha Esa (HablumminAllah) sebagaimana yang dikemukakan dalam Surat Ali-Imran, Ayat 112; juga “tempat bersilaturrakhmi” antara seluruh umat (Hablum-minannas), dalam menyebarluaskan dan memperdalam keimanan beragama termasuk menimba bermacam ilmu pengetahuan yang telah disemaikan Allah Subhanahu Wataala ke Alam Semesta, dimulaii dari langit sampai dengan kedalaman perut setiap benda langit.

Dengan timbulnya “revolusi industri” di muka bumi, lalu menyebar ke segala penjuru dunia, ti-dak terkecuali Tanah-Air, dan telah menimbulkan berbagai pencemaran terhadap lingkungan hidup umat mulai: darat, laut, udara, sampai antariksa; berlangsung lebih dari dua abad lamanya, maka tidak ada pilihan lain kepada semua umat beragama, juga seluruh manusia, mengambil langkah nyata untuk menghilangkan segala “penyebab” timbulnya pencemaran lingkungan hidup di: darat, laut, udara, antariksa sejak dari awal revolusi industri sampai dengan saat ini, dari permukaan bumi.
Dalam menanggulangi pencemaran lingkungan hidup yang diakibatkan “revolusi industri” dia-wali dari Eropa silam, dan kini sangat meresahkan IB yang bertugas mengasuh beragam makhluk yang berdiam di muka bumi, Surat Ali-Imran, Ayat 112, perlu didukung oleh Surat Ar-Rum, Ayat 41, yang mengatakan: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
Dengan Surat Ali-Imran, Ayat 112, umat di muka bumi masih berada di zaman Nabi Muhammad SAW, dan umat masih belum memasuki era “revolusi industri”, karena masih berpandangan hidup “duologi”, artinya: HablumminAllah dan Hablumminannas saja. Akan tetapi kini, dengan telah berlangsungnya “revolusi industri” yang diawali dari Eropa lebih dari dua abad silam, dan telah dengan jelas memperlihatkan tanda-tanda “perubahan iklim” yang nyata di muka bumi; teguran atau peringatan Surat Ar-Rum, Ayat 41, harus segera dilibatkan guna menyelamatkan: IB (Ibu Bumi) dan IK (Ibu Kandung). Gabungan dari peringatan Surat “Ali-Imran, Ayat 112” dengan Surat “Ar-Rum, Ayat 41”, melahirkan pandangan hidup: “trilogi”, yakni: Hablummin-Allah, Hablumminannas, dan Hablumminalkaun, kini sangat dibutuhkan untuk periode kehi-dupan umat setelah “revolusi industri” muncul di permukaan bumi.

Pertukaran “pandangan hidup” ini harus segera disampaikan dan dikomunikasikan kepada setiap orang yang hidup di muka bumi oleh para ahli dakwah, baik mereka yang bertugas di berbagai Mesjid maupun Rumah-rumah Suci beragam kepercayaan lain yang tersebar di muka bumi, dilaksanakan kaum rohaniawan, mulai Imam berikut jajarannya di berbagai masjid, begitu juga di Rumah-rumah suci lain dengan bersungguh-sungguh agar sampai kepada setiap warga bumi dimanapun berada. Kesadaran perlunya menanggulangi kerusakan yang ditimbulkan perbuatan tangan manusia di muka bumi, yang telah menimbulkan pencemaran lingkungan hidup dan perubahan iklim berakibat malapetaka, menjadi “tugas suci” setiap anak Adam yang ditakdirkan hidup di permukaan bumi apapun keyakinan yang dimiliki olehnya.

Kedatangan Makhluk
Setelah permukaan bumi mendingin dari pijaran bola api yang amat panas, tumbuh-tumbuhan diperkirakan tiba di bumi pada sekitar 430 juta tahun silam. Dengan telah hadirnya beragam tumbuhan yang menyediakan bermacam pangan, binatang kemudian datang menyusul ke muka bumi ditaksir mulai dari 75 juta tahun terakhir, disusul kera yang menyerupai orang sekitar 10 juta tahun silam, dan makhluk paling belakangan dari semuanya tiba di permukaan bumi ialah manusia ditaksir sekitar 300.000 tahun terakhir. Demikianlah hasil temuan para ilmuwan yang mengkaji kedatangan beragam makhluk ke permukaan bumi dari sudut pandang evolusi yang sudah berkembang sejauh ini.

Tidak dapat disangkal, Allah Subhanahu Wataala telah menjadikan TMH kimia organik suhu tubuh (rendah) digunakan untuk menghadirkan beragam makhluk hidup di permukaan bumi, seperti: tanaman, hewan, dan manusia memanfaatkan bermacam unsur kimia tercantum dalam tabel Mendeleyev, dengan air menjadi unsur kimia yang terbanyak, sekitar 70% berat tubuh insan. Dengan TMH, makhluk apapun yang terlahir di muka bumi akan memperoleh pangan diperluka, tidak terkecuali bermacam kebutuhan hidup lainnya menempuh “perjalanan kedua”, yakni kehidupan alam fana di muka bumi, sejak lahir dari kandungan hingga akhir hayat, dibantu panas dan cahaya yang dating langsung dari matahari. Selain dari itu, TMH juga menyiapkan serangkaian teknologi daur ulang yang dibutuhkan untuk menanggulangi pencemaran ling-kungan hidup yang timbul, ketika beragam makhluk yang telah menyelesaikan perjalanan hidup alam fana di permukaan bumi mengembalikan benda (materi) pinjaman di penghujung hayat.

Perlu difahami, TMH ciptaan Ilahi juga memperkenalkan peredaran unsur kimia yang menjadi-kan tubuh atau jasmani bermacam makhluk yang menempuh “perjalanan kedua”. Pertama, bumi meminjamkan bermacam unsur kimia yang dibutuhkan tubuh atau jasmani beragam makhluk, seperti: tanaman, hewan, dan manusia, yang diperoleh dari kerak bumi galian dangkal, sekitar puluhan meter. Kedua, tubuh atau jasmani yang sudah ditinggalkan ruh makhluk yang telah menempuh “perjalanan kedua”, dikembalikan ke bumi lewat: pemakaman, penenggelaman, pembiaran yang segera didaur ulang oleh bermiliard bakteri sebagai pemangsa (predator), me-nyebakan jasad yang dikembalikan cepat terurai menjadi berbagai unsur kimia asal sebagaimana yang tertera dalam table periodik, agar kemudian dapat dipinjamkan kembali kepa-da bermacam makhluk yang akan menjalani hidup alam fana di permukaan bumi, seperti: tumbuhan, hewan, dan manusia baru yang akan lahir. Terhadap yang dikremasi, predator digunakan ialah nyala api yang membakar. Ketiga, TMH menggunakan reaksi kimia organik, lawan dari reaksi kimia an-organik, yaitu “cara dingin” menghadirkan beragam makhluk untuk hidup di alam fana di permu-kaan bumi, mulai dari kandungan, bayi, balita, anak, remaja, dewasa, orang tua, kakek/nenek, menjalani usia senja, dan tiba di akhir hayat; tidak terkecuali kemandirian dimiliki tiap makhluk, antara lain: kepribadian, kecerdasan, watak, dan lain sebagainya yang kini masih belum banyak terungkap kepada insan gemar berfikir hingga saat ini.

Penduduk Bumi
Hingga saat ini penduduk bumi terus bertambah jumlahnya menelusuri perjalanan waktu. Pada saat Nabi Muhammad SAW menerima Surat Al-Alaq, diantar Malaikat Jibril tanggal: 6 Agustus Tahun 610 M (Masehi) di Gua Hira silam, jumlah insan berdiam di muka bumi ditaksir berjumlah 200.000.000 orang. Setelah 1150 tahun waktu berlalu, lebih dari satu Milenium menjelang dimulainya “revolusi industri” di Eropa silam, warga bumi telah meningkat menjadi 720.000.000 orang, dengan pertumbuhan rata-rata penduduk: 452.000 orang setiap tahun. Lalu pada tahun 1850 M, banyaknya manusia yang berdiam di muka bumi telah meningkat menjadi 1.200.000.000 (satu Miliar dua ratus juta) orang. Lalu pada tahun 1950 M, seratus tahun kemu-dian, manusia yang mendiami planit biru telah mencapai 2.500.000.000 orang, dengan partum-buhan rata-rata penduduk: 13.000.000 orang per tahun. Dari apa yang telah diuraikan diatas, tampak jelas adanya “perubahan” kenaikan rata-rata penduduk dalam rentang waktu satu milenium, dari: 0,452 juta orang per tahun, menjadi: 13 juta orang per tahun pada rentang waktu seratus tahun kemudian. Peningkatan pertumbuhan rata-rata penduduk mencolok, dari “hampir landai” menjadi “hampir tegak”, tidak diragukan lagi disebabkan oleh timbulnya “revolusi indus-tri” melanda dunia berlangsung lebih dari dua setengah abad, dan memberi begitu banyak kemudahan hidup yang didapat manusia menempuh “perjalanan kedua”, yaitu kehidupan alam fana di permukaan bumi dibandingkan dengan berbagai zaman yang telah mendahului. Pada tahun 2000 M silam warga bumi telah melebihi 6 Miliar orang, lalu pada tahun 2011 M men-capai 7 Miliar orang. Ramalan kedepan memperlihatkan pada tahun 2025 M warga bumi akan ber-jumlah 8 Miliar orang, dan pada tahun 2043 M mencapai 9 Miliar orang, kemudian mema-suki abad pertama Milenium ketiga akan melebihi 10 Milyar orang. Grafik dibawah ini memper-lihatkan perjalanan penduduk bumi melalui kurva yang dikerjakan oleh Google.

penduduk

Sumber: Google

Sekilas Sejarah Filsafat
1. Filsafat Islam di Timur Tengah.
Agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW mengantarkan umat Muslim mendirikan kekhali-fahan Islam di jazirah Arab dalam abad ke-7 Masehi, dan meluaskan pengaruhnya ke sejumlah kawasan sekitar. Sebagai akibatnya, pertemuan dengan berbagai budaya yang telah lebih dahulu ada di wilayah itu tidak dapat dihindarkan. Lahir “ilmu kalam” yang bertujuan menyampaikan ajaran agama baru lebih praktis kepada umat Muslim, melahirkan apa yang kemudian dikenal dengan: theologi Islam. Menyusul muncul ilmu Fiqih, Ilmu Tasauf, Filsafat Islam, dan yang akhir ini mengajarkan: perdebatan, dialektika, dan argumentasi, bersama lainnya untuk mengolah akal. Filsafat Islam lalu berurusan dengan beragam hal berkaitan dengan kehidupan, sepert: alam fana, Alam Semesta, nilai, etika, masyarakat, dan lain sebagainya, lalu dihimpun secara beratu-ran untuk umat Muslim. Orang-orang Islam lalu tertarik kepada filsafat Yunani, setidaknya pada masa awal abad hijrah, karena dalam keyakinan orang-orang Muslim ketika itu, Allah ialah Pen-cipta dari segalanya, dan ilmu pengetahuan diturunkan lalu disebarkan ke Alam Semesta bertu-juan tidak lain untuk mengantarkan umat ke pemahaman yang lebih dalam tentang Dia, dan segala apa yang diciptakanNya.

Tidak lama sesudah kekhalifahan Islam melebarkan sayapnya yang pertama, Bani Abbasyiah memerintahkan rakyatnya menghimpun seluruh manuskrip Yunani yang beredar untuk mening-katkan citra. Sebilangan filosof Muslim kemudian menjadi terkemuka Timur Tengah sejak dari saat bersejarah itu, antara lain: Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Gazali, Ibnu Bajah, Ibnu Thufail, dan Ibnu Rusyd. Sejak dari abad ke-9 Masehi, kekhalifahan Al-Makmun berikut penerusnya, menjadi giat memperkenalkan filsafat Yunani kedalam masyarakat muslim di bumi bangsa Arab.

Setelah kekhalifahan Bani Abbasyiah turun dari singgasana tahun 750 dari Damaskus, di Kor-doba muncul Bani Umayyah membangun kekhalifahan di semenanjng Iberia, dan kala itu lebih dikenal dengan nama Andalusia dari tahun 929 hingga 1031 Masehi, tidak terkecuali ujung Utara benua Afrika waktu itu. Masa kekhalifahan dengan ibukota Kordoba itu, ditandai oleh kemajuan perdagangan dan budaya dari kedua tepi Laut Tengah, masing-masing bagian Timur di seputar: Yunani, Turki, Jazirah Arab, dan lainnya, dengan semenanjung Iberia, yang kini lebih dikenal dengan Eropa Barat: Portugal, Spanyol, Perancis, dan lainnya. Sejumlah bangunan ternama lagi megah yang didirikan oleh kekhalifahan Umayyah silam, masih dapat disaksikan di Spanyol saat ini, antara lain: Mesjid Agung Kordoba dan istana, dan didirikan masih pada zaman keemasan Bani Umayyah tersebut.

Dalam zaman kekhalifahan Bani Umayyah, Laut Tengah juga bernama Laut Mediterrania merupakan jalan-air sekaligus urat nadi perdagangan dan pengantar budaya dari kedua sisi Laut Tengah, karena jalan darat di pesisir Utara maupun Selatan Laut Tengah masih terbatas pada kafilah yang berjalan kaki dan kereta hela kuda atau ternak peliharaan lain yang sangat terbatas jangkauannya. Demikian juga hubungan perdagangan dan budaya antara semenanjung Iberia dengan negara-negara yang berada di daratan Eropa Barat, seperti: Perancis, Inggris, Belanda, Jerman, dan lainnya. Jalan-air samudra Atlantik terhindar dari kebekuan oleh lapisan es di mu-sim dingin, tidak lain berkat arus bawah laut teluk Meksiko yang hangat mengalir sampai jauh ke Utara yang sangat terkenal itu. Jalan-air samudra Atlantik telah berjasa besar mengembangkan perdgangan dan hubungan budaya antara semenanjung Iberia dengan kawasan Eropa Barat, sedangkan jalan-air Laut Tengah atau Laut Mediterrania berjasa mengembangkan tidak saja per-dagangan, tetapi pula mengantarkan beragam pengetahuan dan budaya dari seputar: Yunani, Turki, Jazirah Arab, bahkan dari Persia dan India, serta lainnya ke Eropa Barat yang berhasil dihimpun dan diolah para pemikir Arab menjelang renaissance (pencerahan) bersemi di daratan Eropa Barat silam.

Perhatian umat Islam kepada filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang dibawah kepe-mimpinan Bani Umayyah ke-5, yang dikenal bernama: Muhammad ibn Abdurrahman (832-886 M). Pada ketika itu para pemikir dan ilmuwan dari dunia Islam bukan lagi mereka yang tergolong kedalam kelompok Muslim orthodox. Mereka bersama kaum bukan-Muslim lain ambil bagian dalam menyebarluaskan hasil pemikiran: Yunani, Hindu, dan masa praIslam lainnya, lewat jalur kekerabatan dan persahabatan dengan umat Khristiani yang bermukim di Eropa. Mereka bersamasama menjadikan hasil pemikiran Aristoteles kembali dikenal oleh masyarakat Khristiani di Eropa, setelah lama hilang dari perbendaharaan ingatan mereka. Adapun para pemikir Islam yang amat tersohor pada ketika itu yang dapat diketengahkan, antara lain: Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Kindi. Ketiga filosof yang disebutkan akhir ini telah lama memper-kenalkan pemikiran: Aristoteles, Neoplatonis, dan lainya kedalam masyarakat Islam di Timur Tengah. Banyak kalangan saat itu yang menganggap mereka bukan lagi tergolong kedalam orang Islam orthodox, bahkan ada pula yang menyangka mereka bukan filosof Islam menyimak tulisan yang mereka kerjakan. Dibawah disampaikan sekelumit tentang para filosof Islam yang terkemuka pada zamannya.

Al-Kindi (801-873) seorang bangsa Arab keturunan suku Kinda, filosof peletak dasar filsafat Islam, lahir di Basra, Irak. Setelah menammatkan sekolah dasar di tempat kelahirannya, lalu meneruskan pendidikan ke Bagdad, mempelajari berbagai macam pengetahuan, seperti: mathe-matika, fisika, mistik, dan seni; tidak terkecuali juga lainnya. Ia berjasa memperkenalkan pengetahuan filsafat ke dunia Islam di Timur Tengah. Al-Kindi kemudian menjadi cepat terkenal di lingkungan “Rumah Kebijakan”, demikian juga kalangan kekhalifahan Abbassyiah, sehingga yang akhir ini menugaskannya menjadi pengawas penterjemahan bermacam naskah ilmu pengetahuan dan filsafat dari bahasa Yunani kedalam bahasa Arab. Ia tergolong ilmuwan Arab yang banyak meninggalkan karya tulis meliputi: metafisika, etika, logika, psikhologi, pengo-batan, pharmakologi, mathematik, astronomi, astrologi, optik. Al-Kindi juga orang yang menggemari permasalahan: meteorologi, gempa bumi, dan banyak lagi lainnya yang membumi pada masanya.

Al-Ash’arī (874–936) ialah seorang ilmuwan dan juga theolog Islam dari Timur Tengah ber- nama Al-Ash’arī. Ia lahir di Basra, dan masih keturunan dari salah seorang sahabat dekat nabi Muhammad SAW silam. Sebagai seorang muda, ia awalnya berguru kepada Al-Jubba’i, sebuah perguruan theologi Islam dan filsafat Mu’tazilah terkemuka pada ketika itu. Dan perguruan ini tidak lain dari sebuah “sekolah theologi” yang berlandaskan akal (reasning), yakni hasil pemikiran manusia bersifat logis (rational) dan sangat terkenal pada masa itu. Ia mengamalkan ajaran Mu’tazilah dengan penuh kesetiaan sampai usianya empat puluh tahun. Kemudian, pada suatu saat dalam bulan Ramadan, ia bermimpi bertemu dengan nabi Muhammad SAW. Mimpi yang sama ternyata berlanjut hingga tiga malam berturut-turut, dan memintanya untuk kembali padanya, yakni mengikui tradisi hadis. Sejak dari saat bersejarah itu, Al-Ash’arī lalu mening-galkan ajaran Mu’tazilah, dan berganti menjadi penentang utama ajaran yang semula di-anutnya dengan setia itu. Segala pengetahuan filsafat yang dikuasainya lalu dikerahkan untuk melawan ajaran, yang sebelumnya dengan setia dibelanya. Karena pengaruhnya yang sangat besar di Timur Tengah pada ketika itu, umat Islam menjadikan Al-Ash’ari seorang peletak dasar akidah sunni Ash’ari yang amat berpengaruh luas, bahkan Imam Al-Ghazali yang amat tersohor dengan empat kitab “Ihya Ulum ul-Addin” (Menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama) yang ditulisnya, juga menjadi pengikut setia darinya.

Ibnu Sina (980-1037) adalah seorang ilmuwan bangsa Arab lain yang menguasai beragam bidang ilmu pengetahuan, antara lain: filsafat, astronomi, kimia, geologi, psikhologi, theologi Islam, logika, mathematika, fisika, tidak terkecuali menulis sajak, sebagaimana yang kebanyakan dilakukan para ilmuan Arab di Timur Tengah ketika itu. Akan tetapi hasil karya yang melam-bungkan namanya di dunia, ialah yang menyangkut penyembuhan penyakit. Buku induk pe-nyembuhan yang dibuatnya tentang pengobatan beragam penyakit, menjadi kitab induk dua universitas ternama di Eropa ketika itu, yakni Montpellier dan Leuvant dari Perancis hingga tahun 1650 M.

Al-Ghazali (1058–1111) adalah theolog Islam dari Persia, penggemar hukum Islam, juga fil-safat, tidak terkecuali mistik. Ia menjadi seorang Muslim yang sangat berpengaruh di dunia Islam setelah wafarnya Nabi Muhammad SAW. Dalam dunia Islam, ia tergolong seorang pembaharu (mujaddid) keimanan Islam dari masanya, dan menurut tradisi keagamaan yang dipercaya masyarakat di Timur Tengah, orang seperti dia akan datang ke dunia sekali dalam seratus tahun. Hasil karya Al-Ghazali mendapat penghargaan yang sangat tinggi dari kalangan umat Islam yang sezaman, menyebabkannya mendapat gelar kehormatan: “bukti Islam”. Yang lain menuduhnya lawan dari aliran Islam berpandangan Neoplatonis yang pengikutnya juga juga banyak ketika itu, juga mereka yang berpandangan helenistik. Al-Ghazali juga berhasil mengem-balikan pengaruh kaum Islam orthodox yang masih terus mengamalkan ajaran Sufi yang mereka jalankan sebelumnya.

Al-Farabi (1165-1240) seorang sufi bangsa Arab dari Andalusia, juga seorang sufi mistik, dan seorang filosof. Ia menguasai banyak bidang ilmu pengetahuan, seperti: logika, penyembuhan, sosiologi, termasuk analisa posteriori dari Aristoteles. Lewat beragam naskah tulisan dan ko-mentar yang disampaikan, Al-Farabi kemudian menjadi tersohor dikalangan umat Muslim di Timur Tengah. Masyarakat intelektual abad pertengahan ketika itu menganugerahkannya gelar: “Guru Kedua”, sebagai penerus setia ajaran Aristoteles dari Yunani, dimana yang disebut akhir ini ialah: “Guru Pertama”nya. Al-Farabi menghabiskan sebagian besar masa hidupnya bermukim dan bekerja di kota Bagdad.

Ibnu Rushd (1126-1198) seorang kelahiran Kordoba Spanyol dan wafat di Marrakesh Maroko. Ia seorang berasal dari bumi Andalusia, seorang Muslim yang berpengetahuan amat luas meli-puti: filsafat Aristoteles, filsafat Islam, theologi Islam, hukum Maliki berikut yurisprudensinya, logika, psikhologi, politik dan theori klasik seni musik Andalusia, pengobatan, astronomi, geo-grafi, mathematik, tidak terkecuali mekanika gerakan benda langit di angkasa luar. Ibnu Rushd juga dikenal sebagai peletak dasar “filsafat sekular” yang kini dianut orang secara luas di benua Eropa dan berbagai bagian dunia lain. Ia menjadi seorang setia membela filsafat Aristoteles, meski berseberangan dengan theologi yang dikembangkan Ash’ari sesudah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW yang didukung oleh Imam Al-Ghazali.

Dari bumi Andalusia (Spanyol), karya filsafat yang dikembangkan cendekiawan bangsa Arab lalu diterjemahkan orang kedalam bahasa Yahudi dan bahasa Latin, dan dibawa ke Eropa untuk mengembangkan filsafat modern di bagian dunia itu. Dikalangan para filosof Arab pada masa itu, terdapat Maimodes seorang Yahudi yang hidup dan bekerja di kalangan Muslim Spanyol, juga ambil bagian dalam menterjemahkan karya filsafat Islam dari bahasa Arab ke berbagai bahasa lainnya. Terdapat juga seorang kelahiran Tunisia asal Andalusia bernama Ibnu Khaldun dari kalangan ilmuwan Muslim ketika itu, yang kemudian menjadi peletak dasar ilmu kema-syarakatan kini dikenal dengan istilah sosiologi dan histerografi (hysterography), ialah ilmuwan Arab penting lain terkemuka ketika itu, meski ia tidak menyebut diri sebagai seorang filosof, tetapi seorang penulis kalam saja.

Dalam abad pertengahan dari abad ke-5 hingga abad ke-15, runtuhnya kekaisaran Romawi, dan berpisahnya Gereja Latin Barat dipimpin Bishop dari Roma dengan Gereja Orthodox Timur pimpinan Patriarch dari Konstantinopel pada tahun 451, telah lama hilang dari ingatan orang banyak, tidak terkecuali kecakapan membaca dan menulis dengan abjad Yunani. Akan tetapi, kedatangan filsafat Yunani yang diperkenalkan kembali ke Eropa, hasil terjemahan dari bahasa Arab ke bahasa Latin dan bahasa Yahudi berikut sejumlah catatan dan keterangan yang dikerjakan para pemikir Arab, membawa pengaruh besar kepada filsafat yang kembali muncul dan berkembang di Eropa daratan ketika itu, dan dampaknya jauh hingga memasuki zaman renaissance (kembali ke zaman Yunani kuno) di bagian dunia itu dalam abad pertengahan lalu.

2. Filsafat Islam di Asia Tenggara
Setelah muncul di jazirah Arab dan berkembang di Timur Tengah dan sekitarnya, agama Islam kemudian melebarkan sayap ke Asia, tidak terkecuali Asia Tenggara, diantarkan para mubaligh dan kaum pedagang. Ada mereka yang datang dari Mekah, ada pula yang datang dari Gujarat (India), lainnya berangkat dari Persia, dan berbagai tempat lain. Lalu muncul Kesultanan Islam di kawasan Asia Tenggara, berikut perlembagaan Islam, antara lain: pemerintahan, pendidikan, kehidupan, kesusastraan, kesenian; tidak terkecuali perekonomian rcorak Islam.

At time when Ibn Battuta a Maroccon traveler paid visit to a country named: Samudera Pasai Sultanate in the South East Asian region in 1345, he met a solemn King from the Al-Shafi’i mazhab (Islamic law dotrine) was ruling the country.

The Sultanate established by located on the north Perlak, now area of (east cost of Aceh), adjacent directly to the strait Malacca; governed the country until 1297. The King later converted to Islam called in Arabic as. It was then clear, that the school of thought of Imam Al-Shafi’i supported by Imam Al-Ghazali already been spread over South East Asian region on entering the 13 th century.

Pada waktu Ibnu Batutah (1304–1368), pengelana asal Maroko singgah di suatu negeri yang bernama: Kesultanan Samudra Pasai di Asia Tenggara tahun 1345 silam, ia berjumpa dengan se-orang Muslim saleh mazhab Al-Shafi’i yang menjadi Sultan di Samudra Pasai. Kesultanan itu didirikan oleh Meurah Silu tahun 1267, memerintah sampai tahun 1297, terletak di Utara Perlak kini termasuk wilayah Lhok Seumawe, Aceh Timur, terdapat langsung ditepi Selat Malaka. Sultan lalu masuk Islam dan memperoleh nama Arab: Malik ul-Saleh, atau Sultan as-Saleh. Dengan demikian tampak jelas ajaran Imam Ash’ari yang didukung Imam Al-Ghazali telah menyebarkan mazhab sunni Ash’ari ke kawasan Asia Tenggara memasuki abad ke-13 Masehi.

Kesejahteraan Umat
a. Sistim Ekonomi Bebas, atau Liberal
Dalam zaman merkantilis di Inggris silam, setiap orang boleh mejalankan beragam usaha (business) untuk mencari nafkah, mulai menghasilkan beragam barang (produk), hingga menye-diakan layanan bermacam jasa (service), atau keduanya, dalam memenuhi permintaan segala macam lapisan masyarakat. Semuanya diperdagangkan orang di pasar-pasar yang terdapat di-mana-mana. Lalu muncul persaingan diantara para penyedia barang atau jasa, atau keduanya oleh “tangan-tangan tersembunyi” (invisible hands), dengan harga (price) dan mutu (kualitas) barang atau jasa dihasilkan dalam jumlah (kuantity) dan penyerahan (delivery) barang atau jasa terikat dalam kesepakatan dagang (contract). Pendapatan kaum pengusaha ditentukan oleh banyak barang dan jasa yang terjual dalam setahun. Pemerintah hanya bertugas sebagai pengawas dan pengatur tatausaha (administrator) yang melancarkan kegiatan dagang, dan samasekali tidak mencampuri urusan para pengusaha menghasilkan barang atau jasa, akan tetapi menyediakan tempat berusaha dengan perangkat aturan dan lingkungan: ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang sama untuk semua, terhadap pungutan (pajak) dikenakan.

Memasuki abad pencerahan, dibekali filsafat dan beragam ilmu pengetahuan yang diolah dan diantarkan bangsa Arab dari Timur Tengah, landasan berfikir kaum intelektual orang-orang Eropa lalu berkembang sedemikian jauh, yang memungkinkan mereka mengembangkan berma-cam pengetahuan “tepat guna” di berbagai bagian dunia itu. Ini tampak jelas dengan diguna-kannya “analisa ilmu” scientific analysis) untuk mengembangkan mesin-uap, awalnya dipicu pompa air vakum udara yang diperkenalkan Thomas Savery (1650-1715) dari Inggris, dengan menyiram air dingin kedalam bejana berisi uap bertekanan, lalu diperbaiki Thomas Newcomen (1664-1729) rekan senegaranya mengganti bejana dengan silinder berpengisap, untuk tujuan yang sama. James Watt (1736-1819) rekan senegara lain memanfaatkan kedua temuan rekannya menciptakan “sumber tenaga gerak” (source of mechanical energy) pertama di dunia memanfaatkan tekanan uap yang banyak diperlukan orang untuk menggerakkan beragam industri saat itu. Ketiga orang Inggris ini berhasil merobohkan kartu: “domino teknologi” pertama di muka bumi, memperkenalkan sumber tenaga alam hasil rekayasa akal-budi manusia, sekaligus membidani “revolusi industri” di muka bumi yang dimulai dari Eropa, lebih dari dua abad silam.

“Analisa ilmu” yang dikuasai segelintir bangsa di Eropa ketika itu, kemudian diperluas ruang lingkup kajiannya, tidak terbatas pada sumber tenaga gerak dan industri yang telah dilahirkan-nya, tetapi juga ke bidang-bidang kegiatan lain, antara lain: politik, sosial, ekonomi, dan lain, berpuncak pada kajian “Kesejahteraan Hidup Beragam Bangsa” di muka bumi sebagaimana yang disampaikan Adam Smith dari Inggris. Akan tetapi yang jelas, pengaruhnya telah membuat “sistim ekonomi merkantilis”, beralih menjadi “sistim ekonomi kapitalis” di Inggris, dan sejumlah negara Eropa lainnya saat itu, yang lalu dikenal dengan “kapitalisme”, karena memperoleh amunisi dari perkembangan revolusi industri yang melaju pesat. Adam Smith kemudian melanjutkan kajiannya dengan: “Memperbaiki Keadaan Dunia”, yang lalu menimbul-kan pertanyaan: apakah industrialisasi akan menyejahterakan kehidupan umat di bumi, ditilik dari angka harapan hidup manusia, jam kerja singkat, dan pertanyaan apakah anak-anak dan orang-orang tua dapat dibebaskan dari kewajiban bekerja mencari nafkah?

Sejak awal revolusi industri, kapitalisme berkembang pesat di Eropa didukung kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah terhimpun dan berkembang pesat di bagian dunia itu. Mobil dengan cepat menggantikan kereta hela ternak di jalan-jalan raya berbagai negara, diawali dari Eropa, kemudian menyebar ke Amerika Utara, lalu Jepang, dan bagian dunia lainnya. Angkutan jalan-baja dihela lokomotif-uap membakar batubara melahirkan kereta-api, lalu menebar jaringan ke berbagai negara di Eropa melayani angkutan penumpang dan barang, lalu diexport ke berbagai negara seberang lautan, tidak terkecuali Asia, oleh “ongkos angkut” muatan: penumpang dan barang yang murah. Transportasi air juga ikut berkembang, mulai dari: kanal, sungai, danau, laut, hingga samudra yang selama ini dikuasai kapal layar, digantikan mesin-uap karena dapat diandalkan ketimbang hembusan angin; kini telah pula diambil alih mesin diesel. Keberhasilan Wright bersaudara dari Amerika Serikat menciptakan “kapal terbang”, sekarang disebut pesawatterbang, memungkinkan dikemkembangkannya angkutan udara menerobos atmosfer bumi untuk memindahkan penumpang dan barang lebih cepat melintasi pulau, benua, dan keduanya. Selain berbagai industri dan sarana angkutan yang telah dikemukakan sebelumnya, sumber tenaga gerak hasil rekayasa akal-budi manusia ini telah pula melahirkan tak terbilang banyak pabrik dan industri berikut keragamannya bermunculan di muka bumi, antara lain: pabrik semen, industri baja, pabrik pengolahan logam, tambang batubara, tambang berbagai macam mineral, pengeboran minyak termasuk kilang pengolahan minyak mulai daratan hingga lepas pantai, industri: plastik, bahan bangunan, kimia, pharmasi, kertas, makanan dalam kema-san; dan masih banyak lagi lainnya.

Dalam perjalanan waktu, kapitalisme berkembang pula menjadi imperialisme, karena menguasai lahan yang semakin luas di muka bumi, yang berubah menjadi tanah jajahan atau koloni. Kolonialisme lalu melanda dunia, dan menguasai tanah subur yang diubah menjadi perkebunan tanaman ekonom yang beraneka ragam, antara lain: karet, kelapa sawit, tembakau, gula, dan lain sebagainya; untuk menghasilkan ban kendaraan bermotor, minyak goreng dan lainnya, rokok, gula tebu, dan lain sebagainya yang diperlukan pasar dunia. Penggalian tambang seperti: batubara, minyak bumi, gas dan lainnya di tanah jajahan diperlukan untuk memasok keperluan industri yang cepat berkembang di: Eropa, Amerika Utara, Jepang, yang lapar bahan-baku, da-haga bahan-bakar dan minyak lumas, berlanjut jauh menerobos masuk kedalam abad ke-20 silam.

Sejak awal dari revolusi industri, kapitalisme telah berhasil mendirikan beragam industri: mulai ringan hingga berat dan sangat berat di berbagai negara beragam belahan bumi. Sebagai akibatnya, tidak dapat dihindarkan munculnya aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan, berupa: bahan-bakar (batu-bara, minyak bumi, dan gas), berjenis mineral berguna (biji besi untuk membuat besi dan baja, tembaga, aluminium, logam mulia, dan lainnya); dan masih banyak lagi yang lain. Bahan-bahan ini dibutuhkan negara-negara yang memproduksi beragam barang, seperti: sarana dan prasarana angkutan: darat, laut, udara, antariksa; menyedia-kan perlengkapan perang dan peralatan militer termasuk mesin dan peralatan tempur serta ar- mada kapal perang laut, dan skwadron pesawat tempur, serta masih banyak lagi kebutuhan negara dan masyarakat mulai dari lokal hingga dengan global. Juga industri penyedia minuman dan makanan kemasan, industri texstil, industri pertanian, industri peternakan dan perikanan, dan banyak lainnya. Aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan ini sudah mulai sejak awal dimulainya revolusi industri di muka bumi lebih dari dua abad yang silam, dan masih berlangsung sampai dengan hari ini, dan berlanjut terus ke masa akan datang; kini dikenal dengan nama: “aliran benda” (materi)”.

Selain kepiawaian menghasilkan beragam barang atau jasa menurut: harga, mutu, jumlah, dan waktu penyerahan yang disepakati dalam perjanjian (kontrak); masalah yang timbul dari kehadiran kapitalisme saati ini di muka bumi: pertama limbah-gas hasil pembakaran bahan-bakar (padat, cair, dan gas) terus menerus dihamburkan menuju ke atmosfer planet biru oleh beragam sarana angkutan: darat, laut, dan udara, mengganggu pernafasan; kedua limbah-cair beragam rumah tangga dari tidak terkecuali asal rumah-tangga dari kota kecil besar hingga besar yang ada di muka di bumi mulai desa, kota kecil hingga kota besar dibuang menuju ke badan-air d muka bumi. Begitu juga cairan buangan beragam industri, tambang, kilang, kegiatan koperasi ekonomi masyarakat, dan lainnya., dibuang begiu saja menuju badan-air (parit, kolam, kanal, sungai, danau, laut, hingga samudra), mencemari minunan dan makanan umat, tidak terkecuali makhluk lain yang menimbulkan gangguan kesehatan, mulai lahir (fisik) hingga bathin (mental); ketiga: limbah-padat rongsokan beragam sarana angkutan (darat, laut, udara, dan lainnya) hasil buatan bermacam industri yang telah habis masa pakai ekonominya. Juga sarana dan prasarana beragam industri, aneka ragam tambang, instalasi pengeboran minyak dari darat hingga lepas pantai; bangkai bermacam peralatan elektronik dan teknik digital termasuk jutaan gadget dan lain sebagainya yang telah ketinggalan zaman dan kalah mutakhir tidak lagi digunakan. Juga tidak terkecuali pula bermacam perabotan dan perlengkapan rumah tangga bikinan industri yang tidak lagi diinginkan, diterlantarkan begitu saja dimana-mna di muka bumi menyita lahan dimana-mana. Sejak dari awal revolusi industri di Eropa silam, ketiga golongan limbah ini semuanya berasal dari “aliran benda (materi)” meninggalkan perut bumi menuju permukaan planit biru yang tidak pernah berhenti barang sedetik, dan terus mengalir hingga dengan hari ini.

