Posted by: rusliharahap | June 20, 2016

BATAKOLOGI

Pendahuluan

Pada awalnya manusia menghuni muka bumi berdiam di: pulau, kepulauan, hingga benua. Mereka tergabung dalam beragam komunitas, seperti: keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa. Semua komunitas ini masih tercerai-berai dan saling berjauhan satu dari lainnya, karena penduduk bumi pun kala itu masih sangat sedikit jumlahnya belum seperti sekarang. Komunitas manusia yang terdapat di muka bumi, apapun ragamnya lalu bertetangga dengan alam sekitar yang menjadi lingkungan hidup masing-masing. Ada yang bernama kawasan tropis berhawa panas diseputar khatulistiwa, lainnya ialah kawasan subtropis lagi sejuk sampai dingin di belahan bumi bagian Utara dan belahan bumi bagian Selatan. Terdapat alam sekitar perairan, diawali: paya atau rawa, tambak, sungai, danau, laut, hingga dengan samudra.  Adapun lagi dataran rendah sangat luas bernama padang rumput dimana bermacam hewan mencari makan dengan bebas. Dari alam sekitar disebut belakangan, alam sekitar di muka bumi beralih menjadi dataran tinggi yang dilanjutkan kawasan pegunungan berudara sejuk beragam ketinggian diatas per-mukaan laut. Masih ada alam sekitar lain di muka bumi bernama padang pasir yang berhawa panas dan gersang lagi tandus sangat luas yang bersifat regional. Selain dari itu, ada pula kawasan muka bumi yang ditutupi salju yang luas, mulai dari bersifat musiman hingga de-ngan salju abadi. Yang akhir ini dijumpai pada belahan bumi bagian Utara yang bertetangga dengan kutub Utara, dan belahan bumi bagian Selatan yang bertetangga dengan kutub Selatan dari planit biru ini.

Yang menjadi pemandangan sehari-hari insan berdiam di bumi ketika itu, di bagian muka bumi manapun berdiam di bumi pada masa awal keberadaan di planit ini: pertama manusia yang menjadi warga komunitas masing-masing, dimulai keluarga hingga masyarakat tempat berdiam, baik komu-nitas yang masih kecil anggota hingga dengan yang sangat besar warganya; kedua: alam mengitari yang menjadi lingkungan hidup komunitas, seperti: padang rumput, hutan hingga rimba belantara; perairan, mulai dari rawa atau paya, kolam, tambak, sungai, danau, laut, hingga samudra. Ada alam sekitar berwujud: padang pasir, padang salju dari musiman hingga dengan salju abadi; juga terdapat alam sekitar campuran dari apa yang sudah disebutkan sebelumnya; ketiga: segala menampakkan diri di angkasa hingga dengan ketinggian langit, dimana: gugusan awan berarakan, matahari dan bulan timbul tenggelam, himpunan bintang gemerlapan bercahaya di malam hari, bintang berekor (komet) melintas, dan banyak lagi lainnya, yang tidak mungkin dirinci satu persatu; semuanya de-ngan setia menampakka diri di angkasa hingga ketinggian langit. Ketiga ragam “pemandangan” yang mengitari kehidupan insan di muka bumi pada masa itu, yakni: “manusia”, “alam sekitar”, dan “bermacam benda langit” menampakkan diri pada ketinggian; tidak diragukan lagi mengirimkan pesan kepada insan yang dialamatkan kepada “akal-budi” masing-masing, dimanapun berdiam dise-putar planit biru ini, mulai dari bumi bujur Barat hingga dengan  bumi bujur Timur, demikian pula dari bumi lintang Utara hingga dengan bumi lintang Selatan. Ketiga macam pemandangan lalu menorehkan pesan, kesan, yang membentuk citra terekam dalam kepada: Tondi (Batak), Hati-sanu-bari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman), dengan jumlah benturan (kuan-titas) dan mutu (kualitas) bervariasi dari: perorangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa yang berdiam di seantero planit bulat bagaikan bola, menelusuri perjalanan waktu ratusan ri-bu tahun menerobos zaman sampai dengan hari ini.

Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya, beragam komunitas berdiam di muka bumi, mulai: perorangan, keluarga, masyarakat, suku bangsa, dan bangsa, masih sedikit bilangannnya, maklum manusia yang mendiami muka bumi masih sedikit kala itu. Pada ketika Nabi Muhammad SAW me-nerima Surah Al-Alaq dalami Gua Hiraq yang dibawakan oleh malaikan Jibril tahun 610 Masehi silam, penduduk bumi ditaksir berjumlah sekitar 200.000.000 orang semuanya. Dengan bumi ber-bentuk bola dengan garis-tengah rata-rata: 12.740 km yang baru diketahui orang belakangan ratusan tahun kemudian, luas permukaannya: 510 juta km2. Sebagian besar permukaan bumi ini (70%) berupa air, dan hanya sebagian kecil (30%) berupa daratan. Dengan demikian kepadatan pendu-duknya pada masa itu barulah: 1,3 orang per km2. Itulah sebabnya mengapa jauh sebelum Ra-sulullah menerima berbagai Surah yang menjadikan kitab Suci Al-Quran umat Islam, insan ber-diam di muka bumi jumlahnya jauh lebih sedikit lagi, dan keberadaan masing-masing sangat ber-jauhan satu sama lain.

Selain dari itu, tiap komunitas mulai kecil bernama keluarga hingga besar dinamakan bangsa, di-pagari pula oleh jarak tempuh berjalan-kaki yang lama dan sangat melahkan untuk berjumpa de-ngan warga atau anggota komunitas lainnya. Hal ini disebabkan oleh kenyataan, bahwa “revolusi industri” belum muncul di daratan di Eropa, dan belum lagi terdapat jalan-raya (prasarana) dan ken-daraan (sarana) dijalankan “motor bakar” dengan bahan bakar “bensin” dan “mesin diesel” berbahan bakar “solar” dimana-mana diseluruh penjuru dunia ini yang memudahkan orang beper-gian ke tempat yang jauh seperti sekarang ini. Grafik dibawah ini memperlihatkan pertumbuhan “penduduk bumi” dalam Bilyun orang, menelusuri perjalanan waktu dua ribu tahun, yang berhasil dikerjakan Google untuk diketahui semua orang segala kepercayaan berdiam di muka bumi.

penduduk

Courtesy of Google

Perlu diketahui, orang yang ingin bepergian ke tempat jauh ketika itu, baik sendiri maupun beramai-ramai harus berjalan kaki puluhan hingga ratusan kilometer jaraknya. Medan ditempuh antara lain berulang kali harus keluar masuk hutan hingga rimba belantara di Nusantara, menelusuri jalan setapak antara kampung yang biasa dilewati penduduk setempat. Muka jalan dilalui tidak selalu datar, ada kalanya terpaksa menuruni lembah terjal dan merangkak menuruni tebing untuk tiba ke tepi anak-sungai atau sungai yang perlu diseberangi, dan setelah menyeberang, kembali merangkak mendaki tebing terjal seberang untuk sampai di permukaan jalan rata. Perjalanan masih harus dilan-jutkan meniti galangan sawah, menembus semak belukar, bertemu jalan tanah berair lagi berpasir penuh batuan, yang menjadi tantangan lain. Tidak jarang berjalan kaki berhari lamanya disertai me-nginap di berbagai kampung orang yang perlu dilalui. Perjalanan darat ketika itu memang menguras  tenaga badani dan tidak terkecuali waktu yang tidak sedikit dihabiskan untuk sampai ke tujuan. Apabila perjalanan yang sama dilakukan dengan kendaraan bermotor roda: dua, tiga, atau empat, dan diatas jalan-raya mulus sebagaimana sekarang ini setelah revolusi industri muncul di Eropa silam, waktu perjalanan dihabiskan menjadi jauh lebih singkat, dan tidak melelahkan badan, karena dibantu jalan-baja atau jalan-raya dengan sarana transportasi berteknologi sudah maju.

Pandangan Tiga Sekawan

Ketiga ragam “pemandangan” yang dijumpai oleh setiap komunitas, mulai: perorangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa, mengelilingi masing-masing dimana-mana di muka bumi se-luruh dunia saat itu: “manusia”, “alam sekitar melingkungi”, dan “beragam benda-langit yang me-nampakkan diri mulai angkasa sampai ketinggian langit, menemani keseharian hidup insan saat awal keberadaan bermukim di muka bumi. Ketiga macam pemandangan menjelma menjadi: “pe-mandangan yang tiga”, atau “tiga serangkai pemandangan”, atau “tiga-sekawan pemandangan” pe-ngetuk “akal-budi” (brain-heart) yang diperlukan insan untuk “berfikir” dan “bekerjasama” menja-lani hidup Alam Fana di muka bumi. Ketiganya lalu membidani lahirnya pengetahuan, yang dalam perjalanan waktu muncul jadi ilmu (science) tentang: manusia, alam sekitar melingkungi, dan ber-macam benda-langit yang menampakkan diri mulai angkasa sampai ketinggian langit. Ketiga “pemandangan” dengan setia mengawal insan dari siang sampai malam: berhari, berminggu, ber-bulan, bertahun, berabad, bermillenia, dan beratus millenia, berkembang dalam benak manusia  menjadi: Tiga Sekawan Pandangan, disingkat TSP, penggugah “akal” dan pengetuk “budi” insan, atau penggugah-ketuk “akal-budi” insan yang tidak pernah istirahat berkegiatan. Dengan melola kecerdasan berfikir (motivation), dan menuangkan gagasan (inspirasi) kedalam benak (otak), mulai: perorangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa, menyebabkan manusia terdorong  “bertindak atau berbuat sesuatu” (to do something). Lewat pengolahan “akal-budi” (brain-heart) “karunia Ilahi” bersemayam dalam “hati-sanubari insan”: “akal” (brain) bertugas memecahkan persoalan dan tantangan betapapun peliknya, “budi” (heart) menghimpun manusia guna menggan-dakan kemampuan lewat kebersamaan, dari: perorangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa demi memperkasakan akal. Dengan demikian, aneka ragam permasalahan sehari-hari yang dihadapi di Alam Fana bermukim di muka bumi, mulai kecil lagi sederhana hingga yang besar dan rumit setra muskil dapat dipecahkan secara bersama.

Dengan bumi berbentuk bola bergaris-tengah rata-rata: 12.742 km, maka luas permukaannya: 510 juta km2. Sebagian besar muka bumi berupa perairan (70%), dan hanya bagian kecil (30%) daratan. Dengan jumlah manusia berdiam di muka bumi dalam hitungan puluh hingga ratus juta orang menjelang “revolusi industri” di Eropa silam, kepadatan penduduk di muka bumi ketika itu masih termasuk rendah, sehingga komunitas manusia bermukim di muka bumi saling berjauhan satu sama lain. Dalam keterpisahan hidup di bumi silam, insan dipagari pula jarak tempuh berjalan kaki lama lagi melelahkan, maka manusia yang dibekali Tuhan dengan: Tondi (Jiwa, Ruh, Soul, Seele), Akal-budi, dan Jasmani, menjadi sadar keadaan masing-masing, lalu melangsungkan: 1. diskusi antara sesama warga setiap komunitas, seperti: keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa; 2. menja-lin komunikasi dengan alam sekitar melingkungi: padang rumput, rimba sampai hutan belantara; paya atau rawa, sungai, laut, hingga samudra; juga padang pasir, gurun, padang salju mulai mu-siman hingga salju abadi; 3. mendengarkan bisikan semilir angin, amukan badai, hempasan ombak sampai gelombang, angkara murka gemuruh hingga dentuman petir, sayatan cahaya kilat sambar menyambar, getaran gempa mengguncang bumi, letusan gunung api, dan banyak lagi yang harus diketahui insan berakal-budi, mulai dari hidup sendiri hingga tergabung dalam komunitas; 4. tidak juga lupa juga insan berdialog dengan semua yang menampakkan diri di angkasa sampai ketinggian langit dari siang sampai malam, seperti: arakan awan berwarna warni, matahari dan bulan yang tim-bul tenggelam, bintang gemerlapan di langit pada malam hari, dan masih banyak lagi lainnya yang terlihat setiap hari  hingga dengan mncul berkala.

Andaikata manusia dapat bermukim di permukaan setiap planit yang terdapat dalam “sistim mata-hari” selain bumi, tampaknya tiga-sekawan penggerak akal-budi insani diutarakan diatas tidak akan berubah, meski sudah tentu perbedaan akan timbul pada alam sekitar di permukaan setiap  pla-nit yang sedang dihuni. Walaupun demikian perlu dimengerti, bahwa sejumlah planit yang terdapat dalam “sistim matahari” lebih besar ukurannya ketimbang bumi. Ini berarti “massanya” jauh lebih besar dari bumi, sehingga medan gravitasi yang ada dipermukaannya dapat menyebabkan orang tidak dapat berdiri disana. Bulan yang telah berulangkali disinggahi oleh astronaut Apollo dari Amerika Serikat, lebih kecil dari bumi. Gaaris tengahnya 3.474 km, hampir 1/4 dari garis tengah bumi tepatnya 27,3% garis tengah bumi. Bulan ternyata memiliki medan gravitasi 1/6 dari medan gravitasi bumi tepatnya 16,54 %, sehingga orang dapat melompat enam kali lebih tinggi dari yang dapat dilakukannya di muka bumi.

Tampaknya, apabila manusia dapat berdiam permukaan planit mana saja yang ada dalam sebuah “sistim bintang” tergabung kedalam Galaksi mana saja yang ada dalam Alam Semesta yang maha besar dan sangat luas ini, tiga-sekawan penggerak akal-budi insani yang telah diutarakan diatas ti-dak akan banyak berbeda. Perbedaan hanya akan terdapat pada alam sekitar masing-masing planit yang didiami orang. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa “tiga-sekawan” penggerak akal-bu-di insan yang telah diutarakan diatas bersifat “alamsemesta” (universal), artinya akan selalu ditemui manusia dimana saja ia berdiam di seantero Alam Semesta yang maha besar lagi sangat lu-as ini.

Mitologi

Setelah berlalu masa dalam hitungan ratus ribu tahun, “akal-budi” insani berbagai komunitas ber-diam di muka bumi yang keberadaannya tercerai-berai, dipagari lagi jarak tempuh berjalan-kaki  la-ma dan melelahkan untuk bersua dengan salah satu komunitas lain, diawali: 1. dialog antar warga  setiap komunitas, lalu: 2. hasil dialog komunitas dengan alam sekitar tempat berdiam, dan: 3. Hasil komunikasi komunitas dengan segala yang menam-pakkan diri di angkasa sampai ketinggian langit; maka perolehan 1, 2, 3, dipelajari dengan saksama, lalu didalami baik-baik oleh setiap komunitas berangkat dari pengetahuan yang ada pada mereka masing-masing, lahirlah  dalam setiap komunitas apa yang dikenal dengan: ceritra lama, atau hikayat purba, masing-masing komunitas berdiam di muka bumi. Perjalanan waktu panjang berada di muka bumi mengantarkan perolehan budaya ini menjadi “ceritra rakyat”, kesepakatan diterima bersama, mulai: keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa, menjadi: hikayat, sejarah, kepercayaan, kesakralan, keimanan, dan lainnya kesepakatan bersama, milik bersama pula. Ceritra rakyat demikian dalam bahasa Yunani dinamakan: “mythos”, melahirkan: “myth”, dalam bahasa Inggris dan: “mitos”. dalam bahasa Indonesia. Adapun bahan (materi), mulai hikayat, ajaran, pengetahuan, kepercayaan hingga keyakinan terkandung dalam ceri-tra rakyat, mulai disampaikan dari mulut ke mulut, begitu juga lewat ceramah, tidak terkecuali yang tertulis dalam beragam aksara, dalam bahasa Yunani disebut: “logos”. Lahir dengan demikian: “logy” dalam bahasa Inggris, dan: “logi” dalam bahasa Indonesia. Selanjutnya kata “mithology”, gabu-ngan dari “myth” dengan “logy” dalam bahasa Inggris, dan “mitologi” gabungan “mitos” dan “logi” dalam bahasa Indonesia. Mitologi lalu berkembang menjadi: ilmu atau pengetahuan (science) yang mempelajari aneka ragam ceritra rakyat yang ada di muka bumi, datang dari bermacam latar belakang budaya hingga kepercayaan dan agama yang ada di muka bumi sejak awal kehadiran manusia silam. Mitologi menjadi khazanah atau lumbung peradaban bermuatan: adat-istiadat, ke-percayaan, agama yang dihasilkan sesuatu komunitas, mulai dari ceritra rakyar jenaka hingga dengan upacara sakral (suci) suatu kepercayaan, dan agama. Bentuknya dapat bercorak: legenda, fabel, nasihat, ramalan, petuah, dan banyak lagi lainnya hingga beragam kitab-suci yang berhasil di-himpun manusia dengan berdiam di muka bumi. Mitologi juga mencakup tentang bermacam nilai, seperti: kebaikan prilaku, penolakan pada yang buruk; tertib hidup dalam kelompok diawali: kelu-arga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa, demi menjaga tertib sosial. Mitologi juga tentang ikh-wal manusia itu sendiri, seperti hidup dan kematian, keabadian Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) setelah mati, tentang Tuhan dan keesa-anNya, dan masih banyak lagi lainnya. Ada pula yang berupa: nasihat, perumpamaan, pantun, dan petuah yang diciptakan beragam komunitas, seperti: keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa yang tidak pernah sama disebabkan kehidupan insan yang terpencar selama ini, dipagari pula jarak berjalan kaki lama yang melelahkan ribuan km jaraknya, oleh belum adanya sarana dan prasarana transportasi tidak terkecuali peralatan telekomunikasi di waktu yang silam.

Tak terbilang banyak mitos mengemuka lahir dari komunitas, mulai keluarga hingga bangsa berdi-am di beragam tempat muka bumi, meski tidak muncul seketika. Beragam hikayat dan ceritra rak-yat berkembang, dan dalam rentang waktu panjang mengemuka dalam tiap komunitas, walau belum tentu sejarah, tetapi tidak diragukan adalah sebuah perolehan budaya, mengisahkan jalan hidup ko-munitas mulai perorangan hingga bangsa, tidak terkecuali oleh tokoh sentral yang mem-perlihatkan kepahlawanan kepada komunitas sampai bangsa masing-masing. Selain tentang orang, mitos juga berceritra tentang kepercayaan, peristiwa, nilai, dan sejumlah hal sakral, dan lain yang penting da-lam komunitas hingga bangsa, antara lain bagaimana mereka sampai tiba ke suatu tempat ke-beradaan dimuka bumi ini, kemana mereka kelak akan menuju setelah hidup yang sementara ini berakhir, dan apa yang harus diperbuat atau kerjakan selama hidup serentang hayat ini, dan banyak lagi lainnya. Di Indonesia mitologi umumnya memuat kisah awal keberadaan dunia, juga ceritra tentang dewa dan dewi serta makhluk supranatural, juga tidak terkecuali kisah tentang asal mula da-ri sesuatunya.

Berbagai mitologi telah tampil di muka bumi dibidani oleh tak begitu banyak komunitas yang  telah berdiam di muka bumi bertukar generasi sejak dari awal keberadaan insan di muka bumi ini, dimulai: keluarga, masyarakat, suku-banga, dan bangsa, dari masa yang silam. Dipagari oleh jarak tempuh berjalan kaki lama lagi melelahkan sepanjang sekitar dua ratus ribu tahun, mereka saling terpencar satu sama lain, sampai dengan timbulnya “revolusi industri” di Eropa silam, yang mem-perkenalkan bermacam moda angkutan: angkutan darat, angkutan air, angkutan udara, angkutan antariksa, dan “revolusi elektronika” memperkenalkan perangkat telekomunikasi bernama: gadget (gawai), membuat dunia menjadi terbuka lebar. Kini mitologi bermuatan: ceritra rakyat, ajaran lelu-hur, kepercayaan bangsa, agama bumi, dan agama langit, dari tak terhitung banyak komunitas yang ada di seluruh penjuru dunia, telah menjadi harta kekayaan “hati-sanubari insani”: budaya, berma-cam nilai sakral, dan keiman agama, menjadi pengetahuan milik orang banyak. Kekayaan hati-sa-nubari ini menjadi “perbendaharaan bukan-material” (immaterial things) milik umat sedunia peng-gerak “akal-budi” manusia, lawan dari “perbendaharaan material” (materal things) pengisi “ruang alam sekitar” yang mengelilingi insani di muka bumi. Dibawah ini adalah berbagai tempat asal  per-bendaharaan bukan-material yang dikelompokkan kedalam kawasan tempat asal dari bermacam mi-tologi yang kini terdapat di muka bumi, sebagai berikut:

I. Mitologi Dunia

  1. Kawasan Asia
  2. Asia Barat Daya
  3. Zaman Purba

        – agama Sumeria

        – mitologi Mesopotamia (Sumeria, Assiro-Babylonia)

        – mitologi Iran

        – mitologi Semitik:

                 – Babylonia

                 – Arab

                 – Canaan

        – mitologi hittit

        – mitologi Hurrian

        – mitologi Scythian

        – mitologi Elamite

  1. Zaman Pertengahan hingga Modern

        – mitologi Armenia

        – mitologi Arabia

        – mitologi Iran:

                – Balochi

                – Ossetia

                – Kurdish

                – Persia

         – mitologi Islam.

  1. Asia Selatan

         – mitology Ayyavazhi

         – mitologi Hindu

         – mitologi Tamil

         – mitologi Buddhist.

  1. Asia Timur

         – mitologi China

         – mitologi Jepang

         – mitologi Korea

         – mitologi Tibet

         – mitologi Ryukyuan

         – mitologi Ainu.

  1. Asia Tenggara

         – mithologi Filipina

         – mitologi Melayu

         – mitologi Indonesia:

                 – Batak

                 – Miangkabau

                 – Nias

                 – Melayu

                 – Dayak

                 – Toraja

                 – Asmat

                 – Sunda

                 – Jawa

                 – Papua

         – mitologi Vietnam.

  1. Asia Tengah dan Utara

         –  ajaran Shamanisme dari Siberia

         –  mitologi rakyat Turki dan Mongolia

         – mitology Scythian

         – mitologi Mongolia

         – mitologi Finnik

  1. Kawasan Afrika
  2. Afrika Tengah

         – Bantu

         – Bushomgo, Congo

         – Baluba

         – Bambuti (Pygmy), Congo

         – Lugbara, Congo.

  1. Afrika Timur

         – mitologi Akamba (Kenya Timur)

         – mitologi Dinka (Sudan)

         – mitologi Lotuko (Sudan)

         – Masai (Kenya, Tanzania)

         – mitologi: Kintu, Kaikuzi, Warumbe, dan lainnya (Uganda).

  1. Tanduk Afrika

          – mitologi Somalia.

  1. Afrika Utara

          – mitologi Berber

          – mitologi Mesir (sebelum Islam).

  1. Afrika Barat

          – mitologi Akan

          – mitologi Ashanti (Ghana)

          – mitologi Dahomey (Fon)

          – mitologi Edo (Nigeria, Kameron)

          – mitologi Efik

          – mitologi Igbo (Nigeria, Kameron)

          – mitologi Isoko (Nigeria)

          – mitologi Yoruba (Nigeria, Benin).

  1. Afrika Selatan

          – mitologi Khoikhoi

          – mitologi Lozi (Zambia)

          – mitologi Magalasi

          – mitologi Tumbuka (Malawi)

          – mitologi Zulu (Afrika Selatan).

  1. Kawasan Australia dan Oseania

          – mitologi Aborigin Australia

          – mitologi penciptaan Kaluli

          – mitologi Melanesia

          – mitologi Mikronesia

          – mitologi Papua

          – mitologi Polinesia:

                 – Hawaii

                 – Mangarevan

                 – Māori

                 – Rapa Nui

                 – Samoa

                 – Tahiti

                 – Tongga

                 – Tuvaluan

  1. Kawasan Kutub Utara

      Ajaran Shamanisme dari Siberia tumpang tindih dengan Asia Utara, Eropa Utara, dan

      Amerika Utara:

          – mitologi Finlandia

          – mitologi Inuit

          – mitologi Norse

          – mitologi Sami.

  1. Kawasan Eropa

     Zaman Purba:

          – mitologi Yunani

  • mitologi Romawi
  • mitologi Etruskan
  • mitologi Paleo-Balkan
  • mitologi Lusitania
  1. Eropa Utara

          – mitologi Germania:

                 – Paganisme (percaya kepada banyak Tuhan)

                 – Norse

                 – Anglo-saxon

          – mitologi Finnik

                 – Estonia

                 – Finlandia

                 – Sami

         – mitologi Slavia:

                 – Polandia

          – mitologo Baltik:

                 – Latvia

                 – Lituania

                 – Prusia

  1. Eropa Timur

          – mitologi Hongaria

          – mitologi Roma (Gypsy)

          – mitologi Slavia

          – mitologi Romania

          – mitologi Tatar

  1. Eropa Selatan

          – mitologi Albania

          – mitologi Catalonia

          – mitologi Yunani

          – mitologi Italia

          – mitologi Lusitania

          – mitologi Maltes

          – mitologi Spanyol

          – mitologi Turki

  1. Eropa Barat

          – mitologi Alpen

          – mitologi Basque

          – mitologi Frankish

          – mitologi Perancis

  1. Kaukasia Utara

          – mitologi Nart Saga (meliputi: Abazin, Abkhaz, Circasian, Occetia, Kharachay-Balkar,

            Chechen-Ingusetia).

          – mitologi Osetia

          – mitologi Vainakh (meliputi Chechen dan Ingusetia).

          – mitologi Adyghe Habze.

  1. Kaukasia Selatan/Transkaukasia

          – mitologi Armenia

          – mitologi Georgia

  1. Kepulauan Inggris

          – mitologi Celtik

          – mitologi Irlandia

          – mitologi Skotlandia

          – mitologi Welsh

  1. Kawasan Amerika
  2. Mesoamerika

          – mitologi Aztek

          – mitologi Maya

          – mitologi Olmek

  1. Karibia

          – mitologi Haiti

  1. Amerika Selatan

          – mitologi Chilota

          – mitologi Brazilia

          – mitologi Inka

          – mitologi Guarani

          – mitologi Mapuche

  1. Diaspora Afrika

         Kepercayaan dan agama orang-orang diaspora Afrika:

          – Hoodoo

          – Vodou

          – Santeria

          – Obeah

          – Kumina

          – Palo

          – Kandomble

          – Umbanda

          – Quimbanda

II. Ajaran Para Leluhur

Sebahagian dari mitologi warisan leluhur berbagai bangsa dari masa silam, dalam perjalanan waktu lalu berkembang menjadi kepercayaan yang berasal dari para leluhur.

  1. Mitologi Romawi
  2. Mitologi Mesir
  3. Mtologi Yunani
  4. Mitologi Jepang
  5. Mitologi Mayan
  6. Mitologi Mesopotamia
  7. Mitologi Zoroaster
  8. Mitologi Batak ←
  9. …..
  10. …..

        Dan masih ada lainnya.

III. Agama Bumi

Dalam hal agama bumi, “mitologi” datang dari ajaran orang-orang suci yang terkenal dan pernah berdiam di muka bumi diwaktu yang silam. Dinamakan agama bumi, karena fikiran cerdas dan bijak ini datang dari seorang atau lebih cendekia yang pernah ada dan hidup di muka bumi yang menjadi teladan dan berkarya sepanjang hayat hidup di muka bumi. Ajaran mereka diamalkan para pengikutnya dengan rajin dan setia, lalu berkembang menjadi kepercayaan nyata dalam kehidupan masyarakat ribuan tahun lamanya, lalu menjelma menjadi agama bumi.

  1. Agama Hindu
  2. Agama Buddha
  3. Agama Khonghucu
  4. Agama Shinto
  5. Masih banyak lainnya.
  6. Agama Samawi.

IV. Agama Samawi

Dalam hal ini, “mitologi” diajarkan diyakini oleh para penganutnya sebagai firman Tuhan yang datang dari langit untuk sesuatu umat yang berdiam di muka bumi. Mitologi yang terhimpun kedakan Kitab Suci bermuatan bermacam Surah terinci dalam beragam ayat didatangkan Tuhan diantarkan oleh seorang Rasul atau Nabi yang diutus dari langit. Dinamakan “agama samawi” karena perkataan Tuhan yang terhimpun dalam Kitab Suci berasal dari langit, itu alasannya mengapa disebut “agama langit”. Dengan demikian Kitab Suci itu ialah perkataan Tuhan yang dikirim dari langit dan disampaikan oleh seorang utusan (messenger) kepada manusia yang hidup di muka bumi.

Dari sekian banyak utusan Tuhan yang telah datang sampai kini diketahui orang, ialah tiga mitologi agama paling akhir disampaikan bawah ini:

  1. Nabi Musa AS di utus ke muka bumi 1400 tahun sebelum tarikh Masehi, diutus Tuhan

        menyampaika Kitab Taurat kepada umat Yahudi.

  1. Nabi Isa AS diutus pada awal tarikh Masehi, diutus Tuhan menyampaikan Kitab Injil kepada

        umat Nasrani.

  1. Nabi Muhammad SAW tahun 610 Masehi, diutus Tuhan menyampaikan Kitab Al-Quran kepa-

        da umat Islam.

Banua Tiga Sekawan

Salah satu komunitas manusia berdiam di muka bumi silam, diwakili cendekiawan bermukim di Su-matera Utara, tepatnya di bumi Tapanuli, ialah suku-bangsa Batak. Sebagaimana komunitas manu-sia lain, orang Batak juga menemukan BTS penggugah “akal” dan pengetuk “budi” manusia yang telah diutarakan sebelumnya, namun “Ompu Simulajadi orang Batak pertama diketahui berdiam di Tanah Batak silam, tampil dengan pandangan bahwa “Alam Semesta” yang maha besar lagi sangat luas ini, tidak lain dari apa yang dinamakan “Banua na Tolu Sadongan” (Banua yang Tiga Seka-wan), disingkat BTS, masing-masing terdiri dari: “Banua Ginjang” (Alam Atas), “Banua-Tonga” (Alam Tengah), dan “Banua Toru” (Alam Bawah); ketiganya lalu, menurut pemahaman “manusia pertama suku-bangsa Batak ini”, tersusun rapi dari atas kebawah bagaikan kue lapis yang sangat besar tergolek diatas sebuah talam yang amat luas. Banua artinya “Ruang Alam”, tiga buah bila-ngannya semua, dan menjadikan Alam Semesta ini.

Kata “simulajadi” memang bahasa Batak, akan tetapi bukan asli berasal dari Tanah Batak. Di se-menanjung Tanah Melayu silam, kata itu telah dikenal orang dengan: “semulajadi”. Meski telah menjadi bahasa Melayu, akan tetapi bukan asli berasal dari Tanah Melayu. Menurut penulis sejarah di Semenanjung Malaya, kata itu sudah dikenal orang lama di anak benua India, lalu dibawa  pen-deta Hindu ke Tanah Melayu; dan dari tempat akhir ini dibawa rohaniawan Hindu lagi ke Tanah Batak, ketika mereka membangun kompleks peribadatan bentuk “Candi’ di desa Bahal, Portibi; kini termasuk dalam Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas, Tapanuli Selatan. Para ro-haniawan Hindu dahulu rupanya masuk ke Tanah Batak lewat selat Malaka lalu dari Labuhan Bilik di muara sungai Barumun melayari sungai itu hingga di Portibi. Banyak perkataan dalam bahasa Batak berasal dari bahasa Sansekerta yang dibawa ke Tanah Batak oleh kaum rohaniawan, dan yang juga banyak digunakan ialah: “Debata” datang dari kata “Dewata” yang artinya Dewa. Orang-orang Hindu telah mendirikan sejumlah Kerajaan di sejumlah negara Asia Tenggara pada masa  menjelang masuknya tarikh Masehi.

Adapun yang dinamakan Banua Ginjang ialah tempat berada diatas yang benderang, berlatar biru la-ngit bermandikan cahaya, dimana Debata yang mengatur segalanya bersemayam. Juga tempat asal dari segala yang bernyawa. Sedangkan Banua Tonga, ialah tempat yang terdapat di muka bumi, dimana mengalir dalam jasad semua yang bernyawa untuk serentang hayat. Adapun Banua Toru, ialah tempat gelap gulita di dalam perut bumi, kemana segala yang bernyawa akan menuju setelah Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) berpisah dari badan.

Demikian dijelaskan Ompu Simulajadi tentang Alam Semesta maha besar ini pada awalnya. Agar  mudah diingat, lalu dinyatakan kedalam “Warna Sekawan Batak”, disingkat WSB, masing-masing: “Putih”, untuk Banua Ginjang yang benderang, “merah” untuk Banua Tonga dimana mengalir da-rah dalam tubuh yang bernyawa, dan “hitam”, untuk Banua Toru yang gelap gulita, tempat tujuan segala tubuh setelah Tondi bercerai dari badan. Kawanan warna kemudian digunakan untuk meng-hiasi bermacam hasil kerajinan suku-bangsa Batak, antara lain: kain tenunan Batak yang bernama “ulos” (selimut), pakaian dan perlengkapan Adat Batak, aneka ragam hiasan (ornamen), dan lain se-bagainya supaya tidak terlupakan. Berbagai macam denda kerajinan diperlukan untuk melangsung-kan acara dan upacara dalam adat Batak, mulai yang bersifat keagamaan dan sakral sifatnya, hingga dengan yang biasa untuk perkawinan dan beragam perayaan. Bangunan rumah kediaman suku-bangsa Batak selain memperlihatkan keunikan bentuk, juga dilengkapi WSB, yang menjadi bagian penting dari seni ukir dari arsitektur Batak.

Bendera Batak menggambarkan warisan pandangan Alam Semesta dari Ompu Simulajadi pernah berdiam Tanah Batak silam, dan tidak lain dari arna Sekawan Batak (WSB) yang telah diterangkan sebelumnya masing-masing berurutan dari atas kebawah: putih, merah, dan hitam.

bendera-batak

Bendera Batak

Masyarakat Batak

Setelah menempuh perjalanan waktu panjang, suku-bangsa Batak lalu dengan istilah yang dikenal dengan sebutan: “marga”. Marga tidak lain dari nama awal dalam suatu kekerabatan suku-bsngsa Batak yang menganut sistim “patrilenial” (kebapaan) datang dari seorang leluhur pemersatu yang pernah berdiam di Bonabulu (Tanah Batak) silam. Nama marga itu, tidak lain dari nama “orang per-tama” dari marga disebutkan. Muncul dengan demikian  beragam nama marga, seperti: Harahap, Siregar, Lubis, Batubara, Nasution, Panjaitan, Simatupang, dan lain sebagainya. Nama marga lalu digunakan terus oleh keturunannya “mendampingi” nama diri, guna mengetahui darimana asal sese-orang yang berdiam di Bonabulu silam. Maka orang yang bernama: Abdul Hamid Harahap, ialah seorang bernama: Abdul Hamid, keturunan generasi sekian dari pendahulu atau leluhur pemersatu bernama Harahap berdiam di Tanah Batak silam. Sebagai pembanding dapat diketengah-kan cara orang Arab yang bernama: Abu. Untuk menghubungkan orang bernama Abu dengan leluhurnya silam, budaya Timur Tengah menyuratkan sebagai berikut: Abu bin Saad, bin Taslim, bin Daud, bin Siddiq, bin Maqruf, bin Talal, dan seterusnya. Untuk menjelaskan siapa sebenarnya orang yang ber-nama: Abdul Hamid keturunan marga Harahap itu, suku-bangsa Batak lalu menyiapkan yang dina-makan “tarombo” (silsilah) awalnya tersurat diatas kulit kayu dalam aksara Batak sebagai catatan. Akan tetapi orang Arab tidak memerlukan tarombo, karena semua nama hingga dengan leluhur di-maksud telah tercantum dalam garis keturunan keluarga yang sudah jelas terbaca.

Dalihan Na Tolu

Masyarakat Batak bergaris keturunan patrilenial, artinya laki-laki merupakan suhut bolon (kepala keluarga), dan menurut adat Batak berhak menurunkan nama marga kepada anak-anaknya. Seba-liknya masyarakat Minang bersilsilah “matrilenial” (keibuan), karena sejalan adat Minang wa-nitalah yang menu-runkan nama marga kepada anak-anaknya, meski dilakukan oleh saudara laki-lakinya. Dalam masyarakat Batak “pertama” dikenal istilah: “kahanggi”, yakni himpunan keluarga Batak bermarga sama yang terdiri dari bermacam generasi. Seorang dikatakan bermarga Harahap di Bonabulu atau perantauan, karena yang bersangkutan masih keturunan marga Harahap yang dahulu pernah berdiam di Tanah Batak. Selain dari itu “kedua”, ada lagi yang dinamakan: “anakboru”, yakni himpunan dari suku-bangsa Batak bermacam marga, antara lain: Pane, Lubis, Rambe, Sor-min, dan lainnya yang mempersunting “gadis” marga Harahap menjadi ibu di berbagai kampung mereka guna menambah bilangan. Kemudian yang “ketiga” ada pula yang dinamakan: “mora”, yak-ni himpunan dari suku-bangsa Batak bermacam marga, seperti: Siregar, Pohan, Nasution, Rambe, dan lainnya yang mendatangkan ibu kepada marga Harahap di berbagai kampung mereka untuk menambah bilangan. Dengan demikian terbentuklah “sekawan marga” dinamakan: “anakboru”, ter-diri dari: Pane, Lubis, Rambe, Sormin, dan lainnya menjadi “anak-boru” dari Marga Harahap di Bo-nabulu silam, lalu meluas ke perantauan. Adapun “sekawan marga” lain  terdiri dari: Siregar, Po-han, Nasution, Parinduri, dan lainnya dinamakan: “mora” dari Marga Harahap di Bonabulu silam, juga lalu meluas ke perantauan.

Ketiganya, masing-masing: “kahanggi” marga Harahap dengan “sekawan marga anakboru” dan   “sekawan marga mora”, membentuk apa yang kemudian dinamakan: “Sekawan Masyarakat Batak”, disingkat SMB, dikenal dengan nama: “keluarga besar”, dan dalam adat Batak disebut: “Dalihan Na Tolu”, disingkat DNT, artinya: “Tungku Yang Tiga”, disingkat TYT, terdapat dalam masyarakat dari suku-bangsa Batak di Bonabulu silam, yang dibidani perkawinan antar marga yang bersifat sa-kral. Gabungan dari ketiganya mengingatkan suku-bangsa Batak kembali kepada mitos BTS pan-dangan Ompu Simulajadin akan Alam Semesta dari silam, dan menegaskan pula bahwa: kehidu-pan masyarakat juga membutuhkan adanya ketiga unsur sebagaimana telah diterangkan diatas.

Selain dari itu dahulu, ketika orang baru mengenal api, nyala api didapur menjadi tempat orang ber-kumpul membicarakan dalam suatu komunitas. Agar dapat bertanak diatas api, diperlukan tiga batu sebagai tungku tempat meletakkan periuk. Dua batu kurang, empat batu terlalu banyak, hanya tiga batu yang tepat bilangannya. Dari sini lahir sudut pandangan lain yang dikenal dengan istilah: “Tungku Yang Tiga”, disingkat TYT. Dan ini mengisyaratkan akan perlu adanya “keluarga besar” dalam masyarakat suku-bangsa Batak terdiri dari: “kahanggi”, “anak-boru”, dan “mora”, agar kehi-dupan di Banua-Tonga atau Alam Fana, dapat berlangsung baik dan hamonis.

Perkawinan

Dalam masyarakat Batak di bonabulu, adat telah menetapkan berlaku perkawinan keluar marga, atau eksogami. Naposo bulung (anak laki-laki) kahanggi boleh dipaebat (dinikahkan) dengan nauli bujing (anak gadis) moranyabegitu juga naposo bulung anakboru boleh dipaebat dengan nauli bu-jing kahanggi; akan tetapi tidak untuk sebaliknya. Inilah yang disebut adat perkawinan tidak-sime-tris (asimetric marriage). Hal ini dilaksanakan guna menghindarkan nauli bujing anakboru dipaebat oleh naposo bulung kahanggi, demikian pula nauli bujing kahanggi dipaebat oleh naposo bulung mora, karena akan menimbulkan rompak tutur (rusaknya pertuturan) dan menyalahi adat di Bona-bulu. Dalam A-dat Batak di kampung silam telah berlaku serangkaian kaidah yang berlaku dalam keluarga besar SMB, yakni: somba marmora (hormat kepada mora), manat markahamaranggi (pandai bergaul bersaudara), dan elek maranak-boru (membujuk anakboru) yang telah ditetapkan dalam pertuturan menurut Adat Batak.

Tutur tidak lain dari kaidah bertegursapa yang digariskan dalam Adat Batak digunakan dalam kelu-arga besar DNT, yakni ragam tutur (sapa) digunakan antara mereka berlainan generasi; oleh mereka yang lebih tua kepada yang lebih muda, atau sebaliknya dalam garis vertikal, begitu juga ragam tutur diantara mereka yang masih satu generasi berbeda kedudukan dalam aturan Adat Batak, seperti: kahanggi, anakboru, dan mora dalam garis horizontal; tidak terkecuali arah bertegursapa. Tutur menjadi hapantunan (sopan santun) dalam pergaulan hidup sehar-hari masyarakat Batak, terlebih dalam kehidupan sehari-hari kekerabatan DNT yang dihormati, amat diperhatikan pelaksa-naannya dalam kehihidupan. Kesalahan menyebutkan tutur terhadap seseorang dalam masyarakat di Bonabulu yang masih kuat, berakibat mendapat koreksi langsung di tempat lengkap dengan pen-jelasan menerangkan mengapa harus menyebut demikian.

Selain alasan rompak tutur disebutkan diatas, adat perkawinan tidak simetris Adat Batak juga dipengaruhi peran yang diemban oleh unsur-unsur: kahanggi, mora, dan anakboru dalam keluarga besar Dalihan Na Tolu menyelenggarakan sebuah perhelatan adat. Dalam sebuah perhelata Adat Batak diselenggarakan kahanggi, baik siriaon (kebahagiaan) maupun siluluton (kedukaan), kahang-gi akan dibantu tenaga oleh anakborunya, sementara moranya menyumbangkan pemikiran diperlu-kan supaya acara berjalan lancar sebagaimana mestinya.

“Naposo bulung” (pemuda) dari suatu marga di kampung halaman dinamakan: Sisuan Bulu (Sipe-nanam Bambu), adalah yang membela kampung halaman andalan kahanggi bermukim di Bonabulu bersama kerabat semarga yang lain. Karena itu ia didampingi oleh “nauli bujing” (gadis) datang da-ri mora yang jadi “rongkap ni tondi” (pasangan hidup) untuknya. Dalam Adat Batak perkawinan antara “naposo bulung”, atau yang bernama “bayo pangoli” (pengantin pria) dengan “nauli bujing”, atau yang bernama “boru na dioli” (pengantin wanita) harus berasal dari marga yang berbeda. Ada-pun “boru dioli” yang ideal dalam Adat batak anak-gadis saudara kandung ibu laki-laki, yang biasa dinamakan “boru tulang”. Setelah perkawinan berlangsung, “boru na dioli” ini akan menjadi Si-suan Pandan (Sipenanam Pandan) di kampung halaman kebanggaan kahanggi. Perlu diketahui, Adat Batak melarang “naposo bulung” sesuatu marga menikah dengan nauli bujing marga yang sa-ma, atau dikenal dengan istilah perkawinan semarga (endogami). Ini disebabkan pemahaman su-ku-bangsa Batak, bahwa orang-orang yang bermarga sama masih bersaudara, dan tergolong masih seayah dan seibu, dan karena itu akan menyebabkan insest (incest) terlarang dalam adat Batak.

Dibandingkan tataring, perkawinan dua sejoli demikian, bagai tungku dengan dua dalihan, periuk diletakkan diatasnya akan terjungkal. Dalam hidup bermasyarakat, pasangan ini juga tidak mem-punyai mora, karena itu akan mendapat kesulitan bergabung kedalam keluarga besar DNT mengikuti perhelatan adat Batak siriaon dan siluluton. Juga dalam lingkungan SMB, kedua sejoli tidak memperoleh “habisuhon na sian mora” (tuntunan dari lingkungan mora), dan tidak pula dapat melangsungkan “somba mar mora (“hormat kepada mora”). Karena telah melangsungkan perka-winan semarga menyalahi Adat Batak, jalan keluarnya ialah salah seorang dari dua sejoli harus mengganti marga melalui upacara adat Batak, agar nama keduanya dapat kembali bergabung ke-dalam DNT dan nama mereka dimuat kedalam tarombo marga pengantin laki-laki.

Kebersamaan

Dari SMB, Trilogi Batak merambah ke ranah nilai (value) hidup bersama yang berguna dalam ke-hidupan keluarga besar di Bonabulu. Mora dikatakan “na mangalehen hangoluan” (si pemberi kehi-dupan) kepada kahanggi. “Mora soksok” dialamatkan kepada marga yang pertama kali mendatang-kan Ina (Ibu) kepada kahanggi. Adapun marga yang telah mendatangkan Ina lebih dari tiga generasi berturut-turut kepada kahanggi, seperti marga Siregar dari Bunga Bondar kepada marga Harahap dari Hanopan (Sipirok), dinamakan “mataniari naso gakgahon” (matahari yang tidak dapat ditatap). “Mora i ma mual ni hangoluan” (mora adalah mata air kehidupan) kata para cendekiawan, “mora na mangalehen habisuhon” (mora ialah si pemberi kecerdikan). Itulah sebabnya mengapa turun perin-tah Adat Batak kepada kahanggi yang mengatakan agar yang akhir ini melakukan “somba mar Mora” (hormat kepada mora).

Lingkungan kahanggi dinamakan: “dongan sabutuha” (himpunan sekandung), merupakan kumpu-lan hidup orang-orang yang semarga terdiri dari bermacam generasi. Orang-orang bersaudara mem-punyai hak dan kewajiban yang benar-benar sama,  tidak seorangpun boleh mendapat lebih banyak atau kurang dari lainnya. Kahanggi ialah “alam kehidupan” di kampung halaman atau Bonabulu silam, dimana mereka yang senasib dan sepenanggungan dahulu mempertahankan marga dengan kampung dari musuh yang datang meyerang. Karena itu turun perintah Adat Batak pada kahanggi mengatakan a-gar: ”manat-manat markahamaranggi” (pandai-pandailah hidup orang bersaudara).

Anakboru dinamakan: “nagogo manjujung, na ringgas mangurupi morana (yang kuat menjujung di kepala, dan rajin membantu moranya). Anakboru dikatakan juga: “sitamba na hurang, sihorus na lobi” (si penambah yang kurang dan si penguras kelebihan) dalam beragam perhelatan Adat Batak, baik siriaon maupun siluluton dalam lingkungan kahanggi. Itulah sebabya mengapa turun perintah Adat Batak pada kahanggi mengatakan: “elek mar anakboru” (pandailah mengambil hati anakboru) agar bantuan mereka selalu dapat diperoleh. Dengan demikian nilai-nilai: somba mar mora, manat mar kahanggi, dan elek mar anakboru menjadi Trilogi Nilai Batak, disingkat TNB yang amat ber-guna untuk kebersamaan hidup lingkungan DNT (TYT) suku-bangsa Batak, agar kekerabatan  yang harmonis senantiasa dapat terpelihara dari Bonbulu hingga dengan perantauan, selama berada di Banua-Tonga.

Karena hidup di Banua-Tonga atau Alam Kedua bersifat sementara, yakni serentang hayat, maka guna memelihara kerukunan komunitas suku-bangsa Batak berdiam di Bonabulu, Adat Batak menurunkan perintah: “inte disiriaon, tangi disiluluton“ (menantikan khabar bahagia, selalu menyi-mak berita duka). Selain pesan untuk masyarakat DNT dikemukakan diatas, ada pula perintah Adat Batak untuk perorangan (individu) yang memerlukan perhatian serious masyarakat di Bonabulu ke-tika itu, baik terhadap mereka yang sudah tua apalagi yang masih muda, ialah apa yang dinamakan:  Tolu Sadongan Nijalahan (Tiga Sekawan Dicari), disingkat TSN(TSD) dalam hidul berdiam di Banua Tonga selama hayat seseorang yakni: hamoraon, hagabeon, dan hasangapon.

Mora artinya teladan, dan hamoraon ialah keteladanan mencakup: keakraban, taat hukum, ber-pan-dangan hidup maju, penuntut dan pencari ilmu pengetahuan, penyayang sekaligus pelindung, pan-dai menengahi perbedaan demi kerukunan hidup, beriman, dan masih banyak lagi yang lain ber-sa-rang dalam Tondi (jiwa/ruh/hati-nurani/soul/seele) bersifat bukan-benda (material) untuk memoti-vasi Roha (akal-budi) manusia untuk berbuat berguna. Inilah yang dinamakan: kekayaan atau harta batin (wealth of the soul) yang dimiliki seorang bergelar: halak na mora (manusia yang teladan). Gabe ialah kaya, sehingga hagabeon artinya kekayaan dikuasai orang meliputi: rumah, harta-benda, sawah ladang, simpanan bank, dan lain sebagainya bersifat kebendaan (material) di dunia dikuasai seorang, termasuk juga keturunan. Inilah yang dinamakan orang harta lahir (the material wealth) yang dimiliki seseorang bergelar: halak na gabe (orang yang kaya). Adapun hasangapon berasal dari kata sangap yang artinya martabat (dignity). Hasangapon ialah martabat yang berhasil diraih  seorang menjalani hidup di Banua-Tonga, atau Alam Fana di dunia ini. Pada zaman kerajaan silam orang bermartabat ialah: Raja, kaum bangsawan, datu, dan lain sebagainya. Kini orang bermartabat, ialah: Kepala Negara, Menteri, Gubernur, Bupati, rohaniawan beragam agama, ilmuwan, peneliti penemu, pendiri aneka industri, penggiat olahraga, dan masih banyak lainnya yang tidak dapat dirinci satu persatu. Mereka yang berbuat: amal yang baik, menolong fakir miskin, pendiri rumah yatim-piatu, penjelajah alam, pengarung samudra, dan lain sebagainya yang tak terhitung banyak jumlah dan ragamnya. Dengan melola hamoraon (harta batin), hagabeon (harta lahir), seseorang dapat meraih hasangapon atau martabat hidup di Banua Tonga, dahulu menjadi: Raja, kaum bang-sawan, Datu, Ompu, dan lian sebagainya; kini Presiden, menteri, rohaniawan, ilmuwan, olahraga-wan, kepahlawanan, astronaut, dan lain sebagainya.

Tolu Sadongan Nijalahan

Hamoraon, hagabeon, dan hasangapon lalu menjadi jembatan bagi manusia untuk meraih martabat tinggi selama berdiam di Banua-Tonga. Inilah yang dinamakan Tolu Sadongan Nijalahan, disingkat TSN (Tiga Sekawan Dicari, disingkat TSD). Dengan hamoraon, orang dapat mencapai martabat  tinggi dengan mengamalkan “harta batin” bersemayan dalam hati-nurani insani. Dengan hagabeon, orang juga dapat mencapai martabat tinggi dengan memberdayakan “harta lahir” yang dikuasainya terdapat di Banua-Tonga atau dunia ini, demi kemaslahatan orang banyak. Dengan hasangapon pun orang dapat mencapai martabat tinggi lewat keturunan, seperti: putra atau putri Raja, keturunan para bangsawan, anak-anak orang dengan nama besar, keturunan gelar tersohor, dan lainnya. Hanya saja untuk yang disebut terakhir, yang bersangkutan perlu membuktikan dirinya layak untuk me-nyandang martabat yang diwarisi. Karena, bila tidak martabat disandang akan cepat tergerus  oleh waktu. Ini disebabkan kenyataan, bahwa martabat itu diraih lewat perjuangan berat yang menuntut bukti meyakinkan. Diibaratkan kredit (utang), martabat (dignity) keturunan harus dilunasi prestasi, agar memperoleh pengakuan. Dan, manakala pewaris berhasil, maka orang akan mengatakan: “ia bako amangna”, artinya: dia seperti bapaknya; atau: ia memang keturunan keluarga si Haji Polan yang tersohor itu.

Apabila dengan harta batin seseorang dapat membangun kehidupan harmonis mendatangkan damai dan kesejahteraan kepada suatu komunitas berdiam di Banua-Tonga, maka yang memprakarsainya  akan memperoleh martabat tinggi dalam komunitasnya. Demikian juga, apabila harta lahir yang dikuasai seseorang diberdayakan untuk kemaslahatan orang banyak dengan mudah berbagi kepada sesama, untuk mengatasi penderitaan umat pasca bencana alam yang timbul di suatu kawasan, ma-ka si dermawan akan memperoleh martabat tinggi lewat kemurahan hati dalam komunitasnya. Akan tetapi untuk kaum bangsawan dan yang setara, yang mewarisi martabat dari keturunan, perlu mem-buktikan kemampuannya agar diterima masyarakat. Itulah sebabnya mengapa seorang pangeran, atau putri kerajaan dimasa silam, harus memperlhatkan kecakapan menegakkan keadilan guna me-nunjukkan kepada masyarakat kelayakan martabat yang tengah disandang.

Selain martabat “bersifat positif” diutarakan diatas, di Banua Tonga atau dunia ini, terdapat juga martabat yang “bersifat negatif” dan mengantarkan seseorang terjerembab kelembah hina dina hi-dup di Banua-Tonga, apabila: hamoraon dimiliki, hagabeon dikuasai, dan hasangapon disandang ti-dah dipersembahkan untuk kemaslahatan orang banyak dari komunitas tempat berdiam.

Seperti telah dikemukakan sebelumnya, badan atau tubuh yang dimiliki seseorang dalam bahasa Batak dinamakan: pamatang. Dan akhir ini, lebih dari 70% berat badan hanyalah air, terdapat pada segala yang bernyawa, pinjaman dari Banua-Tonga. Demikian pula: hamoraon dan hagabeon yang menyusul kemudian. Segala yang bernyawa asal dari Banua Ginjang, setelah menjalani hidup di Banua-Tonga, meneruskan perjalanan ke Banua-Toru, setelah Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) meninggalkan badan. Tubuh manusia (ma-teri) yang berasal dari Banua-Tonga, lalu kembali ke asalnya tidak terkecuali: hamoraon dimiliki dan hagabeon dikuasai. Adapun hasangapon akan terus mendampingi Tondi (Batak), Hati-sanu-bari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) seseorang. Hanya hasangapon yang setia menemani Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) meneruskan perjalanan menghadap Debata (Sang Pencipta) berdiam Banua Ginjang, dan hasangapon seseorang juga yang akan tinggal di Banua-Tonga, atau Alam Fana, atau dunia ini untuk menyapa semua orang.

Dengan demikian Tolu Sadongan Nijalahan (TSN) atau Tiga Sekawan Dicari (TSD), menjelma menjadi pengamalan hidup suku-bangsa Batak bermukim di Banua-Tonga dalam pandangan Ompu Simulajadi berangkat dari falsafah TBS yang sangat perlu diperhatian. Dengan TSN/TSD diharap-kan hati-nurani insani mendapat pencerahan dari Debata, mulai perorangan (individu), keluarga, suku-bangsa, dan bangsa Batak, agar selalu bergiat mencari celah dalam belantara hidup di Banua-Tonga, menyongsong datangnya terang sinar matahari yang menembus kelam hati-nurani, menun-jukkan lembar pilihan hidup yang benar-benar sejalan dengan bakat dan kemampuan dimiliki ber-mukim di Banua-Tonga.

Tarombo

Suku-bangsa Batak terdapat di Sumatera Utara, tepatnya di Tanah Batak yang luas, juga dikenal de-ngan “Tapian Na Uli”, disingkat Tapanuli. Dari sekian banyak suku-bangsa Batak berdiam di wila-yah tersebut, terdapat sejumlah puak masing-masing memiliki keragaman: budaya, kebiasaan, adat-istiadat, dan dialek suku-bangsa Batak berbeda. Selain memiliki bahasa lisan yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari dalam masyarakat, suku-bangsa Batak juga mempunyai “bahasa tulis” dengan aksara Batak yang dinamakan: “surat Batak” (tulisan Batak). Dengan aksara Batak, bera-gam catatan (dokumen) telah diwariskan leluhur Batak kepada keturunan yang datang kemudian.  Salah satu catatan penting yang biasa diwariskan untuk generasi penerus dalam masyarakat Batak ialah apa yang disebut di Bonabulu silam:“tarombo” (silsilah keluarga). Melalui sebuah tarombo suku-bangsa Batak dapat mengetahui Huta (Kampung) asal mereka di Tapanuli silam, termasuk  kerabat semarga bernama: “kahanggi” hingga “keluarga besar” disebut: Dalihan Na Tolu (DNT). “Kahanggi” dan “keluarga besar” adalah dua bentuk “tubuh masyarakat” (social bodies) yang me-ngikat erat: “perorangan” (individu)  kedalam “kelompok hidup”, dalam masyarakat suku-bangsa Batak lahir di Bonabulu silam lalu menyebar ke perantauan.

Tarombo berawal dari ingatan bersemayam dalam kenangan orang Batak yang kemudian beralih ke ranah tulis. Susunan dimulai dari: 1. Kahanggi, yakni mereka yang bermarga sama, diawali lelu-hur pemersatu hingga kepada generasi yang ada sekarang. Selanjutnya: 2. Anakboru, ialah himpu-nan berbagai marga yang mempersunting anak-gadis kahanggi dibawa ke kampung mereka untuk menambah bilangan. Akhirnya: 3. Mora, ialah kumpulan bermacam marga yang mendatangkan ibu pada kahanggi di kampung yang akhir ini untuk menambah bilangan. Gabungan: 1. Kahanggi, 2. Anakboru, dan 3. Mora, lalu membentuk apa yang dalam masyarakat dinamakan “keluarga besar”, bernama: Dalihan Na Tolu (DNT). Ketiganya mengingatkan kepada pandangan Ompu Simulajadi yang mengatakan: kalau Alam Semesta itu “Tiga sekawan” adanya, maka hidup bermasyarakat di Banua-Tonga juga perlu benirukan “ber-Dalihan Na Tolu” untuk memperoleh kebaikan. Perlu dicatat, dalam SMB “laki-laki” menjadi pemimpin dalam lingkungan kahanggi, tetapi “perempuan” menjadi jembatan dengan marga lain lewat perkawinan, yang akan dipantau saudara laki-laki marga perempuan. Dengan demikian manakala timbul perselisihan diantara laki-laki dan perempuan da-lam sebuah rumah tangga, maka saudara laki-laki dari fihak perempuan selaku “mora” dapat mene-ngahi “perbedaan pendapat” sejalan Adat Batak untuk menyelesaikan perkara.

Kahanggi, Anakboru, dan Mora, lalu memainkan peran penting dalam setiap perhelatan Adat Batak, baik siriaon (kegembiraan) maupun siluluton (kesedihan) mulai dari Bonabulu hingga perantauan. Dalam tarombo akan segera tampak mereka yang segenerasi, mereka yang berlainan generasi, baik pada tingkat orang tua, maupun kakek, dan lainnya. Lalu tegur sapa (tutur) apa yang harus diguna-kan menyapa yang masih segenerasi, mereka yang lain generasi, dan bagaimana menghindarkan timbulnya rompak (kesalahan) tutur, dan lain sebagainya.

Mudah difahami, dalam masyarakat Batak yang sederhana silam, teknologi belum lagi berkembang,  belum lagi ada peluang untuk memeriksa kebenaran pandangan Ompu Simulajadi yang bersema-yam dalam fikiran orang-orang Batak berdiam di Bonabulu, terhadap Alam Semesta sebenarnya terdapat di luar sana. Sebelum datangnya abad pertengahan di Eropa, orang-orang diseantero jagad masih menganut pandangan Ptolomaëus yang mengatakan bahwa bumi ini adalah pusat dari segala peredaran benda langit yang ada di Alam Semesta termasuk matahari. Cara pandang Alam Raya ini dinamakan: ajaran geosentris. Sri Paus, pemegang Tahta Suci di Vatican, Roma, Italia, kala itu, ju-ga menganut geosentris karena tidak menyalahi ajaran Kitab Suci, lalu menjadikannya pegangan hidup umat Katholik di seluruh penjuru dunia.

Akan tetapi dengan kedatangan abad pertengahan, Koppernigt (Copernicus 1473-1543) seorang ilmuwan dan astronom berkebangsaan Polandia membantah, dan mengatakan bahwa mataharilah yang menjadi pusat peredaran segala macam benda-langit. Bantahan ini melahirkan cara pandang Alam Semesta baru, dinamakan: ajaran heliosentris. Galileo Galilei (1564-1642), seorang cende-kiawan dan astronom dari Italia membuktikan kebenaran Koppernigt dengan teleskop bikinannya sendiri. Namun malang, Galileo Galilei dinyatakan bersalah dengan kelancangan membenarkan aja-ran heliosentris, sehingga terpaksa menjalani tahanan rumah hingga akhir hayatnya. Baru pada bu-lan Mei tahun 1994, 600 tahun kemudian, hukuman itu dicabut oleh Paus Yohannes Paulus II, se-telah terlebih dahulu meminta maaf didepan umum atas kekeliruan rekan pendahulunya, yang saat itu menduduki Tahta Suci di Vatican.

Memasuki penggal kedua abad ke-20 ilmu pengetahuan dan teknologi maju pesat menyebabkan Niels Armstrong, warga Amerika Serikat menjadi manusia pertama yang menjejakkan kaki di per-mukaan bulan. Bermacam satelit cerdas melanglang buana menjelajahi angkasa hingga melewati batas tatasurya; dan orang-orang Batak pun lalu menyadari, bahwa ajaran Ompu Simulajadi tentang Alam Semesta terbukti tidak sesuai kenyataan. Banua-Ginjang bernama Surga ternyata tidak ada di atas sana. Banua-Tonga dimana manusia, hewan, dan bermacam tanaman tumbuh hanyalah muka bumi bulat seperti bola. Adapun yang dinamakan Banua-Toru tidak lain dari isi bumi yang bulat ba-gaikan bola.

Lalu timbul pandangan dualisme terhadap Alam Semesta dalam masyarakat Batak: sebuah berasal dari pandangan Ompu Simulajadi berseayam dalam fikiran orang-orang Batak yang percaya, dan yang lain kebenaran Alam Semesta terdapat diluar sana. Usai penggal kedua abad ke-20, dunia pun memasuki milenium ke-tiga, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan cepat me-ngalihkan perhatian umat dari permukaan bumi ke angkasa. Dalam ruang antar planit yang hampa, gaya tarik bumi tidak lagi menjadi patokan, mana yang dinamakan atas atau bawah tidak lagi menjadi persoalan, ternyata ajaran Ompu Simulajadi memperlihatkan “pemahaman  baru”.

Dengan meletakkan Alam Benda, dimana: manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan lain sebagainya di tengah sebagai Alam Kedua, maka menurut pemahaman baru, harus terdapat Alam Pertama dari mana segala yang ada berasal. Kemudian usai menjalani kehidupan  Alam Kedua, maka perlu ada lagi Alam Ketiga, kemana semuanya akan menuju. Adapun ajaran Alam Semesta dari Ompu Simu-lajadi yang mengatakan, terdapat: Banua-Ginjang di Atas, Banua-Tonga di Tengah, dan Banua-Toru di Bawah, timbul dalam dari pemikiran suku-bangsa Batak ketika itu ialah karena adanya “medan gravitasi” di permukaan bumi yang menguasai segalanya. Dengan kehadiran medan gra-vitasi orang lalu mengenal arah yang dinamakan: atas dan bawah. Dan dari yang akhir ini lalu mun-cul berbagai macam arah lainnya.

Muncul dengan demikian Tolu Banua Sadongan  (TBS) pemahaman baru, masih tetap seperti yang  lama, tetapi berganti nama menjadi: Alam pertama, Alam Kedua, dan Alam Ketiga. Juga masih tetap kue talam yang berlapis tiga warna: putih, merah, hitam. Ketiganya tidak perlu lagi tergolek di atas talam yang sangat luas, akan tetapi mengambang bebas di angkasa bebas dari segala medan gravitasi. Adapun dalam “pemahaman lama”, ialah yang dikemukakan oleh Ompu Simulajadi, se-belumnya yakni: Banua-Ginjang, Banua-Tonga, dan Banua-Toru yang masih berada dalam medan gravitasi bumi.

Apabila Alam Kedua dikatakan sebagai Banua Na Marpamatang (Alam Yang Berbadan) bersifat kebendaan (material), maka Alam Pertama dan Alam Ketiga seyogyanyalah berupa Banua Naso Marpamatang (Alam Yang Tidak-Berbadan) alias Alam Transenden (Transcendant), karena sama-sekali bersifat bukan benda (immaterial). Lantas bagaimanakah perwujudannya? Belum lagi dapat diketahui orang hingga kini! Lalu mungkinkah Alam Pertama dan Alam Ketiga sama? Tentu saja mungkin, akan tetapi keduanya boleh juga tidak sama. Dua Alam dapat dikatakan sama, apabila dapat dibuktikan bahwa keduanya sama, sebaliknya dua Alam dikatakan bebeda, kalau keduanya dapat dibuktikan tidak sama. Peluang Alam Pertama dan Alam Ketiga sama, atau tidak sama, jelas sama banyaknya, karena itu tidak satupun yang dapat mengalahkan yang lain.

Hanya hasangapon (martabat) saja dipercaya orang Batak akan setia menemani Tondi (Batak), Ha-ti-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) dalam perjalanan yang a-badi. Apabila Alam Pertama sama dengan Alam Ketiga dan transenden, maka Tondi (Batak), Hati-sa-nubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman), maka yang demikian ibarat Tondi baru saja meninggalkan Alam Kedua, lalu kembali lagi ke Alam yang sama. Ini mengingat-kan kepada reinkarnasi kehidupan dunia. Manakala kedua Alam transenden ini berbeda satu sama lain, tondi akan berjalan dalam lintasan garis lurus. Perjalanan demikian mengukuhkan kembali a-kan pandanga TBS, sekaligus memperkenalkan pemahaman yang baru dari pandangan Ompu Simu-lajadi yang mengatakan, bahwa Alam Semesta ini tersusun dari tiga Banua sebagaimana yang sudah diterangkan diatas.

Mungkin saja Ompu Simulajadi leluhur suku-bangsa Batak pertama ada, telah sejak awal memiliki pandangan kedua, dimana kue talam besar lapis tiga warna sekawan: putih, merah, hitam, benar-benar mengambang di angkasa; bukan sebagaimana kue talam besar lapis tiga warna-warni tergolek di atas talam amat luas, karena memang dari sejak dahulu suku-bangsa Batak juga mengetahui akan adanya bermacams Alam termasuk transenden terdapat di luar Alam kebendaan bersifat material. Akan tetapi, karena kebanyakan masyarakat suku-bangsa Batak belum dapat mencernanya, maka disampaikanlah gagasan kue talam besar lapis tiga sekawan warna tergolek di atas talam yang amat luas. Benarkah sangkaan demikian, wallahualam bissawab, tak ada seorang pun mengetahui!