Tidak dapat disangkal lagi, kini “aliran benda (materi)” yang meninggalkan perut bumi menuju permukaan semakin besar jumlahnya dalam “juta metric-ton”, mengikuti pertumbuhan penduduk bumi yang terus meningkat, termasuk aktivitas dan kreativitas yang mereka lakukan selama hayat di muka bumi, bagai bola salju yang sedang menggelinding di lereng gunung Alpen di Eropa selama musim dingin. Selain dari itu, kapitalisme juga semakin mengendalikan dan menguasai perekonomian manusia dunia. Kaum kapitalis juga semakian bersaing dalam mendapatkan bermacam benda (materi) berharga yang mereka butuhkan dari dalam perut bumi, baik yang ada di negerinya sendiri demikian juga yang diperoleh dari diluar Tanah-Airnya, menyebabkan ekosistim di muka bumi semkian tidak mudah dipelihara kelestariannya. Selain dari itu kapitalisme banyak berpengalaman dalam bidang menghasilkan barang industri atau komoditi didukung SDM bermutu dan sumber dana alam global, menyebabkan lingkungan hidup di muka bumi, terutama di dunia ketiga yang kurang pengetahuan dan lemah pengawasan, tidak dapat terhindar dari exploitasi SDA berlebihan dalam memenuhi permintaan pasar global.

Kini kapitalisme harus mencari jalan, agar “aliran benda (materi)” dari dalam perut bumi menu-ju permukaan tidak lagi berakhir menjadi: 1. “limbah-gas” yang mencemari udara atmosfer menyelimuti bumi yang mengganggu pernafasan, 2. limbah-cair dari pemanfaatan air-bersih dalam segala bidang kehidupan, usaha, dan industri tidak lagi mencemari badan-air di muka bumi, dan 3. limbah-padat rongsokan bermacam produk industri hasil ciptaan dan kreasi manusia tidak lagi diterlantarkan orang dimanamana menyita lahan di muka bumi. Harus dicarikan jalan keluar, agar aliran bahan dari dalam perut bumi menuju permukaan tidak melahirkan pencemaran: mulai yang biasa, yang berbahaya, apalagi pencemar yang sangat berbahaya terhadap makhluk hidup; menghindarkannya memasuki tubuh manusia atau makhluk lainnya melalui: minum, makan, bernafas, dan kegiatan sehari-hari, sehingga gang-guan lahir (fisik), antara lain: tidak normal bekerja atau berfungsinya berbagai organ tubuh, tidak terkecuali dampak bathin (mental), seperti: keanehan berprilaku dalam kegiatan sehari-hari, kelemahan berfikir, hingga dengan kehilangan ingatan dini, dan lainnya.

Salah satu gagasan yang pantas mendapat acungan jempol untuk butir pertama, ialah apa yang kini tengah diujicoba dengan penuh kesungguhan menggunakan Bahan-Bakar Hidrogen (BBH). Apa yang sedang diusahakan orang di muka bumi, ialah hijrah dari “ekonomi bahan-bakar fossil” (fossil-fuel economy) menuju “ekonomi bahan-bakar hidrogen” (hydrogen-fuel economy) untuk angkutan darat, sehingga gas hasil pembakaran yang muncul dalam mesin, dalam hal ini sel bahan-bakar (fuel cell) yang menggerakkan mesin listrik hanyalah air. Gagasan ini awalnya diperkenalkan oleh John Bockris dari Pusat Teknik General Motor, Amerika Serikat, pada suatu pembahasan di tahun 1970 silam. Kemudian pada tanggal 10 October 1997, Richard Daley, walikota Chicago dengan rekannya bepergian dalam kota mengendarai bis yang berbahan-bakar hidrogen, unsur kimia terdapat dalam tabel Mendeleyev terbanyak adanya di muka bumi, dipisahkan dari gas alam dengan proses kimia. Sebuah Sel Bahan-Bakar (SBB) dapat mengubah hidrogen yang dialirkan kedalam SBB menjadi “tenaga lisrik” dan “air”, tanpa pembakaran samasekali, diperkenalkan oleh Ballard Power Systems (BPS) dari Vancover. SBB ternyata “tiga kali” lebih hemat (efisien) dari pengubah “panas” menjadi “gerak” lewat pembakaran yang digunakan orang sampai hari ini yang dikenal dengan: MPL dan MPD.

Bagaimana efisiensi pasangan SBB dengan mesin listrik dapat mencapai “tiga kali” lebih hemat dari MPD yang membakar BBH? Bayangkan sebuah MPD, setelah pemantikan berlangsung, muncul gas (uap) bertekanan dan suhu amat tinggi muncul seketika diatas pengisap (piston), dan panas dipancarkan ke segala arah. Hanya panas kejurusan bawah bersama pengisap yang langsung diubah menjadi gerak (mekanik). Itulah sebabnya mengapa hanya sekitar 25 % panas yang dapat diubah menjadi gerak, sedangkan 75% lainnya terbuang percuma memanasi mesin, terbuang bersama air pendingin, dan terbuang keluar bersama gas buang. Akan tetapi untuk pasangan SBB dengan mesin listrik, tidak terdapat pembakaran samasekali, sehingga 100% “panas” langsung diubah menjadi tenaga listrik melalui reaksi kimia. Ketika tenaga listrik digunakan dalam mesin listrik, muncul panas yang diakibatkan pengantar dialiri arus sejumlah 25 %. Lainnya masih dalam bentuk listrik, dan itulah sebabnya mengapa pasangan SBB dengan mesin listrik menjadi tiga kali lebih hemat (efisien) dari sebuah MPD.

Tenaga listrik dibangkitkan dalam SBB lalu disalurkan kedalam mesin listrik yang mengubahnya menjadi gerak untuk menjalankan bis BPS. Gas buang yang dikeluarkan bis, dalam hal ini SBB, hanyalah uap-air yang samasekali tidak tercemar. Sang walikota meminum segelas air yang langsung diambil dari knalpot bis sambil berkata: “tidak jelek”. Bis dijalankan sel bahan-bakar dapat melaju sampai kecpatan 80 km/jam, menempuh jarak 400 km atau sehari penuh perjalanan bis untuk sekali pengisian BBH.

Untuk butir kedua, guna menghindarkan air-kotor mengotori badan-air yang ada di muka bumi, air-kotor yang memuat beragam pencemar perlu terlebih dahulu dialirkan kedalam Instalasi Penjernihan Air (IPA) guna memperoleh kembali air-bersih. Hanya air-bersih yang boleh dibuang kedalam badan-air apapun bentuknya yang ada di muka bumi. Alam pun telah jutaan tahun memberi contoh menurunkan hujan hanya dari air-bersih menyebabkan embun di pagi hari menyegarkan bila disentuh. Alam juga telah jutaan tahun memperlihatkan memisahkan beragam bahan pencemar dari air-kotor lewat “penguapan” menggunakan panas matahari, lalu mengum-pulkannya semuanya kedalam awan, dan setelah angin menyebarkannya kemana-mana, akhirnya setelah mendingin dijatuhkan kembali sebagai hujan.

Perlu dikembangkan bermacam IPA, mulai kebu-tuhan rumah tangga ukuran mini untuk desa, kota kecil, hingga kota besar dan kawasan industri yang berukuran raksasa. Dengan demikian, hanya air bersih yang boleh dibuang kedalam badan-air yang terdapat di muka bumi, seperti selokan, kolam, kanal, danau, sungai, laut, hingga dengan samudra. Perlu diketahui, lebih dari 70% berat tubuh manusia, tidak terkecuali bermacam makhluk lain, ialah air. Itulah sebabnya mengapa manusia, demikian juga makhluk lainnya sangat peka terhadap air tercemar; karena manakala yang akhir ini masuk kedalam tubuh lewat aktivitas: minum, makan, dan berkegiatan, akan dapat menyebabkan timbulnya gangguan lahir (fisik), tidak terkecali munculnya ggangguan bathin (mental) tidak diinginkan.

Sedangkan untuk butir ketiga, limbah-padat: rongsokan bermacam sarana angkutan (mobil, kapal, pesawatterbang, aneka ragam mesin perang, dan lain sebagainya); begitu juga rongsokan konstruksi baja dan lain sejensnya, tidak terkecuali instalasi tambang dari daratan hingga lepas pantai, dan masih banyak lagi yang lain. Memasuki milenium ketiga, muncul pula onggokan beragam benda sampah teknologi informasi dan telekomunikasi (komputer, telepon pintar, tablet, dan lain sebagainya) berubah menjadi limbah. Untuk menghindarkan munculnya tumpukan lim-bah teknologi elektronik-digital (digital-electronic) diterlantarkan orang berserakan di dimana-mana menyita lahan di muka bumi, perlu dibangun “cadangan berputar” (spinning reseve) yang menjadi sumber “bahan baku” kebutuhan industri untuk membuat beragam barang baru mulai yang berukuran kecil hingga dengan raksasa. Adapun yang dimaksud dengan cadangan berputar itu tidak lain dari “Bank Bahan Baku”, disingkat BBB (Bank of Raw Materials, disingkat BRM). Sebagaimana yang telah diteladankan TMH (Teknologi Mahluk Hidup) menyediakan “pe-mangsa” (predator) untuk menghilangkan makhluk yang tidak lagi bernyawa dari permukaan bumi, sebagai bagian dari rantai makanan bertugas “mendaur ulang” beragam jasad yang telah ditinggalkan ruh agar tidak menjadi pencema di muka bumi. Maka sejalan dengan apa yang telah dilakukan TMH diatas, maka terhadap berbagai macam barang hasil industri bikinan manusia apapun ragamnya, juga perlu diperlakukan dengan cara yang sama, yakni menghadirkan “mesin pemangsa” bekerja menghancurkan berbagai rongsokan barang (produk) hasil industri yang telah habis masa pakai ekonominya, kembali menjadi bahan baku guna disimpan kedalam cadangan berputar atau BBB. Dengan cara daur ulang demikian rongsokan barang hasil industry bikinan manusia tidak lagi menjadi sampah yang berserakan mencemari lahan di muka bumi.

Dengan demikian kini perlu dihadirkan Industri Pemangsa, disingkat IP (Predator industry, disingkat PI) dengan bermacam Mesin Pengurai, disingkat MP (Reduction Machine, disingkat RM) di muka bumi yang bekerja mendaur ulang beragam barang (produk) hasil industri yang telah habis masa pakai ekonominya. IP bersama beragam MP akan menjadi pemasok bahan-baku untuk BBB digali dari tambang perkoaan (urban mining) dimanapun adanya di muka bumi, antara lain: baja, tembaga, aluminium, dan lain sebagainya, untuk disimpan kembali kedalam cadangan berputar. IP akan mendatangkan lagi berjenis bahan-baku yang dibutuhkan oleh beragam industri yang menghasilkan berjenis barang (produk) yang dibutuhkan pasar, dihasilkan aneka ragam industry manufaktur hingga dengan beragam kerajinan rumah tangga mulai dari kota hingga ke desa. Dengan demikian mereka yang membutuhkan bermacam bahan-baku langsung dapat memperoleh dari BBB, sehingga kedepan penggalian tambang langsung dari dalam perut bumi terhadap beragam mineral asal alam perlu dibatasi untuk hanya kekurangan stok dalam BBB dengan pengawasan ketat. Melalui penyediaan cadangan berputar dari IP di mu-ka bumi, maka ekosistim yang telah terpelihara baik tidak lagi akan dapat dirusak dengan semena-mena oleh orang-orang yang tidak bertanggung-jawab sebagaimana yang banyak terjadi dewasa ini guna melindungi planit biru, satu-satunya benda langit istimewa yang ada di Alam Semesta, kini diketahui telah memasuki berusia 4,6 Miliard tahun.

b. Sistim Ekonomi Terpimpin, atau Diktator
Sosialisme muncul sebagai kritik terhadap kapitalisme. Ajaran Marxis lahir dari penolakan terha-dap lahirnya “revolusi industry” di Eropa silam. Menurut Karl Marx (1818-1883), industrialisasi akan mengelompokkan komunitas manusia kedalam kaum borjuis (bourgeoisie), yakni kelompok orang yang sedikit jumlahnya tetapi menguasai bermacam alat produksi mulai tanah sampai ber-macam pabrik hingga industry yang besar jumlahnya, dan kaum proletar (proletariat), ialah orang-orang yang tidak memiliki apapun selain dirinya yang banyak jumlahnya melakukan pekerjaan menghasilkan sesuatu dari setiap alat produksi yang dimiliki kaum borjuis. Marx menganggap industrialisasi sebagai dialektika logis pelaku ekonomi kaum feodal menuju kapita-lisme sempurna, dan yang akhir ini merupakan pendahuluan tercapainya komunisme. Dalam sistim sosialis segala alat produksi berikut keragamannya, juga bermacam usaha (business) adalah miliki dan dikelola Negara, dalam hal ini dikelola pemerintah komunis dengan deologi Marksisme Leninisme. Semua warga negara bekerja kepada negara: “memberikan kepada negara sesuai kemampuan, dan mendapat dari negara menurut keperluan. Akan menyalahi moral sosia-lisme, manakala ada anak bangsa menjalankan usaha (business) pribadi menghasilkan barang atau jasa atau keduanya mempekerjakan (mengeksploitasi) rekan sebangsanya, dengan memba-yar upah (uang) kepadanya sebagai imbalan jasa.

Sepeninggal Marx, para pengikutnrya terbelah. Sekelompok yang berkembang di Jerman lalu meninggalkan ajaran revolusi Perancis (1789-1799) yang menewaskan Raja Louis XVI yang tengah bertahta di negeri itu, menimbulkan beragam terror dimana-mana di seluruh negeri yang menyengsarakan kehidupan bangsa, mencari jalan damai untuk memperbaiki nasib kaum buruh di daratan Eropa jalan reformasi. Kelompok lain pengikut kaum Marxist Ortodox K. Kautsky, dipimpin W.I.Lenin, ingin mengulangi lagi ajaran revolusi Perancis 128 tahun silam, akan tetapi kini untuk menggulingkan Tsar Nikolas II dari singgasana di ibukota Rusia Petrograd, berlangsung tanggal 7 Nopember 1917, dengan menggerakkan kaum buruh negeri Beruang Merah itu. Revolusi berdarah kaum Bolshevik pimpinan W.I. Lenin berhasil menggulingkan dan menyingkirkan Raja bersama keluarganya ke Ekaterinburg di pedalaman Siberia. Lenin kemudian menyusun pemerintahan diktator proletariat di Rusia didukung kaum Bolshevik yang dipimpin Partai Komunis tunggal menguasai negara tanpa dibolehkan adanya kaum oposisi dan kritik terhadap pemerintah yang sedang berkuasa.

Pada ketika itu, kekaisaran Rusia sedang bergiat mengembangkan sistim ekonomi kapitalis yang bertanggungjawab terhadap kesejahteraan rakyatnya, sebagaimana yang dilakukan banyak negeri di daratan Eropa pada saat itu, akan tetapi dengan keberhasilan kaum Bolshevik menggulingkan Sang Tsar dari singgasananya, “sistim ekonomi kapitalis” yang tengah berkembang pesat di Rusia, terpaksa diganti dengan “sistim ekonomi sosialis” pertama di muka bumi sesuai ajaran Marx, dan nama Negara pun ditukar menjadi: Uni-Sovyet. Dengan demikiann sistim ekonomi kapitalis yang sudah dimulai Tsar Nikolas II untuk bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat Rusia, langsung ditukar menjadi sistim ekonomi sosialis pertama di dunia. Sistim ekonomi akhir ini kemudian disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia; dan pasca perang dunia ke-II menjadi wajib diterima oleh Negara-negara yang kemudian menjadi “satelit Uni-Sovyet”, tidak terkecuali beberapa negara dari dunia ke-III dan anggota negara-negara Non-blok yang menaruh minat mencicipi sistim ekonomi sosialis yang menjanjikan kesejahteraan bangsa.

Ketika negara Beruang Merah itu dilanda kekalutan politik berat, Michail Gorbachov selaku presiden Uni Sovyet lalu memperkenankan diselenggarakannya pemilu diseantero negeri, satu-satunya pemilu yang pernah ada sejak berdirinya negeri Beruang Merah dengan sistim ekonomi sosialis yang dipimpin Partai Komunis. Kemudian keluar sebagai pemenang pemilu di RFSR (Republik Federasi Sosialis Rusia) berlangsung secara demokratis pada tanggal 26 Maret 1989, B. N. Boris Yeltsin; padahal yang akhir ini telah menyatakan diri keluar dari Partai Komunis yang masih berkuasa di bumi Beruang Merah itu. Rakyat di RFSR, salah satu negara bagian Uni-Sovyet yang berbentuk federasi itu memperlhatkan jelas apa yang diinginkannya.

Setelah lebih dari tujuh dekade mengendalikan pemerintahan di Kremlin, kantor pemerintah Uni-Sovyet di Moskow, sosialisme atau sistim ekonomi sosialis terbukti gagal memenuhi janjinya untuk bertanggungjawab mensejahterakan kehidupan rakyat di seantero negeri, oleh ideologi yang sudah usang, terus saja membodohi anak bangsa dengan bermacam indoktrinasi orthodox ketimbang mencerdaskan mereka, membelenggu kebebasan individu dan menyatakan pendapat, serta melanggar hak azasi manusia. Uni-Sovyet pada ketika itu, masih merupakan satu negara adidaya dunia, pemimpin Negara Sosialis dari Blok Timur, hilang begitu saja ditelan sejarah dari permukaan bumi. Sebagai gantinya, lahir sejumlah negara baru, salah satu darinya ialah Federasi Rusia (Russian Federation) yang dipimpin oleh B. N. Boris Yeltsin; kembali menjadi negara demokratis. Yang akhir ini menyambut kembali “sistim ekonomi kapitalis” yang bertanggung jawab kepada kesejahteraan rakyat, sebagaimana yang dirintis oleh kekaisaran Rusia silam, dan memulihkan lagi perekonomian negeri yang telah porak poranda.

Uni-Sovyet berjaya selama lebih dari 72 tahun (1917-1989), memang berusaha keras untuk membuktikan sosialisme yang menuju komunisme, sebagaimana yang diajarkan oleh ideologi Komunis, akan tetapi dalam perjalanan waktu ternyata gagal. Sosialisme juga tidak memperli-hatkan keunggulan dalam berbagai bidang, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi berikut penerapan keduanya dalam memperbaiki kesejahteraan hidup anak-anak bangsa. Manakala dibandingkan dengan Jerman dan Jepang, sedemikian hancur di bom oleh sekutu dalam Perang Dunia ke-II silam, dalam perjalanan waktu hanya sedikit lebih dari setengah abad, masing-masing berhasil tampil menjadi raksasa-raksasa ekonomi ke-2 dan ke-3 dunia sesudah Amerika Serikat, akan tetapi dalam waktu tidak jauh berbeda Uni-Sovyet justru lenyap dari muka bumi. Negara adidaya dunia saingan Amerika Serikat itu, juga kelihatan kelabakan saat berhadapan dengan bencana Chernobyl pada tanggal 26 April 1986 lalu. Pertolongan datang menghadapi bencana nuklir mengerikan di Ukraina, sebuah negara bagian negeri itu, kebanyakan datang dari negara-negara kapitalis ketimbang negara-negara sosialis yang sealiran ideologi menghadang serbuan sinar radio-aktif. Perlu dicatat, pada ketika itu “perang dingin” antara Blok Barat dan Blok Timur masih belum lagi berakhir.

Sosialisme juga tidak memperlihatkan penyelesaian terhadap masalah limbah, sebagaimana yang dihadapi negara-negara kapitalis, mulai rumah-tangga hingga dengan buangan beragam industri dari ringan hingga berat yang melanda berbagai negara kapitalis di dunia ketika itu. Pasca runtuhnya Uni-Sovyet, barulah media berani mengabarkan kerusakan lingkungan yang telah terjadi di negara bersistem ekonomi sosialis yang bernama tirai besi. Kerusakan lingkungan juga kemudian terkuak ke media di berbagai negara satelit Beruang Merah itu, oleh lamanya terisolasi dari masyarakat dunia karena perbedaan ideologi, juga ketidak berdayaan sistim ekonomi sosialis mengembangkan beragam prakarsa berkaitan dengan menjaga kelestarian ekosistim di muka bumi. Tidak dapat disangkal terseretnya negara-negara anggota non-blok yang menerapkan sistim ekonomi sosialis model Uni-Sovyet untuk mensejahterakan kehidupan bangsa, kemudian terjerumus kedalam penanganan lingkungan hidup birokratis yang merugikan ekosistim bumi dari negara bersangkutan.

c. Sistim Ekonomi Romantis
Revolusi industri berkembang di Eropa lalu meluas ke Amerika Utara, kemudian Jepang dan sejumlah bagian dunia lain, tidak disangkal lagi mendapat perlawanan dari para penentangnya, antara lain: penulis, kaum intelektual, para penggiat budaya beragam seni, dan lain sebagainya. Kelompok masyarakat di daratan Eropa yang kala itu menolah kehadiran revolusi industri digerakkan kaum pengusaha diberi julukan: kaum romantis. Kedalam golongan ini termasuk juga para penyair yang rajin menyuarakan buah fikiran dan suara hati lewat tulisan, seperti: makalah, pembacaan puisi, menulis sajak, dan lain sebagainya. Mereka juga mempertontonkan karikatur, melakukan pementasan panggung hingga theater, dan masih banyak lagi kegiatan lain yang mereka kerjakan. Kaum romantis ingin menjaga hubungan yang harmonis antara manusia de-ngan lingkungan hidup alamnya di muka bumi, bersenjatakan kepiawaian beragam seni dan kekayaan warisan budaya lewat media bahasa. Apa yang mereka perbuat bertolak belakang samasekali dengan beragam mesin ukuran gergasi dan bangunan raksasa yang semakin bermun-culan dalam lingkungan hidup manusia pada saat itu. “Dark Satanic Mills” karya William Blake, novel “Frankenstein” tulisan Marry Shelley, dan masih banyak lagi lainnya, ingin mengadu ke-pada dunia terhadap ketidak senangan mereka pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di daratan Eropa yang berwajah ganda. Pernyataan dilontarkan dan prilaku dipera-gakan semuanya menampakkan sikap tidak senang. Akan tetapi kaum romantis tidak pernah memperjuangkan berdirinya sebuah negara dengan pemerintahan yang beranggungjawab kepada kesejahteraan rakyat suatu bangsa, dan itulah sebabnya mengapa tidak ada tulisan diketahui yang dikerjakan tentang kelebihan atau kekurangan: “sistim ekonomi romantis” yang bertanggung-jawab terhadap kesejahteraan sebuah bangsa di muka bumi, terkecuali keinginan besar untuk menjaga dan memelihara kelestarian ekosistim di bumi yang terbentang di hadapan mereka di permukaan planit ini.

Pencemaran Muka Bumi
Pencemaran di muka bumi memang bukan persoalan baru, karena telah timbul sejak ribuan tahun silam disebabkan beragam bencana, antara lain: meletusnya gunung-api yang menghamburkan asap ke udara, mengalirkan lahar panas berikut batuan, melahirkan lahar dingin yang menerobos pemukiman setelah hujan turun hujan, dan lain sebagainya. Ada juga yang ditimbulkan per-geseran landas kontinen dan menyebabkan timbulnya tsunami. Demikian juga banjir bandang yang disebabkan tingginya curah hujan sesuatu tempat di muka bumi karena perubahan iklim oleh pemanasan global. Selain dari itu, ada lagi rob disebabkan matahari dan bulan berada dalam segaris. Bencana alam memang dapat memporakporandakan lingkungan hidup tempat umat bermukim di muka bumi, mulai kerusakan lahir, tersebarnya bermacam bahan kimia, dari yang biasa, berbahaya, hingga dengan sangat berbahaya terhadap makhluk; tidak terkecuali yang dapat mengandung bahan radioaktif. Kerugian yang ditimbulkan mulai dari kehilangan nyawa, dan harta-benda; tidak terkecuali: sawah, ladang, dan lingkungan sekitar yang tidak lagi dapat dimanfaatkan dalam waktu yang panjang.

Pasca Perang Dunia ke-II, warga Jerman dan Jepang menderita kerusakan lingkungan hidup ditimbulkan begitu banyak bom yang dijatuhkan sekutu di kedua negeri itu. Selain dari itu, di negeri terakhir, ada lagi dua “bom atom” dijatuhkan di kota-kota Hiroshima dan Nagasaki me-renggut tidak sedikit korban jiwa. Kedua bom atom dijatuhkan di Jepang tidak semata menye-babkan kerusakan lahir, tetapi ada lagi radiasi bahan radioaktif yang tidak tampak oleh mata ber-kepanjangan yang juga membahayakan jiwa manusia. Belakangan banyak dibicarakan media massa tentang pencemaran radioaktif yang ditimbulkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi, oleh kegagalan mengatasi kebocoran air pendingin reaktor yang terbuang ke laut Jepang.
Adapun contoh pencemaran atmosfer menimbulkan bahaya maut yang tidak terduga terhadap warga yang hidup di muka bumi, ialah malapetaka Bhopal muncul di negara bagian Madhya Pradesh, India. Pada malam yang naas tanggal 2-3 Desember 1984, timbul kebocoran bahan methyl iso-cyanate dari sebuah pabrik kimia, yang letaknya tidak berjauhan dari suatu pemuki-man kumuh. Keesokan harinya dikhabarkan ribuan orang yang bediam di pemukiman tersebut tidak lagi terjaga dari tidur mereka, karena telah berpulang ke rakhmatullah.

Sepanjang tahun 2008 silam dichabarkan melalui media, sebanyak 29 Triliun metic-ton gas karbon dioxida (CO2) telah dibuang menuju ke atmosfer bumi yang menyelimuti planit biru ini. Gas berbahaya ini berasal dari bermacam industri yang menghasilkan bermacam barang kebutuhan umat yang hidup di bumi, tidak terkecuali aneka ragam sarana angkutan yang melayani umat bepergian pada tahun yang disebutkan.
Di daratan Eropa muncul hujan-asam (acid rain) berasal dari asap yang meninggalkan PLTU yang membakar beragam Bahan Bakar Padat (BBP), kebanyakan batubara. Sebagai akibatnya, daun-daun pohon dari hutan yang tidak berjauhan letaknya dari pusat pembangkit tenaga listrik disebutkan menjadi mengering.

Selama Perang Vietnam berlangsung, negeri itu dilanda hujan-kuning (yellow-rain) di bagian utara negeri. Negara Paman Sam saat itu mengambil kebijakan menyebarkan bahan-kimia dari udara yang menyebabkan hujan yang turun berwarna kuning di musim hujan. Adapun tujuan penyebaran bahan-kimia untuk menghambat laju gerakan pasukan-pasukan Vietcong yang sedang menerobos ke Selatan, namun dampak yang tidak diinginkan menimbulkan bayi-bayi manusia yang lahir di wilayah terkena hujan kuning menjadi cacat saat lahir, tidak terkecuali gangguan kesehatan lainnya.

Di negeri Sakura berjangkit apa yang dinamakan orang penyakit-Minamata (Minimata-disease). Penyakit ini dikhabarkan timbul karena tercemarnya air laut oleh airraksa (merkuri), cairan logam berat yang dibawa aliran di sejumlah sungai di Jepang menuju ke laut. Sebagai akibatnya banyak ikan-ikan yang hidup dan mencari makan di laut yang tercemar, lalu mengandung logam airraksa berbahaya dalam tubuh mereka. Kaum ibu Jepang yang menyantap ikan-ikan yang ditangkap dari perairan yang tercemar kemudian melahirkan bayi-bayi cacat, tidak terkecuali gangguan kesehatan lain. Limbah air-raksa juga mencemari berbagai sungai di Tanah-Air, di bagian hulu mana terdapat para pendulang emas yang memanfaatkan airraksa untuk memisahkan emas diperoleh, lalu membuang limbah dihasilkan begitu saja ke sungai dan langsung men-cemari air sungai.
Salah sebuah akibat bahaya “sinar radioaktif”, ialah terbunuhnya Alexander Livinenko dari Ru-sia sebagaimana yang diberitakan belum lama berselang. Ia dikhabarkan menerima radiasi Plu-tonium 210 (Po-210) yang radioaktif memancarkan sinar alpha berkepanjangan, disembunyikan orang yang tidak bertanggungjawab dalam jarak yang tidak jauh.

Sebuah hasil penelitian Universitas Chicago, Amerika Serikat, menunjukkan adanya hubungan atau korelasi, antara tingkat pencemaran pestisida sebuah lingkungan hidup dengan munculnya gejala autisme, demikian juga kekurangcerdasan (Intellectual Disability, ID) anak baru dilahir-kan di lingkungan tersebut. Tampaknya, pencemaran suatu lingkungan hidup pada tingkat ter-tentu, berdampak pada program kegiatan TMH didalam kandungan para ibu, menyebabkan bermacam program kimia organik dingin yang tengah berlangsung didalam tubuh bayi terusik karenanya.

Masih terdapat banyak ragam pencemaran lingkungan hidup yang timbul di muka bumi oleh kegiatan manusia dalam hidup ini, seperti yang diakibatkan karamnya tanker Exxon Valdez di Prince William Sound, Alaska, tanggal 24 Maret 1989 silam. Kapal pengangkut minyak mentah tujuan Long Beach, California, Amerika Serikat, itu tiba-tiba membentur karang Bligh dalam perjalanannya, lalu menumpahkan minyak-mentah dari sekitar 260,000 hingga 750,000 barrels (41,000 hingga 119,000 m3), menjadikan salah sebuah bencana lingkungan hidup terparah yang pernah diketahui orang di dunia selama ini.

Beragam bahan pencemar yang ada dalam lingkungan umat dapat masuk kedalam tubuh ma-nusia, pertama: ketika orang sedang bernafas lewat paru-paru dan menghirup limbah-gas dan butiran-butiran benda renik; kedua: melalui mulut saat orang sedang: minum dan menyantap makanan yang mengandung limbah-cair berbahaya atau sangat berbahaya; dan ketiga: melalui sentuhan langsung dengan beragam benda-padat berbahaya atau sangat berbahaya saat sedang berkegiatan, seperti: bekerja, berolah raga, dan lainnya.

Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, revolusi industri tampil di Eropa dengan beragam mesin yang memudahkan kehidupan umat silam, semula dikira orang sebagai berkah kepada umat. Akan tetapi dengan terjadinya perubahan iklim nyata disertai angin kencang dan iringan ombak besar yang mendatangkan beragam bencana di muka bumi, umat Islam lalu sadar akan peringatan Tuhan dalam surat Ar-Rum, Ayat 41, tercantum dalam Al-Quran, akan “arti” sesungguhnya rangkaian kata: “merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) dari perbuatan” manusia: “agar kembali ke jalan yang benar”.

Revolusi industri tampil di Eropa silam berawal dari temuan Thomas Savery (1650-1715) dari Inggris, yang sedang tertantang mewujudkan pompa-air tenaga atmosfer kebutuhan tambang, lalu mempatenkannya. Thomas Newcomen (1664-1729), rekan senegaranya melihat kekurangan pompa rekannya, dan memperkenalkan pompa-air berpengisap dibantu uap untuk maksud yang sama. Kedua pompa ini lalu menggoda James Watt (1736-1819) rekan senegara yang lain, mem-buat mesin-uap berputar dijalankan uap bertekanan untuk kebutuhan beragam industri yang diu-sahakan orang ketika itu, tidak terkecuali yang memperkenalkan kereta-api pertama di dunia oleh George Stephenson (1781-1848) menghubungkan Sockton dengan Darlington di Inggris membakar Bahan Bakar Padat (BBP) ragam batubara. Mesin-uap yang bernama ilmiah Mesin Pembakaran Luar (MPL), memiliki “kemasan ganda” (double package): sebuah digunakan un-tuk “periuk” tempat menanak air yang menghasilkan uap bertekanan (tenaga potensial) lewat pembakaran di luar silinder, lainnya berupa sebuah: “silinder dengan pengisap”, digunakan untuk mengubah tenaga potensial uap yang ada dalam kemasan pertama menjadi tenaga-gerak putar di-perlukan beragam industri, seperti: angkutan, dan lainnya. Batubara lalu ditambang orang dima-na-mana di muka bumi kedalaman puluhan hingga ratusan meter, sedangkan air diperoleh dari sungai terdekat.

Dari Belgia, negara Eropa lain, tahun 1860 Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) memper-kenalkan bernama ilmiah Mesin Pembakaran Dalam (MPD) berpemantik, yang dikenal dengan istilah “motor bakar”. Bahan-bakar digunakan bukan batubara, tetapi Bahan Bakar Cair (BBC) bernama bensin yang gampang menguap. Karena gas bertekanan untuk mendorong pengisap kebawah dapat dihasilkan langsung didalam silinder dalam sekejap dengan pemantikan, maka MPD tidak membutuhkan periuk tempat bertanak air, sehingga “kemasan ganda” James Watt oleh Etienne Lenoir disusutkan menjadi sebuah “kemasan tunggal” (single package). Dengan demikian MPD memerlukan tempat yang lebih kecil untuk daya dihasil-kan yang sama, menyita ruang atau volume lebih sedikit dalam kendaraan, lebih ringan, lebih murah pula harganya. Akan tetapi MPD membutuhkan BBC yang mudah menguap, dengan minyak mentah asalnya perlu didatangkan dari dalam perut bumi ribuan meter dalamnya, selanjutnya harus diolah dalam kilang agar menjadi bensin.

Dua tahun kemudian dari Jerman, negara Eropa yang lainnya, Nikolaus Otto memperkenalkan MPD dengan pengabut (carburettor) dan pemantik listrik (electric ignition), yang lalu dikenal luas dengan nama: mesin bensin. Pada tahun 1900 menyusul pula Rudolf Diesel, rekan sebang-sanya, memperkenalkan MPD dipantik kempa (compression ignition) dan dinamakan: mesin diesel. Berbeda dengan TMH (Teknologi Makhluk Hidup) “pengubah panas” kimia organik “suhu tubuh” atau suhu rendah diperkenalkan Ilahi di muka bumi, akan tetapi teknologi yang dikembangkan umat sejak awal revolusi industri di Eropa silam, kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia, menperkenalkan “pengubah panas” kimia anorganik “suhu amat tinggi” dengan temperatur ribuan derajat Celsius. Revolusi industri yang diawali dari Eropa silam dengan demi-kian telah melahirkan: serangkaian “Sumber Tenaga Gerak”, disingkat STG (Mechanical Energy Source, disingkat MES), yang mengubah “panas” hasil pembakaran bahan-bakar bersuhu amat tinggi menjadi “tenaga gerak” (mechanical energy), berupa: sebuah MPL dikenal dengan istilah “mesin-uap”, dan dua buah MPD masing-masing dinamakan “mesin-bensin” dan “mesin-diesel”.

Ketiga macam pengubah “panas” menjadi “gerak”, disingkat: Pengubah Panas Gerak (PPG), a-tau Thermo Mechanic Convertor (TMC), dinamakan: “mesin pembakaran”, terdiri dari: MPL yang bertanak air dalam periuk (ketel) untuk menghasilkan uap bertekanan yang dibutuhkan mesin, berlangsung diluar silinder-silinder mesin menggunakan BBP, dan MPD yang melakukan pembakaran langsung dalam silinder-silinder mesin, karena tidak memerlukan periuk tempat bertanak air, akan tetapi membakar BBC mudah menguap atau BBG. Dengan demikian STG- PPG (MES-TMC) yang diperkenalkan revolusi industri kepada umat di dunia pertama kali benar-benar barang yang baru samasekali, dimulai dari Inggris, dilanjutkan oleh Belgia, kemudian disempurnakan oleh Jerman; memperkenalkan kepada manusia apa yang kemudian dinamakan dengan: “mesin” (Indonesia), “engine” (Inggris), dan “maschine” (Jerman), dan me-nyebar ke segala penjuru dunia.

Mesin yang bekerja mengubah “panas” menjadi “gerak” dinamakan orang: “Pengubah Panas Mekanik”, disingkat PPM (Thermo Mechanical Convertor, disingkat TMC). Mesin demikian membakar beragam bahan-bakar lewat reaksi kimia anorganik guna membebaskan panas (kalor) menimbulkan suhu sangat tinggi guna membangun uap atau gas bertekanan. Adapun dua kelompok mesin yang diperkenalkan revolusi industry di Eropa silam, ialah: MPL (ECE) yang merebus air dalam periuk (boiler) diluar silinder mesin dengan membakar bahan-bakar padat( batubara) untuk mendapatkan uap bertekanan, dan MPD (ICE) yang membakar bahan-bakar cair atau gas langsung dalam silinder mesin untuk menghasilkan gas bertekanan, tanpa membutuhkan periuk (boiler) samasekali. “Uap bertekanan” atau “gas bertekanan” merupakan “kunci pertama”, temuan bangsa Eropa ini, sedangkan “silinder berikut pengisap, lengan dan poros engkol” meru-pakan kunci kedua temuan tadi, dari apa yang telah dilakukan revolusi industry diawali dari Eropa silam, dan mengubah drastis peradaban umat di muka bumi sampai hari ini.

Kedua kunci penemuan disebutkan sebetulnya dapat ditemukan juga komunitas umat mana saja di bumi, sejauh mereka yakin bahwa Allah, yang Maha Pengasih yang Maha Penyayang, telah menebarkan ke Alam Semesta bermacam pengetahuan termasuk ilmu-alam (fisika) yang begitu sederhana kedua kunci. Banyak komunitas umat di muka bumi yang telah lama thau air direbus dalam benjana menghasilkan uap bertekanan, demikian juga gas mudah menyala akan menye-babkan letusan, akan tetapi apabila umat tidak menaruh perhatian kepada apa yang telah disemaikan Ilahi di Alam Semesta, wbilkhusus di muka bumi tempat insan berdiam, maka kesempatan emas akan diambil komunitas lain yang lebih tekun mencari dan menemukan, sebagaimana yang telah dikerjakan oleh komunitas Eropa silam.

Meski MPL dan MPD begitu besar manfaatnya kepada manusia sejak awal dari revolusi industri silam, tetapi kebanyakan (mayoritas) “panas” yang dibebaskan reaksi kimia pembakaran bahan-bakar dinyatakan dalam “kalori” cuma terbuang percuma. Hanya sebagian kecil (minoritas) “panas” hasil pembakaran bahan-bakar yang dapat diubah menjadi “gerak” (mekanik) untuk menggerakkan bermacam industri, atau sarana angkutan: darat, air, dan udara, serta lainnya. Itulah sebabnya mengapa ketiga PPG temuan revolusi industry ini tergolong “boros” atau “tidak-efisien” memanfaatkan bahan-bakar, karena lebih banyak “panas” hasil pembekaran yang terbu-ang percuma ketimbang dimanfaatkan. Diterjemahkan kedalam pemakaian bahan-bakar, lebih banyak bahan-bakar yang dibawa kendaraan hanya dihamburkan begitu saja sepanjang jalan dilalui untuk mencemari lingkungan hidup manusia di muka bumi daripada dimanfaatkan.

Sebuah lokomotiv-uap digerakkan MPL menarik rangkaian kereta-api dari Jakarta ke Surabaya sebetulnya memerlukan 10% “panas” hasil pembakaran seluruh batubara yang dibawa dan dibakar untuk mengantarkan kereta-api bersama penumpang sampai ke tujuan; adapun 90% “panas” yang lain, hanya dihamburkan begitu saja sepanjang jalan dilewati memanasi udara sekitar. Diterjemahkan kedalam pemakaian BBP, hanya 10% berat batubara yang dibawa dan dibakar yang bermanfaat mengantarakan rangkaian kereta-api bersama penumpang sampai ke tujuan, sementara 90% berat batubara lainnya dihamburkan begitu saja sepanjang jalan dilalui mengotori lingkungan. Sebuah sepeda motor atau mobil dijalankan MPD, akan menghamburkan 75% “panas” hasil pembakaran bensin memanasi udara sekitar, hanya 25% “panas” hasil pembakaran bensin yang bermanfaat mengantarkan pengemudi bersama kendaraan sampai ke tujuan. Diterjematukhkan kedalam pemakaian BBC, 75% berat bensin yang berada dalam tanki motor atau mobil ditumpahkan begitu saja sepanjang jalan dilalui, hanya 25% berat bensin dalam tanki yang dibawa dan dibakar yang benar-benar mengantarkan pengemudi berikut kendaraan sampai ke tujuan.

Itulah pula sebabnya mengapa: sepeda motor, angkot, mobil, bis, kapal laut, pesawatterbang dan lainnya menggunakan MPD, begitu juga yang menggerakkan beragam pabrik samapai industri, sangat boros mengkonsumsi BBM. Ini disebabkan oleh kenyataan, kurang dari 25% “panas” hasil pembakaran: bensin, solar, atau lainnya muncul dalam sekejap dalam silinder-silinder mesin berguna mengantarkan kendaraan bersama penumpang, barang, atau keduanya, sampai ke tujuan, sementara 75% lainnya hanya terbuang percuma saja sepanjang jalan dilalui memanasi udara lingkungan sekitar. Lalu keduanya, baik yang berguna maupun yang terbuang percuma, menimbulkan apa yang dinamakan dengan istilah: “jejak karbon” (carbon footprint). Pencemaran yang ditimbulkan sarana angkutan darat yang membakar bahan-bakar selanjutnya dinyatakan lewat “berat carbon dalam gram” dihamburkan menuju lingkungan sekitar terhadap untuk setiap km jarak yang ditempuh. Dengan demikian, sebuah kendaraan pribadi roda empat merek tertentu dijalankan MPD akan meninggalkan “jejak karbon” di muka bumi sejumlah: x gr/km, sebagai contoh 135 gr/km.

Adapun gas hasil pembakaran bahan bakar dihamburkan beragam kendaraan melalui knalpot masing-masing, ialah: nitrogen (N2), uap air (H2O), karbon dioksida (CO2); meski ketiganya tidak tergolong bebahaya, namun yang disebut akhir ini tergolong gas penyumbang pemanasan global. Diantara berbagai gas yang tidak dikehendaki keberadaannya dalam atmosphere bumi ialah: karbon mono-oksida (CO), hidrokarbon (CxHy), dan oksida nitrogen (NOx). Kini setelah lebih dari dua abad revolusi industri berlangsung, ketiga macam mesin yang diperkenalkannya diawali dari Eropa silam, masih belum banyak beranjak dari keborosan pemakaian BBC. Ini disebabkan oleh “Bidang Teknik Mesin” dari beragam Perguruan Tinggi Teknologi di muka bumi ini masih belum menemukan pemecahan masalah yang dihadapi secara ekonomis. Jejak karbon inilah yang kini disaksikan warga China mengambang di udara berbagai kota besar di negeri Tirai Bambu itu, seperti: Beijing, Shanghai, dan lainnya dan telah menganggu pernafasan warga bangsanya. Ancaman semacam itu juga akan menghampiri Tanah-Air, manakala anak bangsa ini tidak berhasil menyiapkan langkah nyata dalam perencanaan untuk menghindar-kannya muncul di langit nusantara.

Gunung-Api Buatan Manusia
Hingga kini, sudah dikenal tiga golongan limbah yang mencemari lingkungan hidup makhluk di muka bumi ditimbulkan “aliran benda (materi)” yang hijrah dari dalam perut bumi menuju per-mukaan buatan manusia, pertama: gas dan benda renik (small particles) hasil pembakaran bera-gam bahan-bakar asal bermacam industri penghasil barang (produk) dan jasa (service), mulai dari: industri dan pabrik, sarana angkutan, tambang, kilang mulai kecil hingga besar, bermacam kegiatan ekonomi masyarakat dari kecil sampai menengah, dan lainnya yang ada di muka bumi dan dihamburkan begitu saja menuju atmosfer diseputar bumi dan mencemari udara; kedua: air-kotor dihasilkan beragam industri penghasil barang (produk), jasa (jasa), mulai: pabrik, industri, angkutan, tambang, kilang, mulai kota kecil sampai besar, dan lainnya; lalu dibuang begitu saja kedalam badan-air: parit, kolam, kanal, danau, sungai, laut, berakhir di samudra; ketiga: berjenis barang hasil pabrik hingga industri yang telah habis masa pakai ekonominya lalu beralih menjadi barang rongsokan, seperti: mobil, kereta-api, kapal mulai sungai hingga samudra, pesawat-terbang, beragam perlengkapan dan peralatan perang, komputer, laptop, telepon pintar, limbah rumah tangga mulai: desa, kota kecil sampai besar, dan lainnya; diterlantarkan begitu saja di dimana-mana di daratan menyita lahan semakin luas. Dengan penduduk yang berdiam di muka bumi yang terus bertambah, ketiga kelompok limbah disebutkan juga akan meningkat jumlahnya di muka bumi dalam perjalanan waktu kedepan.

a. Pencemaran Atmosfer
Seorang pengemudi sepeda motor menyimak penunjuk bensin, dan mampir ke tempat pengisian BBM. Dari tanki, dengan teknologi mutakhir bensin disuntikkan kedalam silinder, dan setelah bercampur udara dipantik. Timbul letusan, “panas” dibebaskan, gas bertekanan timbul sekejap dalam silinder mendorong “pengisap” kebawah. Dengan bantuan lengan dan poros-engkol, gerakan lurus pengisap diubah menjadi putar. Kemudian dengan rantai, gerakan putar poros dihubungkan ke roda belakang yang membuat sepeda motor bergerak. Diperlukan banyak sekali letusan dalam silinder untuk mengantarkan pengendara sepeda motor bersama pengendara sampai ke tujuan. Dengan mengatur isi (volume) silinder, mulai ukuran hingga dengan banyaknya, begitu juga ragam BBM dimanfaatkan, daya (power) dihasilkan mesin dapat diatur.

Demikian awalnya, bagaimana revolusi industri di Eropa silam memperkenalkan STG bikinan manusia hasil akal budinya, hanya memanfaatkan “ilmu alam” (fisika) yang begitu sederhana, lalu mengubah “peradaban manusia” di muka bumi, lebih dari dua abad lamanya sampai hari ini, hanya dipicu pompa buatan Thomas Savery, yang lalu diperbaiki Thomas Newcomen, kemudian oleh James Watt diubah menjadi “sumber tenaga gerak” mesin pembakaran luar, disingkat MPL, ketiganya dari Inggris; dilanjutkan J.E.Lenoir dari Belgia memperkenalkan “sumber tenaga gerak” pembakaran dalam, disingkat MPD. Dan yang disebut belakangan, dapat dikatakan sebagai: rangkaian letusan hasil pembakaran BBM terkendali kemasan tunggal (single package) yang menghasilkan “tenaga gerak” kebutuhan beragam industri, wabilkhusus: sarana angkutan, tidak terkecuali beragam industri lainnya. Manakala tidak dikemas baik, dan tidak juga terkendali, akan menimbulkan letusan bom menghancurkan seketika manakala bahan-bakar yang telah bercampur udara dipantik. Sejak dari saat bersejarah itu, berbagai industri lalu bermunculan dimana-mana di muka bumi ibarat jamur di musim hujan yang menyediakan lapangan kerja kepada umat, tidak terkecuali memperkenalkan bermacam sarana angkutan: darat, air, udara, keperluan: sipil, militer, dan lainnya. Budaya bepergian berjalan-kaki dan naik-kuda, tidak terkecuali kereta dihela kuda atau ternak peliharaan lain selama ini dimanfaatkan orang dimana-mana di muka bumi, lalu lenyap dan digantikan kendaraan yang dijalankan mesin pembakaran yang belum diketahui orang dari zaman sebelumnya. Bermacam lingkungan budaya dan adat istiadat yang semula tertutup terisolasi oleh jarak perjalanan yang jauh, kemudian seketika terbuka menyebabkan timbulnya beragam permasalahan: sosial, ekonomi, politik, keamanan, dan lainnya yang rumit sekali.

Usai letusan pertama, silinder mesin lalu dikuras menjelang penyuntikan bensin baru untuk kembali dicampur udara baru menjelang pemantikan selanjutnya; demikian seterusnya dengan letusan-letusan yang kemudian menyusul. Pembilasan silinder melahirkan “gas buang” yang dikeluarkan lewat knalpot, melahirkan “limbah gas” yang diperkenalkan revolusi industri. Lim-bahgas yang dikeluarkan ribuan, jutaan, miliard, triliun, bahkan lebih banyak lagi letusan, yang dihamburkan saja menuju atmosfer bumi akan mengotori atau mencemari udara, karena tidak lagi dapat dikembalikan kedalam perut bumi darimana berasal, setelah “panas” berhasil pemba-karan bensin diubah menjadi “gerakan” yang diperlukan si pengendara sepeda motor.

Limbah gas tidak semata dihamburkan sarana angkutan: darat, laut, dan udara, tetapi juga oleh tak terhitung banyaknya pabrik dan industri yang telah ada di muka bumi hingga kini yang memanfaatkan: mesin-uap, mesin-bensin, dan mesin-diesel untuk memproduksi: beragam barang (produk), layanan jasa; (service) yang bilanagn dan ragamnya terus bertambah di bumi dalam perjalanan waktu, tersebar kedalam berbagai negara. Selain pencemaran atmosfer diperoleh dari pembakaran: BBP, BBC, dan BBG berlangsung didalam silinder-silinder beragam kendaraan, masih ada sumber pencemaran dari bahan “additive” yang ditambahkan orang dengan sengaja, seperti: logam timbel kedalam bahan-bakar, dan lainnya kedalam minyak lumas. Adapun mak-sud penambahan bahan-bahan ini demi meningkatkan kinerja: mesin-uap, mesin-bensin, dan me-sin-diesel. Manfaat pemakaian bahan additive terhadap mesin diterangkan sangat baik oleh pabrik pembuatnya, namun dampak “sampah-gas” mengandung bahan additive apabila terhirup kedalam pernafasan manusia samasekali tidak diterangkan oleh pembuatnya.

Seperti yang telah berulang kali disampaiakan, “limbah gas” yang dihamburkan kedalam atmosfer bumi mengitari planit biru ini, datang dari beragam industri, seperti: bermacam sarana tansportasi dan berjenis industri yang ada di muka bumi. Adapun jumlah limbah-gas yang dihamburkan dalam Triliun metric-ton tergantung dari: isi (volume) silinder, bilangan silinder, putaran poros per menit, daya dihasilkan, dan jumlah: mesin-uap, mesin-bensin, dan mesin-diesel yang dimanfaatkan orang setiap saat di seluruh penjuru dunia dalam setahun menghasilkan bermacam barang (produk) dan aneka jasa (service). Perlu dicatat luas permukaan bumi, terdiri dari daratan dan muka air, seluruhnya: 510 juta km2. Tiga perempat berat (massa) udara yang menyelimuti bola bumi terletak hingga ketinggian 11.000 meter (11 km) diatas permukaan laut. Puncak Everest, tempat tertinggi yang terdapat di muka bumi terletak pada ketinggian 8.848 m diatas permukaan laut, sementara tempat tertinggi yang dapat didiami manusia ialah: 5.500 m diatas permukaan laut, karena pada ketinggian tersebut kemampuan paru-paru manusia meraih oksigen untuk bernafas telah merosot menjadi: 50%. Dengan demikian Volume Udara (VU) sebagian besar atmosfer bumi mengitari planet biru, keberadaannya dipercayakan kepada gaya-tarik (gravitasi) bumi, jumlah seluruhnya: 5,41 Miliard km3. Dengan garis-tengah bumi: 12.740 km, Volume Bumi (VB) besarnya: 1.081 Miliard km3. Dengan demikian perbandingan antara sebagian besar udara yang mengitari planit biru terhadap volume bumi, memberikan angka:

VU/VB = 0,5%

Dari perbandingan diatas jelas tampak, bahwa lapisan udara yang menyelimuti bola bumi atau planit biru, hanyalah sebuah lapisan tipis yang boleh juga dinamakan “selaput udara”. Karena begitu tipisnya lapisan udara ini, maka tidak dapat diragukan amat rawan terhadap pencemaran yang ditimbulkan aliran benda (materi) mengalir dari dalam perut bumi menuju permukaan yang semula diawali oleh revolusi industri.

Untuk memberikan gambaran yang lebih terang lagi “arti” perbandingan yang dikemukakan diatas, bayangkan sebuah bola bergaris tengah 100 m diletakkan di tengah sebuah stadion sepak-bola untuk mewakili bola bumi dengan ukuran yang diperkecil. Lalu sentuhkan sebuah mistar pendek 10 cm tegak lurus kepada bidang yang menyentuh bola. Dengan demikian, tiga pe-rempat berat udara yang menyelimuti bola bumi diperkecil akan terdapat pada angka 8,64 cm. Memandang bola bumi diperkecil dari salah satu kursi di dalam stadion, orang akan mendapat kesan betapa tipisnya lapisan atmosfer bumi berdimensi selaput ini, benar-benar sangat rawan terhadap pencemaran yang ditimbulkan aliran bahan (materi) yang meninggalkan perut bumi (diperkecil) menuju permukaannya berlangsung tanpa henti; yang terus meningkat jumlahnya menelusuri perjalanan waktu. Akan tetapi bagi orang yang memandang ke angkasa dari tempat duduk yang sama di dalam stadion, tidak akan mudah percaya bahwa ruang atmosfer di seputar bola bumi (sebenarnya) yang tampak demikian luas akan dapat tercemar oleh aliran bahan (materi) yang meninggalkan perut bumi menuju permukaan berlangsung tanpa henti, meski jumlahnya terus bertambah menelusuri perjalanan waktu. Lalu apa yang akan mengadili kedua sudut pandang yang bertolak belakang dari dua orang pengamat yang duduk di kursi stadion yang sama? Hal ini terpulang kepada “penguasaan ilmu pengetahuan” dan penalaran “akal sehat” yang dimiliki masing-masing semata.

Selain dari itu, manakala lapisan udara atmosfer bumi diibaratkan sebuah garasi mobil tertutup rapat yang berisi mobil dengan mesin dihidupkan. Secara perlahan tapi pasti, udara yang terdapat dalam garasi akan tercemar limbah-gas buang hasil pembakaran bahan-bakar yang akan menyebabkan orang-orang duduk di dalam mobil dengan kaca terbuka merasakan sesak nafas. Terhadap mereka yang duduk di dalam mobil masih ada jalan keluar untuk mendapat perto-longan, yakni apabila ada orang di luar garasi yang cepat mengetahui keadaan, dan mendobrak pintu garasi untuk membukanya denan paksa. Akan tetapi bagi umat yang berdiam di permukaan bumi dengan udara dalam atmosfer bumi yang tercemar, pertolongan demikian samasekali tidak lagi mungkin dilakukan.

b. Pencemaran Badan Air
Beragam industri yang menghasilkan bermacam barang (produk) dan jasa (service), tidak terke-cuali aneka ragam sarana angkutan, kilang, dan lain sebagainya; juga tidak terkecuali rumah tangga dari desa, kota kecil hingga besar, dan banyak lagi lainnya terdapat di muka bumi memer-lukan air bersih dalam kegiatan sehari-hari. Air bersih yang telah menjalani proses: campur, endap, saring, bilas, cuici, radiasi, dan lain sebagainya, lalu berubah menjadi air-tercemar atau air-kotor, karena tidak lagi dapat digunakan. Air bersih juga menjalani bermacam proses dalam tambang: batubara, minyak bumi, biji mineral, dan lainnya; mulai dari aktivitas: penggalian, pengeboran, pengangkutan, pengolahan dalam pabrik dan kilang; baik yang tengah berjalan maupun yang akan muncul kemudian, semuanya memerlukan air-bersih yang kian besar jum-lahnya. Air bersih yang menjalani satu atau lebih proses lalu menjadi air kotor yang dibuang saja. Dengan penduduk bumi yang semakin besar jumlahnya, begittu pula kegiatan ekonomi yang terus berkembang, jumlah air-kotor dihasilkan kegiatan hidup dan ekonomi akan semakin bertambah dalam perjalanan waktu. Karena belum terdapat Instalasi Penjernihan Air (IPA) yang dapat menangani air-kotor terhadap jumlah dihasilkan pada banyak tempat di muka bumi yang membutuhkan, maka air-kotor dihasilkan bermacam proses yang berhubungan dengan kegiatan hidup dan ekonomi manusia di muka bumi lalu dibuang begitu saja dalam badan air: parit, kanal, sungai, danau, laut, hingga dengan samudra dimana-mana di seluruh dunia.

c. Pencemaran Daratan
Bermacam barang hasil industri yang sudah habis masa pakai ekonominya beralih menjadi ba-rang rongsokan, antara lain: mobil, kereta-api, kapal sungai hingga samudra, pesawatterbang, berjenis mesin perang, komputer, laptop, telepon pintar, sampah mulai desa, kota kecil hingga besar, dan tempat lainnya, diterlantarkan begitu saja dimana-mana menyita lahan di muka bumi; disini tidak terkecuali bangun-bangunan dan instalasi beragam tambang, bor bumi, sarana angkutan yang sudah habis masa pakai ekonominya; semuanya diterlantarkan orang saja menyita lahan di muka bumi mulai dari daratan hingga lepas pantai.

Gunung-Api Buatan Manusia
Dari apa yang telah dikemukakan, bensin sebelum tiba di pompa BBM, semula “minyak men-tah” dalam kilang yang diolah menjadi bensin. Dan “minyak mentah” itu sendiri sebelum tiba di kilang, berada ribuan meter di dalam perut bumi. Bensin yang akhirnya berahir menjadi: limbah-gas lalu dihamburkan ke atmosfer seputar bola bumi yang mencemari udara. Begitu pula keadaannya dengan air-bersih yang sudah tercemar dan menjadi air-kotor. Yang akhir ini datang dari beragam proses pembuatan barang (produk) dan jasa (service) dalam bermacam pabrik, industri, kilang, tambang penggalian: batubara, minyak bumi, gas, mineral dan lainnya. Ada pula air kotor datang dari aktivitas membersihkan atau pembilasan: motor, mobil, kereta-api, pesawat-terbang, kapal sungai hingga samudra, dan banyak lainnya. Dan tidak dapat dihindarkan adanya air-kotor datang dari bermacam rumah tangga yang ada di muka bumi, mulai desa, kota kecil hingga besar; semuanya mengeluarkan: limbah-cair yang terkumpul di muka bumi. Akhirnya rongsokan bermacam barang bekas mulai: motor, mobil, kereta-api, pesawatterbang, kapal su-ngai hingga samudra, dan lain sebagainya. Begitu pula rongsokan tambang, mulai: batubara, mi-nyak bumi, biji aneka mineral, tidak terkecuali instalasi penggalian, pengeboran, alat-alat berat dan transportasi, bermacam instalasi pengolahan, dan lain sebagainya yang sudah habis masa pakai ekonominya. Selain dari itu tidak boleh dilupakan juga sampah perkotaan yang menggu-nung muncul dimana-mana di muka bumi yang menimbulkan: limbah-padat.

Dari apa yang telah disampaikan terlihat jelas, bagaimana aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan “bikinan manusia” yang berakhir menjadi: “limbah-gas”, “limbah-cair”, dan “limbah-padat”. Karena limbah-gas tidak lagi dapat dikembalikan kedalam perut bumi setelah “panas” hasil pembakaran bahan-bakar diambil untuk menggerakkan kendaraann, indus-tri dan lain sebagainya; begitu juga pencemar air-bersih tidak lagi dapat dipisahkan dari air kotor untuk dikembalikan ke asalnya dalam perut bumi; selanjutnya rongsokan barang-barang hasil produksi bermacam industri tidak terkecuali sampah perkotaan tidak lagi dapat dipulangkan ke-dalam perut bumi darimana datangny; semuanya mencemari: atmosphere, badan air, dan lahan di permukaan bumi. Manakala dibandingkan dengan gunung-api yang sedang meletus, “limbah gas” bikinan manusia dapat disetarakan dengan asap gunung api yang dihamburkan ke udara; “limbah cair” bikinan manusia dapat disetarakan dengan lahar dingin, atau aliran lumpur gunung-api, atau aliran lumpur Lapindo di Sidoarjo; dan “limbah padat” bikinan manusia dapat disetarakan dengan lahar panas gunung-api yang sudah menjadi: abu, pasir, dan bongkahan batuan. Dengan timbulnya “revolusi industri” di muka bumi, diawali dari Eropa lebih dari dua abad silam, ketiga macam limbah yang sudah dibidaninya ini, dapat dinamakan dengan: “Letusan Gunung-api Buatan Manusia”, disingkat: LGBM, atau The Man Made Volcano, disingkat: TMMV.

Perlu dicatat, gunung-api yang jumlahnya banyak di bumi, apabila meletus akan berhenti setelah berlangsung beberapa lama, dan baru akan meletus lagi bertahun atau puluh tahun kemudian. Akan tetapi, bertolak belakang dengan gunung-api bumi, LGBM meletus setiap hari sepanjang tahun, dan setiap tahun sepanjang abad, terus-menerus meletus, karena tidak mengenal istilah berhenti walaupun untuk sejenak.

Sebuah Pengandaian
Mengingat filsafat dan ilmu pengetahuan telah begitu lama berkembang di kawasan Timur Tengah, disokong luasnya perdagangan begitu pula kontak budaya antara bangsa beragam budaya berdiam disana dalam perjalanan waktu yang sangat panjang ketimbang bagian dunia lain, lalu muncul pertanyaan: mengapa “revolusi industri” tidak diawali justru dari bagian dunia itu? Tampaknya, Timur Tengah sepanjang waktu terlalu penuh dengan hirukpikuk percaturan pengaruh dan kekuasaan yang berkepanjangan, sehingga tidak tersedia ruang waktu untuk mela-hirkan suatu penemuan sederhana yang dapat mengubah peradaban dunia. Di fihak yang lain, Eropa utamanya Inggris ketika itu, masih tergolong “kampung” dan jauh dari kegaduhan model Timur Tengah, dibantu kaum intelektual berpengetahuan tepat guna yang sedang bersemi, menjadikan Eropa saat itu ladang subur untuk tampilnya gagasan baru, sebagaimana yang telah diperlihatkan Thomas Savery (1650-1715), ketika menerima tantangan membuat pompa-air keperluan tambang memanfaatkan vakum ditimbulkan uap bertekanan dalam bejana disiram air dingin, kemudian mempatenkannya. Thomas Newcomen (1664-1729) rekan senegaranya, mem-perkenalkan pula gagasan lain untuk maksud yang sama. Dari karya kedua rekan sebangsanya, James Watt (1736-1819) lalu memperkenalkan “sumber tenaga gerak” pertama di dunia buatan manusia berupa mesin-uap berputar. Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) dari Belgia, memperkenalkan “mesin pembakaran” pertama di dunia bahan-bakar bensin pemantik sumbu sebagai “sumber tenaga gerak” ringan. Nikolaus Otto dari Jerman memperkenalkan mesin pembakaran berpengabut yang berpemantik listrik pertama di dunia bernama: mesin bensin, yang mudah digunakan orang. Pada tahun 1900, Rudolf Diesel, rekan senegaranya dari Jerman memperkenalkan mesin pembakaran berpemantik kempa pertama di dunia bernama: mesin diesel. Dengan demikian, sederetan kartu domino teknologi STG pengubah PPG (TMC) telah diperkenalkan revolusi industri kepada dunia di Eropa lebih dari dua abad silam. Sejak dari saat bersejarah itu manusia berkenalan dengan STG-PPG (MES-TMC) yang samasekali baru, diawali Inggris, dilanjutkan Belgia, lalu disempurnakan Jerman; semuanya memperkenalkan kepada dunia apa yang kemudian dikenal dengan: “engine” (Inggris), “maschine” (Jerman), dan “mesin” (Indone-sia), yang kemudian menyebar ke Amerika Utara, lalun Jepang, akhirnya menyebar ke seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali Tanah-Air.

Setelah lebih dari dua abad berlangsung, umat kemudian sadar, bahwa PPG (TMC) yang di-perkenalkan revolusi industri diawali dari Eropa silam, menjadi “penyebab utama” timbulnya pencemaran lingkungan hidup umat di muka bumi, mulai: atmosfer, badan-air, hingga daratan. Para ahli ilmu pengetahuan dari berbagai penjuru dunia dari Barat hingga dengan Timur, kini mengevaluasi keadaan, dan berusaha dengan bersungguh-sungguh mencari jalan keluar untuk mengatasi dampak negatif yang telah ditimbulkan pencemaran, sebagaimana yang telah diperi-ngatkan “Surat Ar-Rum, ayat 41”.

Menanggulangi Pencemaran Atmosfer
Untuk menghindarkan udara yang mengisi atmosfer bumi tercemar dari limbah-gas dihambur-kan beragam kendaraan dijalankan mesin, bermacam industri digerakkan mesin, dan lain seba-gainya yang membakar bahan-bakar fossil, yakni: BBP, BBC, dan BBG yang meresahkan umat bermukim di perkotaan, bahkan telah dikeluhkan orang sejak dari awal revolusi industri lebih dua abad silam, John Bockris dari Pusat Teknik General Motor, Amerika Serikat, memperke-nalkan penggunaan Bahan Bakar Hidrogen (BBH) tahun 1970, unsur kimia paling banyak terdapat di muka bumi, sebagai bahan-bakar angkutan umum, sehingga gas buang dikeluarkan dihamburkan ke atmosfer bumi hanyalah uap-air. Dengan demikian pencemaran atmosfer yang disebabkan sebagian aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan, yang telah diperkenalkan sejak awal revolusi industri di Eropa silam, akan dengan sendirinya hilang. Sebagai pelopor anti pencemaran atmosfer bumi memanfaatkan BBH, muncul sejumlah negara Nordik, juga berasal dari luar kawasan Timur Tengah. Pemimpin negara Islandia terinspirasi oleh gagasan John Bockris dari Amerika Serikat, dan menjadikan bangsanya yang pertama di muka bumi memproklamirkan “hydrogen-powered economy” (ekonomi berdaya-hidrogen). Untuk memproduksi (BBH) yang diperlukan bangsanya, tetangga Kutub Utara itu mengandalkan listrik yang dihasilkan Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) banyak terdapat dinegeri itu, untuk mengurai “air” menjadi: hidrogen dan oksigen. Bis angkutan umum bertenaga hidrogen pun segera diujicoba di jalan-raya ibukota Reykjavik, disusul mobil listrik bersumber tenaga listrik sel bahan-bakar.

Negara luar kawasan Timur Tengah lain, yang juga sedang berkemas menyambut “hydrogen-powered economy”, ialah Swedia. Berlainan dengan Islandia yang mengandalkan tenaga panas bumi, Swedia memanfaatkan tenaga listrik diperoduksi peladangan panel surya. Bagian Barat negeri telah pula dijadikan tempat mengembangkan wilayah ramah-lingkungan, terutama daerah pelabuhan dan tempat industri kendaraan bermotor SAAB yang akan memanfaatkan BBH untuk bahan-bakar.

Negara Nordik lain yang tidak ingin ketinggalan, ialah Denmark. Walikota Nakskov dari pulau Lolland telah membuat kerjasama dengan pengembang sel bahan-bakar negeri bernama IRD, dan mengembangkan pula proyek dan organisasi: “Baltic Sea Solution”. Yang disebut akhir ini tidak lain masyarakat Denmark sendiri yang akan melahirkan kelompok warga yang akan menjadi komunitas penguji kelajakan penggunaan teknologi sel bahan-bakar yang sedang dikembangkan termasuk menyediakan beragam fasilitas pendukung diperlukan.
Bagaimana dengan Indonesia, sebuah negara Asia Tenggara yang juga terletak di luar kawasan Timur Tengah. Di negeri dengan Sumber Daya Alam (SDA) panas bumi yang melimpah, bahkan yang langsung dari gunung-api masih aktif banyak jumlahnya, begitu pula peladangan panel surya dengan lahan luas yang ada di khatulistiwa, dengan sendirinya tidak boleh ketinggalan dari segelintir negeri Nordik disebutkan. Walau tidak lagi akan menjadi pelopor, namun Indonesia dengan Sumber Daya Manusia (SDM) jumlah besar lagi berpendidikan, kesempatan menjadi “motor” hydrogen-powered ekonomi kawasan Asia Tenggara berdampak global sangat besar, akan tetapi negara besar berlahan luas ini memilih langkah lain. Meski sejak 30 Desember 1949 Indonesia telah menjadi negara merdeka yang diakui dunia (PBB) bernama: Republik Indonesia Serikat (RIS), sejak awal pimpinan negara ini memilih berpetualang dengan “Demokrasi Terpim-pin”, mengindoktrinasi rakyat dengan TUBAPI, menggunting dan mendevaluasi ganda Rupiah yang meluluhlantakkan perkonomian bangsa; kemudian disusul lagi dengan “Demokrasi Panca-sila”, mengindoktrinasi rakyat dengan BP7, dan terjangkit krismon Thailand yang berakibat Rupiah terpelanting tahun 1997 dan mengacaukan perekonomian bangsa berkepanjangan; sebe-lum reformasi tahun 1998 muncul menyelamatkan. Sebagai akibat dari kedua petualangan yang menghabiskan waktu lebih setengah abad, Indonesia tampil tertinggal dari Korea Selatan yang hancur dalam perang semenanjung negeri itu, baru damai pada tanggal 27 July 1953; juga sejumlah negara tetangga, seperti: Malaysia merdeka 1957, Singapura merdeka 1965, Brunai Da-russalam merdeka 1984, dalam beragam bidang kehidupan, kesejahteraan rakyat, tidak terkecuali hak azasi manusia.

Sejarah Pendidikan
Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya, agama Islam masuk ke Nusantara dibawa para mubaligh dan kaum pedagang. Mereka kemudian mendirikan mesjid dan surau untuk tem-pat beribadah sekaligus pusat pengajaran kepercayaan yang baru. Kemudian muncul madrasah, yang kini bernama: Pondok Pesantren, disingkat Ponpes. Adapun matapelajaran diberikan dalam madrasah-madrasah di Asia Tenggara dan Tanah-Air, ialah tentang agama Islam, bermuatan: keimanan, hukum, nilai, dan lainnya sebagainya sebagaimana tercantum dalam kitab suci Al-Quran dan Hadis menggunakan bahasa daerah dengan “aksara Arab”. Lahir kemudian bahasa daerah menggunakan aksara Arab di Asia Tenggara.

Memasuki abad ke-20, kaum kolonialis: Inggris, Perancis, dan Belanda yang mempunyai tanah jajahan di Asia Tenggara, memperkenalkan pula program baru dalam koloni masing-masing. Itulah sebabnya mengapa negara-negara ini lalu memperkenalkan pendidikan Barat untuk men-dukung program yang mereka persiapkan. Di Nusantara, Belanda mendirikan “sekolah gouver-nement” yang berubah menjadi “sekolah melayu”. Sekolah ini dirancang untuk mencetak SDM asal anak negeri yang akan dijadikan: pamong, guru, kerani (pegawai administrasi), dan lain sebagainya. Adapun matapelajaran diberikan di sekolak-sekolah melayu ketika itu, ialah: me-nulis, membaca, berhitung, tidak terkecuali pengetahuan umum. Bahasa pengantar digunakan ialah: “bahasa melayu” dan bahasa daerah, namun aksara yang digunakan “tulisan Latin” pilihan Belanda. Lahir dengan demikian bahasa melayu aksara Latin, dan bahasa daerah dengan tulisan yang sama.

Kemudian Belanda mengembangkan lebih jauh pendidikan Barat yang diperkenalkannya sampai jenjang pendidikan tinggi dan Universitas sebagaimana berkembang di benua Eropa, sebaliknya pendidikan madrasah berlangsung sebagaimana yang berjalan di Timur Tengah. Meski pendidi-kan Barat yang diperkenalkan Belanda di Tanah-Air silam telah menjadi: Sekolah Rakyat (SR), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Universitas memasuki alam kemerdekaan, dalam mengembangkan pendidikan nasional di Tanah-Air; demikian juga pedidikan Ponpes madrasah dengan menambahkan matapelajaran tentang: ideologi negara, ma-nagemen, keterampilan, teknologi, dan lainnya kedalam kurikulum; akan tetapi kedua sistim pendidikan lahir dari perjalanan sejarah yang berbeda itu masih memperlihatkan padangan hidup para wisudawan yang belum seiring. Dualisme masih tampak dan terasa dalam pemahaman ma-syarakat, dengan menyeruaknya dalam kehidupan umat pemahaman “ahli zikir” dengan “kaum intelektual” yang tetap berseberangan.

Dinamika Sumber Tenaga Gerak
Alam semesta adalah sebuah sistim mekanik yang terbesar. Itulah sebabnya mengapa makhluk yang berdiam di permukaan benda langit, tidak terkecuali bumi, menjadi bagian dari sistim mekanik benda langit itu. Setiap benda, baik yang hidup maupun mati, memerlukan tenaga untuk bergerak. Manusia, hewan, dan tumbuhan juga memanfaatkan “panas” hasil pembakaran “karbo-hidrat” dihasilkan dalam tubuh dengan “oksigen” didatangkan dari atmosfer, dikerjakan serang-kaian otot untuk begerak. Terdapat beragam STG (SoME) yang telah berhasil dikembangkan manusia berdiam di muka bumi, masing-masing:
A. Panas Reaksi Kimia
Apa yang diperkenalkan revolusi industri di Eropa silam, ialah STG (SoME) mengubah “panas” (heat) hasil pembakaran bahan-bakar fossil menjadi “gerak”, dikenal dengan singkatan: PPG (TMC), pertama kali digunakan manusia di muka bumi diperkenalkan oleh James Watt (1736-1819) dari Inggris, berwujud “kemasan xy”, diman: x = periuk/bejana tempat bertanak air untuk menghasilkan uap-bertekanan atau uap yang mempunyai “tenaga potensial”, memanfaatkan panas hasil pembakaran bahan-bakar padat, dan y = pasangan silinder-pengisap berikut lengan dan poros-engkol untuk mengubah tenaga potensial uap menjadi gerakan putar. Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) dari Belgia, selanjutnya memperkenalkan STG “kemasan y” dengan pemantik. Mengapa kemasan y dapat bekerja, karena gas bertekanan yang mendorong pengisap kebawah, dapat dihasilkan dalam sekejap dengan “pemantik” yang membuat campuran uap-bensin dengan udara berada dalam silinder mesin meletus dan membebaskan “panas”. Peman-tikan kemudian disempurnakan oleh Otto mem-perkenalkan “listrik”, melahirkan kemasan y ber- pemantik listrik (electric ignition). Rudolf Diesel juga dari Jerman kemudian memperkenalkan pula STG kemasan y “berpemantik kempa” (compression ignition) memanfaatkan bahan-bakar cair yang di Indonesia dinamakan orang solar (diesel fuel).