Keluarga

Suku-bangsa Batak menamakan masyarakat terkecil berdiam di Banua-Tonga dengan kata: suhut. Suhut artinya keluarga batih (nuclear family) terdiri dari berbagai unsur: Amang (Ayah), Inang (I-bu) dan Pomparan (Keturunan), disingkat AIP. Dan yang disebut akhir ini cerminan dari TBS pan-dangan Ompu Simulajadi silam. Dalam masyarakat, dibedakan orang Batak “istilah” yang digunakan untuk menyebut turunan laki-laki dari turunan perempuan. Hanya kepada keturunan laki-laki saja kata “anak” digunakan, sedangkan kepada keturunan perempuan digunakan kata “boru”. Dengan demikian keluarga dalam masyarakat Batak dikatakan sempurna di Bonabulu, apabila seseorang telah mempunyai anak laki-laki dan anak perempuan, sehingga dalam sebuah keluarga lengkap akan terdapat: Amang, Inang, Anak, dan Boru, disingkat AIAB. Itulah sebabnya mengapa kepada mereka yang melangsungkan pernikahan menurut adat Batak, salah sebuah pesan penting yang disampaikan pada kedua mempelai agar: “maranak marboru hamu”; artinya: mempunyai ketu-runan anak laki-laki dan keturunan anak perempuan. Dengan demikian suhut atau keluarga batih dalam masyarakat Batak dinyatakan dengan AIP sejalan dengan TSB, dan manakala dijabarkan akan menjadi AIAB.

Manusia

Suku-bangsa Batak memandang jolma (manusia) yang hidup di Banua-Tonga, perwujudan lain dari   Banua Tolu Sadongan (BTS) pandangan Ompu Simulajadi. BTS lalu menjelma menjadi ”Tri Logi Batak” (TLB), yakni istilah populer pandangan Ompu Simulajadi. Itulah sebabnya manusia ber-diam di Banua-Tonga dinyatakan tidak lain dari apa yang kenal dengan: “Tolu Na Marsada” atau “Tiga Yang Menyatu”, artinya terdapat tiga bagian yang menyatu menjadikan manusia). Apakah yang dimaksud dengan ketiga bagian tersebut, tidak lain dari: Tondi, Roha, dan Pamatang. Tanpa tondi, insan akan hilang kemanusiaan terdapat dalam dirinya: semangat, emosi, kharisma, motivasi, kemauan, hidup di Banua-Tonga; tanpa roha orang akan hilang akal-budinya: bisuk (bijak), cerdas, ingatan (memory), ilham (intuisi); dan tanpa badan (pamatang) manusia akan hilang keberadaan diri di Banua-Tonga, alias meninggal dunia. Perlu diketahui, pamatang atau jasmani tidak lain dari “tandatangan manusia” di atas ketas lembar kehidupan di Banua-Tonga, yakni muka bumi ini.

Dalam pelbagai acara maupun upacara adat Batak, baik berupa siriaon (gembira) maupun siluluton (kesedihan), manusia diperlihatkan sebagai “pira manuk na ni hobolan” (telur ayam yang telah dikebalkan), dan disebut terakhir ini tidak lain dari telur ayam yang direbus. Manakala dibaca dari luar kedalam, akan mengungkapkan pengertian sebagai berikut: kulit telur: Pakaian, putih telur: Pa-matang, lapisan diantara putih dan kuning telur: Roha, dan kuning telur itu: Tondi (Batak), Hati-sanu-bari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman).

Jiwa

Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman), (ruh/ jiwa/kharisma) berada di Alam bukan-benda (Banua Naso-Marpamatang), menurut kepercayaan suku-bangsa Batak dapat bepergian meninggalkan pamatang (jasmani) saat orang sedang tidur, atau  sakit, atau keadaan tidak normal lainnya. Tondi adalah “Badan Halus” (Superbeing) yang terdapat dalam setiap kehidupan, apapun bentuknya. Tondi (Batak), Hati-sanu-bari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) membedakan seorang insan dari yang lain, diperlihatkan: semangat, emosi, kharisma, dan ditampilkan keluar lewat “bahasa badan” (body language). Diibaratkan mobil sedang melaju diatas jalan raya, apabila dikemudikan oleh orang berbrda, akan memperlihatkan prilaku gerakan kendaraan yang berbeda pula. Lewat analogi yang sama, manakala jasmani seseorang dihuni oleh Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) bukan miliknya dari sejak lahir, disebabkan penyakit misalnya, akan memperlihatkan prilaku atau kelakuan keluar bukan aslinya. Walau bermacam pengetahuan tentang tondi telah terkuak kepada manusia dari pengalaman hidup dan pergaulan sehari-hari sampai  dengan penyelidikan ilmu pengetahuan di Banua-Tonga, akan tetapi alam bukan-benda pertama yang terdapat dalam diri insan ini terus menyimpan teka-teki yang masih sedikit sekali terungkap kepada manusia.

Akal

Roha (akal) juga terdapat di alam bukan-benda. Inilah yang dinamakan kecerdasan sebenarnya (the true intelligence) lawan dari kecerdasan buatan (the artificial intelligence) yang sekarang giat di-kembangkan orang untuk mengendaliakn bermacam peralatan cerdas bikinan manusia, antara lain: teknology bedah jarak jauh, aneka ragam robot, peluru kendali, bermacam roket, hingga dengan sa-telit. Ini pula yang diungkapkan Sokrates (470-399 SM), pemikir Yunani dari Athena pada zaman praklassik, yang temuannya tentang hal ini disampaikan dalam bahasa Jerman pada dunia oleh seorang filosof bernama: Windelband (1848-1915): “Die immateriele Welt ist endeckt, und das Au-ge des Geistes hat sich nach innen aufgeschlagen”; seorang penganut aliran idealisme subjektif bangsa Jerman. Dalam bahasa Batak: “Banua naso-marpamatang tarungkap madung, mata ni roha manaili ma tu bagasan”; dan oleh Dr. Mohammad Hatta diindonesiakan menjadi: “Alam tidak bertubuh diketahuilah sudah, dan mata fikiran pun memandanglah kedalam”.

Sebagaimana: komputer, telepon genggam (gadget), tablet (electronic reader), dan bermacam pe-rangkat pintar yang lain, adalah benda yang merupakan perpaduan antara “perangkat-keras” (hard-ware) dengan “perangkat-lunak” (software) untuk mampu melakukan bermacam pekerjaan. Roha pada mnusia dapat dinamakan: “perangkat lunak insani”, disingkat perlunsani (human software, di-singkat: human-ware). Perinsani bertindak menjembatan Tondi dengan Pamatang, sehingga yang disebut terakhir dapat melakukan berbagai macam pekerjaan yang diimginkan oleh Tondi, berang-kat dari: kemampuan, keterampilan, keahlian, kecakapan, dan lain sebagainya yang telah diajarkan dan dilatihkan pada seseorang. Kegiatan pemrograman Roha sesungguhnya telah dimulai oleh ma-nusia sejak masih berada dalam kandungan, dilanjutkan setelah lahir lewat: pendidikan, pelatihan, perjalanan jabatan, pengalaman hidup, dan lainnya serta berlangsung tanpa henti selama hayat ma-sih dikandung badan, berangkat dari pandangan hidup yang dimiliki oleh orang yang bersangkutan.

Roha (Alam bukan-benda) yang terdapat dalam diri manusia inilah yang oleh segelintir negara si-lam: Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur; itu pun digeluti jumlah kecil warganya (sumber daya manusia) lewat kegiatan akademik berjenjang mulai rendah hingga tinggi, menjadikan berbagai ne-gara tersebut dengan cepat menjadi terkemuka di dunia, setelah menerima buah fikiran Yunani  yang diantarkan bangsa Arab kedaratan Eropa dalam Abad Pertengahan silam.

Diawali penghujung abad ke-19, lalu sepanjang abad ke-20, dilanjutkan kini abad ke-21, berbagai negara di Eropa: Inggris, Perancis, Jerman dan sekitarnya; kemudian Amerika Utara: Amerika Seri-kat; lalu Asia Timur: Jepang; menjadi sadar akan apa yang dikatakan Sokrates tentang keperkasaan “Banua Naso-Marpamatang” bersemayam dalam diri “Sumber Daya Manusia” bernama Roha dari bangsa mereka masing-masing, lalu dengan cepat mengembangkan: pendidikan, pelatihan, industri, laboratorium, penelitian, mencari sumber daya alam, dan lain sebagainya dalam sistim ekonomi Laissez-faire (perdagangan bebas). Sehingga dalam rentang waktu kurang dari 150 tahun, berhasil segelintir negara ini lalu mengubah peradaban umat di muka bumi: dari yang serba berjalan kaki dan menunggang ternak (kuda, lembu, dan lainnya) dimana-mana di seluruh dunia, menjadi pera-daban dengan kendaraan bermotor: mobil, kereta api, kapal laut, pesawatterbang, hingga menjelajah antariksa.

Penyampaian berita semula dilakukan orang dengan bertemu fisik: dari mulut ke mulut, beragam tetabuhan, surat, mengutus orang dan burung;  lalu diubah menjadi gelombang elektromagnetik: radio, telepon, televisi, ponsel, internet. Bekerja awalnya dilakukan orang di kantor, pabrik, lapa-ngan terbuka, dan lainnya, dengan: Information and Communication Technology (ICT), atau Tek-nologi Komunikasi dan Informatika (TKI), lalu diubah menjadi bekerja dimana saja orang mau me-lakukannya di muka bumi ini. Masih banyak lagi kemajuan lain yang tidak mungkin dikemukakan kini satu persatu, yang akan segera datang menuju ke yang semakin memudahkan oranng hidup di Banua-Tonga atau muka bumi ini nanti.

Segelintir negara dikemukakan diatas menjadi teladan umat, membuat lainnya: dari Utara ke Sela-tan, dan dari Barat ke Timur, termasuk Timur Tengah, Asia Tenggara, dan belahan bumi lain yang masih tertinggal, bergegas mengembangkan “Roha=Perlunsani” Sumber Daya Manusia masing-masing bangsa menyimak apa yang telah dikatakan oleh Sokrates. Mereka melakukan pemberanta-san buta huruf, mengembangan pendidikan berjenjang beragam ilmu dan keterampilan guna me-ngejar ketertinggalan dari segelintir negara yang telah mengemuka disebutkan diatas.

Kendati Roha telah banyak terungkap oleh para ahli bermacam negara maju lewat ilmu penge-tahuan dan teknologi, laboratoriun, tidak terkecuali industri, tambang, archeologi, penelitian anta-riksa, dan lainnya, serta terekam kedalam tidak terbilang banyak buku, jurnal, dan lainnya; baik media tradisional, elektronik, maupun digital; namun alam bukan-benda kedua terdapat dalam diri manusia bernama “Roha” masih menyimpan banyak rahasia yang belum lagi dapat diketahui orang sampai saat ini.

Pamatang

Pamatang (tubuh, badan, jasmani), adalah bukti keberadaan manusia di Banua-Tonga atau muka bumi atau Alam Fana. Jasmani juga dapat disebut “cap jempol” seseorang di atas lembar kertas ke-hidupan di muka bumi ini. Dengan badan, si A, si B, si C dan seterusnya dapat dikenali dan dibe-dakan satu dari lainnya; mereka pun dapat saling berkenalan, bergaul dan berbincang untuk bertu-kar fikiran. Jasmani bersama gerakannya memungkinkan orang dapat dibaca: isi hati, sikap, budi pekerti, dan perangainya oleh orang berpengetahuan.

Temuan Human Genome Project, atau Proyek Gen Manusia, yang dipimpin Craig Venter dari Amerika Serikat, salah satu segelintir negara terkemuka dunia, pada tanggal 11 Febrruari 2001 ber-hasil mengungkapkan, terdapat 30.000 gen dalam setiap tubuh manusia yang bertanggungjawab ter-hadap kehidupan insan, dan senantiasa membuka dan menutup dalam melakukan tugasnya sepanjang jalannya waktu. Dan hanya gen-gen yang membuka saja bertanggungjawab mengendali-kan semua sel terdapat dalam tubuh manusia bilangannya diperkirakan berjumlah 3.000.000.000. sel.

Tubuh manusia yang terdapat di Banua-Tonga, demikian juga hewan dan tumbuhan, tersusun dari beragam sistim kehidupan rumit (biologi), seperti: peredaran darah, pencernaan, pernafasan, peng-indraan, syaraf, dan banyak lainnya. Selain dari itu, keseluruhan sistim dikendalikan puluhan ribu gen terbuka pada manusia, harus juga bekerjasama dalam orkestra harmonis menjadikan tubuh yang sehat tempat  tondi dan roha berdiam. Kegagalan badan atau jasmani menjadi sehat oleh berbagai alasan, antara lain: penyakit, kecelakaan, hingga dengan uzur, akan menyebabkan tondi dalam per-jalanan waktu meninggalkan badan di Alam Kedua (Alam Benda) dan melanjutkan perjalanan ke Alam Ketiga.

Meski jasmani telah banyak dipelajari para ahli terutama bidang kedoktern di berbagai negara yang telah maju ilmu pengetahuan dan teknologinya, namum bagian TLB yang paling banyak dan  sering dikaji di muka bumi, menjadi bukti keberadaan manusia di Banua-Tonga atau Alam Kedua ini  masih menyimpan rahasia yang belum dapat diungkapkan semuanya, apakah tubuh manusia itu sebenarnya?

Kedatangan Insan

Saat Tondi Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jer-man) tiba di perbatasan Alam Pertama (bukan-benda) dengan Alam Kedua (benda), dalam lang-langbuana Tondi sejalan “pemahaman baru”, tepatnya setelah di turun dari Banua-Ginjang dalam menghampiri Banua-Tonga dalam “pemahaman lama”, ia perlu terlebih dahulu menjemput benda (materi) guna menyatakan keberadaan di Alam Kadua atau Banua-Tonga. Materi adalah sesuatu yang terdapat di Alam Kedua dan tunduk kepada hukum Alam atau fisika, karena memiliki berat (massa) dan menempati ruang.

Segala sesuatu yang ada, tetapi tidak memiliki massa dan tidak pula menempati ruang, pasti bukan-benda (immaterial) dan akan terdapat di Alam Pertama, dan/atau Alam Ketiga. Perpaduan Tondi, Roha, dan Pamatang dalam Adat Batak diperlihatkan dengan pertolongan “pira manuk na ni ho-bolan”. Tondi kuning telur terdapat di tengah, Pamatang putih telur yang mengitari. Sedangkan Ro-ha  selaput yang terselip memisahkan kuning  dari putih telur.

Pertemuan “Tondi” dengan “Pamatang”, setelah yang pertama tiba dari Banua Ginjang berada di-perbatasan Banua-Tonga, atau turun dari “Alam Pertama” dan tiba diperbatasan “Alam Kedua”; pada manusia diawali dari konsepsi (conception) ketika sepasang insan, yakni: seorang laki-laki dengan seorang perempuan berhubungan badan. Konsepsi tidak lain dari Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) yang turun dari Banua Gin-jang, atau Alam Pertama, yang menjemput badan (materi) dari Banua-Tonga, atau Alam Kedua, untuk menciptakan benih manusia yang aktif melakukan pembelahan sel. Pembelahan sel  berlang-sung berkesinambungan menciptakan janian, dan yang akhir dapat berkegiatan terus-menerus ka-rena mendapat pemasukan bahan (materi) dari ibu yang mengandung di Banua-Tonga atau Alam Kedua, hingga pada saatnya lahir ke dunia sebagai bayi.

Setelah lahir, bayi melanjutkan kegiatan menghimpun bahan (materi), kini diluar kandungan de-ngan menyusu kepada ibu, juga makanan dan minuman yang diberikan langsung oleh orang tua, ba-ik untuk menambah berat dan menambah tinggi badan. Dengan memelihara kesehatan selama per-tumbuhan, maka bayi akan  menjadi: anak, akil balig, remaja, dan memasuki usia dewasa.

Memasuki usia dewasa, kegiatan menghimpun bahan (materi) berlanjut terus, tetapi  bukan lagi dari pemberian orang tua, melainkan dari usaha mencari nafkah. Pada usia dewasa materi dihimpun melalui kegiatan: makan, minum, bernafas, dan bergerak kebanyakan digunakan untuk metabolisme (pertukaran zat) tubuh berlangsung cara kimia, seperti: perbaikan jaringan tubuh, menyediakan te-naga (energi), pertukaran zat, dan lainnya, untuk memelihara jasmani agar tetap sehat sampai ke batas usia.

Sementara pada hewan, ada yang mengikuti cara manusia, tetapi tidak sedikit yang menyiapkan pinjaman materi bagi generasi dengan telur, dan kehidupan dipicu panas pengeraman. Pada tana-man telur diganti benih (bibit) dan kehidupan dipicu lembab (air) suhu lingkungan.

Menurut ahli kesehatan, pertukaan zat berlangsung tidak berkeputusan dalam tubuh manusia selama hayat membuat yang disebut terakhir, atau bukti kehadiran manusia di muka bumi, berganti selu-ruhnya, mulai kulit yang terdapat di permukaan hingga bagian tubuh terdalam, sekitar tujuh tahun tahun sekali. Itulah sebabnya mengapa bayi lahir ke dunia menjadi besar dengan kegiatan: makan, minum, bernafas, dan bergerak; bertambah beratnya, berubah wajahnya, berganti bentuknya, ber-tambah pengetahunnya, dan lain sebagainya sampai dewasa. Seorang anak usia diatas 7 tahun de-ngan demikian tidak akan lagi menyimpan benda (materi) yang diperoleh dari kedua orang tua saat konsepsi. Kini seluruh benda (materi) yang ada dalam tubuh si anak semata perolehan kegiatan makan dan minum pemberian orang tua saja. Kedua orang tua anak ini, menurut ahli kesehatan tadi, juga telah beralih dari sepasang manusia yang pernah meminjamkan benda (materi) kepada si anak, menjadi hanya pewaris dari pasangan orang tua yang pernah memin-jamkan benda (materi) kepada anak waktu yang silam. Hubungan pasangan orang tua dengan anak yang kini tersisa hanya penje-lasan sejarah saja.

Metabolisme tubuh yang didukung kegiatan: makan, minum, bernafas, dan bergerak membuat se-tiap manusia menukar tubuh (jasmani) secara berkala, menyebabkan “semua orang sama” dimana-mana di seluruh dunia ini, terkecuali yang diatur gen sebagainana yang diungkapkan Proyek Gen Manusia, seperti: bangun tubuh, warna kulit, bentuk wajah, dan berbagai hal yang bersifat khusus lainnya, meskipun hal-hal yang disebutkan belakanganr tidak banyak pengaruhnya dalam hidup sehari-hari insan, selain untuk pengenal diri atau identitas. Karena itu benarlah apa yang dikatakan orang tua-tua di Bona Bulu silam, agar anak yang sudah dewasa diperlakukan sebagai “dongan” (te-man), bukan lagi “anak” sebagaimana sebelumnya. Ini disebabkan anak yang sudah menjadi de-wasa telah sempurna “metamorphosa badannya” menjadi orang lain lewat pergantian jasmani ber-langsung berkali-kali sebagaimana yang telah dijelaskan ahli kesehatan diatas.

Orang yang telah mencapai umur 63 tahun setidaknya telah berganti tubuhnya 9 kali lewat pertu-karan zat yang berjalan 7 tahun sekali. Pelaku kejahatan menjalani hukuman penjara lebih dari 7 tahun dengan demikian telah digantikan oleh serang pewaris bukan lagi pelaku kejahatan, karena tubuh yang terdapat padanya tidak pernah telibat kedalam kejahatan dituduhkan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Pelaku kejahatan tercantum dalam BAP sebetulnya telah meninggalkan penja-ra lewat metabolisme tubuh yang tidak diketahui sipir penjara yang mengawasinya.

Tampak disini hukum alam yang bermain di dunia renik (mikro kosmos) yang tidak harus sejalan dengan keputusan hakim (penegak hukum). Sebaliknya hidup insan di Banua-Tonga sangat ter-gantung kepada aturan biologi memanfaatkan beragam molekul yang menjadikan sel-sel tubuh mnusia. Molekul-molekul ini masih lagi tergantung dari bermacam atom yang menyusunnya. Selain dari itu, tidak dapat dipungkiri peran medan gravitasi dunia renik (gaya tarik-mearik antar atom dan gaya antar molekul) yang membentuk benda, termasuk yang menjadikan tubuh mahluk hidup. Tan-pa kepatuhan dan kesetiaan medan gravitasi dunia renik menunaikan tugas yang diemban masing-masing, maka insan bernama manusia terbentuk lebih dari 70% air dan sedikit tanah (Carbon, Kal-sium, dan sedikit lainnya) ini, tidak lebih dari onggokan atom tak-bernyawa berserakan dalam ru-ang yang tidak ada gunanya.

Akhirnya, masih terdapat medan gravitasi bumi yang membuat manusia dapat menjejakkan kaki di muka bumi atau berbagai benda-langit lain. Kegagalan medan gravitasi akhir ini melaksanakan tu-gas, berakibat semua benda yang ada di muka bumi akan melayang berserakan di angkasa, juga ti-dak trekecuali mahluk yang bernama manusia.

Orang-orang yang telah meninggal, sesungguhnya telah mengembalikan tubuh mereka berulang ka-li sedikit demi sedikit kembali ke Banua-Tonga atau Alam Kedua, lewat pertukaran zat atau me-tabolisme tubuh, akan tetapi yang dikembalikan belakangan ialah yang dimilikinya 7 tahun tera-khir. Tubuh manusia kata orang kebanyakan terdiri dari daging dan tulang, akan tetapi ilmu penge-tahuan membuktikan jasmani ini tidak lain dari tempayan atau kendi yang penuhi air. Hal ini dise-babkan lebih dari 70% berat badan manusia hanyalah air, dan kurang dari 30% yang berupa  unsur-unsur kimia, seperti: karbon (C), kalsium (Ca), kalium (K), besi (Fe), fosfor (P) dan lainnya tidak terkecuali unsur langka bumi (rare earth), sebagaimana terlihat dalam tabel unsur-unsur kimia yang pertama kali diungkapkan oleh Dmitri Ivanovich Mendeleev (1834-1907). Kembali tampak disini, dari apa yang membentuk tubuh manusia, ternyata “semua orang sama” dimana-mana di seluruh dunia ini, tidak lain dari benda (materi) pinjaman dari Banua-Tonga. Perbedaan orang gemuk dari yang kurus lebih disebabkan perbedaan banyak air yang ada pada orang gemuk ketimbang beragam unsur kimia lainnya.

Orang meninggal dunia sesungguhnya manusia yang telah berada di perbatasan antara Banua-Tonga dengan Banua-Toru, atau antara Alam Kedua dengan Alam Ketiga, dalam perjalanan hidup-nya. Pada saat itu, Tondi (Batak), Hati-sanubari/Jiwa (Indonesia), Ruh (Arab), Soul (Inggris), Seele (Jerman) mengembalikan pamatang atau jasmani ke asalnya, yakni Banua-Tonga, atau Alam Ke-dua, karena tubuh manusia hanyalah barang pinjaman. Ini berarti segala mahluk hidup: manusia, hewan, dan tanaman, akan mengembalikan badan (jasmani) bersifat kebendaan (materi) melalui dua tahap, yakni: pengembalian sedikit demi sedikit (partial)  dan pengembalian menyeluruh atau pe-ngembalian belakangan. Banua-Tonga atau Alam Kedua telah menetapkan bahwa setiap jasmani (materi) yang dikembalikan perlu di daur ulang untuk menghindarkan “sampah biologi” (biological waste) yang akan mencemari lingkungan. Daur ulang dikerjakan bermilliar bakteri yang berdiam di tubuh masing-masing mahluk, yang sehari-harinya bertugas mengukir tubuh makhluk agar terlihat sekat dan bersih. Bakteri-bakteri lalu melepaskan gas penyengat indra penciuman yang tersebar ke udara. tujuannya untuk mengundang pendaur ulang lain segera datang guna menyelesaikan peker-jaan secepat mungkin.

Tubuh yang dikembalikan belakangan berada di perbatasan antara Banua-Tonga dengan Banua-To-ru, atau Alam Kedua dengan Alam Ketiga. Bermacam adat-istiadat dan agama yang dianut manusia di muka bumi telah mengajarkan, untuk menghindarkan pencemaran sampah biologi me-ngotori lingkungan, daur ulang dapat dilakukan lewat: pemakaman, pembakaran (kremasi), penenggela-man, dan pembiaran. Pada pemakaman, air kembali ke Banua-Tonga diserap akar tanaman, kemudian menguap ke udara, menjadi awan, menjadi hujan, akhirnya dan kembali ke laut. Beragam unsur kimia lain dikembalikan ke tanah lalu diserap tanaman, dimakan hewan, dan dikonsumsi ma-nusia. Pada pembakaran, air akan mennguap, naik ke udara menjadi awan, akhirnya kembali lagi ke laut. Bermacam unsur kimia yang ikut terbakar menjadi asap, ada yang menjadi abu lalu disimpan keluarga di rumah atau tempat perabuan. Pada penenggelaman, air kembali bergabung dengan yang lain. Bermacam unsur kimia mengendap didasar badan air, seperti: kolam, sungai, danau, laut, dan samudra, menjadi makanan tanaman dan binatang laut. Pada pembiaran, pengeringan di udara terbuka membuat air segera meguap menjadi awan, akhirnya kembali lagi ke laut. Pada yang akhir ini terdapat peran burung manakala ditempatkan di suatu ketinggian di udara terbuka; atau binatang buas bilamana diterlantarkan dalam rimba. Ada pulan yang disimpan dalam bangunan, gua, dan  lain sebagainya dalam mendaur ulang jasmani yang dikembalikan belakangan.

Banua-Tonga atau Alam Kedua telah menetapkan sampah biologi dikembalikan partial dan bela-kangan akan menjadi “rantai makanan” (food chain) pertama sangat diperlukan makhluk hidup: manusia, hewan dan tanaman. Rantai makanan pertama membebaskan tenaga diperlukan manusia, beragam hewan dan tanaman menjalani kehidupan di Banua-Tonga atau Alam Fana serentang hayat. Rantai makanan ragam ini bekerja membebaskan tenaga (energy) matahari yang terdapat dalam jasad dikembalikan lewat penguraian (decompose) kedalam beragam unsur kimia yang ter-cantum dalam tabel Mendeleev.

Adapun rantai makanan kedua ialah yang merakit kembali (recompose) bermacam unsur kimia yang telah terurai, kembali menjadi: butiran, bijian, buah, dan lain sebagainya dikerjakan tumbuhan dibantu proses photosynthesis oleh sinar matahari guna menyimpan tenaga (energy); juga oleh bermacami hewan menghasilkan: susu, daging, madu, dan lainnya. Itulah sebabnya mengapa tana-man sangat memerlukan zat makanan yang mengandung unsur-unsur kimia dari daur ulang pe-ngembalian partial dan belakangan untuk kelangsungannya. Melalui daur ulang dan kesegeraannya, pencemaran lingkungan di Banua- Tonga atau Alam Kedua oleh sampah biologi dengan demikian dapat dihindarkan.

Bagi tubuh orang sehat, Tondi dan Roha selalu menyertai Badan berada di Banua Tonga, atau Alam Kedua. Tidak ada orang yang dapat memperkirkan, berapa lama Tondi dan Roha akan menyertai jasmani pada mahluk hidup, hingga tiba batas waktu yang telah ditentukan. Ketika waktu itu tiba, Tondi akan mengembalikan badan di perbatasan Alam Kedua dan Alam Ketiga. Dan setelah berpisah dari badan, tidak ada lagi yang dapat diketahui orang tentang perjalanan Tondi selanjutnya kembali ke asalnya di Alam Pertama atau Banua-Ginjang.

Dinamika Zaman

Pada awalnya kehidupan masyarakat Batak di beragam tempat di Bonabulu silam berjalan perlahan atau alami, yang dikenal berlangsung evolusioner. Gelombang petama kedatangan agama Islam ke Nu-santara pada abad ke-13 silam, belum menyebabkan perubahan berarti dalam kehidupaan ma-syarakat di Tanah Batak. Akan tetapi dengan datangnya gelombang kedua kedatangan agama Islam dari Sumatera Barat terletak di selatan Tanah Batak lewat Perang Padri (1821-1837), benar-benar menimbulkan perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, atau berlangsung revolusioner.

Pemerintah Hindia Belanda (1833-1942) yang kemudian menggantikan kaum Paderi, melakukan perubahan ce-pat atau revolusioner di Tanah Batak memperkenalkan kerja rodi (kerja paksa) mem-buat jalan dan jembatan. Pemerintah Hindia Belanda yang kolonial, kala itu juga mengharuskan pa-ra Raja dan rakyat membayar belasting (pajak). Dengan sistim pemerintahan terpusat (sentralistis) yang perta-ma kali diperkenalkannya di seluruh Tanah Batak, para Raja dan rakyat lalu dijadikan bagian dari pemerintah Hindia Belanda seberang lautan. Para Raja di Tanah Batak diwajibkan memungut bela-ting bersasaran pendapatan ditetapkan (bertarget). Imbalan yang diberikan kepada masyarakat pada ketika itu: adanya pemerintahan, layanan masyarakat, jalan raya, jembatan, dan pendidikan bagi anak-anak pribumi.

Pemerintah Fascist Jepang (1942-1945) yang menggantikan pemerintah Hindia Belanda di Tanah Batak, juga tidak kalah kolonialnya, memberlakukan perubahan cepat di Tanah Batak, bahkan de-ngan sikap kasar dan kekejaman senjata. Jepang mengharuskan dibentuk barisan-barisan Zikedan dan Bogodan pada setiap kampung di Tanah Batak untuk menghimpun orang muda guna dijadikan “heiho” (pembantu prajurit Jepang) dan “romusha” (pekerja rodi Jepang). Mereka juga memaksa rakyat menyerahkan hasil bumi, baik yang dibayar dengan uang Jepang maupun yang tidak memperoleh bayaran samasekali. Setelah Jepang bertekuk lutut kepada Sekutu pimpinan Amerika Serikat di penghujung Perang Dunia Ke-II silam, pemimpin pergerakan NRI (Negara Republik Indonesia) di Tanah Batak lalu mengambil alih pemerintahan. Kaum pergerakan anak-negeri juga tidak luput dari melakukan perubahan cepat di Tanah Batak, dengan melakukan revolusi untuk menolak kembali datangnya Belanda menjajah Tanah-air, setelah Jepang bertekuk lutut di negeri-nya kepada Amerika Serikat, lalu menjanjikan kehidupa yang bebas dari kemiskinan dalam alam kemerdekaan.

Memasuki revolusi kemerdekaan, pemerintah NRI keresidenan Tapanuli yang beribukota Tarutung mengeluarkan ketetapan Residen Tapanuli No.: 274 tertanggal 14 Maret 1946, dan No: 1/D.P.T. tertanggal 11 Januari 1947, ditandatangani Dr. F.L. Tobing. Adapun isi ketetapan Residen Tapanuli itu ialah: Para Raja yang masih menjabat pada pemerintahan, maupun mereka yang masih beru-rusan dengan kegiatan lingkungan publik di Tanah Batak, apapun jabatan diemban, diberhentikan dengan hormat. Adapun para pejabat pemerintah pengganti yang akan menyelenggarakan pemerin-tahan selanjutnya di Tanah Batak, akan dipilih secara demokratis oleh Pemerintah Republik Indo-nesia. Dengan demikian seluruh pemerintahan yang awalnya masih berlangsung menurut adat Ba-tak setempat, masih diperkenankan oleh pemerintahan Hindia Belanda untuk tingkat Bonabu-lu/Huta silam, sejak saat bersejarah itu terpaksa harus tersingkir dari wilayah publik di Tanah Ba-tak, lalu berhijrah ke ranah seremonial perhelatan Adat Batak semata.

Gelombang perubahan cepat yang melanda Tanah Batak, dimulai: Perang Paderi, penjajahan Hin-dia Belanda, penjajahan Facist Jepang, revolusi dan perang kemerdekaan, hingga memasuki zaman kemerdekaan; telah menyebabkan masyarakat Batak mulai dari Bonabulu hingga perantauan (orang Batak diaspora) menjadi terbuka dan menerima kenyataan. Kini memasuki abad ke-21, suku-bangsa Batak harus pula menerima bermacam pengaruh lain, termasuk dampak globalisasi dunia (Interna-sionalisasi) dengan masuknya: pandangan hidup kemasyaakatan dengan aneka ragam agama, ser-buan budaya dari beragam bangsa, aneka musik populer, ilmu pengetahuan aneka ragam disiplin dan teknologi, yang mengantarkan insan sedunia memasuki peradaban millenium ketiga.

Apapun berbagai pengaruh yang telah mendera masyarakat di Tanah Batak, apapun ragam maupun bentuknya, mulai dari waktu silam hingga dengan sekarang, baik kepada masyarakat yang masih berdiam di Bona Bulu maupun yang telah berada di perantauan, kenyataan masih tetap memper-lihatkan TBS sebagaimana pandangan Ompu Simulajadi tentang segala yang ada, dan tetap saja serba-tiga kenyataannya, yakni:

Pertama. Dengan munculnya keragaman agama dianut berbagai bangsa di dunia, masyarakat Batak di Bonabulu demikian juga mereka yang telah berada di perantauan lalu menganut ajaran mono-theisme, yakni ajaran beriman kepada Tuhan Yang Esa yang tunggal, karena  banyak persamaannya dengan pandangan Ompu Simulajadi silam. Kepada mereka yang beragama Islam, ini berarti mengakui hadirnya Tuhan Yang Maha Esa, maknanya tidak ada Tuhan selain Allah. Dan ini memperlihatkan Semangat Ketuhanan; yang dalam bahasa Arab diungkapkan oleh rangkaian kata: Hablumminallah.

Kedua. Dengan timbulnya bermacam pengaruh budaya dan ilmu pengeauan dari segala penjuru dunia mempengaruhi kehidupan masyarakat Batak dari Bonabulu sampai perantauan, menyebabkan adat-istiadat warisan leluhur diperkaya, dan pengayaan datang dari lingkungan Nasional dan lingkungan Inter-nasional. Bermacam pengaruh tadi membuat suku-bangsa Batak melebarkan pan-dangan hidup: diawali dari kesukuan yang sempit di Bonabulu silam, menjadi Nasional yang lebih luas, kemudian Internasional bersifat gelobal; sekaligus menjadikan suku-bangsa Batak bagian dari masyarakat dunia. Kepada mereka yang beragama Islam ini menunjukkan Semangat Kemanusiaan; yang dalam bahasa Arab diungkapkan dengan rangkaian kata: Hablumminannas.

Ketiga. Perkebangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menciptakan kemajuan: sosial, ekonomi, dan budaya dalam masyarakat suku-bangsa Batak mulai dari Bonabulu, lalu Nasional, dan Internasional, membuat suku-bangsa Batak dari Bona Bulu hingga tanah perantauan turut me-nikmatinya. Karena itu harus ikut pula bertanggungjawab terhadap lingkungan hidup, tidak semata tingkat Bonabulu, tetapi pula Nasional dan Internasional hingga ke tepian Alam Semesta. Bukankah dalam Al-Quran ‘ul Karim tercantum surat 2:11, yang menyerukan agar: “….jangan kamu membuat kerusakan di muka bumi….”, dan diulang kembali dalam bermacam surat-surat yang kemudian me-nyusul. Kepada mereka yang beragama Islam ini memperlihatkan Semangat Memelihara Lingku-ngan Alam Semesta; yang manakala diutarakan dalam bahasa Arab akan melahirkan untaian kata: Hablumminalkaun.

Dengan demikian Trilogi: Hablumminallah, Hablumminannas, dan Hablumminalkaun, menjadi Sekawan Kesepakatan Manusia (SKM), tidak asing lagi di telinga suku-bangsa Batak beragama Islam, karena memang sejalan dengan pandangan Ompu Simulajadi silam tentang Alam Semesta, tentang adanya: Banua-Ginjang, Banua-Tonga, dan Banua-Toru mengitari kehidupan mahluk di bumi ini. Hablumminallah menjadi pertanda penyerahan diri manusia kepada Al-Khalik Sang Pencipta dalam arah vertical; lalu Hablumminannas ialah persaudaraan sesama manusia bercorak horzontal di permukaan bumi, sedangkan Hablumminalkaun menjadi tanggungjawab manusia kepada lingkungan hidup tempat keberadaan yang menampung semuanya, mulai dari dimana kaki manusia berpijak hingga ke tepian Alam Semesta.

Apapun agama dianut suku-bangsa Batak yang mengatur hubungan manusia dengan Al-Khalik yang vertikal, tidak diragukan lagi berawal dari pandangan Ompu Simulajai silam. Sedangkan hubungan antara sesama manusia yang horizontal berangkat dari adat Batak Dalihan Na Tolu di Bonabulu bersifat lokal, lalu meningkat menjadi budaya bangsa Indonesia bersifat nasional, akhir-nya meluas menjadi budaya antarbangsa atau dunia bersifat Internasional. Adapun kepedulian suku-bangsa Batak terhadap lingkungan tempat berdiam di muka bumi dimulai peradaban zaman batu corak lokal, berkembang menjadi peradaban zaman logam yang global, lalu berkembang menjadi peradaban ilmu pengetahuan dan teknologi, disingkat Iptek, meliputi Alam Semesta.

Dengan demikian Agama, Adat-istiadat, dan Iptek telah merupakan Sekawan Kebutuhan Manusia  (SKM) untuk mencapai: perdamaian, kemajuan, dan kesejahteraan umat hidup di muka bumi ke-depan menelusuri abad ke-21 atau Millenia ke-III yang sedang berjalan. Khusus untuk suku-bangsa Batak SKM menjadi kelanjutan dari pandangan Ompu Simulajadi di Bonabulu silam.

Revolusi Industri

Meski peradaban di Timur Tengah telah sangat maju memasuki tarikh Masehi silam, akan tetapi “revolusi industri” bermula dari daratan Eropa jauh di bagian Utara, ketika itu masih tergolong  kampung dibandingkan dengan yang disebut terdahulu. Gelombang pertama “revolusi industri” muncul tahun 1760 hingga 1820 dan 1840 (penghujung abad ke-18 dan awal abad ke-19), pada saat itu di Inggris James Watt memperkenalkan mesin-uap (steam engine) pertama temuannya kepada  dunia; dilanjutkan gelombang kedua dari tahun 1840 hingga tahun 1870, yang mengawali peru-bahan besar kehidupan manusia pada bermacam bidang, antara lain: ekonomi, budaya, pendidikan, kemasyarakatan, dan lainnya di daratan Eropa Barat. Revolusi industri menemukan momentum de-ngan tersebarnya jaringan jalan kereta-api dihela lokomotiv-uap yang membakar batubara di Ero-pa, dan meluas hingga ke Wladiwostok, di ujung Timur kekaisaran Rusia silam. Jaringan jalan-raya juga menyusul di Eropa dengan diperkenalkannya mesin bensin diperkenalkan Nikolaus Otto dan mesin diesel oleh Rudolph Diesel, dari Jerman. Hingga dengan timbulnya revolusi industri di Eropa, umat dimana-mana deseluruh penjuru dunia bepergian kemana-mana hanya dengan ber-jalan-kaki saja, paling banyak mengendarai ternak peliharaan yang telah jinak, atau kereta dihela hewan peliharaan yang telah dijinak-kan. Adapun ternak yang banyak digunakan untuk angkutan penumpang dan barang dimana-mana di dunia ketika itu, ialah: kuda, lembu, sapi, unta, dan lain se-taranya.

Revolusi industri yang tampil abad ke-18, lalu mengantarkan manusia menguasai “teknologi angku-tan” memudahkan orang untuk bepergian di muka bumi menggunakan bermacam moda transpor-tasi, seperti: jalan-baja, jalan-raya, jalan-air, dan jalan-udara. Layanan angkutan kemudian berkem-bang pesat, dimulai angkutan kota besar bersifat lokal atau setempat, lalu angkutan antar kota dan propinsi yang bersifat kawasan atau regional, dan angkutan antar negara yang bersifat antarbangsa atau internasional. Dengan demikian siapapun yang kini berdiam di muka bumi, mulai: perorangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa, walau tinggal berjauhan satu sama lain, dipagari lagi jarak berjalan-kaki yang lama dan melelahkan, kini dapat dengan mudah saling berkunjung untuk bersilaturrahmi, kapan pun, dengan siapa pun, dan dimanapun di muka bumi, dengan hanya membeli tiket, berkat adanya beragam moda  angkutan yang dibidani revolusi industri silam.

Revolusi Digital

Menghampiri penghujung abad ke-20 silam, dua abad pasca revolusi industri, muncul pula “re-volusi elektronik”, dibidani: “ICT” (Information and Communication Technologi) atau “TIK” (Teknologi Informasi dan Komunikasi), memungkinkan orang dapat bercakap-cakap sekaligus  ber-tatap muka langsung (in real time) memanfaatkan “Perangkat Elek-tronik Bergerak”, disingkat PEB (Electronic Mobile Device, disingkat EMD) dapat dikantongi dan dibawa kemana saja pergi, dina-makan: gadget (gawai). Dengan demikian siapapun yang berdiam di muka bumi, mulai: pero-rangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa, meski berada saling berjauhan, dipagari la-gi jarak berjalan-kaki yang lama dan melelahkan, kini dengan mudah dapat bercakap-cakap untuk bersilaturrahmi, kapan pun, dengan siapa pun, dan dimanapun di muka bumi ini, dengan hanya membeli pulsa lewat gawai, dengan diperdagangkannya PEB bermacam merek di pasar perangkat elektronik, dilahirkan “revolusi elektronik”.

Informasi Yang Terbuka

Kedua revolusi masing-masing: “transportasi” dan “telekomunikasi”, membuat mitologi bermacam komunitas, mulai: keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa berbagai kawasan di muka bumi sejak ratusan ribu tahun yang silam, berisi antara lain: sejarah, ceritra, hikayat dari luhur, dan lain sebagainya yang telah menjadi budaya, demikian pula berbagai hal sakral; aneka ragam keperca-yaan sampai keimanan beragama, dari: perorangan, keluarga, masyarakat, suku-bangsa, dan bangsa, lalu menjadi terbuka pada dunia oleh teknologi transportasi dan komunikasi. Mitologi yang menjadi “harta hati-sanubari” insani bermacam komunitas beragam bangsa, dari: perorangan, keluarga, ma-syarakat, suku-bangsa, dan bangsa yang terdapat di muka bumi, lalu menjadi bahan atau materi kajian perbandingan kalangan cerdik-pandai yang gemar bekerja menemukan kebenaran yang ber-sifat hakiki.

Harta insani bersemayam dalam hati-sanubari kini lebih dari 7 Milliad manusia di dunia dari ber-bagai bangsa tampil tidak bersamaan ke muka bumi nenempuh perjalanan waktu panjang silam, lalu dalam waktu singkat dipertukarkan diantara sesama orang dalam kegiatan silaturrahmi, baik yang didekatkan oleh “sarana transportasi” oleh kemudahan bepergian dengan bermacam kendaraan, maupun didekatkan oleh “sarana komunikasi” PEB atau “gadget (gawai)” beragam merek  tersebar luas yang diperdagangkan di pasar. Bermacam kelompok berkepentingan lalu memanfaatkan harta insani bersemayam dalam hati-nurani insani ini menjadi bahan atau materi diskusi, kajian ilmu pe-ngetahuan beragam disiplin dikuasai untuk menemukan kebenaran mutlak atau absolut. Analisa perbandingan, dari: budaya, nilai sakral, kepercayaan, sampai keimanan, dan lainnya berkembang, mulai dari negara maju hingga yang masih berkembang. Publikasi hasil kajian, mulai yang dilakukan orang awam hingga para ahli berbagai disiplin menarik perhatian media hingga penerbit untuk disebarkan ke masyarakat, mulai dari talkshow hingga penjualan buku. Publikasi jelas rawan menimbulkan sengketa pendapat diantara mereka yang pro dengan yang kontra dan menimbulkan pertikaian tidak diinginkan antara kaum pewaris harta insani yang tersebar dalam masyarakat, mu-lai dari: lokal, regional, hingga internasional.

Untuk menjaga Ketenteraman Masyarakat Dunia, disingkat KMD, (The Wellbeing of World Socie-ty, disingkat W2S) terusik oleh “Teknologi Transportasi dan Komunikasi”, disingkat T2K (Trans-portation and Communication Technology, disingkat TCT) dibidani “revolusi industri” dan “revo-lusi digital” yang melahirkan bermacam sarana transportasi dan komunikasi, maka untuk menghin-darkan keresahan para pewaris harta karun insani dari leluhur, kepercayaan, agama dan beragam nilai sakral yang ada, sudah tiba saatnya membentuk: Majelis Mitologi Dunia, disingkat MMD (World Mithology Council, disingkat WMC. Adapun tugas MMD ialah menyediakan “tempat” mengatasi persoalan sekaligus “tenaga ahli” dibidangnya”, mulai persoalan yang telah timbul hing-ga dengan yang berpotensi menimbulkan masalah. Dengan demikian berbagai macam harta karusn insani bersemayam dalam hati-nurani umat bermukim di muka bumi ini, terutama berkaitan dengan kepercayaan, keimanan agama, bernilai sakral, dan lainnya dapat diantisipasi lalu dijembatani, se-hingga kebersamaan hidup umat di planit biru ini selalu dapat berjalan harmonis, dan dinaungi ke-rukunan.

——————–selesai——————–

Catatan Penulis:

Paukpauk Hudali, Pagopago Tarugi; Na Tading Taulahi, Na Sego Tapauli.

(Dikutip dari tarombo Marga Siregar Bunga Bondar yang dikerjakan Tulang: Sutan Habiaran).

Penulis:

H.M.Rusli Harahap

Pamulang Residence, G1

Jalan Pamulang 2, Pondok Benda. Kode Pos: 1541

Tangerang Selatan, Banten. Indonesia.

11 Mei 2016

Tel. 021-74631125.

Bottom of Form

 

Posted by: rusliharahap | May 24, 2016

ELEVATOR JALAN-RAYA UNTUK PARA PENYEBERANG

Pendahuluan

Dengan kendaraan bermotor bermacam jumlah roda terus menyerbu perkotaan Nusantara dan Mancanegara, mulai kecil apalagi yang besar menelusuri perjalanan waktu, para pejalan-kaki (pedestrian) yang menyeberang jalan-raya di kota-kota yang padat penduduknya mendapat semakin sedikit waktu menyeberang pada lampu merah berlambang zebra yang disediakan. Para penyeberang jalan-raya mengeluh oleh waktu tersedia yang semakin pendek, demikian pula keselamatan jiwa manusia untuk sampai diseberang yang tidak terjamin. Para pejalan-kaki merasa sangat dirugikan oleh banyaknya waktu berharga yang terbuang percuma menunggu peluang me-nyeberang jalan yang kian langka. Menyeberang jalan kini menjadi permasalahan pelik yang tidak mudah dipecahkan oleh para walikota menelusuri waktu terlebih pada jam sibuk hari-hari kerja dewasa ini. Selain itu masalah lain ditemui, memberi peluang kepada para pejalan-kaki menyeberang jalan-raya di zebra-cross menimbulkan antrian panjang kendaraan bermotor yang menghamburkan gas buang hasil pembakaran BBM yang mencemari udara kota sekitar. Dan yang akhir ini jelas mengganngu kesehatan warga kota yang sedang berlalu lalang disekitar.

Untuk mengatasi persoalan diatas, terlebih lagi timbulnya kecelakaan lalulintas di permukaan ja-lan-raya berbagai kota besar yang padat penduduknya Tanah-air maupun Mancanegara, sudah tiba waktunya para pejalan-kaki “hijrah” dari menyeberang jalan-raya “satu bidang” menuju menyeberang jalan-raya “dua bidang”, dengan memperkenalkan prasarana atau infrastruktur penyeberang jalan-raya diperlukan. Adapun prasarana dimaksud, ialah apa yang dinamakan: Penyeberang Pejalan-kaki Atas (PPA) atau Overhead Pedestrian Crossing (OPC), dan Penyeberang Pejalan-kaki Bawah (PPB) atau Underpass Pedestrian Crossing (UPC), dibangun pada berbagai lokasi strategis di kota-kota besar yang padat penduduknya Tanah-Air maupun Mancanegara.

PPA dapat berupa satu atau lebih “jembatan penyeberangan” menghubungkan dua sisi jalan-raya yang diseberangi para pejalan-kaki ketinggian ± 5 meter diatas muka jalan-raya, sehingga beragam kendaraan bermotor bergerak terpisah dibawahnya. Sedangkan PPB tidak lain dari satu atau lebih perlintasan atau lorong ± 2.5 meter dibawah muka jalan-raya yang dilewati para pejalan-kaki, sehingga bermacam kendaraan dapat bergerak terpisah diatasnya. Bagi para pejalan-kaki PPB lebih diminati, karena “menuruni” tangga sedalam ± 2.5 meter dibawah permukaan jalan menguras sedikit tenaga (energy) ketimbang naik tangga menuju PPA tinggi  ± 5 meter diatas permukaan jalan-raya.

Prasarana Menyeberang Jalan-raya

PPA dapat didirikan dalam kota yang padat penduduknya untuk melancarkan lalulintas kendaraan bermotor roda dua, tiga, empat, dan lainnya, juga memudahkan warga kota menyeberang jalan-raya tanpa menyebabkan timbulnya kecelakaan lalu-lintas. Akan tetapi PPB hanya dapat dibangun di tempat-tempat yang dikenal aman dalam kota untuk menghindarkan timbulnya keja-hatan. Dalam pelaksanaannya, dibedakan dua macam (kategori) PPA yang mendapat sambutan baik warga kota kecil maupun besar padat penduduknya, masing-masing: Penyeberang Pejalan-kaki Lurus (PPL) atau Straight Pedestrian Crossing (SPC) sebagaimana tampak pada Gambar Ia, dan Penyeberangan Pejalankaki Terpadu (PPT) atau Integrated Pedestrian Crossing (IPC) seba-gaimana tampak pada Gambar Ib.

SaranaMenyeberang Jalan-raya

Gambar-I

PPL dan PPT

Sebuah PPL dapat terdiri dari satu atau lebih jembatan penyeberangan menghubungkan dua sisi jalan-raya yang diseberangi para pejalan-kaki (pedestrian), sedangkan PPT adalah sejumlah jem-batan penyeberangan mengitari pertemuan sejumlah jalan-raya (roundabout). Yang disebut akhir ini tidak perlu bulat bagai lingkaran seperti yang diperlihatkan Gambar-Ib, tetapi boleh bentuk tertutup sebarang (loop) menurut keadaan lingkungan pertemuan jalan-jalan raya (motorway interchange) dikelilingi kota besar yang padat penduduknya Tanah-Air atau Mancanegara dibica-rakan.

Dengan telah adanya PPL (SPC) dan PPT (IPC) di kota-kota besar yang padat penduduknya, baik Nusantara maupun Mancanegara, menyeberang jalan-raya di berbagai kota besar yang padat penduduknya, menyebarang jalan-raya “budaya lama” dibantu tangga perlu ditinggalkan untuk hijrah ke “budaya baru” dibantu sarana naik turun, disingkat “sanatu”, atau “elevator jalan-raya”. Sanatu atau elevator jalan-raya dirancang khususn untuk para pejalan-kaki (pedestrian) yang menyeberang jalan-raya. Dengan demikian, menyeberang jalan-raya di tengah terik matahari atau dinginnya tengah malam tidak perlu lagi menguras tenaga (energy) tubuh manusia, atau para pejalan-kaki. Budaya lama selain telah ketinggalan zaman, juga tidak layak lagi digunakan me-ngingat keamanan dan kenyamanan para pejalan-kaki yang tidak terjamin, sebagaimana yang telah diatur dalam “Standardisasi Nasional Menyeberang Jalan Indonesia” (SNMJI). Menyeberang jalan-raya budaya lama dengan tangga perlu diakhiri di kota-kota yang padat penduduknya baik, Nusantara maupun Mancanegara oleh alasan sederhana, yakni: menyalahi “hak azasi  ma-nusia” karena menyalahi ketentuan SNMJI. Perlu dicatat jalan-raya sudah semakin dikuasai sa-rana angkutan bermotor bikinan manusia, sehingga untuk keselamatan jiwa para pejalan-kaki (pedestrian) harus mendapat perlindungan undang-undang yang telah diatur dalam SNMJI agar selamat sampai ke tujuan diseberang jalan-raya.

Sanatu atau Elevator

Yang disebut dengan “sanatu” tidak lain dari “bilik-angkut” orang, atau ruang-angkut orang, dan lebih populer dengan sebutan “elevator”. Dengan elevator para pejalan-kaki (pedestrian) dinaikkan dari muka jalan-raya ke satu sisi PPL (SPC) ketinggian sekitar ± 5 meter, kemudian menurunkan para pejalan-kaki (pedestrian) dari sisi lain PPL (SPC) kembali ke muka jalan-raya diseberangi. Sanatu atau elevator juga menaikkan para pejalan-kaki (pedestrian) dari muka jalan-raya ke satu sisi PPT (IPC), sebaliknya menurunkan para pejalan-kaki (pedestrian) dari sisi lain PPT (IPC) kembali ke muka jalan-raya. Gambar-II memperlihatkan sebuah sanatu terdiri dari satu kabin yang bergerak naik atau turun dan penyangga yang dibutuhkan. Gambar IIa memperlihatkan “topang luar” (external support) berupa sangkar, sementara Gambar IIb memperlihatkan “topang tengah” (central support) berupa tonggak. Adapun teknologi digunakan untuk menaikkan atau menurunkan bilik (kabin) elevator sangat sederhana, yaitu: 1. Bolt-Nut dengan Bevel Gear, atau 2. Rack-Pinion dengan Bevel Gear dan Worm Gear, dijalankan motor induksi rem (brake induc-tion motor).

“Ruang angkut” sanatu bekerja menganta para pejalan-kaki (pedestrian) dari permukaan jalan-raya menuju ketinggian PPL (SPC) atau bagian PPT (IPC), sebaliknya menurunkan para pejalan-kaki (pedestrian) dari sisi lain PPL (SPC) atau bagian PPT (IPC) kembali ke permukaan jalan-raya seberang. Ruang angkut ini selanjutnya diberi nama: Elevator Pejalan-kaki, disingkat EP, atau Pedestrian Elevator, disingkat PE. Dengan meninggalkan “budaya lama” dan berhijrah ke “budaya baru”, para pejalan-kaki (pedestrian) dari segala generasi mulai normal hingga para di-sabel (disable) dimanapun akan dapat menyeberang jalan-raya kota-kota yang padat penduduk-nya dengan mudan dan selamat sampai diseberang sesuai SNI yang berlaku.

Dengan hijrah ke budaya baru, para pejalan-kaki (pedestrian) kota-kota besar yang padat penduduknya ketika menyeberang jalan-raya: pertama akan dinaikkan EP ke PPL atau bagian PPT tinggi sekitar ± 5 m diatas jalan-raya. Lalu membiarkan mereka berjalan-kaki sepanjang PPL atau bagian PPT yang horizontal atau datar, lalu dari sisi lain PPL atau bagian PPT, pejalan-kaki (pedestrian) akan diturunkan EP kembali ke muka jalan-raya seberang.

Daya angkut EP (PE) tergantung luas lantai bilik atau elevator. Semakin luas lantai ini, semakin baanyak orang yang dapat diangkut bilik atau kabin elevator. Dalam merancang EP perlu di-tetapkan “standard daya angkut” bilik atau kabin EP (PE), seperti: 5 orang, 10 orang, 15 orang, 20 orang, 25 orang, 30 orang, dan lainnya.

PPL dan PPT dapat dibuat dari konstruksi beton bertulang, seperti tempat berjalan kaki (pe-destrian crossing) setinggi ± 5 meter diatas muka jalan-raya untuk para pejalan-kaki (pedestrian), demikian juga konstruksi baja untuk EP (PE) termasuk bilik atau kabin. Sebagai bagian dari kon-struksi beton, beton pratekan (reinforced concrete dapat dimanfaatkan), seperti untuk: pembuatan badan jembatan, dan beragam tiang penyangga yang digunakan. Dalam pembuatan EP (PE), tidak diragukan lagi diperlukan juga baja kanal-C atau baja kanal-H, pipa baja, plat baja, dan la-innya, tidak terkecuali pembuatan pagar pembatas dan pengaman, supaya  lebih ekonomis secara keseluruhan.

Terdapat dua macam EP (PE) dalam pelaksanaannya, masing-masing: Elevator Topang Keliling (ETK) atau Peripherally Braced Elevator (PBE) sebagaimana tampak pada Gambar-IIa, dan Ele- vator Topang Tengah (ETT) atau Centrally Braced Elevator (CBE), sebagaimana yang tampak pada Gambar-IIb.

EP-I
Gambar-II

ETK adalah konstruksi baja yang mempunyai penampang persegi atau bulat seperti sangkar, di dalam mana bilik atau kabin para pejalan-kaki (pedestrian) dapat bergerak naik atau turun. Ada-pun ETT, adalah tiang tengah terbuat dari baja atau beton, di sekeliling mana bilik atau kabin untuk pejalan-kaki (pedestrian) berbentuk sangkar dengan penampang persegi atau bulat yang  dapat bergerak naik atau turun. Berbeda dengan lift bangunan tinggi, ETK dan ETT tidak mem-butuhkan kabel baja untuk menggantung bilik atau kabin berikut dan perlengkapannya, tetapi memerlukan pelataran atau platform untuk lantai dengan empat Alat Angkat (AA) atau Lifting Device (LD) teknologi sederhana, yaitu: 1. Bolt-Nut dengan Bevel Gear, atau 2. Rack-Pinion de-ngan Bevel Gear dan Worm Gear, digerakkan motor induksi-rem.

Empat AA (LD) akan menaikkan pelataran bilik atau kabin berikut para pejalan-kaki (pedestrian) serentak kesuatu ketinggian, atau sebaliknya menurunkan bilik atau kabin berikut para pejalan-kaki kebawah dari suatu ketinggian serentak, dilaksanakan sistim mekanik yang terdapat dalam kompartemen dibawah lantai bilik atau kabin. Bilik atau kabin yang terdapat dalam ETK atau ETT tidak dapat merosot atau turun dengan sendirinya oleh berat bilik atau kabin termasuk para pejalan-kaki (pedestrian) di dalamnya, kecuali digerakkan motor induksi-rem. Dengan perkataan lain, ETK and ETT dengan bilik atau kabin bersama para pejalan-kaki (pedestrian) dalamnya tidak dapat bergerak turun atau naik, kecuali mendapat perintah untuk melakukannya.

Tenaga listrik diperlukan menggerakkan ETK dan ETT diperoleh dari jala-jala PLN, atau sumber listrik lain, melalui kabel daya menuju panel ETK dan ETT, dan dari yang akhir ini dengan kabel tembaga lemas (flexsible wire) menuju bilik atau kabin. Pilihan lain, memanfaatkan tiga rel tem-baga terisolasi yang dipungut tiga sikat karbon. Apabila jaringan PLN gagal menyediakan daya listrik, sebuah sumber tenaga listrik darurat (emergency power supply) dapat ditempatkan keda-lam bilik atau kabin.

Sumber listrik lain yang juga dapat digunakan ialah tenaga surya (sun energy) memanfaatkan pa-nel surya, dan peladangan angin (wind farm). Tenaga listrik dibutuhkan selain untuk menaikkan atau menurunkan bilik atau kabin beserta para pejalan-kaki didalamnya, juga menjalankan sistim listrik, sistim elektronik, sistim kendali; juga penerangan jalan-raya.

Terdapat Pengendali Logika Terprogram (PLT) atau Programmable Logic Controller (PLC)  da-lam kompartemen guna antarmuka (interface), supaya para pejalan-kaki (pedestrian) dapat me-merintahkan sistim elektro-mekanik (electro-mechanical system) ETK dan ETT bekerja me-naikkan atau menurunkan bilik atau kabin. Juga terdapat saluran kendali (control wirings), be-serta tombol-tombol (push buttons) termasuk pemutus-pemutus batas (limit switches), sehingga ETK dan ETT dapat mengerti perintah para pejalan-kaki (pedestrian) dengan baik.

Peneyeberangan Jalan-raya Mandiri

Gambar-III memperlihatkan penyeberangan jalan-raya mandiri, karena hanya bertugas  menye-berangkan para pejalan-kaki saja. Penyeberangan Jalan-raya Mandiri (PJM) untuk para pejalan-kaki (pedestrian) yang disederhanakan, terlihat pada Gambar-IIIa dibawah ini:

busway-01a

Gambar-IIIa

Adapun keterangan dari pandangan atas PPL bekerja sebagai PJM adalah, dari kiri ke kanan, adalah sebagaimana yang dikemukakan dibawah ini:

  1. Lajur Angkutan Umum Hilir.
  2. Lajur Angkutan Busway Hilir.
  3. Lajur Angkutan Busway Mudik.
  4. Lajur Angkutan Umum Mudik.
  5. Tapak tempat para penyeberang jalan-raya (pedestrian) berhimpun atau bubar:

x – jarak tapak dari PJM.

y – jarak tapak dari sumbu jalan-raya diseberangi.

Kedua besaran ini tidak perlu sama luas maupun bentuknya di tepi jalan-raya diseberangi. Dan ini banyak tergantung dari keberhasilan pemerintah kota membebaskan lahan kebutuhan para menyeberang jalan-raya (pedestrian), untuk menjadikannya perhentian (halte) bus, menyimak ketentuan SNI yang berhubungan dengan masalah ini.

  1. EP (PE) Sanatu atau Elevator.

busway-01b

Gambar-IIIb

Adapun berbagai bagian PPL tampak dari depan ialah sebagai berikut:

  1. PPL menghubungkan kedua sisi jalan-raya diseberangi.
  2. Tiang penyangga yang ada ditengah.
  3. EP (PE) berada di kedua ujung PPL, masing-masing terdapat diatas tapak kanan

dan tapak kiri.

h =  tinggi PPL ± 5 m diatas jalan-raya yang diseberangi.

busway-01c

Gambar-IIIc

Gambar-IIIc memperlihatkan PPL mandiri tampak dari samping.

  1. PPL tinggi ± 5 meter diatas jalan-raya.
  2. EP (PE) tampak dari samping diatas sebuah tapak.

Ketika akan menyeberang jalan-raya, pejalan-kaki (pedestrian) perlu terlebih dahulu menurunkan  EP (PE) apabila sedang berada diatas sedemikian rupa, sehingga lantai bilik atau kabin rata de-ngan permukaan tapak. Dengan menekan Tombol Buka (TB) dari luar, pintu bilik atau kabin akan terbuka, dan para pejalan-kaki dapat masuk. Dengan menekan Tombol Tutup (TT) dari da-lam bilik atau kabin, EP akan bergerak naik dan baru berhenti setelah menyentuh pemutus batas (limit switch) bagian atas. Selanjutnya TB ditekan, dan pintu bilik atau kabin akan terbuka dan para pejalan-kaki (pedestrian) lalu keluar menuju PPL, atau bagian PPT. Selesai.

Menurunkan para pejalan-kaki (pedestrian) dari ketinggian PPL (SPC) atau bagian PPT (IPC), diawali menaikkan EP (PE) manakala sedang ada dibawah sedemikian rupa, sehingga lantai bilik rata dengan lantai PPL (SPC) atau bagian PPT (IPC). Dengan menekan TB dari luar, pintu bilik atau kabin membuka dan para pejalan-kaki (pedestrian) dapat masuk. TT lalu ditekan dari dalam membuat bilik atau kabin bergerak turun, baru berhenti setelah menyentuh pemutus batas (limit switch) bagian bawah. Selanjutnya TB ditekan dari dalam membuat pintu bilik atau kabin mem-buka, dan para pejalan-kaki (pedestrian) keluar ke permukaan tapak-seberang. Selesai.

Terdapat irama nada berbeda menyertai saat EP (PE) bergerak naik, atau turun. Maksudnya  memberitahukan orang yang ada disekitar bahwa EP (PE) sedang melayani para pejalan-kaki (pedestrian) menyeberang jalan-raya.

PPL (SPC) dibangun untuk menyeberang jalan-raya pada berbagai tempat strategis dalam kota-kota besar yang padat penduduknya dimana banyak kendaraan melaju pesat, sedangkan PPT (IPC) dibangun mengitari persimpangan banyak jalan-raya dimana banyak kendaraan juga me-laju pesat. Dengan pemisahan sempurna pejalan-kaki (pedestrian) dari kendraan, kecepatan rata-rata lalulintas diting-katkan menuju kecepatan ekonomis kendaraan untuk menghemat pema-kaian bahan-bakar, menurunkan pencemaran udara, menyingkat waktu tempuh, dan memelihara tertib lalulintas. Dan yang disebut belakangan, tidak mungkin diperoleh dengan manipulasi atu-ran lalu-lintas (software atau perangkat-lunak) semata, tetapi harus juga menghadirkan sarana (hardware atau perangkat-keras) diperlukan: PPL (SPC) berikut EP (PE), juga PPT (IPC) berikut EP (PE). Inilah yang dinamakan: Software+Hardware Solution, disingkst SHS, atau Peme-cahan Perangkat-lunak+Perangkat-keras, disingkat PPP atau 3P, terhadap persoalan lalu-lintas jalan-raya kota besar yang padat penduduknya di Tanah-Air dan Mancanegara manapun muka bumi ini.

Menyeberang Membayar

Dengan kehadiran: PPL (SPC), PPT (IPC), dibantu EP (PE) pada kota-kota besar yang padat penduduknya, maka orang yang sengaja menyeberang jalan-raya pada tempat “terlarang” perlu dihukum. Dasar “melanggar hukum” mendasari jelas: 1. Penyeberang sembarangan atau penyeberang liar menyebabkan pengemudi terkejut, 2. Ia menurunkan kecepatan kendaraan dengan tiba-tiba dibawah besaran diperkenankan, 3. Pemakaian bahan-bakar menjadi boros, 4. Pencemaran udara meningkat, 5. Tertib lalu-lintas terganggu, dan 6. waktu yang berharga lang-sung terbuang.

Dengan telah terdapat PPL (SPC), PPT (IPC), dengan EP (PE) di berbagai kota besar padat pen-duduknya Tanah-Air dan Mancanegara, gagasan “Menyeberang Membayar” (MM), atau “Pay Crossing” (PC) dapat diperkenalkan pada masyarakat berdiam di perkotaan. Tujuannya menghimpun dana yang diperlukan untuk: 1. Menjalankan (mengoperasikan), 2. Merawat, dan 3. Melunasi cicilan bank untuk pembuatan PPL (SPC), PPT (IPC), berikut dengan EP (PE) diatas jalan-raya kota-kota besar padat penduduknya; manakala walikota tidak mengeluarkan uang yang berasal dari pajak. Dengan selogan: “Setiap orang dapat membayar menyeberang“, atau “Everyone can pay across”, manakala ditemukan seseorang yang benar-benar tidak memiliki uang samasekali lalu ingin menyeberang agar sampai ke tujuan, ia akan mendapat uang yang di-perlukan langsung dari si pelola sarana. Terbuka juga peluang kepada siapa saja yang berniat “sedekah” mendapat pahala memembayar orang yang tidak punya uang menyeberang agar sam-pai ke tujuan.