B. STG Hasil Reaksi Kimia
Kemasan xy yang diperkenalkan James Watt (1736-1819), lalu berkembang, dengan menukar pasangan silinder pengisap berikut lengan dan poros engkol, dengan sebuah turbin-uap memutar generator. Lahir dengan demikian Pusat listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan-bakar fossil (BBP, BBC, BBG). PLTU kini banyak dimanfaatkan untuk membangkitkan tenaga listrik yang dibutuhkan banyak negara, mulai yang maju hingga dengan yang masih berkembang di muka bumi ini untuk menggairahkan perekonomian beragam bangsa.
Kemasan y diperkenalkan oleh Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) juga ikut berkembang, dengan menukar pasangan silinder pengisap berikut lengan dan poros-engkol dengan sebuah turbin-gas yang juga memutar generator. Lahir Pusat listrik Tenaga Gas (PLTG) dilanjutkan Pusat Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) demi meningkatkan daya-guna. Keduanya membakar bahan-bakar asal gas alam (natural gas) menyediakan tenaga listrik yang diperlukan perekono-mian beragam bangsa di bumi. PLTG dan PLTGU dapat memasok tenaga listrik jauh lebih cepat ketimbang PLTU dalam meningkatkan produksi tenaga listrik suatu negara. Kemasan y dengan turbin-gas, juga ternyata dapat mengembangkan mesin pesawat-terbang yang dikenal dengan istilah: turbo-prop, torbo-jet, dan turbo-fan, penghasil “gaya tarik”, “gaya dorong”, atau keduanya besar dalam satuan metric-ton, yang diperlukan angkutan udara untuk penumpang dan barang lintas benua. Mesin-mesin: turbo-prop, torbo-jet, dan turbo-fan dalam waktu singkat lalu menjelma menjadi tulang punggung transportasi udara dalam negeri dan internasional beragam Negara di muka bumi.

C. STG Elemen Kimia
Selain “panas” yang diubah menjadi gerak, dilakukan Pengubah Panas Gerak (PPG) atau Thermo Mechanic Conversion (TMC), yang diperkenalkan revolusi industri berangkat dari ilmu alam (fisika), “listrik” juga dapat diubah menjadi gerak berangkat dari disiplin ilmu yang sama, dikenal dengan Pengubah Listrik Gerak (PLG) atau Electro Mechanical Conversion (EMC). Dengan demikian dengan sebuah elemen kimia juga boleh dikembangkan kemasan xy PLG (EMC), dimana: x = elemen kimia yang menghasilkan tenaga listrik, dan y = mesin listrik yang mengubah listrik menjadi gerakan putar.

D. STG Sel Bahan-Bakar
STG elemen kimia yang sedang mengemuka, ialah gagasan John Bockris muncul di Pusat Teknik General Motor Amerika Serikat pada tahun 1970 silam. Dari kemasan xy PLG (EMC), disini: x = Sel Bahan-Bakar (SBB) yang menghasilkan tenaga listrik mengalirkan BBH kedalamnya dan tidak melaksanakan pembakaran samasekali, dan y = mesin listrik yang mengubah listrik menjadi tenaga gerakan putar.

E. Panas Reaksi Nuklir
Albert Einstein dari Amerika Serikat, pada tanggal 26 September 1905, mengumumkan kepada dunia apa yang disebut dengan “theori relativitas” bersama formula: E = mc² yang amat tersohor. Apa sesungguhnya yang ia ingin sampaikan kepada semua orang di muka bumi ketika itu, ialah: “benda” (materi) dan “tenaga” (energy) dapat dipertukarkan, sehingga “tenaga” dapat dihasilkan dengan menghilangkan benda dari Alam Semesta, dan begitu pula sebaliknya. Dengan theori relativitasnya, Einstein juga ingin menyampaikan kepada umat di dunia, bahwa terdapat tenaga (energy) yang begitu melimpah di Alam Semesta, wabilkhusus di muka bumi, sehingga orang tidak perlu cemas kekurangan. Yang menjadi persoalan pada ketika itu ialah bagaimana menge-tahuinya? Dan untuk yang akhir ini, harus dibuktikan dengan percobaan. Maka pada tanggal 16 Agustus 1945, sebuah “bom-atom” pertama dicoba “Proyek Manhattan” bekerjasama dengan Angkatan Darat Amerika Serikat di White Sands Pro-ving Ground, Jonada del Muerto, 56 km Tenggara Socorro, Padang Pasir New Mexico, dan berhasil.
Lalu pada tahun 1952, sebuah “bom-hidrogen” pertama juga dicoba di Bikini Atoll dalam gugusan Kepulauan Marshall yang terdiri dari 23 pulau kawasan Pacifik; juga berhasil. Kedua bom ini menghasilkan “panas” bukan dari “reaksi kimia” (chemical reaction) hasil pembakaran bahan-bakar fossil sebagaimana yang sudah dikenal orang sejak awal revolusi industri di Eropa silam, akan tetapi dari apa yang kemudian dinamakan: “reaksi nuklir” (nuclear reaction), juga disebut: “reaksi inti”.

Kini orang sudah mengetahui dua sumber panas (heat), dari reaksi inti, masing-masing: “reaksi belah inti” (nuclear fission reaction) juga dinamakan “reaksi nuklir fisi”, karena “inti atom berat” seperti uranium memang dibelah oleh benturan neutron menjadi “atom-atom ringan” menye-babkan “bom-atom” meletus; dan “reaksi gabung inti” (nuclear fusion reaction) juga dinamakan “reaksi nuklir fusi”, karena inti-inti isotop hidrogen ringan memang digabung oleh temperatur re-aksi yang sangat tinggi, mendekati suhu di pusat matahari, menyebabkan “bom-hidrogen” me-letus. Perlu diketahui, bahwa pada reaksi belah inti akan timbul sinar-sinar radioaktif berbahaya: alpha, beta, dan gamma berkepanjangan; sedangkan pada “reaksi gabung inti” tidak timbul sinar-sinar radioaktif samasekali. Sebagai akibat dari terbelah-nya inti atom berat, begitu juga terga-bungannya isotope inti-inti atom ringan; sebagian “massa” atom-atom yang terlibat akan lenyap atau hilang dari Alam Semesta, lalu berubah menjadi “panas” (kalor) sebagaimana yang disam-paikan dalam persamaan Einstein.

Theori relativitas Albert Einstein, membuat semua orang di muka bumi kini mengenal dua macam sumber “panas” (heat), masing-masing: “panas” dari hasil pembakaran atau reaksi kimia, seperti: membakar kertas, kayu, bahan-bakar fossil, sampah, dan lain sebagainya, dan “panas” hasil reaksi nuklir. Adapun yang dimaksud dengan reaksi nuklir, seperti: pembelahan inti atom berat, seperti uranium yang ditembaki neutron dinamakan juga reaksi fisi; atau penggabungan inti-inti isotop atom ringan, seperti: isotop hidrogen dinamakan reaksi fusi. Kedua reaksi nuklir ini menyebabkan sebagian “massa atom” terlibat dalam sekejap lenyap atau hilang dari Alam Semesta, lalu tiba-tiba digantikan “panas” menurut persamaan Einstein.

Panas yang dibebaskan reaksi nuklir belah atau fisi, pasca Perang Dunia Ke-II, menimbulkan Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fisi (PLTN-Fi). Dari kemasan xy, panas belah nuklir-gerak (thermo nuclear fission-mekanik), disini: x = Reaktor Air Tekan (RAT) atau Pressure Water Reactor (PWR), bertindak sebagai periuk untuk menanak air yang menghasilkan uap-bertekanan asal re-aksi fisi, dan y = pasangan turbin generator yang menghasilkan tenaga listrik; disusul Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fusi (PLTN-Fu) kemasan xy panas gabung nuklir-gerak (thermo nuclear fusion-mekanik), disini: x = sebuah bejana yang dinamakan TOKAMAK bertindak sebagai periuk tempat bertanak air yang menghasilkan uap-bertekanan dari reaksi fusi, dan y = pasangan turbin generator yang menghasilkan tenaga listrik, kini sedang dikerjakan sejumlah negara maju di Cadarache, Perancis Selatan.

Kepadatan tenaga panas yang dibebaskan sebuah “reaksi nuklir” jauh lebih besar dari kepadatan tenaga panas sebuah “reaksi kimia”. Kepadatan tenaga sesuatu ragam bahan bakar per satuan massa dinamakan “tenaga jenis” bahan bakar yang dibicarakan. Sebagai contoh: uranium (pem-biak) memiliki tenaga jenis setara 1,539,842,000 MJ/L, akan tetapi bensin (gasoline) hanya me-nyimpan tenaga jenis hanya 32.4 MJ/L. Itulah pula alasannya mengapa reaksi nuklir, baik peme-cahan maupun penggabungan, jauh sangat perkasa ketimbang reaksi kimia yang telah dikenal selama ini, dan hal ini pun sudah ditunjukkan oleh bom atom dan bom hidrogen yang amat menakutkan umat darii seluruh dunia.

F. Reaksi Nuklir Gabung Dingin
Dari sejumlah percobaan yang dilangsungkan Stanley Pons dan Martin Fleischmann pada tahun 1989, sekelompok komnitas kecil peneliti mendalami lebih jauh apa yang dinamakan: reaksi gabung dingin (cold fusion reaction), dan kini lebih menyukai menggunakan istilah: Reaksi- reaksi Nuklir Tenaga-Rendah, disingkat RNTR. ( Low-Energy Nuclear Rreactions, disingkat LE-NR) yang dapat menyediakan air panas, bahkan uap bertekanan dalam bejana dapat digunakan menggerakkan turbin untuk memutar generator listrik. Dari kemasan xy, dalam hal ini: x = RNTR yang menghasilkan uap bertekanan, dan y = turbin uap yang menggerakkan generator pembangkit tenaga listrik, layaknya sebuah PLTU.

Umat di muka bumi lalu bermimpi menantikan ditemukan Elemen Reaksi Gabung Dingin disingkat ERGD (Cold Fusion Reaction Element, disingkat CFRE), sebentuk Batere Umur Pan-jang (BUP), yang dapat dibeli orang suatu ketika bersama: sepeda motor, mobil, dan lain seje-nisnya, termasuk BUP yang listriknya akan habis bersamaan dengan lama pakai ekonomis ken-daraan, misalnya: 5 atau 10 tahun, lalu ERGD bersama kendaraan di daur ulang lagi.

G. Tanaga Terbarukan
a. Peladangan Sinar Matahari
Kemasan xy lain, yang berkembang pesat di berbagai negara guna meringankan pencemaran atmosfer bumi yang telah timbul, orang memperkenalkan apa yang kemudian dinamakan dengan istilah “tenaga terbarukan” (renewable energy). Adapun contoh tenaga yang kian digandrungi umat dari beragam belahan bumi, ialah memanen sinar matahari langsung yang diubah menjadi listrik menggunakan pengubah fotovoltaik (photovoltaic converter). Dari kemasan xy, disini: x = sinar matahari, dan y = pengubah fotovoltaik. Lahirlah “peladangan sinar matahari” yang mengu-bah “cahaya matahari” langsung menjadi “listrik” diawali dari Eropa, lalu menyebar ke Amerika Utara, dan Asia; diawali dari daratan hingga lepas pantai, pada kawasan muka bumi dimana terdapat banyak hari dengan matahari yang bersinar terang sepanjang tahun. Sebuah peladangan sinar matahari dapat dimulai dari sejumlah papan (panel) surya hingga ribuan bahkan lebih banyak lagi papan, melahirkan apa yang kemudian dinamakan: Pusat Listrik Tenaga Sinar Matahari (PLTSM).

Suatu keluarga yang melakukan peladangan sinar matahari seputar kediaman, mulai atap sampai halaman rumah, dapat memenuhi kebutuhan listrik sendiri. Tampaknya keluarga demikian masih memerlukan sambungan listrik PLN kebutuhan malam hari apabila matahari terbenam, manakala keluarga tadi belum memiliki instalasi batere yang menyimpan tenaga listrik. Apabila keluarga dibicarakan menghasilkan listrik lebih dari keperluan, sisanya dapat dijual langsung ke PLN, sehingga rekening listrik keluarga untuk pemakaian malam hari dapat menja-di jauh lebih murah.

b. Peladangan Angin
Tenaga terbarukan lain mudah diketahui keberadaannya ialah angin. Dari kemasan xy, disini: x = aliran molekul udara, karena permukaan bumi mendapat pemanasan matahari, dan y = baling-baling udara mengubah gerakan molekul udara (tenaga kinetik) menjadi gerakan putar baling-baling udara yang menggerakkan generator listrik. Aliran udara yang berubah menjadi poros berputar memanfaatkan hukum aerodinamika yang dikenal luas. Dengan demikian muncul pula peladangan “tenaga angin” diawali dari Eropa, lalu menyebar ke Amerika Utara, dan Asia, mulai daratan hingga dengan lepas pantai, dimana terdapat banyak hari angin berhembus sepanjang tahun. Peladangan angin dilakukan dengan membangun menara tinggi, di puncak mana baling-baling udara ber daun: dua, tiga, dan seterusnya diletakkan, dan dapat berputar untuk meng-gerakkan sebuah generator listrik. Suatu perkebunan tenaga angin dapat memuat puluhan, ratusan, bahkan ribuan menara tinggi dengan baling-baling udara diuncaknya menggerakkan generator listrik yang terhimpun dalam kerja paralel; dinamakan: Pusat Listrik Tenaga Angin (PLTAn).

c. Peladangan Panas Matahari
Tenaga terbarukan lain yang juga telah digunakan di Spanyol bernama: Solaben 200 MW, tidak lain dari panas matahari yang tiba di muka bumi. Kini sebuah proyek Desertec tengah digagas membangkitkan daya: 100.000 MW tengah dirancang di: Moroko, Yordania, Tunisia, Mesir, dan Aljazair untuk dikirim ke Eropa yang lapar daya lewat tegangan tinggi juga memanfaatkan panas matahari panas matahari tiba di muka bumi. Apa yang sesungguhnya dikerjakan orang disini tidak lain mewujudkan sebuah PLTU, hanya “panas” yang dimanfaatkan langsung datang dari matahari tiba di muka bumi dalam delapan menit. Dari kemasan xy, disini: x = ialah periuk (boiler) tempat bertanak air menghasilkan uap bertekanan terdapat di tengah-tengah PLTU dan dikelilingi ribuan cermin, dan y = turbin uap bekerja mengubah tenaga potensial uap menjadi gerakan putar turbin-uap yang memutar generator listrik. Setiap saat, sejak matahari terbit di ufuk Timur hingga tenggelam di bagian Barat, ribuan cermin terpasang harus diatur kedudukan-nya satu persatu sebegitu rupa, sehingga panas matahari dipantulkannya selalu tetuju ke periuk (boiler) berada di suatu ketinggian. Sebagai akibatnya, suhu periuk (boiler) menjadi sangat panas menyebabkan air didalamnya langsung mendidih menghasilkan uap bertekanan yang dibutuhkan menggerakkan turbin-uap. Yang akhir ini lalu menjalankan generator listrik. Lahir dengan demi-kian Pusat Listrik Tenaga Panas Matahari (PLTPM).

d. Peladangan Panas Bumi
Panas bumi dekat dari permukaan, sebagaimana yang dijumpai di daerah pegunungan juga seputar gunung berapi masih aktif atau lainnya, juga tergolong tenaga yang terbarukan. Apa yang dilakukan orang disini juga membuat sebuah PLTU, hanya saja “panas” digunakan datang dari dalam perut bumi peroleh langsung atau tidak-langsung. Dari kemasan x-y, disini: x = periuk (boiler) tempat bertanak air menghasilkan uap-bertekanan, dalam hal ini “panas” didatangkan dari dalam perut bumi dengan cara mengebor sampai ke sumber panas. Ada kalanya uap-berteka-nan tidak segera keluar dari dalam perut bumi setelah pengeboran sampai ke sumber panas, maka dalam keadaan demikian air-bersih harus disuntikkan ke sumber panas untuk memperoleh uap bertekanan, dan y = turbin uap untuk mengubah tenaga potensial uap menjadi gerakan putar turbin-uap yang memutar generator listrik. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB).

e. Tenaga Air
Tenaga terbarukan yang telah banyak digunakan orang di beragam belahan bumi sejak dari dahulu kala ialah tenaga air. Tenaga air bersumber dari matahari memanasi permukaan bumi, menyebabkan air yang ada dipermukaan menguap lalu naik ke awan. Yang akhir ini lalu dibawa angin ke segala penjuru, dan setelah dingin kembali menjadi air yang jatuh kembali ke bumi sebagai hujan. Terdapat dua golongan tenaga air yang diperoleh dari hujan, masing-masing: “tenaga potensial” karena air terhimpun ke dalam: kolam, waduk, danau, waduk, sungai, dan lainnya terletak pada suatu ketinggian diatas permukaan laut, dan aliran air deras dari beragam jeram sungai yang menyimpan “tenaga kinetik. Tenaga air golongan pertama tergantung dari hasilkali: Q.l, dimana: Q menyatakan aliran (debit) air dalam m3/det, sedangkan l (m) adalah ketinggian jatuh air; sementara untuk yang kedua, yakni air deras juga tergantung juga dari Q (m3/det), dan kecepatan air mengalir dalam v (m/det). Terhadap golongan pertama, untuk kema-san xy, disini: x = aliran air (Q) dengan tinggi jatuh l (m), sedangkan y = baling-baling atau tur-bin air digunakan mengubah tenaga potensial air menjadi putaran poros turbin-air yang menggerakkan generator listrik menerapkan hidrodinamika. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA).

Tergantung hasil kali Ql diperoleh, PLTA dibedakan kedalam: daya amat besar, daya besar, daya menengah, daya sedang, daya kecil, dan daya sangat kecil. Dan yang akhir ini dikenal de-ngan istilah PLTA-mikro, dan dikenal di Tanah-air dengan istilah: “mikro-hidro”. Untuk golo-ngan kedua, terhadap kemasan xy, disini: x = aliran air (Q) dengan kecepatan aliran air v (m/det), dan y = baling-baling yang digunakan mengubah tenaga kinetik air menjadi putaran turbin-air yang menggerakkan generator listrik memanfaatkan hidrodinamika, dinamakan PLTAir Deras, disingkat (PLTAD).

f. Tenaga Gelombang
Angin yang berhembus berkesinambungan di muka laut atau samudra akan melahirkan gelom-bang air berjalan yang akhirnya menghempas di pantai. Gulungan gelombang air laut bergerak menuju pantai ini tergolong kedalam tenaga terbarukan. Banyak negara khususnya yang sudah maju telah memanfaatkan gelombang air laut guna menghasilkan listrik yang diperlukan mercu suar, juga kelompok masyarakat terpencil berdiam di tepi pantai, dan lainnya. Dari kemasan xy, disini: x = gelombang air laut bergerak, dan y = pengubah tenaga gelombang air menjadi gerak menerapkan aerodinamik, atau hidrodinamika, atau gabungan keduanya. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Gelombang Air Laut (PLTGAL).

g. Tenaga Arus Bawah Laut
Arus-arus air laut hingga samudra terdapat di dasar laut sampai samudra juga termasuk tenaga terbarukan yang dapat diubah menjadi listrik. Sumber tenaga terbarukan ini telah pula dilirik berbagai negara maju guna diubah menjadi listrik demi menurunkan pencemaran atmosfer bumi. Dari kemasan xy, disini: x = arus bawah laut hingga samudra muncul oleeh perbedaan suhu air di permukaan laut dengan suhu air laut pada kedalaman tertentu, dan y = baling-baling air untuk mengubah gerakan molekul air (tenaga kinetik) menjadi gerakan putar baling-baling air yang memutar generator listrik menerapkan hidrodinamika. Dengan demikian, penambangan tenaga arus air-laut dalam berkembang, lalu menyebar ke segala penjuru dunia dimana terdapat sumber-sumber arus bawah laut hingga samudra yang dapat ditambang. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Arus Bawah Laut Dalam (PLTABLD).

h. Tenaga Suhu Air Laut
Perbedaan suhu air laut dan samudra di permukaan dengan suhu air laut hingga samudra yang ada di suatu kedalaman, kini telah dimanfaatkan untuk membangkitkan tenaga listrik. Cara pe-ngubahan diterapkan sebagaimana juga di PLTU, karena perbedaan suhu air laut samasekali ti-dak memerlukan penggunaan bahan-bakar, sehingga juga digolongkan pada tenaga yang terbaru-kan. Dari kemasan xy, disini: x = perbedaan suhu air laut, dan y = turbin-uap yang digunakan mengubah uap bertekanan menjadi gerakan putar turbin menjalankan generator listrik. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Suhu Air Laut (PLTSAL).

i. Tenaga Kilat
Kilat yang sambar-menyambar di angkasa, tidak diragukan lagi listrik bertenaga besar karena tegangannya amat tinggi: “jutaan volt” dan arus mengalir yang juga besar: “ribuan Ampere”, karena yang akhir ini dapat menghanguskan pohon kayu besar jadi arang. Perlu diketahui “kilat” ialah juga “petir”, hanya saja bedanya: yang pertama apa yang dilihat oleh mata, sedangkan yang kedua yang didengar oleh telinga. Dengan tegangan yang demikian tinggi, kilat dapat menyambar kemana-mana di angkasa, baik antara awan dengan awan saat muatan listrik keduanya berlawanana, maupun antara awan dengan bumi ketika muatan listrik keduanya berlawanan. Kilat yang sambar-menyambar antara awan dengan awan berbeda muatan di ang-kasa tidak dapat ditangkap, akan tetapi kilat dari awan yang menyambar bumi dapat ditangkap untuk dimanfaatkan untuk dipanen listriknya. Bermaca percobaan telah dilakukan di sejumlah negara maju, tidak terkecuali Indonesia, memancing kilat meluncurkan roket berekor logam menuju awan yang bermuatan untuk memperoleh listriknya. Listrik kilat dapat digunakan untuk mengurai air menjadi Hidrogen dan oksigen, juga untuk menyediakan air panas, da lain sebagainya. Penelitian dan pengujian terus berlangsung dimana-mana di muka bumi, akan tetapi belum lagi dapat diktahui bila sebuah Pusat Listrik Tenaga Kilat (PLTK) akan diwujudkan.

Kesimpulan
Dari apa yang telah dikemukakan diatas tampak jelas, bahwa: “panas” diperoleh dari reaksi kimia, termasuk juga pengembangan sejak awal revolusi industri lebih dari dua abad silam, telah menjadi penyebab utama pencemaran atmosfer menyelimuti planit biru tempat manusia berdiam, ditimbulkan pembakaran bahan-bakar fossil: BBP, BBM, dan BBG digali dari dalam perut bumi. Pencemaran atmosfer diperparah pula oleh “daya-guna” (efisiensi) PPG (TMC) yang rendah, untuk MPD sekitar 25% sehingga sebagian besar (75%) panas hasil pembakaran bahan-bakar hanya terbuang percuma untuk memanasi udara sekitar. Manakala digunakan bahan-bakar nabati (biofuel) atau biomasa (biomass), pencemaran unsur belerang atau sejenisnya memang akan hilang, akan tetapi efisiensi yang diraih tetap sama saja. Tampaknya, STG menggunakan panas hasil reaksi kimia atau pembakaran bahan-bakar fossil perlu dihilangkan dari muka bumi kedepan, guuna menghindarkan pencemaran atmosfer yang tidak lagi diinginkan timbul di muka bumi.

Dilain fihak, listrik diperoleh dari elemen kimia perlu mendapat perhatian. Pengubah Listrik Gerak (PLG) atau Electro Mechanic Conversion (EMC), mmberi banyak pilihan lagi beragam, dan tidak menimbulkan pencemar yang mengotori atmosfer bumi samasekali. Demikian pula tenaga listrik diperoleh dari sel bahan-bakar memanfaatkan bahan-bakar hidrogen. Untuk mem-peroleh tenaga gerak, sebuah mesin listrik perlu bekerjasama dengan elemen kimia agar gerakan putar diperoleh. Perlu dicatat, mesin listrik mempunyai efisiensi tinggi dalam mengubah listrik menjadi tenaga gerak, sekitar 85%, lebih dari “tiga kali” efisiensi MPD. Dengan demikian tidak diperlukan lagi menggali bahan-bakar fossil menuju perut bumi ribuan meter dalamnya, karena elektrolit mudah didapat dari di permukaan bumi kedalaman kurang dari 100 m.

Dalam menuntun umat hijrah dari STG memanfaatkan bahan-bakar fossil ke STG listrik menggunakan elemen kimia di Asia Tenggara dan bagian dunia lain, dapat diaali dari desa lewat penyuluhan. Kaum remaja mulai dari mesjid hingga dengan kepercayaan lain di bimbingan para penyuluh dari mesjid dan kepercayaan lainnya, menemukan cairan elektrolit dibutuhkan berikut pasangan elektroda yang dibutuhkan. Untuk elektrolit dapat digunakan cairan beragam tanaman yang tumbuh di seputar kampung diperas dari aneka ragam: buah, daun, dan batang; demikian juga yang didapat dari berjenis hewan dan manusia. Para penyuluh menjelaskan kepada para remaja apa yang dimaksud: tegangan listrik dalam volt (V) yang dibangkitkan dua logam berlainan jenis yang dicelupkan kedalam cairan elektrolit, juga menerangkan: arus listrik dalam ampere (A) mengalir melalui bola lampu yang sedang menyala. Tegangan dan arus ini merupa-kan dua besaran listrik yang menentukan daya listrik dalam watt(W) yang dihasilkan oleh se-buah elemen kimia.

Apa yang perlu dikerjakan kaum remaja masjid dan kepercayaan lainnya ini ialah usaha awal untuk mencari cairan elektrolit beserta pasangan logam yang membangkitkan tegangan listrik paling besar. Yang akhir ini menjadi kunci daya dihasilkan yang lebih besar, sedangkan arus mengalir tergantung dari daya lampu diunakan. Untuk yang pertama kaum remaja dapat meng-gabungkan sejumlah elemen kimia kedalam hubungan seri, agar lampu yang terpasang menyala lebih terang. Dengan modal elektrolit dari kampung sendiri, pasangan logam dan bola lampu listrik didapat dari kota, para remaja desa dapat mengganti lampu minyak-tanah, begitu juga lampu minyak-kelapa menghitamkan hidung di pagi hari, dengan lampu listrik elemen kimia yang bersih. Kelak, kaum remaja yang telah terbentuk rasa ingin tahu mereka, dengan tujuan mengurangi pencemaran atmosfer bumi, akan berkembang menjadi para pengembang elemen-elemen kimia maju berdaya besar yang ramah lingkungan untuk menyelamatkan atmosfer bumi dari pencemaran pembakaran bahan bakar fossil.

Panas hasil reaksi nuklir yang diubah menjadi listrik semakin banyak digunakan perekonomian berbagai negara maju guna memenuhi keperluan:: industri, transportasi, pemukiman, dan banyak lagi lainnya, kendati masih dibayangi bahan radioaktif berbahaya yang bocor dari Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fisi (PLTNFi) menuju lingkungan hidup. Di fihak lain usaha mengembangkan Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fusi (PLTNFu) yang tidak menimbulkan bahan radioaktif berbahaya, dibangun bersama oleh sejumlah negara. Banyak penelitian yang perlu dilakukan untuk menghindarkan dampak negatif yang timbul dari PLTNFi di muka bumi kedepan.

Tenaga listrik dibangkitkan “reaksi gabung dingin” (cold fusion reaction) merupakan harapan umat untuk membuat STG keperluan beragam kendaraan bermotor yang tidak mencemari atmos-fer bumi. Belum dapat diketahui berapa banyak penelitian, pengujian, dan evaluasi hasil yang harus dilakukan untuk menemukan pilihan yang dapat menurunkan tingkat pencemaran lingku-ngan hidup yang sudah timbul di muka bumi sejak awal revolusi industri silam, tidak terkecuali menghilangkan akibat buruk yang sudah ada. Kini terbentang dihadapan generasi muda umat A-sia Tenggara, demikian pula bagian dunia lain yang kian besar jumlahnya, tantangan menjadi “khalifah” sebenarnya di muka bumi untuk membentengi planit dari limbah gunung-api buatan manusia yang tidak mengenal berhenti meletus. Harus ditemukan dari SDA muka bumi, berikut keanekaragamannya, mulai: mineral, logam, dan lain sebagainya hingga elektrolit terbaik yang dibutuhkan untuk membuat elemen kimia membangkitkan tenaga listrik diubah menjadi gerak oleh mesin listrik, keperluan aneka ragam industri dan lainnya, tidak terkecuali menggerakkan sarana angkutan: darat, laut, udara, hingga dengan angkasa.

Terhadap tenaga terbarukan, dengan sendirinya dapat dipanen dimana saja di muka bumi dengan bebas, sejauh potensi yang ada dapat diusahakan secara ekonomis, karena sumber tenaga terba-rukan tidak membakar bahan-bakar apapun jenisnya, dan tidak pula mencemari lingkungan hidup di muka bumi bentuk apapun terhadap atmosfer yang mengitari planit biru ini.

Kembali Ke Rumah Ilahi
Setelah lebih dari dua abad berlangsung, revolusi industri lalu menimbulkan perubahan iklim nyata di permukaan bumi, oleh aliran benda (materi) dari dalam perut bumi yang menuju ke permukaan berlangsung tanpa henti menelusuri waktu sampai dengan hari ini; jumlahnya meningkat terus dan ragamnya bertambah. Umat manusia menjadi sadar, bahwa aliran benda (materi) ini tidak hanya membuat pencemaran terhadap lingkungan hidup yang makin parah, juga memberi dampak buruk terhadap ekosistem permukaan bumi, kini juga mengganggu kesehatan umat di berbagai kawasan di permukaan planit ini. Itulah sebabnya, mengapa “langkah nyata” harus diambil untuk mengatasinya dengan menghilangkan pengaruh pencemaran sama-sekali. Keadaan lingkungan hidup yang ingin diraih di muka bumi, ialah sebelum revolusi industri dimulai di Eropa silam, bahkan keadaan yang lebih baik dari itu.

Rumah Ilahi bagi umat Islam, begitu juga dari kepercayaan lain yang ada di muka bumi yang telah dipilihNya, diasuh para rohaniawan dan rohaniawati yang telah mendapat petunjukNya, sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, merupakan garis depan, dimana umat berhu-bungan langsung dengan para wakilNya di muka bumi. Untuk mereka yang beragama Islam, ialah para Imam (Pengurus) Mesjid berikut jajarannya, sedangkan untuk kepercayaan lain para rohaniawan dan rohaniawati kepercayaan bersangkutan. Demikian awalnya gagasan berdirinya mesjid bagi umat Islam diperkenalkan oleh Nabi Muhamad SAW silam, juga dikehendakinya berlangsung sampai akhir zaman. Kini timbul pertanyaan, bagaimana “langkah nyata” itu harus dilakukan?

Dalam Surat ke-13 Ar-Rad (Guruh), Ayat 11, telah disampaikan:

13_11

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dimuka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah767. Sesungguhnya Allah tidak mengubah kea-daan suatu kaum, sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.768 Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekalikali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
767 Selain yang menjaga, ada juga malaikat yang mencatat, dan namanya Hafazhah
768 Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.

Sebuah Intermeso
Suatu malam di Jakarta, televisi Al-Jazeera dari Qatar menyiarkan laporan tentang operasi jan-tung berlangsung di sebuah Rumah Sakit India. Negara yang sebahagian besar warganya bera-gama Hindu lebih dari dua ribu tahun usianya, menimbulkan budaya dan adat-istiadat unik dan sangat menarik di bumi. Itulah sebabnya mengapa banyak wisatawan dari beragam negara berkunjung ke India untuk mengetahui dan menikmatinya; tidak terkecuali para “turis berobat” (medical tourism), untuk menjalani operasi jantung dari beragam bangsa. Menjelang operasi di-langsungkan, pasien dan keluarga disambut dahulu dengan acara keagamaan dipimpin seorang pendeta Hindu berikut para dokter yang melakukan operasi jantung termasuk para stafnya dan satuan perawat akan terlibat. Operasi jantung serius kemudian dilangsungkan memperagakan semua kecanggihan ilmu dan teknik kedokteran mutakhir tampak sederhana. Setelah beberapa lama operasi jantung selesai, pasien pun siuman. Ketika pertanyaan diajukan, bagaimana rumah sakit negeri Mahatma Gandi itu bisa terkenal di muka bumi dengan prestasi lebih dari 5000 operasi jantung per tahun, Dr Devi Shetti pemimpin rumah sakit jantung tersohor itu mengata-kan bahwa, ia terinspirasi oleh kata-kata Ibu Theresa, biarawati Katholik asal Hongaria yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya menolong orang-orang yang tidak mampu di India. Biarawati itu pernah berkata padanya pada suatu ketika, bahwa:”dibalik bibir-bibir yang fasih memanjatkan doa, harus terdapat tangan-tangan cekatan dengan jemari terampil yang menger-jakan”.

Apa Yang Harus Dilakukan?
Revolusi industri di Eropa lebih dari dua abad silam, tidak diragukan lagi bertujuan untuk mengganti sistim kemasyarakatan lama yang tidak lagi sesuai dengan keadaan ketika itu, dengan yang baru dan lebih baik. Sebuah revolusi apapun ragamnya akan tunduk kepada aturan umum yang mengatur, yakni: revoltare dan revolvere. Revoltare ialah bagian dari sebuah revolusi bertugas menumbangkan sistim kemasyarakatan lama yang tidak lagi sesuai dengan keadaan, sementara revolvere ialah sistim kemasyarakatan baru lebih baik dari sebelumnya untuk meng-gantikan. Keberhasilan suatu revolusi dalam perjalanan waktu ditentukan revolvere yang berhasil mengubah keadaan sebelum revoltare dimulai, karena manakala tidak kekacauan (khaos) akan timbul, dan mengorbankan mereka yang terlibat menggerakkannya.

Setelah revolusi industri berlangsung lebih dari dua abad di bumi, lingkungan hidup di planet ini masih dalam keadaan revotare. Ini dapat disaksikan dari pencemaran di muka bumi yang sema-kin memburuk menelusuri waktu, meski telah tampil kesadaran umat akibat dari pencemaran yang ditimbulkan oleh revolusi industri buatan manusia dan upaya manusia untuk memperbai-kinya. Bermacam usaha telah dibuat untuk mengatasinya, meski belum mencukupi mengingat revolusi industri telah berlangsung dalam hitungan abad. Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, yang hendak dicapai ialah keadaan sebelum revolusi industri dimulai silam, bahkan yang lebih baik dari itu, sebagaimana yang dimaksud revolvere yang tidak dapat ditawar.

Untuk memulihkan “kehidupan kaum”, sebagaimana disampaiakn Surat: Ar-Rad (Guruh), Ayat 11, umat perlu menyimak pada perjalanan filsafat Islam yang telah berkembang dari Irak hingga Andalusia, dilanjutkan ke Eropa, yang menyebabkan di bagian dunia ini bersemi pengetahuan tepat guna yang mengantarkan umat mencapai peradaban saat ini. Pengetahuan “tepat guna” bersama “analisa ilmu” dikembangkan, mengantarkan umat membuat STG (MES) menggunakan “bahan-bakar fossil” keperluan bermacam industri termasuk transportasi yang menimbulkan ali-ran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan bumi mencemari lingkungan hidup manusia berabad lamanya hingga hari ini; maka dengan filsafat Islam yang sama namun dari sudut pandang berlawanan, memanfaatkan STG (MES) listrik beragam “elemen kimia” bersama pengembangannya, harus menghentikan aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan yang mencemari lingkungan hidup umat, sekaligus meyiapkan Cadangan Berputar, dinamakan Bank Bahan Baku (BBB).