Prasarana menyeberang budaya-baru ini mendapat uang masuk tidak semata dari para pejalan-kaki yang menyeberang jalan-raya. Masih banyak sumber pemasukan uang lain yang dapat digali dan ini tergantung dari kreatifitas yang mendapat mandat untuk melola. Dengan kehadiran PPL (SPC), PPT (IPC), dengan EP (PE) di kota-kota besar yang padat penduduknya di Nusantara dan Mancanegara, orang-orang tua demikian pula mereka yang cacat jasmani atau disabel akan mudah menyeberang jalan-raya, dan tidak terkecuali kaum perempuan dan anak-anak.

Sistim Mekanik Sanatu

Untuk menaikkan, atau sebaliknya menurunkan bilik atau kabin ETK (PBE) dan ETT (CBE) ke suatu ketinggian tinggi  ± 5 meter diatas muka jalan-raya, sebuah Sistim Mekanik Sanatu (SMS)  dipersiapkan sebagaimana tampak pada Gambar IV. SMS terdapat dalam “Kompartmen” berada dibawah lantai bilik atau kabin yang hendak dinaikkan atau diturunkan. Yang akkhir ini menjadi bagian integral atau tidak terpisahkan dari bilik atau kabin sanatu.

jalan raya

Gambar IVa

Pada Gambar IVa diperlihatkan SMS bertugas menaikkan atau menurunkan bilik atau kabin ETK (PBE) bangun sangkar persegi atau sangkar silinder. Pada Gambar IVb diperlihatkan SMS menaikkan atau menurunkan bilik atau kabin ETT (CBE) bangun sangkar silinder atau sangkar persegi. SMS sanatu pilihan ini juga menempati ruang bawah lantai bilik atau kabin yang tidak menyita ruang amat besar, juga menjadi bagian integral dari bilik atau kabin. Sebuah bilik atau kabin sanatu jalan-raya rata-rata ditaksir akan bermuatan 10 hingga 20 para pejalan-kaki (pe-destrian) dewasa untuk sekali naik atau sekali turun tinggi ± 5 m diatas muka jalan-raya. Bilik atau kabin sanatu semuanya dibuat dari bahan tembus pandang tidak terkecuali atap, sehingga para pejalan-kaki (pedestrian) yang berada didalamnya dapat jelas terlihat dari luar.

jalan raya 2

jalan raya 3

Gambar IVb

Tenaga listrik tiga phasa diperoleh dari PLN melalui kabel lemas (flexible cable) menuju panel dari panel Sanatu atau Elevator untuk menjalankan mesin listrik. Pilihan lain lewat tiga rel tembaga tersekat yang dipungut tiga sikat arang (carbon brushes). Sistim listrik akan menya-lurkan tenaga listrik kedalam motor induksi-rem lewat “tombol” ditempatkan didalam bilik atau kabin. Dengan menekan tombol, pejalan-kaki (pedestrian) akan memerintahkan bilik atau kabin sanatu untuk bergerak naik atau turun, tergantung dari dimana sanatu sedang berada: diatas atau dibawah. Sistim listrik menyediakan juga tombol untuk membuka atau menutup pintu bilik atau kabin, dan bilik atau kabin tidak akan dapat bergerak manakala pintunya tidak tertutup. Selain dari itu lagi sistim: pantauan, pelapor, pengawas, dan lampu penerangan. Tenaga listrik cadangan  tersedia dalam Komparteman, sehingga bilik atau kabin sanatu harus selalu dapat kembali ke permukaan tapak (devault position), manakala listrik PLN sedang padam.

Alat Angkat

Adapun “cara” digunakan untuk hijrah dari menyeberang jalan-rayabudaya lama” menuju me-nyeberang jalan-rayabudaya baru”, ialah yang dinamakan: “Alat Angkat” (Lifting Device) de-ngan teknologi: 1. Bolt-Nut dengan Bevel Gear, atau 2. Rack-Pinion dengan Bevel Gear dan Worm Gear dijalankan motor induksi rem (brake induction motor). Dengan teknologi ini, maka  layanan lift bangunan tinggi dapat dipindahkan ke jalan-raya.

Gambar Va memperlihatkan teknologi Alat Angkat, disingkat AA, atau Lifting Device, disingkat LD, dinyatakan sebagai AA(LD) berteknologi Bolt-Nut dengan Bevel Gear.

jalan raya 4

Gambar Va

Seperti tampak pada Gambar Va, KSUD (Kolom Silinder Ulir Dalam) digunakan berpasangan dengan SPUL (Silinder Panjat Ulir Luar) bekerja sebagai AA(LD) guna menaikkan atau menu-runkan bilik atau kabin elevator. Daya mekanik diperlukan diperoleh dari PDM (Poros Daya Mekanik) terlihat jelas pada Gambar IVad dan Gambar IVbc. Sudut kemiringan ulir AA(LD) digunakan menahan agar bilik atau kabin tidak mungkin dapat turun dengan sendirinya oleh berat bilik atau kabin dimiliki beserta para pejalan-kaki (pedestrian) yang ada didalamnya, kecuali digerakkan mesin listrik-rem.

Pilihan lain ialah sebagaimana yang disajikan dalam Gambar Vb, menampilkan Rack-Pinion dengan Bevel Gear dan Worm Gear.

Gambar Vb

Seperti yang terlihat pada Gambar Vb, BGDS (Batang Gigi Dua Sisi) diwujudkan berpasangan dengan PRGP (Pasangan Roda Gigi Panjat) bertugas sebagai AA(LD) guna menaikkan atau menurunkan bilik atau kabin elevator. Daya mekanik diperlukan juga diperoleh dari PDM (Poros Daya Mekanik) terlihat pada Gambar IVae dan Gambar IVbd. Worm Gear dimanfaatkan untuk menjaga agar keempat AA(LD) tidak  turun dengan sendirinya oleh berat bilik atau kabin beserta  para pejalan-kaki (pedestrian) ada didalamnya, kecuali digerakkan mesin listrik-rem.

——————-selesai——————

Penulis:

H.M.Rusli Harahap

Pamulang Residence, G1

Jalan Pamulang 2, Pondok Benda. Kode Pos: 1541

Tangerang Selatan, Banten. 11 Desember 2015

Tel. 021-74631125.

 

 

 

Posted by: rusliharahap | December 6, 2015

MARGA HARAHAP DARI HANOPAN

MARGA HARAHAP DARI HANOPAN

TAROMBO MARGA HARAHAP
——————————————-
(15 Nopember 2015)

PERJALANAN SEJARAH MARGA HARAHAP

BAGIAN PERTAMA

Tarombo (silsilah) keluarga marga Harahap dari Hanopan (Sipirok) ini, ialah hasil temuan perjalanan Ompung Abdul Hamid Harahap (1876-1939), gelar Sutan Hanopan, Tuan Datu Singar, ketika itu sedang mencari kampung asal Hanopan dekat Sidangkal, tidak jauh dari kota Padangsidempuan setelah Perang Padri (1821-1837) silam. Beliau adalah anak sulung Baginda Parbalohan (1846-1928), yang usai menunaikan Ibadah Haji di Mekah dan Madinah bulan Desember tahun 1927, memperoleh nama Islam Tuan Syekh Muhammad Yunus. Sepeninggal Bagin-
da Parbalohan, anaknya ini lalu menggantikan dirinya sebagai Raja di Hanopan Sipirok, kampung yang ia bangun bersusah payah bersama kaum kerabat selama berdiam di Bunga Bondar, dengan seizin marga Siregar sang pemilik luat. Bung Dari perolehan tulisan tangan beliau, tarombo lalu dijadikan blue print (cetak biru) oleh anaknya kesebelas bernama Marajali Harahap BRE, yang telah bergelar Opzichter karena telah menammatkan sekolah  Wilhelmina di Batavia sebelum Perang Dunia ke-II meletus di Asia Tenggara ketika itu.
Tidak diragukan lagi banyak orang yang telah memegang cetak biru yang dikerjakan Uda Marajali di Pematang Siantar tahun 1940 silam, namun penyusun mendapatkannya dari peninggalan ayahanda: S. Harahap, gelar Baginda Pandapotan, yang setelah memasuki alam kemerdekaan menjadi kepala Sekolah Rakyat di kota Lubuk Linggau, Sumatera Selatan.

Generasi Pertama
* Ompu Raja Guru Sodungdangon di Nagasaribu

Generasi Kedua
Keturunan Ompu Raja Guru Sodungdangon:
* 1. Datu Dalu dan istrinya boru Pasaribu
2. Sahang Maima dan istri boru Lubis

Generasi Ketiga
Keturunan Datu Dalu dari boru Pasaribu:
1. Datu Tala Harahap
* 2. Siaji Malim Harahap di Sibatang Kayu
3. Sarumbosi yang pergi ke Muara dengan istri boru Pasaribu

Generasi Keempat
Keturunan Siaji Malim di Sibatang Kayu:
* 1. Datu Dalu Ni Bagana di Naga Marsuncang
2. Tuan Datu Singar

Generasi Kelima
Keturunan Datu Dalu Ni Bagana di Naga Marsuncang:
* 1. Ompu Sodogoron

Generasi Keenam
Keturunan Ompu Sodogoron:
1. Raja Imbang Desa di Pijorkoling, dekat Padang Sidempuan.
2. Tunggal Huajan di Pargarutan, dekat Padang Sidempuan.
3. Ompu Sarudak di Huta Imbaru, dekat Padang Sidempuan.
4. Bangun Di Batari di Losung Batu, dekat Padang Sidempuan.
* 5. Bangun Di Babuat di Hanopan Angkola.
6. Hasuhutan Maujalo di Sidangkal Angkola.
Hanopan dan Sidangkal, dua kampung bertetangga di jalan menuju ke Simarpinggan
tidak jauh dari kota Padangsidempuan.

Generasi Ketujuh
Keturunan Bangun Di Babuat dari Hanopan Angkola:
* 1. Naga Marjurang

Generasi Kedelapan
Keturunan Naga Marjurang di Hanopan Angkola:
* 1. Ja Gumanti Porang di Hanopan Angkola
2. Jantan di Sialang Padang Bolak

Generasi Kesembilan
Keturunan Ja Gumanti Porang dari Hanopan Angkola:
1. Tuan Raja di Sunge Janjilobi
* 2. Tulan Ni Gaja di Hanopan Angkola
3. Suhutan Harahap di Batu Gondit

Generasi Kesepuluh
Keturunan Tulan Ni Gaja dari Hanopan Angkola:
* 1. Ompu Pangaduan
2. Barunggam

Generasi Kesebelas
Keturunan Ompu Pangaduan dari Hanopan Angkola:
* 1. Manuk Na Birong

Generasi Keduabelas
Keturunan Manuk Na Birong dari Hanopan Angkola:
1. Ompu Sumurung
* 2. Nabonggal Muap

Generasi Ketigabelas
Keturunan Ompu Sumurung dari Hanopan Angkola:
1. Ja Pangaduan
Keturunan Nabonggal Muap dari Hanopan Angkola:
* 1. Namora Pusuk Ni Hayu

Generasi Keempatbelas
Keturunan Ja Pangaduan:
1. Ja Sumurung
Keturunan Namora Pusuk Ni Hayu di Bintuju, daerah Padang Bolak:
1. Sutan Humala Namorai di Sialang
2. Jabosi di Sialang
* 3. Parnanggar di Sialang

Generasi Kelimabelas
Keturunan Sutan Humala Namorai dari Sialang:
1. Mangaraja Ihutan
Keturunan Parnanggar dari Sialang:
* 1. Jasohataon

Generasi Keenambelas
Keturunan Ja Sohataon dari Sinapang di Padang Bolak:
1. Ja Mandais, pindah ke Saba Tarutung
2. Ja Manis, pindah ke Saba Tarutung
3. Ja Bintuju, pindah ke Bunga Bondar
* 4. Toga Ni Aji, pindah ke Hanopan Sidangkal

Generasi Ketujuhbelas
Keturunan Ja Mandais dari Saba Tarutung
1. Ja Pinontar
2. Ja Riar
3. Ja Malera
4. Ja Somendut
Keturunan Ja Manis dari Sabatarutung:
1. Ja Manuga
Keturunan Ja Bintuju dari Bunga Bondar:
1. Ja Ilani di Bunga Bondar
2. Ja Belengan
3. Baceker
Keturunan Toga Ni Aji dari Hanopan Sidangkal:
* 1. Demar Harahap, gelar Ja Manogihon dengan istrinya
Boru Pohan dari Parau Sorat.

Generasi Kedelapanbelas
Keturunan Ja Pinontar:
1. Ja Mandosing
Keturunan Ja Malera:
1. Ja Lilian
2. Ja Parsuntuhon
3. Ja Maripul
Keturunan Ja Somendut:
1. Ja Bangso
2. Ja Napesong
Keturunan Ja Manuga:
1. Ja Mengget
Keturunan Ja Ilani dari Bunga Bondar:
1. Ja Pantis
Keturunan Ja Belengan:
1. Ja Palak
Keturunan Baceker dari Bunga Bondar:
1. Ja Sohataon
Keturunan Demar Harahap, gelar Ja Manogihon, dengan istri boru Pohan:
1. Si Neser (pr)
2. Si Singkam (pr)
3. Si Tona (pr)
4. Si Nettes (pr)
* 5. Ja Alaan

BAGIAN KEDUA

Keluarga Demar Harahap, gelar Ja Manogihon lalu mengungsi meninggalkan kampung
halaman di Hanopan (Angkola) menuju ke daerah Padang Bolak. Ketika itu Perang Padri
yang timbul di Sumatera Barat telah merambah ke Tanah Angkola di Tapanuli Selatan.
Mereka berdiam di Lobu Sinapang dalam Luat Harangan Padang Bolak.

Generasi Kesembilanbelas
Keturunan Ja Mandasin:
1. Anggoto
Keturunan Ja Hapesong:
1. Ja Pikiran
Keturunan Ja Mengget:
1. Si Toga
Keturunan Ja Pantis:
1. Ja Tulis
2. Samsudin
3. Ja Ilani
4. Dulia
5. Pincang
Keturunan Dja Palak:
1. Justinus
2. Soripada
3. Teopilus
4. Baginda Panusunan
Keturunan Ja Sohataon:
1. Baginda Herman
2. Yakin

BAGIAN KETIGA

Dari Lobu Sinapang keempat putri Demar Harahap, gelar Ja Manogihon, dengan istri-istrinya boru Pohan dari Parau Sorat, lalu menikah ke Batu Horpak dan Bunga Bondar. Sedangkan Ja Alaan anak laki-laki yang bungsu mengikuti tiga ibotonya pindah ke Bunga Bondar.

Adapun keturunan Demar Harahap, gelar Ja Manogihon, dan cucu-cucunya:
1. Si Neser Harahap menikah dengan …, marga…..dari Batu Horpak, keturunannya:
Ja Imbang, gelar Baginda Ginduang.
2. Si Singkam Harahap menikah dengan..….., marga Siregar dari Bunga Bondar, keturu- nannya: Syekh Muhammad Kotip, gelar Baginda Maulana.
3. Si Tona Harahap menikah dengan..……, marga Siregar dari Bunga Bondar, keturunan-nya: Mangaraja Bunga Bondar.
4. Si Nettes Harahap menikah dengan ……., marga Siregar dari Bunga Bondar, keturunan-nya: Sutan Malayu, gelar Baginda Lului.
5. Ja Alaan, gelar Tongku Mangaraja Hanopan berdiam di Bunga Bondar mengikuti tiga
ibotonya yang menikah ke kampong itu, masing-masing: si Singkam, si Tona, dan si
Nettes. Ibotonya yang tertua si Neser menikah ke Batu Horpak letaknya tidak jauh dari
Bunga Bondar.
Ja Alaan, gelar Tongku Mangaraja Hanopan, di Bunga Bondar lalu menikah dengan:
Bolat, boru Regar dari Bunga Bondar, pomparan (keturunan) Ja Ulubalang. Dan setelah
yang disebut akhir ini wafat lalu digantikan Naipak, boru Pohan dari Parau Sorat.
Adapun keturunan Ja Alaan di Bunga Bondar.

a. Dari Boru Regar:
1. Erjep (pr)
1H 2. Sengel, gelar Baginda Parbalohan, Tuan Syekh Muhammad
Yunus.
2H 3. Sogi, gelar Baginda Soripada
1BB 4. Heber, gelar Baginda Maujalo
3H 5. Lilin (Ja Sutor), gelar Baginda Malim Muhammad Arif
2BB 6. Nanga (Ja Pahang), gelar Baginda Sialang
4H 7. Manis, gelar Baginda Malim Marasyad
8. Sento (pr)
9. Sanne (pr)
5H 10. Paian (Ja Taris), gelar Malim Muhammad Nuh

b. Dari boru Pohan:
P 11. Mandasin, gelar Baginda Khalifah Sulaiman
3BB 12. Kampung, gelar Haji Tuan Syekh Muhammad Jalil
S 13. Pardo (Mara Kamin), Baginda Saikum
6H 14. Kenis, gelar Baginda Pangibulan
7H 15. Gardok (Ja Simin), gelar Malim Muhammad Rahim
16. Sopot (pr).

Catatan: H – mereka yang pindah ke Hanopan, 7 orang.
BB – mereka yang tetap berdism di Bunga Bondar, 3 orang.
P – yang pindah ke Panggulangan, 1 orang.
S – yang merantau ke Siak Sri-Indrapura, 1 orang.

BAGIAN KEEMPAT

1. Ompung Tobang, Halaklahi dohot Dadaboru
Diawali dari Bunga Bondar.
Adapun keturunan Ja Alaan, Ompu ni Kupia, gelar Tongku Mangaraja Hanopan, dari dua
Orang istrinya ialah:
1. Erjep (pr), lahir….18.. di Bunga Bondar.
2. Sengel, lahir….1846 di Bunga Bondar
3. Sogi, lahir….18.. di Bunga Bondar.
4. Heber, lahir….18.. di Bunga Bondar.
5. Lilin, Sutor, lahir….18.. di Bunga Bondar.
6. Nanga, Ja Pahang, lahir….18.. di Bunga Bondar.
7. Manis, lahir….18.. di Bunga Bondar.
8. Sento (pr) , lahir….18.. di Bunga Bondar.
9. Sanne (pr) , lahir….18.. di Bunga Bondar.
10. Paian, Ja Taris, lahir….18.. di Bunga Bondar.
11. Mandasin, lahir….18.. di Bunga Bondar.
12. Kampung, lahir….18.. di Bunga Bondar.
13. Pardo, Mara Kamin, lahir….18.. di Bunga Bondar.
14. Kenis , lahir….18.. di Bunga Bondar.
15. Gardok, Ja Simin, lahir….18.. di Bunga Bondar.
16. Sopot (pr) , lahir….18.. di Bunga Bondar.
Generasi Keduapuluh
2. Amang Tobang, Inang Tobang
a. Mereka yang tetap tinggal di Bunga Bondar
No.1.Erjep Harahap, menikah dengan Sutan Mangalai, marga Siregar dari Situmbaga, Padang Sidempuan Barat.
No.4 Heber Harahap, Sintua Heber, gelar Baginda Maujalo (18..-19..) dengan istri…., gelar Ompu ni Kondar, boru Regar dari Bunga Bondar, iboto dari Ompu Raja Oloan Siregar. Keturunannya:
1. Melanthon, lahir….19.. di Bunga Bondar.
2. Hanna (pr) , lahir….19.. di Bunga Bondar.
No.6 Nanga Harahap, Ja Pahang, gelar Baginda Sialang (18..-19..) dengan istri…., gelar Ompu ni Tibanur, boru Regar dari Bunga Bondar, putri Sutan Baringin Siregar. Ketu-runannya:
1. Malik, lahir….19.. di Bunga Bondar.
2. Binahar, lahir….19.. di Bunga Bondar.
3. Banjor (pr), lahir….19.. di Bunga Bondar.
4. Tiomsa (pr), lahir….19.. di Bunga Bondar.
5. Tiapasa (pr), lahir….19.. di Bunga Bondar.
No.8 Sento Harahap, menikah dengan Ja Kola, marga Siregar dari Batu Horpak.
No.9 Sanne Harahap, menikah dengan Baginda Hinalongan, marga Siregar.dari Bunga Bondar.
No.12 Kampung Harahap, Haji Tuan Syekh Muhammad Jalil (18..-19..) dengan istri Siti Jorima, gelar Ompu ni Tiangat, boru Regar dari Bunga Bondar, putri Haji Abdus Somad Siregar. Menunaikan ibadah haji ke Mekah bersama abangnya Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan dari Hanopan pada bulan Desember tahun 1927. Keturunannya:
1. Yusuf, lahir….19.. di Bunga Bondar.
2. Tosim, lahir….19.. di Bunga Bondar.
3. Maia (pr), lahir….19.. di Bunga Bondar.
4. Sondar (pr), lahir….19.. di Bunga Bondar.
5. Kodima (pr), lahir….19.. di Bunga Bondar.
No.16 Sopot Harahap, meninggal gadis.
b. Mereka yang kemudian pindah ke Hanopan
No.2. Sengel Harahap, Haji Tuan Syekh Muhammad Yunus, gelar Baginda Parbalohan (1846-1928) dengan istri Giring, gelar Ompu ni Sutor, boru Regar dari Bunga Bondar, putri Ja Diatas Siregar; kemudian digantikan …., gelar Ompu ni Kasibun. Pendidikan: Sekolah Gouvernement di Sipirok. Pekerjaan: Raja Pamusuk (Dahulu memang dinamakan Raja, setelah Indonesia merdeka menjadi Kepala Kampung) pertama di Hanopan.
Ia menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci: Mekah dan Madinah, tanggal 7 Desember 1927, dalam rombongan Haji bersama: istriya Ompu ni Kasibun, adiknya Kampung, anaknya Rachmat, dan cucunya Noerdin, naik kapal laut dari Belawan. Ia wafat dalam perjalanan pulang ke Tanah Air naik bis dari Mekah, dan dikebumikan di Jeddah. Kecuali Nurdin Harahap karena harus belajar agama Islam di Mekah, anggota rombongan lain kembali ke Tabah Air selamat kembali ke Bunga Bondar dan Hanopan. Meninggalnya Amang Tobang Baginda Parbalohan di Tanah Suci disambut isak tangis duka kehilangan yang sangat dalam di Bunga Bondar dan Hanopan. Keturunannya:
1. Abdul Hamid, lahir….1876 di Bunga Bondar.
2. Kasim, lahir….1881 di Bunga Bondar.
3. Rakhmat, lahir….1883 di Bunga Bondar.
No.3. Sogi Harahap, gelar Baginda Soripada (18..-19..) dengan istri:……, gelar Ompu ni Nunggar, boru Regar dari Bunga Bondar, putri Ja Buku Siregar, kemudian digantikan….., boru Munthe dari Binanga. Keturunannya:
1. Mamin, lahir….19.. di Hanopan.
2. Maju, lahir….19.. di Hanopan.
3. Baitan, lahir….19.. di Hanopan.
4. Tobat, lahir…19.. di Hanopan.
5. Kombang (Malim Mohammad.Arif), lahir….19.. di Hanopan.
6. Adun, lahir….19.. di Hanopan.
7. Ratus, lahir….19.. di Hanopan.
8. Nunggar (pr), lahir….19.. di Hanopan.
9. Balau (Adong), lahir….19.. di Hanopan.
10. Jabal, lahir….19.. di Hanopan.
11. Bija (pr), lahir….19.. di Hanopan.
12. Dingin (pr), lahir….19.. di Hanopan.
13. Doja (pr), lahir….19.. di Hanopan.
14. Tiana (pr), lahir….19.. di Hanopan.
15. Tiraham (pr), lahir….19.. di Hanopan.
16. Lenggam (pr), lahir….19.. di Hanopan.
No.5. Lilin, Sutor Harahap, gelar Baginda Malim Muhammad Arif (18..-1900) dengan istri Khorijah (18..-1952), Ompu ni Sori, boru Pane Silaban Sihombing dari Gunung Manaon. Keturunannya:
1. Morgu, lahir….19.. di Hanopan.
2. Daliun, lahir….19.. di Hanopan.
3. Saribun (Ja Kidun), lahir….19.. di Hanopan.
4. Saib, lahir….19.. di Hanopan.
5. Mala (pr), lahir….19.. di Hanopan.
6. Tiamas (pr), lahir….19.. di Hanopan.
7. Tao (pr), lahir….19.. di Hanopan.
8. Tihari (pr), lahir….19.. di Hanopan.
9. Bonur (Tiaya, pr), lahir….19.. di Hanopan.
10. Kasania (pr), lahir….19.. di Hanopan.
11. Fatimah (pr), lahir….19.. di Hanopan.
No.7. Manis Harahap, gelar Baginda Malim Marasyad (18..-19..) dengan istri ……., Ompu ni Sindar, boru Pohan dari Parau Sorat. Keturunannya:
1. Lumut, lahir….19.. di Hanopan.
2. Bangun, lahir….19.. di Hanopan.
3. Tembang, lahir….19.. di Hanopan.
4. Rain, lahir….19.. di Hanopan.
5. Borkat (Ja Mukobul), lahir….19.. di Hanopan.
6. Sulaiman, lahir….19.. di Hanopan.
7. Salasa, lahir….19.. di Hanopan.
8. Adin (pr), lahir….19.. di Hanopan.
9. Montor (pr), lahir….19.. di Hanopan.
10. Tialan (pr), lahir….19.. di Hanopan.
No.10. Paian Harahap, Ja Taris, gelar Baginda Malim Muhammad Nuh (18..-19..) dengan istri …., Ompu ni Daim, boru Pane dari Gunung Manaon Arse. Keturunannya:
1. Tialas (pr), lahir….19.. di Hanopan.
2. Hadam, lahir….1902 di Hanopan.
3. Jalima (pr), lahir….19.. di Hanopan.
4. Sailan (pr), lahir….19.. di Hanopan.
5. Sobar, lahir….1916 di Hanopan.
6. Hariani (pr), lahir….19.. di Hanopan.
7. Tiona (pr), lahir….19.. di Hanopan.
8. Iran (pr), lahir….19.. di Hanopan.
No.14. Kenis Harahap, gelar Baginda Pangibulan (18..-19..) dengan istri….., Ompu ni Kaya, boru Regar dari Bunga Bondar, putri Ja Kombang Siregar. Keturunannya:
1. Ismail (Ja Lobe), lahir….19.. di Hanopan.
2. Tiamar (pr), lahir….19.. di Hanopan.
3. Moun (pr), lahir….19.. di Hanopan.
4. Jabeda (pr), lahir….19.. di Hanopan.
No.15. Gardok Harahap, Ja Simin, gelar Baginda Malim Muhammad Rahim (18..-19..) dengan istri Basaun, Ompu ni Marasali, boru Regar dari Hasang, Sipirok.
Keturunannya:
1. Moget, lahir….19.. di Hanopan.
2. Togu, lahir….19.. di Hanopan.
3. Ingan (pr), lahir….19.. di Hanopan.
4. Tiabin (pr), lahir….19.. di Hanopan.
c. Seorang yang pindah ke Panggulangan.
No.11. Mandasin Harahap, gelar Baginda Khalifah Sulaiman (18..-19..) dengan istri……, gelar Ompu ni Simin, boru Pohan dari Parau Sorat. Keturunannya:
1. Alaan, lahir….19.. di Panggulangan.
2. Marasan, lahir….19.. di Panggulangan.
3. Kedom, lahir….1904 di Panggulangan.
4. Mahir, lahir….1915 di Panggulangan.
5. Darajat, lahir….1921 di Panggulangan.
6. Nursalam (pr), lahir….19.. di Panggulangan.
7. Tania (pr), lahir….19.. di Panggulangan.
8. Mayur (pr), lahir….19.. di Panggulangan.
9. Nuria (pr), lahir….19.. di Panggulangan.
d. Seorang yang merantau ke Siak Sri-Indrapura, Riau daratan.
No.13 Pardo Harahap, Mara Kamin, gelar Baginda Saikum (19..-19..) dengan istri…., Ompu ni Syamsuddin, boru Riau dari Siak Sri-Indrapura. Keturunannya:
1. Nempol, lahir …..19.. di Siak Sri-Indrapura
2. Abu Bakar, lahir …..19.. di Siak Sri-Indrapura
3. Muhammad Soleh, lahir …..19.. di Siak Sri-Indrapura
4. Jambul, lahir …..19.. di Siak Sri-Indrapura
5………., lahir …..19.. di Siak Sri-Indrapura

Generasi Duapuluhsatu
3. Ompung Halaklahi Dadaboru
a. Mereka yang tetap tinggal di, atau merantau dari, Bunga Bondar.
4. Cucu Heber Harahap, Sintua Heber, gelar Baginda Maujalo.
4-1. Melanthon Harahap, gelar Mangaraja Ujungpadang (19..-19..) dengan istri ….., Ompu ni Masnida, boru Regar dari Bunga Bondar, putri ke-9 Ompu Raja Oloan Siregar. Keturu-nannya:
1. Julianus (Juli), lahir …..19.. di Bunga Bondar.
2. Hadrianus (Ponten), lahir …..19.. di Bunga Bondar.
3. Beheri Nopan, lahir …..19.. di Bunga Bondar.
4. Siti Merawan (pr), lahir …..19.. di Bunga Bondar.
5. Sori Gunung, lahir …..19.. di Bunga Bondar.
6. Nurcahaya (pr), lahir 27 Juni 1929 di Bunga Bondar.
7. Jenahara (pr), lahir …..19.. di Bunga Bondar.
4-2. Hanna Harahap (19..-19..), menikah dengan Sutan Habonaran, marga Nainggolan dari Hurase, Padang Sidempuan. (Ibunda Prof. Dr. S.C.Nainggolan, Rektor UKI Jakarta 19..s/d 19…).
6. Cucu Nanga Harahap, Ja Pahang, gelar Baginda Sialang.
6-1. Hizkia (Malik) Harahap, gelar Sutan Harahap (19..-19..) dengan istri Tiabur, Ompu ni Goyur, boru Regar dari Bunga Bondar. Pendidikan: Sekolah Guru Pekerjaan: Guru Sekolah di Takengon, Aceh. Keturunannya:
1. Reman, lahir…..19… di Takengon.
2. Totauli (Tota), lahir 8 Mei 1922 di Takengon.
3. Hajopan (Jopan), lahir…..19… di Bunga Bondar.
4. Parman, lahir…..19… di Bunga Bondar.
5. Hasiholan, lahir…..19… di Bunga Bondar.
6. Sanneria (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
7. Istana (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
8. Mian (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
6-2. Binahar Harahap, gelar Ja Bintuju (19..-19..) dengan istri Mina, Ompu ni …., boru Pohan dari Parau. Keturunannya:
1. Marolop, lahir…..19… di Bunga Bondar.
2. Setto/Maria (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
3. Mintaria (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
6-3. Banjor Harahap, menikah dengan ja Bermalam, marga Siregar dari…….
6-4. Tiomsa Harahap, menikah dengan Durain, marga Siregar dari Sampean, Sipirok.
6-5. Tiapasa Harahap, menikah dengan Maujud, marga ……dari Lancat, Sipirok.
12. Cucu Kampung Harahap, Haji Tuan Syekh Muhammad Jalil.
12-1. Yusuf Harahap, gelar Mangaraja Sorialam (19..-19..) dengan istri……., Ompu ni….., boru Regar dari Bunga Bondar. Keturunannya:
1. Siti Angat (Angat, pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
2. Bidin, lahir…..19… di Bunga Bondar.
3. Tirohim (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
4. Nurba (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
5. Natin, lahir…..19… di Bunga Bondar.
6. Adin (Siti Adin, pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
7. Sanne (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
8. Arbania (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
9. Nabin (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
10. Mija (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
11. Manda (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
12-2. Tosim Harahap, gelar Mangaraja Hanopan (19..-19..) dengan istri Homitan (Hajjah Siti Angur), Ompoe ni Kalsum, boru Regar dari Bunga Bondar, keluarga Baginda Hasian Siregar. Keturunannya:
1. Mara Iman (Iman), lahir…..19… di Bunga Bondar.
2. Muslimin (Muslim), lahir…..19… di Bunga Bondar.
3. Pangibulan (Pangi), lahir…..19… di Bunga Bondar.
4. Rona (pr), lahir…..19… di Bunga Bondar.
12-3. Maia Harahap, menikah dengan Ja Borayun (Ja Elo), marga Siregar dari Batu Hor-pak.
12-4. Sondar Harahap, menikah dengan Barita Raja, marga Siregar dari Simaninggir.
12-5. Kodima Harahap, menikah dengan Ja Mutais, marga Siregar dari Batu Horpak.
b. Mereka yang tinggal di, atau merantau dari, Hanopan.
2. Cucu Sengel Harahap, Haji Tuan Syekh Muhammad Yunus, gelar Baginda
Parbalohan.
1-1. Abdul Hamid Harahap, Tuan Datu Singar, gelar Sutan Hanopan (1876-1939) dengan istri Dorima, Ompu ni Amir, boru Regar dari Bunga Bondar, putri Sutan Bungabondar. Pendi-dikan: Sekolah Gouvernement Sipirok. Pekerjaan: Raja Pamusuk kedua Hanopan meng-gantikan ayahandanya yang wafat di Jeddah. Keturunannya:
1. Sutor, lahir 15 Juni 1896 di Bunga Bondar.
2. Maujalo (Jalo), lahir 10 September 1901 di Hanopan.
3. Sitti Anggur (pr), lahir 1905 di Hanopan.
4. Dumasari (pr), lahir 1908 di Hanopan.
5. Pelinuruddin (Nurdin), lahir 1911 di Hanopan.
6. Aminah (pr), lahir 1912 di Hanopan.
7. Sorimuda (Hisar), lahir 1913 di Hanopan.
8. Diri (Din), lahir 2 Agustus 1915 di Hanopan.
9. Muhammad, lahir 1917 di Hanopan.
10. Erjep Khairani (Erjep, pr), lahir 1920 di Hanopan.
11. Marajali, lahir 1922 di Hanopan.
12. Pamusuk, lahir 31 Maret 1925 di Hanopan.
1-2. Kasim Harahap, Tongku Mangaraja Elias Hamonangan (1881-1944) dengan istri Petronella, Naduma Bulung Pangondian, Ompu ni Paulina, boru Regar dari Bunga Bondar, putri ke-4 Ompu Raja Oloan Siregar. Pekerjaan: Raja Pamusuk ketiga di Hanopan, menggantikan abangnya. Keturunannya:
1. Surto Meta Khristina (Tabiran, pr), lahir 19..di Hanopan.
2. Dagar Na Lan (Dagar, pr), lahir 19..di Hanopan.
3. Dimpu, lahir 19..di Hanopan.
4. Menmen (pr), lahir 19..di Hanopan.
5. Siti Dinar (Dinar, pr), lahir 25 Desember 1914 di Hanopan.
6. Partaonan (Parta), lahir 4 Januari 1916 di Hanopan.
7. Hakim, lahir 19..di Hanopan.
8. Posma, lahir 19..di Hanopan.
9. Krisna Murti (pr), lahir 19..di Hanopan.
10. Bagon, lahir 1922 di Hanopan.
11. Bakhtiar (Samsu), lahir 23 Agustus 1924 di Hanopan.
12. Toga Mulia (Toga), lahir 30 Juli 1928 di Hanopan.
13. Sitiurma (Tiurma, pr), lahir 31 Agustus 1936 di Hanopan.
1-3. Rahmat Harahap, Haji Abdullah Umar, gelar Sutan Nabonggal (1883-1962) dengan istri Gorga, Ompu ni Mina, boru Regar dari Bunga Bondar Sampulu, iboto Sutan Kalisati Sire-gar. Turut menemani ayahnya menunaikan ibadah Haji ke Tanah Suci: Mekah dan Madi-nah, pada bulan Desember 1927. Keturunannya:
1. Sahat, lahir 19.. di Hanopan.
2. Utir (pr), lahir 19.. di Hanopan.
3. Marip, lahir 11 April 1927 di Hanopan.
4. Sahada (pr), lahir 19.. di Hanopan.
5. Malige (Malige, pr), lahir 19.. di Hanopan.
6. Zainuddin (Sai), lahir 4 Juli 1926 di Hanopan.
7. Siti Aisyah (Cia, pr), lahir 19.. di Hanopan.
3. Cucu Sogi Harahap, gelar Baginda Soripada
3-1. Mamin Harahap, gelar Mangaraja Alaan (19..-19..) dengan istri Tiara, Ompu ni Maralun, boru Pane dari Gunung Manaon. Keturunannya:
1. Tua, lahir 19.. di Hanopan.
2. Roup, lahir 19.. di Hanopan.
3. Buhanuddin, lahir 19.. di Hanopan.
4. Gonjong (pr), lahir 19.. di Hanopan.
5. Tiayur (pr), lahir 19.. di Hanopan.
6. Anna (pr), lahir 19.. di Hanopan.
3-2. Maju Harahap, gelar Mangaraja Riapan (19..-19..) dengan istri Sakia, Ompu ni Mindo, boru Regar dari Bunga Bondar, putri Mara Sutor Siregar. Keturunannya:
1. Djotur (pr), lahir 19.. di Hanopan.
2. Sere (Salam, pr), lahir 19.. di Hanopan.
3. Tinur (pr), lahir 19.. di Hanopan.
4. Napsiah (pr), lahir 19.. di Hanopan.
5. Siti Rahmah (pr), lahir 19.. di Hanopan.
6. Timahasa (pr), lahir 19.. di Hanopan.
7. Fatimah (pr), lahir 19.. di Hanopan.
8. Minta (pr), lahir 19.. di Hanopan.
3-3. Baitan Harahap, gelar Mangaraja Parlaungan (19..-19..) dengan istri Sariat, Ompu ni Makdin, boru Sitompul dari Simaninggir (Sipirok). Keturunannya:
1. Lolotan, lahir 19.. di Hanopan.
2. Aminuddin, lahir 19.. di Hanopan.
3. Ridoan, lahir 19.. di Hanopan.
4. Gomuk, lahir 19.. di Hanopan.
5. Tiamsa (pr), lahir 19.. di Hanopan.
6. Ngolu (pr), lahir 19.. di Hanopan.
3-4. Tobat Harahap, gelar Mangaraja Paranginan (19..-19..) dengan istri Nursana, Ompu ni Roslina, boru Regar dari Pagaran Padang. Keturunannya:
1. Lajim, lahir 19.. di Hanopan.
2. Batara (Karani), lahir 19.. di Hanopan.
3. Rama (pr), lahir 19.. di Hanopan.
4. Ronda (pr), lahir 19.. di Hanopan.
5. Lenggana (pr), lahir 19.. di Hanopan.
6. Mawar (pr), lahir 19.. di Hanopan.
3-5. Kombang Harahap, gelar Malim Moehammad Arif (19..-19..) dengan istri Enda, Ompu ni Panindoan, boru Pohan dari Parau Sorat. Keturunannya:
1. Junid, lahir 19.. di Hanopan.
2. Tirilan (pr), lahir 19.. di Hanopan.
3. Syahrir, lahir 19.. di Hanopan.
4. Matnusin (Djuma’at), lahir 19.. di Hanopan.
5. Mustamin, lahir 19.. di Hanopan.
6. Dalipa (pr), lahir 19.. di Hanopan.
7. Mariam (pr), lahir 19.. di Hanopan.
8. Jaleha (pr), lahir 19.. di Hanopan.
3-6. Adun Harahap, gelar Ja Hatunggal (19..-19..) dengan istri Nursani, Ompu ni Sa-pi’i, boru Tambunan dari Roncitan, lalu digantikan Simariza, Ompu ni Rosma, bo-ru Tampubolon dari Situnggaling. Keturunannya:
1. Pantis, lahir 19.. di Hanopan.
2. Uddin, lahir 19.. di Hanopan.
3. Pande, lahir 19.. di Hanopan.
4. Eras, lahir 19.. di Hanopan.
5. Janiba (pr), lahir 19.. di Hanopan.
6. Nurhaida (pr), lahir 19.. di Hanopan.
7. Maralan (pr), lahir 19.. di Hanopan.
8. Rontana (pr), lahir 19.. di Hanopan.
9. Dekman, lahir 19.. di Hanopan.
10. Dima (pr), lahir 19.. di Hanopan.
3-7. Ratus Harahap, gelar Ja Pangaribuan (19..-19..) dengan istri Nairan, Ompu ni Dahlan, boru
Hasibuan dari Lancat Jae. Keturunannya:
1. Teler, lahir 19.. di Hanopan.
2. Maraganti, lahir 19.. di Hanopan.
3. Morai, lahir 19.. di Hanopan.
4. Maya (pr), lahir 19.. di Hanopan.
5. Sorum (pr), lahir 19.. di Hanopan.
6. Beiti (pr), lahir 19.. di Hanopan.
7 Dorkas (pr), lahir 19.. di Hanopan.
3-8. Nunggar Harahap, menikah dengan….., marga…..dari…….
3-9. Adong Harahap, Ja Balau, gelar Sutan Sonanggaron, Tongku Mangaraja Hanopan Naposo, (19..-19..) dengan istri Simanyuruk, Ompu ni Buat, boru……dari Sibuar-buar, lalu digan-tikan Sitiangat, ompu ni Indrawan, boru Dalimunte dari Sitandiang, Simangambat. Ketu-runannya:
1. Ginda, lahir 19.. di Hanopan.
2. Syamsi, lahir 19.. di Hanopan.
3. Ikhwan, lahir 19.. di Hanopan.
4. Safaruddin, lahir 19.. di Hanopan.
5. Nurmaia (Maia, pr), lahir 19.. di Hanopan.
3-10. Jabal Harahap, gelar Mangaraja Bukit Sidua-dua (19..-19..) dengan istri Nursiti, Ompu ni Sintong, boru Dalimunte dari Simanyuruk, Binanga, bermukim di Rantau Prapat. Keturu-nannya:
1. Nurhayani (pr), lahir 19.. di Rantau Prapat.
2. Nukman, lahir 19.. di Rantau Prapat.
3. Jawani (pr), lahir 19.. di Rantau Prapat.
4. Masna (pr), lahir 19.. di Rantau Prapat.
5. Syarifudin, lahir 19.. di Rantau Prapat.
6. Sampe, lahir 19.. di Rantau Prapat.
7. Mara Ponu, lahir 19.. di Rantau Prapat.
8. Zainab (pr), lahir 19.. di Rantau Prapat.
9. Rohima (pr), lahir 19.. di Rantau Prapat.
3-11. Bija Harahap, menikah dengan Ja Rendo, marga Ritonga dari Roncitan.
3-12. Dingin Harahap, menikah dengan Kalimuda, marga Siregar dari Padang Mandailing.
3-13. Doya Harahap, menikah dengan Samudin, marga Rambe dari Arse Jae Lombang.
3-14. Tiana Harahap, menikah dengan Ja Manjolang, marga Hasibuan dari Simanosor Julu.
3-15. Tiraham Harahap, menikah dengan Ja Huraba, marga Pospos dari Roncitan.
3-16. Lenggam Harahap, menikah dengan Da Malarat, marga Siagian dari Arse Jae Dolok.
5. Cucu Lilin (Sutor) Harahap, gelar Baginda Malim Muhammad Arif.
5-1. Morgu Harahap, gelar Mangaraja Guna (19..-19) dengan istri……., gelar……., boru Regar dari Huta Padang. Keturunannya:
1. Jalil, lahir 19.. di Hanopan.
2. Pada, lahir 19.. di Hanopan.
3. Zainuddin, lahir 19.. di Hanopan.
4. Abdul (Wahid), lahir 19.. di Hanopan.
5. Pangibulan, lahir 19.. di Hanopan.
6. Hamzah, lahir 19.. di Hanopan.
7. Nuraisyah (Aisyah, pr), lahir 19.. di Hanopan.
5-2. Daliun Harahap, gelar Ja Marliun (19..-19) dengan istri Maimunah boru Regar dari…, lalu digantikan …boru Ujung Padang, dan…., boru Huta Padang, bermukim di Simangambat. Keturunannya:
1. Bahori, lahir 19.. di Simangambat.
2. Maskut, lahir 19.. di Simangambat.
3. Sabirin, lahir 19.. di Simangambat.
4. Fatimah (pr), lahir 19.. di Simangambat.
5. Nasrun, lahir 19.. di Simangambat.
6. Amirudin, lahir 19.. di Simangambat.
7. Maslina (pr), lahir 19.. di Simangambat.
8. Dahlena (pr), lahir 19.. di Simangambat.
9. Dahtinur (pr), lahir 19.. di Simangambat.
5-3. Saribun Harahap, Ja Kidun, gelar Sutan Martua (19..-19..) dengan istri Tiari boru Pane dari Arse Jae Lombang, kemudian digantikan Sarma boru Nainggolan dari Huta Padang. Ketu-runannya:
1. Yusuf, lahir 19.. di Hanopan.
2. Hasanudin, lahir 19.. di Hanopan.
3. Matnuin, lahir 19.. di Hanopan.
4. Rona (pr), lahir 19.. di Hanopan.
5. Teri, lahir 19.. di Hanopan.
6. Rusli (Cino), lahir 19.. di Hanopan.
7. Arbaia (pr), lahir 19.. di Hanopan.
8. Hanna (pr), lahir 19.. di Hanopan.
9. Enni (pr), lahir 19.. di Hanopan.
10. Ita (pr), lahir 19.. di Hanopan.
11. Rostina (pr), lahir 19.. di Hanopan.
12. Elpinawati (pr), lahir 19.. di Hanopan.
5-4. Saib Harahap, Ja Bolon, gelar Sutan Oloan (19..-19..) dengan istri……, Ompu ni ……, boru Batu Bara dari Napompar, bermukim di Panti. Keturunannya:
1. Tukko, lahir 19.. di Panti.
2. Salima (pr), lahir 19.. di Panti.
3. Zaleha (pr), lahir 19.. di Panti.
4. Sauna (pr), lahir 19.. di Panti.
5. Siti (pr), lahir 19.. di Panti.
5-5. Mala Harahap, menikah dengan Kosim marga Simanungkalit dari Roncitan.
5-6. Tiamas Harahap, menikah dengan Sjarifuddin, marga Simatupang dari Simangambat.
5-7. Tao Harahap, menikah dengan ……, marga Siregar dari Batu Horpak.
5-8. Tihari Harahap, menikah dengan Ja Gunung, marga Batu Bara dari Sipogu.
5-9. Tiaya (Bonur) Harahap, menikah dengan Oloan, marga Siregar dari Bunga Bondar
5-10. Kasania Harahap, menikah dengan Ja Mandaun, marga Pohan dari Hanopan.
5-11. Fatimah Harahap, menikah dengan Sati (Ja Konong), marga Pospos dari Roncitan
7. Cucu Manis Harahap, gelar Baginda Malim Marasyad.
7-1. Lumut Harahap, Mangaraja Parhimpunan (19..-19..) dengan istri Rongguan, boru Pohan dari Parau Sorat. Keturunannya:
1. Takim, lahir 19.. di Hanopan.
2. Marasia, lahir 19.. di Hanopan.
7-2. Tembang Harahap, gelar Sutan Mangalai (19..-19..) dengan istri Romdom, Ompu ni Lia, boru Regar dari Dolok Sinomba. Keturunannya:
1. Mara Indo, lahir 19.. di Hanopan.
2. Tahim, lahir 19.. di Hanopan.
3. Tiran (pr), lahir 19.. di Hanopan.
4. Timaheran (pr), lahir 19.. di Hanopan.
7-3. Bangun Harahap, Mangaraja Naposo (19..-19..) dengan istri Rongguan, boru Pohan dari Parau Sorat, istri abangnya yang sulung telah meninggal. Keturunannya:
1. Hormat, lahir 19.. di Hanopan.
2. Maren, lahir 19.. di Hanopan.
3. Nuro (pr), lahir 19.. di Hanopan.
7-4. Rain Harahap, gelar Mangaraja Bintuju (19..-19..) dengan istri Tiasma, boru Regar dari Bunga Bondar. Istri pertama meninggal tanpa keturunan, kemudian digantikan adiknya. Keturunannya:
1. Nasar, lahir 19.. di Hanopan.
2. Munir, lahir 19.. di Hanopan.
3. Dahler, lahir 19.. di Hanopan.
4. Nursiti (pr), lahir 19.. di Hanopan.
7-5. Borkat Harahap, Ja Mukobul (19..-19..) dengan istri Tiro, boru Sormin dari Jonggol Jae, lalu digantikan Basunu, Ompu ni Pendi, boru Regar dari Batu Horpak, dan Hanum, boru Parde-de dari Sipogoe. Keturunannya:
1. Doriolo (pr), lahir 19.. di Hanopan.
2. Sopian, lahir 19.. di Hanopan.
3. Sour (pr), lahir 19.. di Hanopan.
4. Mara Tohong, lahir 3 September 1941 di Hanopan.
5. Haposan, lahir 19.. di Hanopan.
6. Kotib, lahir 1 Nopember 1956 di Hanopan.
7. Marasat, lahir 19.. di Hanopan.
8. Amru, lahir 19.. di Hanopan.
9. Ati (pr), lahir 19.. di Hanopan.
7-6. Sulaiman Harahap, gelar Ja Oemar (19..-19..) dengan istri Halimah, ompu ni Raya, boru Sormin dari Pagaran Pisang, Arse. Keturunannya:
1. Rosdina (pr), lahir 19.. di Hanopan.
2. Muslimin, lahir 19.. di Hanopan.
3. Mandasin, lahir 19.. di Hanopan.
4. Nurhamima (Mima, pr), lahir 19.. di Hanopan.
5. Siti Rahmah (pr), lahir 19.. di Hanopan.
6. Musla, lahir 19.. di Hanopan.
7. Bahrum, lahir 19.. di Hanopan.
8. Nurida (pr), lahir 19.. di Hanopan.
9. Hairin, lahir 19.. di Hanopan.
7-7. Salasa Harahap, gelar Ja Niarba (19..-19..) dengan istri……., ompu ni……., boru Hasibuan dari Lancat. Keturunannya:
1. Gunung, lahir 19.. di Hanopan.
2……., lahir 19.. di Hanopan.
3…….., lahir 19.. di Hanopan.
4. Mida (pr), lahir 19.. di Hanopan.
7-8. Siti Adin Harahap, menikah dengan Sutan Batumahincat, marga Hasibuan dari Roncitan.
7-9. Montor Harahap, menikah dengan Mara Panusunan, marga Simatupang dari Pagaran Tulason.
7-10. Tialan Harahap, menikah dengan Judin, marga Siregar dari Batu Horpak.
10. Cucu Paian Harahap, gelar Malim Muhammad Nuh.
10-1. Tialas Harahap, menikah dengan Ja Uluan, marga Siregar dari Sampean.
10-2. Hadam Harahap, gelar Lobe Yakin (1902-1962) dengan istri Basani, Ompu ni….., boru Regar dari Huta Padang, putri Guru Dahlan Siregar, lalu digantikan Rombang, Ompu ni Sarimatua, boru Pane dari Aektorop. Keturunannya:
1. Tialima (pr), lahir 19.. di Hanopan.
2. Sangkot, lahir 19.. di Hanopan.
3. Majid, lahir 19.. di Hanopan.
4. Dahum, lahir 19.. di Hanopan.
5. Soleh, lahir 19.. di Hanopan.
10-3. Jalima Harahap, menikah dengan ….., marga Rambe dari Simangambat (Toba).
10-4. Sailan Harahap, menikah dengan Sutan Panusunan, marga Siagian dari Poldung.
10-5. Sobar Harahap, gelar Ja Mantar (1916-1981) dengan istri Limbajung, Ompu ni ….., boru Regar dari Bunga Bondar Sampulu. Keturunannya:
1. Bahuddin, lahir 19.. di Hanopan.
2. Sarpin, lahir 19.. di Hanopan.
3. Asni (pr), lahir 19.. di Hanopan.
4. Efendi, lahir 19.. di Hanopan.
5. Asra (pr), lahir 19.. di Hanopan.
10-6. Mariani Harahap, menikah dengan ….., marga Sinaga dari Padang Bujur.
10-7. Tiona Harahap, menikah dengan Horas, marga Pulungan dari Bunga Bondar.
10-8. Iran Harahap, menikah dengan Kalimangajun, marga Pohan dari Hanopan.
14. Cucu Kenis Harahap, gelar Baginda Pangibulan.
14-1. Ismail Harahap, gelar Ja Lobe (19..-19..) dengan istri Tiren, Ompu ni Alibosar, boru Regar dari Bunga Bondar. Keturunannya:
1. Ima, lahir 1936 di Hanopan.
2. Padusi, lahir 1938 di Hanopan.
3. Gandaera (pr), lahir 1940 di Hanopan.
4. Pinta (pr), lahir 1942 di Hanopan.
5. Oesman, lahir 1946 di Hanopan.
6. Jalil, lahir 1948 di Hanopan.
7. Ahmad Saleh, lahir 1950 di Hanopan.
14-2. Tiamar Harahap menikah dengan……, marga Ritonga dari Sigelgel.
14-3. Moun Harahap menikah dengan Ja Lundu, marga Siagian dari Arse Jae Dolok.
14-4. Jabeda Harahap menikah dengan…, marga Siregar dari Lancat Jae.
15. Cucu Gardok Harahap, gelar Malim Muhammad Rahim.
15-1. Moget Harahap, meninggal muda.
15-2. Togu Harahap, Ja Mangatur, gelar Mangaraja Sianggian (19..-19..) dengan istri…. …, Ompu ni Paraduan, boru Sormin dari Pagaran Pisang. Keturunannya:
1. Lokot, lahir 19.. di Hanopan.
2. Gunet (pr), lahir 19.. di Hanopan.
3. Zureda (pr), lahir 19.. di Hanopan.
4. Mandelina (pr), lahir 19.. di Hanopan.
5. Apul (pr), lahir 19.. di Hanopan.
15-3. Ingan Harahap menikah dengan….., marga Sinambela dari Roncitan.
15-4. Tiabin Harahap menikah dengan….., marga……dari Saba Tolang.
c. Mereka yang berdiam di, atau merantau dari Panggulangan.
11. Cucu Mandasin Harahap, gelar Baginda Khalifah Sulaiman.
11-1. Alaan Harahap, gelar Mangaraja Toga (19..-1959) dengan istri……, Ompu ni ….. boru Pohan dari Parau Sorat. Keturunannya:
1. Simin, lahir 19.. di Panggulangan.
2. Jamod, lahir 19.. di Panggulangan.
11-2. Marasan Harahap, gelar Ja Soriangon (19..-1956) dengan istri….., Ompu ni Hasbul-lah, boru Regar dari Bunga Bondar Sampulu. Keturunannya:
1. Siti Hawan (pr), lahir 19.. di Panggulangan.
2. Musleman (Belau), lahir 19.. di Panggulangan.
3. Maya (pr), lahir 19.. di Panggulangan.
4. Fatimah (pr), lahir 19.. di Panggulangan.
5. Soridima (pr), lahir 19.. di Panggulangan.
6. Anas Mursalim, lahir 19.. di Panggulangan.
7. Nur Asia (pr), lahir 19.. di Panggulangan.
8. Masito (pr), lahir 19.. di Panggulangan.
11-3. Kedom Harahap, gelar Haji Dollah (1904-1980) dengan istri Sitioli, Ompu ni Husin, boru Pohan dari Parau Sorat. Keturunannya:
1. Taris, lahir 19.. di Panggulangan.
2. Daud, lahir 19.. di Panggulangan.
3. Maarif, lahir 19.. di Panggulangan.
4. Abbas, lahir 19.. di Panggulangan.
5. Rukiah (pr), lahir 19.. di Panggulangan.
11-4. Mahir Harahap, gelar Ja Pariaman (1915-1981) dengan istri Suro, Ompu ni Rusli, boru Pohan dari Parau Sorat. Keturunannya:
1. Pangeran, lahir 19.. di Panggulangan.
2. Jalil, lahir 19.. di Panggulangan.
3. Hanizah, lahir 19.. di Panggulangan.
4. Maria (pr), lahir 19.. di Panggulangan.
5. Sarba (pr), lahir 19.. di Panggulangan.
6. Baidah (pr), lahir 19.. di Panggulangan.
11-5. Darajat Harahap, gelar Mangaraja Halongonan (1921-1984) dengan istri ……, Ompu ni Kartini, boru Nasution dari Garoga. Keturunannya:
1. Dasim, lahir 19.. di Panggulangan.
11-6. Nursalam Harahap, menikah dengan Datu Patna, marga Siregar dari Sipirok.
11-7. Tania Harahap, menikah dengan Batari, marga Sitompul dari Padang Padang.
11-8. Mayur Harahap, menikah dengan Ja Tukang, marga Pohan dari Hanopan.
11-9. Nuria Harahap, menikah dengan Ja Paranjulu marga Ritonga dari Paranjulu.
d. Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Siak Sri-Indrapura, Riau daratan.
13. Cucu Pardo (Mara Kamin) Harahap, gelar Baginda Saikum.
13-1. Nempol Harahap, gelar….(19..-1953) dengan istri Zainab, Ompu ni Mirza, boru Siak dari Sri-Indrapura. Awalnya ia Guru Sekolah di Pekan Baru. Pada tahun 1937 ia ditugaskan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengajar di Tiga Binanga, Tanah Karo, dan me-ninggal disana. Dari Tiga Binanga ia pernah berkunjung ke Bunga Bondar untuk men-jenguk kampung ayahandanya. Ia sempar berkenalan dengan H. M. Diri Harahap pejabat Kantor Keuangan di Medan, dan H. Muslim Harahap direktur Bank Dagang Negara di Medan pada ketika itu. Keturunannya:
1. Syamsudin, lahir 19.. di Siak Sri-Indrapura.
2. Rubiah (pr), lahir 19.. di Tiga Binanga.
3. Rukiah (pr), lahir 19.. di Tiga Binanga.
13-2. Abu Bakar Harahap (19..-19..), gelar….., istrinya……..
13-3. Muhammad Soleh Harahap (19..-19..), gelar….., istrinya…….
13-4. Jambul Harahap (19..-19..), gelar……, istrinya………..
13-5……….Harahap (19..-19..), gelar……, istrinya……….
Generasi Duapuluhdua
Amang Tua, Inang Tua, Amang, Inang, Uda, Nanguda, Namboru.
a. Mereka yang tetap tinggal di, atau merantau dari, Bunga Bondar.
4. Cicit Heber Harahap, Sintua Heber, gelar Baginda Maujalo.
4-1. Cucu Melanton Harahap, gelar Mangaraja Ujungpadang.
——————————————————————–
4-1-1. Julianus (Juli) Harahap, gelar Baginda…, (19..-19..) dengan istri Sabin, boru Regar dari Janji Nauli, Sipirok; bermukim di Bunga Bondar. Keturunannya:
1. Masnida (pr), lahir…..19.. di Bunga Bondar.
2. Marulam, lahir…..19.. di Bunga Bondar.
3. Nurlena (pr), lahir…..19.. di Bunga Bondar.
4-1-2. Hadrianus (Ponten) Harahap, gelar Baginda…(19..-19..) dengan istri …, boru Regar dari Bunga Bondar, lalu digantikan …, boru Regar dari Janji Nauli, Sipirok, bermukim di …. Lampung. Keturunannya:
1. Palito, lahir…..19.. di Lampung.
2. Maruli, lahir…..19.. di Lampung.
3. Thomas, lahir…..19.. di Lampung.
4. Tiurma (pr), lahir…..19.. di Lampung.
5. Murtio (pr), lahir…..19.. di Lampung.
6. Adelina (pr), lahir…..19.. di Lampung.
7. Rosita (pr), lahir…..19.. di Lampung.
4-1-3. Beheri Nopan Harahap, gelar Baginda…(19..-19..) dengan istri …, boru Simatupang dari Arse Julu. Ia merantau ke Sumatera Selatan dan tinggal di Lubuk Linggau. Lalu pindah ke Perkebunan Kelapa Sawit Tabapingin, dan akhirnya pulang ke Bunga Bondar. Pekerjaan: Guru Sekolah Rakyat. Keturunannya:
1. Sakti, lahir…..19.. di Tabapingin.
2. Agus, lahir…..19.. di Tabapingin.
3. Todung, lahir…..19.. di Tabapingin.
4-1-4. Siti Merawan Harahap menikah dengan Datuk, marga Batubara dari Napompar.
4-1-5. Sori Gunung Harahap, gelar Baginda…(19..-19..) dengan istri Komsiah, boru Sekayu dari Palembang. Awalnya tinggal di Perabumulih, pindah ke Ambon, Pontianak, Sanggan Ka-puas, akhirnya kembali Bunga Bondar. Pekerjaan: Polisi. Keturunan-nya:
1. Roslini (pr), lahir 1 Nopember 1953 di Ambon.
2. Raya Efendi, lahir 19 April 1958 di Ambon.
3. Bahrum, lahir 18 Mei 1959 di Sanggan Kapuas, Kalbar.
4. Saparudin (Baceker), lahir 23 Juli 1963 di Sanggan Kapuas, Kalbar.
5. Herlina Dwi Kora (pr), lahir 6 Juni 1966 di Sanggan Kapuas, Kalbar.
6. Putra Indra, lahir 25 Juni 1970 di Sanggan Kapuas, Kalbar.
7. Farida Ariani (pr), lahir 27 Oktober 1972 di Sanggan Kapuas, Kalbar.
4-1-6. Nurcahaya Harahap menikah dengan Adelin Panyahatan, marga Siregar dari Bagas
Lombang, Sipirok, tinggal di jalan Tapian Nauli no. 23 Padang Sidempuan.
4-1-7. Jenahara Harahap menikah dengan Sabam, marga Siregar dari Bunga Bondar, dan
menjadi guru sekolah di Jakarta.
6. Cicit Nanga Harahap, Ja Pahang, gelar Baginda Sialang.
6-1. Cucu Malik (Hizkia) Harahap, gelar Sutan Harahap.
—————————————————————
6-1-1. Reman Harahap, gelar Baginda……(19..-19..) dengan istri Marsiti, boru Silalahi dari ……; bermukim di…..Pematang Siantar. Pekerjaan: Guru Sekolah. Keturunannya:
1. Payungan, lahir 19 di Pematang Siantar.
2. Horas, lahir 19 di Pematang Siantar.
6-1-2. Totauli Harahap gelar Baginda Maratua (1922-19..) dengan istri Tinurlela (Ompu ni Neva), boru Regar dari Sibadoar, Sipirok. Pekerjaan: Pegawai BPM (De Bataafsche Pe-troleum Maatschaappij) hingga Pertamina di Plaju sampai pensiun. Terakhir tinggal di Jalan Sutan Syahrir, Gang Melati RT 21, Ladang Baru, Sekodjo, Palembang. Keturu-nannya:
1. Tumbur Mulia, lahir 11 Mei 1944 di Pelaju.
2. Masdah Riveria (pr), lahir 21 Agustus 1947 di Pelaju..
3. Sumurung, lahir …..1949 di Pelaju..
4. Bintan, lahir 1951 di Pelaju..
5. Gomos, lahir 1953 di Pelaju..
6. Januar, lahir 4 Januari 1956 di Pelaju..
7. Sontian, lahir 6 Agustus 1960 di Pelaju..
8. Lediana (pr), lahir 28 Nopember 1964 di Pelaju..
9. Lasmarovita (pr) lahir 16 Mei 1967 di Pelaju.
6-1-3. Hajopan Harahap gelar Baginda…(19..-19..) dengan istri Noung, boru Regar dari Bunga Bondar, lalu digantikan Martha, boru Ritonga dari Pahae, bermukim di Kemayoran, Jakarta. Pekerjaan: Polisi hingga pensiun. Alamat terakhir jalan.SMA 98 no.59 Pasar Re-bo, Jakarta.Tel: 870-2372. Keturunannya:
1. Bambang Posma (Posma), lahir….19.. di Jakarta.
2. Lamlandu Juni Martuani (Landu), lahir….19.. di Jakarta.
3. Patohan Satujuon (Johan), lahir….19.. di Jakarta.
4. Dertin Srikasi (Dertin, pr), lahir….19.. di Jakarta.
6-1-4. Parman Harahap, gelar Baginda……(19..-19..) dengan istri….., boru Regar dari Bunga Bondar, bermukim di jalan Gelas no.51, Medan. Pekerjaannya: Wirausaha. Tidak mem-punyai keturunan.
6-1-5. Hasiholan Harahap, gelar Baginda……(19..-19..) dengan istri ……, boru….dari ., bermukim di Pardagangan. Pekerjaan: Guru Sekolah. Kemudian kembali ke Bunga Bondar. Keturunannya:
1. Flores, lahir….19.. di Pardagangan.
2…….., lahir….19.. di Pardagangan.
3………, lahir….19.. di Pardagangan.
4………, lahir….19.. di Pardagangan.
6-1-6.Sanneria Harahap, menikah dengan Alpinus, marga Simorangkir dari…….
6-1-7.Istana Harahap, menikah dengan Raja Hot, marga Sinaga dari Pematang Siantar.
6-1-8.Mian Harahap, menikah dengan Keman Raja, marga Sinaga dari Pematang Siantar.
6-2. Cucu Binahar Harahap, gelar Ja Bintuju.
————————————————-
6-2-1. Marolop Harahap, gelar Jabulele…(19..-19..) dengan istri……, bermukim di Bunga Bondar. Keturunannya:
1. Hamonangan (Monang), lahir …19.. di Bunga Bondar.
2. Syahrun, lahir …19.. di Bunga Bondar.
3. Ipin, lahir …19.. di Bunga Bondar.
4. Deli (pr), lahir …19.. di Bunga Bondar.
5….., lahir …19.. di Bunga Bondar.
6-2-2. Setto (Maria) Harahap menikah dengan Mauli, marga….dari Sampean.
6-2-3. Mintaria Harahap, menikah dengan ……., marga….dari……(Pematang Siantar).
12. Cicit Kampung Harahap, gelar Haji Tuan Syekh Muhammad Jalil.
12-1. Cucu Yusuf Harahap, gelar Mangaraja Sorialam.
———————————————————–
12-1-1. Siti Angat Harahap, menikah dengan Darus, marga Siregar dari Bunga Bondar.
12-1-2. Bidin Harahap, gelar Dja Panusunan, (19..-19..) dengan istri Aminatu (Ompu ni Amrin), boru Regar dari Bunga Bondar; bermukim di Bunga Bondar. Keturunan-nya:
1. Mahmud, lahir …19.. di Bunga Bondar.
12-1-3. Tirohim Harahap, menikah dengan Mangaraja, marga Siregar dari Sialagundi.
12-1-4. Nurba Harahap, menikah dengan Muhammad Rohim, marga Siregar dari Bondar
Nauli.
12-1-5. Natin Harahap, gelar Baginda…, (19..-19..) dengan istri Cholija (Ompu ni …..), boru Regar dari Bunga Bondar, lalu digantikan……, boru Regar dari Bondar Sampulu; bermukim di Bunga Bondar. Keturunannya:
1. Masdelina (Erjep, pr), lahir …19.. di Bunga Bondar.
2. Sjamsulbakhri, lahir …19.. di Bunga Bondar.
3. Nursani (pr), lahir …19.. di Bunga Bondar.
4. Anadarlina (pr), lahir …19.. di Bunga Bondar.
5. Lensa (pr), lahir …19.. di Bunga Bondar..
6. Carda, lahir …19.. di Bunga Bondar.
7. Ulan, lahir …19.. di Bunga Bondar.
12-1-6. Siti Adin Harahap, menikah dengan ….., marga Siregar dari Batu Horpak.
12-1-7. Sanne Harahap, menikah dengan ………, marga……dari……..
12-1-8. Arbania Harahap, menikah dengan Manongap, marga Siregar dari Hasang.
12-1-9. Nabin Harahap, menikah dengan ….., marga …..dari Aek Botik.
12-1-10. Mija Harahap, menikah dengan ….., marga ……dari Arse Jae Dolok.
12-1-11. Manda Harahap, menikah dengan ….., marga …..dari Simpang Batu Horpak.
12-2. Cucu Tosim Harahap, gelar Mangaraja Hanopan.
———————————————————–
12-2-1. Mara Iman Harahap, gelar Haji Mara Iman (19..-19..) dengan istri…..(Ompu ni….), boru Regar dari Bunga Bondar; bermukim di jalan Sei. Bingei no.52, Medan. Pekerjaan: Direktur BDNI Medan. Keturunannya:
1. Leliwati, lahir …19.. di Medan.
12-2-2. Muslim Harahap, gelar Muslim Djalil (19..-19..) dengan istri Nurmala (Ompu ni Monda)
, boru Regar dari Pargarutan; bermukim di Jalan S. Parman no.302, Medan. Pekerjaan:
Direktur BDNI Sumut di Medan. Keturunannya:
1. Kalsum (pr), lahir …19.. di Medan.
2. Fahrudin, lahir …19.. di Medan.
3. Daman Syahri, lahir …19.. di Medan.
4. Syofian, lahir …19.. di Medan.
5. Bakhrumsyah, lahir …19.. di Medan.
6. Darwati (Tati, pr), lahir …19.. di Medan.
12-2-3. Pangibulan Harahap, gelar Hadji Anwar Pangi (1928.-1991) dengan istri Nursiah (Ompu ni Jepri), boru Regar dari Parandolok, Sipirok; bermukim di Jalan Sei Kuala no. 18, Medan. Keturunannya:
1. Nurul Helviani (pr), lahir 17 Agustus 1957 di Medan.
2. Syaful Indra, lahir 11 Nopember 1958 di Medan.
3. Syahrul Abdi, lahir 8 Nopemberr 1960 di Medan.
4. Nisrul (pr), lahir …1965 di Medan.
5. Mimi (pr), lahir …1966 di Medan.
12-2-4. Rona Harahap, menikah dengan Alben, marga Siregar dari Bunga Bondar.
(keturunannya: 1.pr, 2pr. ,3pr., 4pr. ,5. Ir Asrul Efendi, 6.dr Darwis, 7. drs. Arman
syah, 8.drs Arifin, 9 Ir. Rikin).
b. Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Hanopan.
2. Cicit Sengel Harahap, Haji Tuan Syekh Muhammad Yunus, gelar Baginda Parbalohan.
2-1. Cucu Abdul Hamid Harahap, Tuan Datu Singar, gelar Sutan Hanopan.
————————————————————————————-
2-1-1. Sutor Harahap, gelar Baginda Pandapotan (1896-1969) dengan istri Molun, Ompu ni Iwan (1900-1966), boru Regar dari Bunga Bondar; berdiam di Jalan Permiri no.500, Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Pendidikan: tammat Sekolah Gouverne-ment di Sipirok tahun 1913; tammat Kwekeling (Kursus Guru Sekolah Melayu) tahun 1915, tammat Hulp-onderwijzer (Guru Sekolah Melayu) tahun 1917, menyelesaikan Klein-Ambtenaar-sexamen (Ujian Pegawai Kecil) tahun 1929, seluruhnya berlangsung di Kota Raja (Banda Aceh). Pekerjaan: 1914 Guru Volksschool (Sekolah Rakyat) di Kaloee-Tamiang, Aceh Timur. Tahun 1918 pekerjaan sama, tetapi dipindahkan ke Blang-Poelo, Lhok-Seumawe, Aceh Utara, dan tahun 1922 mengepalai Volksschool. Tahun 1928 pindah menjadi Beambte bij het Landpandhuiszen (Pegawai Balai Pegadaian Tanah) di Kuala Simpang, dilanjutkan Pandhuis di Kota Raja.
Sejak tahun 1930 menjadi Beambte bij het BPM (De Bataafsche Petroleum Maats-chaappij) di Pangkalan Brandan, tinggal di Alur Gantung dekat Lapangan Bola. Pada tahun 1933 dipindahkan ke Plaju, dan ditempatkan di sejumlah Lapangan pengeboran Minyak, dan terakhir di Talang Jimar, Perabumulih. Setelah Belanda me-nyerah tahun 1942 dan Jepang masuk, bertugas di Asano-Butai, Perusahaan Minyak Japang di Kilang Mangunjaya. Setelah Jepang bertekuk lutut tahun 1945 pindah ke PERMIRI (Perusahaan Minyak Republik Indonesia) ditempat yang sama, sekaligus menjadi ketua penyantun Sekolah Rakyat Ladang Minyak tersebut. Memasuki kemerdekaan, sejak tahun 1950, menjadi Guru sekolah Rakyat no.1 di Lubuk Linggau dan mengepalai sekolah itu hingga pensiun. Kemudian tahun 1962 menjadi kepala Sekolah Rakyat Yayasan Pendidikan Nasional Lubuk Linggau hingga akhir hayatnya. Keturunannya:
1. Amir Hamzah, lahir 12 Nopember 1919 di Lhok-Seumawe, jam 06.00.
2. Sangkot Syarif Ali Tua,. lahir 12 Juni 1923 di Lhok-Seumawe jam 06.00-
07.00.
3. Marasuddin, lahir 12 Nopember 1925 di Paya Rabo, menjelang lohor.
4. Sangkot Hamid, lahir 31 Juli 1927 di Lhok-Seumawe, jam 22.00.
5. Sangkot Anwar Bey Effendy, lahir 27 Maret 1930 di Pangkalan Brandan.
6. Muhammad Arifin, lahir 23 Februari 1933 di Pangkalan Brandan.
7. Abdul Rasyid/Muhammad Rusli, lahir 7 Nopember 1936 di Sungai Lilin,
Palembang. Penyusun tarombo Marga Harahap dari Hanopan ini.
8. Fatimah (Siti Fatimah Marsari, pr), lahir 21 Nopember 1938 di Talang
Jimar, Palembang.
2-1-2. Maujalo Harahap, gelar Haji Baginda Soripada Paruhum (1901-1983) dengan istri Hajjah Siti Maddiah (1910-1969), Ompu ni Ida, boru Pulungan dari Aek Badak, Mandailing, bermukim Medan. Kemudian digantikan Hajjah Salohot, boru Regar dari Kampung Satia, Sipirok Setelah pensiun kembali ke Hanopan. Pendidikan: Sekolah Gouvernement di Sipirok. Pekerjaan: DSM (Deli Spoorweg Maatschappij, atau Perusahaan Keretaapi Deli) di zaman Penjajahan Belanda di Medan. Setelah kemerdekaan, bekerja di Kantor Bupati Padang Sidempuan. Keturunannya
1. Siti Ramalan (pr), lahir 1922 di Medan.
2. Sanusi, lahir 1924 di Medan.
3. Sahala (pr), lahir 1926 di Medan.
4. Muhammad Ali, lahir 1928 di Medan.
5. Syarifah (pr), lahir 1930 di Medan.
6. Luthfi, lahir 1932 di Medan.
7. Pangaduan Muda, lahir 1935 di Medan.
8. Mohammad Nasief/Muhammad Nasir, lahir………1936 di Medan.
9. Trimurti (pr), lahir……….1946 di Medan.
10. Indra Caya, lahir 6 Desember 1948 di Medan.
11. Zulkarnain, lahir 27 Agustus 1970 di Hanopan.
2-1-3. Siti Angur Harahap (1905-1975), menikah dengan Binanga, marga Pane dari Arse Jae; kemudian Manap, marga Siregar dari Sipirok; terakhir Zainuddin, marga Simatupang dari Pagaran Tulason.
2-1-4. Dumasari Harahap (1908-1945), menikah dengan Bunbunan, marga Simatupang dari Lumban Lobu.
2-1-5. Pelinuruddin Harahap, gelar Haji Muhammad Nurdin (1909-1983) dengan istri Intan Darilah (Ompu ni Erik), boru Tanjung dari Sibolga; berdiam di Jalan Santeong, Gang Cempaka no.9B, Sibolga. Pendidikan: Ikut naik haji dengan kakek ke Mekah dan Ma-dinah bulan Desember 1927 dan belajar agama Islam disana. Pekerjaan: Pegawai Kantor Agama di Sibolga. Keturunannya:
1. Alamsyah Budin, lahir 12 Januari 1935 di Sibolga.
2. Basri, lahir ……1937 di Sibolga.
3. Zubaidah (pr) , lahir 20 April 1939 di Sibolga.
4. Ustan, lahir……1940 di Sibolga.
5. Kartini (pr) , lahir……1942 di Sibolga.
6. Kardinah (pr) , lahir ……1945 di Sibolga.
7. Tobotan, lahir……..1947 di Sibolga.
8. Lahuddin, lahir 7 Agustus 1949 di Hanopan.
9. Muhiddin, lahir 16 April 1950 di Hanopan.
10. Halimatussakdiah (pr), lahir 16 April1952 di Sibolga.
11. Nursaidah (pr), lahir …..1954 di Sibolga.
12. Muhammad Sukri, lahir ……1956 di Sibolga.
13. Abdul Halim, lahir ……1958 di Sibolga.
2-1-6. Aminah Harahap, meninggal gadis.
2-1-7. Sorimuda (Hisar) Harahap, gelar Baginda Aek Hopur/Baginda Harahap (1913-1989) dengan istri Hamis, boru Tambunan dari Arse Jae Dolok, kemudian digantikan Tiani, boru Regar dari Ujung Padang; tinggal di Hanopan. Keturunannya:
1. Matumona (pr), lahir……19.. di ……..
2. Deliana (pr), lahir ……19.. di Hanopan.
2-1-8. Haji Muhammad Diri Harahap S.H, gelar Baginda Raja Mulia Pinayungan (1915-2000) dengan istri Hj. Sari Intan, boru Pane dari Arse Julu; lalu digantikan Nila Kesuma, adik kandung boru Pane, berdiam di Jalan Hang Tuah VIII/8, Kebayoran Baru. Pendidikan: UI-Ext. Pekerjaan: Wedana NRI di Sipirok, Kepala Kantor Keu-angan Medan, Residen KDK Hollandia (Irian Barat), Gubernur Muda d/p Gubernur KDK Ibukota Jakarta. Keturunannya:
1. Dirwan Yuliansyah (Iwan), lahir 31 Juli 1955 di Medan.
2. Dirwani Elvy Yuswita (Evi, pr), lahir 16 April 1957 di Medan.
3. Magnora Khaerina (Rina, pr), lahir 18 Juli 1959 di Kebayoran Baru.
2-1-9. Muhammad Harahap meninggal muda.
2-1-10. Hj. Erjep Masteri Khairani Harahap (1920-1992), menikah dengan Amirullah, marga Pulungan dari Sumuran, Sipirok.
2-1-11. Haji Marajali Harahap BRE, gelar Baginda Guru Sodoengdangon (1922-2001) dengan istri Irma, boru Regar dari Bagas Godang Sipirok; lalu digantikan Hj. dra. Derhana, boru Regar dari Baringin, Sipirok iboto Prof. Bismar Siregar S.H; berdiam di jalan Danau Marsabut no.2, Sambu Baru, Medan. Pendidikan: Opzichter dari Wihelmina School di Batavia masih di zaman Belanda, lalu melanjutkan ke Akademi PU Bandung mencapai Bachelor of Road Engineering (BRE). Pekerjaan: Kepala Kantor P.U. Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara di Padang Sidempuan. Keturunannya:
1. Darwisyah (pr), lahir 23 Juni 1945 di Medan.
2. Erwina (pr), lahir 2 Juni 1947 di Medan.
3. Irsan, lahir 8 Juli 1950 di Medan.
4. Ahmad Daulat Nabonggal, lahir ……19.. di Medan.
2-1-12. Haji Dr. Pamusuk Harahap, gelar Baginda Namora Pusuk ni Hayu (1925-1981) dengan istri Hj. Yusna Wagiman, boru Purworjo dari Jawa Tengah, berdiam di Jalan Setujuh no.2, Padang. Pendidikan: FK-USU dan FK-UNAN. Pekerjaan: Staf Pengajar FK-UNAN dan Kepala RSJ Gadut Padang.
Alamat terakhir: jalan Adinegoro no.22 B, Tabing, Padang.Tel: (…) -59003. Me-nunaikan ibadah Haji ke Tanah Suci: Mekah dan Madinah, menemani ibotonya Masteri Khairani pada tahun 1981, dan meninggal dalam perjalanan pulang dari Padang Arafah menuju pemondokan Haji di Mekah. Keturunannya:
1. Prita (pr), lahir 26 Januari 1964 di Padang.
2. Rina (pr), lahir 25 Mei 1965 di Padang.
3. Wirsma Arif (Uncok), lahir 21 Oktober 1966 di Padang.
4. Bourdon Saleh (Dedeh), lahir 17 Januari 1971 di Padang.
2-2. Cucu Kasim Harahap, gelar Tongku Mangaraja Elias Hamonangan.
———————————————————————————
2-2-1. Surto Meta Khristina (Tabiran) Harahap (19..-19..), menikah dengan Johan, marga Siregar dari Lancat Jae.
2-2-2. Dagar Na Lan (Dagar) Harahap (19..-19..), menikah dengan Sutan Kalirajo, marga Siregar dari Bunga Bondar.
2-2-3. Dimpu Harahap, gelar Baginda Aek Sanggar/Baginda Parbalohan Naposo (19..-1992) dengan istri Surtani, boru Regar dari Bunga Bondar, berdiam di Jl. Pinang IV/80 RT/ RW 13/02, Pondok. Labu, Jakarta. Pekerjaan: Pegawai PJKA di: Padang, Lahat, dan Ban-dung. Keturunannya:

1. Maria Khristina (Todas, pr), lahir 13 Maret 1931 di Padang.
2. Puji Makhdalena (Puji, pr), lahir 10 Maret 1934 di Padang.
3. Elizabeth Tiagar (Else, pr), lahir ….19.. di Padang.
4. Grace Nabasa (Grace, pr), lahir 30 Nopember 1937 di Padang.
5. Hanopan, lahir 10 Oktober 1939 di Padang.
6. Pandapotan (Panda), lahir 29 September 1943 di Lahat.
7. Torkis (pr), lahir ….19.. di Lahat.
8. Liman, lahir 22 Nopember 1948 di Padang.
9. Gazali (Rizal), lahir 22 Desember 1950 di Padang.
10. Soriduma (pr), lahir ….19.. di Bandung.
2-2-4. Menmen Harahap (19..-19..), menikah dengan Sutan Barumun Muda, marga Siregar dari Sibadoar, Sipirok.
2-2-5. Siti Dinar Harahap (19..-19..), menikah dengan Paian, marga Siregar dari Huta Raja, Baringin, Sipirok.
2-2-6. Partaonan Harahap, gelar Baginda Soripada Partaonan (BSP,1916-2001) dengan istri Mas-tura, boru Regar dari Bunga Bondar, lalu digantikan Nurbaiti Saleh, boru Caniago dari Maninjau Sumatera Barat; berdiam di jalan Mesjid Raya Baru no.14 Padang Sidempuan. Pendidikan: HIK, dan Sekolah Polisi. Pekerjaan: Komisaris Polisi di Medan. Keturunan-nya:
1. Asmaran, lahir 31 Desember 1941 di …..
2. Ida Hatni (pr) , lahir 20 April 1942 19.. di …..
3. Dona Rosaktina (pr) , lahir ….1943 di …..
4. Maharani Dohariana (pr) , lahir 21 April 1945 19.. di …..
5. Dewi Sri Hasiholan (pr) , lahir….1947 di …..
6. Dana Guswin, lahir ….1951 di …..
7. Edi Hanopan, lahir ….1955 di …..
8. Meutia Elfina (pr), lahir ….1956 di …..
9. Melfa Diana (pr), lahir ….1957 di …..
10. Rita Daminar (pr), lahir ….1959 di …..
11. Umar Dhani, lahir 12 Mei 1962 di Padang Sidempuan.
2-2-7. Hakim Harahap, meninggal muda di Palembang.
2-2-8. Posma Harahap, meninggal kecil di Hanopan.
2-2-9. Krisna Murti Harahap, meninggal kecil di Hanopan.
2-2-10. Bagon Harahap, gelar Baginda Hanopan (1922-1992) dengan istri Mutia, boru Regar dari Bunga Bondar, digantikan Kartini, boru Regar dari Bunga Bondar lalu Delima, boru Regar dari Marancar; berdiam di Jl. Fatmawati 45-B, Jakarta 12430. Pendidikan: MULO hingga kelas II, Sekolah Jepang. Dalam Perang Dai Toa Senso 1942-1945, mengikuti Kingrohosotai (Kerja Gotong-royong) di Petain tidak jauh dari Pekan Baru. Selanjutnya melola C.V Putra Muda (Pemborong), dan Anggota Legium Veteran dari Jakarta Se-latan. Keturunannya:
1. Syahrin, lahir 22 Juli 19.. di …..
2. Hapastian (Pasti), lahir 22 Nopember 19.. di …..
3. Nurcahaya (pr), lahir 12 Juli 1955 di …..
4. Bonggal, lahir 4 April 1957 di …..
5. Tetty (pr), lahir 15 Januari 1958 di …..
6. Martha (pr), lahir 12 Maret 1961 di …..
7. Ranto Cari (Ranto), lahir 9 September 1963 di …..
8. Diparbasa Tua (Basa), lahir 22 Nopember 1964 di …..
9. Yunita (pr), lahir 14 Januari 1966 di …..
10. Mei Abeto (Abeto), lahir Mei 1970 di …..
2-2-11. Syamsu Harahap (Bachtiar Harahap S.H) (1924-2010), gelar Baginda Hasayangan de-
ngan Istri Hariana, boru Regar dari Baringin, berdiam di Jl.Adyaksa IV/1 Lebak Bulus
Pendidikan: Universitas Indonesia Jakarta lulus dengan gelar Mr (Meester in de Rechte)
Pekerjaann: Kejaksaan R.I. Jakarta. Tidak mempunyai keturunan.

2-2-12. Toga Mulia Harahap, gelar Baginda Mulia (1928-2002) dengan istri Basaniah, boru Ritonga, putri Sutan Jundjungan dari Simangambat, berdiam di jalan Pengayoman no.7, Jakarta 12410. Pendidikan: smHK dari Univ. 17 Agustus. Jakarta. Pekerjaan: Wirau-saha Keturunannya:
1. Amru Bakhrum Paranginan (Amru), lahir 11 Maret 1955 di Jakarta.
2. Halomoan (Lomo), lahir 19 Januari 1957 di Jakarta.
3. Welly Hasiholan (Welly), lahir 2 September 1959 di Jakarta.
4. Meitiawati (pr), lahir 19 Mei 1962 di Jakarta.
2-2-13. Mastiurma Harahap, menikah dengan Parlindungan, marga Marpaung dari Galanggang Sipirok.
2-3. Cucu Rahmat Harahap, Haji Abdullah Oemar, gelar Sutan Nabonggal.
—————————————————————————————-
2-3-1. Sahat Harahap, gelar Baginda Marahasyim (19..-19..) dengan istri Sitiangat, boru Regar dari Bunga Bondar; bermukim di Pematang Siantar. Pendidikan: Sekolah Guru. Peker-jaan: Guru HIS di Lumban Lobu. Tidak mempunyai keturunan.
2-3-2. Hajjah Utir Harahap (19..-19..), menikah dengan Alitua, marga Siregar dari Parsorminan.
2-3-3. Marip Harahap, gelar Baginda Parbalohan/Baginda Panusunan (1917-1975) dengan istri Hj. Nursyawal, boru Hutasuhut dari Sipirok; bermukim di Medan. Pekerjaan: ADM PTP IX Sumatera Utara. Alamat terakhir jalan Ompu Gende no.44 Huta Suhut, Sipirok. Ke-turunannya:
1. Abdullah Umar, lahir ….19.. di …..
2-3-4. Hajjah Sahada Harahap (19..-19..), menikah dengan Abbas, marga Pospos (Hasi-buan) dari Huta Padang.
2-3-5. Hajjah Malige Harahap (19..-19..), menikah dengan Aladdin, marga Nasution dari Pa-dang-padang.
2-3-6. Haji Zainuddin Harahap, gelar Baginda Parguletan/Baginda Pardomuan (1926-1990) dengan istri Moun, boru Regar dari Padang Bujur, bermukim di Jakarta. Pekerjaan: Wirausaha. Keturunannya:
1. Sri Ulettina Dohar ni Mouza Harahap (Tina, pr) , lahir ….19.. di Jakarta.
2. Sri Rejeki Rahmawati Harahap (Jeki, pr) , lahir ….19.. di Jakarta.
2-3-7. Hajjah Siti Aisyah Harahap (19..-19..), menikah dengan Daulat, marga Hasibuan dari Roncitan.
3. Cicit Sogi Harahap, gelar Baginda Soripada.
3-1. Cucu Mamin Harahap, gelar Mangaraja Alaan.
———————————————————
3-1-1. Tua Harahap, meninggal muda di Hanopan.
3-1-2. Roup Harahap, gelar Baginda Paraduan (19..-19..) dengan istri Tinur, boru Siagian dari Bunga Bondar, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Pangeran, lahir ….19.. di …..
2. Parlindungan, lahir ….19.. di …..
3. Parsaulian, lahir ….19.. di …..
4. Parlaungan, lahir ….19.. di …..
5. Dewani (pr), lahir ….19.. di ……
6. Sulhana (pr), lahir ….19.. di ……
3-1-3. Burhanuddin Harahap, gelar Baginda Soaduon (19..-19..) dengan istri Nuraini, boru Pane dari Jonggol Jae, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Nagan, lahir ….19.. di Hanopan.
2. Rahman, lahir ….19.. di Hanopan.
3. Holija (pr), lahir ….19.. di Hanopan.
4. Siti Angur (pr), lahir ….19.. di Hanopan.
5. Nurhalima (pr), lahir ….19.. di Hanopan.
6. Ummi (pr), lahir ….19.. di Hanopan.
7. Sari Banun (pr), lahir ….19.. di Hanopan.
3-1-4. Gonjong Harahap, menikah dengan Amir, marga Pane dari Arse Jae Lombang.
3-1-5. Tiayur Harahap, menikah dengan yusdi, marga Siagian dari Lancat Jae.
3-1- 6. Anna Harahap, menikah dengan Sahat, marga Pohan dari Hanopan.
3-2. Cucu Maju Harahap, gelar Mangaraja Riapan.
——————————————————–
3-2-1. Jotur Harahap, menikah dengan Mara Uhum, marga Pospos dari Roncitan.
3-2-3. Tinur Harahap, menikah dengan Horas, marga Ritonga dari Roncitan.
3-2- 4. Napsiah Harahap, menikah dengan Majid, marga Pohan dari Sipogu.
3-2-5. Siti Rahmah Harahap, menikah dengan Tuten, marga Hasibuan dari Roncitan.
3-2-6. Timahasa Harahap, menikah dengan Dolla, marga Batubara dari Huta Padang.
3-2-7. Fatimah Harahap, menikah dengan ….., marga ….dari Attur Mangan.
3-2-8. Minta Harahap, menikah dengan ….., marga ….dari Bunga Bondar.
3-3. Cucu Baitan Harahap, gelar Mangaraja Parlaungan.
—————————————————————
3-3-1. Lolotan Harahap, gelar Baginda ….(19..-19..) dengan istri Sonang, boru Regar dari Bunga Bondar, lalu digantikan Sariat, boru Sitompul dari Simaninggir, berdiam di Hanopan. Keturunnannya:
1. Nuraini (pr), lahir ..19.. di Hanopan.
2……., lahir ..19.. di Hanopan.
3-3-2. Aminuddin Harahap, gelar Baginda ……(19..-19..) dengan istri Jawani, boru Ritonga dari Padang Mandailing, bermukim di Sosa. Keturunannya:
1. Dalian, lahir ..19.. di Sosa.
2. Ridoan, lahir ..19.. di Sosa.
3-3-3. Ridoan Harahap, gelar Baginda ….……(19..-19..) dengan istri…, boru Nasution dari Aek Horsik, bermukim di Rantau Prapat. Keturunannya:
1….., lahir ..19.. di Rantau Prapat
2……, lahir ..19.. di Rantau Prapat.
3-3-4. Gomuk Harahap, gelar Baginda …..……(19..-19..) dengan istri…, boru Sitompul dari Simaninggir, bermukim di Hanopan. Keturunanya:
1. Kipli, lahir ..19.. di Hanopan.
2……., lahir ..19.. di Hanopan.
3-3-5. Tiamsa Harahap, menikah dengan Firman, marga Siregar dari Padang Mandailing, Sipogu.
3-3-6. Ngolu Harahap, menikah dengan Nurin, marga Pakpahan dari Lumban Lobu.
3-4. Cucu Tobat Harahap, gelar Mangaradja Paranginan.
—————————————————————
3-4-1. Lajim Harahap, gelar Baginda Raja……(19..-19..) dengan istri Samaria, boru Regar dari Bunga Bondar, lalu digantikan Dasima, boru Regar, juga dari Bunga Bon-dar bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Roslina (pr), lahir ..19.. di Hanopan.
2. Rodoan, lahir ..19.. di Hanopan.
3. Salim, lahir ..19.. di Hanopan.
4. Asroida (pr), lahir ..19.. di Hanopan.
5. Mohammad Amin, lahir ..19.. di Hanopan.
6. Hapso (pr), lahir ..19.. di Hanopan..
7. Saidun, lahir ..19.. di Hanopan.
8. Bosur, lahir ..19.. di Hanopan.
9. Nurlan, lahir ..19.. di Hanopan.
10. Bokya, lahir ..19.. di Hanopan.
3-4-2. Karani Harahap, gelar Batara’i, (19..-19..) dengan istri Ruhut, boru Hasibuan dari Huta Padang, bermukim di Hanopan: Keturunannya:
1. Nawi, lahir ..19.. di Hanopan.
2. Annawati (pr), lahir ..19.. di Hanopan.
3. Rahmawati (pr), lahir ..19.. di Hanopan.
4. Ida Juwita (pr), lahir ..19.. di Hanopan.
5. Nur Masnah (pr), lahir ..19.. di Hanopan.
3-4-3. Rama Harahap, menikah dengan ….., marga Siregar dari Batu Horpak.
3-4-4. Ronda Harahap, menikah dengan ……, marga Ritonga dari Jonggol Julu.
3-4-5. Lenggana Harahap, menikah dengan Manap, marga Siregar dari Padang Mandailing.
3-4-6. Mawar Harahap, menikah dengan Maksum, marga Siregar dari Simangambat.
3-5. Cucu Kombang Harahap, gelar Malim Muhammad Arif.
———————————————————————
3-5-1. Junid Harahap, Haji Muhammad Junid, gelar Baginda …..(19..-19..) dengan istri Tapi, boru Regar dari Batu Horpak, bermukim di Medan. Keturunannya:
1. Matarip, lahir…..19 di Medan.
2. Bahrum, lahir…..19 di Medan.
3. Irsad, lahir…..19 di Medan.
4. Syahban, lahir…..19 di Medan.
5. Zul, lahir…..19 di Medan.
6. ……, lahir…..19 di Medan.
7. Rosma (pr), lahir…..19 di Medan.
8. Tina (pr), lahir…..19 di Medan.
9. Netti (pr), lahir…..19 di Medan.
3-5-2. Tirilan Harahap, menikah dengan Ja Ibana, marga Panjaitan dari Pagaran Pisang
Arba.
3-5-3. Syahrir Harahap, gelar Baginda Muda (19..-19..) dengan istri Nur Jannah, boru Pohan dari Ujung Padang, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Habonaran, lahir…..19.. di Hanopan.
2. Hamonangan, lahir…..19.. di Hanopan.
3. Ardin, lahir…..19.. di Hanopan.
4. Rifai, lahir…..19.. di Hanopan.
5. Rolan, lahir…..19.. di Hanopan.
6. Berli, lahir…..19.. di Hanopan.
7. Nuraini, lahir…..19.. di Hanopan.
3-5-4. Matnusin Harahap (Juma’at Harahap), gelar Baginda …..(19..-2004) istri Dahlena, boru Regar dari Paran Padang, lalu digantikan Sri Hardatin, boru Klaten, dari Jawa Tengah, bermukim di jalan Gusti Johan Idrus no.10, Pontianak. Kini keluarga berdiam di jalan Husen Hamzah, komplex Mitra Utama 2 Blok D 15 Pontianak. Penddikan: Sekolah Guru. Pekerjaan: Direktur SMA Negeri Pontianak. Keturunannya:
1. Harmaulina (pr), lahir 31 Juni 1968 di Pontianak.
2. Hartina (pr), lahir 21 April 1970 di Pontianak.
3. Harif Syahbudin, lahir 9 Desember 1971 di Pontianak.
4. Harpandi Agusnardi, lahir 7 Agustus 1973 di Pontianak.
5. Harry Effendi, lahir 19 Mei 1977 di Pontianak.
6. Harmeijn Maryadi, lahir 13 Maret 1979 di Pontianak.
7. Arif Widiansyah, lahir di Pontianak.

3-5-5. Mustamin Harahap, gelar Baginda Pariaman (19..-19..) dengan istri Rosliana, boru Simamora dari Dolok Sinomba, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Hirawati (pr), lahir 27 Juli1967 di Hanopan.
2. Asnan Sandy , lahir 6 April 1969 di Hanopan.
3. Juniar Herlita (pr), lahir 23 Juni 1971 di Hanopan.
4. Linda Nirwana (pr), lahir 17 Nopember 1973 di Hanopan.
5. Rostanida (pr) lahir 23 April 1976 di Hanopan.
3-5-6. Dalipa Harahap, menikah dengan Sinali, marga …dari Padang Sidempuan.
3-5-7. Mariam Harahap, menikah dengan Si Gumanda, marga Hasibuan dari Simanosor.
3-5-8. Jaleha Harahap, menikah dengan Arifin, marga Pane dari Arse Jae Dolok.
3-6. Cucu Adun Harahap, gelar Ja Hatunggal.
————————————————–
3-6-1. Pantis Harahap, gelar Baginda …..(19..-19..) dengan istri Ia boru Rantau Prapat, dari Su-matera Timur, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Hamonangan, lahir…..19.. di Hanopan.
2.
2. Ruslan, lahir…..19.. di Hanopan.
3. Amril, lahir…..19.. di Hanopan.
4. Makmun, lahir…..19.. di Hanopan.
5. Rosinar (pr), lahir…..19.. di Hanopan.
6. Juria (pr), lahir…..19.. di Hanopan.
7. Rohma (pr), lahir…..19.. di Hanopan.
3-6-2. Uddin Harahap, gelar Baginda …..(19..-19..) dengan istri Hatiran boru…dari…., ber-mukim di Kota Pinang, Rantau Prapat. Keturunannya:
1….. , lahir…..19.. di Kota Pinang.
2……, lahir…..19.. di Kota Pinang.
3……., lahir…..19.. di Kota Pinang.
3-6-3. Pande Harahap, gelar Baginda …..(19..-19..) dengan istri…, boru…..dari…., bermukim di Ramba Bidang, Gunung Slamat, Kota Pinang, Rantau Prapat. Keturunannya:
1……., lahir…..19.. di Kota Pinang.
2……., lahir…..19.. di Kota Pinang.
3……., lahir…..19.. di Kota Pinang.
4…….., lahir…..19.. di Kota Pinang.
5…….., lahir…..19.. di Kota Pinang.
3-6-4. Eras Harahap, gelar Baginda …..(19..-19..) dengan istri…, boru…..dari ….., berdiam di Cilandak, Jakarta. Keturunannya:
1. Ronda, lahir…..19.. di Jakarta.
2………, lahir…..19.. di Jakarta.
3………, lahir…..19.. di Jakarta.
4………, lahir…..19.. di Jakarta.
5………, lahir…..19.. di Jakarta.
3-6-5. Janiba Harahap, menikah dengan Bangkit, marga Babiat dari Dolok Sinomba.
3-6-6. Nurhaida Harahap, menikah dengan Toguan, marga Pohan dari Tanjung Lama.
3-6-7. Maralan Harahap, menikah dengan Panusunan, marga Simatupang dari Pagaran Tulason.
3-6-8. Rontana Harahap, menikah dengan ….., marga Sitompul dari Padang Padang, Simaning-gir.
3-6-9. Dekman Harahap, gelar Baginda …..(19..-19..) dengan istri Aisyah, boru Regar dari Sipirok, berdiam di Palembang. Keturunannya:
1……., lahir…..19.. di Palembang.
2……., lahir…..19.. di Palembang.
3-6-10. Dima Harahap, menikah dengan Al Napia, marga Dalimunthe dari Poldung.
3-7. Cucu Ratus Harahap, gelar Ja Pangaribuan.
—————————————————–
3-7-1. Teler Harahap, gelar Baginda …..(19..-19..), dengan istri …., boru Rantau Prapat, dari Sumatera Timur, bermukim di Labuhan Bilik. Keturunannya:
1……. , lahir…..19.. di Labuhan Bilik.
2…….., lahir…..19.. di Labuhan Bilik.
3-7-2. Maraganti Harahap, gelar Baginda Habiaran (19..-19..) dengan istri Lamro, boru Hasibuan dari Lancat Jae, berdiam di Hanopan. Keturunannya:
1. Johny, lahir…..1965 di Hanopan.
2. Loberto, lahir…..1970 di Hanopan..
3. Anaria (pr), lahir…..1971 di Hanopan..
4. Sepnauli, lahir…..19.. di Hanopan.
5. Timbul Hamonangan, lahir…..19.. di Hanopan.
6. Masdinar (pr), lahir…..19.. di Hanopan.
3-7-3. Morai Harahap, gelar Baginda Sojuangon (19..-19..) dengan istri Tiaisyah, boru Babiat dari Tanjung Barat, lalu digantikan Minar, kakak kandungnya, berdiam di Hanopan. Ke-turunannya:
1. Masdalena (pr), lahir…..19.. di Hanopan.
2. Elias, lahir…..1970 di Hanopan.
3. Pandapotan, lahir…..1972 di Hanopan.
4. Marlina, lahir…..1974 di Hanopan.
5. Muhammad Ali, lahir…..1978 di Hanopan.
6. Muhammad Alpian, lahir…..1980 di Hanopan.
3-7-4. Maya Harahap, menikah dengan Pangeran, marga Simatupang dari Pagaran Tulason.
3-7-5. Sorum Harahap, menikah dengan Pagang, marga Pane dari Sampean.
3-7-6. Beiti Harahap, menikah dengan Labuan, marga Siregar dari Huta Padang.
3-7-7. Dorkas Harahap, menikah dengan Panindaan, marga Rambe dari Huta Dolok.
3-9. Cucu Adong Harahap, Ja Balau, gelar Sutan Sonanggaron, Tongku Mangaraja Hanopan Naposo.
————————————————————————————————————–
3-9-1. Ginda Harahap, gelar Baginda…..(19..-19..) dengan istri Syamsinar, boru Tembilahan dari Riau, bermukim di Tembilahan. Keturunannya:
1. Indrawan, lahir…..19.. di Tembilahan.
2. Edwardsyah, lahir…..19.. di Tembilahan.
3. Elpaguoes Hendri, lahir…..19.. di Tembilahan.
4. Yoelianti (pr), lahir…..19.. di Tembilahan.
5. Maulana, lahir…..19.. di Tembilahan.
6. Parlindoengan, lahir…..19.. di Tembilahan.
7. Dadang, lahir…..19.. di Tembilahan.
3-9-2. Syamsi Harahap, gelar Baginda ……(19..-19..) dengan istri Lamro, boru ….dari….., bermukim di Jakarta. Keturunannya:
1……., lahir…..19.. di Jakarta.
2……., lahir…..19.. di Jakarta.
3-9-3. Ichwan Harahap, gelar Baginda…..(19..-19..) dengan istri Doharni, boru Hutapea dari Lancat Julu, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Faisal, lahir…..19.. di Hanopan.
2. Paima, lahir…..19.. di Hanopan.
3. Pahron, lahir…..19.. di Hanopan.
3-9-4. Safaruddin Harahap, gelar….(19..-19..) dengan istri…., boru……dari….., bermukim di Pontianak. Keturunannya:
1. Nurulhuda (pr), lahir…..19.. di Pontianak.
2.
3-9-5. Nurmaia (Maia) Harahap, menikah dengan Rame, marga Siregar dari Baringin.
3-10. Cucu Jabal Harahap, gelar Mangaradja Bukit Sidua-dua.
——————————————————————–
3-10-1. Nurhayani Harahap, menikah dengan Kosim, warga dari Rantau Prapat.
3-10-2. Nukman Harahap, gelar….….(19..-19..) dengan istri…., boru……dari….., bermukim di…..Keturunannya:
1……, lahir…..19.. di …….
3-10-3. Jawani Harahap, menikah dengan …….., marga …..dari…..
3-10-4. Masna Harahap, menikah dengan ……, marga……dari……..
3-10-5. Sjarifudin Harahap, gelar….….(19..-19..) dengan istri…., boru……dari….., bermukim di…..Keturunannya:
1……, lahir…..19.. di ……
3-10-6. Sampe Harahap, gelar….….(19..-19..) dengan istri…., boru……dari….., bermukim di…..Keturunannya:
1……., lahir…..19.. di……..
3-10-7. Mara Ponu Harahap, gelar….….(19..-19..) dengan istri…., boru……dari….., bermukim
di….. Keturunannya:
1…….., lahir…..19.. di………
3-10-8. Zainab Harahap, menikah dengan….., marga Siregar dari ……
3-10-9. Rohima Harahap, menikah dengan ……, marga…..dari……
5. Cicit Lilin (Sutor) Harahap, gelar Baginda Malim Muhammad Arif.
5-1. Cucu Morgu Harahap, gelar Mangaraja Guna.
——————————————————–
5-1-1. Jalil Harahap, gelar….….(19..-19..) dengan istri…., boru Regar dari Huta Padang, ber-diam di Panti, Sumatera Barat….. Keturunannya:
1. …….., lahir…..19.. di Panti.
5-1-2. Pada Harahap, gelar….….(19..-19..) dengan istri…., boru Hutasuhut dari Sipirok, berdiam di Panti, Sumatera Barat ….. Keturunannya:
1. …….., lahir…..19.. di Panti.
5-1-3. Zainudin Harahap, gelar….….(19..-19..) dengan istri…., boru Regar dari….., berdiam di Padang Mandailing, Simangambat. Keturunannya:
1. …….., lahir…..19.. di Padang Mandailing.
5-1-4. Abdul Wahid Harahap, gelar….(19..-19..) dengan istri…., boru Ritonga dari Ron-citan, bermukim di Padang Mandailing, Simangambat. Keturunannya:
1. …….., lahir…..19.. di Padang Mandailing.
5-1-5. Pangibulan Harahap, gelar….….(19..-19..) dengan istri…., boru Regar dari Huta Padang, bermukim di Panti, Sumatera Barat. Keturunannya:
1. …….., lahir…..19.. di.Panti.
5-1-6. Hamzah Harahap, gelar….….(19..-19..) dengan istri…., boru Regar dari Huta Padang, bermukim di Padang Mandailing, Simangambat. Keturunannya:
1. …….., lahir…..19.. di Padang Mandailing.
5-1-7. Nuraisyah Harahap, menikah dengan ……, marga…..dari Marancar.
5-2. Cucu Daliun Harahap, gelar Ja Marliun.
————————————————
5-2-1. Bahori Harahap, gelar….….(19..-19..) dengan istri Nurbasa, boru Regar dari…., lalu digantikan Tiaya, boru Regar dari Bunga Bondar Sampulu, bermukim di Jalan Sukaria no. 116, Medan. Tel: 663-3517. Keturunannya:
1. Burhanuddin, lahir…..19.. di Medan.
2. Hasbi, lahir…..19.. di Medan.
3. Umar, lahir…..19.. di Medan.
4. Ansor, lahir…..19.. di Medan.
5. Hot Matua, lahir…..19.. di Medan.
6. Rostina (pr) , lahir…..19.. di Medan.
7. Damila (pr), lahir…..19.. di Medan.
5-2-2. Maskut Harahap, gelar…….….(19..-19..) dengan istri…., boru….dari Hutasuhut, ber-mukim di Panti, Sumatera Barat. Keturunannya
1.
5-2-3. Sabirin Harahap, gelar…….….(19..-19..) dengan istri…, boru Regar dari Ujung Padang, bermukim di Parbaungan, Sumatera Timur. Kemudian pindah ke Padang Mandailing, Simangambat. Keturunannya:
1.
5-2-4. Fatimah Harahap, menikah dengan….., marga Sibaroeang dari Angkola Jae.
5-2-5. Nasrun Harahap, gelar….….….(19..-19..) dengan istri…., boru…dari Mandailing, bermu-kim di Padang Mandailing, Simangambat. Keturunannya
1.
5-2-6. Amirudin Harahap, gelar….….(19..-19..) dengan istri…., boru …dari….., awalnya ber-diam di Hanopan, kemudian pindah ke Padang Mandailing, Simangambat. Keturunan-nya:
1.
5-2-7. Maslina Harahap, menikah dengan….., marga …dari Danau Marsabut.
5-2-8. Kasania Harahap, menikah dengan….., marga …..dari Simangambat.
5-2-9. Dahlena Harahap, menikah dengan….., marga ….dari Simangambat.
5-2-10. Dahtinur Harahap, menikah dengan….., marga …..dari ……
5-3. Cucu Saribun Harahap, Ja Kidun, gelar Sutan Martua.
——————————————————————
5-3-1. Jusuf Harahap, gelar….….….(19..-19..) dengan istri…., boru Regar dari Padang Bolak, bermukim di Desa Bandar Dunia, Labuhan Batu. Keturunannya
1.
5-3-2. Hasanudin Harahap, gelar….….….(19..-19..) dengan istri…., boru Ritonga dari….., ber-mukim di Rantau Prapat. Keturunannya
1.
5-3-3. Matnuin Harahap, gelar….….….(19..-19..) dengan istri…., boru Regar dari….., ber-mukim di Rantau Prapat. Keturunannya:
1.
5-3-4. Rona Harahap, menikah dengan Madun, marga Batubara dari Sipogu.
5-3-5. Teri Harahap, gelar….….….(19..-19..) dengan istri…., boru …dari….., bermukim
di Cirebon. Keturunannya:
1.
5-3-6. Rusli (Cino) Harahap, gelar Baginda Namuap….….(19..-19..) dengan istri Lena, boru Re-gar dari Bunga Bondar, bermukim di Hanopan.Keturunannya:
1.
5-3-7. Arbaia Harahap, menikah dengan Baharoeddin, marga Pane dari Pagaran Tulason.
5-3-8. Hanna Harahap, menikah dengan Sa’adin, marga Lubis dari Tano Tambangan, Panti.
5-3-9. Enni Harahap, menikah dengan Muara, marga Siregar dari Baringin.
5-3-10. Ita Harahap, menikah dengan Ruslan, marga Hutagaol dari Hanopan.
5-3-11. Rostina Harahap, menikah dengan….., marga Pospos dari Roncitan, tinggal di Medan.
5-3-12. Elpinawati Harahap, menikah dengan Marwan, marga Siregar dari Gunung Tua.
5-4. Cucu Saib Harahap, Ja Bolon, gelar Sutan Oloan.
———————————————————–
5-4-1. Tukko Harahap, gelar Baginda Namuap….….(19..-19..) dengan istri …, boru Sinambela dari Roncitan, bermukim di Panti, Sumatera Barat. Keturunannya:
1.
5-4-2. Salima Harahap, menikah dengan ….., marga Siregar dari Padang Bolak.
5-4-3. Zaleha Harahap, menikah dengan Kapar, marga Gultom dari Simangambat.
5-4- 4. Sauna Harahap, menikah dengan ……., marga……..dari Padang Bolak.
5-4-5. Siti Harahap, menikah dengan……, marga…….dari ……..
7. Cicit Manis Harahap, gelar Baginda Malim Marasyad.
7-1. Cucu Lumut Harahap, Mangaraja Parhimpunan.
———————————————————-
7-1-1. Takim Harahap, Ja Biaso….….(19..-19..) dengan istri Mariani, boru Siagian dari Arse Jae Dolok, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Lamsari (pr), lahir…..19.. di Hanopan.
2. Parhimpunan, lahir…..19.. di Hanopan.
3. Buyung, lahir…..19.. di Hanopan.
4. Maslina (pr), lahir…..19.. di Hanopan.
5. Sutan, lahir…..19.. di Hanopan.
6. Nurianna (pr), lahir…..19.. di Hanopan.
7-1-2. Marasia Harahap, meninggal muda.
7-2. Cucu Bangun Harahap, Mangaraja Naposo.
—————————————————–
7-2-1. Hormat Harahap, gelar Baginda Pangibulan (19..-19..) dengan istri Tiani, boru Pohan dari Parau, lalu digantikan Basaria, boru Siagian dari Simaninggir, bermukim di Cikampah, Rantau Prapat.Keturunannya:
1. Adil, lahir…..19.. di Rantau Prapat.
2.
2. Sori, lahir…..19.. di Rantau Prapat.
3. Otmaida (pr), lahir…..19.. di Rantau Prapat.
4. Oslan, lahir…..19.. di Rantau Prapat.
5. Nisma (pr), lahir…..19.. di Rantau Prapat.
7-2-2. Maren Harahap, gelar Baginda Marsoit (19..-19..) dengan istri Nurasia, boru Pane dari Arse Julu, bermukim di Hanopan.Keturunannya:
1. Samsulbahri, lahir…..19.. di Hanopan.
2. Abdulah, lahir…..19.. di Hanopan
3. Sahdin, lahir…..19.. di Hanopan.
4. Sahyuti, lahir…..19.. di Hanopan
5. Ito, lahir…..19.. di Hanopan
6. Pantas Roma, lahir…..19.. di Hanopan.
7. Parmintaan, lahir…..19.. di Hanopan
8. Rosni Rusui (pr), lahir…..19.. di Hanopan
9. Bardansyah, lahir…..19.. di Hanopan.
7-2-3. Nuro Harahap, menikah dengan Judin, marga Siregar dari Batu Horpak.
7-3. Cucu Tembang Harahap, gelar Sutan Mangalai.
———————————————————
1. Mara Indo Harahap, gelar Baginda Natio (19..-19..) dengan istri …, boru Sinambela dari Roncitan, bermukim di Kota Pinang. Mantan Asisten Kebun di Banda Aceh. Keturunannya:
1. Berliana (pr), lahir…..19.. di Kota Pinang.
2. Sarip, lahir…..19.. di Kota Pinang.
3. Ismail, lahir…..19.. di Kota Pinang.
4. Ati (pr), lahir…..19.. di Kota Pinang.
5. Harris, lahir…..19.. di Kota Pinang.
6. Deliana (pr), lahir…..19.. di Kota Pinang.
7. Lisma (pr), lahir…..19.. di Kota Pinang.
8. Niar (pr), lahir…..19.. di Kota Pinang.
9. Johnny, lahir…..19.. di Kota Pinang.
2. Tahim Harahap, gelar Baginda Parbatasan (19..-19..) dengan istri Nurba, boru Regar dari Bunga Bondar, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Gondoria (pr), lahir…..19.. di Hanopan
2. Dasima (pr), lahir…..19.. di Hanopan
3. Bonggal, lahir…..19.. di Hanopan
4. Paruhuman, lahir…..19.. di Hanopan.
5. Pakri, lahir…..19.. di Hanopan
6. Batu, lahir…..19.. di Hanopan
7. Muhammad, lahir…..19.. di Hanopan.
3. Tiran Harahap, menikah dengan Marajo, marga Simatupang dari Pagaran Tulason.
4. Timaheran Harahap, menikah dengan Rencong, marga Siregar dari Jonggol Julu.
7-4. Cucu Rain Harahap, gelar Mangaraja Bintuju.
——————————————————–
7-4-1. Nasar Harahap, gelar Baginda Malim (19..-19..) dengan istri Rahayo, boru Hasibuan dari Sipirok, bermukim di Sipirok. Keturunannya:
1. Sakti, lahir…..19.. di Sipirok.
2. Ahmad, lahir…..19.. di Sipirok.
3. Erwin, lahir…..19.. di Sipirok.
4. Siti Adin (pr), lahir…..19.. di Sipirok.
7-4-2. Munir Harahap, gelar …..(19..-19..) dengan istri…….., boru……, bermukim di Pematang Siantar, lalu pindah ke Kisaran. Keturunannya:
1… lahir…..19.. di Pematang Siantar.
7-4-3. Dahler Harahap, gelar….(19..-19..) dengan istri……, boru….dari….., bermukim di Sitin-jak, Batang Toru. Keturunannya:
1….. , lahir…..19.. di Sitinjak.
2……, lahir…..19.. di Sitinjak.
7-4-4. Nursiti Harahap, meniggal muda.
7-5. Cucu Borkat Harahap, Ja Mukobul.
——————————————-
7-5-1. Doriolo Harahap, menikah dengan Karani, marga Hasibuan dari Roncitan.
7-5-2. Sopian Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri…., boru Sumatera Barat, bermukim di Padang. Pekerjaan: Pegawai Negeri. Keturunannya:
1. ……, lahir…..19.. di Padang.
7-5-3. Sour Harahap, menikah dengan Porngis, marga Tambunan dari Roncitan.
7-5-4. Mara Tohong Harahap, gelar Baginda Rangke Hatoguan….(19..-19..) dengan istri Robiah, boru Siagian dari Sipirok, berdiam di Fakfak, Irian Barat. Meninggal disana dalam men-jalankan tugas. Pekerjaan: Pegawai Negeri. Keturunannya:
1. Meri Yamashita (pr), lahir 31 Desember 1969 di Jakarta.
2. Umar, lahir 25 April1972 di Biak.
3. Audi, lahir 19 Juli 1974 di Biak.
4. Syarifuddin, lahir 27 Nopember 1980 di Biak.
7-5-5. Haposan Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri…., boru Regar dari Roncitan, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Awaluddin, lahir 23 April 1974 di Hanopan.
2.
2. Lasmiwati (pr), lahir 12 Juli 1975 di Hanopan.
3. Seribulan (pr), lahir 1 Januari 1978 di Hanopan.
4. Masdalena (pr), lahir 15 Mei 1980 di Hanopan.
5. Epa Yanti (pr), lahir 8 Oktober 1982 di Hanopan.
6. Kobul Pangidoan, lahir 10 Januari 1985 di Hanopan.
7. Irawati (pr), lahir 20 Januari 1987 di Hanopan.
8. Abdul Haji, lahir 13 Juli 1989 di Hanopan.
9. Hopipah (pr), lahir 20 Oktober 1991 di Hanopan.
7-5-6. Kotib Harahap, gelar Baginda Hatimbulan….(19..-19..) dengan istri Elizabeth, boru Yog-yakarta dari Jawa Tengah, bermukim di Kebon Nanas II/24, Otista IV, Jakarta Timur. Tel: 850-0150. Pendidikan: Akademi Telkom Bandung. Pekerjaann: Kantor Telkom Ca-bang Kebayoran Baru, Jakarta. Setelah pensiun kembali ke Hanopan dan menetap disana hingga akhir hayatnya. Keturunannya:
1. Dedi Indrawardana (Dedi), lahir 3 Desember 1980 di Jakarta.
2. Medi Rendra Cahyadi (Medi), lahir 19 Mei 1982 di Jakarta.
7-5-7. Marasat Harahap, gelar….., dengan istri…., boru…….dari…, bermukim di….. Ketu-runannya:
1.
7-5-8. Amru Harahap, gelar….., dengan istrinya…., boru….dari….., bermukim di……Ketu-runannya:
1.
7-5-9. Ati Harahap, menikah dengan ……, marga…..dari……
7-6. Cucu Sulaiman Harahap, gelar Ja Umar.
————————————————-
7-6-1. Rosdina Harahap, menikah dengan Amaran, marga Pospos dari Huta Padang.
7-6-2. Muslimin Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri Rukia, boru Regar dari Huta Pa-dang, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Raya, lahir……19.. di Hanopan.
2. Nita (pr), lahir……19.. di Hanopan.
3. Emmi (pr), lahir……19.. di Hanopan.
4. Rina (pr), lahir……19.. di Hanopan.
5. Maryan, lahir……19.. di Hanopan.
6. Erwin, lahir……19.. di Hanopan.
7. Arne, lahir……19.. di Hanopan.
8. Alamsyah, lahir……19.. di Hanopan.
9. Zuliadani (pr), lahir……19.. di Hanopan.
7-6-3. Mandasin Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri Achir, boru Regar Dongoran dari Arse Jae Dolok, bermukim di Medan, lalu pindah ke Bagan Batu. Pekerjaan: anggota TNI. Keturunannya:
1. Susi (pr), lahir……19.. di Medan.
2. Delimasari (pr), lahir……19.. di Medan.
3. Purnamasari (pr), lahir……19.. di Bagan Batu.
4. Rizal Efendi, lahir……19.. di Bagan Batu.
5. Anggi, lahir……19.. di Bagan Batu.
7-6- 4. Nurhamima Harahap, menikah dengan Sutan, marga Simatupang dari Pagaran Tulason.
7-6-5. Siti Rahmah Harahap, menikah dengan Darwin, marga Siregar dari Bondar Nauli.
7-6-6. Musla Harahap, gelar….., dengan istri Nursania, boru Regar dari Ujung Padang, berdiam di Hanopan. Keturunannya:
1. Sandi, lahir……19.. di Hanopan.
2. Sahli, lahir……19.. di Hanopan.
3. Desi (pr), lahir……19.. di Hanopan.
7-6-7. Dahrum Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri Tiur, boru Sitorus dari Porsea, lalu digantikan Nursani, boru Regar dari Ujung Padang. Awalnya bertugas di Medan kemu-dian dipindahkan ke Sipirok. Pekerjaan: Anggota TNI. Keturunannya:
1. Rida (pr), lahir……19.. di Medan.
2. Anto, lahir……19.. di Medan.
3. Mariska (pr), lahir……19.. di Sipirok.
4. Laila, lahir……19.. di Sipirok.
5. Nurul Oktavia, lahir……19.. di Sipirok.
7-6-8. Siti Rohma Harahap, menikah dengan …., marga Siregar dari Bondar Nauli, Gunung
Bayu Pematang Siantar.
7-6-9. Nurida Harahap, menikah dengan Wandi, marga Siregar dari Jonggol Jae.
7-6-10. Hairin Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri Darma, boru Ritonga dari Lancat
Julu, berdiam di Hanopan. Keturunannya:
1. Taufik Akbar, lahir……19.. di Hanopan.
2. Nensi (pr), lahir……19.. di Hanopan.
3. Umar, lahir……19.. di Hanopan.
7-7. Cucu Salasa Harahap, gelar Ja Niarba.
———————————————-
7-7-1. Gunung Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri Dama, boru Rambe dari Lancat Julu, bermukim di Medan. Keturunannya:
1…….., lahir……19.. di Medan.
2. Hanida (pr), lahir……19.. di Medan.
3. Agus, lahir……19.. di Medan.
4. Tetty (pr), lahir……19.. di Medan.
5……., lahir……19.. di Medan.
7-7-2……..Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri….., boru…..dari……, bermukim di Me-
dan. Keturunannya:
1……., lahir……19.. di Medan.
7-7-3……..Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri….., boru……dari…., bermukim di Me-dan. Keturunannya:
1……., lahir……19.. di Medan.
7-7-4. Mida Harahap, menikah dengan ……, marga…..dari Sampean Sipirok.
10. Cicit Paian Harahap, gelar Baginda Malim Muhammad Nuh.
10-1. Cucu Togu Harahap, Ja Mangatur, gelar Mangaraja Sianggian.
—————————————————————————
10-1-1. Lokot Harahap, gelar Baginda Parbalohan Dua, dengan istri Mastiur, boru Regar dari Hasang, bermukim di Hanopan. Pendidikan:…Pekerjaan:…Keturunannya:
1. Edisuandi, lahir……19.. di Hanopan.
2. Epri Pardomuan, lahir……19.. di Hanopan.
3. Pangondian, lahir……19.. di Hanopan.
4. Erni Tati (pr), lahir……19.. di Hanopan.
5. Tuti Alawijah (pr), lahir……19.. di Hanopan.
6. Suryani (pr), lahir……19.. di Hanopan.
7. Suryadi, lahir……19.. di Hanopan.
10-1- 2. Gunet Harahap, menikah dengan Kamal, marga Pohan dari Hanopan, anak Ja Mandaun.
10-1-3. Zureda Harahap, menikah dengan Akup, marga Simatupang dari Gunung Manaon.
10-1-4. Mandelina Harahap, menikah dengan Aziz, marga Tobing dari Silangge.
10-1-5. Apul Harahap, menikah dengan Sodirin, marga Rambe dari Batu Horpak Jae.
14. Cicit Kenis Harahap, gelar Baginda Pangibulan.
14-1. Cucu Ismail Harahap, gelar Ja Lobe.
———————————————
14-1-1. Padusi Harahap, menikah dengan…, marga……..dari………
14-1-2. Gandaera Harahap, menikah dengan Maidin, marga Simatupang dari Gunung Manaon.
14-1-3. Pitta Harahap, menikah dengan Mahyudin, marga Lubis dari Kotanopan.
14-1-4. Ima Harahap, menikah dengan ……, marga Pane dari Arse Jae Lombang.
14-1-5. Usman Harahap, gelar Baginda Pangibulan, dengan istri Otnida, boru Regar dari Ujung Padang, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Parulian, lahir……19.. di Hanopan.
2. Tinabin (pr), lahir……19.. di Hanopan.
3. Dirman, lahir……19.. di Hanopan.
4. Bayani (pr), lahir……19.. di Hanopan.
5. Habibullah, lahir……19.. di Hanopan.
14-1-6. Jolil Harahap, gelar Baginda Kotib, dengan istri Nurhamida, boru Pane dari Gunung Manaon, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Abdul Harris, lahir……19.. di Hanopan.
2. Dahliani (pr), lahir……19.. di Hanopan.
3. Sjamsiruddin, lahir……19.. di Hanopan.
4. Masdelina (pr), lahir……19.. di Hanopan.
5. Umarwira, lahir……19.. di Hanopan.
14-1-7. Ahmad Soleh Harahap, gelar Baginda Sidangkal, dengan istri Kholija, boru Regar dari Hasang, bermukim di Hanopan. Kadus 2010 (Kepala Dusun). Keturunannya:
1. Karlina (pr), lahir……19.. di Hanopan.
2. Bahari. lahir……19.. di Hanopan.
3. Syarif, lahir……19.. di Hanopan.
15. Cicit Gardok Harahap, gelar Baginda Malim Muhammad Rahim.
15-1. Cucu Hadam Harahap, gelar Lobe Yakin.
————————————————–
15-1-1. Tialima Harahap, menikah dengan ……, marga…..dari……
15-1-2. Sangkot Harahap, Haji Abdurrakhim, gelar Baginda Taris Muda (19..- 2008) dengan istri Hj. Nuraisyah, boru Regar dari Huta Padang. Pendidikan: Sekolah Guru. Pekerjaan: A-walnya menjadi Guru di Hanopan, lalu pindah ke Sipirok, akhirnya Medan. Setelah pensun kembali ke Bona Bulu dan tinggal di jalan Simangambat no.115 Sipirok hingga akhir hayatnya. Keturunannya:
1. Saulina (pr), lahir……19.. di Sipirok.
2. Sariaman, lahir……19.. di Sipirok.
3. Rosita (pr), lahir……19.. di Sipirok.
4. Masia (pr), lahir……19.. di Sipirok.
5. Abdul Muin, lahir……19.. di Sipirok.
6. Merida Sinta (pr), lahir……19.. di Sipirok.
7. Achmadi, lahir……19.. di Sipirok.
8. Hakkul Yakin, lahir……19.. di Sipirok.
9. Nurhasami (pr), lahir……19.. di Sipirok.
15-1-2. Abdul Majid Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri…., boru Regar dari Sima-ngumban, bermukim di Percut, Medan. Keturunannya:
1……., lahir……19.. di Medan.
15-1-3. Dahum Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri……, boru Bagan dari Percut, bermukim di Percut, Medan. Keturunannya:
1……., lahir……19.. di Medan.
15-1-4. Ahmad Soleh Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri……, boru Pane dari Sima-ngumban, bermukim di Percut, Medan. Keturunannya:
1……., lahir……19.. di Medan.
15-2. Cucu Sobar Harahap, gelar Ja Mantar.
———————————————-
15-2-1. Bahuddin Harahap, gelar Baginda Malim Muda….(19..-19..) dengan istri Maimunah, boru Hasibuan dari Simangambat, bermukim di Hanopan. Pendidikan:..Pekerjaan: Kepa-la Kampung Hanopan ke…. Keturunannya:
1. Syahriana (pr), lahir……19.. di Hanopan.
2. Masnilam (pr), lahir……19.. di Hanopan.
3. Syaifulbakhri, lahir……19.. di Hanopan.
15-2-2. Sarpin Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri Tiabin, boru Rambe dari Lancat Julu, berdiam di Hanopan. Keturunannya:
1…….., lahir……19.. di Hanopan.
15-2-3. Asni Harahap, menikah dengan Sampun, marga Pasaribu dari Roncitan.
15-2-4. Efendi Harahap, gelar…..….(19..-19..) dengan istri Nurma, boru Regar dari Batuna Dua, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1…….., lahir……19.. di Hanopan.
15-2-5. Asra Harahap, menikah dengan ……, marga…..dari……
c. Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Panggulangan.
11. Cicit Mandasin Harahap, gelar Baginda Khalifah Sulaiman.
11-1. Cucu Alaan Harahap, gelar Mangaradja Toga.
——————————————————-
11-1-1. Simin Harahap, gelar Mara Soleman (19..-19..) dengan istri Halimatussakdiah, Ompu ni Sahir, boru Regar dari Sipirok. Keturunannya:
1. Akup, lahir……19.. di Panggulangan.
2. Malim Saidi, lahir……19.. di Panggulangan.
3. Syafe’i, lahir……19.. di Panggulangan.
4. Firman, lahir……19.. di Panggulangan.
5. Omas (pr), lahir……19.. di Panggulangan.
6. Tiadin (pr), lahir……19.. di Panggulangan.
7. Aslamiah (pr), lahir……19.. di Panggulangan.
8. Berlian (pr), lahir……19.. di Panggulangan.
9. Zainab (pr), lahir……19.. di Panggulangan.
11-1-2. Jamod Harahap, gelar…..…..….(19..-19..) dengan istri Salakiah, boru Regar dari Bari-ngin, bermukim di Banda Aceh. Keturunannya:
1.Harun, lahir……19.. di Banda Aceh.
11-2. Cucu Marasan Harahap, gelar Ja Soriangon.
—————————————————-
11-2-1. Siti Hawan Harahap, menikah dengan Marbun, marga Siregar dari Kampung Satia, Sipirok berdiam di Kepahyang, Bengkulu.
11-2-2. Musleman (Belau) Harahap, gelar Baginda Parbatasan (19..-19..) dengan istri Rubaniah, boru Regar dari Bunga Bondar Sampulu, lalu digantikan Aslamiah, boru Regar dari Parau Sorat, berdiam di Jalan D.I. Panjaitan no.6/46, Lingkungan V, Kelurahan Talang Benih, Curup, Bengkulu. Keturunannya:
1. Hasbullah, lahir 28 Nopember 1938 di Pematang Danau (Bengkulu).
2. Sjahruddin, lahir 18 Agustus 1942 di Lubuk Linggau.
3. Nukman, lahir 26 Januari 1945 di Belitar (Curup).
4. Mara Ingon, lahir 30 Januari 1947 di Belitar (Curup).
5. Amrul Hakim, lahir 4 Nopember 1950 di Belitar (Curup).
6. Syahzuana, lahir …195. di Belitar (Curup).
7. Lenan, lahir 29 Januari 1962 di Curup.
8. Arman, lahir 21 April 1964 di Curup.
9. Musriani (pr), lahir 18 September 1965 di Curup.
10. Hanopan, lahir 18 September 1967 di Curup.
11. Aliana, lahir……..1969 di Curup.
12. Adam, lahir…..1971 di Curup.
13. Anna Leli (pr), lahir….1972 di Curup.
14. Sakti, lahir……1974 di Curup.
11-2-3. Maya Harahap, menikah dengan Ja Bolon, marga Pakpahan dari Panggulangan.
11-2-4. Fatimah Harahap, menikah dengan Kabidun, marga Siregar dari Jambur Batu.
11-2-5. Soridima Harahap, menikah dengan Bahat, marga Siregar dari Saba Tolang.
11-2-6. Anas Mursalim Harahap, gelar Baginda Harahap (19..-19..) dengan istri Salohot, boru Regar dari Parandolok, tinggal di Talang Benih, Curup, Bengkulu. Lalu pindah dan menetap di Bogor. Keturunannya:
1. Nurhayati (pr), lahir 24 Juli 1955 di Banda Aceh.
2. Edi Erwin, lahir 18 Januari 1958 di Natal.
3. Siti Nanni (pr), lahir 6 Januari 1962 di Curup.
4. Eppy Narulita (pr), lahir 24 Desember 1964 di Curup.
5. Ansori Hidayat, lahir 16 Juni 1966 di Curup.
6. Susi Nender (pr), lahir 16 Juni 1968 di Curup.
7. Antonius, lahir 12 Nopember 1970 di Bogor.
8. Susanti (pr), lahir 10 Oktober 1973 di Panggulangan.
9. Umar, lahir 24 Juni 1975 di Panggulangan.
11-2-7. Nurasia Harahap, menikah dengan Adenan, marga Siregar dari Parau Sorat.
11-2-8. Masito Harahap, menikah dengan Kosim, marga Siregar dari Sidangardangar.
11-3. Cucu Kedom Harahap, gelar Haji Dollah.
————————————————–
11-3-1. Lokot Harahap, gelar Ja Taris (19..-19..) dengan istri Jarilah, boru Regar dari Parau Sorat, bermukim di Medan. Keturunannya:
1. Husin, lahir……19.. di Medan.
2. Ratna (pr), lahir……19.. di Medan.
3. Ani (pr), lahir……19.. di Medan.
4. Azis, lahir……19.. di Medan.
5. Buhanuddin, lahir……19.. di Medan.
6. Ibrahim, lahir…19.. di Medan.
11-3-2. Marip Harahap, gelar…..(19..-19..) dengan istri Nurilan, boru Simatupang dari Poken Arse, bermukim di jalan T. Sulong Syahnara no.9, Rantau Prapat 21412. Keturunannya:
1. Siti Hajar (pr), lahir……19.. di Rantau Prapat.
2. Siti Khalijah (pr), lahir……19.. di Rantau Prapat.
3. Riduan, lahir……19.. di Rantau Prapat.
4. Ummi Kaluem (pr), lahir……19.. di Rantau Prapat.
5. Hanafi, lahir……19.. di Rantau Prapat.
6. Masnah (pr), lahir……19.. di Rantau Prapat.
7. Syahruddin, lahir……19.. di Rantau Prapat.
8. Umaruddin, lahir……19.. di Rantau Prapat.
9. Mahran, lahir……19.. di Rantau Prapat.
10. Ahmadan, lahir……19.. di Rantau Prapat.
11. Hasan Azhari, lahir……19.. di Rantau Prapat.
11-3-3. Daud Harahap, gelar…..(19..-19..) dengan istri Maslian, boru Pohan dari Parau Sorat, bermukim di jalan Bandar Sono, Tebing Tinggi (Deli). Pendidikan: Sekolah Guru. Pe-kerjaan Guru SMA Tebing Tinggi (Deli). Keturunannya:
1. Syahril, lahir……19.. di Tebing Tinggi.
2. Agustina (pr), lahir……19.. di Tebing Tinggi.