Apa yang ingin dicapai filsafat Islam sudut pandang baru ialah, agar setiap anak Adam yang hidup di muka bumi sadar dan menerima akal sehat yang terdapat di dalamnya, karena itulah yang sesungguhnya yang termuat dalam Surat Ar-Rad, Ayat 11; karena Allah juga tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri, melakukan segala usaha logis mengatasi pencemaran lingkungan hidup yang telah timbul disebabkan revolusi industri, memanfaatkan beragam disiplin ilmu, melakukan semua peneli-tian, menevaluasi temuan, menarik kesimpulan, menurunkan kaidah moral sampai hukum beri-kut sangsi yang berat, agar tidak terulang lagi, barulah Allah Subhanahu Wataala akan menga-bulkan doa yang dipanjatkan.

Laboratorium Bumi
Unruk menghadirkan lingkungan hidup yang dibutuhkan beragam makhluk yang hidup di muka bumi menelusuri perjalanan waktu, perlu dibangun sebuah laboratorium yang bertugas meman-tau keadaan lingkungan hidup makhluk setiap saat, seoerti: udara, air, darat, dan angkasa yang hasilnya setiap saat diberitakan cara berkala untuk diketahui masyarakat dunia. Dengan sendiri-nya perlu terlebih dahulu diterangkan apa yang dinamakan: “Standard Lingkungan Hidup” (SLH) yang perlu hadir di muka bumi yang menjadi hak manusia berikut makhluk lainnya, yang dilindungi undang-undang terjabar kedalam pelaksanaan hukum menempuh perjalanan kedua, atau kehidupan alam fana di muka bumi, sebagaimana sebelum revolusi industri dimulai di Eropa silam, sehingga setiap makhluk yang hidup di muka bumi ini dapat hidup normal sebagai-mana yang ditakdirkan Allah Subhanahu Wataala menerapkan TMH.

Laboratorium demikian tidak akan segera terbentuk, apalagi harus mencakup seluruh per-mukaan bumi, karena akan tersusun dari serangkaian laboratorium penelitian lingkungan hidup yang kini telah terdapat di bumi, tersebar kedalam banyak negara, dilola bangsa-bangsa yang telah sadar akan dampak pencemaran yang ditimbulkan revolusi industri diawali dari Eropa silam, dan menyebabkan beragam penyakit, antara lain: kanker, anak lahir cacat, timbulnya gangguan gangguan hingga cacat mental, dan masih banyak lainnya; bahkan telah ditemukan anak pikun masih pada usia balita dalam keluarga berdiam di kawasan industri pengolahan mineral (smelter) ditambang dari dalam perut bumi di bekas Negara Komunis silam.

Tidak dapat disangkal, IB sangat membutuhka kepedulian yang manusia diasuhnya mulai lahir ke alam fana di muka bumi sampai ke akhir hayat. Karena hanya dengan kepedulian insan sebagai “balas budi”, IB mampu mengemban tugas mulia yang ditakdirkan baginya mengasuh apapun apapun ragamnya diberikan Allah Subhanahu Wataala hadirr ke alam fana di muka bumi, mulai: tumbuhan, hewan, hingga manusia; menyediakan tempat berdiam dan menyediakan: udara, air, pangan, papan, dan lainnya, yang bebas dari segala macam bahan pencemar apapun ragamnya, setelah IK berhenti menyusukan bayi hampir dua tahun lamanya. Laboratorium bumi dengan demikian bertindak sebagai “jembatan” atau antarmuka antara makhluk dengan IB, sehingga manusia dapat mengetahui kesehatan yang disebut akhir saat mengemban tugas. Itulah sebabnya mengapa laboratorium bumi haris memantau lingkungan hidup manusia dari: kam-pung (desa), kecamatan, kabupaten, propinsi, negara, dunia, hingga dengan angkasa; seluruhnya menjadi bagian dari Informasi Lingkungan Hidup (ILH) yang dengan cara teratur dan cerdas harus dipantau oleh laboratorium bumi, lalu diberitakan ke segala penjuru dunia. Pada tingkat desa atau kampung, Mesjid-mesjid bagi umat Islam, juga Rumah-rumah Suci kepercayaan lain, bersama-sama bahu membahu memberi penyuluhan kepada masyarakat yang hidup di muka bumi untuk lingkungan masing-masing, atau menerima laporan dari masyarakat yang hidup di dari lingkungan masing-masing, sehingga petugas berwenang yang bertugas melakukan pemuta-hiran ILH selalu menerima informasi terakhir.

Dengan tersedianya jaringan ILH, keadaan/kesehatan IB dapat diketahui semua orang dimana-mana, mudah diolah, dimanfaatkan, dan disimpan. Dengan demikian keadaan IB, demikian kesehatannya senantiasa tersedia dalam laporan ILH, mudah dipantau dalam perjalanan waktu, demikian pula dikhabarkan oleh media kemana-mana tidak ubahnya cuaca. Sehubungan dengan yang akhir ini, tidak dapat disangkal lagi perlu dilakukan kerjasama Antarbangsa (Interna-sional) yang diikuti segala bangsa yang ada di muka bumi, karena planit biru ini hanya sebuah. Setiap kerusakan timbul di muka bumi disebabkan perbuatan tangan manusia yang melawan hukum perlu dihentikan, segera diperbaiki dan dipulihkan, karena tidak ada peluang bagi manusia dan makhluk lain pindah ke planit lain, manakala persiapan belum dilakukan. Kini hanya ada satu pilihan bagi manusia yang hidup di muka bumi, yakni membersihkan yang akhir ini dari segala bahan pencemar yang dibuat oleh penghuninya sendiri dengan revolusi industri diawali dari Eropa, lebih dari dua abad silam.

Departemen Limbah
Untuk menyajikan ILH berkesinambungan, perlu didirikan sebuah Departemen Limbah (Depart-ment of Waste) bagi tiap negara di muka bumi ini. Departemen ini terletak di “hulu” upaya menghindarkan pencemaran lingkungan hidup timbul di muka bumi, karena Departemen Lingkungan Hidup (Department of Invironment) yang telah dikembangkan selama ini berada di hilir. Dengan penduduk bumi yang terus meningkat jumlahnya, permasalahan yang dihadapi umat kedepan, adalah: sumber tenaga, pangan, sandang, papan, dan lainnya yang kian besar jumlahnya begitu pula mutunya. Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya pemenuhan kebutuhan, akan mengundang lebih banyak aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan yang akan menimbulkan limbah tidak diinginkan.

Departemen limbah yang dibentuk di setiap negara, pertama akan menangani limbah ditimbulkan aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan timbul sejak awal revolusi industri lebih dari dua abad silam, kini mencemari muka bumi yang belum juga terurai. Perlu dibangun Laboratorium Penelitian “Rekayasa Mundur Limbah”, disingkat RML (Waste Reverse Engineering, disingkat WRE), untuk mengurai habis ikatan kimia yang berlangsung lama hingga tidak lagi mencemari lingkungan hidup. Departeman Limbah juga harus pula merekayasa lim-bah yang mungkin timbul dari beragam usaha atau bisnis dilakukan penduduk bumi yang dapat diurai lagi tanpa menimbulkan limbah. Dengan demikian sebuah “kamus besar” reaksi kimia yang dapat diurai kembali tanpa limbah, dapat membantu para pengusaha menghaslkan barang dan jasa yang tidak lagi meninggalkan limbah dibuang menuju lingkungan.

Kini terdapat yang dinamakan: Pengetahuan Bahan dan Rekayasa bahan (Materials Science and Engineering) yang dapat melahirkan beragam bahan yang baru samasekali dimanfaatkan bermacam industri, dan masih belum lagi diketahui dampak negative yang ditimbulkannya kelak, manakala beralih menjadi limbah. Departemen limbah juga harus mewaspadai teknologi dikem-bangkan oleh umat manusia di muka bumi berjalan seiring TMH (Teknologi Mahluk Hidup) ciptaan Ilahi, agar keduanya tidak akan saling mempengaruhi berdampak tidak diinginkan, karena sama-sama menggunakan unsur kimia yang terdapat dalam tabel Mendeleyev.
Departeman Limbah juga harus dapat meramalkan bermacam limbah yang dapat muncul kelak, menyimak kecenderungan masyarakat mendirikan usaha, koperasi, dan lainnya; sekaligus me-nyiapkan RML diperlukan untuk melenyapkan limbah yang dihasilkan.

Masih banyak tugas yang harus diemban departemen limbah mengawal kehidupan umat di muka bumi, agar tidak terdapat lagi bahan kimia pencemar: biasa, berbahaya, dan sangat berbahaya yang tersebar, atau berkeliaran oleh belum atau tidak diketahuinya tentang sifat bersahabat atau tidak bersahabatnya terhadap TMH karunia Ilahi yang telah ditakdirkan hadir di muka bumi.

——— sekian ———

Penulis:
H.M.Rusli Harahap
Pamulang Residence G1
Jalan Pamulang 2, Pondok Benda.
Kode Pos: 15416. Tangerang Selatan.
Tel. 021-74631125.

 

Posted by: rusliharahap | June 21, 2015

Save Two Mothers Quickly!

Many have heard the moans of two Mothers in pain
No one knows, where from the sounds were coming
The moans get louder as time went by, age changes
Come quick, save two moaning Mothers right now!

Introduction
The semantic religions have thought, that living things: human being, animal, and plant came to earth surface live the mundanely life by the grace of Allah, the Beneficent, the Merciful, first came to Universe took the form of soul (immaterial) traveling a long journey from heaven. Upon arrival in Universe, on earth surface in particular, the soul of human being and other living thing, embarked on a second journey began in the womb, be born to earth surface as: baby, under five year, child, teenage, adolescent, parents, grand father and mother, twilight of life, and end of life. To presents human being and other living thing able be seen on earth surface, can tell something, to communicate with each other, as well as execute various activities, human being as well as other living thing got “matters” (materials) borrowed from the earth surface, to become real thing, as indicator of the material existence, called body.

And for latter said, for human being as well as most of living thing, initially donated by respective parents during copulation, and after fulfilling the breast feeding from biological mother for around two years, then directly be fed by mother earth by way of: drinking, eating, breathing, exercising, etc.; managed by “Natural Live Technology”, shorten: NLT. The process take place right inside the body of a human being as well as other living thing, making use “cold chemical reaction” involving some kind of chemical elements, such as: hydrogen, oxygen, carbon, and so on, which are available in Mendeleyev’s table, now popularly known as periodic table, with two elements mentioned earlier dominate. After journey of the mundane live been accomplished for predetermined span granted by Allah, the Beneficent, the Merciful, to make some “preparation”; human being as well as other living thing will engage again the first journey as soul, after “matters” (materials) borrowed from mother earth been returned, to fulfill the call of Allah, the Beneficent, and the Merciful.

Between each journeys traversed by every soul, the one encounter so many problem to human being as well as other living thing is mundane live on earth surface. One has to acknowledge that there are certain obligations and responsibilities that must be fulfilled by human being in the course of mundane life that fall into 3 (three) categories, in order relation with everything in existence may be established harmoniously. First, relation with Allah, the Most Gracious, and the Most Merciful, called in Arabic: “hablumminAllah”. He is Who to allow human being as well as other living thing came to Universe in general, to earth surface in particular, as place of living blanketed by atmosphere full of air; water inundating all dents on its surface, like: ponds, canals, rivers, lakes, seas, and oceans; and lands for residential as well as business activity of various kind. The latter also where people grow plants for: foods, medicines, buildings, and so on, with light and heat emanated directly from the sun. Second, relation among all human being of all race or ancestor called in Arabic: “hablumminannas”; as well as with other living thing occupying the earth surface. Third, the relation between every living thing occupying the Universe in ganeral, with earth surface in particular known as the blue planet, as a place of living, called in Arabic: “hablumminalkaun”. The latter has an extraordinary properties related to living things which are not yet completely unveiled to human being, having no comparison with any another planet known to mankind so far in the Universe.

For the Universe in general, the earth in particular, a code of conduct must be established from “politeness” at the beginning to “ethics” as well as the relevant “law” with punishment at end, known as: “ The Law of the Universe” particularly “The Law of the Earth”. The execution of the latter must be in correspondence with the severerity of every wrongdoing done by man to Universe in general, to the earth in particular; consistently executed in the passage of time across the ages, and to be monitored closely. Punishment will be given to every perpetrator who cause the environment around the Universe to deteriorate, particularly on and around the blue planet, where human being and other living thing injunction by Allah the Beneficent, and the Merciful, to live and stay for a predetermined life span, to be protected from any wrongdoing or destruction effected by human hands.

Industrial Revolution
Sūrah Al-Baqarah (The Cow), Verse 11, has declared:

2_11

And when it is said onto them: “Make no mischief in the earth”, they say: we are peacemakers only.
And Sūrah Ali-Imran (The Family of Imran), Verse 112 has informed:

3_112

Ignominy shall be their portion where so ever they are found save (where they grasp) a rope from Allah and a rope from men. 13 They have incurred anger from their Lord and wretchedness is laid upon them. That is because they used to disbelieve the revelations of Allah, and slew the Prophets wrongfully. That is because they were rebellious and used to transgress.

13 i.e., when they keep the covenant which the Prophet had made with the Jews of Al-Madinah.
Quote from the Glorious Qur’an, an explanatory translated by Mohammed Marmaduke Pickthall. Islamic Book Trust, Kuala Lumpur, Malaysia 2001.

There are still various Sūrahs came afterwards also to remind man to make no mischief on earth. But with the emergence of “industrial revolution”, first wave came up from 1760 to 1820 and 1840 (end of eighteen century to the beginning of nineteenth century), being followed by second wave appearing from 1840 till 1870, had caused the economic development to progress very quickly in Europe. Then the development got its momentum with spread of railways driven by the steam locomotives in a number of European countries in the continent. In United States of America, steam engine was later use to drive vessels in 1850 sailing on: rivers, lakes, seas, and oceans, to replace the unreliable sail driven vessels. The invention of flying machine by Wright brothers in the United States of America entering the 20th century, causing air transport between continents been born across the sky. Great change has happened on earth surface ever since. Land transport was initially tamed animal drawn carriages all over the world been taken over by engine driven transport; also same sail driven water transport be replaced by engine driven vessel; and the introduction of air transport and interplanetary vehicles crowding the sky around the the blue planet, never to be imagined by people to witness in their life.

And from that historical moment: agriculture, industry, various mines from the depth of earth, and other businesses, had altered the course of doing thing from everything done by human and animal muscular power into everything done by the power of newly invented machine. Also came into existence the various war machines like the one used in World War I and World War II, and other wars came afterward like: the Korean War and the Vietnam War.

Industrial revolution also changed the human living environment along with other living thing on earth surface from all eras of the preceding times.

Industrial revolution had changed also human way of live in the community on earth surface, ranging from: mobility, social, values, economy, cultures, beliefs, religion, and many more in the course of live for the entire world; from undeveloped to the developed countries. The earth population getting closer to each other by land, water, and air, in comparison with time before the emergence of industrial revolution, causing social, cultural, religious, conflict to surface across the world in the following centuries.

The industrial revolution began from England in United Kingdom, and spread across Europe, then spelt over to North America, Japan, finally to the rest of the world, not excluding Indonesia. The industrial revolution was first considered as “blessing” for human being living on earth with the various transport driven by engines enabling people to travel anywhere he/she like, not excluding the need to fulfil the Hajj pilgrimage to Holy Land in Mecca and Medina in the Saudi Arabia by aircraft.

Now, after more than two centuries time had elapsed, people then came to realize to the fact that industrial revolution is really the cause of so many “disasters” to human, animal, and vegetation living environment on earth surface. Entering the 3rd millennium, frequent wind with the speed of aircraft take off already happened in many part of the world; an example of which is the flatten of Tacloban city in the Philippine not very long time ago.

Sūrah Ar-Rum (The Romans), Verse 41, from the holy Koran has revealed:

13_13

Corruption doth appear on land and sea because of (the evil) which man’s hands have done, that He may make them taste a part of that which they have done, in order that they may return.

It seems that the “warning” in Sūrah Ar-Rum, Verse 41, is in force now working to do evil things on earth surface caused by the industrial revolution. And taste a part of which they have done, and injunction human being to return back to the era, before a “great change” had happened on earth surface.

Ever since the first human being came to earth surface around three hundred thousands years ago, and spread into many ages; Allah, the Beneficent, the Merciful, had sent messengers to lead human being. These messengers taught people how to run mundane live on the planet surface, bay way the fulfillment of some obligations and to shoulder responsibilities, so that human being and other living things as party of the great Universe can get along harmoniously.

Three of last messengers came to earth surface as mentioned in the holy Koran are: the Prophet Moses AS who brought the Torah to Jews, followed by the Prophet Jesus AS, son of Mary, brought the Bible to Christians, and the Prophet Muhammad SAW brought Koran to Muslims handed over by Gabriel. Besides holy books containing many Sūrah detailed by various Verses, there were also way of live carried out the messengers left behind, later known as hadis written by famous writer of every religion.

As thing invented by God the Almighty by way NLT from earth matter, human being as well as other living thing encounter various problems with with its variety living mundane live on earth surface right from inside womb, born as baby, under five, child, teenage, adolescence, parents, grand father and mother, twilight of life, and end of live.

After almost two years milked by “birth mother”, the responsibility to care human being and other living things, being transferred to “mother care” or “care mother”. The care mother for human being as well as other living things is the earth or the blue planet itself. The latter acts as the place to live in the Universe, the earth surface in particular by providing the living environment for daily necessities such as: air to breath, water to drink, light and heat emitted by the sun, etc.; before returning to God the Almighty in the end.

This is why, every living thing injunction to live on a planet in this great Universe (Al-Kaun) will have two mothers, each of which: the “Biological Mother” or the “birth mother”, shorten BM, and the “Mother Care” or the “mother care”, shorten MC. The latter is nothing but the planet where one live in the Universe, also called “Planet Mother” or “mother planet”, shorten PM.

Every one the world over knows what is said: “mother country”, other say “father land”; it is that piece of land on the earth surface where one, or his or her father or mother was born, or came from. The combination of all “mother country” or “father land” of all nation living on earth surface was nothing else but the “earth surface” itself. This is the reason why a planet where human being and other living thing stay in the great Universe, been called “Mother Earth”, shorten ME, or scientifically called “Mother Nature”, shorten MN.

That is why any living thing that live in this Universe, on whichever planet he or she or it is injunted by God the Almighty to stay and live, will be born by every BM and cared by collective ME or MN.

Earth_Eastern_Hemisphere

Mother Earth
Source: Google

Mundanely Life
Uncountable problems encountered by human being living the mundanely life on earth surface not excluding its variation spread down into: personal, family, group, ethnic, region, national, and international. There are problem of teens entering puberty live with their behavior require parent attention. There are poverty among earth’s inhabitants require various job to secure its solution. There are illiteracy haunting young people in many places around the globe wanting to get primary education. There are elderly who are physically weak suffered absentminded rising in number the world over. There are problems on belief, religion, intellectual, and so on, need to have attention of the public and government. There are deforestation of national parks in many underdeveloped countries producing oxygen for all living things remain unsolved. There are crime, drugs, hijacking, computer hacking, human rights, intellectual property, etc., problems require everyone attention. Other problem not less important to get solved is the pollution of human living environment on land; in water bodies like pond, raw sewage, canal, river, sea and the ocean; the earth atmosphere, also beyond; ever since the industrial revolution started more than two centuries ago.

Please bare in mind, each of aforesaid problem will have its dynamic, meaning that there are problem just appear, other continuously being on hold, while other absent for a while and suddenly reappear unpredictably. This is why problems encountered by human being in mundanely life cannot all be known, also be broken down one by one. Besides, these problems are also running one after the other to get solution, because if one is unsolved or be solved too late may invite a disaster to human being or other living thing.

The House of Allah
During his life on earth, the prophet Muhammad SAW suggested people to build Mosque. A Mosque is a “bait ul- Allah” or the house of Allah, because the site on which it was built determined by people who had acquired His blessing, and the fund was used to build it come from people who were willingly donate due whose heart has been urged by Him.

Nowadays there are about 1.000.000. Mosques in Nusantara (Indonesia), big and small, being spread from cities big and small up to villages. Even more number of Mosque already been established outside the Nusantara being spread into many countries across the world.

All Houses of God are places on earth surface use to worship Allah, the Most Gracious, and the Most Merciful (HablumminAllah) as conveyed by Sūrah Ali-Imran, Verse 112. It was also the places for the peaceful relation among Muslim from all race or ancestor (Hablumminannas) all over the world to exchange information on Islamic faith, religious teaching, as well as gaining various knowledge and science scattered by Allah, the Most Gracious, and the Most Merciful, across the great Universe, including planet earth.

Now with industrial revolution broke to surface, and spread to every corner of the world not to exclude the Nusantara, various pollution were introduced to living environment of human being and other living thing. Land, water, atmosphere, and space around the blue planet been polluted by wastes for more than two centuries, there are no other way for earth citizen of all faith around the world, except to root out the couse of environmental pollution right from the surface of the blue planet called ME.

The pollution introduced by the industrial revolution emerging from Europe, already restless MC who is entitled to be responsible to all living thing on the blue planet surface. To get rid of the pollution, Sūrah Ali-Imran, Verse 112, has to be supported by Sūrah Ar-Rum (The Romans), Verse 41, saying: “Corruption doth appear on land and sea because of (the evil) which man’s hands have done, that He may make them taste a part of that which they have done, in order that they may return”.

It appears that Sūrah Ali-Imran, Verse 112, valid for period of human live of the pre-industrial revolution, when mankind remain in worldview of “duologue”, i.e.: HablumminAllah and Hablumminannas perse. Now after introduction industrial revolution been born to earth surface, more than two centuries ago, and has shown a clear sign of climate change on earth surface in negative direction or not in favor of every living thing existence, the warning of Sūrah Ar-Rum (The Romans), Verse 41, must also be taken to save both MB and ME.

The joint action of Sūrah Ali-Imran, Verse 112, and Sūrah Ar-Rum (The Romans), Verse 41, lead to the introduction of new worldview, the “trilogy”, i.e.: HablumminAllah, Hablumminannas, and Hablumminalkaun, being demanded by all living thing after the “industrial revolution” had born on earth surface.

The worldview switch from “duologue” to “trilogy” been communicated with every world citizen, now living on earth surface by preacher of each faith on the blue planet. For the Muslim religion been effect by Imam with his subordinate in Mosque as well as Islamic school of education like madrasah etc. throughout the world. For other belief been effect by dignitary of respected Holy House of faith along with respected school of religious education etc. Also mass campaign of open air in large crowd by a variety organization in favor to save “the only earth” must be encouraged to convey this important message.

The message switching from duologue to trilogy must get through to each citizen of the earth wherever he/she lives get rid of pollution that has happened on earth surface, especially the real climate change that has occurred on earth surface, so there will be no one known as “son of Adam” left behind uninformed.

Arrival of Living Thing
After the very high temperature glowing fireball turn cold enaugh on earth orbit, plants predicted came to earth about 430 million years ago. With advent of vegetation capable to deliver a variety of food, animal follow suite came to earth predicted arrive the last 75 million years, followed by monkey imitating human being about the last 10 million years, and finally arrived on earth surface was human being about the last 300.000 years. That was result of the scientific research conducted so far on the coming of various living thing to earth surface as seen from the point of view of evolution developed so far.

It must be acknowledge that Allah, the Beneficent, the Merciful, has made NLT with organic chemistry of cold or body temperature to present a variety living thing on earth surface, such: plants, animal, and human being, making use various chemical elements in periodic table with water as majority constituent of about 70 % body weight.

Having NLT, all living thing on earth surface can have their food as well as other live necessities on embarking the second live, i.e. mundanely live on earth surface from birth to end of live, supported by the earth’s living environment and light with heat coming from the sun. Besides, NLT also foreseen how to get rid of environmental pollution once living things completed their mundanely live, and return the matters borrowed back to ME after live span had elapsed.

Bare in mind, NLT introduced by Allah the Almighty constitute of chemical elements establishing living thing’s body of various form on embarking the second journey of mundanely live on earth surface. First, ME borrows various chemical elements required by any living thing to exist in live, like: plant, animal, and human being. These elements came from the earth crust of shallow depth, a mere less than tens meter. Second, all body that have been left behind by souls after completion their second journey will be send back to where they came from by way of: burial, sunken, or simply left over, will be recycled first by billion of bacteria working as predator, then by other predators then invited depend on size and condition. This way all bodies returned to ME’s lap been disassembled back into various chemical elements on the periodic table, to be borrowed then by next generation living things entitled to embark second journey of mundanely on earth surface. For the body cremated, fire acts as the predator to disassemble back into chemical elements. Third, NLT with organic chemistry is the cold way of establishing various living things body in mundanely live on earth surface, beginning from womb, born as baby, under five, child, teens, adolescent, parents, grand father and mother, twilight of live, and end of live. This is not to exclude the independent of every living thing shown by personality, intelligence, etc.; which are yet still unveiled in to human understanding about their origin, location, etc., in each body up until now.

The Earth Inhabitant
Up until now, the inhabitant on earth surface continous rise with time. When Sūrah Al-Alaq been revealed to the Prophet Muhammad SAW on August 6, 610 AD inside Hira cave by the angel Gabriel, number of human being living on earth surface was estimated to be about 200.000.000 people. And, after 1150 years time has elapsed since then, more than a Milennium, until the emergence of industrial revolution” in the European continent, number of earth population has raised to 720.000.000 people, with an average rate of population increase of: 452.000 people every year. Then, in the year 1850 AD, the inhabitant of the blue planet has reached 1.200.000.000 (one Billion two hundred Million) people. In the year of 1950 AD alone, a hundred years later, the human population on earth surface has reached 2.500.000.000 people, with an average rate of population increase of 13.000.000 people every year. From what has been mentioned above, there has happened a drastic “change” of population average rate of rise on the blue planet, from: 0,452 million people every year to 13 million people every year in the last one hundred year. The deviation of earth population rate of increase from almost “horizontal” to nearly “vertical”, was due to the “industrial revolution”, and undoubtedly introduced by man, making so many ease of live happened on the earth surface, such as: traveling, production of goods and services, mechanization of agriculture, etc.; travelling the “second journey” or the mundanely live on earth surface. In year 2000 AD human population on earth already over 6 Billion people, and in 2011 already reached 7 Billion people. Future forecast gives: in the year 2025 human inhabitant on earth surface will reach: 8 Billion people, and in year 2043: 9 Billion people, and on entering the first century of 3rd Millennium will be over 10 Billion people. The following graph indicates how human population rises on earth surface as prepared by Google.

penduduk

Source: Google

Short History of Philosophy
1. Islamic Philosophy in Middle East
Religion brought by the Prophet Muhammad SAW lead Muslim to establish an Islamic Caliphate on Arabian peninsula in the seventh century AD, later expand to surrounding region. As the consequence, meeting with other cultures already in existence unhindered. “Ilmu kalam” or science of logical thinking enter Muslim community with an aim to transfer the teaching of the new religion the practical way, lead to the birth of Islamic theology. Then came: fiqih (law), tasawwuf (mystic), Islamic philosophy, etc. Philosophy introduced to Muslim: debate, dialectic, argument, and others, to get rid differences in various views. The Islamic philosophy also deals with live in general, also mundanely live, universe, values, ethic, society; methodically gathered for use by the Muslim.
Muslims got attracted with Greek philosophy, ever since the early age of Hijrah (the Islamic calendar) with a belief that, Allah is the creator of everything in existence, while science and knowledge brought down and scattered all over the entire universe to lead mankind understand and know more about Him, and everyhing that has been created by Him.

Not long after the first Caliphate of Islamic spread its wing, the Caliphate of Abbasid (750–1258) instructed its people to gather Greek’s manuscripts circulating in the country to raise caliphate image. Some philosopher of the Islamic world became well known in Middle East ever since the historical moment among them: Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al Gazali, Ibnu Bajah, Ibnu Thufail, and Ibnu Rusyd. Right from early nineteenth century Al-Makmun bin Harun Ar-Rasyid (813-833), the seventh ruler of Abbasid, along with his predecessor seriously introduce the Greek’s philosophy and teaching to Muslim societies in the Arab world.

In 762, the Abbasid Caliphate moved the capital from Damascus to Baghdad, and called latter city a marketplace for the world. Then the Turks and Mongols came around and took over the empire by invading its cities and destroying many places, but still let the caliph live and left the empire with time to ruin. The Abbasid dynasty then died along with the caliph.

After the fall of the Abbasid Caliphate in Bagdad, the Caliphate of Córdoba on the peninsula of Iberia and part of North Africa with Córdoba as the capital was established. The Caliphate of Córdoba was part of the state of Caliphate of Umayyad was existed from 929 to 1031. The region formerly dominated by the Emirate of Córdoba from 756 to 929 of the Umayyad Caliphate. The period characterized by expansion of trade and culture exchanges between two sides of the Middle East, i.e: around Greek, Turk, the Arab peninsula, and others, with the peninsula of Iberian, later known: Portugal, Spain, France, and others. The period also saw the construction of masterpieces of al-Andalus architecture, like Alhambra’s Islamic palaces, Cordoba Great Mosque, etc., as known today, was built for the last Muslim emirs in Spain and the court of the Nasrid dynasty; then converted into a royal palace in 1333 by Yusuf I, the Sultan of Granada.

In January 929, Abd-ar-Rachman III proclaimed himself caliph of Córdoba in place of his original title, Emir of Córdoba. He was a member of the Umayyad dynasty, which had held the title of Emir of Córdoba since years 756.
During the reign of Umayyad Caliphate, Medditerranean sea acted waterway as well as the artery of trade and cultural exchange between its two side, because land transport on the northern and southern part of the Medditerranean sea were people walking on foot step and carriages drawn by tamed animal like horse etc. with access very limited. Also same for the trade and cultural exchange between the peninsula of Iberia and the western Eurpean countries, such: France, United Kingdom, Dutch, German, and the rests.

The Atlantic waterway can hinder freezing in winter due to the well known tropical warm stream diverted by the Gulf of Mexico flowing far to the north, causing the Atlantic become freed from the layers of ice for sailing throughout the year.

Latter waterway has contributed to the development of trade and cultural exchange between the Iberian peninsula and Western Europe, while both waterways has transferred science and the medditerranian culture from around the Greek, Turk, Arabian peninsula, even as far as Persia and India, gathered by Arabian thinkers prior to the emergence of renaissance in Western Europe.

The attention of Muslim scholars to philosophy and science continue to escalate under the fifth Umayyad Caliphate, known as Muhammad ibn Abdurrahman (832-886 M). At times scholars of the Islamic world not adhere to Muslim orthodox further. Together with their non-Muslims counterpart they were venturing the Greek, Hindu, and other preIslamic thinking, through relatives and friendship with the Christians living in Western Europe.

Both of them worked hard hand in hand to make the Aristotelian thinking back known again by Christian community, after for so long lost from their memory living in European society. Among the prominent Islamic thinkers been mentioned are: Al-Farabi, Ibnu-Sina, and Al-Kindi.

They had long introduced the Aristotle, Neoplatonic, and others into the Islamic communities in Middle East. Many had considered that they were not belong to the Islamic orthodox, even other considered them no more Islamic philosopher considering the writing had been done. Below descriptions of some prominent Islamic philosopher at the time:

Al-Kindi (801-873) was an Arab of Kinda tribe, a man who founded the Islamic philosophy, was born in Bagdad, Irak. After completing school in his town of birth, he went to Bagdad for further education and various disciplines like: mathematics, physics, mistique, arts as well as others. He introduced philosophy to the Islamic world in Middle East and laid the foundation. Al-Kindi quickly catch the attention of “house of wisdom” as well as circle inside the Abbasid Caliphate entrusting Al-Kindi to supervise the translation of various Greece manuscripts on science and philosophy from the Greek into Arabian language. Al-Kindi was one of Arabian scholar who left behind variety of writing among others: metaphysics, ethic, logic, psychology, medicine, pharmacology, mathematics, astronomy, astrology, and optic. He was also fascinating with topics such: meteorology, earth quacke, etc., which considered down to earth.

Al-Ash’arī (874–936) was a scholar and an Islamic theologian from Middle East named Al-Ashari. He was born in Basra, and the descendant of one of the close friend of the prophet Muhammad SAW. As young man, he started to learn from Al-Jubba’i, a known Mu’tazilah school of theology and philosophy at the time. The Al-Jubba’i was an education based on rational reasoning from human thinking famous at the time. Al-Ashari implemented the Mu’tazilah teaching fully loyal until his age reached forty years.

One day in the month of Ramadan, he dream meeting with the prophet Mohammad SAW. Same dream continuously for three days in sequence requesting him to return to hadis tradition of Muslim. From that time on, Al-Ash’arī left the Mu’tazilah and tuned into its fierce opposition. All the best he knew on philosophy ever since is directed to oppose the teaching he was once very loyal with.

Because of his influence was so great, Muslim in Middle East treated him as a man who founded the widely accepted Al-Ashari teaching of Islam in the region, even Imam Al-Ghazali the well known writer of four books: “Ihya Ulum ’Ad-Din” (Revival of Religion’s Sciences), follow suite.

Ibnu Sina (980-1037) was another Arab scholar qualified in many discipline of science such: philosophy, astronomy, chemistry, geology, psychology, Islamic theology, logic, mathematics, physics, not to exclude writing of poems many Moslem scholar familiar during the time. But what makes his name propelled high around the world was about the healing of various disease, which turn into canon book of medicine of two well known universities in Europe then, i.e.: Montpelier and Levant in France until the year 1650.

Al-Ghazali (1058–1111) was an Islamic theologian from Persia, fond of the Islamic legal system (sharia law), philosophy, etc., and not excluding the mistic. He became the most influential Muslim in the Islamic world after the death of the prophet Muhammad SAW. He was one of Renewal (Mujaddid) of the Islamic belief, and according to the religious tradition in Middle East will come to earth every one hundred years or so. The works of Al-Gazali then well received and highly respected by every Muslim of his time; he was awarded honorific title: Hujjat al-Islam (Proof of Islam). Other accused him opposition to Neoplatonic version of Islamic belief and teaching having not less follower in the region. Al-Ghazali also successfully restored the influence of Islamic orthodoxs in the region who for so long time had carried out the teaching of their Sufi so far.

Al-Farabi (1165-1240) was an Arab mystical Sufi also a philosopher. He was qualified in many science disciplines such: logic, medicine, sociology, and posteriori analysis of Aristotle. Through his works, Al-Farabi became well known among the Muslim community in Middle East as well as the West. Community of scholars of the Middle Ages named him honorific title: “second teacher”, for his adherence to the teaching of Aristotle: “the first teacher”. Al-Farabi worked in Bagdad where he spent most of his live writing and teaching.

Ibnu Rushd (1126-1198) born in Cordoba Spain and and died in Marrakesh Marocco. He was the son of  Andalusian soil, and a Muslim with a variety of discipline covering: Aristotelian philosophy, Islamic philosophy, Islamic theology, the Maliki law along with its jurisprudence, logic, psychology, politics, and classic theory of Andalusian music, medicine, astronomy, geography, mathematics, not excluding the mechanic of celestial bodies. Ibnu Rushd was the man who laid foundation of the “secular philosophy”, now widely accepted in European continent. He was also the true defender of the Aristotelian philosophy, although being on the apposite side with the theology developed by Al-Ashari supported by Imam Al-Ghazali.

From the Andalusian soil, now called Spain, the work of philosophy developed by the Arabian scholars later been translated into Hebrew and Greek, to be carried to European soil for the development modern philosophy on that continent. Among the Arabian philosophers, there was a Jewish named Maimodes also lived and worked in the Spain community of Muslim, also took part in the translation from the Arabian language.

Also belong to the community of Muslim scholar at the time, was Ibnu Khaldun from Andalusia born in Tunisia. He laid the foundation of sociology and histography, became another prominent Arabian scholar, and introduced himself not as philosopher, but rather only a kalam (science) writer.

In European medieval period, from the 5th to the 15th century, the collapse of the Roman Empire, and the cessation of Latin Western Church lead by bishop of Rome, from Eastern Orthodox Churches headed by the patriarch of Constantinople in the year 451 have gone from the public memory, not excluding the literacy to write and read manuscripts written in Greek by European people at large.

With the reintroduction Greek philosophy back into Europe from translation of the Arabian manuscripts into Hebrew and Greek with notes and explanation made by Arabian scholars, a leap in philosophy had happened. This made great influence to rebirth of philosophy in European continent at the time, and its effect went far into renaissance, a period of time between 14th to the 17th century, which was considered a period of time in history bridging Middle Ages with modern history.

2. Islamic Philosophy in South East Asia
After the emergence in the peninsula of Arabia then spread over Middle East, the Islamic religion later expanded to Asia, not excluding the South East Asia carried by the mubaligh (Islamic preacher) and Islamic merchant and trader. They came from places, such: Mecca, other from Gujarat in India, the rest from Persia as well as other places. Then appeared Islamic Kingdom in the South East Asia with the Islamic institutions like: government, education, a religious way of live, poetry writing, artistic, not excluding economic.

At time when Ibn Battuta (1304–1368), Maroccon traveler paid visit to a country named: Samudera Pasai Sultanate in South East Asian region in 1345 and met a solemn King from the Al-Shafi’i mazhab (Islamic law doctrine) was ruling the country.
The Sultanate was established by Meurah Silu in 1267 governed until 1297, located on the north Perlak area Lhok Seumawe now (east coast Aceh), directly adjacent to the Strait Malacca. The King then converted to Islam called in Arabic as Malik ul-Saleh or Sultan as-Saleh. It was then clear, that the school of thought of Imam Al-Shafi’i supported by Imam Al-Ghazali already been spread over South East Asian region on entering the 13 th century.

The Wealth of Nation
a. Free Economic System, or Liberal Economic
During mercantile time in England, anybody was allowed to do various businesses to make a living, beginning producing commodities as well as doing services, or both, to serve the public request. Both sold in various markets everywhere. Then raise competition among commodity and service providers or both by invisible hands, for product and service prices as well as quality for an agreed quantity product or service or both, in a contracted trade delivery time. The earning of entrepreneur depends on the amount of commodity or service or both sold within a year. The government only acts as supervisor and administrator, did not involved with the production of commodity and service, but did provide business place with rules and equal environment on economic, social, cultural, politics, equal for all for the collected tax given.

Entering the renaissance in Europe, back by philosophy and various knowledge processed by the Arabs carried Middle East, the thinking base of European intellectuals has been developed to such as extent and allow them create applied trade in that part of the world.

This could be seen with the emergence of “scientific analysis” with the development of steam engine, was pioneered by Thomas Savery (1650-1715) from England who first introduced water- pump having steam in a vessel cooled by a spray of water. Thomas Newcomen (1664-1729) his fellowman then improved his invention, who replaced vessel with a cylinder with a moving piston inside. James Watt (1736-1819) another fellowman, took the opportunity to introduce the first “mechanical power source” in the world making used the invention his two early countrymen converting the “potential energy” of steam pressure into mechanical energy of rotation in demand of various industry at the time.

The three Englishmen had touched the first “technology domino” in the world, introducing the genuine natural energy, engineered by the intelligence of human mind, then midwifed the birth of “industrial revolution” on this blue planet beginning from Europe more than two centuries ago.

The scientific analysis acquired by several Erope countries at the time, being broaden its scope to cover not only to application source of mechanical energy and a variety industries being born ever since. The analysis was also use cover other areas, such: politics, social, and other; and culminating at the discussion of the “wealth of nation” on earth forwarded by Adam Smith from Scotland.

But in fact, the broadening of scientific analysis in the “mercantile economic system” turn the latter into a “capitalistic economic system” in England, as well as a number other European countries at the time, later known as “capitalism” ammunition by the rapid progress of research on science and technological development ever since the brook out of industrial revolution in European continent.

Adam Smith also continued with his analysis enhancing the world condition and raised question: could industrialization improve the live of all human being as seen from life expectancy, a shorter work live in industry, and free child and elderly from obligation to do work to make a living?

Right from the early time, capitalism quickly spread over the European continent backed by the progress of science researches and their accumulation on that part of the world as well as developed various technology. Automobile quickly replaced wagon pulled by tame animal like horse etc. on roads in various countries beginning from Europe, and spread to North America, then Japan, as well as other part of the world.

Railway driven by steam locomotives burning coal been introduced in a number European country to carry goods as well as passenger, later exported to another country on the other continent including Asia, for unit “cost of transport” of passenger or goods was so cheap.

Water transport driven by steam engine burning coal also follow suit from canal, rive, lake, sea, and ocean, for its reliability compared with sailing vessels driven by wind. Later be replaced with diesel engine for easy handling, because it just burn liquid fuel.

The success of Wright Brothers from United States of America with their experiments, give birth “transportation through the earth atmosphere”, popularly known as “air transport”, to move passenger and goods across islands and continents.

Beside so many industry and the various mean of transport been mentioned as product of human mind intelligence, there still uncountable number of industries including their variety have appeared on earth surface since the outbreak of industrial revolution on earth. Some of them may be elaborated and among them: cement plants, metal working plant and industries, coal mines, mines of various metal, oil drilling with respective refinery from built on land to offshore, plastic industry, building industry, chemical industry, paper industry, food packaging industry, and still many more.

In the course of time, capitalism developed into “imperialism”, because in due time the system gained more land area on earth surface converted into occupied territory, or colony. Colonialism later impacted the world with the acquisition of fertile lands in: Latin America, Caribia, Africa, Asia including South East Asia, Australia, and Oceania, for conversion into various plantation of variety culture of high economic advantage, such as: rubber for tire, palm tree for cooking oil, tobacco for cigarette, sugar cane for sugar, and many others. The mining of coal, petroleum, and other natural resources from colonies around the world are for the purpose to supply industries developed in Europe, North America, and Japan, which are hunger of raw material and thirsty of fuel and lubricating oil deep into the last 20th century.

From the beginning of industrial revolution, capitalism had established various industries from light to heavy industry in a number of countries in that par of the world. As a consequence, the flow of matter (thing) from the belly of earth to its surface, such: fuel (coal, petroleum, and gas) including the various mineral (mineral for making iron and steel), copper, aluminiun, pure metal, etc.); and still many others.

These minerals are needed by countries producing various commodity, and infrastructures, the means of transportation: on land, on water, and in the air; civilian and military providers of equipments, many more required by societies as well as government from local inquiry up to global demand.

So do industries supplying canned foods and drinks, textile, agricultural machinery, animal husbandry, fishery, and many others. The migration of matter (thing) from the belly of earth to its surface commence as early as the industrial revolution brook out more than two centuries ago, continues until today, further will be named as “the flow of matter”.

After mastering the production of commodity and services for a given price, quality, and quantity in a contractual trade time of delivery; the problem faced by capitalism on earth surface nowadays, are. First waste gases from combustion of fuel (solid, liquid, gases) continuously expelled to blue planet’s atmosphere by the means of transportation: on land, on water, and through the air. Second polluted-water drained to water-body’s environment (sewage, pond, river, lake, sea and ocean) by various industry and other economic activities, not excluding household in villages, towns, and cities, small and big, around the world, polluting drinking water as well as foodstuff raising various health disorder to community members varies from physical to psychic (mental).

Third, solid-waste from the various mean of transport (on land, on water, in the air) built by various industries having useful economic live has ended. Also same for the various other industry, mining, installation of drilling rig from land to offshore, etc.; scraps of computers and electronic equipment, scraps of digital technology and gadgets, etc.; also household articles no longer in use then left behind. These scraps occupy an ever increase space on earth surface.

Right from early of industrial revolution, the three category of wastes coming from the flow of matter (thing) leaving the earth belly migrating to its surface that never end, still continuously flowing until today.
Now the flow of matter (thing) leaving the earth belly migrating to its surface increasing its quantity measured in “million metric ton”, in correspondence with the world population increase, and their activity as well as creativity, much like a snow ball rolling down the Alpen mount slope in Europe during winter.

Bare in mind, capitalism now dominates the world economy as well as in control. Capitalists are competing acquiring mineral resources of value extracted from the earth belly (matter), either available in their homeland or coming from outside the country, causing the blue planet’s ecosystem is not easy to maintain the natural gift as well as protect its sustainability.

Of course, capitalism has so many experience producing various industrial commodities as well as services back by quality of human resources developed since the outbreak of industrial revolution as well as the global financing. As a consequence, the environment of human being and other living thing on earth surface, especially in the third world where supervision to over exploitation of mineral resources and fauna flora along with the biodiversity riches of nature; to fulfill current hunger and thirst of world market on commodities and services.
Now capitalism has to look for ways, in order “the flow of matter” (thing) from earth belly migrating to its surface no longer end up in the form of: 1. waste-gases polluting air in the atmosphere, 2. polluted-water coming from the use of precious fresh-water, 3. scraps of various industrial and non-industrial producs littered everywhere on earth surface.

There should be a way out, in order “the flow of matter” (thing) from the depth of earth to the surface no longer turn into polluter: common, dangerous, and extremely dangerous to any living thing. Getting rid of pollutant got into human body with daily routines such: drinking, eating, breathing, and daily activities, undesirable physical disorder as well as psychical impact can be avoid. The physical disorder involved the abnormal function of inner organ and limbs. The psychical impacts involve among other a strange in behavior, unable to think, as well as loss of memory with ease, and so on.

For point 1, billion of means of transports beginning from: vehicles on land surface, various ships over waters, and many kind aircraft trough the air; all spewed million metric tons each year exhaust gases into the atmosphere of blue planet causing air being polluted. Also uncountable number industries of various kind been established since the outbreak of industrial revolution more than to centuries ago.

An intelligent idea got thumb up, for problem facing capitalism, what is now being seriously tested in some country is the implementation of hydrogen as fuel. It is also about about the “migration” from “fossil-fuel economy” into “hydrogen-fuel economy” to clear air in earth atmosphere from waste-gases burning fossil fuels, because the burning of hydrogen in the engine cylinder as well as fuel cells only water vapor.

The idea raised by John Bockris fron the Technical Division of General Motors in a seminar in last 1970. Than on October 10, 1997, Richard Daley, the mayor of Chicago with his colleges ride in a bus run by hydrigen fuel, the chemical element of periodic table abundant on earth surface, extracted from natural gas by chemical process. A fuel cell will convert hydrogen into “electrical energy” and “water” with oxygen coming from the air without combustion, then introduced by the Ballard Power Systems (BPS) from Vancover. Later it is unveiled that energy conversion by way of fuel cells three times more efficient than ICE burning fossil fuels.

How the efficiency of pair of fuel cells with electric motor better than ICE came about. Imagine an ICE; as soon as ignition of fuel-air mixture took place, a high temperature gas with pressure occurs instantly. From the TDC (top dead center) heat radiated to dissipate in all direction. Only the heat in the course of piston moving down truly converted into motion, while the rest taken out by: radiation, cooling water, and exhaust gases; and constitute the 75% amount of heat wasted by an ICE. That is why the efficiency an ICE lies only around the figure of 25 %.

On the other hand, pair of fuel cells with electric motor without combustion turned the equivalent “heat of combustion” 100% right into electricity by chemical means. When electricity converted into motion, heat liberated inside conductor due to the flow of current making total loss of heat of about 25 % in value. The remaining 75% still in electricity, which is why a pair of fuel cells with electric motor three times more efficient than an ICE.

Electricity created in fuel cells been sent to electric motor causing the BPS bus to run. The latter exhaust gases just unpolluted water vapor turned into water. The mayor seep a glass of water taken from the bus tail pipe and commented: “not bad”. The BPS bus reached speed up to 80 km/hour and traveled a distance up to 400 km in a fully charged hydrogen fuel.

For point 2, fresh-water turned into polluted-water were drained into water-bodies (sewage, pond, river, lake, sea, and ocean) around the globe from households in villages, cities from small to big, various industry from small to large, various type of transport, mining, oil drilling with the refinery, and many others. To get rid of polluted-water, Water Treatment Plant (WTP) has to be introduced retrieve the fresh-water back from the polluted-water.

Only fresh-water been allowed to be drained into water-bodies across the blue planet whatever its form. MN had done it million of years to drop rain out of fresh-water on earth surface. MN has shown how to get fresh-water by separating the various pollutant from polluted-water with “evaporation”, making use “heat” coming from the sun; then accumulated into clouds over the earth surface, and after being distributed by wind, been drained back to earth surface as rain.

Now it is time to educate the world population to develop, built, and use mini-WTP for the household from the villages, medium-WTP for cities and industries along with business of medium scale, as well as large-WTP and giant-WTP for metropolis and industrial complexes across the globe. By this way only fresh-water is allowed been drained to earth environments around the world to heed the teaching of MN that had been done for so long.

Baring in mind more than 70% the weight of human being, and majority of living thing made of water; making the susceptible with the quality of water consumed, especially polluted water, because if a portion of such water got into the body by way of: drinking, eating, activities, an unwanted effect: physical or psychical might happened.
After industrial revolution came to surface, the world experience acid rain in Europe, North America, as well as Asia. The smokes from chimneys of steam power stations burning coals in fact contain sulfur. The sulfur mixture with water making leafs of nearby wood got soaked with the acid rain to dry and die. Other water-body contamination came from oil spill during drilling either from onshore and offshore drilling. Another disaster incurred by oil tanker unwanted collision with coral reefs.

For point 3, scraps of various means of transport (vehicles, ships, airplanes, military machines, and others), also ruins of steel constructions including mines from land to offshore and still many others.
Entering current millennium, also come up mountains electronic equipments (computers, smart phones, tablets, and others) that turn into scraps. To get rid of this mountains of electronic and digital technology which were left behind littered by users everywhere, it is necessary to built “spinning reserve” of various raw material needed by many industries to produce commodity or products from the small size to the gigantic scale.

The “spinning reserve”, shortened SR, is what later came been called: Bank of Raw Material or abbreviated BoRM. As has been found in real live, NLT introduced a “system of predator” to take care of waste, and institute a food chain to get rid of “dead bodies” after been left behind by the soul, in order the human living environment being free from life remains.

In correspondence with example given by NLT aforementioned, upon the various commodities or products introduced by technology established by human being, what ever it was, similar treatment can be applied to industrial products where its economic came to end, to be recycled to get the raw materials back into stock.
That is why capitalism has to establish various Predator Industries (PI) on the blue planet, work as a food chain, to recycle the various industrial commodities or products with their economic live have come to end. All PIs will feed raw materials into BoRM, now coming from urban mining instead of rural mining, such: steel, copper, aluminum, and others, to be stored back into SR.

Every PI will produce one or more the various raw materials required by industries producing the various products in demand by market, beginning from home industry in villages to heavy industry in cities as well as the industrial parks. Having BoRM in strategic location around the world, various industries and other businesses can buy raw material right from the nearby SR from the own or neighbor country for economy. In the future rural mining of various raw materials must be limited to cover only for “short of stock” in BoRM with stringent supervision.

With the provision of raw material coming from BoRM or SR for various industries in the future, the ecosystem on earth surface been protected for world heritage, can no longer able be destroyed by an unaccountable person in the third world done so far. In this way, the blue planet, the only extraordinary celestial body in the Universe be saved for next generation, now known to age 4.6 Billion years.

b. Guided Economic System
Marxism started as reaction to the emergence of industrial revolution in Europe. According to Karl Marx (1818-1883), industrialization will divided societies into a group of the bourgeoisie, a people who own the various means of production from land to factories of very small number, and large number of proletariat who does the various job with the means of productions owned by the bourgeoisie.

Marx saw industrialization as a logical dialectic of the feudal economic executor to get perfect capitalism, and the latter was introduction to communism. In socialism, all means of production of all business belong to the socialistic country, been managed by the communism government under the Marxism and Leninism ideology.
All people must work for the country, giving all effort to one’s ability, and get from the country according to one’s need. It would be wrong for the moral of communism if someone run a business, either producing commodities or services, then employ a fellowman, and pay him/her a good salary in return at the end of the month. This practice was considered to be “exploitation of a man by another man in one’s own country”, which by then was considered immoral.

After the Marx, his followers split into two. One group developed in Germany and refused the France revolution (1789-1799), cost the life of King Louis XVI in Paris, causing terrors were spreading in the country, worsening the live of people everywhere ever since; and try to look for peaseful means to improve the lives of working people in Europe by reformation.

Other group named the K. Kautsky follower, then lead by W. I. Lenin, repeated the France revolution 128 years earlier. Now to topple the Tsar Nikolas II from his throne with a bloody Bolshevik revolution carried out by the Red Bear proletariat in Russian capital, then Petrograd, on the November 7, 1917; with the King and his family being separated in Ekaterinburg in Siberia.

Lenin successfully established a dictator-proletariat government in Russia with the Bolsheviks, having a single communist party controlling the nation without any opposition of whatsoever against the ruling government. Tsar of Russia was then busy developing “capitalistic economy system” responsible for the wealth of every Russian, as being done by other country in Europe at the time. With the success of Bolshevik revolution in Russia, it had be turned into a “socialistic economic system”, later popularly known as “socialism”, the first of its kind in the world to follow the Marx theory.

The country been renamed Sovyet-Union, which means a union of federation of states. The capitalistic economic system of the Tsar Nicolas II responsible for the wealth of his people, been replaced by the socialistic economic system in the country. Latter economic system then also been spread to all corner of the world. And after World War II, must be adopted by all countries later known belong to the satellite of the Sovyet-Union; also not excluding member of a Third World as well as member of Non Block countries willing to taste sweetness of the socialistic economic system for gaining wealth of people in the future.

At time, when the Red Bear country plunged into a heavy political turmoil, Michail Gorbachov as the president of the Sovyet-Union allow “general election”be conducted in the country, the only election ever been done in Russia after the fall of Tsar Nicolas II from throne. The winner in democratic general election in Russian Soviet Federative Socialist Republic (RSFSR) on March 26, 1989, was B. N. Boris Yeltsin; and became the first President of RSFSR, although he had declared himself no longer member of the Sovyet-Union communist party of Red Bear country.

After more than seven decades in power ruling Sovyet-Union, the “socialistic economic system” or popularly called “socialism” proved fail to fulfill the expectation of many Russian. The system cannot elevate the wealth of common people across the vast country. The ideology was already worn out, and to fool sons and daughters of the soil with the indoctrination of communist orthodoxy, instead of urging them be smart and intelligent; prevented the individual freedom to spring up, and against the human rights.

Although country in crisis, the Sovyet-Union remain one of world’s super power, leader of the East Block, then by itself disintegrate from earth and became history. In its place, some countries emerged, one of which was the Russian Soviet Federativ Socialist Republic (RSFSR) led by B. N. Boris Yeltsin, became a democratic country again. Latter accepted back the “capitalistic economic system” responsible for the wealth of Russian people formerly laid down by Tsar Nicolas II, to get the country economic system back in order ever since been tattered.
Although the Sovyet-Union survived 72 years, from 1917 until 1989, then trying hard to prove that “socialism” leading to “communism” will persists on earth surface as taught by the orthodox communist ideology, but in reality it failed.

Socialism did not have superiority whatsoever over capitalism in various field involving science and technology, especially their application to improve the well being of Russian citizen. In comparison with the German and Japan, both being bombarded and heavily damaged in second World War, later came up as the second and third world’ s economic power after the United States of America, while almost at the same period Sovyet-Union turned into history.

Superpower of the Eastern Block challenging superpower of the Western Blok was unsteady when dealing with Chernobyl disaster happened on April 26, 1986. Assistance getting rid of nuclear fallout came mostly from the capitalistic countries instead of satellites countries of common ideology. Expertise on nuclear technology to overcome radioactive radiation also arrived from the non-socialist nation. Baring in mind, at time of disaster “cold war” between West-Block and Eastern-Block was not over yet.

Socialism did not have any solutions to: waste-gases expelled to atmosphere around the world, polluted-water drained to earth’s water bodies across the globe, as well as scraps of metals from produtct or commodity. The latter littered elsewhere on the earth surface: from households to various industries, including mines in the rurals, etc.; the capitalism was facing ever since the outbreak of the industrial revolution in Europe.
After the fall of Sovyet-Union, people at large then had the opportunity to know news over mismanagement of environment and ecosystem damage in countries with socialistic economy system, ever since known to be: the iron curtain.

Same mismanagement were also unveiled in the Red Bear satellites countries, due to long time isolation from the open world for ideological reason. The socialistic economic system was the lack effort to develop environment concern and issues. Some of the non-block countries were trying to accept the socialistic economic system for their countries, due trauma of the colonial times, and fell into burocrate handling of things including environment causing unavoidable loss of the precious natural resources. Then non-block countries discard the inefficient socialistic economic system, and returned “capitalistic economic system” of widely accepted, but managed by a democratic government.

c. Romantic Economic System
Industrial revolution was emerged in Europe, spread to North America, then Japan, and the rest of the world, received fierce resistance from its opposition in the country of origin, by some circles among them: writer, community of intellectual, poet, artist, artisan, and others. The group of people apposing the emergence of industrial revolution driven by business people and the entrepreneur in Europe at the time got a name: the romantics.

The romantic voiced their thought and concern over impact of industrial revolution on living environment in their country by writing articles, reading poems, reading poems, and others. Caricatures were been drawn to show their dislike, and demonstrations were carried out along with theatrical expression on main streets, and so on.
The romantics wanted to keep harmonious relation between human being and the environment where people spent their live at the time, and defended their right armored with skill in arts and culture inherited by use of language. What the romantics wanted, was the opposition with giant machines and large building beginning to rise in their surroundings that time. “Dark Satanic Mills” written by William Blake, and the novel “Frankenstein” was written by Marry Shelley, were some of the many writings sending message to the world about their concern on science and technology having two faces; the good and the bad.

The words spoken and demonstration expressed were manifestations of the romantics to show dislike with industrial revolution. The romantics never attempt to establish a country with a government responsible for the wealth of its citizen, such: “capitalism” and the “socialism”. That is why there was no description over “romantic economic system” responsible for the wealth of its people were ever written, except the genuine desire to maintain the ecosystem on earth surface that had been evolved so far.

Pollution on Earth Surface
Pollution of earth surface is not a new issue. It already happen since thousands of years coming from a variety of reason, like the eruption of volcano bursting smokes into earth’s atmosphere, draining hot lava with stones, the flowing cold lava when its rains, and so on.

There are pollutions created by tsunami caused by earth’s continental plate movement causing tsunami to happen. There are great flood caused by heavy rainfall on some part of the earth caused by the global warming. Also regular flood on coastal region when the sun and moon on to the same side of earth.

Natural disaster do cause environment around places where people live on earth surface be physically destroyed and contaminated with various chemical elements, from common to dangerous, and very dangerous to the health of human and living things, not to exclude the radioactive. The risk emerging from such a disaster may involved lost of life, valuable belongings, rice fields, dry fields, and the environment around that cannot be exploited any more used for a long stretch of time.

German and Japan after the World War-II found destructions on environmental caused by the heavy bombardments inflicted by the American ally. On the latter two atom bombs were added been dropped on Hiroshima and Nagasaki killing many lifes. The last two bombs causing not physical damage, but a lengthy radioactive radiation unseen by the eyes that threat the life of human being. Not long ago, already in the third millennium, talks in media about radioactive leak to water environment emerging from Fukushima Daiichi Nuclear Power Station in Japan still reminding people about nuclear pollution to human surrounding.

The threat to atmospheric environment blanketing blue planet was a disaster happened in Bhopal, in the state of Madya Pradesh, India, causing thousands death. At night December 2-3, 1984, “methyl isocyanate” gas found leak to earth atmosphere from a chemical plant not far from nearby slump dwelling. Thousands of dwellers were found the next day, never to wake up in the morning anymore, because they were already dead, poisoned by the inhalation poisonous gas.

In the year 2008 alone, it is reported an amount of 29.000.000.000.000 metric-ton of carbon dioxide (CO2) had been expelled into the atmosphere around the blue planet to pollute the air. The dangerous gas came from various industries producing commodities or products as well as services required by the earth’s inhabitants, not excluding the various transport carrying people on land, on water, and through the air, carrying goods and passengers for the talking year.

Acid rain appeared in European continent caused by steam power plant generating electricity burning solid fuel releasing smokes containing sulfur. Last chemical element when mixed with water from the rain wetting leaves in nearby woods turn them yellow and become dry then fall to the ground.
During the Vietnam war, Uncle Sam country was trying hard to halt infiltration of Vietcong crossing border between North Vietnam and South Vietnam by spreading certain chemical element when mixed with rain water turned into yellow-rain. With the yellow vegetation around the border will die causing the Vietcong got short supply of food during the territorial crossing, but later were found that pregnant women drinking water or eating food from the area contaminated by the yellow rain, then gave birth to babies with abnormal limbs as well as other undesired symptom.

In Sakura country, a Minimata disease was once unveiled. The disease found due to pollution effected by a chemical element in periodic table known: mercury. Rivers were polluted with mercury been drain to sea causing fishes in the waters around being contaminated with mercury in their bodies. Mothers who eat fish caught from the contaminated waters give birth to an unhealthy baby, because element remain in food if cooked, and get transferred into the body when eaten. Mercury is one of such unfriendly element to human being, causing NLT programs alter or mutate, making the abnormal birth of baby and others.

Same element also polluted rivers in some part of Indonesia, where people mine the gold in the upstream region and mercury used to separate precious metal from its dirt. The pollutant coming from mine-waste drained into these rivers causing surface of the rice field to harden, making uneasy to replant the rice field for next harvest.
One of so many example of radioactive pollution, what had caused Alexander Livinenko from Rusia died no long ago. According to the reported news, he had exposed to radioactive Plutonium 210 (Po-210) emanating a continuous alpha radiation hided by an irresponsible person.

One of the research conducted by the University of Chicago, United States of America, had shown the correlation between the level of pesticide in a living environment with autism, as well as intellectual disability (ID) of a new born baby in that surrounding. It seem, that a level of pesticide pollution in a human environment may cause cold organic chemistry of NLT program taking place in the baby’s body get disturbed.

Still many other environmental pollution that can happen on earth surface done by human hands, such the sinking of Exxon Valdez tanker in Prince William Sound, Alaska, on March 24, 1989. The destined for Long Beach, California, United States of America, all of a sudden collide with the Bligh reef on the way, causing 260,000 to 750,000 barrels of crude oil to spill, creating one of the worst environmental disasters ever known by man so far.
Various pollutant from human living environment on earth surface may get into human body, by inhalation at time of breathing with human lungs, when air and waste-gases and minute particles where taken inside. Second by the drinking of liquids and eating foods of various kind containing pollutant of dangerous to health even poisonous. The third by having activities in a dangerous environment for the most of one live.

As already mentioned previously, at beginning industrial revolution considered a blessing to human being, with the various innovations making life on earth surface became easy. Later, after more than two centuries time had elapsed, a “climate change” was unveiled, wind gusting with very high velocity was found, columns of high waves introducing disaster on water as well as over land were found, etc. Muslim from every corner of the world then aware of a “warning” written Sūrah Ar-Rum, Verse 41, written in Al-Quran ul-Karim, about true “meaning” of the the following words:
“Corruption doth appear on land and sea because of (the evil) which man’s hands have done, that He may make them taste a part of that which they have done, in order that they may return”.
It seems that the “warning” in Sūrah Ar-Rum, Verse 41, is in force now working to do evil things on earth surface by industrial revolution created by man. And, a taste a part of what they have done, injunction human being return back to the era, before a “great change” happened on earth surface.

Industrial revolution initiated with the innovation of “steam powered engine” introduced by Thomas Savery (1650-1715) from England, Europe, then challenged to create a water-pump for use in a mine. He invented a pump with a vessel pump, and patented it. Thomas Newcomen (1664-1729), Savery’s fellowman, found a shortcoming in the pump, and replaced the vessel with reciprocating piston in a cylinder also for the same purpose. Later James Watt (1736-1819) also other fellowman capitalized both invention took the opportunity to build a “rotating steam engine”, combining ideas of both fellowmen for industrial use. The steam engine was in demand by the country including the one being use to power the first railway transport between Stockton and Darlington in England proposed by George Stephenson (1781-1848), use to drink water and burn solid fuel called coal.

The steam engine invented by James Watt was a “double-package” type, having scientific name: External Combustion Engine, shorten ECE. The “first package” was allocated to boil water to get steam pressure (potential-energy) in a vessel or commonly called boiler by burning solid fuel outside, while the “second package” comprising: piston, cylinder, and crankshaft, to convert the potential energy of steam inside the boiler into mechanical energy demanded by various industry, like: transport, factory, mining, etc. Coals then mined from below the earth surface from tens to hundreds of meters in depth, while water was gathred from well or river in nearby.

From Belgium another European country, Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) in 1860 introduced a “single package” combustion engine later called Internal Combustion Engine, shorten ICE; with jump spark ignition. The fuel been used was a liquid easily change into gas called benzene, chiefly obtained from coal. Due to high pressure gas to push the piston down may be achieved right inside the cylinder by ignition instantly, ICE did not require a boiler to get high pressure gas in the place of the high pressure steam, then the Watt’s “double-package” engine can be reduced into a “single-package” engine.

Consequently, ICE need smaller space for same power, take little room inside a vehicle, lighter, also cheaper. To get benzene for ICE, instead of extracting from coal, crude oil known as petroleum must being drilled from the earth belly thousands of meters in depth, to be processed in an oil refinery to get benzene. Two years later in Germany, another European country, Nikolaus Otto introduced ICE with carburetor and electric ignition, called: gasoline engine. In 1900, his fellowman Rudolf Diesel also introduced ICE with compression ignition called bearing his name: a diesel engine.

Contrary to Natural Live Technology (NLT) involving “heat converter” with low or body temperature for living things introduced by Allah, the Beneficent, the Merciful; mankind from the early industrial revolution in Europe making use “heat convertor” of inorganic chemistry with very high combustion temperature thousand degrees of Centigrade, then be spread around the world. This high temperature inorganic chemistry gave birth to the “Source of Mechanical Energy”, shorten SoME, converting “heat” of very high temperature fuel combustion into “mechanical energy”, in demand by industries comprising of: one ECE called: “steam engine” and two ICE known to be: “gasoline-engine” and “diesel engine”.

A machine made to convert “heat” into “motion” or mechanical rotation known: “Thermo Mechanical Convertor”, shorten TMC, also called: “combustion engines”, because it burns fossil fuel. Such a machine burn various fuels, like solid (coal), liquid, gaseous, by way an un-organic chemistry, to liberate “heat” of a very high temperature producing high pressure gas. Machines that were introduced by industrial revolution in Europe to consist of: an ECE having a boiler for generating the high pressure steam by burning solid fuel outside the cylinder, and ICE burning liquid fuel or gas fuel right inside the cylinder to generate high temperature and pressure gas, but without the need of boiler and water at all. The “high pressure steam” or the “high pressure gas” become the first element of new invention, while cylinder along with rod and crankshaft become the second element of new invention, to introduce a “machine” or “source of mechanical energy” that has altered human civilization around the world. It was also the time when man be able to convert “heat” (thermal power) measured in calorie/sec., into “mechanical power” comprising: “torque” in m-N with “angular velocity” in rad/sec., to run industry and transportation ever since around the globe.

The two elements of invention can also to surface in various other communities of another countries and on another part of the world, if respected people aware of the knowledge and science that had been spread by Allah, the Beneficent, and the Merciful, across the Universe in general, on earth surface in particular, like physics, mathematics, and the others. Almost all people everywhere across the globe know, that water gain pressure if heated, and combustive gas can explode if ignited, are truly a real a fact. Paying attention to spiritual and religious live perse in the course of life, ignoring the importance of paying attention to mundanely live, it is not possible for a community wherever they live to develop machines based on knowledge and science to elevate the quality of life the human being on earth surface.

Already described in Sūrah Ar-Rad (The Thunder), Verse 11, was saying:

For him are angels raged before him and behind him, who guard him by Allah command.3 Lo! Allah changeth not the condition of a folk until they (first) change that which is in their hearts; and if Allah willeth misfortune for a folk, there is not that can repel it, nor have they a defender beside Him.
3 This is taken by some commentators to refer to “him who goeth freely in the day time” in the previous verse. In that case it would read: “for whom are guards before him and behind him as if to guard against Allah’s commandment”.
[Quote from the Glorious Qur’an, an explanatory translated by Mohammed Marmaduke Pickthall. Islamic Book Trust, Kuala Lumpur, Malaysia 2001]

The Thermo Mechanical Convertor (TMC) introduced by industrial revolution in Europe create the first Source of Mechanical Energy (SoME) of independent nature, and produced motion to various industry around the world; an intelligent invention, beginning from England in United Kingdom, followed by Belgium, and completed by Germany. The invention lets the human civilization acquired a terminology called: “mesin” (Indonesia), “engine” (English), and “maschine” (German) for a SoME, then been spread to all corners of the world.

Although ECE and ICE were so beneficial to industries right from the beginning of industrial revolution, but the majority of “heat” liberated by combustion fuels measured in “calorie” was wasted. Only a faction (minority) of “heat” from combustion of various fuel was converted into motion (mechanic) running the various industries such as: land transport, water transport, and air transport.

That is why engines developed by the industrial revolution were all inefficient because wasting most heat, because most of “calories” liberated from combustion of fuel littered to environment rather than converted to motion. Translated into the fuel consumption, most fuel thrown away littering the environment as compared with the portion converted into motion.

An example, an ECE driven locomotive pulling railway passenger carriages from Jakarta to Surabaya consume about 10% of “heat” liberated by the combustion of coals carried to destination, while the remaining 90% of “heat” thrown away to environment to raise air temperature around. Translated into coal consumption, only 10% coals by weight carried really required to carry the train to its destination, while remaining 90% just thrown away littering the environment along the track.

Other example, a motorbike or car run by ICE, dissipated 75% of the “heat” produced by the combustion of gasoline into the environment just to raise air temperature around, and about 25% of “heat” of fuel combustion really to carry the rider with his/her motorbike or the driver with his/her car to destination. Translated into fuel consumption, only about 25% of gasoline by weight or volume carried by a motorbike or car required to carry motorbike with the rider or car with the driver to destination, while the rest 75% thrown away to the environment littering the road behind.

These are the reason why, a motorbike, or car, or bus, or train, or ocean liner, or aircraft, etc., run by ICE; also not to exclude the various factory and industry run by similar engine, consume liquid fuel wastefully. This is due to fact, only about 25% of “heat” generated by the combustion of fuel such: gasoline, diesel fuel, and others, appear in the cylinders instantly was worth to carry the passenger with vehicle to destination; or do useful work in factory and industry, while the remaining 75 % just thrown away to the environment heating the air around.

The combusted fuel, either a portion of doing useful works or component just thrown away to environment to raise air temperature, coming from a vehicle, either traveling on land, on water, or through the air, later known as a “carbon footprint” of a vehicle run by ECE and ICE. Carbon footprint is that sort of pollution made bay the mean of transport introduced by the industrial revolution to environment around the earth surface, measured in “gram” for every kilometer travelled by a type of vehicle. Therefore a passenger vehicle, whatever brand name, of various number of wheels run by ECE or ICE, that burn: solid fuel, liquid fuel, or gaseous fuel, will pollute the earth environment with “carbon footprint” measured in x gram/km. As an example, passenger car of a certain brand name, pollute the earth surface with 185 gr/km.

The gas expelled by ICE burning various liquid fuel: nitrogen (N2), water vapor (H2O), carbon dioxide (CO2), although they are not poisonous, but the last one contribute to earth global warming. Among gases unwelcome to earth atmosphere: carbon mono-oxide (CO), hydrocarbon (CxHy), and nitrogen-oxide (NOx).
Now, after more than two centuries industrial revolution came into existence, the steam engine, gasoline engine, and the diesel engine, remain inefficient as ever. This is due to fact that many universities around the world encountering difficult engine technology research and remain little progress was gained to save the fuel consumption problem.

The carbon footprint now witnessed by the Chinese people floating in the air over their big cities of the Bamboo Curtain country, such: Beijing, Shanghai, and others and effect breathing of their citizen. Such a threat will also come in Indonesia, if the natives unable to take steps in the planning of country to get rid of problem threatening the nation.

The Man Made Volcano
There are three categories of wastes polluting human living environment on earth surface coming from “matters (materials)” emigrating from the earth’s belly to the surface affected by the human activities. First, gases along with minute particles coming from the combustion fuels for the production of goods (merchandises) and services, like in: steel factory, machine industry, car industry, shipping industry, aeronautical industry, transports, mines, refineries, oil drilling from on land to offshore, small and big economic cooperative of various nature, and many others. All activity involving the use of millions of ECE and ICE expelling gases with minute particles into the blue planet’s atmosphere filled with air. Second, polluted-water been drained by various industries producing goods and services mentioned earlier, including same water drained by small and big cities around the world, drained into water bodies, such as: canals, ponds, rivers, lakes, seas, that ended into oceans. Third, the various industrial goods and mechandise having its economic useful live came to end became scraps, like: cars, vehicles, trains, ships from river to oceans, the various aircraft, a variety military equipments and munitions, computers, all kind smart phones with various electronic gadgets, also refuse coming from town to cities around the world, etc., littered on earth surface. With the earth population around 7.000.000.000 people steadily on rising with time, the quantity of matter (material) emigrating the earth’s belly to the surface in billion tonnes also on the rise with time.

a. Pollution of Earth Atmosphere
A motorbike rider glance a fuel indicator and drove to nearby gas station. From the tank with help of modern technology, liquid fuel been injected into the cylinder. After being mixed with the air then being ignited. An explosion happened in the cylinder, “heat” liberated, and a high pressure gases occurred in second to push the “piston” down. With help of a pair of connecting rod with crankshaft, the linear motion of a piston been converted into a rotary motion of axle. Then, a chain be used to transfer rotary motion of the axle to the rear wheel, causing motorbike to move. There must be many explosions to occur in the engine cylinder to get the motorbike with its rider to destination. By the adjustment of cylinder volume, from the dimensions to its number, and the right type of fuel, power developed by the engine may be modified with ease to suite various type vehicle.