3. Ramadan, lahir……19.. di Tebing Tinggi.
4. Gozali, lahir……19.. di Tebing Tinggi.
5. Astuti (pr), lahir……19.. di Tebing Tinggi.
6. Khairul, lahir……19.. di Tebing Tinggi.
11-3-4. Abbas Harahap, gelar…..(1939-1985) dengan istri Maimah, Ompu ni Yanti, boru Regar dari Sialagundi, bermukim di Panggulangan. Keturunannya:
1. Darwin, lahir 8 Juni 1961 di Panggulangan.
2. Irwan, lahir …1963 di Panggulangan.
3. Anna (pr), lahir 5 Mei 1965 di Panggulangan.
4. Sahlan, lahir…..1966 di Panggulangan.
5. Masrawati (pr), lahir …..1968 di Panggulangan.
6. Midasari (pr), lahir ……1971 di Panggulangan.
7. Masjuwita (pr), …..Juni 1973 di Panggulangan.
8. Yusraliani (pr),…..1975 di Panggulangan.
11-3-5. Rukiah Harahap, menikah dengan Sutan Pangibulan, marga Pakpahan dari Panggu-langan.
11-4. Cucu Mahir Harahap, gelar Ja Pariaman.
————————————————-
11-4-1. Pangeran Harahap, gelar…..(19..-19..) dengan istri Salam, boru Rambe dari Baringin, bermukim di Rantau Prapat. Keturunannya:
1. Saparuddin, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
2. Fahrudin, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
3. Masdalina (pr), lahir …….19.. di Rantau Prapat.
4. Awaluddin, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
5. Koharuddin, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
6. Ulla (pr), lahir …….19.. di Rantau Prapat.
7. Kifli, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
8. Fahmi, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
9. Musa, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
10. Ros (pr), lahir …….19.. di Rantau Prapat.
11-4-2. Jalil Harahap, gelar…..…..(19..-19..) dengan istri Maya, boru Regar dari Situmba, ber-mukim di Sioldengan, Rantau Prapat. Keturunannya:
1. Ramlan, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
2. Ani (pr), lahir …….19.. di Rantau Prapat.
3. Burhan, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
4. Lahuddin, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
5. Toga, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
6. Aman, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
7. Ros (pr), lahir …….19.. di Rantau Prapat.
8. Yunus, lahir …….19.. di Rantau Prapat.
11-4-3. Hamzah Harahap, gelar….(19..-19..) dengan istri Masnilam, boru Pohan dari Parau So-rat, bermukim di Pekanbaru. Pekerjaan: Pegawai Kehutanan. Keturunannya:
1. Nurlela (pr), lahir …….19.. di Pekanbaru.
2. Amrul, lahir …….19.. di Pekanbaru.
3. Iwan, lahir …….19.. di Pekanbaru.
4. Syahrial, lahir …….19.. di Pekanbaru.
5. Siti Mariam (pr), lahir …….19.. di Pekanbaru.
6. Bahrum, lahir …….19.. di Pekanbaru.
7. Halim, lahir …….19.. di Pekanbaru.
11-4-4. Maria Harahap, menikah dengan Soaduon, marga Pane dari Lancat Jae.
11-4-5. Sarba Harahap, menikah dengan Muslimin, marga Siregar dari Sipirok.
11-4-6. Baidah Harahap, menikah dengan Kodir, marga Siregar dari Baringin.
11-5. Cucu Darajat Harahap, gelar Mangaraja Halongonan.
—————————————————————–
11-5-1. Dasim Harahap, gelar…..(19..-19..) dengan istri Salmah, boru Pohan dari Parau Sorat, lalu digantikan Rosminah, boru Pulungan dari Baringin, bermukim di Panggulangan. Keturunannya:
1. Bonggal, lahir …..19.. di Panggulangan.
2. Kartini (pr), lahir …..19.. di Panggulangan.
3. Nenni (pr), lahir …..19.. di Panggulangan.
4. Amarudi, lahir …..19.. di Panggulangan.
5. Sudirman, lahir …..19.. di Panggulangan.
6. Merianna (pr), lahir …..19.. di Panggulangan.
7. Pandapotan, lahir …..19.. di Panggulangan.
8. Sonang Matua, lahir …..19.. di Panggulangan.
9. Pangondian, lahir …..19.. di Panggulangan.
d. Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Siak Sri-Indrapura, di Riau daratan.
13. Cicit Pardo (Mara Kamin) Harahap, gelar Baginda Saikum.
13-1. Cucu Nempol Harahap, gelar….
—————————————-
13-1-1. Syamsudin Harahap, gelar…..(19..-19..) dengan istri Mahanum Ali, Ompu ni Andri, boru Siak Sri-Indrapura dari Riau, bermukim di Pekanbaru. Keturunannya:
1. Mirza Sjamsudin, lahir 21 Maret 1945 di Pekanbaru.
2. Zuraida, lahir 18 Agustus 1952 di Pekanbaru.
3. Rubiah Harahap, menikah dengan Harry Parhimpunan, marga Siregar dari Sipirok.
4. Rukiah Harahap, menikah dengan ……, marga…..dari……
11-2. Cucu Abu Bakar Harahap, gelar…..
——————————————–
11-3. Cucu Muhammad Soleh Harahap, gelar….
—————————————————-
11-4. Cucu Djambul Harahap, gelar……
——————————————
11-5. Cucu…….Harahap, gelar……
————————————–
Generasi Duapuluhtiga
Augkang, Au, Anggi, Iboto
a.Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Bunga Bondar
4. Anak cicit Heber Harahap, Sintua Heber, gelar Baginda Maujalo.
4-1. Cicit Melanton Harahap, gelar Mangaraja Ujung Padang
4-1-1. Cucu Julianus Harahap.
—————————–
1. Masnida Harahap menikah dengan…., marga……dari…….
2. Marulam Harahap dengan istri …, boru …dari bermukim di Bunga Bondar keturu-nannya:
1.
3.Nurlena Harahap menikah dengan…., marga……dari…….
4-1-2. Cucu Hadrianus Harahap.
——————————-
1. Palito Harahap dengan istri….., boru……dari ……..keturunannya:
1.
2. Maruli Harahap dengan istri….., boru……dari ……. keturunannya:
1.
3. Thomas Harahap dengan istri….., boru……dari …….. keturunannya:
1.
4. Tiurma Harahap menikah dengan…., marga……dari……. .
5. Murtio Harahap menikah dengan…., marga……dari……. .
6. Adelina Harahap menikah dengan…., marga……dari……. .
7. Rosita Harahap menikah dengan…., marga……dari…….
4-1-3. Cucu Beheri Nopan Harahap.
————————————
1. Sakti Harahap dengan istri….., boru……, dari …….. keturunannya:
1.
2. Agus Harahap dengan istri….., boru……dari …….. keturunannya:
3. Todung Harahap dengan istri….., boru……dari …….. keturunannya:.
4-1-5. Cucu Sori Gunung Harahap.
———————————-
1. Roslini Harahap menikah dengan Adenan, marga Nasution dari Cubadak
(Panti), bermukim di jalan Beringin no. 36, Kampung Kapuas, Sanggau,
Kalimantan Barat.
2. Raya Efendi Harahap dengan istri….., boru……dari ……bermukim di Ja-
karta, keturunannya:
1.
3. Bahrum Harahap dengan istri….., boru……dari ……..tinggal di Kaliman-
tan Barat, keturunannya:
1.
4. Saparuddin Harahap dengan istri….., boru……dari …….. tinggal di Palembang,
keturunannya:
1.
5. Herlina Harahap menikah dengan Hamonangan, marga Lubis dari Sayurmahincat, Ko-
tanopan, Tamiang. Tinggal di jalan Pattimura no.42, Kampung Darek, Gang Dame 1, Padang Sidempuan.
6. Putra Indra Harahap dengan istri…., boru……dari…….tinggal di Padang Sidempuan keturunannya:
7. Farida Ariani Harahap menikah dengan Sudarso, kepala SMA Bunut di Sanggau, Ka-limantan Barat.

6. Anak cicit Nanga Harahap, Ja Pahang, gelar Baginda Sialang.
6-1. Cicit Malik (Hizkia) Harahap, gelar Sutan Harahap.
6-1-1. Cucu Reman Harahap.
—————————-
1. Ir. Payungan Harahap dengan istri….., boru……dari …….. keturunannya:
1.
2. Horas Harahap dengan istri….., boru……dari …….. keturunannya:
6-1-2. Cucu Totauli Harahap gelar Baginda Maratua.
——————————————————–
1. Tumbur Mulia Harahap (1944-2004) dengan Siti Dahniar, boru Lampung dari Bu-mi Agung bermukim di jalan Sriwijaya, Gang Amarta no.77 Kotabumi. Pedidikan SD, SMP. Pekerjaan Polisi, dan Satpam di P.T. Telkom. Keturunannya:
1. Neva Iskandaria, lahir 26 Juni 1968 di Kotabumi.
2. Novatiana Medya (pr), lahir 28 Nopember 1972 di Kotabumi.
3. Kristina Melvia (pr) lahir, 25 Maret 1974 di Kotabumi.
4. Devi Oktavia (pr) lahir, 30 Oktober 1975 di Kotabumi.
5. Alex Sanderia (pr) lahir, 27 April 1982 di Kotabumi.
2. Masdah Riveria Harahap menikah dengan Makmun, marga Martadipura dari Sirah Pulau Padang OKI, Sumsel.
3. Sumurung Harahap meninggal muda.
4. Bintan Harahap dengan istri Rugun, marga Siregar dari Muara, Pulau Samosir, ber-diam di jalan Karya, Gang Adil no.25, Medan Tel: (061) 662-2446. Pendidikan: SMA, Pekerjaan Karyawan BRI Binjei, Sumut. Keturunannya:
1. Fredi lahir, …19.. di Medan.
2. Marieta (pr) lahir, …..19.. di Medan
3. Rusli lahir, 19.. di Medan.
4. Joshua lahir, …19.. di Medan.
5. Gomos Hajongjongan Harahap dengan istri Dahlina, boru Gultom dari Pematang Siantar bermukim di Palembang. Pendidikan STM/Mesin. Pekerjaan Kantor LLSAD Sido Ing Lautan 35 Ilir Tangga Buntung, Palembang. Keturunannya:
1. Yosef Efendi lahir 19 Juni 1986 di Palembang
2. Elfrida Gita Patricia (pr) lahir 10 januari1992 di Palembang
3. Astri (pr) lahir 27 Mei 1993 di Palembang.
6. Januar Halomoan Harahap (1956-1998) dengan istri Tioria, boru Simatupang dari Sungei Gerong bermukim di Komplex BLK Kenten Sako, Palembang. Pendidikan: STM, BLK Malang, BLK Cork di Irlandia, Inggris. Pekerjaan Instrutur BLK Pa-lembang. Keturunannya:
1. Wily Halomoan, lahir 19 Nopember 1990 di Palembang.
2. Windy Christiani, lahir 4 Desember 1993 di Palembang.
7. Sontian Harahap SD, SMP, SMA, IPB Bogor, belum berkeluarga.
8. Ledyana Harahap menikah dengan Mangatas, marga Simatupang dari Balige.
9. Lasmarovita Harahap S.H. menikah dengan…., marga……dari…….
6-1-3. Cucu Hajopan Harahap.
—————————–
1. Bambang Posma Harahap dengan istri….., boru……,dari ……..keturunannya:
1.
2. Lamlandu Juni Martuani Harahap dengan istri….., boru……,dari ……..
keturunannya:
3. Patohan Satujuon Harahap dengan istri….., boru……,dari ……..keturunannya:
4. Dertin Srikasi Harahap menikah dengan ….., marga……., dari…….
6-1-4. Cucu Parman Harahap.
—————————-
6-1-5. Cucu Hasiholan Harahap.
——————————-
6-2. Cicit Binahar Harahap, gelar Ja Bintuju.
6-2-1. Cucu Marolop Harahap, gelar Ja Bulele.
————————————————
1. Monang Harahap dengan istri……., boru……dari……bermukim di Tanjung Karang,
Lampung. Keturunannya:
1.
2. Syahrun Harahap dengan istri….., boru……dari…….bermukim di….. ke-
turunannya:
3. Ipin Harahap dengan istri….., boru……dari……bermukim di……
4. Deli Harahap, menikah dengan……, marga……dari……..
5…………………..
6………………….
12. Anak cicit Kampung Harahap, gelar Haji Tuan Syekh Muhammad Jalil.
12-1. Cicit Yusuf, gelar Mangaraja Sorialom Harahap.
12-1-2. Cucu Bidin, gelar Baginda ………..
————————————————
1. Mahmud Harahap, dengan istri Dewani, boru Regar dari Bunga Bondar, berdiam di Lubuk Pakam. Keturunannya:
1. Amrin, lahir 19.. di Lubuk Pakam.
2. Armen (Butong), lahir 3 Mei 1959 di Lubuk Pakam.
3. Sutan, lahir 14 Juni 1961 di Lubuk Pakam
4. Rohima (pr), lahir 19.. di Lubuk Pakam.
5. Apdi, lahir 19.. di Lubuk Pakam..
6. Syahrial, lahir 19.. di Lubuk Pakam..
7. Budiantoni, lahir 19.. di Lubuk Pakam..
8. Elita (pr) lahir 19.. di Lubuk Pakam.
12-1-5. Cucu Natin, gelar Ja Harahap.
————————————-
1. Masdelina Harahap menikah dengan….., marga…..dari Sibadoar.
2. Syamsulbahri Harahap, dengan istri…boru… dari……, bermukim di jalan M. Yakub
no.78, jalan Prof. Yamin (dulu jalan Serdang), Medan. Keturunannya:
1. Sadrina (pr), lahir 19…di Medan.
2. Syahrial, lahir 19… di Medan.
3. Sriwarni (pr), lahir 19… di Medan.
4. Chairani (pr), lahir 19… di Medan.
5. Zubaidah (pr), lahir 19… di Medan.
3. Nursani Harahap menikah dengan Haji M. Nuh, marga Siregar dari Gunung Tua.
4. Anadarlina Harahap menikah dengan Jamili, marga Melayu dari Medan.
5. Lensa Harahap menikah dengan….., marga Silangit dari Karo.
6. Carda Harahap, dengan istri….,boru……dari…..bermukim di……… Keturunannya:
7. Ulan Harahap menikah dengan Kasimir, marga Siregar dari Bunga Bondar.
8…… Harahap menikah dengan…. , marga …..dari……..
12-2. Cicit Tosim Harahap, gelar Ja Badaman.
12-2-1. Cucu Mara Iman Harahap, gelar Haji Mara Iman.
———————————————————–
Tidak terdapat keturunan anak laki-laki.
12-2-2. Cucu Muslim Harahap, gelar Haji Muslim Jalil.
———————————————————
1. Jahara Kalsum Harahap menikah dengan Ir. Mananalom Soaloön, marga Siregar da-ri Simaninggir, Sipirok.
2. Fahruddin Harahap (1947-1988), dengan istri Herawati, boru Sirait dari Tanjung Balai bermukim di Tanjung Balai, Sumatera Utara. Keturunannya:
1. Ahmad Rizaldi Parsaulian, lahir 7 Maret 1976 di Tanjung Balai.
3. Drs. Daman Syahri Harahap (1948-1986), dengan istri Ovvi Syarifah Hanum, boru Lubis dari Panyabungan bermukim di Jakarta. Keturunannya:
1. Hafni Sari Damayanti (pr), lahir 10 Oktober 1978 di Jakarta.
2. Rika Yuliana (pr), lahir 19 Juli 1981 di Jakarta.
4. Mohammad Syofian Harahap, gelar Sutan Habincaran Oloan (1950-2000), dengan istri Syafiatun, boru Regar dari Sipirok, bermukim di Jalan Katelia no 19 Jatibe-ning I, Pondok Gede Bekasi.Kodepos 17412.Telepon:847-1552. Keturunannya:
1. Dini (pr), lahir 31 Januari 1978 di Jakarta.
2. Dewi (pr), lahir 9 Juni 1980 di Jakarta.
5. Barumsyah Harahap (1952-2002), dengan istri Erwati boru Tanjung dari Padang bermukim di jalan S. Parman no. 302, Medan. HP: 08126025655. Keturunannya:
1. Nila Ramadiana, lahir 18 April 1990 di Medan.
6. Tati Darwati Harahap menikah dengan Ir. Soleman, marga Siregar dari Sidingkat.

12-2-3. Cucu Pangibulan Harahap, gelar Haji Anwar Pangibulan.
———————————————————————
1. Nurul Helviani Harahap menikah dengan….., marga………dari……..
2. Syaiful Indra Harahap, dengan istri Yanti, boru Regar dari Parau, bermukim di jalan
Tomat no.17 Medan Baru. Tel: 4568575. HP: 085261050220. Keturunannya:
1.
3. Abdi Harahap, dengan istri…, boru…..dari….bermukim di……Keturunannya:
1.
4. Misrul Harahap menikah dengan….., marga………dari……..
5. Mini Harahap menikah dengan….., marga………dari……..
b. Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Hanopan.
2. Anak cicit Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan.
2-1. Cicit Abdul Hamid Harahap, Tuan Datu Singar, gelar Sutan Hanopan.
2-1-1. Cucu Sutor Harahap, gelar Baginda Raja Pandapotan.
—————————————————————–
1. Amir Hamzah Harahap meninggal kecil di Lhok Seumawe, Aceh. Akan tetapi na-manya menjadi panggoraran Ompung Sutan Hanopan di Kampung, yakni: “Ompu ni Amir”.
2. Haji Sangkot Muhammad Syarif Ali Tua Harahap, gelar Mangaraja Hanopan (1923-2005), dengan istri Hj. Nonggar (1928-2006), boru Regar dari Bunga Bon-dar bermukim di Kampung F Trikoyo, Tugumulyo, Lubuk Linggau, Sumsel. Tel. (0733)-371402. Pendidikan: Tahun 1938 masuk HIS Andreas School Roomsch Katholiek, Palembang, dan terhenti karena Perang Dunia Ke-II. Pekerjaan: Pega-wai Sipil bagian Teknik Batalion Genie Pioneer Territorium II Sriwijaya di Lubuk Linggau. Tidak mempunyai keturunan.
3. Marasuddin Harahap meninggal kecil.
4. Sangkot Hamid Harahap (1927-1986), gelar Sutan Hanopan Naposo, dengan istri Hj. Rosmanidar boru Regar dari Bunga Bondar berdiam di Jalan Dilli Raya Blok A/8 no. 4, BTN Jaya Indah, Mekar Sari, Bekasi Tel. 880-5044. Pendidikan: Tahun 1941 mengikuti HIS Andreas School Roomsch Katholiek, Palembang, terhenti karena Perang Dunia ke-II. Pekerjaan: Pegawai Sipil Tata Usaha Angkatan Darat Kodam V Sriwijaya di Palembang, lalu pulang ke Hanopan. Kemudian merantau la-gi ke Jakarta dan berwirausaha. Keturunannya:
1. Nusyirwan, lahir 5 Mei 1955 di Palembang.
2. Rosalina Lilian Galina Putri (pr), lahir 7 Desember 1956 di Palembang.
3. Ellisya (pr), lahir 19 April 1959 di Palembang.
4. Lisna (pr), lahir 25 Juni 1962 di Hanopan
5. Kusnandar, lahir 22 Juni 1969 di Jakarta.
6. Farida (pr), lahir 2 April 1972 di Jakarta.
5. Sangkot Anwar Bey Effendy Harahap (1930-1991) dengan istri Hj. Siti Ramiah (….-2011), boru Regar dari Tanjung dekat Hanopan, awalnya bermukim Pa-lembang kemudian pindah ke Irian Barat (Papua). Pendidikan: SGA. Pekerjaan: Guru SD, SMP, Kepala SMP Negeri, Kandep P&K Yapen Selatan di Serui. Ketu-runannya:
1. Sori Budimansyah, lahir 11 Januari 1956 di Palembang.
2. Ida (pr), lahir 5 Januari 1957 di Palembang.
3. Khairani (Reni, pr), lahir 5 Februari 1959 di Palembang.
4. Tetty (pr), lahir 25 Nopember 1960 di Palembang.
5. Anitha (pr), lahir 23 Nopember 1963 di Lubuk Linggau.
6. Erni (pr), lahir 16 Oktober 1967 di Serui.
7. Evie (pr), lahir 15 Mei 1968 di Serui.
8. Sutor Wansyah, lahir 6 September 1971 di Serui.
6. Haji Drs. Mohammad Arifin Harahap dengan istri Hj. Dr. Machrani, boru Regar dari Sipirok. Awalnya tinggal di Jakarta lalu pindah ke Kuala Lumpur, Malaysia mengi-kuti tawaran menjadi guru di Malaysia pada zaman Perdana Menteri Tun Abdul Razak. Terakhir bermukim di: 7 Tingkat Pantai Jerjak, Taman Century 11700 Gelu-gor, Pulau Pinang. Pendidikan: IKIP Bandung. Pekerjaan: Guru di Sekayu, Sumate-ra Selatan, lalu menjadi Guru Sekolah Alamsyah di Kuala Lumpur, Dosen Uni-versiti Sains Malaysia (USM) di Pulau Pinang. Keturunannya:
1. Irwan, lahir 14 Nopember 1971 di Kuala Lumpur.
2. Yuska (pr), lahir 15 Januari 1973 di Kuala Lumpur.
3. Helmi, lahir 3 Maret 1975 di Kuala Lumpur.
7. Haji Mohammad Rusli Harahap M.Sc., gelar Sutan Hamonangan, dengan istri Ir. Hj. Rusmini S.R., boru Nasution dari Muara Botung berdiam di jalan Batu Pancawarna I/2A, Pulomas Jakarta 13210. Pendidikan: ATN Jakarta, lalu melanjutkan ke MEI (Institut Tenaga Listrik Moskow) di Uni-Sovyet. Pekerjaan Staf Pangajar ISTN Jakarta. Penyusun Tarombo Marga Harahap pomparan Tongku Mangaraja Hanopan dari Hanopan ini. Keturunannya:
1. Arifilmiansyah Parlindungan, lahir 11 Juli 1974 di Jakarta.
2. Budiadiliansyah Pardomuan, lahir 30 Maret 1976 di Jakarta.
3. Altinai Molunasari, lahir 23 Juni 1978 di Jakarta.
4. Mulia Firmansyah, lahir 2 juli 1982 di Jakarta.
8. Hj. Dra. Siti Fatimah Marsari Harahap menikah dengan Humam Yahya asal Semarang, Jawa Tengah.
2-1-2. Cucu Maujalo Harahap, gelar Baginda Soripada Paruhum.
———————————————————————–
1. Siti Ramalan meningal kecil.
2. Sanusi Harahap, gelar Sutan Datu Singar (1924-19..), dengan istri Siti Maimunah, boru Lubis dari…; digantikan Nursih boru dari …, bermukim di jalan…, Sido Dadi, Lubuk Pakam. Pekerjaan: Kantor Pertanian. Keturunannya:
1. Ida Murni (pr), lahir ……1947 di Parbaungan.
2. Nurhayati (pr), lahir ……1951 di Parbaungan.
3. Nilawati (pr), lahir ……1953 di Parbaungan.
4. Khairul Anwar, lahir ……1955 di Parbaungan.
5. Rizal, lahir ……1957 di Parbaungan.
6. Suryani, lahir ……1959 di Parbaungan.
7. Suryati, lahir ……1961 di Parbaungan.
8. Rahmat Hanopan, lahir ……1963 di Parbaungan.
9. Ernawati, lahir ……1965 di Lubuk Pakam.
10. Masita, lahir ……1967 di Lubuk Pakam.
11. Butet (pr), lahir ……19. di Lubuk Pakam.
12. Saiful, lahir ……19. di Lubuk Pakam.
13. Sari (pr), lahir ……19. di Lubuk Pakam.
3. Sahala Harahap meninggal muda.
4. Muhammad Ali Harahap (1928-2003) dengan istri Fatimah Reni, boru Harahap dari Pintu Padang, bermukim di Padang Sidempuan. Keturunannya:
1. Marwan, lahir 6 Desember 1957 di Padang Sidempuan.
2. Syafril, lahir 26 Agustus 1960 di Padang Sidempuan.
3. Nani (pr), lahir 2 Januari 1962 di Padang Sidempuan.
4. Taviana (pr), lahir 16 Agustus 1963 di Padang Sidempuan.
5. Ilvan Amri, lahir 20 Juli 1965 di Padang Sidempuan.
6. Rosnawati (pr), lahir 29 September 1968 di Padang Sidempuan.
7. Lisnasari (pr), lahir 23 Nopember 1971 di Padang Sidempuan.
8. Indrayani (pr), lahir 20 Februari 1974 di Padang Sidempuan.
5. Tapiangat Syarifah Harahap (1930-2000) menikah dengan Arfan Marwazie, marga Lubis dari Silaping, Mandailing.
6. Muhammad Muchtar (Luthfi) Harahap (1932-2012), gelar Tongku Datu Batara Gu-ru, dengan istri Asnah, boru Muntok dari Pulau Bangka, berdiam di jalan Senang Hati no.14, RT 01, RW 1, Mentok, Bangka. Keturunannya:
1. Suryani (pr), lahir 20 Februari 1965 di Mentok.
2. Rini (pr), lahir 10 Juni 1966 di Mentok.
3. Rudi, lahir 25 Desember 1967 di Mentok.
4. Fery, lahir 17 Oktober 1969 di Mentok.
5. Rinaldi, lahir 20 Agustus 1971 di Mentok.
6. Yusuf Parlindungan, lahir 26 Maret 1973 di Mentok.
7. Charlie, lahir 9 Mei 1976 di Mentok.
7. Pangaduan Muda Harahap (1935-1950) berdiam di Sipirok.
8. Haji Mohammad Nasir Harahap MBA, gelar Tongku Raja Hamonangan Soripada (1936-2003) dengan istri Syamsinar, boru Minang dari Jakarta, berdiam di jalan Ja-tinegara Timur III no.131, Jakarta 13350.Tel:819-6152. Karena meninggal lalu digantikan adiknya Ida. Keturunannya:
1. Nura (pr), lahir 2 Oktober 1968 di Jakarta.
2. Sari (pr), lahir 10 Desember 1970 di Jakarta.
3. Diah (pr), lahir 17 Desember 1972 di Jakarta.
4. Reza, lahir 23 September1976 di Jakarta.
5. Riza, lahir 20 Juli 1988 di Jakarta.
9. Trimurti Harahap (1946-20..) menikah dengan …., marga Siregar dari Pargarutan Pasar.
10. Haji Indra Tjaja Harahap (1948-20..) dengan istri Kati, boru Pulungan dari Bedage, Deli, bermukim di Perumahan Pondok Cipta, Blok E-40, Bekasi 17134. Tel.884-6749. Keturunannya.
1. Arsyad, lahir 14 September 1975 di Jakarta.
2. Alfrady, lahir 3 Agustus 1983 di Jakarta.
11. Drs. Dzulkarnain Harahap (1970-20..) dengan istri Ir.Tati Yasin boru Sulawesi bermukim di Perumahan Bukit Kencana, Blok ANII/2, Pondok Gede, Bekasi. 17414. Tel.847-3440. Ke-turunanya:
1. Syifa Azzahra (Fara, pr), lahir 17 Januari 2003 di Jakarta.
2. Adek, lahir ……. di Jakarta.
3. lahir ……. di Jakarta.
2-1-5. Cucu Pelinuruddin Harahap, Haji gelar Muhammad Nurdin
————————————————————————
1. Alamsyah Budin Harahap dengan istri Arimastuti, boru Ngawi, Madiun, dari Jawa Timur, bermukim di jalan pulau Matagatik Blok A-1/3, Jati Makmur Permai, Pon-dok Gede, Bekasi 17413. Pendidikan: ALRI. Pekerjaan: di Pangkalan ALRI Su-rabaya.
1. Farida (pr), lahir 27 April 1973 di Surabaya.
2. Gatot, lahir 31 Mei 1975 di Surabaya.
2. Basri Harahap meninggal kecil.
3. Hj.Zubaidah Harahap menikah dengan Idris, marga Pardede dari Sibolga.
4. Ustan Harahap meninggal masih kecil.
5. Krtini Harahap meninggal kecil.
6. Kardinah Harahap menikah dengan Firman, marga Sihombing dari Siborong-borong.
7. Tobotan Harahap meninggal kecil.
8. Haji Lahuddin Harahap dengan istri Risna, boru Pane dari Lancat, bermukim di jalan Bima, Kapling PTB Blok J-5 no.1-2 Tegal Alur, Cengkareng Jakarta 11820. Pendidi-kan SMA. Pekerjaan Samsat DKI. Keturunannya:
1. Dani Mulya Jaya, lahir 20 April 1977 di Jakarta.
2. Muhammad Yudi, lahir 10 Juli 1980.
9. Muhiddin Harahap dengan istri Holida, boru Regar dari Tanjung, Dolok Sinomba, bermukim di Hanopan. Pekerjaan: Tani. Keturunannya:
1. Hendra Marzuki Pandapotan, lahir 1 Mei 1978 di Hanopan.
2. Veronika (pr), lahir 1 Maret 1981 di Hanopan.
3. Jani Pramana, lahir 6 Juni 1985 di Hanopan.
4. Wirja Wijaya, lahir 9 Nopember1987 di Hanopan.
5. Anugrah, lahir 8 Mei 1991 di Hanopan.
10. Halimatussakdiah Harahap menikah dengan ….., marga….. dari……
11. Nursaidah Harahap menikah dengan Hairudin, marga Hasibuan dari Roncitan.
12. Muhammad Sukri Harahap dengan istri Justima, boru Pasaribu dari Sorkam bermu-kim di Sibolga, keturunannya:
1. Juandi, lahir di Sibolga.
2. Asnita (pr), lahir di Sibolga.
3. Erwina (pr), lahir di Sibolga.
4. Nuraisah (pr), lahir di Sibolga.
13. Abdul Halim Harahap dengan istri …., boru…..dari…., bermukim di…..….Keturunannya:

2-1-7. Cucu Hisar Harahap, gelar Baginda Harahap
——————————————————
1. Deliana Harahap menikah dengan Tohar, marga Nasution dari Hanopan.
2-1-8. Cucu Haji Muhammad Diri Harahap S.H, gelar Baginda Raja Mulia
Pinayungan.
———————————————————————————–
1. Drs. Dirwan Yuliansyah Harahap, gelar Tuan Datu Singar, dengan istri Irna, boru Periangan dari Bandung, bermukim di jalan Hang Tuah VIII/8, Kebayoran Baru, Jakarta. Sejak tanggal 12 Juni 2006, pindah ke alamat sementara jalan MPR III, no.24, Cipete, Jakarta Selatan, Tel. 722-4423. Tempat tinggal tetap beralamat: Kompleks Jati Indah, jalan Jati Indah V no.20, Pangkalan Jati, Pondok Labu. 12450. Tel: 765-6695. Keturunannya:
1. Adrian, lahir 27 Mei 2000 di Jakarta.
2. Elkie Kumala, lahir 10 Desember 2006.
2. Hj. Dirwani Elvy Yuswita Harahap S.H. menikah dengan Alvin, marga Tanjung dari Sorkam, Sibolga.
3. Magnora Chaerina Yulianti Harahap S.H. menikah dengan Ir. Sony anak Ir. Suradi, dari Solo, Jawa Tengah.
2-1-11. Cucu Haji Marajali Harahap, gelar Baginda Guru Sodungdangon
——————————————————————————-
1. Hj. Dr. Darwisyah Harahap (1945-20..), menikah dengan drs.Barita,
marga Tambunan dari Tukka, Sibolga.
2. Hj. Dr. Erwina Harahap (1947-2005) menikah dengan Sakuri dari
Purwokerto, Jawa Tengah.
3. Ir. Irsan Harahap (1950-2006), dengan istri Ir. Dedeh Zubaidah, boru Le-
Les, Garut, Periangan, Jawa Barat, bermukim di Perumahan Flat Pulo Mas, Gedung 3, Lantai 3, Jakarta Timur. Tidak mempunyai keturunan.
4. Ahmad Daulat Nabonggal Harahap meninggal kecil.
2-1-12. Cucu Haji. Dr. Pamusuk Harahap, gelar Baginda Namora Pusuk ni Hayu
—————————————————————————————-
1. Dr. Ir. Prita Wardani Dumasari Harahap M.Sc., gelar Namora Dumasari Rondabulan menikah dengan Ir. Krisna Murti Murad MSA, marga Guei dari Bukit Tinggi, Su-matera Barat.
2. Ir. Irina Masteri Chairani Harahap, gelar Tapi Mastri Khairani, menikah dengan drs. Zukri Saat dari Bukit Tinggi, Sumatera Barat.
3. Haji Dr. Wiersma Arif Hanopan Harahap SpB, gelar Tongku Datu Arif Hanopan de-ngan istri Dr. Meifi Jelita, marga Pamuncak, boru Minang dari Padang Panjang, berdiam di Komplex Filano Jaya Permai, Blok A/2, Alai Gunung Pangilun, Padang. Keturunannya:
1. Annisa (pr), lahir 30 Desember 1994 di Bukit Tinggi.
2. Nadila (pr), lahir 22 Februari 1996 di Padang.
3. Andini (pr), lahir 26 Januari 1999 di Padang.
4. Yulia Rahmi (pr), lahir 26 Juli 2000 di Padang.
5. Muhammad Irfan, lahir 23 Agustus 2002 di Jakarta.
Catatan: Susunan keluarga generasi duapuluhtiga ini, mengulangi keluarga Demar
Harahap, gelar Ja Manogihon dari generasi kesembilanbelas diatas.
4. Ir. Bourdon Saleh Harahap MBA, gelar Tongku Batu Nanggar Jati, dengan istri Dewi Mustika, boru Pariaman dari Sumatera Barat, bermukim di jalan Kamang no.4 Padang. Keturunanya:
1. Muhammad Adnan, lahir 16 Juni 2000 di Padang.
2 Adinda (pr), lahir 21 Desember 2001 di Padang.
2-2. Cicit Kasim Harahap, gelar Tongku Mangaraja Elias Hamonangan.
2-2-3. Cucu Dimpu Harahap, gelar Baginda Parbalohan Naposo
———————————————————————-
1. Maria Christina (Todas) Harahap (1931-2006) menikah dengan Binsar, marga Si- tompul dari Pahae, berdiam di Lampung.
2. Puji Machdalena Harahap menikah dengan Umar, marga Nasution dari Padang Si-dempuan, berdiam di Jakarta.
3. Elizabeth Tiagar Harahap menikah dengan Uhum, marga Siagian dari Hanopan.
4. Grace Nabasa Harahap (1937-2002) menikah dengan Sjamsir, marga Siregar dari Bunga Bondar.
5. Hanopan Harahap (1939-2003) dengan istri Nurmaingot, boru Gultom dari Silangge, bermukim di jalan Pinang IV no.80, Pondok labu RT13, RW 02, Jakarta1245. Pe-kerjaan: wirausaha. Keturunannya:
1. Dameria (pr), lahir…..19.. di Jakarta.
2. Lasmaria (pr), lahir…..19.. di Jakarta,
3. Oberlin, lahir…..19.. di Jakarta.
6. Laung Pandapotan Harahap dengan istri Tintin Aisyah boru Cianjur dari Periangan, lalu digantikan Iik dari Nakgrak Bogor, bermukim 2 km dari simpang Sukaraja-Na-grak, Nagrak, RT 01, RW 01, Bogor. Keturunannya:
1. Ruli Arga, lahir 4 September 1974 di Bogor. Tel. (0251)-358275.
2. Hikmat Ilyas, lahir 14 Februari1976 di Bogor.
3. Surtani Natalia (pr), lahir 25 Desember 1981 di Bogor.
4. Rudi Arga, lahir 11 September 1994 di Bogor.
7. Torkis Harahap menikah dengan Edi M, marga Ritomga dari Roncitan.
8. Liman Barisan Angkola Harahap dengan istri Tetty, boru Regar dari Bu-nga Bondar, boru Sutan Habiaran, bermukim di jalan Lembah Aren III, Pondok Kelapa, Ka-veling DKI, Blok K11/12, Jakarta Timur. Tel.864-3258. Keturunannya:
1. Dorkas (pr), lahir 24 Maret 1972 di Jakarta.
2. Yongki Doni Safari, lahir 25 Agustus 1983 di Jakarta.
3. William Har, lahir 19 Nopember 1983.
9. Gozali Harahap dengan istri Yeti, boru Kuningan dari Cirebon, Jawa Barat, ber-mukim di jalan Swadaya Rawa Domba no. 23, RT/RW 009/07 Jakarta. Keturu-nannya:
1. Steven Tuanku Elias, lahir 17 Januari 1999 di Bogor.
10. Soriduma Sanne Harahap menikah dengan Indra, marga Sitompul dari Pematang Si-antar.
2-2-6. Cucu Partaonan Harahap, gelar Baginda Soripada Partaonan (BSP).
———————————————————————————-
1. Asmaran Parsaulian Harahap (1941-19..) dengan istri Bertina boru Nainggolan dari Sijungkit, bermukim di jalan Mesjid Raya Baru no.14 Padang Sidempuan. Tidak mempunyai keturunan.
2. Ida Hatni Harahap menikah dengan Kalibumi, marga Siregar dari Lancat, bermukim di Jakarta.
3. Dona Rosaktina Harahap, menikah dengan Jashia, marga Marpaung dari Galang-gang, Sipirok.
4. Maharani Dohariana Harahap, menikah dengan Arden, marga Siregar dari Sibadoar.
5. Dewi Sri Hasiholan Harahap, menikah dengan Amru, marga Sinaga dari Sipagimbar
6. Dana Guswin Harahap (1951-19..) dengan istri Fifa, boru Nasution dari Kotanopan berdiam di Padang Sidempuan. Keturunannya:
1.
2.
7. Eddy Mangaraja Hamonangan Harahap, (1956-….), dengan istri Misna Herawati, boru Meulaboh dari Aceh, bermukim di jalan Mesjid Raya Baru no.14 Padang Sidempuan. Keturunannya;
1.
2.
8. Meutia Elfina Harahap, menikah dengan Alfian, marga Siregar dari Pijorkoling.
9. Melfa Diana Harahap, menikah dengan Halim, marga Pohan dari Hanopan.
10. Ritha Dominar Harahap, menikah dengan Inyo Wage, marga……dari Tomohon, Su-lawesi Utara.
11. Umar Dhani Harahap, dengan istri Ida boru Caniago dari Pasaman Sumatera Barat bermukim di Hanopan. Alamatnya: Kantor Pos Huta Padang 22747, Kecamatan Arse. Nomor HP: 0813-61757108. Keturunannya:
1.
2-2-10. Cucu Bagon Harahap, gelar Baginda Hanopan.
——————————————————–
1. Sjahrin Halomoan Harahap SH (19.. – 2011) dengan istri Clara, boru Regar dari
Bunga Bondar, berdiam di jalan Matahari Raya no.10 Blok VI, Helvetia, Medan 20124. HP: 0811613335. Keturunannya:
1. Ika Sandra (pr), lahir…. 19…di Medan.
2. Adiaksa, lahir…… 19… di Medan.
3. Hendri, lahir….. 19… di Medan.
2. Hapastian Harahap S.H. dengan istri Siti A, boru Simangunsong dari…., bermukim di jalan Sepat No.45 B, RT 008 RW 02, Kel. Kebagusan I, Kec. Pasar Minggu. Tel. 7884-4354. Keturunannya:
1. Andy, lahir 1 April 1978 di Jakarta.
2. Agnes Stephanie (pr), lahir 23 Juli 1982 di Jakarta.
3. Nurcahaya Harahap, menikah dengan……, marga…..dari……
4. Ir. Bonggal Harahap dengan istri Rosanih boru …dari…… , bermukim di jalan
Bahari Tarogong, Jakarta Selatan. Tel.7266-4277. Pekerjaan: Kawasan Berikat
Nusantara Cilincing. Keturunannya:
1. Robert, lahir ….19….di Jakarta.
2. Maria (pr), lahir…. 19… di Jakarta.
3. Thesa (pr), lahir ….19… di Jakarta.
5. Tetty L. Harahap menikah dengan Drs.Aga B, marga Sitompul dari…….
6. Martha Harahap menikah dengan Johny Hans Sopaheluwakan dari……Maluku.
7. Drs. Ranto Cari Harahap dengan istri ……..boru …dari….. bermukim di jalan Fat-mawati 45 B, Cilandak Jakarta 12430. Tel. 769-5486. Keturunannya:
1.
8. Diparbasa Tua Harahap dengan istri …….., boru …dari…..bermukim di jalan Fat-
mawati 45 B, Cilandak Jakarta 12430. Tel. 769-5486. Keturunannya:
9. Dra Yunita D. Harahap menikah dengan …….. dari ………
10. Mei Abeto Harahap dengan istri ….., boru….dari bermukim di jalan Fatmawati
45 B, Cilandak Jakarta 12430. Tel. 769-5486. Keturunannya:
1.
2-2-12. Cucu Toga Harahap, gelar Baginda Mulia.
—————————————————-
1. Dr. Amru Bahrum Paranginan Harahap SpOb. dengan istri dr.Tetty Murniati Dairi-ani, boru Hutabarat dari Pahae, bermukim di jalan Pondok Labu I/6 Jakarta Selatan 12450 Tel: 765-8061. Keturunannya:
1. Ezra, lahir 24 Januari 1988 di Jakarta.
2. Dwita (pr), lahir 18 April 1989 di Jakarta.
3. Ruth Daratri (Utti, pr), lahir 8 Juni 1980 di Jakarta.
4. Andrew, lahir 24 Desember 1986 di Jakarta.

2. Halomoan Harahap BSc., gelar Mangaraja Naposo (1957-2000), dengan istri Hus-niati Mariati, boru Pasundan dari Jawa Barat, mendapat marga Ritonga dari Si-mangambat, berdiam di Jalan Pengayoman no.7 Jakarta Selatan 12410. Keturu-nannya:
1. Ira Deviana (pr), lahir 21 Agustus 1983 di Jakarta.
2. Nico Mulia Utama, lahir 24 Agustus 1984 di Jakarta.
3. Nanda Rico Parsaulian (Anggi), lahir .. September1992 di Jakarta.
3. Welly Hasiholan Harahap S.E., gelar…….(1959-20..), dengan istri Berty, boru Rito-nga dari Simangambat, berdiam di jalan Kelapa Gading no.25, Jakarta Selatan 12420. Tel:765-9973. Keturunannya:
1. Bersaniya Nella Nauli (pr), lahir 24 April 1996 di Jakarta.
2. Bertrice Esmiralda Serena, lahir 23 Agustus 1998 di Jakarta.
4. Meitiawati Harahap menikah dengan Ir. Hotman, marga Sitompul dari Tarutung ber-
diam di Pekanbaru.

2-3. Cicit, Rachmat Harahap, gelar Sutan Nabonggal.
2-3-1. Cucu Sahat Harahap, gelar Baginda Mara Hasyim.
————————————————————-
Tidak memiliki keturunan anak laki-laki.
2-3-2. Cucu Marip Harahap, gelar Baginda Parbalohan/Baginda Panusunan.
———————————————————————————–
Terdapat keturunan anak laki-laki, tetapi meninggal kecil.

2-3-3. Cucu Zainuddin Harahap, gelar Baginda Pardomuan
—————————————————————–
1. Sri Ulettina Dohar ni Mouza Harahap menikah dengan Mohammad Ilyas Mohaji
dari Jawa tengah.
2. Sri Rejeki Rahmawati Harahap menikah dengan Toris Amani dari Jakarta.
3. Anak-cicit Sogi Harahap, gelar Baginda Soripada.
3-1. Cicit Mamin Harahap, gelar Mangaradja Alaan
3-1-2. Cucu Roup Harahap, gelar Baginda Paraduan.
———————————————————
1. Pangeran Harahap dengan istri…., boru….dari……, bermukim di……Keturunan-nya:
2. Parlindungan Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di………. Keturunannya:
3. Parsaulian Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di….Keturunan-nya:
4. Parlaungan Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di…….. Keturu- nannya:
5. Dewani Harahap menikah dengan …., marga……dari…….
6. Sulhana Harahap menikah dengan …., marga……dari……..
3-1-3. Cucu Burhanuddin Harahap, gelar Baginda Soaduon.
—————————————————————–
1. Nagan Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di…..Keturunannya:
1.
2. Rahman Harahap dengan istri…., boru….dari……, bermukim di………. Keturu-nannya:
3. Holija Harahap menikah dengan …., marga……dari……..
4. Sitiangur Harahap menikah dengan …., marga……dari……..
5. Nurhalima Harahap menikah dengan …., marga……dari……..
6. Ummi Harahap menikah dengan …., marga……dari…….
7. Sari Banun Harahap menikah dengan …., marga……dari……..
3-2. Cicit Maju Harahap, gelar Mangaraja Riapan.
——————————————————-
Tidak memiliki keturunan anak laki-laki.
3-3.Cicit Baitan Harahap, gelar Mangaraja Parlaungan.
3-3-1. Cucu Lolotan Harahap, gelar Baginda …..
—————————————————-
1. Nuraini Harahap menikah dengan …., marga……dari……..
2…….Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di Keturunannya:
1.
3-3-2. Cucu Aminuddin Harahap, gelar Baginda ……
———————————————————
1. Dalian Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di……Keturunannya:
2. Ridoan Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di……Keturunannya:

3-3-3. Cucu Ridoan Harahap, gelar Baginda …..
—————————————————
1. ……Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di Keturunannya:
2.
3-3-4. Cucu Gomuk Harahap, gelar Baginda …..
—————————————————-
1. Kipli Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di…..Keturunannya:

3-4. Cicit Tobat Harahap, gelar Mangaraja Paranginan.
3-4-1. Cucu Lajim Harahap, gelar Baginda Raja.
—————————————————
1. Roslina Harahap menikah dengan …., marga……dari……..
2. Ridoan Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di…..Keturunannya:
3. Salim Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di……Keturunannya:
4. Asroida Harahap menikah dengan …., marga……dari……..
5. Mohammad Amin Harahap dengan istri…., boru…. dari……bermukim di…….
Keturunannya:
6. Hapso Harahap menikah dengan …., marga……dari……..
7. Saidun Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di……Keturunannya:
8. Bosur Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di…….Keturunannya:
9. Nurlan Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di……Keturunannya:
10. Bokya Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di….Keturunannya:
3-4-2. Karani Harahap, gelar Batara’i.
————————————-
1. Nawi Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di……Keturunannya:
2. Annawati Harahap menikah dengan …., marga……dari………
3. Rahmawati Harahap menikah dengan …., marga……dari………
4. Ida Juwita Harahap menikah dengan …., marga……dari………
5. Nur Masnah Harahap menikah dengan …., marga……dari………
3-5.Cicit Kombang Harahap, gelar Malim Muhammad Arif.
3-5-1. Cucu Junid Harahap, gelar Haji Muhammad Junid.
————————————————————-
1. Matarip Harahap dengan istri…., boru….dari……, bermukim di…….Ketuunannya:
2. Bahrum Harahap dengan istri….,boru… dari……, bermukim di……Keturunannya:
3. Irsad Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di…….Keturunannya:
4. Syahban Harahap dengan istri….,boru….dari……,bermukim di…….Keturunannya:
5. Zul Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di……Keturunannya:
6…… Harahap dengan istri…., boru…., dari……bermukim di…..Keturunannya:
7. Rosma Harahap menikah dengan …., marga……dari………
8. Tina Harahap menikah dengan …., marga……dari………
9. Netti Harahap menikah dengan …., marga……dari………
3-5-3. Cucu Syahrir Harahap, gelar Baginda Muda.
——————————————————
1. Habonaran Harahap dengan istri Atun, boru dari Tegal, Jawa Tengah, ber-ukim di jalan…….Jakarta. Keturunannya:
1. Meriana (pr), lahir……19 di Jakarta.
2. Ramadan, lahir……19 di Jakarta.
3. Desi (pr), lahir……19 di Jakarta.
2. Hamonangan Harahap dengan istri Sumawati, boru Bugis, dari Sulawesi Selatan berrmukim di jalan…..Pontianak. Keturunannya:
1. Bahari, lahir……19 di Pontianak.
2……. lahir……19 di Pontianak.
3. Ardin Harahap dengan istri Tini, boru Sagala dari Sigiring-giring dekat Silangge, bermukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Susi (pr), lahir 19.. di Hanopan.
2. Sanusi Saleh, lahir 19.. di Hanopan.
3. Ita (pr), lahir 19.. di Hanopan.
4. Sahrin, lahir 19.. di Hanopan.
4. Rifai Harahap dengan istri Talisma, boru Betawi dari Jakarta, bermukim di jalan ……Jakarta. Keturunannya:
1. Robbi, lahir 19.. di Jakarta.
2. Rohana (pr), lahir 19.. di Jakarta.
5. Roland Harahap dengan istri Aini, boru Gultom dari Simangambat, bermukim di jalan…..Jakarta. Keturunannya:
1. Desti (pr), lahir 19.. di Jakarta.
2. Roni, lahir 19.. di Jakarta.
6. Berli Harahap menikah dengan Medison, marga Panjaitan dari Pagaran Pisang.
7. Nuraini Harahap menikah dengan …., marga……dari………
3-5-4. Cucu Matnusin Harahap, gelar Baginda ….
—————————————————–
1. Ir.Harmaulina Juniarti Harahap menikah dengan …., marga …… dari………
2. Dra. Hartina Aprida Harahap menikah dengan …., marga……dari………
3. Harif Syahbudin Harahap dengan istri….,boru…. dari……,bermukim di…..Keturu-nannya:
4. Harpandi Agusnardi Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di Ketu-runannya:
5. Harry Effendi Harahap dengan istri…., boru….dari……, bermukim di…..Keturu- nannya:
6. Harmeijn Maryadi Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di….. Ke-turunannya:
7. Arif Widiansyah Harahap dengan istri…., boru….dari……, bermukim di…..Keturu- nannya:
3-5-5. Cucu Mustamin Harahap, gelar Baginda Pariaman.
————————————————————-
1. Hirawati Harahap menikah dengan …., marga……dari………
2. Asnan Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di……Keturunannya:
1.
3. Juniar Harahap menikah dengan …., marga……dari………
4. Linda Harahap menikah dengan …., marga……dari………
5. Rostanida Harahap menikah dengan …., marga……dari………
3-6. Cicit Adun Harahap, gelar Ja Hatunggal.
3-6-1. Cucu Pantis Harahap, gelar Baginda …..
————————————————–
1. Hamonangan Harahap dengan istri…., boru…. dari…bermukim di……Keturunan-nya:
1.
2. Ruslan Harahap dengan istri…., boru…. dari……,bermukim di…..Keturunannya:
3. Amril Harahap dengan istri…., boru…. dari……, bermukim di…..Keturunannya:
4. Makmun Harahap dengan istri…., boru…. dari……,bermukim di…Keturunannya:
5. Rosinar Harahap menikah dengan …., marga……dari………
6. Juria Harahap menikah dengan …., marga……dari………
7. Rohma Harahap menikah dengan …., marga……dari………
3-6-2. Cucu Uddin Harahap, gelar Baginda………
——————————————————
1.
2.
3.
3-6-3. Cucu Pande Harahap, gelar Baginda………
——————————————————
1.
2.
3.
4.
5.
3-6-4. Cucu Eras Harahap, gelar Baginda …..
———————————————–
1. Ronda Harahap menikah dengan …., marga……dari………
2.
3.
4.
5.
3-6-9. Cucu Dekman Harahap, gelar Baginda …..
—————————————————–
1.
2.
3-7. Cicit Ratus Harahap, gelar Ja Pangaribuan.
3-7-1. Cucu Teler Harahap, gelar Baginda ………….
———————————————————
1.
2.
3-7-2. Maraganti Harahap, gelar Baginda Habiaran.
——————————————————-
1. Johny Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di … Ketu-runannya:
1.
2. Loberto Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di.. Ketu-runannya:
1.
3. Anaria Harahap menikah dengan …., marga……dari………
4. Sepnauli Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di… Keturunannya:
1.
5. Timbul Hamonangan Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di…… Keturunannya:
1.
6. Masdinar Harahap menikah dengan …., marga……dari………
3-7-3. Morai Harahap, gelar Baginda Sojuangon.
—————————————————
1. Masdalena Harahap menikah dengan …., marga……dari………
2. Elias Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di.. Keturunan-nya:
1.
3. Pandapotan Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di.. Ketu-runannya:
1.
4. Marlina Harahap menikah dengan …., marga……dari………
5. Muhammad Ali Harahap dengan istri…., boru….dari…, bermukim di… Ketu-runannya:
1.
6. Mohammad Alpian Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di… Keturunannya:
1.
3-9. Cicit Adong Harahap, Ja Balau, gelar Sutan Sonanggaron, Tongku Mangaraja Hanopan Naposo.
3-9-1. Cucu Ginda Harahap, gelar Baginda…….
—————————————————
1. Indrawan Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di.. Keturunannya:
1.
2. Edwardsyah Harahap dengan istri…., boru… dari…, bermukim di.. Keturunannya:
1.
3. Elpagus Hendri Harahap dengan istri…., boru….dari…, bermukim di…… Keturu-nannya:
1.
4. Yulianti Harahap menikah dengan …., marga……dari………
5. Maulana Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di.. Keturunannya:
1.
6. Parlindungan Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di…..Ke-turunannya:
1.
7. Dadang Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di Keturu-nannya:
1.
3-9-2. Cucu Syamsi Harahap, gelar Baginda ……
—————————————————–
1.
2.
3-9-3. Cucu Ichwan Harahap, gelar Baginda…….
—————————————————–
1. Faisal Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di Ketu-ru-nannya:
1.
2. Paima Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di Keturu-nannya:
1.
3. Pahron Harahap dengan istri…., boru…. dari…, bermukim di Keturu-nannya:
1.
3-9-4. Cucu Safaruddin Harahap, gelar……
———————————————-
1. Nurulhuda Harahap menikah dengan …., marga……dari………
3-10. Cicit Jabal Harahap, gelar Mangaraja Bukit Siduadua.
3-10-2. Cucu Nukman Harahap, gelar…….
——————————————–
1.
3-10-5. Cucu Syarifudin Harahap, gelar…….
———————————————-
1.
3-10-6. Sampe Harahap, gelar……
———————————
1.
3-10-7. Mara Ponu Harahap, gelar……
—————————————
1.
5. Anak cicit Lilin (Sutor) Harahap, gelar Baginda Malim Muhammad Arif.
5-1. Cicit Morgu Harahap, gelar Mangaraja Guna.
5-1-1. Cucu Jalil Harahap, gelar………
————————————–
1….Harahap, dengan istri…. boru……dari…., bermukim di…, Sumatera Barat. Ketu- runannya:
1.
5-1-2. Cucu Pada Harahap, gelar………….
——————————————
1……Harahap, dengan istri….boru….dari….., bermukim di …, Sumatra Barat. Ketu-
runannya:
1.
5-1-3. Cucu Zainuddin Harahap, gelar………….
————————————————-
1……Harahap, dengan istri….boru….dari….., bermukim di Simangambat. Keturu-nannya:
1.
5-1-4. Cucu Abdul Wahid Harahap, gelar…………
—————————————————
1….. Harahap, dengan istri…. boru……dari …….., bermukim di Simangambat. Ke-
turunannya:
1.
5-1-5. Cucu Pangibulan Harahap, gelar………..
———————————————–
1…..Harahap, dengan istri.….boru…..dari ……, bermukim di……, Sumatera Barat. Keturunannya:
1.
5-1-6. Cucu Hamzah Harahap, gelar…………
———————————————
1…….Harahap, dengan istri…. boru…..dari……, bermukim di Simangambat. Keturunannya:
1.
5-2. Cicit Daliun Harahap, gelar Ja Marliun.
5-2-1. Cucu Bahori Harahap, gelar……….
——————————————
1. Burhanuddin Harahap, dengan istri…..boru……dari…… Keturunannya:
1.
2. Drs. Hasbi Harahap (19..-19..) dengan istri…..boru……dari……Keturunannya:
3. Umar Harahap, dengan istri…..boru……dari…… Keturunannya:
4. Ansor Harahap, dengan istri…..boru……dari…… Keturunannya:
5. Hot Matua Harahap, dengan istri…..boru……dari…… Keturunannya:
6. Rostina Harahap menikah dengan …., marga……dari………
7. Jamila Harahap menikah dengan …., marga……dari……….
5-2-2. Cucu Maskut Harahap, gelar………….
———————————————
1……Harahap, dengan istri…., boru…..dari….., bermukim di…., Sumatera Barat. Keturunannya
1.
5-2-3. Cucu Sabirin Harahap, gelar………
——————————————
1…..Harahap, dengan istri.…, boru…..dari….., bermukim di …….., Simangambat Keturunannya:
1.
5-2-5. Cucu Nasrun Harahap, gelar………….
———————————————
1……Harahap, dengan istri …..boru…dari……, bermukim di……… Simangambat. Keturunannya
1.
5-2-6. Cucu Amiruddin Harahap, gelar…………
————————————————-
1……. Harahap, dengan istri……., boru….. dari….., bermukim di Simangambat. Keturunannya
1.
5-3. Cicit Saribun Harahap, Ja Kidun, gelar Sutan Martua.
5-3-1. Cucu Yusuf Harahap, gelar……..
—————————————-
1……Harahap, dengan istri…., boru……dari…., bermukim di jalan……, Labuhan Batu. Keturunannya
1.
5-3-2. Cucu Hasanuddin Harahap, gelar………..
————————————————-
1……Harahap, dengan istri…., boru……dari…..bermukim di jalan……, Rantau Pra-pat. Keturunannya:
1.
5-3-3. Matnuin Harahap, gelar……
———————————–
1.…Harahap, dengan istri…., boru……dari….., bermukim di jalan……, Rantau Pra-pat. Keturunannya:
1.
5-3-6. Rusli Harahap, gelar Baginda Namuap.
———————————————–
1……Harahap, dengan istri…. boru……dari….., bermukim di jalan……, Rantau Pra-pat. Keturunannya
1.
5-4. Cicit Saib Harahap, Ja Bolon, gelar Sutan Oloan.
5-4-1. Cucu Tukko Harahap, gelar Baginda Namuap.
———————————————————
1…..…Harahap, dengan istri….boru……dari….., bermukim di …, Sumatera Barat. Keturunannya
1.
7. Anak-cicit Manis Harahap, gelar Baginda Malim Marasyad.
7-1. Cicit Ja Lumut Harahap, gelar Mangaraja Parhimpunan.
7-1-1. Cucu Takim Harahap, gelar Ja Biaso.
———————————————
1. Lamsari Harahap menikah dengan Tahir, marga Siregar dari Jonggol Julu.
2. Parhimpunan Harahap, dengan istri….. . boru…..dari……Keturunannya:
1. Adam Pangihutan, lahir…….1983, di Hanopan.
2. Makruf Suitaro, lahir…….1985, di Hanopan.
3. Irfan Subuh Ro, lahir…….1989, di Hanopan.
4. Astita Nurlaila, lahir…….1995, di Hanopan.
5. Raja Said Natio, lahir…….1998, di Hanopan.
3. Buyung Harahap, dengan istri Ros, boru Regar dari Bunga Bondar Sampulu, ber-mukim di Hanopan. Keturunannya:
1.
2.
4. Maslina Harahap, menikah dengan Japar, marga Ritonga dari Lancat.

5. Sutan Harahap, dengan istri….. boru Regar dari Sabatolang, bermukim di.. … Keturunannya:
1.
2.
6. Nurianna Harahap, menikah dengan Muhun, marga Simatupang dari Lumban Lobu.

7-2. Cicit Bangun Harahap, gelar Mangaraja Naposo.
7-2-1. Cucu Hormat Harahap, gelar Baginda Pangibulan.
————————————————————-
1. Adil Harahap, dengan istri…… boru ……dari………, bermukim di……… Ketu-runannya:
1.
2. Sori Harahap, dengan istri……boru ……dari………, bermukim di…… …Keturu-nannya:
1.
3. Otmaida Harahap, menikah dengan…….., marga….. dari……..
4. Oslan Harahap, menikah dengan. …….., marga….. dari………
5. Nisma Harahap, menikah dengan…….., marga….. dari………
7-2-2. Cucu Maren Harahap, gelar………..
——————————————
1. Syamsulbahri Harahap dengan istri……, boru ……dari………, bermukim di……. Keturunannya:
1.
2. Abdullah Harahap, dengan istri……boru ……dari………, bermukim di ……… Keturunannya:
1.
3. Sahdin Harahap, dengan istri…… boru ……dari………, bermukim di… …Keturu-nannya:
1.
4. Sayuti Harahap, dengan istri…… boru ……dari………, bermukim di…..… Ketu-runannya:
1.
5. Ito Harahap, dengan istri……, boru ……dari………, bermukim di… ……Ketu-runannya:
1.
6. Pantas Roma Harahap dengan istri……, boru ……dari………, bermukim di……… Keturunannya:
1.

7. Parmintaan Harahap, dengan istri……, boru ……dari………, bermukim di……… Keturunannya:
1.
8. Rosni Rusui Harahap, menikah dengan……, marga……. dari…….
9. Bardansyah Harahap, dengan istri……boru ……dari………bermukim di ……… Keturunannya:
1.
7-3. Cicit Tembang Harahap, gelar Sutan Mangalai.
7-3-1. Cucu Mara Indo Harahap, gelar Baginda Natio.
———————————————————-
1. Berliana Harahap, menikah dengan….., marga……. dari…….
2. Sarip Harahap, dengan istri…… boru ……dari………, bermukim di……… Ketu-runannya:
1.
3. Ismail Harahap, dengan istri……, boru ……dari………, bermukim di……… Ketu-runannya:
1.
4. Ati Harahap, menikah dengan …., marga…….. dari…….
5. Harris Harahap, dengan istri…… boru ……dari………, bermukim di ……Keturu-nannya:
1.
6. Deliana Harahap, menikah dengan …., marga…….. dari…….
7. Lisma Harahap, menikah dengan …., marga…….. dari…….
8. Niar Harahap, menikah dengan …., marga…….. dari…….
9. Johny Harahap, dengan istri……, boru ……dari………, bermukim di……… Ke-turunannya:
1.
7-1-2. Cucu Tahim Harahap, gelar Baginda Parbatasan.
———————————————————–
1. Gondoria Harahap menikah dengan …….., marga……dari ………
2. Dasima Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
3. Bonggal Harahap, dengan istri……, boru…… dari……., bermukim di… Keturu-nannya:
1.
4. Paruhuman Harahap, dengan istri……, boru…… dari……., bermukim di Hanopan.
Ialah Kepala Kampung Hanopan tahun 1994. Keturunannya:
1.
5. Fakri Harahap, dengan istri……, boru…… dari……., bermukim di……….Ketu-runannya:
1.
6. Batu Harahap dengan istri……, boru…… dari…….bermukim di… Keturunannya:
1.
7. Muhammad Harahap dengan istri……, boru…… dari……., bermukim di… .Ketu-runannya:
1.
7-4. Cicit Rain Harahap, gelar Mangaraja Bintuju.
7-4-1. Cucu Nasar Harahap, gelar Baginda Malim.
—————————————————-
1. Sakti Harahap dengan istri……, boru……dari…….bermukim di… Keturunannya:
1.
2. Ahmad Harahap dengan istri……, boru…… dari…….bermukim di… Keturunannya:
3. Erwin Harahap dengan istri……, boru…… dari…….bermukim di… Keturunannya:
4. Siti Adin Harahap menikah dengan……., marga ……..dari ……
7-4-2. Cucu Munir Harahap, gelar ……
—————————————–
1.
7-4-3. Cucu Dahler Harahap, gelar……
—————————————–
1.
2.
7-5. Cicit Borkat Harahap, Ja Mukobul.
7-5-2. Cucu Supian Harahap, gelar…………
———————————————-
1.
7-5-4. Cucu Mara Tohong Harahap, gelar Baginda Rangke Hatoguan.
—————————————————————————-
1. Meri Yamashita, menikah dengan Abdul Majid, marga Siregar dari Sialagundi.
2. Umar Harahap dengan istri……, boru……dari…….bermukim di… Keturunannya:
1.
3. Audi Harahap dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Keturunan-nya:
4. Syarifuddin Harahap dengan istri……, boru……dari…….bermukim di… .Keturu-nannya:
7-5-5. Cucu Haposan Harahap, gelar…….
——————————————-
1. Awaluddin Harahap dengan istri……, boru……dari……., bermukim di …..Keturu-nannya:
1.
2. Lasmiwati Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
3. Seribulan Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
4. Masdalena Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
5. Epa Yanti Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
6. Kobul Pangidoan Harahap dengan istri……, boru……, dari…… .bermukim di… Keturunannya:
1.
7. Irawati Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
8. Abdul Haji Harahap dengan istri……, boru……, dari…….bermukim di …Ketu-runannya:
1.
9. Hopipah Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
7-5-6. Cucu Kotib Harahap, gelar Baginda Hatimbulan.
———————————————————–
1. Dedi Indrawardana Harahap dengan istri……, boru…… dari……., bermukim di… Keturunannya:
1.
2. Medi Rendra Cahyadi Harahap dengan istri……, boru…… dari……., bermukim di… . Keturunannya:
7-5-7. Cucu Marasat Harahap, gelar…..
—————————————-
1.
7-5-8. Cucu Amru Harahap, gelar…….
—————————————
1.
7-5-10. Cucu Lian Harahap, gelar…….
————————————–
1.