That was how industrial revolution in Europe had innovated the Thermo Mechanical Convertor (TMC) to develop a Source of Mechanical Energy (SoME) then, making use very simple “physics” causing the human civilization on earth surface across the globe drastically been changed for more than two centuries until now. Moreover, the innovation was motivated by water-pump by chance introduced by Thomas Savery, then perfected by Thomas Newcomen with another water-pump, causing James Watt got the opportunity to introduce the first “double package” TMC for SoME known as MPL for use in industry; all of them came from England, the United Kingdom. Then came up J.E. Lenoir from Belgium with the idea of a “single package” TMC also for use SoME called ICE, for use in industry. A well build “single-package” ICE is in fact a “heat generator of a controlled explosion” burning fuel-air mixture right in the engine cylinders for conversion into “mechanical energy” to run industries, like transport, factory, etc. The opposite, is “uncontrollable explosion heat generator” built carelessly also burning same fuel-air mixture if ignited making a bomb to explode, destroying everything around.

A variety of industry later mushroomed on the earth surface, right from that historical moment around the world introducing work opportunities to citizens in every countries, to introduce the mean of transport of various kind: on land, on water, and though the air; for civilian or military purposes, etc. And the culture of traveling from going on foot or ride on animal back, or carriage drawn by tame aniamals like: horse, buffalo, etc., across the world terminated, and been replaced by engine driven transport never ever been imagined by people before.
Many cultures in various region or sub-region of earth surface, so far isolated by long distance opened, and came in contact causing conflicts with the traditional culture, such: social, economic, politics, security, to surface and flare up in various region of the world.

After first explosion, engine the cylinder must to be cleaned prior to the next fuel injection be mixed with air following to next ignition; also same with every explosion come afterwards. The cleaning of engine cylinder causing “combustion gas” been released to earth atmosphere blanketing the blue planet, The combustion gas, also known as “exhaust gases” leaving engine cylinder was first introduced by industrial revolution, and ever since on the rise the quantity since then until today.

Now the exhaust gases emanating from thousands, millions, billions, trillions, and even more number of explosions take place in engine cylinders running so many transports and various industries around the world. Because there is no technology to send these unused gases back into earth’s belly from where it came from, after some part or about 25%, of useful “heat” been extracted for conversion into motion required by motorbike with its rider, or vehicle with passengers; these gases with the rest 75% of “heat” been discharged into the earth atmosphere.

The combustion gas then turn into “waste gases” and expelled not just by various transport: on land, on water, and through the air; but also by countless factory and industry now in operation on earth and running: steam engine, gasoline engine, and diesel engine, being used to produce goods (merchandises) and services, and disposed into the earth atmosphere. The amount of waste-gases expelled by these engines steadily on the rise proportional with engine number and engine size also its operating schedule every day, scattered across continents and islands the world over. In addition to pollution emerging from the fuel burning: solid, liquid, and gaseous; there are also pollution coming from “additives” purposely introduced to engine fuel and its lubricant. Addition of lead (Pb) to gasoline required reduce engine knocking, while additive to lubricants to enhance engine performance, but little attention paid to human health so far.

As already been explained before, waste gases expelled into atmosphere around blue planet, emerging from many industries, like transports, manufacturing, etc. The annual amount of waste- gases already measured in “Trillion metric-ton”, depends on: cylinder volume, number of cylinder, engine revolution, power generated by each engine, number of ECE and ICE been put to operation continuously every day in a year across the globe, producing goods and services across the blue planet.

Bare in mind, the earth surface consists of land and water, has combine area of: 510 million km2. It said three quarter of air by weight in the atmosphere blanketing the blue planet lies at 11.000 m (11 km) above sea level. Mount Everest lies at 8.848 m above the sea level, while the highest point on earth where people can live is at 5.500 m above sea level, and at this altitude human lungs ability to gather oxygen from the surrounding air by volume been curtailed to 50%. Then the mass of most air volume in the atmosphere blanketed blue planet is: 5,610 Billion km3. With the average earth diameter: 12.740 km, the earth volume been estimated to be about 1.082,148051226 Billion km3. And ratio between the Volume of Air (VoA) in the atmosphere and the Volume of Earth (VoE) in percentage gives:

VoA/VoE x 100% = 0.52%

From the given figure, it was found that the earth atmosphere blanketed the blue planet is a thin layer of air, or be called a “film of air”. Because it is so thin, it is so vulnerable to matter (material) migrating from the earth belly to its surface introduced by industrial revolution.

To give a better picture on vulnerability of air blanketing the blue planet, imagine a “big ball” 100 m in diameter been put on the center of a football stadium, to represent earth at a reduced dimension. Then, get a short plastic ruler to touch it at right angle from one end of the ruler. Then, most air mass in the atmosphere blanketing the “big ball” will read at 8.63 cm from the surface. Looking at the earth at reduced dimension from one corner of the stadium, one may get the impression on how small the “air film” really is, and convinced about its vulnerable to matters (materials) leaving the belly migrating to its surface without end, the quantity of which rising consistently with time, knowing no stop. But for whom, looking to the sky right from the same corner of stadium will never be convinced, that matters (materials) leaving earth belly migrating to its earth surface without stop, steadily rising with time introduced by mankind, will ever harm the air in the earth atmosphere due vastness of the sky above.
What will judge these controversial points of views, depends on education background of every viewer along with his/her reasoning ability of one was sitting in the stadium.

If air film around blue planet be supposed to equivalent air inside a garage with all door closed, in which a car with open windows and the engine still running. Slowly but sure, the air in the garage will be polluted by the exhaust gases, causing people inside the car been choked. For those who are sitting in the car there is still a way out, if someone outside the garage knows what had happened in his surrounding, and immediately open garage doors by force. For the human being as well as other living thing living on earth surface similar help cannot be expected.
b. The Pollution of Water Bodies

A variety industry producing goods and services including transport, refinery, etc., households from small town to big cities across the world require clean-water for their basic daily necessity. Clean-water after being involved in a process such: mixing, screening, washing, cleansing, sediment, radiation, etc.; clean-water turn into polluted-water or dirty-water, and cannot be used again, drained into the surrounding water bodies.
Vast amount of clean-water been used also by various mining, such: coal, petroleum, excavation of precious mineral, etc.; right from: digging of ores, drilling of wells, required transport, as well as the refinery and required packaging involve. Demand for clean-water in these businesses steadily on the rise due to demand of energy, various mineral, and metal ores in world market are increasing with time.

A problem arises when the dirty-water or polluted-water from household, various businesses and industry drained into water bodies, such: pond, canal, river, sea, and ocean around the world. With the earth population steadily on the rise with time, and the economic activities continuously spreading around the globe, the volume of polluted-water steadily increase with time many fold.

Water the largest constituent of matter in body of most living thing, like: human being, animal, and plant; therefore polluted-water is dangerous to their health. This is why a Water Purification Plant (WPP) and Water Treatment Plant (WTP) are required to treat dirty-water or polluted-water back into clean-water or fresh-water. Only clean water or drink water is allowed be drained to living environment, such: pond, canal, river, sea, and ocean, anywhere across the world.

Having WPP and WTP for use from household to various business and industry all earth dents creating water bodies across the globe may be avoided from all kind pollution coming from human activities in mundanely live, such as: household, business, and industry making use large amout of clean-water of fresh-water.

c. The Pollution of Land Surface
Various industrial product like machinery, vehicles, trains, airplanes, ships from river to ocean’ etc., when their economic value come to end turn into refuse called waste or refuse. Same for house hold articles such: furniture, kitchen tools, cars, motorbike, bicycle, etc. Various waste or refuse of industrial origin come also from mines, such: coal mines, oil drilling and refinery, gold mines, ores mines, etc., littered the earth surface on various part of the blue planet. Entering the 21th large quantity of electronic and digital equipments and gadgets, become the millennium waste to litter the land surface everywhere across the blue planet.

The Eruption of Man Made Volcano
From what has been mentioned, gasoline before arrived at gas station was “crude oil” being processed in a refinery. The crude oil before be processed in a refinery, was crude oil in earth’s belly thousands of meter in depth. Gasoline ends up became “exhaust gases” expelled by ICE into earth atmosphere to turn waste-gases polluting the air. Also same with clean-water been contaminated to became “dirty-water” or water-waste. The latter came from the manufacturing of a variety of product and services in factories and industries, plants; as well as the extraction of natural resources such: coal, oil, mineral ores, etc. Dirty water also came from the cleaning of: cars, vehicles, locomotives and railway carriages, aircraft, ships; the cleansing of hospitals, etc.; and the like. Water-waste came also from households on earth surface around the world, such: village, small town up to big city; were mostly drain right into earth’s water body so far.

Finally all sort of things, such as: cars, vehicles, locomotives along with its railway carriages, various aircraft, a variety of ships from river to ocean, turn into metal of various metal scraps or “solid-waste”. Also same worn out mines, like: coal, oil and its refinery, various mines of ores, heavy machinery, variety drilling installation, heavy equipment and transportation, processing plant, etc., with their economic value already been to zero. Not to forget the “solid-waste” coming from households of daily lives littered anywhere around the world.

From what been elaborated previously, it was found matter (material) migrating from earth its belly to the surface affected by man since outbreak of the industrial revolution, truly ends up as: “waste-gases”, “waste-water”, and “solid-waste”. All wastes cannot be return back to where they came from: after “heat” being extracted from the burning fuel; after “clean water” been consumed by the various industry and service; after economic benefit of various products and services came to end. All matter (material) migrating from the earth belly now end up on earth surface polluting air in the earth atmosphere, water body around the globe, and all land surfaces.

From what been explained reminded people on the explosion of some kind volcano, a volcano introduced by man. This is due to that fact, “waste-gases” been expelled into the earth’s atmosphere is equivalent with smokes expelled by a volcano eruption. And the “water-waste“ was equipment with the cold lava drained by a volcano eruption into its surrounding area when it rains, much like Lapindo’s mud volcano in Sidoarjo, East Java, Indonesia. While “solid-waste” is equivalent with the materials expelled by volcano eruption, like: ashes, sand, and stone of various form and size.

With emergence of industrial revolution, beginning in Europe more than two centuries ago, then spread around the world, these three type of wastes it had been midwifed ever since, may be said to be originated from the eruption of a Man Made Volcano”, shorten MMV.

Please bare in mind, volcanoes although their number are so many on earth surface, if erupted will come to end after a length of time, and will again repeat eruption in years or tens of years to come in the future. On the contrary with earth volcano, MMV erupts every days along the year, and every year of a century, and explodes continuously ever since the outbreak of industrial revolution, because it knows no stop even for one second.

A Supposition
Considering philosophy and science had been develop for so long in Middle East, back by the vast trading among countries in that region. Also various contacts from the many nations of the area for so long period of time, in comparison with the rest of earth surface, a question may raised to mind then, why “industrial revolution” did not start from that part of the world? One possible reason might be, Middle East had been involved with very complicated political dealing of various turmoil for centuries including religion causing the region to become infertile ground for innovation as simple the one from England, United Kingdom, to alter the face of world civilization then.

On the other hand, Europe, particularly England in United Kingdom, although mostly remain “villages” by then, still in pease far from the turmoil of Middle East type, back by well grounded intellectual applied knowledge and a booming trade. By then the continent was a fertile land for the birth of new invention such as the one introduced by Thomas Savery (1650-1715). He filled a vessel with steam at atmospheric pressure, and suddenly cooled it with spray of water, causing a vacuum to develop inside the vessel causing water to suck into the vessel to fill it. He built the first “water pump” driven by a vacuum in the world, and patented it. Thomas Newcomen (1664-1729), one of Savery fellowman found a shortcoming of the pump, and introduce a water pump with cylinder and a moving piston inside instead of a vessel, also driven by a vacuum. James Watt (1736-1819), another Savery fellowman seized the opportunity to introduce what was later known as “double package” steam engine: the first package destined for building steam pressure called a boiler, and the second package for conversion “steam energy” stored inside the boiler into motion or ”mechanical energy”. James Watt made use the invention of both his fellowmen, the first “source of mechanical energy” for use in industry, the first convertor in the world for conversion “heat” into “mechanical energy”, popularly known as a “steam engine”.

From Belgium, Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) came up with “single package” engine popularly called “combustion engine”, because it burning an easily evaporated liquid fuel by a spark ignition, became the world lightest source of mechanical energy for use in industry.

From Germany, Nikolaus Otto introduced the first “combustion engine” with carburetter and electric ignition; the first in the world an easy to use “gasoline engine” for industry. Later in 1900, Rudolf Diesel (1858-1913) also from Germany introduced the first “compression ignition” engine with fuel injection to burn liquid fuel, called “diesel engine”. A series of “technology card domino” were tumbling down ever since TMC turned into SoME been unveiled by industrial revolution in the world emerging from Europe more than two centuries ago. From that historical moment, mankind became familiar with TMC and SoME were then new, emerging from United Kingdom, followed by Belgium, and completed by Germany; all introduce what was then called: “engine” in United Kingdom, “maschine” in Germany, and “mesin” in Indonesia; then spread to North America, later Japan, and later to all corner of the world, including Indonesia.

After more than two centuries has elapsed, mankind later came to aware, that SoME emerging from TMC was introduced by industrial revolution in Europe, become the “main cause” of every pollution to human and other living thing environment on earth surface, beginning: atmosphere, water bodies, and land surface. Scientiest from all over the world, from West to East, now beginning to evaluate the situation, and try to find ways to overcome the negative effect of industrial revolution to human living environment on earth surface, had been warned inside the message of: “Sūrah Ar-Rum, Verse 41”, of the Holy Al-Quran.

The Atmospheric Pollution
To get rid air pollution enter earth atmosphere blanketed the blue planet by exhaust gases expelled by the various industry along with transportation burning Fossil Fuel, shorten FF, like: coal, gasoline, and natural gases, city dwellers concerned from around the globe since outbreak of the industrial revolution. John Bockris from the General Motors Technical Division in 1970, came up with the idea burning “hydrogen gas” for fuel, or “Hydrogen Fuel”, shorten HF. Hydrogen is an abundant chemical element that can be used to run industry and transport on earth surface cleanly. Various countries can migrate run economy from the burning of “fossil fuel” into burning of “hydrogen fuel” to get rid of air in the atmosphere blanketed the blue planet been polluted, because the exhaust gases release to earth environment by the latter only water vapor. With the blue planet economy run by hydrogen, a portion of matter (material) emigrating from earth belly to the surface causing air pollution since the outbreak of industrial revolution being eliminated.

As pioneer toward cleaning the earth atmosphere from using fossil fuel, came up several Nordic countries, also from the outside of Middle East region. Leader of the Island been inspired by John Bockris from the United States of America, and proclaim Island to be the first country in the world to implement “hydrogen-powered economy”. To get HF for use in the country, the neighbor of the North Pole rely on electricity generated by the Geothermal Electric Power Station (GEPS) abundant in the country, to split water into hydrogen and oxygen. Public transportation powered by hydrogen fuel being tested in the capital Reykjavik, to be followed by electric car driven by fuel cell consuming only hydrogen fuel.

Another Nordic country, also outside Middle East getting busy with “hydrogen-powered economy” is Sweden. Instead of making use geothermal, the latter country relied on electricity generated by the farming of solar panel. The western region of the country has been prepared for the development of a pollution free environment, especially the harbor and the SAAB vehicle industry by using hydrogen as fuel.

Other Nordic country not willing been left behind is Danemark. Nakskov, the mayor of the island of Lolland established a cooperation between the fuel cell developer called IRD, and an organization in the country known as: “Baltic Sea Solution”. The latter is in fact the Danmark society itself, where group of people arrange themselves to become community for testing the likelihood of fuel cell technology getting along with hydrogen-powered economy” of the country; also preparing the required facilities.

In the South East Asia, Indonesia is also outside the Middle East region. With vast natural resources like geothermal, even directly come from many active volcanoes, and to farm solar cell right from earth equator, etc., should not be left behind by the few Nordic countries.

Although Indonesia, can no longer be a “pioneer” cleaning the earth atmosphere in the region, but Indonesia with rich in human resources, and educated, has the opportunity to become a “motor” of the hydrogen-powered economy of South East Asian region having global impact, but the country choose another course. Although since December 30 1949, Indonesia already been a free country, and recognized by all countries in the United Nation, called: “ The Republik Indonesia Serikat” (RIS), but right from beginning, the country was experimenting with: “Guided Democracy”, indoctrinating its citizen with: TUBAPI, scissoring Rupiah, and double devaluted the currency, causing the country’s economy to plunge into chaos. Then the country took another adventure called: “Pancasila Democracy”, and indoctrinating people with: BP7. And in 1997 Indonesia suddenly infected by economic crisis coming from Thailand, causing Rupiah to spin out of control for a along period of time, causing country’s economy recover latest among all other neighbor that were infected by crisis; before a “reformation” came up in 1998 to save the country’s economy back on its feet.

As the result of these adventures, Indonesia lost early development of social, economic, and cultural, of precious value after World War-II more than half a century, far lagging behind the South Korea destroyed in peninsula war, freed July 27, 1953. Also with respect of the various neighbor countries, such: Malaysia freed in 1957, Singapore freed in 1965, Brunai Darussalam freed in 1984; in a variety fields of live, welfare of the people, as well as the human rights.

The History of Education

As has earlier been mentioned, Islam came to nusantara (Indonesia) in South East Asian region brought by mubaligh or the religious preachers as well as business traders. They then established mosques and surau or pray house for the religious service, also as places for teaching the new religion. “Madrasah” or Islamic Bording School came up in many regions of South East Asia not to exclude the nusantara. After the Indonesian independence, madrasah being renamed “Pondok Pesantren”, and abbreviated: “Ponpes”.

The subject taught in madrasahs in the South East Asian region including nusantara, are mainly: Islamic religion, Islamic belief, Islamic law, Islamic values, and so forth, which are found in Al-Quran, in Hadis, and other Islamic books, by way local language in Arabic writing. Since then the “local tongue” and “bahasa Melayu” (Malay language) were written in Arabic was born in the South East Asian region, well known by most learning people.
On entering 20th century, the European colonialists, such as: United Kingdom, France, and Dutch, who had already colonies in the South East Asian region, were introducing new programs, popularly called ethical program four their colonies. That was the reason why colonial powers wanted to introduce Western Education to the natives living in their colonies to run a variety program.

In nusantara, the Duch colonial power had introduced “Government School” for the “inlander” or native people, later becaming “Sekolah Melayu”, or Malay School. The school intended to bread human power from local origin to work in the government offices, teacher for the Sekolah Melayu, administrator of various plantations, and many others, making use of cheap labour from inhabitant of the colony.

The subjects taught in Sekolah Melayu at the time, mainly: writing, reading, counting, along with general knowhow. The teaching language been used are: “local tongue” and “bahasa Melayu” in Latin Writing of Dutch choice. In such a way, the local tongue and bahasa Melayu in Latin Writing were born in the region.

The Dutch colonial government further developed the education it had introduced in nusantara further into education system comprising: middle school and high school much like in Europe, along with university in the island of Java. On the other hand, madrasah and ponpes only followed education system available in Middle East region.

Although western education system introduced by Dutch Government during colonial period had evolved into “Sistim Pendidikan Nasional” (National Education System), consisting: Sekolah Rakyat (Elementary School), Sekolah Menengah Pertama (First Middle School), Sekolah Menengah Atas (Middle High School), and the University, after the country acquired its independence. Also same with “madrasah” or “ponpes”, with the introduction of subjects, like: science, business, economy, management, applied science, and technology, national ideology, etc., into their curriculum. But the “Sistim Pendidikan Nasional”, as a unified educational system in Indonesia, due born with different historical background, remain to “indicate” a diverse worldview among their alumnus. There remain in public generally an “understanding” of what is known to be: “ahli dzikir” (divine oriented mind) on one side, with what is called: “kaum intellektual“ (mundanely oriented mind) on the other, and still keep a distance ever since.

The Dynamic Source of Mechanical Energy
Universe is the greatest mechanical system known to men. That is why living things on the blue planet, are part of the great mechanic system. Every thing on the earth surface, live or dead, requires energy to get to motion. Human, animal, and plant, exploiting “heat” derived from the combustion of carbohydrate of low or body temperature generated in their body with “oxygen” taken from the earth’s atmosphere, being processed in a group of muscles to create motion inside the human as well as animal body. There are some “package” of TMC turn into SoME that has been successfully develop by mankind on earth surface until now, that is to say:

A. Heat of the Chemical Reaction
What the industrial revolution developed in Europe previously, was SoME caming from the conversion of “heat” of high temperature combustion fossil fuel into mechanical rotation, now popularly called the TMC, was first introduced to the world by James Watt (1736-1819) from England, United Kingdom, with “xy-package”. Here x = boiler required to boil water to get a “high pressure steam”, or steam with a “potential energy” by the combustion of solid fuel of various nature in or around the boiler. While y = cylinder with a moving piston inside along with connecting rod and a crankshaft, to convert the “potential energy” of steam in the boiler into mechanical energy of rotary motion.

Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) from Belgium later introduced SoME, with “y- package” perse and spark ignition. Why latter package able to work, because the high temperature and pressure gas pushing the piston down can be achieved in second inside the cylinder just by igniting the mixture of benzene-vapour with air right inside the engine cylinder, without the need of a boiler of any kind.
The Lenoir SoEM improved by Otto from Germany, with the introduction carburettor and spark ignition, making “y-package” easier to use by the customer. Rudolf Diesel, Otto fellowman, also introduced “y package” having compression ignition burning liquid fuel injected directly into the engine cylinder. Latter engine bear the name of its inventor: “Diesel Engine”.

B. SoME of the Chemical Reaction
The “xy-package” introduced by James Watt (1736-1819), further developed later by changing cylinder along with piston, rod, and crankshaft, with a steam turbine to drive electric generator. Steam-Electric Power Station (SEPS) emerged burning fossil fuels (Solid, Liquid, Gas) been born in various countries around the world, from developed to underdeveloped countries, to produce large amout of electicity to run country’s economy.

The “y-package” introduced by Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900), also further developed later by changing cylinder along with piston, connecting rod, and crankshaft, with a gas-turbine to drive electric generator. Gas Turbine Power Station (GTPS) along with Combined-Cycle for Power Generation (CCPG) were emerged to improve thermal efficiency, burning natural gas to support country’s economy in order grow even faster. This is due the fact that GTPS and GGPG can be establised witin a short time to overcome electricity shortage from the generation side.

The “y-package” also beneficial to develop a powerful aircraft engines known: turbo-prop, torbo-jet, and turbofan engines, producing high pull or thrust measured in ton-metric. Such engine are highly demand by aircraft industries, and within a short period of time became the backbone of national an international air transport of many countries around the world servicing passenger and commodity transportation across islands, continents, and both, around the world.

C. SoME of Chemical Element
Beside a portion of “heat” been converted into motion, to become a Source of Mechanical Energy, abbreviated SoME, to be equivalent with Thermo Mechanic Conversion, abbreviated TMC, that had been introduced by industrial revolution implementing law of physics. So also “electricity” may be converted into motion by same law of physics, where SoME now be equivalent with Electro Mechanical Conversion (EMC). The result “xy-package” again be applied, but now: x = a chemical element generating electric energy, and y = the electric machine converting electricity into mechanical energy of rotation.

D. SoME of the Fuel Cell
Another SoME from chemical element generating electricity fast came forward, was the one introduced by John Bockris from the Technical Division of General Motors, United States of America. From the “xy-package”, x = fuel cells generating electricity by consuming hydrogen gas without combustion of any kind, and y = electrical machine to convert electricity into a mechanical energy of rotation.

E. Heat of a Nuclear Reaction
On September 26, 1905, Albert Einstein from the United States of America, publisized the famous “theory of relativity” along with the wellknown equation: E = mc² to the world. What Einstein wanted to tell people around the world the fact, that “energy” may be achieved with a complete destruction or annihilation of “matter”, or other way round. This also means that “matter” and “energy” interchangeable according to Einstein equation.

With his relativity theory, Einstein wanted to let people to know, that energy is abundant on earth surface, there is no energy shortage on the blue planet. The question raised at the time was how one could know about it? An experiment had to be done, and as soon as possible. On August 16, 1945, the first atom-bomb was tested by Manhattan Project in cooperation with the American Army, in white sands Proving Ground, Jonada del Muerto, 56 km South East Socorro, in New Mexico desert, successful.

In the year 1952, a hydrogen bomb was tested on Bikini Atoll belong to the Marshall Inlands, comprising 23 islands in the Pasific for the first time; and sucessful. The atomic bomb and hydrogen bomb did not get their “heat” from “chemical reaction”: the combustion of fossil fuels known to mankind from the early industrial revolution in Europe, but from what was later unveiled to be from the so called: ”nuclear-reaction”. The nuclear-reaction taking place in atom bomb called a nuclear fission reaction, because the nucleus of the uranium be split up by a neutron in the reaction process into two smaller elements, liberating enormous amount of heat causing atom bomb to explode. While the nuclear reaction taking place in a hydrogen-bomb called a nuclear fusion reaction, because two nucleus of lighter isotopes of hydrogen being combined by the reaction process to create a new elemen by the very high temperature of reaction process nearing the core of the sun, liberating enormous amount of heat causing the latter bomb to explode.

One must keep in mind, that a nuclear fission reaction emanate continuous radioactive radiation dangerous to mankind, while a nuclear fusion emanate no such radioactive radiation making it save for the mass production of electricity.

As a result of the splitting of heavy uranium atom, or the combimation two lighter isotopes of hydrogen, a portion of atom “mass” involved been annihilated from the universe, and directly turned into “heat”(calorie) following equation introduced by Einstein.

According to the theory of relativity forwarded by Albert Einstein, mankind around the world now aware of the two sources of “heat” on the earth surface: first the heat of “chemical reaction” or the combustion of: fossil fuels, woods, refuse, and so on; second the heat of “nuclear reaction”. The latter came from fission of a heavy atom element like uranium, etc., and fusion of two lighter atom elements, like isotopes of hydrogen, and so on. A chemical reaction does not cause any elemets weight change after the reaction process took place, but in nuclear reaction element weight happened after reaction process has took place. In latter reaction, matter annihilated from the universe be converted instantly into “heat (calorie)” according: E = mc².

The heat liberated by nucler reaction gave birth to Nuclear Power Station of Fission Reaction (NPSFiR) after World War II. From “xy-package”, x = Pressure Water Reactor (PWR), where “heat” is liberated by the fission reaction of heavy element, like uranioum, and so on; at the same time it boils water to get high pressure steam. While y = a pair of steam turbine generator to convert the potensial energy of steam pressure into electricity.

Lately, being developed uranium-free NPSFiR, a thorium reactor in several countries no longer emenates radioactive radiation to the environment. The thorium fuel cycle has the advantages over uranium, because the resource is abundance on, superior in physical and nuclear properties, good resistance to nuclear weapons proliferation. Molten salt will take the place of water as the primary coolant of the reactor to get rid of the leakage.
Nuclear Power Station of Fusion Reaction (NPSFuR) is now under construction in Cadarache, in Southern of France. From “xy-package”, x = Tokamak, “heat” been liberated by fusion reaction out of two nucleus of lighter hydrogen isotopes maintained against the wall by a strong magnetic field; and heat been transferred to a boiler to get steam potential energy. While y = a pair of steam turbine generator to convert the potensial energy of steam into electricity. The thermal energy density released in “nuclear reaction” is much higher than the thermal density released by fossil fuels in “chemical reaction”. The “energy density” of a fuel per unit mass called the “specific energy” of that fuel. As an example: uranium (breeder), it has a specific energy of 1,539,842,000 MJ/L, but gasoline (petrol) has a specific density of only 32.4 MJ/L.

This is the reason why the nuclear rection, either fission or fusion, more powerful in comparison with the chemical reaction known so far, were exhibited by the explotion of atom bomb and hydrogen bomb that fearing mankind around the world.

F. Cold Fusion Nuclear Reaction
From the Stanley Pons and Martin Fleischmann experiments in 1989, a small community of researchers further to investigate the cold fusion, now preferring the designation: Low-Energy Nuclear Rreactions (LENR). The latter become the source of hot water to generate energy potential of steam, to run generator to get electricity.
From “xy-package”, x = LENR producing the potensial energy of steam, and y = a pair of steam turbine with generator to generate electricity, much like a Steam-Electric Power Station. People dream the coming of future Cold Fusion Reaction Element (CFRE) as a battery to power: a motorcycle, vehicle, car, etc.; having its economic live fully in correspondence with the battery, such: 5 year, 10 year, etc.; and being recycled at the same time.

G. The Renewable Energy
a. The Solar Energy Farm
Another sources of energy now been implemented in many countries to get rid of atmospheric pollution around the world since the outbreak of industrial revolution in Europe, is the implementation of renewable energy sources. One example of renewable energy harnessed in several country around the world, is sunlight directly converted into electricity by photovoltaic converters. From xy-package, x = sunlight directly coming from the sun, and y = the photovoltaic convertor. Photovoltaic Power Station (PPS) was born to cultivate light energy from the sun, beginning from Europe, later spread to America, and Asia; from land to offshore, in areas where sun shines the most of the days in a year. PPS develop power from just 10 MW now already over 1000 MW in USA, with solar panels scattered over a large park.

A family harnessing sunlight from around the house from roof to the surrounding garden can now suffice electricity for own consumption. It seems that family only require electricity from the utility supply at night, if a battery installation to store electrical energy has not been installed yet. If this family produce electricity more than consumed during the day, the excess energy can be sold directly to the utility, causing payment of electrical energy consumption from utility for nighttime use been reduced.

b. The Wind Farm
Other renewable energy anyone can easily to notice is the wind. From xy-package, x = the flow of air molecules emerging from the earth surface being heated by the sun rays, and y = propeller blades to convert the kinetic energy air particles into the mechanical energy of rotation of an axle to drive an electrical generator, making use the law of aerodynamic.

Wind farm to harness wind energy beginning to emerge from Europe, spread into North America, and Asia; from land to offshore, where wind blows most of the days in a year. A wind farm is a tall tower of about 30 meter high, on top of which three or more propeller blades been installed to drive an electrical generator. A wind farm may consist of a number, tens, hunderds, even thousands towers with propeller driving electrical generators workin in parallel, to become as a windfarm Power Station.

c. The Solar Heat Farm
Heat from the sun to reach earth surface belong to renewable energy, known as Solar Thermal Energy (STE). Solaben is a Solar Power Station (SPS) of 200 MW now in service in Spain. Desertec is a proposed project to establish SPS of 100.000 MW for transmission to power hungry Europe harnessing STE from: Morocco, Jordan, Tunisia, Egypt, and Algeria in North African desert for conversion into electricity. What will be done in North Africa is to establish SEPS on the surface of earth with “heat” coming from the sun. From xy-package, x = a boiler where water is heated to get steam with high pressure having potential energy at the farm center surrounded by thousands controllable mirrors, and y = steam turbine driving electrical generator to convert steam potential energy into electricity.

Each of thousands mirrors in the SPS, must be carefully adjusted from sunrise to sunset, so the reflected heat from the sun with time will exactly be pointed to boiler at a given height from ground at the farm center. As the consequence, boiler temperature become very high making water inside boils violently producing stream pressure, the latter been used to turn a pair of turbine generator; a Solar Power Station is born.

d. Geothermal Electricity
Hot earth or geothermal near to earth surface, or around moutainous region in a country, as well as from active volcanos, belong to renewable energy that can be converted to electricity. What been done here is to establish a SEPS, but with “heat” coming from the depth of earth. From xy-package, x = a boiler where water is heated to get steam with high pressure having potential energy of the system in use: dry steam, or flash steam, or binary cycle; and y = steam turbine driving electrical generator to convert the steam potential energy into electricity.
To get steam with high pressure from the depth of earth, drilling is necessary to get the steam with high pressure from the source. If steam with high pressure does not emerge from the well after drilling been done, then fresh-water has to be injected into the heat source get steam with the pressure right from its source; a Geothermal Power Station (GPS) is born.

e. Hydropower for Electricity
Renewable energy widely used since the ancient times in various part of the world was the power of water or hydropower. Hydropower generated on earth, because the sun heat evaporates water to make clouds hanging in the sky. Winds carry these clouds to every direction across the sky around the globe, when they cooled down on their way fall back to earth as rains.

There are two categories of hydropower derived from the falling rain: the “potential energy”, due water gathered in a dented earth surface such as: basin, dam, lake, rivers, and so on, at an elevation above sea level; and the “kinetic energy” of drained water by the sloping river run.
The energy of first category depends on Q.l product, where Q (m3/sec.) the amount of water drained in each second, while l (m) the hight of falling water in meter. The energy of rushing water depends on the Q.v3 with product, where Q as has been mentioned earlier, while v (m/sec,) is the speed of flowing flowing water.
For the first category of the xy-package, x = Q.l product, and y = the water turbine in use to convert the potential energy of water into mechanical energy of turbine to turn an electric generator making use of hydrodynamic; a Hydroelectric Power Station is born.
Depend on the Q.l product, Hydroelectric Power Stations may be classified into: “very high power”, “high power”, “medium power”, “small power”, and “very small power”.The latter also called in Indonesia: “Mikrohidro”, or Micro Hydro Power Station.
For the second category the xy-package x = Q.v3 product, and y = the water turbine in use to convert the kinetic energy of water into mechanical energy of pelton wheel turbine to turn an electric generator making use hydrodynamic; Pelton Wheel Power Station (PWPS) is born.

f. The Wave Power
Strong wind blowing continuously over seas and oceans give rise water waves to run along their surfaces that end up on their shores. The rolling and travelling sea or ocean water toward their shores belong to renewable energy capable be converted into electricity. Some countries, especially the developed countries, already made use this energy to light up lighthouses as well as community of people living and working in remote location or far off places not far from the sea or ocean shore where utility power is not yet available.
From the xy-package, x = the rolling and travelling water waves, and y = mechanical energy of convertor making use of aerodynamic, or hydrodynamic, or both; a Wave Power Station (WPS) is born.

g. The Tidal Power
Tidal power is the energy inherent mainly with the orbital characteristics of the Earth-Moon system, and to a lesser extent with the Earth-Sun system. There are two energy category coming from the orbital characteristics Earth-Moon and Earth-Sun systems: the kinetic energy and the potential energy. Stream turbines been used to harvest energy of moving water to drive generator to get electricity; while the potential energy be captured by land constrictions such as straits or inlets that can create high velocities at specific sites having power turbine turning electric generator to get electricity. These turbines can be horizontal, vertical, open, or ducted, and typically placed near the bottom of the water column. From the xy-package, x = the kinetic or potential energy of tidal water, and y = mechanical energy of turbine making use of hydrodynamic; a Tidal Power Station (TPS) is born.

h. The Power Undersea Current
The under water current from the sea to ocean also belong to the renewable energy capable for convertion into electricity. This kind of energy is keenly been studied in developed countries for harvesting the world’s most green energy for getting rid of atmospheric pollution. From the xy-package, x = Q.v3 product of speeding water molecules at the bottom of the sea or ocean, and y = the water turbine been use to convert the kinetic energy of under water current into mechanical energy of water turbine to turn electrical generator using hydrodynamic; an Undersea Current Power Station (UCPS) is born.

i. Sea Water Thermal Power
The sea or ocean water temperature (thermal) difference of the surface and at some depth may be exploitated to generate electricity, also belong to renewable source of energy. What been done here is to establish a sort of SEPS, but with “heat” emerging from the sea or ocean water thermal difference. From the xy-package, x = the sea or ocean water thermal difference, and y = a low temperwture steam turbine turning electrical generator; Ocean Thermal Energy Power Station (OTEPS) is born.

j. Lightning Power
Lightning striking in between clouds in the sky and from clouds to earth, are undoubtedly a truly very large electrical power, because the voltage is very high measured in million volts (V) and the current is high measured in thousands amps (A); can turn a big tree into charcoal.
Bare in mind lighning is also a thunder; and the difference: the first is what one see with the eyes, while the second what one hear with the ear. Having such an enormous voltage, a lighning can strike anywhere, between clouds if their charges are the opposite, or from to clouds to earth as well.
Lighning between clouds very difficult to catch, but the one striking to earth can be captured to seize its electrical power. Various experiments has been conducted in developed countries and as in Indonesia, to fish the litghning power by sending small rocket having metallic tails attached to the proposed lightning core to get the electrical energy.
Although lighning power is extremely short time, but application might worth be used to separate water into hydrogen and oxygen, heating water, and others. It is not yen known when a Lightning Electric Power Station (LEPS) will be born.