7-5-11. Cucu Kompes Harahap, gelar…….
——————————————-
1.
7-6. Cicit Sulaiman Harahap, gelar Ja Umar
7-6-2. Cucu Muslimin Harahap, gelar……..
———————————————-
1. Raya Harahap dengan istri……, boru……dari……, bermukim di… Keturunannya:
1.
2. Nita Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
3. Emmi Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
4. Rina Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
5. Marjan Harahap dengan istri……, boru……dari……., bermukim di………. Keturu-nannya:
6. Erwin Harahap dengan istri…….., boru……dari……., bermukim di……..Keturu-nannya:
7. Arne Harahap dengan istri……, boru……dari…….bermukim di… Keturunannya:
8. Alamsyah Harahap dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Keturu-nannya:
9. Zuliadani Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
7-6-3. Cucu Mandasin Harahap, gelar…..
——————————————-
1. Susi Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
2. Delimasari Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
3. Purnamasari Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
4.Rizal Efendi Harahap dengan istri……
5. Anggi Harahap….
7-6-6. Cucu Musla Harahap, gelar……
—————————————
1. Sandi Harahap dengan istri……, boru……dari…….bermukim di… Keturunannya:
2. Sahli Harahap dengan istri……, boru……dari…….bermukim di… Keturunannya:
3. Desi Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
7-6-7. Cucu Dahrum Harahap, gelar……
——————————————
1. Rida Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
2. Anto Harahap dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Keturunannya:
3. Mariska Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
4. Laila Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
5. Nurul Oktapia Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
7-6-10. Cucu Hairin Harahap, gelar…….
—————————————-
1. Taufik Akbar Harahap dengan istri……, boru……dari…….bermukim di …Keturu-nannya:
2. Nensi Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
3. Umar Harahap dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Keturunannya:
7-7. Cicit Salasa Harahap, gelar Ja Niarba.
7-7-1. Cucu Gunung Harahap, gelar…….
——————————————
1.
2. Hanida Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
3. Agus Harahap dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Keturunannya:
4. Tetty Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
5 .…..Harahap dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… .Keturunannya:
7-7-2. Cucu……..Harahap, gelar……
—————————————
1.
7-7-3. Cucu …….Harahap, gelar……
————————————–
1.
10. Anak-cicit Paian Harahap, gelar Baginda Malim Muhammad Nuh.
10-1. Cicit Togu Harahap, gelar Mangaraja Sianggian.
10-1-1. Cucu Lokot Harahap, gelar Baginda Parbalohan Dua.
—————————————————————–
1. Edisuandi Harahap, dengan istri……,boru……dari……Keturunannya:
1.
2. Epri Pardomuan Harahap, dengan istri……, boru……dari……Keturunannya:
3. Pangondian Harahap,. dengan istri……, boru……dari……Keturunannya:
4. Erni Tati Harahap, menikah dengan …., marga…..dari…….
5. Tuti Alawiah Harahap, menikah dengan …., marga…..dari….
6. Suryani Harahap, menikah dengan …., marga…..dari………
7. Suryadi Harahap, dengan istri……, boru……dari……Keturunannya:
14. Anak-cicit Kenis Harahap, gelar Baginda Pangibulan.
14-1. Cicit Ismail Harahap, gelar Ja Lobe
14-1-5. Cucu Usman Harahap, gelar Baginda Pangibulan
————————————————————
1. Parulian Harahap dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Keturunan-nya:
1.
2. Tinabin Harahap, menikah dengan …., marga…..dari………..

3. Dirman Harahap dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Keturunan-nya:
4. Bayani Harahap, menikah dengan …., marga…..dari………..
5. Habibullah Harahap, dengan istri……, boru……dari……, bermukim di… Keturu-nannya:
14-1-6. Cucu Jolil Harahap, gelar Baginda Kotib.
————————————————–
1. Abdul Harris Harahap, dengan istri……, boru……dari…….bermukim di …..Ketu-runannya:
.. 1.
2. Dahliani Harahap menikah dengan …., marga….., dari…..

3. Syamsiruddin Harahap, dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Ketu-runannya:
4. Masdelina Harahap, menikah dengan …., marga….., dari…..
5. Umar Wira Harahap, dengan istri……, boru……dari…….bermukim di…….Ketu-runannya:
14-1-7. Cucu Soleh Harahap, gelar Baginda Sidangkal.
———————————————————
1. Karlina Harahap, menikah dengan …., marga…..dari…..
2. Bahari Harahap, dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Ketu-runanya:
. 1.
3. Syarif Harahap, dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Keturu-nannya:
15. Anak cicit Gardok Harahap, gelar Baginda Malim Muhammad Rahim
15-1. Cicit Hadam Harahap, gelar Lobe Yakin.
15-1-2. Cucu Sangkot Harahap, Haji Abdurrakhim, gelar Baginda Taris Muda.
————————————————————————————-
1. Saulina Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
2. Sariaman Harahap dengan istri……, boru……dari…….bermukim di… Keturunan-nya:
1.
3. Rosita Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
4. Masia Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
5. Abdul Muin Harahap dengan istri……, boru…… dari……, bermukim di …. Ketu-runannya:
6. Merida Sinta Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
7. Akhmadi Harahap dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Ketu-runannya:
8. Hakkul Yakin Harahap S.Ag dengan istri……, boru……dari……., bermukim di… Keturunannya:
9. Nurhasmi Harahap S.Ag. menikah dengan……., marga ……..dari …….
15-1-3. Cucu Abdul Majid Harahap, gelar…….
————————————————
1.
15-1-4. Cucu Dahum Harahap, gelar…….
——————————————
1.
15-1-5. Cucu Ahmad Soleh Harahap, gelar…….
————————————————-
1.
15-2. Cicit Sobar Harahap, gelar Ja Mantar.
15-2-1. Cucu Bahuddin Harahap, gelar Baginda Malim Muda.
—————————————————————–
1. Syahriana Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
2. Masnilam Harahap menikah dengan……., marga ……..dari …….
3. Syaifulbakhri Harahap dengan istri……, boru……dari…….bermukim di Hanopan. Menjadi Kepala Kampung Hanopan tahun 2007. Keturunannya:
1.
15-2-2. Cucu Sarpin Harahap, gelar…..
————————————–
1.
15-2-4. Cucu Efendi Harahap, gelar…….
—————————————–
1.
c.Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Panggulangan
11. Anak-cicit Mandasin Harahap, gelar Baginda Khalifah Sulaiman.
11-1. Cicit Marasan Harahap, gelar Jasoriangon.
11-1-1. Cucu Simin Harahap, gelar Mara Soleman.
—————————————————-
1. Akup Harahap dengan istri……, boru……dari……, bermukim di Panggulangan. Keturunannya:
1.
2. Malim Saidi Harahap dengan istri……, boru……dari……, bermukim di Panggula-ngan, keturunannya:
1.
3. Syafei Harahap dengan istri……, boru……dari……, bermukim di Panggulangan, keturunannya:
1.
4. Firman Harahap dengan istri……, boru……dari……, bermukim di Panggulangan, keturunannya:
1.
5. Omas Harahap menikah dengan ……, marga……., dari…..
6. Tiadin Harahap menikah dengan ……, marga……., dari……
7. Aslamiah Harahap menikah dengan ……, marga……., dari…..
8. Berlian Harahap menikah dengan ……, marga……., dari…..
9. Zainab Harahap menikah dengan ……, marga……., dari…..
11-1-2. Cucu Jamod Harahap, gelar……
—————————————-
1. Harun Harahap dengan istri……, boru……dari……, bermukim di Panggulangan, keturunannya:
1.
11-2-1. Cucu Musleman Harahap, gelar Baginda Parbatasan.
—————————————————————-
1. Drs. Hasbullah Harahap, gelar Sutan Soriangon..(1938-2002), dengan istri Nur-syamsiah boru Regar dari Bunga Bondar Sampulu, bermukim di Kom-plex Dirjen. Anggaran No.35, jalan Pahlawan Revolusi, Pondok Bambu Jakarta Timur. 13430. Telepon: (021) 862-6247. Pendi-dikan: IKIP Yogyakarta. Pekerjaan: Departemen Keuangan di Jakarta, Widyaswara. Keturunannya.
1. Affuanny (Nenny, pr), lahir 10 Nopember 1963 di Curup.
2. Novierry (Eri), lahir 8 Nopember 1965 di Bogor.
3. Covina Nurbaningsih (pr), lahir 8 April 1967 di Bandung.
4. Ardiansyah, lahir 23 Mei 1969 di Bogor.
5. Vivi Sylvia (pr), lahir 11 April 1970 di Bogor.
6. Musleman Alfadiansyah, lahir 18 Mei 1972 di Bogor.
2. Syahruddin Harahap dengan istri Siro, boru Regar dari Sipirok, bermukim di Kali-benih, Curup, Bengkulu. Pekerjaan: Wiraswasta. Keturunannya:
1. Lenni, lahir …19..di Curup.
2. Ahmad Rivai, lahir …..1966 di Curup.
3. ….. lahir…. 19.. di Curup.
4. Zulkarnain, lahir….. 1968 di Curup.
5. Rina, lahir …19.. di Curup
6. Fitrianti, lahir …19… di Curup
7. Reni, lahir…. 19.. di Curup.
3. Nukman Harahap, dengan istri Uning, boru Regar dari…….. Keturunannya:
1. Rudi, lahir ….1969 di Curup.
2. Ridwan, lahir 19… di Curup.
3. Fifianti (pr), lahir 19… di Curup.
4. Irsan, lahir 19… di Curup.
5. Lusi (pr), lahir 19.. di Curup.
6. ….. lahir 19.. di Curup.
4. Maraingon Harahap dengan istri Masmurni, boru Pohan dari Parau, berdiam di jalan Raya Ciomas no.319, Pintu Ledeng, Bogor. Pekerjaan: Departemen Keuangan Bogor. Tel.(0251)-635681.Keturunannya:
1. Diana (pr), lahir 19…di Bogor.
2. Andi, lahir 19… di Bogor
3. Tanti (pr), lahir 19… di Bogor
4. Tasahirawan, lahir 19… di Bogor.
5. Amrul Harahap dengan istri Basaia, boru Regar dari Sipirok, berdiam di Curup. Ke-turunannya:
1. Ferdi, lahir 19…di Curup.
2. Yusuf, lahir 19… di Curup.
3. Fahriza, lahir 19.. di Curup.
4. Doli, lahir 19… di Curup.
5. ….. lahir 19… di Curup.
6. Syahzuana Harahap dengan istri…….boru dari Bali, bermukim di Jalan Merbuk III, no.198 Perumnas Monang-Maning Denpasar, Kode Pos 80119, Bali, Telepon: 3-1505. Pendidikan: STM. Pekerjaan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tingkat II Badung Bali. Keturunannya:
1. Firmansyah, lahir 19…di Denpasar.
2. Ida (pr), lahir 19… di Denpasar.
3. Kori (pr), lahir 19… di Denpasar.
7. Ir. M. Lenan Harahap dengan istri ……, boru dari Jawa Timur, bermukim di Peru-mahan Graha Prima, Blok G no.1, Tambun Bekasi. Tel. 883-1775. Keturunannya:
8. Armansyah Harahap dengan istri Hartati, boru Rejang Lebong, bermukim di jalan D.I.Panjaitan no.6/46, Lingkungan 5, Kelurahan Talang Benih, Curup, Bengkulu. Keturunannya:
1. Marasohi, lahir 19…di Curup.
2……(pr), lahir 19… di Curup.
3…. lahir 19… di Curup.
9. Muhammad Hanopan Harahap dengan istri Poppy Irani, boru Rejang Lebong, Bengkulu, bermukim di jalan Lontar no.37 A, RT 010, RW 03, Lenteng Agung, Jakarta. Keturunannya:
1.Asnita (pr), lahir 10 September 1987 di Curup.
10. Musriani Harahap menikah dengan Jufri, marga Siregar, anak namboru dari Parau Sorat, Sipirok.

11. Aliana Harahap dengan istri ……….., boru dari …………, bermukim di jalan ……… Yogyakarta. Pendidikan: Universitas Kristen Duta Wacana. Pekerjaan:.…. Keturunannya:
12. Adam Sory Harahap dengan istri ……….., boru…..dari………., bermukim di Bali Keturunannya:
13. Anna Leli Harahap menikah dengan, marga…..dari……….:
14. Sakti Harahap dengan istri ……….., boru…..dari………., bermukim di Curup. Ketu-runannya:

11-1-6. Cucu Anas Mursalim, gelar Baginda Harahap.
——————————————————–
1. Nurhayati Harahap, menikah dengan R.Suryadirja dari Jawa Tengah.
2. Eddy Erwin Harahap, dengan istri….boru…..dari…, bermukim di…Keturunannya:
3. Sitty Nanny Harahap menikah dengan…, marga….dari……
4. Eppy Narulita Harahap menikah dengan…, marga….dari……
5. Ansori Hidayat Harahap, dengan istri….boru…..dari….., bermukim di… Keturu-nannya:
6. Susi Nender Harahap menikah dengan…, marga….dari……
7. Antonius Harahap, dengan istri….boru…..dari….., bermukim di…Keturunannya:
8. Susanti Harahap, menikah dengan……, marga……dari……
9. Umar Harahap dengan istri….boru…..dari….., bermukim di…Keturunannya:
11-3. Cicit Kedom Harahap, gelar Haji Dolla.
11-3-1. Cucu Lokot Harahap, gelar Ja Taris.
——————————————–
1. Husin Harahap dengan istri ….., boru Pohan dari Panggulangan, bermukim di
Medan Keturunannya:
1.
2. Ratna Harahap, menikah dengan ……, marga Siregar dari Batu Horpak.
3. Ani Harahap, menikah dengan….., marga Sitompul dari Sipirok.
4. Azis Harahap, dengan istri …..boru ….dari ….., bermukim di Medan
5. Burhanuddin dengan istri ….., boru …..dari……, bermukim di Medan.
6. Ibrahim Harahap, dengan istri ….., boru …..dari……., bermukim di Medan.
11-3-2. Cucu Marip Harahap, gelar……………
——————————————–
1. Siti Hajar Harahap, menikah dengan Gindo, marga Siregar dari Pagaran Tulason, bermukim di Rantau Prapat.
2. Siti Khalijah Harahap, menikah dengan Jasmin, marga…., tinggal di Desa Padang Maninjau, Aek Natas, Kab.Labuhan Batu, Sumatera Utara.
3. Riduan Harahap, dengan istri…, boru Hasibuan dari…., bermukim di Rantau Prapat. Keturunannya:
1.
4. Umi Khalsum Harahap, menikah dengan Hamid, marga Situmorang dari Padang Sidempuan.
5. Hanafi Harahap dengan istri Ramlah, boru Hasibuan dari….., bermukim di Labuhan Bilik. Keturunannya:
6. Masnah Harahap menikah dengan…………….
7. Syahruddin Harahap, dengan istri Sulastri dari Kisaran., bermukim di Tanjung Ba-lai. Pekerjaan: Polisi. Keturunannya:
8. Umaruddin Harahap, dengan istri , boru….dari….., bermukim di.. Pendidikan: UMSU Medan. Pekerjaan…….Keturunannya:
9. Mahran Harahap, dengan istri , boru….dari….., bermukim di Meulaboh, Aceh.
Keturunannya:
10. Ahmadan Harahap, dengan istri , boru….dari….., bermukim di Meulaboh. Ketu-runannya:
11. Hasan Azhari Harahap, dengan istri , boru….dari….., bermukim di Rantau Prapat.
Keturunannya:
11-3-3. Cucu Daud Harahap, gelar………….
——————————————
1. Ir. Syahril Harahap, dengan istri Malari, boru Regar dari….., bermukim di Padang Sidempuan. Pendidikan: UISU Medan. Keturunannya:
1.
2. Agustina Harahap, menikah dengan……., marga….dari…., tinggal di Tebing Tinggi (Deli).
3. Ramadan Harahap, dengan istri…, boru…..dari….., bermukim di Tebing Tinggi (De-li) . Keturunannya:
4. Gozali Harahap, dengan istri…, boru Regar dari….., bermukim di Tebing Tinggi (Deli). Keturunannya:
5. Astuti Harahap, menikah dengan …, marga Siregar dari Parau.
6. Khairul Harahap, dengan istri…., boru….dari….., bermukim di Medan. Keturu-nannya:
11-3-4. Cucu Abbas Harahap, gelar…………….
———————————————-
1. Drs. Darwin Harahap MSc., dengan istri Ummi Kalsum, boru Hasibuan dari Aek Godang, bermukim di Jalan Haji Ten I no.11, RT 011, RW 01, Kelurahan Rawa-mangun, Jakarta 13220. Pendidikan: UNRI, dan UI. Pekerjaan Departemen Perhu-bungan. Keturunannya:
1. Rahmita Hidayanti (pr), lahir 17 Agustus 1984 di Jakarta.
2. Arif Rahman, lahir 14 Juni 1989 di Jakarta.
3.
4.
2. Irwan Harahap, dengan istri…..boru Regar dari Muara, bermukim di Panggulangan. Keturunanya:
1. Satrio Basri, lahir 19.. di Panggulangan
2. Napan Andi, lahir 19.. di Panggulangan.
3. Doli Rais, lahir 19.. di Panggulangan.
3. Sahlan Harahap, dengan istri…., boru Regar dari Padang Bujur, bermukim di Tembi-
lahan.Keturunannya.
1. Rizki Rahmiana (pr), lahir 19.. di Tembilahan.
2. Desi Yulianti (pr), lahir 19.. di Tembilahan.
4. Anna Harahap, menikah dengan Fahruddin, marga Siagian dari Lancat.
5. Masrawati Harahap, menikah dengan Sahrun, marga Siagian dari Jambur Batu.

6. Midasari Harahap, menikah dengan Ahmad Tahir, marga Pakpahan dari Pang-
gulangan.
7. Masjuwita Harahap, menikah dengan………….
8. Yusraliani Harahap, menikah dengan………….
11-4. Cicit Mahir Harahap, gelar Ja Pariaman.
11-4-1. Cucu Pangeran Harahap, gelar………….
———————————————–
1. Saparuddin Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di Panggu-
langan.Keturunannya:
1. Indra Samson, lahir…..1974, di Panggulangan.
2. Teri Herawati (pr), lahir 9 September 1978 di Panggulangan.
3. Riswan, lahir 3 Juli 1980, di Panggulangan.
4. Azhari, lahir 7 Oktober 1982, di Panggulangan.
5. Yenti Marlina (pr), lahir…..1985, di Panggulangan.
6. Siti Holiza (pr), lahir…..1988, di Panggulangan.
7. Nursaima Holida (pr), lahir…..1991, di Panggulangan.
8. Fajri Basuki, lahir…..1993, di Panggulangan.
2. Fahruddin Harahap, dengan istri ….., boru….dari …, bermukim di… Keturunannya:
3. Masdalina Harahap, menikah dengan……., marga……..dari……..
4. Awaluddin Harahap, dengan istri.. .., boru….dari…, bermukim di.. Keturunannya:
5. Koharuddin Harahap, dengan istri….., boru….dari……, bermukim di. Keturunan-nya:
6. Ulla Harahap, menikah dengan……… ,marga……..dari…………..
7. Kipli Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
8. Fahmi Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di..Keturunannya:
9. Musa Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
10. Ros Harahap, menikah dengan……… , marga……..dari……..
11-4-2. Cucu Jalil Harahap,gelar………….
—————————————-
1. Ramlan Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
2. Ani Harahap, menikah dengan……… ,marga……..dari…………..
3. Burhan Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
4. Lahuddin Harahap, dengan istri….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
5. Toga Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
6. Aman Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
7. Ros Harahap, menikah dengan……… ,marga……..dari…………….
8. Yunus Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
11-4-3. Cucu Hamzah Harahap, gelar…………….
————————————————
1. Nurlela Harahap, menikah dengan……… , marga……..dari……………
2. Amrul Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
1.
3. Iwan Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
4. Syahrial Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
5. Siti Mariam Harahap, menikah dengan………, marga……..dari……………
6. Bahrum Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
7. Halim Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
11-5. Cicit Darajat Harahap, gelar Mangaraja Halongonan.
11-5-1. Cucu Dasim Harahap,gelar…………….
———————————————
1. Bonggal Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturunannya:
2. Kartini Harahap, menikah dengan……… , marga……..dari……………
3. Nenni Harahap, menikah dengan……… , marga……..dari……………..
4. Sudirman Harahap, dengan istri….., boru….dari ……, bermukim di.. Keturu-nannya:
5. Merianna Harahap, menikah dengan……… , marga……..dari……………
6. Pandapotan Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di.. Ketu-runannya:
7. Sonang Martua Harahap, dengan istri ….., boru….dari …, bermukim di…Ketu-runannya:
8. Pangundian Harahap, dengan istri ….., boru….dari ……, bermukim di..Ketu-runannya:
d. Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Siak Sri-Indrapura, Riau.
13. Anak-cicit Pardo Harahap, Marah Kamin Harahap, gelar Baginda Saikum.
13-1. Cicit Nempol Harahap, gelar……….
13-1-1. Cucu Sjamsuddin Harahap, gelar………..
————————————————
1. Drs. Mirza Harahap dengan istri Farida Ariani, boru Bengkalis dari Riau, bermukim di jalan Petala Bumi no.9 Pekanbaru, Riau Daratan. Kode Pos 28133. Telepon: (0761) 3-5787, Pendidikan: UNRI. Pekerjaan: Kantor Keuangan Propinsi Riau Pe-kanbaru. Tel. (07-61)-35787. Keturunannya:
1. Andri Faizal, lahir 30 Oktober 1977 di Pakanbaru.
2. Tanti Dewayan (pr), lahir 3 Februari 1979 di Pakanbaru..
3. Adhitia Arnanda (pr), lahir 9 Maret 1983 di Pakanbaru..
2. Zuraida Harahap, menikah dengan ……., marga…….dari…

13-2. Cicit Abu Bakar Harahap, gelar……..
———————————————
13-3. Cicit Muhammad Soleh Harahap, gelar………..
——————————————————-
13-4. Cicit Jambul Harahap, gelar……….
—————————————–
13-5. Cicit ……..Harahap, gelar………..
—————————————–
Generasi Duapuluhempat
a. Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Bunga Bondar.
b. Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Hanopan.
2. Cicit-cicit Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan.
2-1. Anak cicit Abdul Hamid Harahap, Tuan Datu Singar, gelar Sutan Hanopan.
2-1-1. Cicit Sutor Harahap, gelar Baginda Raja Pandapotan.
—————————————————————-
4. Cucu-cucu Sangkot Abdul Hamid Harahap, gelar Sutan Hanopan Naposo.
1. Nusyirwan Harahap dengan istri Refi, boru Simatupang dari Lumban Lobu Sipirok, bermukim di jalan Buaran Raya Blok E1, Taman Bukit Indah II, Jakarta Timur. Keturunanya:
1. Jasmin Rosmaria (pr), lahir 28 Januari 1998 di Jakarta.
2. Mohammad Rafi Ananta, lahir 19 Oktober 2000 di Jakarta.
3. Mohammad Zaki Ananta, lahir 30 September 2003 di Jakarta.
2. Rosalina Lilian Galinaputri Harahap menikah dengan Jabbar, marga Siregar dari
Pargarutan Jae.
3. Ellisya Chairani Harahap menikah dengan I Nyoman Sumantra dari
Bali, keturunannya:
1. Amelia Purnamasari (pr), lahir 29 Januari 1983 di Jakarta.
2. Anggi Rizki Imansyah, lahir 25 Juni 1986 di Jakarta.
3. Ray Adriansyah, lahir 12 September 1993 di Jakarta.
4. Lisna Megawati Harahap menikah dengan Fathir dari Jakarta, keturunannya.
1. Luky Febryan, lahir 18 Februari 1991 di Jakarta.
2. M. Riski Baihaqi, lahir 8 Agustus 1991 di Jakarta.
5. Kusnandar Fauzie Harahap dengan istri ….., boru Bekasi dari Jakarta bermukim di ………Bekasi, keturunannya:
1. Jascynda Zahra (pr), lahir 27 Februari 2006 di Bekasi.
6. Farida Utami Harahap menikah dengan Hari Hartono dari Jawa Tengah, keturu-
nannya:
1. Heikal Aurel Nunzi, lahir 6 Nopember 2000 di Jakarta.
5. Cucu-cucu Sangkot Anwar Bey Effendy Harahap, gelar
1. Sori Budimansyah Harahap dengan istri Suryati, boru Pati dari Jawa Tengah, ber-mukim di Hanopan. Keturunannya:
1. Warti Ramiah (pr), lahir 6 Juli 1985 di Papua.
2. Kurniawansyah (Iwan), lahir 7 November 1986 di Papua.
3. Siti Khadijah (pr), lahir 25 Agustus 1988 di Papua.
4. Muhammad Irianto, lahir 16 Desember 1991 di Papua.
5. Rudianto, lahir 27 Juni1996 di Padang Sidempuan.
6. Desi Ratnasari (pr), lahir 16 Desember 1999 di Padang Sidempuan.
2. Ida Harahap menikah dengan Baharuddin, marga Pohan dari Hanopan, keturu-nannya:
1. Joni Maradona (Uncok), lahir 25 Oktober 1979 di Serui.
2. Mohamad Ramadan, lahir 8 Juni 1983 di Serui.
3. Rahmad, lahir 3 Mei 1985 di Serui.
4. Dongan Pardomuan, lahir 27 Desember 1987 di Serui.
3. Chairani (Reni) Harahap menikah dengan Maas, marga Siagian dari Pangaribuan Sipirok, keturunannya:
1. Rima Novianti (pr), lahir 6 Novmber 1988 di Papua.
2. Muhammad Rifai, lahir 23 September 1989 di Papua
3. Febriani Khairani (pr), lahir 1 Februari 1991 di Papua.
4. Harlindungan, lahir 2 Juli 1993 di Papua.
4. Tetty Harahap menikah dengan Ismail dari Cirebon, keturunannya:
1. Addin, lahir 28 Maret 1998 di Jakarta.
2. Cantika (pr), lahir 27 April 2001 di Jakarta.
5. Anitha Harahap menikah dengan Jafar Sofian dari Soppeng Makassar, keturunan-nya:
1. Chandra Hidayat, lahir 10 April 1993 di Papua.
2. Aditya Pratama, lahir 13 Juni 1998 di Papua.
3. Anjarini (pr), lahir 25 Oktober 1999 di Papua.
6. Erni Srijarwati Harahap menikah dengan Turseno dari Ciamis Jawa Barat, ketu-runannya:.
1. Alief Rizky Purnama Adji, lahir 10 Maret 1998 di Papua.
2. Tegal Agil Nugroho, lahir di 14 Februari 2002 di Yogyakarta.
7. Evie Irjarini Harahap menikah dengan Suhardi dari Solo, keturunannya:
1. Harviana Anggraini Putri (pr), lahir 17 Maret 1994 di Papua.
2. Fajarina Wulandari (pr), lahir 5 Juni 1998 di Papua.
8. Sutor Wansyah Harahap dengan istri Yusriana, boru Deli yang berasal dari Pulau Jawa, keturunannya:
1. Muhammad Fitra Awalin Nazir, lahir 19 Februari 1998 di Binjai.
2. Azis Akbar, lahir 20 Maret 2001 di Hanopan.
3. Anwar Farkhan 2 Januari 2007 di Hanopan.
6. Cucu-cucu Haji Mohammad Arifin Harahap, gelar……..
1. Irwan Harahap dengan istri Faiza boru Alor Setar dari Malaysia asal Bangkinang (Sumatera Barat), bermukim di: 7 Lintang Pantai Jerjak 2 11700 Taman Century, Pulau Pinang, Malaysia. Keturunannya:
1. Alia Irdina (pr) , lahir 6 Februari 2009 di Alor Setar.
2. Aira Alisa (pr), lahir 29 Januari 2011 di Alor Setar.
2. Yuska Hariani Harahap menikah dengan Mohammad Isa bin Hamzah bermukim di: No.1, Jalan Ampang 3 Selatan 27/20 C, Taman Bunga Negara, Sek. 27 40400 Shah Alam Selangor, Malaysia. Keturunannya:
1.
3. Helmi Harahap dengan istri …… bermukim di Malaysia.
7. Cucu-cucu Haji Mohammad Rusli Harahap, gelar Sutan Hamonangan.
1. Arifilmiansyah Parlindungan Harahap dengan istri Eva Khairunisa, boru Padang dari Sumatera Barat, bermukim di Pesona Depok Estate, Blok V no.11, Depok I, keturu-nannya:
1. Althaira Kyosa Azalia (pr), lahir 18 Desember 2010 di Jakarta.
2. Almaura Lumongga Bungasinoru (pr), lahir 27 Juni 2015.
2. Budiadiliansyah Pardomuan Harahap dengan istri Rani, boru Jakarta yang berasal dari Bangkinang Sumatera Barat, bermukim di Pamulang Residence G-2, jalan Pamulang 2 Raya, Pondok Benda, Tangerang Selatan, Banten. Kode Pos
1. Liana Mahira Andini (pr), lahir 06 Oktober 2014 di Tangsel, Banten.
2.
3. Altinai Molunasari Harahap menikah dengan Widi, marga Gebang dari Maumere Flores bermukim di perumahan The Icon, cluster Eastern Cosmo F5, rumah no.15 Serpong. Keturunannya:
1. Naila Adwina Mawar (pr), lahir 06 April 2008 di Jakarta.
2. Rajendra Adila Ramadan, lahir 15 September 2009 di Jakarta.
3. Raina Adindra Ixora (pr), lahir 31 Agustus 2011 di Jakarta.

Catatan: Keturunan dari Bagas Godang Hanopan

Marga Harahap, pomparan Tongku Mangaraja Hanopan dari Hanopan, mambuat boru Re-gar dari Bunga Bondar selama 5 (lima) generasi berturut-turut, ialah:
1. Tongku Mangaraja Hanopan (Alaan Harahap), menikah dengan Bolat Siregar, boru
Regar dari Bunga Bondar, boru Raja Mampe, iboto Sutan Ulubalang.
2. Baginda Parbalohan (Sengel Harahap, 1846-1928), menikah dengan Giring Siregar
(1848-1925), boru Regar dari Bunga Bondar, boru Ja Diatas, iboto Baginda Humala Hasian.
3. Sutan Hanopan (Adul Hamid Harahap, 1876-1939), menikah dengan Dorima Siregar (1879-1950), boru Regar dari Bunga Bondar, boru Sutan Bungabondar, iboto Baginda Soritua.
4. Baginda Pandapotan (Sutor Harahap, 1896-1969), menikah dengan Molun Siregar (1900-1966), boru Regar dari Bunga Bondar, boru Mangaraja Pangajian/Soaloon, iboto Aaron Diatas.
5. a. Mangaraja Hanopan (Syarif Harahap, 1923-2005) menikah dengan Nonggar Siregar (1928-2006), boru Regar dari Bunga Bondar, boru Sutan Mangarahon, iboto Madduhir Siregar.
b. Sutan Hanopan Naposo (Abdul Hamid Harahap, 1927-1986), menikah dengan Ros-manidar Siregar, boru Regar dari Bunga Bondar, boru Maradomsah Siregar, iboto Ru-di Siregar.
c. Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Panggulangan.

d. Mereka yang berdiam di, atau merantau dari, Siak Sri-Indrapura (Riau).

(Akan dilanjutkan oleh genersi penerus Ja Alaan, gelar Tongku Mangaraja Hanopan).
———– selesai———

H.M.Rusli Harahap,
gelar Sutan Hamonangan
Perumahan Pamulang Residen Blog G1
Jalan Pamulang 2 Raya, jalan Parakan, Pondok Benda, Kode Pos: 15146
Tangerang Selatan, Banten.
Telepon Rumah: 021-74631125
Mobile Phone : + 62 821-2230-0783

Posted by: rusliharahap | July 3, 2015

Cepat Selamatkan Kedua Ibu!

Cepat Selamatkan Kedua Ibu!

Banyak yang telah mendengar keluhan dua Ibu kesakitan
Tetapi, tidak ada yang tahu darimana suara derita datang
Keluhan semakin keras bersama waktu, bertukar zaman
Mari, selamatkan kedua Ibu kesakitan malang sekarang!

Pendahuluan
Agama telah menyampaikan bahwa, manusia tidak terkecuali beragam makhluk lain, datang ke alam fana di muka bumi ditakdirkan Allah Subhanahu Wataala, awalnya (pertama) sebagai ruh (bukan-benda) dalam perjalanan panjang. Setibanya di muka bumi, manusia begitu pula makhluk lain melangsungkan pula perjalanan berikutnya (kedua): diawali hadir dalam kandungan, lalu lahir ke dunia sebagai bayi, menjadi balita, anak, remaja, dewasa, orang-tua, kakek/nenek, men-jalani usia senja, dan akhirrnya tiba ke batas usia. Untuk memperlihatkan keberadaan manusia, begitu juga makhluk lain di permukaan planit biru agar terlihat, dapat bertegur sapa, berkomu-nikasi, dan melakukan hal lain; manusia demikian juga makhluk lain mendapat pinjaman benda (materi) dari muka bumi untuk “tubuh”, juga dinamakan orang “badan” atau “jasmani”.

Adapun yang dinamakan belakangan, awalnya diberikan kedua orangtua pada manusia atau makhluk lain saat bersanggama, lalu usai menyusu kepada ibu yang melahirkan, dipinjamkan langsung oleh bumi lewat kegiatan: minum, makan, bernafas, bergerak, diolah Teknologi Makh-luk Hidup (TMH) yang berlangsung dalam tubuh manusia atau makhluk lain dengan reaksi “kimia organik dingin” (cold organic chemistry), memanfaatkan berbagai macam unsur kimia tercantum dalam tabel Mendeleyev, kini lebih dikenal dengan table periodic, seperti: hidrogen, aksigen, karbon, dan lainnya; dimana dua unsur kimia dituliskan terdahulu merupakan yang terbanyak. Setelah menempuh kehidupan alam fana di muka bumi serentang hayat melakukan “persiapan”, manusia demikian pula berbagai makhluk lain, meneruskan perjalanan awal kem-bali sebagai ruh, setelah terlebih dahulu mengembalikan badan atau jasmani (materi) yang dipin-jam dari muka bumi memenuhi panggilan Allah Subhanahu Wataala.

Dari dua perjalanan dikemukakan, yang banyak mendatangkan persoalan kepada manusia, ialah yang disebut terakhir sebagai benda (materi), yakni perjalanan alam fana di permukaan bumi. Tidak dapat disangkal, bahwa dalam perjalanan belakangan ini, terdapat “kewajiban” dan “tang-gungjawab” yang harus diemban terjabar kedalam: 3 (tiga) golongan agar tertib hidup dengan segala yang ada dapat tercipta. Pertama: hubungan dengan Sang Maha Pencipta, juga dikenal dengan ungkapan: “hablumminAllah” karena telah mendatangkan manusia dengan beragam makhluk lainnya ke Alam Semesta, wabilkhusus permukaan bumi sebagai tempat berdiam, yang diselimuti atmosfer berisi udara; begitu juga air yang memenuhi segala cekungan yang ada di permukaannya, mulai: parit, kolam, sungai, danau, laut, hingga samudra; daratan sebagai tempat berdiam dan berusaha. Yang disebut belakangan, tidak lain dari lahan untuk bertanan menum-buhkan beragam tanaman: pangan, obat, sandang, papan, dan lainnya, dengan cahaya dan panas didatangkan langsung dari matahari. Kedua: hubungan manusia antara sesam-anya apapun suku asal dan kepercayaannya, juga dikenal dengan ungkapan: “hablumminannas”, tidak terkecuali dengan aneka ragam makhluk lain yang juga terdapat di muka planit biru. Ketiga: hubungan manusia berikut makhluk lainnya dengan Alam Semesta, dikenal dengan ungkapan: “hablum-minalkaun”, wabilkhusus bumi juga dinamakan “planit biru”, oleh keistimewaan dimiliki yang belum semuanya terungkap kepada insan sampai kini, dan belum dapat ditemukan bandingannya dengan planit manapun yang ada di Alam Semesta. Dan terhadap yang akhir, sebuah “aturan ber-prilaku” (code of conduct) dimulai dari “sopan santun” hingga “etika” dan “hukum” harus disu-sun segera guna “ditegakkan” dan “dipantau” pelaksanaannya dengan pengadilan dikenakan kepada para pelanggarnya, sehingga kedepan Alam Semesta, wabilkhusus bumi tempat berbagai makhluk bernyawa berdiam akan dapat terpelihara kelestariannya dari kerusakan yang dise-babkan perbuatan tangan manusia, baik oleh ketidak tahuan melahirkan kebodohan, juga yang tidak bertanggungjawab, menelusuri waktu dan menempuh zaman.

Revolusi Industri
Surat Al-Baqarah (Sapi Betina), Ayat 11, telah menyampaikan:

2_11
Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi24, mereka menjawab: ”Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”.
24Kerusakan yang mereka perbuat di bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.

Selanjutnya, surat Ali-Imran Ayat 112 mengemukakan pula:

3_112
Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia218), dan mereka kembali mendapat kemur-ka-an dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu219) karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu220) disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.
[Sumber: Al-Quran dan Terjemahannya, hadiah “Kerajaan Saudi Arabia”, berlangsung pada mu-sim haji tahun 1983.]

Masih banyak lagi surat lain menyusul kemudian, juga mengingatkan manusia agar “tidak membuat kerusakan di muka bumi”. Akan tetapi dengan telah munculnya revolusi industri di Eropa: gelombang pertama diawali tahun 1760 sampai 1820 dan 1840 (penghujung abad ke-18 dan awal abad ke-19), diteruskan gelombang kedua dari 1840 hingga 1870; mengawali kemajuan perekonomian di daratan Eropa silam, menemukan momentum dengan jaringan jalan kereta-api yang dihela lokomotiv-uap tersebar di berbagai negara di bagian dunia itu; juga lahirnya ber-agam kapal: mulai sungai, laut, hingga samudra yang dijalankan mesin-uap diawali di Amerika Serikat tahun 1850, untuk menggantikan layar yang dihembus angin. Penemuan pesawat-terbang oleh Wright Bersaudara di Amerika Serikat memasuki abad ke 20, juga menjadi bagian dari semua yang menyebabkan perubahan besar di muka bumi dalam berbagai bidang kehidupan manusia, antara lain: perjalanan darat awalnya serba berjalan kaki dimana-mana di seluruh dunia, dan gerobak (wagon) dihela ternak piaraan: lembu, kerbau, kuda, dan lainnya, lalu digantikan mesin-uap lalu mesin-diesel; juga angkutan laut yang digerakkan layar menjadi dijalankan mesin-diesel; muncul lagi angkutan udara dijalankan mesin dan antariksa didorong roket meramaikan langit di seputar bola bumi yang tidak terba-yangkan umat sebelumnya dapat disaksikan orang di muka bumi.

Pertanian, industri, tambang, dan lain sebagainya lalu beralih dari serba dikerjakan tenaga manusia dibantu hewan, menjadi samasekali dijalankan mesin. Muncul pula beragam mesin perang, sebagaimana yang telah disaksikan banyak orang dalam Perang Dunia ke-I dan Perang Dunia ke-II silam, dan sejumlah perang kemudian menyusul, antara lain: perang Korea dan perang Vietnam, dan lainnya.

Revolusi industry telah mengubah lingkungan hidup umat di muka bumi, tidak terkecuali makh-luk lain dibandingkan dengan berbagai macam zaman yang telah mendahului. Revolusi industri juga telah mengubah hidup masyarakat manusia di muka bumi, mulai: adat-istiadat, komunitas, tata-nilai, ekonomi, seni dan budaya, kepercayaan, agama, dan masih banyak lagi lainnya di seantero planit biru, dimulai dari negara maju hingga dengan negara yang masih berkembang. Revolusi industri yang dimulai dari Inggris, lalu meluas ke seluruh Eropa, kemudian menyebar ke Amerika Utara, dan Jepang, akhirnya melanda dunia, tidak terkecuali Indonesia. Revolusi yang semula dianggap “berkah” untuk umat yang hidup di permukaan bumi dengan hadirnya beragam sarana angkutan digerakkan mesin memudahkan orang bepergian kemana saja, tidak terkecuali menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci di Mekah dan Madinah, Saudi Arabia me-ngendarai pesawatterbang.

Akan tetapi, setelah lebih dari dua setengah abad berlangsung, umat manusia lalu menyadari, bahwa revolusi industri diawali dari Eropa silam terbukti menjadi “pembawa bencana” kepada umat dan makhluk lain yang hidup di permukaan bumi, dengan semakin seringnya timbul badai bertiup dengan “kecepatan pesawatterbang tinggal landas”; salah satu daripadanya, ialah yang telah “meratakan kota Tacloban” yang terdapat di Filipina belum lama berselang.

13_13

Surat Ar-Rum, ayat 41, dalam Al-Quran, telah memperingatkan umat dengan ungkapan:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, su-paya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Tampaknya peringatan surat Ar-Rum, ayat 41, sekarang sedang berbuat merasakan kepada umat di muka bumi “sebahagian dari akibat dari perbuatan tangan mereka, agar kembali ke jalan yang benar”.
Sudah sejak ratusan ribu tahun berlalu, terjabar kedalam berbilang zaman silam, Allah Subha-nahu Wataala mengutus para Nabi datang ke bumi mengajarkan umat bagaimana cara menjalani kehidupan alam fana di muka bumi, mulai dari menjalankan kewajiban hingga dengan memikul tanggung jawab yang harus diemban, agar manusia begitu juga makhluk lain sebagai bagian dari Alam Semesta, wabilkhusus bumi, dapat berjalan dengan tertib dan aman. Tiga orang Rasul terkenal tampil belakangan menemui umat di muka bumi, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Quran, ialah: Nabi Musa AS membawa Kitab Taurat untuk umat Yahudi, kemudian Nabi Isa Al-Masih AS yang membawa Kitab Injil untuk umat Nasrani, dan terakhir Nabi Muhammad SAW yang membawa Kitab Al-Quran untuk umat Muslim. Selain menyampaikan bermacam Kitab Suci memuat beragam surat berisikan ayat-ayat yang menjabarkan, masih ada lagi cara hidup diteladankan para Rasul yang diriwayatkan para penulis hadis tersebar luas yang diting-galkan.

Sebagai benda (materi) ciptaan Ilahi terbentuk dari bahan asal permukaan bumi lewat TMH, manusia begitu juga makhluk lain akan berhadapan dengan beragam persoalan dan masalah berikut keragaman masing-masing menjalani kehidupan alam fana di muka bumi sejak dari kan-dungan, lahir sebagai bayi, menjadi balita, anak, remaja, dewasa, orang tua, kakek/nenek, men-jalani usia senja, hingga tiba di akhir hayat. Setelah sekitar dua tahun menyusu pada “ibu yang melahirkan”, tanggungjawab mengurus insan lalu diserahkan pada “ibu asuh”. Adapun yang men-jadi “ibu asuh” manusia, begitu juga makhluk lain, ialah “bumi” atau “planit biru”, karena yang akhir ini selain menjadi tempat berdiam bagi insan dan makhluk lainnya, juga lingkungan hidup menyediakan beragam keperluan hidup alam fana di muka bumi, seperti: udara, air, pa-ngan, obat-obatan, sandang, papan, dan lain sebagainya, hingga dengan cahaya dan panas matahari, sebelum akhirnya kembali menghadap pada Sang Khalik. Itulah sebabnya, mengapa setiap makhluk ditakdirkan berdiam di permukaan sebuah planit dimanapun di Alam Semesta (Al-Kaun) yang sangat luas ini, akan memperoleh dua ibu, masing-masing: ibu yang melahirkan dinamakan: “Ibu Kandung”, disingkat IK, lainnya ibu yang mengasuh dinamakan: “Ibu Asuh”, yang tidak lain dan tidak bukan ialah planit tempat berdiam di Alam Semesta, dinamakan juga: Ibu Planit, disingkat IP. Setiap bangsa yang ada di muka bumi ini mengenal apa yang dinamakan: “ibu-pertiwi”, yakni bagian dari muka bumi yang dihuni oleh warga bangsanya. Dengan demikian Ibu Planit, merupahan gabungan dari semua ibu-pertiwi yang dihuni segala bangsa yang ada di muka bumi atau planit biru ini. Itulah sebabnya mengapa planit, dimana manusia dan berbagai makhluk lain yang ada di Alam Semesta bernama: Ibu Bumi, disingkat IB. Dengan demikian setiap mahluk yang berada di Alam Semesta, di planet manapun mahluk tadi ditakdirkan Allah Subhanahu Wataala berdiam, akan dilahirkan IK masing-masing dan diasuh IP bersama.

Earth_Eastern_Hemisphere

Ibu Bumi
Sumber: Google

Kehidupan Alam Fana
Tidak terhitung banyak persoalan berikut ragamnya dihadapi manusia dalam menjalani hidup alam fana di permukaan bumi, terjabar kedalam: perorangan, keluarga, kelompok, suku, daerah, nasional, dan internasional. Ada persoalan anak baru menginjak puber berikut kenakalannya yang memerlukan perhatian. Ada lagi persoalan kemiskinan umat yang berdiam di muka bumi yang membutuhkan pemecahan. Ada pula persoalan buta huruf menghlangi kaum muda memperoleh pendidikan diperlukan. Ada persoalan kakek/nenek lemah fisik sudah pikun yang jumlahnya makin bertambah di negara ekonomi maju. Ada masalah keyakinan, agama, inte-lektual, dan banyak lagi lainnya memerlukan perhatian masyarakat dan pemerintah. Ada masalah pengrusakan hutan di muka bumi yang belum dapat dikendalikan oleh yang berwenang. Ada masalah yang termasuk: kriminal, narkoba, pembajakan, pelanggaran disiplin, keteladanan moral. Ada lagi kejahatan dunia maya, penyadapan informasi, dan masih banyak lainnya. Yang tidak kalah mengkhawatirkan umat yang hidup di muka bumi ialah pencemaran lingkungan hidup mulai: darat, air (parit, kolam, kanal, sungai, laut, hingga samudra), atmosphere, juga angkasa sekeliling bola bumi, sejak “revolusi industri” dilakukan orang lebih dari dua abad di daratan Eropa silam. Perlu juga diketahui, setiap persoalan yang dikemukakan diatas mem-perlihatkan dinamika masing-masing, artinya: ada persoalan yang baru timbul, ada lagi per-masalahan yang terus bertahan, ada pula yang hilang sementara lalu tiba-tiba timbul lagi secara tidak terduga. Itulah sebabnya mengapa persoalan yang dihadapi insan dalam alam fana di permukaan bumi tidak dapat dingkapkan semuanya, apalagi untuk diperinci satu per satu. Selain dari itu, beragam persoalan ini muncul saling berkejaran dan masing-masing menuntut peme-cahan, karena manakala terlambat, dapat menimbulkan malapetaka atau marabahaya kepada umat, atau makhluk lain yang sedang menjalani hidup alam fana di permukaan bumi.

Rumah Ilahi
Selama Nabi Muhammad SAW berada di muka bumi silam, beliau menganjurkan umat untuk mendirikan mesjid. Mesjid adalah “bait ul-Alah” artinya “rumah Ilahi”, karena tempat berdirinya ditemukan oleh mereka yang sudah memperoleh petunjukNya, sedangkan dana pembangunannya datang dari mereka yang rela berbagi rezeki, karena hati mereka pun telah digerakkanNya. Tidak kurang dari 1.000.000 Mesjid yang berdiri di Nusantara, besar dan kecil, tersebar dari desa sampai ke kota, kecil hingga besar, tidak terkecuali di Ibukota negeri. Lebih banyak lagi mesjid yang telah didirikan orang di bagian dunia lain diluar Tanah-Air. Semua rumah Ilahi menjadi “tempat beribadah” kepada Yang Maha Esa (HablumminAllah) sebagaimana yang dikemukakan dalam Surat Ali-Imran, Ayat 112; juga “tempat bersilaturrakhmi” antara seluruh umat (Hablum-minannas), dalam menyebarluaskan dan memperdalam keimanan beragama termasuk menimba bermacam ilmu pengetahuan yang telah disemaikan Allah Subhanahu Wataala ke Alam Semesta, dimulaii dari langit sampai dengan kedalaman perut setiap benda langit.

Dengan timbulnya “revolusi industri” di muka bumi, lalu menyebar ke segala penjuru dunia, ti-dak terkecuali Tanah-Air, dan telah menimbulkan berbagai pencemaran terhadap lingkungan hidup umat mulai: darat, laut, udara, sampai antariksa; berlangsung lebih dari dua abad lamanya, maka tidak ada pilihan lain kepada semua umat beragama, juga seluruh manusia, mengambil langkah nyata untuk menghilangkan segala “penyebab” timbulnya pencemaran lingkungan hidup di: darat, laut, udara, antariksa sejak dari awal revolusi industri sampai dengan saat ini, dari permukaan bumi.
Dalam menanggulangi pencemaran lingkungan hidup yang diakibatkan “revolusi industri” dia-wali dari Eropa silam, dan kini sangat meresahkan IB yang bertugas mengasuh beragam makhluk yang berdiam di muka bumi, Surat Ali-Imran, Ayat 112, perlu didukung oleh Surat Ar-Rum, Ayat 41, yang mengatakan: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
Dengan Surat Ali-Imran, Ayat 112, umat di muka bumi masih berada di zaman Nabi Muhammad SAW, dan umat masih belum memasuki era “revolusi industri”, karena masih berpandangan hidup “duologi”, artinya: HablumminAllah dan Hablumminannas saja. Akan tetapi kini, dengan telah berlangsungnya “revolusi industri” yang diawali dari Eropa lebih dari dua abad silam, dan telah dengan jelas memperlihatkan tanda-tanda “perubahan iklim” yang nyata di muka bumi; teguran atau peringatan Surat Ar-Rum, Ayat 41, harus segera dilibatkan guna menyelamatkan: IB (Ibu Bumi) dan IK (Ibu Kandung). Gabungan dari peringatan Surat “Ali-Imran, Ayat 112” dengan Surat “Ar-Rum, Ayat 41”, melahirkan pandangan hidup: “trilogi”, yakni: Hablummin-Allah, Hablumminannas, dan Hablumminalkaun, kini sangat dibutuhkan untuk periode kehi-dupan umat setelah “revolusi industri” muncul di permukaan bumi.

Pertukaran “pandangan hidup” ini harus segera disampaikan dan dikomunikasikan kepada setiap orang yang hidup di muka bumi oleh para ahli dakwah, baik mereka yang bertugas di berbagai Mesjid maupun Rumah-rumah Suci beragam kepercayaan lain yang tersebar di muka bumi, dilaksanakan kaum rohaniawan, mulai Imam berikut jajarannya di berbagai masjid, begitu juga di Rumah-rumah suci lain dengan bersungguh-sungguh agar sampai kepada setiap warga bumi dimanapun berada. Kesadaran perlunya menanggulangi kerusakan yang ditimbulkan perbuatan tangan manusia di muka bumi, yang telah menimbulkan pencemaran lingkungan hidup dan perubahan iklim berakibat malapetaka, menjadi “tugas suci” setiap anak Adam yang ditakdirkan hidup di permukaan bumi apapun keyakinan yang dimiliki olehnya.

Kedatangan Makhluk
Setelah permukaan bumi mendingin dari pijaran bola api yang amat panas, tumbuh-tumbuhan diperkirakan tiba di bumi pada sekitar 430 juta tahun silam. Dengan telah hadirnya beragam tumbuhan yang menyediakan bermacam pangan, binatang kemudian datang menyusul ke muka bumi ditaksir mulai dari 75 juta tahun terakhir, disusul kera yang menyerupai orang sekitar 10 juta tahun silam, dan makhluk paling belakangan dari semuanya tiba di permukaan bumi ialah manusia ditaksir sekitar 300.000 tahun terakhir. Demikianlah hasil temuan para ilmuwan yang mengkaji kedatangan beragam makhluk ke permukaan bumi dari sudut pandang evolusi yang sudah berkembang sejauh ini.

Tidak dapat disangkal, Allah Subhanahu Wataala telah menjadikan TMH kimia organik suhu tubuh (rendah) digunakan untuk menghadirkan beragam makhluk hidup di permukaan bumi, seperti: tanaman, hewan, dan manusia memanfaatkan bermacam unsur kimia tercantum dalam tabel Mendeleyev, dengan air menjadi unsur kimia yang terbanyak, sekitar 70% berat tubuh insan. Dengan TMH, makhluk apapun yang terlahir di muka bumi akan memperoleh pangan diperluka, tidak terkecuali bermacam kebutuhan hidup lainnya menempuh “perjalanan kedua”, yakni kehidupan alam fana di muka bumi, sejak lahir dari kandungan hingga akhir hayat, dibantu panas dan cahaya yang dating langsung dari matahari. Selain dari itu, TMH juga menyiapkan serangkaian teknologi daur ulang yang dibutuhkan untuk menanggulangi pencemaran ling-kungan hidup yang timbul, ketika beragam makhluk yang telah menyelesaikan perjalanan hidup alam fana di permukaan bumi mengembalikan benda (materi) pinjaman di penghujung hayat.

Perlu difahami, TMH ciptaan Ilahi juga memperkenalkan peredaran unsur kimia yang menjadi-kan tubuh atau jasmani bermacam makhluk yang menempuh “perjalanan kedua”. Pertama, bumi meminjamkan bermacam unsur kimia yang dibutuhkan tubuh atau jasmani beragam makhluk, seperti: tanaman, hewan, dan manusia, yang diperoleh dari kerak bumi galian dangkal, sekitar puluhan meter. Kedua, tubuh atau jasmani yang sudah ditinggalkan ruh makhluk yang telah menempuh “perjalanan kedua”, dikembalikan ke bumi lewat: pemakaman, penenggelaman, pembiaran yang segera didaur ulang oleh bermiliard bakteri sebagai pemangsa (predator), me-nyebakan jasad yang dikembalikan cepat terurai menjadi berbagai unsur kimia asal sebagaimana yang tertera dalam table periodik, agar kemudian dapat dipinjamkan kembali kepa-da bermacam makhluk yang akan menjalani hidup alam fana di permukaan bumi, seperti: tumbuhan, hewan, dan manusia baru yang akan lahir. Terhadap yang dikremasi, predator digunakan ialah nyala api yang membakar. Ketiga, TMH menggunakan reaksi kimia organik, lawan dari reaksi kimia an-organik, yaitu “cara dingin” menghadirkan beragam makhluk untuk hidup di alam fana di permu-kaan bumi, mulai dari kandungan, bayi, balita, anak, remaja, dewasa, orang tua, kakek/nenek, menjalani usia senja, dan tiba di akhir hayat; tidak terkecuali kemandirian dimiliki tiap makhluk, antara lain: kepribadian, kecerdasan, watak, dan lain sebagainya yang kini masih belum banyak terungkap kepada insan gemar berfikir hingga saat ini.

Penduduk Bumi
Hingga saat ini penduduk bumi terus bertambah jumlahnya menelusuri perjalanan waktu. Pada saat Nabi Muhammad SAW menerima Surat Al-Alaq, diantar Malaikat Jibril tanggal: 6 Agustus Tahun 610 M (Masehi) di Gua Hira silam, jumlah insan berdiam di muka bumi ditaksir berjumlah 200.000.000 orang. Setelah 1150 tahun waktu berlalu, lebih dari satu Milenium menjelang dimulainya “revolusi industri” di Eropa silam, warga bumi telah meningkat menjadi 720.000.000 orang, dengan pertumbuhan rata-rata penduduk: 452.000 orang setiap tahun. Lalu pada tahun 1850 M, banyaknya manusia yang berdiam di muka bumi telah meningkat menjadi 1.200.000.000 (satu Miliar dua ratus juta) orang. Lalu pada tahun 1950 M, seratus tahun kemu-dian, manusia yang mendiami planit biru telah mencapai 2.500.000.000 orang, dengan partum-buhan rata-rata penduduk: 13.000.000 orang per tahun. Dari apa yang telah diuraikan diatas, tampak jelas adanya “perubahan” kenaikan rata-rata penduduk dalam rentang waktu satu milenium, dari: 0,452 juta orang per tahun, menjadi: 13 juta orang per tahun pada rentang waktu seratus tahun kemudian. Peningkatan pertumbuhan rata-rata penduduk mencolok, dari “hampir landai” menjadi “hampir tegak”, tidak diragukan lagi disebabkan oleh timbulnya “revolusi indus-tri” melanda dunia berlangsung lebih dari dua setengah abad, dan memberi begitu banyak kemudahan hidup yang didapat manusia menempuh “perjalanan kedua”, yaitu kehidupan alam fana di permukaan bumi dibandingkan dengan berbagai zaman yang telah mendahului. Pada tahun 2000 M silam warga bumi telah melebihi 6 Miliar orang, lalu pada tahun 2011 M men-capai 7 Miliar orang. Ramalan kedepan memperlihatkan pada tahun 2025 M warga bumi akan ber-jumlah 8 Miliar orang, dan pada tahun 2043 M mencapai 9 Miliar orang, kemudian mema-suki abad pertama Milenium ketiga akan melebihi 10 Milyar orang. Grafik dibawah ini memper-lihatkan perjalanan penduduk bumi melalui kurva yang dikerjakan oleh Google.

penduduk

Sumber: Google

Sekilas Sejarah Filsafat
1. Filsafat Islam di Timur Tengah.
Agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW mengantarkan umat Muslim mendirikan kekhali-fahan Islam di jazirah Arab dalam abad ke-7 Masehi, dan meluaskan pengaruhnya ke sejumlah kawasan sekitar. Sebagai akibatnya, pertemuan dengan berbagai budaya yang telah lebih dahulu ada di wilayah itu tidak dapat dihindarkan. Lahir “ilmu kalam” yang bertujuan menyampaikan ajaran agama baru lebih praktis kepada umat Muslim, melahirkan apa yang kemudian dikenal dengan: theologi Islam. Menyusul muncul ilmu Fiqih, Ilmu Tasauf, Filsafat Islam, dan yang akhir ini mengajarkan: perdebatan, dialektika, dan argumentasi, bersama lainnya untuk mengolah akal. Filsafat Islam lalu berurusan dengan beragam hal berkaitan dengan kehidupan, sepert: alam fana, Alam Semesta, nilai, etika, masyarakat, dan lain sebagainya, lalu dihimpun secara beratu-ran untuk umat Muslim. Orang-orang Islam lalu tertarik kepada filsafat Yunani, setidaknya pada masa awal abad hijrah, karena dalam keyakinan orang-orang Muslim ketika itu, Allah ialah Pen-cipta dari segalanya, dan ilmu pengetahuan diturunkan lalu disebarkan ke Alam Semesta bertu-juan tidak lain untuk mengantarkan umat ke pemahaman yang lebih dalam tentang Dia, dan segala apa yang diciptakanNya.

Tidak lama sesudah kekhalifahan Islam melebarkan sayapnya yang pertama, Bani Abbasyiah memerintahkan rakyatnya menghimpun seluruh manuskrip Yunani yang beredar untuk mening-katkan citra. Sebilangan filosof Muslim kemudian menjadi terkemuka Timur Tengah sejak dari saat bersejarah itu, antara lain: Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Gazali, Ibnu Bajah, Ibnu Thufail, dan Ibnu Rusyd. Sejak dari abad ke-9 Masehi, kekhalifahan Al-Makmun berikut penerusnya, menjadi giat memperkenalkan filsafat Yunani kedalam masyarakat muslim di bumi bangsa Arab.

Setelah kekhalifahan Bani Abbasyiah turun dari singgasana tahun 750 dari Damaskus, di Kor-doba muncul Bani Umayyah membangun kekhalifahan di semenanjng Iberia, dan kala itu lebih dikenal dengan nama Andalusia dari tahun 929 hingga 1031 Masehi, tidak terkecuali ujung Utara benua Afrika waktu itu. Masa kekhalifahan dengan ibukota Kordoba itu, ditandai oleh kemajuan perdagangan dan budaya dari kedua tepi Laut Tengah, masing-masing bagian Timur di seputar: Yunani, Turki, Jazirah Arab, dan lainnya, dengan semenanjung Iberia, yang kini lebih dikenal dengan Eropa Barat: Portugal, Spanyol, Perancis, dan lainnya. Sejumlah bangunan ternama lagi megah yang didirikan oleh kekhalifahan Umayyah silam, masih dapat disaksikan di Spanyol saat ini, antara lain: Mesjid Agung Kordoba dan istana, dan didirikan masih pada zaman keemasan Bani Umayyah tersebut.

Dalam zaman kekhalifahan Bani Umayyah, Laut Tengah juga bernama Laut Mediterrania merupakan jalan-air sekaligus urat nadi perdagangan dan pengantar budaya dari kedua sisi Laut Tengah, karena jalan darat di pesisir Utara maupun Selatan Laut Tengah masih terbatas pada kafilah yang berjalan kaki dan kereta hela kuda atau ternak peliharaan lain yang sangat terbatas jangkauannya. Demikian juga hubungan perdagangan dan budaya antara semenanjung Iberia dengan negara-negara yang berada di daratan Eropa Barat, seperti: Perancis, Inggris, Belanda, Jerman, dan lainnya. Jalan-air samudra Atlantik terhindar dari kebekuan oleh lapisan es di mu-sim dingin, tidak lain berkat arus bawah laut teluk Meksiko yang hangat mengalir sampai jauh ke Utara yang sangat terkenal itu. Jalan-air samudra Atlantik telah berjasa besar mengembangkan perdgangan dan hubungan budaya antara semenanjung Iberia dengan kawasan Eropa Barat, sedangkan jalan-air Laut Tengah atau Laut Mediterrania berjasa mengembangkan tidak saja per-dagangan, tetapi pula mengantarkan beragam pengetahuan dan budaya dari seputar: Yunani, Turki, Jazirah Arab, bahkan dari Persia dan India, serta lainnya ke Eropa Barat yang berhasil dihimpun dan diolah para pemikir Arab menjelang renaissance (pencerahan) bersemi di daratan Eropa Barat silam.

Perhatian umat Islam kepada filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang dibawah kepe-mimpinan Bani Umayyah ke-5, yang dikenal bernama: Muhammad ibn Abdurrahman (832-886 M). Pada ketika itu para pemikir dan ilmuwan dari dunia Islam bukan lagi mereka yang tergolong kedalam kelompok Muslim orthodox. Mereka bersama kaum bukan-Muslim lain ambil bagian dalam menyebarluaskan hasil pemikiran: Yunani, Hindu, dan masa praIslam lainnya, lewat jalur kekerabatan dan persahabatan dengan umat Khristiani yang bermukim di Eropa. Mereka bersamasama menjadikan hasil pemikiran Aristoteles kembali dikenal oleh masyarakat Khristiani di Eropa, setelah lama hilang dari perbendaharaan ingatan mereka. Adapun para pemikir Islam yang amat tersohor pada ketika itu yang dapat diketengahkan, antara lain: Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Kindi. Ketiga filosof yang disebutkan akhir ini telah lama memper-kenalkan pemikiran: Aristoteles, Neoplatonis, dan lainya kedalam masyarakat Islam di Timur Tengah. Banyak kalangan saat itu yang menganggap mereka bukan lagi tergolong kedalam orang Islam orthodox, bahkan ada pula yang menyangka mereka bukan filosof Islam menyimak tulisan yang mereka kerjakan. Dibawah disampaikan sekelumit tentang para filosof Islam yang terkemuka pada zamannya.

Al-Kindi (801-873) seorang bangsa Arab keturunan suku Kinda, filosof peletak dasar filsafat Islam, lahir di Basra, Irak. Setelah menammatkan sekolah dasar di tempat kelahirannya, lalu meneruskan pendidikan ke Bagdad, mempelajari berbagai macam pengetahuan, seperti: mathe-matika, fisika, mistik, dan seni; tidak terkecuali juga lainnya. Ia berjasa memperkenalkan pengetahuan filsafat ke dunia Islam di Timur Tengah. Al-Kindi kemudian menjadi cepat terkenal di lingkungan “Rumah Kebijakan”, demikian juga kalangan kekhalifahan Abbassyiah, sehingga yang akhir ini menugaskannya menjadi pengawas penterjemahan bermacam naskah ilmu pengetahuan dan filsafat dari bahasa Yunani kedalam bahasa Arab. Ia tergolong ilmuwan Arab yang banyak meninggalkan karya tulis meliputi: metafisika, etika, logika, psikhologi, pengo-batan, pharmakologi, mathematik, astronomi, astrologi, optik. Al-Kindi juga orang yang menggemari permasalahan: meteorologi, gempa bumi, dan banyak lagi lainnya yang membumi pada masanya.

Al-Ash’arī (874–936) ialah seorang ilmuwan dan juga theolog Islam dari Timur Tengah ber- nama Al-Ash’arī. Ia lahir di Basra, dan masih keturunan dari salah seorang sahabat dekat nabi Muhammad SAW silam. Sebagai seorang muda, ia awalnya berguru kepada Al-Jubba’i, sebuah perguruan theologi Islam dan filsafat Mu’tazilah terkemuka pada ketika itu. Dan perguruan ini tidak lain dari sebuah “sekolah theologi” yang berlandaskan akal (reasning), yakni hasil pemikiran manusia bersifat logis (rational) dan sangat terkenal pada masa itu. Ia mengamalkan ajaran Mu’tazilah dengan penuh kesetiaan sampai usianya empat puluh tahun. Kemudian, pada suatu saat dalam bulan Ramadan, ia bermimpi bertemu dengan nabi Muhammad SAW. Mimpi yang sama ternyata berlanjut hingga tiga malam berturut-turut, dan memintanya untuk kembali padanya, yakni mengikui tradisi hadis. Sejak dari saat bersejarah itu, Al-Ash’arī lalu mening-galkan ajaran Mu’tazilah, dan berganti menjadi penentang utama ajaran yang semula di-anutnya dengan setia itu. Segala pengetahuan filsafat yang dikuasainya lalu dikerahkan untuk melawan ajaran, yang sebelumnya dengan setia dibelanya. Karena pengaruhnya yang sangat besar di Timur Tengah pada ketika itu, umat Islam menjadikan Al-Ash’ari seorang peletak dasar akidah sunni Ash’ari yang amat berpengaruh luas, bahkan Imam Al-Ghazali yang amat tersohor dengan empat kitab “Ihya Ulum ul-Addin” (Menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama) yang ditulisnya, juga menjadi pengikut setia darinya.

Ibnu Sina (980-1037) adalah seorang ilmuwan bangsa Arab lain yang menguasai beragam bidang ilmu pengetahuan, antara lain: filsafat, astronomi, kimia, geologi, psikhologi, theologi Islam, logika, mathematika, fisika, tidak terkecuali menulis sajak, sebagaimana yang kebanyakan dilakukan para ilmuan Arab di Timur Tengah ketika itu. Akan tetapi hasil karya yang melam-bungkan namanya di dunia, ialah yang menyangkut penyembuhan penyakit. Buku induk pe-nyembuhan yang dibuatnya tentang pengobatan beragam penyakit, menjadi kitab induk dua universitas ternama di Eropa ketika itu, yakni Montpellier dan Leuvant dari Perancis hingga tahun 1650 M.

Al-Ghazali (1058–1111) adalah theolog Islam dari Persia, penggemar hukum Islam, juga fil-safat, tidak terkecuali mistik. Ia menjadi seorang Muslim yang sangat berpengaruh di dunia Islam setelah wafarnya Nabi Muhammad SAW. Dalam dunia Islam, ia tergolong seorang pembaharu (mujaddid) keimanan Islam dari masanya, dan menurut tradisi keagamaan yang dipercaya masyarakat di Timur Tengah, orang seperti dia akan datang ke dunia sekali dalam seratus tahun. Hasil karya Al-Ghazali mendapat penghargaan yang sangat tinggi dari kalangan umat Islam yang sezaman, menyebabkannya mendapat gelar kehormatan: “bukti Islam”. Yang lain menuduhnya lawan dari aliran Islam berpandangan Neoplatonis yang pengikutnya juga juga banyak ketika itu, juga mereka yang berpandangan helenistik. Al-Ghazali juga berhasil mengem-balikan pengaruh kaum Islam orthodox yang masih terus mengamalkan ajaran Sufi yang mereka jalankan sebelumnya.

Al-Farabi (1165-1240) seorang sufi bangsa Arab dari Andalusia, juga seorang sufi mistik, dan seorang filosof. Ia menguasai banyak bidang ilmu pengetahuan, seperti: logika, penyembuhan, sosiologi, termasuk analisa posteriori dari Aristoteles. Lewat beragam naskah tulisan dan ko-mentar yang disampaikan, Al-Farabi kemudian menjadi tersohor dikalangan umat Muslim di Timur Tengah. Masyarakat intelektual abad pertengahan ketika itu menganugerahkannya gelar: “Guru Kedua”, sebagai penerus setia ajaran Aristoteles dari Yunani, dimana yang disebut akhir ini ialah: “Guru Pertama”nya. Al-Farabi menghabiskan sebagian besar masa hidupnya bermukim dan bekerja di kota Bagdad.

Ibnu Rushd (1126-1198) seorang kelahiran Kordoba Spanyol dan wafat di Marrakesh Maroko. Ia seorang berasal dari bumi Andalusia, seorang Muslim yang berpengetahuan amat luas meli-puti: filsafat Aristoteles, filsafat Islam, theologi Islam, hukum Maliki berikut yurisprudensinya, logika, psikhologi, politik dan theori klasik seni musik Andalusia, pengobatan, astronomi, geo-grafi, mathematik, tidak terkecuali mekanika gerakan benda langit di angkasa luar. Ibnu Rushd juga dikenal sebagai peletak dasar “filsafat sekular” yang kini dianut orang secara luas di benua Eropa dan berbagai bagian dunia lain. Ia menjadi seorang setia membela filsafat Aristoteles, meski berseberangan dengan theologi yang dikembangkan Ash’ari sesudah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW yang didukung oleh Imam Al-Ghazali.

Dari bumi Andalusia (Spanyol), karya filsafat yang dikembangkan cendekiawan bangsa Arab lalu diterjemahkan orang kedalam bahasa Yahudi dan bahasa Latin, dan dibawa ke Eropa untuk mengembangkan filsafat modern di bagian dunia itu. Dikalangan para filosof Arab pada masa itu, terdapat Maimodes seorang Yahudi yang hidup dan bekerja di kalangan Muslim Spanyol, juga ambil bagian dalam menterjemahkan karya filsafat Islam dari bahasa Arab ke berbagai bahasa lainnya. Terdapat juga seorang kelahiran Tunisia asal Andalusia bernama Ibnu Khaldun dari kalangan ilmuwan Muslim ketika itu, yang kemudian menjadi peletak dasar ilmu kema-syarakatan kini dikenal dengan istilah sosiologi dan histerografi (hysterography), ialah ilmuwan Arab penting lain terkemuka ketika itu, meski ia tidak menyebut diri sebagai seorang filosof, tetapi seorang penulis kalam saja.

Dalam abad pertengahan dari abad ke-5 hingga abad ke-15, runtuhnya kekaisaran Romawi, dan berpisahnya Gereja Latin Barat dipimpin Bishop dari Roma dengan Gereja Orthodox Timur pimpinan Patriarch dari Konstantinopel pada tahun 451, telah lama hilang dari ingatan orang banyak, tidak terkecuali kecakapan membaca dan menulis dengan abjad Yunani. Akan tetapi, kedatangan filsafat Yunani yang diperkenalkan kembali ke Eropa, hasil terjemahan dari bahasa Arab ke bahasa Latin dan bahasa Yahudi berikut sejumlah catatan dan keterangan yang dikerjakan para pemikir Arab, membawa pengaruh besar kepada filsafat yang kembali muncul dan berkembang di Eropa daratan ketika itu, dan dampaknya jauh hingga memasuki zaman renaissance (kembali ke zaman Yunani kuno) di bagian dunia itu dalam abad pertengahan lalu.

2. Filsafat Islam di Asia Tenggara
Setelah muncul di jazirah Arab dan berkembang di Timur Tengah dan sekitarnya, agama Islam kemudian melebarkan sayap ke Asia, tidak terkecuali Asia Tenggara, diantarkan para mubaligh dan kaum pedagang. Ada mereka yang datang dari Mekah, ada pula yang datang dari Gujarat (India), lainnya berangkat dari Persia, dan berbagai tempat lain. Lalu muncul Kesultanan Islam di kawasan Asia Tenggara, berikut perlembagaan Islam, antara lain: pemerintahan, pendidikan, kehidupan, kesusastraan, kesenian; tidak terkecuali perekonomian rcorak Islam.

At time when Ibn Battuta a Maroccon traveler paid visit to a country named: Samudera Pasai Sultanate in the South East Asian region in 1345, he met a solemn King from the Al-Shafi’i mazhab (Islamic law dotrine) was ruling the country.

The Sultanate established by located on the north Perlak, now area of (east cost of Aceh), adjacent directly to the strait Malacca; governed the country until 1297. The King later converted to Islam called in Arabic as. It was then clear, that the school of thought of Imam Al-Shafi’i supported by Imam Al-Ghazali already been spread over South East Asian region on entering the 13 th century.

Pada waktu Ibnu Batutah (1304–1368), pengelana asal Maroko singgah di suatu negeri yang bernama: Kesultanan Samudra Pasai di Asia Tenggara tahun 1345 silam, ia berjumpa dengan se-orang Muslim saleh mazhab Al-Shafi’i yang menjadi Sultan di Samudra Pasai. Kesultanan itu didirikan oleh Meurah Silu tahun 1267, memerintah sampai tahun 1297, terletak di Utara Perlak kini termasuk wilayah Lhok Seumawe, Aceh Timur, terdapat langsung ditepi Selat Malaka. Sultan lalu masuk Islam dan memperoleh nama Arab: Malik ul-Saleh, atau Sultan as-Saleh. Dengan demikian tampak jelas ajaran Imam Ash’ari yang didukung Imam Al-Ghazali telah menyebarkan mazhab sunni Ash’ari ke kawasan Asia Tenggara memasuki abad ke-13 Masehi.

Kesejahteraan Umat
a. Sistim Ekonomi Bebas, atau Liberal
Dalam zaman merkantilis di Inggris silam, setiap orang boleh mejalankan beragam usaha (business) untuk mencari nafkah, mulai menghasilkan beragam barang (produk), hingga menye-diakan layanan bermacam jasa (service), atau keduanya, dalam memenuhi permintaan segala macam lapisan masyarakat. Semuanya diperdagangkan orang di pasar-pasar yang terdapat di-mana-mana. Lalu muncul persaingan diantara para penyedia barang atau jasa, atau keduanya oleh “tangan-tangan tersembunyi” (invisible hands), dengan harga (price) dan mutu (kualitas) barang atau jasa dihasilkan dalam jumlah (kuantity) dan penyerahan (delivery) barang atau jasa terikat dalam kesepakatan dagang (contract). Pendapatan kaum pengusaha ditentukan oleh banyak barang dan jasa yang terjual dalam setahun. Pemerintah hanya bertugas sebagai pengawas dan pengatur tatausaha (administrator) yang melancarkan kegiatan dagang, dan samasekali tidak mencampuri urusan para pengusaha menghasilkan barang atau jasa, akan tetapi menyediakan tempat berusaha dengan perangkat aturan dan lingkungan: ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang sama untuk semua, terhadap pungutan (pajak) dikenakan.

Memasuki abad pencerahan, dibekali filsafat dan beragam ilmu pengetahuan yang diolah dan diantarkan bangsa Arab dari Timur Tengah, landasan berfikir kaum intelektual orang-orang Eropa lalu berkembang sedemikian jauh, yang memungkinkan mereka mengembangkan berma-cam pengetahuan “tepat guna” di berbagai bagian dunia itu. Ini tampak jelas dengan diguna-kannya “analisa ilmu” scientific analysis) untuk mengembangkan mesin-uap, awalnya dipicu pompa air vakum udara yang diperkenalkan Thomas Savery (1650-1715) dari Inggris, dengan menyiram air dingin kedalam bejana berisi uap bertekanan, lalu diperbaiki Thomas Newcomen (1664-1729) rekan senegaranya mengganti bejana dengan silinder berpengisap, untuk tujuan yang sama. James Watt (1736-1819) rekan senegara lain memanfaatkan kedua temuan rekannya menciptakan “sumber tenaga gerak” (source of mechanical energy) pertama di dunia memanfaatkan tekanan uap yang banyak diperlukan orang untuk menggerakkan beragam industri saat itu. Ketiga orang Inggris ini berhasil merobohkan kartu: “domino teknologi” pertama di muka bumi, memperkenalkan sumber tenaga alam hasil rekayasa akal-budi manusia, sekaligus membidani “revolusi industri” di muka bumi yang dimulai dari Eropa, lebih dari dua abad silam.

“Analisa ilmu” yang dikuasai segelintir bangsa di Eropa ketika itu, kemudian diperluas ruang lingkup kajiannya, tidak terbatas pada sumber tenaga gerak dan industri yang telah dilahirkan-nya, tetapi juga ke bidang-bidang kegiatan lain, antara lain: politik, sosial, ekonomi, dan lain, berpuncak pada kajian “Kesejahteraan Hidup Beragam Bangsa” di muka bumi sebagaimana yang disampaikan Adam Smith dari Inggris. Akan tetapi yang jelas, pengaruhnya telah membuat “sistim ekonomi merkantilis”, beralih menjadi “sistim ekonomi kapitalis” di Inggris, dan sejumlah negara Eropa lainnya saat itu, yang lalu dikenal dengan “kapitalisme”, karena memperoleh amunisi dari perkembangan revolusi industri yang melaju pesat. Adam Smith kemudian melanjutkan kajiannya dengan: “Memperbaiki Keadaan Dunia”, yang lalu menimbul-kan pertanyaan: apakah industrialisasi akan menyejahterakan kehidupan umat di bumi, ditilik dari angka harapan hidup manusia, jam kerja singkat, dan pertanyaan apakah anak-anak dan orang-orang tua dapat dibebaskan dari kewajiban bekerja mencari nafkah?

Sejak awal revolusi industri, kapitalisme berkembang pesat di Eropa didukung kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah terhimpun dan berkembang pesat di bagian dunia itu. Mobil dengan cepat menggantikan kereta hela ternak di jalan-jalan raya berbagai negara, diawali dari Eropa, kemudian menyebar ke Amerika Utara, lalu Jepang, dan bagian dunia lainnya. Angkutan jalan-baja dihela lokomotif-uap membakar batubara melahirkan kereta-api, lalu menebar jaringan ke berbagai negara di Eropa melayani angkutan penumpang dan barang, lalu diexport ke berbagai negara seberang lautan, tidak terkecuali Asia, oleh “ongkos angkut” muatan: penumpang dan barang yang murah. Transportasi air juga ikut berkembang, mulai dari: kanal, sungai, danau, laut, hingga samudra yang selama ini dikuasai kapal layar, digantikan mesin-uap karena dapat diandalkan ketimbang hembusan angin; kini telah pula diambil alih mesin diesel. Keberhasilan Wright bersaudara dari Amerika Serikat menciptakan “kapal terbang”, sekarang disebut pesawatterbang, memungkinkan dikemkembangkannya angkutan udara menerobos atmosfer bumi untuk memindahkan penumpang dan barang lebih cepat melintasi pulau, benua, dan keduanya. Selain berbagai industri dan sarana angkutan yang telah dikemukakan sebelumnya, sumber tenaga gerak hasil rekayasa akal-budi manusia ini telah pula melahirkan tak terbilang banyak pabrik dan industri berikut keragamannya bermunculan di muka bumi, antara lain: pabrik semen, industri baja, pabrik pengolahan logam, tambang batubara, tambang berbagai macam mineral, pengeboran minyak termasuk kilang pengolahan minyak mulai daratan hingga lepas pantai, industri: plastik, bahan bangunan, kimia, pharmasi, kertas, makanan dalam kema-san; dan masih banyak lagi lainnya.

Dalam perjalanan waktu, kapitalisme berkembang pula menjadi imperialisme, karena menguasai lahan yang semakin luas di muka bumi, yang berubah menjadi tanah jajahan atau koloni. Kolonialisme lalu melanda dunia, dan menguasai tanah subur yang diubah menjadi perkebunan tanaman ekonom yang beraneka ragam, antara lain: karet, kelapa sawit, tembakau, gula, dan lain sebagainya; untuk menghasilkan ban kendaraan bermotor, minyak goreng dan lainnya, rokok, gula tebu, dan lain sebagainya yang diperlukan pasar dunia. Penggalian tambang seperti: batubara, minyak bumi, gas dan lainnya di tanah jajahan diperlukan untuk memasok keperluan industri yang cepat berkembang di: Eropa, Amerika Utara, Jepang, yang lapar bahan-baku, da-haga bahan-bakar dan minyak lumas, berlanjut jauh menerobos masuk kedalam abad ke-20 silam.

Sejak awal dari revolusi industri, kapitalisme telah berhasil mendirikan beragam industri: mulai ringan hingga berat dan sangat berat di berbagai negara beragam belahan bumi. Sebagai akibatnya, tidak dapat dihindarkan munculnya aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan, berupa: bahan-bakar (batu-bara, minyak bumi, dan gas), berjenis mineral berguna (biji besi untuk membuat besi dan baja, tembaga, aluminium, logam mulia, dan lainnya); dan masih banyak lagi yang lain. Bahan-bahan ini dibutuhkan negara-negara yang memproduksi beragam barang, seperti: sarana dan prasarana angkutan: darat, laut, udara, antariksa; menyedia-kan perlengkapan perang dan peralatan militer termasuk mesin dan peralatan tempur serta ar- mada kapal perang laut, dan skwadron pesawat tempur, serta masih banyak lagi kebutuhan negara dan masyarakat mulai dari lokal hingga dengan global. Juga industri penyedia minuman dan makanan kemasan, industri texstil, industri pertanian, industri peternakan dan perikanan, dan banyak lainnya. Aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan ini sudah mulai sejak awal dimulainya revolusi industri di muka bumi lebih dari dua abad yang silam, dan masih berlangsung sampai dengan hari ini, dan berlanjut terus ke masa akan datang; kini dikenal dengan nama: “aliran benda” (materi)”.

Selain kepiawaian menghasilkan beragam barang atau jasa menurut: harga, mutu, jumlah, dan waktu penyerahan yang disepakati dalam perjanjian (kontrak); masalah yang timbul dari kehadiran kapitalisme saati ini di muka bumi: pertama limbah-gas hasil pembakaran bahan-bakar (padat, cair, dan gas) terus menerus dihamburkan menuju ke atmosfer planet biru oleh beragam sarana angkutan: darat, laut, dan udara, mengganggu pernafasan; kedua limbah-cair beragam rumah tangga dari tidak terkecuali asal rumah-tangga dari kota kecil besar hingga besar yang ada di muka di bumi mulai desa, kota kecil hingga kota besar dibuang menuju ke badan-air d muka bumi. Begitu juga cairan buangan beragam industri, tambang, kilang, kegiatan koperasi ekonomi masyarakat, dan lainnya., dibuang begiu saja menuju badan-air (parit, kolam, kanal, sungai, danau, laut, hingga samudra), mencemari minunan dan makanan umat, tidak terkecuali makhluk lain yang menimbulkan gangguan kesehatan, mulai lahir (fisik) hingga bathin (mental); ketiga: limbah-padat rongsokan beragam sarana angkutan (darat, laut, udara, dan lainnya) hasil buatan bermacam industri yang telah habis masa pakai ekonominya. Juga sarana dan prasarana beragam industri, aneka ragam tambang, instalasi pengeboran minyak dari darat hingga lepas pantai; bangkai bermacam peralatan elektronik dan teknik digital termasuk jutaan gadget dan lain sebagainya yang telah ketinggalan zaman dan kalah mutakhir tidak lagi digunakan. Juga tidak terkecuali pula bermacam perabotan dan perlengkapan rumah tangga bikinan industri yang tidak lagi diinginkan, diterlantarkan begitu saja dimana-mna di muka bumi menyita lahan dimana-mana. Sejak dari awal revolusi industri di Eropa silam, ketiga golongan limbah ini semuanya berasal dari “aliran benda (materi)” meninggalkan perut bumi menuju permukaan planit biru yang tidak pernah berhenti barang sedetik, dan terus mengalir hingga dengan hari ini.

Tidak dapat disangkal lagi, kini “aliran benda (materi)” yang meninggalkan perut bumi menuju permukaan semakin besar jumlahnya dalam “juta metric-ton”, mengikuti pertumbuhan penduduk bumi yang terus meningkat, termasuk aktivitas dan kreativitas yang mereka lakukan selama hayat di muka bumi, bagai bola salju yang sedang menggelinding di lereng gunung Alpen di Eropa selama musim dingin. Selain dari itu, kapitalisme juga semakin mengendalikan dan menguasai perekonomian manusia dunia. Kaum kapitalis juga semakian bersaing dalam mendapatkan bermacam benda (materi) berharga yang mereka butuhkan dari dalam perut bumi, baik yang ada di negerinya sendiri demikian juga yang diperoleh dari diluar Tanah-Airnya, menyebabkan ekosistim di muka bumi semkian tidak mudah dipelihara kelestariannya. Selain dari itu kapitalisme banyak berpengalaman dalam bidang menghasilkan barang industri atau komoditi didukung SDM bermutu dan sumber dana alam global, menyebabkan lingkungan hidup di muka bumi, terutama di dunia ketiga yang kurang pengetahuan dan lemah pengawasan, tidak dapat terhindar dari exploitasi SDA berlebihan dalam memenuhi permintaan pasar global.

Kini kapitalisme harus mencari jalan, agar “aliran benda (materi)” dari dalam perut bumi menu-ju permukaan tidak lagi berakhir menjadi: 1. “limbah-gas” yang mencemari udara atmosfer menyelimuti bumi yang mengganggu pernafasan, 2. limbah-cair dari pemanfaatan air-bersih dalam segala bidang kehidupan, usaha, dan industri tidak lagi mencemari badan-air di muka bumi, dan 3. limbah-padat rongsokan bermacam produk industri hasil ciptaan dan kreasi manusia tidak lagi diterlantarkan orang dimanamana menyita lahan di muka bumi. Harus dicarikan jalan keluar, agar aliran bahan dari dalam perut bumi menuju permukaan tidak melahirkan pencemaran: mulai yang biasa, yang berbahaya, apalagi pencemar yang sangat berbahaya terhadap makhluk hidup; menghindarkannya memasuki tubuh manusia atau makhluk lainnya melalui: minum, makan, bernafas, dan kegiatan sehari-hari, sehingga gang-guan lahir (fisik), antara lain: tidak normal bekerja atau berfungsinya berbagai organ tubuh, tidak terkecuali dampak bathin (mental), seperti: keanehan berprilaku dalam kegiatan sehari-hari, kelemahan berfikir, hingga dengan kehilangan ingatan dini, dan lainnya.

Salah satu gagasan yang pantas mendapat acungan jempol untuk butir pertama, ialah apa yang kini tengah diujicoba dengan penuh kesungguhan menggunakan Bahan-Bakar Hidrogen (BBH). Apa yang sedang diusahakan orang di muka bumi, ialah hijrah dari “ekonomi bahan-bakar fossil” (fossil-fuel economy) menuju “ekonomi bahan-bakar hidrogen” (hydrogen-fuel economy) untuk angkutan darat, sehingga gas hasil pembakaran yang muncul dalam mesin, dalam hal ini sel bahan-bakar (fuel cell) yang menggerakkan mesin listrik hanyalah air. Gagasan ini awalnya diperkenalkan oleh John Bockris dari Pusat Teknik General Motor, Amerika Serikat, pada suatu pembahasan di tahun 1970 silam. Kemudian pada tanggal 10 October 1997, Richard Daley, walikota Chicago dengan rekannya bepergian dalam kota mengendarai bis yang berbahan-bakar hidrogen, unsur kimia terdapat dalam tabel Mendeleyev terbanyak adanya di muka bumi, dipisahkan dari gas alam dengan proses kimia. Sebuah Sel Bahan-Bakar (SBB) dapat mengubah hidrogen yang dialirkan kedalam SBB menjadi “tenaga lisrik” dan “air”, tanpa pembakaran samasekali, diperkenalkan oleh Ballard Power Systems (BPS) dari Vancover. SBB ternyata “tiga kali” lebih hemat (efisien) dari pengubah “panas” menjadi “gerak” lewat pembakaran yang digunakan orang sampai hari ini yang dikenal dengan: MPL dan MPD.

Bagaimana efisiensi pasangan SBB dengan mesin listrik dapat mencapai “tiga kali” lebih hemat dari MPD yang membakar BBH? Bayangkan sebuah MPD, setelah pemantikan berlangsung, muncul gas (uap) bertekanan dan suhu amat tinggi muncul seketika diatas pengisap (piston), dan panas dipancarkan ke segala arah. Hanya panas kejurusan bawah bersama pengisap yang langsung diubah menjadi gerak (mekanik). Itulah sebabnya mengapa hanya sekitar 25 % panas yang dapat diubah menjadi gerak, sedangkan 75% lainnya terbuang percuma memanasi mesin, terbuang bersama air pendingin, dan terbuang keluar bersama gas buang. Akan tetapi untuk pasangan SBB dengan mesin listrik, tidak terdapat pembakaran samasekali, sehingga 100% “panas” langsung diubah menjadi tenaga listrik melalui reaksi kimia. Ketika tenaga listrik digunakan dalam mesin listrik, muncul panas yang diakibatkan pengantar dialiri arus sejumlah 25 %. Lainnya masih dalam bentuk listrik, dan itulah sebabnya mengapa pasangan SBB dengan mesin listrik menjadi tiga kali lebih hemat (efisien) dari sebuah MPD.

Tenaga listrik dibangkitkan dalam SBB lalu disalurkan kedalam mesin listrik yang mengubahnya menjadi gerak untuk menjalankan bis BPS. Gas buang yang dikeluarkan bis, dalam hal ini SBB, hanyalah uap-air yang samasekali tidak tercemar. Sang walikota meminum segelas air yang langsung diambil dari knalpot bis sambil berkata: “tidak jelek”. Bis dijalankan sel bahan-bakar dapat melaju sampai kecpatan 80 km/jam, menempuh jarak 400 km atau sehari penuh perjalanan bis untuk sekali pengisian BBH.

Untuk butir kedua, guna menghindarkan air-kotor mengotori badan-air yang ada di muka bumi, air-kotor yang memuat beragam pencemar perlu terlebih dahulu dialirkan kedalam Instalasi Penjernihan Air (IPA) guna memperoleh kembali air-bersih. Hanya air-bersih yang boleh dibuang kedalam badan-air apapun bentuknya yang ada di muka bumi. Alam pun telah jutaan tahun memberi contoh menurunkan hujan hanya dari air-bersih menyebabkan embun di pagi hari menyegarkan bila disentuh. Alam juga telah jutaan tahun memperlihatkan memisahkan beragam bahan pencemar dari air-kotor lewat “penguapan” menggunakan panas matahari, lalu mengum-pulkannya semuanya kedalam awan, dan setelah angin menyebarkannya kemana-mana, akhirnya setelah mendingin dijatuhkan kembali sebagai hujan.

Perlu dikembangkan bermacam IPA, mulai kebu-tuhan rumah tangga ukuran mini untuk desa, kota kecil, hingga kota besar dan kawasan industri yang berukuran raksasa. Dengan demikian, hanya air bersih yang boleh dibuang kedalam badan-air yang terdapat di muka bumi, seperti selokan, kolam, kanal, danau, sungai, laut, hingga dengan samudra. Perlu diketahui, lebih dari 70% berat tubuh manusia, tidak terkecuali bermacam makhluk lain, ialah air. Itulah sebabnya mengapa manusia, demikian juga makhluk lainnya sangat peka terhadap air tercemar; karena manakala yang akhir ini masuk kedalam tubuh lewat aktivitas: minum, makan, dan berkegiatan, akan dapat menyebabkan timbulnya gangguan lahir (fisik), tidak terkecali munculnya ggangguan bathin (mental) tidak diinginkan.

Sedangkan untuk butir ketiga, limbah-padat: rongsokan bermacam sarana angkutan (mobil, kapal, pesawatterbang, aneka ragam mesin perang, dan lain sebagainya); begitu juga rongsokan konstruksi baja dan lain sejensnya, tidak terkecuali instalasi tambang dari daratan hingga lepas pantai, dan masih banyak lagi yang lain. Memasuki milenium ketiga, muncul pula onggokan beragam benda sampah teknologi informasi dan telekomunikasi (komputer, telepon pintar, tablet, dan lain sebagainya) berubah menjadi limbah. Untuk menghindarkan munculnya tumpukan lim-bah teknologi elektronik-digital (digital-electronic) diterlantarkan orang berserakan di dimana-mana menyita lahan di muka bumi, perlu dibangun “cadangan berputar” (spinning reseve) yang menjadi sumber “bahan baku” kebutuhan industri untuk membuat beragam barang baru mulai yang berukuran kecil hingga dengan raksasa. Adapun yang dimaksud dengan cadangan berputar itu tidak lain dari “Bank Bahan Baku”, disingkat BBB (Bank of Raw Materials, disingkat BRM). Sebagaimana yang telah diteladankan TMH (Teknologi Mahluk Hidup) menyediakan “pe-mangsa” (predator) untuk menghilangkan makhluk yang tidak lagi bernyawa dari permukaan bumi, sebagai bagian dari rantai makanan bertugas “mendaur ulang” beragam jasad yang telah ditinggalkan ruh agar tidak menjadi pencema di muka bumi. Maka sejalan dengan apa yang telah dilakukan TMH diatas, maka terhadap berbagai macam barang hasil industri bikinan manusia apapun ragamnya, juga perlu diperlakukan dengan cara yang sama, yakni menghadirkan “mesin pemangsa” bekerja menghancurkan berbagai rongsokan barang (produk) hasil industri yang telah habis masa pakai ekonominya, kembali menjadi bahan baku guna disimpan kedalam cadangan berputar atau BBB. Dengan cara daur ulang demikian rongsokan barang hasil industry bikinan manusia tidak lagi menjadi sampah yang berserakan mencemari lahan di muka bumi.

Dengan demikian kini perlu dihadirkan Industri Pemangsa, disingkat IP (Predator industry, disingkat PI) dengan bermacam Mesin Pengurai, disingkat MP (Reduction Machine, disingkat RM) di muka bumi yang bekerja mendaur ulang beragam barang (produk) hasil industri yang telah habis masa pakai ekonominya. IP bersama beragam MP akan menjadi pemasok bahan-baku untuk BBB digali dari tambang perkoaan (urban mining) dimanapun adanya di muka bumi, antara lain: baja, tembaga, aluminium, dan lain sebagainya, untuk disimpan kembali kedalam cadangan berputar. IP akan mendatangkan lagi berjenis bahan-baku yang dibutuhkan oleh beragam industri yang menghasilkan berjenis barang (produk) yang dibutuhkan pasar, dihasilkan aneka ragam industry manufaktur hingga dengan beragam kerajinan rumah tangga mulai dari kota hingga ke desa. Dengan demikian mereka yang membutuhkan bermacam bahan-baku langsung dapat memperoleh dari BBB, sehingga kedepan penggalian tambang langsung dari dalam perut bumi terhadap beragam mineral asal alam perlu dibatasi untuk hanya kekurangan stok dalam BBB dengan pengawasan ketat. Melalui penyediaan cadangan berputar dari IP di mu-ka bumi, maka ekosistim yang telah terpelihara baik tidak lagi akan dapat dirusak dengan semena-mena oleh orang-orang yang tidak bertanggung-jawab sebagaimana yang banyak terjadi dewasa ini guna melindungi planit biru, satu-satunya benda langit istimewa yang ada di Alam Semesta, kini diketahui telah memasuki berusia 4,6 Miliard tahun.

b. Sistim Ekonomi Terpimpin, atau Diktator
Sosialisme muncul sebagai kritik terhadap kapitalisme. Ajaran Marxis lahir dari penolakan terha-dap lahirnya “revolusi industry” di Eropa silam. Menurut Karl Marx (1818-1883), industrialisasi akan mengelompokkan komunitas manusia kedalam kaum borjuis (bourgeoisie), yakni kelompok orang yang sedikit jumlahnya tetapi menguasai bermacam alat produksi mulai tanah sampai ber-macam pabrik hingga industry yang besar jumlahnya, dan kaum proletar (proletariat), ialah orang-orang yang tidak memiliki apapun selain dirinya yang banyak jumlahnya melakukan pekerjaan menghasilkan sesuatu dari setiap alat produksi yang dimiliki kaum borjuis. Marx menganggap industrialisasi sebagai dialektika logis pelaku ekonomi kaum feodal menuju kapita-lisme sempurna, dan yang akhir ini merupakan pendahuluan tercapainya komunisme. Dalam sistim sosialis segala alat produksi berikut keragamannya, juga bermacam usaha (business) adalah miliki dan dikelola Negara, dalam hal ini dikelola pemerintah komunis dengan deologi Marksisme Leninisme. Semua warga negara bekerja kepada negara: “memberikan kepada negara sesuai kemampuan, dan mendapat dari negara menurut keperluan. Akan menyalahi moral sosia-lisme, manakala ada anak bangsa menjalankan usaha (business) pribadi menghasilkan barang atau jasa atau keduanya mempekerjakan (mengeksploitasi) rekan sebangsanya, dengan memba-yar upah (uang) kepadanya sebagai imbalan jasa.

Sepeninggal Marx, para pengikutnrya terbelah. Sekelompok yang berkembang di Jerman lalu meninggalkan ajaran revolusi Perancis (1789-1799) yang menewaskan Raja Louis XVI yang tengah bertahta di negeri itu, menimbulkan beragam terror dimana-mana di seluruh negeri yang menyengsarakan kehidupan bangsa, mencari jalan damai untuk memperbaiki nasib kaum buruh di daratan Eropa jalan reformasi. Kelompok lain pengikut kaum Marxist Ortodox K. Kautsky, dipimpin W.I.Lenin, ingin mengulangi lagi ajaran revolusi Perancis 128 tahun silam, akan tetapi kini untuk menggulingkan Tsar Nikolas II dari singgasana di ibukota Rusia Petrograd, berlangsung tanggal 7 Nopember 1917, dengan menggerakkan kaum buruh negeri Beruang Merah itu. Revolusi berdarah kaum Bolshevik pimpinan W.I. Lenin berhasil menggulingkan dan menyingkirkan Raja bersama keluarganya ke Ekaterinburg di pedalaman Siberia. Lenin kemudian menyusun pemerintahan diktator proletariat di Rusia didukung kaum Bolshevik yang dipimpin Partai Komunis tunggal menguasai negara tanpa dibolehkan adanya kaum oposisi dan kritik terhadap pemerintah yang sedang berkuasa.

Pada ketika itu, kekaisaran Rusia sedang bergiat mengembangkan sistim ekonomi kapitalis yang bertanggungjawab terhadap kesejahteraan rakyatnya, sebagaimana yang dilakukan banyak negeri di daratan Eropa pada saat itu, akan tetapi dengan keberhasilan kaum Bolshevik menggulingkan Sang Tsar dari singgasananya, “sistim ekonomi kapitalis” yang tengah berkembang pesat di Rusia, terpaksa diganti dengan “sistim ekonomi sosialis” pertama di muka bumi sesuai ajaran Marx, dan nama Negara pun ditukar menjadi: Uni-Sovyet. Dengan demikiann sistim ekonomi kapitalis yang sudah dimulai Tsar Nikolas II untuk bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat Rusia, langsung ditukar menjadi sistim ekonomi sosialis pertama di dunia. Sistim ekonomi akhir ini kemudian disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia; dan pasca perang dunia ke-II menjadi wajib diterima oleh Negara-negara yang kemudian menjadi “satelit Uni-Sovyet”, tidak terkecuali beberapa negara dari dunia ke-III dan anggota negara-negara Non-blok yang menaruh minat mencicipi sistim ekonomi sosialis yang menjanjikan kesejahteraan bangsa.

Ketika negara Beruang Merah itu dilanda kekalutan politik berat, Michail Gorbachov selaku presiden Uni Sovyet lalu memperkenankan diselenggarakannya pemilu diseantero negeri, satu-satunya pemilu yang pernah ada sejak berdirinya negeri Beruang Merah dengan sistim ekonomi sosialis yang dipimpin Partai Komunis. Kemudian keluar sebagai pemenang pemilu di RFSR (Republik Federasi Sosialis Rusia) berlangsung secara demokratis pada tanggal 26 Maret 1989, B. N. Boris Yeltsin; padahal yang akhir ini telah menyatakan diri keluar dari Partai Komunis yang masih berkuasa di bumi Beruang Merah itu. Rakyat di RFSR, salah satu negara bagian Uni-Sovyet yang berbentuk federasi itu memperlhatkan jelas apa yang diinginkannya.

Setelah lebih dari tujuh dekade mengendalikan pemerintahan di Kremlin, kantor pemerintah Uni-Sovyet di Moskow, sosialisme atau sistim ekonomi sosialis terbukti gagal memenuhi janjinya untuk bertanggungjawab mensejahterakan kehidupan rakyat di seantero negeri, oleh ideologi yang sudah usang, terus saja membodohi anak bangsa dengan bermacam indoktrinasi orthodox ketimbang mencerdaskan mereka, membelenggu kebebasan individu dan menyatakan pendapat, serta melanggar hak azasi manusia. Uni-Sovyet pada ketika itu, masih merupakan satu negara adidaya dunia, pemimpin Negara Sosialis dari Blok Timur, hilang begitu saja ditelan sejarah dari permukaan bumi. Sebagai gantinya, lahir sejumlah negara baru, salah satu darinya ialah Federasi Rusia (Russian Federation) yang dipimpin oleh B. N. Boris Yeltsin; kembali menjadi negara demokratis. Yang akhir ini menyambut kembali “sistim ekonomi kapitalis” yang bertanggung jawab kepada kesejahteraan rakyat, sebagaimana yang dirintis oleh kekaisaran Rusia silam, dan memulihkan lagi perekonomian negeri yang telah porak poranda.

Uni-Sovyet berjaya selama lebih dari 72 tahun (1917-1989), memang berusaha keras untuk membuktikan sosialisme yang menuju komunisme, sebagaimana yang diajarkan oleh ideologi Komunis, akan tetapi dalam perjalanan waktu ternyata gagal. Sosialisme juga tidak memperli-hatkan keunggulan dalam berbagai bidang, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi berikut penerapan keduanya dalam memperbaiki kesejahteraan hidup anak-anak bangsa. Manakala dibandingkan dengan Jerman dan Jepang, sedemikian hancur di bom oleh sekutu dalam Perang Dunia ke-II silam, dalam perjalanan waktu hanya sedikit lebih dari setengah abad, masing-masing berhasil tampil menjadi raksasa-raksasa ekonomi ke-2 dan ke-3 dunia sesudah Amerika Serikat, akan tetapi dalam waktu tidak jauh berbeda Uni-Sovyet justru lenyap dari muka bumi. Negara adidaya dunia saingan Amerika Serikat itu, juga kelihatan kelabakan saat berhadapan dengan bencana Chernobyl pada tanggal 26 April 1986 lalu. Pertolongan datang menghadapi bencana nuklir mengerikan di Ukraina, sebuah negara bagian negeri itu, kebanyakan datang dari negara-negara kapitalis ketimbang negara-negara sosialis yang sealiran ideologi menghadang serbuan sinar radio-aktif. Perlu dicatat, pada ketika itu “perang dingin” antara Blok Barat dan Blok Timur masih belum lagi berakhir.

Sosialisme juga tidak memperlihatkan penyelesaian terhadap masalah limbah, sebagaimana yang dihadapi negara-negara kapitalis, mulai rumah-tangga hingga dengan buangan beragam industri dari ringan hingga berat yang melanda berbagai negara kapitalis di dunia ketika itu. Pasca runtuhnya Uni-Sovyet, barulah media berani mengabarkan kerusakan lingkungan yang telah terjadi di negara bersistem ekonomi sosialis yang bernama tirai besi. Kerusakan lingkungan juga kemudian terkuak ke media di berbagai negara satelit Beruang Merah itu, oleh lamanya terisolasi dari masyarakat dunia karena perbedaan ideologi, juga ketidak berdayaan sistim ekonomi sosialis mengembangkan beragam prakarsa berkaitan dengan menjaga kelestarian ekosistim di muka bumi. Tidak dapat disangkal terseretnya negara-negara anggota non-blok yang menerapkan sistim ekonomi sosialis model Uni-Sovyet untuk mensejahterakan kehidupan bangsa, kemudian terjerumus kedalam penanganan lingkungan hidup birokratis yang merugikan ekosistim bumi dari negara bersangkutan.

c. Sistim Ekonomi Romantis
Revolusi industri berkembang di Eropa lalu meluas ke Amerika Utara, kemudian Jepang dan sejumlah bagian dunia lain, tidak disangkal lagi mendapat perlawanan dari para penentangnya, antara lain: penulis, kaum intelektual, para penggiat budaya beragam seni, dan lain sebagainya. Kelompok masyarakat di daratan Eropa yang kala itu menolah kehadiran revolusi industri digerakkan kaum pengusaha diberi julukan: kaum romantis. Kedalam golongan ini termasuk juga para penyair yang rajin menyuarakan buah fikiran dan suara hati lewat tulisan, seperti: makalah, pembacaan puisi, menulis sajak, dan lain sebagainya. Mereka juga mempertontonkan karikatur, melakukan pementasan panggung hingga theater, dan masih banyak lagi kegiatan lain yang mereka kerjakan. Kaum romantis ingin menjaga hubungan yang harmonis antara manusia de-ngan lingkungan hidup alamnya di muka bumi, bersenjatakan kepiawaian beragam seni dan kekayaan warisan budaya lewat media bahasa. Apa yang mereka perbuat bertolak belakang samasekali dengan beragam mesin ukuran gergasi dan bangunan raksasa yang semakin bermun-culan dalam lingkungan hidup manusia pada saat itu. “Dark Satanic Mills” karya William Blake, novel “Frankenstein” tulisan Marry Shelley, dan masih banyak lagi lainnya, ingin mengadu ke-pada dunia terhadap ketidak senangan mereka pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di daratan Eropa yang berwajah ganda. Pernyataan dilontarkan dan prilaku dipera-gakan semuanya menampakkan sikap tidak senang. Akan tetapi kaum romantis tidak pernah memperjuangkan berdirinya sebuah negara dengan pemerintahan yang beranggungjawab kepada kesejahteraan rakyat suatu bangsa, dan itulah sebabnya mengapa tidak ada tulisan diketahui yang dikerjakan tentang kelebihan atau kekurangan: “sistim ekonomi romantis” yang bertanggung-jawab terhadap kesejahteraan sebuah bangsa di muka bumi, terkecuali keinginan besar untuk menjaga dan memelihara kelestarian ekosistim di bumi yang terbentang di hadapan mereka di permukaan planit ini.

Pencemaran Muka Bumi
Pencemaran di muka bumi memang bukan persoalan baru, karena telah timbul sejak ribuan tahun silam disebabkan beragam bencana, antara lain: meletusnya gunung-api yang menghamburkan asap ke udara, mengalirkan lahar panas berikut batuan, melahirkan lahar dingin yang menerobos pemukiman setelah hujan turun hujan, dan lain sebagainya. Ada juga yang ditimbulkan per-geseran landas kontinen dan menyebabkan timbulnya tsunami. Demikian juga banjir bandang yang disebabkan tingginya curah hujan sesuatu tempat di muka bumi karena perubahan iklim oleh pemanasan global. Selain dari itu, ada lagi rob disebabkan matahari dan bulan berada dalam segaris. Bencana alam memang dapat memporakporandakan lingkungan hidup tempat umat bermukim di muka bumi, mulai kerusakan lahir, tersebarnya bermacam bahan kimia, dari yang biasa, berbahaya, hingga dengan sangat berbahaya terhadap makhluk; tidak terkecuali yang dapat mengandung bahan radioaktif. Kerugian yang ditimbulkan mulai dari kehilangan nyawa, dan harta-benda; tidak terkecuali: sawah, ladang, dan lingkungan sekitar yang tidak lagi dapat dimanfaatkan dalam waktu yang panjang.

Pasca Perang Dunia ke-II, warga Jerman dan Jepang menderita kerusakan lingkungan hidup ditimbulkan begitu banyak bom yang dijatuhkan sekutu di kedua negeri itu. Selain dari itu, di negeri terakhir, ada lagi dua “bom atom” dijatuhkan di kota-kota Hiroshima dan Nagasaki me-renggut tidak sedikit korban jiwa. Kedua bom atom dijatuhkan di Jepang tidak semata menye-babkan kerusakan lahir, tetapi ada lagi radiasi bahan radioaktif yang tidak tampak oleh mata ber-kepanjangan yang juga membahayakan jiwa manusia. Belakangan banyak dibicarakan media massa tentang pencemaran radioaktif yang ditimbulkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi, oleh kegagalan mengatasi kebocoran air pendingin reaktor yang terbuang ke laut Jepang.
Adapun contoh pencemaran atmosfer menimbulkan bahaya maut yang tidak terduga terhadap warga yang hidup di muka bumi, ialah malapetaka Bhopal muncul di negara bagian Madhya Pradesh, India. Pada malam yang naas tanggal 2-3 Desember 1984, timbul kebocoran bahan methyl iso-cyanate dari sebuah pabrik kimia, yang letaknya tidak berjauhan dari suatu pemuki-man kumuh. Keesokan harinya dikhabarkan ribuan orang yang bediam di pemukiman tersebut tidak lagi terjaga dari tidur mereka, karena telah berpulang ke rakhmatullah.

Sepanjang tahun 2008 silam dichabarkan melalui media, sebanyak 29 Triliun metic-ton gas karbon dioxida (CO2) telah dibuang menuju ke atmosfer bumi yang menyelimuti planit biru ini. Gas berbahaya ini berasal dari bermacam industri yang menghasilkan bermacam barang kebutuhan umat yang hidup di bumi, tidak terkecuali aneka ragam sarana angkutan yang melayani umat bepergian pada tahun yang disebutkan.
Di daratan Eropa muncul hujan-asam (acid rain) berasal dari asap yang meninggalkan PLTU yang membakar beragam Bahan Bakar Padat (BBP), kebanyakan batubara. Sebagai akibatnya, daun-daun pohon dari hutan yang tidak berjauhan letaknya dari pusat pembangkit tenaga listrik disebutkan menjadi mengering.

Selama Perang Vietnam berlangsung, negeri itu dilanda hujan-kuning (yellow-rain) di bagian utara negeri. Negara Paman Sam saat itu mengambil kebijakan menyebarkan bahan-kimia dari udara yang menyebabkan hujan yang turun berwarna kuning di musim hujan. Adapun tujuan penyebaran bahan-kimia untuk menghambat laju gerakan pasukan-pasukan Vietcong yang sedang menerobos ke Selatan, namun dampak yang tidak diinginkan menimbulkan bayi-bayi manusia yang lahir di wilayah terkena hujan kuning menjadi cacat saat lahir, tidak terkecuali gangguan kesehatan lainnya.

Di negeri Sakura berjangkit apa yang dinamakan orang penyakit-Minamata (Minimata-disease). Penyakit ini dikhabarkan timbul karena tercemarnya air laut oleh airraksa (merkuri), cairan logam berat yang dibawa aliran di sejumlah sungai di Jepang menuju ke laut. Sebagai akibatnya banyak ikan-ikan yang hidup dan mencari makan di laut yang tercemar, lalu mengandung logam airraksa berbahaya dalam tubuh mereka. Kaum ibu Jepang yang menyantap ikan-ikan yang ditangkap dari perairan yang tercemar kemudian melahirkan bayi-bayi cacat, tidak terkecuali gangguan kesehatan lain. Limbah air-raksa juga mencemari berbagai sungai di Tanah-Air, di bagian hulu mana terdapat para pendulang emas yang memanfaatkan airraksa untuk memisahkan emas diperoleh, lalu membuang limbah dihasilkan begitu saja ke sungai dan langsung men-cemari air sungai.
Salah sebuah akibat bahaya “sinar radioaktif”, ialah terbunuhnya Alexander Livinenko dari Ru-sia sebagaimana yang diberitakan belum lama berselang. Ia dikhabarkan menerima radiasi Plu-tonium 210 (Po-210) yang radioaktif memancarkan sinar alpha berkepanjangan, disembunyikan orang yang tidak bertanggungjawab dalam jarak yang tidak jauh.

Sebuah hasil penelitian Universitas Chicago, Amerika Serikat, menunjukkan adanya hubungan atau korelasi, antara tingkat pencemaran pestisida sebuah lingkungan hidup dengan munculnya gejala autisme, demikian juga kekurangcerdasan (Intellectual Disability, ID) anak baru dilahir-kan di lingkungan tersebut. Tampaknya, pencemaran suatu lingkungan hidup pada tingkat ter-tentu, berdampak pada program kegiatan TMH didalam kandungan para ibu, menyebabkan bermacam program kimia organik dingin yang tengah berlangsung didalam tubuh bayi terusik karenanya.

Masih terdapat banyak ragam pencemaran lingkungan hidup yang timbul di muka bumi oleh kegiatan manusia dalam hidup ini, seperti yang diakibatkan karamnya tanker Exxon Valdez di Prince William Sound, Alaska, tanggal 24 Maret 1989 silam. Kapal pengangkut minyak mentah tujuan Long Beach, California, Amerika Serikat, itu tiba-tiba membentur karang Bligh dalam perjalanannya, lalu menumpahkan minyak-mentah dari sekitar 260,000 hingga 750,000 barrels (41,000 hingga 119,000 m3), menjadikan salah sebuah bencana lingkungan hidup terparah yang pernah diketahui orang di dunia selama ini.

Beragam bahan pencemar yang ada dalam lingkungan umat dapat masuk kedalam tubuh ma-nusia, pertama: ketika orang sedang bernafas lewat paru-paru dan menghirup limbah-gas dan butiran-butiran benda renik; kedua: melalui mulut saat orang sedang: minum dan menyantap makanan yang mengandung limbah-cair berbahaya atau sangat berbahaya; dan ketiga: melalui sentuhan langsung dengan beragam benda-padat berbahaya atau sangat berbahaya saat sedang berkegiatan, seperti: bekerja, berolah raga, dan lainnya.

Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, revolusi industri tampil di Eropa dengan beragam mesin yang memudahkan kehidupan umat silam, semula dikira orang sebagai berkah kepada umat. Akan tetapi dengan terjadinya perubahan iklim nyata disertai angin kencang dan iringan ombak besar yang mendatangkan beragam bencana di muka bumi, umat Islam lalu sadar akan peringatan Tuhan dalam surat Ar-Rum, Ayat 41, tercantum dalam Al-Quran, akan “arti” sesungguhnya rangkaian kata: “merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) dari perbuatan” manusia: “agar kembali ke jalan yang benar”.

Revolusi industri tampil di Eropa silam berawal dari temuan Thomas Savery (1650-1715) dari Inggris, yang sedang tertantang mewujudkan pompa-air tenaga atmosfer kebutuhan tambang, lalu mempatenkannya. Thomas Newcomen (1664-1729), rekan senegaranya melihat kekurangan pompa rekannya, dan memperkenalkan pompa-air berpengisap dibantu uap untuk maksud yang sama. Kedua pompa ini lalu menggoda James Watt (1736-1819) rekan senegara yang lain, mem-buat mesin-uap berputar dijalankan uap bertekanan untuk kebutuhan beragam industri yang diu-sahakan orang ketika itu, tidak terkecuali yang memperkenalkan kereta-api pertama di dunia oleh George Stephenson (1781-1848) menghubungkan Sockton dengan Darlington di Inggris membakar Bahan Bakar Padat (BBP) ragam batubara. Mesin-uap yang bernama ilmiah Mesin Pembakaran Luar (MPL), memiliki “kemasan ganda” (double package): sebuah digunakan un-tuk “periuk” tempat menanak air yang menghasilkan uap bertekanan (tenaga potensial) lewat pembakaran di luar silinder, lainnya berupa sebuah: “silinder dengan pengisap”, digunakan untuk mengubah tenaga potensial uap yang ada dalam kemasan pertama menjadi tenaga-gerak putar di-perlukan beragam industri, seperti: angkutan, dan lainnya. Batubara lalu ditambang orang dima-na-mana di muka bumi kedalaman puluhan hingga ratusan meter, sedangkan air diperoleh dari sungai terdekat.

Dari Belgia, negara Eropa lain, tahun 1860 Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) memper-kenalkan bernama ilmiah Mesin Pembakaran Dalam (MPD) berpemantik, yang dikenal dengan istilah “motor bakar”. Bahan-bakar digunakan bukan batubara, tetapi Bahan Bakar Cair (BBC) bernama bensin yang gampang menguap. Karena gas bertekanan untuk mendorong pengisap kebawah dapat dihasilkan langsung didalam silinder dalam sekejap dengan pemantikan, maka MPD tidak membutuhkan periuk tempat bertanak air, sehingga “kemasan ganda” James Watt oleh Etienne Lenoir disusutkan menjadi sebuah “kemasan tunggal” (single package). Dengan demikian MPD memerlukan tempat yang lebih kecil untuk daya dihasil-kan yang sama, menyita ruang atau volume lebih sedikit dalam kendaraan, lebih ringan, lebih murah pula harganya. Akan tetapi MPD membutuhkan BBC yang mudah menguap, dengan minyak mentah asalnya perlu didatangkan dari dalam perut bumi ribuan meter dalamnya, selanjutnya harus diolah dalam kilang agar menjadi bensin.

Dua tahun kemudian dari Jerman, negara Eropa yang lainnya, Nikolaus Otto memperkenalkan MPD dengan pengabut (carburettor) dan pemantik listrik (electric ignition), yang lalu dikenal luas dengan nama: mesin bensin. Pada tahun 1900 menyusul pula Rudolf Diesel, rekan sebang-sanya, memperkenalkan MPD dipantik kempa (compression ignition) dan dinamakan: mesin diesel. Berbeda dengan TMH (Teknologi Makhluk Hidup) “pengubah panas” kimia organik “suhu tubuh” atau suhu rendah diperkenalkan Ilahi di muka bumi, akan tetapi teknologi yang dikembangkan umat sejak awal revolusi industri di Eropa silam, kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia, menperkenalkan “pengubah panas” kimia anorganik “suhu amat tinggi” dengan temperatur ribuan derajat Celsius. Revolusi industri yang diawali dari Eropa silam dengan demi-kian telah melahirkan: serangkaian “Sumber Tenaga Gerak”, disingkat STG (Mechanical Energy Source, disingkat MES), yang mengubah “panas” hasil pembakaran bahan-bakar bersuhu amat tinggi menjadi “tenaga gerak” (mechanical energy), berupa: sebuah MPL dikenal dengan istilah “mesin-uap”, dan dua buah MPD masing-masing dinamakan “mesin-bensin” dan “mesin-diesel”.

Ketiga macam pengubah “panas” menjadi “gerak”, disingkat: Pengubah Panas Gerak (PPG), a-tau Thermo Mechanic Convertor (TMC), dinamakan: “mesin pembakaran”, terdiri dari: MPL yang bertanak air dalam periuk (ketel) untuk menghasilkan uap bertekanan yang dibutuhkan mesin, berlangsung diluar silinder-silinder mesin menggunakan BBP, dan MPD yang melakukan pembakaran langsung dalam silinder-silinder mesin, karena tidak memerlukan periuk tempat bertanak air, akan tetapi membakar BBC mudah menguap atau BBG. Dengan demikian STG- PPG (MES-TMC) yang diperkenalkan revolusi industri kepada umat di dunia pertama kali benar-benar barang yang baru samasekali, dimulai dari Inggris, dilanjutkan oleh Belgia, kemudian disempurnakan oleh Jerman; memperkenalkan kepada manusia apa yang kemudian dinamakan dengan: “mesin” (Indonesia), “engine” (Inggris), dan “maschine” (Jerman), dan me-nyebar ke segala penjuru dunia.

Mesin yang bekerja mengubah “panas” menjadi “gerak” dinamakan orang: “Pengubah Panas Mekanik”, disingkat PPM (Thermo Mechanical Convertor, disingkat TMC). Mesin demikian membakar beragam bahan-bakar lewat reaksi kimia anorganik guna membebaskan panas (kalor) menimbulkan suhu sangat tinggi guna membangun uap atau gas bertekanan. Adapun dua kelompok mesin yang diperkenalkan revolusi industry di Eropa silam, ialah: MPL (ECE) yang merebus air dalam periuk (boiler) diluar silinder mesin dengan membakar bahan-bakar padat( batubara) untuk mendapatkan uap bertekanan, dan MPD (ICE) yang membakar bahan-bakar cair atau gas langsung dalam silinder mesin untuk menghasilkan gas bertekanan, tanpa membutuhkan periuk (boiler) samasekali. “Uap bertekanan” atau “gas bertekanan” merupakan “kunci pertama”, temuan bangsa Eropa ini, sedangkan “silinder berikut pengisap, lengan dan poros engkol” meru-pakan kunci kedua temuan tadi, dari apa yang telah dilakukan revolusi industry diawali dari Eropa silam, dan mengubah drastis peradaban umat di muka bumi sampai hari ini.

Kedua kunci penemuan disebutkan sebetulnya dapat ditemukan juga komunitas umat mana saja di bumi, sejauh mereka yakin bahwa Allah, yang Maha Pengasih yang Maha Penyayang, telah menebarkan ke Alam Semesta bermacam pengetahuan termasuk ilmu-alam (fisika) yang begitu sederhana kedua kunci. Banyak komunitas umat di muka bumi yang telah lama thau air direbus dalam benjana menghasilkan uap bertekanan, demikian juga gas mudah menyala akan menye-babkan letusan, akan tetapi apabila umat tidak menaruh perhatian kepada apa yang telah disemaikan Ilahi di Alam Semesta, wbilkhusus di muka bumi tempat insan berdiam, maka kesempatan emas akan diambil komunitas lain yang lebih tekun mencari dan menemukan, sebagaimana yang telah dikerjakan oleh komunitas Eropa silam.

Meski MPL dan MPD begitu besar manfaatnya kepada manusia sejak awal dari revolusi industri silam, tetapi kebanyakan (mayoritas) “panas” yang dibebaskan reaksi kimia pembakaran bahan-bakar dinyatakan dalam “kalori” cuma terbuang percuma. Hanya sebagian kecil (minoritas) “panas” hasil pembakaran bahan-bakar yang dapat diubah menjadi “gerak” (mekanik) untuk menggerakkan bermacam industri, atau sarana angkutan: darat, air, dan udara, serta lainnya. Itulah sebabnya mengapa ketiga PPG temuan revolusi industry ini tergolong “boros” atau “tidak-efisien” memanfaatkan bahan-bakar, karena lebih banyak “panas” hasil pembekaran yang terbu-ang percuma ketimbang dimanfaatkan. Diterjemahkan kedalam pemakaian bahan-bakar, lebih banyak bahan-bakar yang dibawa kendaraan hanya dihamburkan begitu saja sepanjang jalan dilalui untuk mencemari lingkungan hidup manusia di muka bumi daripada dimanfaatkan.

Sebuah lokomotiv-uap digerakkan MPL menarik rangkaian kereta-api dari Jakarta ke Surabaya sebetulnya memerlukan 10% “panas” hasil pembakaran seluruh batubara yang dibawa dan dibakar untuk mengantarkan kereta-api bersama penumpang sampai ke tujuan; adapun 90% “panas” yang lain, hanya dihamburkan begitu saja sepanjang jalan dilewati memanasi udara sekitar. Diterjemahkan kedalam pemakaian BBP, hanya 10% berat batubara yang dibawa dan dibakar yang bermanfaat mengantarakan rangkaian kereta-api bersama penumpang sampai ke tujuan, sementara 90% berat batubara lainnya dihamburkan begitu saja sepanjang jalan dilalui mengotori lingkungan. Sebuah sepeda motor atau mobil dijalankan MPD, akan menghamburkan 75% “panas” hasil pembakaran bensin memanasi udara sekitar, hanya 25% “panas” hasil pembakaran bensin yang bermanfaat mengantarkan pengemudi bersama kendaraan sampai ke tujuan. Diterjematukhkan kedalam pemakaian BBC, 75% berat bensin yang berada dalam tanki motor atau mobil ditumpahkan begitu saja sepanjang jalan dilalui, hanya 25% berat bensin dalam tanki yang dibawa dan dibakar yang benar-benar mengantarkan pengemudi berikut kendaraan sampai ke tujuan.

Itulah pula sebabnya mengapa: sepeda motor, angkot, mobil, bis, kapal laut, pesawatterbang dan lainnya menggunakan MPD, begitu juga yang menggerakkan beragam pabrik samapai industri, sangat boros mengkonsumsi BBM. Ini disebabkan oleh kenyataan, kurang dari 25% “panas” hasil pembakaran: bensin, solar, atau lainnya muncul dalam sekejap dalam silinder-silinder mesin berguna mengantarkan kendaraan bersama penumpang, barang, atau keduanya, sampai ke tujuan, sementara 75% lainnya hanya terbuang percuma saja sepanjang jalan dilalui memanasi udara lingkungan sekitar. Lalu keduanya, baik yang berguna maupun yang terbuang percuma, menimbulkan apa yang dinamakan dengan istilah: “jejak karbon” (carbon footprint). Pencemaran yang ditimbulkan sarana angkutan darat yang membakar bahan-bakar selanjutnya dinyatakan lewat “berat carbon dalam gram” dihamburkan menuju lingkungan sekitar terhadap untuk setiap km jarak yang ditempuh. Dengan demikian, sebuah kendaraan pribadi roda empat merek tertentu dijalankan MPD akan meninggalkan “jejak karbon” di muka bumi sejumlah: x gr/km, sebagai contoh 135 gr/km.

Adapun gas hasil pembakaran bahan bakar dihamburkan beragam kendaraan melalui knalpot masing-masing, ialah: nitrogen (N2), uap air (H2O), karbon dioksida (CO2); meski ketiganya tidak tergolong bebahaya, namun yang disebut akhir ini tergolong gas penyumbang pemanasan global. Diantara berbagai gas yang tidak dikehendaki keberadaannya dalam atmosphere bumi ialah: karbon mono-oksida (CO), hidrokarbon (CxHy), dan oksida nitrogen (NOx). Kini setelah lebih dari dua abad revolusi industri berlangsung, ketiga macam mesin yang diperkenalkannya diawali dari Eropa silam, masih belum banyak beranjak dari keborosan pemakaian BBC. Ini disebabkan oleh “Bidang Teknik Mesin” dari beragam Perguruan Tinggi Teknologi di muka bumi ini masih belum menemukan pemecahan masalah yang dihadapi secara ekonomis. Jejak karbon inilah yang kini disaksikan warga China mengambang di udara berbagai kota besar di negeri Tirai Bambu itu, seperti: Beijing, Shanghai, dan lainnya dan telah menganggu pernafasan warga bangsanya. Ancaman semacam itu juga akan menghampiri Tanah-Air, manakala anak bangsa ini tidak berhasil menyiapkan langkah nyata dalam perencanaan untuk menghindar-kannya muncul di langit nusantara.

Gunung-Api Buatan Manusia
Hingga kini, sudah dikenal tiga golongan limbah yang mencemari lingkungan hidup makhluk di muka bumi ditimbulkan “aliran benda (materi)” yang hijrah dari dalam perut bumi menuju per-mukaan buatan manusia, pertama: gas dan benda renik (small particles) hasil pembakaran bera-gam bahan-bakar asal bermacam industri penghasil barang (produk) dan jasa (service), mulai dari: industri dan pabrik, sarana angkutan, tambang, kilang mulai kecil hingga besar, bermacam kegiatan ekonomi masyarakat dari kecil sampai menengah, dan lainnya yang ada di muka bumi dan dihamburkan begitu saja menuju atmosfer diseputar bumi dan mencemari udara; kedua: air-kotor dihasilkan beragam industri penghasil barang (produk), jasa (jasa), mulai: pabrik, industri, angkutan, tambang, kilang, mulai kota kecil sampai besar, dan lainnya; lalu dibuang begitu saja kedalam badan-air: parit, kolam, kanal, danau, sungai, laut, berakhir di samudra; ketiga: berjenis barang hasil pabrik hingga industri yang telah habis masa pakai ekonominya lalu beralih menjadi barang rongsokan, seperti: mobil, kereta-api, kapal mulai sungai hingga samudra, pesawat-terbang, beragam perlengkapan dan peralatan perang, komputer, laptop, telepon pintar, limbah rumah tangga mulai: desa, kota kecil sampai besar, dan lainnya; diterlantarkan begitu saja di dimana-mana di daratan menyita lahan semakin luas. Dengan penduduk yang berdiam di muka bumi yang terus bertambah, ketiga kelompok limbah disebutkan juga akan meningkat jumlahnya di muka bumi dalam perjalanan waktu kedepan.

a. Pencemaran Atmosfer
Seorang pengemudi sepeda motor menyimak penunjuk bensin, dan mampir ke tempat pengisian BBM. Dari tanki, dengan teknologi mutakhir bensin disuntikkan kedalam silinder, dan setelah bercampur udara dipantik. Timbul letusan, “panas” dibebaskan, gas bertekanan timbul sekejap dalam silinder mendorong “pengisap” kebawah. Dengan bantuan lengan dan poros-engkol, gerakan lurus pengisap diubah menjadi putar. Kemudian dengan rantai, gerakan putar poros dihubungkan ke roda belakang yang membuat sepeda motor bergerak. Diperlukan banyak sekali letusan dalam silinder untuk mengantarkan pengendara sepeda motor bersama pengendara sampai ke tujuan. Dengan mengatur isi (volume) silinder, mulai ukuran hingga dengan banyaknya, begitu juga ragam BBM dimanfaatkan, daya (power) dihasilkan mesin dapat diatur.

Demikian awalnya, bagaimana revolusi industri di Eropa silam memperkenalkan STG bikinan manusia hasil akal budinya, hanya memanfaatkan “ilmu alam” (fisika) yang begitu sederhana, lalu mengubah “peradaban manusia” di muka bumi, lebih dari dua abad lamanya sampai hari ini, hanya dipicu pompa buatan Thomas Savery, yang lalu diperbaiki Thomas Newcomen, kemudian oleh James Watt diubah menjadi “sumber tenaga gerak” mesin pembakaran luar, disingkat MPL, ketiganya dari Inggris; dilanjutkan J.E.Lenoir dari Belgia memperkenalkan “sumber tenaga gerak” pembakaran dalam, disingkat MPD. Dan yang disebut belakangan, dapat dikatakan sebagai: rangkaian letusan hasil pembakaran BBM terkendali kemasan tunggal (single package) yang menghasilkan “tenaga gerak” kebutuhan beragam industri, wabilkhusus: sarana angkutan, tidak terkecuali beragam industri lainnya. Manakala tidak dikemas baik, dan tidak juga terkendali, akan menimbulkan letusan bom menghancurkan seketika manakala bahan-bakar yang telah bercampur udara dipantik. Sejak dari saat bersejarah itu, berbagai industri lalu bermunculan dimana-mana di muka bumi ibarat jamur di musim hujan yang menyediakan lapangan kerja kepada umat, tidak terkecuali memperkenalkan bermacam sarana angkutan: darat, air, udara, keperluan: sipil, militer, dan lainnya. Budaya bepergian berjalan-kaki dan naik-kuda, tidak terkecuali kereta dihela kuda atau ternak peliharaan lain selama ini dimanfaatkan orang dimana-mana di muka bumi, lalu lenyap dan digantikan kendaraan yang dijalankan mesin pembakaran yang belum diketahui orang dari zaman sebelumnya. Bermacam lingkungan budaya dan adat istiadat yang semula tertutup terisolasi oleh jarak perjalanan yang jauh, kemudian seketika terbuka menyebabkan timbulnya beragam permasalahan: sosial, ekonomi, politik, keamanan, dan lainnya yang rumit sekali.

Usai letusan pertama, silinder mesin lalu dikuras menjelang penyuntikan bensin baru untuk kembali dicampur udara baru menjelang pemantikan selanjutnya; demikian seterusnya dengan letusan-letusan yang kemudian menyusul. Pembilasan silinder melahirkan “gas buang” yang dikeluarkan lewat knalpot, melahirkan “limbah gas” yang diperkenalkan revolusi industri. Lim-bahgas yang dikeluarkan ribuan, jutaan, miliard, triliun, bahkan lebih banyak lagi letusan, yang dihamburkan saja menuju atmosfer bumi akan mengotori atau mencemari udara, karena tidak lagi dapat dikembalikan kedalam perut bumi darimana berasal, setelah “panas” berhasil pemba-karan bensin diubah menjadi “gerakan” yang diperlukan si pengendara sepeda motor.

Limbah gas tidak semata dihamburkan sarana angkutan: darat, laut, dan udara, tetapi juga oleh tak terhitung banyaknya pabrik dan industri yang telah ada di muka bumi hingga kini yang memanfaatkan: mesin-uap, mesin-bensin, dan mesin-diesel untuk memproduksi: beragam barang (produk), layanan jasa; (service) yang bilanagn dan ragamnya terus bertambah di bumi dalam perjalanan waktu, tersebar kedalam berbagai negara. Selain pencemaran atmosfer diperoleh dari pembakaran: BBP, BBC, dan BBG berlangsung didalam silinder-silinder beragam kendaraan, masih ada sumber pencemaran dari bahan “additive” yang ditambahkan orang dengan sengaja, seperti: logam timbel kedalam bahan-bakar, dan lainnya kedalam minyak lumas. Adapun mak-sud penambahan bahan-bahan ini demi meningkatkan kinerja: mesin-uap, mesin-bensin, dan me-sin-diesel. Manfaat pemakaian bahan additive terhadap mesin diterangkan sangat baik oleh pabrik pembuatnya, namun dampak “sampah-gas” mengandung bahan additive apabila terhirup kedalam pernafasan manusia samasekali tidak diterangkan oleh pembuatnya.

Seperti yang telah berulang kali disampaiakan, “limbah gas” yang dihamburkan kedalam atmosfer bumi mengitari planit biru ini, datang dari beragam industri, seperti: bermacam sarana tansportasi dan berjenis industri yang ada di muka bumi. Adapun jumlah limbah-gas yang dihamburkan dalam Triliun metric-ton tergantung dari: isi (volume) silinder, bilangan silinder, putaran poros per menit, daya dihasilkan, dan jumlah: mesin-uap, mesin-bensin, dan mesin-diesel yang dimanfaatkan orang setiap saat di seluruh penjuru dunia dalam setahun menghasilkan bermacam barang (produk) dan aneka jasa (service). Perlu dicatat luas permukaan bumi, terdiri dari daratan dan muka air, seluruhnya: 510 juta km2. Tiga perempat berat (massa) udara yang menyelimuti bola bumi terletak hingga ketinggian 11.000 meter (11 km) diatas permukaan laut. Puncak Everest, tempat tertinggi yang terdapat di muka bumi terletak pada ketinggian 8.848 m diatas permukaan laut, sementara tempat tertinggi yang dapat didiami manusia ialah: 5.500 m diatas permukaan laut, karena pada ketinggian tersebut kemampuan paru-paru manusia meraih oksigen untuk bernafas telah merosot menjadi: 50%. Dengan demikian Volume Udara (VU) sebagian besar atmosfer bumi mengitari planet biru, keberadaannya dipercayakan kepada gaya-tarik (gravitasi) bumi, jumlah seluruhnya: 5,41 Miliard km3. Dengan garis-tengah bumi: 12.740 km, Volume Bumi (VB) besarnya: 1.081 Miliard km3. Dengan demikian perbandingan antara sebagian besar udara yang mengitari planit biru terhadap volume bumi, memberikan angka:

VU/VB = 0,5%

Dari perbandingan diatas jelas tampak, bahwa lapisan udara yang menyelimuti bola bumi atau planit biru, hanyalah sebuah lapisan tipis yang boleh juga dinamakan “selaput udara”. Karena begitu tipisnya lapisan udara ini, maka tidak dapat diragukan amat rawan terhadap pencemaran yang ditimbulkan aliran benda (materi) mengalir dari dalam perut bumi menuju permukaan yang semula diawali oleh revolusi industri.