Conclusion

From what has been explained so far, it was later clear, that “heat” derived from chemical reaction combustion fossil fuel like: solid, liquid, and gaseous, extracted from the belly of earth by a various TMC for SoME now billions number of packages across the globe, has become the “prime cause” atmospheric air pollution blanketing the blue planet. Ever since the outbreak of industrial revolution in Europe more than two centuries ago, TMC for SoME package also got developed and steadily gain their number. The air pollution got worsen with the “thermal efficiency” of TMC for SoME just around 25%, with majority (75%) of “heat” littered to the environment to raise air temperature around.

If biological fuel or biomass fuels being used to get “heat”, the pollution from sulfuric acid in the atmosphere will be eliminated, but the thermal efficiency of TMC for SoME remain the same. It seems that TMC for SoME burning fossil fuels must terminate from use on earth surface to get rid air pollution in earth atmosphere from combustion of fossil fuels.

On the other hand, “chemical element” working with “electric motor” has bright future to acts as Electro Mechanic Conversion (EMC) for SoME, because “chemical element” has many choices with alternatives, and does not pollute air in the environment.

Same also with “fuel cells” consuming hydrogen fuel working with “electric motor” to act as EMC for SoME, delivering mechanical energy for industries including transportation.

One must note, electric motor has efficiency around 85%, more than three times of the ICE. With the right development of “chemical elements” to work with “electric motor”, it is now the right time to stop drilling well into the earth’s belly thousands meter in depth to get oil. With EMC for SoME, chemical elements and electric motor acquired from depth less than 100 meter.

On leading young generation of people in South East Asian Region, as well as the young generation on other part of the world, the TMC for SoME migration to embrace EMC for SoME with “chemical element” as the prime source energy is necessary. A pilot project named: Clean Energy For Earth, abbreviated CEFE, for future of mankind, must be started from the village in a long marsh to cities around the globe.

Teenagers from Mosques and Holy Houses of all belief available on earth surface must be encouraged by the coaches of respective religion to research electrolyte of “natural origin” with pair right electrodes of various metals to get highest electric potential difference.

For electrolyte these young generation will begin with juice coming from a variety of plants that grows in the environment around their village; also juices from leaves and tree stems. They do not forget liquids produced by various animals and human being.

The coaches will explain to teenagers what been meant: “electric potential” be harvested in volt (V), as well as “current” that flow across bulb lighting brightly in ampere (A). The two figures: “potential” and “current”, are the two factors in electricity to determine the “power” developed in watt(W) by chemical elements they build. To gain a higher potential these young folk may arrange elements in series to make the lamp light brighter, while the current flows will depends on the wattage of light bulb been use.

What been done by young generation of Muslim as well as teenagers of other religious beliefs today is an early effort to research electrolyte from the natural origin with the necessary metals to generate electricity with high potential difference out of familiar thing in their surroundings.

Potential and current are the two factors to generate electric power. With the electrolyte from their own village and pair of metal with electric bulb bought in nearby town; these teenagers are ready to switch kerosene lamps or palm oil lamps laid on the floor blackened their noses on wake up in the morning, with clean electric lamps. The electricity comes from chemical elements of their own make, at times when the teenagers are sleeping together in wide living room.

Hopefully, having curiosity been ignited in right from the village origin and from the early age, some of them will become the real developer of various chemical elements of large power capacity to save the earth atmosphere from the burning of fossil fuels.

The “heat” from nuclear reaction now been widely used by many countries, especially develop countries mostly for conversion into electricity, for: industry, transportation, public utility, and many other, despite still haunted by dangerous radioactive leakage from the Nuclear Power Station Fission Reaction (NPSFiR) to living environment.
On the other hand, Nuclear Power Station Fusion Reaction (NPSFuR) has no worry of the dangerous radioactivity leakage to living environment, still under construction by some countries in the world. Many researches must be done to get rid of the negative impact of NPSFiR to the living environment earth surface in the future.
Electricity generated by “cold fusion reaction” now has a prospect for future development of SoME for vehicles of various kind that no longer pollute earth atmosphere.

Until now, no one knows how many researches has to be done, also experiments executed, and the evaluation of results, to find alternatives to reduce the level of environmental pollution already existed on earth surface since the outbreak of industrial revolution in Europe more than two centuries ago. So do to eliminate the negative impact of the pollution that has happened on the earth surface until now.

Now time has arrived for young generation of Muslim in the South East Asian region and the rest of the world a challenge to become a Caliph on earth, in joint venture with young generation of other religious belief of the region. So also same for young generation of the remaining world, to safeguard the blue planet (ME), only one across the universe from the fallout of MMV eruption, knows no stop even for one second.

There should be found from the richness of South East Asian natural resources with its diversity the best: electrolyte, mineral of various metal, etc., necessary to establish the effective chemical elements generating electricity for conversion into mechanical energy by electric motors in demand by the various industry in the region, including transportation: on land, on water, and trough the air.

The renewable energy can always be harvested freely anywhere one like on earth surface as long as the economic feasibility study and the social support for a selected location on earth is right, because renewable energy does not burn any fuel that may harm human living environment around the blue planet, especially air in the atmosphere blanketing this earth.

Back to House of Allah
After more than two centuries took place, people on earth came realize that the “industrial revolution” has caused air temperature in the atmosphere that blanketing blue planet to increase, creating a phenomenon called: climate change. The phenomenon was undoubtedly caused by the flow of material (matter) from the belly of earth to its surface done by man since the outbreak of industrial revolution” knows no stop until today. The amount of material (matter) in billion ton rising steadily each year, so do the diversity with time up to now.

People on earth surface aware of the fact, the flow of this material (matter), has created pollution worsen with time, but also bad effect to the ecosystem on earth surface, know has effected on human health on various region on the planet surface. That is why a “real action” be taken to root out the effect of environmental pollution completely. The environment need be achieved is the one before industrial revolution in Europe has started, even much better than that.

The house of Allah for the Muslim, as well as Holy houses of other religions on earth surfaces, that has been selected by His guidance, as already mentioned before, become the front lines, where people at large have contact with His representative on earth surface. For the Muslim they are dignitaries in the Mosques, while for other religion they are dignitaries of respective Holy houses; all of them already been chosen by Him.
That was the reason a Mosque for Muslim been introduced by the prophet Muhammad SAW, so do Holy houses been introduced by respected Messenger of each religion on earth surface, until the end of time. Now a question is raised, what “real action” that need be done?

Already written in Sūrah 13 Ar-Ra’d (The Thunder), Verse 11, which explained:

13_11

For him are angels ranged before him and behind him, who guard him by Allah command.3 Lo! Allah changed not the condition of a folk until they (first) change that which is in their hearts; and if Allah willeth misfortune for a folk, there is none that can repel it, nor have they a defender beside Him.
3 This is taken by some commentators to refer to “him who goeth freely in the daytime” in the previous verse”. In that case it would read : “for whom are guard before him and behind him as if to guard him against Allah’s commandment”.

An Intermezzo
One night in Jakarta, Al-Jazeera TV from Qatar launched a program on heart operation from a known hospital in India. A country with majority of the people embrace Hindu religion for more than 2500 years, introduced to the world unique culture and tradition. That are reason why so many tourist and traveler from around the globe got interest and pay visit to India to get to know about the culture and tradition enjoying them; not to exclude medical tourism from various countries to get a heart operation.

Prior a heart operation taken place, patient with family been received by a company lead by a Hindu priest along with doctors including staffs and medical care unit involved. Serious operation took place presenting the country’s latest technology on heart operation that looks simple. After the operation over, and a certain time elapsed, the patient resume conscious.

When a question raised, how hospital in the Mahatma Gandhi’s country become so famous with heart operation over 5000 patient in a year, Dr Devi Shetti who leads the hospital simply said, that he had inspired by Mother Theresa, a Catholic nun from Hungry who spent most of her live working in India helping unfortunate people.
The nun once told him: “behind the fluent lips praying, there have to be also able hands with trained fingers that do”.

What Must Be Done
Industrial revolution emerging in Europe more than two century, had aimed to alter the old social system that no longer in correspondence with situation at the time, with a new social system that is better.

A revolution whatever it form, fall under a general rule, consists of: revoltare and revolvere. A revoltare is a part of revolution required to eliminate old social system no longer in correspondence with live situation in a society, while revolvere is the part of a revolution to bring a new social system that truly in corresponding with the situation.

The success of a revolution much depends on how a revolvere can replace the old social system in the course of time to fulfill the wish of people, because if not chaos will prevail, and put danger to everyone involved in the revoltare.
After more than two centuries industrial revolution happened on earth, the condition human living environment still unchanged across the globe. The pollution in the atmosphere, on water, and on land, remain to worse with the passage of time, although there are signs earth citizen aware of pollution incurred by industrial revolution since the outbreak introduced by man, and some effort to get rid of it.

Latter efforts are not yet sufficient, considering industrial revolution already happened in centuries, while the human awareness on pollution of the living environmental just still in decades. Still much been done, especially on citizen education around the world.

The living environment condition be achieved as has been mentioned earlier: condition before the industrial revolution was started, even better than that as is meant by the revolvere.

To get rid environmental pollution on earth surface, as stipulated by Sūrah: Ar-Rad (Thunder), Verse 11, Muslim and folk from around the globe have to refer back to the Arabian philosophy, been developed from Irak to Andalusia, then brought to Europe, causing on that part of the world sprang what is called applied knowledge, causing mankind enter the present civilization.

The applied knowledge and analytical science have since brought human to the introduction TMC for SoME burning fossil fuel needed by the various industry including transportation, causing material (matter) to migrate from the belly of earth to its surface, and polluting human living environment for centuries old until today. Now with the same Islamic philosophy, but from another point of view, making use EMC for SoME from various chemical elements along with their development, to halt the flow of the unnecessary material (matter) from the belly of earth to its surface polluting human living environment on its earth surface; also establish Spinning Reserve for Industrial Raw Material, abbreviated: SRIRM.

What is intended by the new philosophic, in order every son of Adam living on the blue planet truly accept the healthy mind it contains, because it was really meant by the Sūrah Ar-Rad, Verse 11, because Allah will never change the fate of a community, until they do it first themselves. The new philosophy will guide the said community with a logical way to get rid of pollution caused by industrial revolution made by man, by use of science in various discipline; also conducting research, evaluation of findings, and draw conclusions. A set of moral values also have to be establish to distinguish the right from a wrong, as well as law punishing perpetrator of every wrong doing not to repeat again. After all things of afore mentioned be done orderly to follow the logical reasoning, Allah Subhanahu Wataala will answer the community pray.

Mother Earth Laboratory
To present the healthy living environment in need by the various living thing on earth surface in the course of time, a set of laboratory called: Mother Earth Laboratory, shorten: MEL, must be established in every country been spread into region, district, as well as village. The set of laboratory will monitor the environment of all living thing such: air, water, land, and across sky around the world; with all finding broadcasted around the world periodically like weather so every citizen will know.
Of course it is necessary to define: Standard of Living Environment, abbreviated SLE, for human being and other living thing on earth surface as their “right” with the umbrella of law to protect throughout their mundane life, like: the environment before industrial revolution emerging in Europe, or even better than that. Having SLE on earth surface, human being and other living thing can live what been called the normal life or standard life to follow the injunction of Allah Subhanahu Wataala making use of NLT on the blue planet surface.

Such set of laboratory will not come easy, especially to cover the whole earth surface, because they comprise of research laboratories, now already on earth are spread into countries, managed by developed nations. They already aware of impact made by industrial revolution emerging from Europe more than two centuries ago, now causing various illnesses widely known, like: cancer, birth defect, physical and mental disorder and distortions, etc.; even children as young under five years of age living in smelter producing base metal from mineral ore undergone sign Alzheimer in the previous communist country.

It is undoubtedly, ME do require piety from the human being and other living thing in exchange for the care that been extended from birth to end of life on embarking the second journey. Only the piety from all living thing, ME capable to carry out the holy injunction of Allah Subhanahu Wataala, take care each living thing traveling the mundane life on earth surface. Every living thing, like: plant, animal, and human being, require: a place of living along with the fresh air to breath, water to drink, food to eat, shelter, etc.; also including light and heat sent directly from the sun, after milking from MB terminate for human baby about two years.

MEL then acts as a “bridge” or interface, so everyone always aware of the condition of ME taking care of every living thing throughout the life span at any time. This is the reason why MEL has to monitor human environment from village, district, country, world, and the sky around the planet to become World Environment Information, shorten: WEI, gathered periodically and intelligently monitored by MEL than broadcasted to all corner of the world.

At the village level, Mosques will act for the Muslim; so also the other holy Houses for the other beliefs; all working together informing the society on how important to have attention on condition of human living environment and the responsibility of every one on the care of it. Having a culture on the care of living environment well developed, the personnel in charge for renewing WEI will quickly update to the latest.

With WEI network spread around the globe, the health of ME will be known by every world citizen wherever he/she live and work, and can be used and saved. With the human population steadily on the rise, ME health will have great impact on the life of the citizen especially the economy and their social live.

It is undoubtedly imperative to have international cooperation participating by every country available on earth surface, because the blue planet is only one. Every wrongdoing done by human hands against health of ME Protected by law must be stopped and repaired as soon as possible, because there is no alternative to migrate living on the other planet surface like moon, if a preparation has not yet been done in advance.

Now, there is only one alternative for mankind open, working together to clean up all sort of waste that has appeared made by the earth inhabitant itself, since the outbreak of industrial revolution in Europe more than two centuries ago.

Department of Waste
To be able presenting SLE continuously, “Department of Waste” need be established in all country the world over. “Department of Waste” is at the upstream of “river of pollution” while the “Department of Environment” is at its downstream. It is impossible to clean up human living environment by the Department of Environment per se, while Department of Waste delivering conventional wastes continuously and the same time creates new one.
With the number of human population steadily rising, the problem facing the human on earth surface in the future are: source of energy, food, shelter, work opportunity, etc.; always rising with quantity, quality, and diversity. This has been mentioned earlier, will induce more material (matter) migrating from the earth belly to its surface carrying unintended pollutant of various kind.

A Department of Waste in a country has to tackle first the waste emerging from material (matter) migrating from the belly of earth since the outbreak of industrial revolution more than centuries ago, now remain polluting earth surface chemically undone yet.

For all undone chemical reaction polluting the earth surface, “Waste Reverse Reaction Engineering”, shorten WR2E, has to be introduced to completely undone every chemical reaction remain polluting earth surface since outbreak of industrial revolution scattered around the world, to make sure that such chemical reactions will no more pollute the planet surface.

WR2E has to engineer various wastes arise from the many chemical reaction required by business in: processing, manufacturing, service, and other industries, done by earth citizen easily reversed engineered chemically, to get rid of pollution. A Department of Waste has to release a Canon Book on this matter so no business will ever produce pollutant of various sort to harm the human living environment: on land, on water bodies, and in the air of earth atmosphere.

Now the Materials Science and Engineering, is now capable to introduce completely new material for use in industry as well as other application not including household. But no one yet knows the impact when the new material turn to waste that littered the planet surface. The Department of Waste also have to keep watch that the technology developed by human must run harmoniously with NLT introduced by Allah Subhanahu Wataala to Universe, on earth in particular, in order not to intervene with a negative impact on each other, because both technology making use same chemical elements available in periodic or Mendeleyev table.

Department of Waste must be able to forecast the wastes that will appear in the future to anticipate their impact on the human and other living thing environment, as well as the receipt to get rid of the impact if the wastes turn into threat to the life of living thing.

There are still many things that need to be done by the Department of Waste to escort all living thing on earth surface, in order the sort of pollutant such as: common, dangerous, most dangerous, if scattered around the living environment, with quality remain known especially their property whether friendly or dangerous to NLT already introduced by Allah Subhanahu Wataala.

——— end ———

By:
H.M.Rusli Harahap
Pamulang Residence G1
Jalan Pamulang 2, Pondok Benda.
Kode Pos: 15416. Tangerang Selatan.
Tel. 021-74631125.

Posted by: rusliharahap | March 3, 2015

PARKIR BERTINGKAT

Pendahuluan
Dengan seluruh permukaan jalan-raya berbagai kota besar dunia luasnya rata-rata masih satu angka (digit) persen luas kota, serbuan kendaraan bermotor roda: dua, tiga, empat, dan seterus-nya menuju kota-kota besar di seantero planet, tidak diragukan lagi akan melahirkan “kemace-tan” lalulintas dan permasalahan “parkir”. Kebanyakan Negara dunia yang masih mengizinkan pemilik kendaraan pribadi dan umum memparkir kendaraan bermotor dimana saja pengemudi suka dan sembarangan, memaksa kendaraan roda: dua, tiga, empat, dan lain yang tengah melaju menggerakkan kendaraan dibawah kecepatan lalulintas ditetapkan, menyebabkan pemakaian ba-han-bakar: bensin, solar, dan gas, menjadi boros, udara disekitar jalan-raya semakin tercemar, dan warga-kota besar pun menderita gangguan pernafasan.

“Parkir bertingkat” memperbesar daya tampung kendaraan “parkir permukaan” di beragam kota besar mulai nusantara hingga dunia. “Parkir bertingkat” menggunakan lahan sedikit di permu-kaan, tetapi memanfaatkan ruang diatasnya yang lebih besar. Dengan melakukan “parkir permu-kaan” dan “parkir bertingkat” kendaraan roda: dua, tiga, empat, dan lain yang sedang melaju di jalan-raya dapat bergerak dengan kecepatan lalulintas yang telah ditentukan di kota-kota besar Tanah-Air dan Mancanegara, sehingga pemakaian bahan-bakar menjadi lebih hemat, pencema-ran udara menjadi berkurang, dan waktu tempuh perjalanan lebih singkat, dan warga kota-kota besar pun akan lebih sehat.

Adapun sejumlah kota besar di Tanah-Air yang membutuhkan sarana parkir bertingkat pada saat ini dapat dikemukakan: Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, dan lainnya; juga tidak terkecuali berbagai kota di Mancanegara.

Parkir-bertingkat
Kini tiba saatnya untuk memperkenalkan sebuah pilihan parkir-bertingkat (multistory-carpark) untuk kendaraan bermotor yang sedang tidak digunakan di kota-kota besar dunia. Parkir berting-kat menyita lahan di permukaan bumi sedikit, tetapi memanfaatkan ruang diatasnya yang lebih besar. Dengan memanfaatkan parkir bertingkat untuk kendaraan roda empat di berbagai kota besar Tanah-Air dan Mancanegara, banyak lahan di permukaan bumi dapat dialihkan menjadi hijauan tanaman yang dibutuhkan untuk menangani pemanasan-global (global warming) yang telah menimbulkan perubahan iklim di permukaan bumi, melahirkan amukan badai dan angin kencang yang setara pesawatterbang tinggal landas, dan meratakan kota Tacloban di Filipina beberapa waktu yang silam.

Parkir-bertingkat awalnya berupa bangunan atau gedung yang dibuat khusus untuk tempat memparkir kendaraan bermotor roda empat yang tidak sedang digunakan kawasan: perkantoran, perdagangan, tempat hiburan, petokoan, dan lain sebagainya; akan tetapi gagasan ini ingin mem-perkenalkan “parkir bertingkat” konstruksi baja untuk kendaraan bermotor roda empat yang sedang tidak digunakan, dan dapat didirikan dimana saja orang suka guna melancarkan lalulintas kota besar yang padat penduduknya.

Dengan menerapkan parkir-bertingkat di pusat-pusat: perkantoran, perdagangan, perbelanjaan, taman hiburan, rekreasi, dan lain sebagainya, banyak lahan ditempati “parkir permukaan” dalam beragam kota besar dapat dibebaskan, tidak terkecuali pinggiran kota dan wilayah satelit, untuk dikembalikan menjadi kawasan hutan penyangga kota, guna menyejukkan udara tempat warga kota berdiam. Adapun kelebihan parkir bertingkat pilihan ini dibandingkan parkir-permukaan, ialah sedikit lahan muka bumi yang diperlukan untuk fondasi, dan membebaskan bagian lainnya yang lebih besar, untuk dijadikan beragam hijauan penyegar kehidupan.

Sebuah bangunan atau gedung tinggi untuk tempat memparkir kendaraan bertingkat mahal har-ganya, juga tidak dapat didirikan pada sebarang tempat, mahal juga biaya operasi dan pemeliha-raannya. Sebaliknya parkir bertingkat dibangun dari konstruksi baja murah harganya, juga mu-dah didirikan atau dirakit dimana orang suka, murah pula biaya operasi dan pemeliharaannya, tidak terkecuali merelokasi bilamana diperlukan.

Sebuah parkir bertingkat konstruksi baja akan menggunakan baja: kanal-c, atau kanal-h, pipa, plat, dan lainnya; dilengkapi pula sistim mekanik, sistim listrik, juga sistim kendali elektronik termasuk pantau, sehingga setiap orang dapat dengan mudah memparkir sejumlah kendaraan ke-luarga cara bertingkat yang menghemat lahan di muka bumi.

Dalam pelaksanaan, dibedakan dua macam parkir-bertingkat (multistory carpark), masing-masing: parkir-bertingkat disingkat: Parting dan batere parkir bertingkat, disingkat: Baparting.

Parting
Sebuah “Parting” dimasukkan kedalam sebuah garasi, atau diletakkan di samping rumah, akan memuat: dua, tiga, atau empat, kendaraan roda empat keluarga tersusun bertingkat sebagaimana yang diperlihatkan oleh Gambar-I, dengan: “tampak masuk/keluar” dan “tampak samping”.

Parting

Gambar-I

Parting menolong pemilik kendaraan roda empat, agar tidak lagi memparkir kendaraan roda empat masing-masing sepanjang pinggir jalan-raya sembarangan saat tidak digunakan, terutama di kawasan padat kendaraan berlalulalang guna melancarkan lalulintas. Dengan menghadirkan parkir bertingkat konstruksi baja di berbagai kota padat penduduk, berarti warga kota ikut aktif meningkatkan kecepatan rata-rata lalulintas mendekati kecepatan ekonomis kendaraan bermotor, menyebabkan pencemaran atmosfer di sekitar tempat berdiam dapat diturnkan.

Empat kolom baja kanal-C atau kanal-H, didirikan guna menyangga parting diatas pondasi. Sejumlah pelataran, dinamakan: P-1, P-2, P-3, P-4, tergantung bilangan kendaraan yang hendak diparkir bertingkat, ditempatkan diantara keempat kolom baja dan dilengkapi: sistim mekanik, sistim listrik, dan sistim kendali serta monitor yang diperlukan tiap pelataran, untuk menaikkan atau menurunkan pelataran cara bergiliran ke masing-masing tinggi parkir sasaran, atau seba-liknya meninggalkan tinggi parkir masing-masing.

Untuk menaikkan pelataran menuju ketinggian parkir, atau menurunkan pelataran kembali ke muka bumi dalam arah yang sebaliknya, digunakan empat Alat Angkat (AA) atau Lifting Device (LD) terpasang pada setiap pelataran berteknologi sederhana, yakni: 1. Bolt-Nuts dengan Bevel Gears, atau 2. Rack-Pinions dengan Bevel Gears dan Worm Gears, digerakkan motor induksi rem (brake induction motor).

Keempat AA akan bersama-sama menaikkan pelataran keatas serentak, atau bersama-sama pula serentak menurunkan pelataran kebawah dalam arah yang sebaliknya, dilakukan sistim mekanik yang terdapat di dalam ruang atau kompartemen penggerak. Dengan bantuan sistim mekanik, siapapun dapat memparkir kendaraan keluarga dengan mudah menuju tinggi parkir, saat memparkir; atau dalam arah sebaliknya menurunkan atau men-deparkir kendaraan keluarga dari tinggi parkir manapun kembali menuju ke muka bumi.
Sebuah pelataran parting tidak dapat turun dengan sedirinya atau merosot oleh berat sendiri berikut kendaraan yang berada diatasnya, kecuali bila digerakkan motor induksi rem. Dengan perkataan lain, setiap pelataran yang terdapat pada parting tidak dapat naik keatas, atau turun kebawah dalam arah sebaliknya, manakala tidak diperintahkan oleh si pemilik atau si pengguna.

Tenaga listrik didatangkan dari PLN disalurkan kabel-daya menuju panel parting, dari sini lalu dibagikan saluran daya lemas lewat gelondong menuju motor induksi rem yang ada dalam ruang-penggerak masing-masing pelataran. Tenaga listrik batere kendaraan yang sedang parkir diatas pelataran juga dapat digunakan yang dibantu inverter, untuk menaikkan atau menurunkan pelataran, yang bertindak sebagai sumber tenaga listrik cadangan (emergency power).
Dengan peladangan panel surya yang memanen tenaga cahaya matahari diubah menjadi listrik, begitu pula perkebunan tenaga angin yang menghasilkan listrik, kedua sumber listrik dapat juga dimanfaatkan oleh wilayah yang belum terjangkau listrik PLN. Tenaga listrik dibutuhkan untuk menggerakkan motor induksi rem terdapat dalam ruang-penggerak setiap pelataran; juga sistim listrik, sistim kendali dan monitor, serta penerangan malam hari.

Untuk memerintahkan parting menaikkan atau menurunkan sebuah pelataran, perangkat Penga-tur Logika Terprogram (PLT) atau Programmable Logic Controller (PLC) ditempatkan sebagai antarmuka (interface) antara pemilik atau pengguna dengan sistim elektromekanik (electro-mechanical system) yang bertugas menaikkan atau menurunkan setiap pelataran cara bergantian, tidak terkecuali sebilangan pemutus batas (limit switches), beragam saluran kendali (control wirings), dan beberapa tombol (push buttons) yang diperlukan.

Untuk “mem-parkir” bertingkat sejumlah kendaraan keatas parting dirancang untuk tiga kendaraan keluarga, diawali dengan menurunkan seluruh pelataran: P-1, P-2, dan P-3, hingga mobil pertama dapat dikemudikan keatas P-1. Yang akhir ini lalu dinaikkan ke ketinggian tiga, sekitar ±. 4 m diatas permukaan bumi. Pada saat yang bersamaan, P-2 muncul ke permukaan dari tempat penyimpanannya dibawah. Dengan demikian mobil kedua dapat pula dikemudikan keatasnya, dan yang akhir ini lalu dinaikkan ke ketinggian dua, sekitar ±.2 m diatas permukaan bumi. Pada saat yang sama P-3 muncul pula ke permukaan dari tempat penyimpanannya dibawah. Dengan demikian mobil ketiga dikemudikan pula keatasnya, dan pelataran akhir ini tetap berada pada tempatnya. Selesai.

Untuk “men-deparkir” atau menurunkan kendaraan keluarga dari parting dirancang untuk tiga mobil keluarga, dimulai dengan mengeluarkan mobil ketiga. Pelataran P-2 lalu diturunkan me-nuju permukaan bumi dari ketinggian dua yang diikuti P-3 turun ke tempat penyimpanannya. Setibanya di muka bumi, mobil kedua dikeluarkan dari P-2. Akhirnya, P-1 diturunkan dari ketinggian tiga ke permukaan bumi, disertai P-2 turun menuju tempat penyimpanannya. Mobil pertama lalu dikeluarkan, dan pelataran akhir ini tetap berada pada tempatnya. Selesai.

Parting dapat dipasarkan sebagai: “Car Park Kit” (terurai kedalam sejumlah bagian) yang mudah dipindahkan sehingga boleh dirakit dimana saja orang suka meletakkannya. Dengan demikian parting menjadi tempat memparkir kendaraan keluarga bertingkat yang dapat didirikan pemilik kendaraan dimana ia suka.
Terdapat dua alunan nada yang menyertai setiap pelataran saat bekerja, sehingga orang-orang yang berada disekitar akan sadar akan kegiatan yang berlangsung, yakni: menaikkan kendaraan ke tinggi parkir, atau sebaliknya menurunkan kendaraan dari tinggi parkir kembali ke permukaan bumi.

Baparting
Sebagaimana halnya dengan parting, baparting juga bangunan konstruksi baja dari: kanal-C, atau kanal-H, pipa, plat, dan lain sebagainya. Sama dengan parting, baparting juga dilengkapi: sistim mekanik (mechanical-system), sistim listrik (electrical-system), sistim-elektronik (electronic-sys-tem), sistim-kendali (control-system) dan sistim-pantau (monitoring-system) untuk setiap pela-taran yang bertugas menaikkan pelataran dengan kendaraan diatasnya menuju ketingian parkir diinginkan, atau sebaliknya menurunkan kendaraan dari ketinggian parkir kendaraan kembali ke permukaan bumi.

Sebuah baparting) adalah kumpulan lapisan batere tempat memparkir kendaraan bermotor roda-empat yang dibangun diatas “pondasi bersama”. Itulah sebabnya setiap lapisan batere yang terga-bung dalam baparting terdiri dari: Kolom Elevator Batere (KEB) terdapat ditengah didampingi dua Kolom Parkir Batere (KPB) menempel dari kedua sisinya, sebagaiman yang terlihat dari “tampak samping” dan “tampak depan atau masuk/keluar” dari Gambar-II, dibawah ini.

Baparting

Gambar-II

Jumlah KPB yang mendampingi KEB harus merupakan bilangan genap, agar tempat memparkir kendaraan yang berada pada kedua sisin baparting sama banyak, sehingga tampak simetris. Adapun yang dimaksud dengan bilangan genap disini, ialah angka: 2, 4, 6, dan seterusnya. Sedangkan banyaknya “lapisan batere” yang tergabung kedalam baparting tergantung dari perkiraan jumlah kendaraan sebuah wilayah pemukiman warga suatu kota besar padat penduduk atau metropolis yang berminat memparkir bertingkat kendaraan kedalam baparting.
Berlainan dari parting menggunakan pelataran untuk tempat memparkir kendaraan, sehingga jumlah pelataran sama dengan banyaknya kendaraan roda empat yang diparkir, sebuah bapar-ting memanfaatkan pelataran hanya untuk setiap “lapisan batere”, sehingga jumlah pelataran di-gunakan sama dengan banyaknya “lapisan batere” yang tergabung kedalam baparting, seba-gainana yang terlihat pada “tampak samping” Gambar-II; diperlihatkan empat lapisan batere dengan nomor: 1, 2, 3, 4.

Sebagaimana juga parting, setiap pelataran baparting dilengkapi juga dengan empat Alat Angkat (AA) atau Lifting Device (LD) berteknologi sederhana, yakni: 1. Bolt-Nuts dengan Bevel Gears, atau 2. Rack-Pinions dengan Bevel Gears dan Worm Gears, yang digerakkan motor induksi rem (brake induction motor).

Keempat AA akan bersama-sama menaikkan pelataran serentak keatas, atau dalam arah yang sebaliknya bersama-sama menurunkan pelataran serentak kebawah, dilaksanakan oleh sistim mekanik yang terdapat dalam “ruang atau kompartemen penggerak”. Dengan bantuan sistim mekanik, seorang operator baparting akan dengan mudah menaikkan pelataran dengan kenda-raan yang berada diatasnya dari permukaan bumi hingga ketinggian parker dituju, saat “mem-parkir”; atau dalam arah sebaliknya.”men-deparkir” atau menurunkan pelataran berikut sebuah kendaraan diatasnya dari setiap ketinggian parkir kembali ke permukaan bumi.

Setiap pelataran batere tidak dapat turun dengan sendirinya atau merosot oleh berat sendiri dan kendaraan yang berada diatasnya, kecuali bila digerakkan motor induksi rem yang terdapat didalam ruang penggerak. Dengan perkataan lain, setiap pelataran baparting hanya dapat berge-rak naik atau turun, manakala mendapat yang datang dari operator.

Tenaga listrik datang dari PLN disalurkan kabel-daya menuju panel baparting, dan dari yang akhir ini dibagikan saluran lemas (flexible) menuju KEB dari setiap lapisan batere yang mem-bentuk baparting. Dari panel akhir ini, tenaga listrik selanjutnya disalurkan lewat pengantar tembaga tersekat tiga phasa vertical yang dipungut tiga sikat arang, dan disalurkan ke motor induksi rem yang berada dalam ruang atau kompartemen penggerak. Sebagaimana halnya parting, tenaga listrik batere kendaraan yang sedang dinaikkan atau diturunkan pelataran, dapat dimanfaatkan dalam keadaan darurat dengan pertolongan inverter, sebagai sumber tenaga listrik cadangan (emergency power supply).

Dengan peladangan cahaya matahari diubah menjadi listrik makin meluas dilakukan orang di muka bumi, begitu pula peladangan tenaga angin diubah menjadi listrik dimanamana, keduanya dapat digunakan oleh baparting, terutama untuk pemukiman yang belum mendapat layanan PLN. Tenaga listrik digunakan baparting untuk menggerakkan motor induksi rem yang terdapat dalam ruang atau kompartemen penggerak, menjalankan sistim listrik, sistim kendali termasuk monitor, pengolah data (data processing), dan penerangan dimalam hari.
Sebagaimana halnya parting, baparting juga memerlukan juga Pengatur Logika Terprogram (PLT) atau Programmable Logic Controller (PLC), bertugas sebagai antarmuka (interface) antara operator dengan sistim elektro-mekanik (electro-mechanical system) baparting, sehingga yang akhir ini dapat memahami perintah yang diberikan operator. Selain dari itu, masih ada pula sebilangan pemutus batas (limit switches), sejumlah saluran kendali (control wirings), dan tom-bol-tombol (push buttons) yang diperlukan perlu terdapat dalam KEB.

“Mem-parkir” kendaraan kedalam baparting, berarti memasukannya kedalam KPB yang terdapat pada salah satu sisi KEB sebuah ketinggian parkir. Untuk mem-parkir sebuah kendaran kedalam baparting diawali dengan mengemudikan kendaraan kedalam KEB, lalu menaikkannya keatas pelataran yang sudah menunggu. Pelataran dengan kendaraan diatasnya lalu dinaikkan ke ting-gian parkir tujuan, dan mobil didorong masuk ke salah satu KPB yang menempel pada KEB. Selesai.

“Men-deparkir” atau menurunkan sebuah kendaraan dari baparting, berarti mengosongkannya dari dalam salah satu KPB yang menempel pada salah satu sisi KEB. Untuk men-deparkir se-buah mobil dari baparting diawali dengan mendorong sebuah kendaraan dari KPB yang berada di salah satu sisi KEB sebuah ketinggian parkir keatas pelataran yang sudah menunggu. Pelata-ran berikut kendaraan lalu diturunkan ke permukaan bumi, dan dijemput si pemilik. Selesai.

Sebagaimana halnya parting, baparting juga menyiapkan dua alunan nada pada setiap pelataran yang sedang bekerja, sehingga orang yang berada disekitar akan sadar akan kegiatan yang sedang berlangsung, yakni: menaikkan kendaraan menuju suatu ketinggian parkir, atau sebaliknya menurunkan kendaraan dari suatu ketinggian parkir kembali ke permukaan bumi.

Baparting dirancang untuk tempat memparkir bertingkat kendaraan rooda empat waktu yang lama, mulai hitungan: jam, hari, minggu, bulan, pada berbagai tempat, seperti: stasion kereta, tempat perdagangan, pusat perkantoran, daerah pemukiman, dan lain sebagainya.

Kantor Pengelola
Pada puncak baparting tersedia ruangan untuk pengelola atau managemen baparting, terjabar ke-dalam: kantor, ruang istirahat, kamar makan, hiburan, dan lainnya, disiapkan untuk para petugas. Dengan demikian baparting dapat pelayanan parkir selama 24 jam setiap hari. Segala kebutuhan para petugas baparting, tidak terkecuali personalianya akan dinaikkan atau diturunkan oleh pelataran baparting.

SNI
Untuk menghadirkan parting dan baparting diperlukan keterlibatan Standard Nasional Indonesia (SNI). Dalam SNI terdapat sejumlah keterkaitan berbagai kepentingan, seperti: keamanan, kese-lamatan pengguna, keandalan alat, ekonomi, efisiensi, asuransi, dan sumber tenaga (energy) yang berurusan dengan keperluan masyarakat pemakai atau pengguna. Masih banyak aspek lain yang juga harus diperhatikan, antara lain: peraturan pemerintah, berbagai disiplin ilmu penetahuan dan teknologi yang digunakan untuk membuat berbagai bagian. Parting dan baparting dapat selu-ruhnya diproduksi dalam negeri dengan membutuhkan sedikit komponen import. Waktu pem-buatan sarana parker bertingkat: parting dan baparting untuk melayani kebutuhan masyarakat, ditaksir sekitar 6 sampai 12 bulan.

Catatan:
Parting dan baparting telah dipatenkan penulis di Kantor Paten Republik Indonesia Jakarta, dengan judul: ”Struktur Parkir Mobil Susun Bertingkat, tanggal 21 Nopember 2002.

——–selesai——–

Penulis:
H.M.Rusli Harahap
Pamulang Residence G1
Jalan Pamulang-2, Pondok Benda.
Kode Pos: 15416. Tangerang Selatan.
Tel. 021-74631125.

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.