Untuk memberikan gambaran yang lebih terang lagi “arti” perbandingan yang dikemukakan diatas, bayangkan sebuah bola bergaris tengah 100 m diletakkan di tengah sebuah stadion sepak-bola untuk mewakili bola bumi dengan ukuran yang diperkecil. Lalu sentuhkan sebuah mistar pendek 10 cm tegak lurus kepada bidang yang menyentuh bola. Dengan demikian, tiga pe-rempat berat udara yang menyelimuti bola bumi diperkecil akan terdapat pada angka 8,64 cm. Memandang bola bumi diperkecil dari salah satu kursi di dalam stadion, orang akan mendapat kesan betapa tipisnya lapisan atmosfer bumi berdimensi selaput ini, benar-benar sangat rawan terhadap pencemaran yang ditimbulkan aliran bahan (materi) yang meninggalkan perut bumi (diperkecil) menuju permukaannya berlangsung tanpa henti; yang terus meningkat jumlahnya menelusuri perjalanan waktu. Akan tetapi bagi orang yang memandang ke angkasa dari tempat duduk yang sama di dalam stadion, tidak akan mudah percaya bahwa ruang atmosfer di seputar bola bumi (sebenarnya) yang tampak demikian luas akan dapat tercemar oleh aliran bahan (materi) yang meninggalkan perut bumi menuju permukaan berlangsung tanpa henti, meski jumlahnya terus bertambah menelusuri perjalanan waktu. Lalu apa yang akan mengadili kedua sudut pandang yang bertolak belakang dari dua orang pengamat yang duduk di kursi stadion yang sama? Hal ini terpulang kepada “penguasaan ilmu pengetahuan” dan penalaran “akal sehat” yang dimiliki masing-masing semata.

Selain dari itu, manakala lapisan udara atmosfer bumi diibaratkan sebuah garasi mobil tertutup rapat yang berisi mobil dengan mesin dihidupkan. Secara perlahan tapi pasti, udara yang terdapat dalam garasi akan tercemar limbah-gas buang hasil pembakaran bahan-bakar yang akan menyebabkan orang-orang duduk di dalam mobil dengan kaca terbuka merasakan sesak nafas. Terhadap mereka yang duduk di dalam mobil masih ada jalan keluar untuk mendapat perto-longan, yakni apabila ada orang di luar garasi yang cepat mengetahui keadaan, dan mendobrak pintu garasi untuk membukanya denan paksa. Akan tetapi bagi umat yang berdiam di permukaan bumi dengan udara dalam atmosfer bumi yang tercemar, pertolongan demikian samasekali tidak lagi mungkin dilakukan.

b. Pencemaran Badan Air
Beragam industri yang menghasilkan bermacam barang (produk) dan jasa (service), tidak terke-cuali aneka ragam sarana angkutan, kilang, dan lain sebagainya; juga tidak terkecuali rumah tangga dari desa, kota kecil hingga besar, dan banyak lagi lainnya terdapat di muka bumi memer-lukan air bersih dalam kegiatan sehari-hari. Air bersih yang telah menjalani proses: campur, endap, saring, bilas, cuici, radiasi, dan lain sebagainya, lalu berubah menjadi air-tercemar atau air-kotor, karena tidak lagi dapat digunakan. Air bersih juga menjalani bermacam proses dalam tambang: batubara, minyak bumi, biji mineral, dan lainnya; mulai dari aktivitas: penggalian, pengeboran, pengangkutan, pengolahan dalam pabrik dan kilang; baik yang tengah berjalan maupun yang akan muncul kemudian, semuanya memerlukan air-bersih yang kian besar jum-lahnya. Air bersih yang menjalani satu atau lebih proses lalu menjadi air kotor yang dibuang saja. Dengan penduduk bumi yang semakin besar jumlahnya, begittu pula kegiatan ekonomi yang terus berkembang, jumlah air-kotor dihasilkan kegiatan hidup dan ekonomi akan semakin bertambah dalam perjalanan waktu. Karena belum terdapat Instalasi Penjernihan Air (IPA) yang dapat menangani air-kotor terhadap jumlah dihasilkan pada banyak tempat di muka bumi yang membutuhkan, maka air-kotor dihasilkan bermacam proses yang berhubungan dengan kegiatan hidup dan ekonomi manusia di muka bumi lalu dibuang begitu saja dalam badan air: parit, kanal, sungai, danau, laut, hingga dengan samudra dimana-mana di seluruh dunia.

c. Pencemaran Daratan
Bermacam barang hasil industri yang sudah habis masa pakai ekonominya beralih menjadi ba-rang rongsokan, antara lain: mobil, kereta-api, kapal sungai hingga samudra, pesawatterbang, berjenis mesin perang, komputer, laptop, telepon pintar, sampah mulai desa, kota kecil hingga besar, dan tempat lainnya, diterlantarkan begitu saja dimana-mana menyita lahan di muka bumi; disini tidak terkecuali bangun-bangunan dan instalasi beragam tambang, bor bumi, sarana angkutan yang sudah habis masa pakai ekonominya; semuanya diterlantarkan orang saja menyita lahan di muka bumi mulai dari daratan hingga lepas pantai.

Gunung-Api Buatan Manusia
Dari apa yang telah dikemukakan, bensin sebelum tiba di pompa BBM, semula “minyak men-tah” dalam kilang yang diolah menjadi bensin. Dan “minyak mentah” itu sendiri sebelum tiba di kilang, berada ribuan meter di dalam perut bumi. Bensin yang akhirnya berahir menjadi: limbah-gas lalu dihamburkan ke atmosfer seputar bola bumi yang mencemari udara. Begitu pula keadaannya dengan air-bersih yang sudah tercemar dan menjadi air-kotor. Yang akhir ini datang dari beragam proses pembuatan barang (produk) dan jasa (service) dalam bermacam pabrik, industri, kilang, tambang penggalian: batubara, minyak bumi, gas, mineral dan lainnya. Ada pula air kotor datang dari aktivitas membersihkan atau pembilasan: motor, mobil, kereta-api, pesawat-terbang, kapal sungai hingga samudra, dan banyak lainnya. Dan tidak dapat dihindarkan adanya air-kotor datang dari bermacam rumah tangga yang ada di muka bumi, mulai desa, kota kecil hingga besar; semuanya mengeluarkan: limbah-cair yang terkumpul di muka bumi. Akhirnya rongsokan bermacam barang bekas mulai: motor, mobil, kereta-api, pesawatterbang, kapal su-ngai hingga samudra, dan lain sebagainya. Begitu pula rongsokan tambang, mulai: batubara, mi-nyak bumi, biji aneka mineral, tidak terkecuali instalasi penggalian, pengeboran, alat-alat berat dan transportasi, bermacam instalasi pengolahan, dan lain sebagainya yang sudah habis masa pakai ekonominya. Selain dari itu tidak boleh dilupakan juga sampah perkotaan yang menggu-nung muncul dimana-mana di muka bumi yang menimbulkan: limbah-padat.

Dari apa yang telah disampaikan terlihat jelas, bagaimana aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan “bikinan manusia” yang berakhir menjadi: “limbah-gas”, “limbah-cair”, dan “limbah-padat”. Karena limbah-gas tidak lagi dapat dikembalikan kedalam perut bumi setelah “panas” hasil pembakaran bahan-bakar diambil untuk menggerakkan kendaraann, indus-tri dan lain sebagainya; begitu juga pencemar air-bersih tidak lagi dapat dipisahkan dari air kotor untuk dikembalikan ke asalnya dalam perut bumi; selanjutnya rongsokan barang-barang hasil produksi bermacam industri tidak terkecuali sampah perkotaan tidak lagi dapat dipulangkan ke-dalam perut bumi darimana datangny; semuanya mencemari: atmosphere, badan air, dan lahan di permukaan bumi. Manakala dibandingkan dengan gunung-api yang sedang meletus, “limbah gas” bikinan manusia dapat disetarakan dengan asap gunung api yang dihamburkan ke udara; “limbah cair” bikinan manusia dapat disetarakan dengan lahar dingin, atau aliran lumpur gunung-api, atau aliran lumpur Lapindo di Sidoarjo; dan “limbah padat” bikinan manusia dapat disetarakan dengan lahar panas gunung-api yang sudah menjadi: abu, pasir, dan bongkahan batuan. Dengan timbulnya “revolusi industri” di muka bumi, diawali dari Eropa lebih dari dua abad silam, ketiga macam limbah yang sudah dibidaninya ini, dapat dinamakan dengan: “Letusan Gunung-api Buatan Manusia”, disingkat: LGBM, atau The Man Made Volcano, disingkat: TMMV.

Perlu dicatat, gunung-api yang jumlahnya banyak di bumi, apabila meletus akan berhenti setelah berlangsung beberapa lama, dan baru akan meletus lagi bertahun atau puluh tahun kemudian. Akan tetapi, bertolak belakang dengan gunung-api bumi, LGBM meletus setiap hari sepanjang tahun, dan setiap tahun sepanjang abad, terus-menerus meletus, karena tidak mengenal istilah berhenti walaupun untuk sejenak.

Sebuah Pengandaian
Mengingat filsafat dan ilmu pengetahuan telah begitu lama berkembang di kawasan Timur Tengah, disokong luasnya perdagangan begitu pula kontak budaya antara bangsa beragam budaya berdiam disana dalam perjalanan waktu yang sangat panjang ketimbang bagian dunia lain, lalu muncul pertanyaan: mengapa “revolusi industri” tidak diawali justru dari bagian dunia itu? Tampaknya, Timur Tengah sepanjang waktu terlalu penuh dengan hirukpikuk percaturan pengaruh dan kekuasaan yang berkepanjangan, sehingga tidak tersedia ruang waktu untuk mela-hirkan suatu penemuan sederhana yang dapat mengubah peradaban dunia. Di fihak yang lain, Eropa utamanya Inggris ketika itu, masih tergolong “kampung” dan jauh dari kegaduhan model Timur Tengah, dibantu kaum intelektual berpengetahuan tepat guna yang sedang bersemi, menjadikan Eropa saat itu ladang subur untuk tampilnya gagasan baru, sebagaimana yang telah diperlihatkan Thomas Savery (1650-1715), ketika menerima tantangan membuat pompa-air keperluan tambang memanfaatkan vakum ditimbulkan uap bertekanan dalam bejana disiram air dingin, kemudian mempatenkannya. Thomas Newcomen (1664-1729) rekan senegaranya, mem-perkenalkan pula gagasan lain untuk maksud yang sama. Dari karya kedua rekan sebangsanya, James Watt (1736-1819) lalu memperkenalkan “sumber tenaga gerak” pertama di dunia buatan manusia berupa mesin-uap berputar. Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) dari Belgia, memperkenalkan “mesin pembakaran” pertama di dunia bahan-bakar bensin pemantik sumbu sebagai “sumber tenaga gerak” ringan. Nikolaus Otto dari Jerman memperkenalkan mesin pembakaran berpengabut yang berpemantik listrik pertama di dunia bernama: mesin bensin, yang mudah digunakan orang. Pada tahun 1900, Rudolf Diesel, rekan senegaranya dari Jerman memperkenalkan mesin pembakaran berpemantik kempa pertama di dunia bernama: mesin diesel. Dengan demikian, sederetan kartu domino teknologi STG pengubah PPG (TMC) telah diperkenalkan revolusi industri kepada dunia di Eropa lebih dari dua abad silam. Sejak dari saat bersejarah itu manusia berkenalan dengan STG-PPG (MES-TMC) yang samasekali baru, diawali Inggris, dilanjutkan Belgia, lalu disempurnakan Jerman; semuanya memperkenalkan kepada dunia apa yang kemudian dikenal dengan: “engine” (Inggris), “maschine” (Jerman), dan “mesin” (Indone-sia), yang kemudian menyebar ke Amerika Utara, lalun Jepang, akhirnya menyebar ke seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali Tanah-Air.

Setelah lebih dari dua abad berlangsung, umat kemudian sadar, bahwa PPG (TMC) yang di-perkenalkan revolusi industri diawali dari Eropa silam, menjadi “penyebab utama” timbulnya pencemaran lingkungan hidup umat di muka bumi, mulai: atmosfer, badan-air, hingga daratan. Para ahli ilmu pengetahuan dari berbagai penjuru dunia dari Barat hingga dengan Timur, kini mengevaluasi keadaan, dan berusaha dengan bersungguh-sungguh mencari jalan keluar untuk mengatasi dampak negatif yang telah ditimbulkan pencemaran, sebagaimana yang telah diperi-ngatkan “Surat Ar-Rum, ayat 41”.

Menanggulangi Pencemaran Atmosfer
Untuk menghindarkan udara yang mengisi atmosfer bumi tercemar dari limbah-gas dihambur-kan beragam kendaraan dijalankan mesin, bermacam industri digerakkan mesin, dan lain seba-gainya yang membakar bahan-bakar fossil, yakni: BBP, BBC, dan BBG yang meresahkan umat bermukim di perkotaan, bahkan telah dikeluhkan orang sejak dari awal revolusi industri lebih dua abad silam, John Bockris dari Pusat Teknik General Motor, Amerika Serikat, memperke-nalkan penggunaan Bahan Bakar Hidrogen (BBH) tahun 1970, unsur kimia paling banyak terdapat di muka bumi, sebagai bahan-bakar angkutan umum, sehingga gas buang dikeluarkan dihamburkan ke atmosfer bumi hanyalah uap-air. Dengan demikian pencemaran atmosfer yang disebabkan sebagian aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan, yang telah diperkenalkan sejak awal revolusi industri di Eropa silam, akan dengan sendirinya hilang. Sebagai pelopor anti pencemaran atmosfer bumi memanfaatkan BBH, muncul sejumlah negara Nordik, juga berasal dari luar kawasan Timur Tengah. Pemimpin negara Islandia terinspirasi oleh gagasan John Bockris dari Amerika Serikat, dan menjadikan bangsanya yang pertama di muka bumi memproklamirkan “hydrogen-powered economy” (ekonomi berdaya-hidrogen). Untuk memproduksi (BBH) yang diperlukan bangsanya, tetangga Kutub Utara itu mengandalkan listrik yang dihasilkan Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) banyak terdapat dinegeri itu, untuk mengurai “air” menjadi: hidrogen dan oksigen. Bis angkutan umum bertenaga hidrogen pun segera diujicoba di jalan-raya ibukota Reykjavik, disusul mobil listrik bersumber tenaga listrik sel bahan-bakar.

Negara luar kawasan Timur Tengah lain, yang juga sedang berkemas menyambut “hydrogen-powered economy”, ialah Swedia. Berlainan dengan Islandia yang mengandalkan tenaga panas bumi, Swedia memanfaatkan tenaga listrik diperoduksi peladangan panel surya. Bagian Barat negeri telah pula dijadikan tempat mengembangkan wilayah ramah-lingkungan, terutama daerah pelabuhan dan tempat industri kendaraan bermotor SAAB yang akan memanfaatkan BBH untuk bahan-bakar.

Negara Nordik lain yang tidak ingin ketinggalan, ialah Denmark. Walikota Nakskov dari pulau Lolland telah membuat kerjasama dengan pengembang sel bahan-bakar negeri bernama IRD, dan mengembangkan pula proyek dan organisasi: “Baltic Sea Solution”. Yang disebut akhir ini tidak lain masyarakat Denmark sendiri yang akan melahirkan kelompok warga yang akan menjadi komunitas penguji kelajakan penggunaan teknologi sel bahan-bakar yang sedang dikembangkan termasuk menyediakan beragam fasilitas pendukung diperlukan.
Bagaimana dengan Indonesia, sebuah negara Asia Tenggara yang juga terletak di luar kawasan Timur Tengah. Di negeri dengan Sumber Daya Alam (SDA) panas bumi yang melimpah, bahkan yang langsung dari gunung-api masih aktif banyak jumlahnya, begitu pula peladangan panel surya dengan lahan luas yang ada di khatulistiwa, dengan sendirinya tidak boleh ketinggalan dari segelintir negeri Nordik disebutkan. Walau tidak lagi akan menjadi pelopor, namun Indonesia dengan Sumber Daya Manusia (SDM) jumlah besar lagi berpendidikan, kesempatan menjadi “motor” hydrogen-powered ekonomi kawasan Asia Tenggara berdampak global sangat besar, akan tetapi negara besar berlahan luas ini memilih langkah lain. Meski sejak 30 Desember 1949 Indonesia telah menjadi negara merdeka yang diakui dunia (PBB) bernama: Republik Indonesia Serikat (RIS), sejak awal pimpinan negara ini memilih berpetualang dengan “Demokrasi Terpim-pin”, mengindoktrinasi rakyat dengan TUBAPI, menggunting dan mendevaluasi ganda Rupiah yang meluluhlantakkan perkonomian bangsa; kemudian disusul lagi dengan “Demokrasi Panca-sila”, mengindoktrinasi rakyat dengan BP7, dan terjangkit krismon Thailand yang berakibat Rupiah terpelanting tahun 1997 dan mengacaukan perekonomian bangsa berkepanjangan; sebe-lum reformasi tahun 1998 muncul menyelamatkan. Sebagai akibat dari kedua petualangan yang menghabiskan waktu lebih setengah abad, Indonesia tampil tertinggal dari Korea Selatan yang hancur dalam perang semenanjung negeri itu, baru damai pada tanggal 27 July 1953; juga sejumlah negara tetangga, seperti: Malaysia merdeka 1957, Singapura merdeka 1965, Brunai Da-russalam merdeka 1984, dalam beragam bidang kehidupan, kesejahteraan rakyat, tidak terkecuali hak azasi manusia.

Sejarah Pendidikan
Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya, agama Islam masuk ke Nusantara dibawa para mubaligh dan kaum pedagang. Mereka kemudian mendirikan mesjid dan surau untuk tem-pat beribadah sekaligus pusat pengajaran kepercayaan yang baru. Kemudian muncul madrasah, yang kini bernama: Pondok Pesantren, disingkat Ponpes. Adapun matapelajaran diberikan dalam madrasah-madrasah di Asia Tenggara dan Tanah-Air, ialah tentang agama Islam, bermuatan: keimanan, hukum, nilai, dan lainnya sebagainya sebagaimana tercantum dalam kitab suci Al-Quran dan Hadis menggunakan bahasa daerah dengan “aksara Arab”. Lahir kemudian bahasa daerah menggunakan aksara Arab di Asia Tenggara.

Memasuki abad ke-20, kaum kolonialis: Inggris, Perancis, dan Belanda yang mempunyai tanah jajahan di Asia Tenggara, memperkenalkan pula program baru dalam koloni masing-masing. Itulah sebabnya mengapa negara-negara ini lalu memperkenalkan pendidikan Barat untuk men-dukung program yang mereka persiapkan. Di Nusantara, Belanda mendirikan “sekolah gouver-nement” yang berubah menjadi “sekolah melayu”. Sekolah ini dirancang untuk mencetak SDM asal anak negeri yang akan dijadikan: pamong, guru, kerani (pegawai administrasi), dan lain sebagainya. Adapun matapelajaran diberikan di sekolak-sekolah melayu ketika itu, ialah: me-nulis, membaca, berhitung, tidak terkecuali pengetahuan umum. Bahasa pengantar digunakan ialah: “bahasa melayu” dan bahasa daerah, namun aksara yang digunakan “tulisan Latin” pilihan Belanda. Lahir dengan demikian bahasa melayu aksara Latin, dan bahasa daerah dengan tulisan yang sama.

Kemudian Belanda mengembangkan lebih jauh pendidikan Barat yang diperkenalkannya sampai jenjang pendidikan tinggi dan Universitas sebagaimana berkembang di benua Eropa, sebaliknya pendidikan madrasah berlangsung sebagaimana yang berjalan di Timur Tengah. Meski pendidi-kan Barat yang diperkenalkan Belanda di Tanah-Air silam telah menjadi: Sekolah Rakyat (SR), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Universitas memasuki alam kemerdekaan, dalam mengembangkan pendidikan nasional di Tanah-Air; demikian juga pedidikan Ponpes madrasah dengan menambahkan matapelajaran tentang: ideologi negara, ma-nagemen, keterampilan, teknologi, dan lainnya kedalam kurikulum; akan tetapi kedua sistim pendidikan lahir dari perjalanan sejarah yang berbeda itu masih memperlihatkan padangan hidup para wisudawan yang belum seiring. Dualisme masih tampak dan terasa dalam pemahaman ma-syarakat, dengan menyeruaknya dalam kehidupan umat pemahaman “ahli zikir” dengan “kaum intelektual” yang tetap berseberangan.

Dinamika Sumber Tenaga Gerak
Alam semesta adalah sebuah sistim mekanik yang terbesar. Itulah sebabnya mengapa makhluk yang berdiam di permukaan benda langit, tidak terkecuali bumi, menjadi bagian dari sistim mekanik benda langit itu. Setiap benda, baik yang hidup maupun mati, memerlukan tenaga untuk bergerak. Manusia, hewan, dan tumbuhan juga memanfaatkan “panas” hasil pembakaran “karbo-hidrat” dihasilkan dalam tubuh dengan “oksigen” didatangkan dari atmosfer, dikerjakan serang-kaian otot untuk begerak. Terdapat beragam STG (SoME) yang telah berhasil dikembangkan manusia berdiam di muka bumi, masing-masing:
A. Panas Reaksi Kimia
Apa yang diperkenalkan revolusi industri di Eropa silam, ialah STG (SoME) mengubah “panas” (heat) hasil pembakaran bahan-bakar fossil menjadi “gerak”, dikenal dengan singkatan: PPG (TMC), pertama kali digunakan manusia di muka bumi diperkenalkan oleh James Watt (1736-1819) dari Inggris, berwujud “kemasan xy”, diman: x = periuk/bejana tempat bertanak air untuk menghasilkan uap-bertekanan atau uap yang mempunyai “tenaga potensial”, memanfaatkan panas hasil pembakaran bahan-bakar padat, dan y = pasangan silinder-pengisap berikut lengan dan poros-engkol untuk mengubah tenaga potensial uap menjadi gerakan putar. Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) dari Belgia, selanjutnya memperkenalkan STG “kemasan y” dengan pemantik. Mengapa kemasan y dapat bekerja, karena gas bertekanan yang mendorong pengisap kebawah, dapat dihasilkan dalam sekejap dengan “pemantik” yang membuat campuran uap-bensin dengan udara berada dalam silinder mesin meletus dan membebaskan “panas”. Peman-tikan kemudian disempurnakan oleh Otto mem-perkenalkan “listrik”, melahirkan kemasan y ber- pemantik listrik (electric ignition). Rudolf Diesel juga dari Jerman kemudian memperkenalkan pula STG kemasan y “berpemantik kempa” (compression ignition) memanfaatkan bahan-bakar cair yang di Indonesia dinamakan orang solar (diesel fuel).

B. STG Hasil Reaksi Kimia
Kemasan xy yang diperkenalkan James Watt (1736-1819), lalu berkembang, dengan menukar pasangan silinder pengisap berikut lengan dan poros engkol, dengan sebuah turbin-uap memutar generator. Lahir dengan demikian Pusat listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan-bakar fossil (BBP, BBC, BBG). PLTU kini banyak dimanfaatkan untuk membangkitkan tenaga listrik yang dibutuhkan banyak negara, mulai yang maju hingga dengan yang masih berkembang di muka bumi ini untuk menggairahkan perekonomian beragam bangsa.
Kemasan y diperkenalkan oleh Jean Joseph Etienne Lenoir (1822-1900) juga ikut berkembang, dengan menukar pasangan silinder pengisap berikut lengan dan poros-engkol dengan sebuah turbin-gas yang juga memutar generator. Lahir Pusat listrik Tenaga Gas (PLTG) dilanjutkan Pusat Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) demi meningkatkan daya-guna. Keduanya membakar bahan-bakar asal gas alam (natural gas) menyediakan tenaga listrik yang diperlukan perekono-mian beragam bangsa di bumi. PLTG dan PLTGU dapat memasok tenaga listrik jauh lebih cepat ketimbang PLTU dalam meningkatkan produksi tenaga listrik suatu negara. Kemasan y dengan turbin-gas, juga ternyata dapat mengembangkan mesin pesawat-terbang yang dikenal dengan istilah: turbo-prop, torbo-jet, dan turbo-fan, penghasil “gaya tarik”, “gaya dorong”, atau keduanya besar dalam satuan metric-ton, yang diperlukan angkutan udara untuk penumpang dan barang lintas benua. Mesin-mesin: turbo-prop, torbo-jet, dan turbo-fan dalam waktu singkat lalu menjelma menjadi tulang punggung transportasi udara dalam negeri dan internasional beragam Negara di muka bumi.

C. STG Elemen Kimia
Selain “panas” yang diubah menjadi gerak, dilakukan Pengubah Panas Gerak (PPG) atau Thermo Mechanic Conversion (TMC), yang diperkenalkan revolusi industri berangkat dari ilmu alam (fisika), “listrik” juga dapat diubah menjadi gerak berangkat dari disiplin ilmu yang sama, dikenal dengan Pengubah Listrik Gerak (PLG) atau Electro Mechanical Conversion (EMC). Dengan demikian dengan sebuah elemen kimia juga boleh dikembangkan kemasan xy PLG (EMC), dimana: x = elemen kimia yang menghasilkan tenaga listrik, dan y = mesin listrik yang mengubah listrik menjadi gerakan putar.

D. STG Sel Bahan-Bakar
STG elemen kimia yang sedang mengemuka, ialah gagasan John Bockris muncul di Pusat Teknik General Motor Amerika Serikat pada tahun 1970 silam. Dari kemasan xy PLG (EMC), disini: x = Sel Bahan-Bakar (SBB) yang menghasilkan tenaga listrik mengalirkan BBH kedalamnya dan tidak melaksanakan pembakaran samasekali, dan y = mesin listrik yang mengubah listrik menjadi tenaga gerakan putar.

E. Panas Reaksi Nuklir
Albert Einstein dari Amerika Serikat, pada tanggal 26 September 1905, mengumumkan kepada dunia apa yang disebut dengan “theori relativitas” bersama formula: E = mc² yang amat tersohor. Apa sesungguhnya yang ia ingin sampaikan kepada semua orang di muka bumi ketika itu, ialah: “benda” (materi) dan “tenaga” (energy) dapat dipertukarkan, sehingga “tenaga” dapat dihasilkan dengan menghilangkan benda dari Alam Semesta, dan begitu pula sebaliknya. Dengan theori relativitasnya, Einstein juga ingin menyampaikan kepada umat di dunia, bahwa terdapat tenaga (energy) yang begitu melimpah di Alam Semesta, wabilkhusus di muka bumi, sehingga orang tidak perlu cemas kekurangan. Yang menjadi persoalan pada ketika itu ialah bagaimana menge-tahuinya? Dan untuk yang akhir ini, harus dibuktikan dengan percobaan. Maka pada tanggal 16 Agustus 1945, sebuah “bom-atom” pertama dicoba “Proyek Manhattan” bekerjasama dengan Angkatan Darat Amerika Serikat di White Sands Pro-ving Ground, Jonada del Muerto, 56 km Tenggara Socorro, Padang Pasir New Mexico, dan berhasil.
Lalu pada tahun 1952, sebuah “bom-hidrogen” pertama juga dicoba di Bikini Atoll dalam gugusan Kepulauan Marshall yang terdiri dari 23 pulau kawasan Pacifik; juga berhasil. Kedua bom ini menghasilkan “panas” bukan dari “reaksi kimia” (chemical reaction) hasil pembakaran bahan-bakar fossil sebagaimana yang sudah dikenal orang sejak awal revolusi industri di Eropa silam, akan tetapi dari apa yang kemudian dinamakan: “reaksi nuklir” (nuclear reaction), juga disebut: “reaksi inti”.

Kini orang sudah mengetahui dua sumber panas (heat), dari reaksi inti, masing-masing: “reaksi belah inti” (nuclear fission reaction) juga dinamakan “reaksi nuklir fisi”, karena “inti atom berat” seperti uranium memang dibelah oleh benturan neutron menjadi “atom-atom ringan” menye-babkan “bom-atom” meletus; dan “reaksi gabung inti” (nuclear fusion reaction) juga dinamakan “reaksi nuklir fusi”, karena inti-inti isotop hidrogen ringan memang digabung oleh temperatur re-aksi yang sangat tinggi, mendekati suhu di pusat matahari, menyebabkan “bom-hidrogen” me-letus. Perlu diketahui, bahwa pada reaksi belah inti akan timbul sinar-sinar radioaktif berbahaya: alpha, beta, dan gamma berkepanjangan; sedangkan pada “reaksi gabung inti” tidak timbul sinar-sinar radioaktif samasekali. Sebagai akibat dari terbelah-nya inti atom berat, begitu juga terga-bungannya isotope inti-inti atom ringan; sebagian “massa” atom-atom yang terlibat akan lenyap atau hilang dari Alam Semesta, lalu berubah menjadi “panas” (kalor) sebagaimana yang disam-paikan dalam persamaan Einstein.

Theori relativitas Albert Einstein, membuat semua orang di muka bumi kini mengenal dua macam sumber “panas” (heat), masing-masing: “panas” dari hasil pembakaran atau reaksi kimia, seperti: membakar kertas, kayu, bahan-bakar fossil, sampah, dan lain sebagainya, dan “panas” hasil reaksi nuklir. Adapun yang dimaksud dengan reaksi nuklir, seperti: pembelahan inti atom berat, seperti uranium yang ditembaki neutron dinamakan juga reaksi fisi; atau penggabungan inti-inti isotop atom ringan, seperti: isotop hidrogen dinamakan reaksi fusi. Kedua reaksi nuklir ini menyebabkan sebagian “massa atom” terlibat dalam sekejap lenyap atau hilang dari Alam Semesta, lalu tiba-tiba digantikan “panas” menurut persamaan Einstein.

Panas yang dibebaskan reaksi nuklir belah atau fisi, pasca Perang Dunia Ke-II, menimbulkan Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fisi (PLTN-Fi). Dari kemasan xy, panas belah nuklir-gerak (thermo nuclear fission-mekanik), disini: x = Reaktor Air Tekan (RAT) atau Pressure Water Reactor (PWR), bertindak sebagai periuk untuk menanak air yang menghasilkan uap-bertekanan asal re-aksi fisi, dan y = pasangan turbin generator yang menghasilkan tenaga listrik; disusul Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fusi (PLTN-Fu) kemasan xy panas gabung nuklir-gerak (thermo nuclear fusion-mekanik), disini: x = sebuah bejana yang dinamakan TOKAMAK bertindak sebagai periuk tempat bertanak air yang menghasilkan uap-bertekanan dari reaksi fusi, dan y = pasangan turbin generator yang menghasilkan tenaga listrik, kini sedang dikerjakan sejumlah negara maju di Cadarache, Perancis Selatan.

Kepadatan tenaga panas yang dibebaskan sebuah “reaksi nuklir” jauh lebih besar dari kepadatan tenaga panas sebuah “reaksi kimia”. Kepadatan tenaga sesuatu ragam bahan bakar per satuan massa dinamakan “tenaga jenis” bahan bakar yang dibicarakan. Sebagai contoh: uranium (pem-biak) memiliki tenaga jenis setara 1,539,842,000 MJ/L, akan tetapi bensin (gasoline) hanya me-nyimpan tenaga jenis hanya 32.4 MJ/L. Itulah pula alasannya mengapa reaksi nuklir, baik peme-cahan maupun penggabungan, jauh sangat perkasa ketimbang reaksi kimia yang telah dikenal selama ini, dan hal ini pun sudah ditunjukkan oleh bom atom dan bom hidrogen yang amat menakutkan umat darii seluruh dunia.

F. Reaksi Nuklir Gabung Dingin
Dari sejumlah percobaan yang dilangsungkan Stanley Pons dan Martin Fleischmann pada tahun 1989, sekelompok komnitas kecil peneliti mendalami lebih jauh apa yang dinamakan: reaksi gabung dingin (cold fusion reaction), dan kini lebih menyukai menggunakan istilah: Reaksi- reaksi Nuklir Tenaga-Rendah, disingkat RNTR. ( Low-Energy Nuclear Rreactions, disingkat LE-NR) yang dapat menyediakan air panas, bahkan uap bertekanan dalam bejana dapat digunakan menggerakkan turbin untuk memutar generator listrik. Dari kemasan xy, dalam hal ini: x = RNTR yang menghasilkan uap bertekanan, dan y = turbin uap yang menggerakkan generator pembangkit tenaga listrik, layaknya sebuah PLTU.

Umat di muka bumi lalu bermimpi menantikan ditemukan Elemen Reaksi Gabung Dingin disingkat ERGD (Cold Fusion Reaction Element, disingkat CFRE), sebentuk Batere Umur Pan-jang (BUP), yang dapat dibeli orang suatu ketika bersama: sepeda motor, mobil, dan lain seje-nisnya, termasuk BUP yang listriknya akan habis bersamaan dengan lama pakai ekonomis ken-daraan, misalnya: 5 atau 10 tahun, lalu ERGD bersama kendaraan di daur ulang lagi.

G. Tanaga Terbarukan
a. Peladangan Sinar Matahari
Kemasan xy lain, yang berkembang pesat di berbagai negara guna meringankan pencemaran atmosfer bumi yang telah timbul, orang memperkenalkan apa yang kemudian dinamakan dengan istilah “tenaga terbarukan” (renewable energy). Adapun contoh tenaga yang kian digandrungi umat dari beragam belahan bumi, ialah memanen sinar matahari langsung yang diubah menjadi listrik menggunakan pengubah fotovoltaik (photovoltaic converter). Dari kemasan xy, disini: x = sinar matahari, dan y = pengubah fotovoltaik. Lahirlah “peladangan sinar matahari” yang mengu-bah “cahaya matahari” langsung menjadi “listrik” diawali dari Eropa, lalu menyebar ke Amerika Utara, dan Asia; diawali dari daratan hingga lepas pantai, pada kawasan muka bumi dimana terdapat banyak hari dengan matahari yang bersinar terang sepanjang tahun. Sebuah peladangan sinar matahari dapat dimulai dari sejumlah papan (panel) surya hingga ribuan bahkan lebih banyak lagi papan, melahirkan apa yang kemudian dinamakan: Pusat Listrik Tenaga Sinar Matahari (PLTSM).

Suatu keluarga yang melakukan peladangan sinar matahari seputar kediaman, mulai atap sampai halaman rumah, dapat memenuhi kebutuhan listrik sendiri. Tampaknya keluarga demikian masih memerlukan sambungan listrik PLN kebutuhan malam hari apabila matahari terbenam, manakala keluarga tadi belum memiliki instalasi batere yang menyimpan tenaga listrik. Apabila keluarga dibicarakan menghasilkan listrik lebih dari keperluan, sisanya dapat dijual langsung ke PLN, sehingga rekening listrik keluarga untuk pemakaian malam hari dapat menja-di jauh lebih murah.

b. Peladangan Angin
Tenaga terbarukan lain mudah diketahui keberadaannya ialah angin. Dari kemasan xy, disini: x = aliran molekul udara, karena permukaan bumi mendapat pemanasan matahari, dan y = baling-baling udara mengubah gerakan molekul udara (tenaga kinetik) menjadi gerakan putar baling-baling udara yang menggerakkan generator listrik. Aliran udara yang berubah menjadi poros berputar memanfaatkan hukum aerodinamika yang dikenal luas. Dengan demikian muncul pula peladangan “tenaga angin” diawali dari Eropa, lalu menyebar ke Amerika Utara, dan Asia, mulai daratan hingga dengan lepas pantai, dimana terdapat banyak hari angin berhembus sepanjang tahun. Peladangan angin dilakukan dengan membangun menara tinggi, di puncak mana baling-baling udara ber daun: dua, tiga, dan seterusnya diletakkan, dan dapat berputar untuk meng-gerakkan sebuah generator listrik. Suatu perkebunan tenaga angin dapat memuat puluhan, ratusan, bahkan ribuan menara tinggi dengan baling-baling udara diuncaknya menggerakkan generator listrik yang terhimpun dalam kerja paralel; dinamakan: Pusat Listrik Tenaga Angin (PLTAn).

c. Peladangan Panas Matahari
Tenaga terbarukan lain yang juga telah digunakan di Spanyol bernama: Solaben 200 MW, tidak lain dari panas matahari yang tiba di muka bumi. Kini sebuah proyek Desertec tengah digagas membangkitkan daya: 100.000 MW tengah dirancang di: Moroko, Yordania, Tunisia, Mesir, dan Aljazair untuk dikirim ke Eropa yang lapar daya lewat tegangan tinggi juga memanfaatkan panas matahari panas matahari tiba di muka bumi. Apa yang sesungguhnya dikerjakan orang disini tidak lain mewujudkan sebuah PLTU, hanya “panas” yang dimanfaatkan langsung datang dari matahari tiba di muka bumi dalam delapan menit. Dari kemasan xy, disini: x = ialah periuk (boiler) tempat bertanak air menghasilkan uap bertekanan terdapat di tengah-tengah PLTU dan dikelilingi ribuan cermin, dan y = turbin uap bekerja mengubah tenaga potensial uap menjadi gerakan putar turbin-uap yang memutar generator listrik. Setiap saat, sejak matahari terbit di ufuk Timur hingga tenggelam di bagian Barat, ribuan cermin terpasang harus diatur kedudukan-nya satu persatu sebegitu rupa, sehingga panas matahari dipantulkannya selalu tetuju ke periuk (boiler) berada di suatu ketinggian. Sebagai akibatnya, suhu periuk (boiler) menjadi sangat panas menyebabkan air didalamnya langsung mendidih menghasilkan uap bertekanan yang dibutuhkan menggerakkan turbin-uap. Yang akhir ini lalu menjalankan generator listrik. Lahir dengan demi-kian Pusat Listrik Tenaga Panas Matahari (PLTPM).

d. Peladangan Panas Bumi
Panas bumi dekat dari permukaan, sebagaimana yang dijumpai di daerah pegunungan juga seputar gunung berapi masih aktif atau lainnya, juga tergolong tenaga yang terbarukan. Apa yang dilakukan orang disini juga membuat sebuah PLTU, hanya saja “panas” digunakan datang dari dalam perut bumi peroleh langsung atau tidak-langsung. Dari kemasan x-y, disini: x = periuk (boiler) tempat bertanak air menghasilkan uap-bertekanan, dalam hal ini “panas” didatangkan dari dalam perut bumi dengan cara mengebor sampai ke sumber panas. Ada kalanya uap-berteka-nan tidak segera keluar dari dalam perut bumi setelah pengeboran sampai ke sumber panas, maka dalam keadaan demikian air-bersih harus disuntikkan ke sumber panas untuk memperoleh uap bertekanan, dan y = turbin uap untuk mengubah tenaga potensial uap menjadi gerakan putar turbin-uap yang memutar generator listrik. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB).

e. Tenaga Air
Tenaga terbarukan yang telah banyak digunakan orang di beragam belahan bumi sejak dari dahulu kala ialah tenaga air. Tenaga air bersumber dari matahari memanasi permukaan bumi, menyebabkan air yang ada dipermukaan menguap lalu naik ke awan. Yang akhir ini lalu dibawa angin ke segala penjuru, dan setelah dingin kembali menjadi air yang jatuh kembali ke bumi sebagai hujan. Terdapat dua golongan tenaga air yang diperoleh dari hujan, masing-masing: “tenaga potensial” karena air terhimpun ke dalam: kolam, waduk, danau, waduk, sungai, dan lainnya terletak pada suatu ketinggian diatas permukaan laut, dan aliran air deras dari beragam jeram sungai yang menyimpan “tenaga kinetik. Tenaga air golongan pertama tergantung dari hasilkali: Q.l, dimana: Q menyatakan aliran (debit) air dalam m3/det, sedangkan l (m) adalah ketinggian jatuh air; sementara untuk yang kedua, yakni air deras juga tergantung juga dari Q (m3/det), dan kecepatan air mengalir dalam v (m/det). Terhadap golongan pertama, untuk kema-san xy, disini: x = aliran air (Q) dengan tinggi jatuh l (m), sedangkan y = baling-baling atau tur-bin air digunakan mengubah tenaga potensial air menjadi putaran poros turbin-air yang menggerakkan generator listrik menerapkan hidrodinamika. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA).

Tergantung hasil kali Ql diperoleh, PLTA dibedakan kedalam: daya amat besar, daya besar, daya menengah, daya sedang, daya kecil, dan daya sangat kecil. Dan yang akhir ini dikenal de-ngan istilah PLTA-mikro, dan dikenal di Tanah-air dengan istilah: “mikro-hidro”. Untuk golo-ngan kedua, terhadap kemasan xy, disini: x = aliran air (Q) dengan kecepatan aliran air v (m/det), dan y = baling-baling yang digunakan mengubah tenaga kinetik air menjadi putaran turbin-air yang menggerakkan generator listrik memanfaatkan hidrodinamika, dinamakan PLTAir Deras, disingkat (PLTAD).

f. Tenaga Gelombang
Angin yang berhembus berkesinambungan di muka laut atau samudra akan melahirkan gelom-bang air berjalan yang akhirnya menghempas di pantai. Gulungan gelombang air laut bergerak menuju pantai ini tergolong kedalam tenaga terbarukan. Banyak negara khususnya yang sudah maju telah memanfaatkan gelombang air laut guna menghasilkan listrik yang diperlukan mercu suar, juga kelompok masyarakat terpencil berdiam di tepi pantai, dan lainnya. Dari kemasan xy, disini: x = gelombang air laut bergerak, dan y = pengubah tenaga gelombang air menjadi gerak menerapkan aerodinamik, atau hidrodinamika, atau gabungan keduanya. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Gelombang Air Laut (PLTGAL).

g. Tenaga Arus Bawah Laut
Arus-arus air laut hingga samudra terdapat di dasar laut sampai samudra juga termasuk tenaga terbarukan yang dapat diubah menjadi listrik. Sumber tenaga terbarukan ini telah pula dilirik berbagai negara maju guna diubah menjadi listrik demi menurunkan pencemaran atmosfer bumi. Dari kemasan xy, disini: x = arus bawah laut hingga samudra muncul oleeh perbedaan suhu air di permukaan laut dengan suhu air laut pada kedalaman tertentu, dan y = baling-baling air untuk mengubah gerakan molekul air (tenaga kinetik) menjadi gerakan putar baling-baling air yang memutar generator listrik menerapkan hidrodinamika. Dengan demikian, penambangan tenaga arus air-laut dalam berkembang, lalu menyebar ke segala penjuru dunia dimana terdapat sumber-sumber arus bawah laut hingga samudra yang dapat ditambang. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Arus Bawah Laut Dalam (PLTABLD).

h. Tenaga Suhu Air Laut
Perbedaan suhu air laut dan samudra di permukaan dengan suhu air laut hingga samudra yang ada di suatu kedalaman, kini telah dimanfaatkan untuk membangkitkan tenaga listrik. Cara pe-ngubahan diterapkan sebagaimana juga di PLTU, karena perbedaan suhu air laut samasekali ti-dak memerlukan penggunaan bahan-bakar, sehingga juga digolongkan pada tenaga yang terbaru-kan. Dari kemasan xy, disini: x = perbedaan suhu air laut, dan y = turbin-uap yang digunakan mengubah uap bertekanan menjadi gerakan putar turbin menjalankan generator listrik. Lahir dengan demikian Pusat Listrik Tenaga Suhu Air Laut (PLTSAL).

i. Tenaga Kilat
Kilat yang sambar-menyambar di angkasa, tidak diragukan lagi listrik bertenaga besar karena tegangannya amat tinggi: “jutaan volt” dan arus mengalir yang juga besar: “ribuan Ampere”, karena yang akhir ini dapat menghanguskan pohon kayu besar jadi arang. Perlu diketahui “kilat” ialah juga “petir”, hanya saja bedanya: yang pertama apa yang dilihat oleh mata, sedangkan yang kedua yang didengar oleh telinga. Dengan tegangan yang demikian tinggi, kilat dapat menyambar kemana-mana di angkasa, baik antara awan dengan awan saat muatan listrik keduanya berlawanana, maupun antara awan dengan bumi ketika muatan listrik keduanya berlawanan. Kilat yang sambar-menyambar antara awan dengan awan berbeda muatan di ang-kasa tidak dapat ditangkap, akan tetapi kilat dari awan yang menyambar bumi dapat ditangkap untuk dimanfaatkan untuk dipanen listriknya. Bermaca percobaan telah dilakukan di sejumlah negara maju, tidak terkecuali Indonesia, memancing kilat meluncurkan roket berekor logam menuju awan yang bermuatan untuk memperoleh listriknya. Listrik kilat dapat digunakan untuk mengurai air menjadi Hidrogen dan oksigen, juga untuk menyediakan air panas, da lain sebagainya. Penelitian dan pengujian terus berlangsung dimana-mana di muka bumi, akan tetapi belum lagi dapat diktahui bila sebuah Pusat Listrik Tenaga Kilat (PLTK) akan diwujudkan.

Kesimpulan
Dari apa yang telah dikemukakan diatas tampak jelas, bahwa: “panas” diperoleh dari reaksi kimia, termasuk juga pengembangan sejak awal revolusi industri lebih dari dua abad silam, telah menjadi penyebab utama pencemaran atmosfer menyelimuti planit biru tempat manusia berdiam, ditimbulkan pembakaran bahan-bakar fossil: BBP, BBM, dan BBG digali dari dalam perut bumi. Pencemaran atmosfer diperparah pula oleh “daya-guna” (efisiensi) PPG (TMC) yang rendah, untuk MPD sekitar 25% sehingga sebagian besar (75%) panas hasil pembakaran bahan-bakar hanya terbuang percuma untuk memanasi udara sekitar. Manakala digunakan bahan-bakar nabati (biofuel) atau biomasa (biomass), pencemaran unsur belerang atau sejenisnya memang akan hilang, akan tetapi efisiensi yang diraih tetap sama saja. Tampaknya, STG menggunakan panas hasil reaksi kimia atau pembakaran bahan-bakar fossil perlu dihilangkan dari muka bumi kedepan, guuna menghindarkan pencemaran atmosfer yang tidak lagi diinginkan timbul di muka bumi.

Dilain fihak, listrik diperoleh dari elemen kimia perlu mendapat perhatian. Pengubah Listrik Gerak (PLG) atau Electro Mechanic Conversion (EMC), mmberi banyak pilihan lagi beragam, dan tidak menimbulkan pencemar yang mengotori atmosfer bumi samasekali. Demikian pula tenaga listrik diperoleh dari sel bahan-bakar memanfaatkan bahan-bakar hidrogen. Untuk mem-peroleh tenaga gerak, sebuah mesin listrik perlu bekerjasama dengan elemen kimia agar gerakan putar diperoleh. Perlu dicatat, mesin listrik mempunyai efisiensi tinggi dalam mengubah listrik menjadi tenaga gerak, sekitar 85%, lebih dari “tiga kali” efisiensi MPD. Dengan demikian tidak diperlukan lagi menggali bahan-bakar fossil menuju perut bumi ribuan meter dalamnya, karena elektrolit mudah didapat dari di permukaan bumi kedalaman kurang dari 100 m.

Dalam menuntun umat hijrah dari STG memanfaatkan bahan-bakar fossil ke STG listrik menggunakan elemen kimia di Asia Tenggara dan bagian dunia lain, dapat diaali dari desa lewat penyuluhan. Kaum remaja mulai dari mesjid hingga dengan kepercayaan lain di bimbingan para penyuluh dari mesjid dan kepercayaan lainnya, menemukan cairan elektrolit dibutuhkan berikut pasangan elektroda yang dibutuhkan. Untuk elektrolit dapat digunakan cairan beragam tanaman yang tumbuh di seputar kampung diperas dari aneka ragam: buah, daun, dan batang; demikian juga yang didapat dari berjenis hewan dan manusia. Para penyuluh menjelaskan kepada para remaja apa yang dimaksud: tegangan listrik dalam volt (V) yang dibangkitkan dua logam berlainan jenis yang dicelupkan kedalam cairan elektrolit, juga menerangkan: arus listrik dalam ampere (A) mengalir melalui bola lampu yang sedang menyala. Tegangan dan arus ini merupa-kan dua besaran listrik yang menentukan daya listrik dalam watt(W) yang dihasilkan oleh se-buah elemen kimia.

Apa yang perlu dikerjakan kaum remaja masjid dan kepercayaan lainnya ini ialah usaha awal untuk mencari cairan elektrolit beserta pasangan logam yang membangkitkan tegangan listrik paling besar. Yang akhir ini menjadi kunci daya dihasilkan yang lebih besar, sedangkan arus mengalir tergantung dari daya lampu diunakan. Untuk yang pertama kaum remaja dapat meng-gabungkan sejumlah elemen kimia kedalam hubungan seri, agar lampu yang terpasang menyala lebih terang. Dengan modal elektrolit dari kampung sendiri, pasangan logam dan bola lampu listrik didapat dari kota, para remaja desa dapat mengganti lampu minyak-tanah, begitu juga lampu minyak-kelapa menghitamkan hidung di pagi hari, dengan lampu listrik elemen kimia yang bersih. Kelak, kaum remaja yang telah terbentuk rasa ingin tahu mereka, dengan tujuan mengurangi pencemaran atmosfer bumi, akan berkembang menjadi para pengembang elemen-elemen kimia maju berdaya besar yang ramah lingkungan untuk menyelamatkan atmosfer bumi dari pencemaran pembakaran bahan bakar fossil.

Panas hasil reaksi nuklir yang diubah menjadi listrik semakin banyak digunakan perekonomian berbagai negara maju guna memenuhi keperluan:: industri, transportasi, pemukiman, dan banyak lagi lainnya, kendati masih dibayangi bahan radioaktif berbahaya yang bocor dari Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fisi (PLTNFi) menuju lingkungan hidup. Di fihak lain usaha mengembangkan Pusat Listrik Tenaga Nuklir Fusi (PLTNFu) yang tidak menimbulkan bahan radioaktif berbahaya, dibangun bersama oleh sejumlah negara. Banyak penelitian yang perlu dilakukan untuk menghindarkan dampak negatif yang timbul dari PLTNFi di muka bumi kedepan.

Tenaga listrik dibangkitkan “reaksi gabung dingin” (cold fusion reaction) merupakan harapan umat untuk membuat STG keperluan beragam kendaraan bermotor yang tidak mencemari atmos-fer bumi. Belum dapat diketahui berapa banyak penelitian, pengujian, dan evaluasi hasil yang harus dilakukan untuk menemukan pilihan yang dapat menurunkan tingkat pencemaran lingku-ngan hidup yang sudah timbul di muka bumi sejak awal revolusi industri silam, tidak terkecuali menghilangkan akibat buruk yang sudah ada. Kini terbentang dihadapan generasi muda umat A-sia Tenggara, demikian pula bagian dunia lain yang kian besar jumlahnya, tantangan menjadi “khalifah” sebenarnya di muka bumi untuk membentengi planit dari limbah gunung-api buatan manusia yang tidak mengenal berhenti meletus. Harus ditemukan dari SDA muka bumi, berikut keanekaragamannya, mulai: mineral, logam, dan lain sebagainya hingga elektrolit terbaik yang dibutuhkan untuk membuat elemen kimia membangkitkan tenaga listrik diubah menjadi gerak oleh mesin listrik, keperluan aneka ragam industri dan lainnya, tidak terkecuali menggerakkan sarana angkutan: darat, laut, udara, hingga dengan angkasa.

Terhadap tenaga terbarukan, dengan sendirinya dapat dipanen dimana saja di muka bumi dengan bebas, sejauh potensi yang ada dapat diusahakan secara ekonomis, karena sumber tenaga terba-rukan tidak membakar bahan-bakar apapun jenisnya, dan tidak pula mencemari lingkungan hidup di muka bumi bentuk apapun terhadap atmosfer yang mengitari planit biru ini.

Kembali Ke Rumah Ilahi
Setelah lebih dari dua abad berlangsung, revolusi industri lalu menimbulkan perubahan iklim nyata di permukaan bumi, oleh aliran benda (materi) dari dalam perut bumi yang menuju ke permukaan berlangsung tanpa henti menelusuri waktu sampai dengan hari ini; jumlahnya meningkat terus dan ragamnya bertambah. Umat manusia menjadi sadar, bahwa aliran benda (materi) ini tidak hanya membuat pencemaran terhadap lingkungan hidup yang makin parah, juga memberi dampak buruk terhadap ekosistem permukaan bumi, kini juga mengganggu kesehatan umat di berbagai kawasan di permukaan planit ini. Itulah sebabnya, mengapa “langkah nyata” harus diambil untuk mengatasinya dengan menghilangkan pengaruh pencemaran sama-sekali. Keadaan lingkungan hidup yang ingin diraih di muka bumi, ialah sebelum revolusi industri dimulai di Eropa silam, bahkan keadaan yang lebih baik dari itu.

Rumah Ilahi bagi umat Islam, begitu juga dari kepercayaan lain yang ada di muka bumi yang telah dipilihNya, diasuh para rohaniawan dan rohaniawati yang telah mendapat petunjukNya, sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, merupakan garis depan, dimana umat berhu-bungan langsung dengan para wakilNya di muka bumi. Untuk mereka yang beragama Islam, ialah para Imam (Pengurus) Mesjid berikut jajarannya, sedangkan untuk kepercayaan lain para rohaniawan dan rohaniawati kepercayaan bersangkutan. Demikian awalnya gagasan berdirinya mesjid bagi umat Islam diperkenalkan oleh Nabi Muhamad SAW silam, juga dikehendakinya berlangsung sampai akhir zaman. Kini timbul pertanyaan, bagaimana “langkah nyata” itu harus dilakukan?

Dalam Surat ke-13 Ar-Rad (Guruh), Ayat 11, telah disampaikan:

13_11

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dimuka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah767. Sesungguhnya Allah tidak mengubah kea-daan suatu kaum, sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.768 Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekalikali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
767 Selain yang menjaga, ada juga malaikat yang mencatat, dan namanya Hafazhah
768 Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.

Sebuah Intermeso
Suatu malam di Jakarta, televisi Al-Jazeera dari Qatar menyiarkan laporan tentang operasi jan-tung berlangsung di sebuah Rumah Sakit India. Negara yang sebahagian besar warganya bera-gama Hindu lebih dari dua ribu tahun usianya, menimbulkan budaya dan adat-istiadat unik dan sangat menarik di bumi. Itulah sebabnya mengapa banyak wisatawan dari beragam negara berkunjung ke India untuk mengetahui dan menikmatinya; tidak terkecuali para “turis berobat” (medical tourism), untuk menjalani operasi jantung dari beragam bangsa. Menjelang operasi di-langsungkan, pasien dan keluarga disambut dahulu dengan acara keagamaan dipimpin seorang pendeta Hindu berikut para dokter yang melakukan operasi jantung termasuk para stafnya dan satuan perawat akan terlibat. Operasi jantung serius kemudian dilangsungkan memperagakan semua kecanggihan ilmu dan teknik kedokteran mutakhir tampak sederhana. Setelah beberapa lama operasi jantung selesai, pasien pun siuman. Ketika pertanyaan diajukan, bagaimana rumah sakit negeri Mahatma Gandi itu bisa terkenal di muka bumi dengan prestasi lebih dari 5000 operasi jantung per tahun, Dr Devi Shetti pemimpin rumah sakit jantung tersohor itu mengata-kan bahwa, ia terinspirasi oleh kata-kata Ibu Theresa, biarawati Katholik asal Hongaria yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya menolong orang-orang yang tidak mampu di India. Biarawati itu pernah berkata padanya pada suatu ketika, bahwa:”dibalik bibir-bibir yang fasih memanjatkan doa, harus terdapat tangan-tangan cekatan dengan jemari terampil yang menger-jakan”.

Apa Yang Harus Dilakukan?
Revolusi industri di Eropa lebih dari dua abad silam, tidak diragukan lagi bertujuan untuk mengganti sistim kemasyarakatan lama yang tidak lagi sesuai dengan keadaan ketika itu, dengan yang baru dan lebih baik. Sebuah revolusi apapun ragamnya akan tunduk kepada aturan umum yang mengatur, yakni: revoltare dan revolvere. Revoltare ialah bagian dari sebuah revolusi bertugas menumbangkan sistim kemasyarakatan lama yang tidak lagi sesuai dengan keadaan, sementara revolvere ialah sistim kemasyarakatan baru lebih baik dari sebelumnya untuk meng-gantikan. Keberhasilan suatu revolusi dalam perjalanan waktu ditentukan revolvere yang berhasil mengubah keadaan sebelum revoltare dimulai, karena manakala tidak kekacauan (khaos) akan timbul, dan mengorbankan mereka yang terlibat menggerakkannya.

Setelah revolusi industri berlangsung lebih dari dua abad di bumi, lingkungan hidup di planet ini masih dalam keadaan revotare. Ini dapat disaksikan dari pencemaran di muka bumi yang sema-kin memburuk menelusuri waktu, meski telah tampil kesadaran umat akibat dari pencemaran yang ditimbulkan oleh revolusi industri buatan manusia dan upaya manusia untuk memperbai-kinya. Bermacam usaha telah dibuat untuk mengatasinya, meski belum mencukupi mengingat revolusi industri telah berlangsung dalam hitungan abad. Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, yang hendak dicapai ialah keadaan sebelum revolusi industri dimulai silam, bahkan yang lebih baik dari itu, sebagaimana yang dimaksud revolvere yang tidak dapat ditawar.

Untuk memulihkan “kehidupan kaum”, sebagaimana disampaiakn Surat: Ar-Rad (Guruh), Ayat 11, umat perlu menyimak pada perjalanan filsafat Islam yang telah berkembang dari Irak hingga Andalusia, dilanjutkan ke Eropa, yang menyebabkan di bagian dunia ini bersemi pengetahuan tepat guna yang mengantarkan umat mencapai peradaban saat ini. Pengetahuan “tepat guna” bersama “analisa ilmu” dikembangkan, mengantarkan umat membuat STG (MES) menggunakan “bahan-bakar fossil” keperluan bermacam industri termasuk transportasi yang menimbulkan ali-ran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan bumi mencemari lingkungan hidup manusia berabad lamanya hingga hari ini; maka dengan filsafat Islam yang sama namun dari sudut pandang berlawanan, memanfaatkan STG (MES) listrik beragam “elemen kimia” bersama pengembangannya, harus menghentikan aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan yang mencemari lingkungan hidup umat, sekaligus meyiapkan Cadangan Berputar, dinamakan Bank Bahan Baku (BBB).

Apa yang ingin dicapai filsafat Islam sudut pandang baru ialah, agar setiap anak Adam yang hidup di muka bumi sadar dan menerima akal sehat yang terdapat di dalamnya, karena itulah yang sesungguhnya yang termuat dalam Surat Ar-Rad, Ayat 11; karena Allah juga tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri, melakukan segala usaha logis mengatasi pencemaran lingkungan hidup yang telah timbul disebabkan revolusi industri, memanfaatkan beragam disiplin ilmu, melakukan semua peneli-tian, menevaluasi temuan, menarik kesimpulan, menurunkan kaidah moral sampai hukum beri-kut sangsi yang berat, agar tidak terulang lagi, barulah Allah Subhanahu Wataala akan menga-bulkan doa yang dipanjatkan.

Laboratorium Bumi
Unruk menghadirkan lingkungan hidup yang dibutuhkan beragam makhluk yang hidup di muka bumi menelusuri perjalanan waktu, perlu dibangun sebuah laboratorium yang bertugas meman-tau keadaan lingkungan hidup makhluk setiap saat, seoerti: udara, air, darat, dan angkasa yang hasilnya setiap saat diberitakan cara berkala untuk diketahui masyarakat dunia. Dengan sendiri-nya perlu terlebih dahulu diterangkan apa yang dinamakan: “Standard Lingkungan Hidup” (SLH) yang perlu hadir di muka bumi yang menjadi hak manusia berikut makhluk lainnya, yang dilindungi undang-undang terjabar kedalam pelaksanaan hukum menempuh perjalanan kedua, atau kehidupan alam fana di muka bumi, sebagaimana sebelum revolusi industri dimulai di Eropa silam, sehingga setiap makhluk yang hidup di muka bumi ini dapat hidup normal sebagai-mana yang ditakdirkan Allah Subhanahu Wataala menerapkan TMH.

Laboratorium demikian tidak akan segera terbentuk, apalagi harus mencakup seluruh per-mukaan bumi, karena akan tersusun dari serangkaian laboratorium penelitian lingkungan hidup yang kini telah terdapat di bumi, tersebar kedalam banyak negara, dilola bangsa-bangsa yang telah sadar akan dampak pencemaran yang ditimbulkan revolusi industri diawali dari Eropa silam, dan menyebabkan beragam penyakit, antara lain: kanker, anak lahir cacat, timbulnya gangguan gangguan hingga cacat mental, dan masih banyak lainnya; bahkan telah ditemukan anak pikun masih pada usia balita dalam keluarga berdiam di kawasan industri pengolahan mineral (smelter) ditambang dari dalam perut bumi di bekas Negara Komunis silam.

Tidak dapat disangkal, IB sangat membutuhka kepedulian yang manusia diasuhnya mulai lahir ke alam fana di muka bumi sampai ke akhir hayat. Karena hanya dengan kepedulian insan sebagai “balas budi”, IB mampu mengemban tugas mulia yang ditakdirkan baginya mengasuh apapun apapun ragamnya diberikan Allah Subhanahu Wataala hadirr ke alam fana di muka bumi, mulai: tumbuhan, hewan, hingga manusia; menyediakan tempat berdiam dan menyediakan: udara, air, pangan, papan, dan lainnya, yang bebas dari segala macam bahan pencemar apapun ragamnya, setelah IK berhenti menyusukan bayi hampir dua tahun lamanya. Laboratorium bumi dengan demikian bertindak sebagai “jembatan” atau antarmuka antara makhluk dengan IB, sehingga manusia dapat mengetahui kesehatan yang disebut akhir saat mengemban tugas. Itulah sebabnya mengapa laboratorium bumi haris memantau lingkungan hidup manusia dari: kam-pung (desa), kecamatan, kabupaten, propinsi, negara, dunia, hingga dengan angkasa; seluruhnya menjadi bagian dari Informasi Lingkungan Hidup (ILH) yang dengan cara teratur dan cerdas harus dipantau oleh laboratorium bumi, lalu diberitakan ke segala penjuru dunia. Pada tingkat desa atau kampung, Mesjid-mesjid bagi umat Islam, juga Rumah-rumah Suci kepercayaan lain, bersama-sama bahu membahu memberi penyuluhan kepada masyarakat yang hidup di muka bumi untuk lingkungan masing-masing, atau menerima laporan dari masyarakat yang hidup di dari lingkungan masing-masing, sehingga petugas berwenang yang bertugas melakukan pemuta-hiran ILH selalu menerima informasi terakhir.

Dengan tersedianya jaringan ILH, keadaan/kesehatan IB dapat diketahui semua orang dimana-mana, mudah diolah, dimanfaatkan, dan disimpan. Dengan demikian keadaan IB, demikian kesehatannya senantiasa tersedia dalam laporan ILH, mudah dipantau dalam perjalanan waktu, demikian pula dikhabarkan oleh media kemana-mana tidak ubahnya cuaca. Sehubungan dengan yang akhir ini, tidak dapat disangkal lagi perlu dilakukan kerjasama Antarbangsa (Interna-sional) yang diikuti segala bangsa yang ada di muka bumi, karena planit biru ini hanya sebuah. Setiap kerusakan timbul di muka bumi disebabkan perbuatan tangan manusia yang melawan hukum perlu dihentikan, segera diperbaiki dan dipulihkan, karena tidak ada peluang bagi manusia dan makhluk lain pindah ke planit lain, manakala persiapan belum dilakukan. Kini hanya ada satu pilihan bagi manusia yang hidup di muka bumi, yakni membersihkan yang akhir ini dari segala bahan pencemar yang dibuat oleh penghuninya sendiri dengan revolusi industri diawali dari Eropa, lebih dari dua abad silam.

Departemen Limbah
Untuk menyajikan ILH berkesinambungan, perlu didirikan sebuah Departemen Limbah (Depart-ment of Waste) bagi tiap negara di muka bumi ini. Departemen ini terletak di “hulu” upaya menghindarkan pencemaran lingkungan hidup timbul di muka bumi, karena Departemen Lingkungan Hidup (Department of Invironment) yang telah dikembangkan selama ini berada di hilir. Dengan penduduk bumi yang terus meningkat jumlahnya, permasalahan yang dihadapi umat kedepan, adalah: sumber tenaga, pangan, sandang, papan, dan lainnya yang kian besar jumlahnya begitu pula mutunya. Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya pemenuhan kebutuhan, akan mengundang lebih banyak aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan yang akan menimbulkan limbah tidak diinginkan.

Departemen limbah yang dibentuk di setiap negara, pertama akan menangani limbah ditimbulkan aliran benda (materi) dari dalam perut bumi menuju permukaan timbul sejak awal revolusi industri lebih dari dua abad silam, kini mencemari muka bumi yang belum juga terurai. Perlu dibangun Laboratorium Penelitian “Rekayasa Mundur Limbah”, disingkat RML (Waste Reverse Engineering, disingkat WRE), untuk mengurai habis ikatan kimia yang berlangsung lama hingga tidak lagi mencemari lingkungan hidup. Departeman Limbah juga harus pula merekayasa lim-bah yang mungkin timbul dari beragam usaha atau bisnis dilakukan penduduk bumi yang dapat diurai lagi tanpa menimbulkan limbah. Dengan demikian sebuah “kamus besar” reaksi kimia yang dapat diurai kembali tanpa limbah, dapat membantu para pengusaha menghaslkan barang dan jasa yang tidak lagi meninggalkan limbah dibuang menuju lingkungan.

Kini terdapat yang dinamakan: Pengetahuan Bahan dan Rekayasa bahan (Materials Science and Engineering) yang dapat melahirkan beragam bahan yang baru samasekali dimanfaatkan bermacam industri, dan masih belum lagi diketahui dampak negative yang ditimbulkannya kelak, manakala beralih menjadi limbah. Departemen limbah juga harus mewaspadai teknologi dikem-bangkan oleh umat manusia di muka bumi berjalan seiring TMH (Teknologi Mahluk Hidup) ciptaan Ilahi, agar keduanya tidak akan saling mempengaruhi berdampak tidak diinginkan, karena sama-sama menggunakan unsur kimia yang terdapat dalam tabel Mendeleyev.
Departeman Limbah juga harus dapat meramalkan bermacam limbah yang dapat muncul kelak, menyimak kecenderungan masyarakat mendirikan usaha, koperasi, dan lainnya; sekaligus me-nyiapkan RML diperlukan untuk melenyapkan limbah yang dihasilkan.

Masih banyak tugas yang harus diemban departemen limbah mengawal kehidupan umat di muka bumi, agar tidak terdapat lagi bahan kimia pencemar: biasa, berbahaya, dan sangat berbahaya yang tersebar, atau berkeliaran oleh belum atau tidak diketahuinya tentang sifat bersahabat atau tidak bersahabatnya terhadap TMH karunia Ilahi yang telah ditakdirkan hadir di muka bumi.

——— sekian ———

Penulis:
H.M.Rusli Harahap
Pamulang Residence G1
Jalan Pamulang 2, Pondok Benda.
Kode Pos: 15416. Tangerang Selatan.
Tel. 021-74631125.

 

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.